Anda di halaman 1dari 15

Spektrum Ilmu Pendidikan

Oleh Kelompok 2 :

Anastasia Naomi Fina Stevin Gultom 1913071023


Made Satria Krisnanda Pujawan 1913071025
Ni Putu Winni Widiastuti 1913071044

Kelas : 2B

JURUSAN FISIKA DAN PENGAJARAN IPA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
karunia dan rahmat-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul ”Spektrum Ilmu Pendidikan”. Laporan ini merupakan salah satu hasil
pelaksanaan pemikiran sederhana sebagai wujud partisipasi penulis dalam mata
kuliah wawasan kependidikan
Dalam penulisan karya tulis ini, banyak pihak yang memberi bantuan baik
moril maupun material kepada penulis. Oleh karena itu, maka pada kesempatan
ini penulis menyampaikan terimah kasih kepada:
1. Prof.Dr. I Waya Suastra, M.Pd dan Ni Putu Merry Yunithasari, S.Pd.,
M.Pd selaku pengajar mata kuliah wawasan kependidikan yang telah
banyak memberikan masukan dalam proses pembuatan makalah ini.
2. Teman-teman yang telah banyak memberikan dukungan agar terselesainya
makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh daripada sempurna. Untuk itu,
penulis mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca guna menyempurnakan
makalah ini. Namun demikian penulis berharap makalah ini bisa bermanfaat bagi
pembaca.

Singaraja, 25 Februari 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR......................................................................................... ii
DAFTAR ISI........................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1...................................................................................................................
Latar Belakang......................................................................................... 1
1.2...................................................................................................................
Rumusan Masalah.................................................................................... 2
1.3...................................................................................................................
Tujuan Penulisan...................................................................................... 2
1.4...................................................................................................................
Manfaat Penulisan.................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1...................................................................................................................Ga
mbaran Umum Pendidikan Secara Makro .............................................. 3
2.2...................................................................................................................
Fungsi Pendidikan Secara Makro............................................................ 4
2.3...................................................................................................................
Masalah dan Solusi Pendidikan Secara Makro........................................ 5
2.4...................................................................................................................
Gambaran Umum Pendidikan Secara Mikro........................................... 6
2.5...................................................................................................................
Fungsi Pendidikan Secara Mikro............................................................. 7
2.6...................................................................................................................
Masalah dan Solusi Pendidikan Secara Mikro......................................... 7
BAB III PENUTUP
3.1...................................................................................................................Kes
impulan.................................................................................................... 10
3.2...................................................................................................................Sar
an.............................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan
kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi
berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering
terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.
Etimologi kata pendidikan itu sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu ducare,
berarti “menuntun, mengarahkan, atau memimpin” dan awalan e, berarti “keluar”.
Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar”. Setiap pengalaman yang
memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat
dianggap pendidikan. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap seperti
prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan kemudian perguruan tinggi,
universitas atau magang (Wikipedia,Pendidikan). Fungsi Pendidikan secara umum
adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak, kepribadian serta
peradapan yang bermartabat dalam hidup dan kehidupan atau dengan kata lain
pendidikan berfungsi memanusiakan manusia agar menjadi manusia yang benar
sesuai dengan norma yang dijadikan landasannya.
Dalam setiap jenjang pendidikan diperlukan sebuah tenaga pendidik yang
menjalankan aktivitas belajar dan pembelajaran demi terwujudnya fungsi
pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan tidak lepas dari pengajaran yang
merupakan peran penting dari seorang calon pendidik, sehingga dalam
menyiapkan tenaga pendidik yang produktif, calon pendidik perlu memiliki
wawasan tentang kependidikan. Wawasan pendidikan adalah wawasan yang
dibutuhkan oleh seorang guru dalam memusatkan perhatiannya kepada hal-hal
yang berkenaan dengan memandang serta cara bersikap yang lebih umum yang
dimiliki setiap guru di dalam menghadapi tugas-tugasnya dalam arti yang lebih
mendasar, yaitu seperti wawasan dalam hal belajar mengajar. Dalam wawasan
pendidikan ini terkandung spektrum ilmu pendidikan. Dimana di dalam spektrum
ilmu pendidikan terkandung pendidikan dalam ruang lingkup makro dan mikro
yang memiliki fungsi yang berbeda. Dalam pendidikan makro dan mikro tentu
memiliki permasalahan yang berbeda pula, oleh karena itu calon pendidik maupun

1
pendidik harus mengetahui klasifikasi pendidikan secara makro dan mikro ini agar
nantinya dapat mengaplikasikannya dalam pemecahan masalah baik di tingkat
makro maupun mikro. Sehingga berdasarkan uraian diatas penulis mengangkat
judul makalah yaitu “Spektrum Ilmu Pendidikan”
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka
dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut
1. Bagaimana gambaran umum pendidikan secara makro?
2. Apa fungsi pendidikan secara makro?
3. Apa masalah yang terjadi dalam pendidikan secara makro dan bagaimana
solusi pemecahannya?
4. Bagamana gambaran umum pendidikan secara mikro ?
5. Apa fungsi pendidikan secara mikro ?
6. Apa masalah yang terjadi dalam pendidikan secara makro dan bagaimana
solusi pemecahannya ?
1.3. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan makalah adalah sebagai berikut
1. Untuk mengetahui gambaran umum pendidikan makro
2. Untuk mengetahui fungsi pendidikan makro
3. Untuk mengetahui masalah yang terjadi dalam pendidikan makro dan
solusi pemecahannya
4. Untuk mengetahui gambaran umum pendidikan mikro
5. Untuk mengetahui fungsi pendidikan mikro
6. Untuk mengetahui masalah yang terjadi dalam pendidikan mikro dan
solusi pemecahannya
1.4.Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut
1. Bagi pembaca, dapat memberi pengetahuan tentang wawasan
kependidikan khususnya dalam spektrum ilmu pendidikan yang
mencakup klasifikasi pendidikan secara makro dan pendidikan mikro.
2. Bagi penulis, dapat menambah wawasan tentang ilmu pendidikan
sehingga dapat mempersiapkan diri sebagai calon pendidik nantinya.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Gambaran Umum Pendidikan Secara Makro


Pendidikan yang dilakukan secara nasional dengan segala perangkat
aturannya seperti undang-undang sistem pendidikan nasional, pendidikan
mencakup pendidikan sekolah dan luar sekolah berlangsung seumur hidup hal
tersebut melakukan tinjauan pendidikan secara makro (besar). Kajian pendidikan
dengan elemen yang lebih luas, yaitu standarisasi pengembangan kurikulum,
pemerataan, persamaan dan keadilan, standar mutu dan kemampuan bersaing
disebut sebagai pendekatan makro. Pendekatan pendidikan secara makro
menyangkut berbagai hal yaitu melalui jalur pertama yaitu input sumber – proses
pendidikan – hasil pendidikan (Eti Rochaety, 2005: 8).
1. Input (masukan) berupa sistem nilai dan pengetahuan, sumber daya
manusia, masukan instrumental berupa kurikulum, silabus, dan sebagainya,
masukan sarana termasuk di dalamnya fasilitas dan sarana pendidikan
yang harus disiapkan.
2. Proses yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan proses belajar mengajar
atau proses pembelajaran di sekolah maupun di luar sekolah. Dalam
komponen proses ini termasuk di dalamnya telaah kegiatan belajar dengan
segala dinamika dan unsur yang mempengaruhinya, serta telaah kegiatan
pembelajaran yang dilakukan pendidik dalam kerangka memberikan
kemudahan kepada peserta didik untuk terjadinya proses pembelajaran.
3. Keluaran (output) yaitu hasil yang diperoleh pendidikan bukan hanya
terbentuknya pribadi lulusan/peserta didik yang memiliki pengetahuan,
sikap, dan keterampilan sesuai dengan yang diharapkan dalam tujuan yang
ingin dicapai. Namun juga keluaran pendidikan mencakup segala hal yang
dihasilkan oleh garapan pendidikan berupa : kemampuan peserta didik
(human behavior), produk jasa (services) dalam pendidikan seperti hasil
penelitian, produk barang berupa karya intelektual ataupun karya yang
sifatnya fisik material.

3
Input sumber pendidikan akan mempengaruhi dalam kegiatan proses
pendidikan, di mana proses pendidikan didasari oleh berbagai unsur sehingga
semakin siap dan semakin lengkap komponen pendidikan yang dimiliki suatu
lembaga maka lembaga itu akan mampu menciptakan hasil pendidikan yang
berkualitas.
2.2 Fungsi Pendidikan Secara Makro
Pendidikan secara makro memiliki beberapa fungsi ditinjau dari 2 analisis,
yaitu analisis model struktural fungsional dan analisis model konflik.
1. Analisis Model Struktural Fungsional
Menurut beberapa ahli, fungsi pendidikan secara makro ditinjau dari
analisis model struktural fungsional yaitu sebagai berikut.
a. Emile Durkheim
Pendidikan sebagai fakta sosial (berada di luar individu, bersifat
langgeng, mempunyai daya paksa, tersebar dan menjadi milik
masyarakat) yang memiliki fungsi yaitu sebagai sarana persiapan
hidup bermasyarakat dan berperan untuk memelihara tertib sosial dan
keseimbangan. Selain itu, pendidikan juga berfungsi sebagai proses
sosialiasi, seleksi, distribusi dan integrasi sosial.
b. Talcot Parson, Herbert Spencer (1950-an)
Tindakan individu dipengaruhi orientasi pribadi/motivasional dan
sosial. Pendidikan dalam arti ini memiliki fungsi yaitu pendidikan
dapat mensosialisasikan rasa tanggung jawab dan kecakapan yang
diperlukan untuk melaksanakan peran sosial.
2. Analisis Model Konflik
Menurut beberapa ahli, fungsi pendidikan secara makro ditinjau dari
analisis model konflik yaitu sebagai berikut.
a. Bowles dan Gintis
Pendidikan mengkekalkan sistem masyarakat kapitalis karena tidak
meningkatkan persamaan atau keadilan yang memiliki fungsi yaitu
menanamkan keyakinan bahwa sukses secara ekonomi dihasilkan
melalui pendidikan dan pendidikan mempersiapkan peserta didik
untuk di posisi tertentu dalam sistem kelas di masyarakat.

4
b. Louis Althuser
Pendidikan sebagai salah satu kelengkapan negara yang berperan
menekan dan bersifat ideologis, yang memiliki fungsi
mempertahankan dan memperkuat hubungan produksi kapitalis berupa
eksploitasi dan mempersiapkan peserta didik untuk berperan dalam
bidang ekonomi.(Utari, t.t., hlm. 5)
2.3 Masalah dan Solusi Pendidikan Secara Makro
1. Masalah Kurang Meratanya Pendidikan
Pendidikan di Indonesia saat ini belum dapat mengangkat kualitas
hidup warga negara yang pada umumnya berkemampuan sedang atau
kurang. Pendidikan mungkin baru dapat mengangkat mereka yang
mempunyai kemampuan unggul saja. Belum meratanya pendidikan bagi
warga negara merupakan masalah yang belum diselesaikan.
Usaha untuk meningkatkan pemerataan memperoleh pendidikan
adalah melalui desentralisasi. Desentralisasi di bidang pendidikan
diharapkan dapat meningkatkan partisipasi pemerintah daerah beserta
masyarakatnya untuk berperan serta dalam pendidikan. Peran serta
masyarakat dapat dilakukan oleh perorangan dan kelompok.
2. Masalah Efisiensi Pendidikan
Pada hakikatnya masalah efisiensi adalah masalah pengelolaan
pendidikan, terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia.
Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem
pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai
tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan
efisiensinya tinggi.
Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting adalah:
a. Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan
b. Bagaimana sarana dan prasarana pendidikan digunakan
c. Bagaimana pendidikan diselenggarakan
d. Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga.
Salah satu upaya untuk mengatasi masalah ini adalah dengan peran
serta perorangan, masyarakat, dan swasta dalam menyelenggarakan

5
pendidikan dan juga diupayakan agar peran serta masyarakat yang
tergolong miskin dapat dibantu dengan subsidi silang dari masyarakat
yang tergolong kaya.
3. Lemahnya Sistem Manajemen Pendidikan
Pengelolaan dalam pendidikan sangat diperlukan dan menjadi
faktor pendukung untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan.
Apabila suatu negara memiliki sistem manajemen pendidikan yang baik
maka akan didapat atau menghasilkan suatu pendidikan yang baik pula.
Maka dari itu salah satu upaya yang harus dilakukan adalah dengan
memperbaiki sistem manajemen pendidikan yang lebih berkualitas dan
teratur agar sistem manajemen di Indonesia ini tidak lemah.
2.4 Gambaran Umum Pendidikan Secara Mikro
Pendidikan dalam ruang lingkup mikro artinya mengkaji pendidikan
yang dilaksanakan dalam skala kecil. Pendidikan dalam arti ini merupakan
proses interaksi antara pendidik dengan peserta didik baik di dalam keluarga,
sekolah, maupun masyarakat. Pendidikan secara mikro lebih menekankan
pada unsur pendidik dan peserta didik. Polanya lebih merupakan sebagai
upaya mencerdaskan peserta didik melalui proses interaksi dan komunikasi,
yaitu pada pesan (message) yang akan disampaikan dalam bentuk bahan
belajar. Kemudian fungsi pendidik lebih merupakan sebagai pengirim pesan
(senders) melalui kegiatan pembelajaran di kelas ataupun di luar kelas.
Suatu pendekatan terhadap pendidikan dengan indikator kajiannya
dilihat dari hubungan antara elemen peserta didik, pendidik, dan interaksi
keduanya dalam usaha pendidikan disebut dengan pendekatan secara mikro
pendidikan. Secara lengkap, elemen mikro adalah kualitas managemen,
pemberdayaan suatu pendidikan, profesionalisme dan ketenagaan, relevansi
dan kebutuhan.
Berdasarkan tinjauan mikro elemen guru dan siswa yang merupakan
bagian dari pemberdayaan satuan pendidikan merupakan elemen sentral.
Pendidikan untuk kepentingan peserta didik mempunyai tujuan, dan untuk
mencapai tujuan ini ada berbagai sumber dan kendala, dengan
memperhatikan sumber dan kendala ditetapkan bahan pengajaran dan

6
diusahakan berlangsungnya proses untuk mencapai tujuan. Proses ini
menampilkan hasil belajar. Hasil belajar perlu dinilai dan dari hasil penilaian
dapat menjadi umpan balik sebagai bahan masukan dan pijakan (Eti Rochaety,
2005: 8).
2.5 Fungsi Pendidikan Secara Mikro
Pendidikan secara mikro memberi tumpuan kepada interaksionisme yaitu aksi,
pergaulan, Komunikasi dan interaksi sesama anggota masyarakat dengan
lebih terperinci. Fungsi Pendidikan Secara Mikro adalah:
1. Pendidikan ini meneliti aktivitas harian yang dilalui kumpulan yang
lebih kecil dan spesifik yaitu guru dan siswa yang menuju kearah yang
lebih baik.
2. Pendidikan secara mikro merupakan sistem yang bukan dipaksa
karena ia mempunyai kebebasan tersendiri terutamanya dalam
menginterpretasikan pendapat sendiri dalam sesuatu situasi. Dimana
individu bebas menyuarakan pendapat masing – masing dalam isu
pendidikan khasnya.
3. Interaksi sebagai cara menginterpretasi tingkah laku orang lain dengan
kita : Pendidikan digunakan untuk memberi penjelasan mengenai
sesuatu tingkah laku yang berlaku dalam situasi pergaulan antara
masyarakat.
4. Menggunakan pendekatan subjektif untuk mereka mendefinisi sesuatu
keadaan.
2.6 Masalah dan Solusi Pendidikan Secara Mikro
Masalah yang terjadi dalam Pendidikan Secara Mikro beserta solusi:
1. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik di Sekolah-Sekolah
Kualitas sarana fisik tidak terlalu merata di setiap sekolah, masih
ada sekolah yang masih tidak layak pakai yang belum dijamah pemerintah,
buku di perpusatakaan yang tidak lengkap.
Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk satuan SD
terdapat 146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta
memiliki 865.258 ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak
364.440 atau 42,12% berkondisi baik, 299.581 atau 34,62% mengalami

7
kerusakan ringan dan sebanyak 201.237 atau 23,26% mengalami
kerusakan berat. Kalau kondisi MI diperhitungkan angka kerusakannya
lebih tinggi karena kondisi MI lebih buruk daripada SD pada umumnya.
Keadaan ini juga terjadi di SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK meskipun
dengan persentase yang tidak sama. (Al-Jawi, 2006, hlm. 2).
Solusi dari permasalahan ini menurut penulis adalah dengan
memanfaatkan dana yang telah diberikan oleh pemerintah maupun dana
yang berasal dari komite sekolah dengan sebaik-baiknya dan juga
memperhatikan sarana yang terpenting dahulu yang sekiranya itu sangat
dibutuhkan pada proses pembelajaran di sekolah.
2. Rendahnya Kualitas Guru
Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan.
Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk
menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No
20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran,
menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan
pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak
mengajar.
Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-
2003 di berbagai satuan pendidikan sebagai berikut: untuk SD yang layak
mengajar hanya 21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP
54,12% (negeri) dan 60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan
64,73% (swasta), serta untuk SMK yang layak mengajar 55,49% (negeri)
dan 58,26% (swasta). Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan
tingkat pendidikan guru itu sendiri. Data Balitbang Depdiknas (1998)
menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang
berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar
680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8% yang berpendidikan diploma D3-
Kependidikan ke atas. Ditingkat sekolah menengah, dari 337.503 guru,
baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan

8
tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas
(3,48% berpendidikan S3). (Al-Jawi, 2006, hlm. 3)
Solusi dari permasalah ini adalah menurut penulis dengan
mengadakan pendidikan lebih untuk calon guru dan benar-benar diseleksi
saat ingin mengajar di sekolah agar mutu sekolah menjadi meningkat.
3. Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan
Mahasiswa yang lulus saat sudah selesai mengenyam pendidikan di
Universitas banyak yang tidak dapat mencari pekerjaan karena materi yang
didapatkan di kampus belum cukup untuk mendapatkan kualifikasi dari
setiap pekerjaan tanpa adanya softskill. Banyak mahasiswa yang tidak tahu
dan tidak bisa menerapkan ilmu yang mereka dapat di perkuliahan pada
saat berada dalam lingkungan masyarakat khususnya didalam dunia kerja.
Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur.
Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990
menunjukkan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan
SMU sebesar 25,47%, Diploma sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%,
sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup
tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan
15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar
3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga
menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian
antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan
kurikulum yang materinya kurang fungsional terhadap keterampilan yang
dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.(Al-Jawi, 2006, hlm.
4)
Solusi dari permasalahan ini menurut penulis adalah dengan
memberikan penekanan kepada peserta didik tentang pentingnya
pendidikan di dalam kehidupannya, berikan contoh-contoh nyata yang
membuat peserta didik termotivasi dalam menempuh pendidikan.
Keaktifan dalam berorganisasi di kampus juga menjadi salah satu alternatif
untuk menambah softskill yang dimiliki yang dapat membantu dalam
mencari pekerjaan.

9
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Pendidikan secara makro yaitu kajian pendidikan dengan elemen yang
lebih luas, yaitu dengan elemen sebagai berikut standarisasi
pengembangan kurikulum, pemerataan, persamaan dan keadilan, standar
mutu dan kemampuan bersaing. Pendidikan Makro menyangkut berbagai
hal yaitu melalui jalur pertama yaitu input sumber – proses pendidikan –
hasil pendidikan (Eti Rochaety, 2005: 8)
2. Fungsi pendidikan secara makro ditinjau dari 2 analisis, yaitu analisis
model struktural fungsional dan analisis model konflik.
3. Masalah dari pendidikan secara makro beserta solusinya adalah yang
pertama masalah kurang meratanya pendidikan, usaha untuk
meningkatkan pemerataan memperoleh pendidikan adalah melalui
desentralisasi. Yang kedua adalah masalah efisiensi pendidikan, salah satu
upaya untuk mengatasi masalah ini adalah dengan peran serta perorangan,
masyarakat, dan swasta dalam menyelenggarakan pendidikan. Yang
ketiga adalah lemahnya sistem manajemen pendidikan, upaya yang harus
dilakukan adalah dengan memperbaiki sistem manajemen pendidikan
yang lebih berkualitas dan teratur agar sistem manajemen di Indonesia ini
tidak lemah.
4. Pendidikan dalam ruang lingkup mikro artinya mengkaji pendidikan yang
dilaksanakan dalam skala kecil. Pendidikan dalam arti ini merupakan
proses interaksi antara pendidik dengan peserta didik baik di dalam
keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
5. Fungsi pendidikan secara mikro adalah pendidikan ini meneliti aktivitas
harian yang dilalui kumpulan yang lebih kecil dan spesifik yaitu guru dan
siswa yang menuju kearah yang lebih baik, pendidikan secara mikro
merupakan sistem yang bukan dipaksa karena ia mempunyai kebebasan
tersendiri terutamanya dalam menginterpretasikan pendapat sendiri dalam
sesuatu situasi, Interaksi sebagai cara menginterpretasi tingkah laku orang

10
lain dengan kita : Pendidikan digunakan untuk memberi penjelasan
mengenai sesuatu tingkah laku yang berlaku dalam situasi pergaulan
antara masyarakat, menggunakan pendekatan subjektif untuk mereka
mendefinisi sesuatu keadaan.
Masalah yang terdapat dalam pendidikan secara mikro adalah yang
pertama rendahnya kualitas sarana fisik di sekolah-sekolah, solusi dari
permasalahan ini menurut penulis adalah dengan memanfaatkan dana yang
telah diberikan oleh pemerintah maupun dana yang berasal dari komite
sekolah dengan sebaik-baiknya dan juga memperhatikan sarana yang
terpenting dahulu yang sekiranya itu sangat dibutuhkan pada proses
pembelajaran di sekolah. Yang kedua adalah rendahnya kualitas guru,
solusi dari permasalah ini adalah menurut penulis dengan mengadakan
pendidikan lebih untuk calon guru dan benar-benar diseleksi saat ingin
mengajar di sekolah agar mutu sekolah menjadi meningkat. Yang ketiga
adalah rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, solusi dari
permasalahan ini menurut penulis adalah dengan memberikan penekanan
kepada peserta didik tentang pentingnya pendidikan di dalam
kehidupannya, berikan contoh-contoh nyata yang membuat peserta didik
termotivasi dalam menempuh pendidikan. Keaktifan dalam berorganisasi
di kampus juga menjadi salah satu alternatif untuk menambah softskill
yang dimiliki yang dapat membantu dalam mencari pekerjaan.
3.2 Saran
Selalu tingkatkan kualitas pendidikan di Indonesia karena pendidikan
adalah yang terpenting dalam kehidupan kita, pendidikanlah yang akan
mensejahterakan Indonesia kedepannya, jadi pembenahan Indonesia bisa kita
mulai dari hal yang kecil yaitu menjadikan rakyat Indonesia kaya akan ilmu
pengetahuan.

11
DAFTAR PUSTAKA

Hadikusumo, Kunaryo,dkk.1996. Pengantar Pendidikan. Semarang : IKIP


Semarang Press
Kadir Abdul,dkk. 2009. Dasar – dasar Pendidikan. Surabaya : IAIN Sunan
Ampel Press http:// suara terbaru.com/fungsi –pendidikan-di-Indonesia
Sadulloh, Uyoh, dkk. 2011. Pedagogik. Bandung. Alfabeta.
Usman, Moh. Uzer. 1994. Menjadi Guru Professional. Bandung. PT Remaja
Rosdakarya.
Eti Rochaety, dkk. 2005. Sistem Informasi Manajemen Pendidikan. Jakarta: bumi
Aksara
Al-Jawi, M. S. (2006). Meretas Permasalahan Pendidikan di Indonesia, 1–8.
Utari, R. (t.t.). Pendekatan-Pendekatan Dalam Menganalisis Pendidikan Secara
Makro, 1–12.
Wikipedia,2017.Pengertian pendidikan.Diakses
dari :https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan.Diakses tanggal 20 februari 2020