Anda di halaman 1dari 12

1

EFEKTIFITAS TUAK SEBAGAI SUMBER ENERGI


TERHADAP DAYA TAHAN TUBUH

Adi Kuswara
Program Studi Teknik Mesin, Institut Teknologi Sumatera
Email: adi.119170001@student.itera.ac.id

ABSTRAK
Mengonsumsi minuman tuak di beberapa daerah di Indonesia sudah menjadi kebiasaan dan
kebudayaan. Tanpa disadari bahwa perilaku konsumtif tersebut mengandung unsur positif yag
jarang diketahui oleh masyarakat secara umum, khususnya masyarakat di Kecamatan Gedung
Meneng, Kabupaten Tulang Bawang. Studi kuantitatif dilakukan untuk mengetahui manfaat
minuman tuak sebagai sumber energi terhadap daya tahan tubuh. Data penelitian dikumpulkan
melalui wawancara dengan jumlah narasumber sebanyak 20 orang yang berdomisili di daerah
penelitian. Hal ini dilakukan untuk menjaga keabsahan data primer yang diperoleh. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa narasumber memahami tuak sebagai minuman tradisional yang
memiliki pengaruh positif dan negatif bagi pengonsumsinya. Kebanyakan dari mereka
mengonsumsi karena lingkungan sosialnya, yaitu untuk tujuan bersuka ria atau mabuk mabukan
hal ini masih relatif nonfungsional. Dari aspek medis, minuman tuak dianggap dapat
meningkatkan daya tahan tubuh. Karena bahan baku pembuatannya memiliki kandungan yang
dapat digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit, salah satunya adalah diabetes. Tingkat
efektivitas yang diperoleh dari pengolahan data mencapai 3,536 (satuan gain), sehingga dengan
nominal tersebut tuak mampu merepresentasikan sebagai sumber daya tahan tubuh.

Kata kunci: tuak, konsumsi, daya tahan.

PENDAHULUAN

Daya tahan adalah kemampuan kondisi tubuh untuk melakukan kerja dalam
waktu yang lama. Latihan daya tahan merupakan latihan untuk bekerja atau
berlatih dalam waktu yang lama tanpa mengalami kelelahan. Daya tahan di bagi
atas menjadi dua yaitu daya tahan kardiovaskuler dan daya tahan otot (K. Adina,
2012). Sedangkan daya tahan kardiovaskuler ialah kemampuan seseorang dalam
mempergunakan sistem jantung, paru-paru dan peredaran darahnya efektif dan
efisien untuk menjalakan secara terus menerus yang melibatkan kontraksi otot
dengan intensitas tinggi dalam waktu yang cukup lama. Daya tahan otot adalah
kemampuan seseorang untuk mempergunakan ototnya untuk berkontraksi secara
terus menerus dalam waktu yang relatif lama dengan beban tertentu (Halim, Nur
Ichsan, 2011).
Banyak contoh yang dapat dilakukan dalam upaya meningkatkan daya tahan
kardiovaskuler seperti fartlek atau speed play. Dalam sistem latihan fartlek yaitu
2

seperti dengan lari jarak pendek 30-60 meter, lari jarak sedang 60-80 meter dan
lari jarak panjang 100-150 meter. Penyelenggaraan upaya kesehatan mempunyai
tujuan untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap manusia. Adanya
kemampuan hidup sehat, merupakan syarat utama bagi terciptanya derajat
kesehatan yang optimal sehinggah sekarang orang telah mengakui dan merasakan
termasuk mereka yang berpenghasilan tinggi bahwa olahraga yang sering
dilakukan merupakan olahraga yang bertujuan untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan. (Rusli, Lutan, 2002)
Di Indonesia, Provinsi Lampung tepatnya di Kabupaten Tulang Bawang, tuak
manis merupakan minuman jajanan yang manis dan minuman yang tidak
mengandung alkohol, biasanya di sajikan dingin. Tuak manis dapat di produksi
dari pohon anau atau aren. Tuak manis banyak di jumpai di jalan poros KM 52
tepatnya di Kecamatan Gedung Meneng. Dalam keadaan segar tuak manis
tersebut yang habis dipanen langsung tuak itu akan terasa manisnya. Tuak manis
yang terbuat dari pohon aren atau anau ini mengandung beberapa zat gizi antara
lain karbohidrat, protein, lemak dan mineral. Rasa manis yang terdapat pada tuak
tersebut disebabkan adanya kandungan karbohidtrat. Komponen utama pada tuak
manis adalah karbohidrat dalam bentuk sukrosa, sedangkan komponen lainnya
adalah jumlah sangat relatif kecil yaitu protein, lemak, vitamin dan mineral.
Tuak manis adalah jenis minuman yang kadar alkoholnya renda, lebih rendah
dari pada bir atau pun anggur. Tuak manis dapat berguna untuk membuat kondisi
badan dan suhu tubuh seseorang akan menjadi tenang saat meminum tuak manis
tersebut karena dapat menekan syaraf sentral tubuh. Pada dasarnya di kondisi
cuaca yang sangat dingin, tuak manis dapat juga sebagai minuman penghangat
bagi tubuh dan juga sebagai obat penghilang rasa lelah setelah bekerja keras.
Akan tetapi dalam pemanfaatan pohon aren oleh masyarakat, nira adalah yang
paling banyak memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di desa atau di
sekitar hutan. Pada tanaman aren yang sehat setiap tandan bunga jantan bisa
menghasilkan nira sebanyak 900-1.800 liter/tandan, sedangkan pada tanaman aren
yang pertumbuhannya kurang baik hanya rata-rata 300-400 liter/tandan (Lutony,
1993). Produk-produk nira dapat digolongkan dalam dua kelompok, yaitu produk
3

yang tidak mengalami proses fermentasi dan yang mengalami fermentasi (Barlina
dan Lay, 1994).
Telah diketahui bahwa di dunia kesehatan tuak manis pun juga dapat
menyembuhkan penyakit kencing batu, kencing manis, serta dapat menetralisir
racun yang berada pada tubuh. Selain itu juga, tuak pun membantu menyehatkan
jantung, paru-paru dan termasuk bisa menormalkan empedu.
Di beberapa daerah di Indonesia, tuak dijadikan minuman khas yang hampir
dikonsumsi setiap hari. Beberapa dari mereka juga percaya, bahwa tuak dapat
mengatasi penyakit diabetes seperti manfaat jus pare untuk diabetes dan manfaat
buah okra untuk diabetes. Tuak memiliki kandungan sukrosa di dalamnya, akan
tetapi mengapa tuak dijadikan salah satu minuman yang dipercaya untuk
menurunkan kadar gula darah dalam tubuh.
Di Tapanuli pembuatan tuak tidak murni dari nira, akan tetapi terdapat
campuran kulit kayu ranu. Fungsi dari kulit kayu ranu ini sebenarnya untuk
membantu proses peragian dalam pembuatan tuak. Kulit kayu ranu sendiri
merupakan obat herbal yang dapat digunakan untuk mengatasi diabetes. kulit kayu
ranu mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, tanin dan saponin. Senyawa
aktif dalam kulit  ranu dapat membantu menurunkan kadar gula darah atau
memiliki aktivitas glikemik. Dalam senyawa aktif kulit kayu ranu terdapat
saponin. Saponin bekerja sebagai sumber antibakteri dan virus. Adanya saponin
dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mengurangi kadar gula
darah dalam tubuh, dan juga dapat mengurangi penggumpalan darah. Ituah alasan,
mengapa kulit kayu ranu dapat membantu menurunkan kadar gula darah
(manfaat.co.id).
Mengacu dan tertarik pada pembahasan diatas bahwa tuak manis berpotensi
untuk dimanfaatkan sebagai peningkatan daya tahan tubuh dan bermanfaat dalam
pengobatan diabetes makan saya memfokuskan penelitian kepada “Efektifitas
Tuak Sebagai Sumber Energi Terhadap Daya Tahan Tubuh dan Penangkal
Diabetes”.

METODE
Metode Pengumpulan Data
4

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. metode
kualitatif dapat didefinisikan sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dan perilaku yang dapat diamati (Bogdan,
1975). Data yang digunakan diperoleh dari wawancara 20 narasumber (anonim). Data
yang diperoleh akan dianalisis dan diolah oleh penulis sehingga akan didapatkan data
yang diperlukan untuk penelitian ini.

Teknik Penelitian
Teknik penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pengumpulan data
melalui survey lapangan dan wawancara secara kualitatif, yang hasilnya dituangkan
secara kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian ilmiah yang sistematis
terhadap bagian-bagian dan fenomena serta hubungan-hubungannya. Tujuan
penelitian kuantitatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model
matematis, teori-teoridan/atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam.
Proses pengukuran adalah bagian yang sentral dalam penelitian kuantitatif karena
hal ini memberikan hubungan yang fundamental antara pengamatan empiris dan
ekspresi matematis dari hubungan-hubungan kuantitatif.
.
Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis
deskriptif kualitatif dan analisis kuantitaif. “Penelitian deskriptif kualitatif adalah suatu
metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek dengan tujuan membuat
deskriptif, faktual, akurat mengenai fakta-fakta yang diselidiki”. (Covelo, G. Cevilla, dkk,
1993).

LITERATUR
Tuak adalah sejenis minuman beralkohol nusantara yang merupakan hasil
fermentasi dari nira, beras, atau bahan minuman atau buah yang mengandung
gula. Kadar alkohol tuak di pasaran berbeda-beda tergantung daerah
pembuatannya. Menurut beberapa masyarakat yang mengkonsumsi tuak
menganggap bahwa tuak berkhasiat menyehatkan badan karena mengandung efek
menghangatkan tubuh, antioksidan, dan vitamin c. Masyarakat daerah tertentu
juga menghidangkan tuak dibeberapa acara atau perayaan adat. Tuak juga bisa
5

meningkatkan kemampuan visual dan laktasi atau produksi, serta mengeluarkan


asi pada payudara.
Berdasarkan beberapa penjabaran tersebut, selain memiliki manfaat tentunya
tuak memiliki pengaruh negatif bagi tubuh apabila dikonsumsi secara berlebihan.
Hal tersebut bisa menyebabkan terjadinya penurunan fungsi testis karena
menurunkan kadar testosterone, motilitas sperma, dan viabilitas sperma.
Mengonsumsi tuak dengan kadar alkohol dan takaran tertentu dapat
mempengaruhi sistem kekebalan dan daya tahan tubuh manusia. Dalam waktu 20
menit setelah menelan alkohol, sistem kekebalan tubuh dapat langsung turun.
Namun seberapa besar atau pengaruh turunnya tergantung dari kondisi tubuh
manusia itu sendiri.
Ada beberapa jenis tuak yang dapat digunakan atau dimanfaatkan dalam dunia
kesehatan, khususnya bagi daya tahan tubuh. Selain dapat menghangatkan badan,
telah diketahui bahwa jenis tuak manis dapat menyembuhkan penyakit kencing
batu, kencing manis, serta dapat menetralisir racun yang berada pada tubuh.
Alkohol juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan berpotensi
meningkatkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi. Hal ini bisa membuka
jalan baru yang berpotensi untuk merespon vaksin dan infeksi. Berkaitan dengan
manfaat tuak dalam membantu mengatasi masalah diabetes, sebenarnya bukan
pada tuaknya. Akan tetapi lebih kepada campuran pada tuak. Pembuatan tuak
memerlukan kulit kayu ranu untuk membantu proses fermentasi agar
menghasilkan tuak. Campuran kulit kayu ranu pada nira inilah yang sebenarnya
berfungsi  untuk membantu menurunkan kadar gula darah dalam tubuh.
Bagi yang memiliki riwayat diabetes, mencoba manfaat tuak yang memiliki
campuran kayu ranu dalam pembuatannya mungkin juga dapat dilakukan. Karena
terdapat kayu ranu, yang memiliki senyawa aktif yang membantu menurunan
kadar gula darah. Meskipun sebenernya belum ada penelitian yang pasti mengenai
manfaat dan efek dari mengkonsumsi tuak pada penderita diabetes. minuman
lainnya yang mirip dengan tuak adalah manfaat tepung aren, manfaat air
legen dan manfaat air nira yang juga berguna bagi tubuh.
6

Hal yang sangat penting dan perlu diperhatikan oleh penderita diabetes adalah
pola hidup sehat. Penderita diabetes harus benar-benar menerapkan pola hidup
sehat.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Karakteristik Persepektif Narasumber Tentang Minuman Tuak
Karakterisasi responden ini menjelaskan tentang pengetahuan, distribusi
berbagai parameter zonasi, dan perilaku masyarakat Kecamatan Gedung Meneng
mengenai manfaat minuman tuak manis. Berdasarkan hasil analisis, masyarakat
yang mengetahui manfaat minuman tuak sebagai sumber daya tahan tubuh sebesar
70%, sedangkan persentase masyarakat yang tidak mengetahui hanya 30%.
Berbanding terbalik dengan pengetahuan narasumber terhadap tuak sebagai
penangkal diabetes. Sejumlah 55% narasumber yang mengetahui dan 45%
narasumber yang tidak mengetahui. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mayoritas
masyarakat Gedung Meneng melalui representator 20 narasumber mengetahui
manfaat tuak sebagai sumber daya tahan tubuh dan penangkal diabetes. Hal ini
ditunjukkan oleh Gambar 1 grafik karakterisasi pengetahun Narasumber
mengenai kegunaan tuak dari etimologi medis.

K a r a k t e r i s a s i p e n g e t a h u a n n ar as u m b e r

Diabetes (-)

Diabetes (+)

Sumber Daya tahan tubuh (-)

Sumber Daya tahan tubuh (+)

0 2 4 6 8 10 12 14 16

Gambar 1. Karakterisasi Narasumber Gedung Meneng perihal kegunaan tuak

Pertimbangan dari perspektif narasumber juga dibagi ke dalam beberapa


zonasi, seperti distribusi usia narasumber, jenis pekerjaan narasumber, dan jenis
kelamin narasumber. Berikut sajian datanya dalam bentuk doughnot chart.
7

Distribusi Usia Narasumber


<20
41> 5%
20% 20-25
30%
31-35
10%

26-30
35%

<20 20-25 26-30 31-35 36-40 41>

Gambar 2. Distribusi usia Narasumber Gedung Meneng

Usia merupakan factor penting dalam aspek penelitian yang melibatkan


perspektif narasumber atau masyarakat. Terlihat yang paling dominan dari
Narasumber Gedung Meneng berada pada interval usia 26-30 tahun. Artinya usia
tersebut merupakan usia produktif remaja menuju dewasa. Dengan persentase
senilai 35% di atas menyatakan bahwa usia produktif sangat ditekankan untuk
memiliki daya tahan tubuh atau stamina yang kuat atau bugar, hal ini dikarenakan
banyaknya aktivitas yang dilakukan oleh narasumber yang berkorelasi dengan
jenis pekerjaan. Korelasi ini dapat dilihat pada gambar 3.

Distribusi Jenis Pekerjaan


Narasumber
Pelajar
Petani
5% 20% Ibu Rumah Tangga
Wiraswasta
45% PNS
25%
5%

Gambar 3. Distribusi jenis pekerjaan Narasumber Gedung Meneng

Jenis pekerjaan yang paling sedikit adalah PNS dan ibu rumah tangga.
Masing-masing memiliki bobot 5%. Bobot tertinggi berjumlah 45% yang berada
8

pada zonasi wiraswasta. Secara komposisi, 86,34% adalah persentase dari


narasumber yang berusia 26-30 tahun. Pernyataan tersebut masih linier
berdasarkan perspektif narasumber bahwa rata-rata pada usia tersebut adalah usia
pekerja dalam bidang wiraswasta. Didukung oleh jenis kelamin narasumber, yang
dapat dilihat pada gambar 4. Bahwa 90% yang mengonsumsi tuak adalah berjenis
kelamin laki-laki dari fungsi komposisi wiraswasta sejumlah 100%.

Distribusi Jenis Kelamanin Narasumber


10%

90%

Laki-Laki Perempuan

Gambar 3. Distribusi jenis kelamin Narasumber Gedung Meneng

Perilaku konsumtif Narasumber Gedung Meneng Terhadap Tuak


Narasumber yang berjumlah 20, dengan dominasi usia 26-30 tahun, bekerja
sebagai wiraswasta dan berjenis kelamin laki-laki adalah mereka yang memiliki
perilaku konsumtif pada waktu dan tertentu dan alasan yang bervariasi. Hal
tersebut dapat dilihat pada gambar 5.

Gambar 5. Gradual waktu dan alasan Narasumber Gedung Meneng


9

Secara empiris tanya jawab, narasumber telah mengetahui bahwa tuak


merupakan sumber daya tahan tubuh dan penangkal diabetes. Secara gradual
persentase alasan mengonsumsi tuak dimulai dari yang terbesar; daya tahan tubuh
sebanyak 8 narasumber (1), mencegah diabetes sebanyak 5 orang (2), hobi
sebanyak 3 orang (3), coba-coba dan mencegah stress masing-masing sebanyak 2
orang (4). Sedangkan waktu paling dominan dalam perilaku konsumtif tersebut
adalah pada malam hari.

Efektivitas Tuak sebagai daya tahan tubuh


Penyajian data dilakukan secara tes observasional, dengan melibatkan 4
narasumber anonym sebagai pelaku percobaan lari, dengan:
Waktu : 6 hari
Lokasi : daerah lappo tuak (x)
Jam : 16.30 WIB.
Jenis perlakuan : lari
Panjang lintasan : 100 meter (20 kali bolak-balik)
Parameter ukur : waktu
Beda konsentrasi : Air putih dan Tuak
Narasumber : Usia 26-30 tahun, laki-laki, jenis pekerjaan wiraswasta

Tabel 1. Hasil pengukuran observasional narasumber

N Persona Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4 Hari 5 Hari 6


Air Air
o l
Putih Tuak Air Putih Tuak Putih Tuak
1 A 60 (s) 50 (s) 62 (s) 48 (s) 69 (s) 66 (s)
2 B 65 (s) 54 (s) 55 (s) 54 (s) 70 (s) 68 (s)
3 C 50 (s) 55 (s) 67 (s) 56 (s) 64 (s) 59 (s)
4 D 77 (s) 63 (s) 68 (s) 68 (s) 66 (s) 61 (s)

Dengan asumsi bahwa tanpa menggunakan dua parameter fisik berupa air
putih dengan tuak, waktu yang tercatat adalah konstan, yaitu 60 detik. Data di atas
kemudian di transpose sehingga berelemen seperti table di bawah ini:
10

Tabel 2 Hasil transpose satuan ukur kumualtif


Persona Satuan Ukur (s)
l Air Putih Tuak
A 60 50
B 65 54
C 50 55
D 77 63
A 62 48
B 55 54
C 67 56
D 68 68
A 69 66
B 70 68
C 64 59
D 66 61
Rerata 64,42 58,5

Rumus efektivitas:
waktu rata−rata perlakuan−waktu konstan
N−effect=
|waktu tercepat−waktu konsta n|
64,42−60 4,42
N− Air Putih=
| || |
|50−60|
=
−10
=0,442

58,5−60 1,5
|| || | |
N−Tuak = = =0,125
48−60 −12
Indeks gain pada masing-masing variable menunjukkan perbedaan yang
cukup signifikan. Karena parameter ukur bersifiat inversif sehingga indeks gain
dibuat terbalik dan bernilai mutlak. Pada perlakuan terhadap air putih nilai gain
yang ternormalisir sejumlah 0,442. Artinya interval tersebut masuk pada kategori
sedang. Sementara skor pada gain tuak berjumlah 0,125. Sehingga terkategori
rendah.

Kriteria Indeks Gain :


a. Skor (g) ≥0,70 kategori tinggi.
b. Skor 0,30 ≤(g) ≥0,70 kategori Sedang.
c. Skor (g) > 0,30 kategori Rendah (Sundayana, 2014)
11

Nilai gain yang kecil menunjukkan bahwa sebaran data yang digunakan
sudah berkorelasi dengan baik oleh data pembanding maupun pendukung. Untuk
mengetahui keefektifan antara kedua model tersebut digunakan rumus inversif
sebagai berikut.
N−Gain kontrol
Efektivitas=¿
N −Gain eksperimen
Sehingga diperoleh:
0,442
Efektivitas=¿ =3,536
0,125
Nilai efektivitas >1 maka terdapat perbedaan efektivitas dimana perlakuan
konsumsi tuak sebagai sumber daya tahan tubuh dinyatakan lebih efektif dari pada
konsumsi air putih (secara temporal).

Kesimpulan
Buat kesimpulan sendiri ya adi,
Aku hapus diabetesnya karena gabisa dibuktikan

DAFTAR PUSTAKA

Halim, N. I. (2011). Tes dan Pengukuran Kesegaran Jasmani. Makassar:


Badan Penerbitan Universitas Negeri Makassar.
lay, R. B. (1994). Pengolahan Nira Nila Kelapa Na De Coco, Alkohol, dan
Asam Cuka. Penelitian Kelapa Vol.7 No.2, Manado.
Lutan, R. (1994). Pengolahan Nira Nila Kelapa Untuk Produk Fermentasi Nata
De Coco, Alkohol, dan Asam Cuka. Penelitian Kelapa Vol. 7 No. 2.
Setiawan, H. (2018). Manfaat Tuak Untuk Diabetes.
https://manfaat.co.id/manfaat-tuak-untuk-diabetes (diakses tanggal 20 April 2020)
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
12