Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU NUTRISI TERNAK DASAR


“ANALISIS NUTRISI BAHAN PAKAN”

Oleh:

Ni Luh Manik Sugiantini (1903511096)

PROGRAM STUDI PETERNAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-
Nya tugas akhir ini dapat diselesaikan pada waktunya.
Penulisan ini tidak akan berjalan dengan lancar dan mulus tanpa bantuan dari para
pihak ataupun teman. Untuk itu melalui kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih
kepada:
1. Dosen Ilmu Nutrisi Ternak Dasar yang senantiasa memberikan dorongan dan
berbagi masukan yang sangat bermanfaat untuk pelaksaan penulisan;
2. Teman-teman Kelas B yang telah mendukung penulis dalam penyusunan ini.
Penulis menyadari bahwa karya tulis ini belum sempurna, walaupun penulis berusaha
maksimal dan telah memperoleh bantuan dari para pihak. Oleh karena itu, masukan dari
pembaca untuk perbaikan laporan ini akan sangat berharga dan penulis mengucapkan
terimakasih.

Karangasem, 30 April 2020

Penulis,

i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ......................................................................................................................... i
Daftar Isi ................................................................................................................................. ii
TOPIK 1 ................................................................................................................................... 1
TOPIK 2 ................................................................................................................................. 10
TOPIK 3 ................................................................................................................................. 20

ii
TOPIK 1
KADAR BERAT KERING (DW)

1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahan pakan merupakan kebutuhan pokok bagi setiap ternak. Sebagian besar bahan
pakan terdiri dari unsur - unsur pokok yaitu air, mineral, karbohidrat, lemak dan protein.
Kelima unsur ini dibutuhkan oleh hewan ternak dan manusia untuk pertumbuhan, produksi,
reproduksi dan hidup pokok. Makanan ternak berisi zat nutrisi dengan kandungan yang
berbeda-beda karena itu perlu dilakukan analisis untuk mengetahui kualitas dan kuantitas zat
gizi yang dibutuhkan oleh ternak. Kualitas bahan pakan dan komponennya ini dapat dinilai
melalui tiga tahapan penilaian, yaitu secara fisik, kimia, dan biologis. Salah satu tahapan dari
penilaian ini dapat dilakukan melalui analisis proksimat.
Analisis proksimat merupakan suatu metode analisis secara kimia untuk
mengidentifikasikan kandungan zat makanan dari suatu bahan pakan atau pangan. Komponen
fraksi yang dianalisis masih mengandung komponen lain dengan jumlah yang sangat kecil,
yang seharusnya tidak masuk ke dalam fraksi yang dimaksud, itulah sebabnya mengapa hasil
analisis proksimat menunjukkan angka yang mendekati angka fraksi yang sesungguhnya.
Analisis proksimat berupa analisa kadar air, kadar abu, bahan kering, analisa protein
kasar, lemak kasar dan analisa serat kasar. Pada setiap analisis terdapat metode – metode
yang berbeda. Pada dasarnya, analisis proksimat bermanfaat dalam mengidentifikasi
kandungan zat makanan dari suatu bahan pakan atau pangan yang belum diketahui
sebelumnya yang selanjutnya disebut sampel. Selain dari itu, analisis prokimat merupakan
dasar dari analisis-analisis yang lebih lanjut.
Analisis proksimat bermanfaat dalam menilai dan menguji kualitas suatu bahan pakan
atau pangan dengan membandingkan nilai standar zat makanan atau zat pakan dengan hasil
analisisnya. Dengan demikian analisis proksimat ini dapat bermanfaat bagi dunia peternakan,
terutama dalam pemberian nutrisi yang dapat memenuhi kebutuhan ternak. Maka dari itu
Berdasarkan uraian di atas, praktikum tentang analisis proksimat ini penting untuk dilakukan
untuk menunjang pengetahuan tentang cara untuk mengetahui kadar nutrisi dalam suatu
pakan.

1.2 Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui analisis proksimat berupa kadar berat
kering (dry weight) DM; kadar bahan kering (dry matter) DM, abu, dan bahan organik; dan

2
serat kasar pada sampel rumput liar, lamtoro, limbah kulit anggur,ransum jadi, limah kulit
silase limbah kulit kecambah kacang hijau.

3
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Analisis Proksimat
Analisis proksimat adalah suatu metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi
kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari
bahan pakan atau pangan. Analisis proksimat memiliki manfaat sebagai penilaian kualitas
pakan atau bahan pangan terutama pada standar zat makanan yang seharusnya terkandung di
dalamnya. Menguapkan air yang terdapat dalam bahan dengan oven dengan suhu 100°-105°C
dalam jangka waktu tertentu (3-24 jam) hingga seluruh air yang terdapat dalam bahan
menguap atau penyusutan berat bahan tidak berubah lagi. Membakar bahan dalam tanur
(furnace) dengan suhu 550°C selama 3-8 jam sehingga seluruh unsur pertama pembentuk
senyawa organik (C,H,O,N) habis terbakar dan berubah menjadi gas. Sisanya yang tidak
terbakar adalah abu yang merupakan kumpulan dari mineral-mineral yang terdapat dalam
bahan. Dengan perkataan lain, abu merupakan total mineral dalam bahan. Komponen dalam
suatu bahan yang tidak dapat larut dalam pemasakan dengan asam encer dan basa encer
selama 30 menit adalah serat kasar dan abu. Untuk mendapatkan nilai serat kasar, maka
bagian yang tidak larut tersebut (residu) dibakar sesuai dengan prosedur analisis abu. Selisih
antara residu dengan abu adalah serat kasar.
Di dalam pengenalan bahan pakan, terlebih dahulu bahan pakan itu sendiri terbagi
menjadi pakan sumber protein hewani yang dibagi menjadi tepung ikan dan protein nabati
dibagi menjadi bungkil kelapa dan bungkil kedele. Sedangkan sumber energi dibagi menjadi
ada yang berbentuk biji-bijian atau butiran yang terbagi atas : padi, jagung, millet merah dan
millet putih. Berbentuk tepung terbagi atas dedak halus, jagung giling, dan dedak halus.
Berbentuk cairan terdiri atas : minyak sayur. Sumber mineral terdiri dari garam dan kerang.
Bahan-bahan pakan sumber energi antara lain jagung, beras, sorgum, dedak padi, hijauan
(SK). Sumber protein antara lain tepung ikan, bungkil kedele, ampas tahu.
Sumber lemak antara lain minyak sayur; sumber vitamin antara lain premik. Sumber
mineral antaralain tepung tulanh, tepung kerabang telur, tepung kulit kerang, dll. Nutrient-
nutrient dalam bahan pakan tersebut adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan
air. Energi tidak termasuk kedalam nutrieny karena energi diperoleh dari pembakarn zat
makanan tersebut. Perbedaan bajan pakan yang dikonsumsi oleh ternal antara lain ternak
ruminan dengan unggas hanyalah perbedaan bentuk/ struktur bahan pakan tetapu kandungan
yang dibutuhkan oleh ternak tidak berbeda. Manfaat dari praktikum bahan pakan formulasi
ransum adalah suapaya kita mengetahui kandungan dari zat pakan ternak, sehingga dalam
4
menyusun ransum kita dapat mengerjakan tanpa adanya kekurangan sample makanan atau
kelebihan jumlah zat makanan, kita dapat lebih mengenal dan membedakan secara lebih
spesifik antara berbagai macam bahan pakan ternak, kita dapat mengetahui energi yang
terkandung didalam bahan yang digunakan, alat – alatnya dan cara menentukan energi .
Inilah yang menjadi alasan kami melakukan praktikum Nutrisi Ternak Dasar serta belajar
menyusun suatu formula ransum sesuai dengan tujuan dan kebutuhan ternak dan mengetahui
apa saja yang dipratikumkan dan dijelaskan oleh asisten dosen, tentang bagaimana cara
penyusunan ransum dan bahan-bahan apa saja yang digunakan dalam penyususnan ransum
serta persentase pemakaian bahan pakan yang akan digunakan, dan yang terpenting adalah
praktikan mendapatkan pengalaman mencampur ransom secara manual.

5
BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM
3.1 Alat dan Bahan
3.1 1 Alat
Adapun alat yang dipakai adalah:
-Timbangan digital Radwag Type WLC 10/A2
-Oven Forced J-300S JISICO
-Kantong kertas
3.1 2 Bahan
Adapun bahan yang dipakai adalah:
-Rumput
-Lamtoro
-Ransum jadi
-Limbah kulit anggur
-Silase limbah kulit kecambah kacang hijau

3.2 Langkah Kerja


1. Sampel yang baru diambil ditimbang dengan segera;
 Untuk hijauan seperti rumput dipotong pendek 2 – 3 cm.
 100 gram untuk sampel berkadar air rendah.
 500 gram untuk sampel berkadar air tinggi.
2. Siapkan kantong kertas yang sudah diketahui beratnya (a gr).
3. Masukkan sampel kedalam kantong, timbang (b gr).
4. Ovenkan di forced draft oven pada sushu 70°C selama 48 jam / sampai kering
(ditandai dengan bahan mudah dipatahkan dan keluar bunyi bila diremas).
5. Keluarkan dan biarkan pada suhu kamar selama 5 menit (menyeimbangkan
kandungan bahan air).
6. Timbang sebagai berat kering oven (c gr).

6
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
a. Berat kantong (a) : 12,5000 gram
b. Berat kantong + sample (b) : 154,1000 gram
c. Berat sample : 141,600 gram
d. Berat kantong + sample kering oven ( c) : 66,2000 gram
e. Berat kering sample : 53,7000 gram

4.1.1 Kadar Berat Kering


Berat Kering
Kadar berat kering =Berat Sample x 100%
c−a
= (b−a) x100%
66,2000gr−12,5000gr
= 154,1000 gr−12,5000 gr x 100%
53,7 gr
= 141,6 gr x 100%

= 37,9237 %

4.1.2 Kadar Air


Berat sample−berat kering
Kadar air = x 100%
berat sample
(b−a)−(c−a)
= x 100%
b−a
87,9 gr
= 141,6 gr x 100%

= 62,0763 %

Tabel Hasil Perbandingan Beberapa Sampel Pakan


Kadar beratkering(dry weight) DW
Berat (gram)
Kelo Kantong
Sampel
mpok Kantong + DW (%) Air (%)
Kantong
+ sampel sampelk
ering
I Rumput 19,6000 519,6000 129,2000 21,9200 78,0800
II Lamtoro 19,7000 519,7000 140,0000 24,0600 75,9400
Ransum
III 12,6000 212,3000 199,6000 93,6405 6,3595
jadi

7
Limbah
IV kulit 12,5000 154,1000 66,2000 37,9237 62,0763
anggur
Silase
limbah
kulit
V 19,8000 537,3000 179,5000 50,2992 49,7008
kecambah
kacang
hijau

4.2 Pembahasan
Analisa proksimat adalah salah satu metode analisa kimia untuk mengetahui kadar atau
kandungan nutrisi yang terdapat dalam suatu bahan pakan. Pada praktikum kali ini digunakan
sampel rumput liar, lamtoro, limbah kulit anggur,ransum jadi, limah kulit silase limbah kulit
kecambah kacang hijau.
Prinsip kerja kadar air yaitu menguapkan air yang terdapat dalam bahan dengan oven
pada suhu 100o – 105oC dalam jangka waktu tertentu (3-24 jam ) hingga sseluruh air yang
terdapat dalam bahan menguap atau penyusutan berat bahan tidak berubah lagi. Defano
(2000) menyatakan ditiap bahan pakan yang paling kering sekalipun,masih terdapat
kandungan air walaupun dalam jumlah yang kecil. Bahan yang paling sedikit mengadung
kadar air adalah sampel ransum jadi dengan nilai 6,3595% dan yang paling banyak adalah
rumput mengandung kadar air sebesar 78,0800%. Sedangkan yang memiliki berat kering
paling besar adalah sampel ransum jadi dengan nilai 93,6405% dan yang paling kecil adalah
rumput yaitu 21,9200%. Kadar bahan kering ini pun dapat berubah-ubah,tergantung dari suhu
dan kelembaban dari suatu wilayah ternak itu dipelihara. Kadar air adalah persentase
kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan berat basah (wet basis) atau
berat kering (dry basis).

8
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan data hasil praktikum dan pembahasan maka dapat disimpulkan, yaitu kadar
air merupakan merupakan sejumlah air yang terkandung dalam suatu bahan termasuk pakan.
Di tiap bahan pakan yang paling kering sekalipun,masih terdapat kandungan air walaupun
dalam jumlah yang kecil. Penentuan kadar air pada praktikum ini dilakukan dengan metode
oven pada suhu 70°C dalam jangka waktu tertentu (24 – 48 jam) hingga sseluruh air yang
terdapat dalam bahan menguap atau penyusutan berat bahan tidak berubah lagi.

5.2 Saran
Praktikan diharapkan lebih berhati-hati dalam melakukan praktikum seperti menimbang
ataupun membaca angka yang keluar pada neraca agar hasil yang didapatkan lebih akurat dan
valid.

9
TOPIK 2
KADAR BAHAN KERING (DM), ABU, DAN BAHAN ORGANIK

10
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahan pakan merupakan kebutuhan pokok bagi setiap ternak. Sebagian besar bahan
pakan terdiri dari unsur - unsur pokok yaitu air, mineral, karbohidrat, lemak dan protein.
Kelima unsur ini dibutuhkan oleh hewan ternak dan manusia untuk pertumbuhan, produksi,
reproduksi dan hidup pokok. Makanan ternak berisi zat nutrisi dengan kandungan yang
berbeda-beda karena itu perlu dilakukan analisis untuk mengetahui kualitas dan kuantitas zat
gizi yang dibutuhkan oleh ternak. Kualitas bahan pakan dan komponennya ini dapat dinilai
melalui tiga tahapan penilaian, yaitu secara fisik, kimia, dan biologis. Salah satu tahapan dari
penilaian ini dapat dilakukan melalui analisis proksimat.
Analisis proksimat merupakan suatu metode analisis secara kimia untuk
mengidentifikasikan kandungan zat makanan dari suatu bahan pakan atau pangan. Komponen
fraksi yang dianalisis masih mengandung komponen lain dengan jumlah yang sangat kecil,
yang seharusnya tidak masuk ke dalam fraksi yang dimaksud, itulah sebabnya mengapa hasil
analisis proksimat menunjukkan angka yang mendekati angka fraksi yang sesungguhnya.
Analisis proksimat berupa analisa kadar air, kadar abu, bahan kering, analisa protein
kasar, lemak kasar dan analisa serat kasar. Pada setiap analisis terdapat metode – metode
yang berbeda. Pada dasarnya, analisis proksimat bermanfaat dalam mengidentifikasi
kandungan zat makanan dari suatu bahan pakan atau pangan yang belum diketahui
sebelumnya yang selanjutnya disebut sampel. Selain dari itu, analisis prokimat merupakan
dasar dari analisis-analisis yang lebih lanjut.
Analisis proksimat bermanfaat dalam menilai dan menguji kualitas suatu bahan pakan
atau pangan dengan membandingkan nilai standar zat makanan atau zat pakan dengan hasil
analisisnya. Dengan demikian analisis proksimat ini dapat bermanfaat bagi dunia peternakan,
terutama dalam pemberian nutrisi yang dapat memenuhi kebutuhan ternak. Maka dari itu
Berdasarkan uraian di atas, praktikum tentang analisis proksimat ini penting untuk dilakukan
untuk menunjang pengetahuan tentang cara untuk mengetahui kadar nutrisi dalam suatu
pakan.

1.2 Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui analisis proksimat berupa kadar berat
kering (dry weight) DM; kadar bahan kering (dry matter) DM, abu, dan bahan organik; dan

11
serat kasar pada sampel rumput liar, lamtoro, limbah kulit anggur,ransum jadi, limah kulit
silase limbah kulit kecambah kacang hijau.

12
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Analisis Proksimat
Analisis proksimat adalah suatu metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi
kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari
bahan pakan atau pangan. Analisis proksimat memiliki manfaat sebagai penilaian kualitas
pakan atau bahan pangan terutama pada standar zat makanan yang seharusnya terkandung di
dalamnya. Menguapkan air yang terdapat dalam bahan dengan oven dengan suhu 100°-105°C
dalam jangka waktu tertentu (3-24 jam) hingga seluruh air yang terdapat dalam bahan
menguap atau penyusutan berat bahan tidak berubah lagi. Membakar bahan dalam tanur
(furnace) dengan suhu 550°C selama 3-8 jam sehingga seluruh unsur pertama pembentuk
senyawa organik (C,H,O,N) habis terbakar dan berubah menjadi gas. Sisanya yang tidak
terbakar adalah abu yang merupakan kumpulan dari mineral-mineral yang terdapat dalam
bahan. Dengan perkataan lain, abu merupakan total mineral dalam bahan. Komponen dalam
suatu bahan yang tidak dapat larut dalam pemasakan dengan asam encer dan basa encer
selama 30 menit adalah serat kasar dan abu. Untuk mendapatkan nilai serat kasar, maka
bagian yang tidak larut tersebut (residu) dibakar sesuai dengan prosedur analisis abu. Selisih
antara residu dengan abu adalah serat kasar.
Di dalam pengenalan bahan pakan, terlebih dahulu bahan pakan itu sendiri terbagi
menjadi pakan sumber protein hewani yang dibagi menjadi tepung ikan dan protein nabati
dibagi menjadi bungkil kelapa dan bungkil kedele. Sedangkan sumber energi dibagi menjadi
ada yang berbentuk biji-bijian atau butiran yang terbagi atas : padi, jagung, millet merah dan
millet putih. Berbentuk tepung terbagi atas dedak halus, jagung giling, dan dedak halus.
Berbentuk cairan terdiri atas : minyak sayur. Sumber mineral terdiri dari garam dan kerang.
Bahan-bahan pakan sumber energi antara lain jagung, beras, sorgum, dedak padi, hijauan
(SK). Sumber protein antara lain tepung ikan, bungkil kedele, ampas tahu.
Sumber lemak antara lain minyak sayur; sumber vitamin antara lain premik. Sumber
mineral antaralain tepung tulanh, tepung kerabang telur, tepung kulit kerang, dll. Nutrient-
nutrient dalam bahan pakan tersebut adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan
air. Energi tidak termasuk kedalam nutrieny karena energi diperoleh dari pembakarn zat
makanan tersebut. Perbedaan bajan pakan yang dikonsumsi oleh ternal antara lain ternak
ruminan dengan unggas hanyalah perbedaan bentuk/ struktur bahan pakan tetapu kandungan
yang dibutuhkan oleh ternak tidak berbeda. Manfaat dari praktikum bahan pakan formulasi
ransum adalah suapaya kita mengetahui kandungan dari zat pakan ternak, sehingga dalam
13
menyusun ransum kita dapat mengerjakan tanpa adanya kekurangan sample makanan atau
kelebihan jumlah zat makanan, kita dapat lebih mengenal dan membedakan secara lebih
spesifik antara berbagai macam bahan pakan ternak, kita dapat mengetahui energi yang
terkandung didalam bahan yang digunakan, alat – alatnya dan cara menentukan energi .
Inilah yang menjadi alasan kami melakukan praktikum Nutrisi Ternak Dasar serta belajar
menyusun suatu formula ransum sesuai dengan tujuan dan kebutuhan ternak dan mengetahui
apa saja yang dipratikumkan dan dijelaskan oleh asisten dosen, tentang bagaimana cara
penyusunan ransum dan bahan-bahan apa saja yang digunakan dalam penyususnan ransum
serta persentase pemakaian bahan pakan yang akan digunakan, dan yang terpenting adalah
praktikan mendapatkan pengalaman mencampur ransom secara manual.

2.1 Kadar Abu


Analisa kadar abu bertujuan untuk memisahkan bahan organik dan bahan anorganik
suatu bahan pakan. Kandungan abu suatu bahan pakan menggambarkan kandungan mineral
pada bahan tersebut. Menurut Cherney (2000) abu terdiri dari mineral yang larut dalam
detergen dan mineral yang tidak larut dalam detergen Kandungan bahan organik suatu pakan
terdiri protein kasar, lemak kasar, serat kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN).
Karra (2007) menyatakan bahwa pemanasan di dalam tanur adalah dengan suhu 400-
600 derajat Celcius dan Halim (2006) menyatakan bahwa zat anorganik yang tertinggal di
dalam pemanasan dengan tanur disebut dengan abu (ash) . Disini, bahan pakan ternak yang
paling banyak mengandung kadar abu adalah tepung kulit kerang dengan persentase
92,9000. Ini disebabkan karena tepung kulit kerang memang terdiri bahan anorganik yang
terdiri dari mineral - mineral seperti kapur.
Jumlah abu dalam bahan pakan hanya penting untuk menentukan perhitungan bahan
ekstrak tanpa nitrogen (Soejono, 1990). Kandungan abu ditentukan dengan cara mengabukan
atau membakar bahan pakan dalam tanur, pada suhu 400-600oC sampai semua karbon hilang
dari sampel, dengan suhu tinggi ini bahan organik yang ada dalam bahan pakan akan terbakar
dan sisanya merupakan abu yang dianggap mewakili bagian inorganik makanan. Namun, abu
juga mengandung bahan organik seperti sulfur dan fosfor dari protein, dan beberapa bahan
yang mudah terbang seperti natrium, klorida, kalium, fosfor dan sulfur akan hilang selama
pembakaran. Kandungan abu dengan demikian tidaklah sepenuhnya mewakili bahan
inorganik pada makanan baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif (Anggorodi, 1994)

14
BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat
1. Penggiling kasar
2. Penggiling halus
3. Oven
4. Neraca analitik
5. Cawan porselen
6. Desikator
7. Pinset dan gegep
8. Kasa asbes
9. Spatula / sendok sampel
10. Tanur listrik (furnace) Heraus M110
11. Tray
12. Sarung tangan

3.2 Bahan
1. Rumput
2. Lamtoro
3. Ransum jadi
4. Limbah kulit anggur
5. Silase limbah kulit kacang hijau

3.3 Cara Kerja


1. Preparasi sampel;
a) Sampel yang sudah kering digiling kasar dengan penggilingan berdiameter 5
mm.
b) Setelah selesai, penggilingan dibersihkan agar yang memakai selanjutnya
tidak terkontaminasi dengan sampel yang dimiliki.
c) Dilanjutkan dengan penggilingan halus dengan saringan 1 mm (Hemermill
atau ayakan tepung).
d) Biarkan selama 6 jam.
e) Simpan dalam kantong plastik atau botol yang bertutup vakum

15
f) Beri label pada kantong plastik.
2. Cawan dicuci, dibilas dan dikering anginkan.
3. Ovenkan pada suhu 105o C selama 3 jam.
4. Dinginkan dalam desikator selama 30 menit.
5. Timbang cawan dengan neraca analitik.
6. Kedalam cawan masukkan sampel sebanyak 1,000 gram, timbang sebagai bobot awal.
7. Tentukan bobot konstan cawan dan sampel dengan jalan:
a) Ovenkan selama 9 – 12 jam pada suhu 105 – 110°C.
b) Dinginkan dalam desikator selama 30 menit.
c) Timbang sebagai bobot akhir.
d) Untuk meyakinkan bobot konstan, dapat diovenkan lagi seperti diatas.
e) Atau ovenkan 2 jam pada suhu 135°C, kemudian timbang.
8. Buka tanur dengan menarik tuas depan pintu tanur.
9. Masukkan cawan kedalam tanur dengan urutan dari kiri ke kanan.
10. Hubungkan alat dengan listrik.
11. Tetapkan temperature target 600°C.
12. Atur suhu hingga 600°C dengan menekan dan memutar potensio temperatur.
13. Tunggu sampai tercapai suhu 600°C dan catat waktu hingga 3 jam.
14. Matikan alat dengan mencabut stecker listrik.
15. Biarkan tanur semalaman hingga suhu turun.
16. Masukkan cawan kedalam desikator selama 30 menit.
17. Ambil cawan, lalu timbang pada neraca analitik

16
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

a) Berat cawan kosong (a) = 18,8528 gr


b) Berat cawan+ sampel (b) = 19,8516 gr
c) Berat cawan + sampel oven (c) = 19,7940 gr
d) Berat cawan + abu (d) = 18,8948 gr
e) Berat sampel = 0,9988 gr
f) Berat abu = 0,0420 gr

berat sampel setelah dioven


1. %Bahan Kering = x 100%
berat sampel
c−a
= x 100%
b−a

0,9412
= x 100%
0,9988
= 94,2331%

berat sebelum dioven−berat setelah dioven


2. %Air = x 100%
berat sampel
b−c
= x 100%
b−a
19,8516 − 19,7940
= x 100%
0,9988

=5,7669%

berat abu
3. %Abu = berat sampel x 100%
0,0420
= x 100%
0,9988
= 4,2050%

berat sampel−abu
4. %Bahan Organik = x 100%
berat sampel
0,9568
= x 100%
0,9988

= 95,7950%

Tabel Data DM, abu, dan bahan organic beberapa sampel

17
Kadar bahan kering (dry matter) DM, abu, bahan organik
Berat (gram)
Kelo Cawan Cawan Bahan
Sampel Cawan DM Air Abu
mpok + + organik
Cawan + (%) (%) (%)
sampel sampel (%)
sampel
oven abu
I Rumput 22,1989 23,2076 23,1578 22,3173 95,0630 4,9370 11,7379 88,2621
II Lamtoro 24,2717 25,2408 25,2294 24,3572 94,9440 5,0560 8,4763 91,5237
Ransum
III 20,9243 21,9281 21,8774 20,9968 94,9492 5,0508 7,2226 92,7774
jadi
Limbah
IV kulit 18,8528 19,8516 19,7940 18,8948 94,2331 5,7669 4,2050 95,7950
anggur
Silase
limbah
kulit
V 20,3058 21,3068 21,2608 20,3385 95,4046 4,5954 3,2667 96,7333
kecamba
h kacang
hijau

18
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Analisis proksimat adalah suatu metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi
kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari
bahan pakan atau pakan. Penentuan Kadar Air Menguapkan air yang terdapat dalam bahan
dengan oven dengan suhu 100°-105°C dalam jangka waktu tertentu. hingga seluruh air yang
terdapat dalam bahan menguap atau penyusutan berat bahan tidak berubah lagi. Penentuan
kadar abu Membakar bahan dalam tanur dengan suhu 600°C selama 4-5 jam sehingga seluruh
unsur pertama pembentuk senyawa organik (C,H,O,N) habis terbakar dan berubah menjadi
gas. Sisanya yang tidak terbakar adalah abu yang merupakan kumpulan dari mineral-mineral
yang terdapat dalam bahan. Dengan perkataan lain, abu merupakan total mineral dalam
bahan.
5.2 Saran
Praktikan diharapkan kedepannya lebih berhati-hati dalam melakukan praktikum
seperti menimbang ataupun membaca angka yang keluar pada neraca agar hasil yang
didapatkan lebih akurat dan valid.

19
TOPIK 3
KADAR SERAT KASAR

20
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahan pakan merupakan kebutuhan pokok bagi setiap ternak. Sebagian besar bahan
pakan terdiri dari unsur - unsur pokok yaitu air, mineral, karbohidrat, lemak dan protein.
Kelima unsur ini dibutuhkan oleh hewan ternak dan manusia untuk pertumbuhan, produksi,
reproduksi dan hidup pokok. Makanan ternak berisi zat nutrisi dengan kandungan yang
berbeda-beda karena itu perlu dilakukan analisis untuk mengetahui kualitas dan kuantitas zat
gizi yang dibutuhkan oleh ternak. Kualitas bahan pakan dan komponennya ini dapat dinilai
melalui tiga tahapan penilaian, yaitu secara fisik, kimia, dan biologis. Salah satu tahapan dari
penilaian ini dapat dilakukan melalui analisis proksimat.
Analisis proksimat merupakan suatu metode analisis secara kimia untuk
mengidentifikasikan kandungan zat makanan dari suatu bahan pakan atau pangan. Komponen
fraksi yang dianalisis masih mengandung komponen lain dengan jumlah yang sangat kecil,
yang seharusnya tidak masuk ke dalam fraksi yang dimaksud, itulah sebabnya mengapa hasil
analisis proksimat menunjukkan angka yang mendekati angka fraksi yang sesungguhnya.
Analisis proksimat berupa analisa kadar air, kadar abu, bahan kering, analisa protein
kasar, lemak kasar dan analisa serat kasar. Pada setiap analisis terdapat metode – metode
yang berbeda. Pada dasarnya, analisis proksimat bermanfaat dalam mengidentifikasi
kandungan zat makanan dari suatu bahan pakan atau pangan yang belum diketahui
sebelumnya yang selanjutnya disebut sampel. Selain dari itu, analisis prokimat merupakan
dasar dari analisis-analisis yang lebih lanjut.
Analisis proksimat bermanfaat dalam menilai dan menguji kualitas suatu bahan pakan
atau pangan dengan membandingkan nilai standar zat makanan atau zat pakan dengan hasil
analisisnya. Dengan demikian analisis proksimat ini dapat bermanfaat bagi dunia peternakan,
terutama dalam pemberian nutrisi yang dapat memenuhi kebutuhan ternak. Maka dari itu
Berdasarkan uraian di atas, praktikum tentang analisis proksimat ini penting untuk dilakukan
untuk menunjang pengetahuan tentang cara untuk mengetahui kadar nutrisi dalam suatu
pakan.

1.2 Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui analisis proksimat berupa kadar berat
kering (dry weight) DM; kadar bahan kering (dry matter) DM, abu, dan bahan organik; dan

21
serat kasar pada sampel rumput liar, lamtoro, limbah kulit anggur,ransum jadi, limah kulit
silase limbah kulit kecambah kacang hijau.

22
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Analisis Proksimat
Analisis proksimat adalah suatu metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi
kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari
bahan pakan atau pangan. Analisis proksimat memiliki manfaat sebagai penilaian kualitas
pakan atau bahan pangan terutama pada standar zat makanan yang seharusnya terkandung di
dalamnya. Menguapkan air yang terdapat dalam bahan dengan oven dengan suhu 100°-105°C
dalam jangka waktu tertentu (3-24 jam) hingga seluruh air yang terdapat dalam bahan
menguap atau penyusutan berat bahan tidak berubah lagi. Membakar bahan dalam tanur
(furnace) dengan suhu 550°C selama 3-8 jam sehingga seluruh unsur pertama pembentuk
senyawa organik (C,H,O,N) habis terbakar dan berubah menjadi gas. Sisanya yang tidak
terbakar adalah abu yang merupakan kumpulan dari mineral-mineral yang terdapat dalam
bahan. Dengan perkataan lain, abu merupakan total mineral dalam bahan. Komponen dalam
suatu bahan yang tidak dapat larut dalam pemasakan dengan asam encer dan basa encer
selama 30 menit adalah serat kasar dan abu. Untuk mendapatkan nilai serat kasar, maka
bagian yang tidak larut tersebut (residu) dibakar sesuai dengan prosedur analisis abu. Selisih
antara residu dengan abu adalah serat kasar.
Di dalam pengenalan bahan pakan, terlebih dahulu bahan pakan itu sendiri terbagi
menjadi pakan sumber protein hewani yang dibagi menjadi tepung ikan dan protein nabati
dibagi menjadi bungkil kelapa dan bungkil kedele. Sedangkan sumber energi dibagi menjadi
ada yang berbentuk biji-bijian atau butiran yang terbagi atas : padi, jagung, millet merah dan
millet putih. Berbentuk tepung terbagi atas dedak halus, jagung giling, dan dedak halus.
Berbentuk cairan terdiri atas : minyak sayur. Sumber mineral terdiri dari garam dan kerang.
Bahan-bahan pakan sumber energi antara lain jagung, beras, sorgum, dedak padi, hijauan
(SK). Sumber protein antara lain tepung ikan, bungkil kedele, ampas tahu.
Sumber lemak antara lain minyak sayur; sumber vitamin antara lain premik. Sumber
mineral antaralain tepung tulanh, tepung kerabang telur, tepung kulit kerang, dll. Nutrient-
nutrient dalam bahan pakan tersebut adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan
air. Energi tidak termasuk kedalam nutrieny karena energi diperoleh dari pembakarn zat
makanan tersebut. Perbedaan bajan pakan yang dikonsumsi oleh ternal antara lain ternak
ruminan dengan unggas hanyalah perbedaan bentuk/ struktur bahan pakan tetapu kandungan
yang dibutuhkan oleh ternak tidak berbeda. Manfaat dari praktikum bahan pakan formulasi
ransum adalah suapaya kita mengetahui kandungan dari zat pakan ternak, sehingga dalam
23
menyusun ransum kita dapat mengerjakan tanpa adanya kekurangan sample makanan atau
kelebihan jumlah zat makanan, kita dapat lebih mengenal dan membedakan secara lebih
spesifik antara berbagai macam bahan pakan ternak, kita dapat mengetahui energi yang
terkandung didalam bahan yang digunakan, alat – alatnya dan cara menentukan energi .
Inilah yang menjadi alasan kami melakukan praktikum Nutrisi Ternak Dasar serta belajar
menyusun suatu formula ransum sesuai dengan tujuan dan kebutuhan ternak dan mengetahui
apa saja yang dipratikumkan dan dijelaskan oleh asisten dosen, tentang bagaimana cara
penyusunan ransum dan bahan-bahan apa saja yang digunakan dalam penyususnan ransum
serta persentase pemakaian bahan pakan yang akan digunakan, dan yang terpenting adalah
praktikan mendapatkan pengalaman mencampur ransom secara manual.

2.2 Serat Kasar


Serat kasar terdiri dari selulosa, hemiselulosa dan lignin. Selulosa dan hemiselulosa
merupakan komponen dinding sel tumbuhan dan tidak dapat dicerna oleh ternak monogastrik.
Hewan ruminansia mempunyai mikroorganisme rumen yang memiliki kemampuan untuk
mencerna selulosa dan hemiselulosa (Chandra. 2001).
Fraksi serat kasar mengandung selulosa, lignin, dan hemiselulosa tergantung pada
species dan fase pertumbuhan bahan tanaman (Anggorodi, 1994). Pakan hijauan merupakan
sumber serta kasar yang dapat merangsang pertumbuhan alat-alat pencernaan pada ternak
yang sedang tumbuh. Tingginya kadar serat kasar dapat menurunkan daya rombak mikroba
rumen (Farida, 1998) menyatakan bahwa Serat kasar merupakan kemudahan bagi makluk
hidup untuk mendapatkan zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh. Danuarsa, (2006) menyatakan
bahwa kandungan serat kasar yang tinggi padapakan akan menurunkan koefisiensi cerna
dalam bahan pakan tersebut,karena serat kasar megandung bagian yang sukar untuk dicerna.
Danuarsa, (2006) menyatakan bahwa Serat kasar adalah semua zat organik yang tidak larut
dalam H2SO4 0,3 N dan dalam NaOH 1,5 N yang berturur-turut dimasak selama 30 menit..
Kamal (1998) menyatakan analisis kadar serat kasar adalah usaha untuk mengetahui kadar
serat kasar dalam bahan baku pakan pelaksanaan dilaboratorium biasanya dilakukan secara
kimiawi dengan metode mendell.
Cairan retikulorumen mengandung mikroorganisme, sehingga ternak ruminasia
mampu mencerna hijauan termasuk rumput-rumputan yang umumnya mengandung selulosa
yang tinggi (Tillman et al., 1991). Langkah pertama metode pengukuran kandungan serat
kasar adalah menghilangkan semua bahan yang terlarut dalam asam dengan pendidihan

24
dengan asam sulfat bahan yang larut dalam alkali dihilangkan dengan pendidihan dalam
larutan sodium alkali. Residu yang tidak larut adalah serat kasar (Soejono, 1990).
Serat kasar merupakan bagian dari karbohidrat dan didefinisikan sebagai fraksi yang
tersisa setelah didigesti dengan larutan asam sulfat standar dan sodium hidroksida pada
kondisi terkondisi (Suparjo, 2010). Serat kasar sebagian besar berasal dari sel dinding
tanaman dan mengandung selulosa, hemiselulosa dan lignin (Suparjo, 2010). Lu et al. (2005)
menyatakan bahwa serat pakan secara kimiawi dapat digolongkan menjadi serat
kasar, neutral detergent fiber, acid detergent fiber, acid detergent lignin, selulosa dan
hemiselulosa. Peran serat pakan sebagai sumber energi erat kaitannya dengan proporsi
penyusun komponen serat seperti selulosa, hemiselulosa dan lignin (Suparjo, 2010). Menurut
Cherney (2000) serat kasar terdiri dari lignin yang tidak larut dalam alkali, serat yang
berikatan dengan nitrogen dan selulosa.

25
BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan adalah:
1. Neraca analitik
2. Pipet ukur 15 ml dan 30 ml
3. Beaker gelas 250 ml
4. Tabung vapodest
5. Rak tabung
6. Cawan porselin 25 ml
7. Corong bunchner
8. Desikator
9. Gegep/pinset
10. Hotplate
11. Sarung tangan anti panas
12. Tungku Kjeldahlterm
13. Kertas saring bebeas abu
14. Pompa vakum
15. Oven kering 110°C
16. Tanur listrik 600°C
Adapun bahan yang digunakan adalah:
1. Sampel : rumput, lamtoro, ransum jadi, limbah kulit anggur, silase limbah kulit
kecambah kacang hijau.
2. H2SO4 0,3 N
3. NaOH 1,5 N
4. Alkohol
5. Aceton
6. Aquadest

3.2 Langkah Kerja


1. Timbang 0,5000 gram sampel (a gram) ke dalam tabung vapodest.
2. Letakkan pada tak tabung sesuai urutan.
3. Tambahkan 30 ml H2SO4 0,3 N.
26
4. Tutup dengan botol pendingin.
5. Letakkan pada tungku pemanas 150°C.
6. Didihkan selama 30 menit.
7. Tambahkan 15 ml NaOH 1,5 N.
8. Didihkan kembali selama 30 menit pada suhu 150°C.
9. Saring dengan kertas saring bebas abu yang telah diketahui beratnya (b gram) pada
penyaring bunchner dengan bantuan pompa vakum.
10. Cuci residu serat berturut-turut dengan:
a) Aquadest panas 50 ml.
b) H2SO4 0,3 N 50 ml.
c) Aquadest panas 50 ml.
d) Alkohol 25 ml dan
e) Aceton 25 ml.
11. Pindahkan kertas saring yang berisi residu serat kasar secara kuantitatif ke dalam
cawan porselin yang sudah diketahui beratnya (c gram).
12. Uapakan di dalam oven forced selama 30 menit.
13. Lalu lanjutkan pengeringan di dalam oven kering 105°C selama 3 jam.
14. Dinginkan di desikator selama 30 menit lalu timbang dan catat beratnya (d gram).
15. Abukan dalam tanur pada 600°C selama 3 jam, dinginkan tanur selama 12 jam.
16. Keluarkan cawan berisi abu serat ke dalam desikator selama 30 menit lalu timbang (e
gram).

27
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
a. Berat Sample : 0,5010gram
b. Berat Kertas Saring : 0,1282 gram
c. Berat Cawan : 18,0383 gram
d. Berat Cawan + Kertas Saring + Residu : 18,2778 gram
e. Berat Cawan + Kertas Saring + Abu : 18,0370 gram

Kadar Serat Kasar


{(d−b−c)−(e−c)}
Kadar Serat Kasar = x 100 %
a
0,1120 gr
= 0,5010 gr x 100%

= 22,4750 %

Tabel Persen Serat Kasar Beberapa Sampel


Kadar serat kasar

Berat (gram)
Kelo Serat
Sampel Cawan + Cawan
mpok Cawan + kasar
kertas + kertas
Sampel Cawan kertas (%)
saring + saring +
saring
residu abu

I Rumput 0,5007 24,5521 24,6801 24,8430 24,5588 31,1963

II Lamtoro 0,5082 17,0204 17,1486 17,2384 17,0198 17,7883

Ransum
III 0,5025 18,6095 18,7366 18,7511 18,6123 2,3284
jadi

Limbah
IV kulit 0,5010 18,0383 18,1665 18,2778 18,0370 22,4750
anggur

Silase
V limbah 0,5039 20,9825 21,1064 21,2504 20,9810 28,8748
kulit
kecambah

28
kacang
hijau

29
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Serat kasar merupakan kemudahan bagi makluk hidup untuk mendapatkan zat-zat
yang dibutuhkan oleh tubuh. Kandungan serat kasar yang tinggidalam makanan akan
menurunkan koefisiensi cerna dalam bahan pakan tersebut, karena serat kasar megandung
bagian yang sukar untuk dicerna. Persentase serat kasar pada setiap sampel yang berbeda-
beda membuktikan bahwa tinggkat kecernaan dari setiap sampel juga berbeda-beda.
5.2 Saran
Praktikan diharapkan kedepannya lebih berhati-hati dalam melakukan praktikum
seperti menimbang ataupun membaca angka yang keluar pada neraca agar hasil yang
didapatkan lebih akurat dan valid.

30
DAFTAR PUSTAKA
Danuarsa. 2006. “Analisis Proksimat dan Asam Lemak Pada Beberapa Komoditas Kacang-
kacangan”. Buletin Teknik Pertanian Vol. 11 No. 1
Defano. 2000 . Ilmu Makanan Ternak. Gajah Mada University Press Fakultas Peternakan
Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Kamal, M. 1998. Bahan Pakan dan Ransum Ternak. Laboratorium Makanan Ternak Jurusan
Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.
Karra , 2003. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada University.Yogyakarta.
Khairul. 2009 . Ilmu Gizi dan Makanan Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung
Khalil. 1999. “Pengaruh Kandungan Air dan Ukuran Partikel terhadapSifat Fisik Pakan
Lokal : Sudut Tumpukan, Kerapatan Tumpukan, Kerapatan Pemadatan Tumpukan,
Berat Jenis, Daya Ambang, dan Faktor Higroskopis”. Media Peternakan 22 (1) : 1 –
11.

31