Anda di halaman 1dari 4

Filsafat Pancasila SEMESTER 2

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PANCASILA JAKARTA

(2018 – 2022)

MATA KULIAH : Filsafat Pancasila

NAMA MAHASISWA :

1. Fitry Angger Pangestu (1218210053)


2. Hana Zhafirah Anwar (1218210111)

3. M. Fitra adiansyah (1218210026)

4. M. Armand Irsyad (1218210077)

5. Avy Amalia Ramdhani (1218210005)

6. Shafa Amalya (1218210164)

7. Neisya savira Haryono (1218210169)

8. Zalfa Shohwah Madania (1218210047)

9. Hanafiansyah Arif Wibowo (1218210134)

SEMESTER :2

PROGRAM STUDI : S1 AKUNTANSI


Pelaksanaan sila ke-5 Pancasila
1. KONSEP KEADILAN BERDASARKAN PANCASILA
Negara Pancasila adalah negara bangsa yang berkeadilan sosial, yang berarti
bahwa negara sebagai penjelmaan manusia yang merupakan Makhluk Tuhan Yang Maha
Esa, sifat kodrat individu dan makhluk sosial bertujuan untuk mewujudkan suatu keadilan
dalam hidup bersama (Keadilan Sosial). Keadilan sosial tersebut didasari dan dijiwai oleh
hakikat keadilan manusia sebagai makhluk yang beradab, sebagaimana dimaksud pada
sila kedua. Manusia pada hakikatnya adalah adil dan beradab, yang berarti manusia harus
adil terhadap diri sendiri, adil terhadap Tuhannya, adil terhadap orang lain dan
masyarakat serta adil terhadap lingkungan alamnya.
Dalam hidup bersama baik dalam masyarakat, bangsa dan negara harus terwujud
suatu keadilan (Keadilan Sosial), yang meliputi tiga hal yaitu : keadilan distributif
(keadilan membagi), yaitu negara terhadap warganya, keadilan legal (keadilan bertaat),
yaitu warga terhadap negaranya untuk mentaati peraturan perundangan, dan keadilan
komutatif (keadilan antar sesama warga negara), yaitu hubungan keadilan antara warga
satu dengan lainnya secara timbal balik.
Sebagai dasar negara, maka Pancasila mempunyai kedudukan dan peran penting
dalam mewujudkan keadilan di Indonesia. Selain itu, “dengan tidak diubahnya
Pembukaan UUD 1945 dalam amandemen, maka tidak berubah pula kedudukan
Pancasila sebagai dasar-dasar filosofis bangunan  Negara Republik Indonesia”[25].
Apalagi terdapat dua sila dalam Pancasila yang secara langsung dirumuskan dengan kata
“adil” dan “keadilan”.

Sunaryati Hartono menggali Sila kedua yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil
dan beradab”, yang mengandung makna, yaitu:
a) Percaya, bahwa sesama ciptaan dan makhluk Tuhan, setiap manusia sama martabatnya,
dan berhak atas kesempatan yang sama untuk hidup sehat, sejahtera dan bahagia;
b) Oleh karena itu menjadi kewajiban setiap orang untuk menghormati dan memperlakukan
orang lain/sesama man usia dengan cara yang baik, sopan dan santun, sebagaimana setiap
orang diperlakukan oleh orang lain;
c) Berhubung dengan itu, setiap warga negara dan bangsa Indonesia serta hukum Indonesia
mengakui hak-hak asasi manusia dan negara Republik Indonesia berbentuk republik.
d) Namun demikian, jika semua dan setiap orang berhak atas hak-hak asasi manusianya,
maka yang membatasi hak asasi manusia seseorang itu adalah hak asasi manusia orang-
orang lain.
e) Karena bangsa Indonesia percaya, bahwa terbentuknya bangsa Indonesia sebagai satu
materi, adalah berkat Kehendak dan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa (sila Ketuhanan
Yang Maha Esa) dan bahwa setiap anak Bangsa Indonesia adalah sama satu dan yang
lain, lagi pula percaya pada hak asasi manusia, maka filsafah Pancasila juga
mengajarkan, bahwa setiap warga negara wajib menghormati kebebasan (privacy) warga
negara dalam cara hidup, cara berpikir dan cara percaya/ menganut agamanya masing-
masing, termasuk memilih kepercayaan dan agamanya sendiri
Sedangkan menggali makna Sila kelima yaitu “Keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia”, Sunaryati Hartono menyatakan sebagai berikut:
f) Sesungguhnya sila kelima ini menetapkan tujuan dan misi bangsa Indonesia bersatu di
tahun 1928 dan ketika bangsa Indonesia di tahun 1945 membentuk satu negara kesatuan
Republik Indonesia. Lagi pula keadilan sosial bagi seluruh bangsa secara umum juga
merupakan tujuan Negara kesejahteraan yang berlandaskan hukum
g) Pancasila membawa keseimbangan antara kepentingan individu dan masyarakat, karena
sila kedua yang mementingkan individu diimbangi oleh sila ketiga terkait persatuan
bangsa dan sila kelima mengenai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Menurut
Notohamidjojo, keadilan sosial menuntut supaya manusia hidup dengan layak dalam
masyarakat. Masing-masing harus diberi kesempatan menurut menselijke
waardigheid(kepatutan kemanusiaan). Dalam Pembangunan dan pelaksanaan
pembangunan kepatutan juga harus dikedepankan selain mengandalkan keadilan.
h) Keadilan sangat berkaitan erat dengan hak. Hanya saja dalam teorisi keadilan bangsa
Indonesia, hak tidak dapat dipisahkan dengan pasangan anatominya yaitu kewajiban. Sila
kemanusiaan yang adil dan beradab dengan tegas mengamanatkan keserasian antara hak
dan kewajiban sebagai manusia yang hidup bermasyarakat. Keadilan hanya akan tegak
dalam masyarakat yang beradab atau sebaliknya, selain itu hanya masyarakat beradab
yang dapat menghargai keadilan.
i) Keserasian hak dan kewajiban menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk berdimensi
monodualistis yaitu sebagai makhluk individual dan makhluk sosial (kolektif).

keadilan sosial tidak semata menjelaskan mengenai keadilan dalam arti tegaknya
peraturan perundang-undangan atau hukum, tetapi lebih dari itu keadilan sosial berbicara
lebih luas tentang hak warga negara dalam sebuah negara. Keadilan sosial dalam hal ini
adalah kondisi dimana rakyat mendapat distribusi yang adil atas kekayaan dan
sumberdaya negara. Hal ini berkaitan dengan teori negara hukum kesejahteraan (welfare
state), dimana negara mempunyai kewajiban untuk melayani dan mensejahterakan
rakyatnya, dalam arti seluas-luasnya. Dengan demikian, apabila pemerintah tidak dapat
menyelenggaraan pelayanan tersebut, dapat dikatakan bahwa pemerintah telah berbuat
tidak adil.
Keadilan sosial juga berarti keadilan yang berlaku untuk seluruh rakyat
seutuhnya, baik materil maupun spiritual. Keadilan dalam hal ini tidak hanya milik orang
kaya, namun berlaku juga bagi orang miskin, tidak hanya bagi para pejabat, tetapi untuk
rakyat biasa pula, dengan kata lain seluruh rakyat Indonesia baik yang berada di dalam
negeri maupun di luar negeri.
Dalam konsepsi Keadilan Sosial dalam Negara Hukum Pancasila, keadilan tidak
dibatasi sektoral-sektoral, akan tetapi mencakup semua sektor secara holistik, ideologi,
politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan. Diyakini, dengan
meaknisme pemahaman dan implementasi demikian akan dapat terwujud cita bangsa
yakni mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Adil dalam kemakmuran dan makmur
dalam keadilan.
2. Pelaksanaan Keadilan Pada masa Orde Lama, Orde Baru dan Masa Reformasi

A. Masa Orde Lama


a) Demokrasi berjalan dengan baik dengan terlaksananya Pemilu untuk
pertama kalinya di tahun 1955, yang melibatkan seluruh kalangan
masyarakat tanpa membeda-bedakan.
b) Di tahun 1956-1965 dikenal dengan periode demokrasi terpimpin dimana
kekuasaan bukan di tangan rakyat dan berdasarkan nilai nilai pancasila,
namun justru berada pada kekuasaaan pribadi presiden Soekarno. Dan
karena itu lah banyak rasa ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat
terutama kalangan bawah.

B. Masa Orde Baru


a) Pancasila hanya dijadikan slogan yang menunjukan kesetiaan semu
terhadap pemerintah yang sedang berkuasa
b) Kecenderungan orde baru membuat negara menjadi negara perfeksionisme
yang artinya benar jika apa yang diyakini pemerintah adalah benar, dan
salah jika apa yang diyakini pemerintah adalah salah. Seperti tak ada hak
untuk memiliki pendapat yang berbeda.
c) Terjadi KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) dimana mana. Membuat
kesejahteraan rakyat makin menurun.

C. Masa Reformasi
a) Masih banyak terjadi Korupsi di kalangan atas, yang lagi-lagi
mengakibtkan rasa ketidakadilan dan berdampak pada kesejahteraan
masyarakat.
b) Pancasila harus selalu diinterprestasikan kembali sesuai dengan
perkembangan zaman secara relavan, sinkron dengan keadaan zaman,
terutama oleh sila ke-5 tentang keadilan sosial, dimana adil yang
sesungguhnya berarti setiap masyarakat Indonesia mendapatkan hak
sesuai dengan kebetuhannya.