Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN SEMESTER PRAKTIKUM

PRODUKSI DAN NUTRISI TERNAK UNGGAS

OLEH :
DICKY SAPUTRA
E10018030
C.2
P2U3

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita
nikmat dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Semester
Praktikum Produksi dan Nutrisi Ternak Unggas ini tepat waktu dan sebagaimana
mestinya. Shalawat beriring salam senantiasa tercurahkan atas keharibaan Nabi
Muhammad SAW yang telah memberikan petunjuk dari alam kejahilan menuju alam
kemahiran seperti apa yang kita rasakan sekarang ini, Alhamdulillah tidak lupa pula
saya ucapkan terima kasih sebesar-besar nya kepada seluruh asisten dosen praktikum
Produksi dan Nutrisi Ternak Unggas beserta jajarannya karena telah mendedikasikan
diri dengan sabar, tulus dan tidak kenal lelah dalam membimbing dan mengajari kami
demi kelancaran praktikum yang kami laksanakan.
Penulis menyadari akan keterbatasan, kekurangan, dan kelemahan dalam
penyusunan Laporan Semester Pratikum Produksi dan Nutisi Ternak Unggas ini.
Oleh karena itu, saran dan masukkan yang membangun sangat diharapkan, demi
menyempurnakan laporan berikutnya. Semoga Laporan Semester Pratikum Produksi
dan Nutrisi Ternak Unggas ini dapat bermanfaat bagi diri saya khususnya dan bagi
kita semua pada umumnya.

Jambi, April 2020

Dicky Saputra
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sistem pemeliharaan atau manajemen pemeliharaan yaitu pengorganisasian


operasi pemeliharaan untuk memberikan performansi yang baik mengenai peralatan
produksi dan fasilitas industri. Dasar pemikiran yang sehat dan logis adalah sutau
persyaratan terbaik dalam mengorganisasikan pemeliharaan. Pengorganisasian ini
mencakup penerapan dari metode manajemen dan memerlukan perhatian yang
sistematis sehingga merupakan pekerjaan yang harus dipertimbangkan secara
sungguh-sungguh dalam mengatur perlengkapannya. Dengan mengetahui tujuan, dan
sistem pemeliharaan yang diterapkan, maka akan dapat mengatasi masalah,
mengambil tindakan serta mengerti dengan jelas permasalahan yang sedang dihadapi.
Keberhasilan suatu pemeliharaan dapat dinilai melalui beberapa indikator
yaitu bagaimana mendapatkan standart berat badan lebih cepat daripada waktu yang
ditentukan, feed conversion ratio (FCR) yang kecil, persentase deplesi populasi yang
rendah, umur panen yang seragam, manajemen yang baik, tahan penyakit, dan tidak
menimbulkan bau pada lingkungan. Untuk mencapai keberhasilan ada hal-hal yang
harus diperhatikan antara lain perkandangan pemilihan bibit, manajemen pakan,
sanitasi dan kesehatan, recording dan pemasaran.

1.2. Tujuan

Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui sistem pemeliharaan ayam


broiler (Gallus domesticus) secara intensif, melihat perbandingan pertumbuhan ayam
dengan pemberian secara pembatasan dengan adlibitum (terus menerus), menghitung
performa, efisiensi, dan konversi pakan.

1.3. Manfaat

Tujuan praktikum ini adalah dapat mengetahui sistem pemeliharaan ayam


broiler (Gallus domesticus) secara intensif, melihat perbandingan pertumbuhan ayam
dengan pemberian secara pembatasan dengan adlibitum (terus menerus), menghitung
performa, efisiensi, dan konversi pakan.
BAB II
MATERI DAN METODE

2.1. Tempat dan Waktu

Praktikum produksi ternak unggas dan nutrisi ternak unggas dilakukan di


Farm Fakultas Peternakan, Universitas Jambi. Praktikum ini dimulai dari tanggal 15
Februari – 28 Maret 2020.

2.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sapu lidi, sapu ijuk, sabit,
cangkul, golok, gayung, ember, sikat baju, sikat wc, kain lap, kuas cat tembok, alat
semprot, terpal, koran, kandang koloni (cage kapasitas 10 ekor), neraca analitik, buku
catatan, wadah pakan starter dan layer, wadah air minum starter dan layer, alat
pemanas (lampu bohlam), plastic, kabel, gunting, piting lampu, thermometer.
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah air bersih, sabun,
desinfektan yaitu formaldehyde, kapur (Tohor), pasir, larutan air gula merah, therapy,
ransum komersil BR 1, dan ransum BR2.

2.3. Prosedur Kerja

Pada pukul 07.00 WIB tanggal 15 februari 2020 mahasiswa peternakan


melakukan pembersihan kandang, alat dan lingkungan kandang secara gotong
royong. Pembersihan kandang dan lingkungan seputar kandang perlu dilakukan
untuk mencegah predator atau hewan lain bersarang di seputar kandang sehingga
dapat mengganggu pelaksanaan praktikum. Pembersihan kandang dan lingkungan
dilakukan paling lambat satu minggu sebelum pelaksanaan desinfeksi kandang dan
peralatannya.
Pada pukul 07.00 WIB tanggal 15 februari 2020 mahasiswa peternakan
melakukan melakukan desifeksi dan sanitasi kandang. Kandang dan peralatannya
Kandang yang digunakan disuci hamakan terlebih dahulu dengan cara penyemprotan
dengan menggunakan desinfektan berupa rodalon dan setelah itu dibiarkan sampai
kering. Setelah kandang kering kemudian dilakukan pengapuran dengan
menggunakan Tohor yang mana pada saat pengenceran kapur, kapur jangan sampai
terlalu encer maupun kekentalan lalu lantai maupun kandang dilakukan pengapuran
dan dibiarkan selama satu minggu sebelum ayam dimasukkan. Peralatan kandang
seperti tempat pakan dan tempat air minum dibersihkan dan disucihamakan dengan
menggunakan formades agar bersih dari bibit penyakit. Selanjutnya menyediakan
pakan dan air minum serta menghidupkan lampu sebagai alat pemanas kurang lebih 2
jam sebelum ayam datang.

Pemeliharaan dimulai pada tanggal 22 februari 2020. Dua ratus ekor DOC
ditempatkan kedalam kandang koloni berukuran 70 x 60 x 50 cm yang berjumlah 20
buah. Kandang dilengkapi dengan lampu sebagai alat penerangan, tempat pakan dan
tempat air minum.. Selain itu juga digunakan timbangan, dan tempat ransum.
Penimbangan bobot badan ayam dan ransum menggunakan timbangan kapasitas 2 kg
dengan skala terkecil 0,01 gram. Ayam yang baru datang diberi air minum yang
mengandung gula sebagai pengganti energi yang hilang selama di perjalanan karena
anak ayam didatangkan dari Lampung dan obat anti stress seperti vita stress.
Penempatan ayam dan penempatan ransum perlakuan di dalam kandang dilakukan
secara acak.

Ayam dipelihara selama 4 minggu, ransum yang digunakan ditimbang


sebelum diberikan, kemudian diberikan ad libitum sesuai perlakuan dan ayam ayam
tersebut diberi tanda dengan mewarnai kepala, sayap kiri, sayap kanan dan ekor.
Ketika warna memudar dengan adanya pertumbuhan bulu pada ayam, ayam tersebut
kembali dilakukan penandaan. Sisa ransum dikumpulkan setiap akhir minggu dan
kemudian ditimbang. Air minum juga diberikan ad libitum setiap pagi dan sore hari
bersamaan dengan pemberian ransum dan juga diberikan air minum yang telah
dilarutkan dengan theraphy .

Untuk pemberian pakan minggu pertama, pakan diberikan secara pembatasan


pakan. Pakan diberikan 3x sehari pada pukul 06.00 – 07.00 WIB, 13.00 – 14.00 WIB
dan 16.00 – 17.00 WIB yang mana minggu pertama pakan diberikan untuk P1
sebanyak 200 gr/koloni/hari, P2 sebanyak 180 gr/koloni/hari, P3 sebanyak 160
gr/koloni/hari dan P4 sebanyak 140 gr/koloni/hari. Untuk pemberian pakan minggu
kedua, pakan diberikan secara pembatasan pakan yang mana minggu kedua pakan
diberikan untuk P1 sebanyak 400 gr/koloni/hari, P2 sebanyak 360 gr/koloni/hari, P3
sebanyak 320 gr/koloni/hari dan P4 sebanyak 280 gr/koloni/hari.Untuk pemberian
pakan minggu ketiga, pakan diberikan secara pembatasan pakan yang mana minggu
ketiga pakan diberikan untuk P1 sebanyak 600 gr/koloni/hari, P2 sebanyak 540
gr/koloni/hari, P3 sebanyak 480 gr/koloni/hari dan P4 sebanyak 420 gr/koloni/hari.

Pembatasan ransum ini hanya berlaku sampai ayam berumur 3 minggu (fase
awal) saat pemberian ransum BR1. Saat pemberian ransum BR2 maka ransum
disediakan 100%. Untuk pemberian pakan minggu keempat, pakan diberikan secara
adlibitum (terus menerus) ketika pakan akan habis maka praktikan harus mengisi
pakan lagi pada tempat pakan yang mana minggu keempat pakan diberikan untuk P1
sebanyak 1500 gr/koloni/hari, P2 sebanyak 1500 gr/koloni/hari, P3 sebanyak 1500
gr/koloni/hari dan P4 sebanyak 1500 gr/koloni/hari dan ketika pakan tersebut habis
dari jumlah pemberian pakan sebelumnya maka ditambahkan sebanyak 500
gr/koloni/hari dan seterusnya.

Untuk pemberian air minum tetap secara adlibitum. Pada saat ingin
menghitung PBB darin ayam, ayam tersebut dipuasakan terlebih dahulu selama 8 jam
untuk mendapat bobot badan sesungguhnya. Pemuasaan ayam dilakukan pada jam 10
malam setiap jumat malam yang mana pakan diangkat sehingga ayam akan
dipuasakan. Setiap minggunya ayam akan dilakukan perhitungan bobot badan setelah
sebelumnya ayam dipuasakan.
Pengembalian kandang dan Peralatan dilakukan pada pukul 09.00 WIB
tanggal 28 Maret 2020. Pasca praktikum Setelah kegiatan praktikum berakhir maka
kandang beserta peralatannya wajib dibersihkan dari semua limbah dan kotoran.
Kandang harus sudah bersih dalam 3 hari pasca praktikum berakhir. Kandang dan
peralatannya yang sudah bersih dikembalikan kepada pengurus Farm dan Unit Bisnis.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Konsumsi Ransum

Konsumsi ransum dihitung dari selisih antara ransum yang diberikan dengan
sisa ransum pada waktu yang sama yang dinyatakan dalam g/ekor/minggu.
Konsumsi ransum dihitung berdasarkan rumus berikut:
Konsumsi Ransum (gram/ekor/minggu) =
Ransum yang diberikan(gram/minggu)−Ransum sisa( gram/ minggu)
jumlah ternak

Konsumsi Rasum( gram/ekor /minggu)


Konsumsi Ransum (gram/ekor/hr) =
7 hari

Perhitungan konsumsi ransum dilakukan setiap minggunya selama 4 minggu,


Untuk mendapatkan nilai dari konsumsi ransum ayam selama pemeliharaan dihitung
dengan konsumsi ransum yang diberikan dikurangin ransum yang tersisa. Pernyataan
ini sesuai dengan pendapat Kiramang K (2011) yang manyatakan Konsumsi ransum
dihitung setiap minggu dengan menimbang ransum yang diberikan dalam satu
rninggu dikurangi ransum yang tersisa pada akhir minggu lalu dibagi tujuh untuk
memperoleh konsumsi perhari.

Tabel 1. Konsumsi Ransum (gram/ekor/hari)


RATAA
MINGGU TOTAL
PERLAKUAN N
1 2 3 4
P1U3 109,00 253,10 420,00 1015,13 1797,23 449,31
P2U3 1 102,70 221,90 378,00 1000,32 1702,92 425,73

P3U3 88,00 215,30 336,00 1013,57 1652,87 413,22

P4U3 83,70 217,80 294,00 1116,23 1711,73 427,93


TOTAL 383,40 908,10 1428,00 4145,25 6864,75 1716,19

RATAAN 95,85 227,03 357,00 1036,31 1716,19 429,05


Sumber : Data Kelas C Angkatan 2018 Fakultas Peternakan, Universitas Jambi

Dari data tabel diatas tampak terlihat bahwa konsumsi ransum ayam terus
meningkat setiap minggunya mengikuti laju pertumbuhan ayam tersebut. Namun
dapat dilihat perbedaan perbandingan konsumsi ransum yang sangat signifikan
Antara pemberian pakan secara pembatasan pakan dan adlibitum . Pembatasan pakan
dengan mematokkan atau menentukan persentase pakan yang akan diberikan tiap
harinyan. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Sari et al (2004) yang menyatakan
bahwa pemberian makanan terbatas yaitu suatu sistem pemberian makanan dengan
mengurangi jumlah ransum yang diberikan dalam persentase tertentu dari jumlah
konsumsi ransum yang diberikan secara adlibitum. Diperkuat dengan pendapat Azis
et al (2011) yang menyatakan Penurunan konsumsi tersebut wajar terjadi karena
terbatasnya waktu untuk mengakses ransum sehingga aktivitas makan menjadi
terbatas. Aktivitas makan pada ayam dipengaruhi oleh ketersediaan ransum dan
apabila disediakan ad libitum ransum akan dikonsumsi lebih banyak.

Pada minggu 1,2 dan 3 konsumsi ransum ayam jauh dibawah konsumsi
ransum minggu 4 yang diberikan secara adlibitum. Ternak unggas lebih cenderung
menyukai pakan yang memiliki kadar serat rendah dibandingkan pakan yang
mengandung serat tinggi. Kandungan Nutrisi dalam pakan ternak juga akan
berpengaruh dalam konsumsi ransum ayam. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat
Handoko et al (2013) yang menyatakan Kandungan serat yang tinggi pada pakan
menyebabkan ayam pedaging (unggas) cenderung untuk mengkonsumsi pakan yang
relatif lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah konsumsi pakan dengan
kandungan serat yang lebih rendah.
3.2. Pertambahan Bobot Badan

Pertambahan bobot badan (PBB) dihitung dari selisih antara bobot badan
saat penimbangan dengan bobot badan penimbangan sebelumnya yang dinyatakan
dalam g/ekor/minggu. Pertambahan bobot badan dihitung berdasarkan rumus berikut:

PBB (g/ekor/minggu) = BB2 (gram/minggu) – BB1 (gram/minggu)


BB 2(gram/minggu) – BB 1(gram/minggu)
PBB (g/ekor/hari) =
7 hari
PBB Total (g/ minggu) = PBB1 + PBB2 + ………… + PBB10
Keterangan: BB2 = Bobot Badan Saat Penimbangan (gram/minggu)
BB1 = Bobot Badan Penimbangan Sebelumnya (gram/minggu)
PBB1, PBB2, … PBB10 = Pertambahan Bobot Badan Ayam 1, 2 dst. (gram)

Tabel 2. Pertambahan Bobot Badan


MINGGU
PERLAKUAN TOTAL RATAAN
1 2 3 4

P1U3 70,800 118,60 192,20 390,60 772,20 193,05

P2U3 61,70 92,90 156,80 387,30 698,70 174,68

P3U3 63,20 101,40 141,70 388,80 695,10 173,78

P4U3 59,80 87,60 146,70 395,10 689,20 172,30

TOTAL 255,50 400,50 637,40 1561,80 2855,20 713,80

RATAAN 63,88 100,13 159,35 390,45 713,80 178,45


Sumber : Data Kelas C Angkatan 2018 Fakultas Peternakan, Universitas Jambi

Dari tabel diatas terlihat tingkat PBB yang sangat pesat pada minggu keempat
dibandingkan minggu minggu sebelumnya. Pemberian pakan secara Adlibitum sangat
mempengaruhi laju pertumbuhan ayam. Pakan yang diberikan secara adlibitum
membuat ayam terus mengkonsumsi ransum dibandingkan pembatasan pakan yang
membatasi konsumsi ransum ayam tiap harinya. PBB sangat erat kaitannya dengan
pemberian pakan pada ternak. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Yulma et al
(2014) yang menyatakan Rendahnya bobot badan disebabkan oleh konsumsi ransum
yang rendah/sedikit sehingga kebutuhan nutrisi bagi tubuh ayam belum tercukupi.
Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan yaitu pemberian dan jumlah
konsumsi ransum. Diperkuat dengan pendapat Rodiallah et al (2018) yang
menyatakan Apabila kebutuhan tubuh telah terpenuhi baik pertumbuhan,
pembentukan sel-sel jaringan tubuh, maka pertambahan berat badan pun akan
meningkat sesuai dengan pertambahan umur dan tingkat konsumsi per harinya.

Untuk mendapatkan PBB yang efesien, manajemen dalam pemeliharan,


pemberian pakan dan kandang ayam sangat harus diperhatikan. Pernyataan ini sesuai
dengan pendapat Triawan et al (2013) yang menyatakan Rendahnya nilai hasil
penelitian bisa terjadi karena terdapatnya kesalahan dalam manajemen, baik berupa
manajemen perkandangan, manajemen pemberian pakan dan manajemen
pemeliharaan.

3.3. Konversi Ransum

Konversi ransum dihitung dari perbandingan jumlah konsumsi ransum


(gram/minggu) dengan jumlah pertambahan bobot badan (gram/minggu) yang
dinyatakan dalam gram. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Muharlien et al
(2011) yang menyatakan Konversi pakan selama penelitian diukur berdasarkan
perbandingan antara konsumsi pakan dengan bobot badan yang dicapai selama
penelitian.Konversi ransum dihitung berdasarkan rumus berikut:

Σ konsumsi ransum(gram/ekor )
Konversi Ransum (gram) =
Σ PBB(gram/ekor )
Tabel 3. Konversi Ransum
MINGGU
PERLAKUAN TOTAL RATAAN
1 2 3 4
P1U3 1,60 2,30 2,30 2,70 8,90 2,23
P2U3 1,80 2,60 3,30 2,90 10,60 2,65
P3U3 1,42 2,20 2,52 2,74 8,88 2,22
P4U3 1,32 2,69 2,12 3,11 9,24 2,31
TOTAL 6,14 9,79 10,24 11,45 37,62 9,41
RATAAN 1,54 2,45 2,56 2,86 9,41 2,35
Sumber : Data Kelas C Angkatan 2018 Fakultas Peternakan, Universitas Jambi

Dari tabel diatas tampak terjadi peningkatan koversi ransum setiap minggunya
. Hal tersebut menandakan tidak efesiennya penggunaan pakan yang diberikan kepada
ayam. Angka normal konversi ransum yaitu dibawah 2. Pernyataan ini sesuai dengan
pendapat Nurhayati (2013) yang menyatakan Sebagaimana diketahui bahwa konversi
ransum merupakan nilai untuk menentukan efisiensi penggunaan ransum yang
dipengaruhi oleh konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan. Semakin tinggi
angka konversi ransum semakin rendah efisiensi penggunaan ransum

Selama pemeliharaan banyak terjadi kesalahan yang mengakibatkan tidak


efesiensinya konversi ransum. Sehingga konversi ransum diatas normal. Pernyataan
ini sesuai dengan pendapat Anggitasari et al (2016) yang menyatakan Selain pakan,
faktor lain yang mempengaruhi konversi pakan adalah genetik, manajemen
pemeliharaan dan lingkungan.

3.4. Mortalitas

Mortalitas adalah ukuran jumlah kematian dari suatu populasi. Mortalitas


ataupun kematian merupakan salah satu aspek yang mampu mempengaruhi
keberhasilan usaha peternakan ayam. Angka mortalitas diperoleh dari perbandingan
jumlah ayam yang mati dengan jumlah ayam yang dipelihara.
Jumlah Ayam Mati
Mortalitas = X 100 %
Jumlah Keseluruhan Ayam
Tabel 4. Angka Kematian Ayam
ANGKA KEMATIAN AYAM
KELAS A B C D E
JUMLAH 0 1 1 7 1
TOTAL 10
Sumber : Data Angkatan 2018 Fakultas Peternakan, Universitas Jambi
Jumlah Ayam Mati
Mortalitas = X 100 %
Jumlah Keseluruhan Ayam
10
= X 100 %
200
= 5%

Dari hasil perhitungan mortalitas ayam yang dipelihara selama 4 minggu oleh
mahasiswa peternakan, Fakultas Peternakan Universita Jambi, Mortalitasnya sebesar
5%. Angka tersebut normal didalam pemeliharaan ayam. Pernyataan ini sesuai
dengan pendapat Nurmi et al (2018) yang menyatakan Pemeliharaan broiler
dinyatakan berhasil jika angka kematian secara keseluruhan kurang dari 5%.
Diperkuat dengan pendapat Silondae et al (2018) yang menyatakan Angka mortalitas
3-5% masih dianggap wajar dalam usaha pemeliharaan ayam pedaging (broiler).
Tentu saja dibutuhkan strategi yang dapat menekan angka mortalitas tersebut seperti
sistem manajemen dan tata kelola yang baik, bibit unggul, memberikan ransum yang
berkualitas dan dalam jumlah yang memadai, hingga pemberian vaksin dan obat-
obatan sesuai dosis yang dibutuhkan.

Faktor faktor yang menyebab kematian pada ayam disaat pemeliharaan, yaitu
perawatan ayam, lingkungan dan iklim. Dimana pada perawatan ayam terjadi
tumpahnya air minum yang membuat lembab lantai kandang dan iklim pada saat
pemeliharaan yang ekstrem. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Risa et al (2014)
yang menyatakan Faktor faktor yang dapat mempengaruhi mortalitas antara lain
bobot badan, bangsa, tipe ayam, iklim, kebersihan, lingkungan, sanitasi, peralatan,
dan kandang serta suhu lingkungan.

BAB IV
KESIMPULAN

4.1. Kesimpulan

Pembatasan pemberian pakan pada ternak ayam broiler menunjukan


perandingan yang signifikan dari pemberian pakan secara adlibitum(terus menerus),
yang mana pertumbuhan pada ternak ayam lebih pesat laju pertumbuhan ketika
pemberian pakan dengan cara adlibitum (terus menerus). Untuk mencapai
keberhasilan harus diperhatikan perkandangan, pemilihan bibit, manajemen pakan,
sanitasi dan kesehatan, dan recording.

4.2. Saran

Ada baiknya lantai kandang yang dialaskan pasir digantikan dengan bahan
seperti sekam atau serbuk gergaji yang mana bahan tersebut tidak terlalu lama
menahan air yang dapat menimbulkan kelembaban pada lantai. Seperti pasir yang
permukaanya tampak kering namun dasarnya lembab menimbulkan pertumbuhan
belatung yang dapat beresiko pada kesehatan ayam.
DAFTAR PUSTAKA

Anggitasari,S.,O.Sjofjan dan I.H.Djunaidi.2016.Pengaruh beberapa jenis pakan


komersial terhadap kinerja produksi kuantitatif dan kualitatif ayam broiler.
Buletin Peternakan. ISSN-0126-4400 Vol. 40 (3): 187-196.

Azis,A.,H.Abbas, Y.Heryandi dan E. Kusnadi.2011.Pertumbuhan kompensasi dan


efisiensi produksi ayam broiler yang mendapat pembatasan waktu
makan.Media Peternakan. EISSN 2087-4634 Vol. 34 No. 1 hlm. 50-57.

Handoko.H,Nurhayati dan Nelwida.2013.Penggunaan tepung kulit buah nanas dalam


ransum terhadap bobot relatif organ pencernaan dan usus halus ayam
pedaging yang disuplementasi yoghurt.Jurnal Penelitian Universitas Jambi
Seri Sains. ISSN:0852-8349 Volume 15,Nomor 1, Hal 53-59.
Kiramang Khaerani.2011. Berat badan akhir,konversi ransum dan income over feed
and chick cost ayam broiler dengan pemberian ransum komersil.Jurnal
Teknosains, Volume 5 Nomor 1, hlm:15-25.

Muharlien, Achmanu dan R.Rachmawati.2011.Meningkatkan produksi produksi


ayam
pedaging melalui pengaturan proporsi Sskam, pasir dan kapur sebagai
litter.Jurnal Ternak Tropika Vol. 12, No.1: 38-45.

Nurhayati.2013. Penampilan ayam pedaging yang mengkonsumsi pakan


mengandung tepung kulit nanas disuplementasi dengan yoghurt. Agripet :
Vol (13) No. 2 : 15-20.
Nurmi,A.,M.A.Santi,N.Harahap dan M.F.Harahap.2018. Persentase karkas dan
mortalitas broiler dan ayam kampung yang diberi limbah ampas pati aren
tidak difermentasi dan difermentasi dalam ransum.Jurnal Ilmiah Peternakan
Terpadu. Vol. 6(3): 134-139.
Risa,E.,R.Semaun dan I.D.Novita.2014.Evaluasi penurunan angka mortalitas dan
morbiditas ayam pedaging yang mendapatkan penambahan tepung lempuyang
(Zingiber aromaticumval) dalam ransum. Jurnal Galung Tropika. ISSN 2302-
4178 Volume 3, Nomor 3, hlmn. 192-200.

Rodiallah,M., Yendraliza dan S.Siregar.2018.Performa ayam broiler fase starter yang


diberi tepung keong mas (Pomacea Spp) dalam ransum standar
komersial.Jurnal Peternakan. ISSN1829 – 8729 Vol 15 No 1 (15-21).
Sari,M.L.,S.Sandi dan O.Mega.2004.Konsumsi dan konversi pakan ayam pedaging
bibit periode pertumbuhan dengan perlakuan pembatasan pakan pada lantai
kawat dan litter. Jurnal Indonesia Tropical Animal Agriculture. Volume 29
Nomor 2 halaman 86 – 90.

Silondae,H. dan D.Polakitan.2018.Pengaruh imbangan energi dan protein serta


kepadatan kandang terhadap penampilan ayam pedaging.Jurnal Peternakan
Indonesia. SSN 1907-1760 Vol. 20 (3): 175-180.

Triawan,A.,D.Sudrajat dan Anggraeni.2013. Performa ayam broiler yang diberi


ransum mengandung neraca kation anion ransum yang berbeda.Jurnal
Pertanian. ISSN 2087-4936 Volume 4 Nomor 2, Hal 73-81.

Yulma,E.Y.,R.Muryani dan L.D.Mahfudz.2014.Perfoemans ayam broiler yang


diberi ransum mengandung rumput laut (Gracilaria verrucosa)
terfermentasi.Animal Agriculture Journal 3(2): 106-112.
LAMPIRAN

DOKUMENTASI KEGIATAN
1.Pembersihan lingkungan Kandang 2. Pebersihan kandang

3. Pengapuran kandang 4. Penimbangan berat ayam

5. Penandaan ayam 6. Pemuasaan ayam


7. Ayam setelah 4 Minggu 8. Pengembalian kandang pasca panen
SCREENSHOT JURNAL YANG DIGUNAKAN
1. Aisyah Nurmi, Melia Afnida Santi, Nurainun Harahap, dan Muharram Fajrin
Harahap

2. A. Azisa, H. Abbasb, Y. Heryandib, & E. Kusnadib


3. Heru Handoko, Nurhayati dan Nelwida

4. Khaerani Kiramang
5. Muharlien, Achmanu dan R.Rachmawati.

6. Nurhayati
7. Ernita Risa, Rahmawati Semaun dan Intan Dwi Novita

8. M. RODIALLAH., YENDRALIZA DAN S. SIREGAR


9. Septiani Anggitasari, Osfar Sjofjan, dan Irfan Hadji Djunaidi

10. H. Silondae* dan D. Polakitan


11. A Triawan1, D Sudrajat, dan Anggraeni

12. ATriawan1, D Sudrajat2a, dan Anggraen