Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS

“Otitis Eksterna Difusa Auricula Sinistra”

Disusun oleh:

Ajiansyah Rizky 114170002

Sandy C. Widyatama 114170066

Pembimbing:

dr. Edy Riyanto B, Sp.THT-KL

Program Profesi Pendidikan Dokter

Kepaniteraan Klinik SMF THT-KL

Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati

RSUD Waled Cirebon

2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas
Rahmat dan Hidayat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan
kasus dengan judul “Otitis Eksterna Difusa” Makalah ini dibuat sebagai salah
satu syarat untuk memenuhi penilaian pada kepaniteraan klinik di bagian Telinga
Hidung Tenggorokan RSUD Waled. Dalam penyelesaian laporan kasus ini
penulis menyampaikan rasa terimakasih kepada semua pihak yang telah banyak
berjasa sehingga penulis bias menyelesaikan laporan kasus ini. Terimakasih saya
ucapkan kepada dr. Edy Riyanto B, Sp.THT-KL selaku dokter pembimbing yang
banyak memberikan masukan dan saran. Serta teman-teman sejawat yang telah
membantu dalam penyelesaian laporan kasus ini serta kepada semua pihak yang
tidak dapat disebutkan satu per satu

Cirebon, Mei 2020

Penulis

ii
BAB I

STATUS PASIEN

I.I IDENTITAS PASIEN


Nama : Ny. NH
Umur : 24 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Bukuan Palaran
Agama : Islam
No. RM : 564561

I.II ANAMNESIS

1. Keluhan Utama

Nyeri pada telinga kiri

2. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke Poli THT RSUD Waled dengan keluhan nyeri


pada telinga kiri sejak ± pasien sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit,
nyeri dirasakan terus-menerus, sebelumnya pasien mengeluhkan adanya
telinga gatal, pasien juga mengeluhkan adanya cairan berwarna putih
kekuningan dan tidak berbau sejak 2 hari SMRS. Pasien tidak
mengeluhkan adanya penurunan pendengaran, demam, batuk dan pilek,
nyeri menelan, riwayat telinga terpukul dan hobi berenang disangkal
pasien. Pasien mengaku keluhan timbul setelah mengorek-ngorek
telinganya dengan cotton bud, pasien memang memiliki kebiasaan untuk
membersihkan telinga sendiri setiap hari. Pasien mengaku belum berobat
ke klinik manapun dan belum minum obat apapun untuk menghilangkan
keluhan tersebut.

1
3. Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat penyakit serupa : disangkal
- Riwayat penyakit kongenital : disangkal
- Riwayat operasi : disangkal
- Riwayat alergi : disangkal
- Riwayat trauma : disangkal
- Riwayat penyakit lain : Diabetes Melitus (-), Hipertensi
(-)
4. Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang mengalami riwayat sakit serupa


dengan pasien. Riwayat alergi pada keluarga disangkal. Riwayat
Diabetes Melitus dan Hipertensi pada keluarga disangkal.
5. Riwayat Pribadi dan Sosial Ekonomi

Nafsu makan pasien masih baik. Biaya pengobatan pasien


menggunakan biaya BPJS.
6. Riwayat Alergi :
Pasien mengaku tidak memiliki riwayat alergi makanan, obat-
obatan, serta tidak pernah meler dan bersin-bersin saat terkena debu
atau dingin.

I.III PEMERIKSAAN FISIK

1. Keadaan Umum
a. Keadaan umum : Tampak sakit ringan
b. Kesadaran : Compos mentis

2. Vital Sign
a. TD : 120/80 mmHg
b. Nadi : 88x/menit
c. RR : 20x/menit
d. Suhu : 36,9oC
e. BB/TB : 56 kg/158 cm

2
3. Status Generalis

a. Kulit :Dalam batas normal


b.THT – KL
• Kepala : Normocephal, tidak ada tanda trauma
kepala (-)
• Wajah : Simetris, allergic shiner (-), salute (-),
crease , massa (-)
• Mata : gerak bola mata bebas ke segala arah ODS,
konfergensi ODS baik, ptosis (-)
• Leher : Pembesaran kelenjar limfe (-), massa (-)

• Lidah : Normal, kotor (-), tremor (-), stomatitis


(-)
• Tenggorokan : Tonsil dalam batas normal, faring tidak
edema dan hiperemis
c. Jantung : Tidak dilakukan
d. Paru : Tidak dilakukan
e. Abdomen : Tidak dilakukan
f. Ekstremitas : Tidak dilakukan

4. Status Lokalis

a. Telinga

Telinga luar
Telinga AD AS
- Preaurikula Hiperemis (-), edema (-), Hiperemis (-), edema (-),
fistula (-), abses (-), Fistel fistula (-), abses (-), Fistel
(-) (-)
- Retroaurikula Hiperemis (-), nyeri tekan Hiperemis (-), nyeri tekan
(-) edema (-), fistula (-), (+) edema (-), fistula (-),
abses (-) abses (-)
- Aurikula Hiperemis (-), Nyeri tarik Hiperemis (+), Nyeri
aurikula (-), edema (-), tarik aurikula (+),
kelainan congenital (-) edema (+), kelainan

3
congenital (-)
- Tragus pain Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (+)
- Mastoid Nyeri ketok (-) Nyeri ketok (-)

Canalis Akustikus Eksterna


Canalis Acustikus AD AS

Eksternus
Mukosa hiperemis (-) (+)
Edema (-) (+)
Discharge (-) (+) Cairan
berwarna putih
kekuningan, sedikit
berbau
Serumen (-) (+)
Granulasi (-) (-)
Furunkel (-) (-)
Jamur (-) (-)
Corpus alienum (-) (-)
Kolesteatom (-) (-)

Membran Timpani
Membran Timpani AD AS
Intak (+) Sulit di Nilai
Reflek cahaya (+)
Perforasi (-)
Bulging (-)

b. Hidung dan Sinus Paranasal

Hidung Luar
Bentuk Tidak ada kelainan
Massa (-)

4
Deformitas (-)
Radang (-)

Sinus Paranasal
Pemeriksaan Sinus Frontal Sinus
Maxilla
Nyeri Tekan (-) (-) / (-)
Nyeri Ketok (-) (-) / (-)

Rinoskopi Anterior
Cavum Nasi Dextra Sinistra
Konka nasi inferior Hiperemis(-) Hiperemis(-)

Hipertrofi (-) Hipertrofi (-)


Septum Nasi Deviasi (-) Deviasi (-)
Secret (-) (-)
Massa (-) (-)
Tumor (-) (-)

c. Faring
Orofaring Kanan Kiri
Mukosa Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Dinding faring Granular (-) Granular (-)
Palatum mole Ulkus (-) Hiperemis Ulkus (-)
(-) Hiperemis (-)
Arcus laring Simetris (+) Simetris (+)
Hiperemis Hiperemis (-)
(-)
Uvula Ditengah
Edema (-)
Tonsil
Ukuran T1 T1

5
Permukaan Rata Rata
Warna Hiperemis Hiperemis (-)
(-)
Kripte Melebar (-) Melebar (-)
Detritus (-) (-)

I.IV RESUME

Pasien datang ke Poli THT RSUD Waled dengan keluhan nyeri


pada telinga kiri sejak ± pasien sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit,
nyeri dirasakan terus-menerus, sebelumnya pasien mengeluhkan adanya
telinga gatal, pasien juga mengeluhkan adanya cairan berwarna putih
kekuningan dan tidak berbau sejak 2 hari SMRS. Pasien tidak
mengeluhkan adanya penurunan pendengaran, demam, batuk dan pilek,
nyeri menelan, riwayat telinga terpukul dan hobi berenang disangkal
pasien. Pasien mengaku keluhan timbul setelah mengorek-ngorek
telinganya dengan cotton bud, pasien memang memiliki kebiasaan untuk
membersihkan telinga sendiri setiap hari. Pasien mengaku belum berobat
ke klinik manapun dan belum minum obat apapun untuk menghilangkan
keluhan tersebut.
Pada pemeriksaan didapatkan keadaan umum tampak baik,
kesadaran compos mentis, tanda vital:
a. TD : 120/80 mmHg
b. Nadi : 88x/menit
c. RR : 20x/menit
d. Suhu : 36,9oC
e. BB/TB : 56 kg/158 cm
3. Status Generalis

Status lokalis didapatkan nyeri tarik aurikula sinistra, nyeri tekan tragus
AS, Auricular AS dan Canalis Acusticus Eksterna AS tampak mukosa
hiperemis dan edema dan terdapat cairan berwarna putih kekuningan dan
sedikit berbau.

6
I.V DAGNOSIS KLINIS

Otitis eksterna difusa auricula sinistra

I.VI DIAGNOSIS BANDING

Otitis eksterna sirkumkripta auricula sinistra

I.VII PENATALAKSANAAN

a. Terapi :

• Medikamentosa :

• Antibiotik : Cefixime tab 100 mg 2x1 selama 5 hari

• Suction serumen

• Ear toilet

b. Monitoring

- Keadaan umum pasien

- Discharge telinga

c. Edukasi :

- Memberitahu kepada pasien tentang penyakit pasien, pemeriksaan


yang diperlukan, komplikasi dari penyakit dan bagaimana cara
menanganinya.
- Pasien harus diingatkan mengenai kemungkinan kekambuhan yang
mungkin terjadi pada pasien.
- Pasien harus menjaga agar telinganya selalu kering dan diajarkan
cara membersihkan telinga dengan tissue.
- Pasien diingatkan agar tidak menggaruk/membersihkan telinga
dengan cotton bud atau pun benda tajam terlalu sering.
- Tidak boleh berenang dahulu

7
- Saat mandi telinga jangan sampai kemasukan air

I.VIII PROGNOSIS

a. Quo ad vitam : ad bonam

b. Quo ad sanam : ad bonam

c. Qou ad functionam : ad bonam

8
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 ANATOMI

1. Telinga

Telinga terbagi menjadi 3 bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah, dan
telinga dalam.
a. Telinga Luar

Telinga luar terdiri dari daun telinga, dan liang telinga sampai
membran timpani.
Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang
telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga
bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri
dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5-3cm.
Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak
kelenjar serumen dan rambut, sedangkan pada duapertiga bagian
dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen.
Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari
arah liang telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga.
Bagian atas disebut pars flaksida, sedangkan bagian bawah par tenda

b. Telinga Tengah

Berbentuk kubus dengan:

- Batas luar : membra timpani

- Batas dalam : tuba eustachius

- Batas atas : vena ugularis

- Batas belakang : kanalis facialis pars vertikalis

- Batas bawah : tegmen timpani

9
c. Telinga dalam

Terdiri dari koklea yang berupa dua setengah lingkaran dan


vertibuler yang terdiri dari tiga buah kanalis semisirkularis. Kanalis
semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan
membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Pada irisan melintang
koklea tampak skala vestibuli dibagian atas, dan skala timpani
dibagian bawah, serta skala media diantaranya. Skala timpani dan
vestibuli berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa.
Dasar skala vestibuli disebut sebagai membran vestibuli
(Reissner’s membrane) sedangkan dasar skala media adalah
membran basalis. Pada membran ini terdapat organ corti.

10
II.2 FISIOLOGI PENDENGARAN

Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga
dalam bentuk gelombang yang dihantarkan melalui udara atau tulang ke koklea.
Getaran tersebut menggetarkan membran timpani dan diteruskan ke telinga tengah
melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan memperkuat getaran melalui
daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran
timpani dan foramen ovale. Energi getar yang teiah diperkuat ini akan diteruskan
ke stapes yang menggerakkan foramen ovale sehingga cairan perilimfe pada skala
vestibuli bergerak. Getaran akibat getaran perilimfe diteruskan melalui membran
Reissner yang akan mendorong endolimfe, sehingga akan terjadi gerak relatif
antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang
mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut,
sehingga kanal ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik dari
badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga
melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial

11
aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke
korteks pendengaran (area 39 - 40) di lobus temporalis.

II.3 OTITIS EKSTERNA

Definisi

Otitis eksterna difus dikenal dengan swimmer ear (telinga perenang) atau
telinga cuaca panas (hot weather ear) adalah infeksi pada 2/3 dalam liang telinga
akibat infeksi bakteri yang menyebabkan pembengkakan stratum korneum kulit
sehingga menyumbat saluran folikel.

Klasifikasi Otitis eksterna

Melihat bentuk infeksi di liang telinga, penyakit dibagi atas:

1. Otitis eksterna sirkumskripta (furunkel/bisul).

Otitis eksterna sirkumskripta adalah infeksi bermula dari folikel rambut di liang
telinga yang disebabkan oleh bakteri stafilokokus dan menimbulkan furunkel di
liang telinga di 1/3 luar. Sering timbul pada seseorang yang menderita diabetes.

Gejala klinis otitis eksterna sirkumskripta berupa rasa sakit (biasanya dari ringan
sampai berat, dapat sangat mengganggu, rasa nyeri makin hebat bila mengunyah
makanan). Keluhan kurang pendengaran, bila furunkel menutup liang telinga.
Rasa sakit bila daun telinga ketarik atau ditekan. Terdapat tanda infiltrat atau
abses pada 1/3 luar liang telinga.

Penatalaksanaan otitis eksterna sirkumskripta Lokal yakni pada stadium infiltrat


diberikan tampon yang dibasahi dengan 10% ichthamol dalam glycerine, diganti
setiap hari. Pada stadium abses dilakukan insisi pada abses dan tampon larutan
rivanol 0,1%. Terapi sistemik : antibiotika diberikan dengan pertimbangan
infeksi yang cukup berat. Dapat diberikan analgetik untuk mengurangi nyeri.

12
2. Otitis eksterna difus

Otitis eksterna difus adalah infeksi pada 2/3 dalam liang telinga akibat infeksi
bakteri. Umumnya bakteri penyebab yaitu Pseudomonas. Bakteri penyebab
lainnya yaitu Staphylococcus albus, Escheria coli, dan sebagainya. Kulit liang
telinga terlihat hiperemis dan udem yang batasnya tidak jelas. Tidak terdapat
furunkel (bisul). Gejalanya sama dengan gejala otitis eksterna sirkumskripta
(furunkel = bisul). Kandang-kadang kita temukan sekret yang berbau namun
tidak bercampur lendir (musin). Lendir (musin) merupakan sekret yang berasal
dari kavum timpani dan kita temukan pada kasus otitis media.

Pengobatan otitis eksterna difus ialah dengan memasukkan tampon yang


mengandung antibiotik ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik antara
obat dengan kulit yang meradang. Kadang-kadang diperlukan obat antibiotika
sistemik

3. Otomikosis

Infeksi jamur dipermudah oleh kelembapan yang tinggi di daerah tersebut kuman
tersering adalah Pityrosporum, Aspergillus, Candida albicans. Gejala yang
timbul biasanya berupa rasa gatal dan rasa penuh di liang telinga. Pengobatan
yang diberikan berupa : membersihkan telinga dengan tetes telinga seperti
otopain, maupun yang mengandung campuran anti biotik dan steroid. Diperlukan
pula obat tetes anti jamur untuk pengobatan hingga tuntas.

Otitis eksterna kronik adalah otitis eksterna yang berlangsung lama dan ditandai
oleh terbentuknya jaringan parut (sikatriks). Adanya sikatriks menyebabkan liang
telinga menyempit.

Etiologi

Organisme yang paling sering ditemukan pada pasien dengan otitis eksterna
difusa adalah bakteri gram negatif Pseudomonas aeruginosa (Bacillus
pyocaneus) dan staphylococci. Yang lebih jarang ditemukan adalah bakteri
streptococci dan Proteus vulgaris. Selain itu, jamur dapat terlibat dalam infeksi

13
pada telinga luar, yaitu jamur Candida albicans dan Aspergillus niger. Otitis
eksterna difusa dapat juga terjadi sekunder pada otitis media supuratif kronis.

Beberapa faktor yang mempermudah terjadinya otitis eksterna, yaitu :

1. Derajat keasaman (pH) pH pada liang telinga biasanya normal atau asam,
pH asam berfungsi sebagai protektor terhadap kuman. Peningkatan pH
menjadi basa (di atas 6.0) akan mempermudah terjadinya otitis eksterna
yang disebabkan oleh karena proteksi terhadap infeksi menurun.

2. Udara

Udara yang hangat dan lembab lebih memudahkan kuman dan jamur mudah
tumbuh.

3. Trauma

Trauma ringan misalnya mengorek-ngorek telinga dengan benda tumpul seperti


cotton bud merupakan faktor predisposisi terjadinya otitis eksterna.

4. Berenang

Terutama jika berenang pada air yang tercemar. Air kolam renang menyebabkan
maserasi kulit dan merupakan sumber kontaminasi yang sering dari bakteri

Patofisiologi

Saluran telinga dapat membersihkan dirinya sendiri dengan cara membuang sel-
sel kulit yang mati dari gendang telinga melalui saluran telinga. Membersihkan
saluran telinga dengan cotton bud bisa mengganggu mekanisme pembersihan ini
dan bisa mendorong sel-sel kulit yang mati ke arah gendang telinga sehingga
kotoran menumpuk disana.

Penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan


penimbunan air yang masuk ke dalam liang telinga ketika mandi atau berenang.
Terjadinya kelembaban yang berlebihan karena berenang atau mandi menambah
maserasi kulit liang telinga dan menciptakan kondisi yang cocok bagi

14
pertumbuhan bakteri. Perubahan ini dapat juga menyebabkan rasa gatal di liang
telinga sehingga menambah kemungkinan trauma karena garukan.

Gejala Klinis

Gejala klinis yang terjadi pada pasien dengan otitis eksterna difusa antara lain:

Rasa penuh pada telinga merupakan keluhan yang umum pada tahap awal dari
otitis eksterna difusa dan sering mendahului terjadinya rasa sakit dan nyeri tekan
daun telinga.

Gatal merupakan gejala klinik yang sangat sering dan merupakan pendahulu
rasa sakit yang berkaitan dengan otitis eksterna akut. Pada kebanyakan penderita
rasa gatal disertai rasa penuh dan rasa tidak enak merupakan tanda permulaan
peradangan suatu otitis eksterna akuta. Pada otitis eksterna kronik merupakan
keluhan utama.

Rasa sakit di dalam telinga bisa bervariasi dari yang hanya berupa rasa tidak
enak sedikit, perasaan penuh di dalam telinga, perasaan seperti terbakar hingga
rasa sakit yang hebat, serta berdenyut. Meskipun rasa sakit sering merupakan
gejala yang dominan, keluhan ini juga sering merupakan gejala sering

15
mengelirukan. Kehebatan rasa sakit bisa agaknya tidak sebanding dengan derajat
peradangan yang ada. Ini diterangkan dengan kenyataan bahwa kulit dari liang
telinga luar langsung berhubungan dengan periosteum dan perikondrium,
sehingga edema dermis menekan serabut saraf yang mengakibatkan rasa sakit
yang hebat. Lagipula, kulit dan tulang rawan 1/3 luar liang telinga bersambung
dengan kulit dan tulang rawan daun telinga sehingga gerakan yang sedikit saja
dari daun telinga akan dihantarkan ke kulit dan tulang rawan dari liang telinga
luar dan mengkibatkan rasa sakit yang hebat dirasakan oleh penderita otitis
eksterna. Nyeri terutama ketika daun telinga ditarik, nyeri tekan tragus, dan
ketika mengunyah makanan. Rasa gatal dan nyeri disertai pula keluarnya sekret
encer, bening sampai kental purulen tergantung pada kuman atau jamur yang
menginfeksi. Pada jamur biasanya akan bermanifestasi sekret kental berwarna
putih keabu-abuan dan berbau.

Kurang pendengaran mungkin terjadi pada akut dan kronik dari otitis eksterna
akut. Edema kulit liang telinga, sekret yang sorous atau purulen, penebalan kulit
yang progresif pada otitis eksterna yang lama, sering menyumbat lumen kanalis
dan menyebabkan timbulnya tuli konduktif. Keratin yang deskuamasi, rambut,
serumen, debris, dan obat-obatan yang digunakan ke dalam telinga bisa menutup
lumen yang mengakibatkan peredaman hantaran suara.

Diagnosis Klinis

Anamnesis

Pemeriksaan fisik pada pasien biasanya menunjukkan:

1. Kulit MAE edema dan hiperemis merata sampai ke membran timpani dengan
sekret pada CAE. Jika terjadi edema CAE yang hebat, membran timpani dapat
tidak tampak. 2. Nyeri tekan tragus (+)
3. Nyeri tarik auricula (+)

4. Adenopati regional yang nyeri tekan

16
Menurut MM. Carr secara klinik otitis eksterna terbagi :
a. Otitis Eksterna Ringan :
Kulit liang telinga hiperemis dan eksudat, liang telinga menyempit
b. Otitis Eksterna Sedang :
Liang telinga sempit, bengkak, kulit hiperemis dan eksudat positif

c. Otitis Eksterna Komplikasi : Pina/Periaurikuler eritema dan bengkak

d. Otitis Eksterna Kronik :


Kulit liang telinga/pina menebal, keriput, eritema positif

Otitis eksterna akut berlangsung kurang dari 4 minggu atau terjadi kurang dari 4
kali dalam setahun, sedangkan otitis eksterna kronis berlangsung selama lebih
dari 4 minggu atau terjadi lebih dari 4 kali dalam satu tahun. Pada penderita DM
atau pasien dengan immunocompromised, otitis eksterna dapat berkembang
menjadi tipe maligna.

Histopatologi

Pada otitis eksterna difusa akut tampak adanya gambaran hiperkeratosis


epidermis, parakeratosis, akanthosis, erosi, spingiosis, hiperplasia stratum
korneum dan stratum germinativum, edema, hiperemis, infiltrasi leukosit,
nekrosis, nekrosis fokal diikuti penyembuhan fibroblastik pada dermis dan
aparatus kelenjar berkurang, serta aktifitas sekretoris kelenjar berkurang.

Diagnosis Banding

Diagnosis banding dari keadaan yang serupa dengan otitis eksterna antara lain
meliputi :
1. Otitis eksterna sirkumskripta

2. Otomikosis

3. Otitis eksterna nekrotik

4. Otitis eksterna bullosa

5. Otitis eksterna granulosa

17
6. Perikondritis yang berulang

7. Furunkulosis dan karbunkulosis

Penatalaksanaan

Otitis eksterna difusa harus diobati dalam keadaan dini sehingga dapat
menghilangkan edema yang menyumbat liang telinga. Dengan demikian,
biasanya perlu disisipkan tampon berukuran ½ x 5 cm kedalam liang telinga
mengandung obat agar mencapai kulit yang terkena. Setelah dilumuri obat,
tampon kasa disisipkan perlahan-lahan dengan menggunakan forsep aligator.
Penderita harus meneteskan obat tetes telinga pada kapas tersebut satu hingga
dua kali sehari. Dalam 48 jam tampon akan jatuh dari liang telinga karena lumen
sudah bertambah besar. Polimiksin B dan colistemethate merupakan antibiotik
yang paling efektif terhadap Pseudomonas dan harus menggunakan vehiculum
hidroskopik seperti glikol propilen yang telah diasamkan bahan kimia lain,
seperti gentian violet 2% dan perak nitrat 5% bersifat bakterisid dan bisa
diberikan langsung ke kulit liang telinga. Setelah reaksi peradangan berkurang,
dapat ditambahkan alcohol 70% untuk membuat liang telinga bersih dan kering.

Terapi sistemik hanya dipertimbangkan pada kasus berat; dianjurkan untuk


melakukan pemeriksaan kepekaan bakteri. Antibiotik sistemik khususnya
diperlukan jika dicurigai danya perikondritis atau kondritis pada tulang rawan
telinga.

Pasien harus diingatkan mengenai kemungkinan kekambuhan yang mungkin


terjadi pada pasien, terutama setelah berenang. Untuk menghindarinya pasien
harus menjaga agar telinganya selalu kering, dengan cara menggunakan alkohol
encer secara rutin tiga kali seminggu. Pasien juga harus diingatkan agar tidak
menggaruk / membersihkan telinga dengan cotton bud terlalu sering.

18
Komplikasi

1. Perikondritis

2. Selulitis

3. Dermatitis aurikularis

Prognosis

Otitis eksterna adalah suatu kondisi yang dapat diobati biasanya sembuh dengan
cepat dengan pengobatan yang tepat. Paling sering, otitis ekserna dapat dengan
mudah diobati dengan tetes telinga antibiotik. Otitis eksterna kronis yang
mungkin memerlukan perawatan lebih intensif. Otitis eksterna biasanya tidak
memiliki komplikasi jangka panjang atau serius.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Adams G, Boies L, Higler P. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta:


EGC.1997.

2. Ballanger, Jhon. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorokan, Kepala dan


Leher Edisi 13. Jakarta: Binarupa Aksara. 1996.
3. Becker W, Naumann H, Pfaltz C. Ear, Nose, and Throat, A Pocket
Reference.

Second, revised edition. New York: Thieme. 1994.

4. Enriquez A, et al. Basic Otolaryngology. Manila: Department of


Otorhinolaryngology UP - PGH. 1993.
5. Lee K.J, Essential otolaryngology: head and neck surgery. Stamford:
Appleton & Lange. 1995.
6. Restuti, Bashiruddin, Iskandar, Soepardi. 2012. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi 7. FKUI:Jakarta.
7. Paparella MM, Adams GL, Levine SC. Penyakit telinga tengah dan
mastoid. Dalam: Effendi H, Santoso K, Ed. BOIES buku ajar penyakit
THT. Edisi 6. Jakarta: EGC, 1997: 88-118

8. Picture of ear anatomy. Available at :


http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/002077.htm
9. Stöppler M. Swimmer’s Ear Infection. Available at:
http://www.medicinenet.com/otitis_externa/article.htm. (diakses pada, 26
September 2017)

20