Anda di halaman 1dari 4

Nama : Thereza Ismiranda

NIM : C1A018086

Kelas : R-001 Ekonomi Pembangunan

M. Kuliah : Ekonomi Pertanian “ Hambatan Revitalisasi Pertanian di Indonesia”

Indonesia menghadapi sejumlah kendala dalam mengembangkan potensi sektor


pertanian dan lahan pertanian sebagai upaya mewujudkan swasembada pangan, sejak
kebangkitan sektor pertanian pertama pada era pemerintahan Orde Baru. Kendala itu antara
lain:

1. Dokumen Program Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (PRPPK) tidak


tercantum dalam peraturan perundang-undangan yang mengikat, seperti dalam
bentuk peraturan pemerintah atau Perpres. Selain itu PRPPK juga tidak tercantum
dalam dokumen politik, seperti misalnya dalam dokumen Rencana Pembangunan
Jangka Menengah (RPJM) tahun 2005-2009. Dengan demikian konsep PRPPK
menjadi serba tanggung, yakni tidak bisa dijabarkan secara teknis-operasional di
daerah dan juga oleh kementerian terkait, padahal pembelanjaan uang negara, harus
ada dasar hukum yang kuat.
2. Demikian pula kendala fungsional, bahwa pelaksanaan PRPPK terkesan sangat
sektoral, karena sektor tersebut hanya diurus oleh sektor pertanian, perikanan, dan
kehutanan saja. Tidak semua sektor dapat berfungsi dan digerakkan untuk meng-
goalkan pelaksanaan PRPPK itu. Oleh sebab itu dalam pelaksanaan pembangunan
pertanian harus didukung oleh semua sector. Hal itu penting karena pengalaman
sebelumnya pada Era Orde Baru, semua sektor mendukung program pembangunan
pertanian pada saat itu, termasuk rakyat dan petani, birokrasi (pemkab) dan para
ilmuwan. "Para ilmuwan terus mengadakan riset untuk menghasilkan teknologi tepat
guna menunjang program pertanian, pada tahap awal, diharapkan sekitar 0,1 persen
dari produk domestik bruto (PDB) dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penelitian dan
pengembangan.
3. Rata-rata usia produktif di Indonesia lebih memilih bekerja pada sector industry
dibandingkan sector pertanian yang erat dikatikan dengan kemiskinan.
4. Bencana alam yang tidak dapat di prediksi. Menurut Annual Dissaster Statistical
Review 2012, yang dilakukan oleh CRED (Centre for Research on the Epidemiology of
Disaster), Indonesia menempati posisi ke-4 untuk negara-negara yang sering mengalami
bencana alam. Pada 2012, Indonesia mengalami 4 kejadian Geophysical (gempa bumi,
gunung meletus, kekeringan), 9 kejadian hydrological (banjir) dan 2 kejadian
meteorological (badai). Upaya yang dapat dilakukan pemerintah adalah bekerja sama
dengan lembaga lain seperti BNPB, BMKG dll untuk memitigasi potensi kerugian yang
harus ditanggung petani akibat terjadinya bencana alam dan anomali cuaca. Selain itu,
pemerintah dapat mendorong penelitian dan pengembangan benih yang berpotensi yang
lebih adaptif dan lebih berumur pendek yang disesuaikan dengan perubahan iklim.
5. Terbatasnya sumber daya pertanian. Dalam rangka mengatasi masalah keterbatasan
sumber daya lahan, upaya yang dilakukan adalah berupa perluasan sawah/lahan pertanian
baru, khususnya di luar Jawa. Guna mengendalikan alih fungsi lahan dilakukan
peningkatan koordinasi dengan instansi terkait dan pemerintah daerah. Langkah ini
dilakukan seiring dengan upaya peningkatan produktivitas dan kualitas hasil sehingga
usaha pertanian, terutama padi akan memberikan pendapatan dan keuntungan yang
mencukupi kebutuhan hidup rumah tangga petani.
6. Terkendalanya sistem alih teknologi. Upaya peningkatan produktivitas dilakukan dengan
peningkatan diseminasi teknologi, baik berupa penerapan benih/bibit unggul yang baru
maupun langkah-langkah perbaikan sistem budidaya di tingkat petani. Dalam hal
peningkatan penggunaan benih/bibit unggul, sedang disusun konsep penyediaan subsidi
benih agar terjadi akselerasi penggunaan benih/bibit dalam rangka meningkatkan
produktivitas. Lembaga Litbang dalam kaitan ini terus diperkuat dengan mempertajam
prioritas penelitian agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat pertanian. Selain itu
dilakukan pula peningkatan efektivitas diseminasi teknologi dengan memadukan antara
fungsi diseminasi lembaga Litbang di daerah (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian)
dengan penyuluhan.
7. Lemahnya akses permodalan. Peningkatan akses petani terhadap permodalan
dilaksanakan antara lain melalui peningkatan pendapatan petani/nelayan kecil (P4K),
memberikan bantuan pinjaman langsung ke masyarakat (BPLM), pengembangan dana
bergulir, dan penyediaan subsidi bunga kredit ketahanan pangan. Mulai tahun 2006
disediakan dana penjaminan guna membuka peluang bagi petani/peternak kecil dan
menengah yang tidak memiliki agunan dapat memperoleh fasilitas kredit perbankan. Saat
ini sedang disiapkan juga subsidi tingkat bunga kredit investasi untuk pengembangan
komoditas kelapa sawit, kakao, karet, serta tanaman untuk bahan bakar nabati/biofuel.
Selanjutnya, untuk mendukung peningkatan produktivitas dilakukan perbaikan jaringan
irigasi dan optimalisasi lahan dengan partisipasi masyarakat. Di samping itu, untuk
mendukung kegiatan tersebut dilakukan pula pengembangan koperasi dan usaha kecil,
lembaga keuangan mikro perdesaan, Bank Perkreditan Rakyat dan BRI unit desa
bekerjasama dengan instansi terkait dan perbankan.
8. Rantai tata niaga yang panjang, tidak efisien dan belum adil. Untuk menurunkan biaya
tata niaga dan meningkatkan kelancaran arus pemasaran hasil pertanian dilakukan
perbaikan dan pembangunan jalan usahatani dengan pola partisipasi masyarakat.
Peningkatan efisiensi rantai pemasaran dilakukan dengan mengembangkan pola
kemitraan, memfasilitasi dibukanya pasar lelang serta dorongan dan pembinaan untuk
melakukan contract 19 - 5 farming. Untuk melindungi kegiatan produksi, terutama petani
kecil, terus dilakukan pengaturan impor dan penerapan tarif yang tidak merugikan
konsumen.
9. Terbatasnya ruang gerak petani/peternak. Akses petani dan nelayan terhadap prasarana
dan sarana transportasi juga menghambat pemasaran produk pertanian dan perikanan
sehingga menekan harga produk. Hal ini antara lain disebabkan oleh belum berpihaknya
kebijakan ekonomi makro kepada petani dan lemahnya koordinasi antar lembaga.
10. Lemahnya kelembagaan petani. Dalam upaya memperkuat kembali kelembagaan
penyuluh telah dilakukan upaya revitalisasi melalui peningkatan pendampingan bagi
petani, peningkatan produktivitas kualitas hasil pertanian, dan penguatan kelembagaan
petani. Peningkatan dan pemberdayaan kelembagaan petani dilakukan dengan membina
kelompok-kelompok tani secara intensif oleh penyuluh pertanian lapangan (PPL), melalui
pendekatan pembangunan masyarakat (community development).
11. Terbatasnya infrastruktur pertanian. Menjamin irigasi, jalan dan jembatan serta angkutan
gratis/murah untuk distribusi produksi pertanian
12. Ketahanan pangan di tingkat rumah tangga masih rentan. Masalah yang dihadapi untuk
menjamin ketahanan pangan di tingkat rumah tangga adalah sistem distribusi yang
kurang efisien untuk menjamin penyebaran ketersediaan pangan antar waktu dan
wilayah, serta perlunya peningkatan pendapatan petani agar mampu mencapai tingkat
konsumsi mereka sesuai dengan skor PPH. Dalam rangka mendukung peningkatan
pendapatan petani ini aspek pengembangan agribisnis terutama komoditas non pangan
sangat penting untuk dikembangkan.
13. Belum berkembangnya perangkat peraturan kepastian usaha pertanian yang didasari
prinsip keadilan berusaha dan perluasan partisipasi masyarakat .
14. Pemanfaatan hutan yang melebihi daya dukung sehingga membahayakan pasokan air
yang menopang keberlanjutan produksi hasil pertanian. Berkurangnya kawasan hutan
khususnya di daerah hulu sungai menyebabkan terganggunya siklus hidrologi yang
berdampak pada berkurangnya ketersediaan air tanah, membesarnya aliran permukaan,
pendangkalan air sungai, waduk dan pantai serta banjir. Meningkatnya banjir pada musim
penghujan dan kekeringan pada musim kemarau akhirnya mengganggu produksi hasil
pertanian. Sebagai contoh, nisbah debit maksimum dan minimum tahunan Sungai
Ciliwung pada musim penghujan dan kemarau meningkat dari hanya 3,5 pada tahun 1950
menjadi sebesar 18,6 pada tahun 1998.
15. Rendahnya nilai hasil hutan non kayu yang sebenarnya berpotensi untuk meningkatkan
pendapatan petani dan masyarakat sekitar kawasan hutan. Hasil hutan non kayu yang
cukup potensial antara lain adalah rotan, tanaman obat-obatan, dan madu. Data FAO
2001 menunjukkan bahwa Indonesia mendominasi perdagangan rotan dunia hingga 80
persen sampai 90 persen pasokan rotan dunia. Sementara itu, tanaman obat dan hasil
hutan non kayu lainnya belum cukup dihargai dan belum terdokumentasi dengan baik
karena tidak muncul dalam transaksi di pasar resmi. Data Departemen Kehutanan tahun
2000 memperkirakan bahwa 30 juta penduduk secara langsung mengandalkan hidupnya
pada kehutanan. Sebagian besar masyarakat ini hidup dari kegiatan perladangan
berpindah, memancing, berburu, menebang dan menjual kayu, serta mengumpulkan hasil
hutan non kayu. Dengan pola pengusahaan yang masih tradisional ini, potensi hasil hutan
non kayu tidak dapat berkembang secara optimal sehingga berakibat pada rendahnya
tingkat kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar dan bergantung dari hutan.