Anda di halaman 1dari 36

Bunker Jepang

Gbr. Papan Nama Bunker Jepang

Bunker adalah sejenis bangunan pertahanan militer yang


biasanya di bangun didalam tanah. Tidak banyak orang yang
mengetahui keberadaan Bunker Jepang yang dibangun di
zaman pendudukan Jepang, yang berada di Kota Jambi.
Bangunan yang terbuat dari Beton ini berukuran 4 X 4 meter
yang berada di dalam kawasan Bandara Sultan Thaha Jambi.

Letaknya yang berada persis di pinggir landasan pacu


pesawat, tidak memungkinkan bagi warga masyarakat leluasa
untuk bisa masuk dan mengunjungi peninggalan sejarah yang
telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya oleh Balai
Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi.

Gbr. Bunker Jepang di Landasan Pacu Bandara Sultan Thaha, Kota Jambi.
Bangunan yang berbentuk semi lingkaran tersebut masih
terlihat kokoh meski sudah berusia puluhan tahun. sebuah
gembok besar terlihat menggantung di pintu setinggi kurang
lebih 1,5 meter yang terbuat dari baja. Jendela berbentuk
persegi panjang seukuran sekitar setengah meter terlihat
diberbagai sisi bangunan itu. Jendela atau lebih pas disebut
lubang di tembok beton ini sepertinya merupakan
tempat Serdadu Negeri Matahari Terbit (Jepang) meletakkan
moncong senapannya.

Gbr. Meja Besar di dalam Bunker Jepang.

Gbr. Terowongan di dalam Bunker Jepang.

Jika kita melongok lebih kedalam Bunker Jepang ini, akan


terlihat ada sebuah meja besar yang terbuat dari beton yang
berada di tengah ruangan berukuran sekitar 3 - 4 meter itu. Di
dalam Bunker ini juga terdapat sebuah terowongan yang
menghubungkan dengan Bunker lainnya yang terletak di
kawasan Taman Rimba atau Kebun Binatang Kota Jambi .
KEDATANGAN JEPANG
DI JAMBI
Posted by Fachruddin Saudagar on 19 Maret 2007 in Sejarah Jambi

Menjelang Jepang Datang

Sebelum Perang Asia Timur Raya meletus, keadaan Pemerintah


Hindia-Belanda di daerah Jambi, tidak banyak mengalami perubahan.
Pulau Sumatera pada waktu Jepang masuk ke Indonesia dipimpin
oleh seorang Gubernur Jenderal yang membawahi sepuluh
keresidenan. Masing-masing keresidenan dipimpin oleh seorang
Residen. Kesepuluh keresidenan tersebut adalah sebagai berikut ;

1. Keresidenan Aceh (Kutaraja)


2. Keresidenan Tapanuli Sibolga)
3. Keresidenan Sumatra Timur (Medan)
4. Keresidenan Riau Tanjung (Pinang)
5. Keresidenan Jambi (Jambi)
6. Keresidenan Sumatra Barat (Padang)
7. Keresidenan Palembang (Palembang)
8. Keresidenan Bengkulu (Bengkulu)
9. Keresidenan Lampung (Teluk Betung)
10. Keresidenan Bangka dan Belitung (Pangkal Pinang)

Residen Jambi berkedudukan di Kota Jambi, yang di dalam


menjalankan pemerintahannya dibantu oleh dua (2) orang Asisten
Residen. Asisten Residen ini pada dasarnya merupakan Wakil
Residen dalam mengkoordinasi beberapa onder afdeling. Selain itu
pada kantor keresidenan, seorang Residen dibantu oleh sekretaris
keresidenan, yang membawahi beberapa orang komisaris, yang
kebanyakan terdiri dari orang Belanda. Pegawai-pegawai rendahan
seperti klerk dan bawahan-bawahannya diisi oleh orang-orang
Indonesia. Struktur Keresidenan Jambi adalah sebagai berikut ;

1)    Keresidenan Jambi ketika itu mengenal dua (2) Asisten Residen,
yaitu :

1. Asisten Residen Bangko


2. Asisten Residen Ilir

2)    Asisten Residen Bangko, membawahi empat (4) onder afdeling,


yaitu :

1. Onder afdeling Muara Tebo


2. Onder afdeling Muara Bungo
3. Onder afdeling Sarolangun
4. Onder afdeling Bangko

3)    Asisten Residen Ilir, membawahi tiga onder afdeling, yaitu :

1. Onder afdeling Jambi


2. Onder afdeling Muara Tembesi
3. Onder afdeling Taman Rajo Tungkal Ulu

4)    Sedangkan onder afdeling Kerinci ketika itu tidak lagi masuk ke
dalam Keresidenan Jambi, dan sejak tahun 1922 dimasukkan ke
dalam Keresidenan Sumatra Barat.
Daerah onder afdeling ini dikepalai oleh kontrolir. Semua kontrolir di
daerah Jambi terdiri dari orang-orang Belanda. Dalam menjalankan
tugasnya kontrolir dibantu oleh Demang (districthoofd), dan Asisten
Demang (onderdistricthoofd). Demang dijabat oleh pribumi.
Demang dibantu oleh seorang juru tulis, klerk, magang, opas, mantri
belesting, dan mantri polisi. Sedangkan Asisten Demang dibantu oleh
seorang seorang juru tulis, seorang magang, dan seorang opas.
Untuk menjalankan pemerintahan desa atau marga, maka Asisten
Demang dibantu oleh Pasirah Kepala Marga. Di Kerinci pemerintahan
desa ini disebut mendapo atau kemendapoan, yang dikepalai
oleh Kepala Mendapo. Pasirah Kepala Marga dan Kepala Mendapo
ini mengkoordinasi unit pemerintahan yang terkecil yakni dusun atau
kampung.
Dari uraian di atas jelas bahwa jabatan kontrolir ke atas, semuanya
dipegang oleh orang-orang Belanda (Europese Bestuur Ambtenaren).
Sedangkan dari Demang (districthoofd) ke bawah digolongkan
kepada jabatan yang boleh diduduki oleh bumi putra atau inlandse
Bestuur Ambtenaren.
Sebenarnya pada masa ini, pemerintahan marga di daerah Jambi
sudah harus mempunyai raad yang disebut Marga Raad seperti diatur
dalam IGOB, dan di kota-kotaonder afdeling ada locale-raad, yang
diketuai oleh Kontrolir, dan Jambi raad untuk mendampingi residen,
yang anggota-anggotanya ditunjuk oleh residen dan disetujui oleh
Gubernur Sumatra. Namun sampai saat keruntuhan pemerintahan
Hindia-Belanda di daerah ini dewan-dewan atau raad tersebut tidak
pernah terlaksana pembentukannya.
Pada masa itu semua kegiatan yang berhubungan dengan kehidupan
pemerintahan, sosial, ekonomi diatur, dikuasai dan dilaksanakan oleh
aparat pemerintahan marga raad, locale raad, dan gementee
raad tidak pernah dilaksanakan pembentukannya oleh Belanda.
Dengan tiada dibentuknya marga raad, maka untuk menyelesaikan
persoalan berat yang dihadapi pemerintah dan rakyat di daerah maka
kontelir yang biasanya mengadakan satu sidang atau musyawarah
untuk anggotanya terdiri dari Demang, Asisten Demang, Pasirah
Kepala Marga atau Kepala Kemendapoan, dan Kepala Kampung,
atau Kepala Dusun.
Propaganda Jepang

Jepang telah mempunyai persiapan yang cukup matang untuk


menghadapi Belanda di seluruh Indonesia termasuk tentunya daerah
Jambi. Sebelum tentara Jepang masuk, radio Jepang telah terlebih
dahulu melancarkan serangan propaganda terhadap Belanda. Pada
tiap permulaan dan penutupan siarannya, radio Jepang menyiarkan
lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”. Dalam siaran radio propaganda
Jepang dalam bahasa Indonesia menyiarkan bahwa Perang Asia
Timur Raya, untuk mengusir penjajah Belanda yang sudah bercokol
tiga ratus lima puluh tahun lamanya. Tujuan Perang Asia Timur Raya,
yang dilakukan Dai Nippon adalah untuk kemerdekaan Indonesia dan
kemakmuran rakyat Indonesia. Dai Nippon mengajak rakyat
Indonesia untuk bersama-sama bangkit menghancurkan penjajahan,
dengan semboyan “Asia untuk bangsa Asia”. Siaran radio Jepang ini
oleh rakyat di daerah yang mempunyai radio, disebarluaskan pula
kepada rakyat yang tidak mendengarnya.

Di Kota Jambi dan Sungai Penuh Kerinci, di mana penduduk sudah


ada mempunyai radio, propaganda Jepang lebih dahulu masuk dan
tersiar serta menyebar di kalangan penduduk. Rakyat banyak yang
belum mempunyai radio, mengetahui propaganda-propaganda
Jepang melalui penduduk yang mempunyai radio dan mengetahui
propaganda itu. Di Sungai Penuh, Tuan Niko, seorang fotograp yang
bergaul baik dengan rakyat setempat turut menyebarkan apa yang
diketahuinya dari radio Jepang kepada penduduk.

Dengan adanya propaganda-propaganda Jepang melalui radio, dan


kemudian oleh rakyat turut disebarluaskan, maka rakyat di daerah
secara spontan menanggapinya dengan perasan lega, bahwa Jepang
akan mengusir Belanda.

Ketika tentara Jepang masuk ke daerah ini propaganda-propaganda


Jepang terus berlangsung. Kepada penduduk dikabarkan Jepang
adalah saudara tua yang akan membantu rakyat, dan dijanjikan pula
oleh Jepang bahwa barang-barang akan menjadi murah.

Sudah tentu di kalangan penduduk Jambi ketika itu ada yang terbius
oleh propaganda Jepang, dan menyanjung-nyanjung Jepang setinggi
langit, tetapi ada juga yang menerima propaganda Jepang tersebut
secara wajar, dan tetap mempunyai semangat nasionalisme, dan
patriotisme bangsa Indonesia, yang berkeyakinan bahwa
kemerdekaan Indonesia hanya dapat diperoleh dengan kekuatan
sendiri.

Waktu Kedatangan Jepang

Adapun tentara angkatan darat Jepang dipimpin oleh Kolonel


Namura, masuk ke daerah Jambi melalui daerah Palembang dan
Padang. Palembang jatuh ke tangan tentara Jepang pada tanggal 14
Februari 1941. Dari Palembang tentara Jepang menyerbu masuk
Lubuk Linggau, yang jatuh ke tangan Jepang pada tanggal 21
Februari 1942. Setelah Jepang menduduki Muara Rupit tanggal 23
Februari 1942, kemudian diikuti Sarolangun Rawas pada tanggal 24
Februari 1942, tentara Jepang menyerbu masuk wilayah daerah
Jambi.

Dari daerah Palembang tersebut di atas, serbuan tentara Jepang di


arahkan ke Sarolangun Jambi, dan dapat diduduki tanggal 23
Februari 1942. Sehari kemudian Bangko dan Rantau Panjang
diduduki pula. Kemudian Muara Bungo diserang oleh Belanda dan
setelah pertempuran sehari semalam dengan pasukan Belanda,
tanggal 28 Februari dapat diduduki oleh Jepang. Sedangkan Muara
Tebo, baru diduduki tentara Jepang tanggal 4 Maret 1942. Di Muara
Tebo tentara Jepang dibagi atas dua bagian, satu bagian bertugas
untuk menyerang Kota Jambi, pusat pemerintahan dan sebagian lagi
untuk menyerang pertahanan tentara Belanda di Pulau Musang.
Dalam pertempuran di Pulau Musang Kolonel Namura sendiri tewas,
dan tentara Jepang di bawah pimpinan Kapten Oreta dapat
menduduki Jambi pada tanggal 4 Maret 1942.

Padang diduduki Jepang pada tanggal 17 Maret 1942. Setelah itu


daerah Kerinci dimasuki dan diduduki oleh tentara Jepang yang
datang dari Padang.

Kedatangan Jepang, pada umumnya disambut dengan perasaan lega


dan puas. Rakyat Jambi puas melihat orang-orang dan tentara
Belanda melarikan diri, dan banyak rakyat turut serta merampas harta
kekayaan orang-orang Belanda yang melarikan diri. Jepang sudah
tentu pada hari-hari pertama pendudukannya tidak bersikap keras
kepada penduduk. Penduduk yang merampas barang-barang milik
Belanda oleh Jepang diminta untuk mengembalikannya di pinggir-
pinggir jalan, yang oleh sebagian rakyat dituruti, dan ternyata
dikumpulkan oleh tentara Jepang untuk keperluan dan kebutuhan
mereka.

Sikap Jepang Terhadap Belanda

Setelah di seluruh daerah Jambi dapat dikuasai oleh Jepang dalam


waktu yang sangat singkat, maka pada tanggal 10 Maret 1942,
disusunlah pemerintahan oleh badan tentara Jepang. Pada dasarnya
susunan ketatanegaraan Belanda masih tetap dipertahankan, dengan
perubahan-perubahan kecil antara lain perubahan nama dan istilah
yang diganti dengan nama atau istilah Jepang.

Semua istilah pemerintahan diganti dalam bahasa Jepang.


Keresidenan ditukar dengan syu, residen disebut syucokan, afdeeling
disebut bunsyu yang dikepalai oleh bunsyu-co, onder-afdeeling
ditukar dengan gun. Dengan demikian pada masa Jepang di Jambi,
Syucokan membawahi enam Bunsyu-co yaitu :

1. Bunsyu-co Bungo berkedudukan di Muara Bungo


2. Bunsyu-co Tebo berkedudukan di Muara Tebo
3. Bunsyu-co Tungkal berkedudukan di Kuala Tungkal
4. Bunsyu-co Tembesi berkedudukan di Muara Tembesi
5. Bunsyu-co Sarolangun berkedudukan di Sarolangun
6. Bunsyu-co Bangko berkedudukan di Bangko

Sedangkan Bunsyu-co Kerinci termasuk Sumatra Barat syu, maka


Bunsyu-co Kerinci berada dibawah Syu-Cokan Sumatra Barat.

Setiap Bunsyu-co sebagai pengganti kontelir, membawahi beberapa


demang yang disebut Gun-co. Kemudian Gun-co membawahi pula
Fuku gun-co. Aparat selanjutnya adalah marga di Jambi dan
mendapo di Kerinci.

Dalam pelaksanaan pemerintahan, Jepang mengganti semua orang


Belanda (Europese Bestuur Ambtenaren) dengan personal-personal
Jepang, sedangkan untuk jabatan gun-co ke bawah Jepang tetap
menggunakan tenaga-tenaga bumi putra. Karena pejabat-pejabat
Belanda sudah dicopot, sedangkan pejabat-pejabat Jepang tidak
paham berbahasa Indonesia, maka di kantor-kantor pejabat-pejabat
Indonesia pada realitasnya adalah wakil pejabat Jepang. Mereka
bekerja bersama Jepang tetapi saling mencurigai, dan oleh karena itu
suasana kegelisahan dan kekhawatiran meliputi pejabat-pejabat bumi
putra. Hal ini disebabkan karena sedikit kesalahan dan kelalaian
dapat berakibat fatal bagi mereka, sebab Jepang terkenal ganas

Sikap Jepang Terhadap Bangsa Indonesia

Sikap Jepang terhadap bangsa Indonesia banyak ditentukan oleh


keadaan perang dan segenap keperluan dan kebutuhan yang
berkaitan dengan perang itu yaitu Jepang memerlukan tenaga
manusia, bahan makanan, dan bahan-bahan vital keperluan perang
seperti minyak bumi.
Karena kebutuhan minyak bumi sangat diutamakan Jepang, maka
instalasi minyak di Kenali Asam, Tempino, dan Bajubang dapat
diperbaiki oleh Jepang. Karena bumi hangus yang kurang sempurna
sewaktu Belanda merenggutkannya.

Memang pada hari-hari permulaan datangnya tentara Jepang,


tindakan kejam terhadap rakyat tidak dilakukan oleh Jepang. Tetapi
lama-kelamaan, rakyat dipaksa untuk memenuhi kebutuhan perang
tentara Jepang, seperti menanam biji-biji jarak di pinggir jalan, dan
membuat lubang-lubang pertahanan. Pohon-pohon karet banyak
yang ditebang, rakyat diperintahkan untuk menanam padi, jagung, ubi
dan bahan pangan lainnya untuk keperluan Jepang, bahkan pangan
yang ada di tangan rakyat sekalipun harus diserahkan kepada
Jepang.

Dalam pada itu Jepang menghambur-hamburkan uang kertas Jepang


sebagai pengganti mata uang Belanda, akibatnya harga barang-
barang menjadi naik. Harga pangan di luar jangkauan daya beli
rakyat, apa lagi harga sandang.

Kemakmuran yang dijanjikan Jepang ternyata bagi rakyat Jambi


adalah kemiskinan dan kelaparan. Karena kemiskinan rakyat tak
dapat membeli sandang terutama pangan. Ketika ini rakyat banyak
yang memakai goni sebagai pakaian. Bahaya kelaparan sebagai
akibat tindakan dan sikap Jepang timbul di mana-mana, dan tidak
sedikit yang meninggal dunia. Orang yang meninggal dunia dikafani
dengan tikar.
Di samping itu Ken-pei-tai menyebarkan mata-mata dan kaki tangan
yang juga disebut Ken-pei-ho di mana-mana, penduduk yang dicurigai
ditangkap dan disiksa oleh Ken-pei-tai.

Kemudian tenaga rakyat juga dikerahkan untuk keperluan perang


Jepang. Romusya dan Kinrohosyi, paling ditakuti dan mengerikan
buat rakyat Jambi. Karena rakyat yang masuk Romusya dikerjakan
secara paksa dan dikirim ke Burma, sedangkan masuk Kinrohosyi
juga berarti ke luar daerah Jambi untuk bekerja secara paksa demi
kepentingan tentara Jepang, rakyat Jambi yang terkena Kinrohosyi
dipekerjakan membangun lapangan terbang di Palembang.

Selain Romusya dan Kinrohosyi, rakyat juga dikerahkan menjadi


Heiho, Gyu Gun, yakni pasukan militer yang diperbantukan pada
tentara Jepang, untuk pertahanan lokal, Jepang juga membentuk Sei-
nen-dan, Bo-go-dang, dan Jei-ge-dang, yang semuanya dipaksakan
kepada rakyat.

Adapun Hei Ho yakni pasukan militer yang akan bertugas membantu


tentara Jepang, terdiri atas dua angkatan. Angkatan pertama dididik
enam puluh orang pemuda daerah ini, dan dari angkatan pertama ini
tiga puluh orang lagi di Payakumbuh, angkatan kedua juga terdiri dari
enam puluh orang, dan dari angkatan kedua ini, tiga puluh orang
mendapatkan latihan Hei Ho, di Plaju, Palembang, dan selebihnya
mendapat latihan di Bengkulu.

Sedangkan latihan-latihan Gyu-gun, Sei-nen-da, Bo-Godang, Jei ge


dang dilakukan di Jambi. Pada hakikatnya Jepang, dengan adanya
latihan-latihan militer ini telah pula secara tidak sengaja membekali
rakyat daerah ini dengan pengetahuan militer.

Sikap Bangsa Indonesia Terhadap Jepang

Pada mulanya sikap bangsa Indonesia menerima dengan wajar dan


gembira kedatangan Jepang, namun setelah kekejaman fasis Jepang
yang menimbulkan kesengsaraan yang luar biasa maka timbullah
kembali hasrat akan memerdekakan Indonesia.

Pemuda rakyat yang sudah dilatih Jepang dalam Heiho, Gyu gun,
Sei-nen-dan, Bo-go-dang, Jei-ge-dang, turut merasakan penderitaan
rakyat dan penduduk sebagai akibat dari segala macam tindakan
pihak Jepang berupa penindasan, perkosaan, dan sebagainya
menjadi modal perlawanan atau pemberontakan di mana-mana
terhadap Jepang. Rakyat sebenarnya sudah mengadakan persiapan
secara diam-diam, kemudian secara terang-terangan. Dengan
demikian pemberontakan-pemberontakan yang ditujukan kepada
kekuasaan pemerintah militer Jepang dilakukan baik oleh rakyat
maupun oleh unit-unit bersenjata yang pernah mendapat latihan
Jepang maupun oleh kedua-duanya secara bersama-sama.
Perlawanan dan pemberontakan ini terjadi di antaranya di Muara
Bungo, Bajubang, dan sebagainya.

Kegiatan ini mencapai klimaks setelah tersiar kabar Jepang menyerah


kalah pada tanggal 14 Agustus 1945 yang diikuti dengan Proklamasi
Kemerdekaan oleh Sukarno-Hatta, pada tanggal 17 Agustus 1945.
Proklamasi diketahui oleh rakyat di daerah Jambi pada tanggal 18
Agustus 1945, melalui telepon dari A.K. Gani di Palembang.
Di Muara Bungo, pemuda-pemuda menyusun organisasi untuk
menjaga keamanan umum. Badan Penjaga Keamanan telah berdiri
sejak 16 Agustus 1945 diketuai oleh Haji Badaruddin Yahya
mengambil alih kekuasaan dari Jepang. Beberapa orang Jepang yang
menghalang-halangi digempur oleh pemuda. Harta benda dan
senjatanya diserahkan kepada negara. Persiapan minyak yang
disimpan Jepang untuk keperluan perangnya diambil alih dan
digunakan untuk kepentingan perjuangan kemerdekaan.

Di Kerinci perlawanan rakyat sesudah Proklamasi dilakukan karena


kebencian yang mendalam terhadap Jepang yang bertindak
sewenang-wenang selama pendudukan, dengan tekad untuk
merdeka dan berdaulat. Serangan rakyat dilakukan terhadap markas
Jepang di muka lapangan merdeka, Sungai Penuh. Para pemimpin
dari perlawanan rakyat Kerinci ini antara lain A. Thalib, KH. Adnan
Thaib, KH. Janan Thaib Bakri, H. Mukhtaruddin, dan H. Ridwan.

Di daerah-daerah lain di mana Jepang dengan suka rela


menyerahkan kekuasaannya tidak terdapat perlawanan atas
perebutan kekuasaan. Kalahnya Jepang dari sekutu dalam Perang
Asia Timur Raya membuka Pintu Kemerdekaan Indonesia yang
menjadi cita-cita Pergerakan Nasional Indonesia.

Jepang Masuk

Struktur dan aparat pemerintah Hindia-Belanda di daerah Jambi


seperti tersebut di atas, ketika Perang Dunia II, dan sebelum Perang
Asia Timur Raya meletus dihadapkan kepada kedua tantangan
kenyataan, yang timbul pada saat itu yakni ;
1. Kenyataan dari perkembangan pergerakan nasional di daerah.
2. Ancaman serbuan tentara Jepang ke daerah ini, yang di dahului
dengan propaganda-propagandanya menakutkan Belanda.

Jauh sebelum Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada


tanggal 8 Maret 1942 dalam perundingan di Kalijati, Bandung, tentara
selatan Jepang telah menguasai Singapura. Setelah menguasai
Singapure maka Jepang menempatkan Singapura sebagai pusat
tentara selatan (Nampo Gun) dibawah komando Jenderal Trauchi
Hisoichi.

Salah satu kesatuan bawahan tentara selatan adalah Tentara


Keenam Belas yang wilayah operasinya adalah daerah Hindia
Belanda. Komandan tentara Keenam Belas adalah Imamora Hitochi.
Tentara Keenam Belas terbagi ke dalam divisi dengan wilayah
operasinya masing-masing. Divisi ke-38 terdapat satu brigade yang
ditugaskan mendarat di Palembang dan sekitarnya termasuk daerah
Jambi.
Jepang masuk dan mulai menguasai Jambi pada tanggal 4 Maret
1942. Menurut penuturan masyarakat kehadiran Jepang di kota Jambi
lama sekali tidak ada perlawanan dari Belanda. Sebelum Palembang
jatuh ke tangan Jepang tanggal 14 Pebruari 1942, Belanda telah
meninggalkan kota Jambi menuju pulau Jawa (Batavia). Sedangkan
rakyat Jambi sendiri sebagai akibat penjajahan Belanda tidak lagi
memiliki institusi/ kelembagaan yang mampu menghimpun
perjuangan rakyat seperti zaman Sultan Thaha Syaifuddin, yang ada
adalah institusi pemerintahan adat yang dipegang oleh priayi dan
pegawai negeri (ambtenar). Keadaan inilah yang melapangkan jalan
masuknya tentara Jepang dapat dengan mudah mengambil alih
pemerintahan Hindia Belanda di Jambi. Namun demikian ada juga
perlawanan rakyat Jambi menentang tibanya Jepang. Peperangan
hebat terjadi di sekitar Pulau Musang. Tetapi karena memiliki
persenjataan yang kurang, maka perlawanan ini tidak berarti penting
karena itu dengan mudah dapat dipatahkan Jepang.

Setelah Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang, maka pihak


Jepang melakukan reorganisasi tentara selatan (Nampo Gun).
Jepang membentuk tiga Human Gun (tentara wilayah). Satu untuk
Birma, satu untuk Indonesia dan satu lagi untuk Malaya. Pasukan
Jepang di pulau Sumatra di bawah komando tentara Kedua Puluh
Lima. Pembagian wewenang terhadap wilayah Indonesia, dibagi
sebagai berikut ;

1. Angkatan darat oleh tentara Kedua Puluh Lima dan tentara


Keenam Belas yang punya wewenang atas pulau Sumatra dan
Jawa.
2. Angkatan laut oleh Armada Ketiga (Armada Wilayah Barat daya)
atau Nansei Human Kintai, punya wewenang atas pulau
Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Irian.

Kemudian Jepang setelah menguasai seluruh Wilayah Hindia


Belanda, maka pemerintahan Militer Jepang membagi Indonesia Ke
dalam 3 wilayah pemerintahan Militer yang berbeda yakni ;

1. Wilayah Sumatra dikuasai Angkatan Darat (Rikugun) oleh


Komando tentara Kedua Puluh Lima, pusatnya di Bukit Tinggi.
2. Wilayah Jawa dan Madura dikuasai oleh Angkatan Darat oleh
Komando tentara Keenam Belas, pusatnya di Jakarta.
3. Wilayah Kalimantan dan Indonesia Timur dikuasai oleh
Angkatan Laut (Kaigun) pusatnya di Makasar.

Masyarakat Jambi mungkin termasuk lebih dahulu mengetahui


kehadiran Jepang di Asia Tenggara, karena sifat dagangnya yang
banyak bepergian ke Singapura dan Malaya. Rakyat Jambi sama
seperti masyarakat lain di Indonesia tidak gelisah, tidak juga cemas,
dan juga tidak khawatir tentang kabar bahwa Jepang sebentar lagi
akan menguasai pulau Sumatra. Diakui bahwa rakyat Jambi ada
dendam kesumat terhadap Belanda dan ingin agar Belanda lari dari
Jambi. Terlebih lagi di tengah masyarakat berkembang pendapat
bahwa kehadiran Jepang tidak untuk menjajah, melainkan untuk
membebaskan saudara-saudaranya bangsa Asia dari belenggu
penjajahan bangsa Barat dan bersama-sama dengan Jepang
membentuk kemakmuran bersama di lingkungan Asia Timur Raya.

Sebelum tahun 1942 di tengah-tengah masyarakat Jambi memang


telah ada orang Jepang sebagai buruh, pedagang, petani, dan
membuka usaha perbengkelan. Mereka itu (orang Jepang) dalam
jumlah terbatas, umumnya kaum pria. Belanda mengakui keberadaan
mereka Jambi sebagai warga Timur Asing. Menurut cerita dari mulut
kemelut pada waktu tentara Jepang masuk ke Jambi ternyata masih
ada penduduk yang mengenali orang Jepang itu telah memakai
seragam militer.

Lain lagi dengan Belanda yang sangat cemas mendengar kabar


sebentar lagi Jepang akan tiba di Jambi. Kecemasan dan kegelisahan
Belanda ini ternyata mudah diketahui oleh rakyat Jambi, sebab
Belanda telah gelisah sedangkan rakyat hanya biasa saja. Dalam
suasana yang cemas, gelisah, dan khawatir itu maka Belanda masih
sempat menebarkan propaganda murahan kepada rakyat di desa-
desa, bahwa ;

1. Bahwa tentara Jepang itu sangat ganas terhadap kaum wanita.


2. Bahwa tentara Jepang suka merampas padi, beras, dan ternak
penduduk.

Ketakutan dan kecemasan Belanda menjelang tibanya Jepang di


Jambi adalah satu kenyataan yang logis. Selama Belanda berkuasa
di Indonesia, ternyata Belanda tidak membangun pasukan tempur
yang memiliki persenjataan lengkap. Tetapi Belanda hanya memiliki
pasukan kecil tentara dan kepolisian dalam negeri yang ditujukan
untuk menumpas pemberontakan oleh pejuang-pejuang pribumi.
Sedangkan Jepang memiliki segalanya yaitu pasukan tempur yang
hebat. Sebagai persiapan menunggu tibanya tentara Jepang, maka
Belanda memerintahkan rakyat Jambi untuk :

1. Rakyat di pedesaan diperintahkan agar masing-masing


membuat kebun ubi, jagung, pisang, sebagai persiapan bahan
makanan dalam menghadapi Jepang nantinya.
2. Rakyat di pedesaan diperintahkan agar masing-masing
membuat rumah talang di dalam kebun berjarak ± 3 km dari
desa, sebagai persiapan menyingkir bila Jepang masuk.
Pemerintahan Jepang
Pemerintahan militer Jepang di Jambi tidak banyak berbeda dengan
struktur pemerintahan Keresidenan Jambi yang dibentuk oleh
Belanda. Pemerintahan militer Jepang di Sumatra
disebut Gunsereikan yang kemudian di sebut Saiko Sikikan.
Pemerintahan diselenggarakan oleh kepala staf yang disebut
Gunseikan. Organisasi pemerintahan disebut Gunseibu yang
berpusat di Singapura. Azas pemerintahan militer Jepang adalah
dekonsentrasi. Bagan atau lembaga pemerintahan Jepang di daerah
Jambi adalah sebagai berikut

Lembaga Pemerintahan Jepang Di Jambi

BELANDA JEPANG

No ORGANISASI PEJABAT ORGANISASI PEJABAT

Rest en dan
Asistett residen
1 Keresidenan Jambi. (orang- Belanda). Jambi -Syuu. Syuucokan.

Afdeling (semacam Gontroleur Buu-Syuu Buusyuuco


2 kabupaten). (orang Belanda), (Kabupaten), (Pribumi).

Order afdeling Demang Gun-Syuu Guu-co


3 (semacam kawasan). (Pribumi). (Pribumi). (Pribumi).

Fukugunco
Distrik Adat Ander Asisten Demang Fukugun (Distrik (Pribumi)
4 Distrik. (Pribumi) Adat) KU (Marga) Kunco
Marga, (Pribumi)
Dusun/Mendapo Pasirah, Sanco
5 /Kampung Rio/Penghulu Son (Dusun) (Pribumi)

Dalam Pemerintahan militer, terpisah dengan pemerintahan sipil.


Kepolisian, Jambi-Syuu dikepalai oleh seorang Keimubuco, dijabat
oleh orang-orang Jepang. Di setiap gun dibentuk pula kepolisian
(Kaisatsu) yang dipimpin oleh orang, Jepang dengan pangkat
Kaisatsuco dan wakilnya adalah orang pribumi. Pemerintahan Jambi
Syuu dibantu penyelenggaraannya oleh kepala pemerintahan umum
(Somubuco), kepala perekonomian (Keizabuco), dan kepala
kepolisian (Keimubuco). Dikutip dari buku “Tentara Peta” karangan
Nugroho Notosusanto (1979), satu dokumen konferensi penghubung
antar markas besar kemaharajaan dan kabinet pada tanggal 20
November 1941, antara lain disebutkan sebagai berikut.

1. Sasaran pemerintahan-pemerintahan militer adalah


I. Memulihkan ketertiban umum.
II. Mempercepat penguasaan sumber-sumber yang vital bagi
pertahanan Nasional.
III. Menjamin berdikari di bidang ekonomi bagi personil militer.
IV. Status terakhir wilayah-wilayah yang diduduki dan
pengaturannya di masa depan akan ditentukan secara
terpisah.
V. Dalam pelaksanaan pemerintahan militer, organisasi-
organisasi pemerintahan yang ada akan dimanfaatkan
sebanyak mungkin dengan menghormati struktur
organisasi yang lampau dan kebiasaan-kebiasaan pribumi.
VI. Penduduk pribumi akan dibina sedemikian rupa sehingga
mempunyai kepercayaan kepada pasukan-pasukan
Kemaharajaan dan penggairahan secara prematur
daripada gerakan-gerakan kemerdekaan pribumi harus
dihindari.
Untuk menghadapi perang, Asia Timur Raya melawan sekutu, maka
kebijaksanaan Jepang terhadap wilayah pendudukan bermuara
kepada pemenangan perang. Sehingga wilayah pendudukan
dieksploitasi– sedemikian agar mendukung perang melawan sekutu.
Semua potensi sosial, ekonomi, budaya, kepercayaan, lembaga dan
potensi lainnya dimanfaatkan Jepang untuk kepentingan militer.
Pemerintahan militer Jepang memanfaatkan tenaga pribumi untuk
duduk dalam pemerintahan sipil. Dalam buku sejarah pemerintahan
daerah tingkat I Jambi (belum diterbitkan). Jepang mengikutsertakan
penduduk Jambi untuk duduk dalam pemerintahan antara lain
sebagai berikut ;
1. St. Sulaiman sebagai Gunco Sarolangun.
2. R. Supirman, sebagai Gunco Bangko.
3. Kiagus M. Amin, sebagai Gunco Muara Bungo.
4. R. Syahbuddin sebagai Gunco Muara Tebo.
5. Zainal Basri, sebagai Gunco Muara Tungkal.
6. M. Bahsan Siagian, sebagai Gunco Kuala Tungkal.
7. Sutan Parendangan, sebagai Gunco Jambi.
8. Teuku Muhammad Insya, sebagai Wakil Keimbuco dengan
pangkat kepolisian, Keisyi.
9. Manaf, sebagai Staf Keimubuco dengan pangkat kepolisian
Keibu.
10. Latif, sebagai staf Keisatsuco dengan pangkat kepolisian
Kaibuho.
11. Jahari, sebagai wakil Keisatsuco Soralangun gun dengan
pangkat kepolisian Keibu.
12. R. Syarif, sebagai wakil Kaisatsuco Muara Bungo gun
dengan pangkat polisi Keibu.
13. M. Kuris, sebagai wakil Kaisatsuco Muara Tebo gun
dengan pangkat kepolisian Kaibuho.
14. Darwis, sebagai wakil Keisatsuco Muara Tembesi gun
dengan pangkat kepolisian Keibuho.
15. Supardjo, sebagai Keisatsuco Kuala Tungkal gun dengan
pangkat kepolisian Keibuho.
16. Hasan St. Palindih, sebagai wakil Keisatsuco Kuala
Tungkal gun dengan pangkat kepolisian Keibu.

Untuk merekrut tenaga kerja / pegawai pemerintahan yang memenuhi


persyaratan, maka Jepang mendirikan sekolah khusus/semacam
kursus dinas C, yakni Samarora Koa Kurensho di Batu Sangkar.
Alumni sekolah ini dipersiapkan Jepang untuk menjadi kader
pemimpin pemerintahan/pegawai negeri yang disebut Katsuri, dengan
pangkat Kuco, setingkat camat. Belum diketahui berapa jumlah
pemuda Jambi yang mendapat pendidikan di sekolah ini.

Latihan Militer

Pada masa pemerintahan Belanda, memang ada putra Jambi yang


direkrut oleh Belanda di bidang ketentaraan yakni dalam dinas
Marsose. Jumlahnya sangat terbatas yang bertujuan untuk pecah-
belah dalam menghadapi perlawanan rakyat. Tetapi Jepang dalam
memberikan latihan militer kepada pribumi bertujuan lain dari
Belanda, yakni untuk mobilisasi pemuda-pemuda dalam perang
melawan sekutu. Di pulau Sumatra, termasuk Jambi maka Jepang
menghimpun pemuda dalam latihan militer seperti Gyugun (Tenaga
sukarela), Kaygun (Angkatan Laut), Heiho (Pembantu Prajurit),
Kempeitai (Polisi Militer), Seinendan (Barisan Pemuda), Keibodan
(Barisan Pemuda Polisi), Jibakutai (Barisan Berani Mati), Romusha
(Pekerja Paksa), dll. Berikut ini nama-nama pemuda Jambi ang
direkrut jepang untuk menjadi Gyu-gun, Heiho atau pembantu prajurit,
Kaygun atau angkatan laut, kepolisian, dan Kempetai adalah sebagai
berikut ;

1. Pemuda Jambi dikirim ke Pagar Alam untuk ikut latihan militer


Gyu-gun selama 3-4 bulan. Mereka yang mendapat latihan
militer Nanbu Sumatora Gyukanbu Kohose antara lain adalah
sebagai berikut ;

1)        Abunjani, pangkat Shoi.

2)        Ahmad Marzuki, pangkat Shoi.

3)        Haji Ibrahim, pangkat Yun-i.

4)        Zainal Riva’i, pangkat Shoi.


5)        Switar Mahyuddin, pangkat Shoi.

6)        Mahyuddin, pangkat Shoi.

7)        lsmail Ripin, pangkat Shoi.

8)        M. Thaib RH, pangkat Soco.

9)      Buyung Malik, pangkat Soco.

10)    H. Teguh, pangkat Suco.

11)    Ramli Umar, pangkat Suco.

12)    R.A. Rahman Kadipan, pangkat Soco.

13)    R.A. Rahman, pangkat Gunsho.

14)    Darham, pangkat Soco.

15)    Mahidin, pangkat Soco.

16)    Ismail Malik, pangkat Gunsho.

17)    Lebai Hasan, pangkat Gunsho.

18)    Said Abdullah, pangkat Gunsho.

19)    Yusup AB, pangkat Gunsho.


20)    A. Somad Gerak, pangkat Gunsho.

21)    A. Thatib, pangkat Gunsho.

22)    M. Thaher, pangkat Gunsho.

23)    Sulaiman Effendi, pangkat Gunshp.

24)    Abu Kasim, pangkat Suco.

25)    Yusuf Didong, pangkat Suco.

26)    A. Rachman Mersam, pangkat Gunsho.

27)    M. Kukoh, pangkat Gunsho.

28)    Jupri, pangkat Gunsho.

29)    Ahmad Pulau Temiang, pangkat Gunsho.

30)    H. Suud, pangkat Gunsho.

31)    Mauti, pangkat Gunsho.

32)    Yakub, pangkat Gunsho.

33)    Zainal, pangkat Gunsho.

34)    M. Amin Mangku, pangkat Gunsho.


35)    M. Noer, pangkat Soco.

36)    A. Khatab, pangkat Gunsho.

37)    Mentadi, pangkat Gunsho.

1. Pemuda-pemuda Jambi yang direkrut Jepang menjadi Heiho


atau Pembantu Prajurit antara lain sebagai berikut ;
I. Laisa.
II. Yakup A.
III. Muhammad Jiha.
IV. Yakup Yaman.
V. Arif.
VI. Hasan.
VII. Mahmud.
VIII. Ismail Yamin.
IX. Syukur Pidin.
i. Mat Itik.
ii. Zainal Barhan.
iii. Dan lain-lainnya yang belum disebut urutannya.
iv. Sedang pemuda Jambi yang mendapat latihan
angkatan laut atau Kaygun antara lain adalah
sebagai berikut

 
1)         M. Syukur.

2)         Zakir.

3)         Daud Hasan.

1. Pemuda Jambi yang ikut latihan kepolisian antara lain adalah


sebagai berikut.

1)         Ibrahim Syamsir

2)         Abdul Muluk.

3)         Hamid.

4)         Abu Hasan.

5)         M. Yutar

6)         Kandung.

1. Pemuda Jambi yang mendapat latihan Kempetai di Plaju/Sungai


Gerong, Palembang, antara lain adalah Hoesein Saad.

Kalau di Jawa ada Pembela Tanah Air (PETA) maka di Sumatera,


termasuk Jambi ada pula Gyugun dan Heiho yang fungsi dan
peranannya sama dengan PETA. Perwira dari Gyugun dan Heiho ini
memiliki jenjang kepangkatan sebagai berikut.

1)   Buutaicho (Regu)


2)   Shotaicho (Seksi)

3)   Chutaico (Kompi)

4)   Butaicho (Batalyon)

5)   Rentaicho (Devisi)

6)   Daitaicho (Resimen)

Sedangkan kepangkatan dan struktur Seinendan adalah sebagai


berikut.

1)      Dancho (Komandan)

2)      Fukudancho (Wakil komandan)

3)      Komon (Penasehat)

4)      Sanyo (Anggota)

5)      Kanji (Administrasi).

Sosial Keagamaan

Dengan maksud ingin merangkul umat Islam, maka pemerintahan


militer Jepang melalui departemen urusan agama (Shumobu) tidak
menghalangi kegiatan organisasi Islam. Madjlisoel Islamil A’laa
Indonesia (MIAI), Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) tidak
dibubarkan. Bahkan Jepang ikut juga mendorong berdirinya
organisasi Islam yakni Masyoemi ? (Madjelis Syoero Muslimin
Indonesia) pada bulan November 1942. Kemudian Jepang
membubarkan organisasi MIAI.

Para ulama Jambi dari setiap gun diambil satu orang untuk berangkat
ke Singapore. Mereka dikumpulkan dalam satu seminar mengenai
Islam oleh pusat penerangan dari Dai Nippon. Selesai di indoktrinasi
para ulama Jambi diberikan sebuah lencana dan diberi kewajiban
menyampaikan hasil pertemuan kepada rakyat bahwa tentara Jepang
menghormati perkembangan agama Islam di Indonesia. Para ulama
di daerah Jambi pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, mereka
menghimpun dirinya ke dalam partai politik yakni Partai Masyoemi.
Para pemuka agama atau ulama ikut menggalang semangat juang
melawan Belanda pada masa agresi militer I dan II.
Kerja Paksa
Di daerah Jambi, rakyat dikenakan wajib bakti atau kerja paksa. Di
pulau Jawa dan tempat lain mungkin namanya Romusya, tapi di
Jambi kerja paksa ini disebut Kendoroshiatau umumnya disebut Kuli
Palembang.

Mula-mula rakyat dipaksa mengerjakan atau bergotong-royong.


membuat lapangan terbang di Sarolangun, dan jalan jalan yang ada
di Jambi. Tapi kemudian dipaksa bekerja ke Palembang untuk
membuat jalan dan lapangan terbang.

Di kota Palembang arah ke pasar 16, dekat dengan jembatan Ampera


(sekarang) terdapat sebuah jalan yang disebut jalan Tengkuruk.
Menurut penuturan masyarakat tengkuruk itu adalah tumpukan
tengkorak pekerja paksa. Di sana pekerja paksa kalaupun bisa pulang
kembali ke Jambi tidak ubahnya buntang bernyawa. Badan tinggal
hanya kulit berkeriput membalut tulang, penuh koreng, kuman, dan
borok, dalam keadaan 90% bertelanjang, napas bagaikan nyawa
ikan, sulit diajak berbicara, wajah sulit untuk dikenali karena kurusnya.
Dari Jambi yang diberangkatkan hanya 50% saja yang dapat kembali
lagi ke Jambi. Gambaran pekerja paksa ini diambil dari Buku Jambi
Dalam Sejarah Karangan Mukti Nazruddin (1989).
Jambi (ANTARA News) - Warga Desa Koto Baru Hiang,
Kecamatan Sitinjau Laut, Kabupaten Kerinci, melaporkan
telah menemukan brankas harta karun berisi uang kuno
zaman Jepang, kata Kepala Desa Koto Baru Hiang
Ahmad Nasril.

"Memang benar ada penemuan brankas kuno berisi


tumpukan uang zaman Jepang di desa kami tepatnya di
Koto Baru Hiang," ucap Kades Koto Baru Hiang Ahmad
Nasril, di Kerinci, Jumat.

Dian mengatakan, tumpukan uang kuno diduga


peninggalan zaman Jepang tersebut berada dalam
brankas kuno terbuat dari besi yang sudah berkarat,
ditemukan warga di dalam kantor kepala desa saat
mereka melakukan rehab kantor tersebut.

"Brankas itu sebenarnya sudah lama terletak begitu saja


di dalam salah satu ruangan kantor kepala desa. Namun
selama ini tidak ada yang berani mengambilnya karena
warga menganggap ruangan tersebut angker, apalagi
ruangannya sangat gelap," terang Nasril.

Namun saat kantor tersebut akan dilakukan rehab karena


kondisi kantor yang sudah tua itu mau tidak mau brankas
tua terlihat jelas ruang itu termasuk salah satu yang harus
diperbaiki mengingat sebagian atap ruang sudah jebol
sehingga cahaya masuk ke ruangan. 

"Warga yang melihat ada brankas, mencoba masuk dan


mengambil brankas tersebut. Setelah brankas dibuka
ternyata berisi tumpukan uang zaman Jepang dan
beberapa berkas yang tulisannya masih menggunakan
ejaan bahasa Indonesia lama," papar Kades.

Namun sayangnya, saat ditemukan kondisi uang dan


berkas tersebut sudah dalam keadaan rusak dimakan
usia. Apalagi brankas tersebut sudah tersiram air hujan
karena atap yang jebol. 

Dikatakan Kades, saat ini uang kuno temuan warga


tersebut untuk sementara waktu disimpan di rumah untuk
selanjutnya dilaporkan kepada Pemkab Kerinci untuk
disimpan lebih lanjut. 

Lebih jauh dia juga memaparkan, bukti kuat kalau uang


tersebut adalah peninggalan masa pendudukan
penjajahan Jepang di Indonesia adalah ditemukannya
beberapa data tertulis tentang tahun keberadaan uang
tersebut.

"Pada uang kuno yang ditemukan tersebut terdapat


tulisan `De Japansch Regeering Betaalt Toonder Half
Gulden`. Sementara Pada uang itu tidak dicantumkan
tahun pencetakannya," ungkapnya.

Sementara pada berkas-berkas yang masih terbaca,


ditemukan berita acara tentang pembayaran iuran pajak
ternak yang berbunyi `Maklumat Residen Sumatera
Barat, 1 Djuli 1947, no: 17/1947 tentang pajak ternak`.
"Berkas ini membuktikan betapa patuhnya warga Kerinci
pada zaman dulu membayar pajak, meskipun itu kepada
pemerintaah penjajah," kata Nasril.

Karena itulah uang kuno dan berkas itu diduga kuat


merupakan peninggalan zaman penjajahan Jepang atau
Belanda mengingat pada tahun itu adalah masa-masa
transisi antara pemerintahan Jepang ke RI dan awal
kembali bercokolnya Belanda yang kembali ingin
menjajah RI, apalagi mengingat gedung tempat
ditemukannya brankas adalah bangunan tua peninggalan
zaman penjajahan dulu.

"Setelah terakhir kali sempat dipakai oleh Belanda,


gedung tersebut sempat menjadi kantor `kemendapoan`
yakni sistem pemerintahan berdasarkan adat di Kerinci
dan akhirnya sekarang dijadikan kantor Kepala Desa Koto
Baru Hiang," katanya. 

Namun lebih jauh, Nasril menyayangkan dirinya tidak bisa


menghitung berapa jumlah total uang kuno yang
tersimpan dalam brankas tersebut karena kondisinya
yang sudah tidak bisa dihitung karena kerusakan berat.

"Tidak bisa kita hitung karena kondisi uangnya yang


umumnya terbuat dari kertas itu telah rusak dan yang
tersisa utuh sangat rentan sobek karena kondisi
kertasnya yang sudah tidak lagi kuat. Yang jelas ini
adalah temuan yang luar biasa jika kita kaitkan dengan
momentum HUT RI yang sebentar lagi kita rayakan, ini
bukti jejak sejarah perjuangan rakyat di Kerinci semasa
melawan penjajah dulu," tegasnya.