Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Daun Majemuk adalah jenis daun pada tumbuhan yang kedudukannya pada
batang yaitu tangkai daunnya yang bercabang-cabang dan helaian daun terletak
pada cabang-cabang tersebut. Daun majemuk secara keseluruhan merupakan
struktur daun tulang secar utuh yang terdiri dari satu helaian daun (lamina) dan
satu tangkai daun (petioles). Struktur tunggal tersebut termodifikasi menjadi
beberapa helai daun yang disebut sebagai anak daun.
Untuk menentukan jenis daun majemuk, yang harus diperhatikan adalah posisi
anak-anak daun terhadap ibu tangkai daunnya. Berdasarkan susunan anak-anak
Dun dan tangkai anak daunnya, daun majemuk dapat dibedakan menjadi daun
majemuk menyurip (pinnatus), daun majemuk menjari (palmatus), daun majemuk
bangun kaki (pedatus), dandaun majemuk campuran (digitato pinnatus) (Rosanti,
2011 : 40).
Setiap jenis daun majemuk memiliki ciri-ciri yang berbeda berdasarkan dari
perbedaan berbagai jenis tanaman yang memiliki daun majemuk hal ini juga
dibedakan berdasarkan susunan-susunan daun pada tangkai daunnya.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa pengertian dari daun Majemuk?
b. Apa saja bagian-bagian dari daun Majemuk?
c. Apa saja jenis-jenis dari daun Majemuk?
d. Bagaimana tata letak daun Majemuk pada batang?

1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui pengertian dari daun Majemuk.
b. Untuk mengetahui bagian-bagian dari daun Majemuk.
c. Untuk mengetahui jenis-jenis daun Majemuk.
d. Untuk mengetahui tata letak daun majemuk pada batang.

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian daun Majemuk
Jika kita memperhatikan daun berbagai jenis tumbuhan, akan terlihat, bahwa
ada diantara yang pada tangkainya hanya terdapat satu helaian daun saja. Daun
yang demikian dinamakan daun tunggal (folum simplex), tangkai bercabang-
cabang, dan baru pada cabang cabang tangkai ini terdapat helaian daunnya,
sehingga disini pada satu tangkai terdapat helaian daunnya, sehingga di sini pada
satu tangkai terdapat lebih dari satu helaian daun. Daun dengansusunan yang
demikian disebut daun majemuk (folium compositum).
Suatu daun majemuk dapat dipandang berasal dari suatu daun tunggal, yang
torehnya sedemikian dalamnya, sehingga bagian daun diantara toreh-toreh itu
terpisah satu sama lain, dan masing-masing merupakan suatu helaian tersendiri.
(Tjitrosoepomo, 2001:49).

Berikut ciri-ciri lain dari daun majemuk


a. Anak daun terjadi bersama-sama dan bila runtuh bersama-sama juga
Anak daun biasanya seumur dan sama besarnya.
b. Pertumbuhannya terbatas, artinya tdk bertambah panjang lagi dan
ujungnya tidak mempunyai kuncup
c. Pada daun majemuk tidak terdapat kuncup dibagian ketiaknya.

Gambar 2.1.1 bagian bagian daun majemuk

2
2.2 Bagian-bagian daun majemuk
Pada suatu daun majemuk dapat kita bedakan bagian-bagian berikut :
a. Ibu tangkai daun (potiolus communis) yaitu bagian daun majemuk yang
menjadi tempat duduknya helaian-helaian daunnya, yang disini masing-
masing dinamakan anak daun (foliolum). Ibu tangkai daun ini dapat
dipandang merupakan penjelmaan tangkai daun tunggal ditambah dengan
ibu tulangnya, oleh sebab itu kuncup ketiak pada tumbuhan yang
mempunyai daun majemuk, letaknya juga diatas pangkal ibu tangkai pada
batang.
b. Tangkai anak daun (petiololus), yaitu cabang-cabang ibu tagkai yang
mendukung anak daun. Bagian ini dapat dianggap sebagai penjelmaan
pangkal suatu tulang pada cabang pada daun tunggal, oleh sebab itu
didalam ketiaknya tidak pernah terdapat suatu kuncup.
c. Anak daun (foliolum) bagian ini sesungguhnya adalah bagia-bagian
helaian daun yang karena dalam dan besarnya toreh menjadi terpisah-
pisah. Anak daun pada suatu daun majemuk lainnya mempunyai tangkai
yang pendek saja atau hamper duduk pada ibu tangkai, misalnya pada
daun selderi (Apium graveolens L). ada kalanya anak daun mempunyai
tangkai yang cukup panjang dan jelas kelihatan, misalnya pada daun
mangkokan (Nothroponax scutellarium Merr).
Karena suatu daun majemuk dapat dipandang berasal dari suatu daun
tunggal, pada daun majemuk dapat pula kita temukan bagian-bagian lain
seperti oada daun tunggal, misalnya:
d. Upih daun (vagina), yaitu bagian dibaah ibu tangkai yang lebar dan
biasanya memeluk batang, seperti dapat kita lihat pada daun pinang
(Areca catechu L) (Tjitrosoepomo, 2001: 50-51).

Menurut susunan anak daun pada ibu tangkainya, daun majemuk dapat
dibedakan dalam dua golongan yaitu:
1. Daun majemuk menyirip (pinnatus), jika anak daun tersusun seperti
sirip pada kanan kiri ibu tangkainya.
2. Daun majemuk menjari (palmatus).

3
2.3 Jenis-jenis daun Majemuk
1. Daun majemuk menyirip
a. Daun majemuk menyirip beranak daun satu (unifoliolatus). Tanpa
penyelidikan yang teliti daun ini tentu akan disebut sebagai daun
tunggal, tetapi disini tangkai daun memperlihatkan suatu persediaan
(articulatio), jadi helaian daun tidak langsung terdapat pada ibu
tangkai. Sesungguhnya pada daun ini juga terdapat lebih daripada satu
helaian daun, hanya saja yang lain-lainnya telah tereduksi, sehingga
tinggal hanya satu anak saja. Daun yang dimikian ini biasanya kita
dapat pada berbagai jenis pohon jeruk, a.l. jeruk besar (Citrus maxima
Merr.). Jeruk nipis (Citrus aurantifolioa Sw.), dll.
b. Daun majemuk menyirip genap (abrupte pinnatus). Biasanya disini
terdapat sejumlah anak daun yang berpasang-pasangan di akan kiri ibu
tulang ole sebab itu jumlah anak daunnya biasanya lalu menjadi genap.
Akan tetapi, mengingat bahwa pada suatu daunmajemuk menyirip
anak-anak daun dan tidak selalu berpasang-pasangan. Daun majemuk
menyirip genap a.l terdapat pada pohon asam (Tamaarindus indica L)
yang anak daunnya berpasang-pasangan, jadi jumlah anak daun benar
genap. Daun majemuk menyirip genap, tetapi jumlah anak daunnya
gasal dapat kita jumpai misalnya pada pohon leci (Litchi cinensis
Sonn.) dan kepulasan (Nepphelium mutabile B.).
c. Daun majemuk menyirip gasal (Imparipinnatus), juag disini yang
menjadi pedoman ialah ada atau tidaknya satu anak daun yang
menutup ujung ibu tangkainya. Ditinjau dari jumlah anak daunnya
akan kita dapati bilangan yang benar-benar gasal jika anak dau
berpasangan , sedangkan diujung ibu tangkai terdapat anak daun yang
tersendiri ( biasanya anak daun ini lebih besar dari lainnya, seperti
dapat dilihat pada daun pacar cina (Aglaia ogliata Lour.) dan mawar
(Rosa sp.).
Selain itu dapat pula suatu daun majemuk menyirip dibedakan lagi menurut
duduknya anak daun pada ibu tangkai, dan juga menurut besar kecilnya anak-anak
daun yang terdapat pada satu ibu tangkai, hingga kita dapati pula :

4
a. Daun majemuk menyirip dengan anak daun yang berpasang-pasangan,
yaitu jika duduknya anak daun pada ibu tangkai berhadap-hadapan.

Gambar 2.1.2 Daun majemuk menyirip dengan jumlah anak daun yang genap

Gambar 2.1.3 Daun majemuk menyirip dengan jumlah anak daun yang gasal

b. Menyirip berseling, jika anak daun pada ibu tangkai duduknya berseling.
c. Menyirip berselang-seling, yaitu jika anak-anak daun pada ibu tangkai
berselang-seling pasangan anak daun yang lebar dengan pasangan anak
daun yang sempit., misalnya pada anak daun tomat (Solanum
lycopersicum L.).

Pada suatu daun majemuk dapat pula terlihat bahwa anak daun tidak langsung
duduk pada ibu tangkainya, melainkan pada cabang ibu tangkai tadi. Dalam hal

5
demikian, daun majemuk lalu dinamakan daun majemuk rangkap atau daun
majemuk ganda. Biasanya hanya daun majemuk menyiriplah yang dapat
mempunyai sifat demikian, oleh sebab itu pula kalua ada daun majemuk ganda
maka biasanya adalah daun majemuk yang menyirip.

Gambar 2.1.4 Daun majemuk menyirip berselang seling

Daun majemuk menyirip ganda dapat dibedakan menjadi daun majemuk ganda
dua (bipinnatus), daun majemuk menyirip ganda tiga (tripinnatus), dan daun
majemuk menyirip ganda empat (quadrapinnatus).

Pada daun majemuk menyirip ganda dua (bipinnatus), anak-anak daun duduk
pada cabang tingkat pertama dari ibu tangkai daun. Contohnya adalah daun asam
(Tamarindus indica), lamtoro (Leucaena glauca), dan sebagainya.

6
Gambar 2.1.5 Daun majemuk menyirip ganda dua

Pada daun majemuk menyirip ganda tiga (tripinnatus), anak-anak daun berada
pada cabang tingkat kedua dari ibu tangaki daun. Contoh tanaman dengan daun
majemuk mnyirip ganda tiga adlah sangitan (Sambucus javanica).

Gambar 2.1.6 Daun majemuk menyirip ganda tiga

7
Pada daun majemuk menyirip ganda empat (quadrapinnatus), anak-anak daun
berada pada cabang ketiga dari ibu tangkai daun. Contonya dapat dilihat pada
daun kelor (Moringa oleifera).

Gambar 2.1.7 Daun majemuk menyirip ganda empat

2. Daun majemuk menjari (palmatus/digitatus)


Daun majemuk menjari adalah daun majemuk yang semua anak daunnya
tersusun memencar pada ujung ibu tangkai seperti letaknya jari-jari pada
tangan.
Daun majemuk menjari dapat dibedakan berdasarkan jumlah anak-anak
daunnya. Jika anak daunnya berjumlah dua maka daun majemuk seperti
ini dinamakan daun majemuk menjari beranak daun dua (Biofoliolatus),
dimana pada ujung ibu tangkai daun terdapat dua anak daun misalnya nam
nam (Cynometra cauliflora L).

8
Gambar 2.1.8 contoh daun majemuk menjari beranak daun dua (daun nam-
nam)

Jika anak daun berjumlah tiga dinamakan daun majemuk menjari beranak
daun tiga (trifoliolatus), dimana pada ujung ibu tangkai terdapat tiga anak
daun misalnya pada karet (Hapea braziliensis L).

Gambar 2.1.9 contoh daun majemuk menjari beranak daun tiga (Hapea
braziliensis L)

Jika anak daun berjumlah lima dinamakan daun majemuk menjari beranak daun
lima (quinquefoliolatus), dimana pada ujung ibu tangkai terdapat lima anak daun,
misalnya pada daun maman.

9
Gambar 2.1.10 Contoh daun majemuk menjari beranak lima (daun maman)

Jika anak daun berjumlah tujuh dinamakan daun majemuk menjari beranak daun
tujuh (septemfoliolatus), dimana ada tujuk anak daun pada ujung ibu tangkainya
misalnya daun kapuk (Ceiba pentandra Gaertn), seprti pada gambar :

Gambar 2.1.11 Contoh daun majemuk beranak daun tujuh (Ceiba


pentandra Gaertn)

Beberapa pendapat mengemukakan jika daun majemuk menjari mempunyai


tujuh anak daun atau lebih, maka dapat dikatakan daun tersebut merupakan daun
majemuk beranak daun banyak (polyfoliolatus), sehingga tidak perlu dihitung
jumlah anak daun yang tepat, misalnya pada daun walisongo (Schefflera
grandiflora). Kadang-kadang kapuk juga dikategorikan daun majemuk menjari
beranak daun banyak.

10
3. Daun majemuk bangun kaki (Fedatus)
Susunan daun majemuk bangun kaki hamper sama dengan susunan daun
majemuk menjari. Perbedaan dapat dilihat pada dua anak daun terakhir,
yang biasanya terletak didekat ibu tangkai daun, tidak duduk pada ibu
tangkai, melainkan pada tangkai anak daun yang disampingnya senhingga
seolah-olah memiliki kaki yang meunnjang daun yang disampingnya, daun
majemuk bangun kaki biasanya terdapat pada tumbuh-tumbuhan dari
familia Araceae, seperti daun Raspberri (Rubus sp.), arisema (Arisaema
filiforme).

Gambar 2.1.12 struktur daun majemuk bangun kaki pada Arisaema sp

4. Daun majemuk campuran (digitatopinatus).


Struktur daun majemuk ini merupakan perpaduan dari daun majemuk
menjari dan daun majemuk menyirip. Pada ujung ibu tangkai daun
tersusun cabang-cabang yang terpencar seperti jari-jari. Pada cabang-
cabang tersebut duduk anak-anak daun yang tersusun menyirip. Karena
itulah daun majemuk seperti ini disebut sebagai daun majemuk campuran
contoh tumbuhan yang memiliki daun majemuk seperti ini adalah daun
putri malu (Mimosa pudica ).

11
Gambar 2.1.13 daun majemuk campran pada daun putri malu (Mimosa pudica).

2.4. Tata letak daun pada batang


Tangkai daun, baik pada daun tunggal atau daun majemuk melekat pada batang
atu cabang-cabang batang. Pada batang terdapat buku-buku batang (nodus), dann
bagian ini sering kali Nampak sebagai bagian batang yang sedikit membesar dan
melingkari batang sebagai satu cincin yang dapta kita liaht jelas pada bambu
(Bambusa sp), tebu (saccharum officinarum L.)
Duduknya daun pada batang dikenal dengan istilah phyllotaxis. Biasanya satu
tangkai daun dudk pada satu buku daun. Namun pada beberapa tumbuhan, daun-
daun duduk berjejal-jejal pada suatu bagian batang, yaitu pada tankai batang atau
pada ujungnya.meskipun demikian, secara umum daun duduk pada batang secara
terpisah-pisahdengan suatu jarak yang nyata.
Tata letak daun pada batang memiliki tiga pola. Pola pertma yaitu pada satu
buku batang hanya duduk satu tangkai daun. Pola kedua , pada satu buku batang
duduk dua tangkai daun. Walau ketika pada satu buku duduk tiga atau lebih
tangkai daun.

Jenis-jenis phyllotaxis
1. Folia sparsa
Pada pola yang pertama, dimana pada satu buku batang duduk nay satu tangkai
daun. Hampir semua tumbuhan memiliki duduk daun yang mengikuti pola ini
tumbuhan yang tergolong folia sparsa antara lain andong (Cordyline fruticose),
alang-alang (Imperata cylindrical) dan sebagainya.

12
Gambar 2.1.14 contoh Folia sparsa pada andong (Cordyline fruticose)
Duduk daun folia sparsa juga berlaku untuk daun majemuk. Setiap satu tangkai
daun majemuk, ibu tangkai daun duduk hanya pada satu buku batang. Contoh
tumbuhan berdaun majemuk yang termasuk folia sparsa pada daun majemu
menyirip antara lain angsana (Pterocarpus indicus), cemai (Phyllanthus acidus),
belimbing wuluh (Averrhoa belimbii), dan sebagainya. Folia sparsa menjari
antara lain, walisongo (Schefflera grandiflora), karet (hepea barsiliensis), dan
sebagainya. Demikian juga oada daun majemuk bangun kaki dan daun majemuk
campuran.
Berdasarkan duduk daunyang mengikuti folia sparsa dapat ditentukan rumus
dan diagram daun. Selain duduknya daun secara folia sparsa, juga dikenal istilah
roset, ortostik, spiral genetic, parastik, dan spirostik.

2. Folia oppositta
Pada pola kedua, stiap buku daun diduduki dua tangkai daun pada pola ini daun
duduk berpasang-pasangan sehingga disebut juga opposita. Contoh folia opposite
dapat ditemukan pada tumbuhan bakau (Rhizouphora mucronatta) dan beberapa
jenis tumbuhan dari suku jambu-jambuan seperti jambu air (Eugenia aquatica),
jambu biji (Psidium guajava) dan sebagainya.
Ada juga beberpa daun memiliki folia opposite yang saling bersilangan antara
satu buku dengan buku lainnya. Misalnya pada buku pertama, ketiga, kelima, dan
seterusnya posisi daun saling berhadapan. Pada buku kedua, keempat, keenam dan
seterusnya posis daun yang berhadapan memutar 90 derajat dari posisi daun-daun
yang berada pada buku diatas dan dibawahnya tersebut.

13
Duduk daun seperti ini dinamakan berhadapan bersilang contoh tumbuhan yang
memiliki folia opposite seperti ini dapat ditemukan pada tanaman soka (Ixora
javanica), tapak dara (Catharanthus roseus), dan lain sebagainya.
Yang harus diperhatikan dalam menentukan folia opposite adalah duduk
daunnya pada batang, karena beberapa daun majemuk menyirip berdaun lebar
kadang-kadang terlihat seperti folio opposite.

Gambar 2.1.15 contoh tumbuhan yang memiliki folia opposite pada tanaman soka
(Ixora javanica)
3. Folia verticillata
Pada pola yang ketiga, pada setiap buku daun terdapat tiga atau lebih daun
duduk disana. Pola seperti ini dikenal sebagai daun yang berkarang yang disebut
folia verticillata. Pada beberapa determinasi tumbuhan, pola berkarang sering
disebut sebagai karangan daun.
Contoh daun berkarang dengan tiga daun pada satu bukunya dapat
ditemukan pada kaca piring (Gardenia augusta), oleander (Nerium oleander) dan
lain lain. Sedangkan tumbuhan berkarang dengan lebih dari tiga daun pada satu
bukunya dapat ditemukan pada alamanda (Allamanda cathartica), pulai (Alstonia
schoralis), dan lain lain.

14
Gambar 2.1.16 Nerium oleander

Bagan (Skema) dan Diagram Tata Letak Daun


Tata letak daun pada batang tanaman, dapat ditempuh dua jalan :
a. Membuat bagan atau skema letaknya daun
b. Membuat diagramnya

a. Bagian tata letak daun.


Batang tumbuhan digambar sebagai silinder dan digambar membujur
ortostik-ortostiknya, demikian pula buku-buku batangnya. Untuk
menghindarkan kekeliruan garis-garis yang menggambarkan masing-masing
bagian tadi dibuat berbeda-beda. Daun-daunnya digmbar sebagai penampang
melintang helainan daun yang diperkecil, jadi sebagai suatu segitiga dengan
dasar lebar yang terlentang (dengan dasarnya yang lebar tadi melebar keatas).
Jika yang digambarkan tata letak daun menurut rumus 2/5 misalnya , kita
harus menggambar terlebih dahulu lima ortostiknya, dan seterusnya daun-
daun pada setiap buku-bukunya yang jaraknya satu sama lain sejauh 2/5.
Maka kita akan melihat, bahwa dimulai dengan daun yang manasaja, setelah
garis genetic melingkari batang sampai dua kali akan melewati lima daun
selama melingkar dua kali tadi. Dan pada bagian itu akan terlihat, bahwa
daun-daun nomor satu, enam, sebelas danseterusnya tiap kali ditambah lima,
dmeikian pula daun nomor dua, tujuh, dua belas, dan seterusnya akan terletak
pada ortostik yang sama. Untuk memperlihatkan itu perlu semua daun diberi
nomor urut sepanjang spiral genetiknya.

15
Gambar 2.1.17 Bagan duduknya daun menurut rumus 2/5
b. Diagram tata letak daun atau diagram daun
Untuk membuat diagramnya batang tumbuhan harus dipandang sebagai kerucut
yang memanjang, dengan buku-buku batangnya sebagai lingkaran-lingkaran yang
sempurna. Jika diproyeksikan pada suatu bidang datar, maka buku-buku batang
akan menjadi lingkaran-lingkaran yang konsentris dan puncak batang akan
menajdi titik pusat semua lingkaran tadi. Ortostiknya akan menjadi jari-jari
lingkaran itu. Kalau sebagai contoh diambil lagi tata letak daun menurut rumus
2/5 , maka untuk memperlihatkan daun yang duduk pada suatu ortostik sekurang
kurangnya harus dibuat enam lingkaran yang konsentris, dan kelima ortostiknya
akan membagi lingkaran-lingkaran tadi dalam lima sector yang sama besarnya
pada setiap lingkaran berturut turut dari luar kedalam digambarkan daunnya,
seperti pada pembuatan bagan tadi dan diberi nomor urut. Dalam hal ini perlu
diperlihatkan, bahwa jarak antara dua daun adalah 2/5 lingkaran. Jadi setiap kali
harus meloncati satu ortostik. Spiral yang putarannya semakin keatas digambar
semakin sempit, juga pada diagram akan kita lihat hal yang sama seperti telah
diauraikan mengenai bagan tata letak daun.

16
Gambar 2.1.18 Diagram daun menurut rumus 2/5
Spirosti dan Parastik
Pada suatu tumbuhan garis-garis ortostik yang biasanya tampak lurus keatas,
dapat mengalmi perubaham-perubahan arahnya karena pengaruh macam macam
factor. Perubahan yang sangat karakteristik ialah perubahan ortostik menjadi garis
spiral yang tampak melingkar batang. Dalam keadaan yang demikian spiral
genetic sulit untuk ditentukan, dan tampaknya letak daun pada batang mengikuti
ortostik yang telah berubah menjadi garis spiral tadi itu kemudian diberi nama
yang lain pula , yaitu spirostik. Suatu spirostik terjadi biasanya karena
pertumbuhan batang tidak lurus melainkan memutar. Akibatnya orotosiknya pun
ikut memutar dan berubah menjadi spirostik tadi. Tumbuhan yang
memperlihatkan sifat demikian ini misalnya:
a. Pacing (Costus speciosus Smith), yang menpunyai satu spiroskit,
hingga daun-daunnya tersusun seperti anak tangga pada tangga yang
melingkar.

17
Gambar 2.1.19 Pacing (Costus speciosus Smith)
b. Bubfleurum falcatum ,yang mempunyai dua spirostik

Gambar 2.1.20 Bubfleurum falcatum


c. Pandan (Pandanus tectorius Sol.), yang memperlihatkan tiga spirostik

Gambar 2.1.21 Pandan (Pandanus tectorius Sol.)


Selanjutnya pada tumbuhan yang letak daunnya cukup rapat satu sam lain,
misalnya pada kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq), dan daunya seakan-akan
18
duduk menurut garis-garis spiral kakiri atau kekanan. Pada pohon ini ortostik dan
spiral arah putaran melingkar batang kekiri dan kekanan itu menghubungkan
daun-daun yang menurut arah kesamping (mendatar, horizontal) mempunya jarak
terdekat. Dapat dilihat sebelah kiri dan satu lagi disebelah kanannya. Dari itu pula
tampaknya ada dua spiral kekiri dan kekanan. Garis-garis spiral inilah yang
disebut Parastik. Juga garis-garis spiral yang tampak pada buah nanas yang
menunjukkan aturan letak mata-mata pada buah nanas tadi adalah parastik-
parastik.

19
BAB III
PENUTUP
1.1 KESIMPULAN

 Daun majemuk (folium compositum) adalah daun dengan.tangkai


bercabang-cabang, dan baru pada cabang cabang tangkai ini terdapat
helaian daunnya, sehingga disini pada satu tangkai terdapat helaian
daunnya, sehingga di sini pada satu tangkai terdapat lebih dari satu helaian
daun.
 Pada suatu daun majemuk terdapat beberapa bagian, yaitu ibu tangkai,
tangkai anak daun, anak daun, dan upih daun.
 Jenis-jenis daun majemuk terdiri atas daun majemuk menyirip, daun
majemuk menjari, daun majemuk bangun kaki, dan daun majemuk
campuran.
 Tata letak daun pada batang tanaman, dapat ditempuh dua jalan, yaitu
membuat bagan atau skema letaknya daun dan membuat diagram.
3.2 SARAN

 Menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna,
ke depannya penulis akan lebih fokus dan detail dalam menjelaskan
tentang makalah di atas dengan sumber – sumber yang lebih banyak yang
tentunya dapat di pertanggung jawabkan.
 Untuk saran bisa berisi kritik atau saran terhadap penulisan juga bisa untuk
menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah di
jelaskan. Demikianlah makalah yang kami buat ini, semoga bermanfaat
dan menambah pengetahuan para pembaca.

20
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N.A., J.B. Reece, and L.G. Mitchell. 2002. Biologi. Jakarta : Erlangga

Rosanti, Dewi. 2013. Morfologi Tumbuhan. Jakarta : Erlangga

Tjitrosoepomo, Gembong. 2001. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : Gajah Mada


Univercity Press

21