Anda di halaman 1dari 5

Nama Kelompok 7

1. Jihaan Aripin 1182060055


2. Liya Nur Fatimah 1182060060
3. Lulu Hanifah 1182060062

METODE IJTIHAD: IJMA DAN QIYAS MAKALAH


1. Jika salah satu rukun ijma tidak terpenuhi apakah dapat dikatakan ijma? (M. Adam)
Jawab: bahwa ijma merupakan kesepakatan semua mujtahid muslim pada suatu masa
terhadap sebuah hukum syara’. keempat tersebut merupakan rukun-rukun yang disepakati
oleh para ulama. Adapun ijma’ yang dipertentangkan adalah ijma’ sukuti yaitu
kesepaatan yang didapat karena mujtahid lain tidak mengemukakan pendapatnya,
sehingga tidak diketahui apakah dimanya adalah tanda sepakat atau tidak. Adapun rukun
yang dikemukakan oleh Imam Ghazali lebih mengerucut pada dua hal; yaitu adanya para
mujtahid dan kesepakatan. Jadi bila salah satu rukun ada yg tidak terlaksana tetep
dikatakan ijma bila adanya kesepakatan dari para mujtahid. hal ini juga merupakan
perbincangan di kalangan ulama. Namun ijma ini masuk kenalan kategori Jima sukuti.
Kalangan Syafi'iyah dan Malikiyah mengganggap ijma ini tidak bisa dijadikan landasan
hukum, namun kalangan Hanafiyah dan Hanbaliah sah bila dijadikan hukum, contohnya
Diadakannya adzan dua kali dan iqomah untuk sholat jum’at, yang diprakarsai oleh
sahabat Utsman bin Affan r.a. pada masa kekhalifahan beliau. Para sahabat lainnya tidak
ada yang memprotes atau menolak ijma’ Beliau tersebut artinya parasa sahabat tidak
memberikan kesepakatannya, berarti ada salah satu rukun ijma' yang tidak dilakukan dan
diamnya para sahabat lainnya adalah tanda menerimanya mereka atas prakarsa tersebut.
Contoh tersebut merupakan ijma’ sukuti.
Menambahkan:
1) rukun itu adalah sesuatu yang wajib dilakukan, apabila tidak, tidak sah. Contoh nya
dalam sholat kita harus melaksanakan semua rukunnya, klo tidak harus diganti
dengan syujud syahwi. Ssma dengan rukun ijma juga jika ada salah satu rukun tidak
terlaksana maka belum dikatakan ijma (Lia Sania)
2) rukun dalam suatu hukum itu merupakan suatu kesuluruhan yang harus dilakukan jadi
tidak sah kalo ada salah satu yang tidak terlaksana (M. Ghilman)
3) Pertama, saat berlangsung kejadian yang memerlukan adanya ijma, terdapat sejumlah
orang yang berkualitas mujtahid. Karena kesepakatan tidak dapat terjadi kecuali
berdasarkan kesepakatan pndapat dari seluruh mujtahid. Jika pada suatu masa tidak
ada mujtahid sama sekali kecuali hanya satu maka ijma tidak bisa terlaksana secara
hukum. Karena itu tidak ada ijma pada zaman Rasul karena beliau satu-satunya
mujtahid pada saat itu. Kedua, semua mujtahid itu pada satu masa sepakat atas hukum
suatu masalah tanpa memandang negeri asal, suku dan kelompok tertentu. Jika pada
masa tersebut yang mencapai kesepakatan suatu hukum hanya ulama Haramain saja,
atau hanya ulama Irak saja, maka ijma’ tidak dapat disebut ijma’. Karena ijma hanya
tercapai dalam kesepakatan menyeluruh saja.Ketiga, kesepakatan itu tercapai setelah
terlebih dahulu masing-masing mujtahid mengemukanan pendapatnya sebagai hasil
dari usaha ijtihadnya, baik pendapat itu dikemukakan dalam bentuk ucapan dengan
mengeluarkan fatwa, atau dalam bentuk perbuatan dengan memutuskan hukum dalam
pengadilan dalam kedudukannya sebagai hakim. Penyampaian pendapat itu mungkin
dalam bentuk perseorangan yang kemudian ternyata hasilnya sama atau secara
bersama-sama dalam suatu majelis yang sesudah bertukar pikiran ternyata terdapat
kesamaan pendapat.Keempat, kesepakatan hukum dicapai dari hasil kesepakatan
pendapat para ulama secara keseluruhan. Seandainya ada sebagian dari ulama yang
tidak setuju dengan kesepakatan tersebut maka tidak bisa disebut sebagai ijma. Meski
para ulama yang berbeda pendapat itu sedikit dan yang setuju banyak. Karena ketika
terdapat perbedaan ulama maka ada kemungkinan terdapat kesalahan, sehingga pada
saat itu kesepakatan yang dicapai oleh mayoritas tidak bisa dijadikan sebagai dalil
syara yang pasti dan wajib.Faishal Ibn Dawud dalam al-‘Ijma’‘inda al-
Ushuliyyin menjeskan bahwa keempat tersebut merupakan rukun-rukun yang
disepakati oleh para ulama. Adapun ijma’ yang dipertentangkan adalah ijma’ sukuti
yaitu kesepaatan yang didapat karena mujtahid lain tidak mengemukakan
pendapatnya, sehingga tidak diketahui apakah dimanya adalah tanda sepakat atau
tidak. Adapun rukun yang dikemukakan oleh Imam Ghazali lebih mengerucut pada
dua hal; yaitu adanya para mujtahid dan kesepakatan (Mela Yayu).

2. Bagaimana bila dalam masalah ijtihad itu menurut keyakinan kita sendiri bahwa itu
menyimpang, apa yg harus kita lakukan apakah harus mengingkari apa tidak boleh?
(Mitha Amalia)
Jawab: Menurut kelompok kami kembali lagi kepada keyakinan masing2 karena kita
tidak bisa memaksakan kehendak satu sama lain, yakini apa yg kamu yakini tapi kamu
tidak berhak untuk mendoktrin orag lain untuk meyakininya begitupun sebaliknya.
Menambahkan :
1) 1. kita harus mengetahui dulu masalah islam saat itu, masalah apa itu? utk bleh
menyimpang atau harus patuh itu kembali lagi Kepada diri kita sendiri، apalgi jika
hukumnya belum di sepakati oleh seluruh ulama, itu kita boleh tdk mengikuti nya,
bukan berarti menyimpang yaa, 2. Jika ada Orang yg menyimpan dri ijma, itu tidak
boleh, Tetapi berbeda dengan suatu masalah mengenai islam dan hukumnya belum
disepakati oleh semua ulama maka masalah itu blum di lakukan ijma, sehingga kita
boleh menyimpannya atau tidak mengikuti nya. Menurut pemahaman saya karena.
tidak ada ijma’ yang bertentangan dengan dalil Alquran ataupun Sunnah. Jika
sekiranya didapatkan, maka kemungkinannya adalah dalil tersebut tidak sahih, atau
dalil tersebut salah difahami, atau dalil tersebut telah dihapus (Indah Siti)
2) Saya setuju dengan pendapat jihaan jika memang menurut keyakinan kita hukum
islam itu menyimpang. Kita cari tahu terlebih dahulu dalilnya atau bisa kita tanyakan
pada guru/ustadz/ustadzah yang kita yakini dan percaya bagaimana kebenaran akan
hukum tersebut. Jika memang sudah menemukan dalil atau jawabannya barulah kita
dapat memutuskan baik untuk diikuti atau tidak. (Istibsyara Eka Saputri Chaniago)
3. Ijma adalah kesepakatan, nah apakah dalam mengambil sebuah keputusan itu harus
berlandaskan dengan dalil? Jika kesepakatan yg dibuat tidak ada dalilnya apakah baik
saja untuk diikuti? (Indah Lutfiyatul 'Aeni)
Jawab: Dalam melakukan kesepakatan atau Ijma' tentulah harus didasarkan Oleh Dalil
misalnya Al-Qur'an, karena jika tidak didasarkan oleh dalil maka ijma' tersebut akan
dipertanyakan kebenarannya Mengingat semakin hari permasalahan fiqih ini semakin
sulit seiring dengan kemajuan jaman sehingga keterbatasan penjelasan hukum dari Al
Qur'an dan suunah butuh penjelasan ulang. Oleh karenanya ijma' ada yg berlandaskan Al
Qur'an dan hadits ada pula yg tidak. Yg tidak pun kita tidak perlu ragu untuk
mengikutinya karena yg namanya ijma' merupakan kesepakatan dari para Mujtahid.
Menambahkan:
1) Menurut saya Dalam mengambil sebuah keputusan/ijma' itu harus berlandaskan dalil
yaitu Al-Qur'an dan Sunnah. Dalam mengikuti ijma' kita harus mengetahui terlebih
dahulu dalilnya. Jika memang dirasa ijma' tidak berlandaskan dalil dan melenceng
dari Al-Qur'an dan sunnah sebaiknya tidak patut untuk diikuti. (Istibsyara Eka Saputri
Chaniago)
2) Ijma' merupakan konsensus dari para ulama Mujtahid, dan ijma' merupakan
manifestasi dari Al-Qur'an dan Sunnah, baik yg jelas terdapat dalam Alquran dan
hadits sehingga berfungsi untuk menjelaskan kandungan didalamnya, ataupun
memperkuat hukum yg dirasa lemah di dalamnya mengingat redaksi dalam Al
Qur'an ini mujmal. Ataupun hal yg tidak termuat di dalam Al-Qur'an. Oleh karena itu
diadakan kesepakatan antara para Mujtahid waktu dulu untuk menentukan hukum
pada sesuatu yg rancu ataupun tidak terdapat dalam Alquran dan sunnah. Mengingat
semakin hari permasalahan fiqih ini semakin sulit seiring dengan kemajuan jaman
sehingga keterbatasan penjelasan hukum dari Al Qur'an dan suunah butuh penjelasan
ulang. Oleh karenanya ijma' ada yg berlandaskan Al Qur'an dan hadits ada pula yg
tidak. Yg tidak pun kita tidak perlu ragu untuk mengikutinya karena yg namanya
ijma' merupakan kesepakatan dari para Mujtahid, dan kita tau sendiri bahwa menjadi
seorang Mujtahid itu ialah hal luar biasa sulit nya karena di batasi oleh persyaratan
tertentu ( M. Bahrul )
4. Mengapa kita masih butuh ijtihad yang dilakukan oleh manusia? Tidakkah cukup bagi
kita menggunakan petunjuk langsung dari Allah SWT? Allah SWT telah menurunkan
wahyu Al-Quran dengan ayat-ayat yang jelas, sebagaimana tertera pada (QS. Al-Hijr : 1)
Bukankah Al-Quran merupakan kitab yang sempurna, tidak ada satu pun yang tidak
terdapat di dalam Al-Quran? (Mela Yayu)
Jawab:
Menambahkan:
1) sebenarnya kita harus memahami hakikat dari ijtihad itu sendiri Karena pada
hakikatnya nya ijtihad itu dilakukan untuk memahami Alquran dan sunnah dan tidak
pernah dilakukan ijtihad tanpa berlandaskan kepada Alquran dan Sunnah kemudian di
dalam Alquran pun menjelaskan tentang perintah ijtihad yaitu pada Quran surat
azzumar ayat 42 dan Quran surat ar-rum ayat 24 Intinya manusia diberikan akal untuk
berpikir (Lia Amelia)
2) Mengapa dibutuhkan ijtihad menurut saya memang Al-Qur'an sudah menjadi kitab
suci yang sempurna tetapi Al-Qur'an itu bersifat umum atau mujmal tidak semua
orang dapat memahami makna yang terkandung dalam suatu ayat, terlebih bagi
masyarakat yg memiliki pemahaman agama yg rendah untuk lebih memperjelas
hukum tsb diadakanlah ijtihad yang dihasilkan dari diskusi para ulama untuk lebih
memperjelas suatu hukum dalam al-qur'an sehingga dapat diterima oleh masyakarat
(M. Ghilman)
3) menurut pendapat saya intinya kenapa ijtihad dibutuhkan, karena untuk memahami
makna isi al quran. seperti apa, contoh saja klo kita baca terjemahan alquran pasti ada
kata2 yg kurang paham/dimengerti, nah itulah fungsi ijtihad tdi untuk memahami
persepsi mengenai alquran agar tidak menyalahartikan tentang isi alquran. Melakukan
ijtihad adalah salah satu di antara sekian banyak perintah Allah dan Rasul-Nya
kepada umat Islam, bahkan di dalam Alquran Allah subhanahu Wa ta'ala pun
memerintahkan kepada kita untuk menggunakan akalnya. Jika ada kesalahan, mohon
dibenarkan (Gisty Annisa)
5. Disebutkan terdapat persyaratan yg sudah disepakati dan sebagian yg masih di
perdebatkan, persyaratan apakah yg masih diperdebatkan tersebut? Pada materi kriteria
mujtahid (Imelia Fitria)
Jawab: Jadi masih ada beberapa persyaratan untuk menjadi soerang mujtahid yang masih
menjadi perdebatan, misalnya dalam menentukan dalil tentang suatu kesehatan tentunya
membutuh seseorang yang memang ahli dalam bidangnya, jad ada salah satu syarat
seoarang mujtahid harus memiliki suatu keahlian dalam bidang atau sesuatu yang harus
didalami, namun syarat itu menjadi perdebatan.
6. Apa makna dari masing-masing istilah-ijtihad yang disebutkan dalam ppt? (Lia Amelia)
Jawab: taqlid adalah sebuah masa atau tindakan di mana ijtihad dilarang untuk
dilakukan. Dan pada masa ini lebih memberikan aspek legal-formal pada ulama-ulama
yang telah memberikan produk hukumnya masing-masing. ittiba’ adalah mengikuti atau
menuruti semua yang diperintahkan, yang dilarang, dan dibenarkan Rasulullah SAW.
Dengan kata lain ialah melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam sesuai dengan yang
dikerjakan Nabi Muhammad SAW. talfiq ialah mengambil atau mengikuti hukum dari
suatu peristiwa atau kejadian dengan mengambilnya dari berbagai macam
madzhab.Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di makalah hal9.
Menambahkan:
7. Saya pernah mendengar istilah Mujtahid mutlaq ( imam Maliki, imam Syafi'i, imam
Hanafi dan imam ahmad )dan Mujtahid fatwa, apa bedanya kedua istilah tersebut, serta
peran serta keduanya dalam ilmu fiqih, kemudian di makalah ada sekitar 10 Mujtahid yg
di sebutkan apa bedanya ke 4 Mujtahid mutlaq dengan Mujtahid lainnya. (M. Bahrul)
Jawab: Jadi perbedaan mujtahid mutlak dan fatwa yaitu mujtahid mutlak itu mereka
mampu membuat kaidah sendiri dalam membuat kesimpulan-kesimpulan hukum fiqih
jadi ketika mereka berfatwa terhadap suatu masalah mereka menggunakan kaidah-kaidah
yang diciptakan sendiri sebagai hasil dari pemahaman mereka yang mendalam terhadap
Alquran dan Sunnah, betul contohnya yaitu yang empat imam yang tadi Bahrul sebutkan.
sedangkan kalau mujtahid fatwa mereka itu merupakan para ulama yang memahami
pendapat madzhab serta menguasai segala penjelasan dan permasalahan dalam mazhab
sehingga mereka mampu menentukan mana pendapat yang paling kuat, agak kuat dan
yanglemah. namun mereka belum memiliki jangkauan dalam menentukan landasan khias
dari mazhab sendiri, Disini bisa difahami juga yaa apa yang membuat mujtahid mutlak
dan fatwa berbeda.
8. seperti yg kit tau, jumlah mujtahid cukup banyak Mujtahid,yang paling populer 10
Mujtahid yg sudah di catat dalam sejarah, Apa alasan yang melatar belakangi penyebab
Mujtahid yang lain tiddk bertahan? Kecuali 4 mujtahid yang kita kenal 4 Mazhab (Indah
Siti)
Jawab:
1) seorang Mujtahid itu adalah seseorang yang bisa kita sebut seseorang yang hafalan
nya kuat, ingatanya kuat, yang terpasti dekat dengan Allah dan jauh dari dosa.
Mungkin mereka tidak bertahan karena tidak kuat dalam pemikiran mereka untuk
melakukan ijtihad (Lia Sania)