Anda di halaman 1dari 6

REPUBLIKA.CO.

ID, JAKARTA -- Keluhan siswa mengenai soal Matematika pada Ujian Nasional Berbasis
Komputer (UNBK) SMA/Sederajat menunjukkan adanya ketimpangan proses pembelajaran dan evaluasi.
Soal Matematika pada UNBK SMA/Sederajat menggunakan pendekatan kemampuan berpikir level tinggi
atau high order thinking skills (HOTS). 

Pemerhati pendidikan dari Universitas Paramadina Mohammad Abduhzen menekankan, HOTS


bukan pelajaran, tetapi pendekatan. Jika ujian memakai model HOTS yang tidak pernah
dikenalkan selama proses belajar maka dipastikan siswa kesulitan ketika mengerjakan
soal. “Kalau tidak pernah dikenalkan, pasti tidak nyambung. Logikanya gamblang,” kata
Abduhzen melalui telepon pada Ahad (15/4).

Dia menerangkan pendekatan HOTS seharusnya sudah dikenalkan dalam proses belajar dan
tidak muncul tiba-tiba sebagai soal. Anak harus dibiasakan dulu dibawa dalam suasana belajar
nalar tinggi.  Dalam proses belajar tersebut, sikap guru juga sudah harus menggunakan
pendekatan HOTS. Guru harus dilatih untuk membawa anak didik dalam suasana belajar dengan
nalar tinggi. 

Apalagi, penerapan pendekatan HOTS juga tidak mudah. Menurut dia, pendekatan belajar yang
berlaku selama ini masih mempertahankan sistem yang mudah.Selama ini, pendekatan belajar
hanya menekankan pada transfer pengetahuan dengan cara mengisi pikiran. “Itu masih bertahan,
sementara ujiannya memakai HOTS. Hal itu jelas tidak nyambung,'' kata Abduhzen.

Dia menambahkan selama ini belum ada rancangan perubahan sistem pembelajaran ke HOTS.
Seharusnya, dia menyatakan, ada penjabaran atas Pasal 1 UU Sisdiknas sebagai basis untuk
mengembangkan HOTS. “Itu harus diturunkan praktiknya. Jangan hanya minta guru pakai
HOTS, mana mereka mengerti,” ucap Abduhzen.Dia melanjutkan kecepatan penerapan HOTS
juga tergantung usaha dan keseriusan pemerintah. Guru harus dilatih mengubah pola pikir
dengan mengedepankan dialog.

Sebelumnya, media sosial dalam beberapa hari belakangan ini menjadi gaduh dengan keluhan
peserta Ujian Nasional (UN) tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) yang digelar pada 9 April
hingga 12 April 2018. Hal itu terjadi karena soal UN terutama untuk mata pelajaran matematika,
fisika, dan kimia bagi peserta UN jurusan IPA yang tak sesuai dengan apa yang
dibayangkan. Untuk peserta ujian jurusan IPS, soal yang dinilai tak sesuai dengan kisi-kisi yang
diberikan yakni Matematika dan Ekonomi. Mulai tahun ini, Kemdikbud mulai memberlakukan
soal yang membutuhkan daya nalar tingkat tinggi atau high order thinking skills (HOTS) pada
UN 2018. 

Tujuannya untuk meningkatkan kualitas dari UN tersebut dengan memasukkan soal HOTS
tersebut. Soal seperti itu nantinya akan menjadi standar pelaksanaan UN hingga 2025 sehingga
mendeteksi kemampuan siswa. Untuk tahun ini, ada 10 persen dari jumlah soal untuk yang
memerlukan daya nalar tinggi.
JAKARTA, KOMPAS.com – Mulai tahun 2021, siswa di sekolah direncanakan tak lagi
menghadapi ujian nasional sebagai syarat penentuan kelulusan. Sebagai gantinya, mereka akan
mengikuti asesmen kompetensi minimum dan survei karakter sebagai syarat kelulusan.
Perubahan sistem penentu kelulusan ini menjadi satu dari empat kebijakan yang digagas Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud) Nadiem Makarim melalui program ‘Merdeka
Belajar’. Gagasan itu bermula dari keresahan siswa, orangtua, dan guru atas pelaksanaan ujian
nasional selama ini.

Menurut Nadiem, mereka bukan ingin menghilangkan pelaksanaan ujian nasional, melainkan
berharap agar pelaksanaannya dievaluasi karena dianggap banyak berdampak negatif.
“Sebenarnya banyak juga dari mereka yang tidak ingin menghapuskan, tetapi menghindari hal-
hal yang negatif, (mulai) dari sisi stres, kayak menghukum siswa yang mungkin dari bidang
( UN) itu kurang kuat dan lain-lain," kata Nadiem seusai menjadi pembicara pada Konferensi
Pendidikan Indonesia di Gedung Kemendikbud pada 30 November lalu.

Merdeka Belajar Berangkat

dari sana, Kemendikbud kemudian melakukan kajian. Hingga dalam kurun 11 hari, ia
mencetuskan kebijakan ‘Merdeka Belajar’ di hadapan kepala dinas pendidikan seluruh Indonesia
di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (11/12/2019).

Ada empat hal yang akan diatur di dalam kebijakan baru tersebut, yakni terkait penilaian ujian
sekolah berbasis nasional (USBN) secara komprehensif, perubahan sistem UN, penyederhanaan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan penerapan sistem zonasi yang lebih fleksibel.
Untuk penilaian USBN yang komprehensif, ia menjelaskan, akan dilakukan dengan sistem ujian
yang diselenggarakan oleh sekolah.

Ujian itu dilakukan untuk menilai kompetensi siswa dan dapat dilakukan dalam bentuk tes
tertulis atau bentuk penilaian komprehensif seperti portofolio dan penugasan. Portofolio ini nanti
dapat dilakukan melalui tugas kelompok, karya tulis, maupun sebagainya. "Dengan itu, guru dan
sekolah lebih merdeka dalam penilaian hasil belajar siswa," ucap Nadiem. Nadiem
menyampaikan, anggaran USBN nantinya akan dialihkan untuk mengembangkan kapasitas guru
dan sekolah guna meningkatkan kualitas pembelajaran. Sementara pelaksanaan UN pada tahun
depan akan menjadi yang terakhir. Sebagai gantinya, pada tahun 2021 akan dilaksanakan
asesmen kompetensi minimum dan survei karakter yang terdiri dari kemampuan bernalar
menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan
penguatan pendidikan karakter.

Pelaksanaan ujian tersebut akan dilakukan siswa yang berada di tengah jenjang sekolah,
misalnya kelas 4, 8, 11, sehingga dapat mendorong guru dan sekolah untuk memperbaiki mutu
pembelajaran. Kemudian, hasil ujian ini tidak digunakan untuk basis seleksi siswa ke jenjang
selanjutnya. "Arah kebijakan ini juga mengacu pada praktik baik pada level internasional, seperti
PISA dan TIMSS," kata Nadiem. Adapun terkait penyederhanaan RPP, Kemendikbud akan
menyederhanakan dengan memangkas beberapa komponen. Nantinya, guru secara bebas dapat
memilih, membuat, menggunakan, hingga mengembangkan format RPP. Tiga komponen inti
RPP nantinya terdiri atas tujuan dan kegiatan pembelajaran hingga asesmen. Adapun
penulisannya dilakukan secara efektif dan efisien sehingga guru memiliki cukup banyak wkatu
untuk mempersiapkan mengevaluasi.

Terakhir, soal membuat zonasi lebih fleksibel saat penerimaan peserta didik baru (PPDB),
nantinya akan mempertimbangkan akses dan kualitas di berbagai daerah. Menurut Nadiem,
komposisi PPDB jalur zonasi dapat menerima siswa minimal 50 persen, jalur afirmasi minima 15
persen, dan jalur pindahan maksimal 5 persen. Sementara 30 persen sisanya diperuntukkan bagi
jalur prestasi. Namun, hal itu menyesuaikan kondisi setiap daerah.
Foto: Nadiem Makarim (Rahel Narda Catherine/detikcom

Jakarta - Ujian Nasional (UN) resmi tinggal kenangan. Ada sejumlah poin penting tentang penghapusan
Ujian Nasional yang perlu diketahui siswa, orang tua, hingga guru. Yuk disimak!

Pengumuman tentang ujian nasional dihapus ini disampaikan oleh Mendikbud Nadiem Makarim saat
Rapat Koordinasi bersama Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia di Hotel
Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu (11/12/2019). Nadiem mengubah format lama UN menjadi format baru.

Dia memaparkan sejumlah poin penting dalam perubahan format itu. Berikut ini poin-poin pentingnya:

Ujian Nasional Terakhir Tahun 2020

Nadiem menyebut bahwa UN baru akan dihapus mulai tahun 2021. UN 2020 akan tetap dilaksanakan
dengan format lama dan menjadi UN yang terakhir.

"Untuk 2020, UN akan dilaksanakan sesuai seperti tahun sebelumnya. Jadi 2020, bagi banyak orang tua
yang sudah investasi buat anaknya belajar mendapat angka terbaik di UN, itu silakan lanjut untuk 2020,"
ucap Nadiem.

"Tapi itu hari terakhir UN seperti format sekarang diselenggarakan," lanjutnya.

UN Diubah Jadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter

Pada tahun 2021, Ujian Nasional diganti menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei
Karakter. Asesmen Kompetensi Minimum tidak lagi berdasarkan mata pelajaran melainkan
literasi dan numerasi.

Literasi yang dimaksud adalah kemampuan menganalisis suatu bacaan serta kemampuan untuk
mengerti atau memahami konsep di balik tulisan tersebut. Sedangkan numerasi adalah kemampuan
menganalisis menggunakan angka. Selain itu, ada pula Survei Karakter yang menekankan pada
penguatan pendidikan karakter.

Jenjang Penilaian Berubah

Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter tidak lagi dilakukan di akhir jenjang sekolah seperti
Ujian Nasional melainkan di tengah jenjang. Itu berarti mulai 2021, asesmen ini diadakan saat kelas 4 SD
dan bukan kelas 6 SD, kelas 8 SMP dan bukan kelas 9 SMP, juga kelas 11 SMA bukan kelas 12 SMA.

Alasannya, ujian di tengah jenjang memungkinkan pihak pendidik punya waktu untuk memperbaiki
kualitas siswa sebelum lulus dalam suatu jenjang, entah itu lulus SD, lulus SMP, atau lulus SMA.
Perbaikan berdasarkan hasil asesmen dan survei tak akan bisa dilakukan bila hasilnya baru diketahui di
akhir jenjang pendidikan.

Tidak Jadi Alat Seleksi

Karena tak diterapkan di jenjang akhir sekolah, nilai Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter
tak bisa jadi dasar seleksi. Siswa tak bisa menggunakan nilai ini untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan
lebih tinggi, seperti misalnya untuk syarat masuk Perguruan Tinggi.

"Kan sekarang kan UN itu di akhir jenjang. Di akhir jenjang SD, SMP, dan SMA. Sekarang akan kita
tengahkan jenjangnya. Jadinya itu tidak bisa digunakan sebagai alat seleksi," jelas Nadiem.

Nadiem mengatakan, sistem UN saat ini hanya fokus mengukur murid dengan angka. Menurutnya,
penilaian terhadap siswa tidak bisa dilakukan hanya dengan penilaian seperti itu.

"Sekarang kan yang diukur siswanya, muridnya yang diukur kalau angkanya tidak baik. Padahal itu
maksudnya asesmen tingkat nasional itu bukan itu. Bukan siswanya yang diukur. Kita tidak mungkin bisa
mengases siswa dengan menghitung kompetensinya," ucap Nadiem.