Anda di halaman 1dari 43

Lampiran 8

MODUL KEPERAWATAN JIWA

PENGARUH KONSELING SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN

KUALITAS HIDUP PADA PENDERITA KANKER

Oleh :

RICHATUL LUTFIYAH

1.15.091

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN TELOGOREJO

SEMARANG

2019

TIM PENYUSUN
Penulis : Richatul Lutfiyah

Pembimbing : Ns. Emilia Puspitasari, M.Kep., Sp.Kep.J

Ns.Eny Hidayati, M.Kep., Sp.Kep.J

Desain Sampul : Richatul Lutfiyah 2019

ISBN :………….
KATA PENGANTAR

Assalamu’allaikum wr. wb.

Puji syukur, penuli panjatkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat dan

karuni-Nya lah penulis mampu menyusun “Modul pengaruh konseling sebagai

upaya meningkatkan kualitas hidup pada penderita kanker” dengan lancar . Modul

ini disusun sebagai salah satu media pembelajaran untuk melakukan penelitian

dengan kualitas hidup.Penulis telah menyusun buku modul ini dengan baik dan

saksama beberapa sumber buku terkait beserta jurnal yang disertai dengan landasan

teori dari seluruh referensi yang terkumpul sehingga dari beberapa refrensi tersebut

kami pilih untuk dijadikan referensi utama. Tidak pula dipungkiri bahwa bantuan

dari banyak pihak yang dengan sukarela membantu penulis sehingga mempermudah

proses penyusunan modul ini.

Penulis menyadari akan adanya beberapa kekurangan dalam susunan buku

modul ini,sehingga penulis mengharapkan saran dan masukan dari pembaca untuk

memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam susunan di penyusunan buku modul

berikutnya. Tidak lupa penulis juga mengcapkan terimakasih sebesar-besarnya

kepada semua pihak terutama kepada dosen pembimbing yang telah membantu serta

memberikan dukungan.

Penulis berharap bahwa makalah ini bisa bermanfaat bagi siapapun yang

membacanya, serta dapat menjadi sumber kontribusi penambahan pengetahuan bagi

para pembaca.

Semarang, Februari 2019

Richatul Lutfiyah

DAFTAR ISI
Hal

Sampel Buku ...................................................................................i


Tim Penyusun...................................................................................ii
Kata Pengantar.................................................................................iii
Daftar isi ..........................................................................................iv

BAB 1 Konseling................................................................................
BAB 2 Kualitas Hidup.......................................................................
BAB 3 Kanker....................................................................................
BAB 4 Pengaruh Konseling Sebagai
Upaya Meningkatkan Kualitas ……………………………………..
HIDUP PADA PENDERITA KANKER...........................................
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................
KONSELING MENINGKATKAN KUALITAS
HIDUP KANKER

A. PENDAHULUAN

Penderita kanker berkolerasi dengan kualitas hidupnya. Salah satu hal yang

paling adaptif dari penyesuaian mental adalah semangat juang sedangkan salah

satu yang maladaptif adalah ketidak berdayaan atau putus asa. Adapun juga

kualitas hidup positif ditentukan bahwa seseorang memiliki pandangan

psikologis yang positif, memiliki kesejahteraan emosional, memiliki kesehatan

fisik dan mental yang baik, memiliki kemampuan fisik untuk melakukan hal-hal

yang ingin dilakukan, memiliki hubungan baik dengan teman dan keluarga,

berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan rekreasi, tinggal dalam lingkungan yang

aman dengan fasilitas yang baik.

Konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan seseorang

dengan seseorang yaitu individu yang mengalami masalah yang tak dapat

diatasinya, dengan seseorang petugas profesional yang telah memperoleh latihan

dan pengalaman untuk membantu agar klien memecahkan kesulitanya. (Willis.

2017).

Konseling individu merupakan salah satu teknik pemberian bantuan secara

individual dan secara langsung berkomunikasi, bersifat face to face relation

(hubungan tatap muka). Masalah-masalah yang dipecahkan melalaui teknik

konseling adalah masalah-masalah yang bersifat pribadi. Pembahasan masalah

dalam konseling bersifat menyeluruh dan mendalam serta menyentuh hal-hal


penting tentang diri klien tersebut. (sangat mungkin menyentuh rahasia pribadi

klien). Tetapi juga bersifat spesifik menuju ke arah pemecahan masalah.

B. TUJUAN

Tujuan umum konseling adalah membantu klien menstrukturkan kembali

masalahnya dan menyadari life style serta mengurangi penilaian negatif terhadap

dirinya sendiri serta perasaan-perasaan inferioritasnya. Kemudian membantu

dalam mengoreksi presepsinya terhadap lingkungan, agar klien bisa mengarahkan

tingkah laku serta mengembangkan kembali minat sosialnya.

C. POKOK BAHASAN

Prosedur ini berfokus pada klien yang membutuhkan bantuan untuk saling

membantu untuk menyelesaikan masalah penurunan kualitas hidup pada

penderita kanker.

D. TINJAUAN TEORI

Kanker merupakan penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel

jaringan tubuh yang tidak normal dan tidak terkontrol sehingga dapat

mengganggu dan merusak sel-sel jaringan tubuh lainnya. Penyakit kanker

merupakan penyebab kematian ke 4 terbesar di indonesia untuk penyakit tidak

menular . kanker merupakan penyakit yang belum diketahui penyebabnya secara

pasti, tetapi dari beberapa faktor resiko yang ada, faktor kebiasaan makan

merupakan faktor penyebab terbanyak dari penyakit ini, kebiasaan makan yang

tinggi zat karsinogen merupakan pemicu munculnya penyakit kanker.

(Kusuma,2014)

Penyakit kanker menurut sunaryati merupakan penyakit yang ditandai

pembelahan sel tidak terkendali dan kemampuan sel-sel tersebut menyerang

jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung dijaringan yang


bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ketempat yang jauh (metastatis)

(Sunaryati,2011).

Dari tahun ketahun peringkat penyakit kanker sebagai penyebab kematian

dibanyak negara semakin mengkhawatirkan. WHO memperkirakan kematian

akibat kanker lebih tinggi dibandingkan dengan kematian AIDS,TB maupun

malaria (Nainggolan,2011).

Pasien kanker yang menjalani terapi membutuhkan dukungan emossional

untuk mengatasi kekhawatiran, kesedihan, dan ketakutan selama proses diagnosis

dan pengobatan (Butow,2014). Walaupun pasien mengalami berbagai macam

kondisi yang meningkatkan kecemasanya, pasien tetap merasa optimis dan tetap

melakukan yang terbaik selama menjalani terapi hal ini dikarenakan juga pasien

menerima dukungan emosional yang cukup baik dari keluarga dan teman-teman

sesama pasien kanker yang menjalani terapi, hal ini mungkin dapat berhubungan

dengan peningkatan kualitas hidup pasien kanker (Baryam,2014).

Kualitas hidup menurut World Health Organozation Quality of life

(WHOQOL) Group (dalam Rapley,2003), didefinisikan sebagai perepsi individu

mengenai posisi individu dalam hidup konteks budaya dan sistem nilai dimana

invidu hidup dan hubunganya dengan tujuan,harapan,standar yang ditetapkan dan

perhatian seseorang (Nimas,2012).

Penderita kanker berkolerasi dengan kualitas hidupnya. Salah satu hal yang

paling adaptif dari penyesuaian mental adalah semangat juang sedangkan salah

satu yang maladaptif adalah ketidak berdayaan atau putus asa. Adapun juga

kualitas hidup positif ditentukan bahwa seseorang memiliki pandangan

psikologis yang positif, memiliki kesejahteraan emosional, memiliki kesehatan

fisik dan mental yang baik, memiliki kemampuan fisik untuk melakukan hal-hal
yang ingin dilakukan, memiliki hubungan baik dengan teman dan keluarga,

berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan rekreasi, tinggal dalam lingkungan yang

aman dengan fasilitas yang baik.

Penelitian ini menggunakan terapi konseling sebagai upaya peningkatan

kualitas hidup penderita kanker. Konseling adalah terapi yang digunakan untuk

memanaje masalah maladaptif dengan memfokuskan pada keyakinan irasional

yang memunculkan emosi negatif, dan melalui terapi ini akan digantikan dengan

hal yang rasional dan produktif sebagai harapan akan mengubah kebiasaan

individu (Egbochuku ,2011 )


BAB I

KONSELING

1. Definisi

Konseling merupakan salah satu bentuk psikoterapi yang

digunakan untuk membantu seorang pasien mengatasi

masalah psikologis yang dihadapinya. Kegiatan konseling

merupakan kegiatan profesional yang mencakup kegiatan

yang berhubungan dengan kesehatan dan kesejahteraan

mental.

Konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam

hubungan seseorang dengan seseorang yaitu individu

yang mengalami masalah yang tak dapat diatasinya,

dengan seseorang petugas profesional yang telah

memperoleh latihan dan pengalaman untuk membantu

agar klien memecahkan kesulitanya. (Willis. 2017).

Konseling adalah suatu proses yang berorientasikan

belajar, dilaksanakan dalam suatu lingkungan sosial,

antara seorang dengan seorang yang lain, di mana

seorang konselor harus memiliki kemampuan profesional

dalam bidang keterampilan dan pengetahuan psikologi.

Konselor berusaha membantu klien dengan metode yang

sesuai atau cocok dengan kebutuhan klien tersebut dalam

hubungannya dengan keseluruhan program, agar individu

mempelajari secara lebih baik mengenai dirinya untuk

memperoleh tujuan-tujuan hidup yang lebih realistis,


sehingga klien dapat menjadi anggota dari masyarakat

yang bahagia dan lebih produktif.

Menurut Rogers (2009), konseling adalah suatu hubungan

yang bebas dan terstruktur yang membiarkan klien

memperoleh pengertian sendiri yang membimbingnya

untuk menentukan langkah- langkah positif kearah

orientasi baru.

Menurut Blocher (2011), konseling adalah upaya untuk

membantu seseorang agar menyadari reaksi-reaksi

pribadi terhadap pengaruh perilaku dari lingkungan dan

membantu seseorang membentuk makna dari

perilakunya. Konseling juga membantu klien membentuk

dan memperjelas rangkaian dari tujuan dan nilai-nilai

untuk perilau selanjutnya.

Menurut Lewis (2009), konseling adalah proses dimana

seseorang yang mengalami kesulitan dibantu untuk

merasakan dan selanjutnya bertindak dengan cara yang

lebih memuaskan dirinya, melalui interaksi dengan

seseorang yang tidak terlibat yakni konselor. Konselor

memberikan informasi dan reaksi untuk mendorong klien

mengembangkan perilaku untuk berhubungan secara

lebih efektif dengan diri sendiri dan lingkungan.

Menurut Ivey & Simek-Downing (2010), konseling adalah

upaya untuk memberikan alternatif - alternatif,

membantu klien dalam melepaskan dan merombak pola-


pola lama, memungkinkan melakukan proses

pengambilan keputusan dan menemukan pemecahan-

pemecahan yang tepat terhadap masalah.

Sedangkan menurut Eisenberg (2013), konseling adalah

menambah kekuatan pada klien untuk menghadapi,

mengikuti aktivitas kearah kunjungan, dan untuk

menentukan suatu keputusan.

Konseling membantu klien agar mampu menguasai

masalah yang segera dihadapi dan yang mungkin terjadi

pada waktu yang akan datang (Gunarsa, 2017). Dari

berbagai pengertian tersebut konseling dapat diartikan

sebagai kegiatan profesional yang melibatkan konselor

(yang memberi konseling) dan konseli (yang diberi

konseling) dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah

yang dihadapi konseli dengan melalui proses problem

statement, penggalian potensi, pemilihan alternatif solusi,

implementasi solusi, evaluasi , dan terminasi yang

dilakukan secara simultan.

2. Tujuan Konseling

Secara umum hakekat konseling bertujuan untuk

membantu seseorang menyelesaikan masalah dengan

kemampuan yang dimiliki secara optimal. Dalam

konseling harus dibangun suatu kepercayaan terhadap

martabat dan harga diri seseorang, bahwa ada pengakuan

terhadap kebebasan diri seseorang untuk menentukan


nilai keinginannya dan hak seseorang untuk menentukan

gaya dan corak keinginannya sendiri. Dalam konseling,

konselor atau terapis akan banyak melakukan usaha agar

klien dapat dibantu untuk melakukan aktualisasi diri.

Beberapa hal yang dapat digunakan untuk mempertegas

pengertian konseling:

a. Konseling bukan pemberian informasi walaupun informasi

dapat diberikan dalam konseling

b. Konseling bukan pemberian nasihat, sugesti atau

rekomendasi.

c. Konseling bukan mempengaruhi sikap, kepercayaan atau

perilaku dengan memaksa, mengatur, atau meyakinkan.

d. Konseling bukan seleksi atau tugas yang harus dilakukan

pribadi dalam menghadapi macam –macam pekerjaan dan

aktifitas.

e. Konseling bukan melakukan wawancara walaupun

wawancara dapat dilakukan dalam konseling (Gunarsa,

2017)

Tujuan utama konseling menurut George & Cristiani

(2011):

a) Menyediakan fasilitas untuk perubahan perilaku

Konseling bertujuan untuk membawa pasien agar

hidup lebih produktif dan menikmati kepuasan hidup

sesuai dengan pembatasan-pembatasan yang ada

dalam masyarakat.
b) Meningkatkan ketrampilan untuk menghadapi sesuatu

Kehidupan tidak mungkin terhindar dari persoalan

yang setiap kali harus dihadapi dan karena itu

membutuhkan kemampuan, ketrampilan, kemauan dan

kesanggupan untuk menghadapinya. Seseorang dari

interaksinya dengan dunia luar dapat belajar sesuatu,

memperoleh sesuatu sebagai cara untuk menghadapi

dan mengatasi masalah. Tergantung dari kemampuan

dan ketrampilan dasar yang dimiliki, apakah dia dapat

mengatasi atau tidak. Maka tujuan konseling menurut

George & Cristiani (2011) yaitu: membantu seseorang

belajar untuk menghadapi situasi dan tuntutan baru.

c) Meningkatkan kemampuan dalam menentukan

keputusan

Dalam batas tertentu konseling mengarahkan

seseorang agar dapat membuat sesuatu keputusan

pada saat penting dan benar-benar dibutuhkan.

Keputusan yang diambil harus ditentukan oleh klien

sendiri dan dibantu oleh konselor. Konseling

membantu seseorang memperoleh informasi dan

kejelasan diluar pengaruh emosi dan ciri

kepribadiannya yang dapat mengganggu pengambilan

keputusan. Dengan konseling klien dibantu

memperoleh pemahaman bukan saja mengenai

kemampuan, minat dan kesempatan yang ada,


melainkan juga mengenai emosi dan sikap yang dapat

mempengaruhi dalam menentukan pilihan

pengambilan keputusan. Konseling bertujuan

membantu seseorang belajar mengenai keseluruhan

dari proses pengambilan keputusan sehingga pada

akhirnya ia dapat melakukan sendiri. Juga bertujuan

untuk merangsang seseorang untuk melakukan

penilaian, menentukan, menerima dan bertindak atas

dasar pilihannya.

d) Meningkatkan kemampuan hubungan antar

perorangan

Seseorang diharapkan mampu membina hubungan

yang harmonis dengan lingkungan sosialnya, mulai

dari ketika masih kecil di sekolah, rekan sepekerjaan

atau seprofesi dan dalam keluarga. Maka konseling

bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan

seseorang sehingga pandangan dan penilaian terhadap

diri sendiri dapat lebih objektif serta meningkatkan

ketrampilan dalam penyesuaian diri agar lebih efektif.

e) Menyediakan fasilitas untuk pengembangan

kemampuan pasien

Seseorang pada hakekatnya mempunyai kemampuan,

namun seringkali ternyata kemampuan tersebut tidak

atau kurang berfungsi, tidak aktual sehingga tidak

mencapai fungsi maksimal. Konseling berupaya


memaksimalkan kebebasan pribadi sesuai dengan

kemungkinannya dalam batas-batas yang diperoleh

dari dirinya sendiri atau lingkungan. Konseling

berupaya memaksimalkan efektifitas pribadi dengan

mengembangkan penguasaan terhadap lingkungan

dan proses - proses dalam dirinya (Gunarsa, 2017).

3. Tekhnik Konseling

Dalam pelaksanaannya terdapat beberapa teknik konseling,

secara garis besar terdapat 3 teknik konseling yaitu:

a. Pendekatan Langsung (directive approach)

Pendekatan langsung juga disebut pendekatan terpusat

pada konselor, untuk menunjukkan bahwa pada interaksi

ini konselor lebih banyak berperan dalam menentukan

sesuatu. Sedikit banyak proses konseling bersifat klinis

dan melakukan pendekatan dari sudut dinamika–dinamika

perkembangan psikis (psikodinamik) klien dan ada

kaitannya dengan orientasi faktor bakat atau ciri

kepribadian dasar yang dimiliki seseorang.

Pendekatan langsung dapat dilakukan pada klien yang

mungkin membutuhkan waktu tetapi biasanya tidak lama

atau dapat dilakukan seketika. Tujuaan dari teknik ini

untuk membantu orang lain mengaktualisasikan potensi

yang baik yang dimiliki, terutama untuk membantu klien

yang kurang memperoleh pengalaman dari lingkungan


untuk memenuhi tujuan dan keinginannya. Konselor

dengan segala pengetahuan dan kemampuannya

memahami keadaan klien dan membantunya mengatasi

masalah dan menyesuaikan diri dengan keadaan yang

tidak menyenangkan.

Williamson membagi keadaan ini menjadi enam langkah

yaitu :

1) Analisis, meliputi pengumpulan data dari berbagai

sumber untuk memahami klien,

2) Sintesis yaitu mengelompokkan dan meringkas data

yang diproleh untuk menentukan kekuatan yang

dimiliki klien dan tanggung jawabnya terhadap

kemungkinan apa yang dapat dilakukan,

3) Diagnosis yaitu menyimpulkan penyebab timbulnya

masalah dan kekhususan-kekhususannya,

4) Prognosis yaitu perkiraan tentang perkembangan dan

implikasi dari diagnosis yang dibuat,

5) Konseling yaitu langkah yang diambil untuk

penyesuaian diri atau cara penyesuaian diri kembali,

6) Kelanjutan yaitu menilai semua hal yang telah

dilakukan konselor terhadap klien dalam menghadapi

masalah dan penilaian efektifitas dari konseling.

Ciri pendekatan ini:

1) Bertumpu pada data yang dikumpulkan oleh

konselor,
2) Bersangkut paut dengan isi intelek,

3) Lebih banyak terpusat pada hal ilmiah,

4) Terutama berhubungan dengan bidang pendidikan

dan jabatan atau jurusan,

5) Menitikberatkan pada masalah yang dihadapi klien.

b. Pendekatan Tidak Langsung

Pendekatan ini menitikberatkan penerimaan pada klien,

pembentukan suasana positif yang netral, percaya pada

kebijaksanaan klien, sikap membolehkan dan

mempergunakan penjelasan-penjelasan dari dunia klien

sebagai teknik utama. Peran konselor atau terapis

sebagai pendengar dan memberikan dorongan. Apabila

dalam proses konseling dapat tercipta suasana hangat

dan penuh penerimaan, orang akan menaruh kepercayaan

terhadap konselor dalam ikut memikirkan tentang

kehidupan maupun persoalan yang dihadapi. Selama

memikirkan bersama dan konselor tidak melakukan

penilaian, orang akan merasa bebas untuk memeriksa

perasaannya, pikirannya, dan perilakunya; karena hal ini

berhubungan dengan pertumbuhan, perkembangan dan

penyesuaian diri. Melakukan pemeriksaaan terhadap diri

sendiri hendaknya dapat membuat keputusan lebih efektif

dan berperilaku lebih produktif.

Konselor bertolak dengan titik pandang bahwa orang

pada dasarnya memiliki kapasitas untuk bekerja efektif


dengan semua aspek kehidupan yang disadari. Konselor

bertindak obyektif, tidak emosional karena fungsinya

sebagai cermin yang memantulkan dunia dalam

seseorang dengan kehangatan, penerimaan, dan

kepercayaan. Seseorang akan menilai pikiran dan

perasaannya sendiri yang akhirnya berefek pada perilaku.

Seseorang akan lebih mudah mengatur kembali pikiran,

perasaan, dan perilakunya sehingga selanjutnya akan

dapat berfungsi lebih tersusun dan terpadu. Salah satu

teknik yang dipakai yaitu Client Centered Therapy. Pada

teknik ini perhatian diarahkan pada pribadi klien, dan

bukan pada masalahnya.

Tujuannya bukan untuk memecahkan masalah tetapi

membantu seseorang untuk tumbuh, sehingga dapat

mengatasi masalah, baik masalah sekarang maupun yang

akan datang dengan cara yang lebih baik, lebih tepat. Jika

seseorang berhasil mengatasi persoalan dalam suasana

yang lebih bebas, lebih bertanggung jawab, berkurang

sikap ragunya, dengan cara yang lebih teratur, maka

pada saat menghadapi masalah baru ia akan dapat

mengatasinya dengan cara yang sama.

Ciri pendekatan ini:

1) Penekanan pada faktor emosi daripada faktor intelek,

2) Menekankan hubungan terapeutik itu sendiri sebagai

tumbuhnya pengalaman,
3) Bertumpu pada data yang dikemukakan klien,

4) Bersangkut paut dengan isi kehidupan emosi,

5) Lebih banyak terpusat pada seni hubungan antar

manusia,

6) Terutama berhubungan dengan hal-hal perorangan

atau kelompok

7) Menitikberatkan pada proses wawancara.

c. Pendekatan Elektik

Elektik merupakan terminologi yang menunjuk pada

konseling atau psikoterapi yang memilih teori yang baik

atau berguna dari macam-macam teori, metode dan

pengalaman-pengalaman praktik, untuk dipergunakan

bersama-sama dalam menghadapi klien. Dengan kata lain

teknik ini memilih apa yang baik dari macammacam

sumber, gaya dan sistem, menggunakan macam-macam

teknik dan dasar lebih daripada satu orientasi untuk

memenuhi kebutuhan dari suatu kasus, menggunakan

secara sistematik dari macam-macam intervensi yang

lebih luas untuk menghadapi masalah-masalah khusus.

Pendekatan elektik tidak hanya meliputi dua pendekatan

yang sering dipakai dalam konseling, yakni pendekatan

langsung dan tidak langsung, namun lebih luas dari itu,

yakni pendekatan lain dalam bidang psikoterapi.

Secara singkat pendekatan ini berciri:


1) Bertumpu pada data yang ditemukan konselor dan

dikemukakan klien,

2) Bersangkut paut dengan isi intelek dan kehidupan

emosi,

3) Melibatkan pendekatan ilmiah atau seni hubungan

antar manusia,

4) Meliputi pendidikan, jabatan, atau jurusan dan bidang

perorangan / sosial (Gunarsa, 2017).

4. Proses Konseling

Proses konseling terlaksana karena hubungan konseling berjalan

dengan baik. Menurut (Sofyan. 2017). proses konseling adalah

peristiwa yang telah berlangsung dan memberi makna bagi peserta

konseling tersebut (konselor dan klien). Setiap tahapan proses

konseling individu membutuhkan ketrampilan-ketrampilan khusus.

Namun ketrampilan-ketrampilan itu bukanlah yang utama jika

hubungan konseling individu tidak mencapai raport. Dengan demikian

proses konseling individu ini tidak dirasakan oleh peserta konseling

(konselor klien) sebagai hal yang menjemukan. Akibatnya

keterlibatan mereka dalam proses konseling sejak awal hingga akhir

dirasakan sangat bermakna dan berguna. Secara umum proses

konseling individu dibagi menjadi 3 tahapan:

1) Tahap awal konseling

Tahap ini terjadi sejak klien menemui konselor hingga berjalan

proses konseling sampai konselor dan klien menemukan defisi


masalah klien atas dasar isu, kepedulian, atau masalah klien.

Adapun proses konseling tahap awal sebagai berikut:

a) Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien

Hubungan konselig bermakna ialah jika klien terlibat

berdiskusi dengan konselor. Hubungan tersebut dinamakan

working realitionship, yaitu hubungan yang berfungsi,

bermakna, dan berguna. Keberhasilan proses konseling

individu amat ditentukan oleh keberhasilan pada tahap awal

ini. Kunci keberhasilan terletak pada:

1) keterbukaan konselor.

2) keterbukaan klien, artinya dia dengan jujur

mengungkapkan isi hati, perasaan, harapan, dan

sebagainya. Namun, keterbukaan ditentukan oleh faktor

konselor, yakni dapat dipercayai klien karena dia tidak

berpura-pura, akan tetapi jujur, asli, mengerti, dan

menghargai.

3) konselor mampu melibatkan klien terus menerus dalam

proses konseling. Karena dengan demikian, maka proses

konseling individu akan lancar dan segera dapat mencapai

tujuan konseling individu.

b) Memperjelas dan mendefinisikan masalah

Jika hubungan konseling telah terjalin dengan baik dimana

klien telah melibatkan diri, berarti kerjasama antara konselor

dengan klien akan dapat mengangkat isu, kepedulian, atau

masalah yang ada pada klien. Sering klien tidak begitu mudah
menjelaskan masalahnya, walaupun mungkin dia hanya

mengetahui gejala-gejala yang dialaminya. Karena itu amatlah

penting peran konselor untuk membantu memperjelas masalah

klien. Demikian pula klien tidak memahami potensi apa yang

dimilikinya, maka tugas konselor untuk membantu

mendefinisikan masalahnya bersama-sama.

c) Membuat penafsiran dan penjajakan

Konselor berusaha menjajaki atau menaksir kemungkinan

mengembangkan isu atau masalah, dan merancang bantuan

yang mungkin dilakukan, yaitu dengan membangkitkan semua

potensi klien, dan dia yang berproses menentukan berbagai

alternatif yang sesuai bagi antisipan masalah.

d) Menegosiasikan kontrak

Kontrak artinya perjanjian antara konselor dengan klien. Hal

itu berisi:

1) kontrak waktu, artinya berapa lama diinginkan waktu

pertemuan oleh klien dan apakah konselor tidak keberatan.

2) kontrak tugas, artinya konselor apa tugasnya, dan klien apa

pula.

3) kontrak kerjasama dalam proses konseling. Kontrak

menggariskan kegiatan konseling, termasuk kegiatan klien

dan konselor. Artinya mengandung makna bahwa

konseling adalah urusan yang saling ditunjuk, dan bukan

pekerjaan konselor sebagai ahli. Disamping itu juga

mengandung makna tanggung jawab klien, dan ajakan


untuk kerjasama dalam proses konseling. Kedua, konselor

berupaya kreatif dengan ketrampilan yang bervariasi, serta

memelihara keramahan, empati, kejujuran, keihklasan

dalam memberi bantuan. Kreativitas konselor dituntut pula

untuk membantu klien menemukan berbagai alternatif

sebagai upaya untuk menyusun rencana bagi penyelesaian

masalah dan pengembangan diri

e) Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak

Kontrak dinegosiasikan agar betul-betul memperlancar proses

konseling. Karena itu konselor dan klien agar selalu menjaga

perjanjian dan selalu mengingat dalam pikirannya.

2) Tahap pertengahan (Tahap kerja)

Berangkat dari definisi masalah klien yang disepakati pada tahap

awal, kegiatan selanjutnya adalah memfokuskan pada:

a. penjelajahan masalah klien,

b. bantuan apa yang akan diberikan berdasarkan penilaian

kembali apa-apa yang telah dijelajah tentang masalah klien.

Menilai kembali masalah klien akan memebantu klien

memperoleh prespektif baru, alternatif baru, yang mungkin

berbeda dari sebelumnya, dalam rangka mengambil keputusan

dan tindakan. Dengan adanya prespektif baru, berarti ada

dinamika pada diri klien menuju perubahan. Tanpa prespektif

maka klien sulit untuk berubah. Adapun tujuan-tujuan dari

tahap pertengahan ini yaitu :


a) Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah, isu, dan

kepedulian klien lebih jauh.dengan penjelajahan ini,

konselor berusaha agar klien mempunyai prespektif dan

alternatif baru terhadap masalahnya, konselor mengadakan

reassesment (penilaian kembali) dengan melibatkan klien,

artinya masalaha dinilain bersama-sama. Jika klien

bersemangat, berarti dia sudah begitu terlibat dan terbuka.

Dia akan melihat masalahnya dari prepektif atau

pandangan yang lain dan yang lain lebih objektif dan

mungkin pula berbagai alternatif.

b) Menjaga agar hubungan konseling selalu terpelihara. Hal

ini bisa terjadi jika: pertama, klien merasa senang terlibat

dalam pembicaraan atau wawancara konseling, serta

menampakan kebutuhan untuk mengembangkan potensi

diri dan memecahkan masalahnya.

3) Tahap akhir konseling (tahap tindakan)

a) Menurunnya kecemasan klien. Hal ini diketahui setelah

konselor menanyakan keadaan kecemasannya.

b) Adanya perubahan perilaku klien kearah yang lebih positif,

sehat, dan dinamis.

c) Adanya rencana masa hidup yang akan datang dengan

program yang jelas.

d) Terjadinya perubahan sikap positif, yaitu mulai dapat

mengoreksi diri dan meniadakan sikap yang suka


menyalahkan dunia luar, seperti orang tua, guru, teman,

keadaan tidak menguntungkan dan sebagainya.


BAB II

KUALITAS HIDUP

1. Pengertian Kualitas Hidup

Kualitas hidup merupakan ukuran konseptual atau operasional yang

sering digunakan dalam situasi penyakit kronik sebagai cara untuk menilai

dampak dari terapi pada pasien. Pengukuran konseptual ini mencakup;

kesejahtraan, kualitas kelangsungan hidup, kemampuan seseorang untuk

secara mandiri dalam melakukan kegiatan sehari-hari (Hartono 2009).

Kreitler & Ben (2014) mengungkapkan kualitas hidup diartikan

sebagai persepsi individu mengenai keberfungsian mereka di dalam bidang

kehidupan. Lebih spesifiknya adalah penilaian individu terhadap posisi

mereka di dalam kehidupan, dalam konteks budaya dan system nilai dimana

mereka hidup dalam kaitannya dengan tujuan individu, harapan, standar

serta apa yang menjadi perhatian individu (Nofitri, 2009).

Kualitas hidup menjadi istilah yang umum untuk menyatakan setatus

kesehatan, kendati istilah ini juga memiliki makna khusus yang

memungkinkan penentuan rangking penduduk menurut aspek objektif

maupun subjektif pada status kesehatan.Kualitas hidup yang berkaitan

dengan kesehatan Health-related Quality of Life (HQL) mencakup

keterbatasan fungsional yang bersifat fisik maupun mental, dan ekspresi

positif kesejahtraan fisik, mental, serta spiritual. HQL dapat digunakan

sebagai sebuah ukuran integrative yang menyatukan mortalitas dan

morbidilitas, serta merupakan indeks berbagai unsur yang meliputi

kematian, morbidilitas, keterbatasan fungsional, serta keadaan sehat

sejahtera (well-being) (Micheal J.Gibney, 2009).


Kualitas hidup diartikan sebagai istilah yang merujuk pada emosional,

sosial dan kesejahteraan fisik seseorang serta kemampuan aktifitas dalam

kehidupan sehari-hari, kualitas hidup dapat dikategorikan atas; kualitas

hidup buruk dengan skor 0-50 dan kualitas hidup baik 51-100 (Donald,

2009).

2. Kualitas hidup terkait kesehatan

Kualitas hidup seringkali diartikan sebagai komponen kebahagiaan

dan kepuasan terhadap kehidupan.Akan tetapi pengertian kualitas hidup

tersebut seringkali bermakna berbeda pada setiap orang karena mempunyai

banyak sekali faktor yang mempengaruhi seperti keuangan, keamanan, atau

kesehatan. Untuk itulah digunakan sebuah istilah kualitas hidup terkait

kesehatan dalam bidang kesehatan (Fayers & Machin,2017).

Aktivitas pencegahan penyakit, kualitas hidup dijadikan sebagai aspek

untuk menggambarkan kondisi kesehatan (Wilson dkk dalam Larasati,

2012). Adapun menurut (Larasati, 2012) kualitas hidup adalah tingkatan

yang menggambarkan keunggulan seorang individu yang dapat dinilai dari

kehidupan mereka. Kualitas hidup individu tersebut biasanya dapat dinilai

dari kondisi fisiknya, psikologis, hubungan sosial dan lingkungannya

(WHOQOL Group 1998 dalam Larasati, 2012).

Pengertian kualitas hidup terkait kesehatan juga sangat bervariasi

antar banyak peneliti. Definisi menurut WHO, sehat bukan hanya terbebas

dari penyakit, akan tetapi juga berarti sehat secara fisik, mental, maupun

sosial. Seseorang yang sehat akan mempunyai kualitas hidup yang baik,

begitu pula kualitas hidup yang baik tentu saja akan menunjang kesehatan

(Harmaini, 2016).
Menurut (Rahmi, 2011) kualitas hidup terkait kesehatan harus

mencakup dimensi yang diantaranya sebagai berikut :

a. Dimensi fisik

Dimensi merujuk pada gejala-gejala yang terkait penyakit dan

pengobatan yang dijalani.

b. Dimensi fungsional

Dimensi ini terdiri dari perawatan diri, mobilitas, serta level aktivitas

fisik seperti kapasitas untuk dapat berperan dalam kehidupan keluarga

maupun pekerjaan.

c. Dimensi psikologis

Meliputi fungsi kognitif, status emosi, serta persepsi terhadap

kesehatan, kepuasan hidup, serta kebahagiaan.

d. Dimensi sosial

Meliputi penilaian aspek kontak dan interaksi sosial secara kualitatif

maupun kuantitatif.

3. Faktor yang mempengaruhi kualitas hidup

Berbagai penelitian mengenai kualitas hidup menemukan beberapa factor-

factor lain yang mempengaruhi kualitas hidup. Berikut beberapa factor

yang mempengaruhi kualitas hidup yaitu :

a. Jenis Kelamin

Moons, Marquet, Budst, dan De Gees (2014) mengatakan bahwa gender

adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hidup. Bain,

Gillian, Lamnon, Teunise (Nofitri, 2009) menemukan adanya perbedaan

antara kualitas hidup antara laki-laki dan perempuan, dimana kualitas

hidup laki-laki cenderung lebih baik daripada kualitas hidup


perempuan.Bertentangan dengan penemuan Bain, Gillian, Lamnon,

Teunise (2014) menemukan bahwa kualitas hidup perempuan

cenderung lebih tinggi daripada laki-laki.

b. Pendidikan

Moons, Marquet, Budst, dan De Gees (2014) mengatakan bahwa tingkat

pendidikan adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas

hidup subjektif. Penelitian yang dilakukan oleh Wahl, Astrid, Rusteun,

Hanested (2014) menemukan bahwa kualitas hidup akan meningkat

seiring dengan lebih tingginya tingkat pendidikan yang didapatkan oleh

individu. Penelitian yang dilakukan oleh Noghani, Asghapur, dan Safa

(2017) dalam menemukan adanya pengaruh positif dari pendidikan

terhadap kualitas hidup subjektif namun tidak banyak.

c. Status pernikahan

Moons, Marquet, Budst, dan De Gees (2014) mengatakan bahwa

terdapat perbedaan kualitas hidup antara individu yang tidak menikah,

individu bercerai ataupun janda, dan individu yang menikah atau

kohabitasi. Penelitian empiris di Amerika secara umum menunjukkan

bahwa individu yang menikah memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi

daripada individu yang tidak menikah, bercerai, ataupun janda/duda

akibat pasangan meninggal. Hal ini didukung oleh penelitian kualitas

hidup dengan menggunakan kuesioner SF-36 terhadap 145 laki-laki dan

wanita, dilaporkan bahwa laki-laki dan perempuan yang sudah menikah

memiliki kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan dengan yang

belum menikah atau yang sudah bercerai. Kualitas hidup yang baik
pada laki-laki dan wanita yang sudah menikah karena adanya dukungan

sosial dari pasangannya (Quan, Rong, Chan, Rong & Xiu, 2009).

d. Pekerjaan

Moons, Marquet, Budst, dan De Gees (2014) mengatakan bahwa

terdapat perbedaan kualitas hidup antara penduduk yang berstatus

sebagai pelajar, penduduk yang bekerja, penduduk yang tidak bekerja

(atau sedang mencari pekerjaan), dan penduduk yang tidak mampu

bekerja (atau memiliki disabiliti tertentu). Wahl, Astrid, Rusteun &

Hanested (2014) menemukan bahwa status pekerjaan berhubungan

dengan kualitas hidup baik pada pria maupun wanita.

4. Pengukuran Kualitas Hidup

Pengukuran kualitas hidup terkait kesehatan seseorang dapat menggunakan

kuesioner yang berisi faktor-faktor yangmempengaruhi kualitas hidup.

Menurut Hermaini (2016), terdapat tiga alat ukur untuk menentukan

kualitas hidup seseorang, yaitu :

a. Alat ukur generic

Merupakan alat ukur yang digunakan untuk penyakit maupun usia.

Keuntungan alat ukur ini lebih luas dalam penggunaannya, kelemahan

alat ukur ini tidak dapat mencakup hal-hal khusus pada suatu penyakit

tertentu. Contoh alat ukur ini adalah SF-36, instrument yang digunakan

pada penelitian ini untuk mengukur faktor-faktor kualitas hidup pada

penderita hipertensi adalah SF-36, merupakan suatu isian yang berisi 36

pertayaan yang disusun untuk mensurvey status kesehatan pada

penderita hipertensi yang meliputi :

1) Pembatasan aktifitas fisik karena masalah kesehatan yang ada


2) Pembatasan aktifitas sosial karena masalah fisik dan emosional

3) Pembatasan aktifitas sehari-hari karena masalah fisik, nyeri,

kesehatan mental secara umum

4) Pembatasan aktifitas sehari-hari karena masalah emosional, vitalitas

hidup, dan pandangan kesehatan secara umum (Hermaini, 2016).

Instrument SF-36 terkait kualitas hidup terbagi atas delapan

dimensi, yang terdiri dari dimensi fisik ( 10 pertayaan), peran fisik

( 4 pertayaan), rasa nyeri (2 pertanyaan), peran emosional (3

pertanyaan), dan kesehatan mental (5 pertayaan) serta ditambah 2

komponen ringkasan fisik dan mental.SF-36 adalah sebuah

kuisioner yang digunakan untuk survey kesehatan untuk menilai

kualitas hidup, yang terdiri dari 36 pertayaan yang menghasilkan 8

skala fungsional kesehatan dan skor kesejahtraan yang berbasis

psikometri kesehatan fisik dan psikis, serta merupakan kumpulan

dari langkah-langkah dan preferensi kesehatan yang berbasis indeks.

Skor penilaian kualitas hidup antara 0-100 dikatakan baik apabila

skor kualitas hidup 51-100 dan dikatakan buruk apabila skor

kualitas hidup 0-50 (Hermain, 2016).

SF-36 merupakan instrumenpengukuran kualitas hidup yang

digunakan secara luas untuk berbagai macam penyakit. Kuisioner

SF-36 digunakan untuk mengukur 8 kriteria kesehatan, yang terdiri

atas :

1) Pembatasan aktifitas fisik kareana masalah fisik yang ada

2) Pembatasan aktifitas sosial kareana masalah fisik dan emosional

3) Pembatasan aktifitas sehari-hari karena masalah fisik


4) Nyeri pada seluruh badan

5) Kesehatan mental secara umum

6) Pembatasan aktifitas sehari-hari karena masalah emosional

7) Vitalitas hidup

8) Pandangan kesehatan secara umum

b. Alat ukur spesifik

Merupakan alat ukur yang spesifik untuk mengukur penyakit-penyakit

tertentu, biasanya berisi pertayaan-pertayaan khusus yang sering terjadi

pada penyakit yang diderita oleh klien. Kelebihan alat ukur ini yaitu

dapat memberikan hasil yang lebih tepat yang terkait keluhan atau hal

khususyang berperan dalam suatu penyakit tertentu. Kelemahan pada

alat ukur ini tidak dapat digunakan pada pengukuran penyakit laian dan

biasanya pertanyaan-pertanyaanya sulit untuk dimengerti oleh kliyen.

Contoh alat ukur ini Kidney Desease Quality of Life –Short From

(KDQOL-SF).

c. Alat ukur utility

Merupakan suatu pengembangan alat ukur, biasanya generik.

Pengembangan dari penilaian kualitas hidup menjadi parameter,

sehingga dapat memiliki manfaat yang berbeda. Contoh alat ukur

iniEuropean Quality of Life –5 Dimension (EQ-5D)yang telah

dikonfersi menjadi Time Trede –Off(TTO) yang dapat berguna dalam

bidang ekonomi, yaitu dapat digunakan untuk menganalisa biaya

kesehatan dan perencanaan keuangan kesehatan Negara.


BAB III
KANKER

1. Pengertian Penyakit Kanker

Penyakit kanker merupakan suatu penyakit yang disebabkan

pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh tidak normal (tumbuh sangat cepat dan

tidak terkendali), menginfiltrasi/ merembes, dan menekan jaringan tubuh

sehingga mempengaruhi organ tubuh (Akmal, dkk., 2010: 187).

Penyakit kanker menurut Sunaryati merupakan penyakit yang ditandai

pembelahan sel tidak terkendali dan kemampuan sel-sel tersebut menyerang

jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung dijaringan yang

bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh

(metastasis) (Sunaryati, 2011: 12).

Penyakit kanker adalah suatu kondisi sel telah kehilangan

pengendalian dan mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan

yang tidak normal, cepat dan tidak terkendali (Diananda, 2009: 3). Penyakit

kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel

jaringan tubuh yang tidak normal, berkembang cepat dan terus membelah

diri, hingga menjadi penyakit berat (Maharani, 2009:12).

Menurut penulis penyakit kanker merupakan penyakit berat dan

bersifat kronis, yang ditandai pertumbuhan sel tubuh tidak normal,

berkembang cepat, menyebar, dan menekan organ atau saraf sekitar.

2. Pertumbuhan Penyakit Kanker

Pertumbuhan sel kanker tidak terkendali disebabkan kerusakan

deoxyribose nucleic acid (DNA), sehingga menyebabkan mutasi gen vital

yang mengontrol pembelahan sel. Beberapa mutasi dapat mengubah sel


normal menjadi sel kanker. Mutasi-mutasi tersebut diakibatkan agen kimia

maupun fisik yang edisebut karsinogen. Mutasi dapat terjadi secara spontan

maupun diwariskan (Sunaryati, 2011: 12).

Sel-sel kanker membentuk suatu masa dari jaringan ganas yang

kemudian menyusup ke jaringan di dekatnya dan menyebar ke seluruh tubuh.

Sel-sel kanker sebenarnya dibentuk dari sel normal melalui proses

transformasiterdiri dari dua tahap yaitu tahap iniasidan promosi. Tahap

inisiasi, pada tahap ini perubahan bahan genetis sel yang memancing sel

menjadi ganas. Perubahan sel genetis disebabkan unsur pemicukanker yang

terkandung dalam bahan kimia, virus, radiasi, atau sinar matahari (Sunaryati,

2011: 13).

Pada tahap promosi, sel menjadi ganas disebabkan gabungan antara

sel yang peka dengan karsinogen. Kondisi ini menyebabkan sistem kekebalan

tubuh berusaha merusak sebelum sel berlipat ganda dan berkembang menjadi

kanker. Sistem kekebalan tubuh yang tidak berfungsi normal menjadikan

tubuh rentan terhadap kannker (Sunaryati, 2011: 14).

3. Jenis-jenis Penyakit Kanker

Jenis-jenis kanker yaitu; karsioma,limfoma, sarkoma, glioma,

karsinoma in situ. Karsinomamerupakan jenis kankerberasal dari sel yang

melapisi permukaan tubuh atau permukaan saluran tubuh, misalnya jaringan

seperti sel kulit, testis, ovarium, kelenjar mucus, sel melanin, payudara, leher

rahim, kolon, rektum, lambung, pankreas (Akmal, dkk., 2010: 188).

Limfoma termasuk jenis kanker berasal dari jaringan yang

membentuk darah, misalnya sumsum tulang, lueukimia, limfoma merupakan


jenis kanker yang tidak membentuk masa tumor, tetapi memenuhi pembuluh

darah dan mengganggu fungsi sel darah normal (Akmal, dkk., 2010:80).

Sarkoma adalah jenis kanker akibat kerusakan jaringan penujang di

permukaan tubuh seperti jaringan ikat, sel-sel otot dan tulang. Gliomaadalah

kanker susunan saraf, misalnya sel-sel glia(jaringan panjang) di susunan saraf

pusat.

Karsinoma in situadalah istilah untuk menjelaskan sel epitel abnormal

yang masih terbatas di daerah tertentu sehingga dianggap lesi prainvasif

(kelainan/ luka yang belum menyebar) (Akmal, dkk., 2010: 81).

Jenis kanker menurut penulis dibedakan berdasarkan sel penyebab

awal dan organ yang diserang. Dengan demikian, jenis kanker dapat

dibedakan menjadi karsioma, limfoma, sarkoma, glioma, karsinoma in situ.

4. Tahapan Penyakit kanker

Kanker tahap awal memasuki stadium satu yaitu kanker telah masuk

ke lapisan sekitarnya. Pada stadium dua, kanker menyebar ke jaringan

terdekat tetapi belum sampai ke kelenjar getah bening.

Tahap lanjut atau stadium lanjut apabila kanker memasuki stadium

tiga. Stadium tiga berarti kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening

terdekat tetapi belum sampai ke organ tubuh yang letaknya lebih jauh. Tahap

akhir atau disebut stadium akhir apabila telah masuk pada stadium empat.

Stadium empat menunjukkan bahwa kanker telah menyebar ke organ tubuh

atau jaringan lain.

5. Gejala-gejala Penyakit Kanker

Gejala kanker timbul dari organ tubuh yang diserang sesuai dengan

jenis kanker, gejala kanker pada tahap awal berupa kelelahan secara terus
menerus, demam akibat sel kanker mempengaruhi sistem pertahanan tubuh

sebagai respon dari kerja sistem imun tubuh tidak sesuai (Akmal, dkk., 2010:

188).

Gejala kanker tahap lanjut berbeda-beda. Perbedaan gejala tergantung

lokasi dan keganasan sel kanker. Menurut Sunaryati gejala kanker yaitu

penurunan berat badan tidak sengaja dan terlihat signifikan, pertumbuhan

rambut tidak normal, nyeri akibat kanker sudah menyebar (Sunaryati, 2011:

14).

6. Faktor Penyebab Penyakit Kanker

Penyebab kanker berupa gabungan dari sekumpulan faktor genetik

dan lingkungan (Akmal, dkk., 2010: 80). Harmanto dalam Sunaryati (2011:

16) menyebutkanbahwa, faktor penyebab tumbuhnya kanker bersifat internal

dan eksternal. Faktor internal diantaranya yaitu faktor keturunan, baik dari

pihak orang tua secara langsung maupun nenek moyang, daya tahan tubuh

yang buruk. Faktor eksternal seperti pola hidup tidak sehat di antaranya

mengonsumsi makanan dengan bahan karsinogen, makanan berlemak,

minuman beralkohol, kebiasaan merokok, diet salah dalam waktu lama; sinar

ultraviolet dan radioaktif; infeksi menahun/ perangsangan/ iritasi;

pencemaranlingkungan atau polusi udara; obat yang mempengaruhi hormon;

berganti-ganti pasangan (Sunaryati 2011: 16).

Faktor penyebab kanker menurut penulis berupa faktor dari dalam diri

individu dan faktor dari luar diri individu. Faktor dari dalam diri individu

berupa faktor keturunan dan kelainan hormon tubuh. Faktor dari luar berasal

dari faktor lingkungan.


BAB IV
PENGARUH KONSELING SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN

KUALITAS HIDUP PADA PENDERITA KANKER

Kanker adalah penyakit yang menurut kebanyakan orang belum

ditemukan obatnya. Penderitanya harus menghadapi penyakit yang memberi

dampak tidak hanya pada kesehatan fisik penderita tetapi juga pada keadaan

jiwanya. Penderita kanker harus menghadapi kenyataan yang tidak pernah

mereka inginkan di tengah harapan hidup yang kecil. Penderitaan ini dapat

menimbulkan rasa putus asa bahkan depresi pada penderita kanker. Kanker

disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain, faktor genetik atau keturunan,

radiasi nuklir, pola hidup dan lingkungan. Faktor penyebab kanker terbanyak

adalah faktor keturunan dan pola hidup yang tidak sehat.

Kondisi pasca menderita kanker turut menambah penderitaan

penderitanya. Rasa sakit yang dirasakan akibat penyakit kanker merupakan hal

yang harus dijalaninya setiap hari. Selain itu harapan hidup yang kecil

membuat seorang penderita kanker mengalami kecemasan akan masa depan

dan ketakutan menghadapi kematian yang seolah sudah didepan mata.

Semangat hidup seolah bertolak belakang dengan keterbatasan yang dialami

penderita kanker. Keadaan semacam itu akan mempengaruhi kualitas hidup

pada penderita kanker. Penderita kanker yang mampu menghadapi dan bangkit

dari keterpurukan yang dialami akan mendorongnya untuk memiliki hidup

yang lebih berkualitas, begitu pula sebaliknya, respon negatif dari seorang

penderita kanker membuat kualitas hidupnya negatif.

Kualitas hidup adalah persepsi individu mengenai keadaan dirinya pada

aspek fisik, psikologis, sosial dan lingkungan untuk mencapai kepuasan dalam
hidupnya. Kebaikan dalam segala aspek hidup dan kepuasan seseorang akan

membawanya pada hidup yang berkualitas. Kebaikan tersebut akan mendorong

penderita kanker untuk mencapai kehidupan yang berkualitas. Pengetahuan dan

pemahaman penderita kanker terhadap penyakitnya sangat mempengaruhi

kualitas hidupnya, karena tanpa tahu kondisinya dengan baik, penderita tidak

tahu apa yang harus dilakukan atau apa yang tidak boleh dilakukan untuk

meningkatkan kesehatannya. Kualitas hidup erat kaitannya dengan kesehatan

fisik dan mental seseorang. Fisik dan mental yang baik akan mengarah pada

adanya penerimaan diri, citra tubuh yang baik, perasaan positif, penghargaan

terhadap diri sendiri dan orang lain, kebahagiaan, spiritualitas yang baik,

kesejahteraan, dan hubungan interpersonal yang positif.

Faktor pendukung yang lain adalah faktor ekonomi. Perihal ekonomi

tidak bisa dipandang sebelah mata dalam pembentukan kualitas hidup seorang

penderita kanker, hal ini dikarenakan keadaan penyakitnya membutuhkan

banyak biaya yang secara langsung mengubah ekonomi keluarga penderita

kanker. Pengobatan kanker yang relatif mahal dan berlangsung lama

menimbulkan kecemasan tersendiri bagi penderita kanker.

Terdapat empat aspek yang menentukan apakah hidup seseorang

berkualitas atau tidak, antara lain aspek psikologis, aspek sosial, aspek, fisik

dan aspek lingkungan. Aspek yang dominan dalam pembentukan kualitas hidup

penderita kanker adalah aspek psikologis, meliputi spiritualitas, dukungan

sosial dan kesejahteraan. Faktanya, aspek psikologis memiliki peran yang

sangat signifikan dalam menentukan kualitas hidup, subyek mendapatkan

kekuatan dan merasa lebih sehat walaupun tanpa obat, hal ini disebabkan

karena adanya sugesti dalam diri individu tersebut untuk tetap sehat tanpa obat.
Hal ini erat kaitannya dengan kecerdasan spiritualitas seorang individu.

Hubungan manusia dengan Sang Pencipta dirasa merupakan hal yang paling

hakiki dalam aspek kehidupan. Kecerdasan spiritualitas dianggap sebagai

kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna hidup dan

nilai yang akan membawa dalam kehidupan yang bermakna (Zohar dan

Marshall, 2010:4). Kecerdasan spiritualitas menuntun subyek untuk memiliki

penerimaan diri yang sangat baik terhadap penyakitnya. Subyek mengalami

peningkatan dalam hal spiritual dibanding saat sebelum menderita kanker.

Subyek lebih dekat dengan Tuhan dan tidak menyalahkan Tuhan karena

keadaanya, melainkan menganggap apa yang terjadi padanya sebagai sebuah

anugerah dari Tuhan.

Indikator kedua yang mempengaruhi kualitas hidup penderita kanker

adalah dukungan sosial. Dukungan dari orang terdekat sangat penting dan

berpengaruh terhadap kesembuhan seorang penderita kanker dalam mengurangi

tingkat stres dan depresi (Taylor,1991:244-246). Dukungan sosial dari orang-

orang disekitar subyek memberi motivasi dan semangat yang besar bagi subyek

untuk sembuh dan kuat menjalani hidup. Rasa cinta, rasa aman dan nyaman

yang didapatkan oleh subyek pada akhirnya memberikan kesejahteraan yang

juga menentukan kualitas hidup penderita kanker.

Indikator ketiga adalah kesejahteraan. Setiap orang pasti menginginkan

hidupnya sejahtera. Usaha kesejahteraan sosial adalah usaha yang bertujuan

untuk meningkatkan kualitas hidup manusia kearah kehidupan sosial yang lebih

baik. Peningkatan kualitas hidup itu sendiri dapat dilakukan melalui kehidupan

keluarga, kesehatan, kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial

(social adjustment), pemanfaatan waktu luang, standart hidup maupun relasi


sosial (Rukminto,2014:11). Indikator-indikator satu dengan yang lain saling

berkaitan dalam membentuk kualitas hidup seseorang, khususnya pada

penderita kanker. Penderita kanker yang merasakan kesejahteraan, misalnya

dalam kesehatan, mereka akan tetap mampu beraktivitas secara maksimal,

memiliki kemandirian dan menunjukkan prestasinya.

Kondisi pasca menderita kanker akan mempengaruhi kondisi subyek

secara fisik dan mental yang akan mempengaruhi kualitas hidupnya. Faktor

pengetahuan dan pemahaman subyek terhadap penyakit yang sedang

dideritanya sangat penting untuk menjadi acuan menjaga kesehatannya.

Pemahaman kualitas hidup yang positif akan menentukan sikap subyek

selanjutnya, hal ini dipengaruhi oleh penerimaan diri yang baik, citra tubuh

positif, perasaan positif, kebahagiaan, harga diri, hubungan sosial, lingkungan

dan spiritualitas subyek.

Saat penderita kanker memiliki kualitas hidup yang positif dalam

hidupnya maka sikap yang akan ditunjukkan oleh penderita adalah sikap-sikap

positif. Mereka akan menerima dan beradaptasi dengan keadaannya serta

berusaha untuk bertahan dan terus berjuang dalam mengusahakan kehidupan

yang lebih baik. Mereka mungkin pernah merasa terpuruk dalam kondisi

penyakit yang dideritanya, tetapi pemahaman kualitas hidup yang positif akan

memacu mereka untuk tetap bisa mengaktualisasi dirinya, penderita kanker

tidak menyerah dengan keterbatasan dirinya.

Kondisi lingkungan yang baik turut mendukung kualitas hidup seorang

penderita kanker. Hubungan sosial yang baik dan dukungan sosial yang

diterima penderita dari orang-orang terdekat akan sangat berdampak positif

pada kesehatan penderita kanker. Sikap dan pandangan positif dari penderita
kanker akan menghilangkan respon-respon negatif yang muncul seiring adanya

kelemahan yang dialaminya sehingga ada kesejahteraan emosional dalam diri

penderita kanker. Terpenuhinya segala aspek kehidupan pada akhirnya akan

memberikan kualitas hidup pada diri individu, khususnya penderita kanker.


DAFTAR PUSTAKA

Baryam, Z., Durna, Dakin, S. (2014). Quality of life during chemotherapy and satis

faction with nursing care in turkish breast cancer patiens, european journal of

cancer care,23.

Dryden, W. Neenan M (2003). The REBT pocket companion Albertellis

institute:New york.

Egbochuku, EO. (2008) Efficacy of Rational –Emotive behavior Therapy on the

reduction of test anxiety Among A dolescents in secondary Schools. Europian

journal of social sciences 6.

Hidayat, E., Keliat, B.A., Wardani, I.Y., (2011): Pengaruh cognitive behavior

therapy (CBT) dan rational emotive behavior therapy (REBT) terhadap klien

perilaku kekerasan dan harga diri rendah di RS Dr. H. Marzoeki Mahdi

Bogor.

Putri, D.E., Keliat, B.A., Nasution, Y., Susanti, H., (2010): Pengaruh Rational

Emotive Behaviour Therapy Terhadap Klien Dengan Perilaku Kekerasan di

Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor Tahun 2010.

Solli, o., stavem , k & kristiansen, I. S (2010). Health- related quality of life in

Diabetes The associations of complations with EQ.

Sudiatmika, IK., Keliat, B.A., Wardani, IY., (2011): Efektivitas cognitive behaviour

therapy dan rational emotive behaviour therapy terhadap klien dengan


perilaku kekerasan dan halusinasi di Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi

Bogor.

Ando, M., Morita, T., Akechi, T., & Ifuku, Y. (2011). A qualitative study of

mindfulness-based meditation therapy in Japanese cancer patients. Supportive

Care in Cancer, 19(7), 929-933.

Iskandar, E. (2010). The miracle of touch: Panduan menerapkan keajaiban EFT

(Emotional Freedom Techniques) untuk kesehatan, kesuksesan, dan

kebahagiaan. Bandung: Qanita.

Kaplan , H.I., Sadock, B.J. (2010). Retardasi Mental dalam Sinopsis Psikiatri.

Tangerang: Binarupa Aksara

Wilding, 2010. Cognitive Behavioural Therapy. A Teach Your Self Guide. Mc Graw-Hill