Anda di halaman 1dari 5

GANGGUAN KECEMASAN

(ANXIENTY DISORDER)

1. Pengertian Kecemasan
Menurut Kaplan, Sadock, dan Grebb, kecemasan adalah respon terhadap situasi
tertentu yang mengancam,dan merupakan hal yang normal terjadi menyertai
perkembangan, perubahan, pengalaman baru atau yang belum pernah dilakukan, serta
dalam menemukan identitas diri dan arti hidup. Kecemasan adalah reaksi yang dapat
dialami siapapun. Namun cemas yang berlebihan, apalagi yang sudah menjadi gangguan
akan menghambat fungsi seseorang dalam kehidupannya.
Nevid Jeffrey S, Rathus Spencer A, & Greene Beverly memberikan pengertian
tentang kecemasan sebagai suatu keadaan emosional yang mempunyai ciri
keterangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan, dan kekhawatiran
bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Secara umum, kecemasan adalah suatu keadaan psikologis dan fisiologis yang
dicirikan oleh komponen-komponen somatik, emosi dan perilaku. Komponen-komponen
ini berpadu untuk menciptakan suatu perasaan yang tidak enak biasanya berkatitan
dengan kegelisahan, kekhawatiran atau ketakutan. Kecemasan tidak selamanya
merugikan, karena pada dasarnya rasa cemas berfungsi sebagai mekanisme kontrol
terhadap diri untuk tetap waspada terhadap apa yang akan terjadi. Namun, jika level
kecemasan sudah tidak terkontrol sehingga telah menggangu aktivitas tubuh, maka hal itu
jelas akan sangat menggagu dan dapat merugikan.

2. Klasifikasi Tingkat Kecemasan


a. Kecemasan Ringan
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari. Pada tingkat ini lahan
persepsi melebar dan individu akan berhati-hati serta waspada. Individu akan
terdorong untuk belajar yang akan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas.
Kecemasan ringan diperlukan orang agar dapat mengatasi suatu kejadian.Seseorang
dengan kecemasan ringan dapat dijumpai berdasarkan hal-hal sebagai berikut persepsi
dan perhatian meningkat, mampu mengatasi situasi bermasalah, dapat mengatakan
pengalaman masa lalu, saat ini dan masa mendatang, menggunakan belajar, dapat
memvalidasi secara konsensual, merumuskan makna, ingin tahu, mengulang
pertanyaan, dan kecenderungan untuk tidur.
b. Kecemasan Sedang
Memungkinkan seseorang untuk memuaskan pada hal yang penting dan
mengesampingkan yang lain sehinga seseorang mengalami perhatian yang selektif
namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. Orang dengan kecemasan sedang
biasanya menunjukan keadaan seperti persepsi agak menyempit, secara selektif tidak
perhatian tetapi dapat mengarahkan perhatian, sedikit lebih sulit untuk konsentrasi,
belajar menuntut upaya lebih, memandang pengalaman ini dengan masa lalu, dapat
gagal untuk mengenali sesuatu apa yang terjadi pada situasi, akan mengalami

1
beberapa kesulitan dalam beradaptasi dan menganalisa, perubahan suara atau
ketinggian suara, peningkatan frekuensi pernafasan dari jantung, tremor dan gemetar.
c. Kecemasan Berat
Kecemasan berat sangat mengurangi lahan persepsi. Individu cenderung memikirkan
pada hal-hal yang kecil saja dan mengabaikan hal-hal yang lain. Individu tidak
mampu berpikiran berat lagi dan membutuhkan banyak pengarahan. Halhal dibawah
ini sering dijumpai pada seseorang dengan kecemasan berat, yaitu persepsi sangat
berkurang/berfokus pada hal-hal detail, tidak dapat berkonsentrasi lebih bahkan ketika
diinstruksikan untuk melakukannya, belajar sangat terganggu, sangat mudah
mengalihkan perhatian, tidak mampu untuk memahami situasi saat ini, memandang
pengalaman saat ini dengan arti masa lalu, hampir tidak mampu untuk memahami
situasi ini, berfungsi secara buruk, komunikasi sulit dipahami, hiperventilasi,
takhikardi, sakit kepala, pusing, dan mual.
d. Tingkat Panik
Pada tingkat ini persepsi terganggu individu, sangat kacau, hilang kontrol, tidak dapat
berpikir secara sistematis dan tidak dapat melakukan apa-apa walaupun telah diberi
pengarahan.Tingkat ini tidak sejalan dengan kehidupan, dan jika berlangsung terus
dalam waktu yang lama, dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian.
Seseorang dengan panik akan dapat dijumpai adanya persepsi yang menyimpang,
fokus pada hal yang tidak jelas, belajar tidak dapat terjadi, tidak mampu untuk
mengikuti, dapat berfokus hanya pada hal saat ini, tidak mampu melihat atau
memahami situasi, hilang kemampuan mengingat, tidak mampu berpikir, biasanya
aktifitas motorik meningkat atau respon yang tidak dapat diperkirakan bahkan pada
stimuli minor, komunikasi yang tidak dapat dipahami, muntah dan perasaan mau
pingsan.

3. Jenis-Jenis Kecemasan
Kecemasan yang dialami oleh seseorang dapat dikategorikan menjadi dua jenis.
Spielberger (1966, dalam Jarvis, 1999) dalam membagi kecemasan menjadi dua, yaitu
State Anxiety dan Trait Anxiety.
a. State Anxiety
State anxiety atau biasa disebut sebagai A-state. A-State ini adalah kondisi cemas
berdasarkan situasi dan peristiwa yang dihadapi. Artinya situasi dan kondisi
lingkunganlah yang menyebabkan tinggi rendahnya kecemasan yang dihadapi.
Sebagai contoh, seorang atlet akan merasa sangat tegang dalam sebuah perebutan
gelar juara dunia. Sebaliknya, tidak begitu tegang saat menjalani pertandingan dalam
kejuaran nasional. Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa state
anxiety merupakan kecemasan yang bersifat sementara dan berubah-ubah tergantung
pada besar kecilnya tekanan yang dihadapi seseorang atau atlet, juga bergantung pada
tingkat trait anxiety yang dimilikinya
b. Trait Anxiety
Trait anxiety atau biasa disebut dengan A-trait. Trait anxiety adalah level kecemasan
yang secara alamiah dimiliki oleh seseorang. Masing-masing orang mempunyai
potensi kecemasan yang berbeda-beda. Dalam A-trait ini tingkat kecemasan yang

2
menjadi dari bagian kepribadian masing-masing atlet. Ada atlet yang mempunyai
kepribadian yang peragu begitupun sebaliknya. Berdasarkan penjelasan diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa trait anxiety bersifat bawaan dan menetap karena sudah
menjadi kepribadian seseorang. Kadar kecemasan bawaan ini akan semakin tinggi
jika lingkungan sekitar individu atau situasi pertandingan memberikan tekanan yang
relatif besar, karena tanpa pengaruh luar pun atlet sudah berada dalam kondisi cemas.
Jika atlet tersebut mempunyai trait anxiety yang tinggi, maka atlet tersebut akan lebih
mudah merasa cemas dibandingkan dengan atlet yang mempunyai trait anxiety yang
rendah.

4. Gejala-gejala Kecemasan
Nevid Jeffrey S, Spencer A, & Greene Beverly mengklasifikasikan gejala-gejala
kecemasan dalam tiga jenis gejala, diantaranya yaitu :
a. Gejala fisik: kegelisahan, anggota tubuh bergetar, banyak berkeringat, sulit bernafas,
jantung berdetak kencang, merasa lemas, panas dingin, mudah marah atau
tersinggung.
b. Gejala behavioral: berperilaku menghindar, terguncang, melekat dan dependen.
c. Gejala kognitif: khawatir tentang sesuatu, perasaan terganggu akan ketakutan
terhadap sesuatu yang terjadi dimasa depan, keyakinan bahwa sesuatu yang
menakutkan akan segera terjadi, ketakutan akan ketidakmampuan untuk mengatasi
masalah, pikiran terasa bercampur aduk atau kebingungan, sulit berkonsentrasi.

5. Faktor-Faktor Penyebab Kecemasan


Menurut Savitri Ramaiah (2003:11) ada beberapa faktor yang menunujukkan
reaksi kecemasan, diantaranya yaitu :
a. Lingkungan
Lingkungan atau sekitar tempat tinggal mempengaruhi cara berfikir individu tentang
diri sendiri maupun orang lain. Hal ini disebabkan karena adanya pengalaman yang
tidak menyenangkan pada individu dengan keluarga, sahabat, ataupun dengan rekan
kerja. Sehingga individu tersebut merasa tidak aman terhadap lingkungannya.
b. Emosi yang ditekan
Kecemasan bisa terjadi jika individu tidak mampu menemukan jalan keluar untuk
perasaannya sendiri dalam hubungan personal ini, terutama jika dirinya menekan rasa
marah atau frustasi dalam jangka waktu yang sangat lama.
c. Sebab-sebab fisik
Pikiran dan tubuh senantiasa saling berinteraksi dan dapat menyebabkan timbulnya
kecemasan. Hal ini terlihat dalam kondisi seperti misalnya kehamilan, semasa remaja
dan sewaktu pulih dari suatu penyakit. Selama ditimpa kondisi-kondisi ini,
perubahan-perubahan perasaan lazim muncul, dan ini dapat menyebabkan timbulnya
kecemasan.

6. Gangguan Kecemasan
Gangguan kecemasan merupakan suatu gangguan yang memiliki ciri kecemasan
atau ketakutan yang tidak realistik, juga irrasional, dan tidak dapat secara intensif

3
ditampilkan dalam cara-cara yang jelas. Fitri Fauziah & Julianty Widuri (2007:77)
membagi gangguan kecemasan dalam beberapa jenis, yaitu:
a. Fobia Spesifik, yaitu suatu ketakutan yang tidak diinginkan karena kehadiran atau
antisipasi terhadap obyek atau situasi yang spesifik.
b. Fobia Sosial, suatu ketakutan yang tidak rasional dan menetap, biasanya berhubungan
dengan kehadiran orang lain. Individu menghindari situasi dimana dirinya dievaluasi
atau dikritik, yang membuatnya merasa terhina atau dipermalukan, dan menunjukkan
tanda-tanda kecemasan atau menampilkan perilaku lain yang memalukan.
c. Gangguan Panik, memiliki karakteristik terjadinya serangan panik yang spontan dan
tidak terduga. Beberapa simtom yang dapat muncul pada gangguan panik antara lain ;
sulit bernafas, jantung berdetak kencang, mual, rasa sakit didada, berkeringat dingin,
dan gemetar. Hal lain yang penting dalam diagnosa gangguan panik adalah bahwa
individu merasa setiap serangan panik merupakan pertanda datangnya kematian atau
kecacatan.
d. Gangguan Cemas Menyeluruh, kekhawatiran yang berlebihan dan bersifat pervasif,
disertai dengan berbagai simtom somatik, yang menyebabkan gangguan signifikan
dalam kehidupan sosial atau pekerjaan pada penderita, atau menimbulkan stres yang
nyata.

7. Dampak Kecemasan
Kecemasan yang berlebihan dapat mempunyai dampak yang merugikan pada
pikiran serta tubuh bahkan dapat menimbulkan penyakit penyakit fisik. Yustinus Semiun
membagi beberapa dampak dari kecemasan kedalam beberapa simtom, antara lain:
a. Simtom suasana hati
Individu yang mengalami kecemasan memiliki perasaan akan adanya hukuman dan
bencana yang mengancam dari suatu sumber tertentu yang tidak diketahui. Orang
yang mengalami kecemasan tidak bisa tidur, dan dengan demikian dapat
menyebabkan sifat mudah marah.
b. Simtom kognitif
Kecemasan dapat menyebabkan kekhawatiran dan keprihatinan pada individu
mengenai hal-hal yang tidak menyenangkan yang mungkin terjadi. Individu tersebut
tidak memperhatikan masalah-masalah real yang ada, sehingga individu sering tidak
bekerja atau belajar secara efektif, dan akhirnya dia akan menjadi lebih merasa cemas.
c. Simtom motor
Orang-orang yang mengalami kecemasan sering merasa tidak tenang, gugup, kegiatan
motor menjadi tanpa arti dan tujuan, misalnya jari-jari kaki mengetuk-ngetuk, dan
sangat kaget terhadap suara yang terjadi secara tiba-tiba. Simtom motor merupakan
gambaran rangsangan kognitif yang tinggi pada individu dan merupakan usaha untuk
melindungi dirinya dari apa saja yang dirasanya mengancam.

8. Cara Mengatasi Kecemasan


a. Psikoterapi
Psikoterapi merupakan salah satu jenis konseling yang dapat mengatasi gangguan
kecemasan berlebihan. Psikoterapi akan membantu klien untuk menceritakan dan

4
membicarakan apa yang sedang dirasakannya. Psikoterapi juga bisa memberikan
saran tentang bagaimana cara memahami serta mengatasi gangguan kecemasan yang
klien alami.
b. Terapi Perilaku Kognitif
Ini merupakan salah satu jenis psikoterapi dimana terapis akan mengajarkan klien
bagaimana mengenali dan mengubah pola piker serta perilaku yang dapat memicu
kecemasan berlebihan.
c. Terapi mengelola Stres
Terapi mengelola stress dengan relaksasi atau meditasi, dapat membantu mengatasi
kecemasan berlebihan pada seseorang. Terapi ini dapat meningkatkan hasil terapi lain
yang klien lakukan. Dukungan keluarga juga sangat penting dalam pemulihan
sesorang dari gangguan kecemasan berlebihan.
d. Obat-obatan
Penanganan menggunakan obat-obatan, obat antidepresan biasanya dapat digunakan
untuk mengatasi berbagau jenis gangguan kecemasan. Khusus untuk mengatasi
kecemasan berlebihan, dokter akan meresepkan kelompok obat ansiolitik atau
antiansietas. Obat-obatan untuk meredakan gejala cemas harus dikonsumsi sesuai
petunjuk dan anjuran dari dokter.