Anda di halaman 1dari 49

PRAKTIKUM FISIKA DASAR 2

PENDAHULUAN
PRAKTIKUM FISIKA DASAR 2 ADALAH PRAKTIKUM
YANG BERDASARKAN TEORI /MATERI YANG DIBAHAS
MATA KULIAH FISIKA DASAR 2
JENIS PRAKTIKUM
1. Pengukuran listrik
2. Jembatan Wheatstone
3. Listrik Magnet I
4. Listrik Magnet II
5. Cermin
6. Indeks bias
7. Lensa
8. Kuat Penerangan
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
I. Sebelum praktikum
1.1. Mahasiswa dibagi dalam kelompok-
kelompok. Setiap kelompok terdiri dari dua
orang, dengan memilih kawan kelompoknya
sendiri.
1.2. Setiap kelompok melakukan persiapan
praktikum sesuai dengan jadualnya masing-
masing
1.3. Mahasiswa praktikan ditugasi untuk membuat
perencanaan praktikum ( sesuai dengan gilirannya)
yang memuat
– tujuan praktikum
– teori yang menunjang
– alat dan bahan yang dibutuhkan beserta susunan alat
– Langkah kerja (singkat)
– rencana analisis data dan penentuan ketidakpastian (ktpn)
1.4. Rencana praktikum dikonsultasikan kepada dosen
(tes awal). Pada tahap ini, kelompok mahasiswa
berdiskusi dengan dosen tentang rencana yang
sudah disusun, sampai mendapatkan persetujuan
dari dosen.
1.5. Persetujuan dosen dinyatakan dengan
pembubuhan tanda tangan pada rencana
praktikum dan kartu kendali
II. Pelaksanaan Praktikum
2.1. Mahasiswa bon alat-alat yang dibutuhkan
pada Laboran, dengan menunjukkan Rencana
Praktikum dan Kartu Kendali yang sudah
ditanda tangani Dosen.
2.2. Mahasiswa melaksanakan praktikum dalam
waktu yang telah terjadwal.
2. 3. Mahasiswa membuat laporan sementara
secara individual
2.4. Data hasil praktikum (laporan sementara)
dikonsultasikan kepada dosen pembimbing
untuk mendapatkan persetujuan. Dosen
memberikan persetujuan dengan
membubuhkan tanda tangan pada laporan
sementara dan Kartu Kendali
LAPORAN SEMENTARA
• Laporan sementara berisi
a. Jenis praktikum
b. Nama praktikan beserta kelompoknya
c. Hari dan tanggal praktikum
d. Tujuan praktikum
e. Cara analisis. Misal : grafik/ rumus yang
digunakan
f. Cara menentukan ralat (ktpn). Misal : grafik/
rumus yang digunakan
III. LAPORAN PRAKTIKUM
Laporan praktikum harus sudah diserahkan, sebelum
mahasiswa mengajukan rencana praktikum
berikutnya.
Laporan praktikum berisi:
• A. Jenis praktikum (sebagai judul laporan).
Mahasiswa menuliskan jenis praktikum yang sudah
ditentukan sesuai dengan materi yang dibahas di
dalam perkuliahan.
• B. Tujuan praktikum. Mahasiswa menuliskan tujuan
praktikum yang bersifat inkuiri atau verifikasi.
C. Landasan Teori
- Mahasiswa menuliskan teori yang mendasari
kegiatan praktikum sesuai dengan jenis
praktikum dan tujuannya.
- Semua rumus yang digunakan harus
diturunkan atau disebutkan sumbernya.
- Penulisan landasan teori sampai dengan
variabel-variabel yang akan diukur/diamati
• D. Alat dan bahan. Mahasiswa menuliskan
alat dan bahan yang digunakan,
• E. Langkah kerja. Mahasiswa menuliskan
langkah kerja (singkat) beserta susunan atau
rangkaian alat pada percobaan yang
dilakukan,
• E. Analisis data. Mahasiswa menuliskan cara
analisis data, yang dapat berupa analisis grafik
dan atau perhitungan berdasarkan data yang
diperoleh dari percobaan.
• F. Hasil percobaan dan pembahasan, yang memuat :
penulisan hasil beserta ralatnya, dan pembahasan
yang berdasarkan pada analisis ketelitian percobaan
dan ketepatan hasil percobaannya, serta komentar
dan saran-saran perbaikan.
• G. Kesimpulan, merupakan kesimpulan hasil
percobaan.
• H. Daftar pustaka, dituliskan sumber-sumber yang
digunakan dalam penulisan laporan praktikum.
• I. Lampiran-lampiran yang memuat : data yang
sudah disetujui oleh dosen pembimbing dan
perhitungan ralat.
E. Analisis Data
• A. Untuk percobaan dengan data yang tidak
saling berkaitan.
Contoh : menentukan volume kotak dengan
persamaan
V= panjang x lebar x tinggi
data untuk : panjang, lebar dan tinggi tidak
saling berkaitan
Cara analiasis: dengan perhitungan
• Untuk menentukan ketidakpastian (ktpn) hasil akhir,
harus kita ingat ketidakpastian untuk tiap
pengukuran
• Pengukuran Tunggal
Pengukuran tunggal ialah pengukuran yang hanya
mungkin dilakukan satu kali saja, karena obyek
pengukuran tidak mungkin diulang. Contoh
mengukur kecepatan suatu kendaraan yang lewat di
depan kampus, mengukur lintasan komet Halley,
mengukur panjang suatu kawat yang berdiameter
kecil dan sebagainya.
• Ketidakpastian (Ktpn) pada pengukuran tunggal ini,
orang biasa mengambil kebijaksanaan sebagai
berikut :
x = 0,5 nst
2 3

• Kita catat : nst = 0,1 mA, sedangkan nilai arus


adalah lebih dari 2,6 mA, tetapi kurang dari
2.7 mA. Maka hasil pengukuran ditulis :
• I = (2,6  0,05) mA
2 3

• Karena jarak pisah antara dua goresan bertetangga


tampak jelas, dan jarum penunjuk cukup halus, hal
ini memberi alasan untuk menaksir ktpn kurang dari
0,5 nst, missal 1/3 nst atau 1/5 nst. Jadi penunjukkan
arus dapat ditulis:
I = (2,64  0,03) mA atau mungkin
I = (2,64  0,02) mA
• Pengukuran dengan alat ukur yang dilengkapi
nonius :
ktpn hasil pengukuran dinyatakan dengan ½
nst dengan nonius.
Pengukuran Berulang
• Pengukuran yang diulang beberapa kali saja
(3.1)

,
x1  x 2  x3
x
3

,
 1  x1  x  2  x2  x
 3  x3  x

Deviasi yang dipilih adalah deviasi yang


jmempunyai nillai terbesar
Pengukuran Yang Diulang Cukup Sering

x1  x2  ................  xn
x
n

 X 
2
X
x  i

N 1
Perambatan Ralat
• Dalam kenyataan, biasanya besaran yang akan
ditentukan tidak dapat diukur langsung, tetapi
harus dihitung dari besaran-besaran lain yang
dapat diukur langsung.
• Misal kita akan menentukan percepatan
gravitasi bumi di suatu tempat, dengan
menggunakan persamaan ayunan sederhana :
l 4 l 2
T  2 g 2
g T

• Jadi dengan mengukur panjang dari tali l dan


mengukur waktu ayun T, kita dapat
menentukan percepatan gravitasi g.
• Dengan demikian Ktpn dalam g ditentukan
oleh ktpn dalam l dan T.
Jika z =f(x,y)
1. Jika x dan y ditentukan dari nst, maka

z z
z  x  y
x x0 y0 y x0 y 0
2. Jika x dan y, keduanya berupa deviasi
standar, maka

2
 z   z 
2

z  S z      
2 2
x0 y0 Sx x0 y0 Sy
 x   y 
3. Jika x ditentukan dengan nst (berarti
diukur sekali saja) dan y merupakan
deviasi standar (diukur berulang),

2
 z   2   z 
2 2

z  S z    x0 y0  x     x0 y0 y 2
 x   3   y 
• B. Percobaan dengan data yang saling
berhubungan secara linier atau dapat
dilinierkan, maka analisis harus dengan metode
grafik.
• Contoh : akan menentukan konstanta pegas dengan
persamaan Hukum Hooke
F =kxs
mg = k x s
m : massa beban yang merupakan variabel
bebas
s : pertambahan panjang pegas, yang
merupakan variabel tergantung
Selanjutnya dapat ditulis
s = g/k m , persamaan ini sesuai dng
y=cx
yang merupakan persamaan linier, dengan c
adalah harga tangen sudut arah
Untuk menentukan k dapat dilakukan dengan
metode grafik
Tabel 4.1. Hasil pengukuran penambahan beban M dan
pertambahan panjang s
m S
(gram) (cm)
5 1,2
10 2,3
15 3,5
20 4,5
25 5,7
30 6,6
35 7,3
40 8,1
45 8,8
50 9,5
55 10,2
60 10,7
Grafik hubungan antara massa beban (gram) dengan
pertambahan panjang pada pegas (cm)

12

10

tan   g
8
k
S (cm)

k g
4
tan 
2

0
0 20 40 60 80
M (gram )
• Contoh lain :
Seseorang mengukur intensitas sumber sinar  yang
bertenaga tunggal (mono-energetic). Sumber sinar 
ini ditempatkan di belakang penyerap Pb dengan
tebal d. Ia mengukur intensitas pada bermacam-
macam tebal dan hasilnya dituliskan pada tabel .
Menurut teori hubungan antara Intensitas sumber
dengan intensitas setelah menembus logam
dinyatakan dengan

d
I  I oe
dengan Io = intensitas sebelum menembus logam dan  = konstanta
• d (tebal penyerap)merupakan variabel bebas,
dan I (intensitas) adalah variabel tergantung.
• Antara intensitas I dan tebal penyerap d tidak
ada hubungan linier, tetapi dapat dilierkan
dengan cara mengambil ln nya

Ln I = ln Io - d
Pers ini sesuai dengan pers
Y = A + cx pers linier
Tabel Hasil pengukuran intensitas pada berbagai tebal
penyerap
d (mm) I Ln I

5 500 6,21
10 360 5,87
15 289 5,66
20
205 5,32
25
140 4,91
30
35 120 4,78
40 85 4,44
45 65 3,81
50 45 3,40
30 1,48
Grafik hubungan ln I dengan d

6
5

4
ln I

2
1

0
0 20 40 60
d (mm)
Cara membuat grafik
• Sebelum kita membuat grafik, kita harus
membuat keputusan lebih dulu tentang
besaran mana yang akan dipasang pada
sumbu horisontal dan besaran mana yang
akan dipasang pada sumbu vertikal. Biasanya
sebab dipasang pada sumbu horisontal (x)
dan akibat atau efek dipasang pada sumbu
vertikal (y).
Ada beberapa saran untuk memilih skala:
• Untuk menghindarkan kesalahan, ambil
skala yang sederhana. Biasanya kita gunakan
satu centimeter pada kertas grafik untuk
satu, dua atau lima unit (atau kali 10n).
Jangan menggunakan skala lainnya selain
yang disebut ini.
• Jangan memasang titik-titik pengamatan
terlalu dekat satu sama lain. Karena kalau
titik-titik mengumpul, orang akan menjadi
sukar untuk mengambil kesimpulan yang
mengandung arti.
• Memilih skala sedemikian sehingga
kemiringan grafik berada antara 300 dan
600.
• Memberi tanda yang jelas untuk titik-titik
pengamatan, misalnya , + atau 
• Menggunakan tanda yang berlainan
(misalnya , + atau ) bila akan melukis
beberapa kurva dalam satu kertas grafik.
• Angka-angka yang tertulis pada sumbu harus
dipilih angka yang sederhana, misal 1, 2, 3
…..atau 10, 20, 30 ……dan seterusnya. Jangan
menuliskan 10.000, 20.000, 30.000…..atau
0,0001; 0,0002; 0,0003;……..dan seterusnya .
• Tarik garis grafik secara halus dan merata (atau garis
lurus) yang menerusi daerah titik-titik pengamatan,
jangan melukis garis patah-patah yang
menghubungkan tiap dua titik pengamatan yang
berturutan (bab IV)
• Grafik garis lurus yang diharapkan mempunyai
persamaan y = mx, jangan dipaksa ditarik melalui
titik nol, tetapi hendaknya ditarik garis lurus yang
paling cocok melalui daerah titik-titik pengamatan.
Dengan cara seperti ini memungkinkan mengungkap
satu atau lebih ralat sistematis. (bab IV)
7

Kemungkinan
5
disebabkan
karena
4
kesalahan
V (volt)

penunjukkan
3
nol pada
2
amperemeter
dan atau
1
voltmeter.

0
0 10 20 30 40
I (m A)
RALAT DALAM GRAFIK
• Dari titik-titik data yang ada, dapat dibuat tiga garis
lurus, yaitu g, g1 dan g2
• g dengan persamaan y=a+bx , adalah sebuah garis
lurus yang mewakili semua titik data, b adalah
tangen sudut arah garis g.
• g1 dengan persamaan y= a1+ b1x , adalah sebuah
garis lurus yang mewakili data yang ekstrim, b1
adalah tangen sudut arah garis g1
• g2 dengan persamaan y = a2 + b2x , adalah sebuah
garis lurus yang mewakili data ekstrim yang lain,
dengan b2 adalah tangen sudut arah garis g2
• Dari ketiga garis lurus tersebut dapat ditentukan
ketidakpastian b
b1  b1  b

b2  b2  b
b1  b2
b 
2
Penulisan hasil
• Sebagai contoh kita akan menuliskan hasil
pengukuran diameter uang logam
• D1 = (12  0,5) mm dan D2 = (12,0  0,08) mm.
Dengan menggunakan notasi eksponen kedua
bilangan itu dapat ditulis
• D1 = (1,2  0,05) x 10 mm atau
(1,2  0,05) x 10-2 m dan
• D2 = (1,20  0,008) x 10 mm atau
(1,20  0,008) x10-2 m
Penulisan angka berarti
• Ketidakpastian relatif sekitar 10%, 2 AB
• Ketidakpastian relatif sekitar 1%, 3 AB
• Ketidakpastian relatif sekitar 0,1%, 4 AB
Contoh
• Bilangan  = 3,141591. Tuliskan bilangan ini dengan
ktpn relatif sebesar a). 0,1%, b). 1%, c). 10%, d). 6%.
Penyelesaian
• a). Ktpn relatif 0,1% memberi hak atas 4 AB, jadi  =
(3,141  0,003)
• b). Ktpn relatif 1% menggunakan 3 AB, jadi
 = (3,14  0,03)
• c). Ktpn relatif 10% menggunakan 2 AB, jadi
 = (3,1  0,3)
• d). Ktpn relatif 6% menggunakan 2 AB, jadi
 = (3,1  0,2)
Add F: Pembahasan
a. Ketelitian
• (delta x /X) disebut ktpn relatif pada nilai X.
Ktpn relatif sering dinyatakan dengan %
(prosen)
• Ktpn relatif dikaitkan dengan ketelitian hasil
pengukuran. Makin kecil ktpn relatif makin
besar ketelitian yang tercapai pada
pengukuran yang bersangkutan.
• (delta x/X) maksimum berharga 10%
b. Ketepatan
-Ketepatan diuji dengan persamaan

-Ketepatan yang yang baik berharga > 90 %


c. komentar dan saran-saran perbaikan
IV. Ujian

Setelah semua praktikum seselai, diadakan


ujian, berupa tes tertulis/lesan/praktek.
Kartu Kendali Praktikum
Untuk mengontrol kegiatan mahasiswa dalam
praktikum, digunakan kartu kendali praktikum yang
memuat antara lain :
- Nama, NIM, Kelas, jadwal praktikum
- Jenis praktikum,
- tanggal konsultasi rencana praktikum
- tanggal pelaksanaan praktikum
- tanggal pengumpulan laporan
- tanggal ujuian
- nilai