Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA

DISUSUN OLEH :
NAMA : I MADE AGUS GUNAWAN
NIM : 19111112
PRODI : PENDIDIKAN AGAMA HINDU

KEMENTRIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA


SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI
GDE PUDJA MATARAM
2019

i
KATA PENGANTAR

Om swastiastu
Puji syukur saya panjatkan kehadapan sang hyang widhi wasa karena atas astungkerta
waranugrahanya tugas dengan judul hak dan kewajiban warga negara dapat terselesaikan
dengan baik.
Dalam penyusunan tugas ini, bertujuan untuk memenuhi tugas pendidikan
kewarganegaraan dengan judul hak dan kewajiban warga negara. Yang diharapkan agar
mampu memahami tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara indonesia.
Kritik yang bersifat membangun selalu diharapkan dari semua pihak untuk
penyempurnaan di masa-masa yang akan datang. Semoga makalah ini memberi manfaat dan
berguna bagi kita semua.
Om santih santih santih om

Mataram,03 Desember 2019

I MADE AGUS GUNAWAN

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
A.latar belakang 1
B. rumusan masalah 2
C. Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A. Pengertian warga negara dan kewarganegaraan 3

B. Kedudukan warga negara dalam negara 5

C. Hak dan kewajiban warga negara indonesia 11

D. Hak dan kewajiban warga negara,orangtua,masyarakat,dan pemerintah 14

E. Hak dan kewajiban peserta didik 15

F. Contoh study kasus 16

BAB III PENUTUP 17


A. Kesimpulan 17

B. Saran 17

DAFTAR PUSTAKA 18

iii
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Negara sebagai suatu entitas adalah abstrak. Yang tampak adalah unsur-unsur
negara yang berupa rakyat, wilayah, dan pemerintah. Salah satu unsur negara adalah
rakyat. Rakyat yang tinggal di wilayah negara menjadi penduduk negara yang
bersangkutan. Warga negara adalah bagian dari penduduk suatu negara. Warga negara
memiliki hubungan dengan negaranya. Kedudukannya sebagai warga negara
menciptakan hubungan berupa peranan, hak, dan kewajiban yang bersifat timbal
balik. Pemahaman yang baik mengenai hubungan antara warga negara dengan negara
sangat penting untuk mengembangkan hubungan yang harmonis, konstruktif,
produktif, dan demokratis. Pada akhimya pola hubungan yang baik antara warga
negara dengan negaa dapat mendukung kelangsungan hidup bemegara.
Hak dan kewajiban merupakan suatu hal yang terikat satu sama lain, sehingga
dalam praktik harus dijalankan dengan seimbang . Hak merupakan segala sesuatu
yang pantas dan mutlak untuk didapatkan oleh individu sebagai anggota warga negara
sejak masih berada dalam kandungan, sedangkan kewajiban merupakan suatu
keharusan / kewajiban bagi individu dalam melaksanakan peran sebagai anggota
warga negara guna mendapat pengakuan akan hak yang sesuai dengan pelaksanaan
kewajiban tersebut .

Jika hak dan kewajiban tidak berjalan secara seimbang dalam praktik
kehidupan , maka akan terjadi suatu ketimpangan yang akan menimbulkan gejolak
masyarakat dalam pelaksanaan kehidupan individu baik dalam kehidupan
bermasyarakat ,  berbangsa , maupun bernegara .
Dewasa ini sering terlihat ketimpangan antara hak dan kewajiban , terutama
dalam bidang lapangan pekerjaan dan tingkat kehidupan yang layak bagi setiap warga
negara . Lapangan pekerjaan dan tingkat kehidupan yang layak merupakan hal yang
perlu diperhatikan . Pasal 27 ayat 2 UUD 1945 menjelaskan bahwa “ Tiap - tiap warga
negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan “ .
Secara garis besar dapat dijelaskan bahwa pekerjaan dan tingkat kehidupan
yang layak merupakan hak untuk setiap warga negara sebagai salah satu tanda adanya
perikemanusiaan . Lapangan pekerjaan merupakan sarana yang dibutuhkan guna
menghasilkan pendapatan yang akan digunakan dalam pemenuhan kehidupan yang
layak . Penghidupan yang layak diartikan sebagai kemampuan dalam melakukan
pemenuhan kebutuhan dasar , seperti : pangan , sandang , dan papan . Pada era
globalisasi ini sering terlihat tingginya angka akan tuntutan hak tanpa diimbangi
dengan kewajiban.

1
B. Rumusan masalah
1. Apa saja pengertian warga negara dan kewarganegaraan?
2. Apa saja kedudukan warga negara dalam negara?
3. Apa saja hak dan kewajiban warga negara?
4. Apa saja hak dan kewajiban warga negara,orang tua,masyarakat,dan pemerintah?
5. Apa saja hak dan kewajiban peserta didik?
6. Apa saja contoh study kasus?

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian warga negara dan kewarganegaraan!
2. Mengetahui kedudukan warga negara dalam negara!
3. Mengetahui hak dan kewajiban warga negara!
4. Mengetahui hak dan kewajiban warga negara,orangtua,masyarakat,dan
pemerintah!
5. Mengetahui hak dan kewajiban peserta didik!
6. Mengeahui contoh study kasus?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian warga negara dan kewarganegaraan

1. Warga Negara
Warga mengandung arti peserta, anggota atau warga dari suatu organisasi
perkumpulan. Warga negara artinya warga atau anggota dari suatu negara. Kita juga sering
mendengar kata-kata seperti warga desa, warga kota, warga masyarakat, warga bangsa, dan
warga dunia. Warga diartikan sebagai anggota atau peserta. jadi, warga negara secara
sederhana diartikan sebagai anggota dari suatu negara.
Istilah warga negara merupakan tetjemahan kata citizen (bahasa Inggns) yang
mempunyai arti sebagai berikut:
a. warga negara;
b. petunjuk dari sebuah kota;
c. sesama warga negara, sesama penduduk, orang setanah air;
d. bawahan atau kawula.
Menurut As Hikam dalam Ghazalli (2004 ), warga negara sebagai terjemahan dari
citizen artinya adalah anggota dari suatu komunitas yang membentuk negara itu sendiri.
Pada masa lalu, dipakai istilah kawula atau kawula negara (misalnya zaman Hindia
Belanda) yang menunjukkan hubungan yang tidak sederajat dengan negara. Istilah kawula
memberi kesan bahwa warga hanya sebagai objek atau milik negara. Sekarang ini istilah
warga negara lazim digunakan untuk menunjukkan hubungan yang sederajat antara warga
dengan negaranya.
Dengan memiliki status sebagai warga negara, orang memiliki hubungan dengan
negara. Hubungan itu nantinya tercermin dalam hak dan kewajiban. Seperti halnya kita
sebagai anggota sebuah organisasi,maka hubungan itu berwujud peranan, hak dan kewajiban
secara timbal balik. Anggota memiliki hak dan kewajiban kepada organisasi, demikian pula
organisasi memiliki hak dan kewajiban terhadap anggotanya.
Perlu dijelaskan istilah rakyat, penduduk dan warga negara. Rakyat lebih merupakan
konsep politis. Rakyat menunjuk pada orang-orang yang berada di bawah satu pemerintahan
dan tunduk pada pemerintahan itu. Istilah rakyat umumnya dilawankan dengan penguasa.
Penduduk adalah orang-orang yang bertempat tinggal di suatu wilayah negara dalam kurun
waktu tertentu. Orang yang berada di suatu wilayah negara dapat dibedakan menjadi
penduduk dan non penduduk. Adapun penduduk negara dapat dibedakan menjadi warga
negara dan orang asing atau bukan warga negara.

3
2. Kewarganegaraan
Istilah kewarganegaraan ( citizenship)memiliki arti keanggotaan yang menunjukkan
hubungan atau ikatan antara, negara dengan warga negara. berdasarkan penjelasan dan Pasal
II Peraturan Penutup Undang-Undang No. 62 1ahun 1958 tentang Kewarganegaraan
Republik indonesia, kewarganegaraan diartikan sebagai segala jenis hubungan dengaan suatu
negara yang mengakibatkan adanya kewajiban negara itu untuk melindungi orang yang
bersangkutan.
Adapun menurut Undang-Undang Kewarganegaraan Republik Indonesia, kewarganegaraan
adalah segala hal yang berhubungan dengan negara.
Pengertian kewarganegaraan dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

a. Kewarganegaraan dalam Arti Yuridis dan Sosiologis


1) Kewarganegaraan dalam arti yuridis ditandai dengan adanya ikatan hukum antara
orang-orang dengan negara. Adanya ikatan hukum itu menimbulkan akibat-akibat hukum
tertentu, yaitu orang tersebut berada di bawah kekua-saan negara yang bersangkutan. Tanda
dari adanya ikatan hukum, misalnya akta kelahiran, surat pernyataan, bukti kewarganegaraan,
dan lain-lain.
2) Kewarganegaraan dalam arti sosiologis, tidak ditandai dengan ikatan hukum,
tetapi ikatan emosional, seperti ikatan perasaan, ikatan keturunan, ikatan nasib, ikatan
sejarah, dan ikatan tanah air. Dengan kata lain, ikatan ini lahir dari penghayatan warga negara
yang bersangkutan.
Dari sudut kewarganegaraan sosiologis, seseorang dapat dipandang negar2 sebagai
warga negaranya sebab ikatan emosional, tingkah laku dan penghayatan hidup yang
dilakukan menunjukkan bahwa orang tersebut sudah seharusnya menjadi anggota negara itu.
Namun dari sudut kewarganegaraan yuridis orang tersebut tidak memenuhi kewarganegaraan
yuridis sebab tidak memil iki bukti ikatan hukum dengan negara.
Jadi, dari sisi kewarganegaraan sosiologis ada hal yang belum terpenuhi yaitu
persyaratan yuridis yang merupakan ikatan formal orang tersebut dengan negara. Di sisi lain,
terdapat orang yang memiliki kewarganegaraan dalam arti yuridis, namun tidak merniliki
kewarganegaraan dalam sosiologis. Ia memiliki tanda ikatan hukum dengan negara, tetapi
ikatan emosial dan penghayatan hidupnya sebagai warga negara tidak ada. Jadi, ada kalanya
terdapat seorang warga negara hanya secara yuridis saja sebagai warga negara, sedangkan
secara sosiologis belum memenuhi. Adalah sangat ideal apabila seorang warga negara
memiliki persyaratan yuridis dan sosiologis sebagai anggota dan negara.
b. Kewarganegaraan dalam Arti Formil dan Materil
1) Kewarganegaraan dalam arti formil menunjuk pada tempat kewarganegaraan.
Dalam sistematika hukum, masalah kewarganegaraan berada pada hukum
publik.
2) Kewarganegaraan dalam arti materil rnenunjuk pada akibat hukum dari status
kewarganegaraan, yaitu adanya hak dan kewajiban warga negara.

4
B. Kedudukan warga negara dalam negara
Pada bagian sebelumnya telah dikemukakan bahwa warga negara adalah anggota dari
negara. Warga negara sebagai pendukung negara dan memiliki arti penting bagi negara.
Sebagai anggota dari negara, warga negara memiliki hubungan atau ikatan dengan negara.
Hubungan antara warga negara dengan negara terwujud dalam bentuk hak dan kewajiban
antara keduanya. Warga negara memiliki hak dan kewajiban terhadap negara. Sebaliknya,
negara memiliki hak dan kewajiban terhadap warganya. Dengan istilah sebagai warga negara,
memiliki hubungan timbal baiik yang sederajat dengan negaranya.
Hubungan dan kedudukan Warga negara ini bersifat khusus, sebab hanya mereka
yang menjadi warga negaralah yang memiliki hubungan timbal balik dengan negaranya.
Orang-orang yang tinggal di wilayah negara, tetapi bukan warga negara dari negara itu tidak
memiliki hubungan timbal balik dengan negara tersebut.

1. Penentuan Warga Negara


Siapa saja yang dapat menjadi warga negara dari suatu negara? Setiap negara
berdaulat berwenang menentukan siapa-siapa yang menjadi warga negara. Dalam
menentukan kewarganegaraan seseorang, dikenal adanya asas kewarganegaraan berdasarkan
kelahiran dan asas kewarganegaraan ber-dasarkan perkawinan. Dalam penentuan
kewarganegaraan didasarkan pada sisi kelahiran dikenal dua asas yaitu asas iussoli dan asas
iussanguinis. ius artinya hukum atau dalil. Soli berasal dari kata solum yang artinya negeri
atau tanah. Sanguinis berasal dari kata sanguis yang artinya darah.
a. Asas lus Soli
Adalah ketentuan asas yang menyatakan bahwa kewarganegaraan seseorang dari
ternpat di mana orang tersebut dilahirkan.
b. Asas ius Sanguinis
Adalah asas yang menyatakan bahwa kewarganegaraan seseorang ditentukan
berdasarkan keturunan dari orang tersebut.
Selain dari sisi kelahiran,penentuan kewarganegaraan dapat didasarkan pada aspek
perkawinan yang mencangkunp asas kesatuan hukum dan asas persamaan derajat.
a) . Asas persamaan hukum didasarkan pandangan bahwa suami istri adalah
suatu ikatan yang tidak terpecah sebagai inti dari masyarakat. Dalam
menyelenggarakan kehidupan bersama, suami istri perlu mencerminkan suatu
kesatuan yang bulat termasuk dalam masalah kewarganegaraan. Berdasarkan
asas ini diusahakan status kewarganegaraan suami dan istri adalah sama dan
satu.
b) . Asas persamaan derajat berasumsi bahwa suatu perkawinan tidak
menyebabkan perubahan status kewarganegaraan suami atau istri. Keduanya
memiliki hak yang sama untuk menentukan sendiri kewarganegaraan. Jadi,
mereka dapat berbeda kewarganegaraan seperti halnya ketika belum
berkeluarga.
Negara memiliki wewenang untuk menentukan warga negara sesuai asas yang dianut
negara tersebut. Dengan adanya kedaulatan ini, pada dasamya suatu negara tidak terikat oleh

5
negara lain dalam menentukan kewarganegaraan. Negara lainjuga tidak boleh menentukan
siapa saja yang menjadi warga negara dari suatu negara.
Penentuan kewarganegaraan yang berbeda-beda oleh setiap negara dapat
menciptakan problem kewarganegaraan bagi seorang warga. Secara ringkas problem
kewarganegaraan adalah munculnya apatride dan bipatride. Apatride adalah istilah untuk
orang-orang yang tidak memiliki kewarganegaraan. Bipatride adalah istilah untuk orang-
orang yang memiliki kewarganegaraan rangkap dua. Bahkan, dapat muncul multipatride yaitu
istilah untuk orang-orang yang memiliki kewarganegaraan banyak lebih dari dua

2. Warga Negara Indonesia


Negara Indonesia telah menentukan siapa saja yang menjadi warga negara. Ketentuan
tersebut tercantum dalam Pasal 26 UUD 1945 sebagai berikut. .
1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang
bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara
2) Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang tinggal di Indonesia.
3) Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undang-undang.
Berdasarkan hal di atas, kita inengetahui bahwa orang yang dapat menjadi Warga negara
Indonesia adalah
a) orang-orang bangsa Indonesia asli.
b) orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang menjadi warga
negara.
berdasar kan Pasal 26 ayat (2) UUD 1945, penduduk negara lndonesia terdiri atas dua
yaitu warga negara dan orang asing. ketentuan ini merupakan hal baru dan sebagai hasil
amandemen atas UUD 1945. Sebelumnnya, penduduk Indonesia berdasarkan indische
staatregeling 1927 Pasal l 63, dibagi 3 (tiga), yaitu
a. Golongan Eropa, terdiri atas
1) Bangsa Belanda;
2) Bukan bangsa Belanda tetapi dari Eropa;
3) Orang bangsa lain yang hukum keluarganya sama dengan golongan Eropa.
b. Golongan Timur Asing, terdiri atas
1) Golongan Tionghoa;
2) Golongan Timur Asing bukan Cina.
c. Golongan Bumiputra atau Pribumi, terbagi atas
1) orang Indonesia asli dan keturunannya;
2) orang lain yang menyesuaikan diri dengan pertama.
Dengan adanya ketentuan baru mengenai penduduk Indonesia, diharapkan tidak ada
lagi pembedaan dan penama:an penduduk Indonesia atas golongan pribumi dan keturunan
yang dapat memicu konflik antar penduduk Indonesia.

6
Orang-orang bangsa lain adalah orang-orang peranakan seperti peranakan Belanda,
Tionghoa, dan Arab yang bertempat tinggal di Indonesia, yang mengakui Indonesia sebagai
tumpah darahnya dan bersikap setia kepada negara Republik Indonesia. Orang-orang ini
dapat menjadi warga negara Indonesia dengan cara naturalisasi atau pewarganegaraan. Cara
memperoleh kewarganegaraan Indonesia diatur dengan undang-undang. Adapun undang-
undang yang mengatur tentang warga negara adalah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006
tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.

3. Ketentuan Undang-Undang Mengenai Warga Negara Indonesia


Perihal warga negara Indonesia diatur dengan undang-undang.sejak prokamasi
Kemerdekaan Indonesia sampai saat ini, undang-undang yang mengatur perihal
kewarganegaraan adalah sebagai berikut.
a) Undang-undang No. 3 Tahun 194.6 tentang Warga Negara dan Penduduk Negara.
b) Undang-Undang No.6 Tahun 1947 tentang perubahan atas undand-undang No.3
Tahun 1946 tentang warga negara dan penduduk negara.
c) Undang-Undang No 8 Tahun 1947 tentang memperpanjang waktu untuk
mengajukan pernyataan berhubung dengan kewargaan negara indonesia.
d) Undang-Undang No.11 Tahun 1948 tentang memperpanjang waktu untuk
mengajukan Pemyataan Berhubung dengan Kewargaan indonesia
e) Undang-Undang No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.
f) Undang-Undang No. 3 Tahun 1976 tentang Perubahan atas Pasal 18 Undang-
Undang No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.
g) Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.
Undang-undang yang mengatur tentang kewarganegaraan Indonesia atau undang-
undang sebagai pelaksanaan. dari Pasal 26 UUD 1945 yang berlaku sekarang ini adalah
Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarga-negaraan Republik Indonesia yang
diundangkan pada 1 Agustus 2006. Undang-undang ini menggantikan undang-undang
kewarganegaraan lama, yaitu Undang-Undang No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan
Republik Indonesia. Pokok materi yang diatur dalam undang-undang ini adalah
a. siapa yang menjadi warga negara Indonesia;
b. syarat dan tata cara memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia;
c. kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia;
d. syarat dan tata cara memperoleh kembali Kewarganegaraan Republik Indonesia;
e. ketentuan pidana.
Beberapa ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 antara lain
sebagai berikut.

a. Tentang siapa yang menjadi warga negara Indonesia


1) setiap orang yang berdasarkan peratuan perundang-undangan dan atau berdasarkan
perjanjian Pemerintah Republik Indonesia dengan negara Iain sebelum undang-
undang ini berlaku sudah menjadi Warga Negara Indonesia.
2) anak yang lahir dari perkawinan yang sah dan seorang ayah dan ibu Warga Negara
Indonesia

7
3) anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah Warga Negara Indonesia
dan ibu warga negara asing.
4) anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah warga negara asing dan
ibu Warga Negara Indonesia.
5) anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu Warga Negara
Indonesia; tetapi ayahnya tidak mempunyai kewarganegaraan atau hukum negara asal
ayahnya tidak memberikan kewarganegaraan kepada anak tersebut.
6) anak yang lahir dalam tenggang waktu tiga ratus hari setelah ayahnya meninggal
dunia dari perkawinan yang sah dan ayahnya Warga Negara Indonesia.
7) anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu warga Negara
Indonesia.
8) anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu warga negara asimg
yang diakui oleh seorang ayah Warga Negara lndonesia sebagai anaknya dan
pengakuan itu dilakukan sebelum anak tersebut berusia delapan belas tahun dan atau
belum kawin.
9) anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia yang pada waktu lahir tidak
jelas status kewarganegaraan ayah dan ibunya;
10) anak yang baru lahir yang ditemukan di wilayah negara Republik Indonesia selama
ayah dan ibunya tidak diketahui;
11) anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia apabila ayah dan ibunya tidak
mempunyai kewarganegaraan atau tidak diketahui keberadaannya;
12) anak yang dilahirkan di luar wilayah negara Republik Indonesia dari seorang ayah
dan ibu Warga Negara Indonesia yang karena ketentuan dari negara tempat anak
tersebut dilahirkan memberikan kewarganegaraan kepada anak yang bersangkutan;
13) anak dari seorang ayah atau ibu yang telah dikabulkan permohonan
kewarganegaraannya, kemudian ayah atau ibunya meninggal dunia sebelum
mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia;
14) Anak Warga Negara Indonesia yang lahir di luar perkawinan yang sah, belum
berusia delapan belas tahun atau belum· kawin diakui secara sah oleh ayahnya yang
berkewarganegaraan asing tetap diakui sebagai Warga Negara Indonesia;
15) Anak Warga Negara Indonesia yang belum berusia lima tahun diangkat secara sah
sebagai anak oleh warga negara asing berdasarkan penetapan pengadilan tetap diakui
sebagai Warga Negara Indonesia.
b. Tentang pewarganegaraan
Pewarganegaraan adalah tata cara bagi orang asing untuk memperoleh
kewarganegaraan Repubiik Indonesia melalui permohonan. Dalam undang-undang
dinyatakan bahwa Kewarganegaraan Republik Indonesia dapat juga diperoleh melalui
pewarganegaraan. Permohonan pewarganegaraan dapat diajukan oleh pemohon jika
memenuhi persyaratan sebagai berikut.
1) telah berusia delapan belas tahun atau sudah kawin;
2) pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal di wilayah negara
Republik Indonesia paling singkat lima tahun berturut-turut atau paling singkat
sepuluh tahun tidak berturut-turut;
3) sehat jasmani dan rohani;

8
4) dapat berbahasa Indonesia serta mengakui dasar negara Pancasila dan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
5) tidak pemah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan
pidana penjara satu tahun atau lebih;
6) Jika dengan memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia, tidak rnenjadi
berkewarganegaraan ganda;
7) rnernpunyai pekerjaan dan atau berpenghasilan tetap; dan
8) rnernbayar uang pewarganegaraan ke Kas Negara.
Permohonan pewarganegaraan diajukan di Indonesia oleh pemohon secara tertulis dalam
bahasa Indonesia di atas kertas be1meterai cukup kepada Presiden melalui Menteri. Menteri
yang dimaksud adalah menteri yang lingkup tugas dan tanggungjawabnya di bidang
Kewarganegaraan Republik Indonesia dalain hal ini Menteri Hukum dan HAM.
Menteri meneruskan permohonan sebagaimana dimaksud disertai dengan
pertimbangan kepada Presiden dalam waktu paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak:
pennohonan diterima. Selanjutnya Presiden berwenang mengabulkan atau menolak
pennohonan pewarganegaraan. Pengabulan permohonan pewarganegaraan sebagaimana
dimaksud ditetapkan dengan Keputusan Presiden (Keppres). Warga negara asing yang kawin
secara sah dengan Warga Negara Indonesia dapat memperoleh Kewarganegaraan Republik
Indonesia dengan menyampaikan pemyataan menjadi warga negara di hadapan Pejabat
berwenang. Pernyataan sebagaimana dimaksud dilakukan apabila yang bersangkutan sudah
bertempat tinggal di w1layah negara Republik Indonesia paling singkat 5 (lima) tahun
berturut-turut atau paling singkat 10 (sepuluh) tahun tidak berturut-turut, kecuali dengan
perolehan kewarganegaraan tersebut mengakibatkan berkewarganegaraan ganda.
Orang asing yang telah berjasa kepada negara Republik Indonesia atau dengan alasan
kepentingan negara dapat pula diberi Kewarganegaraan Republik Indonesia oleh Presiden
setelah memperoleh pertimbangan dengan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, kecuali
dengan pernbenan kewarganegaraan tersebut mengakibatkan yang bersangkutan
berkewarganegaraan ganda

c. Tentang kehilangan kewarganegaraan, dinyatakan bahwa kewanegaraan Republik


Indonesia hilang karena:
1) memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri
2) tidak menolak atau melepaskan kewarganegaraan lain sedangkan orang yang
bersangkutan mendapat kesempatan untuk itu.
3) dinyatakan hilang kewarganegaraannya oleh presiden atas permohonannya
sendiri,yang bersangkutan sudah berusia delapan belas tahun atau sudah kawin,
bertempat tinggal di luar negeri, dan dengan dinyatakan hilang Kewarganegaraan
Republik Indonesia tidak menjadi tanpa kewarganegaraan;
4) masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari Presiden;
5) secara sukarela masuk dalam dinas negara asing, yang jabatan dalam dinas semacam
itu di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan hanya dapat
dijabat oleh Warga Negara Indonesia;
6) secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing
atau bagian dari negara asing tersebut;

9
7) tidak diwajibkan tetapi turut serta dalam pemilihan sesuatu yang bersifat
ketatanegaraan untuk suatu negara asing;
8) mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor dari negara asing atau surat yang
dapat diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih berlaku dari negara lain
atas namanya;
9) bertempat tinggal di luar wilayah negara Republik Indonesia selama 5 (lima) tahun
terus-menerus bukan dalam rangka dinas negara, tanpa alasan yang sah dan dengan
sengaja tidak menyatakan keinginannya untuk tetap menjadi Warga Negara Indonesia
sebelum jangka waktu 5 (lima) tahun itu berakhir, dan setiap 5 (lima) tahun
berikutnya yang bersangkutan tidak. mengajukan pemyataan ingin tetap menjadi
Warga Negara Indonesia kepada Perwakilan Republik Indonesia yang wilayah
kerjanya meliputi tempat tinggal yang bersangkutan padahal perwakilan Republik
Indonesia tersebut telah memberitahukan secara tertulis kepada yang bersangkutan,
sepanjang yang bersangkutan tidak menjadi tanpa kewarganegaraan;
10) perempuan Warga Negara Indonesia yang kawin dengan laki-laki warga negara asing
kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia jika menurut hukum negara asal
suaminya, kewarganegaraan istri mengikuti kewarganegaraan suami sebagai akibat
perkawinan tersebut;
11) laki-laki Warga Negara Indonesia yang kawin dengan perempuan warga negara
asing kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia jika menurut hukum negara
asal istrinya, kewarganegaraan suami mengikuti kewarganegaraan istri sebagai akibat
perkawinan tersebut. Atau jika ingin tetap menjadi Warga Negara Indonesia dapat
mengajukan surat pernyataan mengenai keinginannya kepada Pejabat atau
Perwakilaan Republik Indonesia yang wilayahnya meliputi tempat tinggal perempuan
atau laki-laki tersebut, kecuali pengajuan tersebut mengakibatkan kewarganegaraan
ganda. Surat pernyataan dapat diajukan oleh perempuan setelah 3 (tiga) tahun sejak
tanggal perkawinannya berlangsung;
12) setiap orang yang memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia berdasarkan
keterangan yang kemudian hari dinyatakan palsu atau dipalsukan, tidak benar, atau
terjadi kekeliruan mengenai orangnya oleh instansi yang berwenang, dinyatakan batal
kewarganegaraannya. menteri mengumumkan nama orang yang kehilangan
Kewarganegaraan Republik Indonesia dalan1 Berita Negara Republik Indonesia.
asas-asas yang dipakai dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang
Kewarganegaraan Republik Indonesia meliputi:
a. asas ius sanguinis, yaitu asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang
berdasarkan keturunan bukan negara tempat kelahiran;
b. asas ius soli secara terbatas, yaitu asas yang menentukan kewarganegaraan
berdasarkan negara tempat kelahiran, yang diperuntukkan terbatas bagi anak-
anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang;
c. asas kewarganegaraan tunggal, yaitu asas yang menentukan satu kewarga-
negaraan bagi setiap orang;
d. asas kewarganegaraan ganda terbatas, yaitu asas yang menentukan
kewarganegaraan ganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur
dalam undang-undang ini.

10
Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 pada dasarnya tidak mengenal adanya
kewarganegaraan ganda (bipatride) ataupun tanpa kewarganegaraan (apatride).
Kewarganegaraan ganda yang diberikan pada anak-anak merupakan suatu pengecualian.
C. Hak dan kewajiban warga negara indonesia
1. Wujud Hubungan Warga Negara dengan Negara
Wujud hubungan antara warga negara dengan negara pada umumnya berupa peranan
(role). Peranan pada dasamya·adalah tugas apa yang dilakuka.n sesuai dengan status yang
dimiliki, dalam hal ini sebagai warga negara. Secara teori, status warga negara meliputi status
pasif, aktif, negatif, dan positif .Peranan warga negara juga meliputi peranan yang pasif, aktif,
negatif, dan positif. (Cholisin, 2000) . .
Peranan pasif adalah kepatuhan warga negara terhadap peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Peranan aktif merupakan aktivitas. warga negara untuk terlibat (berpartisipasi) serta
ambil bagian dalam kehidupan bernegara Peranan positif negara, terutama dalam
mempengaruhi keputusan publik.peranan positif merupakan aktivitas warga negara untuk
memenuhi kebutuhan hidup. Peranan negatif merupakan aktivitas warga negara untuk
menolak campur tangan negara dalam persoalan pribadi.
Di Indonesia, hubungan antar warga negara dengan negara Indonesia telah diatur dalam UUD
1945. Hubungan antara warga negara dengan negara indonesia tersebut digambarkan dengan
baik dalam pengaturan mengenai hak dan kewajiban. Baik ituhak dan kewajiban negara
terhadap warganya. Ketentuan selanjutnya mengenai hak dan kewajiban warga negara di
berbagai bidang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dibawah undang-undang
dasar 1945.

2. hak dan kewajiban warga negara indonesia


Hak dan Kewajiban warga negara tercantum dalam Pasal 27 sampai dengan pasal 34
UUD 1945. Beberapa hak dan kewajiban tersebut antara lain sebagai berikut :
1) hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Pasal 27 ayat (2) UUD I 945
berbunyi. . "Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang
layak bagi kemanusiaan." Pasal ini menunjukkan asas keadilan sosial dan
kerakyatan.
2) Hak membela negara; Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 berbunyi: Setiap warga negara
berhak clan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.
3) Hak berpendapat. Pasal 28 UUD 194.5, yaitu Kemerdekaan berserikat dan
berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan
dengan undang-undang.
4) Hak kemerdekaan memeluk agama. Pasal 29 ayat (1) dan (2) UUD 1945 Ayat (1)
berbunyi bahwa: "Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa." Ini berarti
bahwa bangsa Indonesia percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Ayat (2) berbunyi:
"Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeiuk agamanya
masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu." :
5) Pasal 30 ayat ( l) UUD l 945 Yaitu hak dan kewajiban dalam rnembela negara.
Dinyatakan bahwa Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha
pertahanan dan keamanan negara.

11
6) pasal 31 ayat (1) dan (2) UUD 1945 yaitu hak untuk mendapatkan pengajaran. Ayat
( 1) rnenerangkan bahwa tiap-tiap Warga negara berhak mendapatkan pengajaran.
Adapun dalam ayat (2) dijelaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan
menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan UUD 1945.
7) Hak untuk mengembangkan dan memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Pasal
32 UUD 1945 ayat (l) menyatakan bahwa Negara memajukan kehudayaan nasional
Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam
memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.
8) Hak ekonomi atau hak untuk mendapatkan kesejahteraan sosial. Pasal 33 ayat (1),
(2), (3), (4), dan (5) UUD 1945 berbunyi:
1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar asas
kekeluargaan.
2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang
menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
3. Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai
oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi
kemakmuran rakyat.
4. Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi
ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan,
berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan
menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
5. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam
undang-undang.
9) Hak mendapatkan jaminan keadilan sosial. Dalam Pasal 34 UUD 1945 dijelaskan
bahwa fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara. Kewajiban warga
negara terhadap negara Indonesia, antara lain:
a. Kewajiban menaati hukum dan pemerintahan. Pasal 27 ayat (1) UUD
1945 berbunyi; segala warga negara bersamaan kedudukannya di
dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan
pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
b. Kewajiban membela negara. Pasal 27 ayat (3) UUD 1945 yang
menyatakan Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam
upaya pembelaan negara. 1945
c. Kewajiban dalam upaya pertahanan negara. Pasal 30 ayat (1) UUD
berhak dan waiib ikut serta menyatakan: Tiap-tiap warga negara
berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan
negara.
Di samping adanya hak dan kewajiban warga negara terhadap negara dalam UUD
1945 perubahan pertama telah dicantumkan adanya HAM. Ketentuan mengenai hak asasi
manusia ini merupakan langkah maju dari bangsa Indonesia untuk menuju kehidupan
konstitusional yang demokratis yang tertuang pada Pasal 28 A sampai J UUD 1945. Dalam
ketentuan tersebut juga dinyatakan adanya kewajiban dasar manusia. Selanjutnya hak-hak
warga negara yang tertuang dalam UUD 1945 sebagai konstitusi negara dinamakan hak
konstitusional. Setiap warga negara memiliki hak-hak konstitusional sebagaimana yang ada
dalam UUD 1945. Warga negara berhak menggugat bila ada pihak-pihak lain yang berupaya
membatasi atau menghilangkan hak-hak konstitusioalnya.

12
Selain itu ditentukan pula hak dan kewajiban yang dimiliki negara terhadap warga
negarannya. Hak dan kewajiban negara terhadap warga negara pada dasarnya merupakan
kewajiban dan hak warga negara terhadap negara. Beberapa ketentuan tersebut, antara lain
sebagai berikut:
a. Hak negara untuk ditaati hukum dan pemenntahan.
b. Hak negara untuk dibela.
c. Hak negara untuk menguasai bumi, air, dan kekayaan untuk kepentingan rakyat.
d. Kewajiban negara untuk menjamin sistem hukum yang adil.
e. Kewajiban negara untuk menjamin hak asasi warga negara.
f. Kewajiban negara untuk mengembangkan sistem pendidikan nasional untuk rakyat.
g. Kewajiban negara memberijaminan sosial.
h. Kewajiban negara memberi kebebasan beribadah.
Secara garis besar, hak dan kewajiban warga negara yang tertuang dalam UUD 1945
mencakup berbagai bidang. Bidang-bidang ini antara lain: bidang politik dan pemerintahan,
sosial, keagamaan, pendidikan, ekonomi, dan pertahanan.
Selain adanya hak dan kewajiban warga negara di dalam UUD 1945, tercantum pula
adanya hak asasi manusia. Hak asasi manusia perlu dibedakan dengan hak warga negara. Hak
warga negara merupakan hak yang ditentukan dalam suatu konstitusi negara. Munculnya hak
ini adalah karena adanya ketentuan undang-undang dan berlaku bagi orang yang berstatus
sebagai warga negara. Bisa terjadi hak dan kewajiban warga negara Indonesia berbeda
dengan hak warga negara Malaysia oleh karena ketentuan undang-undang yang berbeda.
Adapun hak asasi manusia umumnya merupakan hak-hak yang sifatnya mendasar yang
melekat dengan keberadaannya sebagai manusia. Hak asasi manusia tidak diberikan oleh
negara, tetapi justru harus dijamin keberadaannya oleh negara.
Ketentuan lebih lanjut mengenai berbagai hak dan kewajiban warga negara dalam
hubungannya dengan negara tertuang dalam berbagai peraturan perundang-undangan sebagai
penjabaran atas UUD 1945. Misalkan dengan undang-undang. Contoh.
Hak dan kewajiban warga negara di bidang pendidikan:
1. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
2. UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Hak dan kewajiban warga negara di bidang pertahanan:
1. UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
2. UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI.
3. UU No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia.
Hak dan kewajiban warga negara di bidang politik terdapat dalam:
1. Undang-Undang No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat
di Muka Umum;
2. Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers;
3. Undang-Undang No. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik;
4. Undang-Undang_No. 12 Tahun 2003 tentang PemilihanAnggota DPR, DPD, dan
DPRD;

13
5. Undang-Undang No. 23Tahun 2003 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden;
dan lain-lain.
Berikut ini contoh hak dan kewajiban warga negara maupun hak dan kewajiban negara
terhadap warganya di bidang pendidikan berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional.

D. Hak dan kewajiban warga negara, orang tua, masyarakat, dan


pemerintah
1. Hak dan Kewajiban Warga Negara
Pasal 5
(1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang
bermutu.
(2) Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau
sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.
(3) Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang
terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus.
(4) Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak
memperoleh pendidikan khusus.
(5) Setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan
sepanjang hayat. .
Pasal 6
(1) Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai lima belas tahun wajib mengikuti
pendidikan dasar.
(2) Setiap warga negara bertanggung Jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan
pendidikan.

2. Hak dan Kewajiban Orang Tua


Pasal 7
(1) Orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh
informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya.
(2) Orang tua dari anak usia wajib belajar,berkewajiban memberikan pendidikan dasar
kepada anaknya.

3. Hak dan Kewajiban Masyarakat


Pasal 8 :
Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan
evaluasi program pendidikan.
Pasal 9
Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan
pendidikan.

14
Bagian Keempat Rak dan Kewajiban Pemerintah dan Pemerintah Daerah
Pasal 10
Pemerintah dan pemerintah daerah berhak mengarahkan, membimbing, membantu, dan
mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Pasal 11
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta
menjamin terselenggaranya pendidikan yang bemutu bagi setiap warga negara tanpa
diskriminasi.
(2) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna
terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai
dengan lima belas tahun.

E. Hak dan kewajiban peserta didik


Pasal 12
1. Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak:
a) mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan
oleh pendidik yang seagama;
b) mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat minat dan kemampuannya;
c) mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu
membiayai pendidikannya;
d) mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu
membiayai pendidikannya;
e) pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara;
f) menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing
dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan.
2. Setiap peserta didik berkewajiban:
a) menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan
keberhasilan pendidikan;
b) ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali bagi peserta didik yang
dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
3. Warga negara asing dapat menjadi peserta didik pada satuan pendidikan yang
diselenggarakan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
4. Ketentuan mengenai hak dan kewajiban peserta didik sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

15
F. Study kasus
1. Aksi teror
Pelanggaran kelompok kriminal bersenjata (KKB) papua merupakan
salah satu pelanggaran dari hak dan kewajiban sebagai warga negara.
KKB merupakan anggota kelompok yang berkeinginan memisahkan diri
dari negara indonesia yang telah membuat kekacauan dan kegaduhan di
papua yang menyebabkan banyak terjadinya kasus-kasus pelanggaran
HAM. Dikareanakan menggunakan aksi kekerasan yang tak segan-segan
dengan menghabisi nyawa orang lain, yang mengancam keselamatan
warga negara yang berada diwilayah tersebut. Hal ini merupakan
pelanggaran yang tidak patut untuk kita tiru dimana kita sebagai warga
negara indonesia artinya telah keluar dari apa yang harus kita laksanakan
berdasarkan hak dan kewajiban kita. Kita seharusnya senantiasa
membela negara dan memajukan negara kita, dengan sikap saling
toleran dan saling membantu satu sama lain, sehingga negara kita bisa
maju untuk kedepannya dan tidak terpecah belah. Kita harus
meminimalisir hasutan dari luar yang menyebabkan kegaduhan di
negara kita, disamping kita mempunyai hak kita juga harus
memperhatikan hak orang lain dan menunjukan tumpah darah kita
sebagai warga negara indonesia.

2. Pendidikan
Didalam negara kita tentunya telah terdapat hak dan kewajiban
untuk menempuh pendidikan, tapi nyata masih banyak yang belum
mendapat pendidikan yang layak khususnya di daerah-daerah pelosok.
Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting untuk perkembangan
bangsa,jadi setidaknya pemerintah harus terus mengoptimalkan dalam
bidang pendidikan agar seluruh warga negara indonesia bisa
mendapatkan bimbingan yang baik untuk perkembangan bangsa.

16
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hak merupakan segala sesuatu yang pantas dan mutlak untuk didapatkan oleh
individu sebagai anggota warga negara sejak masih berada didalam   kandungan, sedangkan
kewajiban merupakan suatu keharusan / kewajiban bagi individu dalam melaksanakan peran
sebagai anggota warga negara guna mendapat pengakuan akan hak yang sesuai dengan
pelaksanaan kewajiban tersebut. Hak dan kewajiban merupakan suatu hal yang terikat satu
sama lain, sehingga dalam praktik harus dijalankan dengan seimbang .
Pasal 27 ayat 2 UUD 1945 berbunyi “Tiap - tiap warga negara berhak atas pekerjaan
dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan“. Pasal tersebut menjelaskan bahwa setiap
individu sebagai anggota warga negara berhak untuk mendapatkan pekerjaan serta kehidupan
yang layak dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Lapangan pekerjaan
merupakan sarana yang dibutuhkan guna menghasilkan pendapatan yang akan digunakan
dalam pemenuhan kehidupan yang layak. Penghidupan yang layak diartikan sebagai
kemampuan dalam melakukan pemenuhan kebutuhan dasar, seperti: pangan, sandang, dan
papan .

B.  Saran
Hak dan kewajiban merupakan suatu instrumen yang saling terkait, sehingga
pelaksanaan hal tersebut harus dilakukan secara seimbang agar tidak terjadi ketimpangan
yang akan menyebabkan timbulnya gejolak masyarakat yang tidak diinginkan .

17
DAFTAR PUSTAKA

 Winarno. 2007. Pendidikan kewarganegaraan. Surakarta: bumi aksara

18