Anda di halaman 1dari 2

Nama : Mohammad Firli

Nim : 18.222.01.0100

Kelas : Non Reguler

Mata kuliah : Pendidikan Anti Korupsi

Tugas 3

1. Korupsi bukan merupakan Budaya, banyak yang mengatakan bahwa perilaku


korupsi adalah budaya bangsa. Seakan pendapat ini benar jika kita melihat
begitu mengguritanya perilaku korupsi di negeri ini. Berita korupsi tiada henti
menghiasi layar kaca. Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan KPK
terhadap para pelaku korupsi tidak sedikitpun menyurutkan orang untuk
melakukan korupsi, terbukti sampai saat ini kasus korupsi tidak berkurang
jumlahnya, tetapi sama banyaknya dengan era sebelum reformasi.
Korupsi di negeri ini tak pernah ada kata berakhir. Banyak sudah KPK
menangkap pelaku tindak pidana korupsi, tetapi koruptor selalu tumbuh tidak
mengenal ruang dan waktu, terus berevolusi, beregenerasi dan bermetamorfosis
seiring kemajuan peradaban. Tidak ada yang tidak bisa dikorupsi di negeri ini,
dimana ada kesempatan tak akan pernah disia-siakan untuk melakukan korupsi.
Para pejabat dan pegawai pemerintahan pintar untuk memanipulasi segala
sesuatu demi kepentingan pribadi, sehingga dari tahun ke tahun korupsi semakin
menjamur.
Setujukah korupsi merupakan budaya bangsa? Tidak, sebab secara bahasa,
kata “budaya” berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu Buddhaya yang merupakan
bentuk jamak dari kata Buddhi yang artinya adalah segala hal yang berhubungan
dengan budi dan akal manusia. Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) mendefinisikan budaya sebagai pikiran, akal budi atau adat istiadat.
Sehingga dari pengertian tersebut, sangat jelas bahwa dalam pengertian budaya
terdapat sebuah perilaku yang didasarkan pada unsur kebaikan, yakni
berstandar pada akal budi.
Sedangkan korupsi jelas secara nyata merupakan perbuatan busuk dan tidak
bersandar pada budi maupun akal yang baik. Oleh karena itu korupsi bukan
merupakan budaya. Korupsi merupakan perbuatan yang merugikan orang lain
dan bahkan merugikan bangsa dan negara, korupsi merupakan perbuatan yang
bertentangan dengan nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat.
Faktanya pun menunjukkan korupsi terjadi pada orang-orang yang mempunyai
kekuasaan atau kewenangan lebih, dan tidak terjadi pada masyarakat kecil.
Korupsi tidak mengakar pada masyarakat kecil seperti pada para petani kecil di
desa, nelayan, ataupun orang-orang yang hidup di pegunungan terpencil.
Sehingga bisa dikatakan bahwa korupsi merupakan sebuah penyakit bagi negeri
ini. Penyakit yang rawan menyerang para pejabat ataupun penguasa. Sebagian
pejabat di negeri ini apabila hanya mementingkan kepentingan pribadi atau
golongan akan menyebarkan secara cepat virus korupsi ini ke pejabat – pejabat
yang lain di ibaratkan secepat penyeberan virus corona / covid – 19 yang
sekarang melanda seluruh dunia.

2. Korupsi terjadi karena adanya kesempatan, ruang dan celah untuk melakukan
perbuatan busuk / jahat yang dapat merugikan orang lain, instansi/perusahaan
bahkan bangsa dan negara, dimana korupsi akan semakin merajalela apabila di
beking / dibelakangnya penguasa / pejabat yang menjamin kekebalan hukum /
tidak tersentuh akan hukum, sehingga korupsi semakin kuat mengakar di
lingkungan / wilayah tersebut.