Anda di halaman 1dari 28

LABORATORIUM KIMIA FARMASI

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK FARMASI

‘’ALKOHOL FENOL’’

OLEH :

NAMA : ADRIANA NUR FAS’YA


STAMBUK : 15020190195
KELAS : C9/C10
KELOMPOK : II
ASISTEN : LILIS ANDRIANI

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2020
ALKOHOL DAN FENOL

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Senyawa organik merupakan senyawa yang memiliki atom karbon


sebagai penyusun utamanya. Senyawa ini banyak terdapat pada makhluk
hidup. Beberapa jenis senyawa organik adalah alkohol dan fenol.
Alkohol merupakan salah satu jenis senyawa organik yang dapat diubah
menjadi berbagai senyawa lainnya. Alkohol memiliki ciri khusus yaitu adanya
gugus hidroksil (-OH) yang diikat oleh gugus alkil. Secara umum, alkohol
mempunyai rumus senyawa R-OH.
Fenol atau dikenal pula dengan nama asam karbolat merupakan senyawa
yang memiliki gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada cincin benzena. Rumus
kimia fenol adalah C5H6OH atau Ar-OH, dimana Ar merupakan gugus
aromatis.
Alkohol dan fenol merupakan senyawa organik yang memiliki struktur yang
serupa, keduanya mengandung gugus hidroksil (-OH). Tetapi alkohol dan
fenol memiliki perbedaan yang mendasar. Salah satu perbedaan yang paling
besar adalah fenol bersifat lebih asam dibandingkan dengan alkohol.
Alkohol dan fenol banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya
etanol dapat digunakan sebagai campuran minyak wangi, untuk sterilisasi
alat-alat kedokteran, pelarut, bahan baku untuk mensistesis senyawa lain, dan
sebagainya. Fenol sendiri berperan dalam pembuatan obat-obatan, seperti
bagian dari aspirin, parasetamol, morfin dan sebagainya. Meskipun alkohol
dan fenol memiliki banyak kegunaan bagi manusia, terdapat pula berbagai
bahaya-bahayanya. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan yang baik dalam
menggunakannya agar dapat menghindari efek negatif yang ditimbulkan.
Berdasarkan uraian tersebut maka dilakukanlah praktikum ini mengenai
alkohol dan etanol.

ADRIANA NUR FASYA LILIS ANDRIANI


15020190195
.
1.2 Maksud Praktikum
Adapun maksud dari pratikum ini adalah mempelajari
beberapa sifat fisika dan kimia dari alkohol dan fenol serta
membedakan antara alkohol primer,sekunder, dan tersier.

1.3 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan sifat
fisika dan kimia dari alcohol dan fenol serta menentukan alkohol primer,
sekunder dan tersier.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Umum

Karbon dapat membentuk lebih banyak senyawa dibandingkan unsur lain


sebab atom karbon tidak hanya dapat membentuk ikatan karbon-karbon
tunggal, rangkap dua dan rangkap tiga, tetapi juga bisa terkait satu sama lain
membentuk struktur rantai dan cincin. Penggolongan senyawa organik dapat
dibedakan menurut gugus fungsi yang dikandungnya. Dengan mempelajari
sifat-sifat khas beberapa gugus fungsi, dapat dipahami sifat-sifat dari banyak
senyawa organik seperti alkohol, eter, aldehida dan keton, asam karboksilat,
dan amina (Chang, 2005).
Alkohol adalah senyawa yang mempunyai gugus fungsi hidroksil yang
terikat pada atom karbon jenuh. Alkohol mempunyai rumus umum R-OH, di
mana R merupakan alkil, alkil tersubtitusi atau hidrokarbon siklik. Alkohol di
sini tidak termasuk fenol (gugus hidroksil berikatan dengan cincin aromatik),
enol (gugus hidroksil berikatan dengan karbon vinilik) karena sifatnya kadang
berbeda. Alkohol dapat dianggap sebagai turunan dari air (H-O-H), di mana
satu atom hidrogennya diganti dengan gugus alkil (Riswiyanto, 2009).
Alkohol memiliki gugus fungsi –OH yang melekat pada rantai alkil.
Alkohol yang paling sederhana adalah metanol (CH 3OH), yang dibuat dari gas
sintesis. Alkohol yang lebih tinggi berikutnya, etanol (CH 3CH2OH) dapat dibuat
dari fermentasi gula. Meskipun fermentasi merupakan sumber utama etanol
untuk minuman beralkohol dan untuk “gasohol” (bahan bakar mobil yang
terbuat dari 90% bensin dan 10% etanol), cara ini tidak banyak dimanfaatkan
dalam produksi skala industri (Oxtoby, 2003).
Berdasarkan letak gugus hidroksil (-OH), alkohol dibedakan atas (a)
alkohol primer, bila gugus –OH terikat pada atom C primer; (b) alkohol
sekunder, bila gugus –OH terikat pada atom C sekunder, dan (c) alkohol
tersier bila gugus –OH terikat pada atom C tersier (Sumardjo, 2009).

Beberapa alkohol yang mempunyai valensi lebih dari satu, mempunyai nama
trivial khusus, seperti 1,2-etanadiol, 2,3-dimetil-2,3-butanadiol, 1,2,3-
propanatriol berturut-turut mempunyai nama trivial glikol, pinakol dan gliserol
atau gliserin. Alkohol pentavalen yang merupakan hasil reduksi ribosa,
mempunyai nama trivial ribitol dan alkohol heksavalen yang merupakan hasil
reduksi glukosa mempunyai nama trivial glukitol (sorbitol) (Sumardjo, 2009).
Turunan alkohol terutama digunakan untuk:
1. Antiseptik pada pembedahan pada kulit, misalnya etanol dan isopropyl
alkohol.
2. Pengawet contohnya benzyl alkohol, fenitil alkohol dan klorbutano.
3. Mensterilkan udara dalam bentuk aerosol, contohnya etilen glikol,
propilen glikol dan trimetilen glikol (Anwar, 2008).

Fenol merupakan senyawa aromatik, yang struktur kimianya diturunkan


dari benzena jika satu atau lebih atom hidrogen yang terikat pada inti benzena
diganti dengan satu atau lebih gugus hidroksil. Jadi pada fenol, gugus
hidroksil terikat langsung pada inti benzena dan disebut gugus hidroksil
fenolik (Sumardjo, 2009).
Fenol merupakan asam lemah yang melepaskan proton dan
menghasilkan anion fenoksida. Fenol memiliki nilai pKa sekitar 10, yang
berarti satu juta kali lebih kecil keasamannya dibandingkan dengan asam
karboksilat, tapi satu juta kali lebih asam dibandingkan dengan alkohol
sederhana. Fenol juga merupakan asam yang lebih lemah dari asam karbonat
(H2CO3), yang berarti senyawa ini tidak bereaksi dengan natrium bikarbonat
(bandingkan dengan asam karboksilat) dan dapat diendapkan dari larutan
fenoksida melalui penjenuhan dengan karbon dioksida (Donald, 2009).
Fenol ialah senyawa yang gugus –OH-nya melekat langsung pada cincin
aromatik. Contoh yang paling sederhana ialah fenol itu sendiri (C 6H5OH).
Fenol berbeda dari alkohol dalam sifat fisis dan kimianya. Perbedaan yang
paling penting ialah keasamannya. Fenol (juga disebut asam karbolat)memiliki

tetapan ionisasi asam 1 x 10-10, jauh lebih besar daripada nilai Ka untuk
alkohol pada umumnya, yang berkisar dari 10 -16 sampai 10-18. Alasan
perbedaan ini ialah lebih tingginya kestabilan basa terkonjugasi (ion
fenoksida, C6H5O-) akibat muatan negatif yang tersebar di seluruh cincin
aromatik. Fenol, meskipun bukan asam kuat, mudah bereaksi dengan natrium
hidroksida untuk membentuk garam natrium fenoksida (Oxtoby, 2003).
Alkohol dan fenol memiliki sifat yang berbeda. Oleh karena itu, keduanya
tidak berada dalam kelas yang sama (Riswiyanto, 2009).
2.2 Uraian Bahan
1. Air Suling (Ditjen POM, 1979)
Nama Resmi : AQUA DESTILLATA
Nama Lain : Air Suling / aquadest
Rumus Molekul : H2O
Rumus Struktur : H – O – H
Pemerian : Cairan jernih, Tidak berwarna, Tidak berasa,
dan tidak berbau.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai pereaksi
2. Alkohol (Ditjen POM, 1979 ; 65)
Nama Resmi : AETHANOLUM
Nama Lain : Alkohol
Rumus Molekul : C2H6O
Rumus Struktur :

Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap,


dan mudah bergerak, bau khas dan rasa
panas.
Kelarutan : Hampir larut dalam larutan
Penyimpanan : Dalam wadah tertututp rapat
Kegunaan : Sebagai pengurang rasa sakit
3. Asam Asetat (Ditjen POM, 1979 ; 41)
Nama Resmi : ACIDUM ACETIUM
Nama Lain : Asam asetat
Rumus Molekul : CH3COOH
Rumus Struktur :
Pemerian : Cairan jernih, tak berwarna, bau busuk, rasa
asam tajam
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, etanol (95%)
dan gliserol
Penyimpanan : Dalam wadah tertutu rapat
Kegunaan : Sebagai zat tambahan
4. Cerri Ammonium Nitrat (Ditjen POM, 1979 ; 1270)
Nama resmi : CERRI AMMONIUM NITRAT
Nama lain : Garam Gitrat
Rumus Molekul : NH4NO3
Pemerian : Berbentuk Kristal putih
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air
Kegunaan : Sebagai pupuk
5. Etanol (Ditjen POM, 1979 ; 65)
Nama Resmi : AETHANOLUM
Nama Lain : Etanol
Rumus Molekul : C2H6O
Rumus Struktur : H H

H C C OH

H H
Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap,
mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah
terbakar dengan memberikan nyala biru yang
tidak berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air
Kegunaan : Sebagai zat tambahan
6. Ferri Klorida (Ditjen POM, 1979 ; 659)
Nama Resmi : FERRI CHLORIDA
Nama Lain : Besi (III) Klorida
Rumus Molekul : FeCl3
Rumus Struktur : Cl Cl
Fe
Cl
Pemerian : Hablur atau serbuk hablur, hitam kehijauan,
bebas warna jingga dari garam hidrat yang
telah berpengaruh oleh kelembapan
Kelarutan : Larut dalam air, berpotensi berwarna jingga
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai pereaksi
7. Fenol (Ditjen POM, 1979 ; 484)
Nama Resmi : PHENOLUM
Nama Lain : Fenol
Rumus Molekul : C6H5OH
Rumus Struktur :

Pemerian : Hablur bentuk jarum atau massa hablur, tidak.


Kelarutan : Larut dalam ½ bagian air, mudah larut dalam

etanol, dalam kloroform P, dalam eter P,


dalam gliserol P dan dalam minyak lemak.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari
cahaya, di tempat sejuk.
Kegunaan : Antiseptikum ekstern.
8. Natrium Bikarbonat (Ditjen POM, 1979 ;424)
Nama Resmi : NATRII SUBCARBONAS
Nama Lain : Natrium bikarbonat
Rumus Molekul : NaHCO3
Rumus Struktur :

Pemerian : Serbuk putih atau hablur monoklin kecil,


buram, tidak berbau, rasa asin.
Kelarutan : Larut dalam 11 bagian air, praktis tidak
larut dalam etanol (95%) P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai antasidum
9. Natrium Karbonat (Ditjen POM, 1979 ; 400)
Nama Resmi : NATRII CARBONAS
Nama Lain : Natrium karbonat
Rumus Molekul : Na2CO3
Rumus Struktur :

Pemerian : Hablur tidak berwarna


Kelarutan : Mudah larut dalam air, Lebih mudah larut
dalam air mendidih
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai zat tambahan
10. n-Heksana (Ditjen POM, 1979 ;
283) Nama Resmi : HEXAMINUM
Nama Lain : Heksamina
Rumus Molekul : C6H12N4
Pemerian : Hablur mengkilap, tidak berwarna atau
serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa
membakaran manis kemudian agak pahit.
Jika di panaskan dalam suhu ± 260⁰
menyublim.
Kelarutan : Larut dalam 1,5 bagian air, dalam 12,5 ml
Etanol ( 95 % ) P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Antiseptikum
11. Pereaksi Fehling A (Ditjen POM, 1979, h.692)
Nama resmi : FEHLING A
Kandungan : CuSO4.5H2O 34,63 gr, H2SO4 pekat 6,5 ml,
dan aquadest 500 ml
Pemerian : Cairan berwarna biru, tidak berbau
Kelarutan : Mudah larut dalam air
Kegunaan : Sebagai oksidator
Penyimpanan : Dalam botol coklat
12. Pereaksi Fehling B (Ditjen POM, 1979, h. 692)
Nama resmi : FEHLING B
Kandungan : K. Natertrat 176 gr, NaOH 77 gr, dan
aquadest 500 ml
Pemerian : Cairan tidak berwarna, tidak berbau
Kelarutan : Mudah larut dalam air
Kegunaan : Sebagai oksidator
Penyimpanan : Dalam botol coklat
2.3 Prosedur Kerja (Anonim, 2020)
1. Tes kelarutan alkohol dan fenol
a. Siapkan 2 buah tabung reaksi, yang bersih dan kering
b. Masing-masing tabung reaksi diisikan 0,5 ml air (tabung 1) dan
0,5 ml n-heksan (tabung 2)
c. Ke dalam tabung 1 dan 2 ditambahkan beberapa tetes methanol
d. Kocok dan perhatikan kelarutannya dan catat (hasil ada dirubrik)
e. Kerjakan hal yang sama (poin 1-4) untuk sampel 1-butanol dan
fenol
2. Tes keasam alkohol dan fenol
Reaksi dengan Na2CO3 dan NaHCO3
a. Siapkan 3 buah tabung reaksi
b. Masing-masing tabung reaksi diisikan dengan 1 ml methanol
(tabung 1), 1 ml fenol (tabung 2) dan 1 ml asam asetat (tabung
3)
c. Masing-masing tabung reaksi tersebut ditambahkan 0,5 ml
Na2CO3
d. Kocok dan biarkan beberapa menit sambil diamati, serta catat
apa yang terjadi (hasil ada dirubric)
e. Lakukan hal yang sama (pion 1-4) dengan menggunakan
NaHCO3
3. Identifikasi senyawa golongan alkohol dan fenol
a. Dengan pereaksi Diazo
Larutan zat dalam air ditambahkan 4 tetes pereaksi diazo A dan
1 pereaksi diazo B, lalu ditambahkan NaOH sampai alkalis,
kemudian dipanaskan diatas penangas air, hasil yang didapat,
jika senyawa alkohol (methanol), zat warna merah yang
terbentuk tidak tertarik oleh eter, sedangkan senyawa fenol,
senyawa merah yang terbentuk tertarik oleh eter.
b. Dengan pereaksi spesifik senyawa alkohol
- Cerri Ammonium Nitrat
1-2 ml alkohol (etanol) dalam air ditambahkan beberapa tetes
pereaksi tersebut, maka akan terjadi perubahan warna
menjadi warna merah.
- Reaksi esterifikasi
Senyawa alkohol (etanol) ditambahkan senyawa asam
karboksilat (asam asetat atau asam benzoate atau asam
salisilat atau lainnya) ditambahkan asam sulat pekat,
menghasilkan bau yang khas harum.
- Untuk alkohol polivalen
Dapat diidentifikasi dengan pereaksi Cuprifil, dengan cara : 1
ml senyawa alkohol (gliserol) ditambahkan 1 tetes larutan
cupri asetat dan ditambahkan 1 ml NaOH 2 N, kemudian
dikocok dan akan menghasilkan larutan berwarna biru tua
yang menunjukkan pembentukan senyawa kompleks.
c. Dengan pereaksi spesifik senyawa fenol
- Ferri Chlorida
2 ml senyawa fenol (fenol) ditambahkan beberapa tetes
pereaksi FeCl3, maka akan terjadi perubahan warna menjadi
gelap, seperti biru, hijau, ungu, merah, atau lainnya,
tergantung senyawa fenolnya
- Untuk fenol polivalen
Dapat diidentifikasi dengan pereaksi fehling, dengan cara : 1
ml senyawa fenol (kuersetin) ditambahkan 1 ml fehling A dan
1 ml fehling B, lalu ditambahkan NaOH sampai alkalis,
kemudian dikocok dan akan menghasilkan endapan merah
bata atau kuning
4. Membedakan alkohol primer, sekunder dan tersier
a. Siapkan 3 buah tabung
b. Masing-masing tabung diisikan 3 ml pereaksi Lucas, kemudian
ditambahkan masing-masing dengan 1 ml alkohol primer (1-
butanol), sekundel (2-butanol), tersier (tert-butanol)
c. Kocok dan amati serta catat apa yang terjadi dan waktu
terjadinya (hasil ada dirubrik)
BAB 3
METODE KERJA

3.1 Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu tabung
reaksi, rak tabung, pipet tetes, dan gelas ukur
3.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah
beberapa macam senyawa alkohol dan fenol, pereaksi Lucas, air, n-
heksan, NaHCO3, Na2CO3, dan CH3COOH, pereaksi Diazo, pereaksi
Fehling, Cerri Ammonium Nitrat, golongan asam karboksilat, pereaksi
Cuprifil, dan FeCl3
3.3 Cara Kerja
1. Tes kelarutan alkohol dan fenol
Disiapkan 2 buah tabung reaksi, yang bersih dan kering.
Masing-masing tabung reaksi diisikan 0,5 ml air (tabung 1) dan 0,5
ml n-heksan (tabung 2). Ke dalam tabung 1 dan 2 ditambahkan
beberapa tetes methanol. Dikocok dan perhatikan kelarutannya dan
catat (hasil ada dirubrik). Dikerjakan hal yang sama (poin 1-4) untuk
sampel 1-butanol dan fenol
2. Tes keasam alkohol dan fenol
Reaksi dengan Na2CO3 dan NaHCO3
Disiapkan 3 buah tabung reaksi. Masing-masing tabung reaksi
diisikan dengan 1 ml methanol (tabung 1), 1 ml fenol (tabung 2) dan
1 ml asam asetat (tabung 3). Masing-masing tabung reaksi tersebut
ditambahkan 0,5 ml Na2CO3. Dikocok dan biarkan beberapa menit
sambil diamati, serta dicatat apa yang terjadi (hasil ada dirubric).
Dilakukan hal yang sama (pion 1-4) dengan menggunakan NaHCO 3.
3. Identifikasi senyawa golongan alkohol dan fenol
a. Dengan pereaksi Diazo
Larutan zat dalam air ditambahkan 4 tetes pereaksi diazo A
dan 1 pereaksi diazo B, lalu ditambahkan NaOH sampai alkalis,
kemudian dipanaskan diatas penangas air, hasil yang didapat,
jika senyawa alkohol (methanol), zat warna merah yang
terbentuk tidak tertarik oleh eter, sedangkan senyawa fenol,
senyawa merah yang terbentuk tertarik oleh eter.
b. Dengan pereaksi spesifik senyawa alkohol
- Cerri Ammonium Nitrat
1-2 ml alkohol (etanol) dalam air ditambahkan beberapa
tetes pereaksi tersebut, maka akan terjadi perubahan warna
menjadi warna merah.
- Reaksi esterifikasi
Senyawa alkohol (etanol) ditambahkan senyawa asam
karboksilat (asam asetat atau asam benzoate atau asam
salisilat atau lainnya) ditambahkan asam sulat pekat,
menghasilkan bau yang khas harum.
- Untuk alkohol polivalen
Dapat diidentifikasi dengan pereaksi Cuprifil, dengan
cara : 1 ml senyawa alkohol (gliserol) ditambahkan 1 tetes
larutan cupri asetat dan ditambahkan 1 ml NaOH 2 N,
kemudian dikocok dan akan menghasilkan larutan berwarna
biru tua yang menunjukkan pembentukan senyawa kompleks.
c. Dengan pereaksi spesifik senyawa fenol
- Ferri Chlorida
2 ml senyawa fenol (fenol) ditambahkan beberapa tetes
pereaksi FeCl3, maka akan terjadi perubahan warna menjadi
gelap, seperti biru, hijau, ungu, merah, atau lainnya,
tergantung senyawa fenolnya
- Untuk fenol polivalen
Dapat diidentifikasi dengan pereaksi fehling, dengan
cara: 1 ml senyawa fenol (kuersetin) ditambahkan 1 ml
fehling A dan 1 ml fehling B, lalu ditambahkan NaOH sampai
alkalis, kemudian dikocok dan akan menghasilkan endapan
merah bata atau kuning
4. Membedakan alkohol primer, sekunder dan tersier
Disiapkan 3 buah tabung. Masing-masing tabung diisikan 3 ml
pereaksi Lucas, kemudian ditambahkan masing-masing dengan 1
ml alkohol primer (1-butanol), sekundel (2-butanol), tersier (tert-
butanol). Dikocok dan diamati serta catat apa yang terjadi dan waktu
terjadinya (hasil ada dirubrik)
ALKOHOL DAN FENOL

BAB 4
PEMBAHASAN

4.1 Hasil Praktikum


SENYAWA RUMUS STRUKTUR
Methanol CH3OH
Ethanol C2H5OH
Fenol C6H5OH
1-butanol C4H10O
2-butanol C4H10O
Tert-butanol C4H10O

A. Kelarutan dalam air dan n-heksana


Alkohol/fenol Kelarutan Kelarutan dalam Keterangan
dalam air n-heksana
Methanol Larut Sukar larut
1-butanol Larut Mudah larut
Fenol Tidak larut Tidak larut
Ket : larut, tidak larut dan sukar larut

B. Tes sifat keasaman alkohol dan fenol


Reaksi dengan Na2CO3 dan NaHCO3
Alkohol/fenol Na2CO3 NaHCO3 Keterangan
Methanol Sedikit Sedikit
gelembung gelembung
Fenol Banyak Banyak
gelembung gelembung

ADRIANA NUR FASYA LILIS ANDRIANI


15020190195
Asam asetat Tidak ada Tidak ada
gelembung gelembung
Ket : ada gelembung gas atau tidak ada gelembung gas

C. Identifikasi senyawa golongan alkohol dan


fenol Dengan pereaksi Diazo
Zat Diazo A + Diazo B + NaOH Keterangan
Methanol Merah
Fenol Tidak berwarna
Ket : warna yang terbetuk

D. Pereaksi spesifik senyawa alkohol


Zat CeNH4NO3 H2SO4
Etanol Warna merah Bau khas harum

E. Alkohol polivalen
Zat 1 tetes CuSO4 + 1 mL NaOH 2 N
Gliserol Biru tua
Ket : catat perubahan warna yang terbentuk

F. Pereaksi spesifik senyawa fenol


Zat FeCl3
Fenol Biru, ungu, merah atau hijau
Ket : catat perubahan warna yang terbentuk
G. Fenol polivalen
Zat 1 mL Fehling A + 1 mL Fehling B + NaOH
Kuersetin Endapan merah bata/kuning
Ket : catat perubahan warna yang terbentuk

H. Alkohol primer, sekunder dan tersier


Zat Pereaksi Lucas
1-butanol Larut (cepat)
2-butanol Larut (agak lama)
Tert-butanol Tidak larut
Ket : catat kelarutan yang terjadi (larut dan tidak larut)

Mekanisme Reaksi
1. Reaksi Alkohol Fenol Dengan Pereaksi Lucas
 Alkohol Primer (1-butanol) Dengan Pereaksi lucas CH3–CH2–CH2–
CH2–OH + ZnCL2 CH3–CH2–CH2–CH2–Cl+H2O

 Alkohol Sekunder (2-butanol) Dengan Pereaksi lucas CH3–CH–


CH2–CH3 + ZnCL2t CH3–CH2–CH–CH3 +
H2O
OH Cl

 Alkohol Tersier (tert-butanol) Dengan Pereaksi lucas


CH3 CH3
CH3– C–CH3 + ZnCL2 CH3– C–CH3 +
H2O OH Cl
ALKOHOL DAN FENOL

 Fenol Dengan Pereaksi lucas


H Cl
O
d. + + ZnCl2
HCl ZnCl2
pekat
+ H2O

2. Reaksi alcoho fenol dengan NaHCO3


 Reaksi fenol dengan NaHCO3
OH
ONa

c. + NaHCO3 3 + H2O + CO2

 Reaksi asam asetat dengan NaHCO3


d. CH3 C OH + NaHCO3 C ONa + H2O + CO2
CH3
O O

ADRIANA NUR FASYA LILIS ANDRIANI


15020190195
4.2 Pembahasan
Alkohol merupakan suatu senyawa organik hidroksil dimana gugus
-OH terikat pada atom karbon alifatik, sedangkan fenol merupakan suatu
senyawa organik karboksilat dimana gugus -OH terikat pada cincin aromatik.
Dalam percobaan ini digunakan beberapa jenis alkohol dan fenol.
Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan beberapa pereaksi, yaitu air,
n-heksana, pereaksi Lucas, NaHCO3, Na2CO3, dan CH3COOH, pereaksi
Diazo, pereaksi Fehling, Cerri Ammonium Nitrat, golongan asam karboksilat,
pereaksi Cuprifil, dan FeCl3.
Percobaan pertama yaitu untuk mengetahui kelarutan alkohol dan fenol
dalam air dan n-heksana. Uji ini dapat menentukan kepolaran dari suatu
senyawa-senyawa organik. Senyawa polar cenderung larut dalam air
sedangkan senyawa non polar cenderung larut dalam n- heksana.
Berdasarkan hasil yang diperoleh bahwa alkohol larut dalam air tetapi tidak
larut dalam n-heksana, sedangkan fenol tidak larut dalam air maupun n-
heksana.
Percobaan kedua yaitu mengetahui keasaman alkohol dan fenol dengan
menggunakan Na2CO3 maupun NaHCO3. Pada uji ini diperoleh hasil bahwa
methanol memiliki sedikit gelembung ketika dicampur dengan masing masing
larutan tersebut. Sebaliknya, fenol memiliki banyak gelembung. Sehingga
fenol mempunyai keasaman lebih tinggi daripada alkohol.
Percobaan ketiga yaitu mengidentifikasi senyawa golongan
alkohol dan fenol dengan menggunakan pereaksi diazo. Pereaksi diazo ini
merupakan pereaksi yang langsung menunjukkan keberadaan alkohol dalam
suatu sampel. Pada uji ini diperoleh hasil yaitu alkohol tidak tertarik oleh eter
dan menunjukkan perubahan warna merah sedangkan fenol, ketika zat
warna merah terbentuk maka akan tertarik oleh eter.
Percobaan keempat yaitu mengidentifikasi senyawa golongan alkohol dan
fenol dengan menggunakan pereaksi spesifik senyawa alkohol. Pada uji ini
diperoleh hasil yaitu terjadi perubahan warna merah ketika menggunakan
pereaksi Cerri Ammonium Nitrat. Pada reaksi esterifikasi dihasilkan bau yang
khas harum. Pada alkohol polivalen diperoleh warna biru tua menunjukkan
pembentukan senyawa kompleks oleh alkohol dengan menggunakan
pereaksi Cuprifil.
Percobaan kelima yaitu mengidentifikasi senyawa golongan alkohol dan
fenol dengan menggunakan pereaksi spesifik senyawa fenol. Pada uji ini
diperoleh hasil yaitu ketika fenol ditambahkan dengan pereaksi FeCl3 maka
akan terjadi perubahan warna menjadi lebih gelap, seperti biru, hijau, ungu,
merah atau lainnya. Sedangkan untuk fenol polivalen digunakan pereaksi
fehling yang akan menghasilkan endapan merah bata atau kuning.
Percobaan keenam yaitu membedakan alkohol primer, sekunder dan
tersier dengan menggunakan pereaksi Lucas. Pereaksi Lucas yaitu
campuran larutan ZnCl2 dan HCl pekat. Pada uji ini diperoleh hasil yaitu
sampel 1-butanol merupakan jenis alkohol primer karena sampel tersebut
cepat larut setelah penambahan pereaksi, 2-butanol larut tetapi agak lama
setelah penambahan pereaksi dan tert-butanol tidak larut setelah
penambahan pereaksi.
Mekanisme alkohol fenol Dari percobaan ini kita dapat melihat beberapa
perbedaan antara alcohol dan fenol. Meskipun memiliki gugus hidroksil yang
sama namun fenol terikat dengan cincin aromatic bisa menghasilkan suatu
hasil yang berbeda apabila kita mereaksikan dengan pereaksi yang sama.
Sebagian kecil alkohol larut dalam air karena gugus hidroksi pada
alkohol dapat membentuk ikatan hidrogen dengan molekul air. Namun ketika
ukuran gugus alkil bertambah besar , kelarutannya dalam air akan berkurang.
Hal ini disebabkan oleh kemampuan gugus alkil yang dapat mengganggu
pembentukann ikatan hidrogen antara gugus hidroksi dengan air. Jika
gangguan ini cukup besar, akibatnya molekul – molekul air akan menolak
molekul – molekul alkohol untuk menstabilkan kembali ikatan hidrogen
antarmolekul air. Jika gugus non polar (seperti gugus alkil) terikat pada cincin
aromatik, kelarutan fenol dalam air akan berkurang. Hal ini yang dianggap
menjadi alasan mengapa gugugs non polar disebut gugus hidrofob.
Selain dipengaruhi gugus hidroksi, kelarutam alkohol dalam air juga
dipengaruhi oleh jumlah atom C-nya. Menurut literatur, pada umumnya
alkohol yang mempunyai jumlah atom C 1-3 akan larut sempurna dalam air,
jumlah atom C 4-5 akan sedikit larut dalam air, dan jumlah atom C >6 akan
tidak larut dalam air.
Sebagian besar fenol bersifat asam yang lebih lemah daripada asam
karboksilat dan asam yang lebih kuat dari alkohol.ketika fenol bereaksi
dengan suatu basa, fenol akan diubah menjadi anion fenoksida, sehingga
fenol akan terlarut dalam larutan basa (sebagai garam fenoksida). Larutan
natrium hidroksida dan natrium karbonat merupakan basa yang cukup kuat
untuk dapat melarutkan hampir semua fenol yang tak larut dalam air, tetapi
larutan natrium bikarbonat tidak dapat. Tak satu pun di antara basa – basa
tersebut yang cukup kuat untuk mengubah sejumlah tertentu alkohol menjadi
ion alkoksida (yang akan melarutkan alkohol yang tak larut air dalam bentuk
anion alkoksida).
Adapun kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam percobaan
kemungkinan disebabkan karena kurangnya ketelitian dan kecerobohan
praktikan serta alat-alat yang digunakan kurang bersih dan tidak kering.
BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat kita ambil dari praktikum alkohol dan
fenol pada percobaan percobaan diatas adalah Percobaan pertama yaitu air
dan n-heksana berdasarkan hasil yang diperoleh bahwa alkohol larut dalam
air tetapi tidak larut dalam n-heksana, sedangkan fenol tidak larut dalam air
maupun n-heksana. Percobaan kedua yaitu mengetahui keasaman alkohol
dan fenol dengan menggunakan Na2CO3 maupun NaHCO3. Pada uji ini
diperoleh hasil bahwa methanol memiliki sedikit gelembung ketika dicampur
dengan masing masing larutan tersebut. Sebaliknya, fenol memiliki banyak
gelembung. Sehingga fenol mempunyai keasaman lebih tinggi daripada
alkohol.
5.2 Saran
Sebaiknya kita mengadakan praktikum di laboratorium agar
mendapatkan data yang sesuai dengan apa yang dilakukan, serta
praktikan seharusnya memahami teori yang ada sebelum melakukan
peraktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2020, Penuntun Praktikum Kimia Analisis, Universitas Muslim


Indonesia: Makassar.

Fessenden, R. J., dan Fessenden, J. S., 1989, Kimia Organik, Jilid 1,


Edisi Ketiga, Erlangga, Jakarta.

Fessenden, R. J., dan Fessenden, J. S., 1997, Dasar-Dasar Kimia


Organik, Erlangga, Jakarta.
Hart, H., 1990, Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat, Edisi Keenam,
Erlangga, Jakarta.

Hart, H., dkk., 2003, Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat, Edisi
Kesebelas, Erlangga, Jakarta.

McMurry, J., 1994, Fundamentals Of Organic Chemistry, Edisi Ketiga,


Brooks/Cole Publishing Company, California.
Sumarlin, L., dkk., 2011, Penghambatan Enzim Pemecah Protein
(Papain) Oleh Ekstrak Rokok, Minuman Beralkohol Dan Kopi
Secara In Vitro, Valensi, 2(3), 449-458.
Wilbraham, A. C., dan Matta, M. S., 1992, Pengantar Kimia Organik
dan Hayati, Institut Teknologi Bandung, Bandung.