Anda di halaman 1dari 9

Modul Praktikum Bakteriologi II

Uji Sensitifitas Antibiotik

Tujuan : Uji kepekaan kuman terhadap antimikroba terutama antibiotic.


Prinsip : Suatu jeniskuman dapat peka terhadap antibioktik atau antimikroba dapat
diketahui secara invitro dengan cara membiakkan bakteri pada media yang
diberi disk aantibiotik atau antimikroba.
Bahan : Suspensi kuman.
Media : Nutrient broth, Agar Mueller-Hilton (MH Agar)
Kuman control : Staphylococcus aureus ATCC 25923, Escherichia coli ATCC 25922,
Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853
Media harus mampu menghasilkan zona hambatan dari control kuman sesuai ketentuan (lihat
tabel). Media MH sebaiknya tidak terlalu di panaskan.
Agar memenuhi persyaratan sbb:
o Diameter dan potensi sesuiai dengan ketentuan.
o Disimpan dalam -20ºC
o Disk untuk dipakai sehari-hari disimpan dalam 4ºC --- 1 bulan
o Sebelum dipakai container disk dilakukan pada suhu kamar lalu agar tidak
basah waktu dipakai.
Standart kekeruhan : tabung yang dipakai harus sama dengan tabung ukur yang akan
dibandingkan
Metode : Kirby Baner/ modifikasi
Cara pemeriksaan :
1. Strain berasal dari kultur murni.
Satu ose penuh strain ditanam dalam broth/inkubasi 27º C 2-3 jam. Kekeruhan broth
dibandingkan dengan standar, untuk menyesuaikan dipakai broth steril/ PZ.
2. Dengan swab steril kultur dalam broth ditanam merata pada agar MH. Sebelum
distreak, swab diperas dahulu pada dinding tabung (dengan menekan sambil diputar).
3. Metode Cakram :
a. Plate setelah ditanami, dibiarkan beberapa menit pada temperature kamar dalam
keadaan tertutup.

DIV TLM FSTA 1 BINTI MU’AROFAH., S.Pd., S.ST., M.Si


Modul Praktikum Bakteriologi II

b. Disk antibiotic diletakkan dengan pinset/ jarum steril pada permukaan plate agar
agak ditekan, tiap disk diperkirakan jaraknya, agar zona jernih yang terjadi tidak
saling bertubrukan. Satu plate maksimum tujuh disk.
c. Setelah diinkubasi 37º 24 jam zona hambat diukur diameternya dengan jangka
sorong. Cawan petri tetap ditutup pengukuran dilaksanakan dari dasar plate
(dibalik). Hasil pengukuran dicocokkan dengan tabel NCCLS satuan mio.
4. Metode Sumuran :
a. Plate setelah ditanami, dibiarkan beberapa menit pada temperature kamar dalam
keadaan tertutup.
b. Antibiotic cair atau extrak diletakkan pada lubag sumuran agar sebanyak 50 mikro
diperkirakan jaraknya lubang saat pembuatan media, agar zona jernih yang terjadi
tidak saling bertubrukan. Satu plate maksimum enam disk.
c. Setelah diinkubasi 37º 24 jam zona hambat diukur diameternya dengan jangka
sorong. Cawan petri tetap ditutup pengukuran dilaksanakan dari dasar plate
(dibalik). Hasil pengukuran dicocokkan dengan tabel NCCLS satuan mio.

DIV TLM FSTA 2 BINTI MU’AROFAH., S.Pd., S.ST., M.Si


Modul Praktikum Bakteriologi II

Contoh Hasil Metode Sumuran

Lubang Sumuran

Jarak Lubang Sumuran


20mm

Zona Hambat Yang dihasilkakan

Cara Mengukur Zona Hambat

Bahan Uji

Zona Hambat Bakteri

Cara mengukur zona hambat bakteri

Pertumbuhan Bakteri

Cara Mengukur dengan Jangka Sorong

Cara ukur 1 cm = 10 mm

DIV TLM FSTA 3 BINTI MU’AROFAH., S.Pd., S.ST., M.Si


Modul Praktikum Bakteriologi II

Control kualitas :
 Selalu digunakan control kuman yang murni.
 Media perlu diuji sterilitas dan spesifisitasnya.
 Disk antibiotiknya tidak kadaluarsa.

Cara pelaporan : Ada 3 kategori:


1. Resisten (R)
2. Intermediate (I)
3. Sensitif (S)

Hal-hal yang perlu diperhatikan :


1. Koloni kuman harus murni dan diketahui spesiesnya.
2. Koloni kuman sudah diinkubasi terlebih dahulu minimal 2 jam.
3. Peneneman harus merata.
4. Jangan diinkubasi pada suhu yang terlalu tinggi beberapa antibiotic rusak oleh panas.

Mekanisme Kerja Obat Antimikroba


Antibiotika mengganggu bagian yang peka di dalam sel, yaitu :
1) Antibiotika yang mempengaruhi dinding sel
Setiap zat yang mampu merusak dinding sel atau mencegah sintesisnya, menyebabkan
terbentuknya sel-sel yang peka terhadap tekanan osmotik.
2) Antibiotika yang mengganggu fungsi membran sel
Membran sel memegang peranan vital dalam sel, yakni sebagai penghalang dengan
permeabilitas selektif, melakukan pengangkutan aktif, dan menggendalikan susunan dalam
sel. Beberapa antibiotika diketahui mampu merusak atau memperlemah satu atau lebih dari
fungsi tersebut. Bila fungsi-fungsi terganggu, maka akan menyebabkan gangguan terhadap
kehidupan sel
3) Menghambat sintesis protein

DIV TLM FSTA 4 BINTI MU’AROFAH., S.Pd., S.ST., M.Si


Modul Praktikum Bakteriologi II

Sintesa protein merupakan hasil akhir dari dua proses utama, yakni : transkripsi (sintesis
asam ribonukleat) dan translasi (sintesis protein yang ARN-dependent). Antibiotika yang
mampu menghambat salah satu proses ini, akan menghambat sintesis protein.
4) Menghambat sintesis asam nukleat.
Obat merupakan penghambat efektif terhadap sintesis ADN yang membentuk kompleks
dengan ADN melalui ikatan pada residu deogsiguanosis. Jadi dapat menghambat sintesis
ARN kuman (Waluyo, 2008).

antimikroba pada dasarnya dapat dilakukan melalui dua cara yaitu : Metode dilusi, dan
Metode difusi cakram.
1. Metode Dilusi
Cara ini digunakan untuk menentukan KHM (kadar hambat minimal) dan KBM (kadar
bunuh minimal) dari obat antimikroba. Prinsip dari metode dilusi dengan diamati
terjadinya kekeruhan pada tabung. Konsentrasi terendah obat pada tabung yang
ditunjukkan dengan hasil biakan yang mulai tampak jernih adalah KHM dari obat.
Sedangkan konsentrasi terendah obat pada biakan padat yang ditunjukkan dengan tidak
adanya pertumbuhan koloni mikroba adalah KBM dari obat terhadap bakteri uji.
2. Metode Difusi Cakram
Prinsip dari metode difusi cakram adalah sebagai berikut. Obat dijenuhkan kedalam kertas
saring (cakram kertas). Cakram kertas yang mengandung obat tertentu ditanam pada
media pembenihan agar padat yang telah dicampur dengan mikroba yang diuji kemudian
diinkubasikan 37°C selama 18-24 jam. Selanjutnya diamati adanya area (zona) jernih
disekitar cakram kertas yang menunjukkan tidak adanya pertumbuhan mikroba.Untuk
mengevaluasi hasil uji kepekaan tersebut (apakah isolat mikroba sensitif atau resisten
terhadap obat) dapat dilakukan dua cara seperti berikut.
a) Cara Kirby Bauer, yaitu dengan cara membandingkan diameter dari area jernih (zona
hambatan) disekitar cakram dengan tabel standar yang dibuat oleh NCCLS (National
Comitte for Clinical Laboratory Standard’). Dengan tabel NCCLS ini dapat diketahui
kriteria sensitif, sensitif intermediet dan resisten.
b) Cara Joan-Stokes, yaitu dengan cara membandingkan radius zona hambatan yang
terjadi antara bakteri kontrol yang sudah diketahui kepekaannya terhadap obat tersebut
DIV TLM FSTA 5 BINTI MU’AROFAH., S.Pd., S.ST., M.Si
Modul Praktikum Bakteriologi II

dengan isolat bakteri yang diuji. Pada cara Joan-Stokes, prosedur uji kepekaan untuk
bakteri kontrol dan bakteri uji dilakukan bersama dalam satu piring agar. (Tim
Mikrobiologi FK Unibraw, 2003)

Faktor Yang Mempengaruhi Aktivitas Antimikroba


1. pH lingkungan
Beberapa obat lebih aktif pada pH asam (nitrofurantoin) yang lainnya pada pH alkali
(aminoglikosida, sulfonamid).
2. Komponen media
Natrium polianetolsulfonat dan deterjen anion lain menghambat aminoglikosida.
3. Stabilitas obat
Pada temperatur inkubator, beberapa agen antimikrobia kehilangan aktivitasnya.
4. Ukuran inokulum
Umumnya makin besar inokulum bakteria, makin kurang tingkat kepekaan organismenya
5. Waktu inkubasi
Pada beberapa contoh mikroorganisme tidak dimatikan tapi hanya dihambat pada
pemaparan singkat terhadap antimikroba. Inkubasi lebih lama terus menerus memberi
kesempatan yang lebih besar bagi mutan resisten untuk tumbuh dan membentuk populasi
yang resisten.
6. Aktivitas metabolik mikroorganisme
Organisme yang tumbuh dengan cepat dan aktif lebih peka terhadap efek obat dibanding
organisme yang berada pada fase istirahat. Organisme inaktif yang secara metabolik tahan
hidup pada pemaparan obat yang lama, kemungkinan mempunyai keturunan yang
sepenuhnya resisten terhadap obat yang sama (Jawetz, 2005).

Antibiotic  suatu campuran zat / bahan yang digunakan untuk membunuh atau menghambat
pertumbuhan mikroorganime yang biasanya dihasilkan oleh tumbuhan.

DIV TLM FSTA 6 BINTI MU’AROFAH., S.Pd., S.ST., M.Si


Modul Praktikum Bakteriologi II

DAFTAR DIAMETER ZONE DAN PERKIRAAN YANG SESUAI DENGAN NILAI MIC
Bahan antimikrobial Kadar µg Zone diameter (mm) Nilai MIC
lempeng Resiet Intermedie Peka Reisten Peka
t µg/ml µg/ml
Amikacin 10 ≤11 12-13 ≥14 ≥32 ≤8
Ampicillina-Gram 10 ≤11 12-13 ≥14 32 ≤8
negatif
bakteri dan
enterococcus
Ampicillina- 10 ≤20 21-28 ≥29 32b ≤0,2
Staphylococcus dan
organisme yang peka
thd Penicillin G
Ampicillina- spesies 10 ≤19 - ≥20 - ≤2,0
Haemophilus
Carbenicillin bila 100 ≤17 18-22 ≥23 32 ≤16
diujikan pada spesies
Proteus dan E.coli
Carbenicillin bila 100 13 14-16 ≥17 250 ≤125
diujikan pada
Pseudomonas
aeroginosa
Cephalohinc 30 ≤14 15-17 ≥18 32 ≤10
Chloramphenicol 30 ≤12 13-17 ≥18 25 ≤?2,5
Clindamycin 2 ≤14 15-16 ≥17 2 ≤?
Colistind 10 ≤8 9-10 ≥11 -d -
Emythromycin 15 ≤13 14-17 ≥18 8 ≤2
Gentamicin 10 ≤12 13-14 ≥15 16 ≤4
Kanamycin 30 ≤13 14-17 ≥18 25 ≤6
Sethicillin bila diujikan 5 ≤9 10-13 ≥14 - ≤3
pada Staphylococcus
Neomycin 30 ≤12 13-16 ≥17 - ≤10
Penicillin G- bila 10 unit ≤20 21-23 ≥29 b ≤0,1
diujikan pada
Staphylococcus
Penicillin G- bila 10 unit ≤11 12-21 ≥22 32 ≤1,5
diujikan pada
organisme lainnya
Polymycin 300 ≤8 9-11 ≥12 50 -
Streptomycin 10 ≤11 12-14 ≥15 15 ≤6
Tetracycline 30 ≤14 15-18 ≥19 12 ≤4
Tobramycin 10 ≤11 12-13 ≥14 16 ≤4
Vancomycin 30 ≤9 10-11 ≥12 - ≤???
Sulfonamides e 250-300 ≤12 13-16 ≥17 350 ≤100

DIV TLM FSTA 7 BINTI MU’AROFAH., S.Pd., S.ST., M.Si


Modul Praktikum Bakteriologi II

Trimethoprim- 1,25 ≤10 11-16 ≥16 200 ≤25


sulfamethoxasole 23,75
HitrofurantoinG 300 ≤14 15-16 ≥17 100 ≤25
Halidixic acidG 30 ≤18 14-?? ≥19 32 ≤12

Dari : National Committee for Laboratory


a. Golongan untuk lempeng ampicilln dan amoxicillin
b. Strain resisten dari S.aureus pembentuk penicillinase. Strain resisten terhadap amoxicillin
dan juga pembentuk penicillinase.
c. Golongan untuk lempeng cephalothin, cephalexin, cephazolin, cephacetrile dan
cephapirin
d. Colistin dan polymyxin sulit menyebar dalam agar, kemantapan tes difusi kurang sekali
dan korelasi MIC tidak dapat dilakukan dengan tepat.
Dipergunakan untuk tes isolasi dari infeksi saluran kemih.

DIV TLM FSTA 8 BINTI MU’AROFAH., S.Pd., S.ST., M.Si


Modul Praktikum Bakteriologi II

Daftar Pustaka
Balai Laboratorium Kesehatan Surabaya Petunjuk Pemeriksaan Mikrobiologi ed. Kedua –
1992

Depkes RI Pusat Laboratorium Kesehatan Petunjuk Pemeriksaan Mikrobiologi Makanan dan


Minuman, Jakarta – 1991.

Heim S and Maughan K. 2007. Foreign Bodies in the Ear, Nose, and Throat, Am Fam
Physician;76:1185 – 9

Joklik, Willett, Amos, Wilfert, “Zinsser Mikrobiologi, 19th” Ed. Prentice. Hall International
Inc. 1988, him 487

DIV TLM FSTA 9 BINTI MU’AROFAH., S.Pd., S.ST., M.Si