Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

“FIQIH IBADAH

KEUTAMAAN SHOLAT FARDHU RUKUN DAN SYARAT”

OLEH :

KELOMPOK 7

Nurul Husnah 19.1400.018

FARHAN 19.1400.013

JURUSAN SEJARAH PERADABAN ISLAM

FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH INSTITUT TINGGI


AGAMA ISLAM NEGERI PAREPARE

2020

1
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah. Segala puji dan puncak kekaguman serta keagungan hanya tertuju
kepada Allah SWT. Sudah tak terhitung nikmat Allah SWT yang telah dianugerahkan
oleh-NYA kepada kita, mulai dari nikmat bernafas hingga kita merasakan betapa
berharganya bernafas itu (sakit). Lantunan sholawat dan seruan salam semoga
senantiasa tercurahkan kepada makhluk agung termasyhur, Manusia Pilihan-NYA.
Dialah Rasulullah SAW.

Atas pertolongan dan kasih sayang-NYA-lah, penulis dapat menyelesaikan


makalah ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Pendidikan
Akhlak atas segala kerelaannya, kepada teman-teman seperjuangan, dan terlebih
kepada semua sumber materi. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas
pada Mata Kuliah Pendidikan Akhlaq.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan dan menyusunan makalah ini jauh dari
kata sempurna, masih banyak kekurangan dan kekhilafan. Oleh karena itu, penulis
berharap kepada para pembaca, dosen pemerhati, dan semua kalangan untuk dapat
memberikan kritik dan masukan-masukan positif yang membangun untuk
kesempurnaan kedepannya.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, pemerhati,
dan semua kalangan yang bersangkutan. Aamiin.

Soppeng, 28 April 2020

Penyusun

Kelompok 7

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 2

DAFTAR ISI 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar belakang 4

1.2 Rumusan masalah 4

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan Definisi sholat fardhu 5

2.2 syarat dan rukun sholat fardhu 5

2.3.Kiat-kiat sholat fardhu yang khusyu 6

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan 8

3.2 Saran 8

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sholat merupakan salah satu tiang bangunan islam. Begitu pentingnya arti
sebuah tiang dalam suatu bangunan yang bernama islam, sehingga takkan
mungkin untuk ditinggalkan.
Makna bathin juga dapat ditemukan dalam sholat yaitu: kehadiran hati,
tafahhum (Kefahaman terhadap ma’na pembicaraan), ta’dzim (Rasa hormat),
mahabbah, raja’ (harap) dan haya (rasa malu), yang keseluruhannya itu ditujukan
kepada Allah sebagai Ilaah.
Sesungguhnya shalat merupakan sistem hidup, manhaj tarbiyah dan ta’lim
yang sempurna, yang meliputi (kebutuhan) fisik, akal dan hati. Tubuh menjadi
bersih dan bersemangat, akal bisa terarah untuk mencerna ilmu, dan hati menjadi
bersih dan suci. Shalat merupakan tathbiq ‘amali (aspek aplikatif) dari prinsip-
prinsip Islam baik dalam aspek politik maupun sosial kemasyarakatan yang ideal
yang membuka atap masjid menjadi terus terbuka sehingga nilai persaudaraan,
persamaan dan kebebasan itu terwujud nyata. Terlihat pula dalam shalat makna
keprajuritan orang-orang yang beriman, ketaatan yang paripurna dan keteraturan
yang indah.
Karena itu semua maka masyarakat Islam pada masa salafus shalih sangat
memperhatikan masalah shalat, sampai mereka menempatkan shalat itu
sebagai”mizan” atau standar, yang dengan neraca itu ditimbanglah kadar
kebaikan seseorang dan diukur kedudukan dan derajatnya. Jika mereka ingin
mengetahui agama seseorang sejauh mana istiqamahnya maka mereka bertanya
tentang shalatnya dan sejauh mana ia memelihara shalatnya, bagaimana ia
melakukan dengan baik. Ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW:

4
“Apabila kamu melihat seseorang membiasakan ke Masjid, maka saksikanlah
untuknya dengan iman.” (HR. Tirmidzi).
Dalam kitab Jami’ush shogir lima orang sahabat r.a. yaitu Tsauban, Ibnu Umar,
Salamah, Abu Umamah dan Ubadah r.a.telah meriwayatkan hadist ini : ” Sholat
adalah sebaik-baik amalan yang ditetapkan Allah untuk hambanya”. Begitupun
dengan maksud hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu mas’ud dan Anas r.a.
Begitulah orang-orang yang beriman itu bukanlah orang yang melaksanakan ritual
dan gerakan-gerakan yang diperintahkan dalam sholat semata tetapi dapat
mengaplikasikannya dalam keseharianya. Sholat sebagai salah satu penjagaan bagi
orang-orang yang beriman yang benar-benar melaksanakannya.
1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud sholat fardhu ?


2. Bagaimana syarat sholat fardhu ?
3. Bagaimana rukun shalat fardhu
4. Bagaimana agar sholat kita khusyu ?

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sholat fardhu


Menurut bahasa shalat artinya adalah berdoa, sedangkan menurut istilah atau
syara’ shalat adalah menghadapkan jiwa dan raga kepada Allah, karena taqwa
hamba kepada Tuhanya, mengagungkan kebesaran-Nya dengan khusyu’ dan
ikhlas dalam bentuk perbuatan serta perkataan yang dimulai dengan takbir dan
diakhiri dengan salam sesuai dengan persyaratkan yang ada.
Definisi Semacam ini telah disepakati oleh para ulama ahli fiqih dimana
mereka mengatakan :
Artinya : "Shalat adalah perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang
dimulai dengan takbir dan disudahi dengan Salam yang dengannya itu kita
dianggap beribadah (kepada Allah) dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.
"Ayat al-Qur’an yang mewajibkan shalat antara lain:
Artinya: “Hay orang-orang yang beriman, ruku’lah,sujudlah dan sembahlah
Tuhanmu serta buatlah kebajikan agar kamu memperoleh kemenangan”.(Al-
Hajj: 77).
2.2 Syarat Sholat Fardhu
Syarat Sholat Fardhu
Hukum sholat fardhu lima kali sehari adalah wajib bagi semua orang yang
telah dewasa atau akil baligh serta normal tidak gila. Tujuan shalat adalah untuk
mencegah perbuatan keji dan munkar.
Untuk melakukan shalat ada syarat-syarat yang harus dipenuhi dulu, yaitu :
a. Syarat wajib shalat
1.Islam. Tidak sah sholat orang yang kafir demikian juga tidak diterima semua
amalannya

2.Berakal. Orang gila tidak wajib sholat,

6
3.Baligh. Tidak wajib sholat atas anak kecil hingga dia baligh berdasarkan
hadits di atas, hanya saja hendaknya dia disunnahkan agar dipe-rintah sholat
ketika berusia tujuh tahun,

4.Suci dari hadats kecil dan hadats besar. Hadats kecil adalah batalnya wudhu,


dan hadats besar ketika seorang belum mandi dari janabah

5.Kesucian tubuh, pakaian, dan tempat dari najis.

6.Sudah masuk waktu sholat. Tidak wajib sholat kecuali ketika sudah masuk
waktunya, tidak sah sholat jika dikerjakan sebelum waktunya

7.Menutup aurot.

8.Niat.

9.Menghadap kiblat.

b. Syarat sah pelaksanaan sholat adalah sebagai berikut ini :

1.Masuk waktu sholat

2. Menghhadap kekiblat

3. Suci dari najis baik hadats kecil maupun besar

4.Menutupaurat.

2.3 Rukun shalat

Rukun ialah suatu yang harus dikerjakan dan merupakan bagian pokok yang
tidak boleh ditingalkan. Misal, membaca surah Al-fatihah dalam shalat, jika  surah ini
tidak dibaca maka shalat itu tidak sah.

Dalam sholat ada rukun-rukun yang harus kita jalankan, yakni :

1.  Niat

7
2. Posisis berdiri bagi yang mampu

3.Takbiratul ihram

4. Membaca surat al-fatihah

5. Ruku / rukuk yang tumakninah

6. I'tidal yang tuma'ninah

7. Sujud yang tumaninah

8. Duduk di antara dua sujud yang tuma'ninah

9.  Sujud kedua yang tuma'ninah

10. Tasyahud

11. Membaca salawat Nabi Muhammad SAW

12. Salamkekananlalu kekiri                                                                                            


13.  Tertib (berurutan mengerjakan rukun-rukun itu).

Shalat Jama’ Dan Qasar

1. Shalat Jamak’
a. Pengertian Shalat Jama’.
Shalat jamak adalah salat yang digabungkan, maksudnya menggabungkan
dua salat fardu yang dilaksanakan pada satu waktu. Misalnya menggabungkan
shalat Duhur dan Asar dikerjakan pada waktu Duhur atau pada waktu Asar.
Atau menggabungkan salat magrib dan ‘Isya dikerjakan pada waktu magrib
atau pada waktu ‘Isya. Sedangkan salat Shubuh tetap pada waktunya tidak
boleh digabungkan dengan salat lain.
Hukum mengerjakan shalat Jama’ adalah mubah (boleh) bagi orang-orang
yang memenuhi persyaratan.

8
Rasulullah saw bersabda:

Artinya: ”‘Dari Anas, ia berkata: Rasulullah apabila ia bepergian sebelum


matahari tergelincir, maka ia mengakhirkan salat duhur sampai waktu asar,
kemudian ia berhenti lalu menjamak antara dua salat tersebut, tetapi apabila
matahari telah tergelincir (sudah masuk waktu duhur) sebelum ia pergi, maka
ia melakukan salat duhur (dahulu) kemudian beliau naik kendaraan
(berangkat)”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dari hadis di atas dapat disimpulkan bahwa Rasulullah pernah menjama’


shalat karena ada suatu sebab yaitu bepergian. Hal menunjukkan bahwa
menggabungkan dua shalat diperbolehkan dalam Islam namun harus ada sebab
tertentu.  

2.Shalat Qashar
a. Pengertian Shalat Qashar
Shalat qashar adalah shalat yang dipendekkan (diringkas), yaitu
melakukan shalat fardu dengan cara meringkas dari empat rakaat menjadi dua
rakaat. Shalat fardu yang boleh diringkas adalah shalat yang jumlah rakaatnya
ada empat yaitu dzuhur , ashar dan ‘isya. Hukum melaksanakan shalat qasar
adalah mubah (diperbolehkan) jika syaratnya terpenuhi.
Allah berfirman dalam al Qur’an surat An Nisa ayat 101 yang artinya:

“Dan apabila kamu beprgian di muka bumi, maka tidak mengapa kamu
menqasar salatmu, jika kamu takut diserang orang-orang kafir,
sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu.” Q.S.(An
Nisa[4]: 101)

2.4 Kiat-Kiat Menuju Shalat Khusyu’


1.  Kiat-Kiat Meraih Shalat Khusyu’ Menurut Tuntunan Rasulullah shallallahu SAW

9
Untuk mencapai hal-hal yang akan mendatangkan kekhusyukan ada beberapa
kiat yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
diantaranya:
a) . Mempersiapkan diri sepenuhnya untuk shalat
Adapun bentuk-bentuk persiapannya yaitu: ikut menjawab adzan yang
dikumandangkan oleh muadzin, kemudian diikuti dengan membaca do’a yang
disyariatkan, bersiwak karena hal ini akan membersihkan mulut dan
menyegarkannya, kemudian memakai pakaian yang baik dan bersih,
sebagaimana firman Allah Ta’âla: “Hai anak adam, pakailah pakaianmu
yang indah di setiap memasuki masjid, makanlah dan minumlah Jangan
berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.”
(QS. al-A’raaf: 31)
Diantara bentuk persiapan lain adalah berjalan ke masjid dengan
penuh ketenangan dan tidak tergesa-gesa, lalu setelah sampai di depan masjid,
maka masuk dengan membaca do’a dan keluar darinya juga membaca do’a,
melaksanakan shalat sunnat Tahiyyatul masjid ketika telah berada di dalam
masjid, merapatkan dan meluruskan shaf, karena syetan berupaya untuk
mencari celah untuk ditempatinya dalam barisan shaf shalat.
b) Tuma’ninah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu tuma’ninah dalam
shalatnya, sehingga seluruh anggota badannya menempati posisi semula,
bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang
buruk shalatnya supaya melakukan tuma’ninah sebagaimana sabda beliau
Rasulullah SAW: “Tidak sempurna shalat salah seorang diantara kalian,
kecuali dengannya (tuma’ninah).”
Orang yang tidak tuma’ninah dalam shalatnya, tentu tidak akan
merasakan kekhusyukan, sebab menunaikan shalat dengan cepat akan
menghilangkan kekhusyukan, sedangkan shalat seperti mematuk burung,
maka hal itu akan menghilangkan pahala.

10
c) .Mengingat mati ketika shalat
Hal ini berdasarkan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Apabila engkau shalat maka shalatlah seperti orang yang hendak berpisah
(mati)”. (HR. Ahmad V/412, Shahihul Jami’, no. 742)
Jelaslah bahwasanya hal ini akan mendorong setiap orang untuk
bersungguh-sungguh dalam shalatnya, karena orang yang akan berpisah tentu
akan merasa kehilangan dan tidak akan berjumpa kembali, sehingga akan
muncul upaya dari dalam dirinya untuk bersungguh-sungguh, dan hal ini
seolah-olah baginya merupakan kesempatan terakhir untuk shalat.
d) .Menghayati makna bacaan shalat.
Sikap penghayatan tidak akan terwujud kecuali dengan memahami
makna setiap yang kita baca. Dengan memahami maknanya, maka seseorang
akan dapat menghayati dan berfikir tentangnya, sehingga mengucurlah air
matanya, karena pengaruh makna yang mendalam sampai ke lubuk hatinya.
Dalam hal ini Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman: “Dan orang-orang
yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Robb mereka, mereka
tidaklah menghadapinya sebagai orang yang tuli dan buta”. (QS. al-Furqan:
73)
e) .Membaca surat sambil berhenti pada tiap ayat
Hal ini merupakan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
sebagaimana yang dikisahkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha
tentang bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam membaca
al-fatihah, yaitu “Beliau membaca Basmalah, kemudian berhenti, kemudian
membaca ayat berikutnya lalu berhenti. Demikian seterusnya sampai selesai
(HR. Abu Daud, no. 4001)
f) .Membaca al-Qurân dengan tartil
Hal ini berdasarkan firman Allah Subhânahu wa Ta’âla: “Dan
bacalah al-Qurân dengan perlahan-lahan”. (QS. al-Muzammil: 4)

11
Membaca dengan perlahan dan tartil lebih bisa membantu untuk merenungi
ayat-ayat yang dibaca dan mendatangkan kekhusyu’an. Adapun membaca
dengan ketergesa-gesaan akan menjauhkan hati dari kekhusyukan.
g). Meyakini bahwa Allah Subhânahu wa Ta’âla akan mengabulkan
permintaannya ketika seorang hamba sedang melaksanakan shalat.
h) .Meletakkan sutrah.(tabir pembatas) dan mendekatkan diri kepadanya
Hal ini lebih bertujuan untuk memperpendek dan menjaga penglihatan
orang yang sedang melaksankan Shalat, sekaligus menjaga dirinya dari
syetan. Disamping itu juga dapat menjauhkan diri dari lalu lalangnya orang
yang lewat di sekitar kita, karena lewatnya orang lain secara hilir mudik dapat
mengganggu kekhusyukan shalat.
Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika
salah seorang diantara kalian melaksanakan Shalat dengan menggunakan
tabir, maka hendaklah ia mendekat padanya, sehingga syetan tidak akan
memotong Shalatnya”.(HR. Abu Daud, no. 446/1695)
i). Meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri di dada
“Adalah Rasulullah jika sedang Shalat, beliau meletakkan tangan kanan
diatas tangan kiri”. (HR. Muslim )
j). Melihat kearah tempat sujud
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika sedang shalat, beliau
menundukkan kepala serta mengarahkan pandangannya ke tanah (tempat
sujud)”. (HR. al-Hakim 1/479, dia berkata shahih menurut syarat Bukhari dan
Muslim, disepakati juga oleh al-Albani dalam buku shifatus Shalatin Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam hal 89)
k). Memohon perlindungan kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla dari godaan
syetan
Godaan syetan akan selalu datang kepada siapa saja yang akan
menghadap Allah Subhânahu wa Ta’âla, oleh karena itu seorang hamba

12
hendaknya tegar dalam beribadah kepada Allah Ta’âla, seraya tetap
melakukan amalan-amalan zikir ataupun shalat,. Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman: “Sesungguhnya tipu daya syetan itu adalah lemah”.(QS. an-Nisa’:
76)      
2.Penghalang-penghalang Kekhusyukan dalam Shalat
Adapun factor hal-hal yang akan membawa kekhusyukan adalah dengan
mengetahui penghalang-penghalang kekhusyukan dan menolaknya.
Adapun penghalang-penghalang kekhusyukan dalam shalat adalah sebagai
berikut:
a). Menghilangkan sesuatu yang mengganggu di tempat shalat, seperti: gambar,
tempat yang berisik,orang yang  bercakap-cakap.
b).Tidak shalat di tempat yang terlalu dingin atau terlalu panas, jika hal tersebut
memungkinkan. Karena hal ini jelas akan mengganggu kekhusyukan dalam
shalat.
c). Menghindari shalat di dekat makanan yang disukai
d). Menghindari shalat dalam kondisi mengantuk
e). Jangan shalat di belakang orang-orang yang bercakap-cakap ataupun tidur
f). Menghindari shalat dalam keadaan menahan buang air besar ataupun keci
g). Tidak menyibukkan diri untuk membersihkan debu
h). Dimakruhkan mengusap dahi dan hidung dalam shalat
i). Tidak boleh mengganggu orang yang sedang shalat dengan mengeraskan
bacaan
j). Tidak boleh menoleh ke kiri dan ke kanan ketika shalat
k). Tidak mengarahkan pandangan ke langit
l). Jangan meludah ke depan ketika sedang shalat
m). Berusaha untuk tidak menguap ketika shalat
n). Tidak mencontoh gerakan atau tingkah laku binatang

  

13
BAB III

PENUTUP

2.3 Kesimpulan
Secara lahiriah shalat berarti beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan
takbir dan diakhiri dengan salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah menurut
syarat – syarat yang telah ditentukan. Sedangkan secara hakikinya ialah berhadapan hati
(jiwa) kepada Allah, secara yang mendatangkan takut kepada-Nya serta menumbuhkan di
dalam jiwa rasa kebesarannya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya atau melahirkan hajat
dan keperluan kita kepada Allah yang kita sembah dengan perkataan dan pekerjaan atau
dengan kedua – duanya. Orang beriman melaksanakan shalat sesuai dengan apa yang
telah diperintahkan oleh Allah SWT, serta sesuai dengan yang dicontohkan oleh
Rasulullah Saw. Selain itu sholat juga mempunyai banyak manfaat bagi kehidupan
manusia, untuk kesehatan manusia itu sendiri, ketenangan hati dan pikiran, dan
keselamatan di akhirat karena amal yang pertama dihisab adalah sholat
2.4 Saran
Sholat sebagai suatu tarbiyyah yang begitu luar biasa yang mengajarkan
kebaikan dalam segala aspek kehidupan, sebagai pencegah kemungkaran dan
kemaksiatan, sebagai pembeda antara orang yang beriman dan orang yang kafir,
sholat sebagai syariat dari Allah dalam kehidupan, semoga dapat difahami,
diamalkan dan diaplikasikan dengan benar dalam kehidupan kita. Kebenaran
datang dari Allah semata dan kesalahan-kesalahan takkan lepas dari kami sebagai
manusia yang memiliki banyak kekurangan. Maka teruslah berusaha untuk
menjauhi segala yang menjadi larangannya dan melaksanakan segala perintahnya,
meneladani Nabi kita Nabi Muhammad SAW.

14
DAFTAR PUSTAKA

Drs. H. NH. Rifa’i,Pintar Ibadah.1999.Jombang:LINTAS MEDIA


http://pengertian,syarat,danrukunfardhu.blogspot.com
http://googlepengertianjama’danqasar.blogspot32.com
http://kiatkiatsholatkhusu’blogspot12/’2google.ardiyansyah.com 

15