Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

“MASYARAKAT MARITIM DAN KATEGORISASINYA”

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK VII

Ketua kelompok: Miratul Hazanah (D011191124)


Anggota Kelompok: Hamrul U (D0111911180)
Khaerul Ashwatullah (D011191126)
Hasanuddin (D011191132)
Moch. Rahulhaq Alfaizi (D011181341)

MATA KULIAH WAWASAN SOSIAL BUDAYA MARITIM

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2020

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan atas ke hadirat Allah Yang Maha
kuasa, tuhan semesta alam yang telah memberikan kesehatan serta
kesempatan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Masyarakat Maritim dan Kategorisasinya” tepat pada waktu yang
ditentukan. Terimakasih saya ucapkan kepada dosen karena dengan
adanya tugas makalah ini saya dapat menambah ilmu mengenai
pembahasan materi ini. Tidak lupa pula saya hanturkan salam serta
salawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW utusan Allah yang paling
mulia yang telah menyelamatkan kita dari alam yang gelap menuju alam
yang terang benderang seperti saat ini.

Makalah ini akan membahas secara khusus mengenai pengertia


masyarakat maritim, kelompok etis sebagai cikal bakal masyarakat
maritim pedesaan, dan kelompok etnis pewaris kebudayan maritim
pedesaan berikutnya. Kepada para pembaca dan dosen saran dan
kritikan serta masukan sangat saya butuhkan demi kesesuaian makalah
yang saya buat sehingga, dapat menjadikan makalah ini lebih baik dari
sebelumnya.

Gowa, 30 Maret 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI

SAMPUL.........................................................................................................1

KATA PENGANTAR.......................................................................................2
.......................................................................................................................

DAFTAR ISI....................................................................................................3

BAB I PEDAHULUAN.....................................................................................4

A. Latar Belakang....................................................................................4
B. Rumusan Masalah...............................................................................4
C. Tujuan Penulisan.................................................................................5
D. Manfaat Penulisan...............................................................................5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................6

BAB III PEMBAHASAN..................................................................................9

A. Pengertian Masyarakat Maritim


B. Kelompok-Kelompok Etnik (suku-bangsa) Sebagai Cikal Bakal
Masyarakat Maritim Pedesaan di Indonesia
C. Kelompok-Kelompok Sub-Etnik Pewaris Kebudayaan Maritim
Pedesaan Berikutnya

BAB IV PENUTUP..........................................................................................11

A. Kesimpulan..........................................................................................11
B. Saran...................................................................................................11

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................12

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan negara perairan yang ditaburi oleh ribuan
pulau.Tidak kurang dari 13.466 pulau terdapat di wilayah Indonesia.
Luas wilayah perairan Indonesia meliputi kawasan laut seluas 3,1 km2
yang terdiri dari 2,8 juta km2 perairan kepulauan (termasuk 92,877
km2 perairan darat) dan 0,3 juta km2 wilayah laut, sedangkan luas
wilayah daratannya adalah 1.826.440 km2. Apabila ditambah dengan
luas kawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), maka jumlah
keseluruhan wilayah perairan Indonesia adalah 7,9 juta kilometer
persegi.
Sebagai sebuah negara perairan dengan wilayah yang sangat luas,
sebagian penduduk Indonesia tersebar di berbagai kawasan
pesisir.Diperkirakan ada sekitar 40 (empat puluh) juta orang
penduduk, tersebar di 4.735 desa pesisir yang sebagian di antaranya
terletak di wilayah perkotaan.Desa-desa pesisir tersebut terutama
terkonsentrasi di wilayah pantai Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Laut
Jawa, dan Selat Makassar.Sebagian besar penduduk di desa-desa
pesisir itu merupakan masyarakat yang masih tradisional, dengan
strata sosial ekonomi dan tingkat pendidikan rendah.Mereka
merupakan sebuah kelompok masyarakat yang terdiri dari berbagai
suku atau etnis yang sebagian besar menggantungkan kehidupannya
pada laut. Bagi mereka laut bukan hanya merupakan sumber
penghidupan, tetapi juga merupakan penghubung (bukan pemisah)
antara satu wilayah dengan wilayah lain dan antara satu etnis dengan
etnis lainnya.

4
B. RUMUSAN MASALAH
a) Apa pengertian masyarakat maritim ?
b) Bagaimana mengidentifikasi kelompok-kelompok etnik sebagai
cikal bakal masyarakat maritim pedesaan Indonesia ?
c) Bagaimana mengidentifikasi kelompok-kelompok sub-etnik
pewaris kebudayaan maritim pedesaan berikutnya ?

C. TUJUAN PENULISAN
a) Memahami pengertian masyarakat maritim
b) Mengetahui kelompok- kelompok etnik sebagai cikal bakal
masyarakat maritim pedesaan Indonesia
c) Mengetahui Kelompok-kelompok sub-etnik pewaris kebudayaan
maritim pedesaan berikutnya

D. MANFAAT PENULISAN
a) Dapat dijadikan sebagai sumber bacaan bagi pembaca
b) Dapat menambah pengetahuan mengenai masyarakat maritim
c) Dapat dijadikan sumber referensi dalam membuat karya makalah
selanjutnya

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Masyarakat merupakan komunitas yang mendiami wilayah


tertentu.Masyarakat adalah sekelompok manusia yang saling berinteraksi
dan berhubungan serta memiliki nilai-nilai dan kepercayaan yang kuat
untuk mencapai tujuan dalam hidupnya. Menurut Hassan Sadly (1980),
masyarakat dipahami sebagai suatu golongan besar atau kecil yang terdiri
dari beberapa manusia yang dengan atau karena sendirinya bertalian
secara golongan dan pengaruh mempengaruhi satu sama lain.
Masyarakat merupakan sekumpulan individu-individu yang di dalamnya
terdapat norma-norma yang harus dijaga dan dijalankan.

Menurut [ CITATION Koe83 \l 1033 ], masyarakat adalah sekumpulan


manusia yang saling bergaul, atau dengan istilah lain saling berinteraksi.
Kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat
istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa identitas
bersama [ CITATION Eff10 \l 1033 ]

Menurut [CITATION Soe87 \l 1033 ]masyarakat atau komunitas adalah


merujuk pada bagian masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah
(dalam arti geografi) dengan batas-batas tertentu, dimana yang menjadi
dasarnya adalah interaksi yang lebih besar dari anggota-anggotanya, di
bandingkan dengan penduduk diluar batas wilayahnya.Sedangkan
menurut Mac Iaver, masyarakat adalah sekelompok manusia yang
mendiami territorial tertentu dan adanya sifat-sifat yang saling tergantung,
adanya pembagian kerja dan kebudayaan bersama.

Dari berbagai pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa


masyarakat memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (1) Interaksi diantara
sesama anggota masyarakat, (2) Menempati wilayah dengan batas-batas

6
tertentu, (3) Saling tergantung satu dengan yang lainnya, (4) Memiliki adat
istiadat tetentu/kebudayaan, (5)Memiliki identitas bersama.

Menurut [ CITATION The98 \l 1033 ]setidaknya ada dua definisi


masyarakat.Definisi yang pertama adalah sekelompok orang yang hidup
bersama dalam komunitas yang teratur, misalnya kelompok orang yang
hidup di sebuah negara atau wilayah tertentu dan memiliki kebiasaan
bersama, hukum, dan organisasi.Definisi kedua adalah sebuah organisasi
atau klub yang dibentuk untuk tujuan atau kegiatan tertentu. Dapat
dikatakan bahwa sekelompok manusia dapat disebut masyarakat apabila
mereka memiliki pemikiran dan perasaan, sistem dan aturan yang sama.
Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi
dengan sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.

Berdasarkan beberapa definisi tersebut maka kelompok


masyarakat yang bisa dikategorikan sebagai masyarakat maritim antara
lain adalah kelompok nelayan beserta kelompok lain yang terkait, serta
kelompok orang-orang yang meskipun tidak berdomisili di wilayah pantai
atau pesisir tetapi menggantungkan kehidupannya kepada aktivitas
kemaritiman, seperti misalnya kelompok marinir, kelompok buruh bongkar
muat kapal/perahu di pelabuhan, para pelaku ekspedisi muatan kapal laut,
para pelaku wisata bahari, para pelaku industri dan jasa maritim (misal
industri perkapalan yang meliputi indusrti galangan kapal, penunjang
galangan kapal, bangunan lepas pantai), dan sebagainya.

Masyarakat pesisir adalah sekelompok warga yang tinggal di


wilayah pesisir yang hidup bersama dan memenuhi kebutuhan hidupnya
dari sumber daya di wilayah pesisir.Masyarakat yang hidup di kota-kota
atau permukiman pesisir memiliki karakteristik secara sosial ekonomis
sangat terkait dengan sumber perekonomian dari wilayah laut [ CITATION
Pri05 \l 1033 ].Demikian pula jenis matapencaharian yang memanfaatkan
sumber daya alam atau jasa-jasa lingkunganyang ada di wilayah pesisir

7
seperti nelayan, petani ikan, dan pemilik atau pekerjaindustri maritim.
Masyarakat pesisir yang di dominasi oleh usaha perikanan padaumumnya
masih berada pada garis kemiskinan, mereka tidak mempunyai
pilihanmata pencaharian, memiliki tingkat pendidikan yang rendah, tidak
mengetahuidan menyadari kelestarian sumber daya alam dan lingkungan
[ CITATION Lew02 \l 1033 ]. Selanjutnya dari status legalitas lahan,
karakteristik beberapa kawasanpermukiman di wilayah pesisir umumnya
tidak memiliki status hukum (legalitas),terutama area yang direklamasi
secara swadaya oleh masyarakat (Suprijanto,2006).

Wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah daratan yang


berbatasan dengan laut, batas di daratan meliputi daerah–daerah yang
tergenang air maupun yang tidak tergenang air yang masih dipengaruhi
oleh proses-proses laut seperti pasang surut, angin laut dan intrusi garam,
sedangkan batas di laut ialah daerahdaerah yang dipengaruhi oleh
proses-proses alami di daratan seperti sedimentasi dan mengalirnya air
tawar ke laut, serta daerah-daerah laut yang dipengaruhi oleh kegiatan-
kegiatan manusia di daratan [CITATION Ben01 \l 1033 ]

Nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan


penangkapan ikan.Pengertian mata pencaharian adalah sumber nafkah
utama dalam memenuhi kebutuhan hidup dengan menangkap
ikan.Sedangkan nelayan menurut Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004
tentang Perikanan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan
penangkapan ikan. Dalam UU Nomor 31 Tahun 2004, nelayan dan
nelayan kecil mempunyai definisi berbeda yaitu nelayan kecil adalah
orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

8
BAB III
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN MASYARAKAT MARITIM
Menurut Peter L. Berger, masyarakat adalah suatu keseluruhan
kompleks hubungan manusia yang luas sifatnya. Keseluruhan yang
kompleks sendiri berarti bahwa keseluruhan itu terdiri atas bagian-bagian
yang membentuk suatu kesatuan.
Menurut Harold J. Laski Masyarakat adalah suatu kelompok
manusia yang hidup dan bekerjasama untuk mencapai terkabulnya
keinginan-keinginan mereka bersama.
Jadi dapat di simpulkan bahwa masyarakat adalah sekelompok
manusia yang saling berinteraksi dan berhubungan serta memiliki nilai-
nilai dan kepercayaan yang kuat untuk mencapai tujuan dalam hidupnya
Menurut (Soegiarto, 1976; Dahuri et al, 2001), Pesisir merupakan
daerah pertemuan antara darat dan laut. ke arah darat meliputi bagian
daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-
sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin.
Sedangkan ke arah laut meliputi bagian laut yang masih dipengaruhi oleh
proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air
tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti
penggundulan hutan dan pencemaran.
Masyarakat maritim adalah kesatuan hidup manusia berupa
kelompok-kelompok kerja, komunitas sekaampung atau sedesa, kesatuan
suku bangsa, kesatuan administratif berupa kecamatan, provinsi, bahkan
bisa merupakan Negara atau kerajaan, yang sebagian besar atau
sepenuhnya menggantungkan kebutuhan ekonominya secara langsung
ataupun tidak langsung pada pemanfaatan sumber daya laut (hayati dan

9
non hayati) dan jasa-jasa laut yang dipedomani dan dicirikan bersama
dengan kebudayaan maritimnya.
Masyarakat pantai/pesisir menggantungkan mata pencahariannya
dari eksploitasi laut. Artinya bahwa mereka hidup dari sumber daya dan
alam yang masih berlimpah di dekat sekitar pantai. Dalam
perkembangannya, hasil sumber daya laut yang antara lain dari hasil ikan,
kerang dan sebagaainya. Ciri khas yang menonjol masyarakat maritim
adalah sifat keterbukaan dalam menerima unsur-unsur dari luar. Sebagai
contoh berkembangnya agama Islam pada abad ke-15 dan ke-16 di
Indonesia atau Nusantara, adalah melalui daerah-daerah atau kota-kota
pelabuhan seperti Samudra Pasai, Aceh, Malaka, Demak, Gresik, Tuban
dan lain-lain. Dalam hal religi yang berorientasi kepada kepercayaan
adanya dunia roh dan lebih khusus lagi penghormatan kepada roh nenek
moyang mereka. Pada masyarakat pantai, terutama masyarakat nelayan
atau pelaut, upacara-upacara semacam itu juga ditujukan kepada tokoh-
tokoh mistis penjaga laut, seperti Ratu Pantai Selatan dan Pantai Utara,
agar mereka diberi keselamatan dalam menjalankan pekerjaan sebagai
nelayan atau pelaut. Keempat, ciri masyarakat penduduk pantai suka
melakukan hubungan interaksional dengan penduduk pantai lainnya
maupun terhadap masyarakat pedalaman. Kalau masyarakat pantai
dengan masyarakat pantai lainnya yaitu dalam bentuk perdagangan dan
pelayaran. Sedangkan dengan masyarakat pedalaman yaitu dengan
tukar-menukar hasil laut dengan bahan makanan pokok seperti beras.
Masyarakat pesisir pada umumnya telah menjadi bagian dari
masyarakat yang pluraristik tapi masih memiliki jiwa kebersamaan. Artinya
bahwa struktur masyarakat pesisir rata-rata merupakan gabungan
karakteristik masyarakat perkotaan dan pedesaan. Karena, struktur
masyarakat pesisir sangat plurar, sehingga mampu membentuk sistem
dan nilai budaya yang merupakan akultrasi budaya dari masing-masing
komponen yang membentuk struktur masyarakatnya. Masyarakat pesisir
mempunyai sifat-sifat/ karakteristik tertentu yang khas/unik. Sifat ini

10
sangat erat kaitannya dengan sifat usaha di bidang perikanan itu sendiri.
Karena sifat dari usaha-usaha perikanan sangat dipengaruhi oleh faktor-
faktor seperti lingkungan, msim, dan pasar, maka karakteristik masyarakat
pesisir juga terpengaruhi oleh faktor-faktor tersebut.
Kegiatan kemaritiman bangsa Indonesia setua usia bangsa
indonesia itu sendiri. Hal ini bisa dipahami karena asal mula nenek
moyang bangsa Indonesia dari daratan Asia.Mereka datang ke kepulauan
Indonesia secara bergelombang.Ada dua jalur yang mereka tempuh yaitu
jalan barat dan jalan timur. Jalur barat berawal dari Asia daratan kemudian
dengan melewati semenanjung Malaya, mereka menyeberang ke pulau
Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara. Sementara
itu kelompok yang lewat jalur timur setelah meninggalkan daratan Asia
mereka menuju Filipina, Sulawesi, Maluku,  Nusa Tenggara, Irian dan
kepulauan di Samudera Pasifik.
Sudah barang tentu mereka datang dari daratan Asia dengan cara
berlayar karena tidak ada alternatif transportasi lainnya. Dengan demikian
kemampuan berlayar mengarungi lautan merupakan ketrampilan inheren
yang mereka dimiliki oleh nenk moyang bangsa Indonesia.Dengan
perahu-perahu yang sederhana mereka dapat mengarungi laut luas.
Batas-batas pelayaran nenek moyang bangsa Indonesia: utara: Pulau
Formosa, selatan: Pantai Australia, barat: Madagaskar, timur: kepulauan
micronesia.
Hal ini bisa dipahami karena sejak awal abad masehi bangsa
indonesia sudah terlibat secara aktif dalam pelayaran dan perdagangan
internasional antara dunia Barat (Eropa) dengan dunia Timur (Cina) yang
melewati selat Malaka. Dalam hal ini bangsa Indonesia bukan menjadi
obyek aktivitas perdagangan itu tetapi telah mampu munjadi subyak yang
menentukan.Suatu hal yang bukan kebetulan jika berbagai daerah di
Nusantara memproduksi berbagai komoditi yang khas agar bisa ambil
bagian aktif dalam aktivitas pelayaran dan perdagangan itu.Bahkan pada
jaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, selat Malaka yang merupakan

11
pintu gerbang pelayaran dan perdagangan dunia dapat dikuasai oleh
bangsa Indonesia.

B. KELOMPOK-KELOMPOK ETNIK (SUKU-BANGSA) SEBAGAI CIKAL


BAKAL MASYARAKAT MARITIM PEDESAAN DI INDONESIA
Jika melacak cikal bakal masyarakat maritim Indonesia, maka di
antara sekian banyak kelompok-kelompok suku bangsa pengelola dan
pemanfaat sumber daya dan jasa-jasa laut yang ada seperti nelayan dan
pelayar.
Beberapa kelompok-kelompok etnik (suku-bangsa) sebagai cikal
bakal masyarakat maritim pedesaan di Indonesia antara lain :
 Etnis-etnis Bajo (Sea Gypsies)
 Bugis (bermula di Teluk Bone)
 Makassar (bermula di Galesong)
 Mandar (Sulawesi Barat)
 Buton (dalam wilayah Sulawesi Tenggara)
 Madura (dalam wilayah Jawa Timur)
Menurut Adrian Horridge, suku-suku bangsa ini dianggap sebagai
pewaris kebudayaan maritim  dari ras Melayu-Polinesia perintis dan
pengembang kebudayaan maritim di Asia Tenggara sejak ribuan tahun
silam.

C. KELOMPOK-KELOMPOK SUB-ETNIK PEWARIS KEBUDAYAAN


MARITIM PEDESAAN BERIKUTNYA

Sejak beberapa dekade terakhir, bukan hanya kelompok tersebut


dianggap sebagai masyarakat pewaris dan pendukung kebudayaan
maritim di Indonesia, tapi tidak terkecuali bagi semua komunitas pesisir
dan pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke yang telah menggagas dan
mengembangkan sektor-sektor ekonomi berkaitan sumber daya dan jasa-
jasa laut di sekelilingnya.

12
Beberapa kelompok-kelompok sub-etnik pewaris kebudayaan
maritim pedesaan berikutnya antara lain :

 Pelayar dan nelayan pulau Bawean


 Pelayar dan nelayan di Masalembo dan Sapudi (Jawa)
 Pedagang-pedagang Bonerate
 Nelayan di Pulau Polu’e di Laut Flores
 Pemburu paus dari Lamalera (Lomblen di Selat Timor, Orang
Luang di sebelah barat dayanya)
 Pelaut di daerah koloni Bugis (di Flores, Bima, Riau, Lampung)
yang menguasai jaringan perdagangan luas dari berbagai jenis
komoditi ekspor dan inpor

13
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Masyarakat maritim adalah kesatuan hidup manusia berupa
kelompok-kelompok kerja, komunitas sekaampung atau sedesa,
kesatuan suku bangsa, kesatuan administratif berupa kecamatan,
provinsi, bahkan bisa merupakan Negara atau kerajaan, yang
sebagian besar atau sepenuhnya menggantungkan kebutuhan
ekonominya secara langsung ataupun tidak langsung pada
pemanfaatan sumber daya laut (hayati dan non hayati) dan jasa-jasa
laut yang dipedomani dan dicirikan bersama dengan kebudayaan
maritimnya. Jika melacak cikal bakal masyarakat maritim Indonesia,
maka di antara sekian banyak kelompok-kelompok suku bangsa
pengelola dan pemanfaat sumber daya dan jasa-jasa laut yang ada
seperti nelayan dan pelayar. Sejak beberapa dekade terakhir, bukan
hanya kelompok tersebut dianggap sebagai masyarakat pewaris dan
pendukung kebudayaan maritim di Indonesia, tapi tidak terkecuali bagi
semua komunitas pesisir dan pulau-pulau dari Sabang sampai
Merauke yang telah menggagas dan mengembangkan sektor-sektor
ekonomi berkaitan sumber daya dan jasa-jasa laut di sekelilingnya.

B. SARAN
Penulis menyadari bahwa makalah ini banyak sekali kesalahan
dan sangat jauh dari kesempurnaan.Tentunya, penulis akan terus
memperbaiki makalah dengan mengacu pada sumber yang dapat
dipertanggungjawabkan nantinya. Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran tentang pembahasan makalah diatas.

14
DAFTAR PUSTAKA
Bengen D. G. 2001.Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir
dan Laut.Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Bogor :
Institut Pertanian Bogor
Delgado, Ricardo and Stefanis. 2001. Critical Race Theory: an
Introduction. New York: New York University Press.
Effendy, R. (2010). Pendidikan Lingkungan, Sosial, Budaya, dan
Teknologi. Bandung: CV Maulana Media Grafika.
Koentjaraningrat. 1983. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.
Soekanto, Soerjono. 1987. Sosiologi: Suatu Pengantar. Edisi Baru Ketiga.
Jakarta : Rajawali Press.
Kusnadi. 2000. Nelayan:Strategi Adaptasi dan Jaringan Sosial. Bandung:
Humaniora Utama Press.
Lewaherilla, N., E. 2002. Pariwisata Bahari; Pemanfaatan Potensi Wilayah
Pesisir dan Lautan.Makalah Program Pasca Sarjana / S3. Bogor:
Institut Pertanian Bogor
Oxford. 1998. The New Oxford Dictionary of English. Oxford: Oxford
University Press.
Prianto, E. 2005. Proseding “Fenomena Aktual Tema Doktoral Arsitektur
dan Perkotaan”. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

15