Anda di halaman 1dari 50

BLOK 1.

6
LAPORAN TUTORIAL
MODUL 3

KELOMPOK 13 B
TUTOR : Prof. Dr. Eti Yerizel, MS

ANGGOTA
1. Meilisa Rahmawati
2. M.Rayhan Abiyyu Javandi
3. Rezka Nanda Faisaelia
4. Tuffahati Naura Rafifa
5. Dinda Puti Salma
6. Indah Syafira Praja
7. Thira Fasril
8. Nadhira Isza Qushoyyi
9. Auni Yasmeen Binti Rosydan

I. Skenario
Zoa dan Remi, Serupa Tapi Tak Sama
Pak Arthro datang ke puskesmas untuk membawa 2 orang anaknya berobat. Anak

pertama bernama Zoa, 17 tahun, mengeluhkan buang air besar encer sejak 1 hari yang lalu,

frekuensi 5-6 kali perhari dan yang membuat dia lebih cemas adalah karena tinjanya

bercampur lendir dan darah. Zoa berharap semoga dia tidak seperti tetangganya yang

memiliki keluhan yang sama, namun saat ini harus dirawat di rumah sakit. Dari anamnesis

dokter, Zoa juga mengeluhkan demam dan nyeri perut sejak tadi malam. Pak Arthro dan

keluarga tinggal di pinggir sungai dan sehari-hari memanfaatkan air sungai untuk berbagai

kebutuhan keluarga. Setelah melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan feses rutin

terhadap Zoa, dokter memberikan antiamuba yang harus dikonsumsi selama 5 hari.

Anak kedua bernama Remi, usia 5 tahun, mengeluhkan gatal pada anus terutama

malam hari sejak 7 hari yang lalu. Keluhan tersebut sama dengan yang dialami beberapa

teman bermainnya. Pada Remi dokter melakukan pemeriksaan darah rutin dan ditemukan

eosinofilia, serta melakukan pemeriksaan feses rutin dan anal swab. Dokter mendiagnosis

Remi menderita enterobiasis dan diberikan obat antihelmentik yang hanya diminum satu kali.

Zoa bertanya kepada dokter, apakah penyebab gatal pada Remi sama dengan yang dia alami
ketika masih di pesantren dulu. Ketika itu Zoa juga mengeluhkan gatal pada sela-sela jari dan pergelangan
tangan terutama pada malam hari. Pada daerah tersebut terlihat

bercak-bercak merah yang membentuk garis seperti terowongan. Namun ketika itu Zoa

mendapat obat salep dari dokter disana.

Pak Arthro bertambah pusing, mengapa dengan keluhan hampir sama, anaknya

mendapat pemeriksaan dan pengobatan berbeda. Namun, justru ketika keluhan berbeda,

anaknya mendapat pemeriksaan yang hampir sama.

Bagaimanakah anda menjelaskan apa yang dialami oleh Zoa dan Remi ?

II. STEP 1

Terminologi
1. Rectal swab
adalah prosedur di mana kapas kecil steril dimasukkan ke dalam rektum untuk tujuan koleksi
sampel yang akan diuji untuk penyakit dan infeksi tertentu daerah rectum + 2-3 cm
diataslubang anus.
2. Obat salep
Merupakan sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau
selaput lendir, yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar.
3. Enterobiasis
infeksi parasit yang disebabkan Enterobius vermicularis dan merupakan infeksi yang sering
terjadi dalam satu keluarga atau pada orang yang tinggal dalam satu rumah.
4. Antiamuba
obat obat yang digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme
bersel tunggal yaitu entamoeba histolytica atau dysentru amuba
5. Anamnesis
kegiatan komunikasi yang dilakukan antara dokter sebagai pemeriksa dan pasien yang
bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang penyakit yang diderita dan informasi
lainnya yang berkaitan sehingga dapat mengarahkan diagnosis penyakit pasien.
6. Antihelmentik
obat yang digunakan untuk membunuh dan mematikan cacing parasit
penyebab infeksi
7. Diagnosis
Penentuan kondisi kesehatan yang dialami seseorang sebagai dasar pengambilan kebutuhan
medis untuk prognosis dan pengobatan
8. Eosinophilia
peningkatan abnormal eosinofil didalam darah
9. Lendir
mukus bebas pada membran mukosa yang terdiri dari sekresi kelenjar dan leukosit
III. STEP 2

RUMUSAN MASALAH
1. Apa jenis mikroorganisme parasit?
2. Apa yang terjadi jika ditemukan eosonophilia pada pemeriksaan darah pada remi?
3. Bagaimana gejala dan patologi klinik enterobiasis?
4. Bagaimana frekuensi dan kriteria feses normal? Dan apa kenapa diberi anti amuba?
5. Bagaimana hubungan tempat tinggal pak arthro dengan penyakit yang diderita anak-anaknya?
6. Mengapa dokter melakukan pemeriksaan feses rutin dan anal swab?
7. Apa perbedaan antiamuba dan antihelmentik dan bagaimana penggunaannya?
8. Apa diagnosa untuk zoa dan bagaimana pencegahannya?
9. Bagaimana penjelasan tentang gatal yang dirasakan zoa ketika dipesantren dan remi? Apakah
berbeda?

IV. STEP 3

ANALISIS MASALAH
1. Apa jenis mikroorganisme parasit?

JENIS PENJELASAN
PARASIT
Protozoa - Terdiri dari kelas
rhizopoda,cilliata,flagella,sporozoa,amoeba,paramecium, euglena
mengikut alat gerak masing-masing
- Tidak membuat makanan sendiri (engulf, cytostome)
- Bersel tunggal
- Eukariotik
- Hidup sendiri/berkelompok
- Hidup di tanah dan air
- Bentuk bulat, memanjang,tidak menentu
- Reproduksi asexual dan sexual

Cestoda - Bentuk badan memanjang spt pita, pipih dan beruas-ruas


- Tidak ada rongga badan dan saluran cerna
- Habitat di saluran cerna manusia
- Ujung bagian anterior -> sucker
- Cara diagnosis terjumpa telur di tinja manusia

Trematoda - Pipih spt daun dan tidak bersegmen


- Tidak ada rongga badan
- 2 batil isap (mulut dan perut)
- Ada saluran cerna berbetuk huruf Y terbalik
- Hospes: manusia dan hewan
- Habitat : hati,usus, paru, darah
- Mengeluarkan zat toksin

Nematoda - Bentuk bulat memanjang dan ukuran bervariasi


- Mempunyai system cerna,ekresi, dan reproduksi(terpisah)
- Soil dan non soil transmitted
- Soil transmitted
1. Kebanyakan hospes adalah manusia
2. Cth Ascaris lumbricoides yang hidup di usus halus
- Non Soil Tranmitted
1. Hospes : manusia dan hewan
2. Enterobiasis terjadi
3. Penyebaran geografik : cosmopolitan, tanah dingin ke panas
4. Cth Oxyuris Vermicularis yang berbentuk simetri, telur berisi larva
yang matang stlh 6 jam
- Penularan : tangan ke mulut

Arthropoda - Hewan memiliki kaki beruas,berbuku dan bersegmen


- Tubuh simetri bilateral
- Segmen bergabung dan membentuk bagian tubuh caput,toraks dan
abdomen
- Kutikula keras membentuk rangka luar
- System saraf tangga tali berjumlah sepasang yang berada di
sepanjang sisi ventral tubuhnya
- Bernapas melalui insang/trakea/paru-paru
- Saluran cerna terdiri dari mulut, esophagus, lambung, usus, anus
- Reproduksi umum secara sexsual
- Terdiri dari 4 klasifikasi : crustacean, chelicerata, myriapoda, insecta

2. Apa yang terjadi jika didapat hasil eosinofilia pada pemeriksaan darah?
Eosinofil adalah sejenis sel darah putih yang bertugas memerangi substansi berbahaya
dalam tubuh seperti parasit, dan berperan dalam reaksi alergi. Jumlah eosinofil yang tinggi
menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres dalam tubuh. Tingginya jumlah eosinofil
(eosinofilia) hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan darah.

Penyebab :
Pada intinya jumlah sel darah putih eosinofil akan meningkat saat tubuh membutuhkannya,
yaitu ketika diserang parasit, mengalami reaksi alergi, dan lain-lain. Sebagian besar
penyebab eosinofilia bukanlah masalah serius sehingga tak memerlukan perawatan khusus
dan sering sembuh dengan sendirinya, namun beberapa disebabkan oleh masalah
berbahaya sehingga harus diwaspadai. Lebih jelasnya mari kita tinjau penyebab eosinofil
tinggi berikut ini:
 Infeksi parasit Penyebab paling umum eosinofilia adalah ketika tubuh mengalami
infeksi parasit. Tergantung pada penyebabnya, infeksi parasit memiliki nama-nama
unik, seperti schistosomiasis (cacing trematoda), trichinosis (cacing cambuk),
strongyloidiasis (cacing strongyloides), dan ascariasis (cacing gelang). Contoh parasit
cacing di atas dapat ditemukan di seluruh dunia termasuk Indonesia. Jadi, pada
penderita cacingan seringkali ditemukan peningkatan jumlah eosinofil dalam tubuh.
Tanda ini pula yang sering menjadi pedoman dokter guna menegakkan diagnosis dan
memantau hasil pengobatan
 Reaksi obat Ternyata obat-obatan juga dapat memicu peningkatan jumlah eosinofil,
namun terkadang tanpa tanda atau gejala yang jelas sehingga banyak yang tidak
menyadarinya. Obat- obatan yang paling sering menyebabkan eosinofilia termasuk
antibiotik (penicillin, sefalosporin), obat anti-inflamasi non-steroid (aspirin,
ibuprofen), ranitidine (untuk gastroesophageal reflux), phenytoin (anti-kejang) dan
allopurinol (obat asam urat).

Gejala
Jumlah eosinofil yang hanya sedikit meningkat, umumnya tidak menunjukkan gejala apa
pun. Lain halnya apabila jumlah eosinofil yang tinggi, maka gejalanya sesuai dengan
penyebab yang mendasari. Meskipun ada sejumlah gejala umum sebagai berikut: ruam,
Gatal, Diare, dalam kasus infeksi parasit, Asma, Hidung berair, terutama jika dikaitkan
dengan alergi.

3. Bagaimana patologi dan gejala dari enterobiasis?


Enterobiasis relatif tidak berbahaya, jarang menimbulkan lesi yang berarti. Gejala klinis yang
menonjol disebabkan iritasi di sekitar anus, perineum dan vagina oleh cacing betina gravid
yang bermigrasi ke daerah anus dan vagina sehingga menyebabkan pruritus lokal. Karena
cacing bermigrasi ke daerah anus dan menyebabkan pruritus ani, maka penderita
menggaruk daerah sekitar anus sehingga timbul luka garuk di sekitar anus. Keadaan ini
sering terjadi pada waktu malam hari hingga penderita terganggu tidurnya dan menjadi
lemah. Kadang-kadang cacing dewasa muda dapat bergerak ke usus halus bagian proksimal
sampai ke lambung, esofagus dan hidung sehingga menyebabkan gangguan di daerah
tersebut. Cacing betina gravid mengembara dan dapat bersarang di vagina dan di tuba
Fallopii sehingga menyebabkan radang di saluran telur. Cacing sering ditemukan di apendiks
tetapi jarang menyebabkan apendisitis. Beberapa gejala infeksi Enterobius vermicularzs
yaitu kurang nafsu makan, berat badan turun, aktivitas meninggi, enuresis, cepat marah, gigi
menggeretak, insomnia dan masturbasi, tetapi kadang-kadang sukar untuk membuktikan
hubungan sebab dengan cacing kremi.

4. Kriteria dan frekuensi feses normal ?

Frekuensi BAB Setiap Orang BerbedaBAB memang harus rutin dilakukan agar zat sisa yang
tidak diperlukan lagi oleh tubuh bisa dibuang.Namun, ternyata frekuensi BAB setiap orang
bisa berbeda-beda. Ada yang memang setiap hari, ada juga yang beberapa hari sekali.Meski
begitu, menurut penelitian, frekuensi BAB yang normal yaitu tiga kali per hari, dengan syarat
kotoran tidak terlalu keras atau encer berkisar 1-3 kali sehari atau 3 kali seminggu.

bentuk dan warna feses yang normal :

Sehat atau tidaknya seseorang dapat dilihat dari bentuk dan warna feses, selain dari kondisi
secara fisik. Tekstur feses yang normal adalah sebagai berikut:

 Berwarna kecokelatan hingga cokelat tua: Ini karena feses mengandung pigmen
yang disebut dengan bilirubin, terbentuk dari sel darah merah yang telah rusak.
 Bau tak sedap yang cenderung kuat: Ini disebabkan oleh bakteri pada feses yang
menghasilkan gas berbau tak sedap.
 Tidak menimbulkan rasa sakit: Kondisi usus yang sehat tidak membuat seseorang
merasa sakit saat buang air besar. Sebab, tekanan yang dihasilkan oleh feses
cenderung lemah sehingga setidaknya hanya membutuhkan 10-15 menit untuk
keluar dari anus. Jika menghabiskan waktu yang lebih lama saat buang air besar,
maka kemungkinan akan mengalami sembelit, wasir, atau masalah kesehatan
lainnya.
 Tekstur lembut: Feses yang keluar berupa satu potongan atau beberapa potongan
kecil adalah pertanda usus yang sehat. Feses pada orang yang sehat biasanya
berbentuk seperti sosis karena bentuk usus yang memanjang.
 Frekuensi buang air besar sekali atau dua kali sehari: Sebagian orang buang air besar
sekali sehari, tapi ada juga yang buang air besar sampai 3 kali sehari. Nah, frekuensi
buang air besar yang normal setidaknya 3 kali dalam seminggu.
 Konsisten: Daripada bergantung pada frekuensi, yang terpenting adalah fokus pada
konsistensi buang air besar. Bila Anda mengalami adanya perubahan pada bau,
frekuensi, dan warna feses daripada biasanya, maka ini menjadi pertanda adanya
masalah pada kesehatan

5. Hubungan tempat tinggal dan penyakit yang diderita

Anti Amuba Adalah obat-obat yang digunakan untuk mengobati penyakit yang


disebabkan oleh mikro organisme bersel tunggal (protozoa) yaitu Entamoeba
histolytica yang dikenal dengan dysentri amuba.

Disentri adalah peradangan usus yang bisa menyebabkan diare disertai darah atau lendir.
Saat diare, frekuensi buang air besar akan meningkat, dengan konsistensi feses yang
lembek atau cair. atau cair

Beberapa faktor risiko disentri, yaitu:

 Kebersihan diri kurang, seperti tidak mencuci tangan sebelum makan dan setelah
buang air besar.
 Benda yang terkontaminasi parasit atau bakteri penyebab disentri, yang masuk ke
dalam mulut seseorang.
 Makanan dan air yang terkontaminasi kotoran manusia.
 Daerah dengan ketersediaan air bersih yang tidak memadai.
 Lingkungan dengan tempat pembuangan limbah yang tidak tertata dengan saksama.
 Penggunaan pupuk untuk tanaman yang berasal dari kotoran manusia

Sedangkan disentri amuba, disebabkan oleh infeksi parasit bersel satu, yaitu Entamoeba
histolytica. Umumnya, daerah dengan sanitasi yang buruk merupakan tempat dimana
amuba sering ditemui. Komplikasi pada organ hati, yang berupa abses hati bisa
disebabkan karena disentri amuba

Amuba dan bakteri penyebab disentri dapat berpindah melalui kontak langsung dengan
bakteri pada feses, serta melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi, atau
berenang di air yang terkontaminasi
Penyakit enterobiasis merupakan salah satu jenis penyakit cacingan. Penyebab cacingan
adalah infeksi melalui cacing jenis enterobius vermicularis. Hasil positif enterobiasis
ditentukan jika pada pemeriksaan tersebut ditemukan telur cacing atau cacing.

Anak-anak lebih rentan terkena penyakit enterobiasis karena sering bermain di tempat


yang penuh kotoran atau debu. Padahal, hal-hal tersebut bisa jadi sarang kontaminasi
telur cacing tersebut. Bagi telur cacing yang terdapat di debu akan sangat mudah
diterbangkan angin sehingga tertelan mulut.

6. Mengapa dokter melakukan pemeriksaan feses rutin dan anal swab?

 Untuk membantu penegakan diagnosis.

 Pemeriksaan darah tujuan membedakan apakah pasien terinfek bakteri virus jamur atau
parasit. umumnya hasil pemeriksaan rutin, ditemukan leukosit meningkat jika dilakukan
hitung jenis ditemukan eosinofil

 Pemeriksaan feses rutin untuk menemukan telur cacing tetapi biasanya telur jarang
ditemukan. atau bisa menemukan cacing itu sendiri

 Anal swab bertujuan menemukan telur cacing di sekitar telur anus tetapi diagnosis pasti
ditegakan dengan cara melihat anus pada malam hari dan menemukan cacing dewasa
sedang keluar utk bertelur

7. Apa perbedaan antiamuba dan antihelmintik dan bagaimana penggunaannya?

Antiamuba adalah obat-obatan yang digunakan untuk mencegah penyakit yang diakibatan oleh
parasit
bersel tunggal (protozoa).
Antihelmintik atau antelmintik adalah golongan obat yang dapat mematikan atau
melumpuhkan cacing dalam usus manusia atau hewan, sehingga cacing dapat dikeluarkan
bersama – sama dengan kotoran.
Jadi, bedanya antiamuba digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh protozoa
sedangkan antihelmintik digunakan untuk mengatasi penyakit yang disebabkan oleh cacing.

 Antiamuba

Protozoa yang menyerang manusia adalah Entamoeba histolytica yang merupakan penyebab
penyakit amubiasis / disentri amuba. Obat antiamuba biasanya diberikan secara per oral
maupun injeksi. Penggolongan obat amubiasis Amubiasid kontak atau lumen yaitu obat yang
bekerta di lumen usus atau aktif terhadap amubiasis intestinal.
Contoh: dihidroemetin dan emetin
Amubiasid jaringan atau histolytica yaitu obat yang bekerja pada intestinum atau organ
lainnya.
Contoh: diloksanidfurocid dan antibiotika
 Amubiasid kombinasi yaitu obat yang efektif terhadap amubiasid lumen maupun jaringan.
Contoh: derivate nitroimidazol seperti metronidazol dan nimorazol

 Antihelmintik

Syarat obat antihelmintik efektif adalah dapat menembus kutikula cacing atau masuk ke sistem
pencernaannya, sehingga bisa menunjukkan efek farmakologisnya pada fisiologi cacing.
Mekanisme kerja obat antihelmintik pada cacing:

  Merusak atau membunuh cacing secara langsung

  Melumpuhkan cacing

  Merusak kutikula cacing sehingga sistem pertahanan pejamu seperti


pencernaan dan imunitas

 dapat memengaruhi cacing

 Mengganggu metabolisme cacing

Obat antihelmintik umumnya diberikan secara per oral. Beberapa contoh obat
antihelmintik adalah:

 Metabendazol, piperazin (untuk mengobati infeksi Ascaris lumbricoides)

 Niklosamid (obat cacing pita yang paling banyak digunakan)

Cara kerjanya merusak skoleks secara ireversibel sehingga perlekatan cacing pita
lepas lalu terbawa keluar. Merupakan obat pencahar untuk mengeluarkan
segmen/proglotid cacing.

  Prazikuantel

Cara kerjanya meningkatkan permeabilitas membrane plasma cacing terhadap


kalsium, menyebabkan vesikulasi dan kerusakan vakuolosasi sehingga cacing
mati.

8. Apa diagnosa untuk zoa dan bagaimana pencegahannya?


Zoa didiagnosis mengalami amobiasis,dimana amobiasis ini infeksi yang disebabkan oleh
entamoeba histolytica. Gejala yang ditimbulkan sama seperti yang zoa aami yaitu diare,fesesnya
berlendir dan berdarah. Dan juga dokternya memberikan obat antiamuba.
Pencegahan amebiasis terutama ditujukan pada kebersihan perorangan (personal hygiene) dan
kebersihan lingkungan (environmental sanitation). Kebersihan perorangan antara lain mencuci
tangan dengan bersih sesudah buang air besar dan sebelum makan. Kebersihan lingkungan
meliputi: masak air minum sampai mendidih sebelum diminum, mencuci sayuran sampai bersih
atau memasaknya sebelum dimakan, buang air besar di jamban, tidak menggunakan tinja
manusia untuk pupuk, menutup dengan baik makanan yang dihidangkan untuk menghindari
kontaminasi oleh lalat dan lipas, membuang sampah di tempat sampah yang tertutup untuk
menghindari lalat.

9. Bagaimana penjelasan tentang rasa gatal yang dirasakn zoa ketika di pesantren
dengan yang dirasakan remi sekarang? Apakah berbeda?

ZOA

Rasa gatal yang dirasakan oleh zoa disebabkan oleh parasit kelas artthropoda, yaitu
Sarcoptes scabei yang menyebabkan penyakit skabies atau kudis. 4 tanda utama atau
tanda kardinal pada infestasi skabies yaitu, pruritus nokturna, menyerang sekelompok
orang, ditemukannya terowongan (kunikulus), dan ditemukan parasit Sarcoptes
scabie.Lesi primer yang terbentuk akibat infeksi skabies pada umumnya berupa
terowongan yang berisi tungau, telur, dan hasil metabolisme. Pruritus nokturna adalah
rasa gatal yang terasa lebih hebat pada malam hari karena meningkatnya aktivitas
tungau akibat suhu yang lebih lembab dan panas.

REMI

Remi mengalami rasa gatal dikarenakan infeksi cacing kremi. Rasa gatal di anus
dikarenakan cacing kremi betina akan berpindah ke usus besar lalu menuju ke daerah
anus untuk bertelur.  Proses ini biasanya terjadi pada malam hari, di mana seringkali
menyebabkan gatal pada anus. Setelah bertelur, cacing betina tersebut akan masuk
kembali ke dalam usus besar

V. STEP 4
SKEMA

Anak I,17 Tahun Anak II,5 tahun

Gatal Feses
demam Nyeri Gatal anus
disela jari berlendir,berdar
perut
ah

arthropoda Cacing kremi


protozoa

Respon tubuh

Pemeriksaan
feses,darah,anal
swab

Klasifikasi,morfolo
gi,daur hidup
parasit

Patogenesis dan
respon imun
terhadap parasit

Farmakologi
antiamuba,antihek
minth,antimalaria
VI. STEP 5

LEARNING OBJECTIVE
1. Mahasiswa mampu menjelaskan klasifikasi,morfologi,daur hidup parasit
(protozoa,nematoda,cestoda,arthropoda)
2. Mahasiswa mampu menjelaskan patogenesis terhadap parasit
3. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang respon imun tubuh terhadap parasit
4. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang pemeriksaan spesimen,indikasi terhadap pasien
5. Mahasiswa mampu menjelaskan farmakologi antiamuba,antihelminth,antimalaria

VII. STEP 7

1. klasifikasi, morfologi, siklus hidup protozoa


Sifat-sifat dasar protozoa

 Mikroorganisme eukariot, mirip sel hewan

 Tidak ada dinding sel

 uniseluler

 Sebagian besar memiliki metabolisme heterotrofik

 Ada yang hidup bebas di tanah atau di air

 Di kelompokkan berdasar motilitas

Klasifikasi berdasarkan motilitas

1. Sarcodina

Bergerak menggunakan pseudopodia secara amoeboid. Contoh : Entamoeba


hystolytica

2. Mastigophora

Bergerak menggunakan flagella. Contoh : Trichomonas vaginalis dan Giardia lamblia

3. Ciliata

Bergerak dengan cilia. Contoh : Balantidium coli

4. Sporozoit

Tidak memiliki alat gerak. Sebagian besar memiliki siklus hidup yang lengkap, stadium
seksual dan stadium aseksual. Contoh Plasmodium & Toxoplasma gondii.

FREE LIVING AMOEBA

Merupakan parasit protozoa yang hidup dan berkembang biak di alam bebas tanpa
memerlukan manusia sebagai hospes.

1. Achantamoeba sp.

Acanthamoeba adalah amuba hidup bebas yang sering ditemukan dalam air, tanah dan
air laut. Bentuk tropozoit berukuran diameter 25 sampai 40 μm dengan karakteristik
memiliki spine-like pseudopodia. Sedangkan bentuk kistanya berukuran diameter 15
sampai 20 μm, memiliki lapisan dinding ganda, dan biasanya berbentuk poligonal dan
sferis.Bentuk kista infektif dapat ditransmisikan melalui debu dan aerosol.

Siklus hidup :

Bentuk infektif dari spesies ini ialah tropozoit yang akan masuk ke dalam tubuh melalui
saluran pernafasan bagian bawah, luka pada kulit dan menginvasi SSP melalui
penyebaran secara hematogen.

2. Balamuthia mandrillaris

Balamuthia mandrillaris ialah amuba hidup bebas yang memiliki gambaran morfologi
menyerupai Acanthamoeba. Spesies ini dapat menimbulkan penyakit baik pada
manusia maupun hewan. Bentuk infektifnya adalah trofozoit.

Siklus hidup :

Balamuthia mandrillaris belum ditemukan di lingkungan bebas namun pernah


ditemukan pada autopsi jaringan manusia atau hewan. Acanthamoeba and Balamuthia
hanya memiliki dua bentuk dalam siklus hidupnya yaitu kista dan tropozoit. Tidak
ditemukan bentuk flagellata dalam siklus hidupnya. Tropozoit bereplikasi secara
mitosis. Bentuk infektif dari spesies ini ialah tropozoit yang akan masuk ke dalam tubuh
melalui saluran pernafasan bagian bawah, luka pada kulit dan menginvasi SSP melalui
penyebaran secara hematogen.

3. Naegleria fowleri

Terdapat tiga bentuk gambaran morfologis dari Naegleria, yaitu: amuba tropozoit
dengan ukuran 7-20 μm, sebagai bentuk parasit yang menginfeksi manusia; kista, yang
ditemukan pada lingkungan dengan suhu lebih rendah dari suhu ideal habitatnya, dan
flagellata dengan ukuran 7-15 μm, yang memiliki dua flagel pada salah satu ujungnya
untuk membantu pergerakan.

Siklus hidup :

Tropozoit merupakan bentuk amuba yang ditemukan pada manusia. Tropozoit dapat
berubah bentuk menjadi bentuk flagellata ketika berada dalam air namun biasanya
kembali lagi ke bentuk tropozoit. Tropozoit ini akan bereplikasi secara promitosis.
Bentuk kista hanya ditemukan pada lingkungan luar dan tidak pernah ditemukan pada
jaringan tubuh manusia. Naegleria fowleri terdapat dalam air, tanah, kolam renang air
hangat, pemandian air hangat, akuarium dan sampah. Infeksi pada manusia atau hewan
terjadi apabila tropozoit ikut terisap, misal ketika berenang, lalu masuk melalui rongga
hidung, menginfeksi membran mukosa, sinus paranasal dan epitel saraf olfactori lalu
menuju otak.

PROTOZOA USUS

1. Entamoeba histolytuca

Morfologi :

Terdiri dari dua stadium:

 Stadium trofozoit (vegetatif):

 Bentuk histolitika - di dalam jaringan mukosa usus besar,jaringan


lain, seperti hati, paru, otak.

ukuran : 18-40 µ, Sitoplasma berisi eritrosit, Memiliki pseudopodia,


Bentuk tidak tetap, Inti bulat, 4-6 u, kariosom sentral,butir kromatin
pada selaput inti halus dan rata

 Bentuk minuta - dalam lumen usus besar


(apatogen)
ukuran 10-20 μ, tidak mengandung eritrosit, di dalam lumen usus besar

 Stadium kista

di dalam lumen usus besar, merupakan stadium infektif,


mempunyai inti 1, 2 dan 4. Dalam lumen usus besar,
ukuran 10-20 μ, inti entamoeba 1- 4, dikeluarkan dalam tinja,
tidak patogen, kista infektif : inti 4

Siklus hidup :

Kista matang dikeluarkan bersama tinja penderita (1).  Infeksi Entamoeba


histolytica oleh kista matang berinti empat (2) tinja terkontaminasi pada makanan, air,
atau oleh tangan.  Terjadi ekskistasi (3) terjadi dalam usus dan berbentuk tropozoit  (4)
selanjutnya, bermigrasi ke usus besar.  Tropozoit memperbanyak diri dengan cara
membelah diri (binary fission)
dan menjadi kista (5),
menumpang dalam tinja (1). 
Karena untuk mempertahankan
dirinya, kista akan dapat
bertahan beberapa hari sampai
dengan berminggu-minggu
pada keadaan luar dan
penyebab penularan.  (bentuk
tropozoit selalu ada pada tinja
diare, namun dengan cepat
dapat dihancurkan oleh tubuh,
dan jika tertelan bentuk ini
tidak dapat bertahan saat
melewati lambung)  dalam
banyak kasus, tropozoit akan
kembali berkembang menuju
lumen usus (A: noninvasive
infection) pada carier yang
asimtomatik, kista ada dalam
tinjanya.  Pasien yang diinfeksi oleh tropozoit di dalam mukosa ususnya (B:
intestinal disease), atau, menuju aliran darah, secara ekstra intestinal menuju hati, otak,
dan paru (C: extraintestinal disease), dengan berbagai kelainan patologik. 

2. Balantidium coli

Morfologi :

 Trofozoit

Trofozoit Lonjong, ukuran : 60-70 mikron,


Diselubungi oleh silia, Dua inti : makronukleus spt
ginjal,dan mikronukleus, Mempunyai sitostom dan
sitopig, Dalam sitoplasma terdapat 1-2 vakuol
kontraktil dan bnyk vakuol makanan

 Kista

Bundar/lonjong , ukuran kira-kira 60 u, Hanya


tampak makronukleus, Hanya untuk bertahan,
Merupakan bentuk infektif, Berkembang biak
secara belah pasang transversal dan konjugasi

Siklus hidup :

Siklus hidup Balantidium coli sebenarnya hampir sama dengan E. Histolytica, tetapi
pada B. coli kista tidak dapat membelah diri. Kista akan termakan bersama dengan
makanan atau minuman yang masuk ke dalam tubuh kita, lalu akan terjadi ekskistasi di
dalam usus halus dan menjadi bentuk trofozoit, lalu menuju ke caecum. Setelah berada
di caecum trofozoit akan berbiak dan membelah diri secara belah pasang tranversal.
Selain itu bentuk trofozoit ini akan terbawa oleh aliran isi usus. Di daerah colon
tranversum keadaan kurang menguntungkan bagi trofozoit sehingga akan terjadi
enkistasi. Trofozoit akan berubah menjadi kista lalu kista tersebut akan keluar bersama
dengan tinja.

3. Giardia lamblia

Morfologi :

Giardia lamblia memiliki 2


stadium, yaitu stadium trofozoit
dan stadium kista. Trofozoit berukuran panjang 9-20 μm, lebar 5-15 μm. Berbentuk oval
hingga ada yang berbentuk buah pear atau bentuk hati. Bentuk trofozoit spesies ini
memiliki :

 sucking disc pada ujung anteriornya, yaitu area konkaf yang menutupi setengah dari
permukaan ventral.

 Dua buah nuclei yang terletak simetris bilateral. Nuklei tersebut mengandung sedikit
kromatin perifer namun memiliki kariosom besar yang berada di tengah.

 Sebuah axostyle, terdiri dari 2 axonema yang membagi dua tubuhnya.

 Dua buah median bodies (parabasal bodies), diduga memiliki peranan dalam proses
metabolisme.

 Empat flagella yang terletak di lateral, 2 lateral di ventral, dan 2 terletak di kaudal.

Kista berukuran lebih kecil daripada trofozoit yaitu panjang 8-18 μm dan lebar 7-10
μm. Letak kariosom lebih eksentrik bila dibandingkan dengan trofozoit. Pada kista yang
telah matur terdapat 4 buah median bodies, 4 buah nuclei, dan dapat pula ditemukan
longitudinal fibers.

Siklus hidup :

Tertelannya kista dari air minum dan makanan yang terkontaminasi atau dapat juga
melalui kontak individu merupakan awal dari infeksi. Setelah melewati gaster, kista
menuju usus halus. Ekskistasi terjadi di duodenum, setelah itu multiplikasi terjadi
melalui pembelahan biner dengan interval kurang lebih 8 jam. Trofozoit menempel
pada mukosa duodenum dengan menggunakan sucking disc yang dimilikinya. Enkistasi
terjadi saat trofozoit masuk ke usus besar. Stadium trofozoit dan kista dapat ditemukan
pada feses penderita giardiasis. Kedua hal tersebur dapat dijadikan alat untuk
mendiagnosis penyakit giardiasis. Di luar tubuh manusia, G. Lamblia lebih tahan dalam
bentuk kista dan dalam lingkungan lembab dapat bertahan sampai 3 bulan.

PROTOZOA USUS LAINNYA

 Cryptosporidium

 Cyclospora cayetensis

 Blatocystis hominis

 Isospora species
Potozoa diatas merupakan :

 Parasit oportunistik

 Menyebabkan diare berat pada pasien immunocompromised

 Menyebabkan diare ringan/temporer pada individu immunocompetent

PROTOZOA DARAH

 Plasamodium spp.

PROTOZOA JARINGAN

 Toxoplasma gondii

Morfologi :

PROTOZOA UROGENITAL

 Trichomonas vaginalis

Morfologi :
Bentuk trofozoit : Bentuk seperti jambu monyet, Besar ± 17 μ, Satu inti lonjong, Flagel
anterior 4 buah, Aksostil, Membran bergelombang

Tidak memiliki stadium kista

Klasifikasi,morfologi,daur hidup nematoda

1. Soil Transmittted Helminth

a. Ascaris lumbricoides

 Klasifikasi:

Keraja Animalia
an:

Filum: Nematod
a

Kelas: Secernen
tea

Ordo: Ascaridid
a

Famili Ascaridid
: ae

Genus Ascaris
:

Spesie A.
s: lumbrico
ides

 Morfologi

Cacing jantan memiliki panjang sekitar 10-31 cm dan berdiameter 2-4 mm, sedangkan
betina memiliki panjang 20-35 cm dan berdiameter 3-6 mm. Pada cacing jantan
ditemukan spikula atau bagian seperti untaian rambut di ujung ekornya (posterior). Pada
cacing betina, pada sepertiga depan terdapat bagian yang disebut cincin atau gelang
kopulasi. Cacing betina memiliki tubulus dan duktus sepanjang kurang lebih 12 cm dan
kapasitas sampai 27 juta telur.
Cacing dewasa hidup pada usus halus manusia. Seekor cacing betina dapat bertelur
hingga sekitar 200.000 telur per harinya. Telur yang telah dibuahi berukuran 50-70 x 40-
50 mikron. Sedangkan telur yang tak dibuahi, bentuknya lebih besar sekitar 90 x 40
mikron. Telur yang telah dibuahi inilah yang dapat menginfeksi manusia. Telur cacing A.
lumbricoides dilapisi lapisan albumin dan tampak berbenjol-benjol

 Siklus hidup

b. Trichuris trichura

 Klasifikasi
Kerajaa Animalia
n

Filum Nematoda

Kelas Enoplea

Ordo Trichocephalida

Famili Trichuridae

Genus Trichuris

Spesies Trichuris
trichiura

 Morfologi

Cacing ini dinamakan cacing cambuk karena bentuknya mirip seperti cambuk, di mana
bagian kepalanya bertekstur halus dan bagian ekornya menebal. Cacing yang telah
dewasa memiliki panjang sekitar 4–5 cm. Cacing cambuk betina memiliki panjang sekitar
5 cm dengan ciri-ciri ekor membulat tumpul dan jantan memiliki panjang 4 cm dengan
ciri-ciri ekor melingkar.[3] Cacing ini termasuk yang memiliki perkembangbiakan yang cepat
karena cacing betina dapat menghasilkan telur sebanyak 3.000-10.000 butir telur setiap
harinya

 Siklus hidup
c. Cacing tambang ( Ancylostoma duodenale dan Necator americanus)

 Klasifikasi

Keraja Animalia
an:

Filum: Nematoda

Kelas: Secernentea

Ordo: Strongiloidae

Famili: Ancylostomatida
e

Genus Necator/Ancylos
: toma

Spesies

N. americanus
A. duodenale

 Morfologi

Necator americanus berbentuk silinder dengan ujung anterior melengkung tajam kearah


dorsal (seperti huruf “S”). Panjang cacing jantan 7-9 mm dengan diameter 0,3 mm,
sedangkan cacing betina panjangnya 9- 11 mm dengan diameter 0,4 mm

Ancylostoma duodenale memiliki dua pasang gigi. Badan cacing deasa berbentuk huruf
“C” dan cacing betinanya dapat menghasilkan 10.000-25.000 telur/hari.

 Siklus hidup

d. Strongyloides stercoralis

 Klasifikasi

Kerajaa Animalia
n:

Divisi: Nematoda
Kelas: Secernente
a

Memes Rhabditida
an:

Keluarg Strongyloidi
a: dae

Marga: Strongyloid
es

Jenis: S.
stercoralis

 Morfologi

Strongyloides stercoralis dapat hidup dan berkembang biak di luar inang (free-living) dan
di dalam inang sebagai parasit. Parasit betina dapat ditemukan dalam mukosa usus halus
anterior (duodenum dan jejenum atas) dan mencapai ukuran 2–2,5 mm x 50 mcm. Bagian
anterior berbentuk bulat, dibandingkan bagian posteriornya yang lebih lancip. Parasit
betina dapat diidentifikasi dari adanya esofagus filariform panjang (sepertiga dari panjang
tubuh) dan ekor bersudut tumpul

 Siklus hidup
2. Non soil transmitted helminth

a. Enterobius vermicularis

 Klasifikasi

Kerajaan Animalia

Filum Nematoda

Kelas Secernentea

Ordo Ascaridida

Famili Oxyuridae

Genus Enterobius 
Spesies

 Enterobius vermicularis

 Morfologi

Cacing betina berukuran 8 – 13 mm x 0,4 mm. pada ujung anterior pelebaran kutikulum
seperti sayap yang disebut alae. Bulbus Page 2 usofagus jelas sekali, ekornya panjang dan
runcing. Uterus cacing yang gravid melebar dan penuh telur.

 Siklus hidup

b. Trichinella spiralis

 Klasifikasi

Kerajaan Animalia

Filum Nematoda
Kelas Enoplea

Ordo Trichocephalida

Famili Trichinellidae

Genus Trichinella

Spesies Trichinella spiralis

 Morfologi

Cacing jantan panjangnya 1,4 –1,6 mm dan betina 3-4 mm, ukuran telur 30 x 40 mikron,
telur akan menetas dalam uterus cacing betina (viviparosa). Larva seekor cacing betina
dapat menghasilkan 1.350-2.000 larva ditemukan dalam kista mikroskopis pada urat
daging bergaris melintang. cacing jantan mempunyai anus yang ditonjolkan dan sembulan
berbentuk kerucut disetiap sisi. Tidak mempunyai spikulum dan selubung.Vulva terletak
pertengahan esofagus.

 Siklus hidup
Klasifikasi,morfologi,daur hidup cestoda

- Cacing dewasa hidup dalam saluran usus vertebrata, sedangkan larva hidup di dalam jaringan
vertebrata.
- Sistem reproduksi: hermaprodit
- Bentuk badan cacing dewasa memanjang seperti pita
 Pipih dorsoventral
 Tidak mempunyai alat cerna dan saluran vaskuler
 Terbagi dalam segmen – segmen yang disebut proglotid.
- Badan cacing dewasa terdiri dari:
 Scolex, yaitu alat untuk melekat
Pada scolex terdapat rostelum, sucker, dan kait atau hooklet.
 Leher, merupakan tempat pertumbuhan segmen
 Strobila, yang terdiri dari proglotid
Ada yang immature, mature, dan gravid.
- Telur dikeluarkan bersama proglotid atau tersendiri melalui lubang uterus
- Telur mengandung embrio heksakan atau embrio dengan 6 kait atau onkosfer.
- Infeksi terjadi karena menelan:
 Larva infektif (bisa didapatkan dari daging yang mengandung larva/kista)
 Telur
A. KLASIFIKASI
Cestoda merupakan salah satu kelas dari filum platyhelminthes. Cestoda memiliki 2 ordo, yaitu
ordo Pseudophyllidea dan ordo Cyclophyllidea.
Perbedaan Pseudophyllidea dengan Cyclophyllidea

Pseudophyllidea Cyclophyllidea
 Skoleks 2 lekuk isap, lubang genital da  Skoleks dengan 4 batil isap
uterus di tengah – tengah proglotid dengan/tanpa rostellum berkait – kait
 Telur punya operculum, berisi sel telur  Lubang genital di pinggir proglotid,
dan keluar bersama tinja unilateral atau bilateral selang seling
 Di air sel telur menjadi onkosfer, menetas  Ruang uterus tidak ada
dan keluar menjadi korasidium  Telur berisi onkosfer tumbuh dalam
 Hp.I (copepoda) memakan korasidium hospes perantara dan menjadi bentuk
dan berkembang dalam tubuh Hp.II efektif
(ikan,kodok) lalu menjadi sparganum  Yang termasyk jenis ordo ini
(bentuk infektif) - Taenia saginata
 Manusia terinfeksi dengan memakan - Taenia coli
Hp.II yang mengandung sparganum - Echinococcus granulosus
 Yang termasuk jenis ordo ini - Hymenolepis nana
- Diphylobothrium latum - Diphylidium caninum
- Diphylobothrium mansonii - dll

B. MORFOLOGI

Taenia saginata

Merupakan cacing pita sapi. Jika menginfeksi manusia menyebabkan penyakit taeniasis
saginata. Larvanya disebut cisticercus bovis.

Hospes definitif: manusia, hosper perantara: sapi, kerbau

Terdiri dari:
- Kepala yang disebut scolex
- Leher
- Strobila, yaitu untaian segmen/proglotid, terdiri dari segmen imatur, matur, dan gravid

Panjang strobila 4-12 m. Scolex berbentuk segi empat, terdapat 4 sucker, tidak ada rostelum,
dan tidak ada kait.

Bentuk telur bulat, terdapat struktur radier, berisi embrio heksakan (onkosfer). Telur
merupakan stadium infektif bagi sapi. Stadium infektif bagi manusia adalah larva sistiserkus bovis
dan telur.

Taenia solium

Cacing pita pada babi. Larvanya disebut cisticercus cellulosae dan menyebabkan penyakit
taeniasis solium.

HD: manusia, HP: Babi dan manusia.

Cacing dewaa berukuran sekitar 2-4 m. Terdiri dari skoleks, leher, dan strobila yang terdiri dari
800-1000 ruas proglotid. Skoleks yang bulat berukuran kira – kira 1 mm, mempunyai 4 buah batil
isap dengan rostelum yang mempunyai 2 baris kait – kait, masing – masing sebanyak 25 – 30
buah. Stronila terdiri dari rangkaian proglotid yang immature, mature, dan gravid (mengandung
telur). Bentuk proglotid gravid mempunyai ukuran panjang sama dengan lebarnya. Proglotid
gravid berisi 30.000 – 50.000 telur. Telur matang tidak bisa dibedakan dengan telur Taenia
saginata. Cabang uterus pada proglotid gravid adalah 7 – 12 buah pada satu sisi. Lubang kelamin
letaknya bergantian selang – seling pada sisi kanan atau kiri strobila secara tidak beraturan

Telur dibungkus embriofor berisi suatu embrio heksakan yang disebut onkosfer. Bentuk agak
bulat, dinding bergaris radial, dan telur yang baru keluar dari uterus masih diseliputi selaput tipis
yang disebut lapisan luar telur.

C. SIKLUS HIDUP
Taenia saginata
Dalam tubuh sapi (HP)
Telur keluar bersama tinja (manusia) – telur menempel pada rumput – telur menetas di dalam
saluran pencernaan – keluar embrio heksakan – menembus dinding usus – masuk ke pembuluh
getah bening atau pembuluh darah – mengikuti aliran darah – sampai ke otot – menjadi larva
sistiserkus bovis.
Dalam tubuh manusia (HD)
Daging sapi yang mengandung sistiserkus bovis apabila dimakan mentah atau tidak dimasak
dengan sempurna, larva dapat tumbuh menjadi cacing dewasa di dalam tubuh manusia – scolex
akan keluar (evaginasi) dari sistiserkus bovis – melekat pada mukosa usus halus – tumbuh menjadi
cacing dewasa di dalam tubuh manusia.
Selanjutnya terus menjadi siklus seperti itu.
Taenia solium

Secara umum hampir sama dengan Taenia saginata.

Manusia dapat terinfeksi oleh larva cisticercus cellulosae, apabila memakan daging babi
mentah yang mengandung larva tersebut. Bentuk infektif bagi manusia adalah cisticercus
cellulosae. Ciscitercus cellulosae banyak terdapat pada otot babi bagian lidah, punggung, dan
pundak. Infeksi oleh cisticercus cellulosae pada manusia disebut cistisercosis. Infeksi ini lebih
sering dijumpai pada manusia daripada infeksi oleh cisticercus bovis.
Dalam tubuh manusia, proglotid cacing pita dewasa yang mengandung embrio melepaskan diri
dari rangkaian proglotid serta keluar bersama dengan feses. Bila proglotid dewasa ini tertelan oleh
babi, selubung telur dalam proglotidakan larut hingga keluar larva yang disebut heksakan atau
onkosfer. Dengan menembus usus babi, heksakan ikut aliran darah dan singgah pada otot atau
jaringan tubuh lainnya kemudian larva ini akan berkembang menjasi sistiserkus. Apabila manusia
memakan daging babi yang mengandung sistiserkus ini akan tumbuh menjadi cacing pita dewasa
dalam usus manusia kemudian daur hidup cacing ini akan terulang kembali.

Klasifikasi,morfologi,siklus hidup arthropoda


Klasifikasi arthropoda
 KELAS INSEKTA ( ex: Anopheles)
 KELAS ARACHNIDA (ex : Laba-laba)
 KELAS CRUSTACEA (ex:Potamon)
 KELAS CHILOPODA ( ex :Kalajengking)
 KELAS DIPLOPODA (ex : Lipan)

Ciri-Ciri
1. Badan Beruas-ruas
2.  Umbai-urumbai beruas ruas
3.  Mempunyai eksoskeleton
4. Badan bilateral simetris
5. Tubuh terdiri dari Caput, Thorax dan Abdomen

Daur hidup nyamuk

Peran serangga dalam kedokteran


a. Peran serangga sebagai vektor
MEKANIK (Entamubiasis,Giardiasis,askariasi dll)
* BIOLOGIK :
1. PROPAGATIF (DBD, chikungunya dll)
2.SIKLIKO PROPAGATIF (Malaria)
3.SIKLIKODEVELOPMENTAL (Filariasis)
4.TRANSOVARIAN (Virus Dengue/DBD)

b. serangga penyebab Entomophobia (Tarantula, Periplanneta)

c. serangga mengandung toksin

d. serangga penyebab alergi

Tungau rumah yang perlu diwaspadai


adalah tungau debu (dust mites):
Dermatophagoides pteronyssinus,
penyebab asthma paru.

e. Serangga penyebab penyakit

Scabies

Habitat pada stratum korneum, lapisan paling luar dari kulit: epikutikula.
Kebanyakan pada kulit antara jari-jarti tangan, pergelangan tangan, pantat,
penis, aksilla, kaki.
Daur hidup dimulai dengan telur  nimfa (4 ps kakiHabitat)  imago.
Untuk yang menjadi dewasa betina, nimfa masih berganti kulit dulu.
Daur hidup berlangsung sekitar 10-19 hari.
Tiap betina bertelur 1-3 butir tiap hari di dalam terowongan dlm stratum
korneum
Demodisiasis
Demodex folicolorum, punya 4 kaki d
an abdomen nya bergaris -garis
Hidup di folikel rambut dan kelenjar
keringat, terutama sekitar hidung
dan kelopak mata sebagai parasit
permanen.

Pedikulosis
 Btk lonjong pipih dorsoventral, ukuran 1, 1,5
cm, perkembangan 18 hari dan hidup selama
27 hari
 Tuma berjalan pada helaian rambut dan dpt
pindah ke host lain
 Telur lekat pada rambut dgn perekat khitin,
menyukai pada rambut bgn belakang
 Terjadi lesi krn tusukan pada saat mengisap
darah, air liur merangsang menimbulkan pap
ul merah dan gatal.
 Pada infeksi berat bisa terjadi plica palonica
 Diagnosis : menemukan telur,dewasa dan ni
Miasis
mpa pada
Miasis adalah rambut
infestasi kepala.
larva lalat kedalam jaringan
Menurut sifat larva miasis dibagi :
1.Miasis obligat/spesifik
, hanya bisa hdp pada jar, tubuh manusia dan binatang contoh :C. Bezziana, Callitroga
macellaria
2.Miasis semispesifik fakultatif,dpt hdp pda daging/sayur busuk contoh Wohlfahrtia
magnifica
3.Miasis aksidental, secra tdk sengaja , nis mll makanan. Contoh :M , domestica, Piophila
casei
Diagnosis sp; Dgn identifikasi spirakel posterior atau memelihara larva menjadi dewasa

2. Patogenesis
A. Giardia lamblia

Giardia lamblia merupakan penyebab tersering infeksi protozoa pada saluran cerna manusia
dan paling banyak ditemukan di negara-negara berkembang.Prevalensi giardiasis berkisar
10% di Amerika Utara, Eropa dan hingga mencapai 20%-30% di negara
berkembang.Prevalensi tinggi ditemukan pada anak usia prasekolah dan pada anak dengan
gangguan gizi.8 Infeksi Giardia lamblia dapat melalui air, makanan, atau langsung melalui
rute fekal-oral. Girdia lamblia mempunyai dua bentuk yaitubentuk trofozoit dan kista.
Meskipun trofozoit ditemukan di dalam tinja tetapi trofozoit tidak dapathidup di luar tubuh
manusia. Kista adalah bentuk infeksius G.lamblia yang resisten terhadap berbagaimacam
gangguan di luar pejamu dan dapat bertahan hidup selama sebulan di air atau di tanah.
6,7,9,10,13,14-Kista matang yang tertelan oleh pejamu akan mengalami ekskistasi di
duodenum yang dicetuskan oleh adanya asam lambung lalu diikuti dengan paparan sekresi
kelenjar eksokrin pankreas.

Mekanisme infeksi Giardia Llamblia belum jelas. Meskipun mukosa yeyunum terlihat normal
bila dilihat dengan mikroskop cahaya, namun ternyata didapatkan berbagai bentuk atrofi
vilus seperti pemendekan dan distrofi mikrovilus.Aktivitas disakaridase membran mikrovilus
berkurang dan terjadi gangguan transport glukosa yang dipengaruhi natrium. Hal ini diduga
berkaitan dengan sistem imunologik. Pada giardiasis, infiltrasi limfosit timbul sebelum terjadi
pemendekan vili dan ternyata terdapat hubungan antara intensitas infiltrasi limfosit dengan
beratnya malabsorbsi yang terjadi. Peneliti lain mendapatkan secara in vitro bahwa aktivasi
sel T dapat meningkatkan proliferasi sel kripta dan atrofi vili.Salah satu studi mendapatkan
danya penurunan asam empedu intralumen pada pasien giardiasis. Giardia akan mengambil
asam empedu dan dimasukkan ke dalam sitoplasmanya dan menyebabkan berkurangnya
asam empedu intraluminal. Hal ini akan menyebabkan pasien akan mengalami malabsorbsi.

B. Entamoeba histolytica.histolytica ditemukan hampir di seluruh dunia, tetapiprevalensi


tertinggi didapatkan di negara-negara berkembang terutama di daerah endemik seperti
Durban, Ibadan dan Kampala di Afrika mencapai 50%. Angka mortalitas diperkirakan 75.000
per tahun. Infeksi E.histolytica dapat melalui makanan dan air serta melalui kontak manusia
ke manusia. Dalam daur hidupnya Entamoeba histolytica mempunyai 3 stadium yaitu bentuk
histolitika, minuta dan kista.16 Bentuk histolitika dan minuta adalah bentuk trofozoit.
Perbedaan antara kedua bentuk trofozoit tersebut adalah bentuk histolitika bersifat patogen
dan mempunyai ukuran yang lebih besar dari bentuk minuta. Bentuk histolitika bersifat
patogen dan dapat hidup di jaringan hati, paru, usus besar, kulit, otak, dan vagina. Bentuk ini
berkembang biak secara belah pasang di jaringan dan dapat merusak jaringan tersebut.
Minuta adalah bentuk pokok dan tanpa bentuk minuta daur hidup tak dapat berlangsung.
Kista dibentuk di rongga usus besar dan dalam tinja, berinti 1 atau 4 dan tidak patogen,
tetapi dapat merupakan bentuk infektif. Dengan adanya dinding kista, bentuk kista dapat
bertahan hidup terhadap pengaruh buruk di luar badan manusia.Kista matang yang tertelan
mencapai lambung masih dalam keadaan utuh karena kista tahan terhadap asam
lambung.18 Di rongga usus halus terjadi ekskistasi dan keluarlah bentuk-bentuk minuta yang
masuk ke dalam rongga usus besar. Bentuk minuta ini berubah menjadi bentuk histolitika
yang patogen dan hidup di mukosa usus besar serta menimbulkan gejala.Bentuk histolitika
memasuki mukosa usus besar yang utuh dan mengeluarkan enzim sisstein proteinase yang
dapat menghancurkan jaringan yang disebut histolisin. Kemudian bentuk histolitika
memasuki submukosa dengan menembus lapisan muskulari mukosa, bersarang di
submukosa dan membuat kerusakan yang lebih luas daripada di mukosa usus sehingga
terjadi luka yang disebut ulkus amuba. Lesi ini biasanya merupakan ulkus-ulkus kecil yang
letaknya tersebar di mukosa usus, bentuk rongga ulkus seperti botol dengan lubang sempit
dan dasar yang lebar, dengan tepi yang tidak teratur agak meninggi dan menggaung. Proses
yang terjadi terutama nekrosis dengan lisis sel jaringan. Bila terdapat infeksi sekunder,
terjadilah proses peradangan yang dapat meluas di submukosa dan melebar ke lateral
sepanjang sumbu usus. Kerusakan dapat menjadi luas sekali sehingga ulkus-ulkus saling
berhubungan dan terbentuk sinussinus dibawah mukosa.Dengan peristalsis usus, bentuk
histolitika dikeluarkan bersama isi ulkus ke rongga usus. Kemudian menyerang lagi mukosa
usus yang sehat ataudikeluarkan bersama tinja.

C. Trichuris trichiuraTrichuris trichiura dapat ditemukan baik di negara maju maupun negara
berkembang.7-10,16,22 Diperkirakan Trichuris trichiura merupakan prevalensi terbesar
ketiga infeksi oleh cacing usus dan merupakan penyebab terbanyak diare karena infeksi
cacing.Prevalensi sangat tergantung dari pola sanitasi, higiene perorangan, dan juga status
nutrisi seseorang. Terutama ditemukan di daerah panas dan lembab,seperti Indonesia. Di
beberapa daerah di Indonesia, prevalensi masih tinggi.

Parasit ini hidup di kolon asendens dan sekum dengan bagian anterior yang menyerupai
cambuk masuk ke dalam mukosa usus. Seekor cacing betina diperkirakan menghasilkan telur
setiap hari antara 3000-10000 butir. Teelur yang dibuahi dikeluarkan dari pejamu bersama
tinja. Telur menjadi matang dalam waktu 3 sampai 6 minggu dalam lingkungan tanah yang
lembab dan tempat yang teduh. Telur matang yang berisi larva merupakan bentuk infektif.
Infeksi langsung terjadi bila pejamu menelan telur matang. Larva keluar melalui telur dan
masuk ke dalam usus halus. Sesudah dewasa, cacing turun ke usus bagian distal dan masuk
ke daerah kolon, terutama sekum. Masa pertumbuhan mulai dari telur yang tertela sampai
cacing dewasa betina meletakkan telur kira-kira 30-90 hari.Cacing trichuris terutama hidup
di sekum, akan tetapi dapat juga ditemukan di kolon asendens. Pada infeksi berat, cacing
trichuris tersebar di seluruh kolon dan rektum. Cacing ini memasukkan kepalanya ke dalam
mukosa usus sehingga terjadi trauma yang menimbulkan iritasi dan peradangan mukosa
usus. Pada tempat perlekatannya dapat terjadi perdarahan. Selain itu cacing ini menghisap
darah pejamu sehingga nantinya dapat menyebabkan anemia berat.

3. Mekanisme Effector Imun

Humoral

Antibodi dengan spesifisitas yang cocok dalam kadar cukup dan afinitas yang efektif akan
melindungi terhadap serangan parasit dalam darah seperti trypanosoma brucci dan tahap
sporozoit dan merozoit dari plasmodium. Mekanisme efektornya dapat berbentuk opsonisasi,
fagositosis dan lisis oleh komplemen. Infeksi parasit → respon humoral meningkat, tetapi
kebanyakan antibodi yang terbentuk tidak bersifat protektif. Mekanisme kerja antibodi dalam
melawan parasite dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu:

Antibodi bekerja sendiri

Parasit intraseluler memerlukan reseptor pada permukaan sel hospes → untuk bisa masuk ke
dalam sel. Antibodi → menghambat terjadinya ikatan antara molekul parasit dengan reseptor.

Contoh :

Antibody terhadap Ag permukaan merozoit plasmodium → menghambat terjadinya interaksi


merozoit dengan eritrosit.

Ab thd Ag permukaan sporozit menghambat ikatan sporozoit dengan hepatosit.

Ab thd komponen glikolipid Leishmania → menghambat parasit masuk makrofag.

Antibodi bekerja sama dengan sel

Dikenal sebagai ADCC. Sel yang terlibat yaitu eosinofil, makrofag, neutrofil, trombosit. Sel
tersebut berikatan dengan bagian Fc dari Ig. Bagian Fab berikatan dengan parasit (sel yg
terinfeksi)

Contoh :

Eosinofil berikatan dgn IgE → menghancurkan cacing

Makrofag berikatan dgn Ig memfagositosis Plasmodium std eritrositik

Antibodi bekerja sama dengan komplemen

Efektivitas komplemen alam mengeliminasi parasit secara in vitro telah terbukti tetapi secara in
vivo belum.
Seluler

Sampai saat ini belum diketemukan peran limfosit T sitotoksik dalam fungsi pertahanannya
terhadap parasit yang kita kenal. Di pihak lain limfosit T yang menghasilkan limfokin, sangat
penting untuk mengaktifkan sel makrofag agar dapat membunuh parasit secara intraseluler,
seperti terjadi pada Toxoplasma gondii, Trypanosoma cruzi dan Leishmania spp. Biasanya sel-
sel penghasil limfokin sangat berperan dalam mekanisme pertahanan,.Dilakukan oleh sel
limfosit dengan cara :

CTL (T CD8+)

Cytotoxic T Lymphocyte (T CD8+) Molekul antigen diperkenalkan kepada sel T CD8+ oleh MHC
kelas I → lisis sel target. Contoh penghancuran / lisis hepatosit yang terinfeksi
Plasmodium

Limfokin

Limfokin merupakan suatu mediator soluble (protein) yang dihasilkan oleh limfosit. Bekerja
meningkatkan aktifitas sel efektor untuk mengeliminasi parasit (dgn atau tanpa bantuan Ab).

Contoh IFN-γ pada infeksi Plasmodium dan Penghancuran T.gondii.

Sel NK

Natural Killer Cell (Sel NK) Menghasilkan IFN-γ → aktivitas sitotoksik.

Respon imun terhadap infeksi cacing.

a.Imunitas nonspesifik

Pada sistem ini yang bekerja adalah sel fagosit. Sel-sel fagosit menyerang cacing
denganmengeluarkan sekresi yang bersifat mikrobasidal. Namun karena kulit yang tebal
dansifatnyayang multisellule cacing resisten terhadap efek litik dan sitosidal.
b. Imunitas spesifik.

1.Cacing

Respon imun pada cacing umumnya lebih kompleks karena pathogen lebih besar dantidakbisa
ditelan fagosit. Pertahanan terhadap infeksi cacing diperankan oleh selTh2.Cacing yang masuk
merangsang sel Th2 untuk mengeluarkan IL-4 dan IL-5. DimanaIL-4berfungsi untuk rangsang
produksi IgE dan IL-5 untuk rangsang perkembangan danaktivasieosinofil. Kemudian IgE akan
menempel pada permukaan cacing dan diikat oleheosinofil.Kemudian eosinofil aktifkan dan
sekresikan granul enzim yang hancurkan parasit. Eosinofillebih eektif dari PMN lainnya karena
granulnya lebih toksik disbandingenzim proteolitik danROI yang dihasilkan oleh makrofag dan
netrofil

2.Granulomatos

Beberapa infeksi cacing tidak dapat dihancurkan oleh sistem imun, dalam hal initubuhhospes
berusaha untuk mengucilkan parasit dengan membentuk kapsul yang terdiridari selinflamsi.
Makrofag yang dikerahkan melepas faktor fibrogenik dan rangsang pembentukan jaringan
granulomatosa dan fibrotic. Fibrosis yang berat dapat merusakarus darah venadihati dan
menimbulkan hipertensi porta.

c.Mekanisme Parasit menghindar dari Sistem imun

1.Pengaruh lokasiLetak yang tidak terpajang sistem imun contohnya dilumen usus

2.Parasit merubah antigenAkibat variasi terprogram dalam ekspresi gen yang menyandiantigen
permukaan utama,parasit lain menutupi dirinya dengan antibodi sehingga sistemimun pejamu
tidakmengenalnya.

3.Supresi sistem imun pejamuParasit menginfeksi kelenjer getah bening sehingga


terjadikerusakan arsitekstur kelenjerdan akibatkan defisisensi imun.

4. Resistens

5. Hidup dalam sel pejamu.


4. Diagnostik parasitologi

Tujuan diagnosis laboratorium :

– Untuk mengkonfirmasi kasus yang secara klinis sudah dicurigai

– Untuk identifikasi penyakit yang belum diketahui

Jenis Spesimen

❖ Feses

❖ Darah

❖ Serum dan plasma

❖ Khusus (anal swab, aspirasi duodenum, sputum, urin, sekret urogenital)

❖ Jaringan dan aspirasi jaringan

1. FESES

Terdiri dari :

– sisa makanan yang tidak dapat dicerna

– pigmen dan garam empedu

– Sekresi intestinal termasuk mukus

– Lekosit yang migrasi dari aliran darah

– Epitel

– Bakteri

– Material anorganik terutama kalsium dan fosfat

– Makanan yang tidak tercerna (dalam jumlah yang sangat kecil)


– Gas

Cara memperoleh :

- Defekasi spontan

- Defekasi sewaktu

Syarat pengambilan :

- tempat kering, bersih, bebas urin, segera dikirim ke laboratorium pemeriksa.

Feses yang masih hangat sangat baik untuk pemeriksaan telur dan protozoa. Untuk keperluan
ini feses tidak boleh dimasukkan atau disimpan dalam lemari pendingin

Feses yang disimpan dalam lemari pendingin tidak boleh langsung diperiksa tetapi sebaiknya
dibiarkan dulu pada temperatur ruang

Tidak boleh disimpan pada inkubator Sampel terbaik adalah yang fresh (baru)

- Jika tidak bisa diperiksa segera → pengawet (10% formalin)

- Pengumpulan harus dilakukan sebelum terapi antibiotika dan diambil seawal mungkin

- Jumlah sampel yang dibutuhkan hanya sedikit, kira-kira sebesar ibu jari kaki bayi. Bila dijumpai
mukus atau darah maka sampel diambil dari tempat tersebut karena parasit biasanya terdapat
disitu.

- Tidak boleh menggunakan feses yang ditampung di kloset atau terkontaminasi barium atau
produk x-ray

- Beri label yang berisi identitas seperti nama, tanggal, alamat, apa yang akan diperiksa

Persiapan Penderita
• Terangkan cara penampungan dan apa yang akan diperiksa

• Penderita diminta untuk defekasi pada penampung feses bermulut lebar

• Jangan miksi di tempat penampungan

• Jangan meletakkan kertas toilet pada penampung karena akan berpengaruh terhadap hasil

Pemeriksaan tinja untuk infeksi cacing

• Dalam tinja dapat ditemukan: cacing dewasa, larva dan telur

• Telur diperiksa : cara langsung dan cara konsentrasi

• Larva

Pemeriksaan langsung : pembiakan sediaan tinja basah atau

• Menggunakan eosin / NaCl fisiologis --- dgn eosin warna telur cacing tidak terlihat jelas

• Kesalahan yang mungkin timbul saat membuat sediaan :

– Sediaan tidak homogen

– Sediaan terlalu tebal

– Banyak rongga udara

– Sediaan berlepotan (cairan merembes dari kaca tutup

PEMERIKSAAN TINJA UNTUK DIAGNOSA PROTOZOA USUS

• Protozoa usus, mikroskopik : vegetatif, kista

• Bentuk vegetatif (trofozoit) harus diperiksa dalam tinja segar (30 menit setelah dikeluarkan
dan bukan setelah 30 menit tiba di laboratorium) karena pergerakan yang khas dapat dilihat
dengan jelas.
• Di dalam tinja tidak segar:

– bentuk vegetatif akan mati

– tidak dapat dilihat pergerakannya

– bentuk kista tahan lama dalam tinja.

• Untuk lebih mudah menemukan bentuk trofozoit maka periksalah bagian tinja yang ada
lendirnya dan ada darahnya.

2. DARAH

• Parasit-parasit yang dapat dideteksi dari dalam darah adalah :

Parasit malaria , mikrofilaria, trypanosoma. leishmania.

• Dianjurkan membuat dua sediaan darah:

– sediaan apusan darah tebal dan tipis pada kaca objek.

– Pewarnaan giemsa

SEDIAAN DARAH TIPIS

KEUNTUNGAN/KEBAIKAN :

• Morfologis parasit dapat dilihat dengan jelas, sehingga diagnosa lebih mudah

• Perubahan pada eritrosit mudah dilihat dengan jelas

KEBURUKAN/KELEMAHAN :

• Darah yang diperiksa lebih sedikit, sehingga pada infeksi ringan sukar menemukan parasitnya
SEDIAAN DARAH TEBAL

KEUNTUNGAN/KEBAIKAN :

• Darah yang dapat diperiksa lebih banyak daripada sediaan darah tipis

• Jumlah parasitnya kira-kira 20x lebih banyak dalam satu lapangan pandang, sehingga pada
infeksi ringan lebih mudah menemukan parasitnya

• Lebih mudah dipakai untuk hitung parasit

KEBURUKAN/KELEMAHAN

• Morfologi parasit mengalami perubahan sehingga sukar menentukan spesiesnya

• Karena darah sudah dihemolisir maka perubahan pada eritrosit tidak dapat diketahui

3. Vaginal Swab (Diagnosis Trichomoniasis)

• Pemeriksaan sekret vagina secara langsung • Diencerkan dgn garam faal

• Menemukan parasit

• Melihat bentuk dan pergerakan

4. Anal Swab (Diagnosis Oxyuriasis/Enterobiasis)

• Infeksi Oxyuris vermicularis / Enterobius vermicularis

• Spesimen diambil di pagi hari sebelum mandi / anus belum berkontak dengan air

5. Farmakologi antiamuba,antihelminth,antimalaria
Penggolongan obat

Dibagi menjadi dua golongan besar yaitu:


1. Obat amubiasid kontak, meliputi senyawa-senyawa metronidazol dan tinidazol, antibiotika
antara lain tetrasiklin dan golongan aminoglikosida.

2. Obat amubiasid jaringan, meliputi senyawa nitro-imidazol (metronidazol tinidasol) yang


berkhasiat terhadap bentuk histolitika di dinding usus dan jaringan-jaringan lain. Obat golongan
ini merupakan obat pilihan dalam kasus amubiasis. Bila metronidazol dan tinidazol tidak efectif
dapat digunakan dihidroemetin.

Obat generik, indikasi, kontra indikasi dan efek samping

Metronidazol

Indikasi Infeksi amuba (amubiasis intestinalis, dan abses


amuba hepar) juga infeksi oleh trikomonas.

Kontra indikasi Hipersensitif, hindarkan penggunaan dosis

besar pada wanita hamil dan menyusui

Efek samping Mual, muntah, gangguan pengecapan, vertigo,


ngantuk dan reaksi kulit seperti ruam urtikaria,
urin berwarna gelap.

Sediaan Tablet metronidazol (generik) 250 dan

500 mg , tablet vaginal 500 mg.

Cara Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari


sinar. Vaginal tablet harus ditaruh ditempat
sejuk

Spesialit obat-obat anti amuba :

NO GENERIK dan LATIN DAGANG PABRIK

1 Kloroquin Fosfat Resochin Bayer

(Chloroquinini Phosphas Nivaquin Rhone P

2 Metronidazol Corsagyl Corsa


(Metronidazolum DOEN) Flagyl Rhone P

3 Tinidazol Fasigyn Pfizer

4 Nimorazol Naxogin Pfizer

5 Secnidazol Sentyl Sunthi Sempuri

farmakologi anti helmintik

Pyrantel pamoat :

-Mekanisme kerja : menimbulkan depolarisas pada otot cacing dan meningkatkan frekuensi
impuls sehingga cacing mati dalam keadaan spastik, namun obat ini tidak membunuh larva
cacing.

-Indikasi : askaris, ankilostomiasis, enterobiasis

-Kontra indikasi : kehamilan, anak-anak dibawah 2 tahun, gangguan hati, dan bekerja
berlawanan dengan piperazine.

-Efek samping : bersifat sementara yaitu keluhan saluran cerna, demam, dan sakit kepala.

-Dosis : 10mg/kgbb (dosis tunggal) untuk enterobiasis dianjurkan mengulang dosis setelah 2
minggu.

-Sediaan : generic tablet 125mg, combatrin tablet 125mg, syrup125ml

Mebendazole

Mebendazol adalah antihelmintik spektrum luas

-Mekanisme kerja : mebendazole menyebabkan kerusaka struktur subselular dan menghambat


sekresi asetilkolinesterase cacing. Obat ini juga menghambat ambilan gukosa secara ireversibel
sehingga terjadi pengosongan glikogen pada cacing, kemudian cacing kan mati secara perlahan
dan hasil terapi akan terlihat setelah 3 hari pemberian obat, absorpsi ditingkatkan dengan
lemak sehingga minum Ketika makan.

-Indikasi : cacing gelang, cacing kremi, cacing tambang, T. trichiura, trichostrongylus

-Kontra indikasi : kehamilan trimester 1, anak dibawah 2 tahun, hipersensitif.


-Efek samping : mual, muntah, diare, sakit perut, sakit kepala, pusing, reaksi hipersensitivitas,
ekspulsi (pengeluaran) cacing lewat mulut.

-Dosis : infeksi ascaris lumbricoides, t.trichuira cacing tambang, trichostrongylus : dosis dewasa
dan anak >2 tahun : 2x100mg/hari selama 3 hari. Terapi diulang 2-3 minggu kemudian.

-Cacing kremi : dosis tunggal 1x100mg dan diulang 2 minggu dan 4 minggu kemudian.

-Taeniasis: 2x300mg selama 3-4 hari

-Sediaan : tablet 100mg dan 500mg

Albendazole

Albendazole adalah obat cacing derivate benzimidazole spektrum lebar.

-Mekanisme kerja : albendazole berikatan dengan B-tubulin parasite sehingga menghambat


polimerisasi mikrotubuulus dan memblok pengambilan glukosa oleh larva maupun cacing
dewasa sehingga persediaan glikogen menirin dan pembentukan atp berkurang akibatnya
cacing akan mati absorpsi ditingkatkan dengan lemak sehingga minum Ketika makan.

-Indikasi : askaris, trikuriasis, strongyloidiasis, cacing tambang, sistiserkosis, dl

-Kontraindikasi : kehamilan trimester 1, anak dibawah umur 2 tahun

-Efek samping : nyeri ulu hati, diare, sakit kepala, mual ,muntah lemah, dll

-Dosis : infeksi cacin kremi, cacing tambang, ascaris, trichuris :

Dosis dewasa dan anak>2 tahun : 400mg dosis tunggal diberikan Ketika makan

Pada cacing kremi terapi diulang setelah 2 minggu

Strongilodiasis : 2x400mg/hari selama 7-14 hari

-Sediaan : albendazole generic tablet 400mg