Anda di halaman 1dari 8

TUGAS

1. Pembahasan PT.ANNA
Diketahui:
Modal usaha = Rp 200.000.000,00
Modal asing = Rp 120.000.000,00
Bunga = 22%
Rentabilitas (laba) = 25%
Pajak = 25%
Laba usaha = Laba – Bunga
= 25 % ¿)
= 25 %−26.400 .000
= Rp 19.800.000
Pajak = 25 %−19.800 .000
= 19.800 .000 – ( 25 % ×19.800 .000 )
= 19.800.000 – 4.950.000
Laba bersih = Rp 14.850.000
a) Rentabilitas = Laba bersih÷ MS ( modal sendiri ) × 100 %
14.850.000
¿ ×100 %
200.000.000
¿ 0,07445 ( 75 % )

Lababersih setelah pajak


b) ROA =
Total Aset
14.850.000
¿
0,07445
¿ Rp19.853
c) profit margin PT. ANNA?
Jawab :
Net profit
Net Profit Margin =
Net Sales
14.890
=
19.853
¿ Rp750

2. Pembahasan PT MUTIARA

a) Berapa (1) net profit margin, (2) return on total assets, dan (3) return on equity?
Pembahasan:
Diketahui: Net Profit = 500 juta
Total Kekayaan = 5000 juta ×5=25.000 juta
Total Hutang = total aset × rasio hutang
= 5000 juta ×0,20=1.000 juta
Net Profit
Net Sales =
Rasio Hutang
500 juta
¿
0,20
= 2,500
net profit
Net profit Margin =
net sales
500.000.000
= ×100 %
25.000
=0,02(2 %)
Lababersih stelah pajak
Return on total Assets =
Total aset
500.000 .000
= × 100 %
5.000.000 .000
= 0,1=1%
Mencari modal untuk ROE = 0,20 ×5000 juta=1000 juta
¿ Aktiva−Hutang
=5000 juta−1000 juta=4000 juta
laba bersih setelah pajak
Return on Equity =
ekuitas
500.000.000
= ×100 %
4000.000 .000
= 0.125 (12,5%)

B. return on assets dan return on equity yang baru?


Penjualan = 25.000 juta
Penjualan laba bersih = 25.000 juta ×3 %=75.000 juta
Hutang = 1.000 juta
Modal = 4.000 juta

laba bersih
Net Profit Margin =
penjualan bersih
750.000.000
=
25.000.000
=0,03(3 %)
laba bersih
Return on Assets =
total aktiva
750.000 .000
¿
5.000.000 .000
=0,15(15 % )
laba bersih
Return On Equity =
total ekuitas
750.000.000
¿
4000.000 .000
¿ 0,1875(18,75 %)
a) c. Bagaimana perusahaan bisa mencapai return on equity yang sama dengan nomor (b)
dengan melakukan perubahan rasio hutang dengan kekayaan, sedangkan rasio return
on assets-nya dipegang konstan.
Pembahasan:

3. pembahasan

a. Laba Operasi
Laba Operasi = Laba bersih+bunga hutang+ Pajak
=5 00.000 .000+15 %+35 %
=500.000 .000+50 %
= 750.000 .000
b. NOPAT
NOPAT = laba bersih− pajak
= 750.000 .000−35 %
= 487.500 .000
c. Profit Margin
Labaoperasi
Profit Margin =
penjualan

750.000 .000
=
5.000.000 .000

d.

4. pembahasaan

a) Berapa return on equity PT. BERLIAN?


Pembahasan:
500.000.000
Return on Equity =
12.500
= 40.000
b) Berapa return on assets PT. BERLIAN?
Pembahasan:
500.000.000
Return on assets =
5.000
=100.000

5. pembahasan

Diketahui:
Harga saham = 5.000 per lembar
Total Harga saham = 5000 ×1 juta lembar
=5.000 .000
500.000.000
Laba saham =
1.000.000
= 500
Harga saham
a. Price Earning Ratio(PER) =
laba saham
5.000.000
=
500
¿ 10.000
4.000 .000 .000
b. Ekuitas per lembar saham =
1.000.000
5.000 .000.000
EVA =
4.000 .000 .000
= 1,25
c. Market Value Added = Jumlah saham× harga saham
= 1.000 .000× 5000
= 5.000 .000.000
MVA = 5.000 .000.000−1.000 .000.000
= 4.000 .000 .000

6. Masih dari soal nomor 2a, misalkan pada tahun sebelumya net profit margin, return on total
asset, dan return on equity , berturut-turut adalah 2,4%, 8,0% dan 13,3%. Apakah kita bisa
menggunakan bahwa probabilitas perusahaan meningkat ataukah menurun?

Penjelasan;

Meningkat karena ? Untuk profitabilitasnya semakin meningkat karana bisa dilihat dari ROE
yang tahun sebelumnya yaitu 75% dan tahun berikutnya meningkay menjadi 99%

7. Untuk bisa membaca prospek emiten, bisa menggunakan enam rasio penting untuk analisa
fundamental dalm memilih saham yang tepat, yaitu:
a. Rasio Earnings Per Share (EPS) yakni rasio untuk valuasi saham adalah EPS atau laba
bersih per lembar saham. Semakin rasio EPS ini mengalami peningkatan dan tumbuh,
maka kinerja perusahaannya semakin membaik. Kondisi tersebut terjadi karena
kemungkinan besar penjualan serta laba perusahaan tersebut terus tumbuh. Namun
sebaliknya, jika EPS ini menunjukkan penurunan, maka kinerja perusahaan tidak terlalu
bagus dan perolehan laba serta jumlah penjualan mengalami kemunduran. Adapun untuk
pertumbuhan rasio EPS paling sedikit adalah 10-20% per tahun. Tanpa melupakan
tingkat stabilitas rasio tersebut. Oleh karena itu, mencari perusahaan dengan rasio
earnings per share (EPS) yang meningkat dari waktu ke waktu.
b. Price Earnings Ratio (PER) yakni perbandingan antara harga saham dan laba bersih
perusahaan. Salah satu focus dari perhitungan PER adalah perolehan laba bersih emiten,
jadi jika mengetahui PER dari sebuah emiten maka kita bisa mengetahui apakah harga
saham wajar atau tidak secara nyata bukan hanya berdasarkan perkiraan saja. Ada dua
jenis ratio PER yang dapat dipilih dan digunakan dalam menentukan saham yaitu
Traiiling PER dan Forward PER. Trailing PER adalah membandingkan harga pasar
saham per tanggal tertentu dengan laba tersebut merupakan laba satu tahun terakhir yang
sudah terealisasi (trailing). Sedangkan Forward PER adalah membandingkan harga
saham emiten pada tangggal tertentu dengan laba yang diestimasi atau diproyeksikan
(forward) sampai akhir tahun. Proyeksi laba tersebut adalah proyeksi laba setahun penuh
yang belum terealisasi semuanya. Dengan memanfatkan ratio PER saat memilih saham,
investor bisa mengetahui lama waktu dibutuhkan untuk mendapat return dari modal yang
dikeluarkan.
c. Ratio Price to Book Value (PBV) lebih melihat ke sisi nilai ekuitas perusahaan. Oleh
karena itu, PBV adalah rasio yang membandingkan nilai pasar suatu saham (stock’s
market value) terhadap nilai buku per lembar saham (nilai saham saat saham dijual untuk
pertama kalinya kepada investor). Ratio PBV sangat berguna, terutama dalam valuasi
saham dalam industry keuangan seperti bank, lembaga pembiayaan, perusahaan efek,dan
asuransi. Hal tersebut dikarenakan sebanyak 90 persen aset-aset perusahaan di sektor
keuangan tersebut adalah saham dalam bentuk kas, surat berharga, dan tagihan. Saham
dengan PBV rendah dibanding rata-rata perusahaan lain dalam industry serupa biasanya
diminati oleh para investor karena PBV rendah tersebut dapat menjadi indicator untuk
mencari saham murah atau undervalued. Sebaliknya, PBV yang tinggi kemungkinan
dipicu oleh harga pasar yang sudah terlampau tinggi sebaliknya pasar yang sudah
terlampau tinggi sebaiknya agar segera dilakukan analisis lebih lanjut. Normalnya
sebuah perusahaan yang tidak bermasalah memiliki rasio PBV diatas satu. Namun
berbeda hal terjadi di emiten bank karena semakin besar nilai kapitalisasi pasar bank itu
maka makin tinggi pula rasio PBV yang bersedia dibayar investor. Jadi, semakin bagus
prosepek sebuah emiten dan disukai oleh banyak investor maka semakin tinggi pula
PBV sahammya.
d. Rasio Return on Equity (ROE) yakni perbandingan antara laba bersih dengan total
ekuitas atau sama juga dengan rasio EPS dibagi dengan rasio PBV. Rasio ini adalah
suatu parameter dari income atau penghasilan yang bisa diperoleh oleh pihak pemilik
perusahaan (pemegang saham) dalam investasi dana mereka di perusahaan tertentu. ROE
bisa menunjukkan pada para investor mengenai kemampuan modal yang dimiliki oleh
perusahaan sendiri (ekuitas) untuk menghasilkan laba bersih, laba setelah bunga , pajak
atau biasa disebut earning afterest and tax. Ini menunjukkan rasio ROE tersebut
memcerminkan kemampuan perusahaan atau emiten dalam mengelola ekuitasnya. Ada
dua cara untuk mengetahui apakah rasio ROE dengan 20% sudah bagus atau tidak.
Pertama, membandingkan rasio ROE perusahaan tertentu dengan perusahaan lain yang
bergerak disektor yang sama. Selanjutnya, membandingkan rasio ROE suatu perusahaan
dalam kurun beberapa waktu untuk bisa melihat trennya, perhatikan apakah tren tersebut
turun ataukah naik. Semakin tinggi rasio ROE semakin baik. Akan tetapi, perusahaan
dengan rasio ROE tinggi bisanya juga memiliki resiko tinggi pula karena perusahaan
memiliki rasio utang yang cukup besar. Selain itu, perusahaan dengan rasio ROE yang
tinggi juga cenderung memiliki PBV tinggi pula. Oleh karena itu pilihlah saham yang
mempunyai rasio ROE stabil dan minimal 10%.
e. Debt to Equity Ratio (DER) berfungsi untuk mengukur resiko keuangan suatu
perusahaan atau emiten. Rasio DER membandingkan jumlah seluruh utang perusahaan
pada modal perusahaan. Oleh karenanya, semakin tinggi besaran rasio DER maka
semakin meningkat level resiko perusahaan itu. Investor sebaiknya tak mengabaikan
DER saat memilih saham, karena ini bisa jadi warning ketika perusahaan akan
bermasalah. Adapun cara untuk menentukan berapa nilai DER dari suatu perusahan yaitu
pertama, dengan melakukan perbandingan antara komposisi hutang jangka pendek
(short-term debt to equity ratio) atau hutang jangka panjang (long-term debt to equity
ratio) dengan ekuitas perusahaan. Umumnya perusahaan bukan perbankan atau
pembiayaan yang sehat memiliki rasio DER kurang dari satu karena perusahaan tersebut
memiliki hutang yang lebih kecil dari ekuitas milik perusahaan. Jika rasio DER suatu
perusahaan lebih dari satu maka perusahaan tersebut memiliki resiko keuangan yang
besar. Disamping itu, rasio DER lebih dari satu pada perusahaan bisa menggangu
kualitas kinerja perusahaan. Jika kinerja perusahaan mengalami penurunan maka akan
menimbulkan efek negative juga pada pertumbuhan harga sahamnya. Oleh karena itu,
beberapa investor cendering menghindari perusahaan yang bukan berderak dalam bidang
keuangan seperti bank, atau perusahaan investasi dengan rasio DER lebih dari satu.
1. 8. benarkah bahwa pemodal sebaiknya mrmbeli saham dari perusahaan yang mempunyai
PER yang rendah? Mengapa?