Anda di halaman 1dari 38

RESUME KONSEP DASAR KEBIDANAN KOMUNITAS, KONSEP

KELUARGA DAN MASYARAKAT


Disusun untuk Memenuhi Tugas Idividu Pada Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Komunitas yang
Diampu Oleh Dosen Ni Luh Putu Sri Erawati, S.Si.T., MPH

Disusun Oleh :
NAMA : NI KADEK WIDNYANI DEWI
NIM : P07124018015
KELAS : A/SMT 4

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES DENPASAR
PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN
2020
A. Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Komunitas
1. Konsep asuhan kebidanan
Asuhan kebidanan adalah proses pengambilan keputusan dan tindakan yang dilakukan
oleh bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya berdasarkan ilmu
pengetahuan dan kiat kebidanan. Asuhan kebidanan adalah penerapan fungsi dan
kegiatan yang menjadi tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada klien yang
mempunyai kebutuhan/masalah dalam bidang kesehatan ibu masa hamil, masa
persalinan, nifas, bayi setelah lahir serta keluarga berencana.
2. Konsep Kebidanan Komunitas
Kebidanan komunitas adalah pelayanan kebidanan yang menekankan pada aspek-aspek
psikososial budaya yang ada di komunitas (masyakart sekitar). Maka seorang bidan
dituntut mampu memberikan pelayanan yang bersifat individual maupun kelompok.
Selain itu kebidanan komunitas sebagai rangkaian kerja atau segala aktivitas yang
dilakukan oleh bidan untuk mewujudkan tatanan individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat yang sehat secara utuh dengan melibatkan semua komponen, sumber daya
akan, dan sumber daya manusia baik lintas program maupun sectoral meliputi usaha
promotive, preventif, kuratif dan rehabilitative yang sesuai dengan kewenangan Bidan.
( Hamdani, 2015. Hal 4.)
Untuk itu bidan perlu dibekali dengan strategi-strategi untuk mengatasi
tantangan/kendala seperti:
a. Sosial budaya seperti ketidakadilan gender, pendidikan, tradisi yang merugikan
Ekonomi, seperti kemiskinan.
b. Politik dan hukum, seperti ketidakadilan sosial.
c. Fasilitas, seperti tidak ada peralatan yang cukup, pelayanan rujukan.
d. Lingkungan, seperti air bersih, daerah konflik, daerah kantong (daerah yang
terisolir), kumuh, padat, dll.
3. Tujuan Kebidanan Komunitas
Tujuan kebidanan komunitas mencakup tujuan umum dan tujuan khusus :
a. Tujuan umum
Seorang bidan komunitas mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
khusunya kesehatan perempuan diwilayah kerjanya, sehingga masyarakat mampu
mengenali masalah dan kebutuhan serta mampu memecahkan masalahnya secara
mandiri.
b. Tujuan Khusus :
1) Meningkatkan cakupan pelayanan kebidanan komunitas sesuai dengan tanggung
jawab bidan.
2) Meningkatkan mutu pelayanan ibu hamil, pertolongan persalinan, perawatan
nifas dan perinatal secara terpadu.
3) Menurunkan jumlah kasus-kasus yang berkaitan dengan risiko kehamilan,
persalinan, nifas, dan perinatal.
4) Medukung program-program pemerintah lainnya untuk menurunkan angka
kesakitan dan kematian pada ibu dan anak.
5) Membangun jaringan kerja dengan fasilitas rujukan dan tokoh masyarakat
setempat atau terkait.( Hamdani, 2015. Hal 9)
4. Prinsip Pelayanan Asuhan Kebidanan Komunitas
Prinsip pelayanan kebidanan komunitas yaitu sebagai berikut :
a. Kebidanan komunitas sifatnya multi disiplin meliputi ilmu kesehatan masyarakat,
sosial, psikologi, ilmu kebidanan, dan lain-lain yang mendukung peran bidan di
komunitas.
b. Berpedoman pada etika profesi kebidanan yang menjunjung harkat dan martabat
kemanusiaan klien.
c. Ciri Kebidanan komunitas adalah menggunakan populasi sebagai unit analisis.
Populasi bisa berupa kelompok sasaran (jumlah perempuan, jumlah Kepala
Keluarga (KK), jumlah laki-laki, jumlah neonatus, jumlah balita, jumlah lansia)
dalam area yang bisa ditentukan sendiri oleh bidan. Contohnya adalah jumlah
perempuan usia subur dalam 1 RT atau 1 kelurahan/ kawasan perumahan/
perkantoran.
d. Ukuran keberhasilan bukan hanya mencakup hasil upaya bidan, tetapi hasil
kerjasama dengan mitra-mitra seperti PKK, kelompok ibu-ibu pengajian, kader
kesehatan, perawat, PLKB, dokter, pekerja sosial, dll.
e. Sitem pelaporan bidan di komunitas, berbeda dengan kebidanan klinik. Sistem
pelaporan kebidanan komunitas berhubungan dengan wilayah kerja yang menjadi
tanggung jawabnya. (Wahyuni, E. 2018. Hal 5)
5. Tanggung Jawab Bidan Pada Pelayanan Kebidanan Komunitas
Kebidanan sebagai pelayanan profesional mempunyai wilayah pelayanan
tersendiri sehingga tidak tumpang tindih dengan profesi yang lain. Peran,
tugas/tanggung jawab, dan kompetensi bidan dirumuskan sesuai dengan wewenang
yang diberikan pemerintah kepada bidan dalam melaksanakan tugasnya. Asuhan
mendasar kebidanan komunitas mencakup pencegahan, deteksi dini untuk rujukan,
asuhan kegawatdaruratan, maternal dan neonatal, pertolongan pertama pada penyakit,
pengobatan ringan, asuhan pada kondisi kronik, dan pendidikan kesehatan. Untuk
menangani hal tersebut maka bidan perlu melaksanakan kegiatan seseuai dengan
kewenangannya dalam menjalankan praktik mandiri. Bidan mempunyai peran, fungsi,
tugas/ tanggung jawab yang besar dalam melaksanakan asuhan kebidanan komunitas.
Bidan memiliki 4 peran dalam memberikan asuhan kebidanan komunitas, dan dari
masing-masing peran memiliki tugas dan tanggung jawabnya.
a. Peran bidan sebagai pelaksana.
Bidan sebagai pelaksana memberikan pelayanan kebidanan kepada wanita
dalam siklus kehidupannya yaitu asuhan ibu hamil, bersalin, bayi baru lahir,
nifas, neoantus, bayi anak dan balita, remaja, masa antara, keluarga berencana
dan lansia. Sebagai pelaksana bidan mempunyai tiga kategori tugas yaitu
tugas mandiri, tugas kolaborasi, dan tugas ketergantungan.
1) Tugas Mandiri Tugas mandiri bidan meliputi hal – hal berikut ini :
a) Menetapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan yang
diberikan.
b) Memberi pelayanan dasar pranikah pada anak remaja dan dengan
melibatkan mereka sebagai klien. Membuat rencana tindak lanjut
tindakan/layanan bersama klien.
c) Memberi asuhan kebidanan kepada klien selama kehamilan normal.
Memberi asuhan kebidanan kepada klien dalam masa persalinan
dengan melibatkan klien / keluarga.
d) Memberi asuhan kebidanan pada bayi baru lahir.
e) Memberi asuhan kebidanan pada klien dalam masa nifas dengan
melibatkan klien/keluarga.
f) Memberi asuhan kebidanan pada wanita usia subur yang
membutuhkan pelayanan keluarga berencana.
g) Memberi asuhan kebidanan pada wanita dengan gangguan sistem
reproduksi dan wanita dalam masa klimakterium serta menopause.
h) Memberi asuhan kebidanan pada bayi dan balita dengan melibatkan
keluarga dan pelaporan asuhan.
2) Tugas Kolaborasi Tugas-tugas kolaborasi (kerja sama) bidan, yaitu:
a) Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan
sesuai fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga.
b) Memberi asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan risiko tinggi dan
pertolongan pertama pada kegawatdaruratan yang memerlukan
tindakan kolaborasi.
c) Mengkaji kebutuhan asuhan pada kasus risiko tinggi dan keadaan
kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi.
d) Memberi asuhan kebidanan pada ibu dalam masa persalinan dengan
risiko tinggi serta keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan
pertolongan pertama dengan tindakan kolaborasi dengan melibatkan
klien dan keluarga.
e) Memberi asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas dengan risiko
tinggi serta pertolongan pertama dalam keadaan kegawatdaruratan
yang memerlukan tindakan kolaborasi bersama klien dan keluarga.
f) Memberi asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan risiko tinggi
dan pertolongan pertama dalam keadaan kegawatdaruratan yang
memerlukan tindakan kolaborasi bersama klien dan keluarga.
g) Memberi asuhan kebidanan pada balita dengan risiko tinggi serta
pertolongan pertama dalam keadaan kegawatdaruratan yang
memerlukan tindakan kolaborasi bersama klien dan keluarga.
3) Tugas ketergantungan Tugas-tugas ketergantungan (merujuk) bidan, yaitu:
a) Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan
sesuai dengan fungsi keterlibatan klien dan keluarga.
b) Memberi asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada kasus
kehamilan dengan risiko tinggi serta kegawatdaruratan.
c) Memberi asuhan kebidanan melalui konsultasi serta rujukan pada masa
persalinan dengan penyulit tertentu dengan melibatkan klien dan
keluarga.
d) Memberi asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada ibu
dalam masa nifas yang disertai penyulit tertentu dan kegawatdaruratan
dengan melibatkan klien dan keluarga.
e) Memberi asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan kelainan
tertentu dan kegawatdaruratan yang memerlukan konsultasi serta
rujukan dengan melibatkan keluarga.
f) Memberi asuhan kebidanan kepada anak balita dengan kelainan
tertentu dan kegawatdaruratan yang memerlukan konsultasi serta
rujukan dengan melibatkan klien/keluarga.
b. Peran Bidan Sebagai Pengelola
Sebagai pengelola bidan memiliki 2 tugas, yaitu tugas pengembangan
pelayanan dasar kesehatan dan tugas partisipasi dalam tim.
1) Mengembangkan pelayanan dasar kesehatan di wilayah kerjanya.
2) Berpartisipasi dalam tim. Bidan berpartisipasi dalam tim untuk
melaksanakan program kesehatan sektor lain melalui dukun bayi, kader
kesehatan, serta tenaga kesehatan lain yang berada di bawah bimbingan
dalam wilayah kerjanya.
c. Peran Bidan Sebagai Pendidik
Dalam hal ini Bidan berperan sebagai pendidik di masyarakat. Sebagai
pendidik, bidan berupaya merubah perilaku komunitas di wilayah kerjanya
sesuai dengan kaidah kesehatan. Tindakan yang dapat dilakukan oleh bidan di
komunitas dalam berperan sebagai pendidik masyarakat antara lain sebagai
berikut :
1) Memberi pendidikan dan penyuluhan kesehatan pada klien
2) Melatih dan membimbing kader. ( Hamdani,2015. Hal 14)
d. Peran Bidan Sebagai Peneliti
Sebagai peneliti. Bidan perlu mengkaji perkembangan kesehatan pasien yang
dilayanimya, perkembangan keluarga dan masyarakat. Secara sederhana bidan
dapat memberikan kesimpulan atau hipotesis dan hasil analisisnya. Sehingga
bila peran ini dilakukan oleh bidan, maka ia dapat mengetahui secarta cepat
tentang permasalahan komuniti yang dilayaninya dan dapat pula dengan
segera melaksanakan tindakan.
Bidan melakukan investigasi atau penelitian terapan dalam bidang kesehatan
baik secara mandiri maupun berkelompok, yaitu:
1) Mengidentifikasi kebutuhan investigasi yang akan dilakukan.
2) Menyusun rencana kerja pelatihan.
3) Melaksanakan investigasi sesuai dengan rencana.
4) Mengolah dan menginterpretasikan data hasil investigasi.
5) Menyusun laporan hasil investigasi dan tindak lanjut.
6) Memanfaatkan hasil investigasi untuk meningkatkan dan mengembangkan
program kerja atau pelayanan kesehatan.
6. Ruang Lingkup Pelayanan Kebidanan Komunitas
1) Pelayanan kesehatan ibu
Bertujuan meningkatkan derajat kesehatan yang optimal bagi ibu yang dilakukan
pada pra hamil, hamil, persalinan, nifas dan menyusui.
2) Pelayanan medik keluarga berencana
Bertujuan meningkatkan kesehatan ibu dan anak dalam keluarga dalam rangka
mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera melalui pemberian
kontrasepsi. Kegiatannya meliputi :
a) Komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)
b) Pelayanan kontrasepsi
c) Pembinaan dan pengayoman medis kontrasepsi peserta KB
d) Pelayanan rujukan KB
e) Pencatatan dan pelaporan
3) Pelayanan kesehatan anak
a) Pemeriksaan kesehatan balita secara berkala
b) Penyuluhan pada orang tua, menyangkut pada perbaikan gizi, kesehatan
lingkungan dan pengawasan tumbuh kembang anak
c) Imunisasi dan upaya pencegahan penyakit lainnya
d) Identifikasi tanda kelainan dan penyakit yang mungkin timbul pada bayi dan
balita serta cara penanngulangannya.
4) Peningkatan peran serta masyarakat
a) Pelatihan dukun
b) Pelatihan kader kesehatan masyarakat
c) Kursus ibu
d) Pengembangan kesehatan masyarakat desa (PKMD)
e) Posyandu
f) Dana sehat
B. Konsep Keluarga
1. Definisi Keluarga
Unit-unit masyarakat adalah komunitas, keluarga, kelompok yang mempunyai
tujuan dan nilai yang sama. Koentjaraningrat mendefinisikan komunitas sebagai suatu
kesatuan hidup manusia yang menempati suatu wilayah nyata dan berinteraksi menurut
suatu sistem adat istiadat, serta terikat oleh suatu rasa identitas suatu komunitas.
Dengan demikian ciri dari komunitas adalah kesatuan wilayah, kesatuan adat istiadat,
rasa identitas komunitas dan loyalitas terhadap komunitas.
Departemen Kesehatan RI (1988) mendefinisikan keluarga sebagai unit terkecil
dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul
dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Sementara menurut Salvicion G. Bailon dan Aracelis Maglaya (1989) dikutip Effendy
(1998), keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena hubungan darah,
hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga,
berinteraksi satu sama lain, dan di dalam perannya masing-masing menciptakan serta
mempertahankan kebudayaan.
Dalam kebidanan/keperawatan kesehatan masyarakat keluarga sebagai unit utama
yang menjadi sasaran pelayanan, karena keluarga merupakan unit terkecil dari
masyarakat. Apabila salah satu diantara anggota keluarga mempunyai masalah
keperawatan atau kesehatan akan mempengaruhi anggota keluarga yang lain, demikian
pula terhadap kelompok dan masyarakat di sekitarnya. Masalah kesehatan keluarga
saling berkaitan terhadap anggota keluarga, kelompok maupun masyarakat secara
keseluruhan yang akhirnya memberikan gambaran terhadap masalah kesehatan
masyarakat secara menyeluruh. ( Wahyudi, E.2018. hal 103)
2. Tipe atau Bentuk Keluarga
Keluarga terdiri dari berbagai macam tipe atau bentuk yaitu sebagai berikut:
a. Keluarga Inti (Nuclear Family) adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan
anakanak.
b. Keluarga Besar (Extended Family) adalah keluarga inti ditambah sanak saudara,
misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.
c. Keluarga Berantai (Serial Family) adalah keluarga yang terdiri dari perempuan dan
lakilaki yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
d. Keluarga Duda/Janda (Single Family) adalah keluarga yang terjadi karena
perceraian atau kematian.
e. Keluarga berkomposisi (Composite) adalah keluarga yang perkawinannya
berpoligami dan hidup secara bersama.
f. Keluarga Kabitas (Cahabitation) adalah dua orang yang menjadi satu tanpa
pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.
3. Struktur Keluarga
Struktur keluarga didasarkan pada organisasi keluarga, yaitu perilaku anggota
keluarga dan pola hubungan dalam keluarga. Hubungan yang ada dapat bersifat
kompleks, misalnya seorang wanita bisa sebagai istri, sebagai ibu, sebagai menantu,
dan lain-lain, yang semua itu mempunyai kebutuhan, peran dan harapan yang berbeda.
Pola hubungan itu akan membentuk kekuatan dan struktur peran dalam keluarga.
Struktur keluarga dapat diperluas dan dipersempit tergantung dari kemampuan dari
keluarga tersebut untuk merespon stressor yang ada dalam keluarga. Struktur keluarga
terdiri dari yaitu sebagai berikut :
a. Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi, di mana hubungan itu disusun melalui jalur garis
ayah.
b. Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi, di mana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
c. Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
istri.
d. Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
suami.
e. Keluarga kawinan adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan
keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena
adanya hubungan dengan suami dan istri.
4. Peran dan Fungsi Keluarga
a. Peran keluarga
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat,
kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu.
Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari
keluarga, kelompok dan masyarakat. Berbagai peranan yang umumnya terdapat di
dalam kebanyakan keluarga, terutama di Indonesia adalah sebagai berikut :
1) Peranan Ayah
Peranan ayah adalah sebagai suami dari ibu dan ayah untuk anak-anak. Di
samping itu, ayah juga berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung
dan pemberi rasa aman, kepala keluarga, anggota dari kelompok sosialnya serta
sebagai anggota masyarakat dalam lingkungannya.
2) Peranan Ibu
Peranan ibu adalah sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya. Ibu mempunyai
peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-
anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya,
serta sebagai anggota masyarakat dalam lingkungannya.
3) Peranan Anak
Anak dalam keluarga melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat
perkembangannya, baik fisik, mental, sosial, maupun spiritual.
Pembagian peranan ini tidak memang mutlak. Dalam komunitas, bisa saja
ayah yang mengurus rumah tangga dan ibu pencari nafkah. Namun kondisi
seperti ini masih dipandang oleh kebanyakan orang sebagai hal yang tidak
seharusnya. Kondisi ini menunjukkan masih adanya gender stereotype, ibu
hanya dipandang sebagai orang kedua setelah ayah sehingga ketika keduanya
sama-sama bekerja, sekalipun penghasilan ibu lebih besar, masih tetap dianggap
sebagai pencari nafkah tambahan.
b. Fungsi Keluarga
Berikut ada 5 fungsi dari keluarga yaitu :
1) Fungsi afektif
Fungsi keluarga yang utama adalah untuk mengajarkan segala sesuatu untuk
mempersiapkan anggota keluarganya dalam berhubungan dengan orang lain.
2) Fungsi sosialisasi
Fungsi mengembangkan dan sebagai tempat melatih anak untuk berkehidupan
social sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain di
luar rumah.
3) Fungsi reproduksi
Fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga.
4) Fungsi ekonomi
Fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan
tempat untuk mengembangkan kemampuan individu dalam meningkatkan
penghasilan dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarga.
5) Fungsi pemeliharaan kesehatan
Fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap
memiliki.
Selain kelima fungsi di atas berikut menurut (Wahyudi, E. 2018, hal. 110) ada 3
fungsi dari keluarga yaitu:
1) Asih, yaitu memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, dan kehangatan
kepada anggota keluarga sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan
berkembang sesuai usia dan kebutuhannya.
2) Asuh, yaitu menuju kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar
kesehatannya selalu terpelihara, sehingga diharapkan menjadikan mereka
anak-anak yang sehat baik fisik, mental dan spiritual.
3) Asah, yaitu memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap menjadi
manusia dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya.
f. Tugas keluarga dalam kesehatan
Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai peran di
bidang kesehatan yaitu sebagai berikut :
1) Mengenal masalah kesehatan keluarga. Kesehatan merupakan kebutuhan
keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segala sesuatu
tidak tidak akan berarti.
2) Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga. Tugas ini
merupakan upayta keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang
tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa di antara
keluarga yang mempunyai kemampuan untuk menentukan tindakan
keluarga.
3) Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan. Seringkali keluarga
telah mengambil tindakan yang tepat dan benar, tetapi keluarga memiliki
keterbatasan yang telah diketahui oleh keluarga sendiri.
4) Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga
5) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi keluarga.
C. Konaep Masyarakat
1. Definisi Masyarakat
Para ahli mendefiniskan komunitas atau masyarakat dari sudut pandangan yang
berbeda. WHO mendefinisikan komunitas sebagai kelompok sosial yang ditentukan
oleh batas-batas wilayah, nilal-nilai keyakinan dan minat yang sama serta adanya saling
mengenal dan berinteraksi antara anggota masyarakat yang satu dengan yang lainnya.
Berikut ini pengertian masyarakat menurut beberapa ahli:
Dikutip dari Syafrudin (2011)
a. Menurut Linton (ahli antropologi)
Masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama
hidup bekerja sama sehingga dapat mengorganisasi dirinya dan berfikir tentang diri
nya sebagai satu kesatuan social dengan batas-batas tertentu.
b. Menurut MJ. Herskovits
Masyarakat adalah kelompok individu yang dikoordinasikan danmengikuti satu cara
hidup tertentu.
c. Menurut JL. Jillin dan JP. Jillin
Masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar mempunyaikebiasaan tradisi
sikap dan perasaan persatuan yang sama.
d. Menurut Prof. DR. Koentjoroningrat
Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurutsuatu system
adat istiadat tertentu yang berkesinambungan dan terikat oleh suaturasa identitas
bersama.
e. Menurut R. Linton
Setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja samsehingga
mereka ini dapat mengorganisasikan dalam kesatuan social dengan batas-batas
tertentu.
f. Masyarakat merupakan wadah untuk membentuk kepribadian diri setiap kelompok
manusia atau suku yang berbeda satu dengan yang lainnya. Selain itu masyarakat
adalah kelompok manusia yang tinggal menetap dalam suatu wilayah yang tidak
terlalu jelas batas-batasnya, berinteraksi menurut kesamaan pola tertentu, diikat oleh
suatu harapan dan kepentingan yang sama, keberadaannya berlangsung terus-
menerus, dengan suatu rasa identitas yang sama.
g. Dalam bahasa inggris masyarakat disebut society, yang berasal dari kata Latin
“socius” yang berarti: teman atau kawan. Kata masyarakat berasal dari bahasa Arab
“syirk” sama-sama menunjuk pada apa yang kita maksud dengan kata
masyarakat, yakni sekelompok orang yang saling mempengaruhi satu sama lain
dalam suatu proses pergaulan, yang berlangsung secara berkesinambungan.
Pergaulan ini terjadi karena adanya nilai-nilai, norma-norma, cara-cara dan prosedur
serta harapan dan keinginan yang merupakan kebutuhan bersama. Hal-hal yang
disebut terakhir inilah merupakan tali pengikat bagi sekelompok orang yang disebut
masyarakat (Antonius Atosokhi Gea dkk, 2003: 30-31).

Dari beberapa pendapat para ahli di atas penulis mengambil suatu kesimpulan bahwa
yang dimaksud dengan masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup bersama-
sama untuk mendiami wilayah tertentu dan saling bergaul serta mempunyai kebudayaan
dan memiliki pembagian kerja, dalam waktu relatif lama, saling tergantung
(interdependent), memiliki sistem sosial budaya yang mengatur kegiatan para anggota
serta memiliki kesadaran akan kesatuan dan perasaan memiliki, mampu untuk bertindak
dengan cara yang teratur dan bekerja sama dalam melakukan aktivitas yang cukup
lama pada kelompok tersebut.
2. Ciri-ciri Masyarakat
Dari berbagai pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat itu
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Interaksi diantara sesama anggota masyarakat
b. Menempati wilayah dengan batas-batas tertentu
c. Saling tergantung satu sama lain
d. Memiliki adat istiadat tertentu/kebudayaan
e. Manusia yang hidup bersama sekurang-kurangnya terdiri dari dua orang
f. Bergaul dalam waktu cukup lama, sebagai akibat hidup bersama itu,
timbul sistem komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengatur
hubungan antar manusia
g. Adanya kesadaran bahwa setiap manusia merupakan bagian dari suatu
kesatuan
h. Menghasilkan kebudayaan yang mengembangkan kebudayaan (Soekanto,
1983)
3. Tipe Masyarakat
Ada tiga jenis masyarakat dilihat dari lingkungan hidupnya, yaitu:
a. Masyarakat primitif, yaitu masyarakat yang terisolir atau mengisolasikan
diri dengan dunia atau masyarakat luar, cara hidup masih terbelakang,
kebudayaan yang rendah, dan tempat tinggal yang berpindah-pindah
(nomaden).
b. Masyarakat desa, yaitu masyarakat yang agraris yang kebutuhan hidupnya banyak
bergantung dari hasil bertani dan menangkap ikan, kehidupan mereka sangat
bergantung pada iklim dan pergantian musim.
c. Masyarakat kota, yaitu masyarakat yang merupakan tempat berbaurnya segala
macam suku bangsa dan bertumpunya hasil-hasil teknologi modern, sifat-sifat
individualitas tumbuh dan berkembang.
Sedangkan Masyarakat berdasarkan taraf struktur sosial dan kebudayaan, masyarakat
terdiri dari:
a. Masyarakat sederhana
b. Masyarakat madya
c. Masyarakat modern
Masyarakat berdasarkan mata pencaharian:
a. Masyarakat pemburu
b. Masyarakat peternak
c. Masyarakat peladang
d. Masyarakat nelayan
e. Masyarakat petani. (Syafrudin, 2009)
4. Ciri-ciri Masyarakat Sehat
Adapun ciri-ciri masyarakat sehat diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Peningkatan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat
2. Mengatasi masalah kesehatan sederhana melalui upaya peningkatan,
pencegahan, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan terutama untuk
ibu dan anak
3. Peningkatan upaya kesehatan lingkungan terutama penyediaan sanitasi dasar
yang dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan
mutu lingkungan hidup
4. Peningkatan status gizi masyarakat berkaitan dengan peningkatan status sosial
ekonomi masyarakat
5. Penurunan angka kesakitan dan kematian dari berbagai sebab dan penyakit
RESUME UPAYA KESEHATAN BERSUMBERDAYA MASYARAKAT
(UKBM)
Disusun untuk Memenuhi Tugas Idividu Pada Mata Kuliah
Asuhan Kebidanan Komunitas yang Diampu Oleh
Dosen Gusti Ayu Marhaeni, SKM., M. Biomed

Disusun Oleh :
NAMA : NI KADEK WIDNYANI DEWI
NIM : P07124018015
KELAS : A/SMT 4

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES DENPASAR
PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN
2020
A. Pembentukan dan Penyelenggaraan UKBM
1. Pemberdayaan masyarakat adalah proses untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran
dan kemampuan individu, keluarga serta masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya
kesehatan yang dilaksanakan dengan cara fasilitasi proses pemecahan masalah melalui
pendekatan edukatif dan partisipatif serta memperhatikan kebutuhan potensi dan sosial
budaya setempat (PERMENKES RI Nomor 8 Tahun 2019).\
Menurut PERMENKES RI Nomor 65 Tahun 2013 Konsep pemberdayaan masyarakat
mencakup pengertian community development (pembangunan masyarakat) dan
community-based development (pembangunan yang bertumpu pada masyarakat). Tahap
selanjutnya muncul istilah community driven development yang diterjemahkan sebagai
pembangunan yang diarahkan masyarakat atau pembangunan yang digerakkan
masyarakat. Pembangunan yang digerakkan masyarakat didefinisikan sebagai kegiatan
pembangunan yang diputuskan sendiri oleh warga komunitas dengan menggunakan
sebanyak mungkin sumber daya setempat. Pemberdayaan masyarakat di bidang
kesehatan adalah proses pemberian informasi kepada individu, keluarga atau kelompok
(klien) secara terus menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembangan klien, serta
proses membantu klien, agar klien tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau
sadar (aspek pengetahuan atau knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek sikap atau
attitude), dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan
(aspek tindakan atau practice).
Pemberdayaan Masyarakat bidang kesehatan merupakan suatu proses aktif, dimana
sasaran/klien dan masyarakat yang diberdayakan harus berperan serta aktif
(berpartisipasi) dalam kegiatan dan program kesehatan. Ditinjau dari konteks
pembangunan kesehatan, partisipasi masyarakat adalah keikutsertaan dan kemitraan
masyarakat dan fasilitator (pemerintah, LSM) dalam pengambilan keputusan,
perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan penilaian kegiatan dan program kesehatan
serta memperoleh manfaat dari keikutsertaannya dalam rangka membangun kemandirian
masyarakat.
Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat, yang selanjutnya disingkat UKBM
adalah wahana pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan yang dibentuk atas dasar
kebutuhan masyarakat, dikelola oleh, dari, untuk, dan bersama masyarakat, dengan
pembinaan sektor kesehatan, lintas sektor dan pemangku kepentingan terkait lainnya.
Proses pemberdayaan masyarakat terkait erat dengan faktor internal dan eksternal yang
saling berkontribusi dan mempengaruhi secara sinergis dan dinamis. Salah satu faktor
eksternal dalam proses pemberdayaan masyarakat adalah pendampingan oleh fasilitator
pemberdayaan masyarakat. Peran fasilitator pada awal proses sangat aktif tetapi akan
berkurang secara bertahap selama proses berjalan sampai masyarakat sudah mampu
menyelenggarakan UKBM secara mandiri dan menerapkan PHBS. PHBS adalah
sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran,
yang menjadikan seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong
dirinya sendiri (mandiri) dibidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan
kesehatan masyarakat.
1. Penyelenggaraan UKBM
Masyarakat menyelenggarakan pemberdayaan masyarakat didampingi oleh tenaga
pendamping. Tenaga pendamping dapat berasal dari Pemerintah Pusat, Pemerintah
Daerah, lembaga kemasyarakatan, organisasi kemasyarakatan, swasta, perguruan tinggi,
dan/atau anggota masyarakat. Tenaga Pendamping Pemberdayaan Masyarakat Bidang
Kesehatan, yang selanjutnya disebut Tenaga Pendamping adalah seseorang yang
memiliki kemampuan untuk mendampingi serta membantu proses pengambilan
keputusan yang dilakukan oleh masyarakat dalam mengadopsi inovasi di bidang
kesehatan. Tenaga pendamping berperan sebagai:
1. katalisator dalam proses Pemberdayaan Masyarakat;
2. pemberi dukungan dalam proses penyelenggaraan Pemberdayaan Masyarakat;
3. penghubung dengan sumber daya yang dapat dimanfaatkan;
4. pendamping dalam penyelesaian masalah kesehatan;
5. pendamping dalam pelaksanaan pemantauan dan evaluasi;
6. pendamping masyarakat dan/atau melakukan pendekatan kepada pemangku
kepentingan terkait.
Selain tenaga pendamping, diperlukan juga kader masyarakat. Kader berperan
sebagai:
1. penggerak masyarakat untuk berperan serta dalam upaya kesehatan sesuai
kewenangannya;
2. penggerak masyarakat agar memanfaatkan UKBM dan pelayanan kesehatan
dasar;
3. pengelola UKBM;
4. penyuluh kesehatan kepada masyarakat;
5. pencatat kegiatan pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan; dan pelapor jika
ada permasalahan atau kasus kesehatan setempat pada tenaga kesehatan.
Penyelenggaraan Pemberdayaan Masyarakat dilakukan dengan tahap:
1. Pengenalan Kondisi Desa/Kelurahan
Tahap pengenalan kondisi desa/kelurahan dilakukan oleh masyarakat dengan
dibantu oleh Kader dan pemerintah desa/kelurahan. Pengenalan kondisi
desa/kelurahan dilakukan dengan mengkaji:
a. data profil desa/kelurahan;
b. hasil analisis situasi permasalahan kesehatan; dan/atau data lain yang
diperlukan.
Hasil kajian digunakan sebagai dasar pelaksanaan tahap survei mawas diri.
2. Survei Mawas Diri
Survei mawas diri dilakukan untuk mengetahui:
a. masalah kesehatan yang ada di masyarakat dan urutan prioritas
penanganannya;
b. faktor penyebab masalah kesehatan, termasuk perilaku berisiko, non-
perilaku/lingkungan, dan kebijakan yang ada di masyarakat; dan potensi yang
dimiliki desa/kelurahan untuk mengatasi masalah kesehatan termasuk
keberadaan UKBM.
Pelaksanaan survei mawas diri dapat menggunakan instrumen yang disusun
bersama oleh masyarakat, Kader, dan pemerintah desa/kelurahan dengan dibantu
oleh Tenaga Pendamping.
3. Musyawarah di Desa/Kelurahan
Tahap musyawarah di desa/kelurahan diikuti oleh pemerintah desa/kelurahan,
badan permusyawaratan desa, dan unsur masyarakat sesuai dengan kondisi sosial
budaya masyarakat. Musyawarah di desa/kelurahan bertujuan untuk:
a. menyosialisasikan program kesehatan dan hasil survei mawas diri;
b. menyepakati urutan prioritas masalah kesehatan yang hendak ditangani;
c. menyepakati kegiatan yang akan dilaksanakan melalui UKBM atau
kegiatan lain yang memberdayakan masyarakat;
d. memetakan data/informasi potensi dan sumber daya desa/kelurahan; dan
menggalang partisipasi warga desa/kelurahan untuk mendukung
pemberdayaan masyarakat.
4. Perencanaan Partisipatif
Tahap perencanaan partisipatif dilakukan oleh masyarakat bersama pemerintah
desa/kelurahan, dan Kader. Perencanaan partisipatif sebagaimana dimaksud pada
mencakup:
a. UKBM yang akan dibentuk atau diaktifkan kembali, dan/atau kegiatan
lain yang memberdayakan masyarakat yang akan dilaksanakan;
b. sarana prasarana yang diperlukan untuk Pemberdayaan Masyarakat; dan
rencana anggaran, jadwal pelaksanaan, sasaran kegiatan, dan penanggung
jawab.
Hasil perencanaan partisipatif yang termasuk kewenangan lokal berskala desa,
menjadi pedoman bagi pemerintah desa/kelurahan untuk menyusun rancangan
rencana kerja pemerintah desa/kelurahan dan daftar usulan rencana kerja
pemerintah desa/kelurahan. Hasil perencanaan partisipatif yang memerlukan
dukungan puskesmas dapat menjadi pedoman bagi puskesmas dalam
menyusun rencana usulan kegiatan puskesmas.
5. Pelaksanaan Kegiatan
Tahap pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui kegiatan UKBM atau kegiatan lain
yang memberdayakan masyarakat secara swakelola. Pelaksanaan kegiatan
Pemberdayaan Masyarakat harus dilakukan pencatatan dan pelaporan.
6. Pembinaan Kelestarian
Tahap pembinaan kelestarian diarahkan untuk menjamin pelaksanaan
Pemberdayaan Masyarakat dapat berlangsung secara berkesinambungan sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai. Tahap pembinaan kelestarian dilakukan melalui
kegiatan:
a. pertemuan berkala;
b. orientasi bagi Kader;
c. sosialisasi;
d. penerbitan peraturan lokal; dan/atau
e. pemantauan serta evaluasi.
Kegiatan pembinaan kelestarian dilaksanakan sesuai kebutuhan masyarakat
desa/kelurahan.

B. Jenis – jenis Kegiatan UKBM


1. KP-KIA
KP-KIA adalah suatu kelompok yang mempunyai kegiatan belajar tentang kesehatan
ibu dan anak, yang beranggotakan semua ibu hamil dan menyusui yang ada di wilayah
desa. Kegiatan ini dibimbing olehkader posyandu stempat kerana kegiatan ini merupakan
bagian dari kegiatan posyandu yang dilaksanakandi luar jadwal posyandu.
Tujuan dari kegiatan ini yaitu agar ibu hamil dan menyusui mengetahui cara yang baik
dan menjaga kesehatan diri sendiri dan anaknya, dan agar ibu hamil dan menyusui
mengetahui pentingnya untuk melakukan pemeriksaan ke puskesmas ataupun posyandu
sejak hamil dini dan setelah melahirkan, serta agar ibu hamil dan menyusui mengetahui
dan bisa menggunakan alat kontrasepsi yang efektif dan tepat.
Pelaksana-pelaksana dari KP-KIA yaitu:
a. Pelaksana utama : dokter pukesmas, pengelola KP-KIA kecamatan, kader kesehatan,
ibu hamil dan menyusui.
b. Pelaksana pendukung : camat, sector tingkat kecamatan,. PKK, kepala desa dan
tokoh masyarakat.
c. Pelaksana Pembina : subdit binkes kebidanan dan kandungan pusat, subdin
KIA provinsi dan peminat KIA Kabupaten.
2. Posyandu
a. Definisi posyandu
Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dimana masyarakat dapat sekaligus
memperoleh pelayanan Keluarga Berencana (KB) dan kesehatan antara lain : gizi,
imunisasi, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan penanggulangan diare. Definisi lain
Posyandu adalah salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
(UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama
masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan
masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh
pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu dan
Bayi
b. Tujuan Posyandu
Tujuan penyelenggaraan posyandu adalah untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan bayi, balita, ibu dan pasangan usia subur. Posyandu direncanakan
dan dikembangkan oleh kader bersama Kepala Desa dan Lembaga Ketahanan
Masyarakat Desa (LKMD) serta penyelenggaraannya dilakukan oleh kader yang
terlatih dibidang KB-Kes, berasal dari PKK, tokoh masyarakat, pemuda dengan
bimbingan tim pembina LKMD tingkat kecamatan.
Kader adalah anggota masyarakat yang dipilih dari dan oleh masyarakat
setempat yang disetujui oleh LKMD dengan syarat; mau dan mampu bekerja secara
sukarela, dapat membaca dan menulis huruf latin dan mempunyai cukup waktu
untuk bekerja bagi masyarakat. Posyandu dapat melayani semua anggota
masyarakat, terutama ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan anak balita serta Pasangan
Usia Subur (PUS). Biasanya dilaksanakan satu kali sebulan ditempat yang mudah
didatangi oleh masyarakat dan ditentukan masyarakat sendiri.
c. Kegiatan Posyandu
Kegiatan Posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan pengembangan atau
pilihan, yaitu:
1) Kegiatan Utama
a) Kesehatan Ibu dan Anak ( KIA)
Ibu Hamil, meliputi :
- Penimbangan berat badan dan pemberian tablet besi yang dilakukan oleh kader
kesehatan.
- Bila ada petugas Puskesmas ditambah dengan pengukuran tekanan darah,
pemeriksaan hamil bila ada tempat atau ruang periksa dan pemberian
imunisasi Tetanus Toxoid.
- Bila dimungkinkan diselenggarakan kelompok ibu hamil pada hari buka
Posyandu
Ibu Nifas dan Menyusui, meliputi :
- Penyuluhan kesehatan, KB, ASI, dan gizi, perawatan jalan lahir.

- Pemberian vitamin A dan tablet besi

- Perawatan payudara

- Senam ibu nifas

- Bila ada petugas kesehatan dan tersedia ruangan maka dapat dilakukan
pemeriksaan payudara, tinggi fundus uteri, dan pemeriksaan lochea.

Bayi dan Balita, meliputi :

- Penimbangan

- Penentuan status gizi

- Penyuluhan tentang kesehatan bayi dan balita

- Jika ada petugas kesehatan dapat ditambahkan pemeriksaan kesehatan,


imunisasi, dan deteksi dini tumbuh kembang. Bila ditemukan adanya
kelainanakan dirujuk ke Puskesmas.
b) Keluarga Berencana
Pelayanan KB di Posyandu yang diselenggarakan oleh kader adalah pemberian pil
dan kondom. Bila ada petugas keehatan maka dapat dilayani KB suntik dan
konseling KB.
c) Imunisasi
Jenis pelayanan imunisasi yang diberikan yang sesuai program, baik untuk bayi,
balita maupun untuk ibu hamil, yaitu : BCG, DPT, hepatitis B, campak, polio, dan
tetanus toxoid.
d) Gizi
Bentuk pelayanannya meliputi penimbangan berat badan, deteksi dini gangguan
pertumbuhan, penyuluhan gizi, pemberian PMT, pemberian vitamin A dan
pemberian sirup besi (Fe). Untuk ibu hamil dan ibu nifas diberikan tablet besi dan
yodium untuk daerah endemis gondok.
e) Pencegahan dan Penanggulangan Diare
Dilakukan antara lain dengan penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS). Penanggulangan diare antara lain dengan cara penyuluhan tentang diare
dan pemberian oralit atau larutan gula garam.
2) Kegiatan Pengembangan
Dalam keadaan tertentu Posyandu dapat menambah kegiatan baru, misalnya:
perbaikan kesehatan lingkungan, pemberantasan penyakit menular dan berbagai
program pembangunan masyarakat desa lainnya. Posyandu demikian disebut dengan
Posyandu Plus.
d. Jenis-jenis Posyandu
Untuk meningkatkan kualitas dan kemandirian posyandu diperlukan interventasi
sebagai berikut:
1) Posyandu pratama (warna merah)
Posyandu tingkat pratama adalah posyandu yang masih belum mantap,
kegiatannya belum bisa rutin tiap bulan dan kader aktifitinya terbatas. Keadaan
ini dinilai “gawat” sehingga intervensinya adalah pelatihan kader ulang. Artinya
kader yang ada perlu ditambah dan dilakukan pelatihan dasar lagi.
2) Posyandu madya (warna kuning)
Posyandu pada tingkat madya sudah dapat melaksaanakan kegiatan lebih dari 8
kali per tahun dengn rata-rata jumlah kader tugas 5 orang atau lebih. Akan tetapi
cakupan program utamanya (KB, KIA, Gizi, dan Imunisasi) masih rendah yaitu
kurang dari 50%.
3) Posyandu purnama
Posyandu pada tingkat purnama adalah posyandu yang frekuensinya lebih dari 8
kali per tahun, rata-rata jumlah kader tugas 5 orang atau lebih, dan cakupan 5
program utamanya(KB,KIA,Gizi dan Imunisasi) lebih dari 50%.
4) Posyandu mandiri
Posyandu ini berarti sudah dapat melakukan kegiatan secara tertur, cakupan 5
program utama sudah bagus, ada program tambahan dan dana sehat telah
menjangkau lebih dari 50% KK.
e. Sistem Lima Meja
Pelaksanaan posyandu terkadang tampak acak-acakan dikarenakan pelaksanaanya
dirumah salah satu warga sehingga kurang luas. Meskipun tampak acak-acakan
sebenarnya mempunyai skema Pola Keterpaduan KB kesehatan melalui sistem lima
meja. Meja pertama yaitu :
1) Pendaftaran
2) Bagi bayi, balita, dan ibu hamil yang dilakukan untuk penimbangan berat badan.
3) Dilakukan pengisian KMS (kartu menuju sehat) untuk mengetahui berapa berat
badan bayi,
4) Para kader posyandu atau petugas kesehatan akan memberi penyuluhan, misalnya
bila berat badan bayi dan balita yang ditimbang tidak mengalami kenaikan atau
justru terjadi penurunan dari penimbangan bulan sebelumnya makan bayi dan
balita tersebut diberikan makanan tambahan yang mengandung karbohidrat,
protein, vitamin, dan lemak.

Bagi ibu hamil dengan adanya penyuluhan dari bidan atau dokter dapat
mengatahui apakah mempunyai resiko tinggi seperti letak bayi tidak normal dalam
kandungan, tekanan darah yang rendah atau tinggi dan bila adayang mengalami
anemia akan diberi tablet bezi. Terakhir adalah meja kelima, terdapat pelayanan
imunisasi dasar yakni BCG, Hepatitis B, DPT polio, campak dan TT (tetanus) bagi
ibu hamil, KB dan pengobatan sederhana dari petugas kesehatan bagi bayi, balita
yang sakit. Bagi yang menderita diare akan diberi oral.

Posyandu ini merupakan kegiatan dari, oleh dan untuk masyarakat, maka
pendanaanya juga secara swadaya kalaupun ada dana bantuan dari pemerintahan
jumlahnya sangat kecil. Bentuk swadaya dari masyarakat misalnya berupa iyuran
yang ditetapkan oleh posyandu setempat untuk pemberian makanan tambahan (PMT)
berupa kacang ijo atau lainnya.

Kader-kader psyandu yang aktif memang layak dihargai. Secara langsung mereka
dapat mengetahui keadaan bayi dan balita yang menderita gizi buruk bahkan busung
lapar secara dini. Agar anak indonesia terhindar dari gizi buruk dan busung lapar,
pemerintah dituntut perhatian yang lebih besar terhadap maslah kesehatan warga
negaranya. Selain itu marilah kita perbaiki rasa kesetiakawanan dan sikap peduli
terhadap sesama serta mengaktifkan kembali posyandu sebagai garda terdepan
memonitor perkembangan kualitas kesehatan anak-anak, khususnya balita.

2. Poskesdes
a. Defisini Poskesdes
Poskesdes, singkatan dari Pos Kesehatan Desa, adalah upaya kesehatan bersumber
daya masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan atau
menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat
desa. Poskesdes juga dibentuk sebagai sarana kesehatan yang merupakan pertemuan
antara upaya masyarakat dan dukungan pemerintah.
Poskesdes juga merupakan koordinator segala UKBM yang ada di
suatu desa atau kelurahan. (Kemenkes, 2015)
Pelayanan Poskesdes meliputi upaya promotif, preventif, dan kuratif sesuai dengan
kewenangannya yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan (terutama bidan) dengan
melibatkan kader kesehatan. (Kemenkes, 2012)
Pembentukan Poskesdes didahulukan pada desa yang tidak
memiliki rumah sakit, puskesmas, puskesmas pembantu (Pustu), dan bukan
ibu kota kecamatan atau ibu kota kabupaten. Poskesdes di harapkan sebagai
pusat pengembangan dan kordinator berbagai UKBM yang dibutuhkan
masyarakat desa, misalnya Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan
Warung Obat Desa (WOD). (Lindan, 2015)
b. Tujuan Poskesdes
1) Tujuan Umum
Mewujudkan masyarakat sehat yang siaga terhadap masalah
kesehatan. (Kemenkes, 2015).
2) Tujuan Khusus
a) Terselenggaranya desa dan kelurahan siaga aktif dengan adanya pelayanan
kesehatan dasar yang dekat masyarakat. (Kemenkes, 2015)
b) Memberdayakan masyarakat agar dapat mandiri di bidang kesehatan.
c) Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan. (Kemenkes, 2015)
d) Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko
dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama penyakit
menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa
(KLB) serta faktor-faktor risikonya (termasuk status gizi dan ibu hamil yang
berisiko). (Kemenkes, 2015)
e) Terselenggaranya pelayanan kesehatan dasar oleh masyarakat dan tenaga
profesional kesehatan. (Kemenkes, 2015)
f) Terkoordinasinya penyelenggaraan UKBM lainnya yang ada di desa.
(Kemenkes, 2015)

Pembangunan Poskesdes dimaksudkan untuk lebih mendekatkan pelayanan


kesehatan pada masyarakat yang tinggal jauh dari jangkauan pelayanan
kesehatan. Poskesdes dibangun dalam rangka menyelenggarakan pelayanan
kesehatan dasar, menyeluruh, dan terpadu serta sebagai ujung tombak pelayanan
kesehatan di tingkat desa/kecamatan. Program kesehatan yang diselenggarakan
oleh Poskesdes merupakan program Desa Siaga untuk memberikan jaminan
pelayanan kesehatan bagi masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat
sebagai upaya membangun masyarakat mandiri. (Lindan, 2015).

c. Fungsi Poskesdes
1) Sebagai wahana peran aktif masyarakat di bidang kesehatan. (Kemenkes, 2015)
2) Sebagai wahana kewaspadaan dini terhadap berbagai risiko dan masalah
kesehatan. (Kemenkes, 2015)
3) Sebagai wahana pelayanan kesehatan dasar, guna lebih mendekatkan pelayanan
kepada masyarakat serta untuk meningkatkan jangkauan dan cakupan pelayanan
kesehatan. (Kemenkes, 2015)
4) Sebagai wahana pembentukan jejaring berbagai UKBM yang ada di desa.
(Kemenkes, 2015)
5) Sebagai langkah awal dalam upaya pengembangan desa dan kelurahan siaga aktif.
(Kemenkes, 2015)
d. Manfaat Poskesdes
1) Bagi Masyarakat Desa
a) Permasalahan kesehatan di desa dapat dideteksi secara dini sehingga bisa
ditangani dengan cepat dan diselesaikan, sesuai kondisi, potensi dan
kemampuan yang ada. (Kemenkes, 2015)
b) Masyarakat desa dapat memperoleh pelayanan kesehatan dasar yang dapat
dijangkau (secara geografis). (Kemenkes, 2015)
2) Bagi Kader
a) Kader mendapatkan informasi awal di bidang kesehatan. (Kemenkes, 2015)
b) Kader mendapatkan kebanggaan bahwa dirinya lebih berkarya bagi warga
desanya. (Kemenkes, 2015)
3) Bagi Puskesmas
a) Memperluas jangkauan pelayanan puskesmas dengan mengoptimalkan
sumber data secara efektif dan efisien. (Lindan, 2015)
b) Mengoptimalkan fungsi puskesmas sebagai penggerak pembangunan
berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat dan pusat
pelayanan setrata pertama. (Lindan, 2015)
4) Bagi Sektor Lain
a) Dapat memadukan kegiatan sektornya di bidang kesehatan. (Lindan, 2015)
b) Kegiatan pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan lebih afektif dan
efisien. (Lindan, 2015)
e. Pelayanan Kesehatan Poskesdes
Kegiatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat desa dilaksanakan secara rutin setiap
hari, baik di dalam Poskesdes maupun di luar Poskesdes (dalam gedung maupun luar
gedung), sebagai berikut. (Kemenkes, 2015)
1) Pelayanan kesehatan untuk ibu hamil dan bersalin
a) Pemeriksaan kehamilan, meliputi pemeriksaan tinggi fundus uteri,
pengukuran lingkar lengan atas, pengukuran tinggi badan, timbang berat
badan, pengukuran tekanan darah serta deteksi dini tanda-tanda bahaya pada
kehamilan (program perencanaan persalinan dan penanganan komplikasi)
b) Imunisasi TT (tetanus toksoid) untuk mencegah tetanus pada saat proses
persalinan.
c) Pemberian tablet Fe untuk mencegah timbulnya anemia/kurang darah.
d) Penyuluhan atau konseling tentang gizi dan kehamilan serta KB setelah
persalinan.
e) Penyelenggaraan kelas ibu hamil.
f) Penanganan Ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK).
g) Rujukan ke Puskemas/rumah sakit untuk kasus kehamilan/persalinan yang
tidak dapat ditangani di Poskesdes. (Kemenkes, 2015)
2) Pelayanan kesehatan untuk ibu menyusui
a) Penyuluhan tentang gizi bagi ibu menyusui dan KB setelah persalinan.
b) Perawatan bayi baru lahir.
c) Penyuluhan tentang penanganan permasalahan kesehatan bayi dan anak balita.
(Kemenkes, 2015)
3) Pelayanan kesehatan untuk anak
a) Pemeriksaan kesehatan anak.
b) Penanganan permasalahan kesehatan pada bayi dan anak balita.
c) Pemantauan tumbuh kembang bayi dan anak balita.
d) Pemberian imunisasi dasar.
e) Penyuluhan gizi pada anak. (Kemenkes, 2015)
4) Penemuan dan penanganan penderita penyakit
a) Pengamatan epidemiologis sederhana terhadap penyakit, terutama
penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan kejadian luar
biasa (KLB) dan faktorfaktor risikonya (termasuk kurang gizi) serta kesehatan
ibu hamil yang berisiko.
b) Penanggulangan penyakit, terutama penyakit menular dan penyakit yang
berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) dan faktor-faktor
risikonya (termasuk kurang gizi).
c) Kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan kesehatan.
(Kemenkes, 2015)
3. Polindes
a. Definisi Polindes
Polindes, atau kepanjangan dari pondok bersalin desa, adalah salah satu bentuk
partisipasi atau peran serta masyarakat dalam menyediakan tempat pertolongan
persalinan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak, termasuk KB yang mana tempat
dan lokasinya berada di desa. Polindes hanya dapat dirintis di desa yang telah
mempunyai bidan yang tinggal di desa tersebut. Sebagai bentuk peran serta
masyarakat, polindes seperti halnya posyandu, dikelola oleh pamong setempat, dalam
hal ini kepala desa melalul LKMD nya. (Wikipedia, 2017)
Namun, berbeda dengan posyandu yang pelaksanaan pelayanannya dilakukan
oleh kader dan didukung oleh petugas puskesmas, polindes dalam pelaksanaan
pelayanannya sangat tergantung pada keberadaan bidan. Hal ini karena pelayanan di
polindes merupakan pelayanan profesi kebidanan.
Kader masyarakat yang paling terkait dengan pelayanan di polindes adalah dukun
bayi. Karena itu, polindes dimanfaatkan pula sebagai sarana untuk meningkatkan
kemitraan bidan dan dukun bayi dalam pertolongan persalinan. Kader posyandu dapat
pula berperan di polindes seperti perannya dalam pelaksanaan kegiatan posyandu,
yaitu dalam penggerakan sasaran dan penyuluhan. Selain itu bila memungkinkan,
kegiatan posyandu dapat dilaksanakan pada tempat yang sama dengan polindes
b. Kajian Makna Polindes
Dari pengertian di atas dapat dikaji beberapa makna polindes sebagai berikut:
1) Polindes merupakan salah satu bentuk PSM dalam menyediakan tempat
pertolongan persalinan dan pelayanan KIA, termasuk KB di desa.
2) Polindes dirintis di desa yang telah mempunyai bidan yang tinggal di desa
tersebut.
3) PSM dalam pengembangan Polindes dapat berupa penyediaan tempat untuk
pelayanan KIA (khususnya pertolongan persalinan ), pengelolaan Polindes,
pergerakan sasaran dan dukungan terhadap pelaksanaan tugas bidan desa.
4) Peran bidan desa yang sudah di lengkapi oleh pemerintah dengan alat-alat yang
diperlukan adalah  memberikan pelayanan kebidanan kepada masyarakat di
desa tersebut.
5) Polindes sebagai bentuk PSM secara organisatoris berada di bawah seksi 7
LKMD, namun secara teknis berada di bawah pembinaan dan pengawasan
puskesmas.
6) Tempat yang disediakan oleh masyarakat untuk Polindes dapat berupa
ruang/kamar untuk pelayanan KIA, termasuk tempat pertolongan persalinan
yang dilengkapi dengan sarana air bersih.
7) Tanggung jawab penyediaan dan pengelolaan tempat serta dukungan
operasional berasal dari masyarakat, maka perlu diadakan kesepakatan antara
wakil masyarakat melalui wadah LKMD dengan bidan desa tentang pengaturan
biaya operasional dan tarif pertolongan persalinan di Polindes.
8) Dukun bayi dan kader posyandu adalah kader masyarakat yang paling terkait.
c. Tujuan Polindes
1) Memperluas jangkauan, meningkatkan mutu dan mendekatkan layanan KIA
termasuk KB kepada masyarakat.
2) Meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan ANC dan persalinan normal di
tingkat desa.
3) Meningkatkan pembinaan dukun bayi dan kader jesehatan oleh bidan di desa
4) Meningkatkan kesempatan konsultasi dan penyuluhan kesehatan bagi ibu dan
keluarganya, khususnya dalam program KIA, Kb, gizi, imunisasi dan
penanggulangan diare dan ISPA.
5) Meningkatkan pelayanan kesehatan bayi dan anak serta pelayanan kesehatan
lainnya oleh bidan sesuai dengan kewenangannya.
d. Kegiatan-kegiatan Polindes
1) Pemeriksaan kehamilan,termasuk imunisasi TT pada ibu hamil, dan
mendeteksi dini kehamilan resiko tinggi.
2) Menolong persalinan normal dan persalinan resiko sedang.
3) Memberikan pelayanan kesehatan ibu nifas dan ibu menyusui.
4) Memberikan pelayanan kesehatan neonatal, bayi, balita, anak prasekolah dan
imunisasi dasar pada bayi.
5) Memberikan pelayanan KB.
6) Mendeteksi dan memberikan pertolongan pertama pada kehamilan dan
persalinan yang beresiko tinggi baik ibu maupun bayinya.
7) Manampung rujukan dari dukun bayi dan kader (Posyandu dan Dasa wisma)
8) Merujuk kelainan ke fasilitas kesehatan yang lebih mampu.
9) Melatih dan membina dukun bayi maupun kader (Posyandu dan Dasa wisma).
10) Memberikan penyuluhan kesehatan tentang gizi ibu hamil.
e. Kategori Tingkat Perkembangan Polindes
1) Pratama.
a) Fisik : belum ada bangunan tetap dan belum memenuhi
b) Tempat tinggal bidan : tidak tinggal didesa yang bersangkutan.
c) Pengelolaan medis tidak ada kesepakatan.
d) Cakupan persalinan diPolindes < 10 %.
e) Sarana air bersih sudah tersedia tapi belum dilengkapi air dan MCK.
f) Cakupan kemitraan bidan dan dukun bayi < 25 %.
g) Kegiatan KIE untuk kelompok sasaran < 6 kali.
h) Dana sehat/ JPKM < 50 %.
2) Madya
a) Fisik: belum ada bangunan tetap dan memenuhi syarat.
b) Tempat tinggal bidan >3km.
c) Pengelolaan Polindes : ada tetapi tidak tertulis.
d) Cakupan persalinan di Polindes 10-15 %.
e) Sarana air bersih sudah tersedia tapi belum ada sumber air tapi ada
MCK.
f) Cakupan kemitraan bidan dan dukun bayi 25-49%.
g) Kegiatan KIE untuk kelompok sasaran 6-8 kali.
h) Dana sehat/JPKM <50 %.
3) Purnama
a) Fisik : ada bangunan tetap tapi belum memenuhi syarat.
b) Tempat tinggal bidan 1-3 km
c) Pengelolaan Polindes : ada dan tertulis.
d) Cakupan persalinan diPolindes 20-29 %.
e) Sarana air bersih tersedia dan MCK.
f) Cakupan kemitraan bidan dan dukun bayi 50-74%.
g) Kegiatan KIE untuk kelompok sasaran 9-12 kali.
h) Dana sehat/JPKM <50 %.
4) Mandiri
a) Fisik : ada bangunan memenuhi syarat.
b) Tempat tinggal bidan <1 km.
c) Pengelolaan Polindes ada dan tertulis.
d) Cakupan persalinan diPolindes 30 %.
e) Sarana air bersih tersedia dan MCK dilengkapi SPAL.
f) Cakupan kemitraan bidan dan dukun bayi >75 %.
g) Kegiatan KIE untuk kelompok sasaran >12 kali.
h) Dana sehat/JPKM >50 %.
4. Desa Siaga
a. Definisi Desa Siaga
Desa Siaga merupakan gambaran masyarakat yang sadar, mau dan mampu untuk
mencegah dan mengatasi berbagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat seperti
kurang gizi, penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB,
kejadian bencana, kecelakaan, dan lain-lain, dengan memanfaatkan potensi setempat,
secara gotong-royong.
Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan
kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan,
bencana, dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Desa yang dimaksud di sini
adalah kelurahan atau istilah lain bagi kesatuan masyarakat hukum yang memiliki
batas-batas wilayah, yang berwenang untur mengatur dan mengurus kepentingan
yang diakui dan dihormat dalam Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Desa siaga adalah desa yang telah menjalankan sistem kesehatan yang bersifat
adil bagi masyarakat bersama dengan negara yang bertujuan menjaga kesehatan
masyarakat, khususnya mencegah kematian ibu dan bayi dengan mengutamakan
kebutuhan, kepentingan, dan tindakan yang didasarkan pada pilihan masyarakat itu
sendiri.
Siap
1. Pendataan dan mengamati seluruh ibu hamil.
2. Siap mendampingi ibu dan siap menjadi donor darah.
3. Siap memberikan bantuan kendaraan untuk rujukan.
4. Siap membantu pendanaan.
5. Bidan selalu siap memberikan pelayanan.
Antar
1. Warga desa, bidan, dan komponen lainnya dengan cepat dan sigap mendampingi dan
mengantar ibu yang akan melahirkan jika memerlukan tindakan gawat darurat.
2. Kelompok bank darah desa siap mengirimkan calon donor darah.
Jaga
1. Menjaga ibu pada saat dan setelah melahirkan.
2. Menjaga kesehatan bayi yang baru dilahirkan.
b. Tujuan Desa Siaga
1) Terciptanya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat.
2) Masyarakat memahami bahwa setiap kehamilan beresiko.
3) Meningkatkan hak asasi wanita atas kelangsungan hidupnya.
4) Memberdayakan kaum wanita agar dapat melindungi kesehatan dan kualitas
hidup sendiri dan anak yang akan dilahirkan.
5) Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membantu dan bertanggung jawab
mencegah kematian ibu dan bayi.
c. Kegiatan Dalam Desa Siaga
1) Adanya notifikasi atau informasi sippen K3 (sistem pencatatan pelaporan
kehamilan, kelahiran, dan kematian)
2) Adanya penggalangan donor darah.
3) Adanya kelompok transportasi atau ambulans desa.
4) Penggalangan dana atau tabulin (tabungan ibu bersalin) atau dasolin (dana sosial
ibu bersalin).
d. Pelaksanaan Pembentukan dan Penyelenggaraan Desa Siaga
Secara operasional pembentukan desa siaga dilakukan dengan kegiatan sebagai
berikut:
1) Pemlihan pengurus dan kader desa siaga
Pemilihan pengurus dan kader Desa Siaga dilakukan melalui pertemuan khusus
para pemimpin formal desa dan tokoh masyarakat serta beberapa wakil
masyarakat. Pemilihan dilakukan secara musyawarah dan mufakat, sesuai dengan
tata cara dan kriteria yang berlaku, dengan difasilitasi oleh puskesmas.
2) Orientasi/pelatihan kader desa siaga
Sebelum melaksanakan tugasnya, kepada pengelola dan kader desa yang
telah ditetapkan perlu diberikan orientasi atau pelatihan. Orientasi/pelatihan
dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai dengan pedoman
orientasi/pelatihan yang berlaku. Materi orientasi /pelatihan yang berlaku. Materi
orientasi/pelatihan mencakup kegiatan yang akan dilaksanakan di desa dalam
rangka pengembangan desa siaga (sebagaiman telah dirumuskan dalam Rencana
Operasional). Yaitu meliputi pengelolaan desa siaga secara umum, pembangunan
dan pengelolaan Poskesdes, pengembangan dan pengelolaan UBKM lain, serta
hal-hal penting terkait seperti kehamilan dan persalinan sehat, Siap-Antar-Jga,
Keluarga Sadar Gizi, Posyandu, kesehatan lingkungan, pencegahan penyakit
menular, penyediaan air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman (PAB-
PLP), kegawatdaruratan sehari-hari, kesiap-siagaan bencana, kejadian luar biasa,
warung obat desa (WOD), dversifikasi pertanian tanaman pangan dan
pemanfaatan pekarangan melalui Taman Obat Keluarga (TOGA), kegiatan
surveilans, PHS, dan lain-lain.
3) Pengembangan poskesdes dan UKBM
Dalam hal ini, pembangunan Poskesdes bisa dikembangkan dari Polindes
yang sudah ada. Apabila tidak ada Polindes, maka perlu dibahas dan dicantumkan
dalam rencana kerja tentang alternative lain pembangunan Poskesdes. Dengan
demikian diketahui bagaimana Poskesdes tersebut akan diadakan , membangun
baru dengan fasilitas dari pemerintah, membangun baru dengan bantuan dari
donator, membangun baru dengan swadaya masyarakat, atau memodifikasi
bangunan lain yang ada. Bilamana Poskesdes sudah berhasil diselenggarakan,
kegiatan dilanjutkan dengan membentuk UKBM-UKBM yang diperlukan dan
belum ada di desa yang bersangkutan, atau merevitalisasi yang sudah ada tetapi
kurang / tidak aktif.
4) Penyelenggaraan kegiatan desa siaga
Dengan telah adanya Poskesdes, maka desa yang bersangkutan telah dapat
ditetapkan sebagai desa siaga. Setelah desa siaga resmi dibentuk, dilanjutkan
dengan pelaksanaan kegiatan Poskesdes secara rutin, yaitu pengembangan sistem
surveilans berbasis masyarakat, pengembangan kesiapsiagaan dan
penanggulangan kegawat-daruratan dan bencana, pemberantasan penyakit
menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB., penggalangan dana,
pemberdayaan masyarakat menuju KADARZI dan PHBS, penyehatan
lingkungan, serta pelayanan kesehatan dasar (bila diperlukan). Selain itu,
diselenggarakan pula pelayanan UKBM-UKBM lain sepertipPosyandu dan lain-
lain dengan berpedoman kepada panduan yang berlaku. Secara berkala kegiatan
desa siaga dibimbing dan dipantau oleh puskesmas, yang hasilnya dipakai sebagai
masukan untuk perencanaan dan pengembangan desa siaga selanjutnya secara
lintas sektoral.
DAFTAR PUSTAKA

Wahyuni, Ely Dwi. 2018. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia

Depkes RI. 2006. Promosi Kesehatan. Jakarta: Depkes RI.

Dwi, Sutjiati. 2011. Kebidanan Komunitas. Jakarta : Penerbit buku kedokteran : EGCS

Wong, Nopis.2011. UPAYA KESEHATAN BERSUMBERDAYA MASYARAKAT


(UKBM).http://kumpulanbahankesehatan.blogspot.com/2011/03/upaya-kesehatan-
bersumberdaya.html?m=1. Diakses Pada Tanggal 4 April 2020.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Petunjuk Teknis Pengembangan &


Penyelenggaraan Pos Kesehatan Desa. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2015. Panduan Pos Kesehatan Desa Bagi Kader
Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Warung Bidan. 2016. Konsep Dasar Toeri Polindes.


http://warungbidan.blogspot.com/2016/11/konsep-dasar-teori-polindes-pondok.html. Diakses
Pada Tanggal 4 April 2020

Hamdani, M. 2015. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta : CV. Trans Info Media
Lisnawati, Lilis. 2013. Buku Praktis Kebidana Komunitas. Jakarta Timur: CV Trans Info Media.