Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH KEPERAWATAN

WOUND HECTING
Dosen Pengampu : Ns.Priyanto, S.Kep., M.Kep., Sp.KMB

Disusun oleh:
Kelompok 4
Rianto Trisaputro

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
2019
A. Jarum Bedah
1. Pengertian
Jarum bedah disebut juga jarum hecthing (Suturu needles atau Surgical
needles) digunakan untuk menjahit luka, umumnya luka operasi. Pada
umumnya terbuat dari logam (stainless steel). Biasanya jarum-jarum
bedah dijual tersendiri, lepas dari benang badahnya. Tapi sekarang
banyak dijual jarum-jarum bedah berikut benangnya dalam kemasan satu-
satu. Jarum yang demikian disebut Atroumatic needle, karena
menimbulkan trauma, sebab benang tersebut langsung dijepit kedalam
ujung jarum yang satunya lagi.
2. Bentuk dan kegunaan Jarum
a. Berdasarkan bentuk ujung ekor jarum
1) Traumatik : berlubang sebagai tempat memasukkan benang jahit,
akan menghasilkan lubang tusukan yang lebih besar, jarum dapat
digunakan berulang kali
2) Atraumatik : langsung menyambung dengan benang jahit,
menghasilkan lubang yang lebih halus, jarum sekali pakai
b. Berdasarkan kelengkungan jarum

c. Panjang Jarum

Panjang jarum antara 2 – 60 mm


d. Daya tembus jarum

1) Bulat (rounded bodies): untuk menjahit otot dan jaringan yang


halus dan empuk
2) Trokar (trochar point): untuk jaringan cukup liat
3) Tajam (cutting): untuk jaringan yang liat seperti kulit

e. Macam – macam lengkungan jarum dan penampang batang jarum

f. Macam – macam ujung jarum dan kegunaan

1) Taper. Ujung jarum taper dengan batang bulat atau empat persegi
cocok digunakan untuk menjahit daerah aponeurosis, otot, saraf,
peritoneum, pembuluh darah, katup.
2) Blunt. blunt point dan batang gepeng cocok digunakan untuk
menjahit daerah usus besar, ginjal, limpa, hati

3) Triangular. Ujung segitiga dengan batang gepeng atau empat


persegi. Bisa dipakai untuk menjahit daerah kulit, fascia, ligament,
dan tendon.
4) Tapercut. Ujung jarum berbentuk segitiga yang lebih kecil dengan
batang gepeng, bisa digunakan untuk menjahit fascia, ligaments,
uterus, rongga mulut, dan sebagainya.

Untuk jarum tajam hampir selalu dipakai untuk semua jaringan,


kecuali untuk organ yang berlubang.
B. Benang
1. Pengertian
Setiap jahitan merupakan benda asing di dalam luka.Karena alasan
ini,maka untuk mendapatkan aposisi jaringan yang adekuat,pennjahitan
harus dilakukan dengan ukuran sekecil mungkin dan jumlah jahiatn
sedikit mungkin.Pada luka terkontaminasi,tidak boleh dilakukan
penjahitan kecuali bila sangat diperlukan untuk mempertahankan
kedudukan jaringan. Pemilihan ukuran jarum dan benang tergantung dari
ukuran,lokasi luka serta ketelitian penutupan yang diinginkan.
Jarum-jarum atraumatik (bulat atau runcing) digunakan untuk menjahit
fasia,otot,jaringan subkutan dan memperbaiki laserasi pembuluh darah
dan saraf.jarum tajam biasanya digunakan untuk penutupan dermis dan
epidermis diaman jaringan kolagen yang liat harus ditusuk dengan jarum
sehingga penjahitan lebih mudah. Benang berdiameter besar (2-0,3-0)
sangat baik digunakan untuk menjahit jaringan dan lapisan fasia utama di
daerah dengan regangan kuat (misalnya,luka di lutut atau siku).Kekuatan
efektif dari benang tersebut harus sama dengan kekuatan jaringan yang
dijahit,bila benang halus digunakan untuk menjahit luka dengan
peregangan mekanis,dapat menimbulkan gangguan jika benang tersebut
tertarik ke dalam luka.
Biasanya,benang halus digunakan untuk menjahit luka-luka (atau
bagiannya) yang perlu dirapatkan secara tepat,untuk menutup laserasi di
wajah digunakan benang berukuran 5-0 dan 6-0.Untuk menutup lapisan-
lapisan luka (fasia,dermis) dapat digunakan benang epidermis halus di
setiap bagian tubuh.Daya regang dari epidermis sendiri biasanya rendah
dan tujuan penjahitan disini hanyalah agar tepi-tepi luka dirapatkan
dengan baik. Penutupan perkutan dari epidermis dan dermis di setiap
bagian tubuh selain wajah,sebaiknya menggunakan benang berukuran 3-0
atau 4-0. Bekas jahitan merupakan hasil tekanan ikatan dan lamanya
jahitan dibiarkan di tempat tersebut.
2. Macam-Macam Benang Dan Jarum Jahit
a. Macam-macam benang jahit
Benang jahit untuk pembedahan dikenal dalam bentuk yang dapat diserap
Tubuh (absorbable) dan tidak diserap oleh tubuh.
1) Diserap oleh tubuh: catgut, cromic catgut, kelompok polyglactin
(misalnya Vicryl).
a) Catgut polos
Dibuat dari pita murni usus binatang yang dipintal menjadi jalinan
diukur secara elektronik dan kemudian dipulas. Benang ini sangat
popular, tetapi ada kecenderungan digantikan oleh benang sintetik
yang dapat diserap pada tahun belakangan ini.
b) Cromic catgut
Dibuat dari pita usus binatang, dipintal menjadi jalinan tepatnya
menjadi catgut polos. Dibuat sedemikian rupa sehingga kekuatan
dari benang tersebut dipertahankan untuk waktu yang lebih lama
daripada catgut polos.
Absorbsi benang dapat melalui 2 mekanisme ialah melalui pencernaan
oleh enzim jaringan, misalnya Vicryl dan Dexon
1) Dexon
Benang ini tidak menghasilkan reaksi jaringan karena mereka larut,
bila dibandingkan dengan reaksi jaringan yang terjadi pada calgut.
Tingkat penyerapannya lebih lambat mungkin membutuhkan waktu
beberpa Minggu. Merupakan benang yang ideal untuk semua jahitan
subnukleus, subkutikular, dan penutupan luka. Melalui proses rejeksi
immunologis, misalnya pada catgut.
2) Tidak diserap oleh tubuh: sutera, katun, nylon, polypropilena
(prolene), benang-benang baja yang dibuat dari komponen besi, nikel,
dan chronium.
a) Benang sutera
Terbentuknya menjadi jalinan yang padat yang dapat diikat dengan
mudah.Benang ini sangat populer dan digunakan secara luas dalam
penutupan luka.
b) Polipropilena
keuntungannya : lemas, dapat diikat dengan aman dan dapat
digunakan dengan mudah.Seperti benang monofilamen sintetik
lainnya, simpul perlu diperkuat denagn simpul tambahan dan
sebagai tambahan.Kerusakan yang didapat dari forsep dan
pemegang jarum harus dihindarkan untuk mencegah putusnya
benang.Benang ini sangat halus dan cocok untuk jahitan
subkutikular.
c) Baja tahan karat dan penjepit atau Staples logam
Jahitan baja tahan karat dan penjepit logam telah digunakan
bertahun-tahun karena sifanya kaku.Pada luka
terkontaminasi,bahan ini akan meningkatkan kemungkinan infeksi.
Peningkatan ini mungkin disebabkan oleh iritasi mekanis dari
kekuatannya dan bukan karena korosi.Sifat kaku dari benang
metalik ini mempersulit.
d) Dakron
Merupakan poliester yang kurang menimbulkan reaksi jaringan
dibandingkan dengan sutera.Karena koefisien gesekannya
tinggi,bahan ini sulit digunakan untuk menjahit. Luka gesekan
yang ditimbulkan dakron terhadap jaringan ini dapat diatasi dengan
melapisinya dengan teflon.
e) Nilo
Kurang menimbulkan reaksi pada jaringan bila dibandingkan
dengan dakron dan bila digunakan pada luka kontaminasi akan
menimbulkan kemungkinan infeksi lebih rendah.
1) Benang nilon monofilamen akan kehilangan daya regangnya
kurang lebih sebesar 20% setelah digunakan 1 tahun.Bentuk
nilon monofilamen ini cukup kaku sehingga tidak membentuk
simpul dengan baik.
2) Benang nilon multufilamen akan kehilangan daya regangnya
setelah 6 bulan tetapi lebih mudah untuk mengikatnya
dibadingkan benang monofilamen.
b. Jenis benang dan kegunaan
a. Plain Catgut (Dari Usus Domba)
- Diserap tubuh dalam waktu 7-10 hari
- Warna : putih dan kekuningan
- Ukuran : 5,0-3
- Kegunaan : Untuk mengikat sumber perdarahan kecil, menjahit
subkutis dan untuk menjahit kulit terutama daerah longgar (perut,
wajah) yang tak banyak bergerak dan luas lukanya kecil.
b. Kromik Catgut
- Berbeda dengan palin catgut, ditambahkan asam kromat, sehingga
menjadi lebih keras dan diserap lebih lama 20-40 hari
- Warna : coklat dan kebiruan
- Ukuran : 3,0-3
- Kegunaan : penjahitan luka yang dianggap belum merapat dalam
waktu 10 hari, untuk menjahit tendo pada penderita yang tidak
kooperatif bila mobilisasi harus segera dilakukan
c. Sintesis Dapat Diserap (Vicryl)
- Benang sintesis kemasan atraumatik
- Diserap tubuh, tidak menimbulkan reaksi jaringan. Dalam subkutis
bertahan 3 minggu, dalam otot bertahan 3 bulan
- Ukuran : 10,0-1
- Penggunaan : bedah mata, ortopedi, urologi dan bedah plastik
d. Tidak Dapat Diserap (Alami/Pilihan)
- Contohnya : sutera (silk), linon, kapas (cotton)
- Untuk jahitan terputus (inerrupted)
- Daya tegang cukup dan rapat diperkuat dengan dibasahi larutan
garam sebelum digunakan
e. Seide (Silk/Sutera)
- Bersifat tidak licin seperti sutera biasa karena sudah dikombinasi
dengan perekat, tidak diserap tubuh
- Pada penggunaan disebelah luar maka benang harus dibuka
kembali
- Ukuran : 5,0-3
- Kegunaan : menjahit luka, mengikat pembuluh darah arteri (ateri
besar), dan sebagai teugal (kendali)
f. Sintesis (Monofilamen)
- Contoh : nilon, polipropamid yang dilapisi telfon atau dakron,
poliester Untuk jahitan kontinyu
- Daya tegang tinggi
- Benang tidak bisa diserap, biasa digunakan pada jaringa yang sukar
sembuh
g. Ethilon
- Benang sintesis dalam kemasan atraumatis (benang langsung
bersatu dengan jarum jahit) dan terbuat dari nilon lebih kuat dari
seide atau catgut. Tidak diserap tubuh dan tidak menimbulkan pada
kulit dan jaringa tubuh lain.
- Warna : biru dan hitam
- Ukuran : 10,0-1,0
- Penggunaan : bedah plastik, ukuran yang lebih besar sering
digunakan pada kulit, nomor yang kecil digunakan pada bedah
mata
h. Ethibond
- Benang sintesis (polytetra methyene adipate). Kecemasan
atraumatis. Bersifat lembut, kuat, reaksi terhadap tubuh minimun,
tidak diserap.
- Warna : hijau dan putih
- Ukuran : 7,0-2
- Penggunaan : kardiovaskuler dan urologi
i. Vitalene
- Benang sintesis (polimer profilen), sangat kuat, lembut, tidak diserap.
Kemasan traumatis
- Warna : biru
- Ukuran : 10,0-1
- Kegunaan : bedah mikro terutama untuk pembuluhan darah dan
jantung, bedah mata, plastik, menjahit kulit.
j. Linen
- Dari serat kapas alam, cukup kuat, mudah disimpul, tidak diserap,
reaksi tubuh minimum
- Warna : putih
- Ukuran : 4,0-0
- Penggunaan : menjahit usus halus dan kulit, terutama kulit wajah.

Catatan :
a. Pada luka infeksi hendaknya jangan di pakai benang-benang yang
reaktif (absorbable) dan yang multifilamen karena bakter-bakteri
dapat bersarang di sela-sela anyaman.
b. Pada keadaan ini lebih baik dipakai benang monofilamen dan yang
tidak dapat diserap.
c. Jangan mengubur benang dalam luka infeksi karena itu tembuskan
jahitan dari kulit untuk seluruh tebalnya luka,dan pada saatnya nanti
benangnya akan diangkat (dibuang).

C. Model dan Indikasi jahitan


1. Macam jahitan luka
a. Jahitan Primer (Primary Suture Line), adalah jahitan yang digunakan
untuk mempertahankan kedudukan tepi luka yang saling dihubungkan
selama proses penyembuhan sehingga dapat sembuh secara primer. 
b. Jahitan Kontinyu, yaitu jahitan dengan sejumlah penjahitan dari seluruh
luka dengan menggunakan satu benang yang sama dan disimpulkan pada
akhir jahitan serta dipotong setelah dibuat simpul. Digunakan untuk
menjahit peritonium kulit, subcutis dan organ. 
c. Jahitan Simpul/Kerat/Knot, yaitu merupakan
tehnik ikatan yang mengakhiri suatu jahitan.
Digunakan untuk memperkuat dan
mempertahankan jahitan luka sehingga jahitan tidak
terlepas atau mengendor. Yang dimaksud dengan
jerat adalah pengikatan satu kali, sedang simpul
adalah pengikatan dengan dua jerat atau lebih 
2. Jenis jahitan luka
a. Jahitan Simpul Tunggal (Simple Inerrupted Suture)
Merupakan jenis jahitan yang sering dipakai. digunakan juga untuk jahitan
situasi
Teknik: Melakukan penusukan jarum dengan jarak antara setengah sampai
1 cm ditepi luka dan sekaligus mengambil jaringan subkutannya sekalian
dengan menusukkan jarum secara tegak lurus pada atau searah garis luka.
Simpul tunggal dilakukan dengan benang absorbable denga jarak antara
1cm. Simpul di letakkan ditepi luka pada salah satu tempat tusukan
Benang dipotong kurang lebih 1 cm. 
b. Jahitan Matras Horizontal (Horizontal Mattress Suture)
Jahitan dengan melakukan penusukan seperti simpul, sebelum disimpul
dilanjutkan dengan penusukan sejajar sejauh 1 cm dari tusukan pertama. 
Memberikan hasil jahitan yang kuat. Jahitan matras horizontal untuk
menautkan fascia, tetapi tidak boleh digunakan untuk menjahit subkutis
karena kulit akan bergelombang.

c. Jahitan Matras Vertikal  (Vertical Mattress


Suture)
Jahitan dengan menjahit secara mendalam dibawah luka kemudian
dilanjutkan dengan menjahit tepi-tepi luka. Biasanya menghasilkan
penyembuhan luka yang cepat karena di dekatkannya tepi-tepi luka oleh
jahitan ini. Jahitan matras vertikal berguna untuk mendapatkan tepi luka
secara tepat, tetapi tidak boleh dipakai di tempat-tempat yang
vaskularisasinya kurang.
Langkah-langkah penjahitan matras vertikal pada prinsipnya sama
seperti pada jahitan kulit terputus, perbedaan beberapa jenis jahitan adalah
pada arah lintasan benangnya dan mungkin juga letak simpulnya. Pada
jahitan ini jarak antara kedua penusukan lebih lebar karena akan dipakai
untuk dua kali penusukan, dan sebelum dilakukan pembuatan simpul
jarum kembali ditusukkan pada kulit dekat tepi
luka, kemudian di arahkan keluar ke tepi luka
dengan tidak terlalu dalam.
d. Jahitan Matras Modifikasi (Half Burried
Mattress Suture)
Modifikasi dari matras horizontal tetapi menjahit
daerah luka seberangnya pada daerah subkutannya. 

e. Jahitan Jelujur sederhana (Simple running suture, Simple continous,


Continous over and over)
Jahitan ini sangat sederhana, sama dengan kita menjelujur baju.
Biasanya menghasilkan hasil kosmetik yang baik, tidak disarankan
penggunaannya pada jaringan ikat yang longgar. Jahitan jelujur, lebih
cepat dibuat serta lebih kuat tetapi kalau terputus seluruhnya akan terbuka.
Untuk mengerjakan jahitan jelujur, pertamakali adalah dengan
membuat satu jahitan seperti pada jahitan kulit terputus dan dibuat simpul,
selanjutnya benang panjang tidak dipotong tetapi melanjutkan dengan
penusukan pada tepi luka selanjutnya dengan tempat penusukan dan
keluarnya benang yang sejajar, sehingga tampak dari luar arah benang
miring, tetapi dalam posisi tegak lurus di dalam jaringan, seperti pada
gambar.

f. Jahitan Jelujur Feston (Running locked suture, Interlocking suture)


Jahitan kontinyu dengan mengaitkan benang pada jahitan
sebelumnya, biasa sering dipakai pada jahitan peritoneum. Merupakan
variasi jahitan jelujur biasa Jahitan kontinyu dengan mengaitkan  benang
pada jahitan sebelumnya, biasa sering dipakai pada jahitan
peritoneum. Merupakan variasi jahitan jelujur biasa. Jahitan jelujur
terkunci, ini merupakan jahitan jelujur yang menyelipkan benang di
bawah jahitan yang telah terpasang.Cara ini efektif untuk menghentikan
perdarahan, tetapi kadang-kadang jaringan mengalami iskemia.
Pada jahitan ini tekniknya hampir sama dengan jahitan jelujur di
atas, akan tetapi dilakukan kuncian pada setiap satu jahitan, untuk
kemudian dilakukan penusukan selanjutnya, seperti pada gambar.

g. Jahitan Jelujur Horizontal  (Running Horizontal Suture)


Jahitan kontinyu yang diselingi dengan jahitan arah horizontal 

h. Jahitan Simpul Intrakutan (Subcutaneus Interupted Suture,


Intradermal burried suture, Interrupted dermal stitch)
Jahitan simpul pada daerah intrakutan, biasanya dipakai untuk
menjahit area yang dalam kemudian pada bagian luarnya dijahit pula
dengan simpul sederhana. Jahitan jelujur yang dilakukan dibawah kulit,
tehnik ini dapat diindikasikan pada luka di daerah yang memerlukan
kosmetik karena jahitan terkenal menghasilkan kosmetik yang baik,
namun tidak disarankan pada luka dengan tegangan besar.
i. Jahitan Jelujur Intrakutan (Running Subcuticular Suture)
Jahitan jelujur yang dilakukan dibawah kulit, tehnik ini dapat
diindikasikan pada luka di daerah yang memerlukan kosmetik karena
jahitan terkenal menghasilkan kosmetik yang baik, namun tidak
disarankan pada luka dengan tegangan besar.

D. Peralatan dan prosedur heacting


1. Persiapan Alat-Alat Penjahitan Luka (Hecting)
b. Spuit 5 cc  n. Benang otot/ catgut (bila perlu)
c. Kapas Alkohol 70%  o. Nierbekken (bengkok)
d. Lidokain 1% p. Larutan antiseptik/ garam faal
e. Pengalas q. Kom
f. Kasa steril r. Sarung tangan steril
g. Gunting benang s. Waskom berisi larutan chlorine 0,5
h. Naldpoeder %  
i. Pinset anatomis
j. Korentang 
k. Jarum kulit
l. Jarum otot (bila perlu)
m. Benang kulit (side)
1. Persiapan Penjahitan ( Kulit)
a. Rambut sekitar tepi luka dicukur sampai bersih.

b. Kulit dan luka didesinfeksi dengan cairan Bethadine 10%, dimulai dari bagian

tengah kemudian menjauh dengan gerakan melingkar.

c. Daerah operasi dipersempit dengan duk steril, sehingga bagian yang terbuka

hanya bagian kulit dan luka yang akan dijahit.

d. Dilakukan anestesi local dengan injeksi infiltrasi kulit sekitar luka.

e. Luka dibersihkan dengan cairan perhydrol dan dibilas dengan cairan NaCl.

f. Jaringan kulit, subcutis, fascia yang mati dibuang dengan menggunakan pisau dan

gunting.

g. Luka dicuci ulang dengan perhydrol dan dibilas dengan NacCl.

h. Jaringan subcutan dijahit dengan benang yang dapat diserap yaitu plain catgut

atau poiiglactin secara simple interrupted suture.

i. Kulit dijahit benang yang tak dapat diserap yaitu silk atau nylon.

2. Teknik Penjahitan Kulit


Prinsip yang harus diperhatikan :

a. Cara memegang kulit pada tepi luka dengan surgical forceps harus dilakukan

secara halus dengan mencegah trauma lebih lanjut pada jaringan tersebut.

b. Ukuran kulit yang yang diambil dari kedua tepi luka harus sama besarnya.

c. Tempat tusukan jarum sebaiknya sekitar 1-3 cm dari tepi lukia.Khusus” daerah

wajah 2-3mm.

d. Jarak antara dua jahitan sebaiknya kurang lebih sama dengan tusukan jarum dari

tepi luika.

e. Tepi luka diusahakan dalam keadaan terbuka keluar ( evferted ) setelah

penjahitan.

3. Cara Memegang Alat


a. Instrument tertentu seperti pemegang jarum, gunting dan pemegang kasa: yaitu

ibu jari dan jari keempat sebagai pemegang utama, sementara jari kedua dan

ketiga dipakai untuk memperkuat pegangan tangan. Untuk membuat simpul

benang setelah jarum ditembuskan pada jaringan, benang dilingkarkan pada ujung

pemegang jarum.

b. Pinset lazim dipegang dengan tangan kiri, di antara ibujari serta jari kedua dan

ketiga. Jarum dipegang di daerah separuh bagian belakang .

c. Sarung tangan dipakai menurut teknik tanpa singgung.

4. Prosedur Hecting
a. Mencuci Tangan

b. Menyiapkan peralatan

c. Mendekatkan alat; mengatur lingkungan dan menjaga privacy pasien

d. Mengatur posisi pasien; memasang perlak pengalas, mendekatkan bengkok.

e. Membuka set wound hecting

f. Memakai Handscoon steril

g. Melakukan pengkajian luka dengan cepat, tepat dan cermat.

h. Menghentikan perdarahan luka dengan balut tekan

i. Menganmbil pingset dan membersihkan luka menggunakan kassa steril dengan cairan

NaCl 0,9% dari arah dalam luka kea rah keluar dengan prinsip aseptic.

j. Melakukan anastesi luka menggunakan lidokain dengan teknik yang benar

1) Menyiapkan injeksi lidokain 1 %.

2) Lakukan desinfeksi pada ujung luka / daerah yang akan disuntik dengan

menggunakan alkohol 70% secara sirkuler dengan diameter kerang lebih 5 cm.

3) Menyuntikan lidokain secara sub kutan di sekitar tepi luka.


4) Melakukan aspirasi, apabila tidak ada darah masukan lidokain secara perlahan-

lahan sambil menarik jarum dan memasukan obat sepanjang tepi luka. Lakukan

pada tepi luka yang lainnya.

5) Sambil menungu reaksi obat, siapkan nalpoeder, jarum dan benang.

6) Tunggu 2 menit agar lidokain berreaksi.

k. Melepas handscoon steril

l. Menggunakan atau mengganti handscoon steril

m. Memasang duk steril

n. Melakukan pemeriksaan efek anestesi pada area yang akan dilakukan penjahitan

dengan menggunakan pinset.

o. Menyiapkan nailholder, pingset, jarum dan benang

p. Melakukan teknik penjahitan luka dengan tepat sesuai kebutuhan, jahit luka kurang

lebih 1 cm diatas ujung luka dan ikat, gunting benang sisakan kira-kira 1 cm. Jahit

satu persatu dengan jarak jahitan satu dengan yang lainnya kurang lebih 1 cm.

q. Merapikan hasil penjahitan luka

r. Membersihkan area sekitar luka dengan prinsip aseptic

s. Memberikan sufratul pada area jahitan

t. Menutup luka dengan kassa steril selanjutnya diplester

u. Merapikan pasien dan membereskan alat

v. Melakukan evaluasi dengan melepas handscoon

w. Melakukan terminasi dan dokumentasi tindakan.

5. Pengangkatan Jahitan (Off Hecting)


a. Jahitan diangkat bila fungsinya sudah tidak di perlukan lagi. Bila tepi luka sudah
cukup kuat, luka menutup dan kering, jahitan sudah bisa di angkat
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi cepat lambatnya pengangkatan jahitan :
1) Vaskularisasi
2) Pergerakan
3) Ketegangan tepi tepi luka
4) Teknik Penjahitan
5) Penyembuhan luka

6. Komplikasi Penjahitan Luka (Hecting) 


1. Overlapping:  Terjadi sebagai akibat tidak dilakukan adaptasi luka sehingga luka
menjadi tumpang tindih dan luka mengalami penyembuhan yang lambat dan apabila
sembuh maka hasilnya akan buruk.  
2. Nekrosis: Jahitan yang terlalu tegang dapat menyebabkan avaskularisasi sehingga
menyebabkan kematian jaringan. 
3. Infeksi: Infeksi dapat terjadi karena tehnik penjahitan yang tidak steril, luka yang
telah terkontaminasi, dan adanya benda asing yang masih tertinggal.  
4. Perdarahan: Terapi antikoagulan atau pada pasien dengan hipertensi.  
5. Hematoma: Terjadi pada pasien dengan pembuluh darah arteri terpotong dan tidak
dilakukan ligasi/pengikatan sehingga perdarahan terus berlangsung dan menyebabkan
bengkak.  
6. Dead space (ruang/rongga mati): Yaitu adanya rongga pada luka yang terjadi karena
penjahitan yang tidak lapis demi lapis.  
7. Sinus: Bila luka infeksi sembuh dengan meninggalkan saluran sinus, biasanya ada
jahitan multifilament yaitu benang pada dasar sinus yang bertindak sebagai benda
asing.  
8. Dehisensi: Adalah luka yang membuka sebelum waktunya disebabkan karena jahitan
yang terlalu kuat atau penggunaan bahan benang yang buruk.  
9. Abses: Infeksi hebat yang telah menghasilkan produk pus/nanah. 
Daftar Pustaka

Brunner & Suddarth, (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 volume
2.Jakarta EGC
Saifudin. 2013. Heacting dan Heacting aff.(online). www.google.book.com. diperoleh pada 5
Maret, 2019).
Ningsih, Fitria. 2011. Tehnik Menjahit Jaringan. (online). www.ugm.ac.id. diperoleh pada 8
Maret, 2019).
Fitri, Nurul. 2010. Referat ilmu bedah, material suutre. Yogyakarta: EGC
Pramuditya, Arindra. 2014. Laporan Pendahuluan Penjahitan Luka (Hecting). (online).
diperoleh pada 8 Maret, 2019).