Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM IV

OSEANOGRAFI KIMIA

PENENTUAN KADAR NITRAT DALAM AIR LAUT DI PERAIRAN


PELABUHAN PAOTERE

OLEH

NAMA : ARDIANSYAH ACHMAD

NIM : L011181351

KEL/GEL : 1 C / RABU

ASISTEN : ADE WIRA RYANTIKA

LABORATORIUM OSEANOGRAFI KIMIA


DEPARTEMEN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2020
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Nitrogen adalah unsur kimia non logam yang mempunyai bilangan atom 14 dan
setiap atomnya memiliki lima elektron valensi. Di alam, unsur nitrogen terdapat baik di
udara, laut maupun darat dan menjadi salah satu unsur yang paling banyak di alam
semesta. Selain dalam bentuk gas, unsur ini dapat ditemukan sebagai bentuk
persenyawaan atau terikat dengan unsur lainnya dan membentuk senyawa baru yang
mempunyai sifat yang berbeda dengan unsur semula (Susana, 2004).

Nitrat (NO3) merupakan hasil akhir dari proses oksidasi nitrogen dalam air laut.
Senyawa ini merupakan pengontrol produktivitas primer pada beberapa perairan laut
utamanya pada lapisan fotik. Kadar nitrat dipengaruhi oleh peristiwa masuknya nitrat
ke perairan laut, oksidasi amoniak oleh mikroorganisme dan uptake nitrat oleh proses
fotosintesis produktivitas primer. Penentuan kadar nitrat dalam perairan sangat sesuai
dengan metode Bruchine. Metode Bruchine sangat sesuai untuk sampel air yang kadar
nitrat-nitrogennya 0.1-2 ppm (Mariyam, 2007; Koesoebiono, 1980).

Bentuk senyawa nitrogen dalam perairan terdiri dari nitrat (NO3), nitrit (NO2) dan
amoniak (NH3). Kondisi keseimbangan bentuk ini dipengaruhi oleh keberadaan
kandungan oksigen. Pada kondisi kandungan oksigen rendah keseimbangan
mengarah ke amoniak, sedangkan padakadar oksigen tinggi keseimbangan mengarah
ke nitrat (Koesoebiono, 1980).

Kandungan nitrat di laut sangat penting dalam menunjang keutuhan ekosistem


perairan. Hal itu terjadi karena nitrat merupakan unsur yang digunakan dalam proses
fotosintesis dan merupakan unsur yang digunakan untuk pertumbuhan fitoplankton.
Kadar nitrat yang banyak dalam suatu perairan dapat dikatakan bagus atau subur
karena dengan nitrat maka fitoplankton akan banyak disuatu perairan sehingga akan
terjadi proses fotosintesis dimana menghasilkan O2 yang sangat dibutuhkan bagi
organisme laut. Tetapi dengan kelebihan kadar nitrat dalam perairan maka dapat
mengakibatkan dampak buruk bagi organisme (Hutagalung et al, 1997).

Oleh karena itu, praktikum penentuan konsentrasi nitrat di pelabuhan paotere


perlu dilakukan untuk menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa dalam
menentukan nilai nutrien perairan (nitrat) serta mengklasifikasikan tingkat pencemaran
berdasarkan nilai konsentrasi nitrat yang didapatkan.
B. Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dari praktikum ini yaitu menentukan kandungan nitrat (NO3) dalam air
laut yg berada disekitar perairan pelabuhan paotere.

Kegunaan dari praktikum ini yaitu mahasiswa dapat mengetahui kadar nitrat
yang terkandung di perairan palabuhan paotere dan dapat melakukan penentuan
kadar nitrat dalam air laut menggunakan metode bruchine.

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup pada praktikum ini mencakup pengambilan sampel di lapangan,


pengukuran dan analisis kandungan kadar nitrat dalam air laut menggunakan metode
Bruchine.
II. PENDAHULUAN

A. Pengertian Nitrat

Nitrat (NO3) merupakan salah satu zat hara yang dibutuhkan sebagai nutrisi bagi
biota laut utamanya produsen dan merupakan salah satu senyawa kimia yang terdapat
dalam air laut. Keberadaan senyawa nitrogen tersebut sangat dibutuhkan untuk
pembentukan protoplasma. Senyawa nitrogen tersebut dimanfaatkan utamanya oleh
alga, lamun dan fitoplankton (Susana, 2004).

Nitrat merupakan ion dari senyawa-senyawa Nitrogen anorganik utama didalam


perairan. Sumber utama Nitrogen dalam bentuk gas dan molekul N2 dan ditemukan
dalam beberapa proses fisika (pelapukan, vulkanik, dll) dapat merubah molekul
Nitrogen. Nitrogen dalam bentuk bebas harus diubah terlebih dahulu oleh jenis
tanaman dan mikroorganisme tertentu yang jumlahnya terbatas agar menjadi bentuk
Amoniak (NH3). Amoniak tersebut kemudian diubah oleh bakteri autotrof menjadi ion
Nitrit (NO2), dan diubah kembali menjadi ion NItrat (NO3) (Koesoebiono, 1980).

Secara alami konsentrasi nitrogen-nitrat dalam air laut hanya beberapa mg/L.
Senyawa ini merupakan salah satu senyawa yang berfungsi dalam merangsang
pertumbuhan biomassa laut, sehingga secara langsung dapat mengontrol
perkembangan produksi primer. Oleh sebab itu konsentrasi nitrat yang berlimpah
dalam air laut berhubungan erat dengan kesuburan suatu perairan, terkait dengan
tingginya konsentrasi oksigen terlarut. Konsentrasi nitrat terdapat dalam jumlah yang
cukup tinggi di wilayah permukaan, kecuali pada saat fitoplankton melimpah dalam
badan air. Konsentrasi nitrat dan nitrit di permukaan air yang normal masing-masing
sebesar 0-4 mg/L dan 0 - 0,01 mg/L (Susana, 2004)

Pengaruh kelimpahan nitrat yang tidak dapat terkendalikan di perairan laut yang
terakses oleh manusia. Aktivitas manusia akan mengganggu ekosistem perairan,
seperti kondisi eutrofikasi. Fenomena eutrofikasi di perairan laut sering terjadi di
daerah pantai yang secara langsung dipengaruhi oleh adanya penyebaran nitrat dari
darat (Susana, 2004).

B. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Nitrat

1. Faktor Fisika

Faktor hidro-oseanografi seperti arus laut memberikan pengaruh langsung


terhadap pola penyebaran nitrat di perairan. Hal ini disebabkan sirkulasi arus laut
dapat mendistribusi nitrat dari satu tempat ke tempat lainnya. Pada saat pasang, arus
akan mentransformasikan massa air laut dari laut lepas menuju pantai. Adapun pada
saat surut, arus akan mentransformasikan massa air laut dari pantai menuju laut lepas.
Dengan adanya hal tersebut, maka limbah-limbah yang berasal dari daratan yang
terbawa oleh aliran air sungai ketika sampai di muara sungai akan menyebar ke
berbagai arah (Utami et al, 2016).

2. Faktor Kimia

Dalam kondisi dimana konsentrasi oksigen terlarut sangat rendah terjadi proses
kebalikan dari nitrifikasi yaitu proses denitrifikasi dimana nitrat melalui nitrit akan
menghasilkan nitrogen bebas yang akhirnya akan lepas ke udara atau dapat juga
kembali membentuk ammonium/amoniak melalui proses fikasialtrat. Rendahnya
konsentrasi oksigen terlarut tersebut disebabkan oleh pencemaran limbah berupa
logam yang dapat mengikat oksigen, serta limbah lain yang dapat menghalangi proses
fotosintersis. Apabila konsentrasi oksigen terlarut cukup memadai, bakteri dapat
melakukan proses nitrifikasi sehingga konsentrasi nitrat di perairan dapat meningkat.
Berbeda dalam proses dinitrifikasi yang prosesnya tidak maksimal jika terdapat
kandungan oksigen terlarut (Dahuri, 2001).

3. Faktor Biologi

Amonia berada dalam air karena pemupukan kotoran biota budidaya dan hasil
kegiatan jasad renik didalam pembusukan bahan organik yang kaya akan nitrogen
(protein). Senyawa asam ini dapat digunakan oleh fitoplankton dan tumbuhan air
setelah diubah menjadi nitrit dan nitrat oleh bakteri dalam proses nitrifikasi. (Kordi,
2009).

C. Standar Baku Mutu Nitrat

Standar baku mutu air laut diatur dalam Keputusan Mentri Lingkungan Hidup.
No.51. Tahun 2004. Tentang baku mutu air laut, pasal 2 yang berbunyi “Penetapan
Baku Mutu Air Laut ini meliputi Baku Mutu Air Laut untuk Perairan Pelabuhan, Wisata
Bahari dan Biota Laut.” (Kepmen LH. No. 51)

Adapun tabel baku mutu perairan berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan


Hidup. No.51 adalah sebagai berikut:
1. Tabel Baku Mutu Air Laut Untuk Perairan Pelabuhan 
Jika konsentrasi Nitrat dalam air melebihi batas yang dibutuhkan untuk
kehidupan biota, maka air tersebut dikategorikan sebagai air tercemar jika
konsentrasinya melebihi 0.008 mg/L. (Kepmen LH. No. 51)

Tabel .1 Baku Mutu Air Laut di Pelabuhan

2. Tabel Baku Mutu Air Laut Untuk Wisata Bahari

Jika konsentrasi Nitrat dalam air melebihi batas yang dibutuhkan untuk
kehidupan biota, maka air tersebut dikategorikan sebagai air tercemar jika
konsentrasinya melebihi 0.008 mg/L. (Kepmen LH. No. 51).
Tabel. 2 Baku Mutu Air Laut di Wisata Bahari
3. Tabel Baku Mutu Air Laut Untuk Biota Laut

Jika konsentrasi Nitrat dalam air melebihi batas yang dibutuhkan untuk
kehidupan biota, maka air tersebut dikategorikan sebagai air tercemar jika
konsentrasinya melebihi 0.008 mg/L. (Kepmen LH. No. 51)

Tabel. 3 Baku Mutu Air Laut di Biota Laut


D. Sumber Nitrat di Perairan

1. Siklus Nitrogen

Menurut Latif (2003) nitrogen yang terdapat dalam molekul-molekul protein


dalam organisme yang telah mati akan diuraikan menjadi bentuk-bentuk nitrogen
anorganik. Proses kimia ini dilakukan oleh serangkaian organisme pengurai
(decomposer), terutama bakteri pembentuk nitrat. Hasilnya berupa zat hara nitrat yang
merupakan bentuk nitrogen anorganik siap pakai yang dikonsumsi oleh tumbuhan
seperti plankton dan algae, dan lamun.

2. Limbah Industri

Keberadaan senyawa nitrogen dalam air laut ada yang secara alami berasal dari

dalam lingkungan (Autoctonous), dapat juga berasal dari beberapa sumber


pembuangan yang mengalir ke dalam laut atau berasal dari luar libgkungan
(Alloctonous). Beberapa sumber nitrogen tersebut di antaranya adalah limbah industri,
limbah pertanian, bahan kimia, tekstil, kulit, makanan dan kehutanan. Masing-masing
industri mengalirkan buangannya ke dalam perairan dengan variasi bentuk dan
konsentrasi senyawa nitrogen yang berbeda. Bentuk buangan senyawa nitrogen dari
masing-masing industri tersebut pada mulanya bukan merupakan senyawa kimia
berbahaya, karena bentuknya masing-masing spesifik untuk jenis buangan industri
tertentu. Namun, setelah sampai di perairan akan bergabung dan terikat dengan
buangan senyawa kimia tetentu yang berasal dari industri lainnya sehingga akan
bereaksi membentuk senyawa kimia baru yang berbahaya bagi kehidupan organisme
di perairan (Susana, 2004).

E. Distribusi Nitrat Berdasarkan Waktu Musiman

Konsentrasi nitrat pada saat kondisi surut memiliki nilai yang lebih tinggi
dibandingkan dengan kondisi saat pasang. Hal ini disebabkan karena kondisi surut
akan membawa massa air laut dari perairan dekat pantai menuju ke laut lepas,
sehingga massa air laut berkurang dan limbah organik yang terbawa oleh aliran sungai
akan menjadi lebih besar (Purwadi et al., 2016).

Berdasarkan penelitian Rahayu et al 2018 tentang distribusi nitrat dan fosfat


secara spasial dan temporal, didapatkan hasil yaitu nilai rata-rata konsentrasi nitrat dari
bulan Desember 2016 hingga Februari 2017 menunjukkan nilai terendah hingga
tertinggi berturut yaitu bulan Januari 2017, Desember 2016 dan Februari 2017.
Konsentrasi nitrat yang tinggi pada bulan Februari 2017 dikarenakan tingginya curah
hujan pada bulan ini yaitu 22,02 mm/hari berbeda dengan bulan Januari 2017 yang
disebabkan oleh curah hujan yang rendah yaitu 11,42 mm/hari (Rahayu et al, 2018).

F. Di
st
ri
b
u
si

Gambar 1. Distribusi Nitrat Berdasarkan Musim

Nitrat secara Vertikal dan Horizontal

Konsentrasi nitrat rata-rata lebih tinggi di dasar perairan dibanding dengan di


lapisan permukaan. Kecenderungan ini diperkuat oleh pendapat Hutagalung dan
Rozak (1997) menyatakan bahwa kadar nitrat semakin tinggi bila kedalaman
bertambah, sedangkan untuk distribusi horisontal kadar nitrat semakin tinggi menuju
ke arah pantai. Konsentrasi nitrat di daerh muara sangat tinggi, hal tersebut
dikarenakan pasokan limbah yang berasal dari darat. Konsentrasi nitrat ini semakin ke
laut lepas semakin berkurang karena digunakan oleh organisme autotrof dalam proses
fotosintesis. Sama halnya dengan distribusi vertical, dimana konsentrasi nitrat rendah
di permukaan air karena dipermukaan air banyak terdapat fitoplankton yang
melakukan proses fotosintesis. (Fonny, 2011)

Gambar 2. Distribusi vertikal Nitrat


III. METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Prinsip Analisis
Metode yang digunakan pada praktikum ini yaitu metode bruchine. Metode
bruchine sangat sesuai untuk sampel air yang kadar nitrat-nitrogennya 0.1-2 ppm.
Reaksi bruchine dengan nitrat akan membentuk senyawa yang berwarna kuning,
kecepatan reaksi dipengaruhi oleh tingkat panas larutan. Pemanasan larutan dilakukan
dengan penambahan pereaksi bruchine dan asam sulfat pekat

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini, yaitu Spektrofotometer berfungsi


sebagai alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi, tabung reaksi
berfungsi untuk mengomogenkan, menampung dan memanaskan bahan-bahan kimia
cair atau padat, rak tabung berfungsi sebagai tempat penyimpanan tabung reaksi,
pipet skala berfungsi untuk memindahkan suatu volume cairan dari satu tempat ke
tempat yang lain, corong berfungsi sebagai alat bantu untuk memindah atau
memasukkan larutan ke wadah yang mempunyai dimensi pemasukkan sampel bahan
kecil dan untuk menyaring campuran kimia, erlenmeyer digunakan untuk mengukur,
mencapur dan menyimpan cairan, .

Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu air laut sebagai sampel, larutan
asam sulfat (H2SO4) pekat sebagai pengukur kadar nitrat dan mengurangi serta
menghilangkan endapan dalam larutan, larutan bruchine sebagai larutan indikator,
label untuk menandai tabung reaksi, tissue untuk mengeringkan peralatan, kertas
saring whatman digunkan untuk memisahkan antara cairan dengan partikel
tersuspensi.

C. Prosedur Kerja

Menyaring 25-50 ml air sample menggunakan kertas saring Whatman no. 42


atau yang setara. Mengambil 2,0 ml air sample yang telah disaring menggunakan pipet
tetes, masukkan ke dalam tabung reaksi. Menambahkan 10 tetes larutan brucine.
Menambahkan 2 ml asam sulfat pekat, kemudian menghomogenkan larutan, kemudian
mendinginkan larutan. Mengukur kadar Nitrat dengan menggunakan Spektrofotometer
DREL 2800 dalam satuan mg/L pada panjang gelombang 420 nm. Mencatat nilai Nitrat
yg tertera di layar Spektrofotometer DREL 2800, dan mencatat panjang
gelombangnya, kemudian datanya dianalisis.
F. Analisis Data

Dalam menentukan kadar nitrat dalam air laut dihitung dengan persamaan
sebagai berikut:

y−a
NO3 dalam mg/L = b

Dimana :
y = Nilai sampel (nilai ulangan)
a = Nilai absorbansi
b = Nilai aquades
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel
Tabel. 1. Hasil
4 Data HasilPenentuan
Analisis Kadar Nitrat

ULANGAN HASIL

I 0.0891 mg/L
II 0.1091 mg/L
III 0.1440 mg/L
Nilai rata-rata NO3 0.1140 mg/L

B. Pembahasan

Pada praktikum ini dilakukan penentuan kadar nitrat menggunakan alat


spektofotmeter, dengan metode bruchine yang cocok untuk sampel air yang kadar
nitrat-nitrogen 0.1-2 ppm. Berdasarkan metode yang digunakan, diperoleh hasil kadar
nitrat dalam sampel air yaitu pada ulangan pertama sebesar 0.0891 mg/L, pada
ulangan kedua diperoleh hasil sebesar 0.1091 mg/L, pada ulangan ketiga diperoleh
hasil sebesar 0.1440 mg/L.

Menurut Keputusan KLH (2004) tentang baku mutu air laut untuk biota laut,
kadar nitrat yang baik buat biota laut sebesar 0.008 mg/L, sedangkan kadar nitrat rata-
rata yang di peroleh pada perairan Pelabuhan Paotere Makassar sebesar 0.1140mg/L.
Perairan tersebut memiliki kadar nitrat yang lebih tinggi dibandingkan standar baku
mutu yang telah ditetapkan KLH, konsetrasi nitrat yang diperoleh lebih tinggi
disebabkan karena banyaknya limbah yang masuk kedalam perairan. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Susana (2004) bahwa sumber nitrat dapat juga berasal dari
beberapa sumber pembuangan yang mengalir ke dalam laut. Beberapa sumber
nitrogen tersebut di antaranya adalah industri-industri pertanian, kimia, tekstil, kulit,
makanan dan kehutanan. Nilai nitrat yang begitu tinggi mengindikasikan bahwa
perairan di pelabuhan paotere tercemar.
V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil Praktikum Penentuan Kadar Nitrat dalam Air Laut dapat
disimpulkan bahwa penentuan kadar nitrat dalam air laut dapat dilakukan dengan
metode brucine menggunakan larutan Asam Sulfat Pekat (H2SO4) dan alat
spektofotometer.

Hasil yang diperoleh dari praktikum ini yaitu 0.1140 mg/L. Dari hasil tersebut
Kadar nitrat diperairan Pelabuhan Paotere Makassar yang didapatkan dari ketiga
ulangan tersebut menunjukkan nilai dengan kadar nitrat yang dan melebihi standar
batu muku yang telah ditetapkan. Hal tersebut terjadi karena adanya beberapa faktor
yang mempengaruhi kadar nitrat dalam perairan, salah satunya adalah pencemaran
akibat aktivitas manusia.

B. Saran
Sebaiknya dalam menampilkan video kualitas pengambilan audio lebih
ditingkatkan agar praktikan lebih bisa memahami proses praktikum tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Dahuri, 2001. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu.

Pradnya Paramita : Jakarta.


Fonny, J.L dan Hanif Budi. 2011. Kajian Zat Hara Fosfat, Nitrit, Nitrat dan Silikat di
Perairan Kepulauan Matasiri, Kalimantan Selatan. ILMU KELAUTAN Vol.
16 (3) 135-142.

Hutagalung, H, P., dan Rozak, A. 1997. Metode Analisis Air Laut, Sedimen dan Biota.
Buku 2. LIPI: Jakarta.

Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 2004. Keputusan Menteri Negara Lingkungan


Hidup Nomor 51 Tahun 2004 Tentang Baku Mutu Air Laut. Undang-
Undang Dasar Negara.

Koesoebiono. 1980. Dasar Ekologi Umum. Bagian.Iv. Bogor: Institiut Pertanian Bogor.

Kordi, K. M. 2007. Pengelolaan Kualitas Air dalam Budidaya Perairan .Rineka Cipta:
Jakarta.

Latief, B., 2003. Dasar-dasar Ekologi. Universitas Airlangga: Surabaya

Mariyam, S. 2007. Teknik Pengukuran Nitrogen Dengan Metode Bruchine. Jakarta:


Buletin Teknik Litkayasa.

Purwadi, F. S, Handoyo, G, dan Kunarso. 2016. Sebaran Horizontal Nitrat dan


Ortofosfat di Perairan Muara Sungai Silungonggo Kecamatan Batangan
Kabupaten Pati. Jurnal Oseanografi, 5(1), 28-39.

Rahayu, N. W. S. T, Hendrawan, I. G, Suteja. Y. 2018. Distribusi Nitrat dan Fosfat


Secara Spasial dan Temporal Saat Musim Barat Di Permukaan Perairan
Teluk Benoa, Bali. Journal of Marine and Aquatic Sciences. 1-13

Susana, T. 2004. Sumber Polutan Nitrogen Dalam Air Laut. Jurnal Oseana, Vol. Xxix,
No. 3, Hal. 25 – 33.

Utami T. M. R, Maslukah. L, Yusuf. M. 2016. Sebaran Nitrat (NO3) dan Fosfat (PO4) Di
Perairan Karangsong Kabupaten Indramayu. Buletin Oseanografi Marina.
31 – 37
LAMPIRAN

A. Perhitungan

Dik : Pengamatan
a. Nilai a : 0,0435

b. Nilai b : 0,802

c. Nilai Abs Nitrat (NO3)

Ulangan 1 : 0.115

Ulangan 2 : 0.131

Ulangan 3 : 0,159

y−a
a). NO3- dalam mg/L (U1) =
b

0.115−0.0435
= = 0.0891mg/L
0.802
y−a
NO3- dalam mg/L (U2) =
b
0.131−0.0435
= 0.802
= 0.1091 mg/L

y−a
NO3- dalam mg/L (U3) =
b

0,159−0.0435
= = 0.1440 mg/L
0.802
b). Nilai rata-rata NO3
0.0891+ 0.1091+ 0.1440 0.3422
= = 0.1140 mg/L
3 3
B. Dokumentasi

Gambar 3. Proses Titrasi Menggunakan H2SO4

Gambar 4 Penentuan Nilai Absorbansi Menggunakan Spektofotometer