Anda di halaman 1dari 11

PERILAKU ORGANISASI

KELOMPOK 10 : KEKUASAAN DAN POLITIK

DISUSUN OLEH :

1. Khairul Watoni (A1C018077)

2. Milna Dwi Lestrai (A1C017098)

3. Mita Indriani (A1C017099)

4. Muh. Arista Arya Pratam AR (A1C017100)

S1 Akuntansi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram

Tahun Akademik 2020


KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa berkat limpahan nikmat serta
rahmat-Nya kita senantiasa diberikan keberkahan dan kemudahan sehingga dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Kekuasaan dan Politik”. Makalah ini merupakan
tugas Perilaku Organisasi yang bertujuan menambah wawasan serta pengetahuan mahasiswa
sehingga mahasiswa mampu mengaplikasikannya.

Makalah ini masih jauh dari kata sempurna sehingga kami selaku penulis memerlukan
kritik dan saran yang sifatnya membangun guna meningkatkan kualitas dari makalah .
Semoga dengan adanya makalah ini dapat memberikan perubahan pada diri kita agar
memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi negara khususnya bagi diri kita sendiri.

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii

DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii

BAB I : PENDAHULUAN .................................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah ............................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ....................................................................................... 1
C. Tujuan ........................................................................................................ 1

BAB II : PEMBAHASAN ..................................................................................... 2

A. Pengertian Kekuasaan dan Politik ............................................................. 2


B. Sumber Kekuasaan...................................................................................... 3
C. Taktik untuk Memainkan Politik dalam Organisasi ................................... 4
D. Faktor Penyumbangan pada Perilaku Politik ............................................. 5

BAB III : PENUTUP .............................................................................................. 6

Kesimpulan ............................................................................................................. 6

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, kita sering mendengar kata
kekuasaan dan politik, kedua kata ini sering dihubungkan satu sama lain. Namun, untuk
memahami tentang apa itu kekuasaan dan politik, serta apa hubungan di antara keduanya,
memerlukan pembahasan yang luas dan terperinci. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi
kesalahan dalam mengartikan dan menggunakannya. Jika kita melakukan sesuatu tanpa
ilmu, kita bisa mencelakakan diri kita sendiri, bahkan orang lain.
Begitu pula dengan kekuasaan dan politik, di Indonesia tidak sedikit yang
memandang bahwa kekuasaan dapat diperoleh melalui politik. Atau dengan kata lain,
politik adalah jalan untuk mencapai kekuasaan. Pandangan seperti itulah yang
menyebabkan begitu banyak orang mendalami dunia politik hanya demi mendapatkan
kekuasaan. Banyak orang yang mengejar kekuasaan tanpa memahami apa sesungguhnya
dan bagaimana cara menggunakan kekuasaan yang dimilikinya. Banyak orang pula yang
akhirnya menganggap bahwa politik itu sesuatu yang tidak baik. Untuk itu, pemahaman
yang benar mengenai kekuasaan dan politik sangatlah penting.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan kekuasaan dan politik ?
2. Apakah yang menjadi dasar atau sumber dari kekuasaan ?
3. Bagaimana taktik untuk memainkan politik dan organisasi ?
4. Apa saja yang menjadi fakto penyumbang pada perilaku politk ?

C. Tujuan Makalah
1. Mampu merincikan atau menjelaskan pengertian dari kekuasaan dan politik
2. Mampu merincikan dasar atau sumber dari kekuasaan
3. Mampu menganalisis taktik untuk memainkan politik dan organisasi
4. Mampu merincikan faktor yang menyumbang pada perilaku politik

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kekuasaan dan Politik
Pengertian Kekuasaan
Ada beberapa pandangan mengenai arti kekuasaan, di antaranya:
• Menurut Miriam Budiardjo, kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau
kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai
dengan keinginan dari pelaku.
• Menurut Ramlan Surbakti, kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi
pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang
mempengaruhi.
• Menurut Gibson, kekuasaan adalah kemampuan seseorang untuk memperoleh
sesuatu sesuai dengan cara yang dikehendaki.
• Menurut Russel, kekuasaan adalah kemampuan untuk menggunakan pengaruh,
sedangkan alasan adalah penggunaan pengaruh yang sebenarnya.
Pada intinya, kekuasaan diartikan sebagai kapasitas yang dimiliki seseorang untuk
mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku orang lain sesuai dengan yang
diinginkannya.

Pengertian Politik
Politik berasal dari Bahasa Yunani “politeia” yang berarti kiat memimpin kota
(polis). Secara prinsip, politik merupakan upaya untuk ikut berperan serta dalam
mengurus dan mengendalikan urusan masyarakat. Menurut Arsitoteles, politik adalah
usaha warga negara dalam mencapai kebaikan bersama atau kepentingan umum. Politik
juga dapat diartikan sebagai proses pembentukan kekuasaan dalam masyarakat yang
antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Dari
definisi yang bermacam-macam tersebut, konsep politik dapat dibatasi menjadi:
• Politik Sebagai Kepentingan Umum
Politik merupakan suatu rangkaian asas (prinsip), keadaan dan jalan, cara, serta
alat yang akan digunakan untuk mencapai tujuan tertentu, atau suatu keadaan
yang kita kehendaki disertai dengan jalan, cara, dan alat yang akan kita gunakan
untuk mencapai keadaan yang kita inginkan itu. Politik dalam pengertian ini

2
adalah tempat keseluruhan individu atau kelompok bergerak dan masing-masing
mempunyai kepentingan atau idenya sendiri.

• Politik Dalam Arti Kebijaksanaan


Politik dalam arti kebijaksanaan (policy) adalah penggunaan pertimbangan-
pertimbangan tertentu yang dianggap lebih menjamin terlaksananya suatu usaha,
cita-cita, keinginan atau keadaan yang kita kehendaki. Kebijaksanaan adalah
suatu kumpulan keputusan yang diambiloleh seorang pelaku atau kelompok
politik dalam usaha memilih tujuan- tujuan dan cara-cara untuk mencapai tujuan-
tujuan itu.

B. Sumber Kekuasaan
Robbins membagi sumber kekuasaan menjadi dua, yaitu kekuasaan formal dan
kekuasaan personal. Kekuasaan formal didasarkan pada posisi individu dalam
organisasi, meliputi:
1. Kekuasaan paksaan (coercive power), didasarkan pada rasa takut.
2. Kekuasaan imbalan (reward power), adanya pemberian imbalan yang bermanfaat.
3. Kekuasaan hukum (legitimate power), lebih luas daripada kekuasaan paksaan dan
imbalan karena dapat mengendalikan sumber daya organisasi.
4. Kekuasaan informasi (information power), berasal dari akses dan pengendalian
atas informasi.
Berbeda dengan kekuasaan formal, kekuasaan personal tidak didasarkan pada posisi
formal individu dalam organisasi. Ada tiga dasar atau sumber dari kekuasaan personal,
yaitu:
1. Kekuasaan pakar (expert power), didasarkan pada keahlian atau keterampilan
istimewa, dan pengetahuan.
2. Kekuasaan rujukan (referent power), didasarkan pada identifikasi orang yang
mempunyai sumber daya atau ciri pribadi yang diinginkan orang lain.
3. Kekuasaan kharismatik (charismatic power), merupakan perluasan dari kekuasaan
rujukan yang berasal dari kepribadian dan gaya interpersonal.

3
C. Taktik untuk Memainkan Politik dalam Organisasi
Meningkatkan ketidakmampuan mengganti
Jika dalam suatu organisasi hanya ada satu-satunya orang atau subunit yang
mampu melakukan tugas yang dibutuhkan oleh subunit atau organisasi, maka ia
atau subunit tersebut dikatakan sebagai memiliki ketidakmampuan mengganti.

Dekat dengan manajer yang berkuasa


Cara lain untuk memperoleh kekuasaan adalah dengan mengadakan pendekatan
dengan manajer yang sedang berkuasa.
Membangun koalisi
Melakukan koalisi dengan individu atau subunit lain yang memiliki kepentingan
yang berbeda merupakan taktik politik yang dipakai oleh manajer untuk
memperoleh kekuasaan untuk mengatasi konflik sesuai dengan keinginanya.
Mempengaruhi proses pengambilan keputusan
Dua taktik untuk mengendalikan proses pengambilan keputusan agar penggunaan
kekuasaan nampaknya memiliki legitimasi dan sesuai dengan kepentingan
organisasi yaitu mengendalikan agenda dan menghadirkan ahli dari luar.
Menyalahkan atau menyerang pihak lain
Manajer biasanya melakukan ini jika ada sesuatu yang tidak beres atau mereka
tidak dapat menerima kegagalannya dengan cara menyalahkan pihak lain yang
mereka anggap sebagai pesaingnya.
Memanipulasi informasi
Taktik lain yang sering dilakukan adalah manipulasi informasi. Manajer menahan
informasi, menyampaikan informasi kepada pihak lain secara selektif, mengubah
informasi untuk melindungi dirinya.
Menciptakan dan menjaga image yang baik
Taktik positif yang sering dilakukan adalah menjaga citra yang baik dalam
organisasi tersebut. Hal ini meliputi penampilan yang baik, sopan, berinteraksi
dan menjaga hubungan baik dengan semua orang, menciptakan kesan bahwa
mereka dekat dengan orang-orang penting dan hal yang sejenisnya.
Etika Berperilaku secara politis
Berperilaku politik secara etis tidah ada standart-standart yang dapat
membedakan apakah kegiatan berpolitik yang kita jalankan itu etis atau tidak etis.
Tetapi ada beberapa pertanyaan yang dapat menjadi bahan pertimbangan untuk
4
menentukan etis atau tidaknya berperilaku politis. Dan pertanyaan itu ditujukan
kepada diri sendiri. Pertanyaannya adalah apa guna berperilaku seperti itu? Selain
itu sebelum berbuat demikian hendaknya menimbang dan memikirkan apakah hal
yang dilakukan sepadan dengan resikonya. Dan yang terakhir adalah apakah
kegiatan politik selaras dengan standar kesetaraan dan keadilan. Tetapi, jawaban
terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut sering diperdebatkan dengan berbagai
cara agar praktik-praktik yang tidak etis menjadi etis.

D. Faktor Penyumbang pada Perilaku Politik


❖ Faktor Individu
Pada tataran individu, para peneliti telah mengidentifikasi sifat-sifat
kepribadian tertentu, kebutuhan dan beberapa faktor lain yang dapat dikaitkan
dengan perilaku politik seseorang. Dalam hal sifat,kita menemukan bahwa para
karyawan yang mampu merefleksi diri secara baik (high self-monitor) memiliki
pusat kendali (locus of contol) internal, dan memilki kebutuhan yang tinggi akan
kekuasaan pnya kemungknan lebih besar untuk terlibat dalam perilaku politik.
Orang yang mampu merefleksi diri seara baik lebih sensitife terhadap berbagai
tanda social, mampu menampilkan tingkat kecerdasan social, dan termpil dalam
berperilaku politik daripada mereka yang kurang mampu merefleksi diri (low
self-monitor). Individu- individu degan locus of control internal , lantaran
meyakini bahwa mereka mampu mengendalikan lingkungannya, lebih cenderung
bersikap proaktif dan berupaya memanipulasi situasi demi kepentingan mereka
sendiri. Tidak mengejutkan, kepribadian Machiavelian- yang dicirikan dengan
kehendak untuk memanipulasi dan hasrat akan kekuasaan- dengan mudah
menggunakan politik sebagai sarana untuk memperjuangkan kepentingan sendiri.
Selain itu, investasi seseorang dalam organisasi, alternatif-alternatif yang
diyakinininya ada, dan harapan akan kesuksesan turut mempengaruhi sejauh
mana ia akan memanfaatkan sarana tindakan politik yang tidak sah. Ada sebagian
orang yang memiliki pandangan bahwa segala upaya yangdilakukan dapat
dipandang sebagai investasi karena suatu saat akan diperoleh apa yang diinginkan
seperti keuntungan ekonomi, jabatan dan status social dalam. Semakin besar
investasi seseorang dalam organisasi karena harapan akan mendapatkan
keuntungan di masa depan, semakin besar pula kerugian yang harus

5
ditanggungnya jika terpaksa harus keluar dari sana dan semakin kecil
kemungkinan bahwa ia akan menggunakan sarana politik yang tidak sah.
Dubrin (2001) mengutarakan tiga hal terkait faktor individu yang
mempengaruhi perilaku politik yaitu ketidakamanan emosional (emotional
insecurity), tendensi manipulative dan ketidaksepakatan yang menghalangi
keputusan rasional. Banyak orang melakukan manuver politik untuk berlindung
kepada orang yang memiliki kekuasaan karena mereka kurang percaya diri dalam
kemampuan mereka sendiri, inilah yang dimaksud dengan ketidakamanan
emosional. Beberapa orang kadangkala berperilaku politik untuk memanipulasi
orang lain demi kepentingan mereka. Dalam kajian mengenai kepribadian, tipe ini
disebut sebagai machievellian. Kata ini digunakan untuk menggambarkan
karakter yang sesuai dengan prinsip Machiavelli dalam teori politiknya.
Faktor-faktor Individu :

1) Kemampuan merefleksi diri yang baik


2) Pusat Kendali Internal
3) Kepribadian yang lincah
4) Investasi Organisasi
5) Alternatif pekerjaan lain
6) Harapan akan kesuksesan

❖ Faktor Organisasi
Kegiatan politik kiranya lebih merupakan fungsi karakteristik organisasi
ketimbang fungsi variabel perbedaan individu, karena tidak sedikit organisasi
memiliki banyak karyawan dengan karakter-karakter individu yang kita sebut
sebelumnya , namun kadar perilaku politiknya sangat beragam.
Tanpa menafikan peran yang mungkin dijalankan oleh perbedan-perbedaan
individual dalam menumbuh kembangkan proses politisasi, bukti menunjukkan
bahwa situasi dan kultur tertentulah yang lebih mendukung politik. Secara lebih
khuus, jika sumber daya sebuah organisasi berkurang, ketika pola sumber daya
yang ada berubah dan ketika muncul kesempatan untuk promosi, politisasi lebih
dimungkinkan untuk muncul permukaan. Selain it kultur yang tercirikan oleh
tingkat kepercayaan yang rendah, ambiguitas peran, sistem evaluasi kinerja yang
tidak jelas, praktik alokasi imalan zero-sum (perolehan hangus karena kurang
memuaskan), pengambilan keputusan secara demokratis, tekanan yang tinggi atas

6
kinerja, dan manajer-manajer senior yang egois menciptakan lahan pembiakan
yang subur bagi politisasi.
Ketika organisasi melakukan perampingan untuk meningkatkan efisiensi,
pengurangan sumber daya harus dilakukan. Terancam kehilangan sumber daya,
orang bisa terlibat dalam tindakan politik untuk mengamankan apa yang mereka
miliki. Tetapi perubahan apapun,khususnya yang mengimplikasikan realokasi
sumber daya dalam organisasi secara signifikan, berkemungkinan merangsang
timbulnya konflik dan meningkatkan politisasi.
Keputusan promosi sebagai salah satu tindakan paling politis dalam
organisasi. Peluang promosi atau kemajuan mendorong orang untuk bersaing
mendapatkan sumber daya yang terbatas dan mencoba secara positif
mempengaruhi hasi; keputusan.
Semakin kecil kepercayaan yang ada dalam organisasi, semakin tinggi
tingkat perilaku politik dan semakin mungkin perilaku politik itu akan tidak sah.
Karenanya, tingkat kepercayaan yang tinggi secara umum akan menekan tingkat
perilaku politik dan secara khusus akan menghambat tindakan politik yang tidak
sah. Karenanya, tingkat kepercayaan yang tinggi secara umum akan menekan
tingkat perilaku politik dan secara khusus akan menghambat tindakan politik
yang tidak sah. Walaupun organisasi pada umumnya menyarankan kepatuhan,
kerja sama, keterbukaan dan kepercayaan, dalam kenyataannya, individu atau
kelompok bersaing mendapatkan sumber daya, informasi dan pengaruh , dan
mencari cara untuk melindungi kepentingannya yang kadangkala melanggar
norma dan prinsip prinsip organisasi dan berpeluang mendapatkan sanksi .
Faktor – faktor Organisasi :

1) Realokasi sumber daya


2) Peluang promosi
3) Tingkat kepercayaan rendah
4) Ambiguitas peran
5) Sistem evaluasi kerja tidak jelas
6) Praktik imbalan zero-sum
7) Pengambilan keputusan yang demokratis
8) Tekanan kinerja tinggi
9) Manajer senior yang egois

7
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Kekuasaan diartikan sebagai kapasitas yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi


cara berpikir dan berperilaku orang lain sesuai dengan yang diinginkannya. Secara
prinsip, politik merupakan upaya untuk ikut berperan serta dalam mengurus dan
mengendalikan urusan masyarakat. Ada tiga dasar atau sumber dari kekuasaan personal,
yaitu:
1) Kekuasaan pakar (expert power), didasarkan pada keahlian atau keterampilan
istimewa, dan pengetahuan.
2) Kekuasaan rujukan (referent power), didasarkan pada identifikasi orang yang
mempunyai sumber daya atau ciri pribadi yang diinginkan orang lain.
3) Kekuasaan kharismatik (charismatic power), merupakan perluasan dari kekuasaan
rujukan yang berasal dari kepribadian dan gaya interpersonal.
Untuk memainkan politik di dalam organisasi perlulah memiliki taktik dan faktor apa
saja yang menyumbang pada perilaku politik tersebut.