Anda di halaman 1dari 21

BAB I

ISI JURNAL

1.1 Judul Jurnal


Analisis faktor pediksi wheezing berulang pada bayi.
1.2 Abstrak
a. Latar Belakang
Secara klinis, asma pada anak di bawah usia 5 tahun terjadi di bawah perkiraan karena
kurangnya kriteria diagnostik. Studi saat ini dirancang untuk mrngdentifikasi faktor-
faktor dalam memprediksi wheezing berulang pada bayi.
b. Metode
Seratus empat puluh lima bayi di bawah usia 3 tahun dirawat di rumah sakit dengan
penyakit pernapasan terdaftar dalam penelitian ini. Pasien ditindaklanjuti selama satu
tahun setelah dipulangkan dari rumah sakit dan kemudian dibagi menjadi kelompok
wheezing berulang dan kelompok wheezing tidak berulang berdasarkan apakah ada
wheezing berulang atau tidak. Wheezing atau wheezing berulang dipantau secara
khusus selain tes darah untuk penyakit alergi dan pernapasan.
c. Hasil
Prevalensi infeksi eczema dan infeksi Respiratory Syncytial Virus (RSV) secara
signifikan lebih tinggi pada kelompok wheezing yang berulang daripada kelompok
kontrol (74,2% vs 45,8%; masing-masing 32,3% vs 13,3%, keduanya P <0,05);
persentase dari darah eosinofil dan serum Eosinofil Deliver Neurotoxin (EDN)
konsentrasi saat masuk juga lebih tinggi pada kelompok wheezing berulang
dibandingkan pada kelompok kontrol (3,10 ± 2,54% vs 1,31 ± 1,15%; 68,67 ± 55,05 ng
/ mL vs. 27. 36 ± 19,51 ng / mL; masing-masing keduanya P <0,001). Analisis regresi
logistik multivariat pada jumlah eosinofil dan konsentrasi EDN serum dalam
memprediksi wheezing berulang menunjukkan bahwa jumlah eosinofil menunjukkan
sensitivitas terendah (51,6%) dan spesifisitas tertinggi (90,4%), dengan area di bawah
kurva ROC (AUC) 0,752 ± 0,041 ; dan sebaliknya, EDN serum menunjukkan
sensitivitas tertinggi (88,7%) dan spesifisitas terendah (56,6%), dengan AUC 0,795 ±
0,037.
d. Kesimpulan
Kombinasi jumlah eosinofil dan pengukuran EDN serum mungkin lebih baik untuk
memprediksi risiko wheezing berulang pada awal masa kanak-kanak.

1
e. Kata Kunci
Wheezing berulang, Bayi, Eczema, infeksi RSV.

1.3 Latar Belakang

Wheezing pada anak kecil adalah gejala klinis yang umum dari penyakit sistem
pernapasan pediatrik, yang ditandai dengan fase ekspirasi dada dengan adanya suara
sonor dan kontinu, tetapi kadang-kadang juga muncul pada fase inspirasi, yang
[1]
menyebabkan peningkatan laju pernapasan . Penelitian observasi longitudinal
prospektif menunjukkan 26% dari 6265 bayi memiliki setidaknya satu wheezing dalam
[2]
waktu 18 bulan setelah lahir . Sekitar setengah dari anak-anak mengalami setidaknya
satu wheezing sebelum usia sekolah, dan beberapa bayi dengan bronkiolitis akut dapat
[3] [4]
berkembang menjadi wheezing berulang . Pellegrini Belincho et al. melaporkan
bahwa kemungkinan wheezing berulang pada tahun pertama kehidupan secara signifikan
lebih tinggi pada bayi dengan ibu yang menderita asma, merokok tetapi tidak
mengkonsumsi diet Mediterania selama kehamilan (79,7%) dibandingkan dengan bayi
tanpa faktor-faktor ini. (4,1%).

Infeksi virus saluran pernapasan, terutama Respiratory Syncytial Virus (RSV), dapat
[5, 6]
menyebabkan gejala wheezing dan eksaserbasi asma . Gejala wheezing berulang
[7]
kadang-kadang menjadi lebih parah, disebut Episodic Viral Wheezing (EVW) atau
[8]
wheezing severe intermiten . RSV adalah penyebab paling umum dari infeksi saluran
[9-12]
pernapasan bawah pada bayi dan anak kecil . Penelitian telah menunjukkan bahwa
anak-anak yang dirawat di rumah sakit untuk bronkiolitis RSV selama masa bayi lebih
cenderung mengalami episode wheezing dan asma selama dekade pertama kehidupan
dibandingkan dengan anak-anak tanpa riwayat infeksi RSV [5, 6, 13].

Eosinofil mengandung protein granul sitotoksik, seperti Eosinofil Cationic Protein


(ECP), Eosinofil Peroksidase (EPO), dan Eosinofil Deliver Neurotoxic (EDN), semuanya
adalah Major Basic Protein (MBP). EDN, polipeptida rantai tunggal dengan massa
molekul 18,6 kDa, telah dianggap terlibat dalam wheezing berulang dan perkembangan
[14]
asma di kemudian hari . Ekspresi EDN tidak terbatas pada eosinofil, karena juga
[15]
terdeteksi dalam sel mononuklear dan kemungkinan neutrofil . Setiap eosinofil
mengekspresikan sekitar 10 pg EDN, dengan variasi diantara individu. Di satu sisi, EDN

2
[16]
terlibat dalam aktivitas antivirus melawan infeksi pernapasan . Di sisi lain, EDN juga
dapat dikaitkan dengan patogenesis alergi, khususnya di saluran pernapasan, dengan
perkembangan asma alergi dan wheezing berulang [17].

Karena kompleksitas wheezing berulang pada anak-anak, pilihan terapi untuk


mencegah eksaserbasi asma yang parah dan serangan episodik wheezing sangat
[18, 19]
bervariasi . Selain itu, meskipun penting bagi dokter untuk memprediksi wheezing
berulang untuk mencegah serangan episodik wheezing yang parah, ada beberapa
biomarker yang dapat digunakan untuk memprediksi wheezing berulang. Dalam hal ini,
EDN mungkin menjadi salah satu biomarker untuk identifikasi dini anak-anak dengan
risiko tertinggi terkena wheezing berulang.Oleh karena itu, tujuan utama dari penelitian
ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor prediksi potensial dari parameter tes
laboratorium untuk wheezing berulang pada anak-anak melalui follow up anak-anak
dengan penyakit pernapasan.

1.4 Metode

Total 145 bayi, yang memiliki berbagai tingkat wheezing dan dirawat di rumah sakit
Departemen Penyakit Dalam, Rumah Sakit Anak Tianjin dari Oktober 2015 hingga
Januari 2016, terdaftar secara berturut-turut ke dalam penelitian ini. Pasien-pasien ini
ditindaklanjuti selama periode 1 tahun setelah keluar dari rumah sakit. Jika pasien
memiliki sedikitnya 4 kali wheezing dalam 1 tahun, itu didefinisikan sebagai wheezing
berulang. Wheezing atau wheezing berulang dipantau secara khusus selama periode
tindak lanjut.

a. Kriteria inklusi

1. Umur 3 tahun atau lebih muda.


2. Pasien dirawat di rumah sakit dengan wheezing, yang terdeteksi oleh dokter
melalui pemeriksaan fisik, dan didiagnosis sebagai bronkiolitis, bronkitis asma atau
Pneumonia bronkial.
3. Pasien tidak diterapi dengan steroid atau antagonis reseptor leukotrien 1 minggu
sebelumn pendaftaran.

b. Kriteria Eklusi :

1. Defisiensi kongestif, stenosis jalan napas primer atau sekunder, penyakit jantung
kongestif, penyakit refluks gastroesofageal, benda asing bronkus.

3
2. Kanker atau penyakit ganas.
3. Defisiensi imun primer atau sekunder atau penyakit-penyakit terkait imun lainnya.
4. Menolak untuk menandatangani persetujuan atau tidak dapat menyelesaikan
pemeriksaan lanjutan karena gagal hadir atau pergi ke rumah sakit lain.

c. Pengumpulan data

1. Informasi umum: jenis kelamin, usia, daerah tempat tinggal (perkotaan atau
pedesaan), persalinan dengan cukup bulan atau kurang bulan (<37 minggu),
persalinan pervaginam atau seksio seccar, anak pertama atau tidak, hari rawat inap,
eczema, dan alergi obat.
2. Riwayat penyakit pernapasan atau penyakit mayor lainnya, riwayat keluarga asma,
rinitis alergi atau penyakit alergi lainnya.
3. Wheezing berulang atau tidak selama 1 tahun follow up.

d. Pemeriksaan laboratorium

Sampel darah dikumpulkan pada saat masuk dan tes laboratorium berikut
dilakukan pada semua pasien: IgE total serum, IgE spesifik antigen, IgG alergi
makanan, EDN serum, hitung sel darah, serum antibodi terhadap patogen saluran
napas (influenza A, influenza B, virus parainfluenza tipe 1-3, adenovirus, virus
syncytial respiratori, mikoplasma, klamidia pneumoniae, Qrickettsia, legionella
pneumophila), virus dalam cairan nasofaring termasuk influenza A dan B, adenovirus,
virus sinkronisasi pernapasan, dan tipe parainfluenza 1–3.

X-ray dan CT-scan dada, elektrokardiogram, dan ekokardiografi juga dijalankan


untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab wheezing seperti pneumonia, kista
paru-paru, atau trakeobronkomalasia.

e. Analisis Statistik

Data dianalisis dengan perangkat lunak SAS 9.3. Normalitas distribusi data
kontinu diperiksa dengan metode Kolmogorov Smirnov sebelum dibandingan. Data
dengan distribusi normal dinyatakan sebagai mean ± SD dan dianalisis dengan uji t.
Data kontinyu dengan distribusi tidak normal dinyatakan sebagai median dan kuartil
(M, P25, P75) dan dianalisis dengan uji dua sampel Wilcoxon. Data kategorikal
dinyatakan sebagai frekuensi dan dianalisis dengan pemeriksaan Chi square. Kurva
receiver operating characteristic (ROC) diplot dengan faktor-faktor prediktif wheezing

4
berulang dan dihitung nilai area di bawah kurva ROC (AUC) beserta Somers 'D .
Titik potong optimal diterapkan ketika Indeks Yuden mencapai maksimum. Metode
Mann Whitney digunakan untuk membandingkan parameter variabel yang
memprediksi area di bawah ROC. Setelah membuat model regresi logistik, regresi
bertahap dilakukan untuk menyaring faktor risiko potensial untuk wheezing berulang.
P <0,05 dianggap signifikan.

1.5 Hasil
Karakteristik Umum Bayi
Total 62 bayi ( 42 laki-laki dan 20 perempuan, usia rata-rata 5 bulan) dengan
wheezing berulang (sebagai kelompok whoop berulang) dirawat di rumah sakit selama
rata-rata 6 (4,11) hari, 40 di antaranya tinggal di perkotaan; sementara 83 bayi (53 laki-
laki dan 30 perempuan, usia rata-rata 4 bulan) tanpa wheezing berulang (sebagai
kelompok kontrol) dirawat di rumah sakit selama rata-rata 5 (4,10) hari, 52 di antaranya
tinggal di perkotaan (Tabel 1 dan 2 ). Dua puluh delapan dari 62 bayi dengan wheezing
berulang adalah anak pertama dalam keluarga mereka, 35 dengan persalinan pervaginam
dan 27 dilakukan dengan cessar. Tujuh puluh satu dari 83 bayi tanpa wheezing berulang
adalah anak pertama dalam keluarga mereka dan semua 83 bayi dengan persalinan
pervaginam.
Menariknya, prevalensi eczema secara signifikan lebih tinggi pada bayi dengan
wheezing berulang dibandingkan dengan mereka yang tidak wheezing berulang (74,2%
vs 45,8%, P <0,05). Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam alergi obat
antara kedua kelompok (4,8% dengan vs 2,5% tanpa wheezing berulang, P> 0,05).

Tabel 1. Karakteristik dermografi pasien

5
Perbandingan patogen dan pemeriksaan laboratorium lainnya

Patogen dari cairan jalan nafas pasien diperiksa. Prevalensi berbagai infeksi virus
secara signifikan lebih tinggi pada bayi dengan wheezing berulang dibandingkan dengan
mereka yang tidak wheezing berulang (28/62, 45,2% vs 22/83, 26,5%, P <0,05). Secara
khusus, prevalensi infeksi reespiratory syncytial virus (RSV) secara signifikan lebih
tinggi pada bayi dengan wheezing berulang dibandingkan dengan bayi tanpa wheezing
berulang (20/62, 32,3% vs 11/83, 13,3%, P <0,05). Perbedaan antara patogen lain
termasuk infeksi mikoplasma dan influenza tidak signifikan (Tabel 2).

Tabel 2. Perbandingan dari patogen

Bayi dengan wheezing berulang menunjukkan hitung eosinophil dan konsentrasi


EDN yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan bayi tanpa wheezing
berulang (eosinofil: 3,10 ± 2,54% vs 1,31 ± 1,15%, P <0,001; EDN: 68,67 ± 55,05 vs 27.
36 ± 19,51 ng / mL, P <0,001). Selain itu, protein C-reaktif (CRP), ferritin, jumlah sel
darah putih (WBC), laktat dehidrogenase (LDH), prokalsitonin (PCT), dan kadar γ
globin sedikit, tetapi tidak signifikan, lebih tinggi pada bayi dengan wheezing berulang
daripada bayi tanpa wheezing berulang (Tabel 3). Menariknya, serum Ig E sedikit tetapi
tidak secara signifikan lebih rendah pada bayi dengan wheezing berulang dibandingkan
dengan pada bayi tanpa wheezing berulang (43,71 ± 80,44 IU / mL vs 44,58 ± 92,23 IU /
mL). Selain itu, tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok dalam hal
pengobatan yang diterima termasuk antibiotik, imunoglobulin intravena (IVIG), dan
terapi steroid (Tabel 4).

6
Tabel 3. Hasil pemeriksaan laboratorium

Tabel 4. Terapi pada pasien

Faktor resiko wheezing berulang dan nilai prognosisnya

Seperti ditunjukkan pada Tabel 5, dengan analisis regresi bertahap, faktor-faktor


berikut diidentifikasi sebagai faktor risiko potensial untuk wheezing berulang: eosinofil
dengan OR (95% CI) sebesar 2,137 (1,507, 3,03), P <0,001; EDN dengan OR (95% CI)
1,040 (1,021, 1,059), P <0,001; eksim dengan OR (95% CI) sebesar 4,313 (1,608,
11,571), P = 0,004; dan infeksi RSV dengan OR (95% CI) sebesar 3,481 (1,143, 10,605),
P <0,028.

7
Tabel 5. Potensial factor resiko berulang

* Regresi multivariabel logistik: variabel independen adalah parameter yang ditunjukkan


pada Tabel 1 dan 4 dengan P <0,01, dan "berulang" adalah nilai dependen. Regresi bertahap
dilakukan untuk menyaring faktor risiko potensial. Nilai P untuk inklusi atau pengecualian
variabel independen adalah 0,1.

Analisis regresi logistik multivariat dan nilai diagnostic hitung eosinofil dan kadar
serum EDN

Hasil prediksi faktor risiko untuk wheezing berulang dianalisis lebih lanjut
dengan regresi logistik multivariabel dan dengan kurva receiver operating
characteristic (ROC). Seperti yang disajikan pada Gambar 1 dan Tabel 6, dari
parameter yang dievaluasi, sensitivitas dan spesifisitas hitung eosinophil dan serum
EDN memiliki kekuatan yang lebih kuat untuk evaluasi prognostik wheezing
berulang, yang konsisten dengan hasil hitung eosinophil dan serum EDN secara
signifikan lebih tinggi pada bayi dengan wheezing berulang. Secara khusus,
sensitivitas hitung eosinofil adalah 51,6% dan spesifisitasnya 90,4%, area di bawah
kurva ROC (AUC) = 0,752 ± 0,041, dan nilai potong adalah 2,50% (Gbr. 2 dan Tabel
6). Demikian pula, sensitivitas serum EDN untuk diagnosis wheezing berulang
adalah 88,7%, spesifisitasnya 56,6%, AUC = 0,795 ± 0,037, dan nilai potongnya
adalah 20,18 ng / mL (Gambar 3 dan Tabel 6). Selanjutnya, perbandingan skor faktor
risiko dalam memprediksi wheezing berulang menunjukkan bahwa infeksi RSV
memiliki skor tertinggi (nilai AUC ± SD: - 0,274 ± 0,045, P <0,001, Tabel 7) diikuti
oleh eczema (nilai AUC ± SD: - 0,227 ± 0,046, P <0,001, Tabel 7), hitung eosinofil

8
(nilai AUC ± SD: - 0,117 ± 0,033, P <0,001, Tabel 7), dan EDN (nilai AUC ± SD: -
0,074 ± 0,029, P = 0,01, Tabel 7).

Gambar 1. (ROC) analisis dan spesifisitas untuk prediksi mengi berulang dengan model
logistik, skor, EDN, Eosinophils RSV, dan eksim. Sumbu vertikal: sensitivitas; sumbu
horisontal: spesifisitas.

Gambar 2. Analisis ROC tentang sensitivitas dan spesifisitas untuk prediksi mengi
berulang dengan jumlah eosinofil. Sumbu vertikal: sensitivitas; sumbu horisontal:
spesifisitas.

Gambar 3. Analisis ROC tentang sensitivitas dan spesifisitas untuk prediksi mengi
berulang dengan tingkat EDN serum. Sumbu vertikal: sensitivitas; sumbu horisontal:
spesifisitas.

9
Tabel 6. Regresi logistic multivariabel dan nilai prognostik dari faktor risiko

Tabel 7. Perbandingan model Penilaian dan Logistik dalam mengevaluasi faktor prognostik

1.6 Diskusi
Wheezing berulang dan / atau asma adalah penyakit pernapasan kronis umum pada
anak-anak. Dalam studi saat ini, anak-anak pada usia 3 tahun atau lebih muda, yang
dirawat di rumah sakit dengan wheezing, ditindaklanjuti selama 1 tahun untuk
menganalisis faktor-faktor yang dapat memprediksi wheezing berulang. Hasil studi kami
menunjukkan empat parameter yaitu eczema, infeksi RSV, hitung eosinofil dan EDN
semuanya secara signifikan lebih tinggi pada bayi dengan wheezing berulang
dibandingkan pada bayi tanpa wheezing berulang, sehingga faktor risiko tersebut
dikaitkan dengan wheezing berulang. Selanjutnya, EDN mencapai AUC yang lebih baik
dari 0,795 dan 0,752, meskipun sensitivitas eosinofilt dan spesifisitas EDN masing-
masing hanya 0,516 dan 0,566. Dengan demikian, kombinasi hitung eosinofil dan
kuantifikasi serum EDN dapat digunakan sebagai salah satu biomarker untuk
memprediksi wheezing berulang dalam praktik klinis.
Beberapa penelitian baru-baru ini melaporkan bahwa infeksi pernafasan pada bayi
atau awal kehidupan mungkin memiliki dampak mendalam bagi perkembangan penyakit

10
[6, 20, 21]
pernapasan termasuk wheezing dan / atau asma . Dalam hal ini, penelitian telah
menyoroti infeksi pernafasan RSV pada bayi prematur dapat dikaitkan dengan
[5, 13,
peningkatan prevalensi wheezing anak usia dini dan asma di masa dewasa kemudian
22, 23]
. Sebuah studi melaporkan efek profilaksis dari palivizumab, sebuah antibodi yang
dihadapkan terhadap RSV, pada 444 bayi prematur ditemukan bahwa prevalensi asma
atopik selama 5 tahun kehidupan tidak berbeda antara kelompok bayi dengan atau tanpa
[18]
pengobatan palivizumab . Namun, dokter yang mendiagnosis wheezing berulang
diamati pada masing-masing kelompok yang diobati dan tidak diobati 15,3 dan 31,6% (P
= 0,003) [24]. Konsisten dengan penelitian sebelumnya, kami menemukan bahwa kejadian
infeksi RSV secara signifikan lebih tinggi pada bayi dengan wheezing berulang
dibandingkan dengan bayi tanpa wheezing berulang.

[25, 26]
Penyakit alergi dapat memberi mekanisme umum dalam patogenesis . Dalam
hal ini, eosinofil memainkan peran kunci dalam patogenesis dan pengembangan penyakit
[14, 27]
atopik termasuk asma dan eksim . Eosinofil mengeluarkan butiran sitotoksik
termasuk protein dasar utama (MBP), protein kationik eosinofil (ECP), eosinofil
[14]
peroksidase (EPO), neurotoksin derivate eosinofil (EDN) . Granul Eosinofil
mengandung inti kristaloid yang terdiri dari MBP-1 dan matriks yang terdiri dari ECP,
[27]
EDN, dan EPO . MBP, EPO dan ECP adalah racun bagi berbagai sel dan jaringan,
[28, 29]
termasuk jantung, otak, dan epitel bronkial . EDN dilepaskan oleh eosinofil setelah
teraktivasi infeksi, alergi atau keduanya[30]. Sebuah studi pada tingkat serum EDN dan
episode wheezing berulang selama 12 bulan pada bayi usia 6-12 bulan yang memiliki
bronkiolitis RSV mengindikasikan bahwa kadar serum EDN 3 bulan berkorelasi secara
signifikan dengan jumlah total episode wheezing pada 12 bulan dalam kedua kelompok
[31, 32]
yang diobati dengan placebo atau antagonis reseptor leukotrien . Secara konsisten,
penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat EDN secara signifikan lebih tinggi pada bayi
dengan wheezing berulang dan bahwa serum EDN memiliki kekuatan yang lebih kuat
untuk evaluasi prognostik wheezing berulang.
Eczema adalah peradangan kronis kulit yang sangat umum pada masa bayi, ditandai
dengan kemerahan, gatal, dan / atau kering. Meskipun bayi dengan eksim mungkin lebih
sering berkembang menjadi alergi dan asma, korelasi eksim dan wheezing berulang pada
bayi belum diteliti secara menyeluruh. Ditemukan bahwa di antara anak-anak dalam usia
1 tahun, korelasi antara alergi dan eczema adalah yang terkuat, dan korelasi antara alergi
dan asma dan rinitis dimulai pada usia 3 tahun dan secara bertahap berlangsung sampai

11
usia 16 tahun[33]. Zinelli et al. melaporkan bahwa ekspirasi paksa nitrat oksida (FE (NO))
meningkat pada anak-anak dengan eczema atopik dibandingkan dengan pada anak-anak
yang sehat, bahkan tanpa adanya gejala pernapasan dan dengan adanya fungsi paru
[34]
normal , dan dengan demikian, mereka mengusulkan bahwa FE (NO) dapat menjadi
biomarker prediktif untuk pengembangan asma pada anak-anak. Dalam penelitian kami,
tingkat prevalensi eksim secara signifikan lebih tinggi pada kelompok wheezing berulang
dibandingkan pada kelompok kontrol, dan eczema adalah faktor potensial ke-2 dalam
memprediksi wheezing berulang dengan membandingkan skor faktor risiko. Secara
konsisten, analisis regresi logistik mengungkapkan dengan 3 faktor risiko independen
(riwayat eczema, alergi makanan, dan riwayat rinitis orang tua) untuk pernapasan
berkelanjutan anak-anak, hanya riwayat eczema yang merupakan faktor risiko utama
yang terkait dengan whoop berkelanjutan [35].
Kami menyadari ada beberapa keterbatasan dalam penelitian ini. Pertama, efek
potensial dari faktor lingkungan, seperti orang tua merokok dan polusi udara, pada
wheezing berulang tidak dinilai. Dalam hal ini, studi longitudinal baru-baru ini telah
menyelidiki hubungan potensial dari timbulnya penyakit wheezing masa kanak-kanak
dengan paparan prenatal termasuk orang tua merokok , polusi udara luar, dan stres ibu
pada anak-anak yang menderita penyakit wheezing[36-38]. Dalam sebuah studi kohort dari
Belanda, penulis menemukan odds 50% peningkatan wheezing persisten dan 65%
peningkatan odds asma pada usia 6 tahun pada anak-anak yang ibunya merokok
[36]
setidaknya lima batang per hari selama kehamilan . Di Kanada menemukan bahwa
paparan prenatal terhadap kadar nitrogen monoksida, nitrogen dioksida, karbon
monoksida, sulfur dioksida yang lebih tinggi, dan masalah khusus 10 μm atau kurang
(PM10) meningkatkan risiko asma pada anak-anak prasekolah, terutama pada bayi
dengan berat badan lahir rendah. Kedua, sensitisasi atopik terhadap aeroallergens diakui
dengan baik sebagai faktor risiko untuk pengembangan selanjutnya dari wheezing
berulang (dan asma) [40].

1.7 Kesimpulan

Studi saat ini menilai faktor-faktor potensial untuk wheezing berulang pada anak-
anak berusia 3 tahun atau usia lebih muda. Prevalensi infeksi respiratory syncytial virus
(RSV), persentase eosinofil dan kadar serum neurotoksin turunan eosinofil (EDN) adalah
faktor risiko utama dan dapat digunakan untuk memprediksi wheezing berulang pada

12
bayi. Dari ketiga faktor tersebut, jumlah eosinofil menunjukkan sensitivitas terendah
tetapi spesifisitas tertinggi, dan sebaliknya, EDN serum menunjukkan sensitivitas
tertinggi dan spesifisitas terendah. Dengan demikian, kombinasi hitung eosinofil dan
pengukuran EDN serum mungkin lebih baik untuk memprediksi risiko wheezing
berulang dalam kehidupan awal masa kanak-kanak.

BAB II

TELAAH JURNAL

2.1 Analisis Penulisan Jurnal

1. Penulisan Jurnal

Judul dalam aturan penulisan karya ilmiah, judul harus spesifik, ringkas dan jelas
terdiri dari 10-15 kata. Pada jurnal ini terdapat judul jurnal yang terdiri dari 10 kata
dalam bahasa Inggris spesifik dan ringkas, sehingga judul jurnal sudah memenuhi kaidah
dalam penulisan judul jurnal.

Gambar 4. Analisa penulisan Jurnal

Pada jurnal ini juga sudah tertera penulis dalam jurnal ini, tahun terbit jurnal,
namun tidak terdapatInternational standard Serial Number (ISSN). Jurnal tertera pada
gambar 1. Jurnal yang baik tercantum nama penulis, tahun terbit dan disertakan
International standard Serial Number (ISSN) Jurnal.

2. Penulisan abstrak Jurnal

13
Aturan penulisan abstrak dalam penelitian ilmiah adalah abstrak terdiri dari
maksimal 250 kata. Berisi ringkasan latar belakang, tujuan, metode, hasil dan
kesimpulan. Kata kunci terdiri dari 3-6 kata tanpa kata-kata yang terdapat dalam
judul.Pada jurnal ini kurang cukup baik memenuhi kaidah penulisan abstrak, abstrak
jurnal ini terdiri dari 274 kata dalam bahasa Inggris dan sudah memenuhi kaidah
penulisan kata kunci yang baik yang terdiri 6 kata.

Gambar 5. Penulisan Abstrak

6. Penulisan Pendahuluan Jurnal

Pendahuluan yang baik menyajikan gambaran umum mengenai topik seperti latar
belakang, masalah, serta tujuan dan manfaat dari penulisan artikel. Pada jurnal ini sudah
menyajikan latar belakang, dan masalah yang akan di teliti namun belum di paparkan
dengan jelas manfaat pada pendahuluan jurnal ini.

7. Penulisan Metode Penelitian Jurnal

Pada jurnal ini sudah menyajikan waktu penelitian,jumlah sampel, kriteria


inklusi dan eklusi sampel penelitian, pengumpulan data serta analisis statistika. Namun
pada jurnal ini tidak menyajikanmetode penelitian jurnal dengan baik, di paparkan
desain penelitian dengan jelas, cara pengambilan sampel apakah dengan blind.

14
Gambar 6. Penulisan Metode

8. Penulisan Hasil Jurnal

Pada hasil jurnal sudah cukup baik tersaji hasil perbandingan antara dua kelompok
dengan bentuk tabel dan kurva.

9. Penulisan Kesimpulan dan Daftar Pustaka Jurnal

Simpulan yang baik mampu mengemukakan jawaban atas tujuan dan masalah dalam
tulisan. Berupa generalisasi atau kesimpulan khusus dan berisi saran pengembangan teori
atau penyusunan. Pada jurnal ini sudah mengemukakan jawaban atas tujuan dalam
tulisan jurnal ini. Penulisan daftar pustaka menggunakan van couver style dengan jumlah
40 sitasi.

40 sitasi
Van Couver

Gambar 7. Penulisan kesimpulan dan daftar pustaka

15
2.2 Analisa PICO

Parameter Keterangan
Problem Sekitar setengah dari anak-anak mengalami setidaknya satu wheezing
sebelum usia sekolah, dan beberapa bayi dengan bronkiolitis akut dapat
berkembang menjadi wheezing berulang.
Intervensi Seratus empat puluh lima bayi di bawah usia 3 tahun dirawat di rumah sakit
dengan penyakit pernapasan terdaftar ditindaklanjuti selama satu tahun
setelah dipulangkan dari rumah sakit dan kemudian dibagi menjadi
kelompok wheezing berulang dan kelompok wheezing tidak berulang dan
dipantau secara khusus dengan pemeriksaan laboratorium tes darah untuk
penyakit alergi dan pernapasan.
Comparation Prevalensi infeksi eczema dan infeksi Respiratory Syncytial Virus (RSV)
secara signifikan lebih tinggi pada kelompok wheezing yang berulang
daripada kelompok kontrol (74,2% vs 45,8%; masing-masing 32,3% vs
13,3%, keduanya P <0,05); persentase dari darah eosinofil dan serum
Eosinofil Deliver Neurotoxin (EDN) konsentrasi saat masuk juga lebih
tinggi pada kelompok wheezing berulang dibandingkan pada kelompok
kontrol (3,10 ± 2,54% vs 1,31 ± 1,15%; 68,67 ± 55,05 ng / mL vs. 27. 36 ±
19,51 ng / mL; masing-masing keduanya P <0,001). Analisis regresi
logistik multivariat pada jumlah eosinofil dan konsentrasi EDN serum
dalam memprediksi wheezing berulang menunjukkan bahwa jumlah
eosinofil menunjukkan sensitivitas terendah (51,6%) dan spesifisitas
tertinggi (90,4%), dengan area di bawah kurva ROC (AUC) 0,752 ± 0,041 ;
dan sebaliknya, EDN serum menunjukkan sensitivitas tertinggi (88,7%) dan
spesifisitas terendah (56,6%), dengan AUC 0,795 ± 0,037.
Outcome Kombinasi eosinofil count dan pengukuran EDN serum mungkin lebih baik
untuk memprediksi risiko wheezing berulangdalam kehidupan awal masa
kanak-kanak.

16
BAB III

KEKURANGAN DAN KELEBIHANJURNAL

3.1 Kekurangan Jurnal

Penulisan pada jurnal ini masih belum memenuhi kaidah-kaidah penulisan jurnal
yang baik. Dan isi dari jurnal ini terdapat faktor-faktor lainnya yang tidak di nilai dapat
menjadikan bias dalam penelitian ini seperti efek potensial dari faktor lingkungan, orang
tua merokok dan polusi udara dan sensitisasi atopik terhadap aeroallergens yang diakui
dengan baik sebagai faktor risiko untuk pengembangan selanjutnya dari wheezing
berulang.

3.2 Kelebihan Jurnal

Jurnal ini dapat di jadikan tambahan wawasan untuk memprediksi risiko wheezing
berulang dalam kehidupan awal masa kanak-kanak dengan menggunakan beberapa
pemeriksaan. Sehingga dapat di gunakan sebagai antisipasi dan pencegahan resiko
wheezing berulang.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Bush A, Grigg J, Saglani S. Managing wheeze in preschool children. BMJ.


2014;348:g15.
2. Henderson J, Granell R, Heron J, et al. Associations of wheezing phenotypes in the
first 6 years of life with atopy, lung function and airway responsiveness in mid-
childhood. Thorax. 2008;63:974–80.
3. Mallol J, Crane J, von Mutius E, et al. The international study of asthma and allergies
in childhood (ISAAC) phase three: a global synthesis. Allergol Immunopathol
(Madr). 2013;41:73–85.
4. Pellegrini-Belinchon J, Lorente-Toledano F, Galindo-Villardon P, et al. Factors
associated to recurrent wheezing in infants under one year of age in the province of
Salamanca, Spain: is intervention possible? A predictive model. Allergol
Immunopathol (Madr). 2016;44:393–9.
5. Sigurs N, Bjarnason R, Sigurbergsson F, Kjellman B. Respiratory syncytial virus
bronchiolitis in infancy is an important risk factor for asthma and allergy at age 7. Am
J Respir Crit Care Med. 2000;161:1501–7.
6. Sigurs N, Gustafsson PM, Bjarnason R, et al. Severe respiratory syncytial virus
bronchiolitis in infancy and asthma and allergy at age 13. Am J Respir Crit Care Med.
2005;171:137–41.
7. Brand PL, Baraldi E, Bisgaard H, et al. Definition, assessment and treatment of
wheezing disorders in preschool children: an evidence-based approach. Eur Respir J.
2008;32:1096–110.
8. Bacharier LB, Phillips BR, Bloomberg GR, et al. Severe intermittent wheezing in
preschool children: a distinct phenotype. J Allergy Clin Immunol. 2007; 119:604–10.
9. Wu P, Hartert TV. Evidence for a causal relationship between respiratory syncytial
virus infection and asthma. Expert Rev Anti-Infect Ther. 2011;9: 731–45.
10. Carlsen KH, Orstavik I, Halvorsen K. Viral infections of the respiratory tract in
hospitalized children. A study from Oslo during a 90 months’ period. Acta Paediatr
Scand. 1983;72:53–8.
11. Jartti T, Lehtinen P, Vuorinen T, et al. Respiratory picornaviruses and respiratory
syncytial virus as causative agents of acute expiratory wheezing in children. Emerg
Infect Dis. 2004;10:1095–101.

18
12. Calvo C, Garcia-Garcia ML, Blanco C, et al. Role of rhinovirus in hospitalized infants
with respiratory tract infections in Spain. Pediatr Infect Dis J. 2007;26:904–8.
13. Henderson J, Hilliard TN, Sherriff A, et al. Hospitalization for RSV bronchiolitis
before 12 months of age and subsequent asthma, atopy and wheeze: a longitudinal
birth cohort study. Pediatr Allergy Immunol. 2005;16:386–92.
14. McBrien CN, Menzies-Gow A. The biology of eosinophils and their role in asthma.
Front Med (Lausanne). 2017;4:93.
15. Hamann KJ, Ten RM, Loegering DA, et al. Structure and chromosome localization of
the human eosinophil-derived neurotoxin and eosinophil cationic protein genes:
evidence for intronless coding sequences in the ribonuclease gene superfamily.
Genomics. 1990;7:535–46.
16. Rosenberg HF, Domachowske JB. Eosinophils, eosinophil ribonucleases, and their
role in host defense against respiratory virus pathogens. J Leukoc Biol. 2001;70:691–
8.
17. Bochner BS, Busse WW. Allergy and asthma. J Allergy Clin Immunol. 2005;
115:953–9.
18. Sawicki GS, Smith L, Bokhour B, et al. Periodic use of inhaled steroids in children
with mild persistent asthma: what are pediatricians recommending? Clin Pediatr
(Phila). 2008;47:446–51.
19. Corradi M, Zinelli C, Caffarelli C. Exhaled breath biomarkers in asthmatic children.
Inflamm Allergy Drug Targets. 2007;6:150–9.
20. Kieninger E, Fuchs O, Latzin P, et al. Rhinovirus infections in infancy and early
childhood. Eur Respir J. 2013;41:443–52.
21. Ruotsalainen M, Piippo-Savolainen E, Hyvarinen MK, Korppi M. Respiratory
morbidity in adulthood after respiratory syncytial virus hospitalization in infancy.
Pediatr Infect Dis J. 2010;29:872–4.
22. Stein RT, Sherrill D, Morgan WJ, et al. Respiratory syncytial virus in early life and
risk of wheeze and allergy by age 13 years. Lancet. 1999;354:541–5.
23. Sigurs N, Aljassim F, Kjellman B, et al. Asthma and allergy patterns over 18 years
after severe RSV bronchiolitis in the first year of life. Thorax. 2010;65:1045–52.
24. Mochizuki H, Kusuda S, Okada K, et al. Palivizumab prophylaxis in preterm infants
and subsequent recurrent wheezing. Six-year follow-up study. Am J Respir Crit Care
Med. 2017;196:29–38.

19
25. Genuneit J, Cantelmo JL, Weinmayr G, et al. A multi-Centre study of candidate genes
for wheeze and allergy: the international study of asthma and allergies in childhood
phase 2. Clin Exp Allergy. 2009;39:1875–88.
26. Hon K, Tsang KYC, Leung TF. Relevance of cat and dog sensitization by skin prick
testing in childhood eczema and asthma. Curr Pediatr Rev. 2017;13:117–22.
27. Rossberg S, Gerhold K, Geske T, et al. Elevated blood eosinophils in early infancy
are predictive of atopic dermatitis in children with risk for atopy. Pediatr Allergy
Immunol. 2016;27:702–8.
28. Tai PC, Hayes DJ, Clark JB, Spry CJ. Toxic effects of human eosinophil products on
isolated rat heart cells in vitro. Biochem J. 1982;204:75–80.
29. Gleich GJ, Frigas E, Loegering DA, et al. Cytotoxic properties of the eosinophil
major basic protein. J Immunol. 1979;123:2925–7.
30. Hogan SP, Rosenberg HF, Moqbel R, et al. Eosinophils: biological properties and role
in health and disease. Clin Exp Allergy. 2008;38:709–50.
31. Kim CK. Eosinophil-derived neurotoxin: a novel biomarker for diagnosis and
monitoring of asthma. Korean J Pediatr. 2013;56:8–12.
32. Kim CK, Choi J, Kim HB, et al. A randomized intervention of montelukast for post-
bronchiolitis: effect on eosinophil degranulation. JPediatr. 2010;156:749–54.
33. Ballardini N, Bergstrom A, Wahlgren CF, et al. IgE antibodies in relation to
prevalence and multimorbidity of eczema, asthma, and rhinitis from birth to
adolescence. Allergy. 2016;71:342–9.
34. Zinelli C, Caffarelli C, Strid J, et al. Measurement of nitric oxide and 8- isoprostane in
exhaled breath of children with atopic eczema. Clin Exp Dermatol. 2009;34:607–12.
35. Hu X, Yu H, Wu Q. Follow-up of the prognosis of recurrent wheezing in early
childhood and the risk factors of continued wheezing. J Wenzhou Med Univ.
2016;46:1–3.
36. den Dekker HT, Voort A, de Jongste JC, et al. Tobacco smoke exposure, airway
resistance, and asthma in school-age children: the generation R study. Chest.
2015;148:607–17.
37. Harju M, Keski-Nisula L, Georgiadis L, Heinonen S. Parental smoking and cessation
during pregnancy and the risk of childhood asthma. BMC Public Health. 2016;16:428.
38. Vardavas CI, Hohmann C, Patelarou E, et al. The independent role of prenatal and
postnatal exposure to active and passive smoking on the development of early wheeze
in children. Eur Respir J. 2016;48:115–24.

20
39. Sbihi H, Tamburic L, Koehoorn M, Brauer M. Perinatal air pollution exposure and
development of asthma from birth to age 10 years. Eur Respir J. 2016;47:1062–71.
40. Moustaki M, Loukou I, Tsabouri S, Douros K. The role of sensitization to allergen in
asthma prediction and prevention. Front Pediatr. 2017;5:166.

21