Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Obat analgesic adalah obat yang dapat mengurangi atau
menghilangkan rasa nyeri dan akhirnya akan memberikan rasa nyaman pada
orang yang menderita. Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang
tidak nyaman. Berkaitan dengan ancaman kerusakan jaringan. Rasa nyeri
dalam kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala yang berfungsi sebagai
isyarat bahaya tentang adanya gangguan jaringan seperti peradangan, rematik,
encon atau kejang otot (Tjay,2007).
Apirin adalah golongan obat anti inflamasi non-Steroid (OAINS), yang
memiliki efek analgetic, anti piretik dan antiinflamasi yang bekerja secara
perifer. Obat ini digunakan pada terapi simtomatis penyakit rematik
(osteoatritis, atritis gout) dalam menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri.
Obat ini juga sering digunakan untuk pengobatan sakit kepala, menekan rasa
sakit pada radang akibat luka dan radang yang timbul setelah oprasi, nyeri
gimekologi dan nyeri neurologi. Pada terapi ringan, OAINS digunakan untuk
menekan rasa sakit waktu menstruasi dan demam. Dalam pemilihan terapi
OAINS digolongkan menjadi obat dengan potensi ringan, sedang dan berat,
dimana pemilihan obat berdasarkan potensinya harus disesuaikan dengan
tingkat nyeri yang ditimbulkan (Wilmana & Gan, 2012).
Paracetamol (Asetamaminofen) merupakan obat analgetic non narkotik
dengan cara kerja menghambat sintesis prostaglandin terutama disistem syaraf
pusat (SSP). Paracetamol digunakan secara luas diberbagai negara baik dalam
bentuk sediaan tunggal sebagai analgetic- antipiretik maupun kombinasi
dengan obat lain dalam sediaan obat flu, melalui resep dokter atau yang dijual
bebas. paracetamol mempunyai efek samping yang paling ringan dan aman
untuk anak-anak. Untuk anak-anak dibawah umur 2 Tahun sebaiknya
menggunakan paracetamol, kecuali ada pertimbangan khusus lainnya dari
dokter. Dari penelitian pada anak-anak dapat diketahui bahwa kombinasi
asetosal dengan paracetamol bekerja lebih efektif terhadap demam dari pada
jika diberikan sendiri-sendiri (Darsono, 2002).
Mekanisme kerja paracetamol adalah dengan penghambatan pada kerja
enzim siklooksigennase (COX) yang lebih banyak pada COX2-2. Jika
dibandingkan sifat analgesic dan antipiretik nya dengan aspirin atau AINS
lainnya. aktivitas anti inflamasinya dibatasi oleh beberapa factor, salah
satunya disebabkan karena tingginya kadar peroksida pada daerah yang
mengalami inflamasi. Belakangan diketahui bahwa aktivitas analgesic
disebabkan oleh sebuah metabolic paracetamol yang berikatan pada reseptor
TRPA1 pada sum-sum tulang belakang untuk menekan transduksi sinyal dari
lapisan dangkal tanduk belakang untuk mengurangi rasa nyeri.
Waktu paruh paracetamol adalah antara 1-3 jam, obat ini tersebar
keseluruh cairan tubuh. Dalam plasma 25% paracetamol terikat protein
plasma, dan dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati. Paracetamol
dieksresikan melalui urin sebagai metabolitnya, asetaminofen blukoronid,
asetaminofen sulfat, merkaptat dan bentuk yang tidak berubah. Sebagian
asetaminofen 80% dikonjunggasi dengan asam glukoronat dan sebagian kecil
lainnya dengan asam sulfat, selain itu dapat mengalami hidroksilasi. Metabolic
hasil hidrosilasi ini dapat menimbulkan mathemoglobimenia dan hemolysis
elitrosis obat ini di ekskeriskan memalui ginjal sebagian kecil sebagai
paracetamol (3%) dan sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi. Suatu
metabolic terhidroksilasi (N- acetyl-p-benzoquinoneimine), selalui
diproduksidengan jumlah yang sedikit oleh izoenzim sitokrom P450 (terutama
CYP2E1 dan CYP3A4) didalam hati dan ginjal, metabolic ini slalu
terdetoksifikasi melalui konjugasi dengan blutaksion tetapi dapat terjadi
akunulasi diikuti dengan overdosis paracetamol dan menyebabkan kerusakan
jaringan (Sweetman
Uji kualitatif yang pertama dilakukan adalah uji organoleptis. Uji ini
dilakukan untuk mengidentifikasi bahan baku paracetamol memalui
pengamatan terhadap bentuk, warna, aroma, dan rasa yang sesuai dengan
standar farmokope Indonesia. Metode lain yang digunakan dalam analisi
kualitatif bahan baku paracetamol adalah dengan uji warna menggunakan
beberapa pereaksi seperti laruatan FeCl3, Liebermann, dan kalium bikromat.
Bahan baku paracetamol ditetesin reagen FeCl3 dengan reagen Liebermann
ditempatkan di plat tetes. Sementara untuk kalium bikrommat, paracetamol
dilarutkan dalam larutan HCL 2 M dan dikocok kemudian ditambahkan
sedikit Kristal K2Cr2O7 dan diamati perubahan warna yang terjadi.
Uji kualitatif adalah suatu proses dalam mengidentifikasi keberadaab
suatu senyawa kimia dslam suatu larutan atau sampel yang diketahui. Uji
kualoitatif disebut juga ujib jenis yaitu suatu cara yang dilakukan untuk
menentukan macam jenis zat, atau komponen-komponen bahan yang diuji. Uji
kualitatif pada obat aspirin dilakukan dengan cara mendidihkan 500 mg
serbuk dengan 10 ml larutan NaOH P selama 2-3 menit , didinginkan ,
ditambahkan asam sul.fat encer P hingga berlebih, terbentuk endapan hadbur
dan bau cuka. Uji kuantitatif yang digunakan untuk mengetahui kadar suatu
zat. Prinsip menentuaan kadar aspirin dapat dilakukan dengan metode tittrasi
asam-basa, metode titrasi yang digunakan adalah penetapan kadar dengan cara
aukalimetri yaitu menggunakan larutan standar basa (NaOH) untuk menetukan
asam (aspirin), titik akhir titrasi ditandai dengan terjadinya berubahan warna
yang constant dari yang tidak berwarna menjadi warna merah muda (fuchsia)
dengan menggunakan indicator phenolftalein (PP) pada trayek pH 8,3-10.