Anda di halaman 1dari 26

FISIKA II

GELOMBANG DAN BUNYI

ANGGOTA :
 Achmad Sofwan Mulyawan - 1510631160001
 Akbar Gilang Nugroho - 1510631160009
 Andy Ibrahim - 1510631160016
 Anggi Gusriyandari - 1510631160018
 Aryo Jati Prabowo - 1510631160022
 Casan Mustopa - 1510631160029
Daftar isi
A. FUNGSI GELOMBANG

Fungsi gelombang merupakan suatu fungsi yang menjelaskan


posisi partikel yang bergetar pada sembarang waktu.

 Persamaan Schrodinger

kuantitas yang diperlukan dalam mekanika kuantum adalah


partikel ψ. Jika ψ diketahui maka informasi mengenai kedudukan,
momentum, momentumsudut dan energi dari partikel dapat diperoleh. Hal
ini ditegaskan oleh pestulat pertama mekanika kuantum, yang berbunyi :

“Setiap keadaan suatu sistem yang dapat diamati secara fisika di


dalam mekanika kuantum dapat dijelaskan oleh suatu fungsi keadaan ψ
yang berisi sejumlah informasi yang dapat diperoleh secara fisika
mengenai keadaan sistem tersebut”

Fungsi gelombang ψ, diperoleh dengan memecah persamaan


Schrodinger. Persamaan ini merupakan persamaan pokok dalam mekanika
kuantum. Dibawah ini merupaka persamaan Schrodinger :

∂ ψ ( x ,t ) −h2 ∂2 ψ ( x ,t )
ih = +V ( x ) ψ ( x , t )
∂t 2m ∂ x2

Energi potensial dapat berupa fungsi dalam ruang dan waktu, V(x,
y, z). Begitu fungsi dari V diketahui maka persamaan Schrodinger dapat
dipecahkan untuk memperoleh fungsi gelombang partikel ψ. Persamaan
Cschrodinger yang diperoleh ini, didasarkan pada dua asumsi yaitu:

1. Gejala-gejala kreasi atau pembentukan serta destruksi bagi


partikel-partikel materi diabaikan, artinya jumlah partikelnya tetap.
2. Kecepatan gerak partikelnya dianggap cukup kecil sehingga tidak
memerlukan teori relativitas (no rlatifistik).

 Arti Fisis dari Fungsi Gelombang


Pada gelombang mekanik, misalnya gelombang pada tali, persamaan
gelombang dinyatakan dengan y (x,y) dengan y menyatakan pergeseran
suatu titik pada tali terhadap sumbu x sedangkan x menyatakan posisinya
terhadap sumbu y. T menyatakan waktu. Dalam mekanika kuantum, fungsi
gelombang suatu partikel dinyatakan dengan :

ψ=ψ ( x , t )
Fungsi gelombang ψbersesuaian dengan y untuk persamaan gelombang
pada tali. Namun, ψbukanlah kuantitas yang dapat diukur seperti y. Fungsi
gelombang ψ ( x ,t ) dapat berupa fungsi kompleks. Pertanyaannya, apa arti
fisis fungsi gelombang tersebut? Jawaban dari pertanyaan ini diberikan
oleh Max Born yang menginterpretasikan bahwa ψ ( x , t ) sendiri tidak
2
emmiliki arti fisis. Namun, kuadrat dari harga mutlaknya, |ψ ( x , t)|
berharga real, dan memiliki interpretasi probabilitas. Secara lengkap,
interpretasi Max Born sebagai prostulat kedua mekanika kuantum, yang
berbunyi :

“jika suatu sistem kuantum direpresentasikan oleh fungsi gelombang ψ


maka P dv=|ψ|2 dv merupakan probabilitas bahwa pengukuran kedudukan
suatu partikel pada saat t, akan akan ditemukan pada elemen volume dv”
2
|ψ ( x , t )| =ψ∗( x , t ) ψ ( x , t )
2
|ψ ( x , t )| → rapat probabilitas menemukan partikel pada titik x, pada waktu
t

Denga demikian, jika didalam ruang terdapat partikel maka probabilitas


menemukannya dalan seluruh ruang adalah satu.
+∞

∫ P ( x , y ) dx=1
−∞

Fungsi gelombang yang memenuhi persamaan diatas dikatakan


ternormalissasi.
+∞ +∞
2
∫ |ψ ( x ,t )| dx=1→ ∫ ψ∗( x , t ) ψ ( x , t ) dx=1
−∞ −∞
 Syarat Fungsi Gelombang

Fungsi gelombang ψyang memenuhi persamaan Schrodinger


adalah fungsi gelombang yang memenuhi kriteria-kriteria berikut :

1. Kuadrat dari fungsi gelombang |ψ|2 harus dapat di integralkan dan


bernilai tak hingga.
+∞
2
∫ |ψ| dx <∞
−∞

Oleh karena integral dilakukan untuk seluruh ruang, konsekuensinya:

ψ ( x , t ) → 0untuk x → ∞

∂ψ ( x , t)
2. Fungsi gelombang ψ ( x , t ) dan turunannya , harus bernilai
∂x
berhingga
∂ψ ( x , t)
3. Fungsi gelombang ψ ( x , t ) dan turunannya , harus bernilai
∂x
tunggal
∂ψ ( x , t)
4. ψ ( x , t ) dan turunannya pertamanya kontinu disemua x.
∂x

B. GELOMBANG BERJALAN DAN GELOMBANG STASIONER

GELOMBANG BERJALAN

1. Pengertian dan Persamaan Gelombang Berjalan

Gelombang berjalan adalah gelombang yang amplitudonya tetap pada titik


yang dilewatinya. Gelombang berjalan bisa juga disebut sebagai gelombang
yang amplitudo dan fasenya sama di setiap titik yang dilalui gelombang.

Gambar1.Gelombangberjalanpadatali

Misalkan titik P terletak pada tali AB berjarak x dari ujung A dan


apabila titik A telah bergetar selama t sekon maka:
Titik P telah bergetar selama t P = , dimana adalah waktu yang
diperlukan gelombang merambat dari A ke P.

Persamaan simpangan titik P pada saat itu dapat dinyatakan sebagai


berikut:
YP=AsinωtP

YP=Asinω

Dimana ω= maka persamaantersebut dapat ditulis menjadi:

YP=Asin =Asin .

Jika =k , dimana k didefinisikan sebagai bilangan gelombang maka


persamaan simpangan dapat dituliskanmenjadi:

Yp=Asin(ω t–kx)....(1)

Persamaan tersebut yang disebut sebagai persamaan


gelombang berjalan yang secara umum dapat dituliskan:

Yp= Asin(ωt±kx)....(2)

Dalam persamaan diatas dipakai nilai negatif(-) jika gelombang berasal


dari sebelah kiri titik P atau gelombang merambat kekanan dan dipakai
positif (+) jika gelombang berasal dari sebelah kanan titik P atau
gelombang merambat kekiri.

2. Sudut Fase, Fase, dan Beda Fase pada Gelombang


Seperti halnya pada getaran, pada gelombang pun dikenal pengertian
sudut fase, fase, dan beda fase. Oleh karena itu perhatikan lagi persamaan
gelombang berjalan berikut ini!

YP=Asin(ωt-kx)=Asin

Dimana T disebut sudut fase sehingga:

… (3)

Mengingat hubungan antara sudut fase (T) dengan fase (φ) maka fase titik P
adalah:
φP = …(4)

Apabila pada tali tersebut terdapat dua buah titik, titik P yang berjarak X1 dari
titik asal getaran dan titik Q yang berjarak X2 dari titik asal getaran, maka
besarnya beda fase antara titik P dan Q adalah Δφ = φP – φQ

Δφ= …(5)

GELOMBANG STASIONER

Gelombang Stasioner adalah gelombang yang memiliki amplitudo yang


berubah – ubah antara nol sampai nilai maksimum tertentu. Gelombang stasioner
terjadi jika dua gelombang yang mempunyai frekuensi dan amplitudo sama
bertemu dalam arah yang berlawanan. Gelombang stasioner memiliki ciri-ciri,
yaitu terdiri atas simpul dan perut.Simpul yaitu tempat kedudukan titik yang
mempunyai amplitudo minimal (nol), sedangkan perut yaitutempat kedudukan
titik-titik yang mempunyai amplitudo maksimum pada gelombang tersebut.
Nama lain Gelombang stasioner adalah gelombang diam atau bisa dibilang
gelombang tegak atau gelombang berdiri. Gelombang stasioner dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu Gelombang stasioner yang terjadi pada ujung pemantul bebas
dan gelombang stasioner yang terjadi pada ujung pemantul tetap.

1. Gelombang Stasioner pada Ujung Bebas

Gambar2.aGelombangdatang Gambar2.bGelombangpantul

Apabila ujung bebas telah bergetar selama t sekon, maka persamaan


gelombang datang pada titik C dinyatakan Yd =Asin(ωt-kx) dan persamaan
gelombang pantul yang sampai dititik C dinyatakan Yp= Asin(ωt+kx).Persamaan
gelombang stasioner dapat diperoleh dengan menjumlahkan persamaan
gelombang datang dan gelombang pantul yang sampai dititik C , yaitu sebagai
berikut:
Y C=Yd+Yp
= A sin(ωt-kx)+A sin(ωt+kx)
=A {sin(ωt-kx)+ sin(ωt+kx)}

=2 A sin {( ωt-kx)+(ωt+kx)}cos {( ωt-kx)-(ωt+kx)}


= 2 A sin ωt coskx
atau

YC=2Acoskxsin ωt…(6)

Jika 2Acoskx=A’ maka persamaan dapat ditulis YC=A’sinωt. Di mana


A’=amplitudo gelombang stasioner pada dawai ujung bebas,yang berarti
bahwa amplitudo gelombang stasioner tergantung pada jarak suatu titik
terhadap ujung pemantul(x).

Gambar3Gelombang stasioner ujungbebas

Maka letak simpul-simpul gelombang stasioner pada ujung bebas jikaA’=0, A’


1 3 5
akan sama dengan nol jika coskx=0, jadi nilai kx= π , π , π ,dan seterusnya.
2 2 2
Jadi secara berurutan letak-letak simpul dari ujung bebas dapat ditentukan sebagai
berikut:

1
a. Simpul pertama kx1= 2 π

3
b. Simpulkedua kx2= 2 π

5
c. Simpulketiga kx3= 2 π

7
d. Simpul keempat kx4= 2 π

Dari data tersebut letak simpul-simpul gelombang stasioner pada ujung bebas
dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:
x = (2n–1) λ …(7)

dengan:
x = jarak simpul dari ujung bebas
n = 1,2,3…dan seterusnya (orde simpul)
λ= panjang gelombang stasioner

Perut gelombang terjadi jika A’ mencapai harga maksimum, A’ akan


maksimum jika cos kx =1, jadi nilai kx= 0 ,π,2π,3π ,4π dan seterusnya. Letak
kedudukan perut gelombang dari ujung bebas dapat dinyatakan sebagai berikut:

a. Perut pertama kx1=0 x1= 0

b. Perutkedua kx2=π

c. Perutketiga kx3 =2 π

d. Perutkeempat kx4 =3π

5
e. Perut kelima kx =4π
Dan seterusnya.

Dari data tersebut letak kedudukan perut-perut gelombang stasioner dari


ujung bebas dapat dinyatakan dalam persamaan:

x =(n–1) λ....(8)

dimana x=jarak perut gelombang dari ujung bebas n=1,2,3,……dan seterusnya


(orde perut)

2. Gelombang Stasioner pada Ujung Terikat


Gambar4.aGelombangdatang Gambar4.bGelombangpantul

Pada ujung tetap ternyata hasil pemantulan gelombang terjadi loncatan fase

sebesar sehingga gelombang yang tadi- nya datang berwujud bukit gelombang
dipantulkan berupa lembah gelombang. Apabila ujung bebas telah bergetar
selama t sekon maka persamaan gelombang datang pada titik C dinyatakan
Yd=Asin(ωt-kx) dan persamaan gelombang pantul yang sampai dititik C
dinyatakan Yp=Asin(ωt+kx)=-Asin(ωt +kx). Persamaan gelombang stasioner
dapat diperoleh dengan menjumlahkan persamaan gelombang datang dan
gelombang pantul yang sampai dititik C yaitu sebagai berikut.

Y C =Yd+Yp
=Asin(ωt-kx)-Asin(ωt+kx)
= A{sin(ωt-kx)- sin(ωt+kx)}

= 2Acos {(ωt-kx)+(ωt+kx)}sin {(ωt-kx)-(ωt+kx)}


=2Acosωtsinkx
atau

YC=2Asinkxcosωt …(9)

Jika2Asinkx=A’maka persamaan dapat ditulis YP=A’cosωt, di mana A’=


amplitudo gelombang stasioner pada dawai ujung terikat.

Gambar5Gelombangstasionerujungterikat

Oleh karena itu, letak simpul-simpul gelombang stasioner pada ujung


terikat jika A’=0, A’ akan sama dengan nol jika sinkx=0, jadi nilai kx=0,
π,2π,3π,4π dan seterusnya.
Jadi secara berurutan letak-letak simpul dari ujung terikat dapat ditentukan
sebagai berikut.
a. Simpulpertama kx1=0
x1= 0
b. Simpul kedua kx2=π

c. Simpul ketiga kx3=2π

d. Simpul keempat kx4=3 π

e.

5
Simpul kelima kx =4π
Dan seterusnya.

Berdasarkan data tersebut letak simpul-simpul gelombang stasioner pada ujung


terikat dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut.

x =(n-1) λ....(10)

dimana:
x = jarak simpul dari ujung terikat
n = 1,2,3…dan seterusnya (orde simpul)
λ = panjang gelombang stasioner

Perut gelombang terjadi jika A’ mencapai harga maksimum, A’ akan


maksimum jika cos kx=1, jadi nilai

kx= dan seterusnya.


Letak kedudukan perut gelombang dari ujung
terikat dapat dinyatakan sebagai berikut:

1
a. Perut pertama kx1= 2 π

3
π
b. Perutkedua kx2 = 2

c. Perutketiga kx3=

d. Perut keempat kx4=


dan seterusnya.

Berdasarkan data tersebut letak kedudukan perut-perut gelombang stasioner dari


ujung terikat dinyatakandalam persamaan:

x=(2n–1) λ....(11)

dimana:
x = jarak perut dari ujung bebas
n = 1,2,3…dan seterusnya (ordeperut)
λ = panjang gelombang stasioner

C. BUNYI

Bunyi termasuk salah satu dari jenis gelombang yang dapat dirasakan
oleh indera pendengaran (telinga). Dalam pelajaran fisika, Pengertian bunyi
ialah sesuatu yang dihasilkan dari benda yang bergetar. Benda yang
menghasilkan bunyi disebut sebagai sumber bunyi. Sumber bunyi yang
bergetar akan menggetarkan molekul-molekul ke udara yang ada
disekitarnya. Dengan demikian, syarat terjadinya bunyi ialah dengan adanya
benda yang bergetar. Perambatan bunyi memerlukan medium(pengantar).
Kita dapat mendengar bunyi jika ada medium(pengantar) yang dapat
merambatkan bunyi.

Terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi agar suatu bunyi dapat


terdengar.
Syarat terjadi dan terdengarnya bunyi adalah:
1. Terdapat benda yang bergetar (sumber bunyi)
2. Terdapat medium yang merambatkan bunyi, serta
3. Terdapat penerima yang berada di dalam jangkauan sumber bunyi

Bunyi memiliki cepat rambat yang sangat terbatas. Bunyi juga


memerlukan waktu untuk berpindah dari satu tempat  tempat lainnya. Cepat
rambat suatu bunyi sebenarnya tidak terlampau besar. Cepat dalam rambat
bunyi jauh lebih kecil dibandingkan denga cepat rambat cahaya. Bahkan
sekarang manusia telah mampu membuat pesawat yang dapat terbang
beberapa kali dari pada cepat rambat suatu bunyi. Cepat rambat bunyi sering
dirumuskan ialah sebagai berikut:

v = s / t 
Ket:
v = cepat rambat bunyi (m/s)
s = jarak sumber ke pengamat (m)
t = selang waktu (s).

Sifat – Sifat Bunyi


Bunyi memiliki sifat-sifat atau ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri gelombang
bunyi tersebut, antara lain ialah sebagai berikt:
 Merupakan gelombang longitudinal
 Tidak dapat merambat pada ruang hampa
 Kecepatan rambatnya dipengaruhi oleh kerapatan medium(pengantar)
perambatannya (padat, cair, gas). Paling cepat pada medium yang
kerapatannya tinggi.
 Dapat mengalami resonansi serta pemantulan.
 Bunyi dapat juga mengalami resonansi.
Cepat rambat bunyi pada zat padat

Keterangan :
v : Cepat rambat bunyi pada zat padat (m/s)
E : Modulus Young medium (N/m2)
ρ : Massa jenis medium (kg/m3)

Cepat rambat bunyi pada zat cair

 
Keterangan :
v : Cepat rambat bunyi pada zat cair (m/s)
B : Modulus Bulk medium (N/m2)
ρ : Massa jenis medium (kg/m3)

Cepat rambat bunyi pada zat gas (udara)

Keterangan :
p : Tekanan gas
γ : Tetapan Laplace
ρ : Kerapatan
Pengertian resonansi
Pengertian resonansi ialah peristiwa ikut bergetarnya suatu benda
akibat adanya  getaran benda lain, dikarenakan frekuensinya sama. Bunyi
juga dapat mengalami pemantulan, proses pemantulan bunyi dimanfaatkan
pada:
 Penentuan cepat rambat bunyi
 Pendeteksian cacat dan retak pada pipa logam
 Survei geofisika
 Pengukuran ketebalan pelat logam
 Pengukuran kedalaman tempat.

Jenis- Jenis Bunyi


Terdapat beberapa jenis dalam Bunyi.
Jenis-jenis bunyi  ialah sebagai berikut:
1. Bunyi infrasonik: ialah bunyi yang frekuensinya kurang dari 20 Hz, dan
dapat didengar oleh anjing, jangkrik, angsa, serta kuda.
2. Bunyi audiosonik, ialah bunyi yang frekuensinya berada antra 20 Hz-
20.000 Hz serta dapat didengar manusia.
3. Bunyi ultrasonik, ialah bunyi yang frekuensinya lebih dari 20.000 Hz,
dapat didengar oleh kelelawar serta lumba-lumba.
4. Nada, ialah bunyi yang frekuensinya beraturan.
5. Desah, ialah bunyi yang frekuensinya tidak teratur.
6. Gaung atau kerdam, ialah bunyi pantul yang sebagian datang bersamaan
dengan bunyi asli, sehingga  dapat menggangu bunyi asli.
Gema ialah , bunyi pantul yang datang setelah bunyi asli, sehingga dapat
memperkuat bunyi asli.

D. PELAYANGAN BUNYI

Layangan bunyi atau pelayangan bunyi adalah terjadinya pengerasan


bunyi dan pelemahan bunyi tersebut adalah efek dari interferensi gelombang
bunyi. Bunyi termasuk sebagai gelombang dan sebagai salah satu sifat
gelombang yaitu dapat berinterferensi, demikian juga pada bunyi juga
mengalami interferensi. Peristiwa interferensi dapat terjadi bila dua buah
gelombang bunyi memiliki frekuensi yang sama atau berbeda sedikit dan
berada dalam satu ruang dengan arah yang berlawanan. Interferensi semacam
ini sering disebut interferensi ruang. Interferensi dapat juga terjadi jika dua
gelombang bunyi yang mempunyai frekuensi sama atau berbeda sedikit yang
merambat dalam arah yang sama, interferensi yang terjadi disebut interferensi
waktu.

Layangan Bunyi Atau Pelayangan Bunyi


Pelayangan adalah peristiwa perubahan frekuensi bunyi yang berubah
ubah dengan tajam karena ada dua sumber bunyi dengan perbedaan frekuensi
yang kecil. Berarti pelayangan terjadi jika perbedaan frekuensi kedua
sumbernya kecil.
Pelayangan (beats) merupakan fenomena yang menerapkan prinsip
interferensi gelombang. Pelayangan akan terjadi jika dua sumber bunyi
menghasilkan frekuensi gelombang yang mempunyai beda frekuensi yang
kecil. Kedua gelombang bunyi akan saling berinterferensi dan tingkat suara
pada posisi tertentu naik dan turun secara bergantian. Peristiwa menurun atau
meningkatnya kenyaringan secara berkala yang terdengar ketika dua nada
dengan frekuensi yang sedikit berbeda dibunyikan pada saat yang bersamaan
disebut pelayangan. Gelombang akan saling memperkuat dan memperlemah
satu sama lain bergerak di dalam atau di luar dari fasenya.

Bentuk Gelombang Layangan Bunyi Atau Pelayangan Bunyi

Fenomena pelayangan terjadi sebagai akibat superposisi dua gelombang


bungi dengan beda frekuensi yang kecil
Gambar (a) menunjukkan pergeseran yang dihasilkan sebuah titik di dalam
ruang di mana rambatan gelombang terjadi, dengan dua gelombang secara
terpisah sebagai sebuah fungsi dari waktu. Kita anggap kedua gelombang
tersebut mempunyai amplitudo sama. Pada gambar (b) menunjukkan resultan
getaran di titik tersebut sebagai fungsi dari waktu.
Dalam peristiwa interferensi gelombang bunyi yang berasal dari dua
sumber bunyi yang memiliki frekuensi yang berbeda sedikit, misalnya
frekuensinya f1 dan f2, maka akibat dari interferensi gelombang bunyi tersebut
akan kita dengar bunyi keras dan lemah yang berulang secara periodik.
Terjadinya pengerasan bunyi dan pelemahan bunyi tersebut adalah efek dari
interferensi gelombang bunyi yang disebut dengan istilah layangan
bunyi atau pelayangan bunyi. Kuat dan lemahnya bunyi yang terdengar
tergantung pada besar kecil amplitudo gelombang bunyi. Demikian juga kuat
dan lemahnya pelayangan bunyi bergantung pada amplitudo gelombang bunyi
yang berinterferensi.
Banyaknya pelemahan dan penguatan bunyi yang terjadi dalam satu detik
disebutfrekuensi layangan bunyi yang besarnya sama dengan selisih antara
dua gelombang bunyi yang berinterferensi tersebut. Besarnya frekuensi
layangan bunyi dapat dinyatakan dalam persamaan :

fn = N = | f1 – f2 |


dengan :
N = banyaknya layangan bunyi tiap detiknya
f1 dan f2 = frekuensi gelombang bunyi yang berinterferensi
fn = frekuensi layangan bunyi

E. INTENSITAS GELOMBANG BUNYI


1. Intensitas Bunyi (I)
Intensitas bunyi ialah daya bunyi yang dipindahkan setiap
satuan luas.Karena energi tiap satuan waktu kita ketahui sebagai
pengertian daya, maka intensitas bisa ditentukan dengan persamaan

Energi bunyi dipancarkan oleh sumbernya ke segala arah


dengan sama besar, sehingga luas yang dijangkau sama denganluas
permukaan bola,sehingga persamaan di atas dapat dituliskan :
Intensitas gelombang semakin kecil seiring dengan semakin
jauhnya jarak dari sumber bunyi. Dari sini terlihatlah bahwa
intensitas bunyi berbanding terbalik dengan jarak. Pelajari
persamaan di bawah ini intensitas dari bunyi yang sama didengar
dari jarak yang berbeda

maka

2. Taraf Intensitas Bunyi (TI)

Alexander Graham Bell adalah ilmuwan yang menemukan


Taraf Intensitas bunyi. Yaitu logaritma perbandingan antara
intensitas bunyi dengan intensitas ambang pendengaran manusia.
Contoh peristiwa intensitas bunyi yang sering kita jumpai adalah
suara klakson yang dibunyikan bersama oleh beberapa pengemudi
mobil pada saat terjadi kemacetan. Taraf intensias bunyi
dirumuskan :

dimana :
TI = taraf intesitas bunyi (desi Bell = dB)
I = intensitas bunyi (W/m2)
I0 = Intensitas ambang (10-12 W/m2)
Jika sumber bunyi lebih dari satu, dengan asumsi sumber
bunyi identik. Maka intensitas dari n sumber bunyi sebesar :

HUBUNGAN TARAF INTENSITAS DENGAN JARAK

Taraf intensitas bunyi pada jarak   adalah   desibel, adapun pada


jarak   taraf intensitasnya adalah  , maka persamaannya adalah
sebagai berikut

Besar intensitas berbanding terbalik dengan kuadrat jarak maka persamaan


di atas dapat diubah menjadi
F. EFEK DOPLER
 Penemu Efek Dopler
Christian Andreas Doppler adalah pakar matematika
dan fisika berkebangsaan Austria yang dikenal dunia melalui berbagai
temuan dan penelitiannya. Doppler dilahirkan pada tanggal 29 November
1803 di Salzburg, Austria.

 Penemuan ilmiah

Di antara banyak karya ilmiah Doppler, risalah berjudul Uber das


farbige Licht der Doppelsterne und einiger andere Gestirne des Himmels
atau Seputar Pewarnaan Cahaya pada Bintang Biner dan Bintang Lain di
Langit merupakan salah satu publikasi yang paling dikenal. Melalui risalah
yang dipresentasikan pada 25 Mei 1842 di hadapan forum Royal
Bohemian Soceity of Science tersebut Doppler mendalilkan salah satu
prinsip fisika yang paling dikenal hingga saat ini: efek Doppler.

Melalui dalil tersebut, Doppler menyakini bahwa  frekuensi sebuah


gelombang bergantung pada kecepatan relatif dari sumber dan pengamat;
dan ia mencoba menggunakan konsep ini untuk menjelaskan pewarnaan
bintang biner. Konsep ini segera mendapat sambutan hangat dari para
ilmuwan masaa itu termasuk Bernard Bolzano yang telah menerapkan
teori Doppler untuk bidang astronomi, fisika, penerbangan, meteorologi
dan ilmu kesehatan. Versi resmi, disertai beberapa revisi, dari temuan
Doppler terbit pada 1846 dan telah divindikasi oleh pakar matematika
Belanda, Ch. H. D. Buys Ballot.

 Pengertian Efek Doppler

Definisi efek Doppler adalah gejala bunyi yang diselidiki oleh


Doppler, membahas perubahan frekuensi yang diterima oleh pengamat
(pendengar) akibat gerak relativeantara sumber bunyi dengan pendengar.
Misalnya gelombang bunyi yang dikeluarkanoleh sumber bunyi dan
pendengar bergerak saling mendekati. Maka frekuensi bunyi yangdidengar
oleh pendengar akan lebih tinggi daripada frekuensi sebenarnya dari bunyi
yang dihasilkan sumber bunyi. Namun, jika sumber bunyi dan pendengar
bergerak salingmenjauhi, maka frekuensi bunyi yang didengar oleh
pendengar akan lebih rendahdaripada frekuensi sebenarnya
Efek Doppler memperlihatkan hubungan antara frekuensi bunyi yang
didengar oleh pendengar dan frekuensi bunyi yang berasal dari sumber
bunyi tertentu. Besarnya frekuensi bunyi yang didengar oleh pendengar
bergantung kepada beberapa hal yaitu :

1. Frekuensi sumber bunyi


2. Cepat rambat bunyi di udara
3. Kecepatan pendengar
4. Kecepatan sumber bunyi
5. Kecepatan angin

 Cara Kerja Efek Doppler

Sumber Bunyi Bergerak dan Pengamat Diam

Jika sumberbunyi diam terhadap pengamat yang juga diam,


frekuensi yang terdengar oleh pengamat sama dengan frekuensi yang di
pancarkan oleh sumber bunyi. Frekuensi yang terdengar oleh pengamat
akan berbeda jika ada gerak relatif antara sumber bunyi
danpengamat.Untuk kasus sumber bunyi bergerak dan pengamat diam,
frekuensi yang terdengar oleh pengamat dapat dirumuskan sebagai
berikut.

fp= v/(v±vs ) fs

fs = frekuensi sumber bunyi (Hz)

fp= frekuensi yang didengar oleh pengamat (Hz)

v = kecepatan bunyi di udara (pada umumnya , v sebesar 340 ms-1)

vs = kecepatan sumber bunyi (ms-1)


Ketika menggunakan Persamaan (3-16), perlu diketahui tanda (+) dipakai
pada saat sumberbunyi menjauhi pengamat,sedangkan tanda (-) pada saat
sumber bunyi mendekatipengamat. Dalam kasus ini, pengamatnya diam,
atau tidak bergerak.

 Contoh Efek Doppler

Misalkan kita sedang bersepeda dijalan raya. bila sebuah mobil


bergerak mendekati kitasambil membunyikan klakson, maka nada bunyi
klakson terdengar makin tinggi seiringdengan semakin dekatnya jarak
mobil tersebut ke kita. Jika mobil masih bergerak danmenjauhi kita maka
nada klakson terdengar makin rendah. Jika jarak antara kita danmobil tidak
berubah maka tinggi nada klakson yang terdengar juga tidak berubah.

Deskripsi peristiwa di atas dikenal sebagai Asas Doppler, yaitu


peristiwa yang pertamakali diamati oleh ilmuwan fisika bernama Christian
Johan Doppler. Perlu ditekankan bahwa frekuensi sumber bunyi tidak
berubah. Tetapi ketika sumber bunyi mendekati kitamaka telinga kita
menerima getaran yang lebih banyak.

Dengan demikian, kita mendengar bunyi klakson makin tinggi. Begitupun


sebaliknya, ketika sumber bunyi menjauhi kita maka telinga kita menerima
getaran lebih sedikit, akibatnya kita mendengar bunyiklakson tersebut
makin rendah.Peristiwa-peristiwa mengenai efek Doppler dapat
dituangkan ke dalam rumusan persamaan matematis dengan bentuk:
Keterangan:

fp = frekuensi yang diterima oleh pendengar (Hz)


fs = frekuensi dari sumber bunyi (Hz)
vp = kecepatan pendengar (m/s)
vs = kecepatan dari sumber bunyi (m/s)
v = cepat rambat bunyi di udara (m/s)
CONTOH SOAL

1. Saat hujan berlangsung, di langit terjadi kilat, kemudian


setelah 10 sekon terdengar suara gemuruh. Jika kecepatan bunyi ditempat itu 340
m/s, berapakah jarak pendengar ke sumber bunyi ?
Penyelesaian :
Dik      : t = 10 sekon
              v = 340 m/s
Dit       : s = …..?
Jawab  :           s  =  v . t
    = (340 m/s) x (10 s)
    =  3.400 meter
            Jadi, jarak pendengar ke sumber bunyi adalah 3.400 meter.

2. 10 buah mesin di letakkan dalam sebuah ruang. Taraf intensitas


gelombang bunyi dari sebuah mesin sebesar 50dB, jika 10 mesin tersbut
diaktifkan secara serentak maka berapakah taraf intensitas yang dirasakan
oleh orang yang berada di dalam ruang tersebut?
Diketahui :
TI = 50 dB

n= 10

Ditanya:

TIn . . . ?

Jawab :

TIn= TI + 10*log n

TI10 = 50 + 10*log 10

TI10 = 50 + 10 *1

TI10 = 60 Db

Widya bermain dengan tali plastik yang biasa digunakan untuk menjemur
pakaian. Ia melepaskan salah satu ujung tali dan memegangnya sehingga tali
membentuk garis lurus mendatar. Selanjutnya, ia menggerakkannya ke atas dan
ke bawah secara sinusoidal dengan frekuensi 2 Hz dan amplitudo 0,5 m. Laju

gelombang pada tali adalah v =12 m/s. Ketika t=0 ujung tali memiliki
pergeseran nol dan bergerak ke arah sumbu-y positif. (a) Hitunglah amplitudo,
frekuensi sudut, periode, panjang gelombang, dan bilangan gelombang dari
gelombang yang terbentuk pada tali. (b) Tulislah fungsi gelombangnya. (c)
Tulislah fungsi gelombang dari sebuah titik yang terletak pada tali yang dipegang
Widya. (d) Tulislah fungsi gelombang dari sebuah titik yang berjarak 3 m dari
ujung tali yang dipegang Widya.

Penyelesaian :

(a) Amplitudo gelombang sama dengan amplitudo gerakan tali. Jadi,

amplitudo A=0,5 m .
Frekuensi sudut ω=2 πf =(2 π rad)(2 Hz)=4 π rad/s

1 1
T= = =0,5 s.
Periode f 2 Hz

Panjang gelombang dapat dihitung dengan Persamaan (1-1):

v 12 m/s
λ= = =6 m.
f 2 Hz

Bilangan gelombang k dapat dihitung dengan Persamaan (1-5) atau


Persamaan (1-6). Diperoleh,

2 π 2 π rad π ω 4 π rad π
k= = = rad/m k= = = rad/m.
λ 6m 3 atau v 12 m/s 3

(b) Diandaikan ujung tali yang dipegang Widya adalah x=0 dan gelombang
merambat sepanjang tali ke arah sumbu-x positif. Oleh karena itu, fungsi
gelombangnya dapat dinyatakan dengan Persamaan (1-4):
y( x , t )= A sin 2 π (tT −xλ )=( 0,5 m)sin(2 π )(t0,5 s −x6 m )
=(0,5 m)sin [( 4 π rad/s ) t−( π /3 rad/m)x ]

Hasil ini dapat juga diperoleh dengan menggunakan Persamaan (1-7),

π
k= rad/m.
dengan ω=4 π rad/s dan 3

(c) Fungsi gelombang dari sebuah titik yang terletak pada tali yang dipegang
Widya, artinya x = 0, dapat diperoleh dengan substitusi x = 0 ke dalam
jawaban (b). Diperoleh,

y ( x , t )=(0,5 m )sin [ ( 4 π rad/s ) t−( π /3 rad/m )(0) ]=(0,5 m )sin(4 π rad/s)t .

(d) Fungsi gelombang dari sebuah titik yang berjarak 3 m dari ujung tali yang
dipegang Widya dapat diperoleh dengan substitusi x = 3 m ke dalam
jawaban (b). Diperoleh,

y ( x, t )=(0,5 m )sin [ ( 4 π rad/s ) t−( π /3 rad/m )(3 m )]


=(0,5 m)sin [ ( 4 π rad/s ) t−π rad ] .