Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

GIZI DALAM KOMINITAS

“KEKURANGAN ENERGI PROTEIN (KEP) DAN KEKURANGAN


ENERGI KRONIK (KEK)”

DOSEN PEMBIMBING

Ratna dewi,

DISUSUN OLEH: KELOMPOK 3

1. DELLA NOFRIANTIKA 8. QUNITA LUVIA


2. DORA ANGGILIA R. 9. SEPTI NOVIA
3. ESI MOTHI 10. SINTYA MONICA
4. GENDIS TRI AJENG 11. VELLY APRILIA D.
5. MAYA RUMANTI 12. VIVI MONALISA
6. NENY KARTINI 13. WIKA AGUSTINA
7. PUTRI BELINDA P. S. 14. YURISKA VERINA

PRODI DIV KEBIDANAN

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BENGKULU

TAHUN AJARAN 2019/2020

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kurang Energi Protein


1. Pengertian
KEP merupakan keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh
rendah nya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari
sehingga tidak memenuhi kecukupan yang dianjurkan
(AdrianidanWijatmadi,2012). Ada tiga tipe KEP, yaitu kwashiorkor,
marasmus, dan marasmus-kwashiorkhor. Tipe kwashiorkor terjadi
akibat kekurangan protein, marasmus akibat kekurangan energi,
sedangkan marasmus-kwashiorkor merupakan gabungan dari
keduanya.

2. Isu Terkini
“Kelas menengah dan bawah di Indonesia kurang protein”

Masyarakat Indonesia kelas menengah dan bawah masih belum mencukupi


kebutuhan protein harian. Mereka hanya mengonsumsi protein 35,5 gram sampai 61,2
gram/kapita/hari.
"Problemnya adalah ketidaktahuan. Orang belum apa-apa berpikir protein itu
mahal," kata Ahli nutrisi, DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum pada Beritagar.id, Senin
(17/6). Padahal, faktanya tidak demikian.
Protein hewani seperti daging dan ikan memang membuat orang mesti merogoh
kocek lebih dalam. Namun, ada protein nabati yang harganya lebih ramah kantong.
"Tempe, tahu, kacang-kacangan, dan oncom bisa jadi opsi protein," imbuh dr. Tan.

Menilik konsumsi protein paling tinggi menurut kelas ekonomi, tiap provinsi di
Indonesia angkanya bervariasi.
Pada kelas ekonomi atas provinsi paling tinggi dalam konsumsi protein adalah
provinsi Kalimantan Selatan dengan 102,7 gram/kapita/hari.

Di kelas ekonomi menengah, ada provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan
67,7 gram/kapita/hari. Sedangkan di kelas ekonomi bawah yang paling tinggi
mengonsumsi protein adalah provinsi DI Yogyakarta dengan 40,7 gram/kapita/hari.

"Masyarakat harus sadar golongan apapun harus tetap makan


protein. Enggak perlu bahan mahal kok, bisa dari tahu dan tempe," saran dr. Samuel.
Ikan juga alternatif yang menjanjikan sebagai produk protein. Namun, menurut dr.
Tan cara mengolahnya perlu diperhatikan.

3. Tanda dan Gejala

Penderita KEP akan memperlihatkan tanda-tanda sebagai berikut :

a. KEP I(KEP ringan)


Pada KEP ringan tanda-tanda klinis belum terlalu tampak, hanya saja standar berat
yang tidak sesuai dan biasanya berat badan anak jauh dari standar baku yang
ditemukan
Penatalaksanaan terhadap Kekurangan Energi Protein tipe I (KEP
ringan);
1) Penyuluhan gizi/nasehat pemberian makanan di rumah
(bilamana penderita rawat jalan)
2) Dianjurkan memberikan ASI eksklusif (bayi <4 bl) dan terus
memberikan ASI sampai 2 tahun
3) Bila dirawat inap untuk penyakit lain, maka makanan
disesuaikan dengan penyakitnya agar tidak menyebabkan
KEP sedang/berat dan untuk meningkatkan status gizi.
b. KEP II (KEP sedang)
Penatalaksanaan terhadap Kekurangan Energi Protein tipe II
(KEP sedang);
1) Rawat jalan : Nasehat pemberian makanan dan vitamin serta
teruskan ASI, selalu dipantau kenaikan BB.
2) Tidak rawat jalan : Dapat dirujuk ke puskesmas untuk
penanganan masalah gizi
3) Rawat inap : Makanan tinggi energi dan protein dengan
kebutuhan energi20-50% diatas AKG. Diet sesuai dengan
penyakitnya dan dipantau berat badannya setiap hari, beri
vitamin dan penyuluhan gizi. Setelah penderita sembuh dari
penyakitnya, tapi masih menderita KEP ringan atau sedang
rujuk ke puskesmas untuk penanganan masalah gizinya.

c. KEP III (KEP Berat)


Pada KEP berat dibagi dalam tiga kategori yaitu, marasmus, kwashiorkor,
marasmus-kwashiorkor
1) Kwashiorkor
Kwashiorkor adalah bentuk MEP (Malnutrisi Energi
Protein) yang terjadi ketika anak disapih/ dengan diet rendah
protein, tetapi jumlah energi dari sumber energi karbohidrat
memadai (Chris Brooker, 2009).
Kwashiorkor lebih banyak terdapat pada usia dua hingga
tiga tahun yang sering terjadi pada anak yang terlambat
menyapih sehingga komposisi gizi makanan tidak seimbang
terutama dalam halprotein. Kwashiorkor dapat terjadi pada
konsumsi energi yang cukup atau lebih.

Adapun gejala klinis dari tipe KEP kwashiorkor adalah:

1. Edema umumnya diseluruh tubuh, terutama pada


punggung kaki (dorsumpedis) yang jika ditekan melekuk,
tidak sakit, dan lunak
2. Wajah membulat dan sembab
3. Pandangan mata sayu
4. Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung,
mudah dicabut tanpa rasa sakit, rontok
5. Perubahan status mental, apatis dan rewel
6. Pembesaran hati
7. Otot mengecil (hipotropi), lebih nyata bila diperiksa pada
posisi berdiri atau duduk
8. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan
berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas
(Crazy pavementdermatosis)
9. Sering disertai penyakit infeksi, umumnya akut
serta anemia dan diare.

2) Marasmus
Marasmus adalah bentuk KEP berat akibat protein dan
energy (kalori) yang tidak adekuat dalam diet (Chris Brooker,
2009).

Gejala-gejala marasmus :
1. Tampak sangat kurus, hingga seperti tulang terbungkus kulit
2. Wajah seperti orang tua
3. Cengeng, rewel
4. Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai
tidak ada (seperti memakai celana longgar)
5. Perut umumnya cekung
6. Iga gambang
7. Sering disertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang)
dan diare

(DirektoratBinaGizi MasyarakatDepkes RI,2011)

3) Marasmus-Kwashiorkor
Marasmus-Kwashiorkor (marasmic kwashiorkor) adalah
manifestasi malnutrisi protein serius di mana baik kondisi
marasmus maupun kwashiorkor hadir, disertai dengan edema
yang tidak mencolok(Kamuskesehatan.com,2014)
Padatatalaksanaan rawat inap penderita KEP berat/Gizi buruk
dirumah sakit terdapat 5 (lima) aspek penting, yang perlu
diperhatikan:
a) Prinsip dasar pengobatan rutin KEP berat/Gizi buruk (10
langkah utama)
Pengobatan rutin yang dilakukan dirumah sakit berupa 10
langkah penting yaitu:
1) Mengatasi/mencegah hipoglikemia
2) Mengatasi/mencegah hipotermia
3) Mengatasi/mencegah dehidrasi
4) Mengkoreksi gangguan keseimbangan elektrolit
5) Mengobati/mencegah infeksi
6) Mulai pemberian makanan
7) Fasilitasi tumbuh-kejar (“catchup growth”)
8) Mengkoreksi defisiensi nutrien mikro
9) Melakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental
10) Menyiapkan dan merencanakan tindak lanjut setelah
sembuh.
b.) Pengobatan ditujukan pada penyakit yang sering menyertai
KEP berat, yaitu: defisiensi vitamin A, dermatosis,
parasit/cacing, diar emelanjut, dan tuberkulosis obati sesuai
pedoman pengobatan.
c) Kegagalan pengobatan.
d) Penderita pulang sebelum rehabilitasi tuntas.
e) Tindakan pada kegawatan.

4. Penyebab
Penyebab langsung dari KEP adalah defisiensi kalori maupun
protein, yang berarti kurangnya konsumsi makanan yang
mengandung kalori maupun protein, hambatan utilisasi zat gizi.
Adanya penyakit infeksi dan investasi cacing dapat memberikan
hambatan absorpsi dan hambatan utilisasi zat-zat gizi yang menjadi
dasar timbulnya KEP. Penyebab langsung KEP dapat dijelaskan
sebagai berikut:
a. Penyakit infeksi
Penyakit infeksi yang dapat menyebabkan KEP yaitu cacar
air, batuk rejan, TBC, malaria, diare, dan cacing, misalnya cacing
Ascaris lumbricoides dapat memberikan hambatan absorbsi
dan hambatan utilisasi zat-zat gizi yang dapat menurunkan daya
tahan tubuh yang semakin lama dan tidak diperhatikan
merupakan dasar timbulnya KEP.

b. Konsumsi makan
KEP sering dijumpai pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun
dimana pada usia tersebut tubuh memerlukan zat gizi yang
sangat tinggi, sehingga apabila kebutuhan zat gizi tidak
terpenuhi maka tubuh akan menggunakan cadangan zat gizi
yang ada didalam tubuh, yang berakibat semakin lama cadangan
semakin habis dan akan menyebabkan terjadinya kekurangan
yang menimbulkan perubahan pada gejala klinis.

c. Kebutuhan energi
Kebutuhan energi tiap anak berbeda-beda. Hal ini ditentukan
oleh metabolisme basal tubuh, umur, aktivitas, fisik, suhu,
lingkungan serta kesehatannya. Energi yang dibutuhan
seseorang tergantung pada beberapa faktor, yaitu jenis kelamin,
umur, aktivitas fisik, dan kondisi psikologis.

d. Kebutuhan protein
Protein merupakan zat gizi penting karena erat hubungannya
dengan kehidupan.

e. Tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu


Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang
penting dalam tumbuh dan kembang anak, karena dengan
pendidikan yang baik maka orang tua dapat menerima segala
informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak
yang baik. Seorang ibu dengan pendidikan yang tinggi akan
dapat merencanakan menu makan yang sehat dan bergizi
bagidiri nya dan keluarganya.
Pengetahuan ibu tentang cara memperlakukan bahan
pangan dalam pengolahan dengan tujuan membersihkan
kotoran, tetapi sering kali dilakukan berlebihan sehingga
merusak dan mengurangi zat gizi yang dikandungnya.

f. Tingkat pendapatan dan pekerjaan orang tua


Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang
tumbuh kembang anak, karena orang tua dapat menyediakan
semua kebutuhan anak baik yang primer seperti makanan
maupun yang sekunder.
Tingkat pendapatan jugaikut menentukan jenis pangan apa
yang akan dibeli. Keluarga yang pendapatannya rendah
membelanjakan sebagian besar untuk serealia, sedangkan
keluarga dengan pendapatan yang tinggi cenderung
membelanjakan sebagian besar untuk hasil olahan susu. Jadi,
penghasilan merupakan faktor penting bagi kuantitas dan
kualitas makanan. Antara penghasilan dan gizi jelas ada
hubungan yang menguntungkan. Pengaruh peningkatan
penghasilan terhadap perbaikan kesehatan dan kondisi keluarga
lain yang mengadakan interaksi dengan status gizi yang berlaku
hampir universal.

g. Besar anggota keluarga


Jumlah anak yang banyak pada keluarga yang keadaan
sosial ekonominya cukup akan mengakibatkan berkurangnya
perhatian dan kasih sayang yang diterima anak, lebih-lebih
kalau jarak anak terlalu dekat. Adapun pada keluarga dengan
keadaan sosial ekonomi yang kurang, jumlah anak yang banyak
akan mengakibatkan kurangnya kasih sayang dan perhatian
pada anak, juga kebutuhan primer seperti makanan, sandang,
papan tidak terpenuhi.

Penyebab tidak langsung dari KEP ada beberapa hal yang


dominan, antara lain pendapatan yang rendah sehingga daya beli
terhadap makanan terutama makanan berprotein rendah.
Penyebab tidak langsung yang lain adalah ekonomi negara, jika
ekonomi negara mengalami krisis moneter akan menyebabkan
kenaikan harga barang, termasuk bahan makanan sumber energi
dan protein seperti beras, ayam, daging, dan telur. Penyebab lain
yang berpengaruh terhadap defisiensi konsumsi makanan berenergi
dan berprotein adalah rendahnya pendidikan umum dan pendidikan
gizi sehingga kurang adanya pemahaman peranan zatg izi bagi
manusia. Atau mungkin dengan adanya produksi pangan yang
tidak mencukupi kebutuhan, jumlah anak yang terlalu banyak,
kondisi higiene yang kurang baik, sistem perdagangan dan
distribusi yang tidak lancar serta tidak merata (Adriani dan
Wijatmadi, 2012).

5. Faktor resiko
a. Berat badan lahir dibawah 2,2 kg
b. Kesehatan ibu yang buruk
c. Kematian ayah atau ibu, perceraian orang tua atau bayi di luar
nikah.
d. Ibu yang sudah mempunyai lebih dari 5 orang anak.
e. Anak kembar
f. Bayi yang diberi susu buatan
g. Kematian saudara sekandung sebelumnya
h. Ayah yang tidak mempunyai pekerjaan
i. Infeksi (misalnya diare berat, campak, tuberculosis, batuk rejan)
j. Bayi yang lahir kurang dari 3 tahun setelah bayi terakhir.
k. Kegagalan mencapai kenaikan berat badan seharusnya.

6. Dampak

Dampak yang dapat ditimbulkan dari ibu dengan KEK, antara lain :

a. Dampak pada Ibu


Gizi kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan resiko dan komplikasi pada
ibu, antara lain : anemia, perdarahan, berat badan ibu tidak bertambah
secara normal, dan terkena penyakit infeksi. Sehingga akan meningkatkan
angka kematian ibu

b. Dampak pada Persalinan


Pengaruh gizi kurang terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan
persalinan sulit dan lama, persalinan premature atau sebelum waktunya,
perdarahan post partum, serta persalinan dengan tindakan operasi caesar
cenderung meningkat.
c. Dampak pada Janin
Kurang gizi pada ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin
dan dapat menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian
neonatal, cacat bawaan dan lahir dengan BBLR.

7. Pencegahan

Pencegahan dari KEP pada dasarnya adalah bagaimana


makanan yang seimbang dapat di pertahankan ketersediannya di
masyarakat. Langkah- langkah nyata yang dapat dilakukan untuk
pencegahan KEP adalah (Wayan,2011):

a. Mempertahankan status gizi yang sudah baik tetap baik


dengan menggiatkan kegiatan surveilance gizi diinstitusi
kesehatan terdepan (Puskesmas, Puskesmas Pembantu).
b. Mengurangi resiko untuk mendapat penyakit, mengkoreksi
konsumsi pangan bila ada yang kurang, penyuluhan
pemberian makanan pendamping ASI (bagi balita).
c. Mengkonsumsi makanan dalam variasi dan jumlah yang sesuai.
Hal ini di karenakan kandungan zat gizi pada setiap jenis
makanan ini berbeda-beda dan tidak ada satupun jenis
makanan yang mengandung zat gizi secara lengkap, maka
untuk memenuhi kebutuhan sebagian besar zat gizi diperlukan
konsumsi makanan yang beragam. Bagi ibu menyusui dan ibu
hamil dianjurkan menambah jumlah konsumsi, karena
kebutuhan energi dan zat gizi lainnya pada ibu hamil dan
menyusui meningkat.
d. Memperbaiki/mengurangi efek penyakit infeksi yang sudah
terjadi supaya tidak menurunkan status gizi.
e. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam program keluarga
berencana.
f. Meningkatkan status ekonomi masyarakat melalui
pemberdayaan segala sektor ekonomi masyarakat (pertanian,
perdagangan, dan lain-lain)
8. Penatalaksanaan
a. Marasmus

1. Keadaan ini memerlukan diet yang berisi jumlah cukup protein yang kualitas
biologiknya baik. Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin.
2. Pemberian terapi cairan dan elektrolit.
3. Penatalaksanaan segera setiap masalah akut seperti masalah diare berat.
4. Pengkajian riwayat status sosial ekonomi, kaji riwayat pola makan, pengkajian
antropometri, kaji manifestasi klinis, monitor hasil laboratorium, timbang berat
badan, kaji tanda-tanda vital.

b. Kwashiorkor

1. Diet tinggi kalori dan protein


2. Pemberian terapi cairan dan elektrolit
3. Penanganan masalah yang akut, seperti diare yang parah, kegagalan ginjal dan syock.
4. Pemberian vitamin terutama vitamin A, kalium dan magnesium, besi dan asam folat
biasanya dapat memperbaiki anemia yang terjadi
5. Infeksi harus diobati bersamaan dengan pengobatan makanan, sedangkan pengobatan
infeksi parasit, kalau tidak parah dapat ditunda sampai kesembuhan mulai berjalan.
Bila malaria muncul, berikan pengobatan tiga hari dengan klorokuin per oral (75 mg
atau ½ tablet sehari), dia daerah yang sering ditemui infeksi cacing tambnag diobati
dengan piperazin.

B. KEKURANGAN ENERGI KRONIK


1. Pengertian

Kekurangan Energi Kronik (KEK) adalah salah satu keadaan malnutrisi. Dimana
keadaan ibu menderita kekurangan makanan yang berlangsung menahun (kronik)
yang mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu secara relative atau
absolut satu atau lebih zat gizi (Helena, 2013).

Menurut Depkes RI (2002) menyatakan bahwa kurang energi kronis merupakan


keadaan dimana ibu penderita kekurangan makanan yang berlangsung pada wanita
usia subur (WUS) dan pada ibu hamil. Kurang gizi akut disebabkan oleh tidak
mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup atau makanan yang baik (dari segi
kandungan gizi) untuk satu periode tertentu untuk mendapatkan tambahan kalori dan
protein (untuk melawan) muntah dan mencret (muntaber) dan infeksi lainnya. Gizi
kurang kronik disebabkan karena tidak mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang
cukup atau makanan yang baik dalam periode/kurun waktu yang lama untuk
mendapatkan kalori dan protein dalam jumlah yang cukup, atau disebabkan menderita
muntaber atau penyakit kronis lainnya.

2. Isu terkini

REJANG LEBONG – Sepanjang tahun 2017, angka kasus kesehatan ibu dengan
Kekurangan Energi Kronis (KEK) di Kabupaten Rejang Lebong kembali meningkat
menjadi 147 kasus. Angka ini tidak berbeda jauh dengan tahun sebelumnya yang
berjumlah 131 kasus. Data ini terungkap dalam lokakarya Cahaya Perempuan, Women
Crisis Centre (WCC) Bengkulu tentang Pelayanan Minimum (SPM) Permenkes Nomor
43 tahun 2016.

Koordinator Program Cahaya Perempuan, WCC Bengkulu Tini Rahayu


mengungkapkan, peningkatan angka ibu penderita KEK ini disebabkan oleh beberapa
faktor. Diantaranya kekurangan gizi saat hamil.

“Banyak faktor penyebab ibu KEK ini, salah satunya kekurangan gizi saat hamil,
dalam kajian kami meningkatnya angka ibu dengan KEK itu dimulai sejak masa
kehamilan, yakni kandungannya bermasalah,” ungkapnya, Kamis (1/3/2017).

Disisi lain, Kabid Pemberdayaan Perempuan Dinas Pemberdayaan Perempuan,


Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A PPKB)
Rejang Lebong, Asrawani mengatakan, meningkatkan angka kasus kesehatan terhadap
peremuan terutama ibu hamil/melahirkan ini, terjadi karena pola pikir masyarakat yang
masih mempercapai mitos-mitos tertentu.

“Yang kami coba ubah adalah pola pikir masyarakat, karena ada sebagaian yang
masih percaya mitos, contohnya ibu hamil dilarang makan-makan tertentu yang justru
makanan tersebut bergizi tinggi, selain itu pula kami juga melakukan penguatan ekonomi
dan pendidikan,” pungkasnya.

3. Tanda dan gejala

Tanda dan gejala terjadinya KEK yaitu :


a. Berat badan <40kg atau tampak kurus dan LILA kurang dari 23,5 cm
b. Tinggi badan <145 cm
c. Ibu menderita anemia dengan Hb <11 gr%
d. Lelah, letih, lesu, lemah, lunglai
e. Bibir tampak pucat
f. Nafas pendek
g. Denyut jantung meningkat
h. Susah BAB
i. Nafsu makan berkurang
j. Mudah mengantuk

Wanita usia subur adalah wanita usia 15-45 tahun. Tujuan pengukuran LILA adalah
mencakup masalah WUS baik pada ibu hamil maupun calon ibu yaitu :
a. Mengetahui resiko KEK pada WUS, baik ibu hamil maupun calon ibu,
untuk menapis wanita yang mempunyai resiko melahirkan bayi berat
lahir rendah.
b. Meningkatkan perhatian dan kesadaran masyarakat agar lebih
berperan dalam pencegahan dan penanggulangan KEK.
c. Mengembangkan gagasan baru di kalangan masyarakat dengan tujuan
meningkatakan kesejahteraan ibu dan anak.
d. Mengarahkan pelayanan kesehatan pada kelompok sasaran WUS yang
menderita KEK.

Meningkatkan peran dalam upaya perbaikan gizi WUS yang menderita KEK.
Ambang batas LiLA pada WUS dengan resiko KEK di Indonesia adalah 23,5 cm,
apabila ukuran LiLA kurang dari 23,5 cm atau berada pada bagian merah pita LILA,
artinya wanita tersebut mempunyai resiko KEK dan diperkirakan akan melahirkan
Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR). BBLR mempunyai resiko kematian, kurang gizi,
gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan pada anak

4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kekurangan Energi Kronik (KEK)


Menurut (Djamaliah, 2008) antara lain : jumlah asupan energi, umur, beban
kerja ibu hamil, penyakit/infeksi, pengetahuan ibu tentang gizi dan pendapatan
keluarga. Adapun penjelasannya :
a. Jumlah asupan makanan
Kebutuhan makanan bagi ibu hamil lebih banyak dari pada kebutuhan
wanita yang tidak hamil. Upaya mencapai gizi masyarakat yang baik atau
optimal dimulai dengan penyedian pangan yang cukup. Penyediaan pangan
dalam negeri yaitu : upaya pertanian dalam menghasilkan bahan makanan
pokok, lauk pauk, sayuran dan buah-buahan. Pengukuran konsumsi makanan
sangat penting untuk mengetahui kenyataan apa yang dimakan oleh
masyarakat dan hal ini dapat berguna untuk mengukur gizi dan menemukan
faktor diet yang menyebabkan malnutrisi.

b. Usia ibu hamil

Semakin muda dan semakin tua umur seseorang ibu yang sedang hamil
akan berpengaruh terhadap kebutuhan gizi yang diperlukan. Umur muda perlu
tambahan gizi yang banyak karena selain digunakan pertumbuhan dan
perkembangan dirinya sendiri, juga harus berbagi dengan janin yang sedang
dikandung. Sedangkan untuk umur tua perlu energi yang besar juga karena
fungsi organ yang melemah dan diharuskan untuk bekerja maksimal, maka
memerlukan tambahan energi yang cukup guna mendukung kehamilan yang
sedang berlangsung. Sehingga usia yang paling baik adalah lebih dari 20 tahun
dan kurang dari 35 tahun, dengan diharapkan gizi ibu hamil akan lebih baik.

c. Beban kerja/Aktifitas
Aktifitas dan gerakan seseorang berbeda-beda, seorang dengan gerak yang
otomatis memerlukan energi yang lebih besar dari pada mereka yang hanya
duduk diam saja. Setiap aktifitas memerlukan energi, maka apabila semakin
banyak aktifitas yang dilakukan, energi yang dibutuhkan juga semakin banyak.
Namun pada seorang ibu hamil kebutuhan zat gizi berbeda karena zat-zat gizi
yang dikonsumsi selain untuk aktifitas/ kerja zat-zat gizi juga digunakan untuk
perkembangan janin yang ada dikandungan ibu hamil tersebut. Kebutuhan
energi rata-rata pada saat hamil dapat ditentukan sebesar 203 sampai 263
kkal/hari, yang mengasumsikan pertambahan berat badan 10-12 kg dan tidak
ada perubahan tingkat kegiatan.

d. Penyakit /infeksi
Malnutrisi dapat mempermudah tubuh terkena penyakit infeksi dan juga
infeksi akan mempermudah status gizi dan mempercepat malnutrisi,
mekanismenya yaitu :

1) Penurunan asupan gizi akibat kurang nafsu makan,


menurunnya absorbsi dan kebiasaan mengurangi
makanan pada waktu sakit.
2) Peningkatan kehilangan cairan atau zat gizi akibat diare, mual,
muntah dan perdarahan yang terus menerus.
3) Meningkatnya kebutuhan, baik dari peningkatan kebutuhan akibat sakit
atau parasit yang terdapat pada tubuh.

e. Pengetahuan ibu tentang Gizi


Pemilihan makanan dan kebiasaan diet dipengaruhi oleh pengetahuan,
sikap terhadap makanan dan praktek/ perilaku pengetahuan tentang nutrisi
melandasi pemilihan makanan. Pendidikan formal dari ibu rumah tangga
sering kali mempunyai asosiasi yang positif dengan pengembangan pola-pola
konsumsi makanan dalam keluarga. Beberapa studi menunjukkan bahwa jika
tingkat pendidikan dari ibu meningkat maka pengetahuan nutrisi dan praktek
nutrisi bartambah baik. Usaha-usaha untuk memilih makanan yang bernilai
nutrisi semakin meningkat, ibu-ibu rumah tangga yang mempunyai
pengetahuan nutrisi akan memilih makanan yang lebih bergizi dari pada yang
kurang bergizi.

f. Pendapatan keluarga
Pendapatan merupakan faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas
makanan. Pada rumah tangga berpendapatan rendah, sebanyak 60 persen
hingga 80 persen dari pendapatan riilnya dibelanjakan untuk membeli
makanan. Artinya pendapatan tersebut 70-80 persen energi dipenuhi oleh
karbohidrat (beras dan penggantinya) dan hanya 20 persen dipenuhi oleh
sumber energy lainnya seperti lemak dan protein. Pendapatan yang meningkat
akan menyebabkan semakin besarnya total pengeluaran termasuk besarnya
pengeluaran untuk pangan.

g. Pemerkaan Kehamian ( Perawatan Ante Natal)


Dalam memantau status gizi ibu hamil, seorang ibu harus melakukan
kunjungan ketenaga kesehatan. Karena pemeriksaan kenaikan berat badan
perlu dilakukan dengan teliti, jangan sampai wanita hamil terlalu gemuk untuk
menghindarkan kesulitan melahirkan dan bahkan jangan terlalu kurus karena
dapat membahayakan keselamatan dirinya dan janin yang dikandungannya

5. Dampak
Adapun dampak yang dimaksud meliputi (Helena, 2013):
a. Dampak pada ibu
1) Terus menerus merasa letih
2) Kesemutan
3) Muka tampak pucat
4) Kesulitan sewaktu melahirkan
5) Air susu yang keluar setelah melahirkan tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan bayi, sehingga bayi akan kekurangan air susu ibu pada
waktu menyusui.
b. Dampak pada Persalinan
Pengaruh gizi kurang terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan
persalinan sulit dan lama, persalinan premature atau sebelum waktunya,
perdarahan post partum, serta persalinan dengan tindakan operasi caesar
cenderung meningkat.

c. Dampak pada Janin


Kurang gizi pada ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin
dan dapat menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian
neonatal, cacat bawaan dan lahir dengan BBLR.

6. Pencegahan
a. Pemberdayaan ekonomi masyarakat sehingga mereka mampu memenuhi
kebutuhan dasar mereka, terutama dalam mencukupi kebutuhan akan makanan
bergizi.
b. Memberikan pengertian bagi mereka dengan profesi yang menuntut memiliki
tubuh kurus tentang bahaya tubuh yang terlalu kurus apalagi jika mereka
menguruskan badan dengan cara tidak lazim, seperti anoreksia atau bulimia
c. Makan makanan yang bervariasi dan cukup mengandung kalori dan protein
termasuk makanan pokok seperti nasi, ubi dan kentang setiap hari dan makanan
yang mengandung protein seperti daging, ikan, telur, kacang-kacangan atau susu
sekurang-kurangnya sehari sekali. Minyak dari kelapa atau mentega dapat
ditambahkan pada makanan untuk meningkatkan pasokan kalori, terutama pada
anak-anak atau remaja yang tidak terlalu suka makan. Hanya memberikan ASI
kepada bayi sampai usia 6 bulan mengurangi resiko mereka terkena muntah dan
mencret (muntaber) dan menyediakan cukup gizi berimbang. Sejak 6 bulan,
sebaiknya tetap diberikan Asi tapi juga berikan 3-6 sendok makan variasu
makanan termasuk yang mengandung protein. Remaja dan anak2 yang sedang
sakit sebaiknya tetap diberikan makanan dan minuman yang cukup. Kurang gizi
juga dapat dicegah secara bertahap dengan mencegah cacingan, infeksi, muntaber
melalui sanitasi yang baik dan perawatan kesehatan, terutama mencegah cacingan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Nisa, Linda Syahadatun, dkk. 2008. Penyebab Kejadian Kekurangan Energi Kronis
Pada Ibu Hamil Resiko Tinggi Dan Pemanfaatan Antenatal Care Di Wilayah Kerja
Puskesmas Jelebuk Jember. JawaTimur: Universitas Airlangga
2. Puli, Tenridkk. 2015 .Hubungan Sosial Ekonomi Dengan Kekurangan Energi Kronik
(KEK) Pada Wanita Prakonsepsi Di Kota Makassar. Makasar: Universitas
Hasanuddin
3. Azizah, Anisatundkk. 2016. Tingkat Kecukupan Energi Protein Pada Ibu Hamil
Trimester Pertama Dan Kejadian Kekurangan Energi Kronis. Surabaya: Universitas
Airlangga
4. Dyah Primadani, Fitriana. 2016. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian KEK.
Purwokerto: Fakultas Ilmu Kesehatan UMP
5. http://repository.poltekkes-tjk.ac.id/784/5/BAB%20II.pdf
6. https://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/56422977/Persepsi_Body_Image_dan
_Pola_Makan_Terkait_Terjadinya_Kurang_Energi_Kronik_KEK_pada_Remaja_Puteri.pdf?
response-content-disposition=inline%3B%20filename
%3DPersepsi_Body_Image_dan_Pola_Makan_Terka.pdf&X-Amz-Algorithm=AWS4-HMAC-
SHA256&X-Amz-Credential=AKIAIWOWYYGZ2Y53UL3A%2F20200307%2Fus-east-
1%2Fs3%2Faws4_request&X-Amz-Date=20200307T145545Z&X-Amz-Expires=3600&X-Amz-
SignedHeaders=host&X-Amz-
Signature=31e1f8d70ad3d36fd942e2324c717fc7df746dac4f720c38f274173af5c5c69e