Anda di halaman 1dari 4

1.

Pengertian Semantik
Semantik adalah cabang linguistik yang mempelajari makna / arti yang
terkandung dalam bahasa, kode, atau jenis lain dari representasi. Dengan kata lain,
semantik adalah studi tentang makna. Semantik biasanya berhubungan dengan
dua aspek lain: sintaks, pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih
sederhana, dan pragmatis, penggunaan praktis simbol oleh rakyat dalam konteks
tertentu.[1]
2. Pengertian Semantik Menurut Para Ahli
Dibawah ini terdapat beberapa macam pendapat dari berbagai para ahli dunia
tentang pengertian semantik, diantaranya adalah:
a. Charles Morrist
Mengemukakan bahwa semantik menelaah “hubungan-hubungan tanda-
tanda dengan objek-objek yang merupakan wadah penerapan tanda-tanda
tersebut”.
b. J.W.M Verhaar; 1981:9
Mengemukakan bahwa semantik (inggris: semantics) berarti teori makna
atau teori arti, yakni cabang sistematik bahasa yang menyelidiki makna atau arti.
c. Lehrer; 1974: 1
Semantik adalah studi tentang makna. Bagi Lehrer, semantik merupakan
bidang kajian yang sangat luas, karena turut menyinggung aspek-aspek struktur
dan fungsi bahasa sehingga dapat dihubungkan dengan psikologi, filsafat dan
antropologi.[2]
d. Kambartel (dalam Bauerk, 1979: 195)
Semantik mengasumsikan bahwa bahasa terdiri dari struktur yang
menampakan makna apabila dihubungkan dengan objek dalam pengalaman dunia
manusia.[3]
3. Linguistik sematik
Dalam linguistik , semantik formal berusaha untuk memahami makna
linguistik dengan membangun model matematika yang tepat dari prinsip-prinsip
yang digunakan pembicara untuk mendefinisikan hubungan antara ekspresi
dalam bahasa alami dan dunia yang mendukung wacana yang bermakna.  Alat
matematika yang digunakan adalah pertemuan logika formal dan teori bahasa
formal , khususnya kalkulus lambda yang diketik .[4]
Perubahan semantik  ( juga pergeseran semantik , perkembangan semantik ,
perkembangan semantik , atau pergeseran semantik ) adalah bentuk perubahan
bahasa terkait evolusi penggunaan kata biasanya sampai pada titik di mana makna
modern secara radikal berbeda secara radikal dari penggunaan aslinya.
[5].Dalam linguistik diakronis (atau historis) , perubahan semantik adalah
perubahan dalam salah satu makna kata . Setiap kata memiliki beragam indera
dan konotasi , yang dapat ditambahkan, dihilangkan, atau diubah seiring waktu,
seringkali sampai pada tingkat yang serumpun melintasi ruang dan waktu
memiliki makna yang sangat berbeda. Studi tentang perubahan semantik dapat
dilihat sebagai bagian dari etimologi , onomasiologi , semasiologi , dan semantik .
4. Mesin Turing
Mesin Turing adalah model komputasi teoretis yang ditemukan oleh Alan
Turing, berfungsi sebagai model ideal untuk melakukan perhitungan matematis.
Walaupun model ideal ini diperkenalkan sebelum komputer nyata dibangun,
model ini tetap diterima kalangan ilmu komputer sebagai model komputer yang
sesuai untuk menentukan apakah suatu fungsi dapat selesaikan oleh komputer atau
tidak (menentukan computable function). Mesin Turing terkenal dengan ungkapan
" Apapun yang bisa dilakukan oleh Mesin Turing pasti bisa dilakukan
oleh komputer."[6]
Sebuah mesin turing terdiri atas barisan sel tersusun berupa pita yang dapat
bergerak maju mundur, komponen aktif baca/tulis pita yang memiliki status
perhitungan serta dapat mengubah/menulisi sel aktif yang ada di pita tadi, dan
suatu kumpulan instruksi bagaimana komponen baca/tulis ini harus melakukan
modifikasi terhadap sel aktif pada pita, serta bagaimana menggerakkan pita
tersebut. Pada setiap langkah dalam komputasi, mesin ini akan dapat mengubah
isi dari sel yang aktif, mengubah status dari komponen baca/tulis, dan mengubah
posisi pita ke kiri atau ke kanan.[7]
5. Sinonimi
Sinonimi muncul antara kata asli dan kata serapan, kontak antarbahasa dapat
terjadi antarbahasa serumpun dan antarbahasa tidak serumpun. Kontak itu
menimbulkan serapan kata yang bermakna. Salah satu ciri serapan ialah serapan
kata yang bermakna sama dengan kata bahasa penyerap. Bahasa Indonesia
mengalami proses serapan dengan ciri sinonimi. Contoh: kata serapan temperatur
bersinonimi dengan suhu.kata serapan dipakai secara bergantian dengan kata-kata
asli tanpa membawa perbedaan makna bergantung kepada selera dan pengetahuan
pemakai bahasa. Secara semantik,makna kata-kata tersebut tidak berbeda.
a. Sinonimi muncul antara bahasa umum dan dialek
Serapan intrabahasa terjadi antara dialek dan bahasa-bahasa umum dan
bahasa standar.bahasa Indonesia yang mengenal beberapa dialek mengalami
penyerapan makna sinonimi intrabahasa.misalnya, sinonimi antara cabe dan
Lombok, selamat malam dan malam baik,kayak dan seperti (percakapan),nggak
dan tidak (percakapan).
b. Perbedaan antara makna sinonimi
Sinonimi antar kata adalah makna denotasi atau makna kognitif kata-kata
yang diterima sebagai sinonimi. Sinonimi yang muncul antara kata asli dan
serapan,antara kata berdasarkan kolokasi,dan antara dialek bahasa umum tidak
perlu dibedakan atau dibatasi karena kemunculannya sebagian terjadi secara alami
dan sebagian disengajakan.akan tetapi sinonimi antara kata kata intrabahasa dan
sinonimi antara kata kata bentukan baru (neologisme) perlu dibedakan
berdasarkan pemakaiannya dan sikap serta pendirian pemakainya.[8]
DAFTAR PUSTAKA

[1] R. F. Hermawan, A. Romadhony, S. Al Faraby, and M. Sc, “Implementasi


dan Analisis Kesamaan Semantik pada Bahasa Indonesia dengan Metode
berbasis Vektor Implementation and Analysis of Semantic Similarity on
Bahasa Indonesia by Vector- based Method,” e-Proceeding Eng., vol. 4,
no. 3, pp. 4641–4649, 2017.
[2] Efpriyani, FirmanSusilo, and AmrianiAmir, “ARTIKEL PENELITIAN
Oleh : EFPRIYANI NIM F11410019,” Progr. Stud. Pendidik. Bhs.
Indones., pp. 1–8, 2014.
[3] J. Sutomo, “Konteks, Referensi, dan Makna: Kajian Semantik,” J.
Pengemb. Ilmu Bhs. dan Budaya, pp. 26–34, 2015.
[4] A. Kusmana, “PENGEMBANGAN MODEL MATERI AJAR
SEMANTIK: Penelitian dan Pengembangan Model Materi Ajar Semantik
di Program Studi Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah FKIP Universitas
Jambi,” Lentera Pendidik. J. Ilmu Tarb. dan Kegur., vol. 17, no. 1, pp. 1–
17, 2014.
[5] J. Pepatuzdu, “Kata Kunci :,” vol. 11, no. 1, pp. 33–42, 2016.
[6] P. Pada, B. Artikel, and J. Ilmiah, “ARTIKEL JURNAL ILMIAH,” no.
October, 2017.
[7] P. W. Handayani, I. M. Wiryana, and J.-T. Milde, “Mesin Pencari
Berbasiskan Semantik Untuk Bahasa Indonesia,” J. Sist. Inf., vol. 4, no. 2,
p. 110, 2012.
[8] Jos Daniel Parera,2004. Teori Semantik Edisi Kedua.Jakarta: Erlangga.