Anda di halaman 1dari 20

Makalah:

“KEBUTUHAN AMAN DAN NYAMAN”

NAMA : KEZIA

NIM : C01419053

KELAS B KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GORONTALO

2020

[1]
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat

dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang

berjudul.“ KEBUTUHAN AMAN DAN NYAMAN” ini tepat pada

waktunya.

Adapun tujuan dari penyusunan dari makalah ini adalah untuk

memenuhi tugas dari dosen pada mata kuliah”KEPERAWATAN DASAR

1” Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi

para pembaca.

Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampuh mata

kuliah, yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah

pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni.

Kami menyadari, makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata

sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami

nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

Gorontalo, Mei 2020

Penulis

[2]
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................i

DAFTAR ISI ...............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................1

1.1 Latar Belakang .................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................1

1.3 Tujuan ...............................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................3

A. Kebutuhan Rasa Aman Dan Nyaman

1. Definisi ..............................................................................................................3

2. Ruang Lingkup ..................................................................................................4

3. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi................................................................5

B. Gangguan Rasa Aman Dan Nyaman (Nyeri)

1. Definisi Nyeri ....................................................................................................3

2. Fisiologi Nyeri...................................................................................................4

3. Teori Pengontrolan Nyeri(Gate control theory).................................................5

4. Klasifikasi Nyeri................................................................................................3

5. Faktor yang Mempengaruhi Respon Nyeri........................................................4

6. Penanganan Nyeri..............................................................................................5

BAB III PENUTUP ....................................................................................................11

1. Kesimpulan ......................................................................................................11

[3]
2. Saran ................................................................................................................11

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................12

[4]
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap manusia pasti membutuhkan perlindungan karena manusia
butuh rasa aman dan nyaman agar dapat menjalani hidupnya dengan baik.
Negara memberikan perlindungan untuk warga negaranya, di kasus hukum
polisi memberikan perlindungan untuk para saksinya, dan pengacara
memberikan perlindungan untuk kliennya. Semua perlindungan itu untuk
apa??? Tentu saja untuk menciptakan rasa aman dan nyaman sehingga klien
mereka merasa tentram dan dapat melakukan kegiatannya normal seperti
biasanya.
Begitu pula dengan pasien di rumah sakit. Mereka membutuhkan rasa
aman dan nyaman agar dapat menjalani aktivitas mereka dengan normal
tanpa ada rasa takut dan khawatir yang membebani pikiran mereka. Untuk
menciptakan rasa aman dan nyaman itu merupakan bagian dari tugas seorang
perawat seperti kita.
Rasa aman dan nyaman sangat dibutuhkan oleh klien agar
mempercepat proses penyembuhan mereka. Ini adalah semacam terapi untuk
kejiwaan. Klien membutuhkan rasa aman dan nyaman untuk dapat tidur
nyenyak, rileks, berkonsentrasi untuk kesembuhannya, dan masih banyak
lagi. Jika klien kita tidak merasa aman dan nyaman, tentu segudang obatpun
tidak akan mempan untuk menyembuhkan klien kita tersebut.
Bisa di bayangkan pentingnya rasa aman dan nyaman yang diberikan
oleh perawat kepada kliennya. Jika rasa aman dan nyaman itu tidak mampu
diciptakan oleh seorang perawat, maka dapat dikatakan perawat tersebut
telah gagal untuk melayani kliennya, dan upaya untuk penyembuhan klien
tersebut akan sangat susah untuk mencapai keberhasilannya.
Oleh karena itu, rasa aman dan nyaman tidak dapat disepelehkan
sama sekali. Karena semua kebutuhan klin tersebut seperti rantai yang
berbentuk bulat. Berikatan satu sama lain, tidak dapat di poisahkan satu dan
lainnya, bila satu  mata  rantainya  rusak, terputus, atau tak terpenuhi, maka
pasti akan mempengaruhi mata rantai yang lainnya.

[5]
Setiap individu pasti pernah mengalami nyeri dalam tingkatan
tertentu. Nyeri merupakan alasan yang paling umum orang mencari
perawatan kesehatan. Walaupun merupakan salah satu dari gejala yang
paling sering terjadi di bidang medis, nyeri merupakan salah satu yang paling
sedikit dipahami. Individu yang merasakan nyeri merasa menderita dan
mencari upaya untuk menghilangkannya.
Perawat meggunakan berbagai intervensi untuk dapat menghilangkan
nyeri tersebut dan mengembalikan kenyamanan klien. Perawat tidak dapat
melihat dan merasakan nyeri yang dialami oleh klien karena nyeri bersifat
subjektif. Tidak ada dua individu yang mengalami nyeri yang sama dan tidak
ada kejadian nyeri yang sama menghasilkan respon yang identik pada
seseorang. Nyeri dapat diekspresikan melalui menangis, pengutaraan, atau
isyarat perilaku. Nyeri yang bersifat subjektif membuat perawat harus
mampu dalam memberikan asuhan keperawatan secara holistic dan
menanganinya.
1.2 Rumusan masalah
1. Bagaimanakah ruang lingkup kebutuhan rasa aman dan nyaman?
2. Bagaimanakah konsep dasar gangguan rasa aman dan nyaman (nyeri)?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Memahami ruang lingkup kebutuhan rasa aman dan nyaman.
2. Memahami konsep dasar gangguan rasa aman dan nyaman (nyeri).

[6]
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kebutuhan rasa aman dan nyaman
1. Definisi
Keamanan adalah kondisi bebas dari cedera fisik dan
psikologis (Potter & Perry, 2006). Keselamatan adalah suatu
keadaan seseorang atau lebih yang terhindar dari ancaman
bahaya/kecelakaan. Pemenuhan kebutuhan keamanan dan
keselamatan dilakukan untuk menjaga tubuh bebas dari kecelakaan
baik pada pasien, perawat, atau petugas lainnya yang bekerja untuk
pemenuhan kebutuhan tersebut.
Kolcaba (1992, dalam Potter & Perry, 2006) megungkapkan
kenyamanan/rasa nyaman adalah suatu keadaan telah terpenuhinya
kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan akan ketentraman (suatu
kepuasan yang meningkatkan penampilan sehari-hari), kelegaan
(kebutuhan telah terpenuhi), dan transenden (keadaan tentang
sesuatu yang melebihi masalah dan nyeri).
2. Ruang lingkup
a. Keamanan
Kemanan dalam ruang lingkup praktik keperawatan
difokuskan dalam lingkungan rumah sakit. Keamanan dalam
rumah sakit meliputi keamanan dari kecelakaan, keracunan,
kebakaran, radiasi, polusi, suhu, dan oksigenasi.
1. Kecelakaan
Kecelakaan yang terjadi di rumah sakit dapat berupa :
kesalahan peletakkan karpet, tidak adanya pegangan yang
ada di kamar mandi dan di tangga, resiko luka bakar karena
termostat yang terpasang pada pemanas air terlalu panas.
2. Nutrisi
Nutrisi dapat juga terjadi di rumah sakit. Misalnya
mengontrol persediaan air bersih dan adequat untuk mencuci
bahan makanan yang segar dan alat-alat makan, keracunan

[7]
makanan yang disebabkan ingesti toksin bakteri yang
dihasilkan dalam makanan, penyakit yang disebabkan oleh
kontaminasi bakteri
3. Kebakaran
Kebakaran biasanya terjadi karena kelalaian manusia
dalam penggunaan gas dan cairan yang mudah terbakar dan
gangguan hubungan arus pendek.
4. Radiasi
Untuk mengurangi bahaya radiasi maka harus
dibatasi lamanya waktu di dekat sumber radiasi, jarak dari
sumber radiasi harus sejauh mungkin dan penggunaan alat
pelindung seperti pakaian pelindung bahaya. Pengontrolan
pembuangan sampah radioaktif dan pengontrolan kebocoran
radioaktif.
5. Polusi
Polusi meliputi polusi udara, polusi tanah, dan polusi
air. Polusi udara misalnya meminimalisir resiko terjadinya
penyakit paru-paru akibat kontaminasi asap rokok terhadap
atmosfir. Polusi tanah meliputi karena pembuangan radio
aktif dan sampah bioaktif yang tidak tepat misalnya bioksin.
Polusi air meliputi kontaminasi air terhadap zat kimia. Polusi
suara misalnya terjadi bila tingkat bunyi dalam rumah sakit
menyebabkan ketidaknyamanan bagi penghuni di rumah
sakit tersebut.
6. Suhu
Bahya suhu dapat disebabkan karena dua macam
suhu yaitu suhu terlalu dingin dan suhun terlalu panas.
7. Oksigenasi
Kasus oksigenasi misalnya sistem pemanas yang
tidak berfungsi dengan baik menyebabkan pembakaran yang
tidak mempunyai tempat pembuangan yang tepat sehingga
menyebabkan penumpukkan karbon monoksida

[8]
Cara  Meningkatkan Keamanan pada Pasien
 Mengkaji tingkat kemampuan pasien untuk melindungi diri
 Menjaga keselamatan pasien yang gelisah
 Mengunci roda kereta dorong saat berhenti
 Penghalang sisi tempat tidur
 Bel yang mudah dijangkau
 Meja yang mudah dijangkau
 Kereta dorong ada penghalangnya
 Kebersihan lantai
 Prosedur tindakan.
b. Kenyamanan
Kenyamanan mesti dipandang secara holistik yang
mencakup empat aspek yaitu:
1. Fisik, berhubungan dengan sensasi tubuh.
2. Sosial, berhubungan dengan hubungan interpersonal,
keluarga, dan sosial.
3. Psikospiritual, berhubungan dengan kewaspadaan internal
dalam diri sendiri yang meliputi harga diri, seksualitas, dan
makna kehidupan).
4. Lingkungan, berhubungan dengan latar belakang pengalaman
eksternal manusia  seperti cahaya, bunyi, temperatur, warna,
dan unsur alamiah lainnya.
Meningkatkan Kenyamanan dalam strategi kesehatan
 Sentuhan teraupeutik atau menghilangkan rasa sakit
 Akupresure atau pengobatan dengan terapi alami untuk
penyakit berat
 Relaksasi dan Teknik Imajinasi
 Imajinasi terbimbing
 Bimbingan Antisipasi\
 Distraksi atau pengalihan dari fokus terhadap nyeri.

[9]
Salah satu cara meningkatkan kenyamanan adalah
dengan mengajarkan pasien bagaimana cara melakukan teknik
relaksasi nafas dalam :
 Letakkan tangan pada uluhati.
 Tarik nafas dalam melalui hidung secara perlahan,
pertahankan bahu tetap rileks, dada bagian atas tidak
bergerak, dan biarkan rongga perut bergerak naik.
 Keluarkan udara secara perlahan melalui mulut, dengan
menguncupkan bibir.
 Lakukan 3 – 4 kali.
3. Faktor yang mempengaruhi keamanan dan kenyaman
1. Emosi
Kecemasan, depresi, dan marah akan mudah terjadi dan
mempengaruhi keamanan dan kenyamanan
2. Status Mobilisasi
Keterbatasan aktivitas, paralisis, kelemahan otot, dan kesadaran
menurun memudahkan terjadinya resiko injury
3. Gangguan Persepsi Sensory
Mempengaruhi adaptasi terhadap rangsangan yang
berbahayaseperti gangguan penciuman dan penglihatan
4. Keadaan Imunits
Gangguan ini akan menimbulkan daya tahan tubuh kurang
sehingga mudah terserang penyakit
5. Tingkat Kesadaran
Pada pasien koma, respon akan menurun terhadap rangsangan,
paralisis, disorientasi, dan kurang tidur.
6. Informasi atau Komunikasi
Gangguan komunikasi seperti aphasia atau tidak dapat membaca
dapat menimbulkan kecelakaan.
7. Gangguan Tingkat Pengetahuan
Kesadaran akan terjadi gangguan keselamatan dan keamanan
dapat diprediksi sebelumnya.

[10]
8. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional
Antibiotik dapat menimbulkan resisten dan anafilaktik syok.
9. Status nutrisi
Keadaan kurang nutrisi dapat menimbulkan kelemahan dan
mudah menimbulkan penyakit, demikian sebaliknya dapat
beresiko terhadap penyakit tertentu.
10. Usia
Perbedaan perkembangan yang ditemukan diantara kelompok
usia anak-anak dan lansia mempengaruhi reaksi terhadap nyeri.
11. Jenis Kelamin
Secara umum pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna
dalam merespon nyeri dan tingkat kenyamanannya.
12. Kebudayaan
Keyakinan dan nilai-nilai kebudayaan mempengaruhi cara
individu mengatasi nyeri dan tingkat kenyaman yang mereka
punya
B. Gangguan Rasa Aman dan Nyaman (Nyeri)
1. Definisi Nyeri
a. Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau
potensial (Smatzler & Bare, 2002).
b. Nyeri adalah suatu sensori subyektif dan pengalaman emosional
yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan
yang aktual atau potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-
kejadian dimana terjadi kerusakan IASP (Potter & Perry, 2006).
c. Nyeri merupakan sensasi yang rumit, unik, universal dan
bersifat individual. Dikatakan bersifat individu karena respon
indivdu terhadap sensasi nyeri beragam dan tidak bisa
disamakan satu dengan yang lainnya. Hal tersebut menjadi dasar
bagi perawat dalam mengatasi nyeri pada klien. (Asmadi, 2008)
d. Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual dan

[11]
potensial, disamping itu nyeri adalah apapun yang menyakitkan
tubuh yang dikatakan individu yang mengalaminya, yang ada
kapanpun individu mengatakannya potensial. (Hidayat, 2006),
2. Fisiologi Nyeri
Menurut Perry & Potter (2006), ada tiga jenis sel saraf
dalam proses penghantaran nyeri yaitu sel syaraf aferen atau
neuron sensori, serabut konektor atau interneuron dan sel saraf
eferen atau neuron motorik. Sel-sel syaraf ini mempunyai reseptor
pada ujungnya yang menyebabkan impuls nyeri dihantarkan ke
sum-sum tulang belakang dan otak. Reseptor-reseptor ini sangat
khusus dan memulai impuls yang merespon perubahan fisik dan
kimia tubuh. Reseptor-reseptor yang berespon terhadap stimulus
nyeri disebut nosiseptor.
Stimulus pada jaringan akan merangsang nosiseptor
melepaskan zat-zat kimia, yang terdiri dari prostaglandin, histamin,
bradikinin, leukotrien, substansi p, dan enzim proteolitik. Zat-zat
kimia ini akan mensensitasi ujung syaraf dan menyampaikan impuls
ke otak
Kornu dorsalis dari medula spinalis dapat dianggap sebagai
tempat memproses sensori. Serabut perifer berakhir disini dan
serabut traktus sensori asenden berawal disini. Juga terdapat
interkoneksi antara sistem neural desenden dan traktus sensori
asenden. Traktus asenden berakhir pada otak bagian bawah dan
bagian tengah dan impuls-impuls dipancarkan ke korteks serebri.
Agar nyeri dapat diserap secara sadar, neuron pada sistem asenden
harus diaktifkan. Aktivasi terjadi sebagai akibat input dari reseptor
nyeri yang terletak dalam kulit dan organ internal. Terdapat
interkoneksi neuron dalam kornu dorsalis yang ketika diaktifkan,
menghambat atau memutuskan taransmisi informasi yang
menyakitkan atau yang menstimulasi nyeri dalam jaras asenden.
Seringkali area ini disebut “gerbang”. Kecendrungan alamiah
gerbang adalah membiarkan semua input yang menyakitkan dari

[12]
perifer untuk mengaktifkan jaras asenden dan mengaktifkan nyeri.
Namun demikian, jika kecendrungan ini berlalu tanpa perlawanan,
akibatnya sistem yang ada akan menutup gerbang. Stimulasi dari
neuron inhibitor sistem assenden menutup gerbang untuk input
nyeri dan mencegah transmisi sensasi nyeri (Mubarak, 2007).
3. Teori Pengontrolan nyeri (Gate control theory)
Terdapat berbagai teori yang berusaha menggambarkan
bagaimana nocireseptor dapat menghasilkan rangsang nyeri.
Sampai saat ini dikenal berbagai teori yang mencoba menjelaskan
bagaimana nyeri dapat timbul, namun teori gerbang kendali nyeri
dianggap paling relevan (Asmadi, 2008).
Teori gate control mengusulkan bahwa impuls nyeri dapat
diatur atau dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang
sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan bahwa impuls nyeri
dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat
saat sebuah pertahanan tertutup. Upaya menutup pertahanan
tersebut merupakan dasar teori menghilangkan nyeri.
Suatu keseimbangan aktivitas dari neuron sensori dan
serabut kontrol desenden dari otak mengatur proses pertahanan.
Neuron delta-A dan C melepaskan substansi C melepaskan
substansi P untuk mentranmisi impuls melalui mekanisme
pertahanan. Selain itu, terdapat mekanoreseptor, neuron beta-A
yang lebih tebal, yang lebih cepat yang
melepaskan neurotransmiter penghambat. Apabila masukan yang
dominan berasal dari serabut beta-A, maka akan menutup
mekanisme pertahanan. Diyakini mekanisme penutupan ini dapat
terlihat saat seorang perawat menggosok punggung klien dengan
lembut. Pesan yang dihasilkan akan
menstimulasi mekanoreseptor, apabila masukan yang dominan
berasal dari serabut delta A dan serabut C, maka akan membuka
pertahanan tersebut dan klien mempersepsikan sensasi nyeri.
Bahkan jika impuls nyeri dihantarkan ke otak, terdapat pusat kortek

[13]
yang lebih tinggi di otak yang memodifikasi nyeri. Alur saraf
desenden melepaskan opiat endogen, seperti endorfin dan dinorfin,
suatu pembunuh nyeri alami yang berasal dari
tubuh. Neuromedulator ini menutup mekanisme pertahanan dengan
menghambat pelepasan substansi P. tehnik distraksi, konseling dan
pemberian plasebo merupakan upaya untuk melepaskan endorfin
(Perry & Potter, 2006).
4. Klasifikasi Nyeri
Menurut  Hidayat (2008), nyeri diklasifikasikan berdasarkan
durasinya yaitu:
a. Berdasarkan Lokasi / Letak
1. Cutaneus / superficial
yaitu nyeri yang mengenai kulit/ jaringan subkutan.
Biasanya terasa sebagai sensasi yang tajam. Contoh :
Terkena ujung pisau atau gunting, jarum suntik.
2. Deep somatic / nyeri dalam
yaitu nyeri yang muncul dari ligament, pembuluh
darah, tendon dan syaraf, nyeri menyebar & lebih lama
daripada cutaneus. Contoh : Sensasi pukul, sensasi terbakar
misalnya ulkus lambung.
3. Nyeri Alih
merupakan fenomena umum dalam nyeri viseral
karena banyak organ tidak memiliki reseptor, biasanya nyeri
terasa di bagian tubuh yang terpisah dari sumber nyeri dan
dapat terasa dengan berbagai karakteristik. Contoh : Infark
miokard yang menyebabkan nyeri alih ke rahang, lengan
kiri, dan bahu kiri, batu empedu yang dapat mengalihkan
nyeri ke selangkangan.
4. Radiasi
Sensasi nyeri meluas dari tempat awal cedera ke
bagian tubuh yang lain. Biasanya nyeri terasa seakan
menyebatr ke bagian tubuh bawah atau sepanjang bagian

[14]
tubuh. Nyeri dapat menjadi intermitten atau konstan.
Contoh: Nyeri punggung bagian bawah akibat diskus
intravetebral yang ruptur disertai nyeri yang meradiasi
sepanjag tungkai dari iritasi saraf skiatik
b. Berdasarkan penyebabnya
1. Fisik : Bisa terjadi karena stimulus fisik (contoh: fraktur
femur).
2. Psycogenic : Terjadi karena sebab yang kurang jelas/susah
diidentifikasi, bersumber dari emosi/psikis dan biasanya
tidak disadari. (contoh: orang yang marah-marah, tiba-tiba
merasa nyeri pada dadanya), Biasanya nyeri terjadi karena
perpaduan 2 sebab tersebut.
c. Berdasarkan lama/durasinya
1. Nyeri akut
Nyeri akut merupakan kumpulan pengalaman yang
tidak menyenangkan yang berkaitan dengan sensori,
persepsi dan emosi serta berkaitan dengan respon autonomi
psikologi dan perilaku.
2. Nyeri kronik
Nyeri kronik adalah situasi atau keadaan pengalaman
nyeri yag menetap atau kontinyu selama beberapa bulan atau
tahu setelah fase penyembuhan dari suatu penyakit atau
injuri. karakteristiknya adalah nyeri dalam skala berat, dan
intensitas nyeri sukar diturunkan.
5. Faktor yang mempengaruhi respon nyeri
a. Usia
Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga
perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang
dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan
mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam
nyeri yang dialami, karena mereka mengangnggap nyeri adalah
hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau

[15]
mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri
diperiksakan.
b. Jenis kelamin
Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak
berbeda secara signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih
dipengaruhi faktor budaya (ex: tidak pantas kalo laki-laki
mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh nyeri).
c. Kultur
Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya
mereka berespon terhadap nyeri misalnya seperti suatu daerah
menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus
diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak
mengeluh jika ada nyeri.
d. Makna nyeri
Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang
terhadap nyeri dan dan bagaimana mengatasinya.
e. Perhatian
Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada
nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (1990),
perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang
meningkat, sedangkan upaya distraksi dihubungkan dengan
respon nyeri yang menurun. Tehnik relaksasi, guided imagery
merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri.
f. Ansietas
Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri
bisa menyebabkan seseorang cemas.
g. Pengalaman masa lalu
Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa
lampau, dan saat ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih
mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang
mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam
mengatasi nyeri.

[16]
h. Pola koping
Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang
mengatasi nyeri dan sebaliknya pola koping yang maladaptive
akan menyulitkan seseorang mengatasi nyeri.
i. Support keluarga dan sosial
Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung
kepada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh
dukungan dan perlindungan.
j. Lokasi dan Tingkat Keparahan Nyeri
Nyeri yang dirasakan bervariasi dalam intensitas dan
tingkat keparahan pada masing-masing individu. Nyeri yang
dirasakan mungkin terasa rinagn, sedang atau bisa jadi
merupakn nyeri yang hebat. Dalam kaitannya dengan kualitas
nyeri, masing-masing individu juga bervariasi, ada yang
melaporkan nyeri seperti ditusuk-tusk, nyeri tumpul, berdenyut,
terbaka dan lain-lain, sebagai contoh individu yang tersuk jarum
akan melaporkan nyeri yang berbeda dengan individu yang
terkena luka bakar. (Sigit Nian, 2010)
6. Penanganan Nyeri
a. Farmakologi
1. Analgesik Narkotik
Analgesik narkotik terdiri dari berbagai derivate
opium seperti morfin dan kodein. Narkotik dapat
memberikan efek penurunan nyeri dan kegembiraan karena
obat ini mengadakan ikatan dengan reseptor opiat dan
mengaktifkan penekan nyeri endogen pada susunan saraf
pusat (Tamsuri, 2007).
Namun, penggunaan obat ini menimbulkan efek
menekan pusat pernafasan di medulla batang otak sehingga
perlu pengkajian secara teratur terhadap perubahan dalam
status pernafasan jika menggunakan analgesik jenis ini
(Smeltzer & Bare, 2001).

[17]
2. Analgesik Non Narkotik
Analgesik non narkotik seperti aspirin, asetaminofen,
dan ibuprofen selain memiliki efek anti nyeri juga memiliki
efek anti inflamasi dan anti piretik. Obat golongan ini
menyebabkan penurunan nyeri dengan menghambat
produksi prostalglandin dari jaringan yang mengalami
trauma atau inflamasi (Smeltzer & Bare, 2001). Efek
samping yang paling umum terjadi adalah gangguan
pencernaan seperti adanya ulkus gaster dan perdarahan
gaster.
b. Non Farmakologi
1. Relaksasi progresif
Relaksasi merupakan kebebasan mental dan fisik dari
ketegangan stres. Teknik relaksasi memberikan individu
kontrol diri ketika terjadi rasa tidak nyaman atau nyeri, stres
fisik, dan emosi pada nyeri (Potter & Perry, 2006).
2. Stimulasi Kutaneus Plasebo
Plasebo merupakan zat tanpa kegiatan farmakologik
dalam bentuk yang dikenal oleh klien sebagai obat seperti
kapsul, cairan injeksi, dan sebagainya. Placebo umumnya
terdiri dari larutan gula, larutan salin normal, atau air biasa
(Tamsuri, 2007).
3. Teknik Distraksi
Distraksi merupakan metode untuk menghilangkan
nyeri dengan cara mengalihkan perhatian pasien pada hal-
hal yang lain sehingga pasien akan lupa terhadap nyeri yang
dialami ( Priharjo, 1996 ).

[18]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Keamanan adalah kondisi bebas dari cedera fisik dan
psikologis. Keselamatan adalah suatu keadaan seseorang atau
lebih yang terhindar dari ancaman bahaya/kecelakaan.
Pemenuhan kebutuhan keamanan dan keselamatan dilakukan
untuk menjaga tubuh bebas dari kecelakaan baik pada pasien,
perawat, atau petugas lainnya yang bekerja untuk pemenuhan
kebutuhan tersebut.
2. kenyamanan/rasa nyaman adalah suatu keadaan telah
terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan akan
ketentraman (suatu kepuasan yang meningkatkan penampilan
sehari-hari).
3. Nyeri merupakan suatu gejala yang bersifat ojektif. Hanya orang
yang merasakan yang bisa mengungkapkan. Kebutuhan dasar
manusia untuk memenuhi rasa yang tidak nyaman atau nyeri ini,
perawat perlu memperhatiakn, mengkaji konsep dasar nyeri pada
klien yangmengalami gngguan keamaman.
B. Saran
Semoga dengan memahami konsep dasar nyeri ini. Kita bisa
menerapkan dan membagi ilmu dalam menyelesaikan masalah
gangguan rasa aman dan nyaman ini dalan dunia kesehatan.

[19]
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Konsep Dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Salemba


Medika. Jakarta.
Brunner&Suddarth, Suzanne C. Smeltzer, Brenola G. Bare. 2001.
Keperawatan Medikal Bedah. EGC: Jakarta
Hidayat, AAA., Musifatul Uliyah. 2004. Buku Saku Praktikum
Kebutuhan Dasar Manusia, Jakarta: EGC.
Judith M. Wilkinson. 2006. Diagnosa Keperawatan Dengan Intervensi
NIC Dan Kriteria Hasil NOC. EGC. Jakarta.
Mubarak, Iqbal. 2007. Buku Ajar : Kebutuhan Dasar Manusia. EGC.
Jakarta.
Nanda International (2009). Diagnosis Keperawatan: definisi &
Klasifikasi. 2009-2011. Penerbit buku kedokteran EGC : Jakarta
Nian SP, 2010. Konsep Dan Proses Keperawatan Nyeri. Graha Ilmu.
Surakarta
Potter & Perry. 2006. Fundamental Keperawatan. EGC: Jakarta
Tarwoto & Wartonah. (2010). Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses
Keperawatan. Edisi 4. Salemba Medika : Jakarta

[20]