Anda di halaman 1dari 28

EVIDENCE BASED TEKNOLOGI TEPAT GUNA

DALAM PELAYANAN

(KESPRO DAN KB)

DI SUSUN OLEH:

 SELVIANI (A1B119322)
 RATNASARI (A1B119328)
 EVA MUSDALIFA (A1B119265)
 ROSMALA DEWI (A1B118006)
 WIDIAWATI THAIYEB (A1B119198)
 HAPSA LAISOUW (A1B119285)
 RAMLAWATI (A1B119311)

PROGRAM STUDI DIV-KEBIDANAN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
TAHUN AKADEMIK 2019-2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang melimpahkan rahmat

dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan

judul  Pengelolaan sampah.

Ucapan terimakasih kepada dosen pembimbing mata kuliah ini dan

berbagai pihak yang ikut membantu dalam penyelesaian makalah ini.

Penulis menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu

penulis mengharapkan saran, kritik dan tanggapan untuk kesempurnaan

makalah ini dan juga untuk menambah pemahaman terhadap topic yang di

bahas.

Akhir kata semoga makalah ini bermamfaat bagi semua.

                                                                                   

                                                                                                                                     

                                                              Penulis


BAB I

PENDAHULUAN

Kesehatan reproduksiadalah keadaan kesejahteraan fisik, mental dan sosial

secara utuh, tidak semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala

hal yang berkaitan dengan sistem, fungsi dan proses reproduksinya (ICPD, Cairo)

Kesehatan seksual merupakan keharmonisan hubungan antar manusia,

dimana setiap individu merasa nyaman dengan seksualitasnya dan mampu

mengkomunikasikan perasaan-perasaan dan kebutuhan seksualnya serta

menghormati kebutuhan seksual orang lain. (FWCW Platform, 1996, ICPD)

Hak-hak seksual adalah termasuk hak asasi perempuan untuk dapat secara

bebas dan bertanggung jawab mengontrol dan memutuskan hal-hal yang terkait

dengan seksualitasnya termasuk kesehatan reproduksi dan seksual, bebas dari

paksaan, diskriminasi dan kekerasan (FWCW Platform, 1996)


BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian EvidenceBased

Evidencebased artinya berdasarkan bukti. Artinya tidak lagi


berdasarkan pengalaman atau kebiasaan semata. Semua harus berdasarkan
bukti dan bukti inipun tidak sekedar bukti.Tapi bukti ilmiah terkini yang
bisa dipertanggungjawabkan EvidenceBased Midwifery atau yang lebih
dikenal dengan EBM adalah penggunaan mutakhir terbaik yang ada secara
bersungguh sungguh, eksplisit dan bijaksana untuk pengambilan
keputusan dalam penanganan pasien perseorangan (Sackettetal,1997)
EvidencedBased Midwifery (EBM) ini sangat penting peranannya pada
dunia kebidanan karena dengan adanya EBM maka dapat mencegah
tindaka – tindakan yang tidak diperlukan/tidak bermanfaat bahkan
merugikan bagi pasien,terutama pada proses persalinan yang diharapkan
berjalan dengan lancar dan aman sehingga dapat menurunkan angka
kematian ibu dan angka kematian bayi

2. PengertianTeknologiTepatGuna
Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang
yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup
manusia.Teknologi tepat guna adalah suatu alat yang sesuai dengan
kebutuhan dan dapat berguna serta sesuai dengan fungsinya.Selainitu,
teknologi tepat guna atau yang  disingkat dengan TTG adalah  teknologi
yang digunakan dengan sesuai (tepatguna). Ada yang menyebutnya
teknologi tepat guna sebagai teknologi yang telah dikembangkan secara
tradisional, sederhana dan proses pengenalannya banyak ditentukan oleh
keadaan lingkungan dan mata pencaharian pokok masyarakat tertentu.
SecarateknisTTG merupakan jembatan antara teknologi tradisional
dan teknologi maju. Oleh karena itu aspek-aspek sosio- cultural dan
ekonomi juga merupakan dimensi yang harus diperhitungkan dalam
mengelola TTG.Dari tujuan yang dikehendaki, teknologi tepat guna
haruslah menerapkan metode yang hemat sumber daya, mudah dirawat,
dan berdampak polutif minimalis dibandingkan dengan teknologi arus
utama, yang pada umumnya beremisi banyak limbah dan mencemari
lingkungan.
Dengan demikian teknologi tepat guna mempunyai kriteria yang dapat
dikatan sebagai TTG, yaitu:
1. Apabila teknologi itu sebanyak mungkin mempergunakan sumber-
sumber yang tersedia banyak di suatu tempat.
2. Apabila teknologi itu sesuai dengan keadaan ekonomi dan social
masyarakat setempat.
3. Apabila teknologi itu membantu memecahkan persoalan/ masalah
yang sebenarnya dalam masyarakat, bukan teknologi yang hanya
bersemayam dikepala perencananya.
4. Suatu yang harus diperhatikan bahwa, masalah-masalah pembangunan
boleh jadi memerlukan pemecahan yang unik dan khas, jadi
teknologi-teknologi tersebut tidak perlu dipindahkan kenegara-negara
atau kedaerah lain dengan masalah serupa. Apa yang sesuai disuatu
tempat mungkin saja tidak cocok di lain tempat. Maka dari itu tujuan
TTG adalah melihat pemecahan-pemecahan terhadap masalah-
masalah tertentu dan menganjurkan mengapa hal itu sesuai.
3. Pengertian Kespro

Kespro adalah keadaan sehat secara menyeluruh mencakupfisik,

mental dan kehidupan sosial, yang beerkaitan dengan alat, fungsi serta

proses reproduksi. Dengan demikian kesahatan reproduksi bukan hanya

kondisi bebas daari penyakit, melainkan bagaimana seseorang dapat

memiliki kehidupan seksual yang aman dan memuaskan baik sebulum

menikah dan sesudah menikah.

1. Perkembangan Program Kesehatan Reproduksi


a. Di indonesia Lokakarya Nasional Kesehatan Reproduksi pada

bulan Mei 1996 di Jakarta.

b. Definisi Kespro : adalah suatu Keadaan sejahterah fisik, mental

dan sosial secara utuh tidak semata-mata bebas dari penyakit atau

kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem

reproduksi, serta fungsi dan prosesnya.

2. Ruang Lingkup Kespro Secara Luas

a. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir

b. Keluarga Berencana

c. Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi Saluran Reproduksi

( ISR ), trmasuk PMS-HIV / AIDS

d. Pencegahan dan penangulangan komplikasi aborsi

e. Kesehatan Reproduksi Remaja

f. Pencegahan dan Penanganan Infertilitas

g. Kanker pada Usia Lanjut dan Osteoporosis

h. Berbagi aspek Kesehatan Reproduksi lain misalnya kanker serviks,

mutilasi genetalia, fistula dll.

4. Rekomendasi Lokarya

a. Perlu dibentuk Komisi Kesehatan Reproduksi sebagai Wadah

koordinasi SK Menkes Nomor 433/Menkes/Sk/v/1998 tentang

Komisi Kespro

b. Penerapan PKRE dan PKRK melalui Integrasi Fungsional


c. Keterlibatan Organisasi Profesi

a) Keterlibatan dan tanggung Jawab pria untuk mencapai

kemitraan kesejajaran pria dan wanita

b)   Data kesehatan Reproduksi berwawasan jender.

5. Hak Reproduksi

Hak reproduksi perorangan dapat diartikan bahwa “setiap orang

baik laki-laki maupun perempuan (tanpa memandang perbedaan kelas

sosial, suku, Umur, Agama dll) mempunyai hak yang sama untuk

memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab ( kepada diri, keluarga

dan Masyarakat) mengenai jumlah anak, jarak antar anak, serta untuk

menentukan waktu kelahiran anak dan dimana akan melahirkan”

6. Hak reproduksi dapat dijabarkan :

1. Setiap orang berhak memperoleh standar pelayanan kespro yang

terbaik

2. Perempuan dan laki-laki berhak memperoleh informasi lengkap

tentang seksualitas, kespro, manfaat dan efek samping obat-obatan

dan tindakan medis.

3. Adanya untuk memperoleh pelayanan KB yang aman dan efektif

terjangkau,dpt diterima sesuai dengan pilihan, tampak paksaan

tidak melawan hukum.

4. Perempuan berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang

dibutuhkannya, yg dibutuhkan, yang memungkinkan sehat dan


selamat menjalani kehamilan dan persalinan serta memperoleh bayi

yang sehat

5. Hubungan suami istri didasari penghargaan terhadap pasangan

masing-masing dan dilakukan dalam situasi dan kondisi yang

diinginkan bersama.

6. Para remaja, laki-laki maupun perempuan, berhak memperoleh

informasi yang tepat dan benar tentang reproduksi remaja, sehingga

dapat berprilaku sehat dan menjalani kehidupan seksual

7. Laki-laki dan perempuan berhak mendapatkan informasi yang

mudah diperoleh dan akurat mengenai PMS termasuk

HIV/AIDSGambaran Derajat

Derajat Kespro di Indonesia masih rendah antara lain :

a. Angka Kematian Ibu ( AKI, 1997 ) : 373/100.000 KH

b. Anemia ibu hamil : 50 %

c. Kurang Energi Kronis ( KEK ) pd ibu hamil 30 %

d. Angka Kematian Bayi ( AKB 1995 ) : 53 per 1000 KH

e. Cakupan pelayanan KB ( CPR, 1997 ) : 57 %

f.   Partisipasi laki-laki dalam ber KB ( 1997) : 1,1 %

g. Ibu hamil yang mempunyai satu atau lebih keadaan ”4 terrlalu”

( 65 % ibu hamil )

7. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi buruk terhadap derajat Kespro

Perorangan
a. Kemiskinan sekitar 40 % berakibat kesakitan kecacatan dan

kematian

b. Kedudukan perempuan dalam keluarga masalnya keadaan

sosioekonomi, budaya dan nilai-nilai yang berlaku dimasyarakat

c. Akses ke fasilitas kesehatan yang memberikan kespro belum

memadai (jarak, jauh, kurang informasi, keterbatasan biaya,

tradisi)

d. Kualitas pelayanan kespro (pelayanan kes kurang memperhatikan

klien, kemampuan fasilitas kesehatan yang kurang memadai)

Prilaku diskriminatif terhadap perempuan

1. Perempuan di nomor duakan dalam aspek kehidupan (makan sehari-hari,

pendidikan, kerja dan kedudukan)

2. Perempuan terpaksa nikah di usia muda karena tekanan ekonomi ortu

3. Keterbatasan perempuan dalam mengambil keputusan untuk kepentingan

dirinya

4. binformasi yang diterima tentang kespro terbatas.

D. Pengertian Program Keluarga Berencana (KB)

Keluarga Berencana (Family Planning, Planned Parenthood) : suatu usaha

untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan

memakai kontrasepsi.

1. Tujuan Program Keluarga Berencana (KB)

Tujuan umum adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekutan

sosial ekonomi suatu keluarga  dengan cara pengaturan kelahiran anak, agar


diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan

hidupnya. Tujuan lain meliputi pengaturan kelahiran, pendewasaan usia

perkawinan, peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.

Kesimpulan dari tujuan program KB adalah:

a.   Memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan ibu,anak, keluarga dan

bangsa

b. Mengurangi angka kelahiran untuk menaikkan taraf hidup rakyat dan

bangsa

c. Memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan KR yang

berkualitas, termasuk upaya-upaya menurunkan angka kematian

ibu, bayi, dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan

reproduksi.

Tujuan KB berdasar RENSTRA 2005-2009 meliputi:

1. Keluarga dengan anak ideal

2. Keluarga sehat

3.  Keluarga berpendidikan

4. Keluarga sejahtera

5. Keluarga berketahanan

6. Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya

7. Penduduk tumbuh seimbang (PTS)

2. Sasaran Program Keluarga Berencana (KB)

Sasaran program KB tertuang dalam RPJMN 2004-2009 yang meliputi:


a) Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1,14

persen per tahun.

b) Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per

perempuan.

c)  Menurunnya PUS yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin

menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai

alat/cara kontrasepsi (unmet need) menjadi 6%.

d) Meningkatnya peserta KB laki-laki menjadi 4,5 persen.

e) Meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang rasional, efektif, dan

efisien.

f)  Meningkatnya rata-rata usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21

tahun. Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh

kembang anak.

g) Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera-1

yang aktif dalam usaha ekonomi produktif.

h) Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam

penyelenggaraan pelayanan Program KB Nasional.

3. Ruang Lingkup Program Keluarga Berencana (KB)

Ruang lingkup KB antara lain:

a. Keluarga berencana

b. Kesehatan reproduksi remaja

c.  Ketahanan dan pemberdayaan keluarga

d.  Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas


e.  Keserasian kebijakankependudukan

f. Pengelolaan SDM aparatur

g. Penyelenggaran pimpinan kenegaraan dan kepemerintahan

h. Peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur negara.

4. Strategi Pendekatan Program Keluarga Berencana (KB)

Strategi pendekatan dalam program keluarga berencana antara lain

1. Pendekatan kemasyarakatan (community approach).

Diarahkan untuk meningkatkan dan menggalakkan peran serta masyarakat

(kepedulian) yang dibina dan dikembangkan secara berkelanjutan.

2.  Pendekatan koordinasi aktif (active coordinative approach).

Mengkoordinasikan berbagai pelaksanaan program KB dan pembangunan

keluarga sejahtera sehingga dapat saling menunjang dan mempunyai

kekuatan yang sinergik dalam mencapai tujuan dengan menerapkan

kemitraan sejajar.

3. Pendekatan integrative (integrative approach)

Memadukan pelaksanaan kegiatan pembangunan agar dapat mendorong

dan menggerakkan potensi yang dimiliki oleh semua masyarakat sehingga

dapat menguntungkan dan memberi manfaat pada semua pihak.

4.  Pendekatan kualitas (quality approach).

Meningkatkan kualitas pelayanan baik dari segi pemberi pelayanan

(provider) dan penerima pelayanan (klien) sesuai dengan situasi dan kondisi.

5. Pendekatan kemandirian (self rellant approach


Memberikan peluang kepada sektor pembangunan lainnya dan masyarakat

yang telah mampu untuk segera mengambil alih peran dan tanggung jawab

dalam pelaksanaan program KB nasional

6. Pendekatan tiga dimensi ( three dimension approach).

Strategi tiga dimensi program kb sebagai pendekatan program kb nasional.

Strategi ini diterapkan atas dasar survei terhadap kecenderungan respon

pasangan usia subur (PUS) di Indonesia terhadap ajakan (KIE) untuk berkb.

Berdasarkan hasil survei tersebut respon pus terhadap KIE kb terbagi dalam 3

kelompok

1) 15% pus langsung merespon ya untuk berkb.

2)  15% - 55% pus merespon raguragu untuk berkb

3)  30% pus merespon tidak untuk berkb.

Strategi 3 dimensi ini juga diterapkan untuk merespon

kemendesakkannya untuk scepatnya menurunkaj TFR dan membudayakan

NKKBS sebagai normaprogram KBN .

Selain itu, Strategi program KB terbagi dalam dua hal yaitu:

1.    Strategi dasar

2.    Strategi operasional

a. Strategi Dasar

1.  Meneguhkan kembali program di daerah

2.  Menjamin kesinambungan program

b. Strategi operasional

1. Peningkatan kapasitas sistem pelayanan Program KB Nasional


2. Peningkatan kualitas dan prioritas program

3. Penggalangan dan pemantapan komitmen

4. Dukungan regulasi dan kebijakan

5.  Pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas pelayanan

5. Dampak Program Keluarga Berencana (KB)

Program keluarga berencana memberikan dampak yaitu:

1) Penurunan angka kematian ibu dan anak

2)  Penanggulangan masalah kesehatan reproduksi

3) Peningkatan kesejahteraan keluarga

4) Peningkatan derajat kesehatan

5) Peningkatan mutu dan layanan KB-KR

6) Peningkatan sistem pengelolaan dan kapasitas SDM

7)  Pelaksanaan tugas pimpinan dan fungsi manajemen dalam

penyelenggaraan kenegaraan dan pemerintahan berjalan lancar.

6.  Pengaruh Program Keluarga Berencana (KB)

Program Keluarga Berencana merupakan usaha langsung yang bertujuan

untuk mengurangi tingkat kelahiran melalui penggunaan alat kntrasepsi. Berhasil

atau tidaknya Pelaksaan Program Keluarga Berencana akan menetukan pula

berhasil atau tidaknya usaha untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Pertambahan penduduk yang cepat, tidak seimbang dengan peningkatan produksi

akan mengakibatkan ketegangan – ketegangan sosial dengan segala akibat yang

luas.

1.    Pengaruh positif Program KB


Dengan adanya program KB maka laju pertumbuhan penduduk dapat ditekan

untuk menghindari terjadinya peledakan penduduk yang luar biasa, karena

diperkirakan jika angka persentase kesetaraan jumlah penduduk yang ber-KB

dapat dinaikkan 1 % per tahun, maka diprediksikan jmlah penduduk Indonesia

pada tahun 2015 sekitar 237,8 juta jiwa, ini masih di bawah dari angka proyeksi

penduduk tahun 2015 yang diperkirakan sekitar 248 juta jiwa.

Dengan adanya kebijakan pemerintah unutk pengaturan laju pertumbuhan

penduduk dan pengaturan jumlah kelahiran di Indonesia merupakan bagian dari

kebijakan kependudukan nasional, yang dalam hal ini pelaksanaan program KB di

daerah pada era otonomi perlu ditentukan sasaran kinerja program untuk

mewujudkan keserasian kependudukan di berbagai bidang pembangunan. Dengan

terkendalinya jumlah penduduk, maka akan tercipta generasi yang berkualitas,

sehingga dapat meneruskan pembangunan Indonesia yang berkualiatas.

2.    Pengaruh negatif Program KB

Selain mendatangkan pengaruh yang positif, program KB juga memiliki

pengruh yang kurang menguntungkan, ini dilihat dari semakin meningkatnya

partisipasi masyarakat dalam ber-KB, maka penggunaan metode KB berupa

penggunaan AKDR, implant, suntik KB, pil KB juga semakin meningkat, maka

biaya yang harus di keluarkan pemerintah untuk pengadaan alat – alat dan obat

untuk kontrasepsi di Indonesia dapat dikatakan cukup tinggi.

Menurut penelitian, dengan peggunaan metode untuk ber-KB maka dapat

mempercepat penuaan pada akseptornya, sehingga dapat dikatakan jumlah usia


lanjut akan semakin bertambah setiap tahunnya, sehingga biaya yang juga harus

dikeluarkan pemerintah untuk kesejahteraan para Usila juga meningkat.

7. Manfaat Program Keluarga Berencana (KB).

Berikut ini merupakan manfaat dari adanya program Keluarga Berencana (KB),

yaitu:

1) Menurunkan angka kematian maternal dengan adanya perencanaan

kehamilan yang aman,sehat dan diinginkan.

2) Mencegah terjadinya kanker uterus dan ovarium dengan mengkonsumsi

pil kontrasepsi.

3) Memberikan kontribusi bagi pembangunan berkelanjutan yang

berwawasan kependudukan.Proggram keluarga berencana nasional adalah

program untuk membantu keluarga termasuk individu anggota keluarga

untuk merencanakan kehidupan berkeluarga yang baik sehingga dapat

mencapai keluarga berkualitas. Dengan terbentuk keluarga berkualitas

maka generasi mendatang sebagai sumber daya manusia yang berkualitas

akan dapat melanjutkan pembangunan.

Program keluarga berencana dalam pembangunan berkelanjutan yang

berwawasankependudukan dapat memberikan kontribusi dalam empat hal,

yaitu :

a) Mengendalikan jumlah penduduk dan pertumbuhan penduduk juga dengan

peningkatan kualitas penduduk.


b) Peningkatan kualitas penduduk sebagai sumber daya yang handal

dilakukan dengan mengarahkan pembangunan pada penurunan kematian

ibu dan bayi dengan menurunkan kelahiran atau kehamilan melalui

penggunaan kontrasepsi.

c)  Berusaha dan menjunjung tinggi perwujudan hak – hak asasi manusia

dalam hal kesehatan reproduksi pasangan usia subur untuk merencanakan

kehidupan berkeluarga.

d) Mendukung upaya pemberdayaan perempuan dengan menyadari

sepenuhnya akan hak dan kewajiban perempuan serta sebagai sumber daya

manusia yang tangguh.

Dengan mengikuti program KB sesuai anjuran pemerintah, para akseptor

akan mendapatkan tiga manfaat utama optimal baik untuk ibu, anak dan keluarga,

antara lain:

1. Manfaat Untuk Ibu:

a) Mencegah kehamilan yang tidak diinginkan

b) Mencegah setidaknya 1 dari 4 kematian ibu

c)  Menjaga kesehatan ibu

d) Merencanakan kehamilan lebih terprogram

e) Perbaikan kesehatan badan karena tercegahnya kehamilan yang

berulang kali dalam jangka waktu yang terlalu pendek.

f) Peningkatan kesehatan mental dan sosial yang dimungkinkan oleh

adanya waktu yang  cukup untuk mengasuh anak, beristirahat dan

menikmati waktu luang serta melakukan kegiatan lainnya


2. Manfaat Untuk Anak:

a) Mengurangi risiko kematian bayi

b)  Meningkatkan kesehatan bayi

c) Mencegah bayi kekurangan gizi

d) Tumbuh kembang bayi lebih terjamin

e) Kebutuhan ASI eksklusif selama 6 bulan relatif dapat terpenuhi

f) Mendapatkan kualitas kasih sayang yang lebih maksimal

3. Manfaat Untuk Keluarga:

a) Meningkatkan kesejahteraan keluarga

b) Harmonisasi keluarga lebih terjaga

8. Cara Operasional Program Keluarga Berencana (KB).

1. Pelayanan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE).

Pelayanan komunikasi, informasi dan edukasi dilakukan dengan

memberikan penerangan konseling, advokasi, penerangan kelompok

(penyuluhan) dan penerangan massa melalui media cetak dan elektronik.

Dengan penerangan, motivasi diharapkan meningkat sehingga terjadi

peningkatan pengetahuan, perubahan sikap dan perilaku masyarakat dalam

berKB, melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran,

pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga sehingga

tercapai Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS).

2.  Pelayanan kontrasepsi dan pengayoman peserta KB.

Dikembangkan program reproduksi keluarga sejahtera.Para wanita baik

sebagai calon ibu atau ibu, merupakan anggota keluarga yang paling rentan
mempunyai potensi yang besar untuk mendapatkan KIE dan pelayanan KB

yang tepat dan benar dalam mempertahankan fungsi reproduksi. Reproduksi

sehat sejahtera adalah suatu keadaan sehat baik fisik, mental dan kesejahteraan

sosial secara utuh pada semua hal yang berhubungan dengan sistem dan fungsi

serta proses reproduksi. Bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit dan

kecacatan serta dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi

kebutuhan hidup spiritual dan material, bertaqwa kepada Tuhan YME,

memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antara

keluarga  dengan lingkungan.

Dalam mencapai sasaran reproduksi sehat, dikembangkan 2 gerakan yaitu:

pengembangan gerakan KB yang makin mandiri dan gerakan keluarga sehat

sejahtera dan gerakan keluarga sadar HIV/AIDS. Pengayoman, melalui

program ASKABI (Asuransi Keluarga Berencana Indonesia), tujuan agar

merasa aman dan terlindung apabila terjadi komplikasi dan kegagalan.

3.  Peran serta masyarakat dan institusi pemerintah.

PSM ditonjolkan (pendekatan masyarakat) serta kerjasama institusi pemerintah

(Dinas Kesehatan, BKKBN, Depag, RS, Puskesmas).

4.  Pendidikan KB.

Melalui jalur pendidikan (sekolah) dan pelatihan, baik petugas KB, bidan,

dokter  berupa pelatihan konseling dan keterampilan

5.  Partisipasi Masyarakat Dalam Program Keluarga Berencana

(KB).
Partisipasi masyarakat dalam mendukung program KB masih terlihat rendah.

Hal ini terutama tampak pada partisipasi pria/suami.  Hal ini salah satunya

disebabkan minimnya akses laki-laki terhadap perolehan informasi, pelayanan

KB, dan kesehatan reproduksi.

Menurut Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM

Issac Tri Oktaviatie, S.Ant, MSc, kurangnya promosi atau sosialiasi tentang

KB pria dikarenakan kebijakan KB di Indonesia yang masih berfokus pada

pencapaian target peserta KB perempuan. Perempuan masih tetap menjadi

sasaran utama sosialisasi program KB dengan harapan istri yang akan

mengkomunikasikan dan menegosiasikan pemakaian alat kontrasepsi (alkon)

kepada suaminya.

Aspek sosial budaya masyarakat Indonesia, lanjutnya, juga menjadi faktor

penyebab rendahnya kesadaran pria untuk berperan menyukseskan program

KB. Dari hasil penelitian yang dilakukan di kabupaten Gunung Kidul,

diketahui bahwa masyarakat masih mempersepsikan KB merupakan tanggung

jawab perempuan. Selain itu, pemakaian alat kontrasepsi kondom mengurangi

kenyamanan saat melakukan hubungan seksual dengan pasangan dibanding

jenis-jenis alat kontrasepsi perempuan yang ada. Sementara metode vasektomi

masih dipersepsikan sebagai bentuk pengkebirian dan akan mengurangi

kekuatan pria. Pandangan yang keliru tentang vasektomi ini telah melahirkan

stigma terhadap akseptor yang dianggap oleh masyarakat sekitar sebagai pria

takut isteri. Kekhawatiran juga muncul dari perempuan yang beranggapan


dengan vasektomi justuru akan meningkatkan peluang suami untuk tidak setia

pada pasangan karena tidak meninggalkan jejak.

Keterlibatan pria didefinisikan sebagai partisipasi dalam proses

pengambilan keputusan KB, pengetahuan pria tentang KB dan penggunaan

kontrasepsi pria. Dari defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa  partisipasi pria

tidak hanya dalam hal pemakaian alat kontrasepsi saja, tapi juga dalam hal

pengambilan keputusan berKB oleh istri ataupun dengan pengetahuan yang

dimiliki oleh pria tentang KB digunakan untuk membantu mensosialisasikan

program-program KB.  Keterlibatan pria dalam KB diwujudkan melalui

perannya berupa dukungan terhadap KB dan penggunaan alat kontrasepsi serta

merencanakan jumlah anak dalam keluarga. Untuk merealisasikan tujuan

terciptanya Keluarga Berkualitas 2015,  Partisipasi pria dalam Keluarga

Berencana adalah tanggung jawab pria dalam kesertaan ber-KB, serta

berperilaku seksual yang sehat dan aman bagi dirinya, pasangan atau

keluarganya.  Dalam hal ini dinyatakan bahwa keterlibatan pria dalam program

KB dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung. Penggunaan metode

kontrasepsi pria merupakan satu bentuk partisipasi pria secara langsung,

sedangkan keterlibatan pria secara tidak langsung misalnya pria memiliki sikap

yang lebih positif dan membuat keputusan yag lebih baik berdasarkan sikap

dan persepsi, serta pengetahuan yang dimilikinya.

K.   Optimalisasi Peran Program Keluarga Berencana (KB).

Pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali akan berdampak pada

kemiskinan dan pengangguran. Karenanya, diperlukan sinergi antara


pemerintah, masyarakat, dan lembaga-lembaga terkait lainnya secara bersama-

sama menanggulangi ledakan penduduk sekaligus memberikan mengedukasi

masyarakat tentang pentingnya perencanaan keluarga agar kualitas hidupnya

lebih baik. Di sinilah kehadiran KB menjadi kebutuhan yang sangat mendesak

ketika ancaman ledakan penduduk menimpa bangsa ini.

Soerjono Soekanto dalam bukunya, Sosiologi Sebuah Pengantar

(2010) mengatakan, bahwa masalah angka kelahiran akan dapat diatasi dengan

melaksanakan program keluarga berencana yang bertujuan meningkatkan

kesehatan dan kesejahteraan ibu-ibu dan anak-anak maupun meningkatkan

kondisi kehidupan masyarakat dengan mengurangi angka kelahiran sehingga

pertumbuhan penduduk tidak melebihi kapasitas produksi.

Dengan demikian, program KB menjadi pilihan yang sangat tepat guna

membatasi jumlah anak dalam suatu keluarga secara umum dan menunda

masa perkawinan dini agar dapat mengurangi jumlah angka kelahiran yang

tinggi. Selain itu, cara lain yang dapat dilakukan untuk mengimbangi ledakan

jumlah penduduk adalah penambahan dan penciptaan lapangan kerja,

meningkatkan kesadaran dan pendidikan kependudukan, mengurangi

kepadatan penduduk dengan program transmigrasi, dan meningkatkan

produksi.

Dengan beberapa cara tersebut ancaman ledakan jumlah penduduk bisa


diminimalisir sehingga angka kemiskinan dan pengangguran dapat ditekan
seminimal mungkin. Jika angka kemiskinan dan pengangguran berkurang
otomatis kesempatan dan akses masyarakat terhadap kesehatan dan
pendidikan benar-benar dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia dan pada
gilirannya kesejahteraan yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini akan
terwujud.

Alat Kontrasepsi Kuno yang Digunakan Orang Pada Zaman Dahulu

1. Buaya
Pada tahun 1850 sebelum Masehi, wanita-wanita di Mesir
menggunakan kotoran buaya sebagai alat kontrasepsi. Kotoran tersebut
akan dimasukkan ke dalam mulut rahim untuk menghalangi sperma
masuk. Biasanya dicampur dengan madu sebagai anti bakteri dan
membantu kotoran buaya lebih menempel di mulut rahim.

Meski tidak diketahui apakah metode ini efektif atau tidak, tapi fakta bahwa hal
ini termuat dalam dokumentasi sejarah bisa jadi pembuktian bahwa metode ini
cukup populer di masanya.

2. Madu

Wanita Mesir kuno juga menggunakan madu sebagai alat kontrasepsi. Hal
ini dijelaskan di Ebers   Papyrus yang berlatar tahun 1550 Sebelum Masehi.

Alat kontrasepsi kuno ini dibuat dengan campuran madu dan daun akasia, yang
kemudian dibalurkan ke dalam vagina sebagai pembunuh sperma. Atau dibuat
menjadi gulungan, lalu dimasukkan ke mulut rahim.
3. Memasukkan sepotong batu atau perunggu ke dalam vagina

Alat kontrasepsi kuno yang satu ini berbentuk objek yang terbuat dari batu atau
perunggu. Alat ini dimasukkan ke dalam vagina untuk menghalangi sperma
masuk, atau membunuh sperma sebelum masuk ke dalam rahim. Alat ini mirip
dengan diafragma atau cervical cap yang digunakan pada masa sekarang sebagai
alat kontrasepsi modern.

Alat Kontrasepsi Pada Zaman Modern/Sekarang

1. Kontrasepsi suntikan/injeksi
Kontrasepsi suntikan adalah cara untuk mencegah terjadinya
kehamilan dengan melalui suntikan yang mengandung suatu cairan berisi
zat berupa hormon estrogen dan progesteron atau pun hanya
progesteronnya saja untuk jangka waktu tertentu. Suntikan progestin
pertama di temukan pada awal tahun 1950an, yang pada mulanya
digunakan untuk pengobatan endometriosis dan kanker endometrium
(carcinoma endometrii). Baru pada awal tahun 1960, uji klinis penggunaan
suntikan progestin untuk keperluan kontrasepsi dilakukan.Terdapat dua
jenis suntikan progestin yang dipakai, yakni depo medroksiprogesteron
asetat dan depo noretisteron enantat. Sedangkan untuk suntikan depo
estrogen-progesteron (Cyclofem) ditemukan pada tahun 1960 an.
Penambahan estrogen pada obat kontrasepsi progesteron ternyata dapat
memperbaiki siklus haid.
Jenis-jenis alat KB suntik yang sering digunakan di Indonesia antara lain:
a. Suntikan / bulan ; contoh : cyclofem
b. Suntikan / 3 bulan ; contoh : Depoprovera, Depogeston.

2. Kontrasepsi Implant
Kontrasepsi Implan biasa juga disebut Alat Kontrasepsi
Bawah Kulit (AKBK) adalah alat kontrasepsi yang disusupkan
dibawah kulit atau yang diinsersikan tepat di bawah kulit,
dilakukan pada bagian dalam lengan atas atau dibawah siku
melalui insisi tunggal dalam bentuk kipas. (Suratun, dkk. 2008.
Pelayanan Keluarga Berencana dan Pelayanan Kontrasepsi.
Jakarta: TIM)
3. Alat Kontrasepsi IUD / AKDR
Adalah aspek utama banyaknya ibu yang memilih
sebagai alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan saat KB.
Jenis alat kontrasepsi ini berbentuk seperti huruf T, dengan
metode pemasangannya dimasukan ke dalam rahim. IUD
terbuat dari bahan dasar hormon, yang akan melepaskan
progestin dengan tujuan menghambat ovulasi. IUD biasanya
dapat berfungsi selama 5 tahun mulai dari awal
pemasangan.Alat kontrasepsi dalam rahim ( AKDR / IUD )
merupakan alat kontrasepsi yang dipasang dalam rahim yang
relatif lebih efektif bila dibandingkan dengan metode pil, suntik
dan kondom. Alat kontrasepsi dalam rahim terbuat dari plastik
elastik, dililit tembaga atau campuran tembaga dengan perak.
Lilitan logam menyebabkan reaksi anti fertilitas dengan waktu
penggunaan dapat mencapai 2-10 tahun, dengan metode kerja
mencegah masuknya sprematozoa/sel mani ke dalam saluran
tuba. Pemasangan dan pencabutan alat kontrasepsi ini harus
dilakukan oleh tenaga medis (dokter atau bidan terlatih), dapat
dipakai oleh semua perempuan usia reproduksi namun tidak
boleh dipakai oleh perempuan yang terpapar infeksi menular
seksual (Imbarwati, 2009).IUD yaitu alat yang terbuat dari
plastik yang dimasukkan ke dalam rahim dan mencegah
kehamilan dengan cara menganggu lingkungan rahim dan
menghalangi terjadinya pembuahan maupun implantasi (ILUNI
FKUI,2010).

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Kontrasepsi merupakan pencegahan kehamilan setelah hubungan seksual


dengan menghambat sperma mencapai ovum matang (metode yang mencegah
ovulasi) atau dengan mencegah ovum yang telah dibuahi tertanam pada
endometrium ( mekanisme yang menyebabkan lingkungan uterus tidak cocok
untuk ovum yang telah dibuahi).
Dalam pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi
hubungannya dengan pemilihan alat kontrasepsi yang sesuai dengan pasien,
diperlukan suatu konseling yang berarti petugas medis membantu pasien untuk
memilih alat kontrasepsi yang sesuai dengan dirinya dan juga dengan konseling
yang baik akan membantu pasien dalam menggunakan kontrasepsinya lebih lama
dan meningkatkan keberhasilan program KB.
Kontrasepsi hormonal yang cocok dan sesuai dengan pasien, berdasarkan
keadaan pasien yang memiliki usia pra menopause, dan masalah obesitas tipe II,
dislipidemia, serta riwayat amenore adalah pil kombinasi, suntik kombinasi,
minipil progestin dan implant levonorgestrel. Namun dari keempat opsi
kontrasepsi hormonal yang dapat digunakan oleh pasien tersebut, kontrasepsi
hormonal pil kombinasi yaitu kombinasi antara hormon estrogen dan progesteron
sintetik yang lebih cocok dan sesuai dengan kondisi pasien.
Pada pasien ini pemberian kontrasepsi sudah benar dan rasional. Benar,
karena sesuai dengan pertimbangan pemakaian kontrasepsi hormonal oral sesuai
dengan rekomendasi American Collage of Obstetrics yaitu pemberian kontrasepsi
hormonal setelah sebelumnya melakukan penelusuran riwayat medik sederhana
dan pengukuran tekanan darah. Rasional karena pemilihan jumlah dan dosis
kontrasepsi hormonal kombinasi sesuai dengan kondisi pasien dan perubahan
pemberian regimen kontrasepsi hormonal oral dilakukan setelah timbul efek
samping yang tidak mengenakan pada pasien.
Pemilihan alat kontrasepsi, jumlah dan dosis perlu dipertimbangkan dengan baik
sesuai dengan kondisi pasien secara holistik, dengan sebelumnya dilakukan
konseling secara optimal karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kualitas
hasil yang dicapai.