Anda di halaman 1dari 61

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

INFEKSI SALURAN KEMIH

LAPORAN PENDAHULUAN

oleh
Putri Esa Mardiana
172310101082

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
INFEKSI SALURAN KEMIH

LAPORAN PENDAHULUAN

Disusun untuk memenuhi tugas mata Keperawatan Medikal


Dosen Pembimbing:
Murtaqib, S.Kp., M.Kep.
NIP 19740813200 1121002

oleh
Putri Esa Mardiana
172310101082

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat,
Hidayah, dan Inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah
yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Infeksi Saluran Kemih”.
Dalam penulisan makalah ini, kami telah mendapat banyak bantuan dari
banyak pihak. Kami menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Ns. Jon Hafan S., M.Kep., Sp.Kep.MB sebagai PJMK Keperawatan
Medikal
2. Bapak Murtaqib, S.Kp., M.Kep sebagai Dosen Pembimbing Makalah
Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan
Infeksi Saluran Kemih
3. Seluruh rekan kelas B angkatan 2017
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih
terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainnya. kami
menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari kata “sempurna”
untuk itu kami sebagai penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun.
Penyusun berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya dan bagi kami sebagai penulis pada khususnya.

Jember, 29 Oktober 2019

Putri Esa Mardiana


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........................................................................................................iii
DAFTAR ISI..........................................................................................................................iv
BAB 1. TINJAUAN PUSTAKA............................................................................................1
1.1 Review Anatomi Fisiologi......................................................................................1
1.2 Definisi Infeksi Saluran Kemih.............................................................................5
1.3 Epidemiologi...........................................................................................................5
1.4 Etiologi....................................................................................................................5
1.5 Klasifikasi...............................................................................................................6
1.6 Patofisiologi.............................................................................................................7
1.7 Manifestasi Klinis...................................................................................................8
1.8 Pemeriksaan Penunjang........................................................................................9
1.9 Penatalaksanaan Medis.......................................................................................10
1.10 Pathway................................................................................................................10
BAB 2. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN................................................................11
2.1 Pengkajian............................................................................................................11
2.2 Diagnosa Keperawatan........................................................................................18
2.3 Intervensi Keperawatan.......................................................................................19
BAB 3. ASUHAN KEPERAWATAN.................................................................................28
Kasus.................................................................................................................................28
3.1 Pengkajian............................................................................................................28
3.2 Analisa Data..........................................................................................................34
3.3 Diagnosa Keperawatan........................................................................................35
3.4 Intervensi Keperawatan.......................................................................................37
BAB 4. PENUTUP................................................................................................................45
4.1 Kesimpulan...........................................................................................................45
4.2 Saran.....................................................................................................................45
BAB 1. TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Review Anatomi Fisiologi

Lokasi ginjal berada pada bagian belakang dari kavum abdominalis,


area retroperitoneal bagian atas di kedua sisi vertebra lumbalis III, dan melekat
langsung di dinding abdomen. Bentuknya seperti biji buah kacang merah
(kara/ercis), yang jumlahnya ada 2 buah, terletak di bagian kiri dan kanan.
Ginjal kiri lebih besar daripada ginjal kanan. Berat ginjal orang dewasa sekitas
200 gram dan pada umumnya ginjal laki-laki lebih panjang dibadingkan ginjal
wanita (Nuari dan Widayati, 2017).
a. Struktur Makroskopis Ginjal
Secara anatomis, ginjal terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu bagian
kulit (korteks), sumsum ginjal (medulla), dan bagian rongga ginjal (pelvis
renalis) (Nuari dan WIdayati, 2017).

1) Kulit Ginjal (Korteks)


Pada kulit ginjal terdapat bagian yang memiliki tugas untuk
melakukan penyaringan darah yang disebut dengan nefron. Di tempat
penyaringan darah ini banyak sekali mengandung kapiler darah yang
tersusun tergumpal-gumpal yang disebut dengan glomerulus. Di tiap
glomerulus, dikelilingi oleh simpai bownman, dan gabungan antara
glomerulus dengan simpai bownman yan disebut dengan badan Malpighi.
Penyaringan darah terjadi pada badan Malpighi, yaitu diantara glomerulus
hingga bownman. Zat-zat yang terlarut dalam darah akan akan masuk ke
simpai bownman. Dari sini maka zat-zat tersebut akan menuju ke
pembuluh yang merupakan lanjutan dari simpai bownman yang terdapat
pada sumsum ginjal (Nuari dan WIdayati, 2017).
2) Sumsum Ginjal (Medula)
Sumsum ginjal terdiri dari beberapa badan yang bentuknya adalah
kerucut atau biasa disebut dengan pyramid real. Dengan dasarnya
menghadap ke korteks dan puncaknya yang disebut dengan apeks atau
papilla renis, mengarah ke bagian dalam ginjal. Satu pyramid dengan
jaringan korteks di dalamnya disebut dengan lobus ginjal. Jumlah pyramid
sekitar 8 sampai 18 buah, yang tampak bergaris-garis karena terdiri atas
berkas saluran parallel (tubuli dan duktus koligentes). Terdapat jaringan
diantara pyramid yang disebut dengan kolumna renal. Di bagian ini
berkumpul ribuan pembuluh halus yang merupakan lanjutan dari simpai
bownman. Pembuluh halus berfungsi untuk mengangkat urine yang
merupakan hasil penyaringan darah dalam badan malphigi, setelah
mengalami berbagai proses (Nuari dan WIdayati, 2017).
3) Rongga Ginjal (Pelvis Renalis)
Pelvis renalis merupakan ujung dari ureter yang berpangkal di
ginjal. Bentuk dari pelvis renalis adalah corong lebar. Sebelum berbatasan
dengan jaringan ginjal, pelvis renalis memiliki cabang dengan jumlah dua
atau tiga yang disebut dengan kaliks mayor, yang masing-masing cabang
membentuk beberapa kaliks minor. Kaliks minor ini akan langsung
menutupi papilla renis dari pyramid. Kaliks minor juga menampung urine
yang keluar dari papilla. Jadi perjalanannya yaitu dari kaliks minor urine
akan masuk ke kaliks mayor, lalu ke pelvis renis kemudian ureter hingga
ditampung ke dalam kandung kemih (vesikula urinaria) (Nuari dan
Widayati, 2017).
b. Struktur Mikroskopis Ginjal
Satuan terkecil dari structural dan fungsional ginjal disebut dengan
nefron. Setaip nefron terdiri atas komponen vaskuler dan tubuler. Komponen
vaskuler terdari dari pembuluh-pembuluh darah yaitu glomerulus dan kapiler
peritubuler yang mengitari tubuli. Dalam komponen tubuler terdapat kapsul
bowman, serta tubulus-tubulus, diantaranya yaitu tubulus kontortus proksimal,
tubulus kontortus distal, tubulus pengumpul, dan lengkung henle yang terletak
di medulla. Kapsula bowman terdiri dari lapisan parietal (luar) yang
bentuknya gepeng dan lapis visceral (langsung membungkus kapiler
glomerulus) yang berbentuk besar dengan banyak juluran mirip jari biasa
disebut dengan podosit (sel berkaki) atau pedikel yang memeluk kapiler
secara teratur sehingga celah-celah antar pedikel menjadi sangat teratur (Nuari
dan Widayati, 2017).
Glomerulus bersama kapsula bowman disebut dengan korpuskel renal,
kemudian bagian tubulus yang keluar dari korpuskel renal disebut tubulus
kontortus proksimal, dikarenakan jalannya yang berbelok-belok. Lalu,
menjadi saluran yang lurus, yang semula tebal kemudian menjadi tipis disebut
ansa henle atau loop of henle, karena bagian tersebut membuat lengkungan
tajam berbalik kembali ke korpuskel renal asal. Yang terakihr adalah tubulus
kontortus distal (Nuari dan Widayati, 2017).
1.2 Definisi Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih atau biasa disebut dengan Troctus infection
merupakan keadaan adanya mikroorganisme yang menginvasi pada saluran
kemih (Nuari dan Widayati, 2017).

1.3 Epidemiologi
Infeksi saluran kemih adalah salah satu jenis infeksi nosocomial yang
angka kejadiannya sangat tinggi di Indonesia, yaitu 39%-60% (Musdalipah,
2018). Infeksi saluran kemih tergantung dari banyak sekali faktor seperti usia,
gender, prevalensi bakteriuria, dan faktor predisposisi yang menyebabkan
perubahan struktur saluran kemih termasuk ginjal. Selama periode usia
beberapa bulan dan lebih dari 65 tahun perempuan cenderung menderita infeksi
saluran kemih dibandingkan dengan laki-laki. Infeksi saluran kemih berulang
pada laki-laki jarang dilaporkan, kecuali disertai faktor 12 predisposisi
Prevalensi bakteriuria asimtomatik lebih sering ditemukan pada perempuan.
Prevalensi selama periode sekolah (school girls) 1% meningkat menjadi 5%
selama periode aktif secara seksual. Prevalensi infeksi asimtomatik meningkat
mencapai 30%, baik laki-laki maupun perempuan bila disertai faktor
predisposisi seperti berikut litiasis, obstruksi saluran kemih, penyakit ginjal
polikistik, nekrosis papilar, diabetes mellitus pasca transplantasi ginjal,
nefropati analgesik, penyakit sickle-cell, senggama, kehamilan dan peserta KB
dengan table progesterone, serta kateterisasi (Edriani, 2010).

1.4 Etiologi
Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain (Nuari
dan Widayati, 2017):
a. Pseudomonas, Proteus, Klebsiella merupakan penyebab ISK complicated
b. Escherichia coli merupakan 90% penyebab dari ISK uncomplicated
c. Enterobacter, Staphyloccoccus epidemidis, enterococci, dan lain-lain
1.5 Klasifikasi
Klasifikasi infeksi saluran kemih sebagai berikut (Nuari dan Widayati,
2017):
1. Kandung Kemih (Sistitis)
Kandung kemih (sistitis) biasa disebut dengan inflamasi pada
kandung kemih paling sering disebabkan oleh penyebaran infeksi dari
uretra. Hal tersebut disebabkan karena aliran balik irin dari uretra ke adalam
kandung kemih (refluks urtovesikal), kontaminasi fekal, pemakaian kateter
atau sistoskop.
2. Uretra (Urethritis)
Urethritis merupakan suatu infeksi yang menyebar naik yang
digolongkan sebagai gonoreal tau non gonoreal. Penyebab dari urethritis
gonoreal Neisseria gonorhoeae yang kemudian ditularkan melalui kontak
seksual.
3. Ginjal (Pielonefritis)
Pielonefritis infeksi traktus urinarius atas adalah infeksi bakteri piala
ginjal, tubulus, dan jaringan intertisial dari salah satu atau kedua ginjal.

Infeksi saluran kemih (ISK) pada usia lanjut dibedakan menjadi (Nuari
dan Widayati, 2017):
1. ISK Uncomplicated (Simple)
Merupakan ISK yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing
yang tak baik, tetapi anatomic maupun fungsionalnya normal. ISK ini
terjadi pada usia lanjut terutama mengenai penderita wanita dan infeksi
hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih.
2. ISK Complicated
Hal ini sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali
kuman penyebab dari ISK ini sulit untuk diberantas, kuman penyebab
sering resisten terhadap beberapa macam antibiotic, sering terjadi
bakterimia, sepsis, dan shock.

1.6 Patofisiologi
Infeksi saluran kemih sebagian disebabkan oleh bakteri, tetapi jamur
dan virus juga bisa menjadi penyebabnya. Infeksi bakteri yang paling sering
disebabkan oleh Escheria Coli, yaitu suatu organisme yang dapat ditemukan di
daerah anus. Organisme-organisme lain yang juga dapat menyebabkan infeksi
saluran kemih adalah golongan Proteus, Klebsiella, Pseudomonas enterokok
dan Staphylococus. Di kebanyakan kasus, organisme tersebut hanya dapat
mencapai kandung kemih atau bisa juga merambat ke atas melalui ureter hingga
ke ginjal. Organisme jug adapt sampai di ginjal melalui aliran darah atau aliran
getah bening, tetapi hal ini jarang terjadi (Nuari dan Widayati, 2017).
Tekanan dari aliran kemih menyebabkan saluran kemih normal bisa
mengeluarkan bakteri yang ada sebelum bakteri tersebut akan menyerang
mukosa. Mekanisme pertahanan lainnya adalah kerja antibakteri yang dimiliki
oleh selaput lender uretra, sifat bakterisidal dari cairan prostat pada pria, dan
sifat fagositik epitel kandung kemih. Meski ada system pertahanan seperti ini,
infeksi tetap mungkin terjadi dan kemungkinan ini berkaitan dengan factor
predisposisi (Nuari dan Widayati, 2017).
Obstruksi aliran kemih proksimal terhadap kandung kemih dapat
mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter.
Hal ini mengakibatkan artrofi hebat pada parenkim ginjal yang biasa disebut
dengan hidronefrosis. Selain itu, obstruksi yang terjadi di bawah kandung
kemih sering disertai dengan refluks vesikoureter dan infeksi yang terjadi pada
ginjal. Penyebab umum dari obstruksi adalah jaringan parut ginjal atau uretra,
batu, neoplasma, hipertrofi prostat, kelainan congenital pada leher kandung
kemih dan uretra, serta penyempitan uretra (Nuari dan Widayati, 2017).
Infeksi aluran kemih ini seringkali dialami oleh wanita, hal tersebut
dikarenakan uretra wanita lebih pendek dibandingkan pria sehingga bakteri
kontaminan lebih mudah untuk memperoleh akses ke kandung kemih.
Penyebab lain dari infeksi saluran kemih pada wanita yitu kecenderungan
menahan urin, perubahan pH, dan flora vulva dalam siklus menstruasi serta
iritasi kulit lubang uretra pada wanita ketika berhubungan seksual.
Kemungkinan mikroorganisme yang menempel pada uretra yang pendek akan
meningkat ketika melakukan hubungan seksual karena memiliki akses ke
kandung kemih. Semua otot polos mengalami relaksasi ketika wanita sedang
hamil, hal tersebut dipengaruhi oleh progesterone, termasuk kandung kemih
dan ureter, sehingga wanita hamil cenderung menahan urin pada bagian-bagian
tersebut. Aliran urin dapat terhambat pada keadaan-keadaan tertentu yang
diakibatkan oleh uterus (Nuari dan Widayati, 2017).
Faktor pelindung yang bisa melawan infeksi saluran kemih pada wanita
adalah pembentukan selaput mucus yang terikat dengan esterogen yang teletak
di kandung kemih. Mucus ini berfungsi sebagai antimikroba. Pada pria maupun
wanita, perlindungan terhadap ISK terbentuk dari sifat alami urin yang asam
dan memilik fungsi sebagai bahan antibakteri. Penderita diabetes juga memiliki
risiko mengalami ISK berulang, hal tersebut dikarenakan tingginya kadar
glukosa yang terdaoat pada urin, imunitas menurun, dan meningkatnya
frekuensi kandung kemih neurogenic. Individu yang menggunakan kateter urin
atau yang mengalami cedera korda spinalis, ketika berkemih mengalami
peningkatan risiko infeksi (Nuari dan Widayati, 2017).

1.7 Manifestasi Klinis


Peradangan uretra atau uretristis biasanya menunjukkan gejala (Nuari
dan Widayati, 2017):
a. Mukosa yang memerah dan adanya edema
b. Adanya cairan eksudat yang purulent (bernanah)
c. Terdapat uliserasi di uretra
d. Timbulnya rasa gatal yang menggelitik
e. Terdapat nanah awal miksi
f. Timbulnya rasa nyeri pada awal miksi
g. Kesulitan untuk mulai melakukan miksi
h. Timbulnya nyeri pada abdomen

Peradangan kandung kemih atau sistitis memiliki gejala (Nuari dan


Widayati, 2017):
a. Adanya nyeri ketika berkemih (dysuria)
b. Meningkatnya frekuensi berkemih
c. Timbulnya perasaan ingin berkemih
d. Terdapat sel-sel darah putih dalam urin
e. Nyeri di bagian punggung bawah atau suprapubic
f. Munculnya demam yang disertai adanya darah pada urin di kasus yang parah

Infeksi yang terjadi pada ginjal atau biasa disebut dengan polionefritis
memperlihatkan gejala (Nuari dan Widayati, 2017):
a. Adanya demam
b. Merasakan nyeri pada pinggang
c. Tubuh menggigil
d. Nyeri ketika berkemih (dysuria)

1.8 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan laboratorium yang dapat menunjang diagnosis infeksi
saluran kemih yaitu urinalisis dengan dipstick dan atau mikroskopis serta kultur
urine yang diikuti dengan tes kepekaan antibiotic. Urinalisis memiliki manfaat
untuk mengetahui adanya piuria (urin mengandung leukosit), hematuria (darah
dalam urin), nitrit, lekosit esterase, dan bakteri. Sel radang yang terdapat pada
urin dalam jumlah yang abnormal disebut dengan piuria. Lekosit pada urine
normal biasanya hanya sedikit, jika jumlahnya lebih banyak berarti
menunjukkan adanya inflamasi pada traktus urinarius atau struktur di
sekitarnya, atau ada kontaminasi oleh sekresi vagina atau preputium
(Tjokroprawiro, dkk., 2015).
Gross atau microscopic hematuria dapat terjadi pada sistitis dan
pielonefritis tetapi jarang terjadi pada penderita urethritis. Tes nitrit dengan
dipstick urin memiliki fungsi untuk mengetahui adanya bakteriuria secara cepat.
Konsep dasar dari nitrit yang disintesis oleh sebagian besar bakteri yang
menyebabkan infeksi saluran kemih, yaitu Enterobacteriaceae dan beberapa
bakteri lainnya, tetapi tidak ditemukan pada infeksi dengan Enterococcus,
Pseudomonas, atau Staphylococcus. Esterase lekosit adalah cara cepat untuk
mengetahui akan adanya piuria. Sampel mid-stream urine difungsikan untuk
memeriksa kultur urin. Di kondisi tertentu, termasuk penderita yang tidak bida
membuang air kecil secara spontan atau terlalu lemah, maka dibutuhkan
aspirasi suprapubik (Tjokroprawiro, dkk., 2015)..

1.9 Penatalaksanaan Medis


Menurut Nuari dan Widayati (2017):
1. Terapi antibiotika yang diberikan sesuai dengan hasil kultur dan sensitivitas
urin
2. Pemberian cairan
3. Analgetik
4. Sistoskopi
5. Pasien yang menderita pielonefritis akut seharusnya di rawat di rumah sakit
dan diberikan terapi antibiotic parenteral serta pemeriksaan lebih lanjut.
Apabila gejala tidak berkurang, maka dilakukan USG ginjal untuk
mengetahui apakah terdapat obstruksi
6. Berikan rencana pembedahan apabila terjadi obstruksi
1.10 Pathway

Suhu tubuh Reaksi antigen Mikroorganisme


meningkat antibodi
Masuk ke dalam
Hipertermi saluran kemih

Infeksi saluran kemih

Ureter Ginjal
Kandung kemih
Gatal disekitar
area uretra Uretritis Pielonefritis
Intoleran Aktivitas
Sistitis

Kerusakan Kelemahan
Inflamasi Hilangnya mediator Nyeri Akut
Integritas Kulit fisik

Jaringan membengkak Ansietas

Penyempitan Sering Nyeri saat Klien khawatir


Anoreksia Distensi abdomen
saluran kemih berkemih berkemih dengan keadaannya

Ketidakseimbangan
Inkontenensia Kurang informasi
Nutrisi: Kurang dari
Urine Aliran
Kebutuhan Tubuh
Berlebih Defisien pengetahuan
BAB 2. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

2.1 Pengkajian
a. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dengan pengkajian adalah proses awal dalam
asuhan keperawatan dengan tujuan membantu menentukan status kesehatan
dan pola pertahanan pasien, mengidentifikasikan, kekuatan dan kebutuhan
pasien yang dapat di peroleh melalui anamnese, pemeriksaan fisik,
pemerikasaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya. Data
pengkajian harus memuat tentang aspek biopsikososiokultural dan spiritual.
Data primer berasal dari klien dan data sekunder berasal dari keluarga klien.
b. Anamnesa
1. Data Pasien
Data pasien yang meliputi nama, usia, jenis kelamin, agama,
pendidikan, alamat, suku bangsa, pekerjaan, status perkawinan, no
register, tanggal MRS, tanggal pengkajian, dan sumber informasi.
2. Riwayat Kesehatan
a) Diagnosa Medik: Infeksi Saluran Kemih
Diagnose medic merupakan diagnose yang diangkat atau
ditegakkan oleh dokter yang menangani klien tersebut.
b) Keluhan Utama
Keluhan utama adalah keadaan atau perasaan yang paling
mengganggu atau dikeluhkan oleh klien. Biasanya keluhan utama
adalah hal yang paling mengganggu aktivitas klien. Keluhan utama
pada pasien infeksi saluran kemih adalah nyeri saat buang air kecil.
c) Riwayat Kesehatan Sekarang
Dalam riwayat kesehatan sekarang meliputi data tantang
bagaimana perjalanan pernyakit sejak awal timbulnya gejala hingga
pasien dibawa ke pelayanan kesehatan. Kapan awal mula terjadinya
gejala, apa yang menyebabkan hak tersebut terjadi, dan bagaimana
upaya untuk mengurangi gejala-gejala tersebut juga dituliskan.
Ketika pasien masuk rumah sakit kemudian saat pemeriksaan
ditemukan adanya tanda gejala infeksi saluran kemih. Apabila ada
keluhan nyeri maka pengkajian harus disertai dengan pengkajian
nyeri PQRST. Tanda awal infeksi saluran kemih yaitu demam, sakit
periut dan panggul, dan nyeri ketika berkemih.
d) Riwayat Penyakit Dahulu
Data yang meliputi riwayat penyakit yang pernah diderita
oleh pasien, riwayat alergi pasien, riwayat imunisasi, riwayat
pemakaian obat, pola hidup, dan apakah pasien pernah dirawat
sebelumnya, serta apakah ada penyakit yang berhubungan dengan
kondisi pasien yang sekarang. Mengkaji apakah pasien pernah
mengalami infeksi saluran kemih sebelumnya.
e) Riwayat Penyakit Keluarga
Data yang meliputi tentang riwayat dari anggota keluarga
yang pernah mengalami infeksi saluran kemih atau penyakit lainnya
yang berhubungan dengan infeksi saluran kemih.
f) Genogram
Menjelaskan tentang silsilah keluarga pasien dalam tiga
generasi dengan data yang terperinci tentang hubungan antar
individu untuk menganalisis pola keturunannya.
c. Pengkajian 11 Pola Kesehatan Fungsional Gordon
1. Persepsi Kesehatan dan Pemeliharaan Kesehatan
Pada pola persepsi sehat mengkaji bagaimana pemahaman klien
dan keluarga tentang kesehatan dan masalah kesehatan utamanya
tentang infeksi saluran kemih yang berdasarkan dengan pengalaman,
fungsi kognitif, dan nilai-nilai yang dianut oleh klien. Apabila sudah
tekaji dan ternyata persepsi kesehatan klien masih kurang tepat, maka
diharapkan setelah perawatan klien dapat meningkatkan kualitas
hidupnya.
2. Pola Nutrisi/Metabolik (ABCD)
a. Antropometri
Dilakukan pengukuran berat badan, tinggi badan, IMT dan
lingkar lengan atas sebelum dan ketika pasien sakit.
b. Biomedical Sign
Memeriksa status nutrisi pasien dengan menggunakan
pemeriksaan laboratorium (hemoglobin, hematocrit, eritrosit, dan
albumin).
c. Clinical Sign
Mengkaji tanda-tanda yang muncul pada pasien infeksi
saluran kemih berupa nyeri saat buang air kecil, demam, frekuensi
buang air kecil, adanya darah dalam urin, dan lain-lain yang
merupakan tanda dari infeksi saluran kemih.
d. Diet Pattern
Mengkaji bagaimana pola makan dan minum klien penderita
infeksi saluran kemih sebelum dan ketika sakit.
3. Pola Eliminasi
a. BAK :Pada pasien infeksi saluran kemih terjadi
meningkatnya frekuensi berkemih dengan jumlah yang sedikit
b. BAB :Pada BAB biasanya tidak ada gangguan
4. Pola Aktivitas dan Latihan
Mengkaji bagaimana perubahan pasien dalam beraktivitas pada
saat sebelum masuk rumah sakit dan setelah masuk rumah sakit. Pada
pasien dengan infeksi saluran kemih akan mudah lelah dalam
beraktivitas karena adanya nyeri pada genitalianya.

5. Pola Istirahat Tidur


Mengkaji terkait waktu pasien untuk tidur selama 24 jam dan
apakah ada gangguan selama tidur (sering terbangun). Pasien dengan
infeksi saluran kemih akan sering terbangun karena frekuensi berkemih
yang meningkat sehingga kualitas dan kuantitas tidurnya menjadi
terganggu.
6. Pola Kognitif dan Perseptual
Mengkaji bagaimana pengetahuan pasien atas penyakit yang
dialami oleh pasien. Kognitif persepsi pasien dengan infeksi saluran
kemih tidak terganggu.
7. Pola Persepsi Diri dan Konsep Diri
Mengkaji terkait dengan perubahan konsep diri pada pasien pada
saat sebelum dan saat sakit yang meliputi body image, identitas diri,
peran diri, ideal diri, dan harga diri. Pasien dengan infeksi saluran
kemih biasanya akan ada gangguan pada peran dirinya.
8. Pola Seksual dan Reproduksi
Mengkaji terkait dengan pola reproduksi dan seksual pada
pasien yang telah menikah apakah terdapat perubahan pada saat
sebelum dan saat sakit.
9. Pola Peran dan Hubungan
Mengkaji tentang bagaimana hubungan antar keluarga, apakah
keluarga memberikan dukungan pada pasien ketika pasien sakit,
bagaimana interaksinya, pola komunikasi, dan cara berkomunikasi.
10. Pola Manajemen Koping Stres
Mengkaji terkait dengan bagaimana pasien menyikapi
penyakitnya terkait dengan emosi, ketakutan terhadap penyakitnya,
kecemasan yang muncul tanpa alasan yang jelas, termasuk dengan
memutuskan untuk menjalani pengobatan yang intensif.
11. Pola Nilai dan Keyakinan
Mengkaji terkait dengan agama pasien, perubahan ibadah saat
sebelum dan saat sakit, ketaatan dalam berdo’a dan beribadah.
d. Pemeriksaan Head to Toe
1. Keadaan Umum Composmentis
2. Tanda-tanda Vital
Tekanan Darah : (Normal 120/80 mmHg)
Nadi : (Normal 60-100x/menit)
RR : (Normal 16-24x/menit)
Suhu : (Normal 36,5-37,5)
3. Kepala dan Leher
e. Kepala
 Inspeksi : Kaji bagaimana bentuk kepala, apakah simetris
atau tidak. Ukuran kepala juga dikaji. Apa warna kulit kepala,
keadaan, dan persebaran rambut. Selain itu juga bentuk dan
kesimetrisan wajah.
 Palpasi : Mengecek apakah terdapat pembengkakan atau
penonjolan serta mengecek bagaimana tekstur rambut
f. Leher
 Inspeksi : Kaji bagaimana ukuran, warna integritas, dan
kesimetrisan leher.
 Palpasi : Kaji kelenjar tiroid apakah terdapat
pembesaran, apakah terdapat nyeri, bagaimana letak kelenjar
limfe, apakah terdapat nyeri atau pembesaran. Kaji kelenjar
parotis teraba atau tidak.
 Auskultasi : Kaji lokasi pulsasi dan bising pembuluh darah
4. Mata
 Inspeksi : Melihat bentuk, kesimetrisan, alis mata juga
diperhatikan, bulu mata, kelopak mata, dan bola mata apakah
terdapat keabnormalan. Warna konjungtiva dan sclera juga dilihat.
Melihat pasien apakah menggunakan kacamata atau lensa kontak dan
mengecek respon terhadp cahaya.
5. Hidung
 Inspeksi : Kaji bentuk dan kesimeterisannys, lihat apakah ada
lesi dan serumen.
 Palpasi : Cek apakah ada nyeri tekan atau benjolan
6. Telinga
 Inspeksi : Kaji bentuk dan kesimetrisannya antara kanan dan
kiri. Lihat apakah ada lesi atau serumen.
 Palpasi : Cek apakah terdapat nyeri tekan dan benjolan
7. Mulut dan Gigi
a. Mulut
 Inspeksi : Melihat bgaiamana keadaan mukosa bibir,
melihat apakah ada lesi atau stomatitis pada bibir
b. Gigi
 Inspeksi : Melihat susunan gigi, apakah gigi sudah
lengkap atau belum.
8. Dada
 Inspeksi : Melihat bentuk dada apakah simetris atau tidak
 Palpasi : Mengecek akan adanya benjolan dan nyeri tekan
 Perkusi : Melakukan pemeriksaan untuk mendengar bunyi paru
yaitu sonor dan bunyi jantung yang disebut dengan pekak.
 Auskultasi : Mengkaji suara nafas, trachea, bronkus, dan paru.
9. Abdomen
 Inspeksi : Mengkaji bentuk abdomen, melihat apakah ada lesi
pada abdomen. Tersebut. Biasanya pada pasien dengan infeksi
saluran kemih mengalami distensi abdomen yang disebabkan karena
terjadinya inflamasi.
 Palpasi : Mengkaji benjolan dan nyeri tekan yang terdapat
pada abdomen
 Perkusi : Kaji nyeri pada abdomen dan suara yang muncul
ketika dilakukan pemeriksaan dengan perkusi mulai dari kuadran
kanan atas kemudian bergerak searah jarum jam
 Auskultasi : Mengkaji suari perstaltik atau bising usus di semua
kuadran dan suara pembuluh darah
10. Genitalia
a. Wanita
 Inspeksi : Mengkaji mukosa kulit pada genitalia
eksternal, integritas kulit, kesimetrisan, dan edema. Mengkaji
integritas kulit pada vagina dan servik juga.
 Palpasi : Mengkaji letak, ukuan, konsistensi, massa
pada vagina, uterus, dan ovarium
b. Pria
 Inspeksi : Mengkaji integritas kulit pada penis dan
skrotum
 Palpasi : Mengkaji massa pada penis dan skrotum
11. Ekstermitas
a. Ekstermitas atas
 Inspeksi : Mengkaji pergerakan ekstermitas atas dan
pergerakannya. Integritas ROM, kekuatan otot, dan tonus otot
 Palpasi : Kaji denyut pada a. brachialis dan a. radialis
b. Ekstermitas bawah
 Inspeksi : Mengkaji kesimetrisan dan pergerakannya,
integritas kulit, posisi, letak, ROM, kekuatan otot, dan tonus otot
 Palpasi : Kaji denyut a. femoralis, a. popliteal, a.
dorsalis pedis
12. Kulit dan Kuku
a. Kulit
 Inspeksi : Melihat kebersihan
 Palpasi : Biasanya pada infeksi saluran kemih, terjadi
demam maka kulit pada pasien penderita infeksi saluran kemih
terasa hangat
b. Kuku
 Inspeksi : Melihat kebersihan, bentu, dan warna kuku
 Palpasi : Mengecek ketebalan kuku dan capillary refile
(normal <3 detik)

2.2 Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri akut b.d agen cedera biologis d.d perilaku ekspresif, ekspresi wajah
nyeri, keluhan tentang intensitas nyeri skala 4
2. Inkontinensia urine aliran berlebih b.d obstruksi ureter d.d distensi kandung
kemih
3. Hipertermi b.d penyakit d.d kulit terasa hangat
4. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d asupan diet
kurang d.d nyeri abdomen dan enggan makan
5. Intoleran aktivitas b.d fisik tidak bugar d.d kelemahan umum
6. Kerusakan integritas kulit b.d lembap d.d kemerahan
7. Ansietas b.d ancaman pada status terkini d.d sering berkemih dan dorongan
segera berkemih
8. Defisien pengetahuan b.d kurang informasi d.d kurang pengetahuan
2.3 Intervensi Keperawatan
No Diagnosa
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
. Keperawatan
1. Nyeri akut b.d Setelah dilakukan perawatan Manajemen Nyeri (1400) Manajemen Nyeri (1400)
agen cedera selama 2 x 24 jam 1. Observasi adanya petunjuk 1. Untuk mengetahui adanya
biologis d.d diharapkan nyeri akut yang nonverbal mengenai petunjuk nonverbal yang
perilaku dirasakan klien dapat ketidaknyamanan terutama ditampakkan oleh pasien
ekspresif, berkurang dengan kriteria pada mereka yang tidak
ekspresi wajah hasil : dapat berkomunikasi secara
nyeri, keluhan Control Nyeri (1605) efektif
tentang 1. Menggunakan analgesic
intensitas nyeri yang direkomendasikan 2. Ajarkan penggunaan teknik 2. Agar pasien dapat
skala 4 dipertahankan pada skala non-farmakologis (seperti menggunakan teknik
2 (jarang menunjukkan) relaksasi, terapi musik) nonfarmakologis sebagai
ditingkatkan ke skala 4 pereda nyerinya
(sering menunjukkan)
Tingkat Nyeri (2102) 3. Berikan informasi 3. Agar pasien mendapatkan
1. Panjangnya episode nyeri mengenai nyeri, seperti informasi lebih banyak
dipertahankan pada skala penyab, berapa lama nyeri terkait nyeri yang dialaminya
2 (cukup berat) akan dirasakan, dan
ditingkatkan ke skala 4 antisipasi dari
(ringan) ketidaknyamanan akibat
2. Ekspresi nyeri wajah prosedur
dipertahankan pada skala
2 (cukup berat) 4. Kolaborasi dengan pasien,
ditingkatkan ke skala 4 orang terdekat dan tim 4. Agar pasien dan orang
(ringan) kesehatan lainnya untuk terdekat pasien dapat
memilih dan melakukan tindakan
mengimplementasikan nonfarmakologi secara
tindakan penurun nyeri mandiri
nonfarmakologi, sesuai
kebutuhan

5. Kolaborasi dengan dokter


terkait pemberian analgesic 5. Untuk mengurangi nyeri
untuk mengurangi nyeri pasien dengan cepat secara
farmakologis
Pemberian Analgesik (2210)
1. Cek perintah pengobatan Pemberian Analgesik (2210)
meliputi obat, dosis, dan 1. Untuk memastikan obat yang
frekuensi obat analgesic akan diberikan untuk pasien
yang diresepkan sesuai dengan resep dan
petunjuk penggunaannya
2. Berikan kebutuhan
kenyammanan dan aktivitas 2. Untuk mendukung
lain yang dapat membantu keberhasilan dari pengobatan
relaksasi untuk pasien
memfasilitasi penurunan
nyeri

3. Ajarkan tentang
penggunaan analgesic, 3. Agar pasien dapat
strategi untuk menurunkan menggunakan analgesiknya
efek samping, dan harapan secara mandiri dan
terkait dengan keterlibatan mendapatkan informasi lebih
dalam keputusan terkait analgesic yang
pengurangan nyeri digunakannya.

2. Inkontinensia Setelah dilakukan perawatan Manajemen Cairan (4120) Manajemen Cairan (4120)
urine aliran selama 2 x 24 jam 1. Monitor makanan/cairan 1. Untuk meningkatkan input
berlebih b.d diharapkan pola eliminasi yang dikonsumsi dan hitung cairan pasien
obstruksi ureter klien efektif dengan kriteria asupan kalori harian
d.d distensi hasil :
kandung kemih Kontinensia Urin (0502) 2. Jaga intake/asupan yang 2. Mengetahui intake dan output
1. Mengenali keinginan akurat dan catat output cairan pasien
untuk berkemih
dipertahankan pada skala 3. Dukung pasien dan 3. Agar keluarga dapat
2 (jarang menunjukkan) keluarga untuk membantu memberikan makanan dan
ditingkatkan ke skala 3 dalam pemberian makanan minuman yang baik bagi
(kadang-kadang dan minuma yang baik pasien
menunjukkan)
2. Mengosongkan kandung Manajemen Obat (2380) Manajemen Obat (2380)
kemih sepenuhnya 1. Tentukan dengan dokter, 1. Untuk memberikan terapi
dipertahankan pada skala obat apa yang diperlukan farmakologi bagi pasien.
1 (tidak pernah dan kelola menurut resep
menunjukkan) dan/atau protocol
ditingkatkan ke skala 2
(jarang menunjukkan) 2. Kaji ulang pasien dan/atau 2. Untuk mengetahui tingkat
Keparahan Gejala (2103) keluarga secara berkala pengetahuan pasien dan/atau
1. Intensitas gejala mengenai jenis dan jumlah keluarga terkait jenis dan
dipertahankan pada skala obat yang dikonsumsi jumlah obat yang dikonsumsi
2 (cukup berat)
ditingkatkan pada skala 3 3. Ajarkan pasien dan/atau 3. Agar pasien dan keluarga
(sedang) anggota keluarga mengenai dapat melakukan medikasi
2. Frekuensi gejala metode pemberian obat secara mandiri
dipertahankan pada skala yang sesuai
2 (cukup berat)
4. Berikan pasien dan anggota 4. Untuk meningkatkan
ditingkatkan pada skala 3
keluarga mengenai pengetahuan pasien dan
(sedang)
informasi untuk anggota keluarga terkait
Eliminasi Urin (0501)
meningkatkan pemahaman pemahaman mereka mengenai
1. Pola eliminasi
mengenai pemberian obat pemberian obat
dipertahankan pada skala
3 (cukup terganggu)
Perawatan Inkontinensia Perawatan Inkontinensia Urin
ditingkatkan pada skala 4
Urin (0610) (0610)
(sedikit terganggu)
1. Monitor eliminasi urin, 1. Untuk mengetahui eliminasi
2. Jumlah urin
meliputi frekuensi, urin, meliputi frekuensi,
dipertahankan pada skala
konsistensi, bau, volume, konsistensi, bau, volume, dan
2 (banyak terganggu)
dan warna urin warna urin pasien
ditingkatkan pada skala 3
(cukup terganggu).
2. Instruksikan pasien untuk 2. Untuk meningkatkan asupan
minum minimal 1500cc air cairan pasien.
perhari
3. Hipertermi b.d Setelah dilakukan perawatan Perawatan Demam (3740) Perawatan Demam (3740)
penyakit d.d selama 2 x 24 jam 1. Pantau suhu dan tanda- 1. Untuk mengetahui suhu dan
kulit terasa diharapkan hipertermi klien tanda vital lainnya tanda-tanda vital pasien
hangat dapat teratasi dengan
kriteria hasil : 2. Monitor asupan dan 2. Agar mengetahui asupan dan
Termoregulasi (0800) keluaran, sadari perubahan keluaran cairan pasien
1. Peningkatan suhu kulit kehilangan cairan yang tak
dipertahankan pada skala disadari
2 (banyak terganggu)
3. Tutup pasien dengan 3. Untuk menghindari pasien dari
ditingkatkan ke skala 3
selimut atau pakaian ringan, rasa dingin
(cukup terganggu)
tergantung pada fase
demam

4. Fasilitasi istirahat, terapkan 4. Agar pasien dapat beristirahat


pembatasan aktivitas dengan baik dan berkualitas
Pengaturan Suhu (3900) Pengaturan Suhu (3900)
1. Tingkatkan intake cairan 1. Mecegah munculnya dehidrasi
dan nutrisi adekuat pada pasien

2. Diskusikan pentingnya 2. Untuk menambah pengetahuan


termoregulasi dan pasien dan keluarga terkait
kemungkinan efek negative pentingnya termoregulasi dan
dari demam yang kemungkinan efek negative
berlebihan, sesuai dari demam yang berlebihan
kebutuhan

3. Kolaborasi dengan dokter 3. Untuk menurunkan demam


terkait pemberian medikasi pasien melalui teknik
yang tepat untuk farmakologi
menurunkan suhu
4. Ketidakseimban Setelah dilakukan perawatan Manajemen Nutrisi (1100) Manajemen Nutrisi (1100)
gan nutrisi: selama 2 x 24 jam 1. Tentukan status gizi pasien 1. Untuk mengetahui status gizi
kurang dari diharapkan nutrisi klien dan kemampuan pasien pasien dan kemampuan pasien
kebutuhan dapat terpenuhi dengan untuk memenuhi kebutuhan dalam makan
tubuh b.d kriteria hasil : gizi
asupan diet Status Nutrisi (1004)
kurang d.d nyeri 1. Asupan makanan 2. Diskusikan bersama pasien 2. Melibatkan pasien dalam
abdomen dan dipertahankan pada skala mengenai kebutuhan nutrisi penentuan kebutuhan nutrisi
enggan makan 2 (banyak menyimpang pasien
dari rentang normal)
ditingkatkan ke skala 3 3. Anjurkan keluarga untuk 3. Untuk meningkatkan nafsu
(cukup menyimpang dari membawa makanan favorit makan pasien
rentang normal) pasien sementara pasien
2. Asupan gizi berada di rumah sakit
dipertahankan pada skala
4. Anjurkan pasien untuk 4. Untuk memandirikan pasien
2 (banyak menyimpang
memantau kalori dan intake dan keluarga pasien terkait
dari rentang normal)
makanan (misal : buku pemantauan kalori dan intake
ditingkatkan ke skala 3
harian makanan) makanan pasien
(cukup menyimpang dari
rentang normal)
Pemberian Makanan (1050) Pemberian Makanan (1050)
Status Nutrisi: Asupan
1. Identifikasi diet yang 1. Untuk megetahui diet apa yang
Nutrisi (1009)
disarankan disarankan bagi pasien oleh
1. Asupan kalori
ahli gizi atau dokter
beipertahankan
dipertahankan pada skala
2 (sedikit adekuat) 2. Sediakan pereda nyeri yang 2. Untuk mengurangi nyeri
ditingkatkan ke skala 3 adekuat sebelum waktu pasien saat akan makan
(cukup adekuat). makan, dengan tepat

3. Tanyakan pasien makanan 3. Untuk meningkatkan nafsu


apa yang disukai untuk makan pasien
dipesan

4. Kolaborasi dengan ahli gizi 4. Agar tersedia makanan dengan


dalam pemberian makanan kalori yang telah terukur oleh
yang baik bagi pasien ahli gizi
5. Intoleran Setelah dilakukan perawatan Manajemen Energi (0610) Manajemen Energi (0610)
aktivitas b.d selama 2 x 24 jam 1. Kaji status fisiologis pasien 1. Untuk mengetahui status
fisik tidak bugar diharapkan nutrisi klien yang menyebabkan fisiologi pasien yang
d.d kelemahan dapat terpenuhi dengan kelelahan sesuai dengan memunculkan adanya
umum kriteria hasil : konteks usia dan kelelahan sesuai dengan
Daya Tahan (0001) perkembangan usianya
1. Melakukan aktivitas
rutin dipertahankan pada 2. Anjurkan pasien 2. Untuk mempermdah perawat
skala 2 (banyak mengungkapkan perasaan mengidentifikasi perasaan
terganggu) ditingkatkan secara verbal mengenai pasien tentang keterbatasan
ke skala 4 (sedikit keterbatasan yang dialami yang dialaminya
terganggu)
Energi Psikomotor (0006)
3. Tentukan jenis dan 3. Agar klien tetap terjaga
1. Menunjukkan tingkat
banyaknya aktivitas yang ketahananya meski banyak
energy yang stabil
dibutuhkan untuk menjaga aktivitas yang dilakukan
dipertahankan pada skala
ketahanan
2 (jarang menunjukkan)
ditingkatkan ke skala 4 4. Monitor/catat waktu dan 4. Agar waktu/lama istirahat/tidur
(sering menunjukkan) lama istirahat/tidur pasien pasien terkontrol

5. Monitor lokasi dan sumber 5. Untuk mengontrol sumber


ketidaknyamanan/nyeri ketidaknyamanan pasien
yang dialami pasien selama
aktivitas

6. Kurangi ketidaknyamanan 6. Agar pasien dapat melakukan


fisik yang dialami pasien aktivitasnya secara penuh
yang bisa memengaruhi
fungsi kognitif, pemantauan
diri, dan pengaturan
aktivitas pasien

7. Batasi stimuli lingkungan 7. Agar aktivitas yang dilakukan


[yang mengganggu] pasien berjalan dengan baik
(misalnya, cahaya atau
bising) untuk memfasilitasi
relaksasi
6. Kerusakan Setelah dilakukan perawatan Pengecekan Kulit (3590) Pengecekan Kulit (3590)
integritas kulit selama 2 x 24 jam 1. Monitor kulit untuk adanya 1. Untuk melihat apakah ada
b.d lembap d.d diharapkan kerusakan ruam dan lecet ruam dan lecet pada kulit klien
kemerahan integritas kulit klien dapat
teratasi dengan kriteria hasil 2. Monitor kulit untuk adanya 2. Untuk mengetahui apakah
: kekeringan yang berlebihan keadaannya lembab atau
Respon Alergi: Lokal dan kelembaban kering
(0705)
3. Lakukan langkah-langkah 3. Agar kulit klien tidak
1. Rasa gatal setempat
untuk mencegah kerusakan mengalami kerusakan secara
(local) dipertahankan
lebih lanjut (misalnya, berlanjut
pada skala 2 (cukup
melapisi kasur,
berat) ditingkatkan ke
skala 4 (ringan) menjadwalkan reposisi)
Perawatan Diri: 4. Agar anggota
4. Ajarkan anggota
Kebersihan (0305) keluarga/pemberi asuhan dapat
keluarga/pemberi asuhan
1. Mempertahankan mengetahui mengenai tanda-
mengenai tanda-tanda
kebersihan tubuh tanda kerusakan kulit dengan
kerusakan kulit, dengan
dipertahankan pada skala tepat
tepat
3 (cukup terganggu)
ditingkatkan ke skala 5 Kontrol Infeksi (6540)
Kontrol Infeksi (6540)
(tidak terganggu) 1. Agar lingkungan tetap terjaga
1. Bersihkan lingkungan
dan mengurangi adanya risiko
dengan baik setelah
infeksi
digunankan untuk setiap
pasien

2. Agar terhindar dari infeksi


2. Berikan terapi antibiotic
lebih lanjut
yang sesuai

3. Agar apabila ada tanda dan


3. Ajarkan pasien dan
gejala infeksi, pasien maupun
keluarga mengenai tanda
keluarga dapat segera
dan gejala infeksi dan
melaporkan ke penyedia
kapan harus melaporkannya perawatan kesehatan
kepada penyedia perawatan
kesehatan
4. Agar pasien dan keluarga
4. Ajarkan pasien dan anggota dapat mengetahui cara untuk
keluarga mengenai menghindari infeksi
bagaimana menghindari
infeksi
7. Ansietas b.d Setelah dilakukan perawatan Pengurangan Kecemasan Pengurangan Kecemasan (5820)
ancaman pada selama 2 x 24 jam (5820)
status terkini diharapkan cemas klien 1. Berikan informasi factual 1. Agar klien mengetahui terkait
d.d sering berkurang dengan kriteria terkait diagnosis, diagnosis, perawatan, dan
berkemih dan hasil : perawatan, dan prognosis prognosis
dorongan segera Tingkat Kecemasan (1211)
berkemih 1. Perasaan gelisah 2. Berada di sisi klien untuk 2. Agar klien merasakan lebih
dipertahankan pada skala meningkatkan rasa aman aman dan nyaman, sehingga
2 (cukup berat) dan mengurangi ketakutan ketakutan yang dirasakannya
ditingkatkan ke skala 4 berkurang
(ringan)
3. Agar klien tidak merasa
Kontrol Kecemasan Diri
3. Dorong keluarga untuk
(1402) mendampingi klien dengan sendirian
1. Mengurangi penyebab cara yang tepat
kecemasan
4. Berikan objek yang 4. Agar klien merasa aman
dipertahankan pada skala
menunjukkan perasaan
2 (jarang dilakukan)
aman
ditingkatkan ke skala 4
(sering dilakukan)
5. Dukung penggunaan 5. Agar klien bisa memberikan
2. Menggunakan strategi
mekanisme koping yang koping terhadap yang
koping yang efektif
sesuai dirasakannya
dipertahankan pada skala
2 (jarang dilakukan)
6. Instruksikan klien untuk 6. Agar klien merasa lebih rileks
ditingkatkan ke skala 4
menggunakan teknik
(sering dilakukan)
relaksasi
Tingkat Rasa Takut
(1210)
7. Atur penggunaan obat- 7. Apabila kecemasan masih
1. Ketakutan dipertahankan
obatan untuk mengurangi dirasakan, maka diperlukannya
pada skala 2 (cukup
kecemasan secara tepat obat untuk mengurangi
berat) ditingkatkan ke
kecemasan
skala 4 (ringan)
8. Kaji untuk tanda verbal dan 8. Untuk mengetahui apakah
non verbal kecemasan klien masih merasa cemas

Teknik Menenangkan (5880) Teknik Menenangkan (5880)


1. Kurangi stimuli yang 1. Untuk mengurangi perasaan
menciptakan perasaan takut cemas klien
maupun cemas

2. Yakinkan keselamatan dan 2. Agar klien tidak merasa cemas


keamanan klien akan keadaannya

3. Tawarkan usapan pada 3. Agar klien merasa lebih tenang


punggung jika diperlukan
8. Defisiensi Setelah dilakukan perawatan Pengajaran: Proses Penyakit Pengajaran: Proses Penyakit
pengetahuan b.d selama 2 x 24 jam (5602) (5602)
kurang diharapkan klien 1. Kaji tingkat pengetahuan 1. Untuk mempermudah proses
informasi d.d mendapatkan pengetahuan pasien terkait dengan proses pengajaran
kurang dengan kriteria hasil : penyakit yang spesifik
pengetahuan Pengetahuan: Manajemen
Penyakit Akut (1844) 2. Jelaskan patofisiologi 2. Agar klien mengetahui
1. Tanda dan gejala penyakit dan bagaimana patofisiologi penyakit dan
penyakit dipertahankan hubungannya dengan terkait apa yang dialaminya
pada skala 2 anatomi dan fisiologi,
(pengetahuan terbatas) sesuai kebutuhan
ditingkatkan ke skala 4
(pengetahuan banyak) 3. Kenali pengetahuan pasien 3. Agar perawat dapat
2. Perjalanan penyakit mengenai kondisinya mengetahui apa yang
biasanya dipertahankan seharusnya disampaikan
pada skala 2
4. Jelaskan tanda dan gejala 4. Agar klien mengetahui tanda
(pengetahuan terbatas)
yang umum dari penyakit, dan gejala umum dari
ditingkatkan ke skala 4
sesuai kebutuhan penyakitnya
(pengetahuan banyak)
3. Faktor faktor penyebab
5. Jelaskan mengenai proses 5. Agar klien mengetahui tentang
dan faktor yang
penyakit, sesuai kebutuhan proses penyakit yang
berkontribusi
dialaminya
dipertahankan pada
skala 2 (pengetahuan 6. Identifikasi kemungkinan 6. Agar klien mengetahui apa
terbatas) ditingkatkan penyebab, sesuai kebutuhan penyebab dari penyakitnya
ke skala 4
7. Edukasi pasien mengenai 7. Agar ketika tanda dan gejala
(pengetahuan banyak)
tanda dan gejala yang harus muncul pada diri klien, kelien
dilaporkan kepada petugas segera memeriksakan ke
kesehatan, sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan terdekat

8. Perkuat informasi yang 8. Agar klien lebih percaya akan


diberikan dengan anggota apa yang telah disampaikan
tim kesehatan lain, sesuai
kebutuhan
BAB 3. ASUHAN KEPERAWATAN

Kasus
Ny. X 35 tahun dibawa ke masuk rumah sakit pada tanggal 17 Agustus 2019 pukul
14.30 dengan keluahan utama merasa nyeri di area genital, demam 3 hari dan lemas,
mual (-) muntah (-), BAB normal tetapi frekuensi BAK meningkat, KU: lemah,
kesadaran: composmentis, ekstremitas hangat, penciuman: normal, cara masuk
dengan kursi roda, rencana tindak lanjut dirawat di ruang Syifa pada tanggal 187
Agustus 2017, pukul 16.00. Dengan diagnose medis: ISK.

3.1 Pengkajian
1. Anamnesa
a. Identitas Pasien
Nama : Ny. X
Umur : 35 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan : S1
Alamat : Mataram
No RM :-
Pekerjaan :-
Status Perkawinan : Kawin
Tanggal MRS : 17 Agustus 2019
Tanggal Pengkajian : 17 Agustus 2019
Sumber Informasi : Pasien, keluarga, rekam medik
b. Riwaat Kesehatan
 Diagnose Medik : Infeksi Saluran Kemih
 Keluhan Utama : Pasien merasa nyeri di area genital
 Riwayat Penyakit Sekarang :
Keluarga mengatakan pasien mengalami demam dan lemas

2. Pengkajian 11 Pola Kesehatan Fungsional Gordon


a. Persepsi Kesehatan dan Pemeliharaan Kesehatan
Persepsi kesehatan pasien dan keluarga sangat baik karena jika
merasa sakit maka pasien dan keluarga akan segera memeriksakan
keadaannya.
b. Pola Nutrisi/Metabolik (ABCD)
- Antropometri
TB : 150 cm
BB : 55 kg
IMT : 55 kg / (1,5 m)2 = 24,4 kg/m2
Interpretasi : Nilai IMT pasien berlebih
- Biomedical Sign
Albumin positif 1
Hb 11,2 gr/dL
Ht 35%
- Clinical Sign
Pasien tampak pucat dan lemas. Suhu pasien juga tinggi.
Interpretasi : tanda klinis pada pasien menunjukkan adanya penurunan
status nutrisi setelah sakit
- Diet Pattern
Diet Pattern Sebelum sakit Saat di rumah sakit

Frekuensi makan 3 kali/hari 3 kali/hari

Porsi 1 piring ½ piring

Nafsu makan Menurun Menurun

Frekuensi minum 7 gelas/hari 4 gelas/hari


Jumlah 1,5 L 800 ml

Interpretasi : nafsu makan pasien semakin menurun, sehingga porsi


makan pasien semakin sedikit.
c. Pola Eliminasi
- BAK : Frekuensi BAK meningkat, warna urin kuning, kejernihan:
keruh PH 6,5, jumlah yang dikeluarkan: 1000 cc
Interpretasi : Pola buang air kecil pasien tidak normal
- BAB : Pada BAB tidak ada yang abnormal
Interpretasin : Pola BAB pasien tidak terganggu
d. Pola Aktivitas dan Latihan
Aktivitas Harian (Activity Daily Living)

Kemampuan Perawatan Diri 0 1 2 3 4

Makan / minum 

Toileting 

Berpakaian 

Mobilitas di tempat tidur 

Berpindah 

Ambulasi / ROM 

Ket: 0: tergantung total, 1: dibantu petugas dan alat, 2: dibantu petugas, 3:


dibantu alat, 4: mandiri

Status Oksigenasi :Baik


Terapi oksigen :Pasien tidak terpasang selang oksigen
Interpretasi :Pasien dapat bernafas spontan tanpa oksigen.
e. Pola Istirahat Tidur
Selama MRS durasi tidur pasien selama 6 jam dalam sehari, pasien
sering terbangun saat malam hari karena merasa nyeri dan ingin BAK.
f. Pola Kognitif dan Perseptual
- Fungsi Kognitif dan Memori: Sebelum dan saat MRS
kognitif pasien masih tetap baik dan masih bisa diajak
bicara dan memberikan timbal balik yang tepat, dan
ingatan pasien baik saat dilakukan pengkajian.
- Fungsi panca indra: Pasien mengatakan tidak ada masalah
dengan panca indranya
Interpretasi : Pola kognitif dan konseptual pasien tidak terganggu.
g. Pola Persepsi Diri dan Konsep Diri
- Gambaran diri : Tidak ada masalah.
- Identitas diri : Tidak mengalami gangguan identitas diri.
- Harga diri : Tidak merasa minder walaupun sakit.
- Ideal diri : Tidak mengalami gangguan ideal diri.
- Peran diri : Tidak merasa terganggu peran dirinya.
Interpretasi : Pola persepsi diri pasien tidak terganggu.
h. Pola Seksual dan Reproduksi
Pola seksual dan reproduksi terganggu karena infeksi saluran
kemih menyebabkan nyeri pada area genitalia
i. Pola Peran dan Hubungan
Pasien tidak mengalami gangguan pada pada pola peran dan
hubungan
j. Pola Manajemen Koping Stres
Suami pasien selalu datang untuk menemani pasien selama pasien
di rumah sakit dan suami juga selalu mengajak berkomunikasi pasien
dengan baik.
k. Pola Nilai dan Keyakinan
Pasien beragama islam dan pasien tidak mengalami gangguan
dalam beribadah.

3. Pemeriksaan Fisik (Head to Toe)


a. Keadaan Umum
Lemah
b. Tanda-tanda Vital Normal
Tekanan Darah : 90/60 mmHg
Suhu : 38,5 C
Nadi : 100x/menit
RR : 22x/menit
c. Kepala dan Leher
- Kepala
 Inspeksi : Bentuk kepala simetris, ukuran normal, warna rambut
hitam, dan persebaran rambut merata.
 Palpasi : Tidak ada benjolan dan nyeri tekan
- Leher
 Inspeksi : Bentuk leher simetris,warna kulit normal
 Palpasi : Tidak ada benjolan dan nyeri tekan
d. Mata
 Inspeksi : Sclera ikterik, pupil isokor, konjungtiva normal,
fotofobia
 Palpasi : Tidak ada benjolan dan nyeri tekan
e. Hidung
 Inspeksi : Bentuk hidung simetris, tidak ada secret atau darah
yang keluar dari dalam hidug, dan tidak terdapat lesi pada hidung
 Palpasi : Tidak ada benjolan dan nyeri tekan
f. Telinga
 Inspeksi : bentuk simetris, terdapat serumen tetapi tidak
mengganggu fungsi pendengaran dan tidak ada lesi
 Palpasi : Tidak ada benjolan dan nyeri tekan
g. Mulut dan Gigi
- Mulut
 Inspeksi : mukosa bibir tampak kering dan pucat, tidak terdapat
lesi pada bibir
 Palpasi : Tidak ada benjolan dan nyeri tekan
- Gigi
 Inspeksi : Susunan gigi pasien tampak rata
h. Dada
 Inspeksi : Bentuk dada tampak simetris, tidak terdapat lesi,
pengembangan dada juga normal, dan tidak menggunakan otot bantu
pernafasan
 Palpasi : Tidak ada benjolan dan nyeri tekan
 Perkusi : Pada area paru terdapat bunyi sonor dan pada area
jantung terdapat bunyi pekak
 Auskultasi : Bunyi pada paru yaitu vesicular dan bunyi lup dup
pada area jantung, tidak ada suara tambahan pada jantung ataupun paru
i. Abdomen
 Inspeksi : Distensi abdomen, tidak terdapat asites, umbilicus di
tengah, pesebaran rambut merata, tidak terdapat lesi
 Palpasi : Tidak ada benjolan dan nyeri tekan
 Perkusi : Bunyi timpani
 Auskultasi : Bising usus 36x/menit
j. Urogenital
 Inspeksi : Tidak terpasang kateter
 Palpasi : Terdapat distensi pada kandung kemih
k. Ekstermitas
 Inspeksi : Bentuk simetris, tidak terdapat lesi
 Palpasi : Kulit teraba hangat, kekuatan otot pasien 4 4
4 4
l. Kulit dan Kuku
- Kulit
 Inspeksi : Kulit tampak kering dan memerah
 Palpasi : Turgor kulit menurut, kulit kering dan teraba hangat.
- Kuku
 Inspeksi : Kuku tampak normal
 Palpasi : CRT <2
4. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Hasil
GDS 149
Ureum 29
Kreatinin 1,24
SGOT 21
SGPT 10
Leukosit 15000
Trombosit 331.000
Urobilinogen 0,2

3.2 Analisa Data


No Keterangan Etiologi Masalah
.
1. DO : Infeksi Hipertermia
1. Kulit pasien terasa hangat
2. Pasien mengalami Inflamasi
dehidrasi
3. Pasien tampak gelisah Menggigil dan
DS : suhu tubuh
1. Pasien mengatakan badan meningkat
terasa panas
Hipertermi
2. DO : Saluran kemih Ketidakseimbangan
1. Membrane mukosa pasien menyempit nutrisi: kurang dari
tampak kering dan pucat kebutuhan tubuh
2. Bising usus 36x/menit Distensi abdomen
DS :
1. Pasien mengatakan bahwa Anoreksia
dirinya kurang nafsu
makan Ketidakseimbangan
nutrisi: kurang dari
kebutuhan tubuh
3. DO : Bakteri penyebab Risiko infeksi
1. Kulit tampak memerah infeksi saluran
2. Jumlah leukosit 15000 kemih

Inflamasi

Risiko infeksi

3.3 Diagnosa Keperawatan


1. Hipertermia b.d penyakit dan dehidrasi d.d gelisah dan kulit terasa hangat
2. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d faktor biologis
d.d enggan makan, bising usus hiperaktiff, kurang minat pada makanan, dan
membrane mukosa pucat
3. Resiko infeksi b.d proses penyakit
3.4 Intervensi Keperawatan
No Hari/T Diagnosa Tanda
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
. anggal Keperawatan Tangan
1. Sabtu, Hipertermia b.d Setelah dilakukan Perawatan Demam Perawatan Demam Ꝕ
17 penyakit dan perawatan selama 2 x 24 1. Pantau suhu dan 1. Untuk mengetahui Putri
Agustu dehidrasi d.d jam diharapkan TTV lainnya suhu dan TTV klien
s 2019 gelisah dan kulit hipertermi yang dialami
terasa hangat klien dapat teratasi 2. Monitor warna kulit 2. Mengontrol warna
dengan kriteria hasil : dan suhu kulit dan suhu
Termoregulasi (0800)
1. Hipertermia 3. Monitor asupan dan 3. Mengontrol asupan
dipertahankan pada keluaran, sadari dan keluaran pasien
skala 2 (banyak perubahan cairan
terganggu) yang tak dirasakan
ditingkatkan ke skala
4. Dorong konsumsi 4. Agar kebutuhan
4 (sedikit terganggu)
cairan cairan pasien
2. Dehidrasi
terpenuhi
dipertahankan pada
skala 2 (banyak
Manajemen Cairan Manajemen Cairan
terganggu)
ditingkatkan ke skala 1. Jaga intake/asupan 1. Agar asupan klien
4 (sedikit terganggu) yang akuran dan bisa terjaga
catat ouput (pasien)

2. Monitor status 2. Agar klien tidak


hidrasi (misalnya, dehidrasi
membrane mukosa
lembab, denyut nadi
adekuat, dan
tekanan darah
ortostatik)

3. Tingkatkan asupan 3. Agar asupan klien


oral (misalnya, tetap terpenuhi
memberikan dengan baik
sedotan,
menawarkan cairan
diantara waktu
makan, menggangi
air es secara rutin,
menggunakan es
untuk jus favorit
anak, potongan
gelatin ke dalam
kotak yang
menyenangkan,
menggunakan
cangkir obat kecil)
yang sesuai.
2. Sabtu, Ketidakseimbang Setelah dilakukan Manajemen Nutrisi Manajemen Nutrisi Ꝕ
17 an nutrisi: kurang perawatan selama 2 x 24 1. Tentukan status gizi 1. Untuk mengetahui Putri
Agustu dari kebutuhan jam diharapkan pasien dan status gizi pasien
s 2019 tubuh b.d faktor kebutuhan gizi klien kemampuan (pasien) dan kemampuannya
biologis d.d dapat terpenuhi dengan untuk memenuhi dalam memenuhi
enggan makan, kriteria hasil : kebutuhan gizi kebutuhan gizi
bising usus Status Nutrisi (1004)
hiperaktif, kurang 1. Asupan gizi 2. Identifikasi (adanya) 2. Agar pasien tidak
minat pada dipertahankan alergi atau memakan makanan
makanan, dan pada skala 2 intoleransi makanan yang membuatnya
membrane (banyak yang dimiliki pasien alergi
mukosa pucat menyimpang dari
rentang normal) 3. Tentukan jumlah 3. Agar kebutuhan gizi
ditingkatkan ke kalori dan jenis klien terpenuhi
skala 4 (sedikit nutrisi yang
menyimpang dari dibutuhkan untuk
rentang normal) memenuhi
2. Asupan cairan persyaratan gizi
dipertahankan
4. Anjurkan keluarga 4. Agar nafsu makan
pada skala 2
untuk membawa klien bertambah
(banyak
makanan favorit
menyimpang dari
pasien sementara
rentang normal)
(pasien) berada di
ditingkatkan ke
RS atau fasilitas
skala 4 (sedikit
perawatan yang
menyimpang dari
sesuai.
rentang normal)

5. Monitor kalori dan 5. Agar kalori dan


asupan makanan asupan makanan
klien tetap terkontrol
3. Sabtu, Resiko infeksi b.d Setelah dilakukan Control Infeksi Control Infeksi Ꝕ
17 proses penyakit perawatan selama 2 x 24 1. Bersihkan 1. Agar lingkungan Putri
Agustu jam diharapkan resiko lingkungan dengan pasien tetap terjaga
s 2019 infeksi klien dapat baik setelah
teratasi dengan kriteria digunakan untuk
hasil : setiap pasien
Control Risiko: Proses
Infeksi (1924) 2. Cuci tangan sebelum 2. Agar tetap bersih
1. Melakukan tindakan dan sesudah ketika perawatan
segera untuk kegiatan perawatan
mengurangi risiko pasien.
dipertahankan pada
skala 2 (jarang 3. Dorong intake 3. Agar cairan klien
menunjukkan) cairan yang sesuai terpenuhi
ditingkatkan ke skala
4. Anjurkan pasien 4. Agar klien bisa
4 (sering
untuk meminum terhindar dari infeksi
menunjukkan)
antibiotic seperti
yang diresepkan

5. Agar pasien dan


5. Ajarkan pasien dan
keluarga mengetahui
keluarga mengenai
bagaimana tanda
tanda dan gejala
dan gejala infeksi
infeksi dan kapan
harus
melaporkannya
kepada penyedia
perawatan kesehatan

6. Agar pasien dan


6. Ajarkan pasien dan
keluarga mengetahui
anggota keluarga
bagaimana
mengenai
menghindari infeksi
bagaimana
menghindari infeksi
3.5 Implementasi Keperawatan
No
Tanggal/Jam Diagnose Implementasi Evaluasi Formatif Paraf
.
1. 17 Agustus 1 1. Memantau suhu dan TTV lainnya 1. Panas klien menurun Ꝕ
2019 dan TTV normal Putri
16.00
2. Memonitor warna kulit dan suhu 2. Panas klien menurun

3. Memonitor asupan dan keluaran, sadari 3. Asupan klien terkontrol


perubahan cairan yang tak dirasakan

4. Mendorong konsumsi cairan 4. Kebutuhan cairan klien


terpenuhi

5. Menjaga intake/asupan yang akuran dan 5. Intake/asupan klien


catat output (pasien) terpenuhi

6. Memonitor status hidrasi (misalnya, 6. Klien tidak dehidrasi


membrane mukosa lembab, denyut nadi
adekuat, dan tekanan darah ortostatik)
7. Asupan klien
7. Meningkatkan asupan oral (misalnya, meningkat
memberikan sedotan, menawarkan cairan
diantara waktu makan, menggangi air es
secara rutin, menggunakan es untuk jus
favorit anak, potongan gelatin ke dalam
kotak yang menyenangkan,
menggunakan cangkir obat kecil) yang
sesuai.
2. 17 Agustus 2 1. Menentukan status gizi pasien dan 1. Status gizi klien terkaji Ꝕ
2019 kemampuan (pasien) untuk memenuhi dengan baik Putri
18.00 kebutuhan gizi

2. Mengidentifikasi (adanya) alergi atau 2. Mengetahui alergi yang


intoleransi makanan yang dimiliki pasien dimiliki klien

3. Menentukan jumlah kalori dan jenis 3. Kalori dan nutrisi klien


nutrisi yang dibutuhkan untuk memenuhi terkaji
persyaratan gizi
4. Menganjurkan keluarga untuk membawa
makanan favorit pasien sementara 4. Nafsu makan klien
(pasien) berada di RS atau fasilitas menjadi bertambah
perawatan yang sesuai

5. Memonitor kalori dan asupan makanan


5. Kalori dan asupan
makanan klien
terpenuhi
3. 17 Agustus 3 1. Membersihkan lingkungan dengan baik 1. Klien merasa nyaman Ꝕ
2019 setelah digunakan untuk setiap pasien Putri
21.00
2. Mencuci tangan sebelum dan sesudah 2. Kesterilan terjaga
kegiatan perawatan pasien

3. Mendorong intake cairan yang sesuai 3. Cairan klien terpenuhi

4. Menganjurkan pasien untuk meminum 4. Pasien merasa lebih


antibiotic seperti yang diresepkan. baik
5. Mengajarkan pasien dan keluarga
mengenai tanda dan gejala infeksi dan 5. Informasi tersampaikan
kapan harus melaporkannya kepada dan diterima dengan
penyedia perawatan kesehatan baik oleh klien dan
keluarga
6. Mengajarkan pasien dan anggota
keluarga mengenai bagaimana 6. Informasi tersampaikan
menghindari infeksi dan diterima dengan
baik oleh pasien dan
keluarga

a.
BAB 4. PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Lokasi ginjal berada pada bagian belakang dari kavum abdominalis,
area retroperitoneal bagian atas di kedua sisi vertebra lumbalis III, dan
melekat langsung di dinding abdomen. Bentuknya seperti biji buah kacang
merah (kara/ercis), yang jumlahnya ada 2 buah, terletak di bagian kiri dan
kanan. Infeksi saluran kemih atau biasa disebut dengan Troctus infection
merupakan keadaan adanya mikroorganisme yang menginvasi pada saluran
kemih. Infeksi salutan kemih adalah salah satu jenis infeksi nosocomial
yang angka kejadiannya sangat tinggi di Indonesia, yaitu 39%-60%. Infeksi
aluran kemih ini seringkali dialami oleh wanita, hal tersebut dikarenakan
uretra wanita lebih pendek dibandingkan pria sehingga bakteri kontaminan
lebih mudah untuk memperoleh akses ke kandung kemih. Penyebab lain
dari infeksi saluran kemih pada wanita yitu kecenderungan menahan urin,
perubahan pH, dan flora vulva dalam siklus menstruasi serta iritasi kulit
lubang uretra pada wanita ketika berhubungan seksual

4.2 Saran
Bagi mahasiswa atau pembaca, khususnya mahasiswa keperawatan
lebih meningkatkan pemahaman mengenai infeksi saluran kemih beserta
dengan etiologi, manifestasi klinis dan mampu melakukan konsep asuhan
keperawatan yang tepat dan sesuai. Bagi pembaca, hendaknya penulisan
laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menjadikan insiprasi serta
menambah pengetahuan serta wawasan pembaca mengenai infeksi saluran
kemih. Bagi peneliti, hendaknya penulisan laporan ini berguna untuk
peneliti dalam meneliti lebih lanjut mengenai infeksi saluran kemih
sehingga dapat ditemukan inovasi-inovasi baru di masa yang akan datang
agar penanganan dan pengobatan dapat lebih efisien dan efektif lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Edriani, Rita A. 2010. Pola Resistensi Bakteri Penyebab Infeksi Saluran Kemih
Terhadap Antibakteri di Pekanbaru. Jurnal Natur Indonesia. 12(2): 130-5
Musdalipah. 2018. Identifikasi Drug Related Problem (DRP) Pada Pasien Infeksi
Saluran Kemih di Rumah Sakit Bhayangkara Kendari. Jurnal Kesehatan.
11: 1.
NANDA, NIC, NOC. 2018. Jakarta: ECG
Nuari, N. A. dan D. Widayati. 2017. Gangguan pada Sistem Perkemihan &
Penatalaksaan Keperawatan. Yogyakarta: Deepublish Publisher.
Tjokroprawiro, A., P. B. Setiawan, D. Santoso, G. Soegiarto, dan L. D.
Rahmawati. 2015. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 2. Surabaya:
Airlangga University Press (AUP).