Anda di halaman 1dari 3

Ringkasan Terhubung ke Langit

berdirimu di waktu malam, sujudmu yang dalam

mengokohkan hatimu, melebihi gunung membiru

lalu kau terima beban untuk mencintai semesta;

membagi senyum ketika kau terluka,

memberi minum ketika kau dahaga,

menghibur jiwa-jiwa ketika kau berduka

Rasulullah Saw tidak kenal lelah dalam menyampaikan dakwah dan menyeru agar beriman kepada
Allah SWT. Walau banyak hinaan, cacian dan siksaan yang beliau hadapi, beliau sabar dan hanya
berdoa kepada Pemilik langit. Bahkan beliau saat berdakwah dilempari batu dan kotoran sambil
diteriaki gila, penyihir, dukun, dan penyair ingusan. Beliau kadang harus menangis dan
menggumamkan ketidakberdayaan melihat sahabat- sahabatnya yang lemah dan terbudak disiksa di
depan matanya. Suatu malam, saat beliau terlelap terlelap dalam hangat, sebuah panggilan langit
justru memaksanyaterjaga.

“Hai orang yang berselimut. Bangunlah di malam hari kecuali sedikit. Separuhnya atau kurangilah
yang separuh itu sedikit. Atau tambahlah atasnya. Dan bacalah al-Qur’an dengan tartil.” (Qs. al-
Muzammil [73]:1-4)

Untuk apa?

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.” (Qs. al-Muzammil [73]: 5)

Seberat apa?

“Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan
melihatnya tunduk terpecah berantakan disebabkan takut kepada Alloh.” (Qs. al-Hasyr [59]: 21)

Itu kalimat berat dengan beban yang berat di dalamnya. Beban yang bahkan gunung-gunung tak
sanggup menanggung. Dan Nabi Muhammad Saw harus menerimanya. Beliau menanggung beban
berat tersebut. Maka hatinya harus lebih kokoh dari gunung. Maka jiwanya harus lebih perkasa
daripada bumi. Maka dadanya harus lebih lapang daripada lautan. Karena itu beliau bangun di waktu
malam untuk menghubungkan diri dengan sumber kekuatan yang Maha Perkasa. Maka Rasulullah
pun bangkit dan menunaikan sholat.

Lalu Rasulullah memohon kekuatan agar mampu mengemban amanah itu. “Ya Robbi,” lirihnya,
“Kepada-Mu kuadukan lemahnya dayaku, kurangnya siasatku, dan kehinaanku di hadapan manusia.
Wahai Yang Paling Penyayang di antara para penyayang, Engkaulah Robb orang-orang yang lemah.
Engkaulah Robbku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari segala kegelapan dan
yang karenanya urusan dunia dan akhirat menjadi baik, agar Engkau tak menurunkan murka-Mu
kepadaku. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari-Mu.”

Maka Allah menjawabnya, mencurahkan rahmat kepadanya sebagai cinta dari langit untuk
ditebarkan di bumi.
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya
kamu bersikap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Qs. Ali
‘Imron [3]: 159)

Dalam dekapan ukhuwah, kita rindu mewarisi keteguhan Rasulullah Saw. Dalam dekapan ukhuwah,
kita rindu dicurahi rahmat-Nya hingga mampu berlemah lembut pada sesama. Dalam dekapan
ukhuwah, kita berharap tak ada yang lari dari sisi karena kekasaran sikap dan kekerasan hati ini.
Dalam dekapan ukhuwah, kita berambisi dipuji Allah seperti Rasulullah, “Sesungguhnya engkau
berada di atas akhlak yang agung.”

Orang-orang yang terhubung ke langit, adalah orang-orang yang menanggung beban untuk
membawa manusia ke jalan cahaya. Mereka menjadi manusia-manusia dengan ketahanan
menakjubkan dan menjadi orang-orang yang paling teguh hati, paling lapang dada, paling sabar,
paling lembut, paling santun, paling ramah, dan paling ringan tangan. Keterhubungan dengan langit
itu yang mempertahankan mereka di atas garis edar kebajikan, sebagai bukti bahwa merekalah wakil
sah dari kebenaran.

Dalam dekapan ukhuwah, Allah jadikan mereka sebagai teladan bagi kita. Kisahnya diulang-ulang
untuk menguatkan hati. dalam dekapan ukhuwah kita pun bangkit, menegakkan sholat, dan
mengundang cinta-Nya dengan segenap ketaatan yang terjangkau oleh kemampuan kita.

Sejarah terhubungnya langit dan bumi membentang panjang. Mulai dari Nabi Nuh yang tak jemu-
jemu menyeru kaumnya selama limaratus tahun. Dengan segala cara. Sembunyi- sembunyi maupun
terang-terangan. Bersepi maupun ramai. Pribadi ke pribadi maupun jamak. Lalu Nabi Ibrahim yang
menebas keberhalaan dengan kapak kecerdasan. Nabi Ibrahim yang membungkam raja pengaku
tuhan dengan hujjah tak terbantah. Nabi Ibrahim yang menginsyafkan para penyembah bintang,
rembulan, dan matahari dengan bahasa lembut menghanyutkan. Lalu Nabi Musa dengan lika-liku
perjalanan hidupnya. Lalu Nabi ‘Isa dengan pernak-pernik kisahnya. Terakhir, Nabi Muhammad
Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.

Selain itu, ada juga Nabi Yunus. Dan kisahnya mengajarkan pada kita, bahwa dalam dekapan
ukhuwah, AlAllabegitu mencintai orang-orang yang terhubung ke langit ini, hingga tak membiarkan
mereka sedikit pun terlepas dari pelajaran untuk memiliki akhlak dan perilaku mulia. Dalam dekapan
ukhuwah, Allah ingin tiap manusia yang terhubung ke langit menuntaskan tugasnya, karena
bersamaan dengan itu disempurnakan pula didikan Robbani pada karakter pribadinya. Jika dia
meninggalkannya sebelum tuntas, Allah akan gunakan cara lain untuk mendidikkan kemuliaan
padanya.

Nabi Yunus pernah gagal dalam mengemban amanahnya. Dia meninggalkan kaumnya dengan
marah, sesak hati, dan sempit dada sebelum Allah mengizinkan. Dia pergi dengan menggunakan
kapal. Dan kita sudah hafal kisah selanjutnya; setelah dia naik kapal, dia dibuang ke laut, dan ditelan
ikan Nun.

Allah ingin mendidik Yunus untuk sabar menghadapi manusia dan teguh membawa mereka ke jalan
taqwa. Allah ingin mendidiknya agar tak mudah menyerah dan mengerahkan beberapa tingkat lagi
daya upaya. Tapi Yunus dibakar perasaan. Dia tinggalkan kaumnya. Maka Alloh menyempurnakan
pendidikan langit untuk- nya agar bersabar dengan sebuah musibah. Ditelan ikan. Hidup dalam
kegelapan. Saat itulah dia insyaf kembali dengan do’a yang kita kenang hingga kini, “Tiada Ilah selain
Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku ini termasuk orang yang aniaya.”
Ketika pendidikan langit untuk bersabar dia tuntaskan, dia kembali kepada kaumnya dengan
semangat menyala. Dia datang untuk menyeru mereka ke jalan cahaya dengan keteguhan yang telah
dia siapkan berlipat jumlahnya. Tapi Allah telah menyempurnakan pendidikannya, maka baginya
hadiah yang membahagiakan. Saat dia kembali semua kaumnya telah beriman. Dan kini, tugasnya
tinggal memimpin dan membimbing mereka beribadah pada Alloh, dalam dekapan ukhuwah.

Demikianlah. Mereka yang terhubung ke langit, terhubung dengan manusia dalam kata cinta yang
berwujud da’wah. “Da’wah adalah cinta,” kata Syaikhut Tarbiyah Rahmat Abdullah. Dan dalam
dekapan ukhuwah, cinta akan meminta semuanya dari dirimu sampai pikiranmu. Sampai
perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang
da’wah. Tentang ummat yang kau cintai.