Anda di halaman 1dari 70

PERILAKU BERISIKO DAN PERMASALAHAN KESEHATAN

REPRODUKSI PADA REMAJA

Reproductive Health Problems And Risk Behavior Among Adolescence

Kusmira B
Universitas Indonesia Timur,Makassar Sulawesi Selatan

*Email: mhirabastian88@gmail.com

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Undang-Undang No.23 Tahun 1992 mendefinisikan bahwa kesehatan adalah

keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup

produktif secara sosial dan ekonomis. Sedangkan reproduksi menurut Koblinsky

adalah kemampuan perempuan hidup dari masa adolescence/ perkawinan tergantung

mana yang lebih dahulu, sampai dengan kematian, dengan pilihan reproduktif, harga

diri dan proses persalinan yang sukses serta relatif bebas dari penyakit ginekologis

dan risikonya. Menurut WHO, kesehatan reproduksi adalah kesehatan yang sempurna

baik fisik, mental, sosial dan lingkungan serta bukan semata-mata terbebas dari

penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem

reproduksi, fungsi serta prosesnya (Melyana, 2005).

Menurut WHO, remaja apabila anak telah mencapai umur 10-18 tahun.

Menurut Undang-undang No. 4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan anak, remaja

adalah individu yang belum mencapai 21 tahun dan belum menikah. Pada buku-buku

1
Pediatri, pada umumnya mendefi nisikan remaja remaja adalah bila seorang anak

telah mencapai umur 10-18 tahun untuk anak perempuan dan 12-20 tahun untuk anak

laki-laki. Menurut Diknas, anak dianggap remaja bila anak sudah berumur 18 tahun

yang sesuai dengan saat lulus sekolah menengah (Soetjiningsih, 2004).

Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut

sistem, fungsi dan proses reproduksi remaja. Berbagai permasalahan kesehatan

reproduksi remaja antara lain: kehamilan tidak dikehendaki, kehamilan dan

persalinan usia muda, ketergantungan napza meningkatkan resiko penyakit menular

seksual (termasuk infeksi HIV/AIDS), dan resiko terkena penyakit menular

seksual.Permasalahan tersebut disebabkan kurangnya informasi, pemahaman dan

kesadaran untuk mencapai keadaan sehat secara reproduksi.Orang tua yang

diharapkan remaja dapat dijadikan tempat bertanya atau dapat memberikan

penjelasan tentang masalah kesehatan reproduksi, ternyata tidak banyak berperan

karena masalah tersebut masih dianggap tabu untuk dibicarakan dengan anak

remajanya. Guru, yang juga diharapkan oleh orang tua dan remaja dapat memberikan

penjelasan yang lebih lengkap kepada siswanya tentang kesehatan reproduksi,

ternyata masih menghadapi banyak kendala dari dalam dirinya, seperti: tabu, merasa

tidak pantas, tidak tahu cara menyampaikannya, tidak ada waktu, dan lain sebagainya.

Solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan pemberian

pendidikan mengenai kesehatan reproduksi.

Menurut Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (2009:1)

bahwajumlah remaja umur 10-19 tahun di Indonesia terdapat 43 juta atau 19,61% dari

jumlahpenduduk Indonesia sebanyak 220 juta. Sekitar 1 juta remaja pria (5%) dan

2
200 ribu remajawanita (1%) menyatakan secara terbuka bahwa pernah melakukan

hubungan seksual.Sebanyak 8% pria umur 15-24 tahun telah menggunakan obat-

obatan terlarang. Sedangkanuntuk kasus HIV/AIDS dari 6987 penderita AIDS, 3,02%

adalah kelompom usia 15-19tahun dan 54,77% adalah kelompok usia 20-29 tahun

(Departemen Kesehatan RI,September 2006). Ini terjadi karena pengetahuan

merekamengenai kesehatan reproduksimasih kurang. Sehingga sangat memerlukan

perhatian dari semua pihak, karena orang yang sehat aktivitas belajarnya akan baik.

Apabila kasus remaja inidibiarkan, sudah tentu akan merusak masa depan remaja

khususnya mereka dan masa depankeluarga dan masa depan bangsa Indonesia.

Indonesia saat ini mulai lebih memperhatikan masalah kesehatan reproduksi

dengan serius.Dengan PIK KRR (Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan

Reproduksi Remaja) yang merupakan salah satu program sub BKKBN, pemerintah

mengupayakan agar remaja tidak melewati masa remajanya dengan hal-hal yang

tidak berguna. Karena pada masa-masa remajalah kita mengalami proses pencarian

jalan hidup yang seperti apa yang akan kita pilih. Melalui program ini, agaknya

pemerintah mulai concern melihat perkembangan zaman instant yang serba canggih

ini.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah di antaranya :

1. Bagaimanakah konsep remaja ?

2. Bagaimanakah pertumbuhan dan perkembangan remaja ?

3. Apa yang dimaksud dengan menstruasi, mimpi basah dan masturbasi?

4. Bagaimana cara memelihara organ reproduksi ?

3
5. Apa yang dimaksud dengan seksualitas remaja ?

6. Apa yang dimaksud dengan penyimpangan perilaku seksual ?

7. Bagaimanakah konseling kesehatan reproduksi remaja ?

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan dari makalah ini, yaitu :

1. Untuk mengetahui konsep remaja

2. Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan remaja

3. Untuk mengetahui menstruasi dan mimpi basah

4. Untuk mengetahui cara memelihara organ reproduksi

5. Untuk mengetahui seksualitas remaja

6. Untuk mengetahui penyimpangan perilaku seksual

7. Untuk mengetahui konseling kesehatan reproduksi remaja

1.4 Manfaat Penulisan

1. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penulisan makalah ini dapat dijadikan acuan untuk pengembangan

keilmuan dimasa yang akan datang terutama pada pelayanan kebidanan .

2. Bagi Penulis

Penulisan makalah  yang dilakukan diharapkan dapat menambah

pengetahuan dan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi remaja.

BAB II

4
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Remaja

2.1.1 Pengertian Remaja

Secara etimologi, remaja berarti “tumbuh menjadi dewasa”. Definisi remaja

(adolescence) menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) adalah periode usia

antara 10 sampai 19 tahun, sedangkan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyebut

kaum muda (youth) untuk usia antara 15 sampai 24 tahun. Sementara itu, menurut

The Health Resources and Services Administrations Guidelines Amerika Serikat,

rentang usia remaja adalah 11-21 tahun dan terbagi menjadi tiga tahap, yaitu remaja

awal (11-14 tahun); remaja menengah (15-17 tahun); dan remaja akhir (18-21

tahun). Definisi ini kemudian disatukan dalam terminologi kaum muda (young

people) yang mencakup usia 10-24 tahun.

Definisi remaja sendiri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu:

1. Secara kronologis, remaja adalah individu yang berusia antara 11-12

tahun sampai 20-21 tahun.

2. Secara fisik, remaja ditandai oleh ciri perubahan pada penampilan fisik

dan fungsi fisiologis, terutama yang terkait dengan kelenjar seksual;

3. Secara psikologis, remaja merupakan masa dimana individu

mengalami perubahan-perubahan dalam aspek kognitif, emosi, sosial,

dan moral, diantara masa anak-anak menuju masa dewasa.

2.1.2 Ciri-Ciri Kejiawaan dan Psikososial Remaja

A. Usia remaja muda (12-15 tahun)

1. Sikap protes terhadap orang tua

5
Remaja pada usia ini cenderung tidak menyetujui nilai-nilai hidup orang

tuanya, sehingga sering menunjukkan sikap protes terhadap orang tua. Mereka

berusaha mencari identitas diri dan seringkali disertai dengan menjauhkan diri dari

orang tuanya. Dalam upaya pencarian identitas diri, remaja cenderung melihat kepada

tokoh-tokoh diluar lingkungan keluarganya, yaitu: guru, figur ideal yang terdapat di

film, atau tokoh idola.

2. Preokupasi dengan badan sendiri

Tubuh seorang remaja pada usia ini mengalami perubahan yang cepat

sekali. Perubahan-perubahan ini menjadi perhatian khusus bagi diri remaja.

3. Kesetiakawanan dengan kelompok seusia

Para remaja pada kelompok umur ini merasakan keterkaitan dan

kebersamaan dengan kelompok seusia dalam upaya mencari kelompok senasib. Hal

ini tercermin dalam cara berperilaku sosial.

4. Kemampuan untuk berpikir secara abstrak

Daya kemampuan berpikir seorang remaja mulai berkembang dan

dimanifestasikan dalam bentuk diskusi untuk mempertajam kepercayaan diri.

5. Perilaku yang labil dan berubah-ubah

Remaja sering memperlihatkan perilaku yang berubah-ubah. Pada suatu

waktu tampak bertanggung jawab, tetapi dalam waktu lain tampak masa bodoh dan

tidak bertanggung jawab. Remaja merasa cemas akan perubahan dalam dirinya.

Perilaku demikian menunjukkan bahwa dalam diri remaja terdapat konflik yang

memerlukan pengertian dan penanganan yang bijaksana.

B. Usia remaja penuh (16-19 tahun)

6
1. Kebebasan dari orang tua

Dorongan untuk menjauhkan diri dari orang tua menjadi realitas. Remaja

mulai merasakan kebebasan, tetapi juga merasa kurang menyenangkan. Pada diri

remaja timbul kebutuhan untuk terkait dengan orang lain melalui ikatan cinta yang

stabil.

2. Ikatan terhadap pekerjaan atau tugas

Sering kali remaja menunjukkan minat pada suatu tugas tertentu yang

ditekuni secara mendalam. Terjadi pengembangan akan cita-cita masa depan yaitu

mulai memikirkan melanjutkan sekolah atau langsung bekerja untuk mencari nafkah.

3. Pengembangan nilai moral dan etis yang mantap

Remaja mulai menyususn nilai-nilai moral dan etis sesuai dengan cita-cita.

4. Pengembangan hubungan pribadi yang labil

Adanya tokoh panutan atau hubungan cinta yang stabil menyebabkan

terbentuknya kestabilan diri remaja.

2.1.3 Masa Transisi Remaja

Pada usia remaja, terdapat masa transisi yang akan dialami. Masa transisi

tersebut menurut gunarsa (1978) dalam disertai PKBI (2000) adalah sebagai berikut.

1. Transisi fisik berkaitan dengan perubahan bentuk tubuh

Bentuk tubuh remaja sudah berbeda dengan anak-anak, tetapi belum

sepenuhnya menampilkan bentuk tubuh orang dewasa. Hal ini menyebabkan

kebingungan peran, didukung pula dengan sikap masyarakat yang kurang konsisten.

2. Transisi dalam kehidupan emosi

7
Perubahan hormonal dalam tubuh remaja berhubungan erat dengan

peningkatan kehidupan emosi. Remaja sering memperlihatkan ketidakstabilan emosi.

Remaja tampak sering gelisah, cepat tersinggung, melamun, dan sedih, tetapi dilain

sisi akan gembira, tertawa, ataupun marah-marah.

3. Transisi dalam kehidupan sosial

Lingkungan sosial anak semakin bergeser ke luar dari keluarga, dimana

lingkungan teman sebaya mulai memegang peranan penting. Pergeseran ikatan pada

teman sebaya merupakan uapaya remaja untuk mandiri (melepaskan ikatan dengan

keluarga).

4. Transisi dalam nilai-nilai moral

Remaja mulai meninggalkan nilai-nilai yang dianutnya dan menuju nilai-

nilai yang dianut orang dewasa. Saat ini remaja mulai meragukan nilai-nilai yang

diterima pada waktu anak-anak dan mulai mencari nilai sendiri.

5. Transisi dalam pemahaman

Remaja mengalami perkembangan kognitif yang pesat sehingga mulai

mengembangkan kemampuan berpikir abstrak.

2.1.4 Tugas-Tugas Perkembangan Remaja

Menurut Havighurst (1998), ada tugas-tugas yang harus diselesaikan

dengan baik pada setiap periode perkembangan. Tugas perkembangan adalah hal-hal

yang harus dipenuhi atau dilakukan oleh remaja dan dipengaruhi oleh harapan sosial.

Adapun tugas perkembangan pada remaja adalah sebagai berikut.

8
1. Menerima keadaan dan penampilan diri, serta menggunakan tubuhnya

secara efektif.

2. Belajar berperan sesuai dengan jenis kelamin (sebagai laki-laki atau

perempuan).

3. Mencapai relasi yang baru dan lebih matang dengan teman sebaya, baik

sejenis maupun lawan jenis.

4. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab.

5. Mencapai kemandirian secara emosional terhadap orang tua dan orang

dewasa lainnya.

6. Mempersiapkan karir dan kemandirian secara ekonomi.

7. Menyiapkan diri (fisik dan psikis) dalam menghadapi perkawinan dan

kehidupan keluarga.

8. Mengembangkan kemampuan dan keterampilan intelektual untuk hidup

bermasyarakat dan untuk masa depan (dalam bidang pendidikan atau

pekerjaan).

9. Mencapai nilai-nilai kedewasaan.

2.1.5 Tujuan Perkembangan Remaja

A. Perkembangan pribadi

1. Keterampilan kognitif dan nonkognitif yang dibutuhkan agar dapat

mandiri secara ekonomi maupun mandiri dalam bidang pekerjaan

tertentu.

2. Kecakapan dalam mengelola dan mengatasi masalah-masalah pribadi

secara efektif.

9
3. Kecakapan-kecakapan sebagai orang pengguna kekayaan kultural dan

perbadaan bangsa.

4. Kecakapan untuk dapat terikat dalam suatu keterlibatan yang intensif

pada suatu kegiatan.

B. Perkembangan sosial

1. Pengalaman bersama pribadi-pribadi yang berbeda dengan dirinya,

baik dalam kelas, sosial, subkultur, maupun usia.

2. Pengalaman dimana tindakannya dapat berpengaruh pada orang lain.

3. Kegiatan saling tergantung yang diarahkan pada tujuan-tujuan bersama

(interaksi kelompok).

2.1.6 Konsep Kedewasaan

Karakteristik remaja (adolescence) adalah tumbuh menjadi dewasa. Secara

fisik, remaja ditandai dengan ciri perubahan pada penampilan fisik dan fungsi

fisiologis, terutama yang terkait dengan kelenjar seksual. Sementara itu, secara

psikologis remaja merupakan masa dimana individu mengalami perubahan-perubahan

dalam aspek kognitif, emosi, sosial, dan moral antara masa anak-anak menuju

dewasa.

Terdapat bukti bahwa konsep diri remaja berbeda di berbagai konteks dan

remaja memandang diri berbeda jika berada teman sebaya dibandingkan saat dengan

orang tua dan guru.

Salah satu tugas perkembangan masa remaja adalah mencapai nilai-nilai

kedewasaan. Adapun ciri-ciri kedewasaan antara lain :

1. Emosi relatif lebih stabil (mampu mengendalikan emosi);

10
2. Mandiri (baik secara ekonomi, sosial, dan emosi);

3. Mampu melakukan upaya menyerahkan sumber daya dalam diri dan

lingkungan untuk memecahkan masalah.

4. Adanya interdependensi (saling ketergantungan) dalam hubungan sosial.

5. Memiliki tanggung jawab.

6. Memiliki control diri yang adekuat (mampu menunda kepuasan, melawan

godaan, serta mengembangkan prestasi sendiri).

7. Memiliki tujuan hidup yang realistis.

8. Memiliki dan menghayati nilai-nilai keagamaan yang dianut.

9. Peka terhadap kepentingan orang lain.

10. Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan (bersikap luwes),

bertindak secara tepat sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.

2.2 Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja

2.2.1 Pengertian

A. Pertumbuhan

Pertumbuhan adalah perubahan yang menyangkut segi kuantitatif yang

ditandai dengan peningkatan dalam ukuraan fisik dan dapat diukur.

B. Perkembangan

Perkembangan adalah perubahan yang menyangkut aspek kualitatif dan

kuantitatif. Rangkaian perubahan dapat bersifat progresif, teratur, berkesinambungan,

serta akumulatif.

2.2.2 Aspek Pertumbuhan

11
Fungsi fisiologis dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan gizi. Faktor

lingkungan dapat memberi pengaruh yang kuat untuk lebih mempercepat perubahan.

Perubahan dipengaruhi oleh dua organ penting, yaitu: hipotalamus, dan hipofisis.

ketika kedua organ ini bekerja, ada tiga kelenjar yang dirangsang, yaitu: kelenjar

gondok, kelenjar anak ginjal, dan kelenjar organ reproduksi.

Ketiga kelenjar tersebut akan saling bekerja sama dan berinteraksi dengan

factor genetik maupun lingkungan.

Tabel Perubahan- perubahan yang Dipengaruhi oleh Hormon

Jenis
Perempuan Laki - laki
Perubahan
Hormon Estrogen dan progesteron Testosteron
Tanda Menstruasi Mimpi basah
Perubahan  Pertambahan tinggi badan.  Tumbuh rambut di

Fisik  Tumbuh rambut di sekitar alat sekitar kemaluan, kaki,

kelamin dan ketiak. tangan, dada, ketiak dan

 Kulit menjadi lebih halus. wajah. Tampak pada

 Suara menjadi lebih halus dan anak laki – laki mulai

tinggi. berkumis, berjambang,

 Payudara mulai membesar. dan berbulu ketiak.

 Suara bariton atau


 Pinggul semakin membesar.
bertambah besar.
 Pahamembulat.
 Badan lebih berotot
 Mengalami menstruasi.
terutama bahu dan dada.

 Pertambahan berat

badan dan tinggi badan.

12
 Buah zakar menjadi

lebih besar dan bila

terangsang dapat

mengeluarkan sperma.

 Mengalaami mimpi

basah.

2.2.3 Aspek Perkembangan Remaja

Terdapat dua konsep perkembangan remaja, yaitu Nature dan Nurture .

Konsep Nature mengungkapkan bahwa masa remaja adalah masa badai dan tekanan.

Periode perkembangan ini individu banyak mengalami gejolak dan tekanan karena

perubahan yang terjadi dalam dirinya. Konsep Nurture menyatakan tidak semua

remaja mengalami masa badai dan tekanan tersebut. Hal tersebut tergantung pada

pola asuh dan lingkungan dimana remaja itu tinggal.

A. Perkembangan Sosial

Terjadinya tumpang tindih pola tingkah laku anak dan pola perilaku

dewasa merupakan kondisi tersulit yang dihadapi remaja. Remaja diharuskan dapat

menyasuaikan diri dengan peran orang dewasa dan melepaskan diri dari peran anak-

anak. Remaja dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan orang dewasa di luar

lingkungan keluarga dan sekolah.

B. Kuatnya Teman Sebaya

Berdasarkan ciri- ciri yang dimiliki seperti menjadi egosentris,

kebingungan peran dan lain- lain, maka seorang remaja mulai mencari pengakuan

dirinya di luar rumah. Pada usia remaja, seseorang menghabiskan lebih banyak waktu

13
bersama teman sebayanya dibandingkan bersama dengan orangtuanya, sehingga

wajar saja jika tingkah laku dan norma/aturan- aturan yang dipegang banyak

dipengaruhi oleh kelompok sebayanya.namun, meskipun tampaknya remaja sangat

bergantung pada teman sebayanya, pada remaja sendiri terdapat sikap ambivalen. Di

satu sisi ingin membuktikan kemandiriannya dengan melepaskan diri dari

orangtuanya, tetapi disisi lain mereka masih tergantung pada orangtuanya.

Remaja akan tetap meminta pertimbangan dari orangtuanya ketika

menghadapi masalah yang berat atau harus menentukan sesuatu yang berkaitan

dengan masa depannya yang berakibat jangka panjang. Hal ini merupakan bentuk

ketergantungan remaja kepada orangtua. Ketergantungan pada teman sebaya lebih

mengarah pada hal-hal yang berkaitan dengan relasi sosial atau penerimaan

lingkungan (misalnya tingkah laku/kebiasaan sehari- hari, kesukaan, aktivitas yang

dipilih, gaya bahasa, dan lainnya).

Diterima oleh teman sebaya merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi

remaja, sehingga penyesuaian diri dengan kelompok, misalnya penyesuaian dengan

selera, cara berpakaian, cara berbicara dan berperilaku sosial lainnya adalah penting

( Hurlock, 1973). Namun, perilaku mengikuti kelompok akan semakin berkurang

sesuai dengan bertambahnya kematangan karena remaja semakin ingin menjadi

individu yang mandiri dan unik serta lebih selektif dalam memilih sahabat.

Keluarga yang memberikan kehangatan serta ikatan emosi dalam kadar

yang tidak berlebihan dan senantiasa memberikan dukungan positif dapat membantu

anak mengembangkan ikatan lain di luar keluarga secara lebih baik. Ia mampu

menentukan kapan ia harus mengikuti kelompoknya dan kapan harus menolak ajakan

14
dari teman sebayanya sehingga remaja tersebut akan terbebas dari tekanan teman

sebaya untuk melakukan hal- hal negatif.

Perubahan dalam perilaku sosial ditunjukkan dengan:

1. Minat dalam hubungan heteroseksual yang lebih besar;

2. Kegiatan- kegiatan sosial yang melibatkan kedua jenis kelamin;

3. Bertambahnya wawasan sehingga remaja memiliki penilaian yang

lebih baik serta lebih bisa mengerti orang lain. Remaja juga

mengembangkan kemampuan sosial yang mendorongnya lebih percaya

diri dan aktif dalam aktivitas sosial;

4. Berkurangnya prasangka dan diskriminasi. Mereka cenderung tidak

mempersoalkan orang yang tidak cocok latar belakang budaya dan

pribadinya.

C. Pengelompokan Sosial Baru

Kelompok remaja yang beranggotakan laki-laki biasanya lebih besar dan

tidak terlalu akrab, sedangkan kelompok remaja perempuan membentuk kelompok

yang lebih kecil dan lebih akrab. Remaja laki- laki cenderung lebih banyak berbagi

pengalaman petualangan atau topik- topik tertentu yang menarik (olahraga , music,

film, teknologi,dan lainnya). Umumnya mereka jarang berbagi perasaan atau emosi

dengan teman sebayanya, sedangkan remaja perempuan lebih bisa berbagi

pengalaman dan perasaan.

Dalam pengelompokan sosial, akan muncul nilai- nilai baru yang

diadaptasi oleh remaja.Nilai- nilai tersebut antara lain adalah sebagai berikut :

15
1. Nilai baru dalam memilih teman. Pemilihan teman berdasarkan

kesamaan minat dan nilai- nilai yang sama, yang dapat mengerti dan

memberi rasa aman, serta yang dapat berbagi masalah dan membahas

hal- hal yang tidak dapat dibicarakan dengan orang dewasa.

2. Nilai baru dalam penerimaan sosial. Remaja menerima teman- teman

yang disenangi dan menolak yang tidak disenangi yaitu dimulai

dengan menggunakan standar yang sama dengan kelompoknya.

3. Nilai baru dalam memilih pemimpin. Remaja memilih pemimpin

yang berkemampuan tinggi yang akan dikagumi dan dihormati oleh

orang lain dan dapat menguntungkan mereka, bukan pada penilaian

fisik melainkan pada orang yang bersemangat, bergairah, penuh

inisiatif, bertanggung jawab, banyak ide, dan terbuka.

Jenis- jenis pengelompokkan sosial remaja antara lain:

1. Teman dekat atau sahabat karib;

2. Kelompok kecil, terdiri atas kelompok teman- teman dekat, biasanya terdri

atas jenis kelamin yang sama;

3. Kelompok besar, terdiri atas beberapa kelompok kecil dan kelompok teman

dekat, biasanya berhubungan dalam aktivitas khusus;

4. Kelompok yang terorganisasi, dibina oleh orang dewasa, dibentuk oleh

sekolah, organisasi masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan sosial para

remaja yang tidak mempunyai kelompok kecil atau kelompok besar;

16
5. Kelompok geng yang terdiri atas anak- anak yang memiliki minat utama

yang sejenis untuk menghadapi penolakan teman- teman melalui perilaku

antisosial. Pengaruh geng cenderung meningkat selama masa remaja.

D. Perkembangan Emosi

Ciri- ciri perkembangan emosi pada tahap ini antara lain sebagai berikut.

1. Emosi lebih mudah bergejolak dan biasanya diekspresikan secara meledak-

ledak.

2. Kondisi emosional biasanya berlangsung cukup lama sampai pada akhirnya

ke keadaan semula, yaitu keadaan sebelum munculnya suatu keadaan

emosi.

3. Jenis- jenis emosi sudah lebih bervariasi (perbedaan antara emosi satu

dengan lainnya makin tipis) bahkan ada saatnya emosi bercampur baur

sehingga sulit dikenali oleh dirinya sendiri. Remaja juga sering bingung

dengan emosinya sendiri karena muncul emosi- emosi yang bertentangan

dalam suatu waktu, misalnya benci dan saying.

4. Mulai munculnya ketertarikan dengan lawan jenis yang melibatkan emosi

(sayang, cinta, cemburu, dan lainnya).

5. Remaja umumnya sangat peka terhadap cara orang lain memandang

mereka. Akibatnya remaja menjadi mudah tersinggung dan merasa malu.

Hal ini akan terkait dengan perkembangan konsep dirinya.

Faktor- faktor yang menyebabkan tingginya emosi antara lain sebagai berikut.

1. Fisik (kelenjar dan nutrisi)

2. Lingkungan dan sosial :

17
1. Penyesuaian terhadap lingkungan yang baru;

2. Tuntutan sosial untuk berperilaku yang lebih matang;

3. Aspirasi yang tidak realistis ( tidak sesuai dengan kondisi dan situasi

yang nyata);

4. Penyesuaian sosial terhadap teman sejenis dan lawan jenis;

5. Masalah- masalah di sekolah;

6. Masalah-masalah dengan tugas atau bidang pekerjaan;

E. Pengendalian Emosi

Pengendalian emosi bukan merupakan upaya menekan atau menghilangkan

emosi melainkan upaya belajar menghadapi situasi dengan rasional; belajar

mengenali emosi dan menghindari penafsiran yang berlebihan terhadap situasi; serta

belajar memberikan respons terhadap situasi tersebut dengan pikiran maupun emosi

tidak berlebihan yang proporsional sesuai dengan situasinya.

Ada tiga aturan yang harus diterapkan seseorang apabila menghindari beban

emosi.Pertama, seseorang harus menyadari dan mampu menyadari emosi yang

muncul dan sedang dicoba untuk dikendalikan. Kedua, menempatkan aspek mental

dan penilaian kognitif dari respons emosi tersebut untuk menguji kewajaran respons

tersebut terhadap realitanya. Ketiga, seseorang perlu belajar untuk mengemukakan

emosi positif dan negatif secara benar proporsional.

Tabel jenis emosi yang sering dihadapi oleh remaja

Ciri-ciri remaja mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan,

Bahagia sukses atau berhasil melakukan sesuatu sesuai yang diidamkan

atau terlepas dari tekanan kegelisahan.


Senang Ciri-ciri ada kedamaian, sesuai dengan apa yang diinginkan,

18
ada kecocokkan dengan selera.
keadaan emosi yang relative menyenangkan, keteduhan, rasa

Sayang ingin dimiliki/memiliki dan ada rasa tak ingin kehilangan, ada

rasa kepemilikan dan tanggung jawab.


Keadaan emosi yang relatif menyenangkan,menggetarkan diri

cinta untuk selalu melihat dekat, rasa rindu, rasa ingin

kontak/berhubungan/berkomunikasi. Kadang-kadang sifat bisa

berubah.
Emosi yang disebarkan perkembangan intelektual yang

Ingin tahu merangsang kebutuhan untuk mengetahui jawaban dari sesuatu

yang menggelisahkan. Pada remaja tumbuh rasa ingin tahu yang

besar terhadap perkembanganseksual diri dari lawan jenis.


Keadaan emosi, dimana seseorang mengalami dan menghadapi

Frustasi hambatan dalam pemenuhan keinginan dan kebutuhannya.

Frustasi menimbulkan rasa rendah diri, bersifat agresif fisik,

dan ucapan kasar.


Keadaan khawatir atau ketakutan yang diliputi rasa marah pada

Cemburu remaja muncul karena merasa diri tidak berarti, dirinya

digantikan oleh orang lain dan sangat pribadi.


Bentuk emosi yang ditujukan pada orang tertentu berkaitan

Iri hati dengan status, pemilikan benda, atau kemampuan tertentu dari

orang lain yang memiliki.


Merupakan perasaan galau, perasaan depresi yang tidak

Duka cita berat,tetapi mengganggu individu, keadaan ini terjadi bila

(grief) kehilangan sesuatu yang sangat bernilai bagi dirinya.


F. Kebahagiaan pada Masa Remaja

19
Ketidakbahagiaan remaja lebih disebabkan masalah pribadi dari pada

lingkungannya. Jika remaja berhasil mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dan

kepercayaan pada kemampuannya mengatasi permasalah tanpa bantuan orang

dewasa, maka kebahagiaan akan semakin meningkat dan meletakkan tujuan sesuai

dengan apa yang ia mampu capai. Selain itu juga meningkatkan kepercayaan diri

serta keberhasilan yang ia peroleh dari pengalamannya.

Faktor yang memengaruhi adalah sebagai berikut :

1. Tingkat kematangan.

Kondisi fisik yang lebih matang menyebabkan tuntutan sosial yang lebih besar

pada remaja untuk dapat mengendalikan ekspresi emosi yang wajar dan sesuai

norma lingkungannya.

2. Jenis kelamin.

Kebanyakan kultur memberlakukan tuntutan bahwa laki-laki lebih diizinkan

untuk mengekspresikan emosinya, kecuali takut dan sedih, dibandingkan

perempuan yang lebih dituntut untuk menekandan menahan perasaan emosi.

3. Kelas sosial atau budaya.

Terdapat beberapa budaya atau kelas sosial tertentu yang mengizinkan atau

tidak mengizinkan suatu ekspresi tertentu muncul.

G. Perkembangan Kognitif

Berdasarkan teori perkembangan kognitif piaget, kemampuan kognitif remaja

berada pada tahap formal operational. Remaja harus mampu mempertimbangkan

semua kemungkinan untuk menyelesaikan masalah dan mempertanggung

20
jawabkannya. Berkaitan dengan perkembangan kognitif, umumnya remaja

menampilkan tingkah laku sebagai berikut:

1. Kritis

Segala sesuatu harus rasional dan jelas, sehingga remaja cenderung

mempertanyakan kembali aturan-aturan yang diterimanya.

2. Rasa ingin tahu yang kuat.

Perkembangan intelektual pada remaja merangsang adanya

kebutuhan/kegelisahan akan sesuatu yang harus diketahui/dipecahkan.

3. Jalan pikiran egosentris.

Berkaitan dengan menentang pendapat yang berbeda. Cara berpikir kritis

dan egosentris, menyebabkan remaja cenderung sulit menerima pola pikir

yang berbeda dengan pola pikirnya.

4. Imagery audience.

Remaja merasa selalu diperhatikan atau menjadi pusat perhatian orang lain

menyebakan remaja sangat terpengaruh oleh penampilan fisiknya dan

dapat mmengaruhi konsep dirinya.

5. Personal fablas.

Remaja merasa dirinya sangat unik dan berbed dengan orang lain.

Tercapainya tahap perkembangan ini ditandai dengan individu mampu :

21
1. Berpikir secara kontra-faktual (kontra-faktual), artinya dia menyadari

bahwa realitas dan pikiran tentang realitas bisa berbeda, juga bisa

memaknai suatu realitas sesuai kehendaknya

2. Realitas adalah kondisi nyatanya (objektif) sedangkan pikiran tentang

realitasnya adalah kondisi subjektif (persepsi).

H. Perkembangan Moral

Perubahan mendasar dalam moralitas remaja meliputi :

1. Pada masa remaja, mereka mulai “memberontak” dari nilai-nilai orangtua

dan orang dewasa lainnya serta mulai menentukan nilai-nilainya sendiri.

2. Pandangan moral remaja semakin lama semakin menjadi lebih abstrak dan

kurang nyata.

3. Keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar, bukan pada apa yang

salah.

4. Penilaian moral menjadi semakin kritis sehingga remaja lebih berani

menganalisis norma sosial dan norma pribadi, serta berani mengambil

keputusan berbagai masalah moral yang dihadapinya.

5. Penilaian moral menjadi kurang egosentris, tetapi lebih mengembangkan

norma berdasarkan nilai-nilai kelompok sosialnya.

6. Penilaian moral cenderung melibatkan beban emosi dan menimbulkan

ketegangan psikologis.

I. Perkembangan Konsep Diri (Kepribadian).

22
Konsep diri merupakan semua perasaan dan pemikiran seseorang mengenai

dirinya sendiri. Gambaran pribadi remaja terhadap dirinya meliputi penilaian diri dan

penilaian sosial.

Penilaian diri berisi pandangan dirinya terhadap hal-hal, antara lain :

1. Pengendalian keinginan dan dorongan-dorongan dalam diri.

2. Suasana hati yang sedang dihayati remaja.

3. Bayangan subjektif terhadap kondisi tubuhnya.

4. Merasa orang lain selalu mengamati/memperhatikan dirinya (kaitannya

dengan perkembangan kognitif).

Remaja memiliki harapan-harapan peran dan cita-cita ideal yang ingin dia

capai yang cenderung tidak realistis.

Ciri-ciri perkembangan konsep diri remaja antara lain terdiri atas :

1. Perubahan perkembangan fisik yang cukup drastic pada masa remaja,

kadang kadang tidak/kurang proposional.

2. Sangat terpengaruh oleh pandangan orang lain terhadap dirinya.

3. Memiliki aspirasi yang sangat tinggi tentang segala hal.

4. Memandang diri lebih rendah atau lebih tinggi dari pada kondisi

objektifnya.

5. Merasa selalu diperhatikan atau menjadi pusat perhatian.

J. Perkembangan heteroseksual.

Dalam perkembangan heteroseksual ini, remaja belajar memerankan peran

jenis kelamin yang diakui oleh lingkungannya. Remaja perempuan menemukan

adanya double standard , dimana remaja laki-laki boleh melakukan hal yang bagi

23
remaja perempuan sering sekali disalahkan. Kondisi pandangan budaya tertentu

mengenai peran jenis kelamin remaja mengakibatkan munculnya efek penggolongan

dalam masyarakat, contohnya antara lain :

1. Remaja laki-laki memiliki perasaan lebih unggul yang relatif terus menetap dan

diharapkan dapat berperan sebagai pemimpin dalam kegiatan masyarakat.

2. Prasangka jenis kelamin melahirkan kecenderungan merendahkan prestasi

perempuan meskipun prestasi itu menyamai atau bahkan melebihi prestasi laki-

laki.

3. Perempuan mengalami perasaan takut untuk sukses karena didasarkan pada

anggapan bahwa keberhasilan akan mendapatkan dukungan sosial laki-laki dan

menjadi halangan yang besar dalam proses mencari pasangan hidup.

Beberapa ciri penting perkembangan heteroseksual remaja secara umum antara

lain:

1. Remaja mempelajari perilaku orang dewasa sesuai dengan jenis

kelaminnya untuk menarik perhatian lawan jenisnya.

2. Minat terhadap lawan jenis makin kuat disertai keinginan kuat untuk

memperoleh dukungan dari lawan jenis.

3. Minat terhadap kehidupan seksual.

4. Remaja mulai mencari informasi tentang kehidupan seksual orang dewasa,

bahkan juga muncul rasa ingin tahu dan keinginan bereksplorasi untuk

melakukannya.

24
5. Minat dalam keintiman secara fisik. Dengan adanya dorongan seksual dan

ketertarikkan terhadap lawan jenis, perilaku remaja mulai diarahkan untuk

menarik perhatian lawan jenis.

K. Masalah Umum Remaja

Berikut adalah masalah umum yang dialami remaja berkaitan dengan

tumbuhkembangnya.

1. Masalah yang berkaitan dengan lingkungan rumahnya seperti relasi

dengan anggota keluarga, disiplin, dan pertentangan dengan orang tua.

2. Masalah-masalah yang berkaitan dengan lingkungan sekolah.

3. Kondisi fisik (kesehatan atau latihan), penampilan (berat badan, ciri-ciri

daya tarik, bau badan, jerawat, kesesuaian dengan jenis kelamin).

4. Emosi (temperamen yang meledak ledak, suasana hati berubah ubah).

5. Penyesuaian sosial (minder, sulit bergaul, pacaran, penerimaan oleh

teman sebaya, peran pemimpin).

6. Masalah pekerjaan (pilihan pekerjaan, pengangguran).

7. Nilai-nilai (moral, penyalahgunaan obat-obatan, dan hubungan seksual).

8. Masalah yang berkaitan dengan hubungan lawan jenis (heteroseksual),

seperti putus pacar, proses pacaran, backstreet, sulit punya pacar, dan

lain-lain.

2.3 Menstruasi, Keputihan dan Masturbasi

2.3.1 Menstruasi

A. Pengertian

25
Menstruasi/haid adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi

secara berkala dipengaruhi oleh hormon reproduksi. Pada masnuia hal ini biasanya

terjadi setiap bulan antara usia pubertas dan monopause.

B. Fisiologi Menstruasi

1. Fase menstruasi

Pada fase ini, endometrium terlepas dari dinding uterus dengan disertai

pendarahan dan lapisan yang masih utuh hanya stratum basale. Rata-rata fase ini

berlangsung selama lima hari (rentang 3-6 hari). Pada awal fase menstruasi kadar

estrogen, progesteron, LH (Lutenizing Hormon) menurun atau pada kadar

terendahnya selama siklus dan kadar FSH (Folikel Stimulating Hormon) baru mulai

meningkat.

2. Fase proliferasi

Fase proliferasi merupakan periode pertumbuhan cepat yang berlangsung

sejak sekitar hari ke-5 sampai hari ke-14 dari siklus haid, misalnya hari ke-10 siklus

24 hari, hari ke-15 siklus 28 hari, hari ke-18 siklus 32 hari. Permukaan endometrium

secara lengkap kembali normal sekitar empat hari atau menjelang perdarahan

berhenti. Dalam fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal ± 3,5 mm atau sekitar

8-10 kali lipat dari semula, yang akan berakhir saat ovulasi. Fase proliferasi

tergantung pada stimulasi estrogen yang berasal dari folikel ovarium.

3. Fase sekresi/luteal

26
Fase sekresi berlangsung sejak hari ovulasi sampai sekitar tiga hari

sebelum periode menstruasi berikutnya.Pada akhir fase sekresi, endometrium

sekretorius yang matang dengan sempurna mencapai ketebalan seperti beludru yang

tebal dan halus.Endometrium menjadi kaya dengan darah dan sekresi kelenjar.

4. Fase iskemi/premenstrual

Implantasi atau nidasi ovum yang dibuahi terjadi sekitar 7 sampai 10 hari

setelah ovulasi.Apabila tidak terjadi pembuahan dan implantasi, korpus luteum yang

mensekresi estrogen dan progesteron menyusut. Seiring penyusutan kadar estrogen

dan progesteron yang cepat, arteri spiral menjadi spasme, sehingga suplai darah ke

endometrium fungsional terhenti dan terjadi nekrosis. Lapisan fungsional terpisah

dari lapisan basal dan perdarahan menstruasi dimulai.

C. Faktor Yang Mempengaruhi Menstruasi

Menurut Praworohardjo (1999), ada beberapa faktor yang memegang

peranan dalam siklus menstruasi antara lain:

1. Faktor hormon

Hormon-hormon yang mempengaruhi terjadinya haid pada seorang wanita

yaitu:

1. FSH (Follicle Stimulating Hormone) yang dikeluarkan oleh

Hipofise

2. Estrogen yang dihasilkan oleh ovarium

3. LH (Luteinizing Hormone) dihasilkan oleh Hipofise

27
4. Progesteron dihasilkan oleh ovarium

2. Faktor Enzim

Dalam fase proliferasi estrogen mempengaruhi tersimpannya enzim-enzim

hidrolitik dalam endometrium, serta merangsang pembentukan glikogen dan

asam-asam mukopolisakarida. Zat-zat yang terakhir ini ikut berperan dalam

pembangunan endometrium, khususnya dengan pembentukan stroma di

bagian bawahnya. Pada pertengahan fase luteal sintesis mukopolisakarida

terhenti, yang berakibat mempertinggi permeabilitas pembuluh-pembuluh

darah yang sudah berkembang sejak permulaan fase proliferasi. Dengan

demikian lebih banyak zat-zat makanan mengalir ke stroma endometrium

sebagai persiapan untuk implantasi ovum apabila terjadi kehamilan. Jika

kehamilan tidak terjadi, maka dengan menurunnya kadar progesterone, enzim-

enzim hidrolitik dilepaskan, karena itu timbul gangguan dalam metabolisme

endometrium yang mengakibatkan regresi endomentrium dan perdarahan.

3. Faktor vaskuler

Mulai fase proliferasi terjadi pembentukan sistem vaskularisasi dalam

lapisan fungsional endometrium. Pada pertumbuhan endometrium ikut

tumbuh pula arteri-arteri, vena-vena. Dengan regresi endometrium timbul

statis dalam vena serta saluran-saluran yang menghubungkannya dengan

arteri, dan akhirnya terjadi nekrosis dan perdarahan dengan pembentukan

hematom baik dari arteri maupun dari vena.

4. Faktor prostaglandin

28
Endometrium mengandung banyak prostaglandin E2 dan F2. dengan

desintegrasi endometrium, prostaglandin terlepas dan menyebabkan

berkontraksinya miometrium sebagai suatu faktor untuk membatasi

perdarahan pada haid.

D. Siklus Menstruasi

Permulaan sikluas menstruasi ditandai dengan luruhnya lapisan fungsional

stratum endometrium hingga lapisan dasar stratum; periode ini disebut dengan

menstruasi atau haid.Kelenjar hipofisis melepaskan FSH, yang mengawali

pertumbuhan folikel di ovarium dan pelepasan hormon (khususnya estrogen), dari

ovarium.Lapisan uterus mulai tumbuh kemabli.Sekitar pertengahan siklus (hari ke-

14), folikel ruptur karena pengaruh LH dari kelenjar hipofisis.Sekitar periode ini,

beberapa wanita dapat mengalami berbagai tingkatan nyeri abdomen, yang dikenal

dengan Mengalami berbagai tingkatan nyeri abdomen, yang dikenal dengan

mittelschmerz dan kondisi ini dapat menandakan berlangsungnya ovulasi dan

aktivitas tuba fallopi. Selain itu, suhu basal tubuh dapat sedikit menurun, yang diikuti

dengan peningkatan stabil hingga akhir siklus. Progesteron dilepaskan dari korpus

luteum, yang selanjutnya membentuk lapisan uterus. Apabila tidak terjadi kehamilan,

lapisan uterus meluruh dari sekitar hari ke-28 siklus menstruasi.perubahan lainnya

yang terjadi pada tubuh meliputi perrubahan payudara dan lebdir serviks. Pada paruh

pertama siklus, lendir serviks kental dan “tidak ramah” bagi sprema (lendir

spinnbaskiet). Setelah ovulasi, lendir tersebut menjadi encer dan lebih sesuai bagi

sperma (lendir ferning).

29
Apabila terjadi fertilisasi ovum, korpus luteum terstimulasi oleh hormon yang

dihasilkan oleh embrio yang tumbuh guna melepaskan hormon yang

mempertahankan lapisan uterus dan memelihara kehamilan, serta menekan ovulasi

sampai terbentuk cukup plasenta untuk mengambil alih fungsi tersebut. Saat proses

ini terjadi, korpus luteum berubah menjadi korpus albikans

E. Gangguan Menstruasi

Gangguan kesehatan atau ketidakseimbangan hormon indung telur

seringmenimbulkan masalah menstruasi (Indarti, 2004).Beberapa gangguan

menstruasi (Aryani, 2010) yaitu:

1. Konseptual Disfungsi Menstruasi

Konsep menstruasi secara umum adalah terjadinya gangguan dari pola

perdarahan menstruasi seperti menorraghia (perdarahan yang banyak dan lama),

oligomenorrhea (menstruasi yang jarang), polymenorrhea (menstruasi yang sering)

dan amenorrhea (tidak haid sama sekali). Disfungsi menstruasi ini berdasarkan

fungsi dari ovarium yang berhubungan dengan anovulasi dan gangguan fase

luteal.Disfungsi ovarium tersebut dapat menyebabkan gangguan pola menstruasi.

Lamanya menstruasi dapat dipengaruhi oleh keadaan dysmenorhea atau gejala lain

seperti sindrom premenstruasi. Gangguan perdarahan menstruasi dapat menimbulkan

risiko patologis apabila dihubungkan dengan banyaknya kehilangan darah,

mengganggu aktivitas sehari-hari, adanya indikasi, dan tanda-tanda kanker.

2. Gangguan Lamanya Siklus Menstruasi

30
Amenorrhea adalah tidak adanya menstruasi dengan kategori amenorrhea

primer jika pada wanita diusia 16 tahun belum mengalami menstruasi, sedangkan

amenorrhea sekunder adalah yang terjadi setelah menstruasi.Secara klinis, kriteria

amenorrhea adalah tidak adanya menstruasi selama enam bulan atau selama tiga kali

tidak menstruasi sepanjang siklus menstruasi sebelumnya.Berdasarkan penelitian,

kategori amenorrhea adalah apabila tidak ada menstruasi dalam rentang waktu 90

hari. Amenorrhea seringterjadi pada wanita yang sedang menyusui, tergantung

frekuensi menyusui dan status nutrisi dari wanita tersebut.

Oligomenorrhea adalah tidak adanya menstruasi untuk jarak interval yang

pendek atau tidak normalnya jarak waktunya yaitu jarak siklus menstruasi 35-90 hari.

Polymenorrhea adalah sering menstruasi yaitu jarak siklus menstruasi yang pendek

kurang dari 21 hari.Defek pada fase luteal adalah tidak adekuatnya sekresi atau kerja

dari hormon progesteron sehingga mengganggu proses siklus menstruasi di

endometrium. Defek pada fase luteal ini sering ditemukan pada wanita yang

mengalami infertilitas dan abortus spontan yang berulang.

3. Faktor Resiko

Penelitian mengenal faktor resiko dari variabilitas siklus menstruasi

adalah pengaruh dari berat badan, aktivitas fisik, proses ovulasi, dan adekuatnya

fungsi luteal.

1. Berat Badan

Berat badan dan perubahan berat badan mempengaruhi fungsi

menstruasi.Penurunan berat badan akut dan sedang menyebabkan

gangguanpada fungsi ovarium, tergantung derajat tekanan pada ovarium

31
dan lamanya penurunan berat badan.Kondisi patologis seperti berat badan

yang kurang/kurus dan anorexia nervosa yang menyebabkan penurunan

berat badanyang berat dapat menimbulkan amenorrhea.

2. Aktivitas Fisik

Tingkat aktivitas yang sedang dan berat dapat membatasi fungsi

menstruasi.Atlet wanita seperti pelari, senam balet memiliki resiko untuk

mengalami amenorrhea, anovulasi dan defek pada fase luteal. Aktivitas

fisikyang berat merangsang inhibisi Gonadotropin Releasing Hormon

(GnRH) danaktivitas gonadotropin sehingga menurunkan level dari serum

estrogen.

3. Stress

Stress menyebabkan perubahan sistematik pada tubuh, khususnya sistem

persarafan dalam hipotalamus melalui perubahan prolaktin atau

endogenous opiate yang dapat mempengaruhi evelasi kortisol basal dan

menurunkan hormone lutein (LH) yang menyebabkan amenorrhea

4. Diet

Diet dapat mempengaruhi fungsi menstruasi.Vegetarian berhubungan

dengan anovulasi, penurunan respons hormone pituitary, fase folikel

yangpendek, tidak normalnya siklus, menstruasi (kurang dari 10

kali/tahun).Diet rendah lemak berhubungan dengan panjangnya siklus

menstruasi dan periode perdarahan.Diet rendah kalori seperti daging merah

dan rendah lemak berhubungan dengan amenorrhea.

5. Gangguan Pendarahan

32
Gangguan Pendarahan terbagi menjadi tiga yaitu pendarahan yang

berlebihan dan pendarahan yang panjang, dan pendarahan yang sering.Dan

adanya kondisi patologi.Abnormal Uterin Bleeding (AUB) adalah suatu

keadaan yang menyebabkan gangguan pendarahan menstruasi. Secara

umum terdiri dari: (a) Menorraghia yaitu kondisi pendarahan yang terjadi

regular dalam interval yang normal, durasi dan aliran darah

berlebihan/banyak; (b)Metrorraghia, yaitu kondisi pendarahan dalam jarak

yang tidak teratur, durasi dan aliran darah berlebihan banyak; (c)

Polymenorrhea yaitu kondisi pendarahan dalam interval kurang dari 21 hari.

Dysfungsional Uterin Bleeding(DUB) adalah gangguan pendarahan dalam

siklus menstruasi yang tidak berhubungan dengan kondisi patologis.DUB

meningkat selama proses transisi menopouse. Pendarahan yang berlebihan

merupakan sebagai suatu kondisikehilangan darah lebih dari 80 ml per

menstruasi.Faktor gangguan koagulan,endometriosis, fibroid, infeksi uterus,

dan ketidakseimbangan prostaglandin menyebabkan pendarahan yang

banyak.Pendarahan yang panjang didefinisikan sebagai suatu kondisi

pendarahan lebih dari 7-8 hari.

6. Dysmenorrhea

Pada saat menstruasi akan mengalami nyeri yang sifat dan tingkat

rasanyeri bervariasi, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Kondisi

tersebut dinamakan dysmenorrhea, yaitu keadaan nyeri yang hebat dan

dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.Dysmenorrhea merupakan

fenomena simptomatik meliputi nyeri abdomen, kram, dan sakit

33
punggung.Gejala gastrointestinal seperti mual dan diare dapat terjadi

sebagai gejala dari menstruasi.Dysmenorrhea terbagi atas dua macam: (a)

Nyeri haid primer merupakan timbul sejak haid pertama dan akan pulih

sendiri, tepatnya setelah stabilnya hormon tubuh atau perubahan posisi

rahim setelah menikah dan melahirkan. Nyeri haid itu normal, tetapi dapat

berlebihan jika dipengaruhi oleh faktor psikis, fisik, dan seperti stress, syok,

penyempitan pembuluh darah,penyakit yang menahun, kurang darah, dan

kondisi tubuh yang menurun.

Gejala tersebut tidak membahayakan kesehatan; (b) Nyeri haid sekunde

radalah ada penyakit atau kelainan yang menetap seperti infeksi rahim,

kistaatau polip, tumor sekitar kandungan, serta kelainan kedudukan rahim

yang mengganggu organ dan jaringan disekitarnya

F. Fungsi Menstruasi

1. Menyeimbangkan hormon. Saat menstruasi terjadi, sering kali timbul

jerawat, atau muncul rasa malas, tapi itu adalah hal yang normal. Setelah

menstruasi selesai, dan hormon sudah seimbang lagi, biasanya wajah

akan lebih cerah, lebih percaya diri, dan bisa lebih aktif kembali.

2. Membersihkan tubuh

Menstruasi itu agak mirip manfaatnya dengan donor darah:

membersihkan darah dan tubuh. Menstuasi itu bisa membersihkan area

reproduksi dari berbagai bakteri, serta mengeluarkan kelebihan zat besi

dari dalam tubuh.

3.2.2 Keputihan

34
A. Pengertian

Keputihan adalah cairan yang keluar dari vagina.Secara normal seorang

wanita mengeluarkan cairan dari vagina yang berasal dari transudat dinding vagina ,

lendir serviks, dan kelenjar bartholini dan skene.

B. Klasifikasi Keputihan

Ada dua jenis keputihan yaitu :

1. Keputihan Normal (Patologis)

Keputihan normal ciri-cirinya ialah : warnanya bening, kadang-kadang

putih, kental, tidak berbau, tanpa disertai keluhan (misalnya gatal,

nyeri, dan rasa terbakar), keluar pada saat menjelang dan sesudah

menstruasi atau pada saat stress dan kelelahan.

2. Keputihan Tidak Normal (Fisiologis).

Keputihan yang tidak normal ialah keputihan dengan ciri-ciri :

jumlahnya banyak, timbul terus-menerus, warnanya berubah

( misalnya kuning, hijau, abuabu, menyerupai susu/yogurt) disertai

adanya keluhan (seperti gatal, panas, nyeri, serta berbau).

Wanita yang tidak bisa membedakan keputihan normal dan keputihan

yang tidak normal tidak akan tahu dirinya mengidap penyakit atau tidak .

wanita yang beranggapan keputihan fisiologis adalah keputihan patologis

akan membuat wanita tersebut merasa tidak nyaman dan merasa cemas

dirinya menderita suatu penyakit kelamin, an jika wanita beranggapan

keputihan patologis akan membuat wanita tersebut mengabaikan keputihan

35
yang dideritanya sehingga penyakit yang diderita bisa semakin parah yaitu

terjadinya infeksi dari bakteri, virus, jamur, atau juga parasit yang bisa

menyebabkan terjadinya kasus infeksi menular seksual.

C. Mimpi basah

Mimpi basah atau emisi nokturnal (bahasa Inggris: nocturnal orgasm)

adalah pengeluaran cairan semen di saat tidur yang hanya dialami oleh laki-laki.

Mimpi basah sering dialami oleh remaja laki-laki yang sebagai menjadi tanda bahwa

ia telah memasuki masa pubertas. Hal ini bisa dipicu mimpi yang erotis maupun

tidak, tergantung dari yang mengalami mimpi itu sendiri (khususnya bila ia seorang

pria dewasa). Pengeluaran ini dapat terjadi tanpa disertai ereksi atau ejakulasi.

Semakin bertambahnya umur maka mimpi basah ini semakin jarang dialami.

D. Masturbasi/Onani

Masturbasi adalah suatu kegiatan seksual yang sengaja dilakukan yang

disengaja dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh kepuasan seksualnya dengan

cara merangsang daerah vitalnya. Masturbasi merupakan suatu kebutuhan seksualitas

yang alami dan tidak berbahaya bagi yang melakunnya , dan merupakan cara yang

baik untuk mendapatkan kenikmatan seksual tanpa harus berhubungan badan.

Permasalahan yang sering terjadi yaitu kurangnya pengawasan orang tua terhadap

anaknya sehingga remaja yang kurang pengawasan tersebut bertindak semau mereka

salah satunya melakukan masturbasi.

36
2.4 Pemeliharaan Organ Reproduksi

2.4.1 Pemeliharaan Organ Reproduksi Pada Remaja Perempuan

1. Pembersihan Vagina

Membersihkan vagina dengan cara membasuh bagian di antara vulva (bibir

vagina) secara hati-hati menggunakan air bersih dan sabun yang lembut (mild) setiap

habis buang air kecil, buang air besar ataupun ketika mandi. Apabila anda alergi

dengan sabun yang lembut, anda bisa membasuhnya dengan air hangat.

Cara membasuh vagina yang benar adalah dari arah depan ke belakang , dan

jangan terbalik karena akan menyebabkan bakteri yang ada di sekitar anus terbawa

masuk ke vagina. Gunakanlah air bersih, lebih baik lagi air hangat, tetapi jangan

terlalu panas karena bisa menyebabkan kulit yang sensitif di daerah vagina melepuh

dan lecet.Setelah itu, sebelum memakai celana lagi, keringkan erlebih dahulu dengan

menggunakan handuk atau tisu yang tidak berparfum.

2. Mengganti celana dalam secara teratur

Celana dalam adalah hal penting yang harus diperhatikan dalam menjaga

kebersihan daerah kewanitaan.Oleh karena itu sangat dianjurkan bagi kaum wanita

untuk mengganti celana dalam 2x sehari di saat mandi.Apalagi, jika anda termasuk

wanita yang aktif dan mudah berkeringat.

Pada saat menstruasi gunakan pembalut dengan bahan yang lembut sehingga

dapat menyerap dengan baik dan tidak mengandung bahan yang bis membuat alergi

37
( misalnya parfum atau gel). Pembalut perlu diganti sekitar 4-5 kali dalam sehari

untuk menghindari pertumbuhan bakteri yang berkembang biak pada pembalut.

3. Selalu mencuci tangan sebelum menyentuh vagina

Mencuci tangan sebelum menyentuh vagina penting untuk dilakukan agar

mencegah masuknya kuman masuk ke dalam vagina.

4. Memilih celana dalam

Selalu gunakan celana dalam yang bersih dan terbuat dari bahan katun.

Bahan lain, seperti nylon dan polyester akan emmbuat gerah dan panas sehingga

vagina menjadi lembab sehingga memberikan kesempatan bagi bakteri dan jamur

untuk berkembang biak.

5. Handuk/washlap

Hindari juga menggunakan handuk atau washlap milik orang lain untuk

mengeringkan vagina anda.

6. Mencukur rambut kemaluan

Bagi wanita dianjurkan untuk mencukur sebagian dari rambut kemaluan

untuk menghindari kelembaban yang berlebihan di daerah vagina.

Selain melakukan perawatan daerah kewanitaan, pemeriksaan rutin oleh

dokter juga perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan secara menyeluruh dan agar

dokter mengetahui jika terdapat gangguan sehingga dapat segera ditangani.

2.4.2 Pemeliharaan Organ Reproduksi Pada Remaja Pria

Untuk mencegah penyakit pada organ kelamin, berikut adalah beberapa tips

untuk memelihara organ reproduksi pada pria :

1. Membersihkan organ kelamin secara teratur

38
Bersihkan organ kelamin setiap hari dengan menggunakan air

bersih.Untuk para pria, terutama yang tidak disunat, sebaiknya bersihkan bagian

dalam penutup kepala penis.Hal ini karena kotoran yang terdapat di dalam (smegma)

dapat memicu terjadinya kanker.Oleh karena itu, penis harus dibersihkan setiap hari.

Sebaliknya untuk pria yang telah disunat, pastikan penutup kepala penis

telah terbuka secara sempurna.Jika masih menempel maka itu sangat beresiko

menimbulkan penyakit.

2. Mencukur rambut kemaluan

Usahakan mencukur pendek rambut kemaluan secara berkala.Jangan

biarkan rambut kemaluan tetap panjang karena bisa menjadi tempat tumbuhnya

bakteri.Akn tetapi, jangan mencukur habis rambut kemaluan.Sebab, sebenarnya

rambut kemaluan juga memiliki bakteri flora normal yang berguna menjaga

kebersihan alat kelamin.

3. Gantilah celana dalam minimal dua kali sehari

Sebagaimana halnya wanita, celana dalam pria hendaknya diganti

minimal dua kali sehari.Hal ini karena celana dalam sangat riskan untuk tumbuh

kembangnya bakteri yang merugikan apabila dalm kondisi kotor ataupun lembab

akibat keringat.Oleh karena itu, mengganti celana dalam secara teratur (minimal dua

kali sehari) dapat mencegah berkembangnya bakteri.

4. Hindari sinar elektromagnetik

Hindarkan organ kelamin dari paparan cairan berbahaya ataupun

gelombang elektromagnet kuat, seperti sinar x. Khusus untuk pria, usahakan

menghindari penggunaan celana ketat ataupun menempelkan sesuatu yang

39
hangat/panas, misalnya laptop ai atas paha ataupun pada kelamin, karena hal ini akan

berpengaruh pada sistem reproduksi sel-sel kelamin yang bisa mengakibatkan

kemandulan.

2.5 Seksualitas Remaja

2.5.1 Pengertian seksualitas

Seks berarti jenis kelamin. Segala sesuatu yang berhubungan dengan jenis

kelamin disebut dengan seksualitas. Menurut Masters, Johnson, dan Kolodny (1992),

seksualitas menyangkut berbagai dimensi yang sangat luas, diantaranya adalah

dimensi biologis, psikologis, social, dan kultural.

A. Dimensi Biologis

Berdasarkan perspektif biologis (fisik), seksualitas berkaitan dengan

anatomi dan fungsional alat reproduksi atau alat kelamin manusia, serta dampaknya

bagi kehidupan fisik atau biologis manusia. Termasuk di dalamnya menjaga

kesehatannya dari gangguan seperti penyakit menular seksual, infeksi saluran

reproduksi (ISR), bagaimana memfungsikan seksualitas sebagai alat reproduksi

sekaligus alat rekreasi secara optimal, serta dinamika munculnya dorongan seksual

secara biologis.

B. Dimensi Psikologi

Berdasarkan dimensi ini, seksualitas berhubungan erat dengan bagaimana

manusia menjalani fungsi seksual sesuai dengan identitas jenis kelaminnya, dan

bagaimana dinamika aspek psikologis (kognisi, emosi, motivasi, perilaku) terhadap

seksualitas itu sendiri, serta bagaimana dampak psikologis dari keberfungsian

40
seksualitas dalam kehidupan manusia. Misalnya bagaimana seseorang berperilaku

sebagai seorang laki-laki atau perempuan, bagaimana seseorang mendapatkan

kepuasan psikologis dari perilaku yang dihubungkan dengan identitas peran jenis

kelamin, serta bagaimana perilaku seksualnya dan motif yang melatarbelakanginya.

C. Dimensi Sosial

Dimensi sosial melihat bagaimana seksualitas muncul dalam relasi

antarmanusia, bagaimana seseorang beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan

tuntutan peran dari lingkungan sosial, serta bagaimana sosialisasi peran dan fungsi

seksualitas dalam kehidupan manusia.

D. Dimensi Kultural dan Moral

Dimensi ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai budaya dan moral

mempunyai penilaian terhadap seksualitas yang berbeda dengan negara barat.

Seksualitas di negara-negara barat pada umumnya menjadi salah satu aspek

kehidupan yang terbuka dan menjadi hak asasi manusia. Berbeda halnya dengan

moralitas agama, misalnya menganggap bahwa seksualitas sepenuhnya adalah hak

Tuhan sehingga penggunaan dan pemanfaatannya harus dilandasi dengan norma-

norma agama yang sudah mengatur kehidupan seksualitas manusia secara lengkap.

1. Sensualitas.

Adalah kenikmatan yang merupakan bentuk interaksi antara pikiran dan

tubuh. Umumnya sensualitas melibatkan pancaindra (aroma, rasa,

penglihatan, pendengaran, sentuhan) dan otak (organ yang paling kuat

terkait dalam seks dalam fungsi fantasi, antisipasi, memori, atau

pengalaman).

41
2. Intimacy

Ikatan emosional atau kedekatan dalam relasi interpersonal. Biasanya

mengandung unsur-unsur kepercayaan, keterbukaan diri, kelekatan

dengan orang lain, kehangatan, kedekatan fisik, dan saling menghargai.

3. Identitas.

Peran jenis kelamin yang mengandung pesan-pesan gender perempuan

dan laki-laki dan mitos-mitos (feminimitas dan maskulinitas), serta

orientasi seksual. Hal ini juga menyangkut bagaimana seseorang

menghayati peran jenis kelamin sesuai dengan peran jenis kelaminnya.

4. Lingkaran Kehidupan (lifecycle).

Aspek biologis dari seksualitas yang terkait dengan anatomi dan

fisiologis organ seksual.

5. Eksploitasi (exploitation).

Unsur control dan manipulasi terhadap seksualitas, seperti: kekerasan

seksual, pornografi, pemerkosaan, dan pelecehan seksual.Sementara itu,

menurut Hidayat (1997), ruang lingkup seksualitas terbagi atas hal-hal

berikut.

2.5.2 Ruang Lingkup Seksualitas

A. Seksual Biologis

Komponen yang mengandung beberapa ciri dasar seks yang terlihat pada

individu yang bersangkutan (kromosom, hormone, serta ciri seks primer dan

sekunder). Ciri seks primer timbul sejak lahir, yaitu alat kelamin luar (genitalia

eksterna) dan alat kelamin dalam (genitalia interna) . ciri seks sekunder timbul saat

42
seseorang meningkat dewasa, misalnya timbul bulu-bulu badan di tempat tertentu

(ketiak, dada): berkembangnya payudara perempuan, dan perubahan suara laki-laki.

B. Identitas Seksual.

Identitas Seksual adalah konsep diri pada individu yang menyatakan dirinya

laki-laki atau perempuan. Identitas seksual dalam bentuknya banyak dipengaruhi oleh

lingkungan dan tokoh yang sangat penting (orang tua).

C. Identitas Gender.

Identitas Gender adalah penghayatan perasaan laki-lakian atau

keperempuanan yang dinyatakan dalam bentuk perilaku sebagai laki-laki atau

perempuan dalam lingkungan budayanya. Identitas budaya merupakan interaksi

antara factor fisik dan psikoseksual. Interaksi yang harmonis diantara kedua factor ini

akan menunjang perkembangan norma seorang perempuan atau laki-laki.

D. Perilaku Seksual.

Perilaku seksual yaitu orientasi seksual dari seorang individu yang

merupakan interaksi antara kedua unsur yang sulit dipisahkan, yaitu tingkah laku

seksual dan tingkah laku gender. Tingkah laku seksual didasari oleh dorongan seksual

untuk mencari dan memperoleh kepuasan seksual, yaitu orgasmus. Tingkah laku

gender adalah tingkah laku dengan konotasi maskulin atau feminim diluar tingkah

laku seksual. Perilaku seksual itu mulai tampak setelah anak menjadi remaja.

2.5.3 Tujuan seksualitas

A. Tujuan umum :Meningkatkan kesejahteraan kehidupan manusia.

B. Tujuan khusus :

1. Prokreasi (menciptakan atau meneruskan keturunan).

43
2. Rekreasi (memperoleh kenikmatan biologis/seksual).

2.5.4 Dimensi pribadi yang terkait dengan seksualitas

Berikut adalah tiga elemen dimensi pribadi yang terkait dengan seksualitas

1. Harga diri

Adalah konsep individu tentang dirinya yang menggambarkan

pemaknaan tentang diri serta seberapa jauh kepuasan yang didapatkannya

dari gambaran tentang diri tersebut.Sangat memengaruhi tingkah laku

seseorang.

2. Kemampuan berkomunikasi

Yaitu cara remaja mengekspresikan perasaan, keinginan, dan

pendapatnya tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan

seksualitasnya. Bila remaja mampu mengomunikasikannya dengan baik,

maka akan mempermudah dirinya dalam menanggulangi permasalahan

seksualitas yang dialami.

3. Kemampuan mengambil keputusan

Sepanjang kehidupan, banyak keputusan mengenai seksualitas yang harus

diambil, misalnya: perilaku seksual yang dipilih, memilih pasangan hidup,

dan perencanaan kehamilan.

2.5.5 Sikap Positif Terhadap Seksualitas

Tingkah laku yang menunjukan sikap positif terhadap seksualitas adalah

sebagai berikut :

1. Menempatkan seks sesuai dengan fungsi dan tujuan

2. Tidak menganggap seks itu jijik, tabu dan jorok

44
3. Tidak menjadikan candaan dan bahan obrolan murahan

4. Mengikuti norma atau aturan dalam menggunakannya

5. Membicarakan seks dalam konteks ilmiah atau belajar untuk memahami

diri dan orang lain, serta pemanfaatkan secara baik dan benar sesuai

dengan fungsi dan tujuan sakralnya.

2.5.6 Perkembangan Seksualitas Remaja

Sejak masa remaja, pada diri seorang anak terlihat adanya perubahan-

perubahn pada bentuk tubuh yang di sertai dengan perubahan struktur dan

fungsi.pematangan kelenjar pituitari berpengaruh pada proses pertumbuhan tubuh

sehingga remaja mendapatkan ciri-cirinya sebagai perempuan dewasa atau laki-laki

dewasa.

Masa remaja diawali oleh masa pubertas, yaitu masa terjadinya perubahan-

perubahan fisik (meliputi penampilan fisik seperti bentuk tubuh dan proporsi tubuh)

dan fungsi fisiologis (kematangan organ-organ seksual). Perubahan tubuh ini di

sertai dengan perkembangan bertahap dari karakteristik seksual primer dan

karakteristik seksual primer dan karakteristik seksual sekunder.

Karakteristik seksual primer mencakup perkembangan organ-organ

reproduksi,sedangkan karakteristik seksual sekunder mencakup perubahan dalam

bentuk tubuh sesuai dengan jenis kelamin, misalnya: pada remaja putri di tandai

dengan pembesaran buah dada dan pinggul, sedangkan pada remaja putra

mengalami pembesaran suara, tumbuh bulu dada, kaki, serta kumis.

Karakteristik seksual sekunder ini tidak berhubungan lansung dengan fungsi

45
reproduksi, tetapi perannya dalam kehidupan seksual tidak kalah pentingnya karena

berhubungan dengan sex appeal (daya tarik seksual).

Kematangan seksual pada remaja ini menyebabkan munculnya minat seksual

dan keingintahuan remaja tentang seksual.

A. Minat Dalam Permasalahan Yang Menyangkut Kehidupan Seksual

Remaja mulai ingin tahu tentang kehidupan seksual manusia. Intuk itu,

mereka mencari informasi mengenai seks, baik melalui buku, flim, atau

gambar-gambar lain yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Hal ini

dilakukan remaj karena kurang terjadinya komunikasi yang bersikap dialogis

antara remaja dengan orang dewasa, baik orang tuan maupun guru, mengenai

masalah seksual, dimna kebnyakan masyarakat masih menganggap tabu untuk

membicarakan masalah seksual dalam kehidupan sehari-hari.

B. Keterlibatan Aspek Emosi dan Sosial

Pada saat berkencanperubahan fisik dan fungsu fisiologis pada remaja,

menyebabkan daya tarik terhadap lawan jenis yang merupakan akibat

timbulnya dorongan-dorongan seksual. Misalnya, pada anak laki-laki

dorongan yang ada dalam dirinya terrealisasi dengan aktifitas mendekati

teman perempuaannya, hingga terjalin hubungan. Dalam berkencan, biasanya

para remaja melibatkan aspek emosi yang di ekspresikan dengan berbagai

cara, seperti bergandengan tangan, berciuman, memberikan tanda mata,

bunga, kepercayaan, dan sebagainya.

C. Minat Dalam Keintiman Secara Fisik

46
Dengan adanya dorongan-dorongan seksual dan rasa ketertarikan terhadap

lawan jenis kelaminya, perilaku remaja mulai di arahkan untuk menarik

perhatian lawan jenis kelaminya. Dalam rangka mencari pengetahuan

mengenai seks ada remaja yang melakukannya secara terbuka bahkan mulai

mencoba mengadakan eksperimen dalam kehidupan seksual. Misalnya dalam

berpacaran, mereka mengekspresikan perasaannya dalam bentuk-bentuk

perilaku yang menuntut keintiman secara fisik dengan pasangannya, seperti

berciuman, bercumbu, dan lain-lain.perkembangan minat seksual ini

menyebabkan masa remaja disebut juga dengan masa keaktifan seksual tinggi

yang merupakan masa ketika masalah seksual dan lawan jenis menjadi bahan

pembicaraan yang menarik dan di penuhi dengan rasa ingin tahu tentang

masalah seksual.

2.5.7 Tugas Perkembangan Seksualitas Remaja

A. Orientasi seksual

Orientasi seksual atau kecenderungan seksual adalah pola ketertarikan

seksualemosional, romantis, dan/atau seksual terhadap laki-laki, perempuan,

keduanya, tak satupun, atau jenis kelamin lain. American Psychological Association

menyebutkan bahwa istilah ini juga merujuk pada perasaan seseorang terhadap

"identitas pribadi dan sosial berdasarkan ketertarikan itu, perilaku

pengungkapannya, dan keanggotaan pada komunitas yang sama."

Heteroseksual rasa tertarik terhadap lawan jenis timbul dan sejalan dengan

berkembangnya minat terhadap aktivitas yang berhubungan dengan seks. Keadaan

47
ini ditandai oleh rasa ingin tahu yang kuat dan kehausan akan informasi yang

selanjutnya dapat berkembang kea rah tingkah laku seksual yang sesungguhnya.

B. Peran seks

Peran seks adalah menerima dan mengembangkan peran serta kemampuan

tertentu selaras dengan jenis kelaminnya, Bagi remaja laki-laki hal itu mungkin

tidak terlalu menjadi masalah.Namun, bagi remaja perempuan bermacam revolusi

dan perubahan pandangan atau nilai terhadap peran perempuan yang berlangsung

terus menerus sampai saat ini dapat menimbulkan masalah tertentu. Perubahan-

perubahan nilai dan norma tentang seks yang terjadi saat ini dapat menimbulkan

berbagai persoalan bagi remaja (pelacuran, penyakit kelamin menular,

penyimpangan seksual, kehamilan diluar nikah, dan sebagainya).

2.5.8 Perilaku Seksual Remaja

A. Pengertian

Seksualits merupakan bagian dari kehidupan manusia, baik pria maupun

perempuan. Seperti tubuh dan jiwa yang berkembang, seksualitas juga berkembang

sejak masa anak-anak, remaja, sampai dewasa. Seksualitas diekspresikan dalam

bentuk perilaku seksual, yang di dalamnya tercakup fungsi seksual.

B. Cara yang biasa di lakukan orang untuk menyalurkan dorongan

seksual

Setiap manusia normal mempunyai dan merasakan adanya dorongan

seksual atau yang lebih populer di sebut sebagai gairah seksual. Dorongan seksual

adalah suatu bentuk keinginan yang bersifat erotik yang mendorong seseorang untuk

48
melakukan aktivitas seksual sampai kepada hubungan seksual.

Dorongan seksual di pengaruhi oleh beberapa faktor, seperti :

1. Hormon seks, khususnya testosteron. Peranan hormon ini mulai aktif pada

masa remaja.

2. Rangsangan seksual yang di terima

3. Keadaan kesehatan tubuh secara umum

4. Faktor psikososial

5. Pengalaman seksual sebelumnya

Faktor yang mempengaruhi perilaku seksual

1. Dorongan seksual

2. Keadaan kesehatan tubuh

3. Psikis

4. Pengetahuan seksual

5. Pengalaman seksual sebelumnya

2.6 Penyimpangan Perilaku Seksual

A. Pengertian

Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk

mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya. Biasanya, cara yang

digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak wajar.

Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan, seperti

pengalaman sewaktu kecil, dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetik.

B. Jenis-Jenis Gangguan Seksual

49
1. Gangguan Identitas Diri : Transeksualisme

Transeksualisme adalah suatu kelainan identitas jenis kelamin yang nyata.

Gangguan itu adalah keinginan untuk memiliki jenis kelamin yang berlawanan

dengan kenyataan (wanita ingin menjadi pria, pria ingin menjadi wanita); atau

keyakinan bahwa seseorang telah masuk ke dalam sebuah tubuh dengan jenis kelamin

yang salah. Minat seksual kaum transeksual ini biasanya adalah yang sejenis kelamin

(homoseksual, walaupun mereka tidak mau disebut sebagai homoseks), tetapi juga

yang melaporkan pernah mengalami hubungan heteroseksual dan beberapa di antara

mereka dilaporkan aseksual (tidak berminat pada seks).

2. Gangguan identitas jenis masa kanak-kanak

Walaupun transeksualisme biasanya mulai timbul sejak masa kanak-kanak,

akan tetapi ada gangguan jenis yang hanya terjadi pada masa kanak-kanak saja.

3. Gangguan identitas jenis tidak khas

Yaitu tidak sepenuhnya menunjukkan tanda-tanda transeksualisme, akan

tetapi ada perasaan-perasaan tertentu yang menolak struktur anatomi dirinya seperti

merasa tidak mempunyai vagina atau vagina yang akan tumbuh menjadi penis (pada

wanita), atau merasa tidak punya penis atau jijik pada penisnya sendiri (pada pria).

4. Parafilia (Devisiasi seksual)

Adalah gangguan seksual karena pada penderita seringkali menghayalkan

perbuatan seksual yang tidak lazim, sehingga khayalan tersebut menjadi kekuatan

yang mendorong penderita untuk mencoba dan melakukan aktivitas yang

dikhayalkannya.

50
5. Disfungsi Psikoseksual

Adanya hambatan pada selera/minat seksual atau terdapat hambatan pada

perubahan psikofisiologik, yang biasanya terjadi pada orang yang sedang bergairah

seksual. Misalnya hambatan selera seksual, hambatan gairah seks (Impoten, dan

firgiditas), hambatan orgasme, ejakulasi prematur, dispareunia fungsional,

vaginismus fungsional.

6. Homoseksual

Terminologi/definisi homoseksual tidak hanya diberlakukan buat pria,

sebenarnya wanita yang hanya sharing terhadap sesamanya juga termasuk dalam

kategori homoseksual, tetapi di masyarakat umum istilah lesbianisme lebih dikenal

untuk wanita yang suka sama wanita. Padahal arti homo sendiri berarti sama, sejenis,

atau golongan. Berarti homoseksualadalah orang yang merasakan atau hanya

tertarik dengan jenis kelamin yang sama, kalau cewek seneng sama cewek, terus

cowok seneng sama cowok juga. Lesbianisme dalam batas-batas tertentu di anggap

sebagai deviasi seksual, misalnya yang dilakukan di asrama-asrama putri atau rumah

penjara, karena keadaan yang mendorong pelaku-pelakunya untuk berbuat demikia.

Dalam keadaan normal mereka tidak melakukannya lagi. Dan mereka dapat

dimasukkan ke dalam golongan lesbian pasif dan dapat terkait dalam pernikahan.

Namun demikian, banyak di antara mereka yang menunjukkan sikap dingin (frigid)

dalam hubungan heteroseksual (permpuan-lelaki). Lesbian yang aktif tidak akan

menikah, akan tetapi hanya pasangan yang sejenis kelaminnya saja.

2.7 Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja

51
2.7.1 Pengertian

Konseling kesehatan reproduksi remaja (KRR) adalah suatu proses konsultasi

dimana seorang konselor memberikan informasi yang berkaitan dengan kesehatan

reproduksi remaja.

2.7.2 Tujuan

Tujuan konseling KRR adalahuntuk membantu kliennya dengan menggali

kondisi dan permasalahan klien serta memberikan informasi dan fakta kepada

kliennya agar mereka memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengambil suatu

keputusan mengenai tindakan yang akan diambil. Muatan pendidikan yang

disarankan dalam materi pemberian konseling KRR antara lain: seksualitas, penyakit

menular seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS, dan napza.

2.7.3 Ciri-Ciri Suatu Konseling

1. Dilakukan secara berkesinambungan

2. Dilakukan dalam perjumpaan tatap muka

3. Perlu orang yang ahli dibidang konseling

4. Tujuannya memecahkan masalah klien

5. Klien akhirnya mampu memecahkan masalahnya sendiri

2.7.4 Hal-Hal yang Mempengaruhi Kualitas Konseling

A. Struktur

Struktur merupakan pemahaman bersama antara konselor dan konseli

mengenai karakteristik, kondisi, prosedur dan parameter konseling. Struktur

membantu untuk memperjelas hubungan antara konselor dan konseli, memberinya

52
arah, melindungi hak masing-masing, peran dan obligasi baik dari konselor maupun

konseli dan menjamin konseling sukses.

B. Inisiatif

Inisiatif dapat dilihat sebagai motivasi untuk berubah. Sebagian besar

konseli memang datang untuk konseling atas kemauaannya sendiri. Namun, dalam

konseling terdapat juga konseli yang enggan untuk konseling atas kemauan sendiri.

C. Kualitas Konseli

Karakteristik konseli yang dianggap akan mempermudah konseling adalah

konseli yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. Yakni Young, Atractive, Verbal,

Intelligent, Sussessful (YAVIS). Sedangkan konseli yang sulit untuk diajak konseling

cirinya yakni HOUND (Homely, Old, Unintellegent, Nonverbal, Disadvantaged).

Selain factor tersebut, factor yang memegang peranan penting adalah kesiapan

konseli untuk berubah. Karena dengan hal tersenut akan memudahkan jalannya

konseling.

D. Kualitas Konselor

Konselor yang berkualitas akan mendukung berhasilnya konseling. Ada

beberapa karakteristik yang harus dipenuhi konselor agar dapat membantu terjadinya

perubahan dalam diri konseli yang dihadapinya. Antara lain yakni konselor harus

memiliki kejujuran, self-awarenes, kongruensi, kemampuan untuk berkomunikasi dan

pengetahuan.

2.7.5 Prinsip Konseling

53
Kemampuan menolong orang lain digambarkan dalam sejumlah

keterampilan yang digunakan oleh seseorang sesuai dengan profesinya meliputi

(Hopsan,1978) :

a. Pengajaran

b. Nasehat dan bimbingan

c. Pengambilan tindakan langsung

d. Pengelolaan

e. Konseling

2.7.6 Tahapan Konseling (GATHER)

Gallen dan Leitenmaier (1987) memberikan suatu akronim yang dapat

dijadikan panduan bagi petugas klinik KB untuk melakukan konseling. Akronim

tersebut adalah GATHER yang merupakan singkatan dari “

G : Greet

Memberikan salam, memperkenalkan diri dan membuka komunikasi

A : Ask atau Assess

Menanyakan keluhan atau kebutuhan pasien dan menilai apakah keluhan /

keinginan yang disampaikan memang sesuai dengan kondisi yang dihadapi

T : Tell

Beritahu bahwa persoalan pokok yang dihadapi oleh pasien adalah seperti

yang tercermin dari hasil tukar informasi dan harus dicarikan uapaya

penyelesaian masalah tersebut.

H : Help

54
Bantu pasien untuk memahami masalah utamanya dan masalah itu yang

harus diselesaikan. Jelaskan beberapa cara yang dapat mmenyelesaikan

masalah tersebut, termasuk keuntungan dan keterbatasan dari masing-

masing cara tersebut. Minta pasien untuk memutuskan cara terbaiuk bagi

dirinya.

E : Explain

Jelaskan bahwa cara terpilih telah diberikan/dianjurkan dan hasil yang

diharapkan mungkin bisa segra terlihat atau diobservasi beberapa saat

hingga menampakkan hasil seperti yang diharapkan. Jelaskan pula siapa

dan dimana pertolongan lanjutan atau darurat dapat diperoleh.

R : Refer/Return visit

Rujuk bila fasilitas ini tidak dapat memberikan pelayanan yang sesuai atau

buat jadwal kunjungan ulang apabila pelayanan terpilih telah diberikan.

2.7.7 Teknik Konseling

1. Teknik/pendekatan authoritarian atau detective, dalam proses wawancara

konseling berpusat pada konselor

2. Teknik/pendekatan non-directive atau conseli centred, dalam pendekatan

ini konseli diberi kesempatan untuk memimpin wawancara dan memikul

sebagian besar dari tanggung jawab atas pemecahan masalahnya sendiri.

3. Teknik/pendekatan edetic

4. Dalam pendekatan edetic, konselor menggunakan cara yang dianggap baik

atau tepat, sesuai dengan konseling dan masalahnya.

2.7.8 Sikap Tubuh

55
Dalam membina hubungan baik terdapat sikap dan perilaku dasar yang

dibutuhkan dalam melakukan komunikasi dngean klien yaitu dapat menerapkan

SOLER. SOLER merupakan akronim dari :

S : Face your clients Squarely (menghadap ke klien) dan smile/ nod at

client (senyum/mengangguk ke klien)

O :Open and non-judgement facial expressions (ekspresi muka

menunjukkan sikap terbuka dan tidak menilai)

L : Lean towards client (tubuh condong ke klien)

E : Eye contact in a culturally-acceptable manner (kontak mata atau tatap

ata sesuai cara dan budaya setempat)

R : Relaxed and friendly manner (santai dan sikap bersahabat)

Intonasi dan volume suara dapat mencerminkan sikap hangat/tidaknya

seseorang.Suara yang keras, menggebu-gebu, kurang menunjukkan kehangatan

dibandingkan dengan volume dan intonasi suara yang lembut, tidak terlalu keras.

2.7.9 Kode etik

Bimo Walgito (1980) mengemukakan beberapa butir rumusan kode etik

bimbingan dan konseling sebagai berikut :

1. Membimbing atau pejabat lain yang memegang jabatan dalam bidang

bimbingan dan penyuluhan harus memegang teguh prinsip-prinsip

bimbingan dan konseling.

2. Pembimbing harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mencapai

hasil yang sebaik-baiknya, dengan membatasi diri pada keahliannya atau

wewenangnya.

56
3. Oleh karena pekerjaan pembimbing langsung dengan kehidupan pribadi

orang seperti telah dikemukakan di atas maka seorang pembimbing

harus:

1. Dapat memegang atau menyimpan rahasia klien dengan sebaik-

baiknya

2. Menunjukkan sikap hormat kepada klien.

3. Menunjukkan penghargaan yang sama kepada bermacam-macam

klien.

4. Pembimbing tidak diperkenankan :

1. Menggunakan tenaga-tenaga pembantu yang tidak ahli atau

tidak terlatih.

2. Menggunakan alat-alat yang kurang dapat dipertanggung

jawabkan.

3. Mengambil tindakan-tindakan yang mungkin menimbulkan hal-

hal yangtidak baik bagi klien.

4. Mengalihkan klien kepada konselor lain, tanpa persetujuan klien

tersebut.

5. Meminta bantuan ahli dalam bidang lain di luar kemampuan

atau di luar keahliannya ataupun di luar keahlian stafnya yang

diperlukan dalam melaksanakan bimbiingan dan konseling.

6. Pembimbing harus selalu menyadari akan tanggung jawabnya

yang berat yang memerlukan pengabdian penuh.

57
Di samping rumusan tersebut, terdapat rumusan kode etik bimbingan dan

konseling yang dirumuskan oleh Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia, yang dikutip

oleh Syahril dan Riska Ahmad (1986) yaitu :

1. Pembimbing/konselor menghormati harkat pribadi, integritas dan

keyakinan klien.

2. Pembimbing/konselor menempatkan kepentingan klien di atas

kepentingan pribadi       pembimbing/konselor sendiri.

3. Pembimbng/konselor tidak membedakan klien atas dasar suku bangsa,

warna kulit, kepercayaan atau status sosial ekonominya.

4. Pembimbing/konselor dapat menguasai dirinya dalam arti kata berusaha

untuk mengerti kekurangan-kekurangannya dan prasangka-prasangka

yang ada pada dirinya yang dapat mengakibatkan rendahnya mutu

layanan yang akan diberikan serta merugikan klien.

5. Pembimbing/konselor mempunyai serta memperlihatkan sifat-sifat

rendah hati, sederhana, sabar, tertib, dan percaya pada paham hidup

sehat.

6. Pembimbing/konselor terbuka terhadap saran atau pandangan yang

diberikan padanya, dalam hubungannya dengan ketentuan-ketentuan

tingkah laku profesional sebagaimana dikemukakan dalam kode etik

bimbingan dan konseling.

7. Pembimbng/konselor memiliki sifat tanggung jawab baik terhadap

lembaga dan orang-orang yang dilayani, maupun terhadap profesinya.

8. Pembimbng/konselor mengusahakan mutu kerjanya setinggi mungkin.

58
9. Pembimbing/konselor menguasai pengetahuan dasar yang memadai

tentang hakikat dan tingkah laku orang, serta tentang teknik dan

prosedur layanan bimbingan guna dapat memberikan layanan dengan

sebaik-baiknya.

10. Seluruh catatan tentang klien merupakan informasi yang bersifat rahasia,

dan pembimbing menjaga kerahasiaan ini.

11. Sesuatu tes hanya boleh diberikan oleh petugas yang berwenang

menggunakan dan menafsirkan hasilnya.

12. Testing psikologi baru boleh diberikan dalam penanganan kasus dan

keperluan lain yang    membutuhkan data tentang sifat dan diri

kepribadian seperti taraf inteligensi, minat, bakat, dan kecenderungan-

kecenderungan dalam diri pribadi seseorang.

13. Data hasil tes psikologis harus diintegrasikan dengan informasi lainnya

yang diperoleh dari sumber lain, serta harus diperlakukan setaraf dengan

informasi lainnya itu.

14. Konselor memberikan orientasi yang tepat kepada klien mengenai alasan

digunakannya tes psikologi dan apa hubungannya dengan masalah yang

dihadapi klien.

15. Hasil tes psikologi harus diberitahukan kepada klien dengan disertai

alasan-alasan tentang kegiatan-kegiatannya dan hasil tersebut dapat

diberitahukan pada pihak lain, sejauh pihak yang diberitahukan itu ada

hubungannya dengan usaha bantuan pada klien dan tidak merugikan klien

sendiri.

59
2.7.10 Perbedaan Antara Konseling,Motivasi Dan Nasihat

A. Konseling

Konseling adalah terapi yang bertujuan untuk memberikan penyusunan

kembali kepribadian seseorang, termasuk usaha penyembuhan gangguan emosi,

gangguan penyesuaian diri di lingkungan,pencapaian terhadap aktualisasi diri,

reduksi rasa cemas dan penghapusan perilaku mal adaptif menuju pembelajaran

perilaku adaptif. Dalam kegiatan konseling klien diberikan kesempatan

mengeksplorasi dirinya yang merngarah pada peningkatan kesadaran dan

kemungkinan memilih. Dengan demikian fokus utama konseling adalah proses

kesadaran, masalah-masalah, berlangsung dalam jangka waktu yang singkat dan

membantu klien menyngkirkan hal-hal yang menghambat pertumbuhan pribadi.

Melalui konseling klien akan dibantu untuk menemukan solusi, keputusan, harapan-

harapan, dan perasaan agar bisa hidup lebih efektif. Dalam konseling pengambilan

keputusan merupakan tanggung jawab klien dan konseling harus berpijak dengan

kuat di dalam kerangka pemikiran klien.

B. Motivasi

Menurut Kamus Bahasa Indonesia Baku, motivasi adalah dorongan yang

timbul pada diri seseorang sadar atau tidak sadar untuk melakukan sesuatu tindakan

dengan tujuan tertentu.

C. Nasihat

Memberikan nasihat kepada klien merupakan bentuk kegiatan

pemberian informasi yang sudah biasa dilakukan oleh konselor.Klien selalu

60
menganggap konselor atau pembimbing sebagai seorang ahli.Para konselor pemula

sering kali menganggap tugas paling pokok adalah memberi nasihat.Memberi

nasihat merupakan suatu kebiasaan lama dalam membantu seseorang dan hal ini

merupakan kejadian yang wajar terjadi di antara orang-orang yang saling mengenal

dan saling percaya.Pemberi nasehat berperan seakan ia seorang “ahli” dan memikul

tanggung jawab lebih besar terhadap klien. Nasehat diberikan dalam kerangka

pemikiran si penolong.Pemberian nasehat lebih mengarahkan dan akibatnya

mengambil sebagian dari tanggung jawab klien

ASPEK MOTIVASI NASIHAT KONSELING


Tujuan Mengharap klien Mengharapkan Membantu klien agar

mau mengikuti klien mengikuti dpt menentukan

usul petugas usul petugas keinginannya             

(mengambil

keputusan)

Informasi Penekanan pada Penekanan pada Harus memberikan

yang hal  hal yang hal  hal yang baik informasi yang

diberikan baik atau buruk, sesuai lengkap dan benar.

dengan nasihat Serta  objektif dan

yang diberikan netral

Lebih banyak satu Harus dua arah

Arah Lebih banyak arah

komunikasi satu arah

Menerapkan Penerapan

61
Komunikasi Kurang komunikasi verbal komunikasi verbal

verbal dan menerapkan dan non verbal dan non verbal

non verbal komunikasi merupakan suatu hal

verbal dan non yang mutlak

verbal dilakukan.
2.7.11 Persiapan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja

Sebelum pertemuan konseling dilaksanakan, konselor melakukan

persiapan-persiapan sebagai berikut :

1. Menyiapkan diri baik secara mental psikologis agar konselor tidak

terpengaruh oleh emosi tau masalah pribadi yang dapat mengganggu

konsentrasi/proses konseling

2. Mengatur dan menata tempat konseling sesuai dengan persyaratan yaitu,

nyaman, tidak bising, aman, terjamin privacinya dan tenang.

3. Menyiapkan alat bantu agar mempermudah dalam memberikan penjelasan

tentang KRR, alat bantu dapat berupa Leaflet, lembar balik, alat peraga,

gambar , dan sebagainya.

2.7.12 Deskripsi Pemberian Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja Dalam

Kelompok

Konseling kelompok adalah proses bantuan yang diberikan oleh seorang

ahli kepada individu secara berkelompok yang membutuhkan baik dalam

penyelesaian masalah, pengembangan potensi maupun penyesuaian diri dengan

lingkungan. Konseling mencakup penggunaan teknik wawancara, tes dan studi

mengenai informasi latar belakang klien untuk sampai pada satu perencanaan

62
sistematis dari tujuan-tujuan pendidikan atau pengajaran kejuruan. Prosedur

konseling yang mendekati terapi, juga dapat dipakai oleh beberapa konselor.

Kelompok menunjuk pada gabungan dua pribadi atau lebih pribadi untuk

maksud-maksud sama atau minat-minat sama, menurut Lewis Loeser, memiliki

lima cirri pokok: pertama, interaksi dinamik diantara anggota; kedua, suatu tujuan

bersama; ketiga, hubungan antara ukuran (besar) dan fungsi; keempat, adanya

kemauan (volition) dan kesetujuan (consent); dan kelima, suatu kapasitas arah diri.

Konseling kelompok adalah bukan suatu himpunan individu-individu yang

karena satu atau lain alasan tergabung bersama, melainkan suatu satuan/ unit orang

yang mempunyai tujuan yang ingin dicapai bersama, berinteraksi dan

berkomunikasi secara intensif satu sama lain pada waktu berkumpul, saling

tergantung dalam proses bekerja sama, dan mendapatkan kepuasan pribadi dari

interaksi psikologis dengan seluruh anggota yang tergabung dalam satuan itu.

Dibedakan berdasarkan tugas kelompok, dalam rangka meningkatkan

kemampuan kelompok dalam berkomunikasi, maka dibedakan ke dalam dua

tujuan yang ingin dicapai yaitu sebagai berikut:

1. Tujuan yang ingin dicapai bersama dapat menyangkut sesuatu yang

tidak langsung berkaitan dengan kehidupan batin peserta/ anggota

kelompok, disebut kelompok tugas

2. Tujuan yang ingin dicapai juga dapat menyangkut sesuatu yang

langsung berkaitan dengan kehidupan batin anggota dalam

kelompok, disebut kelompok perkembangan.

63
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut

sistem, fungsi dan proses reproduksi remaja. Berbagai permasalahan kesehatan

reproduksi remaja antara lain: kehamilan tidak dikehendaki, kehamilan dan

persalinan usia muda, ketergantungan napza meningkatkan resiko penyakit menular

seksual (termasuk infeksi HIV/AIDS), dan resiko terkena penyakit menular seksual.

Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja, Pertumbuhan adalah perubahan

yang menyangkut segi kuantitatif yang ditandai dengan peningkatan dalam ukuraan

fisik dan dapat diukur sedangkan perkembangan adalah perubahan yang menyangkut

64
aspek kualitatif dan kuantitatif. Rangkaian perubahan dapat bersifat progresif, teratur,

berkesinambungan, serta akumulatif.

Masa remaja ialah periode waktu individual beralih dari fase anak ke fase

dewasa.Tugas-tugas perkembangan remaja terdiri dari  : Menerima keadaan dan

penampilan diri, serta menggunakan tubuhnya secara efektif, Belajar berperan sesuai

dengan jenis kelamin (sebagai laki-laki atau perempuan), Mencapai relasi yang baru

dan lebih matang dengan teman sebaya, baik sejenis maupun lawan jenis,

Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab, Mencapai

kemandirian secara emosional terhadap orang tua dan orang dewasa lainnya,

Mempersiapkan karir dan kemandirian secara ekonomi, Menyiapkan diri (fisik dan

psikis) dalam menghadapi perkawinan dan kehidupan keluarga, Mengembangkan

kemampuan dan keterampilan intelektual untuk hidup bermasyarakat dan untuk masa

depan (dalam bidang pendidikan atau pekerjaan),Mencapai nilai-nilai kedewasaan.

Menstruasi/haid adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara

berkala dipengaruhi oleh hormon reproduksi. Pada masnuia hal ini biasanya terjadi

setiap bulan antara usia pubertas dan monopause. Siklus menstruasi permulaan

sikluas menstruasi ditandai dengan luruhnya lapisan fungsional stratum endometrium

hingga lapisan dasar stratum; periode ini disebut dengan menstruasi atau

haid.Kelenjar hipofisis melepaskan FSH, yang mengawali pertumbuhan folikel di

ovarium dan pelepasan hormon (khususnya estrogen), dari ovarium.Lapisan uterus

mulai tumbuh kemabli.Sekitar pertengahan siklus (hari ke-14), folikel ruptur karena

pengaruh LH dari kelenjar hipofisis.Sekitar periode ini, beberapa wanita dapat

mengalami berbagai tingkatan nyeri abdomen, yang dikenal dengan Mengalami

65
berbagai tingkatan nyeri abdomen, yang dikenal dengan mittelschm’erz dan kondisi

ini dapat menandakan berlangsungnya ovulasi dan aktivitas tuba fallopi. Sedangkan

pada laki-laki di tandai dengan mimpi basah atau emisi nokturnal (bahasa Inggris:

nocturnal orgasm) adalah pengeluaran cairan semen di saat tidur yang hanya dialami

oleh laki-laki. Mimpi basah sering dialami oleh remaja laki-laki yang sebagai menjadi

tanda bahwa ia telah memasuki masa pubertas. Hal ini bisa dipicu mimpi yang erotis

maupun tidak, tergantung dari yang mengalami mimpi itu sendiri (khususnya bila ia

seorang pria dewasa).

Pemeliharaan organ reproduksi pada remaja khusunya pada remaja

perempuan yaitu : pembersihan vagina, mengganti celana dalam dengan teratur,

selalu mencuci tangan sebelum menyentuh vagina, memilih celana dalam, mencukur

rambut kemaluan. Sedangkan pemeliharaan organ reproduksi pada remaja pria yaitu :

Membersihkan organ kelamin secara teratur, Mencukur rambut kemaluan, Gantilah

celana dalam minimal dua kali sehari, Hindari sinar elektromagnetik.

3.2 Saran

Saran yang ingin kami sampaikan kepada para pembaca bahwa hal yang

paling penting bagi remaja yaitu memelihara kesehatan organ reproduksi remaja

mengingat pentingnya kesehatan. Di samping itu kita perlu mengingat pergaulan

remaja saat ini yang tidak terbatas sehingga pengetahuan tentang alat reproduksi

remaja sangat bermanfaat untuk mencegah dan menghindari terjadi hal-hal yang

merugikan remaja, mahasiswa diharapkan dapat melaksanakan program yang

66
mengajarkan perilaku sehat kepada para remaja.Pembaca diharapkan bisa memahami

pembahasan tentang kesehatan reproduksi remaja.

67
BAB IV

KLIPING

SIKLUS MENSTRUASI
Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia.
Dimana dapat dilihat adanya perubahan fisik
baik dari wanita maupun pria. Wanita atau pria
yang mengalami pubertas, dapat ditandai
dengan perubahan fisik pada diri mereka. Dari
segi fisik, pubertas pada perempuan diawali
dengan pembentukan payudara, antara usia 8
hingga 12 tahun. Perubahan kedua adalah
tumbuhnya rambut kemaluan, dan mengalami
menstruasi. Sedangkan pada laki-laki
pertumbuhan buah zakar disertai
perkembangan alat kelamin laki-laki dimulai
saat pubertas, pertumbuhan bulu pada
beberapa tempat seperti ketiak, dada, daerah
kemaluan. Pertumbuhan kumis dan jenggot
pun mulai terlihat. Terjadi perubahan postur
tubuh.

68
Keputihan ( Fluor Albus ) yaitu sekresi
vagina pada wanita. Keputihan pada
dasarnya dapatdigolongkan menjadi dua
golongan yaitu keputihan normal (fisiologis)
yaitu keputihan yang biasanya terjadi setiap
bulannya, biasanya muncul menjelang
menstruasi atau sesudah menstruasi ataupun
masa subur. Dan keputihan abnormal
(patologis) disebabkan oleh infeksi biasanya
disertai dengan rasa gatal di dalam vagina
dan di sekitar bibir vagina bagian luar. Yang
sering menimbulkan keputihan ini antara
lain bakteri, virus, jamur atau juga parasit.

Transeksualisme adalah suatu


kelainan identitas jenis kelamin yang
nyata. Gangguan itu adalah
keinginan untuk memiliki jenis
kelamin yang berlawanan dengan
kenyataan (wanita ingin menjadi
pria, pria ingin menjadi wanita); atau
keyakinan bahwa seseorang telah
masuk ke dalam sebuah tubuh
dengan jenis kelamin yang salah.

DAFTAR PUSTAKA

69
Kusmiran, Eni.2011. Kesehatan Reproduksi Remaja Wanita. Jakarta : Salemba

Medika

Suseno,Tutu A.dkk.2011. Kamus Kebidanan.Yogyakarta : Citra Pustaka

Holmes,Debbie.2012.Buku Ajar Ilmu Kebidanan.Jakarta : EGC

Aizid, Rizem.2012. Mengatasi Infertilitas (Kemandulan) Sejak Dini. Yogyakarta :

2012

Wulandari, Diah.2009. Komunikasi dan Konseling dalam Praktik Kebidanan.

Yogyakarta : Nuha Medika

Priyanto, Agus.2009. Komunikasi dan Konseling Aplikasi dalam Sarana Pelayanan

Kesehatan Untuk Perawat dan Bidan. Jakarta : Salemba Medika

Widyastuti, Yani.2010. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta : Fitramaya

Lubis, Namora Lumongga.2013. Psikologi Reproduksi Wanita & Perkembangan

Reproduksinya ditinjau dari Aspek Fisik dan Psikologi.Jakarta : Kencana

Prenada Media Group

Saifuddin,Abdul Bari.2009.Bunga Rampai Obstetri dan Ginekologi Sosial.Jakarta :

Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Tresnawati, Frisca. 2013. Asuhan Kebidanan Panduan Lengkap Menjadi Bidan

Profesional.Jakarta : Prestasi Pelajar Publisher

70