Anda di halaman 1dari 10

8

4. Manisfestasi Klinis
a. Gejala episode akut dari skizoprenia meliputi tidak biasa
membedakan antara khyalan dan kenyataan, halisinasi
(terutama mendengar suara-suara bisikan); delusi
(keyakinan yang salah namun di anggap benar oleh
penderita ); ide-ide karena pengaruh luar ( tindakan yang
dikendalikan olehpengaruh dari luarnya ); proses berpikir
yang tidak berurutan ( asosiasi longgar ); ambiven (pemikiran
yang paling bertentangan ); datar, tidak tepat atau efek yang
labil; autisme (menarik diri, dari lingkungan sekitar dan hanya
memikirkan dirinya ); tidak mau berkerja sama; menyukai
hal-hal yang dapat menimbulkan konflik pada lingkungan
sekitar dan melakukan serangan balik secara verbal maupun
fisik kepada orang lain; tidak merawat diri sendiri ; dan
mengganggu tidur maupun nafsu makan.
b. Setelah terjadinya episode psikotik akut, biasanya penderita
skozofrenia mempunyai gejala-gejala sisa ( cemas, curiga,
motivasi menurun, kepedulian berkurang, tidak mampu
memutuskan sesuatu, menarik diri dari hubungan
bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, sulit untuk belajar
dari pengalaman dan tidak bias merawat diri ).
( Yulinah Elin , 2009 )
Gejala ( menurut Bleuler )
a. Gejala Primer
1) Gangguan proses pikir ( bentuk, langkah dan isi pikiran ).
Yang paling menonjol adalah gangguan asosiasi dan
terjadi inkoherensi.
2) Gangguan Afek Emosi
a) Terjadi kedangkalan afek-emosi
b) Paramimi dan paratimi (incongruity of affeck /
inadekuat).
9

c) Emosi dan afek serta ekspresinya tidak mempunyai


satu kesatuan.
d) Emosi berlebihan.
e) Hilangnya kemampuan untuk mengadakan
hubungan emosi yang baik.
3) Gangguan kemauan
a) Terjadinya kelemahan kemauan.
b) Perilaku negativisme atas permintaan.
c) Otomatisme: merasakan pikiran/perbuatannya
dipengaruhi oleh orang lain.
4) Gejala Psikomotor
a) Stupor atau hiperkinesia, logorea dan neologisme.
b) Stereotipi
c) Katelepsi : mempertahankan posisi tubuh dalam
waktu yang lama.
d) Echolalia dan echopraxi austismel.
b. Gejala sekunder
Waham dan halusinasi.

5. Pemeriksaan Diagnostik

a. Pemeriksaan Psikologi :
1) Pemeriksaan Psikiatir
2) Pemeriksaan Psikometri.
b. Pemeriksan lain jika diperlukan ;
Darah rutin , Fungsi Hepar , Faal Ginjal , Enzim Hepar ,
EKG ,CT scan , EEG.
6. Komplikasi
a. Keinginan atau usaha bunuh diri.
b. Perilaku merusak diri sendiri.
c. Depresi
d. Penyalahan gunaan alcohol, obat-obatan terlarang,
maupun obat yang diresepkan.
10

e. Kemiskinan atau tunawisma.


f. Pengurangan, misalnya oleh keluarga
g. Menjadi pelaku atau korban kejahatan
h. Masalah kesehatan akibat penggunaan obat anti.
i. Gangguan proses berpikir.
j. Keinginan yang berlebihan
1. Penatalaksanaan
a. Penggunaan obat anti psikotik
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati
skizofrenia disebut anti psikotik. Digunakan untuk
mengontrol halusinasi, delusi dan perubahan pola pikir
yang terjadi pada skizofrenia terdapat 3 kategori obat
anti psikotik yang dikenal saat ini:
1) Anti psikotik konvensional
Obat anti psikoti yang paling lama
penggunaan nya disebut anti psikotik
konvensional.contoh obat anti psikoti
konvensional antara lain:
a) Haldol (haloperidol) tablet 0,5 mg, 1,5 mg,
dan injeksi 5mg/ml
b) Stelazine ( triplaoperazine) tablet 1 mg dan
5 mg
c) Mellaril (thioridazine) tablet 50 dan 100 mg
d) Thorazine (chlorpromazine) tablet 25 mg
dan 100 mg
e) Thilafon (perphenazine) tablet 2,4,8m
f) Prolixin (fluphenazine) tablet 25mg, 5mg

2) Newer atypical antipsychotic


Obat-obatan yang tergolong antipikal
menimbulkan sedikit efek samping bila
dibandingkan dengan antipsikotik konvensiona.
11

Beberapa contoh newer antipical antipsikotic yang


tersedia. Antara lain:
a) Risperdal (risperidol)
b) Seroquel (quetiapine)
c) Zyprexa ( olanzopine)
3)Clozaril (clozapine)
Clozaril memiliki efek samping yang jarang
tapi sangat serius dimana pada kasus-kasus yang
jarang, clozaril dapat menurunkan jumlah sel darah
putih yang berguna untuk melawan infeksi
b. Terapi elektrokonvulsif (ECT)
c. Pembedahan bagian otak.
d. Perawatan dirumah sakit ( hospitalazition)
e. Psikoterapi
1) Terapi psikoanalisa
Tujuan psikoanalisa adalah menyadarkan
individu akan konflik yang disadarinya akan
mekanisme pertahanan yang digunakan untuk
mengendalikan kecemasannya, hal yang penting
pada terapi ini adalah untuk mengatasi hal-hal
yang dipress oleh penderita.
2) Terapi perilaku
Terapi perilaku menekankan prinsip
pengkondisian klasik dan operan, karena terapi ini
berkaitan dengan perilaku .
3) Terapi humanistic
Terapi kelompok dan terapi keluarga.
B. Konsep Dasar keperawatan
1. Pengkajian
a. Mengkaji identitas klien, meliputi nama, umur, jenis
kelamin, pendidikan, pengkajian, alamat, diagnose
keperawatan
12

b. Riwayat keperawatan
1) Riwayat penyakit sekarang meliputi apa yang diraskan
saat pengkajian.
2) Riwayat penyakit dahulu meliputi apa yang pernah
dirasakan klien sesuai dengan diagnose medic.
3) Riwayat penyakit keluarga meliputi apakah dari
keluarga ada yang pernah menderita penyakit sama.
c. Pengkajian fisik meliputi,inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi.
d. Data penunjang penunjang meliputi hasil ECG, hasil
Rontgen, dan hasil laboratorium.
2. Diagnosa keperawatan.
a. Gangguan pola tidur b.d sering terbangun pada malam
hari.
b. Deficit perawatan diri b.d gangguan koknitif.
c. Gangguan persepsi sensori b.d halusinasi pendengaran
d. Resiko perilaku kekerasan terhadap orang lain b.d respon
pikiran delusi atau halusinasi.
3. Intervensi keperawatan
a. Gangguan pola tidur b.d sering terbangun pada malam
hari
1) Tujuan : mempertahankan kebutuhan istirahat tidur
dalam batas normal
2) Criteria hasil: a). jumlah jam tidur dalam batas normal
6-7 jam / hari
b).pola tidur, kualitas dalam batas
normal
c). perasaan segar sesudah tidur atau
istirahat
d). mampu mengidentifikasi hal-hal yang
meningkatkan tidur.
13

3) Intervensi : a). anjur kan klien meningkatkan aktivitas


Pada siang hari.
Rasional: agar pasien dapat
beristirahat dengan tenang
b). anjurkan klien tidur pada waktu jadwal
tidur pada malam hari.
Rasional: agar klien merasa segar
sesudah tidur atau istirahat
c). Anjurkan klien menciptakan suasana
nyaman , hilangkan distraksi
lingkungan gangguan tidur
Rasional:untuk membantu relaksasi
Tidur.
b. Deficit perawatan diri b.d gangguan koknitif
1) Tujuan : klien dapat melakukan kebersihan perawatan
diri secara mandiri
2) Criteria hasil : a). mampu untuk mempertahankan
kebersihan dan penampilan yang
rapi secara mandiri
b). mampu untuk merawat mulut dan
gigi secara mandiri dengan atau
tanpa alat bantu.
c). mampu untuk membersihkan tubuh
sendiri secara mandiri dengan atau
tanpa alat bantu.
3) Intervensi : a). jelaskan kepada klien pentingnya
menjaga kebersihan diri
rasional:agar klien menjaga
kebersihannya.

b). melatih klien berdandan/berhias untuk


klien laki-laki berpakaian, menyisir
rambut, dan bercukur. Untuk klien
14

wanita berpakian, menyisir rambut,


dan berhias

Rasional: agar pasien dapat


membersihakan tubuh
sendiri secara mendiri.

c). ingat pasien untuk memelihara


kebersihan diri seperti mandi 2 kali
pagi dan sore, sikat gigi minimal 2 kali
sehari, keramas dan menyisir rambut,
gunting kuku jika panjang.
Rasional: membantu klien untuk
mengingat hal-hal yang
berhubungan dengan
perawatan diri.

c. Gangguan persepsi sensori b.d halusinasi pendengaran


1) Tujuan :klien dapat mengontrol halusinasi dan
tidak mencederai orang lain
2) Criteria hasil: a). dapat mengontrol halusinasi sehingga
tidak melukai orang lain.
b). Intervensi awal untuk mencegah
respon agresif diperintahkan
c).keterlibatan pasien dalam kegiatan
interpersonal akan menoling klien
kembali dalam realitas
3) Intervensi : a). jalin hubungan kerjasama dengan klien
sebanyak mungkin.
Rasional: untuk mempermudah
perkembangan hubungan
saling percaya
b).Identifikasi bersama klien tindakan
yang dilakukan jika terjadi halusinasi.
15

Rasional: untuk mengontrol halusinasi


c).Observasi tingkah laku klien terkait
dengan halusinasi.
Rasional: untuk mengetahui jenis,
waktu,isi, situasi dan
frekuensi halusinasi
d).Diskusikan dengan klien apa yang
dirasakan jika terjadi halusinasi.
Rasional: untuk mengetahui perasaan
klien saat terjadi halusinasi
d. Resiko perilaku kekerasan terhadap orang lain b.d respon
pikiran atau halusinasi.
1) Tujuan :klien tidak melakukan tindakan kekerasan
yang diarahkan kepada orang lain,pada
diri sendiri dan lingkungan.
2) Criteria hasil: a). dapat mengidentifikasi faktor yang
menyebabkan perilaku kekerasan.
b).Dapat mengidentifikasi cara alternative
untuk mengatasi masalah.
c). Tidak menganiaya orang lain secara
fisik, emosi atau seksual.
d). Dapat mengidentifikasi kapan marah,
frustasi, atau merasa agresif.
3) Intervensi : a). Jalin hubungan saling percaya dengan
klien sebanyk mungkin
rasional: untuk mempermudah
perkembangan hubungan
saling percaya.
b). motivasi pasien untuk mengatakan
perasaan yang sebenarnya.
Rasional:pasien dapat mencurakan
perasaan yang sebenarnya.
16

c). observasi tingkah laku verbal/non


verbal yang berhubungan dengan
halusinasi.
Rasional: untuk mengetahui yang
menimbulkan halusinasi.
d). kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian obat untuk mengontrol
halusinasi.
Rasional: untuk mengontrol halusinasi
Klien.
4. Evaluasi
a. Gangguan pola tidur b.d sering terbangun pada malam hari
1) Klien mengatakan nyaman setelah terbangun dipagi
hari.
2) Klien mengatakan tidak merasa lesu lagi.
3) Klien mengatakan merasa segar sesudah tidur atau
istirahat.
4) Klien mengatakanakan mengikuti anjuran untuk tidak
meningkatkan aktivitas disiang hari.
b. Defisit perawatan diri b.d gangguan koknitif.
1) Klien tampak bersih dan rapi.
2) Klien dapat menyebutkan cara berdandan/berhias,
3) Klien dapat menyebutkan pentingnya kebersian diri.
4) Klien dapat menyebutkan cara membersihkan diri.
5) Keluarga pasien menyebutkan cara merawat klien
dengan kurang perawatan diri,
c. Gangguan persepsi sensori b.d halusinasi pendengaran
1) Klien dapat menerima kehadiran perawat.
2) Klien dapat menyebutkan jenis, waktu, isi, situasi,
frekuensi, dan respon timbulnya halusinasi.
3) Klien dapat menyebutkan tindakan yang biasanya
dilakukan untuk mengandalkan halusinasi.
17

4) Klien dapat berhubungan dengan orang lain.


d. Resiko perilaku kekerasan terhadap orang lain b.d respon
pikiran delusi atau halusinasi.
1) Klien dapat mengungkapkan perasaan dan keadaannya
saat ini secara verbal.
2) Klien dapat menyebutkan situasi yang menimbulkan
halusinasi.
3) Klien dapat menyebutkan tindakan yang dilakukan bila
sedang berhalusinasi.
4) Setelah meminum obat klien tidak mengalami
halusinasi.
5) Klien minum obat secara teratur sesuai aturan.