Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH GINEKOLOGI

KELAINAN KONGENITAL SISTEM GENITAL DAN SISTEM TRAKTUS


URINARIUM
Untuk Memenuhi Tugas Yang Diampu Oleh Dosen Dr. Ni Nyoman Budiani, S.SiT., M.Biomed

Disusun Oleh :

NI KADEK WIDNYANI DEWI


NIM. P07124018015

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES DENPASAR
PROGRAM STUDI D III JURUSAN KEBIDANAN
2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-
Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “ Sistem Genital dan Sistem Traktus
Urinarium”. Makalah ini penulis susun secara maksimal dalam rangka memenuhi tugas pada
Mata Kuliah Ginekologi Poltekkes Kemenkes Denpasar Jurusan Kebidanan tahun 2020.
Selama proses penyusunan makalah ini, penulis mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak, baik bantuan secara moril maupun materiil. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis
mengucapkan terimakasih kepada Yth :
1. Dr. Ni Nyoman Budiani, M.Biomed selaku Penanggung Jawab Mata Kuliah sekaligus
pembimbing Mata Kuliah Ginekologi yang telah membimbing dan membina penulis
dalam menyelesaikan makalah ini.
2. dr. I Nyoman Rudi Susantha, SpOG(K) FER, MARS selaku pembimbing pada Mata
Kuliah Ginekologi yang telah membimbing dan membina penulis dalam menyelesaikan
makalah ini.
3. Semua pihak yang telah membantu saya secara langsung maupun tidak langsung baik
berupa materiil maupun non meteriil demi terselesaikannya makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan baik dari segi
sususnan maupun tata bahasanya. Oleh karena itu penulis memohon maaf atas kesalahan dan
kekurangan tersebut. Dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik yang
membangun dari pembaca dengan harapan agar penulis mampu menyusun makalah dengan lebih
baik lagi. Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan
inspirasi bagi pembaca.
Denpasar, April 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………..ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang…………………………………………………………………………1
B. Rumusan masalah……………………………………………………………………...2
C. Tujuan makalah………………………………………………………………………..2
D. Manfaat makalah………………………………………………………………………2-3

BAB II KAJIAN TEORI

A. Pengertian sistem genital dan sistem traktus urinarium……………………………4-5


B. Faktor-faktor penyebab kelainan……………………………………………………5-10
C. Definisi ekstrofi kandung kemih……………………………………………………10-11
D. Jenis-jenis ekstrofi kandung kemih…………………………………………………11-12
E. Penyebab kelainan ekstrofi kandung kemih………………………………………….12
F. Tanda dan gejala ekstrofi kandung kemih…………………………………………….12
G. Penatalaksanaan ekstrofi kandung kemih…………………………………………….12-13

BAB III PEMBAHASAN

A. Penatalaksanaan kasus ekstrofi kandung kemih……………………………………..14-17


B. Tindakan preoperatif ekstrofi kandung kemih……………………………………….17
C. Tindakan selama operasi ekstrofi kandung kemih…………………………………..18
D. Tindakan pascaoperatif ekstrofi kandung kemih……………………………………..18

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan…………………………………………………………………………..19
B. Saran…………………………………………………………………………………19

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………….20

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Di Indonesia pada umumnya kelainan kongenital merupakan kelainan dalam
pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur. Kelainan
kongenital dapat merupakan sebab penting terjadinya abortus, lahir mati atau kematian
segera setelah lahir. Kematian bayi dalam bulan-bulan pertama kehidupannya sering
diakibatkan oleh kelainan kongenital yang cukup berat, hal ini seakan-akan merupakan
suatu seleksi alam terhadap kelangsungan hidup bayi yang dilahirkan. Bayi yang
dilahirkan dengan kelainan kongenital besar, umumnya akan dilahirkan sebagai bayi
berat lahir rendah bahkan sering pula sebagai bayi kecil untuk masa kehamilannya. Bayi
berat lahir rendah dengan kelainan kongenital berat, kira-kira 20% meninggal dalam
minggu pertama kehidupannya.
Sistem urogenital merupakan sistem yang terdiri dari sistem urinarius dan sistem
genitalia. Dimana sistem urinarius dibagi menjadi traktus urinarius bagian atas dan
bagian bawah. Traktus urinarius bagian atas terdiri dari ginjal, pelvis renalis dan ureter,
sedangkan traktus urinarius bagian bawah terdiri dari vesika urinaria dan uretra. Untuk
sistem genitalia eksterna pada pria dan wanita berbeda, pada pria terdiri dari penis, testis
dan skrotum; sedangkan wanita berupa vagina, uterus dan ovarium.
Kelainan kongenital sistem reproduksi dapat disebabkan oleh faktor lingkungan,
nutrisi,penyakit metabolik, infeksi virus, obat teratogenik, dan lain-lain yang terjadi pada
masa kehamilan. Banyak dari kelainan tersebut tidak melibatkan ovarium atau genitalia
eksterna sehingga gejala tidak nampak sebelum menarche atau menikah. Kelainan
kongenital tersebut juga dapat disebabkan oleh kelainan kromosom khususnya kromosom
seks dan gangguan hormonal. Dua sistem ini saat pertumbuhan embriologi memiliki
hubungan yang dekat sehingga dapat terjadi kelainan bersamaan pada kedua sistem ini,
misalnya kloaka persisten, ekstrofi kandung kemih sehingga mendorong vagina ke daerah
suprapubik dan klitoris yang terbagi 2.
Pada makalah ini penulis akan membahas kelainan kongenital yang terjadi pada
sistem genital dan sistem traktus urinarium yaitu mengenai Ekstrofi Kandung Kemih.

4
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang dapat dirumuskan yaitu
sebagai berikut :
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan sistem genital dan sistem traktus urinarium?
2. Jelaskan faktor-faktor penyebab kelainan yang terjadi pada sistem genital dan sistem
traktus urinarium?
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Ekstrofi Kandung Kemih?
4. Sebut dan jelaskan jenis-jenis Ekstrofi Kandung Kemih?
5. Jelaskan penyebab dari kelainan Ekstrofi Kandung Kemih?
6. Bagaimana tanda dan gejala pada Ekstrofi Kandung Kemih?
7. Bagimana penatalaksanaan pada kelainan Ekstrofi Kandung Kemih?
C. Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui sistem genital dan sistem traktus urinarium
2. Untuk mengetahui factor-faktor penyebab kelainan yang terjadi pada sistem genital
dan sistem traktus urinarium.
3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Ekstrofi Kandung Kemih.
4. Untuk mengetahui jenis-jenis Ekstrofi Kandung Kemih
5. Untuk mengetahui penyebab kelainan Ekstrofi Kandung Kemih.
6. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari kelainan Ekstrofi Kandung Kemih.
7. Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan pada Ekstrofi Kandung Kemih.
D. Manfaat Penulisan Makalah
1. Bagi Penulis
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis mengenai kelainan yang terjadi
pada sistem genital dan sistem traktus urinarium serta dapat menambah wawasan dan
pengetahuan bagaimana penatalaksanaan pada kelainan sistem genital dan sistem
traktus urinarium khusunya pada Ekstrofi Kandung Kemih.
2. Bagi Pembaca
Dengan membaca makalah ini diharapkan pembaca dapat lebih mudah untuk
memahami apa yang dimaksud kelainan kongenital pada sistem genital dan sistem

5
traktus urinarium, pembaca memahami penyebabnya, dan memahami tanda serta
gejala yang ditunjukkan pada kelainan Ekstrofi Kandung Kemih.
3. Bagi Institusi pendidikan
Diharapkan dapat menjadi bahan referensi bagi institusi Pendidikan tentang kelainan
kongenital yang terjadi pada sistem genital dan sistem traktus urinarium khusunya
pada Ekstrofi Kandung Kemih.

6
BAB II

KAJIAN TEORI

A. Sistem Genital dan Sistem Traktus Urinarium


Kelainan sistem reproduksi dibagi menjadi dua yaitu kelainan sistem reproduksi
karena gangguan hormon dan kelainan sistem reproduksi karena ketidaknormalan.
Kelainan sistem reproduksi karena gangguan hormon pada wanita dapat
menyebabkan berbagai masalah karena proses reproduksi wanita dipengaruhi oleh
hormon seperti hormon estrogen, progesterone dan prolactin. Hormone-hormon pada
wanita seperti estrogen berfungsi untuk perkembangan sistem seksual wanita,.
Hormone progesterone berfungsi untuk persiapan kehamilan, sedangkan prolaktin
berfungsi untuk persiapan menyususi. Selain ketiga hormone tersebut wanita juga
memiliki hormone yang berperan seperti sifat seksual pria, walaupun kadarnya
rendah yaitu hormone androgen. Peranan hormone sangat penting bagi proses
reproduksi wanita sehingga jika mngalami gangguan pada ketiga hormone tersebut
dapat menyebabkan beberapa gangguan pada fungsi tubuh lainnya sehingga tidak
dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Terdapat beberapa jenis gangguan yang
disebabkan olehg gangguan hormone antara lain gangguan perkembangan sel telur,
gangguan ovulasi, gangguan haid, gangguan reproduksi, keluar air susu sebelum
waktunya dan munculnya sifat kelaki-lakian.
Sedangkan kelainan sistem reproduksi karena ketidaknormalan disebabkan oleh
beberapa faktor yaitu faktor lingkungan, faktor nutrisi, penyakit metabolik, infeksi
virus, obat teratogenic, dan lain-lain yang terjadi pada masa kehamilan. Banyak dari
kelainan tersebut tidak melibatkan ovarium atau genetalia eksterna sehingga gejala
tidak tampak sebelum menarche atau menikah. Kelainan kongenital tersebut juga
dapat disebabkan oleh kelainan kromosom khususnya kromosom seks dan gangguan
hormonal. Secara fungsional sistem urogenital dibagi menjadi dua bagian yang
meliputi sistem genital dan sistem urinarium. Secara keduanya berasal dari struktur
mesodermal yang terletak di dinding posteor rongga abdomen. Dalam
pertumbuhannya mempunyai hubungan yang dekat sehingga dapat terjadi kelainan

7
dalam pertumbuhannya yang dapat mengenai kedua sistem tersebut. Yang dimaksud
dalam hal ini adalah kloaka persisten apabila tidak terbentuk sistem urorektale.
Kloaka persisten merupakan gejala kelainan kongenital anorektal kompleks di mana
rectum, vagina dan saluran kemih bertemu dan bersatu, menciptakan kloaka yaitu
saluran umum tunggal. Ekstrofi kandung kencing dengan vagina terdorong ke depan
di daerah suprapubic dan klitoris terbagi dua karena dinding perut bagian bawah tidak
terbentuk.
B. Faktor-faktor Penyebab Kelainan Sistem Genital dan Sistem Urinarium
Berikut ada beberapa faktor penyebab kejadian kelainan kongenital pada sistem
genital dan sistem urinarium yang dijelaskan dalam sebuah jurnal “ Faktor-Faktor
Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Kelainan Kongenital Sistem Urogenital Pada
Neonatus” antara lain :
1. Infeksi intrauterine
Ketika infeksi-infeksi seperti virus (rubella, cytomegalovirus, herpes simpleks,
varisela-zoster), sifilis dan toksoplasmosis, menyerang ibu hamil, dapat
menyebabkan kerusakan pada saluran urinarius. Infeksi pada awal kehamilan
dapat menyebabkan denervasi struktur janin dan mengakibatkan lahir cacat,
sebagai akibat dari sifat neurotropik organisme. Organisme dapat juga
menginfeksi diferensiasi mesenkim dan lokasi tunas ureter, yang dapat
mempengaruhi organogenesis ginjal, seperti agenesis, displasia dan hipoplasia
ginjal. Menurut Gibbs dkk, infeksi intrauterin dapat diketahui dengan melihat
tanda-tanda sebagai berikut: takikardia ibu (>120 kali/menit), takikardia janin
(>160 kali/menit), temperatur tubuh diatas 38oC, kedinginan, uterus teraba
tegang, cairan vagina purulen dan berbau busuk, leukositosis ibu (15.000-18.000
sel/mm3 ). Rubella dapat dicegah dengan imunisasi (seorang wanita harus
diimunisasi rubella sebelum dia hamil). Cytomegalovirus, untuk saat ini belum
diketahui metode vaksinasi yang aman. Pencegahan utama dengan menghindari
pemajanan pada cytomegalovirus selama hamil, suatu cara yang tidak mustahil
mengingat keberadaan organisme dimana-mana. Pada sifilis, dengan mencegah
transmisi dengan mitra hubungan seksual. Dan kemungkinan terinfeksi
toksoplasma dapat diminimalisasi dengan tidak memegang feses kucing dan

8
menghindari memakan daging mentah atau setengah matang. Banyak infeksi lain
yang dapat menyerang wanita hamil yang juga dapat mengganggu perkembangan
janin, tetapi hal ini diabaikan sebagai penyebab kelainan kongenital sistem
urogenital pada neonatus, karena ibu–ibu yang terinfeksi tidak mengetahui gejala
infeksi yang dialami atau mungkin infeksi ini tidak menampakkan gejalanya.
Sifilis disebabkan oleh Treponema pallidum, spirochaeta. Manusia adalah sebagai
host T. pallidum dan juga berfungsi sebagai vektor. Sifilis diklasifikasikan
sebagai sifilis diperoleh dan bawaan (kongenital), berdasarkan metode transmisi.
Pada sifilis diperoleh, transmisi sebagian besar terjadi antara mitra selama
hubungan seksual, sementara di sifilis kongenital, infeksi ditularkan dari wanita
hamil yang terinfeksi T. pallidum melalui plasenta ke janin. Neonatus juga dapat
memperoleh sifilis sebagai hasil dari kontak dengan lesi genital yang aktif pada
saat proses pengeluaran. Sindrom varicella kongenital (CVS) adalah gangguan
langka terkait dengan infeksi intrauterin dengan Varicella zoster virus (VZV).
Setidaknya 112 bayi yang lahir dengan tanda-tanda CVS telah dilaporkan dalam
literatur. Karakteristik gejala termasuk lesi kulit, cacat neurologis, penyakit mata,
kelainan viseral (pneumonia, atresia kolon,dll), kelainan sistem urogenital dan
kelainan tulang).
2. Obat-obatan
Beberapa jenis obat tertentu yang diminum wanita hamil pada trimester pertama
kehamilan diduga sangat erat hubungannya dengan terjadinya kelainan kongenital
pada bayinya. Beberapa jenis jamu-jamuan yang diminum wanita hamil muda
dengan tujuan yang kurang baik diduga erat pula hubungannya dengan terjadinya
kelainan kongenital, walaupun hal ini secara laboratorik belum banyak diketahui
secara pasti. Sebaiknya selama kehamilan, khususnya trimester pertama, dihindari
pemakaian obat-obatan yang tidak perlu sama sekali; walaupun hal ini kadang-
kadang sukar dihindari karena calon ibu memang terpaksa harus minum obat. Hal
ini misalnya pada pemakaian trankuilaiser untuk penyakit tertentu, pemakaian
sitostatik atau preparat hormon yang tidak dapat dihindarkan; keadaan ini perlu
dipertimbangkan sebaik-baiknya sebelum kehamilan dan akibatnya terhadap bayi.
Wanita hamil harus sebisa mungkin menghindari obat-obatan baik yang

9
diresepkan maupun yang dijual bebas. Untuk obat-obat yang diresepkan,
keuntungannya harus lebih besar dibanding risikonya dan harus dilakukan
surveilans maternal dan fetal yang baik. Penggunaan valproat sebagai obat
antiepilepsi (OAE) secara signifikan meningkatkan risiko kelainan kongenital
utama, peningkatannya hingga 2-3 kali pada bayi yang lahir dari ibu epilepsi
dibandingkan dengan populasi normal. Sekitar 1 dari 250 kehamilan janin
terpapar OAE, terutama untuk asam valproat (AVP), baik sebagai monoterapi
atau bagian dari politerapi. AVP adalah teratogenik dan risiko kelainan bawaan
(6-9%) pada bayi yang terpajan untuk AVP sebelum lahir adalah 3 kali lipat (2-
3% pada populasi umum). Cacat neural tube, cacat jantung bawaan, cacat tungkai,
cacat genitourinarius, otak, mata dan anomali pernapasan dan cacat dinding perut
telah dilaporkan pada bayi yang terpajan AVP.
3. Usia ibu
Usia ibu dapat menjadi indikator faktor biologis intrinsik dan riwayat reproduksi
sebelumnya (termasuk paritas) atau faktor ekstrinsik, seperti pendidikan, gizi
status atau pengaruh sosial dan perilaku. Jika risiko usia ibu terkait dengan faktor-
faktor ekstrinsik daripada faktor biologis intrinsik, mereka diharapkan untuk dapat
merubah baik geografis dan waktu. Risiko dapat berhubungan dengan paparan
saat ini atau masa lalu. Ibu lanjut usia mungkin juga dikaitkan dengan risiko
diferensial peningkatan keguguran janin yang terkena. Dalam dua dekade
terakhir, profil ibu usia telah berubah signifikan, dengan rata-rata usia ibu
meningkat setiap tahun. Hal ini penting untuk memiliki informasi yang akurat
tentang ibu usia tertentu risiko kelainan kongenital urogenital untuk mengukur
implikasi dari kenaikan usia ibu bagi kesehatan masyarakat, untuk kebutuhan
perawatan klinis dan untuk memberikan informasi kepada wanita usia subur.
4. Gizi ibu
Meskipun gangguan nutrisi pada hewan hamil telah sering diimplikasikan pada
teratogenesis, hanya ada sedikit data pada manusia yang langsung
menghubungkan gangguan nutrisi murni dengan kelainan kongenital janin,
dengan kemungkinan pengecualian defisiensi yodium berat. Malnutrisi
menyeluruh pada ibu tampaknya menyebabkan retardasi pertumbuhan intrauterin

10
dan sedikit bukti menunjukkan bahwa malnutrisi berat pada ibu dapat
mengakibatkan retardasi pertumbuhan permanen pada sejumlah keturunan.
Beberapa studi meyakinkan sekarang telah membuktikan bahwa defisiensi asam
folat pada awal masa kehamilan turut merupakan penyebab dari separuh atau
lebih kasus defek kelainan kongenital. U.S. Public Health Service saat ini telah
merekomendasikan bahwa semua perempuan usia reproduktif mengonsumsi 0,4
mg asam folat per hari untuk mengurangi kelainan kongenital, seperti halnya
kelainan kongenital sistem urogenital. Satu alternatif yang sekarang tengah
dipertimbangkan adalah fortifikasi rantai makanan dengan asam folat pada tingkat
yang memadai untuk memastikan jumlah yang adekuat dari vitamin ini di dalam
diet sebagian besar perempuan hamil. Pendekatan ini tampaknya hanya membawa
risiko kecil pada segmen populasi yang lain.
5. Riwayat obstetrik
Seorang anak yang dilahirkan dari ibu yang mempunyai siklus menstruasi yang
memanjang ( >1 minggu), berisiko menderita kelainan kongenital sistem
urogenital. Begitu pula dengan anak yang dilahirkan dari ibu yang memiliki siklus
menstruasi yang tidak teratur. Dan seorang anak yang ibunya memiliki riwayat
obstetrik buruk, yaitu pada kehamilan sebelumnya mengalami keguguran, lahir
mati, kematian perinatal, kelahiran prematur dan lahir cacat akibat asfiksia
neonatal, berisiko menderita kelainan kongenital sistem urogenital dibandingkan
yang tidak memiliki riwayat obstetrik buruk. Temuan ini mengindikasikan bahwa
siklus menstruasi ibu dan riwayat obstetrik buruk juga merupakan faktor risiko
kelainan kongenital sistem urogenital.
6. Penyakit yang di derita ibu Meskipun tidak selalu harus berasal dari lingkungan,
faktor yang mengubah metabolisme ibu atau yang mempengaruhi potensi
reproduksi perempuan dapat dianggap mengubah lingkungan janin intrauterin.
Gangguan metabolik utama ibu yang dapat menyebabkan masalah pada
perkembangan janin adalah diabetes mellitus. Bukti saat ini mengesankan bahwa
diabetes mellitus bergantung-insulin (IDDM) menambah risiko tidak hanya untuk
kerusakan prenatal tetap juga untuk kelainan kongenital janin. Peningkatan risiko
kelainan kongenital janin mungkin adalah 2-3 kali lebih besar daripada risiko

11
dalam populasi umum. Sekuens regresi kaudal termasuk agenesis sakrum,
transposisi arteri-arteri besar, celah bibir dan palatum, holoprosensefal,
arinensefali dan defek ginjal memiliki insidens yang lebih tinggi pada bayi dan
ibu diabetik. Pre-eklamsi dan eklamsi merupakan kumpulan gejala yang timbul
pada ibu hamil, bersalin dan masa nifas yang terdiri dari trias : hipertensi,
proteinuri dan edema, yang kadang-kadang disertai konvulsi dan koma. Meskipun
edema tetap merupakan bagian dari definisi pre-eklamsi, keberadaannya pada
perempuan hamil normal adalah sedemikian rupa sehingga tidak berfungsi
sebagai tanda khusus yang berguna jika berdiri sendiri. Awitan pre-eklamsi berat
biasanya mengharuskan agar persalinan terjadi dalam waktu yang singkat, baik
dengan induksi maupun seksio sesarea. Pengelolaan selanjutnya akan bergantung
pada kondisi yang terjadi; oliguria yang tidak berespons terhadap pemberian
cairan umumnya membutuhkan pemantauan jantung sentral, sementara
koagulopati berat mungkin membutuhkan penggantian produk darah.
7. Antenatal care
Antenatal care dilakukan dengan tujuan pengawasan ibu hamil agar ia benar-
benar siap secara fisik maupun mental, serta menyelamatkan ibu dan anak dalam
kehamilan, persalinan dan masa nifas, sehingga keadaan postpartum mereka sehat
dan normal, baik fisik maupun mental. Kemajuan dalam ilmu dasar belum selalu
ditransfer ke dalam perawatan klinis, revolusi di neonatal dan ginjal selama dua
dekade terakhir telah memiliki dampak besar pada hasil klinis. Secara khusus,
perkembangan teknologi USG dapat dianggap sebagai terobosan yang sangat
penting dalam pediatrik nefrologi karena non-invasi dan penerapan untuk semua
kelompok umur, bahkan sebelum kelahiran. Dengan pengenalan USG janin pada
1980-an, penyakit anatomi bisa dideteksi bahkan sebelum kelahiran dan ini
memiliki implikasi penting bagi manajemen kelainan saluran kemih. Ini terjadi
relatif sering hingga 0,2-1% dari bayi yang baru lahir. Untungnya, sebagian besar
malformasi saluran kemih, seperti hidronefrosis akibat obstruksi persimpangan
ureteropelvik, obstruktif megaureter, atau displasia ginjal multikistik unilateral
dan memiliki prognosis yang baik dan sebagian besar, bahkan tidak memerlukan
operasi. Pelaksanaan antenatal care dilakukan minimal 4 kali, yaitu l kali pada

12
trimester I, 1 kali pada trimester II dan 2 kali pada trimester III. Namun jika
terdapat kelainan dalam kehamilannya, maka frekuensi pemeriksaan di sesuaikan
menurut kebutuhan masing- masing. Ibu hamil yang melakukan pemeriksaan
kehamilan dikatakan teratur jika melakukan pemeriksaan kehamilan ≥ 4 kali
kunjungan, kurang teratur jika pemeriksaan kehamilan 2-3 kali kunjungan dan
tidak teratur jika ibu hamil hanya melakukan pemeriksaan kehamilan < 2 kali
kunjungan.
8. Prematur
Menurut WHO 1961, bahwa usia hamil sebagai kriteria untuk bayi prematur
adalah yang lahir sebelum 37 minggu dengan berat lahir dibawah 2500 gram.
ACOG 1995 mengusulkan bahwa persalinan preterm apabila bayi lahir sebelum
usia 37 minggu. Dengan perbaikan perawatan pada bayi prematur maka kelompok
kerjasama pengobatan steroid antenatal ( 1981 ) melaporkan bahwa morbiditas
dan mortalitas terbesar pada bayi yang lahir preterm adalah pada usia hamil
dibawah 34 minggu. Hal ini dikarenakan kelahiran yang terjadi sebelum 32
minggu, bertanggungjawab terhadap banyaknya kejadian kematian dan kecacatan.
Dan pada bayi lahir kurang bulan/preterm/prematur pematangan organ-organ
belum sempurna, sehingga tingkat kecacatan dan kematian saat lahir tinggi.
Dibandingkan dengan bayi yang lahir cukup bulan/aterm, terjadinya kelainan
kongenital sistem urogenital lebih tinggi pada bayi lahir preterm.
9. Mutasi gen
Mutasi gen memainkan peran penting dalam perkembangan urogenital dan gonad,
sebagai contoh gen WT1. Perubahan gen WT1 telah dijelaskan dalam spektrum
yang luas dari patologis kondisi, termasuk penyakit ginjal, kelainan genital dan
tumor Wilms (WT), sering terjadi dalam kombinasi. Tumor Wilms (WT) penekan
gen WT1, dipetakan ke 11p13 kromosom, mengkodekan transkripsi zinc-finger,
aktor yang diperlukan untuk perkembangan normal dan fungsi dari saluran
urogenital.
C. Ekstrofi Kandung Kemih
Ekstrofi kandung kemih adalah kelainan kongenital di mana kandung kemih pada
bayi baru lahir terletak di luar tubuh. Penyebab pastinya belum diketahui tapi sering

13
dihubungkan dengan perkembangan abnormal kulit, otot, dan tulang panggul yang
menyatukan bagian bawah tubuh. Ekstrofi kandung kemih adalah salah satu tipe
kelainan bawaan pada sistem genitorinaria, ditandai dengan terbukanya kandung
kemih pada dinding bawah abdomen. Kondisi ini jarang ditemukan, dan sering terjadi
pada bayi laki-laki. Ratio kejadian antara anak laki-laki dan perempuan yaitu 2 : 1.
Defek ekstrofi kandung kemih menyebabkan berbagai risiko gangguan berkemih
saat preoperative maupun pasca operatif. Selain masalah saluran kencing seperti
infeksi, pemakain kateter intermiten, risiko refluk vesiko-ureter, juga terdapat
masalah abnormalitas penampilan genetalia eksternal maupun internal yaitu
mikropenis dan masalah testis yang tidak turun dalam kantong skrotum. Seringkaki,
bayi dengan kondisi seperti ini dapat dideteksi melalui sonogram sebelum kelahiran
karena tidak dapat menemukan urin yang mengisi kandung kemih. Penanganan
khusus biasanya telah direncanakan sebelum kelahiran untuk melakukan pembedahan
segera setelah bayi dilahirkan.
Kasus pada bayi laki-laki umur 4 bulan yang dirawat untuk menjalani operasi
korektif penutupan celah kandung kemih, pemotongan penis aksesoris, dan
penutupan celah skrotum. Pasca operasi masih menghadapi berbagai masalah yaitu
testis tidak turun, testis kiri belum ditemukan, mikropenis, faktor risiko ISK dan
risiko gangguan fungsi berkemih pasca operasi. Berdasarkan sebuah jurnal laporan
kasus mengenai “ Ekstrofi Kandung Kemih Pada Bayi Perempuan” menjelaskan
bahwa ekstrofi kandung kemih adalah suatu kelainan kongenital dimana terbukanya
kandung kemih di dinding abdomen bawah yang terjadi pada bayi baru lahir. Ratio
kejadiannya pun antara anak laki-laki dan anak perempuan 2 : 1.
D. Jenis-jenis Ekstrofi Kandung Kemih
Berdasarkan sebuah jurnal laporan kasus mengenai “ Ekstrofi Kandung Kemih
Pada Bayi Perempuan” kelainan Ekstrofi Kandung Kemih dibagi berdasarkan defek
embriologinya seperti komplek ekstrofi-epispadia, dimana hal tersebut mirip dengan
epipadia, ekstrofi kandung kemih klasik, kloakal ekstrofi, dan beberapa variasi
kelainannya.
1. Ekstrofi Kandung Kemih Klasik

14
Kelainan ini didapatkan pada dinding perut bawah adanya kandung kemih
yang terekspos, umbilicus yang rendah, jarak antara anus dan umbilicus yang
pendek dan biasanya sering didapatkan adanya hernia inguinalis yang
disebabkan karena cincin ingunalis yang lebar. Biasanya pada kelainan ini
organ genital interna biasanya normal.
2. Epispadia
Kelainan ini biasanya didapatkan phallus yang pendek dan luas, glans yang
datar serta terbuka , meatus uretra yang didapatkan di dorsal penis dan tepi
proksimal dari glans penis. Biasanya pada tulang simfisis pubis ditemukan
lebar dan otot rektus bagian distal divergen.
3. Kloakal Ekstrofi
Kelainan ini biasanya didapatkan adanya kandung kemih yang terbuka dan
terpisah menjadi 2 bagian dan biasanya selalu berhubungan dengan kelainan
omphalochele. Kasus ini biasanya juga berkaitan dengan kegagalan jantung,
ginjal serta gastrointestinal. Kelainan yang lain seperti hidrosepalus dan
myelomeningocele juga sering dijumpai bersama kasus ini. d. Varian - Varian
Ekstrofi: Kelainan ini dibagi menjadi dua varian yaitu supravesical fissure dan
patent urachus. Dimana pada supravesikal fissure biasanya kandung kemih
yang terlihat berada didekat umbilicus dan genital eksterna yang normal
sedangkan pada patent urachus adalah abnormalitas pada musculoskeletal
yang terbuka ke bagian umbilicus, sedangkan superior vesical fissure biasanya
muncul infraumbilikal.
Kelainan ini awalnya terjadi pada trimester pertama yaitu pada saat kloaka
primitive memisah menjadi sinus urogenital dan hindgut yang pada saat itu
juga terjadi maturasi dari dinding abdomen. Jika lapisan mesenchym gagal
atau tidak bisa bermigrasi di antara lapisan endoderm dan ectoderm, hal ini
menyebabkan cloacal membrane menjadi ruptur atau tidak stabil. Rupturnya
membrane kloaka yang premature pada saat sebelum terjadinya translokasi
kaudal menimbulkan berbagai kelainan di infraumbilikal. Biasanya kelainan
ini disertai dengan gagalnya pertumbuhan dari tulang pelvis seperti pemisahan
symphysis pubis dan rotasi eksternal femur. 3 Untuk mendiagnosis dari

15
ekstrofi kandung kemih termasuk mudah karena kita dapat tegakkan langsung
saat melihat kandung kemih yang terekspos pada awal kelahiran. Penyebab
dari kelainan ini masih belum jelas dan tidak bersifat herediter. Kasus ekstrofi
kandung kemih biasanya lebih banyak didapatkan

E. Penyebab Ekstrofi Kandung Kemih


Penyebab dari ekstrofi kandung kemih belum diketahui secara pasti dan belum
ditetapkan secara klinis tetapi diperkirakan sebagian karena kegagalan penguatan
membrane kloaka oleh mesoderm yang mendasarinya. Namun, ciri-ciri fisik yang
terdapat pada kelainan ini adalah akibat dari kelainan perkembangan yang terjadi
pada saat pertumbuhan embrio. Di mana jaringan yang membentuk saluran
pengeluaran tidak digantikan oleh jaringan yang akan membentuk otot perut.
Berdasarkan sebuah jurnal laporan kasus mengenai “ Ekstrofi Kandung Kemih Pada
Bayi Perempuan” menjelaskan bahwa kelainan ini disebabkan karena dinding
abdomen infraumbilikal posterior gagal menutup yang biasanya terjadi pada trimester
kedua sampai ketiga. Defek ini menimbulkan berbagai resiko seperti gangguan
berkemih, infeksi, pemakaian kateter intremitten, refluks vesikouretal, dan masalah
kosmetik seperti klitoris bifida. Adapun kelainan ini sering dibarengi dengan adanya
epispadia.
F. Tanda dan Gejala Ekstrofi Kandung Kemih
Tanda dan gejala yang terlihat pada penderita ekstrofi kandung kemih tergantung
pada besarnya kecacatan yang ditemukan, kelainan-kelainan yang dapat menyertai
ekstrofi kandung kemih adalah sebagai berikut :
1. Jarak tulang kemaluan melebar
2. Jumlah jaringan kolagen yang membangun tulang, gigi, sendi, otot dan kulit
meningkat, tetapi otot kandung kemih berkurang.
3. Letak muara saluran kemih di sebelah atas dari letak seharusnya.
4. Ukuran penis lebih kecil dari normal dan atau testis belum turun ke kantong
kemaluan (skrotum)
5. Muara vagina sempit, bibir vagina

16
G. Pengobatan Ekstrofi Kandung Kemih
Terapi yang dilakukan untuk memperbaiki ekstrofi kandung kemih adalah
pembedahan untuk memindahkan organ-organ perut yang terpapar dengan dunia luar,
untuk dapat kembali ke dalam rongga perut. Pembedahan yang dilakukan diperlukan
untuk:
1. Membentuk kontrol kandung kemih.
2. Mencegah masalah fungsi seksual pada kemudian hari.
3. Memperbaiki tampilan fisik.
4. Mencegah infeksi yang terjadi karena organ yang seharusnya berada di
dalam rongga perut malah berada di luar rongga perut.

Biasanya pembedahan ini dikerjakan beberapa hari setelah bayi lahir. Namun
demikian, kandung kemih harus cukup besar untuk dilakukan pembedahan, bila
kandungkemih tidak cukup besar pembedahan dapat ditunda. Pada kasus yang seperti
ini bayi yang baru lahir dipulangkan dengan pemberian antibiotik.

Sedangkan menurut sebuah jurnal laporan kasus tentang “ Ekstrofi Kandung


Kemih Pada Bayi Perempuan” Penatalaksanaan bedah pada ekstrofi dikenal dengan
rekontruksi fungsional yang bertujuan untuk menutup kandung kemih, rekontruksi
dinding perut, rekontruksi alat kelamin dan pada akhirnya mengembalikan
kontinensia urin. Penatalaksaanan ini terdiri dari tiga fase yaitu sebagai berikut:

1. Fase I bertujuan untuk melindungi saluran kencing bagian atas dan


memudahkan rekontruksi pada tahap lanjut yang dilakukan biasanya segera
setelah bayi lahir. Penutupan awal kandung kemih diharapkan dapat dilakukan
dalam kurun waktu 72 jam setelah kelahiran. Jika terlambat, maka diperlukan
tindakan osteotomi yang bertujuan agar kandung kemih dapat diletakkan
didalam cincin pelvis.
2. Fase II bertujuan untuk memperbaiki struktur alat kelamin dan mendukung
dari perkembangan kandung kemih untuk meningkatkan tahanan saluran
keluar. Fase ini biasanya dilakukan jika bayi sudah berumur 1 tahun.
3. Fase III biasanya dilakukan pada saat bayi berumur kirakira 4 tahun. Fase ini
bertujuan untuk mencapai kontinensia dan mendukung kepercayaan diri. Pada

17
fase ini dilakukan rekonstruksi pada leher kandung kemih yang bertujuan
untuk kontinensia urin dan perbaikan refluks vesikoureteral.

BAB III

PEMBAHASAN

Seperti yang telah diuraikan di atas mengenai Ekstrofi Kandung Kemih, bahwa Ekstrofi
Kandung Kemih merupakan kelainan kongenital di mana kandung kemih pada bayi baru lahir
terletak di luar tubuh. Dimana penyebab pastinya belum diketahui tapi sering dihubungkan
dengan perkembangan abnormal kulit, otot, dan tulang panggul yang menyatukan bagian bawah
tubuh. Ekstrofi kandung kemih adalah salah satu tipe kelainan bawaan pada sistem genitorinaria,
ditandai dengan terbukanya kandung kemih pada dinding bawah abdomen. Kondisi ini memang
jarang ditemukan, dan sering terjadi pada bayi laki-laki. Ratio kejadian antara anak laki-laki dan
perempuan yaitu 2 : 1. Oleh karena kasusnya yang sangat jarang terjadi, sehingga penulis
membuat makalah ini dan memilih ekstrofi kandung kemih, sehingga dapat mengembangkan
wawasan dan menambah pengetahuan tentang kelainan Ekstrofi Kandung Kemih pada umumnya
dan mengetahui bagaimana penatalaksanaan yang tepat pada kelainan ini.

A. Penatalaksanaan Pada Ekstrofi Kandung Kemih


Pada penatalaksanaan ini akan menggunakan metode SOAP Kebidanan, dimana yang
dimulai dari pengumpulan Data Subjektif, Data Objektif melalui pemeriksaaan umum
dan pemeriksaan penunjang, Analisa dimana untuk menentukan diagnose dan masalah,
dan Penatalaksanaan adalah tindakan yang akan diberikan kepada pasien sesuai dengan
kebutuhannya.
1. Anamnesis (data subjektif)
Merupakan salah satu cara untuk melakukan pengumpulan data melalui wawancara.

18
Menurut sebuah jurnal laporan kasus tentang “ Ekstrofi Kandung Kemih Pada Bayi
Perempuan” menjelaskan terdapat sebuah kasus bayi dengan jenis kelamin
perempuan umur 3 hari, lahir normal. Dimana diketahui bahwa kandung kemihnya
berada di luar perut. Pada umumnya untuk kasus ini, kandung kemih bayi terletak di
luar abdomen.
2. Pemeriksaan umum (data objektif)
Pemeriksaan umum dilakukan untuk mengetahui kondisi pasien secara umum.
Menurut sebuah jurnal laporan kasus tentang “ Ekstrofi Kandung Kemih Pada Bayi
Perempuan” menjelaskan sebuah kasus pada bayi dengan jenis kelamin perempuan
yang telah dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan hasil yaitu berat badan 3100 gram,
didapatkan pasien dengan kandung kemih yang terekspos di dinding perut bawah.
Terdapat murmur jantung sistolik pada parastrenal line III-IV sinistra. Bentuk
genitalia externa normal. Hasil pemeriksaan penunjang yang didapatkan yaitu sebagai
berikut :
a. Foto Polos Pelvis menunjukkan Os ischium dan os illium normal, tampak celah
symphisis yang membuka.
b. Pemeriksaan Foto Polos Abdomen menunjukkan opasitas di cavum pelvus sampai
abdomen bawah mengesankan bulli (b) Kontras IVP: ekskresi ginjal kanan-kiri dalam
batas normal, ginjal kanan kiri bentuk, ukuran dan letak normal.
c. Kandung kemih kesan terletak di luar cavum abdomen menunjukkan adanya
ekstrofi kandung kemih Hasil USG abdomen menunjukkan bahwa hepar, vesika
felea, lien, pancreas, uterus dan ginjal normal. Buli didapatkan tidak tampak terisi
urine. Pada pasien telah dilakukan pemeriksaan echocardiografi dengan hasil classic
TOF. Selama di rawat oleh bagian bedah urologi tidak muncul masalah yang serius,
keadaan umum anak baik, tidak panas, laboratorium dalam batas normal.
3. Analisa
Untuk menegakkan diagnose dan masalah yang di alami pasien.
Pada kasus ini diagnosanya adalah “ Bayi perempuan umur 3 hari dengan Ekstrofi
Kandung Kemih”.
4. Terapi yang dilakukan untuk memperbaiki ekstrofi kandung kemih adalah
pembedahan untuk memindahkan organ-organ perut yang terpapar dengan dunia luar,

19
untuk dapat kembali ke dalam rongga perut. Menurut sebuah jurnal laporan kasus
tentang “ Ekstrofi Kandung Kemih Pada Bayi Perempuan” Penatalaksanaan bedah
pada ekstrofi dikenal dengan rekontruksi fungsional yang bertujuan untuk menutup
kandung kemih, rekontruksi dinding perut, rekontruksi alat kelamin dan pada
akhirnya mengembalikan kontinensia urin. Penatalaksaanan ini terdiri dari tiga fase
yaitu sebagai berikut:
a. Fase I bertujuan untuk melindungi saluran kencing bagian atas dan memudahkan
rekontruksi pada tahap lanjut yang dilakukan biasanya segera setelah bayi lahir.
Penutupan awal kandung kemih diharapkan dapat dilakukan dalam kurun waktu
72 jam setelah kelahiran. Jika terlambat, maka diperlukan tindakan osteotomi
yang bertujuan agar kandung kemih dapat diletakkan didalam cincin pelvis.
b. Fase II bertujuan untuk memperbaiki struktur alat kelamin dan mendukung dari
perkembangan kandung kemih untuk meningkatkan tahanan saluran keluar. Fase
ini biasanya dilakukan jika bayi sudah berumur 1 tahun.
c. Fase III biasanya dilakukan pada saat bayi berumur kirakira 4 tahun. Fase ini
bertujuan untuk mencapai kontinensia dan mendukung kepercayaan diri. Pada
fase ini dilakukan rekonstruksi pada leher kandung kemih yang bertujuan untuk
kontinensia urin dan perbaikan refluks vesikoureteral.
Pada pasien bayi perempuan ini sebaiknya dilakukan suatu tindakan
pembedahan yaitu bedah rekontruksi fungsional, yang terdiri dari 3 tahap yaitu
Tahap I yang bertujuan untuk rekontruksi dari kandung kemih harus dilakukan 72
jam pertama karena pada saat ini merupakan waktu yang tepat untuk kelenturan
dari cincin pelvis. Jika terlambat melakukan tindakan tersebut, sebaiknya
dilakukan tindakan osteotomi agar kandung kemih dapat diletakkan ditempatnya.
Namun, ketika terjadi diastasis dari pubis lebih dari 4 cm atau kondisi dimana
terjadi kegagalan dalam penutupan maka osteotomi diperlukan untuk penutupan
cincin pelvis dan harus dilakukan bersamaan dengan penutupan kandung kemih.
Teknik osteotomi pelvis yang banyak digunakan di dunia adalah transversal dari
tulang pinggul dan osteotomi vertical iliaca dan dilakukan dari anterior dan
memisahkan tulang pinggul dari acetabulum. Insisi dilakukan pada hubungan
antara trunkus dan kaki, kedua sisi dari tulang pinggul diekspos secara simultan

20
dan osteotomi horizontal. Osteotomi meluas dari 5 mm dari anterior inferior spina
iliaca ke bagian cranial dari cekukan tulang pinggul. Pasien diposisikan pada
supine dan dipersiapkan agar penutupan kandung kemih dapat segera dilakukan.
Pin digunakan untuk fiksasi eksternal yang dimasukkan setelah kandung kemuh
namun sebelum penutupan luka. Hal ini untuk memperbaiki jarak simpisis,
membuat midline tertutup dengan mudah. Setelah operasi, fiksasi eksternal
dilepas setelah 4 hingga 6 minggu. Tahap akhir dari rekonstruksi ekstropi
melibatkan konstruksi dari mekanisme kontinensia yaitu rekonstruksi bladder
neck. Hal biasa dilakukan pada umur 4 tahun. Kapasitas vesika yang adekuat
merupakan suatu indikasi absolute untuk keberhasilan operasi ini. Dibawah
anestesi, kapasitas vesika diukur setelah pasien berumur 4 tahun. Jika
kapasitasnya 85 ml atau lebih, maka rekonstruksi bladder neck dapat dilakukan.
Jika kapasitasnya tidak mencapai setelah repair epispadia, injeksi di sekitar
bladder neck atau cytoplasty augmentasi dapat dilakukan. Sebagian besar anak
akan menunjukkan vesicoureteral reflux dan prosedur antirefluks dapat
disarankan pada perbaikan bladder neck. Beberapa prosedur dapat dilakukan
namun teknik Young-Dees-Leadbetter yang paling sering digunakan.
Pada pasien ini tidak dilakukan pembedahan karena ada komorbid yaitu
didapatkan adanya kelainan jantung berupa classic TOF karena hal ini dapat
meningkatkan resiko pembedahan dan anestesi. Maka pada pasien bayi
perempuan ini hendaknya dilakukan penanganan terhadap tetralogi of fallot dari
pasien untuk meningkatkan performa jantung, setelah kondisi membaik maka
operasi bedah rekontrusi untuk ekstrofi kandung kemih dapat dilaksanakan. Maka
pada pasien ini dilakukan penatalaksanaan non bedah seperti menggunakan
plastik untuk menutupi kandung kemih yang terlihat. Menjaga tetap kering karena
jika terdapat titik-titik air akan mengiritasi mukosa vesika urinaria yang tipis.
Antibiotik profilaksis juga diberikan pada pasien bayi perempuan ini untuk
mencegah terjadinya infeksi sekunder.
B. Tindakan preoperatif Ekstrofi Kandung Kemih
Pada umumnya tindakan yang akan dilakukan sebelum melakukan preoperatif
esktrofi kandung kemih sangat diperlukan dan harus dilakukan, mengingat hal ini

21
merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam melakukan tindakan selanjutnya.
Prosedur ini biasanya dilakukan sebelum bayi baru lahir meninggalkan rumah sakit. Staf
rumah sakit akan melakukan semua persiapan yang diperlukan. Namun, jika operasi
ditunda, tes mungkin diperlukan yaitu tes urin untuk memeriksa infeksi dan masalah
ginjal, tes darah, rontgen perut bawah dan panggul, USG ginjal dan juga mencatat berapa
banyak air seni yang dihasilkan oleh anak yang mengalami ekstrofi kandung kemih.
Sebelum melakukan operasi sebaiknya anak tidak diberikan makan atau minum apapun
dalam jam-jam menjelang operasi. Namun, obat yang diperlukan dapat diberikan dengan
sedikit air.

C. Tindakan selama operasi Ekstrofi Kandung Kemih


Pada umumnya tindakan operasi dilakukan ketika semua persiapan yang sudah
dipersiapkan selama menjelang operasi sudah dilakukan dengan baik yaitu mengikuti
prosedur-prosedur yang sudah ada dan yang sudah ditetapkan. Penanganan pada ekstrofi
kandung kemih ini membutuhkan dua operasi terpisah. Pada operasi pertama, ahli bedah
memisahkan kandung kemih yang terbuka dari dinding perut. Kemudian, dia menutup
kandung kemih dan memperbaiki leher kandung kemih dan uretra. Dia menempatkan
tabung hampa yang disebut kateter di kandung kemih sehingga urin dapat dikeringkan
melalui dinding perut, dan menempatkan kateter lain untuk mengalirkan urin dari uretra.
Ini mempromosikan penyembuhan, pada operasi kedua, ahli bedah memperbaiki
perlekatan tulang panggul. Ini dapat dilakukan baik setelah perbaikan kandung kemih
atau di lain waktu.
D. Tindakan pasca operasi Ekstrofi Kandung Kemih
Pada umumnya tindakan yang dilakukan setelah operasi sangat penting dilakukan
untuk mengontrol dan juga mengevaluasi hasil operasi yang sudah dilakukan. Setelah
menjalani operasi bayi yang mengalami ekstrofi kandung kemih harus tetap tinggal untuk
beberapa hari dirumah sakit, umumnya yaitu empat sampai dengan enam minggu. Selama
tiga sampai empat minggu pertama, mereka akan memiliki kateter yang berjalan dari
kandung kemih melalui dinding perut. Ini digunakan untuk mengalirkan air seni. Karena

22
operasi memisahkan tulang panggul, gips atau gendongan akan dibutuhkan pada tubuh
bagian bawah anak untuk meningkatkan penyembuhan. Ini akan berlaku selama empat
hingga enam minggu. Bayi akan mendapatkan perawatan luka, penatalaksanaan nyeri,
dan antibiotik sesuai kebutuhan. Sampel urin juga perlu diperiksa untuk tindak lanjut, Ini
adalah cara mudah untuk mendeteksi infeksi apa pun dari prosedur. Setelah melakukan
operasi pada ekstrofi kandung kemih akan memberikan dampak atau hasil yang
umumnya akan menjadi lebih baik yaitu kontrol kemih, peningkatan penampilan alat
kelamin, mengurangi masalah dengan fungsi seksual di masa depan, pencegahan infeksi
ginjal dan lainnya. Namun, prosedurnya tidak selalu berhasil. Kadang-kadang juga perlu
dilakukan operasi ulang. Dalam beberapa kasus, kontrol kemih tidak pernah tercapai.
Kateter mungkin diperlukan secara intermiten selama sisa hidup.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Kelainan sistem reproduksi karena gangguan hormone pada wanita dapat
menyebabkan berbagai masalah karena proses reproduksi wanita dipengaruhi oleh
hormon seperti estrogen, progesteron, dan prolaktin. Hormon hormon pada wanita,
Estrogen adalah hormon yang berfungsi untuk perkembangan sifat seksual wanita.
Hormon progesteron berfungsi untuk persiapan hamil. Prolaktin merupakan hormon
untuk persiapan menyusui. Kelainan kongenital sistem reproduksi dapat disebabkan oleh
faktor lingkungan, nutrisi, penyakit metabolik, infeksi virus, obat teratogenik, dan lain-
lain yang terjadi pada masa kehamilan. Banyak dari kelainan tersebut tidak melibatkan
ovarium atau genitalia eksterna sehingga gejala tidak nampak sebelum menarche atau
menikah. Kelainan kongenital tersebut juga dapat disebabkan oleh kelainan kromosom
khususnya kromosom seks dan gangguan hormonal.
Pada kelainan Ekstrofi Kandung Kemih karena kandung kemihnya berada di luar
abdomen, jadi tindakan atau penanganan yang tepat pada kasus tersebut adalah tindakan
pembedahan. Tindakan pembedahan dilakukan untuk memindahkan organ-organ perut
yang terpapar dengan dunia luar, untuk dapat kembali ke dalam rongga perut. Sehingga

23
setelah dilakukan tindakan pembedahan, kandung kemih dapat berfungsi secara normal
dan tidak akan terjadi komplikasi ataupun infeksi lainnya.
B. Saran
Penyakit ataupun kelainan pada bayi baru lahir dapat menyebabkan kematian
pada bayi tersebut. Pada ekstrofi kandung kemih jika tidak segera ditangani maka akan
berdampak buruk bagi kesehatan bayi tersebut seperti infeksi, dan komplikasi yang
semakin parah. Penting bagi tenaga kesehatan untuk mengetahui lebih dalam terkait
dengan penyebab dan penatalaksanaan yang tepat bagi kelainan pada sistem genital dan
sistem traktus urinarium, sehingga bisa mengurangi kejadian atau kasus tersebut.
Dari penulisan makalah ini banyak manfaat yang diperoleh terutama menambah
wawasan dan pengetahuan penulis tentang kelainan Ekstrofi Kandung Kemih. Tentunya
dari penulisan makalah ini banyak kekurangan dan kelemahannya, karena terbatasnya
pengetahuan dan kekurangan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah
ini. Penulis berharap para pembaca bisa memberikan kritik dan saran yang baik, sehingga
penulis mampu memperbaiki makalah ini dengan berpedoman pada banyak sumber serta
kritik yang membangun dari para pembaca.

24
DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/doc/187266209/MAKALAH-GINEKOLOGI Diakses Pada Tanggal 6


Maret 2020.

https://www.klikdokter.com/penyakit/ekstrofi-saluran-kemih Diakses Pada Tanggal 6 Maret


2020.

https://translate.google.com/translate?
u=https://en.wikipedia.org/wiki/Bladder_exstrophy&hl=id&sl=en&tl=id&client=srp Diakses
Pada Tanggal 6 Maret 2020.

https://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx?tabID=61&id=210556&src=a Diakses Pada Tanggal 10


Maret 2020

https://www.academia.edu/6803845/BAB_VIII_GANGGUAN_SISTEM_GINJAL_DAN_TRA
KTUS_URINARIUS_PADA_LANJUT_USIA_TUJUAN_BELAJAR Diakses Pada Tanggal 10
Maret 2020

http://sitiazijah.blogspot.com/p/kelainan-kongenital-pada-sistem-genital.html Diakses Pada


Tanggal 13 Maret 2020

Prayudi, G, ‘ Ekstrofi Kandung Kemih Pada Bayi Perempuan’ Fakultas Kedokteran Universitas
Udayana Denpasar Bali, hh. 1-8

25
Maharani, K, 2013. ‘Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Kejadian Kongenital Sistem
Urogenital pada Neonatus’ Faculty of Medicine University Diponegoro, hh. 9-30

Brocka, K. (2016) ‘Bladder Exstrophy Repair’.

26