Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

Etika Bisnis “ Kasus Albothyl PT Pharos”

Disusun oleh:

Nur Afiifah Kaamilah (2018310235)

Anita Rosa (2018310279)

Puti Intan Clarikha (2018310488)

PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

Jl. K.H Ahmad Dahlan, Cirendeu, Ciputat Tim. Jakarta Selatan

15419 2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat,
Hidayah, dan Karunia-Nya sehingga Kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah Etika
Bisnis yang berjudul “Kasus Etika Bisnis Albothyl PT Pharos”. Sholawat serta salam senantiasa
tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Adapun maksud dan tujuan pembuatan makalah ini untuk menyelesaikan tugas yang
diberikan oleh dosen pengajar dan juga sebagai tambahan ilmu pengetahuan untuk penulis serta
pembaca.

Seperti halnya manusia yang tidak sempurna di mata manusia lain ataupun di mata Allah
SWT, penyusunan makalah ini tidak terlepas dari kesalahan penulisan dan penyajiannya
mengingat akan keterbatasan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kami selalu
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca dempi penyempurnaan
makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberi manfaat untuk kita semua.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................i

DAFTAR ISI.................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................

1.1 Latar Belakang...................................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................2
1.3 Tujuan................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN................................................................................................

2.1 Pengertian Etika Bisnis......................................................................................3


2.2 Sejarah Oreo PT. Nabisco..................................................................................3
2.3 Kasus Oreo PT. Nabisco....................................................................................4
2.4 Cara Produk Oreo mengembalikan citra produknya..........................................5
2.5 Dampak Kasus Oreo PT. Nabisco.....................................................................5
2.6 Analisis SWOT Oreo PT. Nabisco....................................................................6

BAB III PENUTUP........................................................................................................

3.1 Kesimpulan........................................................................................................7
3.2 Saran..................................................................................................................7

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................8
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bisnis atau usaha sekarang ini menjadi pilihan banyak orang untuk mendapatkan kehidupan yang
lebih baik. Bisnis menjadi pilihan banyak orang karena selain kita dapat menentukan keuntungan sendiri
kita juga tidak terikat oleh waktu. Para wirausahawan akan berlomba-lomba mengelola bisnisnya agar
semakin besar dan paling menonjol diantara pesaing-pesaingnya.
Mengelola sebuah bisnis juga ada etika bisnis yang harus ditaati oleh pengusaha. Tujuan etika bisnis
yaitu agar dalam menjalankan bisnis dapat dilakukan seadil mungkin sesuai dengan moral serta sesuai
dengan hukum yang berlaku.
Saat ini maraknya berita-berita mengenai pelanggaran etika bisnis menimbulkan ketertarikan untuk
menelusuri lebih lanjut faktor-faktor yang mendorong suatu perusahaan melakukan kecurangan dalam etika
bisnis dan dampak yang diakibatkannya. Tidak hanya melihat dari sudut pandang ekonomi saja namun etika
bisnis juga melihat dari sudut pandang moral dan sudut pandang hukum dalam menjalankan bisnis. Bisnis
yang baik (good business) bukan saja bisnis yang menguntungkan. Bisnis yang baik adalah juga bisnis yang
baik secara moral. Malah harus ditekankan, arti moralnya merupakan salah satu arti terpenting bagi kata
“baik”. ( Bertens, 2013)
Sekarang ini banyak sekali kejadian-kejadian dimana beberapa bisnis masih mengabaikan aspek
moral dan menyepelekan hukum yang ada. Banyak perusahaan yang hanya memikirkan aspek ekonomi saja
yaitu mendapatkan laba atau keuntungan yang sebanyak-banyaknya, menghindari terjadinya kerugian dan
kekuatan bersaing yang menjadi tujuan satu-satunya dalam menjalankan bisnis sehingga faktor moral atau
etika serta faktor hukum tidak lagi digunakan dan tidak lagi menjadi pertimbangan.
Akhir-akhir ini banyak terjadi kasus pelanggaran etika bisnis, buktinya dalam satu bulan terakhir ini
ada tiga produk yang izin edarnya ditarik oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) karena tidak
sesuai dengan ketentuan. Dimulai dari Viostin dan Enzyplex pada tanggal 5 Februari 2018 lalu karena
terbukti mengandung DNA babi, dan saat ini produk Albothyl dari PT Pharos Indonesia pun dibatalkan izin
edarnya per tanggal 15 Februari 2018 setelah ada 38 laporan kasus terkait efek samping serius yang timbul
akibat penggunaan Albothyl oleh para ahli kesehatan dalam dua tahun terakhir.
Dari contoh kasus tersebut kita menjadi tahu bahwa masih banyak perusahaan yang menjalankan
bisnis hanya berorientasi pada laba atau keuntungan tanpa mementingkan aspek moral dan melanggar aturan
hukum yang berlaku.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa dampak yang diakibatkan dari penyalahgunaan kandungan obat Albothyl produk PT
Pharos?
2. Mengapa dapat terjadi peyalahgunaan kandungan obat Albothyl produk PT Pharos?
3. Bagaimana PT Pharos menyelesaikan masalah tersebut?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui dampak yang diakibatkan dari penyalahgunaan kandungan obat
Albothyl produk PT Pharos.
2. Untuk mengetahui mengapa dapat terjadi penyalahgunaan kandungan obat
Albothyl produk PT Pharos.

3. Untuk menjabarkan bagaimana PT Pharos menyelesaikan masalah tersebut


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Etika Bisnis


Etika bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup
seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan dan juga masyarakat. Etika
Bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk nilai, norma dan perilaku karyawan
serta pimpinan dalam membangun hubungan yang adil dan sehat dengan pelanggan/mitra
kerja, pemegang saham, masyarakat.
Perusahaan meyakini prinsip bisnis yang baik adalah bisnis yang beretika, yakni
bisnis dengan kinerja unggul dan berkesinambungan yang dijalankan dengan mentaati
kaidah-kaidah etika sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku.
Etika Bisnis dapat menjadi standar dan pedoman bagi seluruh karyawan termasuk
manajemen dan menjadikannya sebagai pedoman untuk melaksanakan pekerjaan sehari-
hari dengan dilandasi moral yang luhur, jujur, transparan dan sikap yang profesional.

2.2 Topik
Pada tanggal 15 Februari 2018 , BPOM telah membatalkan izin edar Albothyl setelah ada
38 laporan kasus terkait efek samping serius yang timbul akibat penggunaan Albothyl, oleh
profesional kesehatan. Kasus ini tentunya dianggap sangat serius karena berkaitan dengan
keselamatan pasien. Dalam 38 laporan kasus tersebut menunjukkan bahwa adanya efek samping
Albothyl yang malah memperparah sariawan yang diderita pasien dan menyebabkan infeksi (noma
like lession).
Perlu diketahui bahwa kualitas dan keamanan setiap produk obat maupun makanan yang
beredar di Indonesia dikontrol oleh BPOM atau disebut juga post-market surveillance. Post-market
surveillance ini biasanya dilakukan dengan cara sampling (mengambil contoh produk langsung dari
pasaran untuk diuji di laboratorium). Dan cara samplingini bisa dilakukan secara rutin (misalnya
menjelang akhir tahun atau Idul Fitri) maupun secara mendadak jika diduga ada yang tidak sesuai
ketentuan.
Namun tentunya, kontrol tidak hanya dilakukan oleh pihak regulator (dalam hal ini BPOM
dan BBPOM) karena bisa dibayangkan bagaimana repotnya mereka mengontrol seluruh produk
yang beredar di Indonesia beserta seluruh fasilitas produksinya. Oleh sebab itu, peran industri
farmasi, profesional kesehatan di lapangan dan masyarakat awam juga diperlukan. Caranya? Ya
dengan melaporkan kejadian tidak diinginkan (baik yang serius maupun tidak serius) yang timbul
akibat penggunaan suatu obat atau yang dikenal dengan istilah Farmakovigilans. Apa lagi tuh?
Farmakovigilans adalah seluruh kegiatan tentang pendeteksian, penilaian, pemahaman dan
pencegahan efek samping atau masalah lainnya terkait dengan penggunaan obat. Pelaporan ini
sifatnya bisa berupa Pelaporan spontan, Pelaporan Berkala Pasca Pemasaran (Periodic Safety
Update Report), Pelaporan studi keamanan pasca pemasaran, Pelaporan publikasi/literatur ilmiah,
Pelaporan tindak lanjut regulatori Badan Otoritas negara lain, pelaporan tindak lanjut pemegang
izin edar di negara lain, dan/atau Pelaporan dari perencanaan Manajemen Resiko.
2.3 Kasus Oreo PT. Nabisco
Pada investigasi yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Indonesia bulan
September 2008 lalu, menyebutkan Oreo sebagai salah satu dari enam produk makanan
impor dari China yang terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),
mengandung melamin. Melamin merupakan senyawa kimia organik yang bersifat basa
dan mengandung kadar nitrogen sebesar 66% yang sering disalahgunakan untuk
meningkatkan kadar protein pada makanan. Produk Oreo yang bermelamin ini
merupakan produk yang diimpor dari China. Zat berbahaya bagi tubuh tersebut
ditemukan dalam varian Oreo wafer stick dan Oreo cokelat sandwich cookies.

Nabisco sudah melakukan perbuatan yang sangat merugikan dengan memasukkan


zat berbahaya pada produk mereka yang berdampak buruk pada konsumen yang
menggunakan produk mereka. Salah satu sumber mengatakan bahwa meskipun
perusahaan sudah melakukan permintaan maaf dan berjanji menarik produknya, namun
permintaan maaf itu hanyalah sebuah klise dan penarikan produk tersebut seperti tidak di
lakukan secara sungguh –sungguh karena produk tersebut masih ada dipasaran.

Pelanggaran Prinsip Etika Bisnis yang dilakukan oleh PT. Nabisco yaitu Prinsip
Kejujuran dimana perusahaan tidak memberikan peringatan kepada konsumennya
mengenai kandungan yang ada pada produk mereka yang sangat berbahaya untuk
kesehatan dan perusahaan juga tidak memberi tahu.

Melakukan apa saja untuk mendapatkan keuntungan pada dasarnya boleh


dilakukan asal tidak merugikan pihak mana pun dan tentu saja pada jalurnya. Disini
perusahaan seharusnya lebih mementingkan keselamatan konsumen yang menggunakan
produknya karena dengan meletakkan keselamatan konsumen diatas kepentingan
perusahaan maka perusahaan itu sendiri akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar
karena kepercayaan / loyalitas konsumen terhadap produk itu sendiri.

Dampak yang diakibatkan dari mengkonsumsi oreo bermelamin sangat besar. Tak
hanya Oreo bermelamin namun ada juga beberapa perusahaan di China terlibat kasus
penambahan melamin pada bahan susu formula dan susu bayi yang mengakibatkan
banyaknya korban yang berjatuhan. Sekitar 300.000 korban sakit, lebih dari 12.800 orang
dirawat di rumah sakit dan 4 bayi dikabarkan meninggal dunia karena gagal ginjal dan
batu ginjal.

Kasus oreo bermelamin membuat citra perusahaan menurun sehingga


mengakibatkan pudarnya kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap biskuit ini. Selain
itu, penjualan produk ini akhirnya menurun drastis. Tentu saja hal ini sangat merugikan,
namun perusahaan ini bergegas untuk menyusun strategi marketing untuk membangun
kembali citra perusahaannya.

2.4 Cara Oreo mengembalikan Citra Produknya


Karena adanya krisis kepercayaan membuat perusahaan merugi. Kerugian yang
diterima bukan hanya berupa kerugian materil tetapi juga kerugian immateril. Kerugian
materiil berupa kerugian yang diterima karena produknya di laku dipasaran. Akhirnya
pemasukan berkurang, omset menipis dan laba pun sedikit. Inilah yang dinamakan
kerugian materiil yaitu kerugian yang berhubungan dengan uang. Kerugian immateriil
yang diterima yaitu hilangnya kepercayaan konsumen terhadap produk yang di pasarkan.
Kerugian ini bisa berupa nama baik. Antara kerugian materiil dan immateriil sangat
berhubungan karena keduanya mempengaruhi kelangsungan perusahaan. Untuk
meminim kerugian yang terjadi, maka penanganan utama diawal sangat diperhatikan.
Setelah cara-cara aman dilakukan untuk selanjutnya perlu diadakan promo atau iklan
tambahan yang berfungsi sebagai pengingat terhadap produk oreo. Agar publik
senantiasa mengingat oreo dan dengan demikian kepercayaan publik secara perlahan
kembali normal.

2.5 Dampak Kasus Oreo


1. Krisis Kepercayaan
Kerugian immateriil yang diterima yaitu hilangnya kepercayaan konsumen
terhadap produk yang di pasarkan. Kerugian ini bisa berupa nama baik. Antara
kerugian materiil dan immateriil sangat berhubungan karena keduanya
mempengaruhi kelangsungan perusahaan. Untuk meminimalisir kerugian yang
terjadi, maka penanganan utama diawal sangat diperhatikan.
2. Kerugian Material
Kerugian materiil berupa kerugian yang diterima karena produknya tidak laku
dipasaran. Akhirnya pemasukan berkurang, omset menipis dan laba pun sedikit.
Kerugian ini tentu bermula karena adanya krisis kepercayaan. Karena produk
tersebut tidak dapat dipercaya oleh masyarakat, maka masyarakat juga tidak ada
keinginan untuk membeli produk tersebut.
2.6 Analisis SWOT Oreo PT. Nabisco
Adapun Analis SWOT dari Oreo PT. Nabisco adalah:
Strength :

 Nabisco adalah perusahaan sebagai produsen kue dan makanan ringan asal Amerika
Serikat.

 Nabisco mempunyai hubungan erat dengan segala usia customer masa kini.

 Salah satu produk dengan branding pada citra rasa.

Weakness :

 Mengeluarkan produk baru dengan sedikit varian rasa.

 Menjadi pemicu tingginya obesitas pada anak-anak.

 Nabisco tidak pernah memberi peringatan kepada konsumennya tentang adanya zat-zat
berbahaya di dalam produk mereka.

Opportunity :

 Pasar yang dituju adalah pasar global.

 Mempunyai relasi yang kuat dengan perusahaan lain.

 Ada banyak produk lain seperti jenis minuman, es krim, dan fast food memakai Oreo
sebagai pengenal produknya.

Treats :

 Kesehatan konsumen dibahayakan dengan alasan mengurangi biaya produksi Oreo.

 Kehilangan kepercayaan dari orangtua untuk membeli produk tersebut.

 Banyak pesaing yang memanfaatkan peluang bisnis dengan menggunakan branding Oreo.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pelanggaran etika bisnis yang telah dilakukan oleh PT. Nabisco sangat berbahaya
dikarenakan biskuit Oreo mengandung zat melamin yang tidak aman untuk dikonsumsi
oleh bayi dan anak-anak. Sudah jelas bahwa kandungan melamin yang berbahaya dapat
menyebabkan iritasi atau penyakit yang dapat menyerang siapapun yang
mengkonsumsinyadan perlindungan konsumen menjadi terancam. PT. Nabisco telah
teridentifikasi menyalahi etika bisnis dalam pembuatan biskuit Oreoyang di dalam bahan
baku nya terdapat zat melamin.

3.2 Saran
Kami menyadari bahwa dalam menyusunan makalah ini masih sangat jauh dari
kata sempurna. Dan oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun dari pembaca sehingga biasa kami jadikan sebagai bahan
pembelajaran untuk menyempurnakan pembuatan makalah ini dikemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA

https://idalkalhalmi30.wordpress.com/2017/04/21/kasus-etika-bisnis-oreo-pt-nabisco/

http://momenbercerita.blogspot.com/2011/11/oreo-biscuit-biskuit-oreo-asal-mula.html

https://www.viva.co.id/gaya-hidup/kuliner/1056611-sejarah-biskuit-terlaris-di-dunia-
berapa-usia-oreo

https://www.guideku.com/food/2019/01/09/113000/bikin-lidah-kebelit-inikah-asal-mula-
nama-oreo

https://oreobermelamin.blogspot.com/2016/10/citra-oreo-bermelamin.html

http://bungaayusaputri.blogspot.com/2017/06/kasus-pengembalian-citra-produk-
oreo.html?m=1

https://idalkalhalmi30.wordpress.com/2017/04/21/kasus-etika-bisnis-oreo-pt-nabisco/
http://melatiskma.blogspot.com/2019/03/tugas-softskill-etika-bisnis.html?m=1

http://addsury.blogspot.com/2018/03/contoh-kaus-pelanggaran-etika-bisnis.html?m=1