Anda di halaman 1dari 34

PSIKOLOGI PELAYANAN KEBIDANAN

GANGGUAN PSIKOLOGI PADA MASA PERSALINAN


DAN NIFAS

DOSEN PEMBIMBING
ELVI DESTARIYANI, M.Keb

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 6
CATHARINA HERMANUS PUTRI (P05140317005)
PRILI PUSPA DEWI (P05140317032)
LOVIA ANGGRAINI (P05140317018)
RIZKA PURNAMA (P05140317038)
CHAIRANI ADE PUTRI FUADI (P05140317006)
REGGY CASTRENA ANGGELA (P05140317036)
TALITHA VINDY ARISTAWATI (P05140317042)
ANISA LOLA VANIANDA (P05140317001)

POLTEKKES KEMENKES BENGKULU


PRODI D4 KEBIDANAN
T.A 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur yang tak terhingga penulis panjatkan kehadirat Illahi
Rabbi, atas berkah, rahmat, karunia dan hidayah-Nya akhirnya penulis dapat
menyelesaikan makalah  ini. Adapun tujuan disusunnya makalah ini ialah sebagai
salah satu bahan kajian mata kuliah psikologi pelayanan kebidanan yang harus
ditempuh oleh mahasiswa/mahasiswi.

Dalam proses penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapatkan


bantuan, dukungan, serta do’a dari berbagai pihak, oleh karena itu izinkanlah
didalam kesempatan ini penulis menghaturkan terima kasih dengan penuh rasa
hormat serta dengan segala ketulusan hati kepada Bunda Elvi Destariyani, M.Keb
dan teman-teman semua yang telah senantiasa mendukung kami. Semoga Allah
SWT memberikan limpahan rahmat dan hidayah bagi keikhlasan dan
ketulusan atas dukungannya. Kami menyadari penyusunan makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan masukan baik saran maupun
kritik yang kiranya dapat membangun dari para pembaca. Akhir kata semoga
makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi kita semua.

                                                                           

Bengkulu, Februari 2020

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................................................1
KATA PENGANTAR...........................................................................2
DAFTAR ISI.........................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang..................................................................................4
B. Perumusan Masalah..........................................................................5
C. Tujuan...............................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN

A. Gangguan Psikologi Dalam Masa Persalinan.................................6


B. Cara Mengatasi Gangguan Psikologis Masa Persalinan................8
C. Pendekatan Komunikasi Terapeutik Masa Persalinan...................8
D. Support Mental Saat Masa Persalinan.............................................8
E. Gangguan Psikologi Dalam Masa Nifas.......................................17
F. Cara Mengatasi Gangguan Psikologis Masa Nifas......................18
G. Pendekatan Komunikasi Terapeutik Masa Nifas.........................19
H. Support Mental Saat Masa Nifas...................................................19
I. Contoh Kasus dan Penatalaksanaan...............................................28

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan.....................................................................................32
B. Saran...............................................................................................32

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kehamilan bagi seorang wanita merupakan salah satu periode krisis dalam
kehidupannya. Pengalaman ini memberikan perasaan yang bercampur baur, antara
bahagia dan penuh harapan dengan kekhawatiran tentang apa yang akan
dialaminya semasa kehamilan. Sejak saat hamil, ibu sudah mengalami kegelisahan
dan kecemasan. Kegelisahan dan kecemasan selama kehamilan merupakan
kejadian yang tidak terelakkan, hampir selalu menyertai kehamilan, dan
merupakan bagian dari suatu proses penyesuaian yang wajar terhadap perubahan
fisik dan psikologis yang terjadi selama kehamilan.

Peristiwa kelahiran itu bukan hanya merupakan proses yang fisiologis


belaka, akan tetapi banyak pula diwarnai komponen-komponen psikologis. Jika
seandainya proses kelahiran itu hanya terjadi perubahan fisiologis saja sifatnya,
maka pasti proses persalinan akan sama saja pada setiap wanita, sedangkan pada
kenyataannya, proses persalinan tiap wanita berbeda dimana perbedaan ini
dipengaruhi oleh factor psikologis ibu.

Masa nifas (Puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir


ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang
berlangsung selama kira-kira 6 minggu, atau masa nifas adalah masa yang dimulai
dari beberapa jam setelah lahir plasenta sampai 6 minggu berikutnya.
Terjadi perubahan peran sebagai orang tua yang mempunyai tugas dan
tanggung jawabnya terhadap kelahiran seorang bayi. Mengalami perubahan
stimulus dan kegembiraan untuk memenuhi kebutuhan bayi. Secara psikologis,
setelah melahirkan seorang ibu akan merasakan gelaja-gejala psikiatrik, demikian
juga pada masa menyusui. Meskipun demikian, ada pula ibu yang tidak
mengalami hal ini. Agar perubahan psikologi yang dialami tidak berlebihan, ibu
perlu mengetahui tentang hal yang lebih lanjut. Wanita banyak mengalami
perubahan emosi selama masa nifas sementara ia menyesuaikan diri menjadi
seorang ibu. Penting sekali sebagi bidan untuk mengetahui tentang penyesuaian
psikologis yang normal sehingga ia dapat menilai apakah seorang ibu memerlukan
asuhan khusus dalam masa nifas ini, suatu variasi atau penyimpangan dari
penyesuaian yang normal yang umum terjadi.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja gangguan psikologi dalam masa persalinan ?
2. Bagaimana cara mengatasi gangguan psikologi dalam masa persalinan ?
3. Bagaimana pendekatan komunikasi terapeutik mengatasi gangguan psikologi
dalam masa persalinan ?
4. Bagaimana support mental dalam mengatasi gangguan psikologi dalam masa
persalinan ?
5. Apa saja gangguan psikologi dalam masa nifas ?
6. Bagaimana cara mengatasi gangguan psikologi dalam masa nifas ?
7. Bagaimana pendekatan komunikasi terapeutik mengatasi gangguan psikologi
dalam masa nifas ?
8. Bagaimana support mental dalam mengatasi gangguan psikologi dalam masa
nifas ?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui gangguan psikologi dalam masa persalinan.
2. Untuk memahami cara mengatasi gangguan psikologi dalam masa persalinan.
3. Untuk memahami pendekatan komunikasi terapeutik mengatasi gangguan
psikologi dalam masa persalinan.
4. Untuk memahami support mental dalam mengatasi gangguan psikologi dalam
masa persalinan.
5. Untuk mengetahui gangguan psikologi dalam masa nifas.
6. Untuk memahami cara mengatasi gangguan psikologi dalam masa nifas
7. Untuk memahami pendekatan komunikasi terapeutik mengatasi gangguan
psikologi dalam masa nifas.
8. Untuk memahami support mental dalam mengatasi gangguan psikologi dalam
masa nifas.
BAB II

PEMBAHASAN

A. GANGGUAN PSIKOLOGI DALAM MASA PERSALINAN


1. Gelisah Dan Takut Menjelang Persalinan
Saat menghadapi persalinan, terutama untuk wanita yang baru akan
memiliki anak pertama merupakan suatu pengalaman baru dan merupakan
masa-masa yang sulit bagi seorang wanita. Tidak mengherankan, calon ibu
yang akan melahirkan pertama kali diselimuti perasaan takut, panik, dan
gugup. Kecemasan yang terjadi pada wanita yang akan memiliki bayi,
umumnya disebabkan karena mereka harus menyesuaikan diri dengan
kebutuhan fisik dan psikologis bayi yang banyak menyita waktu, emosi dan
energi, sementara itu seorang wanita tetap dibebani untuk mengurus
kebutuhan rumah tangga. Pada saat cemas individu akan sangat sulit untuk
menyesuaikan diri baik dengan dirinya sendiri, orang lain, maupun
lingkungan. Menjelang persalinan, banyak hal mengkhawatirkan muncul
dalam pikiran ibu. Takut bayi cacat, takut harus operasi, takut persalinannya
lama, dan sebagainya. Terlebih bila sebelumnya ada teman atau kerabat yang
menceritakan pengalaman bersalin mereka, lengkap dengan komentar yang
menyeramkan. Alhasil, bukannya tenang, ibu yang hendak melahirkan jadi
tambah cemas. Apalagi jika persalinan pertama. “Selain manusia tidak lepas
dari rasa khawatir, calon ibu tidak tahu apa yang akan terjadi saat persalinan
nanti. Jangankan persalinan pertama, persalinan yang kelima pun masih wajar
bila ibu merasa khawatir.”
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecemasan yang
dialami berbeda-beda untuk masing-masing individu. Kecemasan menurut
Syarif (2002) dikemukakan sebagai penyakit kecemasan yakni merasa sempit
dan penyakit ketakutan, yang juga diartikan sebagai perasaan sempit, disertai
dengan adanya kelainan pada anggota tubuh dalam melaksanakan fungsinya
seperti : detak jantung yang cepat, jiwa merasa sempit, tidak stabilnya alat
pencernaan, susunan syaraf dan otot, kacaunya aktivitas pengeluaran dari
berbagai kelenjar yang ada di dalam tubuh dan sebagainya. Kecemasan juga
mempunyai segi yang disadari seperti rasa takut, terkejut, tidak berdaya, rasa
dosa atau bersalah, terancam dan sebagainya. Juga ada segi-segi yang terjadi
di luar kesadaran atau tidak jelas, seperti orang merasa takut tanpa
mengetahui sebabnya ia menjadi takut dan tidak dapat menghindari perasaan
yang tidak menyenangkan itu. Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya
rasa takut, cemas dan gelisah adalah diantaranya berkaitan dengan dukungan
dari keluarga dan mertua membuat individu merasa lebih diperhatikan dalam
menjalani kehamilan. Selain itu pengalaman pernah atau belum mengalami
persalinan juga dapat memicu stress psikologis bagi sang ibu. Misalnya, bagi
ibu yang belum pernah melahirkan atau dengan kata lain dia baru akan
memiliki anak pertama, dia akan merasa sangat cemas dan khawatir tentang
seperti apa persalian itu, apakah sangat menyakitkan, apakah sakitnya nanti
lama atau tidak dan tentang kondisi bayinya nanti apakah bayinya sehat dan
normal atau tidak. Puncak kekhawatiran muncul bersamaan dengan
dimulainya tanda-tanda akan melahirkan. Kontraksi yang lama-kelamaan
meningkat menambah beban ibu, sehingga kekhawatiran pun bertambah.
Pada kondisi inilah perasaan khawatir, bila tidak ditangani dengan baik, bisa
merusak konsentrasi ibu sehingga persalinan yang diperkirakan lancar,
berantakan akibat ibu panik.
Kekhawatiran yang teramat sangat pun bisa membuat otot-otot, termasuk
otot di jalan lahir, bekerja berlawanan arah, karena dilawan oleh ibu yang
kesakitan. Akibatnya, jalan lahir menyempit dan proses persalinan berjalan
lebih lama dan sangat menyakitkan. Bahkan bisa sampai terhenti. Pengalaman
melahirkan pertama kali memberikan perasaan yang bercampur baur antara
bahagia dan penuh harapan dengan kekhawatiran tentang apa yang akan
dialami semasa persalinan. Kecemasan tersebut muncul karena bayangan
tentang hal-hal yang menakutkan saat proses persalinan, walaupun apa yang
dibayangkan belum tentu terjadi. Situasi ini menimbulkan perubahan drastis,
bukan hanya fisik dan psikologis.
Cara Mengatasi Gangguan Psikologis Gelisah dan Takut Menjelang
Persalinan
1. Pendekatan dengan komunikasi terapeutik
a. Memberikan penjelasan kepada ibu untuk terus menjaga
kehamilannya nanti sampai waktu untuk melahirkan yaitu misalnya
dengan makan-makanan yang bergizi dan melakukan olahraga setiap
harinya dengan berjalan-jalan pada waktu pagi hari.
b. Memberikan pengertian mengenai tanda-tanda persalinan atau
kelahiran dan bagaimana nanti jalannya persalinan.
c. Memberitahukan pentingnya religiusitas bagi wanita hamil yang
mengalami kecemasan dalam menghadapi persalinan. Karena menurut
Meichati (1983) mengemukakan kehidupan beragama dapat
memberikan bantuan moral dalam menghadapi krisis serta
menimbulkan sikap rela menerima kenyataan sebagaimana yang telah
digariskan Tuhan. Penyelesaian masalah hidup melalui keagamaan
akan meningkatkan kehidupan ke nilai spiritual sehingga memperoleh
keseimbangan mental. Agama juga dapat mempengaruhi kepribadian
dan memberikan jalan untuk mendapatkan rasa aman, tidak takut atau
cemas, gelisah dalam menghadapi persoalan hidup.

2. Suport mental sebagai dukungan keluarga


a. Dari pihak suami:
1) Memberikan perhatian dan dukungan kepada istri selama hamil
2) Memberikan kasih sayang dan sentuhan hangat kepada istri ketika
istri merasa ketidaknyamanan dengan kehamilannya.
3) Bersedia mengantar dan menemani istri ketika istri ingin
memeriksakan atau sekedar berkonsultasi seputar kehamilannya
kepada tenaga kesehatan.
b. Dari pihak keluarga:
1) Membagi pengalaman terutama dari pihak ibu tentang bagaimana
persalinan itu, seperti apa rasanya dan seperti apa bangganya
seorang ibu dapat melahirkan anak dari rahimnya sendiri.
2) Memberikan perhatian dengan membawakan kadang-kadang
membawakan makanan kepada sang anak tersebut.

2. Gangguan Bonding Attachmant


a. Pengertian Bounding Attachment:
Menurut Nelson Bounding attachment adalah terdiri dari 2 kata yaitu
bounding dan attachment. Bounding merupakan proses pembentukan.
Sedangkan attachment merupakan membangun ikatan. Jadi bounding
attachment adalah sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan
keterikatan batin antara orangtua dan bayi.
Menurut Maternal dan Neonatal Health, bounding attachment
adalah kontak dini secara langsung antara ibu dan bayi setelah proses
persalinan, dimulai pada kala III sampai dengan post partum.Menurut
Parmi (2000), bounding attachment adalah suatu usaha untuk
memberikan kasih sayang dan suatu proses yang saling merespon antara
orang tua dan bayi lahir.Menurut Klause dan Kennel (1983): interaksi
orang tua dan bayi secara nyata, baik fisik, emosi, maupun sensori pada
beberapa menit dan jam pertama segera bayi setelah lahir
Jadi, dapat disimpulkan bahwa bounding attachment adalah suatu
proses untuk membangun ikatan lahir dan batin antara orang tua dengan
bayinya atau anaknya. Hal ini merupakan proses dimana sebagai hasil
dari suatu interaksi terus-menerus antara bayi dan orang tua yang bersifat
saling mencintai memberikan keduanya pemenuhan emosional dan saling
membutuhkan.

b. Tahap-Tahap Bounding Attachment


1) Perkenalan (acquaintance), dengan melakukan kontak mata,
menyentuh, berbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal
bayinya.
2) Bounding (keterikatan),
3)  Attachment, perasaan sayang yang mengikat individu dengan
individu lain
c. Elemen-elemen Bounding Attachment
1) Sentuhan
Sentuhan, atau indera peraba, dipakai seara ekstensif oleh orang
tua dan pengasuh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi
baru loahir dengan cara mengeksplorasi tubuh bayi dengan ujung
jarinya. Penelitian telah menemukan suatu pola sentuhan yang
hampir sama yakni pengasuh memulai eksplorasi jari tangan ke
bagian kepala dan tungkai kaki. Tidak lama kemudian pengasuh
memakai telapak tangannya untuk mengelus badan bayi dan
akhirnya memeluk dengan tangannya. Gerakan ini dipakai
menenangkan bayi.
2) Kontak mata
Ketika bayi baru lahir mampu secara fungsional
mempertahankan kontak mata, orang tua dan bayi akan
menggunakan lebih banyak wktu utuk salaing memandang. Beberap
ibu mengatakan, dengan melakukan kontak mata mereka merasa
lebih dekat degan bayinya
3) Suara
Saling mendenganr dan meresponi suara antara orang tua dan
bayinya juga penting. Orang tua menunggu tangisan pertama
bayinya dengan tegang. Sedangkan bayi akan menjadi tenag dan
berpaling kea rah orang tua mereka saat orang tua mereka berbicara
dengan suara bernada tinggi.
4) Aroma
Perilaku lain yang terjalaina antara orang tua dan bayi ialah
respons terhadap aroma / bau masing-masing. Ibu mengetahui setiap
anak memiliki aroma yang unik. Sedangkan bayi belajar dengan
cepat untuk membedakan aroma susu ibunya.
5) Entraiment
Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur
pembicaraaan orang dewasa. Mereka menggoyang tangan,
mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki, seperti sedang
berdansa mengikut nada suara orang tuanya. Entrainment terjadi saat
anak mula berbicara. Irama ini berfungsi member umpan balik
positif kepada orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi
efektif yang positif.
6) Bioritme
Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada
dengan ritme alamiah ibuya. Untuk itu, salah satu tugas bayi baru
lahir ialah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat
membantu proses ini dengan member kasih sayang yang konsisten
dan dengan memanfaatkan waktu sat bayi mengembangkan perilaku
yang responsive. Hal ini dapat meningkatkan interaksi social dan
kesempatan bayi untuk belajar.
7) Kontak dini
Saat ini, tidak ada bukti-bukti alamiah yang menunjukkan
bahwa kontak dini setelah lahir merupakan hal yang penting
hubungan orang tua-anak. Namun menurut Klaus, Kennel (1982),
ada beberapa keuntungan fisiologis yang dapat diperoleh dari kontak
dini:
a) Kadar oksitosin dan prolaktin meningkat
b) Reflek menghisap dilakukan dini
c) Pembentuk kekebalan aktif dimulai
d) Mempercepat proses ikatan antara orang tua dan anak
e) Body warmth (kehangatan tubuh)
f) Waktu pemberian kasih sayang
g) Stimulasi hormonal

d. Prinsip-Prinsip dan Upaya Meningkatkan Bounding Attachment


1) Dilakukan segera (menit pertama jam pertama).
2) Sentuhan orang tua pertama kali.
3)  Adanya ikatan yang baik dan sistematis berupa kedekatan orang tua
ke anak.
4) Kesehatan emosional orang tua.
5) Terlibat pemberian dukungan dalam proses persalinan.
6) Persiapan PNC sebelumnya.
7) Adaptasi.
8) Tingkat kemampuan, komunikasi dan keterampilan untuk merawat
anak.
9) Kontak sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi
kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta memberi rasa
nyaman.
10) Fasilitas untuk kontak lebih lama.
11) Penekanan pada hal-hal positif.
12) Perawat maternitas khusus (bidan).
13) Libatkan anggota keluarga lainnya/dukungan sosial dari keluarga,
teman dan pasangan.
14) Informasi bertahap mengenai bounding attachment

e. Keuntungan Bounding Attachment


1) Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan
sikap sosial.
2) Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi.
3) Meningkatkan kedekatan secara emosional antara ibu dan bayinya.

f. Gangguan Bounding Attachment


1) Respon ayah dan keluarga
Ayah mungkin menjadi anggota keluarga yang terlupakan,
terutama bila hal ini merupakan anak yang pertama. Sebelum bayi
tiba di rumah, ia merupakan bagian terbesar dari keluarganya yang
terdiri dari dua orang. Aktivitas siang hari dimana mudah
disesuaikan dengan pasangannya malam hari tanpa gangguan. Kini
rumah menjadi tidak terkendali, makan menjadi tidak terjadwal,
tidur mengalami gangguan dan hubungan seksual untuk sementara
ditangguhkan. Ayah harus dilibatkan dalam perwatan anak dan
pemeliharaan aktivitas rumah. Dengan berbagai tanggung jawab
seperti ini, mereka menjadi bagian dari pengalaman mengasuh anak.
Sebagai akibat, pasangan menjadi lebih dekat.
Sebagai ayah baru, peran ayah tidak kurang rumitnya
dibandingkan peran istri. Tentu sang ayah tidak mengandung si bayi
selam 9 bulan, tetapi harus membuat penyesuaian secara fisik dan
emosi ketika waktu persalinan semakin dekat dan persiapan untuk
bayi menjadi penting sekali. Di satu pihak, sang ayah ungkin merasa
seolah-olah tidak ada hubungan dengan persalinan tetapi pada sisi
lain ini adalah bayinya juga. Ketika bayi akhirnya lahir, sang ayah
mungkin merasa sangat lega dan juga gembira serta gugup. Sewaktu
menyaksikan kelahiran bayi, perasaan komitmen dan cinta
membanjir ke permukaan menghilangkan kekhwatiran bahwa sang
ayah tidak akan pernah mempunyai keterikatan dengan bayinya.
Sang ayah juga merasakan penghargan yang besar dan cinta kepada
istri lebih dari pada sebelumnya. Pada waktu yang sama,
merenungkan tanggung jawab untuk merawat baka ini salam 20
tahun ke depan dapat membuat sang ayah lemah.
Pendekatan terbaik adalah menjadi ayah yang seaktif mungkin.
Misalnya, saat istrinya melahirkan di rumah sakit, ayah mungkin di
tempatkan di dalam ruang rawat gabung sampai waktunya membaw
pulang bayi ke rumah. Ini akan membantu ayah merasa tidak seperti
penonton tetapi lebih sebagai peserta aktif. Ayah akan mengenal
bayinya dari permulaaan juga memungkinkan ayah berbagi
pengalaman emonsional dengan istirnya. Begitu seluruh keluarga
berada di rumah, sang ayah dapat dan harus membantu memakaikan
popok, memandikan dan membuat senang bayi. Kebalikan dengan
sterotype kuno, pekerjaan ini bukanlah pekerjaan eksklusif wanita.
Tidak ada alasan mengapa seorang ayah tidak mampu
melaksanakan pekerjaan sehari-hari mengurus rumah dan anak
sebaik ibu. Umumnya ayah yang bersedia mengurus rumah tangga
hanya untuk menyenangkan istrinya saja. Alangkah baiknya jika
pekerjaan ini dikerjakan dengan perasaan bahwa sudah selayaknya
menerima tanggung jawab di dalam rumah yaitu merawat anak dan
rumah tangga sehari-hari.
2) Sibling Rivally
Salah satu peristiwa kunci dalam kehidupan anak adalah
kelahiran adik baru. Kehamilan itu sendiri merupkan waktu ideal
bagi anak-anak untuk memahami darimana bayi berasal dan
bagaimana bayi itu dilahirkan. Anak mungkin memiliki reaksi
campuran terhadap adik baru, bergairalah karena mendapat teman
bermain baru, takut akan ditelantarkan dan sering kecewa ketika
sang adik tidak mau segera bermain. Akan tetapi persaingan sengit
yang ditakutkan oleh banya orang tua bukan tidak dapat dihindari.
Temperamen anak tertentu itu dan cara orang tua memperlakukan
anak adalah faktor kunci yang menentukan seberapa besar persaigan
yang terjadi di antara saudara kandung.
Tidak mudah memang untuk menjaga keseimbangan yang tepat
antara menyesuaikan diri dengan kebutuhan bayi baru dan
membantu anak yang lebih besar mengatasi perubhahn itu. Usahakan
agar anak yang lebih besar mendapat beberapa keistimewaan,
mungkin dengan waktu tidur lebih larut atau waktu khusus untuk
perhatian yang tidak terbagi untuknya. Pastikan pula bahwa anak
yang lebih kecil dilindungi dari perlakuan marah dan suka
memerintah dari anak yang lebih besar, lebih kuat dan lebih pandai.
Percekcokan yang bercampur dengan permainan yang
menyenangkan adalah pola yang lazim di antara kakak dan adik.
Tidak bijaksana bila kit mengharapkan seseorang anak selalu
bertindak adil menurut standar orang dewaasa. Barna gkali lebih
baik mengajar semua anak karena tidak bertengkar atau memarahi
mereka semua ketika mereka berkelahi daripada mencoba
menyelidiki siapa yang benar dan siapa yang salah. Walaupun tanpa
bisa dihindari sekali waktu mungkin bertindak berlebihan,
waspadalah agar seorang anak jangan selalu diberi dukungan dengan
mengorbakan anak lain.
Jika saudara kandung adalah anak prasekolah, dia akan lebih
dapat lebih memahami apa yang sedang terjadi. Dengan
mempersiapkan dia selama kehamilan, orang tua dapat membantu
mengurangi kebingungan atau rasa irinya. Dia dapat memahami
fakta dasar dari situasi tersebut dan dia kemungkinan akan sangat
ingin tahu tentang orang yang ingin dia ketahui ini. Begitu bayi lahir,
anak yang lebih besar merasa kehilangan orang tuanya dan marah
karena bayi akan menjadi pusat perhatian baru. Tetapi dengan
memuji dia karena telah memabtu dan bertindak seperti “orang
dewasa” akan membuat anak tahu bahwa dia juga mempunyai peran
baru yang penting untuk dimainkan. Pastikan bahwa anak
mendapatkan waktu menjadi “orang penting” dan diizinkan menjadi
“bayi” sewaktu dia merasa perlu. Selain itu sering diberikan
kesempatan agar dia tahu bahwa ada scukup ruang dan cinta kasih
dalam hati orang tua untuk mereka berdua.
Jika saudara kandung sudah memasuki usia sekolah, dia
mungkin tidak lagi merasa terncam oleh pendatang baru dalam
keluarga. Bahkan kemungkinan besar dia kagum dengan proses
kehamilan dan persalinan, serta ingin sekali bertemu dengan bayi
yang baru.
3) Kurangnya support sistem.
Kurangnya perhatian dari suami dan keluarga kepada ibu yang
telah melahirkan akan menjadikan psikologis dari seorang ibu akan
terganggu. Ibu mungkin akan berfikir “anakku ini adalah anak yang
tidak diharapkan oleh suami dan keluargaku”. Selain itu ibu juga
akan berfikir “mereka semua perhatian kepadaku hanya ketika aku
hamil tapi setelah aku melahirkan mereka sudah tidak
mempedeulikanku dan membiarkanku merawat bayiku sendiri
karena mungkin mereka pikir aku sudah sehat”. Hal itu akan
berdampak buruk pada hubungan antara si anak dan ibu, karena ibu
tersebut akan malas untuk mengasuh anaknya.
4) Ibu dengan resiko (ibu sakit)
Ibu yang sakit-sakitan akan berkonsentrasi untuk kesehatannya
dan anaknya biasanya dirawat oleh mertua atau suaminya. Ibu akan
kehilangan banyak waktu dengan anknya sehingga itu juga dapat
memperenggang kedekatan ibu dengan anaknya.
5) Bayi dengan resiko (bayi prematur, bayi sakit, bayi dengan cacat
fisik).
Bayi dengan cacat fisik yang dilahirkan dari keluarga yang sehat
dan normal dapat juga menjadi salah satu penyebab ketidakdekatan
antara sang ibu dan bayinya. Ibu mungkin merasa malu dengan anak
yang dilahirkannya. Ibu merasa bahwa anaknya itu adalah sebuah aib
besar. Ibu cenderung akan tidak mempedulikan ankanya, jahat kepda
anknya dan suka mencemooh anaknya ketika si anak besar kelak.
Hal ini juga berdampak tidak baik bagi psikis si anak karena dia
akan merasa tidak diakui anak oleh ibunya dan merasa tidak terima
dengan kecacatan fisik yang ia alami.
6) Kehadiran bayi yang tidak diinginkan.
Bayi yang lahir dari hasil hubungan yang tidak diinginkan akan
menjadikan suatu dosa yang diderita oleh ibu selam hidupnya. Dia
akan merasa hak kebebasannya yang seharusnya masih ia miliki
terampaas dengan adanya anak itu. Dia juga akan membenci si anak.

g. Cara mengatasi gangguan bounding attachment


1) Dengan menanamkan pemikiran dalam hati bahwa anak itu adalah
anugrah dari Tuhan kepada kita semua yang kita diberi tugas untuk
menjaga, menyayangi, mencintai, dan membimbingnya menuju ke
jalan yang benar agar masa depan anak tersebut cerah dan nantinya
akan menjadi pribadi yang baik di dunia dan di akhirat.
2) Memberikan suatu pemahaman bahwa apabila anak yang dilahirkan
memiliki kekurangan, maka sebagai orang tua harus memiliki suatu
pandangan bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan
kekurangan. Maka dari itu, orang tua harus menerima kekurangan
anaknya dengan hati yang lapang.

B. GANGGUAN PSIKOLOGI DALAM MASA NIFAS


1. Post Partum Blues
a. Definisi
Postpartum blues merupakan kesedihan atau kemurungan setelah
melahirkan, biasanya hanya muncul sementara waktu yakni sekitar dua
hari hingga dua minggu sejak kelahiran bayi.
Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh wanita dalam menghadapi
aktivitas dan peran barunya sebagai ibu pada minggu minggu atau bulan-
bulan pertama setelah melahirkan, baik dari segi fisik maupun segi
psikologis. Sebagian wanita berhasil menyesuaikan diri dengan baik,
tetapi sebagian lainnya tidak berhasil menyesuaikan diri dan mengalami
gangguan gangguan psikologis, salah satunya yang disebut Postpartum
Blues.

b. Etiologi
Mengenali penyebab post partum blues juga merupakan hal yang
berguna dalam mendeteksi adanya gangguan psikologi ini pada ibu.
Selain bisa mengantisipasi kita juga bisa memahami kondisi ibu
sepenuhnya.  Post partum ini biasanya disebabkan oleh:
1) Perubahan Hormon
2) Faktor usia ( hamil usia muda, primipara, belum matangnya
reproduksi, dll)
3) Ketidaksiapan ibu menghadapi persalinan
4) Stress
5) ASI tidak keluar
6) Frustasi karena bayi tidak mau tidur, nangis dan gumoh
7) Kelelahan pasca melahirkan, dan sakitnya akibat operasi.
8) Suami yang tidak membantu, tidak mau mengerti perasaan istri
maupun persoalan lainnya dengan suami.
9) Problem dengan Orangtua dan Mertua.
10) Takut kehilangan bayi
11) Sendirian mengurus bayi, tidak ada yang membantu.
12) Problem dengan si Sulung.
13) Ibu yang pernah mengalami gangguan kecemasaan termasuk depresi
sebelum hamil
14) Kejadian-kejadian sebagai stressor yang terjadi pada ibu hamil,
seperti kehilangan suaminya.
15) Kondisi bayi yang cacat, atau memerlukan perawatan khusus pasca
melahirkan yang tidak pernah dibayangkan oleh sang ibu
sebelumnya
16) Ketergantungan pada alkohol atau narkoba
17) Kurangnya dukungan yang diberikan oleh anggota keluarga, suami,
dan teman
18) Kurangnya komunikasi, perhatian, dan kasih sayang dari suami, atau
pacar, atau orang yang bersangkutan dengan sang ibu.
19) Mempunyai permasalahan keuangan menyangkut biaya, dan
perawatan bayi.
20) Kurangnya kasih sayang dimasa kanak-kanak

c. Cara mengatasi post partum blues

Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dibutuhkan penanganan


di tingkat perilaku, emosional, intelektual, sosial dan psikologis secara
bersama-sama,  dengan melibatkan lingkungannya, yaitu: suami, keluarga
dan juga teman dekatnya.
Cara mengatasi gangguan psikologi pada nifas dengan postpartum blues
ada dua cara yaitu :
1) Dengan cara pendekatan komunikasi terapeutik
Tujuan dari komunikasi terapeutik adalah menciptakan hubungan baik
antara bidan dengan pasien dalam rangka kesembuhannya dengan cara
:
a) Mendorong pasien mampu meredakan segala ketegangan
emosi
b) Dapat memahami dirinya

c) Dapat mendukung tindakan konstruktif.

2) Dengan cara peningkatan support mental

a) Sekali-kali ibu meminta suami untuk membantu dalam


mengerjakan pekerjaan rumah seperti : membantu mengurus
bayinya, memasak, menyiapkan susu dll.

b) Memanggil orangtua ibu bayi agar bisa menemani ibu dalam


menghadapi kesibukan merawat bayi

c) Suami seharusnya tahu permasalahan yang dihadapi istrinya


dan lebih perhatian terhadap istrinya

d) Menyiapkan mental dalam menghadapi anak pertama yang


akan lahir

e) Memperbanyak dukungan dari suami

f) Suami menggantikan peran isteri ketika isteri kelelahan

g) Ibu dianjurkan sering sharing dengan teman-temannya yang


baru saja melahirkan

h) Bayi menggunakan pampers untuk meringankan kerja ibu

i) mengganti suasana, dengan bersosialisasi

j) Suami sering menemani isteri dalam mengurus bayinya


3) Selain hal diatas, penanganan pada klien postpartum blues pun dapat
dilakukan pada diri klien sendiri, diantaranya dengan cara :
a) Belajar tenang dengan menarik nafas panjang dan meditasi

b) Tidurlah ketika bayi tidur

c) Berolahraga ringan

d) Ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu

e) Tidak perfeksionis dalam hal mengurusi bayi

f) Bicarakan rasa cemas dan komunikasikan

g) Bersikap fleksibel

h) Kesempatan merawat bayi hanya datang 1 x

i) Bergabung dengan kelompok ibu

d. Pencegahan postpartum blues

Menurut para ahli, stres dalam keluarga dan kepribadian si ibu,


memengaruhi terjadinya depresi ini. Stres di keluarga bisa akibat faktor
ekonomi yang buruk atau kurangnya dukungan kepada sang ibu.Hampir
semua wanita, setelah melahirkan akan mengalami stres yang tak menentu,
seperti sedih dan takut. Perasaan emosional inilah yang memengaruhi
kepekaan seorang ibu pasca melahirkan.

Hingga saat ini, memang belum ada jalan keluar yang mujarab untuk
menghindari Postpartum Blues. Yang bisa dilakukan, hanyalah berusaha
melindungi diri dan mengurangi resiko tersebut dari dalam diri.

Sikap proaktif untuk mengetahui penyebab dan resikonya, serta meneliti


faktor-faktor apa saja yang bisa memicu juga dapat dijadikan alternative
untuk menghindari Postpartum Blues. Selain itu juga dapat
mengkonsultasikan pada dokter atau orang yang profesional, agar dapat
meminimalisir faktor resiko lainnya dan membantu melakukan
pengawasan. Berikut ini dapat mengurangi resiko Postpartum Blues yaitu :

1) Pelajari diri sendiri

Pelajari dan mencari informasi mengenai Postpartum Blues, sehingga


Anda sadar terhadap kondisi ini. Apabila terjadi, maka Anda akan
segera mendapatkan bantuan secepatnya.

2) Tidur dan makan yang cukup

Diet nutrisi cukup penting untuk kesehatan, lakukan usaha yang


terbaik dengan makan dan tidur yang cukup. Keduanya penting
selama periode postpartum dan kehamilan.

3) Olahraga

Olahraga adalah kunci untuk mengurangi postpartum. Lakukan


peregangan selama 15 menit dengan berjalan setiap hari, sehingga
membuat Anda merasa lebih baik dan menguasai emosi berlebihan
dalam diri Anda.

4) Hindari perubahan hidup sebelum atau sesudah melahirkan

Jika memungkinkan, hindari membuat keputusan besar seperti


membeli rumah atau pindah kerja, sebelum atau setelah melahirkan.
Tetaplah hidup secara sederhana dan menghindari stres, sehingga
dapat segera dan lebih mudah menyembuhkan postpartum yang
diderita.

5) Beritahukan perasaan

Jangan takut untuk berbicara dan mengekspresikan perasaan yang


Anda inginkan dan butuhkan demi kenyamanan Anda sendiri. Jika
memiliki masalah dan merasa tidak nyaman terhadap sesuatu, segera
beritahukan pada pasangan atau orang terdekat.
6) Dukungan keluarga dan orang lain diperlukan

Dukungan dari keluarga atau orang yang Anda cintai selama


melahirkan, sangat diperlukan. Ceritakan pada pasangan atau
orangtua Anda, atau siapa saja yang bersedia menjadi pendengar yang
baik. Yakinkan diri Anda, bahwa mereka akan selalu berada di sisi
Anda setiap mengalami kesulitan.

7) Persiapkan diri dengan baik

Persiapan sebelum melahirkan sangat diperlukan.

8) Senam Hamil

Kelas senam hamil akan sangat membantu Anda dalam mengetahui


berbagai informasi yang diperlukan, sehingga nantinya Anda tak akan
terkejut setelah keluar dari kamar bersalin. Jika Anda tahu apa yang
diinginkan, pengalaman traumatis saat melahirkan akan dapat
dihindari.

9) Lakukan pekerjaan rumah tangga

Pekerjaan rumah tangga sedikitnya dapat membantu Anda melupakan


golakan perasaan yang terjadi selama periode postpartum. Kondisi
Anda yang belum stabil, bisa Anda curahkan dengan memasak atau
membersihkan rumah. Mintalah dukungan dari keluarga dan
lingkungan Anda, meski pembantu rumah tangga Anda telah
melakukan segalanya.

10) Dukungan emosional

Dukungan emosi dari lingkungan dan juga keluarga, akan membantu


Anda dalam mengatasi rasa frustasi yang menjalar. Ceritakan kepada
mereka bagaimana perasaan serta perubahan kehidupan Anda, hingga
Anda merasa lebih baik setelahnya.
11) Dukungan kelompok Postpartum Blues

Dukungan terbaik datang dari orang-orang yang ikut mengalami dan


merasakan hal yang sama dengan Anda. Carilah informasi mengenai
adanya kelompok Postpartum Blues yang bisa Anda ikuti, sehingga
Anda tidak merasa sendirian menghadapi persoalan ini.

2. Depresi Post Partum


a. Definisi
Depresi post partum adalah depresi berat yang terjadi 7 hari setelah
melahirkan dan berlangsung selama 30 hari, dapat terjadi kapanpun
bahkan sampai 1 tahun kedepan.
Pitt tahun 1988 dalam Pitt(regina dkk,2001) depresi post parum 
adalah depresi yang bervariasi dari hari ke hari dengan menunjukkan
kelelahan, mudah marah, gangguan nafsu makan dan kehilangan
libido(kehilangan selera untuk berhubungan intim dengan suami).
Llewelly-jones (1994) menyatakan wanita yang didiagnosa
mengalami depresi 3 bulan pertama setelah melahirkan. Wanita tersebut
secara social dan emosional meras terasingkan atau mudah tegang dalam
setiap kejadian hidupnya.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa depresi post
partum adalah gangguan emosional pasca persalinan yang bervariasi,
terjadi pada 10 hari pertama masa setelah melahirkan dan berlangsung
terus-menerus sampai 6 bulan atau bahkan sampai satu tahun.

b. Etiologi
Depresi adalah penyakit mental yang cenderung menurun dalam
keluarga. Wanita dengan riwayat keluarga depresi lebih cenderung
memiliki depresi.Perubahan kimia di dalam otak yang diyakini
memainkan peran besar dalam depresi. Kehidupan yang dijalani penuh
dengan tekanan, seperti kematian orang yang dicintai, kemiskinan,
pelecehan, dapat memicu depresi.
Faktor hormonal yang unik pada wanita dapat menyebabkan depresi
pada beberapa perempuan. Hormon secara langsung memengaruhi kimia
otak yang mengontrol emosi dan suasana hati. Dan perempuan lebih
berisiko depresi pada waktu tertentu dalam kehidupan mereka, seperti
pubertas, selama dan setelah kehamilan, dan selama perimenopause.
Sampai saat ini penyebab pasti terjadinya depresi postpartum belum
diketahui. Tapi ada dugaan bahwa terjadinya akibat ketidakseimbangan
hormon, faktor hormonal berpengaruh. Itu pun bukan harga mati karena
masih ada faktor risiko lain seperti riwayat keluarga yang mengalami
gangguan jiwa. Atau sebelumnya dia pernah mengalami depresi. Faktor
sosial lain seperti misalnya, support dari lingkungan yang minim. Di
negara-negara maju yang nilai relationship dengan keluarga rendah,
tingkat depresi lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara yang
sistem kekerabatannya masih kental. Seperti di Indonesia, support dari
lingkungan masih besar terhadap ibu hamil atau yang baru melahirkan,” 

c. Cara Mengatasi
Untuk mencegah terjadinya depresi post partum sebagai anggota
keluarga harus memberikan dukungan emosional kepada ibu dan jangan
mengabaikan ibu bila terlihat  sedang sedih, dan sarankan pada ibu
untuk:
1) beristirahat dengan baik
2) berolahraga yang ringan
3) berbagi cerita dengan orang lain
4) bersikap fleksible
5) bergabung dengan orang-orang baru
6) sarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis

3. Post partum psikosa


a. Definisi
Psikosa pospartum Merupakan gangguan jiwa yang berat yang
ditandai dengan waham, halusinasi dan kehilangan rasa kenyataan ( sense
of reality ) yang terjadi kira-kira 3-4 minggu pasca persalinan.
Merupakan gangguan jiwa yang serius, yang timbul akibat penyebab
organic maupun emosional ( fungsional ) dan menunjukkan gangguan
kemampuan berfikir, bereaksi secara emosional, mengingat,
berkomunikasi, menafsirkan kenyataan dan tindakan sesuai kenyataan
itu, sehingga kemampuan untuk memenuhi tuntutan hidup sehari-hari
sangat terganggu.
Psikosa terbagi dalam dua golongan besar, yaitu
1) Psikosa fungsional 
Merupakan gangguan psikologis yang faktor penyebabnya
terletak pada aspek kejiwaan, disebabkan karena sesuatu yang
berhubungan dengan bakat keturunan, bisa juga disebabkan oleh
perkembangan atau pengalaman yang terjadi dalam kehidupan
seseorang.
2) Psikosa organic
Disebabkan oleh kelainan atau gangguan pada aspek tubuh,
kalau jelas sebab-sebab dari suatu psikosa fungsional adalah hal-hal
yang berkembang dalam jiwa seseorang.

b. Etiologi
1) Faktor sosial kultural (dukungan suami dan keluarga, kepercayaan
atau etnik)
2) Faktor obstetrik dan ginekologik ( kondisi fisik ibu dan kondisi fisik
bayi )
3) Faktor psikososial ( adanya stresor psikososial, faktor kepribadian,
riwayatmengalami depresi, penyakit mental, problem emosional dll )
4) Faktor keturunan
5) Karakter personal seperti harga diri yangv rendah.
6) Perubahan hormonal yang cepat.
7) Masalah medis dalamkehamilan ( pre-eklampsia, DM ).
8) Marital disfungsion atau ketidakv mampuan membina hubungan
dengan orang lain yang mengakibatkan kurangnya dukungan.
9) Unwanted pregnancy atau kehamilan tidak di inginkan
10) Merasa terisolasi.
11) Kelemahan, gangguan tidur ( imsomnia ), ketakutan terhadap suatu
masalah,ketakutan akan melahirkan anak cacat atau tidak sempurna.

c. Cara Mengatasi
Beberapa intervensi berikut ini dapat membantu wanita terbebas dari
ancaman depresi dan psikosa postpartum, yaitu :
1) Pelajari diri sendiri
Pelajari dan mencari informasi mengenai depresi dan psikosa
pospartum, sehingga ibu dan keluarga sadar terhadap kondisi ini.
Apabila terjadi, maka akan segera mendapatkan penanganan yang
tepat.
2) Tidur dan makan yang cukup
Diet nutrisi penting untuk kesehatan, lakukan usaha yang terbaik
dengan makan dan tidur yang cukup. Keduanya penting dalam
periode pospartum.
3) Olahraga
Merupakan kunci untuk mengurangi depresi postpartum,
lakukan peregangan selama15 menit dengan berjalan kaki setiap
hari, sehingga membuat ibu menjadi lebih rileksdan lebih menguasai
emosional yang berlebihan
4) Beritahukan perasaan ibu
Jangan takut untuk mengutarakan perasaan ibu dan
mengekspresikan yang ibu inginkan dan butuhkan demi kenyamanan
ibu. Jika mempunyai masalah, segera beritahukan kepada orang yang
dipercaya ataupun orang yang terdekat.
5) Dukungan dari keluarga dan orang-orang terdeka
Dukungan dari orang terdekat dari mulai kehamilan, persalinan
dan pospartum sangat penting, yakinkan diri ibu bahwa keluarga
selalu berada disamping ibu setiap ada kesulitan.
6) Persiapan diri dengan baik
Persiapan sebelum persalinan sangat diperlukan, ikutlah kelas
hamil, baca buku-buku yang dibutuhkan.
7) Lakukan pekerjaan rumah tangga
Pekerjaan rumah tangga sedikit banyak dapat membantu ibu
melupakan golakan perasaan yang terjadi selama periode pospartum.
Kondisi anda yang belum stabil, bisa ibu curahkan dengan memasak
atau membersihkan rumah.
8) Dukungan emosional
Minta dukungan emosional dari keluarga dan lingkungan
sehingga ibu dapat mengatasi rasa frustasi atau stress. Ceritakan
pada mereka mengenai perubahan yang ibu rasakan, sehingga ibu
merasa lebih baik dari setelahnya.
Contoh Kasus Masa Persalinan dan Penatalaksanaannya :

Seorang ibu hamil MRS ( Masuk Rumah Sakit ) karena akan melahirkan
anak yang pertama dan didampingi oleh keluarga, sedangkan suaminya bekerja
diluar kota sehingga tidak bisa menemani kelahiran buah hatinya. Setelah
diperiksa oleh bidan di RS tersebut, semua hasil pemeriksaan menunjukkan sudah
terdapat tanda-tanda melahirkan dan sudah ada bukaan Rahim 4 cm (kala I fase
Aktif ). Ibu hamil tersebut merasa cemas , gelisah serta takut karena ini adalah
pengalaman pertama kalinya melahirkan.

Dia teringat tetangga disamping rumahnya sekitar 1 bulan yang lalu


meninggal dunia karena perdarahan pada saat melahirkan.ibu juga merasa takut
jika hal itu menimpa dirinya. Keringat ibu terus mengalir karena kecemasan yang
ia alami sudah tidak bisa dikendalikan, akibatnya hasil pemeriksaan tekanan darah
ibu tersebut meningkat, sehingga perlu diberikan obat penurun tekanan darah.
Apalagi saat kontraksi ibu tersebut teriak-teriak dan menjerit-jerit kesakitan serta
memanggil nama suaminya. Keluarga berusaha menenangkan ibu tersebut dan
memberikan dukungan serta semangat pada ibu, namun ibu tersebut masih merasa
cemas, ketakutan serta kesakitan. Bagaimana peran seorang bidan dalam
mengatasi kasus diatas?

Penatalaksanaan :

1. Kegiatan komunikasi terapeutik pada ibu melahirkan.


Merupakan pemberian bantuan pada ibu yang akan melahirkan
dengan kegiatan bimbingan proses persalinan.
Tujuan Komunikasi terapeutik Pada Ibu Dengan Gangguan Psikologi Saat
Persalinan :
a) Membantu pasien memperjelas serta mengurangi beban perasaan dan
pikiran selamam proses persalinan. Semua persalinan pasti sakit akan
tetapi semuanya adalah psoses normal sehingga jelaskan pada ibu
semuanya akan baik-baik saja.
b) Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk pasien.

c) Membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri


untuk kesejahteraan ibu dan proses persalinan agar dapat berjalan
dengan semestinya

2. Pendekatan Komunikasi Terapeutik:

a) Menjalin hubungan yang mengenakkan dengan klien.


Bidan menerima klien apa adanya dan memberikan dorongan verbal yang
positif.

b) Kehadiran.
Kehadiran merupakan bentuk tindakan aktif ketrampilan yang meliputi
mengayasi semua kekacauan/kebingungan, memberikan perhatian total
pada klien. Bila memungkinkan anjurkan pendamping untuk mengambil
peran aktif dalam asuhan.

c) Mendengarkan.
Bidan selalu mendengarkan dan memperhatikan keluhan klien.

d) Sentuhan dalam pendampingan klien yang bersalin dimana komunikasi


nonverbal kadang-kadang lebih bernilai dari pada kata-kata. Sentuhan
yang diberikan bidan terhadap klien akan memberi rasa nyaman dan dapat
membantu pasien merasa relax.
e) Memberi informasi tentang kemajuan persalinan. Hal ini diupayakan
untuk memberi rasa percaya diri bahwa klien dapat menyelesaikan
persalinan. Pemahaman dapat mengurangi kecemasan dan dapat
mempersiapkan diri untuk menghadapi apa yang akan terjadi. Informasi
yang diberikan diulang beberapa kali dan jika mungkin berikan secara
tertulis.

f) Memimpin persalinan dengan mengajarkan pada ibu teknik bernafas yang


baik, berelaksasi dan mengatur posisi yang nyaman untuk ibu

g) Mengadakan kontrak fisik dengan klien. Kontak fisik dapat dilakukan


dengan menggosok punggung, memelik dan menyeka keringat serta
membersihkan wajah ibu/klien.

h) Memberikan pujian. Pujian diberikan pada klien atas usaha yang


dilakukannya.

i) Memberikan ucapan selamat pada klien atas kehadiran putra/putrinya dan


menyatakan ikut berbahagia.

Komunikasi terapeutik pada ibu dengan gangguan psikologi saat


persalinan dilaksanakan oleh bidan dengan sikap sebagai seorang tua dewasa,
karena suatu ketika bidan harus memberikan perimbangan. Sebagai seorang bidan
yang professional, asuhan sayang ibu harus tetap diperhatikan demi kenyaman
pasien serta keselamatan ibu dan anak yang akan di bantu selama proses
persalinan berlangsung
Contoh Kasus Masa Nifas dan Penatalaksanaannya :

Seorang ibu baru saja melahirkan anaknya 4 hari yang lalu berjenis
kelamin perempuan. Setiap hari ibu semakin menjadi sensitif terhadap lingkungan
sekitarnya, mood yang sering berubah-ubah, sering tiba-tiba menangis, merasakan
ketakutan yang berlebihan, tidak mau makan dan bicara. Awalnya suami mengira
hal tersebut biasa dialami oleh ibu yang baru bersalin, karena masa penyesuaian
dan kondisi tubuh yang belum sembuh seperti semula. Tetapi, hal tersebut
memburuk si ibu mulai sering menangis karena merasa tidak mampu merawat
anaknya hingga akhirnya si ibu mengacuhkan bayi nya seperti tidak memiliki
ikatan antara dirinya dan sang bayi. Hal tersebut membuat bayi merasa tidak
nyaman, karena kurangnya kasih sayang dari sang ibu. Keluarga berusaha
menenangkan ibu tersebut dan memberikan dukungan serta semangat pada ibu,
namun ibu tersebut masih merasa ketakutan serta stress. Bagaimana peran seorang
bidan dalam mengatasi kasus diatas?

Penatalaksanaan :

Kondisi pada kasus diatas dikenal dengan istilah post partum blues.
Penanganan post partum blues pada prinsipnya tidak berbeda dengan penanganan
gangguan mental pada momen-momen lainya. (dukungan yang memadai dari para
bidan sangat diperlukan, misalnya dengan cara memberikan informasi yang
memadai serta adekuat).
Post-partum blues juga dapat dikurangi dengan cara belajar tenang dengan
menarik nafas panjang dan meditasi, tidur ketika bayi tidur, berolahraga ringan,
ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu, tidak perfeksionis dalam hal
mengurusi bayi, membicarakan rasa cemas dan mengkomunikasikannya, bersikap
fleksibel, bergabung dengan kelompok ibu-ibu baru. (alam penanganan para ibu
yang mengalami post-partum blues dibutuhkan pendekatan holistik. Pengobatan
medis, konseling emosional, bantuan-bantuan praktis dan pemahaman secara
intelektual tentang pengalaman dan harapan-harapan mereka mungkin pada saat-
saat tertentu. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dibutuhkan penanganan di
tingkat perilaku, emosional, intelektual, sosial dan psikologis secara bersama-
sama,dengan melibatkan lingkungannya, yaitu: suami, keluarga dan juga teman
dekatnya
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Menjelang persalinan, banyak hal mengkhawatirkan muncul dalam pikiran
ibu. Kecemasan yang terjadi pada wanita yang akan memiliki bayi, umumnya
disebabkan karena mereka harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan fisik dan
psikologis bayi yang banyak menyita waktu, emosi dan energi, sementara itu
seorang wanita tetap dibebani untuk mengurus kebutuhan rumah tangga.
Secara psikologis, setelah melahirkan seorang ibu akan merasakan gelaja-
gejala psikiatrik, demikian juga pada masa menyusui. Meskipun demikian, ada
pula ibu yang tidak mengalami hal ini. Agar perubahan psikologi yang dialami
tidak berlebihan, ibu perlu mengetahui tentang hal yang lebih lanjut. Wanita
banyak mengalami perubahan emosi selama masa nifas sementara ia
menyesuaikan diri menjadi seorang ibu.
Menopause merupakan masa berhentinya menstruasi yang terjadi pada
perempuan dengan rentang usia antara 48 sampai 55 tahun. Masa ini sangat
kompleks bagi perempuan karena berkaitan dengan keadaan fisik dan
kejiwaannya. Selain perempuan mengalami stress fisik dapat juga mengalami
stress psikologi yang mempengaruhi keadaan emosi dalam menghadapi hal
normal sebagaimana yang dijalani oleh semua perempuan (Baziad, 2003).
Berat-ringannya perempuan dalam menghadapi menopause dipengaruhi oleh
kedewasaan berpikir, faktor sosial ekonomi, budaya, wawasan mengenai
menopause dan kematangan mental. Bila seorang perempuan tidak siap mental
menghadapi periode klimakterik atau fase menjelang menopause dan lingkungan
psikososial tidak memberikan dukungan positif akan berakibat tidak baik.

B. SARAN

Tidak ada kata sempurna yang pantas untuk segala hal di dunia, begitu
juga dengan makalah yang telah kami susun, oleh karena itu bagi pihak terkait
kami mengharapkan kritik dan saran guna perbaikan dan semoga makalah ini
dapat bermanfaat. Aamiin.
DAFTAR PUSTAKA

Bahiyatun, 2011. Buku Ajar Bidan Psikolgi Ibu dan Anak. Jakarta. EGC.

Dahro, Ahmad. 2012. Psikologi Kebidanan : Analisis Perilaku Wanita untu


Kesehatan. Jakarta. Salemba Medika.

Jannah, Nurul. 2011. Asuhan Kebidanan Ibu Nifas. Yogyakarta. Ar Ruzz Media.

Jhaquin, Arrewenia. 2010. Psikologi Untuk Kebidanan. Yogyakarta. Nuha


Medika.

Nirwana, Ade Benih. 2011. Psikologi Kesehatan Wanita (Remaja, Menstruasi,


Menikah, Hamil, Nifas, dan Menyusui). Yogyakarta. Nuha Medika.

Pieter, Herri Zan dan Lubis, N. L. Pengantar Psikologis untuk Kebidanan. Jakarta.
Kencana Prenada Media Group.

Uripmi, Lia C. 2011. Psikologi Kebidanan. Yogyakarta. EGC