Anda di halaman 1dari 1

Lesi Otak Akibat Infeksi Echinococcus granulosus

1
Firda Novidyawati dan 2Yudha Nurdian
1
Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Jember, Indonesia
2
Fakultas Kedokteran, Universitas Jember, Indonesia
Email korespondensi: FN dyawati, firdanovi11@gmail.com; 152010101018@students.unej.ac.id

Abstrak

Latar Belakang
Cystic echinococcosis merupakan zoonosis yang dapat menginfeksi manusia dan hewan. Penyakit
ini disebabkan oleh stadium larva (metasestoda) Echinococcus granulosus yang merupakan spesies
dari cestoda. Hospes definitif cacing ini adalah hewan karnivora (anjing dan kucing) sedangkan
larva E. granulosus hidup pada hospes perantara yaitu pada hewan ungulata (domba, sapi, kerbau,
kuda, dan babi). Manusia akan terinfeksi melalui makanan yang tercemar oleh telur infektif E.
granulosus melalui tinja hewan karnivora dan hewan ternak ungulata. Telur E. granulosus akan
berkembang menjadi larva dan akan mencapai susunan saraf pusat (SSP) melalui aliran darah yang
selanjutnya akan berkembang lagi menjadi kista yang disebut dengan kista hidatid. Pertumbuhan
kista hidatid lambat dan menyebabkan disfungsi jaringan otak. Lesi otak yang paling sering terjadi
di bagian tentorium serebri superior tepatnya di arteri serebri media. Kista hidatid di dalam otak
biasanya tidak menunjukkan edema perifokal dan ketika terdiagnosis umumnya berukuran 5 – 10
cm. Gejala dan tanda klinis pada anak adalah meningkatnya tekanan intrakranial sampai terjadinya
hidrosefalus yang disertai sakit kepala, mual, muntah, dan papiledema serta teregangnya sutura
pada kranium. Pada orang dewasa menunjukkan tanda gangguan neurologis fokal seperti
hemiparesis, gangguan visual, dan gangguan bicara. Diagnosis yang paling mungkin dilakukan
dengan menggunakan teknik imaging (CT Scan, Magnetic Resonance Imaging (MRI), dan
ultrasonografi). Terapinya dapat diberikan antiparasit, seperti albendazol. Selain itu dapat juga
dilakukan pembedahan. E. Granulosus dapat ditemukan di seluruh dunia, dengan daerah endemik di
Amerika Selatan, Negara Mediterania, Afrika Timur, Eropa Timur, Rusia, Asia Tengah, China, dan
Indonesia yang ditemukan di danau Lindu Sulawesi Tengah.
Kesimpulan
E. granulosus dapat menginfeksi otak yang dapat menyebabkan disfungsi jaringan otak. Lesi pada
SSP paling sering terjadi pada tentorium serebri superior di arteri serebri media. Gelaja dan tanda
klinik yang muncul pada anak berbeda dengan orang dewasa. Diagnosisnya dapat ditegakkan
berdasarkan teknik imaging (MRI, CT scan, dan ultrasonografi). Pengobatan dapat diberikan
antiparasit dan dilakukan pembedahan.

Referensi
Stojkovic, M. and Junghanss, T. 2013. Cystic and Alveolar Echinococcosis. In: Aminoff, M. J.,
Boller, F., and Swaab, D. F. (Eds.). Handbook of Clinical Neurology, Vol. 114, Amsterdam:
Elsevier. p. 326 – 334.

Sandy, S. 2014. Kajian Aspek Epidemiologi Echinococcosis. CDK, 41(4): 264 – 267.