Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar belakang


Berdasarkan telah ditetapkan bahwa dalil syar’i yang dijadikan dasar pengambilan hukum
yang berhubungan dengan perbuatan manusia itu ada empat: al-Qur’an, al-Sunnah, al-Ijma’, dan
al-Qiyas, jumhur ulama telah sepakat bahwa empat hal itu dapat digunakan sebagai dalil, juga
sepakat bahwa urutan penggunaan dalil tersebut adalah sebagai berikut: pertama al-Qur’an,
kedua al-Sunnah, ketiga al-Ijma’ dan keempat al-Qiyas.
Akan tetapi, ada dalil lain selain dari yang empat di atas, yang mana mayoritas ulama Islam
tidak sepakat atas penggunaan dalil-dalil tersebut. Sebagian di antara mereka ada yang
menggunakan dalil-dalil ini sebagai alasan penetapan hukum syara’ dan sebagian yang lain
mengingkarinya.Dalil-dalil yang diperselisihkan penggunaannya sebagai hujjah dalam
menetapkan suatu hukum salah satunya adalah mazhab (qaul) al-Shahabi. Sehingga, dalam
makalah ini kami akan membahas tentang fatwa sahabat ini.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Istishab ?
2. Apa saja bentuk-bentuk Istishab ?
3. Apa saja kaidah yang berhubungan dengan Istishab ?
4. Apa saja kehujjahan Istishab ?
5. Apa pengertian Saddu Dzari’ah ?
6. Apa saja macam-macam Saddu Dzari’ah ?
7. Apa saja dasar-dasar tentang Saddu Dzari’ah ?
8. Apa saja contoh Saddu Dzari’ah dalam kehidupan sehari-hari ?
9. Apa pengertian Madzhab Sahabi ?
10. Apa saja kehujjahan Madzhab Sahabi ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Apa pengertian Istishab
2. Untuk mengetahui Apa saja bentuk-bentuk Istishab
3. Untuk mengetahui Apa saja kaidah yang berhubungan dengan Istishab
4. Untuk mengetahui Apa saja kehujjahan Istishab
5. Untuk mengetahui Apa pengertian Saddu Dzari’ah
6. Untuk mengetahui Apa saja macam-macam Saddu Dzari’ah
7. Untuk mengetahui Apa saja dasar-dasar tentang Saddu Dzari’ah
8. Untuk mengetahui Apa saja contoh Saddu Dzari’ah dalam kehidupan sehari-hari
9. Untuk mengetahui Apa pengertian Madzhab Sahabi
10. Untuk mengetahui Apa saja kehujjahan Madzhab Sahabi

BAB II
PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN ISTISHAB

Dilihat dari segi bahasa,kata istishab adalah bentuk masdar dari kata ‫ استصحاب‬,‫ يستصحب‬,‫استصحب‬
yang artinya selalu menyertai.1 Adapun secara istilah sebagaimana dikemukakan oleh Imam al-
Syaukani dalam kitabnya Irsyad al-Fukhul yaitu:

‫اناماثبت في الز ما ن الماضي فا الصل بق ءه في الز ما ن المستقل‬

“ Apa yang pernah berlaku secara tetap pada masa lalu pada prinsipnya berlaku pada masa yang
akan datang.”

Dari definisi diatas dapat dipahami bahwa kata kunci yang dipakai ialah masa lalu dan masa
yang akan datang. Hal ini mengandung arti bahwa apa yang diberlakukan pada masa kini adalah
sama secara hukum dengan apa yang diberlakukan pada masa lalu. Contohnya,hak milik
seseorang akan menjadi haknya selama-lamanya sampai ada keadaan yang mengubahnya.
Keadaan yang mengubahnya ini bisa menjual atau menghibahkannya.

1
Sapiudin Shidiq,Ashul Fiqh (Jakarta:Kencana,2011),hlm.93.
Sedangkan secara terminologi istishab adalah perihal tetap berlakunya suatu hukum pada
zaman kedua,berdasarkan keberlakuannya pada zaman pertama,sebelum ada dalil tentang
perubahan ketentuan.2

2. BENTUK-BENTUK ISTISHAB

Dilihat dari sifatnya,keadaan sesuatu itu tidak terlepas dari dua keadaan:

a. Nafi ,yaitu dalam keadaan kosong tidak terdapat hukum di dalamnya.Keberadaan tidak
ada hukum ini diberlakukan untuk masa seterusnya sebelum ada keadaan yang
menubahnya.Contoh,pada masa lalu tidak pernah ada hukum yang menyatakan bahwa
puasa di bulan Syawal itu wajib hukumnya.Karena memang tidak ada dalil yang
mewajibkannya. Tidak adanya hukum wajib berpuasa di bulan Syawal ini berlaku sampai
sekarang,karena dalil syara’ yang mewajibkannya tidak ada lagi.
b. Tsubut ,yaitu keadaan dimana pernah ada hukum di dalamnya. Maka hukum yang sudah
tetap pada sesuatu itu berlaku sampai masa kini dan yang akan datang sebelum adanya
keadaan (dalil) yang mengubahnya. Contoh,seorang suami wajib memberikan nafkan
kepada istrinya. Kewajiban itu wajib dilakukan oleh suami sampai kapanpun sebellum
adanya keadaan yang mengubahnya seperti perceraian.Contoh lain seseorang yang
memiliki wudhu pada waktu sholat Zhuhur dapat digunakan untuk melakukan sholat
Ashar sebelum adanya keadaan yang mengubahnya,yaitu ia tidak mendengan suara atau
bau angin yang keluar dari duburnya.

3. KAIDAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN ISTISHAB

Dalam ilmu ushul fiqh istishab di jadikan sebagai tempat beredarnya fatwa.
Artinya mengetahui hukum sesuatu berdasarkan hukum yang telah ditetapkan selama
tidak ada dalil yang mengubahnya. Hal ini merupakan tradisi manusia dalam memproses
dan menetapkan hukum. Jika ditemukan orang itu hidup maka ditetapkan baginya hukum
hidup sebelum ada tanda-tanda yang memastikan bahwa ia sudah mati. Dengan demikian
aspek dalam istishab selalu ada. Den keraguan selalu mengiringi kepada keyakinan. Oleh

2
Muhammad Misbah, Pengantar Ushul Fiqh (Jakarta Timur:Pustaka Al-Kautsar,2014),hlm.309.
karena itu ,istishab sebagai salah satu metode ijtihad dalam istinbatnya selalu
memperhatikan kaidah-kaidah berikut ini:

1. Prinsip asal tidak ada (‫ ) ا ستصحا ب ا لعدم ا ال صلي‬yaitu pada dasarnya tidak ada sesuatu
sampai ada yang menetapkan keberadaannya. Dalam hal hukum berarti pada dasarnya
tidak ada hukum sampaidinyatakan ada.
2. Prinsip bebas tanggung jawab (‫ ) استصحا ب براءة الذمة‬yaitu prinsip asal bebas dari tanggung
jawab sampai dibuktikan adanya. Ini disebut asas praduga tak bersalah.
3. Prinsip umumnya dalil ‫ارض‬l‫ل ورودا لمع‬l‫ا م قب‬l‫ل ا لع‬l‫ ))ا ستصحاب الد لي‬yaitu pengamalan dalil
yang bersifat umum sambil menunggu adanya dalil yang membatasinya.
4. Prinsip memberlakukan hukum ‫ ))استصحاب ا لحكم‬yaitu prinsip masih berlakunya hukum
yang sudah ditetapkan sampai ada kemudian hukum yang membatalkannya.
5. Prinsip berlakunya sifat atau keadaan (‫حاب الوصف‬ll‫ )استص‬yaitu memberlakukan tetap
berlakunya suatu sifat atau keadaan sampai ada hal yang mengubahnya.
6. Prinsip hukum akal ‫ ) ) استصحا ب ا لحكم‬yaitu memberlakukan hukum yang ditetapkan akal
sampai dengan wahyu yang dibawa Nabi.
7. Prinsip hukum ijma’‫ ))استصحا ب حكم االجماع‬yaitu memberlakukan hukum yang ditetapkan
dengan ijma’ sampai waktu perubahan ada ijma’ lain yang menetapkannya.3

4. KEHUJJAHAN ISTISHAB

Adapun mengenai kehujjahan istishab terdapat dua landasan yang dapat di pegang.

Pertama, landasan dari segi syara’ ialah berbagai hasil penelitian hukum menunjukkan
bahwa sesuatu hukum syara’ senantiasa tetap berlaku selama belum ada dalil yang
mengubahnya. Sebagai contoh, syara’ menetapkan bahwa semua minuman yang memabukkan
adalah haram,kecuali jika terjadi perubahan pada sifatnya,jika sifat memabukkannya hilang
karena berubah menjadi cuka misalnya,maka hukumnya juga berubah menjadi halal.
Demikianlah watak hukum syara’ ia tidak akan berubah kecuali ada dalil lain yang
mengubahnya.

3
Amir Syarifuddin,Garis-Garis Besar Ushul Fiqh (Jakarta:Kencana Prenadamedia Group,2012),hlm.68.
Kedua, landasan logika secara singkat dapat ditegaskan logika yang benar sepenuhnya
pasti mendukung sepenuhnya prinsipmistishab. Misalnya jika seseorang telah dinyatakan sebagai
pemilik suatu barang,maka logika akan menetapkan status sebagai pemilik tidak akan berubah
kecuali jika ada alasan dalil lain yang mengubahnya. Misalnya ketika ia menjual atau
menghadiahkan barang tersebut kepada orang lain. Demikian juga,seseorang telah dinyatakan
sah melakukan perkawinan dengan seseorang wanita maka logika dengan mudah menetapkan
bahwa status perkawinan mereka tetap berlaku kecuali ada dalil lain yang
mengubahnya,misalnya karena si suami menceraikan istrinya.4

Syeikh Muhammad Abu Zahra menjelaskan perbedaan pendapat para ulama tentang
kehujahan istishab. Para ulama ushul fiqh sepakat bahwa istishab dijadikan sebagai landasan
hukum.tetapi mereka berbeda pendapat dalam menjadikan istishab sebagai landasan hukum.5

a. Ulama Syafiiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa istishab sifat dapat dijadikan
landasan secara penuh baik dalam menimbulkan hak yang baru atau
mempertahankan haknya yang sudah ada.
b. Ulama Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa istishab sifat hanya berlaku
untuk mempertahankan hak yang sudah ada bukan menimbulkan hak yang baru.

A. PENGERTIAN SADDU DZARI’AH

Kata sadd adz-dzari’ah (‫ )سد الذريعة‬merupakan bentuk frase (idhafah) yang terdiri dari dua
kata, yaitu sadd (‫) َس ُّد‬dan adz-dzari’ah (‫)ال َّذ ِر ْي َعة‬. Secara etimologis, kata as-sadd (‫)ال َّس ُّد‬merupakan
kata benda abstrak (mashdar) dari ‫ َس َّد يَ ُس ُّد َس ًّدا‬. Kata as-sadd tersebut berarti menutup sesuatu yang
cacat atau rusak dan menimbun lobang. Sedangkan adz-dzari’ah (‫ )ال َّذ ِر ْي َعة‬merupakan kata benda
(isim) bentuk tunggal yang berarti jalan, sarana (wasilah) dan sebab terjadinya sesuatu. Bentuk
jamak dari adz-dzari’ah (‫ )ال َّذ ِر ْي َعة‬adalah adz-dzara’i (‫)ال َّذ َرائِع‬. Karena itulah, dalam beberapa kitab
usul fikih, seperti Tanqih al-Fushul fi Ulum al-Ushul karya al-Qarafi, istilah yang digunakan
adalah sadd adz-dzara’i6. Saddu Dzara’i berasal dari kata sadd dan zara’i. Sadd artinya menutup
atau menyumbat, sedangkan zara’i artinya pengantara.Dzari’ah berarti “jalan yang menuju

4
Nurhayati,dkk,Fiqh dan Ushul Fiqh (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group,2018),hlm.38.
5
Sapiudin Shidiq,Ashul Fiqh (Jakarta:Kencana,2011),hlm.97.
6
Andewi Suhartini, Ushul Fiqih, (Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kementrian Agama RI, 2012), 156.
kepada sesuatu.” Ada juga yang mengkhususkan pengertian dzari’ah dengan “sesuatu yang
membawa kepada yang dilarang dan mengandung kemudaratan.” Akan tetapi Ibn Qayyim al-
Jauziyah (ahli fiqh) mengatakan bahwa pembatasan pengertian dzari’ah kepada sesuatu yang
dilarang saja tidak tepat, karena ada juga dzari’ah yang bertujuan kepada yang dianjurkan. Oleh
sebab itu, menurutnya pengertian dzari’ah lebih baik dikemukakan yang bersifat umum ,
sehingga dzari’ah itu mengandung dua pengertian, yaitu: yang dilarang (sadd al-dzariah) dan
yang dituntut untuk dilaksanakan (fath al-dzari’ah).

B. MACAM- MACAM SADDU DZARI’AH

Ulama, al-Qarafi dan asy-Syatibi membagi adz-dzari’ah menjadi tiga macam, yaitu:

1. Sesuatu yang telah disepakati untuk tidak dilarang meskipun bisa menjadi jalan atau sarana
terjadinya suatu perbuatan yang diharamkan. Contohnya menanam anggur, meskipun ada
kemungkinan untuk dijadikan khamar; atau hidup bertetangga meskipun ada kemungkinan
terjadi perbuatan zina dengan tetangga.

2. Sesuatu yang disepakati untuk dilarang, seperti mencaci maki berhala bagi orang yang
mengetahui atau menduga keras bahwa penyembah berhala tersebut akan membalas mencaci
maki Allah seketika itu pula. Contoh lain adalah larangan menggali sumur di tengah jalan bagi
orang yang mengetahui bahwa jalan tersebut biasa dilewati dan akan mencelakakan orang.

3. Sesuatu yang masih diperselisihkan untuk dilarang atau diperbolehkan, seperti memandang
perempuan karena bisa menjadi jalan terjadinya zina; dan jual beli berjangka karena khawatir
ada unsur riba

Dilihat dari aspek akibat yang timbulkan, Ibnu al-Qayyim mengklasifikasikan adz-dzari’ah
menjadi empat macam, yaitu:

1. Suatu perbuatan yang memang pada dasarnya pasti menimbulkan kerusakan (mafsadah).
Hal ini misalnya mengonsumsi minuman keras yang bisa mengakibatkan mabuk dan perbuatan
zina yang menimbulkan ketidakjelasan asal usul keturunan.

2. Suatu perbuatan yang pada dasarnya diperbolehkan atau dianjurkan (mustahab), namun
secara sengaja dijadikan sebagai perantara untuk terjadi sesuatu keburukan (mafsadah). Misalnya
menikahi perempuan yang sudah ditalak tiga agar sang perempuan boleh dikawini (at-tahlil).
Contoh lain adalah melakukan jual beli dengan cara tertentu yang mengakibatkan muncul unsur
riba.

3. Suatu perbuatan yang pada dasarnya diperbolehkan namun tidak disengaja untuk
menimbulkan suatu keburukan (mafsadah), dan pada umumnya keburukan itu tetap terjadi
meskipun tidak disengaja. Keburukan (mafsadah) yang kemungkinan terjadi tersebut lebih besar
akibatnya daripada kebaikan (maslahah) yang diraih. Contohnya adalah mencaci maki berhala
yang disembah oleh orang-orang musyrik.

4. Suatu perbuatan yang pada dasarnya diperbolehkan namun terkadang bisa menimbulkan
keburukan (mafsadah). Kebaikan yang ditimbulkan lebih besar akibatnya daripada
keburukannya. Misalnya, melihat perempuan yang sedang dipinang dan mengkritik pemimpin
yang lalim.

C. DASAR-DASAR SADDU DZARI’AH

a. Al-Qur’an.

)108 :‫َواَل تَ ُسبُّوْ ا الّذ ْينَ يَ ْد ُعوْ نَ ِم ْن ُدوْ ِن هللاِ فَيَ ُسبُّوْ ا هللاَ َع ُدوْ ا بِ َغي ِْر ِع ْل ٍم (األنعام‬

Artinya: “dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah,
karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.”

)104 :‫يَّاأَيُّهَا الَّ ِذ ْينَ ءا َمنُوْ ا الَتَقُوْ لُوْ ا َرا ِعنَا َوقُوْ لُوْ ا ا ْنظُرْ نَا َوا ْس َمعُوْ ا َولِ ْل َكافِ ِر ْينَ َع َذابٌ أَلِ ْي ٌم (البقرة‬

Artinya: hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakana (kepada Muhammad)
“raa’ina” tetapi katakanlah “undzurna” dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir
siksaan yang pedih7.

b. As-Sunnah.

7
A. Basiq Djalil, Ilmu Ushul Fiqih 1 dan 2, (Jakarta: Kencana,2010),166.
Diantara dalil sunnah adalah larangan menimbun demi mencegah terjadinya keulitan atas
manusia. Nabi juga melarang orang yang berpiutang menerima hadiah dari orang yang berhutang
demi menutup celah riba.

c. Kaidah Fikih

Di antara kaidah fikih yang bisa dijadikan dasar penggunaan sadd adz-dzari’ah adalah:

d. ‫ح‬ َ ‫ب ْال َم‬


ِ ِ‫صال‬ ِ ‫اس ِد أَوْ لَى ِم ْن َج ْل‬
ِ َ‫ َدرْ ُء ْال َمف‬.

Menolak keburukan (mafsadah) lebih diutamakan daripada meraih kebaikan (maslahah).

Kaidah ini merupakan kaidah asasi yang bisa mencakup masalah-masalah turunan di bawahnya.
Berbagai kaidah lain juga bersandar pada kaidah ini. Karena itulah, sadd adz-dzari’ah pun bisa
disandarkan kepadanya. Hal ini juga bisa dipahami, karena dalam sadd adz-dzari’ah terdapat
unsur mafsadah yang harus dihindari.

e. Logika

Secara logika, ketika seseorang membolehkan suatu perbuatan, maka mestinya ia juga
membolehkan segala hal yang akan mengantarkan kepada hal tersebut. Begitupun sebaliknya,
jika seseorang melarang suatu perbuatan, maka mestinya ia pun melarang segala hal yang bisa
mengantarkan kepada perbuatan tersebut. Hal ini senada dengan ungkapan Ibnu Qayyim dalam
kitab A’lâm al-Mûqi’în: ”Ketika Allah melarang suatu hal, maka Allah pun akan melarang dan
mencegah segala jalan dan perantara yang bisa mengantarkan kepadanya. Hal itu untuk
menguatkan dan menegaskan pelarangan tersebut. Namun jika Allah membolehkan segala jalan
dan perantara tersebut, tentu hal ini bertolak belakang dengan pelarangan yang telah ditetapkan.”

D. CONTOH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

1) Perbuatan yang akibatnya pasti menimbulkan kerusakan atau bahaya. Maka hukumnya
dilarang secara kesepakatan ulama’8.

Contoh: menggali lubang dibelakang pintu rumah atau dijalan umum.

8
Sulaiman Abdullah, Sumber Hukum Islam (Jakarta: Sinar Grafika, 1995), 166.
2) Perbuatan yang menurut dugaan kuat akan menimbulkan bahaya, atau pada kebiasaannya
berakibat kerusakan. Hukumnya haram.

Contoh: menjual senjata dimasa perang atau banyak fitnah, menjual anggur untuk membuat
khamr.

3) Perbuatan yang kebanyakan mengarah pada kerusakan tetapi tidak sampai pada tingkat
tinggi. Ulama’ berbeda dalam menghukuminya, apakah ditarjihkan yang haram atau yang halal.
Imam Malik dan Imam Ahmad menetapkan keharamannya.

Contoh: menjual sesuatu yang didalamnya ada barang riba.

4) Perbuatan yang jarang berakibat kerusakan atau bahaya. Maka dalam hal ini hukumnya
diperbolehkan.

Contoh: melihat lain jenis disaat melamar.

1. PENGERTIAN MADZHAB SAHABI

Sepeninggal rasulullah SAW. Banyak peristiwa dan kejadian baru yang muncul di kalangan
sahabat sehingga menuntut adanya madzhab shahabi. Kehujjahan adalah kekuatan yang
meningkat untuk dijalankan oleh umat islam, sehingga akan berdosa jika meninggalkannya
sebagaimana berdosanya meninggalkan perintah Nabi Muhammad SAW.

Menurut jumhur ulama, sahabat adalah orang yang bertemu dengan Rasulullah SAW. Serta iman
kepadanya dan bersamanya dalam waktu yang cukup lama dan ketika meninggal tetap dalam
keadaan beriman. Dalam madzhab shahabi terdapat kehujjahan madzhab.9

Para ulama ushul fiqih sepakat menyatakan bahwa pendapat sahabat yang dikemukakan
berdasarkan hasil ijtihad tidak dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum syara’, baik
pendapat itu berupa fatwa maupun ketetepan hukum. Sebaliknya, mereka sepakat bahwa
pendapat para sahabat yang terkait dengan permasalahan yang tidak dapat dinalar logika atau
ijtihad, dapat diterima sebagai hujjah

Pandangan ulama Syafi’iyah terhadap madzhab shahabi

9
Muhammad Ali Hasan, Perbandingan Madzhab, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), 86.
Disini yang dimaksud dengan madzhab shahabi ialah “pendapat para sahabat Rasulullah SAW
tentang suatu kasus dimana hukumnya tidak dijelaskan secara tegas dalam Al-Qur’an dan sunnah
Rasulullah.

Sedangkan menurut ulama Fiqh yang dimaksud madzhab shahabi yaitu pendapat yang
dikemukakan oleh seorang atau beberapa sahabat Rasulullah secara individu tentang suatu
hukum syara’ yang tidak terdapat ketentuannya dalam Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah
SAW.

Madzhab shahabi itu sendiri menunjukkan pengertian pendapat hukum para sahabat secara
keseluruhan tentang suatu syara’ yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan sunnah, dimana
pendapat para sahabat tersebut merupakan hasil kesepakatan di antara mereka.

Kedudukan madzhab shahabi sebagai sumber hukum

Menurut pendapat para sahabat dibagi menjadi 3 yaitu:

1. Madzhab shahabi yang berdasarkan sunnah Rasul (wajib ditaati).


2. Madzhab shahabi yang berdasarkan ijtihad dan sudah mereka sepakati (ijma’ shahabi)
dapat dijadikan hujjah dan wajib ditaati.
3. Madzhab shahabi yang tidak mereka sepakati (tidak bisa dijadikan hujjah dan wajib
ditaati).

2. KEHUJJAHAN MADZHAB SAHABI

Maksud kehujjahan disini adalah kekuatan yang mengikat untuk dijalankan oleh umat islam,
sehingga akan berdosa jika meninggalkannya sebagaimana berdosanya meninggalkan perintah
Allah.

Madzhab secara mutlak tidak menjadi hujjah/dasar hukum atas madzhab shahabi. Pendapat ini
berasal dari jumhur Asyariyah dan Mu’tazilah, Imam Syafi’i dalam madzhabnya (Syafi’iyah)
dan juga Abul Hasan Al-Kharha dari golongan Hanafiyah. Alasannya sebagai berikut:

1. Bahwa sahabat itu tidak maksum (terpelihara) dari kesalahan. Tidak lain halnya dengan
seorang mujtahid yang bisa berbuat kesalahan. Mengenai keutamaan sahabat dengan ilmu
dan taqwanya, tidaklah mewajibkan untuk mengikutinya.
2. Bahwa sebagian sahabat itu menyelisihi sahabat lainnya.
3. Bahwa ada sebagian tabi’in yang menyalahi madzhab/qaul sahabat.

Dalam hal ini Imam Syafi’i mengatakan sebagaimana dikutip oleh Abdul Wahhab Khallaf dalam
kitabnya, begini: “tidak menetapkan hukum atau memberikan fatwa kecuali dengan dasar yang
pasti, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist, atau sebagaimana yang dikatakan para ilmuwan yang
dalam suatu hal tidak berbeda pendapat (ijma’) atau dengan mengqiyaskan kepada sebagian
dasar ini”.

Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat ulama diantaranya menurut jumhur ulama dari
kalangan ulama Hanafiyyah, Imam Malik, Asy-Syafi’i yang lama (qaul al-qadim) dan Ahmad
bin Hanbal yang terkuat, qaul ash-shahabi merupakan hujjah.

3. DALIL MADZHAB SAHABI

Adapun dalil naqli yang mendukung pendapat para ulama di atas antara lain sebagaimana
dinyatakan bahwa para sahabat adalah orang orang yang lebih dekat kepada Rasulullah SAW
dibanding orang lain.

Dengan demikian mereka lebih mengetahui tujuan syara’ lantaran mereka menyaksikan langsung
tempat dan waktu turun nya Al-Qur’an, mempunyai keikhlasan dan penalaran yang tinggi,
ketaatan yang mutlak kepada petunjuk petunjuk Nabi, serta mengetahui situasi dimana nash-nash
Al-Qur’an diturunkan oleh karena itu fatwa fatwa mereka lebih layak untuk diikuti.

Ulama Syafi’iyyah, Jumhur Al-Asya’irah, Mu’tazilah dan Syi’ah mengatakan bahwa pendapat
sahabat itu tidak dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum karena ijtihad mereka sama
dengan ijtihad ulama lainnya yang tidak wajib diikuti mujtahid lain.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari definisi diatas dapat dipahami bahwa kata kunci yang dipakai ialah masa lalu dan masa
yang akan datang. Hal ini mengandung arti bahwa apa yang diberlakukan pada masa kini adalah
sama secara hukum dengan apa yang diberlakukan pada masa lalu. Contohnya,hak milik
seseorang akan menjadi haknya selama-lamanya sampai ada keadaan yang mengubahnya.
Keadaan yang mengubahnya ini bisa menjual atau menghibahkannya.

Secara bahasa, Dzarai’ merupakan jama’ dari Dzari’ah yang artinya ‘jalan menuju sesuatu’.
Sedangkan menurut istilah dzari’ah dikhususkan dengan’sesuatu yang membawa pada perbuatan
yang dilarang dan mengandung kemudharatan. Akan pendapat ini ditentang oeh para ulama’
ushul lainnya, seperti Ibnu Qayyim yang menyatakan bahwa dzari’ah itu tidak hanya
menyangkut sesuatu yang dilarang, tetapi ada juga yang dianjurkan. Dengan demikian lebih tepat
kalu dzari’ah itu dibagi menjadi dua, yakni saad Adz-dzari’ah (yang dilarang), dan fath Adz-
dzari’ah (yang dianjurkan).

Madzhab secara mutlak tidak menjadi hujjah/dasar hukum atas madzhab shahabi.
Pendapat ini berasal dari jumhur Asyariyah dan Mu’tazilah, Imam Syafi’i dalam madzhabnya
(Syafi’iyah) dan juga Abul Hasan Al-Kharha dari golongan Hanafiyah

B. SARAN

Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih jauh dari kesempurnaan, sehingga
penulis mengharapkan adanya kritikan dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Diharapkan penulis selanjutnya lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan daya pikirnya
kedepan untuk memajukan syari’at Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Sapiudin Shidiq. 2011. Ushul Fiqh. Jakarta: Kencana.


Muhammad Misbah. 2014. Pengantar Ushul Fiqh. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar.
Amir Syarifuddin. 2012. Garis-Garis Besar Ushul Fiqh. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
Nurhayati,dkk. 2018. Fiqh dan Ushul Fiqh. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
Sapiudin Shidiq.2011. Ushul Fiqh.Jakarta: Kencana.
Andewi Suhartini. 2012. Ushul Fiqih. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kementrian
Agama RI.
A. Basiq Djalil. 2010. Ilmu Ushul Fiqih 1 dan 2. Jakarta: Kencana.
Sulaiman Abdullah. 1995. Sumber Hukum Islam. Jakarta: Sinar Grafika.
Muhammad Ali Hasan. 1995. Perbandingan Madzhab. Jakarta: Raja Grafindo Persada