Anda di halaman 1dari 15

BUKU SAKU AKREDITASI

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ASY-SYIFA’ SUMBAWA BARAT

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI

1. Bagaimana Pencegahan dan pengendalian infeksi regulasi Rumah sakit dalam pengelolaan
sampah?
Rumah sakit telah menetapkan pemisahan sampah infeksius dan non infeksius
Sampah infeksius dibuang ke tempat sampah warna kuning dengan label ‘SAMPAH
INFEKSIUS’ kantong warna kuning dengan label bio hazard

Sampah non infeksius dibuang ke tempat sampah warna abu atau hitam dengan kantong
warna hitam dengan label ‘ NON INFEKSIUS’

Limbah cair infeksius dibuang melalui saluran pembuangan yang sudah tersambung
langsung dengan instalasi perpipaan air limbah rumah sakit (IPAL) yaitu
wastafel/kloset/spoelhoek

CONTOH SAMPAH INFEKSIUS misalnya kasa bekas pasien, drain, tisu bekas lap cairan
tubuh, peralatan bekas membalut luka/darah, asrung tangan bedah bekas pakai, organ sisa
pembedahan

CONTOH SAMPAH NON INFEKSIUS misalnya plastik pembungkus infeus set, bungkus
makanan, plastik bekas bungkus kateter, kertas kertas bekas menulis, sampah dapur

2. Bagaimana Pencegahan dan pengandalian infeksi sudah mengupayakan pencegahan


terjadinya infeksi akibat kejadian tidak diingin kan salah stunya adalah tertusuk jarum?
Pengelolaan sampah medis/infeksius berupa benda tajam dan jarum dibuang ke dalam
‘SAFETY BOX’ warna kuning yang sudah tersedia dan pengelolaannya oleh unit sanitasi
rumah sakit dengan kriteria tahan bocor, kuat dan tidak tembus.
‘SAFETY BOX’ akan di ambil/kelola oleh unit sanitasi lingkungan rumah sakit bila sudah
mencapai 2/3 dari isi box
3. Pengelolaan peralatan perawatan pasien dikelola oleh unit CSSD dan laundry
Peralatan perawatan pasien meliputi

Peralatan Pembuatan larutan enzimatik dengan perbandingan 1:5 yaitu dengan perhitungan
1 bagian enzimatik dan 5 bagian air ( air yang sudah dididihkan kemudian didinginkan)
Lihat
SPO pembuatan larutan enzymatik
SPO pembuatan larutan klorin
SPO penatalaksanaan peralatan kritikal, semi kritika dan non kritikal

4. Bagaimana mengidentifikasi resiko infeksi meliputi


a. Ada protokol penanganan benda tajam (lihat SPO benda Tajam)
b. Ada protokal penanganan jika petugas tertusuk benda tajam
c. Kebijakan peralatan yang selalu steril dan siap pakai
d. Selalu memakai APD dengan benar dan tepat ( SPO APD)

5. Bagaimana mengidentifikasi peralatan dan obat yang sudah kedaluarsa


Pelaksanaan identifikasi alat/ obat kedaluarsa dengan mencantumkan label tgl/bln/th dan
jam buka atau jam pemakaian alat dan sesuai dengan waktu masa pemakaian tiap alat dan
obat.
Lihat panduan dan SPO Identifikasi peralatan kedaluarsa paduan peralatan dan obat
kedaluarsa
6. Bagaimana Pemisahan pasien dengan penyakit menular?
Pemisahan pasien dengan penyakit menular dengan pasien yang beresiko tinggi yang
rentan karena immunosupersad atau staf lainnya ditempatkan diruangan dengan tekanan
positif dan jauh dari pasien lainnya yang beresiko menularkan penyakit.
Lihat SPO penempatan pasien dengan immunocompromised

7. Bagaimanan penempatan pasien dengan resiko infeksi ?


Pasien ditempatkan sesuai dengan sumber infeksi, apakah lewat kontak, airbone dan
droplet sesuai dengan SPO
Pasien dengan resiko tinggi infeksi airborne/ droplet ditempatkan diruang bertekanan
negati ( cara memerikasa tekanan negatif dengan mnggunakan kapas di depan exhouse
fan bila ada tiupan kearah sebaliknya maka itu tekanan negatif, bila ada tarikan kearah luar
ruangan maka itu tekanan positif)
Lihat SPO Penempatan pasien dengan infeksi airborne
SPO pasien yang diduga/ diketahui infeksi

8. Bagaimana Praktek menyuntik yang aman bagi petugas ?


Tidak menutup kembali spuit lalu membuangnya ke dalam safety box
Lihat SPO praktek menyuntik yang aman

9. Bagaimana Penatalaksanaan tertusuk jarum?


Tidak panik, tidak memencet luka bekas tertusuk, langsung aliri dengan air mengalir
kemudian desi feksi arrea luka dan tutup area luka dengan plester kemudian lapor ke
komite PMKP untuk pelaporan kejadian cidera .
Lihat SPO penatalaksanaan tertusuk jarum bekas

10. Bagaimana Pelaksanaan surveilans infeksi rumah sakit dilaksanakan ?


Dilaksanakan oleh surveilans rumah sakit (IPCN) dengan mencatat kejadian infeksi setiap
hari dari unit pelayanan medik maupun penunjang medik. Indikator yang dilakukan survei
adalah kejadian HAI’s (IDO, ISK, HAP, VAP, Dekubitus, Plebitis) di RSUD Asy-Syifa
Sumbawa Barat
Lihat SPO dan panduan penalaksanaan Surveilans dan pencegahan ISK, IDO, VAP, HAP,
dekubitus plebitis.

11. Bagaimana Penggunaan APD yang benar dan oleh siapa?


Penggunaan APD wajib dilaksanakan oleh tenaga medis, non medis, pengunjung maupun
pasien harus sesuai indikasi yang tercantum dalam matriks area APD
Lihat matriks area penggunaan APD
SPO pemakaian APD

12. Bagaimana Pelaksanaan kebersihan tangan


Dilaksanakan oleh semua orang yag berada di rumah sakit baik saat datang maupun
pulang sesuai denga prinsip ‘FIVE MOMENT’
Lihat bagan ‘five moment’ dan prosedur kebersihan tangan dan kebijakan PPI

13. Bagaimana Pelaksanaan Higiene Respirasi/ Etika Batuk


Dilaksanakan saat batuk/ bersin dengan cara menutup menggunakan tisu ataupun dengan
lengan dalam bagian atas setelah itu melakukan kebersihan tangan (lihat poster etika
batuk)

14. Bagaimana penatalaksnaan linen di ruangan?


Linen infeksius dipisahkan dengan linen non infeksius
Linen infksius masuk dalam kantong warna kuning dan linen non infeksius warna hitam dan
setiap hari setiap pagi di ambil oleh bagian unit laundry RS dari jam 5 s.d jam 7.30
15. Bagaimana pengambilan sampah rumah sakit oleh tenaga kesehatan lingkungan?
pengambilan sampah oleh petugas pengambil sampah dilakukan 2 kali dalam sehari pagi
dan tergantung dengan jumlah sampah yang ada di rumah sakit sesuia dengan SPO
pengangkutan limbah rumah sakit

16. Bagaimana Pengelolaan tumpahan darah/ cairan tubuh?


Dengan melakukan pelaporan kejadian tumpahan cairan tubuh/B3 kepada tenaga cleaning
service kemudian melakukan pembersihan dengan menggunakan box spill kit set oleh
tenaga cleaning seervice
Lihat SPO penatalaksanaan tumpahan darah
SASARAN KESELAMATAN PASIEN

SKP 1 IDENTIFIKASI PASIEN


1. Prosedur identifikasi pasien :
a. Cara mengidentifikasi pasien adalah :
Ada 2 cara, yaitu
1) Cara verbal dengan menanyakan pasien atau melihat identitas pada gelang pasien
meliputi nama, tgl lahir dan atau no. RM
2) Cara visual : dengan cara melihat atau mengamati identitas pada gelang pasien
b. Gelang : warna biru untuk pasien laki dan warna pink untuk pasien wanita
gelang/ stiker warna merah untuk alergi
gelang/. Stiker warna kuning untuk resiko jatuh
gelang/ stiker warna ungu untuk pasien DNR
c. Kapan kita mengidentifikasi pasien ?
1) Sebelum pemberian obat,darah atau produk darah
2) Sebelum mengambil darah
3) Sebelum mengambil specimen lain
4) Sebelum pemberian pengobatan
5) Sebelum melakukan tindakan dari prosedur invasif lainnya

SKP II KOMUNIKASI EFEKTIF


1. Penerapan SBAR dalam komunikasi
Situation : situasi pasien saat itu
Back ground : riwayat pasien ( nama, umur, Jenis Kelamin, tgl. Masuk, Dx,
Pemeriksaan penunjamg, Terapi, Tindakan, Perkembangan selama perawatan )
Asessment : penilaian kondisi pasien saat ini
Recommendation : usulan tindakan atau pemeriksaan yang akan dilakukan
SBAR dilakukan saat perawat/bidan melaporkan pasien ke dokter. Saat serah terima
perawat/ bidan antar shif. Laporan serah terima antar dokter.
2. Prosedur stempel Read Back saat instruksi lisan
Penerima instruksi memberikan stempel Read Back pada lembar catatan instruksi dan
mencatat tanggal, jam instruksi diberikan, nama penerima instruksi, kemudian ditanda
tangani oleh penerima instruksi. Dalam waktu 1 x 24 jam pemberi instruksi memverifikasi
instruksi yg sdh diberikan dan menandatanganinya.
Apabila dlm instruksi terdapat obat LASA maka penerima instruksi membaca nama obat
dengan mengeja menggunakan Alfabet.

SKP III PENGELOLAAN OBAT HIGH ALERT


1. Pengetahuan petugas tentang obat high alert ( HA ) :
a. Definisi : Obat – obat yang beresiko tinggi untuk menyebabkan adanya komplikasi/
membahayakan pasien jika terdapat kesalahan penggunaan
b. Nama obat HA : Epinefrin, Norepinefrin, Propanolol, Profopol, Ketamin, Lidocain,
Amiodaron,Digoxin, Midazolam, Insulin
2. Penyimpanan obat HA :
a. Lokasi Bersih, bebas hama, ada alat pengukur suhu, lemari pendingin.. Lokasi
berada di logistic farmasi dan pelayanan farmasi
b. Tempat di trolly, lemari atau cabinet yang harus terpisah dari obat – obat yang lain
dan terkunci.
c. Harus diberikan label yang jelas dan setiap kemasan primer di temple stiker HA
d. High Alert gol. Narkotika disimpan dalam lemari khusus dengan double lock dan
apoteker bertanggung jawab ketersediaan obat didalamnya ( Pethidin, Fentanyl,
Morphin ).
3. LASA adalah obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip
Tempat penyimpanannya khusus, tdk boleh ditempatkan dlm 1 rak atau bersandingan
Abjad yg sama harus selingi dgn 2 obat dgn kategori LASA di antara atau ditengahnya yg
terpisah dari obat lain
4. Prosedur pemberian obat High alert :
Harus selalu melakukan pengecekan ganda sebelum diberikan kepada pasien

SKP IV KEAMANAN PEMBEDAHAN


1. Upaya keamanan pembedahan :
Pengisian dan pelaksanaan cek list keselamatan pasien yang akan dilakukan tindakan
pembedahann ( cek list sign in, time out, dan sign out )
Sign in : prosedur yang digunakan sesaat sebelum induksi anestesi
Time out : prosedur sebelum insisi kulit
Sign out : prosedur sebelum penutupan luka operasi sampai meninggalkan ruang operasi
2. Perhatian saat pengisian format sign in :
Identitas pasien, kelengkapan inform consent, marking side,
SKP V PENGURANGAN TRANSMISI KUMAN PENYAKIT
1. Cara Hand Hygiene : praktek
2. 5 moment cuci tangan
2 sebelum dan 3 setelah
Sebelum kontak dengan pasien
Sebelum melakukan tindakan aseptic
Setelah terkena cairan tubuh
Setelah kontak dengan pasien
Setelah kontak dengan lingkungan pasien

SKP VI PENGURANGAN RESIKO JATUH


1. Upaya pencegahan pasien risiko jatuh
a. Kaji tingkat resiko pasien jatuh sesuai format pengkajian risiko jatuh
b. Tentukan tingkat risiko pasien jatuh : risiko rendah atau risiko tinggi.
c. Informasikan pada pasien/ keluarga pasien tentang tindakan yang dilakukan untuk
mencegah risiko jatuh sesuai format dokumentasi pemberian informasi risiko pasien
jatuh.
d. Orientasikan pasien dan keluarga terhadap lingkungan ruang perawatan dan
petugas yang merawat
e. Atur posisi tempat tidur senyaman mungkin
f. Pasang pengaman tempat tidur dikedua sisi terutama untuk pasien risiko tinggi.
g. Kunci roda tempat tidur
h. Dekatkan semua kebutuhan pasien
i. Berikan pencahayaan yang adekuat sesuai dengan kebutuhan pasien.
j. Lakukan pemantauan terhadap obat – obat yang digunakan.
2. Penatalaksanaan pasien resiko jatuh rendah dan tinggi
a. Pasien rawat inap
1) Kategori risiko rendah (untuk semua kategori) :
a) Orientasi lingkungan
b) Ruangan rapi
c) Roda tempat tidur berada pada posisi terkunci
d) Posisikan tempat tidur pada posisi terendah
e) Naikkan pagar pengaman tempat tidur
f) Benda - benda pribadi berada dalam jangkauan ( air minum, kacamata, dll)
g) Alat bantu berada dalam jangkauan (tongkat, alat penopang, dll)
h) Optimalisasi penggunaan kacamata dan alat bantu dengar (pastikan bersih dan
berfungsi)
i) Pencahayaan yang adekuat (disesuaikan dengan kebutuhan pasien)
j) Beri edukasi mengenai pencegahan jatuh pada pasien dan keluarga
2) Kategori risiko tinggi
a) Lakukan semua pedoman pencegahan jatuh risiko rendah
b) Beri tanda risiko jatuh berupa gelang berwarna kuning.
c) Beri tanda berupa stiker berwarna kuning pada map status pasien
d) Kunjungi dan monitor pasien tiap 2 jam.
e) Tempatkan pasien dikamar yang paling dekat dengan nurse station ( bila
mungkin).
f) Pastikan pasien menggunakan alat bantu jalan.
g) Libatkan keluarga untuk mengawasi pasien.
h) Nilai kebutuhan akan:
i. Fisioterapi dan terapi okupasi
ii. Tempat tidur rendah (khusus)
b. Pasien rawat jalan
1) Risiko rendah : edukasi
2) Risiko tinggi :
a) Pasang gelang warna kuning, kecuali pada pasien yang tidak memiliki lengan
maka digantikan dengan pita warna kuning dikalungkan pada leher pasien.
b) Edukasi.
3. Apa yang harus dilakukan setelah kejadian jatu
a. Nilai apakah terdapat cedera akibat jatuh (abrasi, kontusio, laserasi, fraktur, cedera
kepala)
b. Nilai tanda vital
c. Nilai adanya keterbatasan gerak
d. Pantau pasien dengan ketat
e. Catat dalam status pasien (rekam medik)
f. Laporkan kejadian jatuh kepada perawat primer atau ketua tim dan lengkapi laporan
insidens
g. Modifikasi rencana keperawatan interdisiplin sesuai dengan kondisi pasien
HAK PASIEN DAN KELUARG (HPK)

STANDAR Pertanyaan Jawaban yang Perlu Dipahami

RS MEDNUKUNG KEWAJIBAN HAK DAK KEWAJIBAN, ANTARA


1
LAIN :

1.1 Bagaimanan Perberlakuan Seluruh karyawan wajib memahami hak dan


Hak dan Kewajiban Pasien kewajiban pasien. Penilaian yang harus
Di RSUD Asy-Syifa’ dipahami :
Sumbawa Barat ?
- Hak pasien ada 18 item, pahami konten
pokoknya.
- Pasien mendapatkan/mengetahui haknya
saat mendaftar di Customer Service,
diberi brosur dan di tempel di tempat
strategis.
- Perawat menjelaskan ulang kepada
pasien saat masuk ruangan.
- Pastikan hak dipahami oleh pasien.
1.1 Bagaimana pelaksanaan - RS memberikan layanan rohani hanya
menghormatikepercayaan untuk 4 agama saja (Islam, Katolik, Kristen,
pasien ? Hindu)
- Permintaan bimbingan rohani harus
direspon :
 Mengisi formulir permohonan
 Hubungi menghubungi pembimbing
rohani 24 jam.
 Sesuai agama pasien.
 Isi form pemberian bimbingan rohani di
rekam medis.
 Alur permintaan : (lembar terisi, perawat
hubungi CS, CS menghubungi
pembimbing rohani, pembimbing rohani
konfirmasi kedatangan, CS telpon ke
ruangan, pelayanan kerohanian)
Mohon dipelajari :

 Kebijakan/SPO permintaan
pelayanankerohanian
1.2 Bagaimana menjaga - Pastikan Privasi pasien tidak diketahui
Privasi Pasien ? orang lain terutama pada saat :
 Mengisi formulir permohonan di
persetujuan umum,
 Wawancara klinis/konsultasi.
 Pemeriksaan
 Prosedur pengobatan.keperawatan.
 Transper pasien.
 Rekam medis pasien
- Lakukan penutupan gorden pasien saat
visite dokter/konsul, BAK/BAB,
memandikan, tindakan pengobatan.
- Saat pasien ditranspor keluar pastikan
selimut pasien dikenakan/tertutup.
- Identitas nama pasien hanya tertempel di
gelang pasien.

Mohon dipelajari :

 Kebijakan Privacy
 SPO Privacy
1.3 Bagaimana RS meindungi - Prinsip Barang pasien menjadi
harta benda pasien? tanggungjawab pasien, kecuali pasien
tidak mampu menjaga secara mandiri
(misal : tidak ada keluarga, tidak sadar,
menjalani operasi, dll) maka barang pasien
dapat dititipkan di bagian security dengan
mengisi formulir penitipan dan
penyerahan barang. (di security ada
lemari penyimpanan/brangkas).

Mohon dipelajari :

 SPO perlindungan barang.


 Tingkat tanggungjawab di leaflet hak dan
kewajiban.
STANDAR Pertanyaan Jawaban yang Perlu Dipahami

1.4 Bagaimana Perlindungan - Pasien harus terlindungi dari kekerasan


dari Kekerasan Fisik ? fisik baik dari dalam rumah sakit atau orang
luar rumah sakit.
- Perawat melaporkan kepada security
setiap ada kekerasan terjadi di ruangan.
1.5 Bagaimana Perlindungan - Populasi yang Wajib dilindungi :
dari Kekerasan Fisik ? bayi/anak-anak, pasien dengan ganguan
kesadaran, pasien lanjut usia, anak yang
mengalami kekerasan, kekerasan pada
peempuan, pasien dengan gangguna jiwa,
individu cacat mental dan fisik, narapidana
dan tersangka tindak pidana, orang pasien
yang tidak mampu melindungi diri sendiri
(keterbelakngan mental,gelandangan)
- Lokasi terpencil diawasi, dengan cara :
Patroli oleh security dan pengawasan
CCTV.
- Staf harus paham bahwa anak-anak,
individu yang cacat, manula wajib
dilindungi.

Mohon Dipelajari :

 SPO perlindungan dari kekerasan fisik.


 SPO penculikan bayi.
- Lokasi terpencil di lindungi SPO anak-anak,
individu yang cacat, manula dilindungi.
1.6 Bagaimana menjaga - Apabila akan membuka informasi pasien
rahasia informasi dalam bentuk apapun maka wajib
pasien ? meminta persetujuan dari pasien.
- Dipahami bahwa segala informasi pasien
itu bersifat RAHASIA.
- Semua staf harus menghormati
kerahasiaan pasien.

Mohon dipelajari :

 SPO pelepasan informasi medis


 SPO minta surat keterangan medis.
2 Bagaimana - Setiap pasien harus dimintai
mengikutsertakan pasien pendapat/persetujuan tentang pengobatan
untuk Partisipasi Dalam yang akan dilakukannya.
Proses Pelayanan? - Pasien bebas mengajukan pertanyaan,
menerima/menolak pengobatan dan tidak
ragu meminta bantuan staf dalam
pengobatannya.
- Pasien diberi kebebasan dan tidak ragu
untuk meminta second opinion
(pendapat kedua) dari dokter lain baik dari
dalam maupun luar RSUD Asy-Syifa’
Sumbawa Barat.
- Permintaantersebutpasienharusmengisifo
rmulirpermintaansecond opinion.
- Semuapelayananharusdiberikandenganra
mah& BAHASA YG MUDAH DIPAHAMI.
2.1 Bagaimana - Setiappasienharusdirawatolehsatu orang
dan mengikutsertakan pasien DokterPenanggungJawabPelayanan(DPJP
2.2 untuk Partisipasi Dalam ) danHaruskenalnama DPJP-nya.
Proses Pelayanan? - Dokter DPJP menjelaskantentang :
- Kondisimedis
- Diagnosapasti
- Rencanapelayanan
- Pengobatan
- Komplikasi
- Prognosis
- Alternatifpelayanandanpengobatan

Mohondipelajari :

- Kebijakan Second Opinion


- SPO Permintaan Second Opinion
- SPO meminta dan menolak diberi
penjelasan medis.
- SPO Atas Permintaan Sendiri.
- Kebijakan DPJP.
2.3 BagaimanaKebijakanResui - Petugas harus paham bahwa keputusan
stasi (DNR) ? pasien untuk tidak melanjutkan pengobatan
(DNR) itu wajib dihargai.
STANDAR Pertanyaan Jawaban yang Perlu Dipahami

2.3 BagaimanaKebijakanResui - Saat masuk RS maka pasien/keluarga


stasi (DNR) ? boleh meminta DNR.
- Jika minta DNR maka Pasang Tanda DNR
digelang pasien.
- Isi Formulir permohonan DNR, isi formulir
perintah dokter untuk melakukan DNR.
2.4 BagaimanaAssesmendan - Petugas perawat harus paham tentang
ManajemenNyeri ? manajemen nyeri, skala nyeri, assesmen
nyeri.
- Catat semua manajemen nyeri pada setiap
pasien di Rekam Medis.
- Asesmen menggunakan Wong Baker
Scale dan Numeric.
2.5 BagaimanaAssesmenTaha - Pasien Akhir Hayat mempunyai kebutuhan
p Terminal ? unik yang harus dilaksanakan identifikasi
oleh petugas keperawatan.
- Pendampingan Rohani diperlukan pada
pasien ini Tulis assesmen akhir hayat
pasien di rekam medis oleh perawat dan
petugas rohani.

3 Bagaimanakebijakanpenan - Setiap pasien / keluarga berhak


ganankomplain ? mengajukan komplain.
- Penanganan complain pada saat jam kerja
bisa melalui customer service.
- Ucapkan salam  pastikan identitas
pasien  ciptakan suasana nyaman 
perkenalkan diri dan jelaskan tugas dan
peran  verifikasi materi 
dokumentasikan dalam form edukasi 
tawarkan bantuan kembali  ucapkan
salam
Mohon Dipelajari :

 Kebijakan penanganan komplain


 SPO penanganan komplain.

4 BagaimanamelakukanIdent - Seluruh staf harus melakukan


ifikasiNilai- identifikasi/menanyakan ulang
NilaidanKepercayaanMasy kepercayaan/agama pasien.
arakat - Staf harus paham dan menghormati ibadah
pasien.

5 BagaimanamemberikanPe - Pegawai harus mampu memberikan hak-


njelasanHak- hak pasien dengan bahasa yang mudah
HakPasienDenganBahasa dipahami dan RAMAH kepada pasien.
Yang Dipahami ? - Penjelasan tersebut di catat dalam rekam
medis.
6 BagaimanaPenerapan  PENTING SEKALI !!!!!
Informed Consent ? - Semua Penjelasan Medis harus
diberikan sebelum tindakan dilakukan.
- Semua Kolom wajib terisi, tidak boleh
hanya diberi tanda (-).
- Pemberi PENJELASAN MEDIS HARUS
DPJP yang akan melakukan tindakan.
- DPJP dapat mendelegasikan hanya
kepada Dokter yang sudah ada pada
keputusan Direktur RSUD Asy-Syifa’
Sumbawa Barat.
- Persetujuan/Penolakantindakan yang
berisiko harus diberikan secara tertulis.
- Persetujuan/penolakan tindakan yang
tidak berisiko dapat diberikan secara
lisan.
- Jangan ada istilah/kata SINGKATAN
dalam penulisan Formulir Informed
Consent.

- Lembar Informed Consent yang dipakai


menggunakan lembaran BAKU YANG
SAAT INI BERLAKU. (model form :
Penolakan/Persetujuan Tindakan
Kedokteran).
- Selain pasien, maka orang lain yang
boleh tanda tangan persetujuan atau
penolakanya itu : (dilakukan bila pasien
tidak kompeten : masih anak, tidak
sadar, dll)
a. Pasien sendiri, yaitu pasien yang
telah berumur 18 tahun atau telah
menikah.
b. Bagi pasien di bawah usia 18 tahun,
persetujuan (Informed Consent) atau
penolakan tindakan medis diberikan
oleh mereka menurut urutan hak
sebagai berikut :
1) Ayah atau ibu kandung.
2) Kakek atau nenek kandung
3) Saudara-saudara kandung
dewasa
c. Bagi pasien di bawah umur 18 tahun
dan tidak mempunyai orang tua,
persetujuan (Informed Consent) atau
penolakan tindakan medis diberikan
oleh mereka menurut urutan hak
sebagai berikut :
1) Kakek atau nenek kandung
2) Saudara-saudara kandung
dewasa
3) Induk semang atau wali yang
sah.
d. Bagi pasien dewasa yang telah
menikah atau menjadi orang tua,
persetujuan (Informed Consent) atau
penolakan tindakan medis diberikan
oleh mereka menurut urutan hak
sebagai berikut :
1) Pasien sendiri
2) Suami atau istri
3) Ayah atau ibu kandung
4) Anak kandung dewasa
5) Saudara-saudara kandung
dewasa
BagaimanaPenerapanInfor - RS telah mengeluarkan Daftar Jenis-
med Consent ? Jenis tindakan yang memerlukan
Informed Consent sebagai acuan.

Mohon dipelajari :

 Kebijakan Pemberian Penjelasan


Kedokteran (Informed Consent).
 SPO Pemberian Penjelasan Kedokteran
(Informed Consent).

DokterPenanggungJawabP Seluruh dokter yang merawat pasien di


elayanan RSUD Asy-Syifa’ Sumbawa Barat yang
ditetapkan sebagai DPJP yaitu :
Siapa saja yang menjadi
DPJP ? a. DPJP Utama
 Dokter Spesialis Penyakit Dalam
 Dokter Spesialis Anak
 Dokter Spesialis Kebidanan dan
Kandungan
 Dokter Spesialis Anestesi
 Direktur RSUD Asy-Syifa’ Sumbawa
Barat (Khusus KSM yang tidak
memiliki spesialis tetap)
b. DPJP Pengganti : Dokter Residen yang
ada perjanjian kerjasama dengan
Fakultas Kedokteran Universitas
Udayana atau dokter umum yang
menggantikan visite dokter spesialis.
c. DPJP IGD : dokter umum bersyarat salah
satu pelatihan PPGD / GELS / ACLS /
ATLS.
d. DPJP ruang Hemodialisa : dokter umum
yang bersertfikat pelaksana Hemodialisa.

General Consent a. Pasien baru yang melakukan


pemeriksaan rawat jalan satu kali selama
Siapa saja yang harus tahun berjalan.
dijelaskan tentang general b. Pasien yang akan dilakukan rawat inap
consent?

KUALIFIKASI DAN PENDIDIKAN STAF (KPS)


1. Dapatkan anda menjelaskan uraian jabatan anda?
Jawab:
Uraian jabatan bersifat personal tergantung pada jabatan yang dimiliki. Secara umum
uraian jabatan tersebut terdiri dari:
a. nama,
b. jabatan,
c. ikhtisar jabatan,
d. atasan langsung,
e. jajaran bawahan,
f. koordinatif,
g. tugas pokok,
h. tanggung jawab,
i. wewenang,
j. uraian tugas,
k. mutu hasil kinerja,
l. indikator kinerja,
m. kondisi pelaksanaan kerja,
n. resiko pekerjaan,
o. fasilitas dan peralatan,
p. kondisi saat bencana,
q. persyaratan jabatan

Uraian jabatan ini disimpan oleh bagian kepegawaian dan salinananya disimpan di
masing-masing bagian/ instalasi/ unit tempat bertugas dan salinananya harus
dimiliki oleh setiap staf yang bersangkutan. Seluruh staf wajib memahami uraian
jabatannya masing-masing. (Baca: Uraian tugas, RKK/SPK, Pedoman
Pengorganisasian Unit)

2. Bagaimana proses anda masuk rumah sakit?


Jawab:
Masuk rumah sakit setelah mendapatkan SK dari BKD dan mendapatkan surat
pengangkatan di RS. (Baca: SK pertama masuk RS yang dimiliki)

3. Bagaimana orientasi anda?


Jawab:
Orientasi umum selama 3 hari tentang gambaran umum RS (profil RS).
Orientasi khusus selama 2 minggu (bagi Nakes atau tenaga yang memiliki keahlian
khusus).
(baca: SPO Orientasi dan Materi Orientasi umum dan khusus)

4. Pada file kepegawaian


Jawab:
Ingat Kualifikasi jabatannya (pendidikan, pengalaman kerja, STR, sertifikat). (Baca:
Pedoman Pengorganisasian Unit dan Pedoman Pelayanan Unit).

5. Kapan medical check up terakhir? (Tanyakan langsung ke klinik MCU ya hasil dan
tanggal MCUnya)

6. Latihan Memberikan Bantuan Hidup Dasar (RJP), APAR, Komunikas i Efektif (SBAR).
(Baca: SPO RJP, APAR, komunikasi SBAR)