Anda di halaman 1dari 54

KEWAJIBAN MANUSIA MEMELIHARA DAN

MEMAKMURKAN ALAM

Hadirin Rahimakumullah,

Multatuli mengibaratkan bumi Indonesia laksana jamrud yang berada di dataran


khatulistiwa. Qurasish Shihab juga mengibaratkan tanah Indonesia laksana sekeping tanah
sorga yang di hamaparkan di persada nusantara. Dua ungkapan tersebut menggambarkan
bertapa indah dan hebatnya sumber daya alam yang kita miliki. Kita Negara kaya,
sumberdaya kita potensisal, tanah kita pun subur, Namun kenyataannya masih banya
rakyat yang berada dibawah garis kemiskinan, bayi-bayi kekurangan gizi, pelajar putus
sekolah, bahkan rakyat mati menderita kelaparan. Mengapa hal ini terjadi? Ini disebabkan
Sumber daya alam yang kita miliki belum dimanfaatkan oleh bangsa kita sendiri, melainkan
dieksploitasi dikikis habis oleh bangsa-bangsa lain sebagai aksi penjajahan gaya baru.
Bahkan akhir-akhir ini akibat kecongkakan tangan-tangan manusia itu sendiri yang
dibungkus sains dan teknologi telah mengikis habis keramahan alam sehingga yang
nampak adalah krisis lingkungan, polusi, malapetaka atomik, menipisnya lapisan ozon di
atmospir, hingga ancaman terjadinya hujan api dibeberapa belahan dunia. Fenomena
tersebut menandakan ketidak harmonisan hubungan manusia dengan alam raya, akibatnya
dirasakan oleh manusia sendiri. Sebab “if the habitat was cared will give  function but if
not it would make destroy”. Jika alam lingkungan dipelihara akan berdaya guna tapi jika
dibiarkan akan menimbulkan bencana. Demikianlah ungkapan Edwar Buckle dalam
History Of Civilization in England.
Melihat betapa pentingnya memelihara lingkungan tersebut, maka pada kesempatan ini
kita akan membicarakan tentang, “Kewajiban Manusia Memelihara dan Memakmurkan
Alam”, dengan rujukan firman Allah, surat al-Hijr ayat 19-20 :

{‫اس َي َوأَ ْنبَ ْتنَا فِيهَا ِم ْن ُك ِّل َش ْي ٍء َم ْو ُزو ٍن‬


ِ ‫ض َم َد ْدنَاهَا َوأَ ْلقَ ْينَا فِيهَا َر َو‬
َ ْ‫َواأْل َر‬
{20{ ‫ين‬ ِ ‫ش َو َم ْن لَ ْستُ ْم لَهُ بِ َر‬
َ ِ‫ازق‬ َ ِ‫}و َج َع ْلنَا لَ ُك ْم فِيهَا َم َعاي‬
َ 19
Artinya : “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung
dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.(19) Dan Kami telah
menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula)
makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya.(20)”

Hadirin Rahimakumullah,

Prof. Dr. Muhammad Qurish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menyebutkan, bahwa
ٍ ‫“ َوأَ ْنبَ ْتنَا فِيهَا ِم ْن ُكلِّ َش ْي ٍء َموْ ُز‬dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut
kalimat ‫ون‬
ukuran”, dipahami oleh sementara ulama dalam arti bahwa Allah swt menumbuh-
kembangkan di bumi ini aneka ragam tanaman untuk kelangsungan hidup dan menetapkan
bagi setiap tanaman itu masa pertumbuhan dan penuaian tertentu, sesuai dengan kuantitas
dan kebutuhan makhluk hidup. Demikian juga Allah swt menentukan bentuknya sesuai
dengan penciptaan dan habitat alamnya.
Dalam tafsir al-Muntakhab, ayat ini dinilai sebagai menegaskan suatu temuan ilmiah
yang diperoleh melalui pengamatan di laboratorium, yaitu setiap kelompok tanaman
masing-masing memiliki kesamaan dilihat dari sisi luarnya, demikian juga sisi dalamnya.
Bagian-bagian tanaman dan sel-sel yang digunakannya untuk pertumbuhan memiliki
kesamaan-kesamaan yang praktis tak berbeda. Meskipun antara satu jenis dengan yang
lainnya dapat dibedakan, tetapi semuanya dapat di klasifikasikan dalam satu kelompok
yang sama.
Hadirin, alangkah bahagia dan indahnya alam ini jika setiap individu memiliki
semangat dalam memelihara dan melestarikan alam raya yang kita huni ini, sehingga dapat
menghasilkan manfaat bagi semua manusia yang ada. Para ilmuan menyebut abad ke-21
sebagai the age of anxietyor restlenses, abad yang penuh dengan kegelisahan, kecemasan,
perang antar suku dan bangsa menjadi-jadi, resesi ekonomi melanda seluruh lapisan
warga, ledakan penduduk semakin tak terkendali bahkan pencemaran lingkungan menjadi
ancaman kehidupan.
Kondisi tersebut hadirin, jelas telah menimbulkan beban psikologis bagi kehidupan
masyarakat, akibatnya masyarakat menjadi serba salah, hati menjadi resah dan gelisah,
jiwa terasa hampa dan merana, semangat hidup tiada dan enggan berkaryabahkan yang
paling parah munculnya berbagai penyakit psikomotis, penyakit kejiwaan yang dapat
mematikan seluruh umat manusia secara perlahan dan mengerikan, kalaupun bertahan
namun hidup tidak lagi merasakan ketenangan.
Hadirin, lalu apakah tugas manusia di muka bumi ini? tidak lain adalah untuk
memakmurkan bumi, mensejahterakan umat manusia sendiri lebih-lebih lingkungan-nya
sebagai tempat tinggal dan menetap. Sebagaimana terurai di dalam al-Qur’an surat Huud
ayat 61 :
‫ال يَاقَ ْو ِم ا ْعبُ ُدوا هللاَ َما لَ ُك ْم ِم ْن إِلَ ٍه َغ ْي ُرهُ هُ َو أَ ْن َشأ َ ُك ْم‬ َ ‫َوإِلَى ثَ ُمو َد أَ َخاهُ ْم‬
َ َ‫صالِحًا ق‬
{ ٌ‫ض َوا ْستَ ْع َم َر ُك ْم فِيهَا فَا ْستَ ْغفِرُوهُ ثُ َّم تُوبُوا إِلَ ْي ِه إِ َّن َربِّي قَ ِريبٌ ُم ِجيب‬ ِ ْ‫ِم َن اأْل َر‬
{16
Artinya : “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: Hai
kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah
menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu
mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat
dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do`a hamba-Nya).”

Ma’asyiral muslimin Rakhimakumullah,

Demikianlah firman Allah yang yang menginformasikan kepada kita bahwa manusia
diciptakan dari tanah dan ditugasi untuk memakmurkan tanah atau bumi. Karena itu dalam
bidang ilmu pengetahuan alam kita mengenal istilah alam biotiks (alam raya) dan alam
abiotis (berupa moral manusia). Kerusakan alam biotiks biasanya berwal dari kerusakan
alam abiotis yakni moral manusia. Sebagai contoh : berdasarkan penelitian Wahana
Lingkungan Hidup di DKI Jakarta tercatat memiliki 2.118 Sumur Bor dengan kedalaman
tidak kurang dari 40 M, sehingga jika terjadi penambahan sumur lagi pada tahun 2010
nanti, Wilayah DKI Jakarta bisa mencapai daratan 0,0 M, dari permukaan laut alias rata
menjadi laut.
Ancaman kerusakan tersebut hadirin sebuah bukti yang harus kita renungkan, kita
fikirkan, kita cermati untuk kita antisifasi agar saat ini maupun kelak tidak lagi terjadi
kerusakan alam. Lalu bagaimanakah tanggung jawab dan usaha kita sebagai warga negara
dalam memelihara alam lingkungan ini? Sebagai jawabannya,   Pertama : Kita harus
mendukung dan membantu program pemerintah dengan jalan melakukan reboisasi tanah-
tanah gundul, pembuatan terasering untuk mencegah longsor, penanggulangan limbah dan
sampah bersama-sama dan menghentikan pemburuan satwa serta penebangan hutan
secara liar. Kedua : Kita syukuri alam sebagai nikmat Allah swt dengan cara memeliharanya
agar kita dikasihi oleh Allah swt. Rasulullah saw bersabda :

‫إرحموا من فى األرض يرحمكم من فى السماء‬


“Sayangilah oleh kamu sekalian segala apa yang ada di muka bumi ini niscaya yang di atas
(Allah) akan menyayangimu.”

Apabila sikap ini kita aplikasikan maka Allah swt menjamin kemakmuran alam raya
yang kita miliki sehingga kita jauh dari petaka, terhindar dari bencana tapi dekat dengan
nikmat dan barakat dari Allah swt yang Maha Qudrat.
Hadirin, perlu diketahui bahwa orang pintar tapi salah, tidak shaleh, tidak mungkin
memakkmurkan alam, orang hebat namun bergelimang maksiat mustahil peduli mengelola
alam raya, malah yang timbul adalah watak-watak perusak, pohon-pohon ditebangi,
gunung-gunung di gunduli, dan satwa-satwa diburu. Padahal akibatnya, manusia sendiri
yang menanggungnya, kita tengok beberapa kejadian baru-baru ini, terjadi banjir di
jakarta, lonesor, gempa bumi di Yogyakarta dan gunung-gunung meletus di beberapa
daerah Negara kita ini.
Belum cukup dengan semua itu kitapun dikejutkan dengan munculnya angin topan,
gelombang pasang naik kedaratan, jebolnya tanggul di Situ Gintung Tanggerang yang
menghabiskan ratusan nyawa manusia dan lain sebagainya. Mengapa demikian? Ebid G
Ade melantunkan :
Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan, bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

Dengan demikian, dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa alam akan berdaya guna
jika dipelihara, namun akan menimbulkan petaka jika dirusak. Bentuk perusakan alam
adalah dengan memperbanyak maksiat dalam hidup dan penghidupan manusia. Oleh
karena itu, dalam rangka mengelola alam ini kita hindari diri kita masing-masing dari
perbuatan-perbuatan maksiat, baik terhadap diri sendiri, terhadapa alam raya , terlebih
kepada Allah swt.
Semoga Allah memberikan kekuatau kepada kita dalam mengemban amanah sebagai
khalifah di muka bumi ini terutama dalam mengelola alam, semoga Allah memberikan
keberkahan kepada bangsa ini, amin ya rabbal ‘alamin.

‫وهللا المستعان إلى احسن الحال‬


‫والسالم عليكم ورحمة هللا وبركات‬
BAHAYA NARKOBA BAGI REMAJA
Alhamdulillah, tiada kata yang paling indah kecuali syukur kita kepada Allah, yang
maha pengasih yang kasih nya tidak pernah pilih kasih. Yang maha penyayang yang kasih
sayangnya
tidak pernah terbilang kepada hamba-hambanya yang beriman.
Shalawat serta salam semoga senantiasa selalu tercurah kepada baginda nabi
Muhammad SAW dengan ucapan Allahummashalliaalamuhammad waalaalisayyidina
Muhammad.
Dewan Hakim Yang Bijaksana, Hadirin Walhadirat Yang Di Muliakan Allah
Pernah Berkata Ir.. Soekarno seorang proklamator bangsa dalam pidatonya “berikan
kepadaku 1000 orang tua, aku akan sanggup memindahkan kutub utara dan keselatan, akan
tetapi berikan kepada 10 pemuda aku akan sanggup mengubah wajah bangsa,” hadirin
begitulah ungkapan seorang proklamator yang memikirkan nasib bangsanya di masa yang
akan datang entah 20, 30 bahkan 40 thn yg akan datang pemuda hari ini jawabannya.
Al-Muhaddits Syaikh Muqbil bin Hadi didalam kitab Shohih Asbab an-Nuzul berkata,
Ibnu Abbas menjelaskan, bahwa pengharaman khamar berawal dari dua kabilah dari
kabilah Anshor, mereka meminumnya hingga apabila mereka telah mabuk, maka mereka
akan saling menggangu,menghina satu sama lainnya. Dengan Demikianlah, pertama kali
Allah menjelaskan pengharaman khamar kepada kita semua sebagai hambanya. Untuk
mengantisipasi penyalahgunaan barang haram tersebut, maka “Bahaya Narkoba Bagi
Remaja” adalah tema yang akan kami uraikan pada kesempatan ini. Dengan rujukan al-
Qur`an surat al-maidah ayat 90 sebgai berikut:

Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban
untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah [434], adalah termasuk perbuatan syaitan.
Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Hadirin Sebangsa Dan setanah air


Ayat tersebut mengisyaratkan haramnya khamar. Kita kaji lebih dalam,kalimat ‫اِنّما‬
dari segi balaghoh merupakan ‫ اداة القصر‬yang berfunggsi untuk menspesifikasikan. Hal ini
menunjukan bahwa mengkonsumsi khamar betul-betul merupakan perbuatan yang paling
jelek    diantara perbuatan syetan.
Padahal kita tahu, semua perbuatan syaitan itu jelek, mengkonsumi khamar lebih
jelek diantara perbuatan jeleknya syaitan, mengapa demikian? karna khamar baik dalam
bentuk serbuk, pil, maupun minuman merupakan psychotropic substance, mengandung
zat-zat yang dapat merusak jiwa dan mental manusia yang mengkonsumsinya. Dengan
mengkonsumsi khamar orang yang gemuk bisa jadi kurus kerempeng, apalagi yang sudah
ceking. Dengan mengkonsumsi khamar, akal dan mental menjadi rusak maka pemuda
pecandu narkoba bukan memiliki mental pelopor, tetapi memiliki mental mental pengekor,
kemana-mana maunya naik motor, padahal kerja cuma molor, disiplin hanya waktu dibagi
honor. Mental ini hadirin merupakan amal-amal syaitan yang jelek bahkan ‫رجس من عمل‬
‫ الشيطان‬lebih buruk dari perbuatan syaitan. Oleh karna itu ayat tersebut mengisyaratkan
kepada kita untuk dapat menjauhi perbuatan syaitan itu agar kamu mendapat
keberuntungan. Lalu bagaimana kalau mengkonsumsi nya dalam jumlah yang sedikit yang
tidak membuat mabuk ?? jawabannya adalah terdapat dalam hadits :
‫كل مسكرخمروكل مسكرحرام‬ 
Artinya : Setiap zat yang memabukkan itu kmar dan setiap zat yang memabukkan itu haram.
(HR. Abdullah Ibnu Umar)

Hadirin Rahimakumullah
Penyalahgunaan narkoba sebenarnya bukan masalah baru lagi, namun akibatnya,
harus tetap kita waspadai. Bahkan pada masa Rosulullah SAW sebagaimana diriwayatkan
oleh Imam Ahmad yang bersumber dari Abu Hurairah. Bahwa ketika Rosulullah SAW pergi
ke Madinah, di dapatnya kaumnya suka minum arak dan makan hasil judi, kemudian
mereka bertanya kepada Rosulullah tentang hal itu, untuk memberikan jawaban atas
pertanyaan itu, maka turunlah Surat Al-Baqarah ayat 219. Allah berfirman

Artinya: mereka bertanya kepada-mu (Muhammad) tentang khomr dan judi. Katakanlah.
“pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya
lebih besar dari pada manfaatnya” dan mereka bertanya kepadamu (tentang)apa yang
(harus) mereka infakkan. Katakanlah, “kelebihan (dari apa yang diperlukan)”. Demikianlah
Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu berfikir ”\

Jama’ah Syarhil Qur’an Rohimakumullah

Ayat 219 Surat Al-Baqarah ini, menunjukkan bukti yang otentik bahwa sejak dulu
hingga sekarang, minum-minuman keras, judi, dan penyalahgunaan narkoba kegemaran
dan kebanggaan yang senantiasa menegakkan umat. Ketiganya nampak seperti
bermanfaat, namun hakekatnya, aslinya sangat berbahaya dan terlaknat, karena tidak
hanya mengandung unsur yang memabukkan, tetapi membuat pecandunya ketagihan
kemudian lumpuh serta mati akal pikiran dan jiwanya. Sedangkan mabuk karena judi,
membuat selalu penasaran, yang kemudian stress dan gila jiwanya. Lalu menjangkitlah
penyakit “hubbuddunya wa karohhiyatul maut”. Cinta dunia dan takut dengan mati oleh
karena itu Allah mengharamkannya.
Pendeknya, bentuk apapun narkoba itu, merupakan kumpulan dan gabungan racun
dan bius pembunuh serta pembantai akal pikiran dan jiwa seluruh jenjang generasi, sejak
generasi yang gagah berotot, sampai ke generasi kakek nenek yang sudah bongkok.
Begitulah ganasnya narkoba itu sebagai penyakit masyarakat yang maha bahaya. Oleh
karena itu, dalam rangka menanggulangi bahaya, maka harus memutuskan rantai
peredaran penyalahgunaan narkoba. Mampu menegakkan hukum bagi para pengguna,
pengedar, dan prosedur dengan se adil-adilnya tidak pandang bulu. Tak peduli dia rakyat
atau pejabat, tak peduli mereka kuli atau polisi, berpangkat tinggi, pengamen atau bahkan
presiden.
Hadirin rahimakumullah.
Pernah diungkapkan oleh salah satu lembaga bonafid Amerika”The National
Institute of Drugs Abuse, melaporkan bahwa masyarakat Amerika merupakan draugs
orientied society. Suatu masyarakat yang berorientsi pada narkotika, alcohol, psikotropika
dan zat     aditif yang dinamakan Napza sehingga satu dari enam pelajar Amerika tenggelam
kedalam penyalah gunaan Napza. Fenomena tersebut kini telah menjadi epidemic bagi
masyarakat Indonesia terutama bagi kalangan remaja dan pemuda, Prof.Dr.H.Dadang
Hawari mengatakan, 68% masyarakat Indonesia terjerumus kedalam penyalah gunaan
Napza tidak sedikit anak-anak pemuda kita terjerumus kedalam mabuk mabukkan, tenggak
wishky, brendy, KTI,    bird an lain sebagainya  Tidak sedikit anak-anak muda kita
terjerumus kepada budaya telan bk, nivam, megadon, cimeng, heroin, kokain, x tasi, sabu-
sabu.
Bahkan tidak sedikit anak-anak muda kita yang mati diujung lidahnya hanya dua kata yang
terucap : ganja, morfin, ganja, morfin. Merintih, memohan, memanggil ganja dan morfin
sampai dia mati,tanpa iman. Naudzubillah hi min dzalik.
Lalu hadirin bagaimana generasi muda kalau sudah terjerumus dengan narkoba mau
dibawa kemana bangsa kita saat ini? Padahal di negri tercinta ini sejak tahun 1908 masa
Kebangkitan Nasional sampai menjelang detik-detik proklamasi dikumandangkan para
pemuda pendahulu kita, mereka berjuang menjadi The Grand Old Man istilah bung karno,
menjadi Stoot Geber, bahkan The Founding Father. Pendiri peggerak yang mampu
merebut kemerdekaan, jika tanpa pemuda mustahil Republik ini merdeka. Demikian
pengakuan Bung Karno yang diabadikan dalam sejarah bangsa
Sejarah tersebut mengajarkan kepada kita, saya, saudara-saudara generasi muda saat
ini dan generasi generasi yang akan datang agar memiliki semangat juang yang tinggi serta
tanggung jawab yang penuh terhadap kelangsungan Nusa Bangsa dan Agama yang kita
anut.   Sebab ‫ شبّان اليوم رجال الغد‬the young to day is leader tomorrow, pemuda hari ini
adalah jago-jagonya pemimpin dimasa yang akan datang.

Hadirin sebangsa dan setanah air.

Dengan demikian mari kita bersama-sama menjaga keutuhan bangsa dengan cara
meningkatkan ukhuwah basyariyah, ukhwah wathoniyah dan ukhuwah Islamiyah untuk
mengantisipasi keharaman Napza, Miras dan Judi, Insya Allah negra kita menjadi Negara
yang     baldatun Toyyibatun warabbun Gofur mari kita hadirin semuanya bersama-sama
bekerja   sama baik aparatur pemerintah, masyarakat  pemuda dan kiat sebagai pelajar
untuk memberantas narkoba  di bumi Indonesia tercinta ini khususnya di Banten yang
berlandasan Iman dan Taqwa, demikianlah yang dapat kami sampaikan Trimakasih atas
segala perhatianya, mohon maaf atas segala kekurangan.
Akhir kalam. Billahitaufik walhidayah warridho walinayah.
Wassalamualaikum.wr.wb
REMAJA DAN PEMUDA SEBAGAI GENERASI
PENERUS BANGSA
Hadirin Rakhimakumullah….

Masa muda merupakan masa  yang  penuh  dengan  harapan,  penuh  dengan  cita-
cita dan penuh dengan romantika kehidupan yang sangat indah. Keindahan masa muda
dihiasi dengan bentuk fisik yang masih kuat, berjalan masih cepat, pendengaran masih
akurat, pikiran masih cermat, kulit wajah indah mengkilat, walaupun banyak jarawat,
tetapi tidak gawat karena masih banyak obat ditoko-toko terdekat, oleh karena itu pantas
bila para pemuda dan para remaja merupakan salah satu penentu meju dan mundurnya
suatu Negara. Sebab terbukti sejak dahulu kala hingga saat ini dan sampai yang akan
datang sesuai dengan fitrohnya pemuda dan remaja merupakan tulang punggung suatu
Negara, penerus estafet perjuangan terhadap bangsanya. Sebagaimana syekh Mustofa al-
Ghalayaini seorang pujangga Mesir berkata :

‫ حيتها‬U‫أن فى يد الشبان أمر األمة وفى أقدامها‬


“Sesungguihnya pada tangan-tangan pemudalah urusan umat dan pada kaki-kaki
merekalah terdapat kehidupan umat”

Mengingat betapa pentingnya remaja dan pemuda sebagai generasi  penerus


bangsa, maka pada kesempatan yang baik ini kita akan membicarakan remaja dan pemuda
sebagai generasi penerus bangsa, dengan landasan al-Qur’an surat an-Nisa ayat : 9

Artinya : “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)
mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar”
Hadirin Ma’asyiral Muslimin Rakhimakumullah…..
Ayat tersebut diawali dengan kalimat  ‫ واليخش‬kita kaji lebih mendalam, secara semantik :
‫الواو واوالعاطفة واالم الم اآلمر يخش فعل المضارع مجزوم بالم‬
Istinbatnya, ‫ واليخش‬adalah sighat amr, kaedah mengatakan :
‫األصل في األمر للوجوب‬
“pada dasanya setiap perintah menunjukkan kewajiban” Oleh karena itu wajib bagi kita,
saya, saudara dan kita semua merasa takut jika meninggalkan anak-anak, keturunan dan
generasi yang lemah.

Prof. Dr. BJ. Habibi mengatakan setidaknya ada lima kelamahan yang harus kita
hindari, yakni lemah harta, lemah fisik, lemah ilmu, lemah semangat hidup, dan yang sangat
ditakutkan adalah lemah akhlak. Hadirin jika lima kelemahan ini melekat pada generasi-
generasi remaja dan pemuda kita, saya yakin mereka bukan sebagai pelopor pembangunan
melainkan sebagai firus pembangunan, penghambat pembangunan, bahkan penghancur
pembangunan. Padahal hadirin dinegeri tercinta ini sejarah telah membuktikan sejak tahun
1908 masa kebangkitan nasional sampai menjelang detik-detik proklamasi
dikumandangkan berbagai organisasi kepemudaan, seperti persatuan pelajar stofia,
Trikoro Dharmo, Jong Islamanten Bond bahkan kita mengenal Budi Utomo tokoh pemuda
kharismatik, mereka semua menjadi The Grand Old Man istilah bung Karno menjadi Stood
Geeber bahkan menjadi The Founding Father pendiri, penggerak yang mampu merebut
kemerdekaan. Jika tanpa pemuda mustahil Indonesia ini merdeka. Demikian ungkapan
kekaguman Bung Karno terhadap generasi muda kita yang diabadikan oleh sejarah
perjuangan bangsa.
Sejarah tersebut mengajarkan kepada kita semua selaku remaja dan pemuda saat ini
dan yang akan datang agar memiliki semangat juang yang tinggi serta tanggung jawab yang
penug terhadap kelangsungan Nusa Bangsa dan Agama yang kita anut saat ini, sebab ‫سبان‬
‫ اليوم رجال الغد‬The Young today is The leader tomorrow pemuda hari ini adalah jago-jagonya
pemimpin yang akan datang.
Dengan demikian hadirin, islam tidak mengenal istilah pemuda pengangguran,
pemuda mejeng, pemuda nangkring, tapi yang diinginkan oleh islam adalah pemuda-
pemuda yang agresif, inopatif, progresif, dan produktif. Dengan demikian, dapat kita fahami
apabila kita giat berkerja, rajin berusaha, dan gemar beramal artinya menuju masa depan
yang cerah menjanjikan. Namun jika remaja dan pemuda malas berkerja, enggan berusaha,
dan tidak mau beramal artinya menuju masa depan yang suram dan mengenaskan. Sebab :
‫الكسل ال يطعم العسل‬
“Insan yang pemalas tidak akan merasakan manisnya madu”  melainkan akan tenggelam
dalam pahitnya empedu. No again without a paint tiada kebahagiaan tanpa lemah derita,
tiada perjuangan tanpa pengorbanan.
Sebagai contoh bagi remaja dan pemuda sebagai generasi penerus bangsa, mari kita
renungkan firman Allah swt dalam al-Qur’an surat al-Kahfi ayat : 13

Artinya : “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita Ini dengan benar. Sesungguhnya
mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah
pula untuk mereka petunjuk.”

Hadirin Rakhimakumullah
Imam Ali as-Shabuni dalam kitab Sofwatut tafasir memberikan syarahan terhadap
ayat tersebut dengan redaksi :
‫نحن نقص عليك يا محمد خبرهم العجيب على وجه الصدق بال زيادة وال‬
‫نقصان‬
“yaitu kami kisahkan kepadamu wahai Muhammad berita aneh mereka menurut perjalanan
yang benar tidak ditambah dan tidak dikurangi sedikitpun”.
Dengan demikian, ayat tersebut merupakan khabariyyah ilahiyyah, suatu berita dari
Allah swt. Isi beritanya adalah kisah tentang pemuda Ashabul Kahfi. Ashabul kahfi dapat
kita jadikan uswah, terutama bagi remaja dan pemuda selaku generasi penerus bangsa.
Ashabul kahfi merupakan symbol personifikasi pemuda-pemuda beriman dan teguh
pendirian, kuat mempertahankan iman, pemuda-pemuda gagah yang pandai
pempertahankan akidah dan pemuda-pemuda idaman pintar membela keyakinan. Mereka
lebih baik mati berkalang tanah dari pada mati bercermin bangkai.
Oleh sebab itu sebagai remaja dan pemuda selaku generasi penerus bangsa mari
kita singsingkan tangan, langkahkan kaki ke depan berkerja, kerkerja dan berkerja. Jika
sikap ini yang diaflikasikan oleh para remaja dan pemuda kita maka Allah akan menjamin
keberkahan bagi bangsa kita tercinta ini. Sebagaimana  Dr. Muhammad Sulaiman al-Asqori
dalam zubdat at-Tafsir min Fathil Qadir menjelaskan ‫ إعملوا ماشئتم‬berkerjalah sesuai dengan
skil masing-masing. Setidaknya ada lima olah yang harus kita kerjakan yakni olah rasa agar
iman melekat, olah rasio agar ilmu meningkat, oleh raga agar badan sehat, oleh usaha agar
ekonomi kuat, dan oleh kinerja agar produktifitas meningkat. Hadirin jikalau lima potensi
ini sudah melakat pada remaja dan pemuda sebagai generasi bangsa maka generasi
penerus bangsa dapat melanjutkan estafet perjuangan yang meraih prestasi gemilang pada
masa yang akan datang. Amin ya rabbal alamin…
BAHAYA NARKOBA, MIRAS DAN JUDI

Pernah Berkata Ir.. Soekarno seorang proklamator bangsa dalam pidatonya “berikan
kepadaku 1000 orang tua, aku akan sanggup memindahkan kutub utara dan keselatan,
akan tetapi berikan kepada 10 pemuda aku akan sanggup mengubah wajah bangsa, hadirin
begitulah ungkapan seorang proklamator yang memikirkan nasib bangsanya di masa yang
akan datang entah 20, 30 bahkan 40 thn yg akan datang pemuda hari ini jawabannya.
Al-Muhaddits Syaikh Muqbil bin Hadi didalam kitab Shohih Asbab an-Nuzul berkata,
Ibnu Abbas menjelaskan, bahwa pengharaman khamar berawal dari dua kabilah dari
kabilah Anshor, mereka meminumnya hingga apabila mereka telah mabuk, maka mereka
akan saling menggangu,menghina satu sama lainnya. Dengan Demikianlah, pertama kali
Allah menjelaskan pengharaman khamar kepada kita semua sebagai hambanya. Untuk
mengantisipasi penyalahgunaan barang haram tersebut, maka “Bahaya Narkoba Bagi
Remaja” adalah tema yang akan kami uraikan pada kesempatan ini. Dengan rujukan al-
Qur`an surat al-maidah ayat 90 sebgai berikut:

Hadirin Sebangsa Dan setanah air


Ayat tersebut mengisyaratkan haramnya khamar. Kita kaji lebih dalam,kalimat ‫اِنّما‬
dari segi balagoh merupakan ‫ اداة القصر‬yang berfunggsi untuk menspesifikasikan. Hal ini
menunjukan bahwa mengkonsumsi khamar betul-betul merupakan perbuatan yang paling
jelek diantara perbuatan syetan. Padahal kita tahu, semua perbuatan syaitan itu jelek,
mengkonsumi khamar lebih jelek diantara perbuatan jeleknya syaitan, mengapa demikian ?
karna khamar baik dalam bentuk serbuk, pil, maupun minuman merupakan psychotropic
substance, mengandung zat-zat yang dapat merusak jiwa dan mental manusia yang
mengkonsumsinya. Dengan mengkonsumsi khamar orang yang gemuk bisa jadi kurus
kerempeng, apalagi yang sudah ceking. Dengan mengkonsumsi khamar, akal dan mental
menjadi rusak maka pemuda pecandu narkoba bukan memiliki mental pelopor, tetapi
memiliki mental mental pengekor, kemana-mana maunya naik motor, padahal kerja cuma
molor, disiplin hanya waktu dibagi honor. Mental ini hadirin merupakan amal-amal syaitan
yang jelek bahkan ‫ رجس من عمل الشيطان‬lebih buruk dari perbuatan syaitan. Oleh karna itu
ayat tersebut mengisyaratkan kepada kita untuk dapat menjauhi perbuatan syaitan itu agar
kamu mendapat keberuntungan.
Hadirin Rahimakumullah
Pernah diungkapkan oleh salah satu lembaga bonafid Amerika”The National Institute
of Drugs Abuse, melaporkan bahwa masyarakat Amerika merupakan draugs orientied
society. Suatu masyarakat yang berorientsi pada narkotika, alcohol, psikotropika dan zat
aditif yang dinamakan Napza sehingga satu dari enam pelajar Amerika tenggelam kedalam
penyalah gunaan Napza. Fenomena tersebut kini telah menjadi epidemic bagi masyarakat
Indonesia terutama bagi kalangan remaja dan pemuda, Prof.Dr.H.Dadang Hawari
mengatakan, 68% masyarakat Indonesia terjerumus kedalam penyalah gunaan Napza tidak
sedikit anak-anak pemuda kita terjerumus kedalam mabuk mabukkan, tenggak wishky,
brendy, KTI, bird an lain sebagainya  Tidak sedikit anak-anak muda kita terjerumus kepada
budaya telan bk, nivam, megadon, cimeng, heroin, kokain, x tasi, sabu-sabu. Bahkan tidak
sedikit anak-anak muda kita yang mati diujung lidahnya hanya dua kata yang terucap :
ganja, morfin, ganja, morfin. Merintih, memohan, memanggil ganja dan morfin sampai dia
mati,tanpa iman. Naudzubillah hi min dzalik.
Lalu hadirin bagaimana generasi muda kalau sudah terjerumus dengan narkoba mau
dibawa kemana bangsa kita saat ini? Padahal di negri tercinta ini sejak tahun 1908 masa
Kebangkitan Nasional sampai menjelang detik-detik proklamasi dikumandangkan para
pemuda pendahulu kita, mereka berjuang menjadi The Grand Old Man istilah bung karno,
menjadi Stoot Geber, bahkan The Founding Father. Pendiri peggerak yang mampu merebut
kemerdekaan, jika tanpa pemuda mustahil Republik ini merdeka. Demikian pengakuan
Bung Karno yang diabadikan dalam sejarah bangsa
Sejarah tersebut mengajarkan kepada kita, saya, saudara-saudara generasi muda saat
ini dan generasi generasi yang akan datang agar memiliki semangat juang yang tinggi serta
tanggung jawab yang penuh terhadap kelangsungan Nusa Bangsa dan Agama yang kita
anut. Sebab ‫ شبّان اليوم رجال الغد‬the young to day is leader tomorrow, pemuda hari ini adalah
jago-jagonya pemimpin dimasa yang akan datang.
Hadirin sebangsa dan setanah air
Dengan demikian mari kita bersama-sama menjaga keutuhan bangsa dengan cara
meningkatkanukhuwah basyariyah, ukhwah wathoniyah dan ukhuwah Islamiyah untuk
mengantisipasi keharaman Napza, Miras dan Judi, Insya Allah negra kita menjadi Negara
yang baldatun Toyyibatun warabbun Gofur mari kita hadirin semuanya bersama-sama
bekerja sama baik aparatur pemerintah, masyarakat  pemuda dan kiat sebagai pelajar
untuk memberantas narkoba  di bumi Indonesia tercinta ini khususnya di Banten yang
berlandasan Iman danb Taqwa, demikianlah yang dapat kami sampaikan kurang lebihnya
mohon maaf, sebelum kami tutup dengarkanlah sebuah alunan pantun

‫والسال م عليكم ورحمة هللا وبرمكاته‬


AL-QUR’AN SUMBER ILMU PENGETAHUAN

‫الحمد هلل العزة الذى جئهم بكتاب فصلناه على علم هدى ورحمة لقوم يؤمنون‬
‫أشهد أن ال إله إال هللا وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله أللهم فصلى وسلم‬
{‫على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين {أما بعد‬
WAHAI PENCINTA AL-QUR’AN YANG DIRAHMATI OLEH ALLAH SWT
Albert Einstein, seorang ilmuan terbesar abad ke-20 menyatakan, “Religion without
science is lame and science without relegion is blind”, agama tanpa ilmu adalah pincang dan
ilmu tanpa agama adalah buta. Kalimat ini menunjukkan bahwa, agama tidak hanya
mendorong studi ilmiah, tapi juga menjadikan riset ilmiah yang konklusif dan tepat guna,
karena didukung oleh kebenaran yang diungkapkan melalui agama. Alasannya adalah,
karena agama merupakan sumber tunggal yang menjadikan jawaban pasti dan akurat.
Selain daripada itu, kalimat ini juga menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tanpa panduan
agama tidak dapat berjalan dengan benar, tetapi justru membuang banyak waktu dalam
mencapai hasil tertentu, atau lebih buruk lagi, seringkali tidak memperoleh bukti yang
meyakinkan. Ketika Nabi sampai di Madinah, ia membuat sebuah perdaban baru yang
kemudian memunculkan pengertian bahwa Islam adalah sistem kepercayaan yang
sistemik, tidak hanya berdimensi theological, ritual, dan mistical tetapi juga berdimensi
moral dan intelektual.
Secara termonologi, Islam adalah agama yang disampaikan oleh Allah swt. kepada
Nabi Muhammad saw. melalui wasilah Malaikat Jibril as. agar disyiarkan kepada seluruh
makhluk di dunia ini, dan karena Islam merupakan ajaran yang ilmiah, maka Islam memilki
panduan yang sempurna yakni al-Qur’an. Said Nursi sebagai Renaissan of Islam
menyatakan, “Islam is the father of all the science and al-Qur’an is the book of science”, Islam
adalah bapaknya seluruh ilmu pengetahuan dan al-Qur’an adalah kitabnya ilmu
pengetahuan. Oleh sebab itulah, melalui penjelasan ini, maka pada kesempatan yang baik
ini, kami akan membahas tentang “AL-QUR’AN SEBAGAI SUMBER ILMU PENGETAHUAN”
dengan rujukan al-Qur’an surat Ibrahim ayat 1 :

‫ور بِإ ِ ْذ ِن َربِّ ِه ْم‬ ُّ ‫اس ِم َن‬


ِ ‫الظلُ َما‬
ِ ُّ‫ت إِلَى الن‬ َ ‫الر ج ِكتَابٌ أَ ْن َز ْلنَاهُ إِلَي‬
َ َّ‫ْك لِتُ ْخ ِر َج الن‬
(1( ‫يز ْال َح ِمي ِد‬ ِ ‫اط ْال َع ِز‬ ِ ‫ص َر‬ ِ ‫إِلَى‬
Artinya : “Alif laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu
mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin
Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS.
Ibrahim)

HADIRIN RAHIMAKUMULLAH

Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, di dalam Tafsir al-Mishbah menjelaskan, bahwa
penjelasan tentang pentingnya al-Qur’an, disebutkan oleh Allah swt. dengan menggunakan
bentuk jamak untuk kata (‫ )الظلمات‬yang berarti aneka gelap, sedang (‫ )النور‬dengan berbetuk
tunggal. Hal ini untuk mengisyaratkan bahwa kegelapan itu bermacam-macam  serta
beraneka  ragam  dan sumbernya pun banyak. Setiap benda pasti mempunyai bayangan,
dan bayangan itu adalah gelap, sehingga gelap menjadi banyak, berbeda dengan an-nuur
atau cahaya yang menerangai dan tidak pernah memberi gelap.
Penjelasan tentang al-Qur’an sebagai penerang atau an-nuur, benar-benar
menunjukkan bahwa antara al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan terdapat hubungan yang
saling mengikat. Malik bin Nabi di dalam kitabnya Intaj al-Mustasyriqin wa Atsaruhu fi al-
Firy al-Hadits, menulis “Ilmu pengetahuan adalah sekumpulan masalah, serta sekumpulan
metode yang dipergunakan menuju tercapainya masalah tersebut.” Ini menunjukkan
bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak dapat dinilai dengan apa yang
dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur dengan wujudnya suatu iklim
yang dapat mendorong kemajuan ilmu pengetahuan itu termasuk al-Qur’an.
Al-Qur’an merupakan firman Allah yang tidak mengandung kontradiksi. Al-
Qur’anlah kitab yang telah diturunkan oleh Allah kepada utusannya sebagai petunjuk. Al-
Qur’an adalah kitab terakhir dan berada dalam penjagan Allah swt. Oleh sebab itu, sains
akan berkembang cepat hanya apabila dituntun oleh al-Qur’an, dan mengambil kebenaran
darinya. Karena, hanya dengan demikian sains mengikuti jalan Allah. Ketika jalan yang
bertentangan dengan agama diambil, para ilmuan menyia-nyiakan waktu dan sumberdaya,
serta menghalangi kemajuan sains. Demikianlah menurut Harun Yahaya dalam The Qur’an
Leads the Way to Science.
Lalu bagaimanakah dinamika keilmuan umat Islam saat ini? Data Badan Penelitian
International menyebutkan, Israel yang notabene Yahudi dalam 1 juta penduduk memiliki
1600 pakar pengetahuan, Amerika yang notabene Nasrani dalam 1 juta penduduk memiliki
160 pakar pengetahuan. Sedangkan Indonesia yang notabene mayoritas muslim terbesar di
dunia, dalam 1 juta penduduk hanya memilki 65 pakar yang muslimnya hanya 6 orang.
Oleh karenanya, dalam bidang sains dan teknologi, kita masih jauh tertinggal oleh bangsa-
bangsa lain. Kita jauh tertinggal dengan Amerika yang Protestanis, kita jauh tertinggal oleh
Korea yang Konfusianis Taois, bahkan kita jauh tertinggal oleh Jepang yang Budhis Taois.
Padahal 14 abad yang lalu kita telah diperintahkan untuk membaca dan menggali ilmu
pengetahuan. Bacalah al-Qur’an supaya hidup teratur, bacalah alam supaya lahir karya-
karya luhur, dan baca diri kita agar hidup tidak takabur, sebab membaca dalam Islam harus
dibarengi dengan serta diimbangi dengan :
َ َ‫ك الَّ ِذي َخل‬
‫ق‬ َ ِّ‫بِاس ِْم َرب‬
“Dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”
Akantetapi, untuk dapat memahami dengan jelas dan benar terhadap  interpretasi
dari firman-firman Allah di dalam al-Qur’an, yang menjelaskan tentang korelasi antara al-
Qur’an dan ilmu pengetahuan, serta mengambil manfaat darinya untuk menjadikannya
sebagai sumber ilmu pengetahuan, maka salah satu yang harus dilakukan adalah dengan
dapat memahami al-Qur’an secara tekstual terlebih dahulu, yakni memahami al-Qur’an dari
segi kebahasaan, dan bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab. Sebagaimana Allah berfirman
di dalam al-Qur’an surat Thaha ayat 113 :
‫ون أَ ْو‬
َ ُ‫ص َّر ْفنَا فِي ِه ِم َن ْال َو ِعي ِد لَ َعلَّهُ ْم يَتَّق‬
َ ‫ك أَ ْن َز ْلنَاهُ قُرْ َءانًا َع َربِيًّا َو‬
َ ِ‫َو َك َذل‬
)113( ‫ث لَهُ ْم ِذ ْكرًا‬ ُ ‫يُحْ ِد‬
Artinya : “Dan demikianlah Kami menurunkan Al Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah
menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka
bertakwa atau (agar) Al Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.” (QS. Thaha)

HADIRIN RAHIMAKUMULLAH

Di dalam kitab Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil al-Qur’an, Imam al-Thabari menjelaskan
bahwa yang dimaksud dengan firman Allah di atas adalah :
‫ما حذروا به من أمر هللا وعقابه ووقائعه باألمم قبلهم‬
“Apa yang diperingatkan kepada mereka merupakan perintah Allah, hukuman-Nya, dan
ketetapan-ketetapannya terhadap umat-umat sebelum mereka.”

Jika kita perhatikan secara sekasama, maka kita dapatkan bahwa ayat di atas
menjadikan kehadiran al-Qur’an bagi umat manusia mengandung salah satu dari tujuan
pokok :
1.      Agar manusia bertakwa kepada Allah atau agar kitab suci tersebut menimbulkan niali-
nilai ilmiah bagi mereka, sehingga mereka dapat terhindar dari siksa duniawi dan ukhrawi.
2.      Menimbulkan pengajaran atau pendidikan bagi mereka yakni mengundang mereka
untuk berpikir dan ingat sehingga pada akhirnya mengantar mereka bertkawa.
Demikianlah menurut Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah.
Hadirin, memperhatikan penjelasan tersebut, maka jelaslah bahwa al-Qur’an benar-
benar merupakan sumber ilmu pengetahuan, hal ini juga bisa dilihat dari ditemukannya
kata-kata ilmu dalam berbagai bentuknya di dalam al-Qur’an yang terulang sebanyak 854
kali. Di samping itu, banyak pula ayat-ayat al-Qur’an yang menganjurkan untuk
menggunakan akal pikiran, penalaran dan sebagainya. Untuk itu, tiada yang lebih baik
dituntut  dari suatu kitab agama menyangkut bidang ilmu kecuali anjuran untuk berpikir,
serta tidak menetapkan suatu ketetapan yang membatasainya menambah pengetahuan
selama dan di mana saja ia kehendaki.
Pada akhirnya kami mengajak…Wahai saudara-saudaraku orang Semendo “ayo kite
jadikah al-Qur’an kandik pedoman hidup”, wahai saudara-saudaraku orang Sunda “Hayu
urang sami-sami ngajanten keun al-Qur’an kanggo tuntunan kahirupan urang”, wahai
saudara-saudaraku orang Lampung “Lapah gham jadikon al-Qur’an sebagai pegungan ughi’
”, wahai saudar-saudaraku orang Solo “Sumonggo kulo lan panjenengan dadosaken al-
Qur’an kagem tuntunangin gesang”, wahai saudara-saudaraku orang Prancis “Allez utilisez
I’al-Qur’an pour le guide de notre vivre”, wahai saudara-saudaraku orang Jepang “Jaa al-
Qur’an wa wa watashitachi no kyoukashou ni narimashoo”.
Demikianlah yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan ada manfaatnya :
‫والسال م عليكم ورحمة هللا وبرمكاته‬
AL-QUR’AN DAN RANCANG BANGUN MASA DEPAN
PERADABAN MANUSIA
‫السالم عليكم ورحمة هللا وبركاته‬
‫الحمد هلل الذي أنزل القرءان هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان الصالة‬
‫ أما بعد‬: ‫ اله وصحبه الى يوم البيان‬U‫والسالم على خير اإلنسان وعلى‬
Dewan hakim yang kami hormati
Hadirin yang kami cintai
Napoleon, seorang orientalis berkebangsaan Perancis mengatakan “The principle of
Quran with alone of tracking can lead man to happiness”, Al-Qur’an adalah prinsip dan
merupakan satu-satunya kitab suci yang dapat menghantarkan kepada kepulauan nan
bahagia.
Ungkapan tersebut hadirin, mengisyaratkan kepada kita bahwa Al-Qur’an laksana
lampu penerang hati dalam menembus liku-liku perjuangan yang panjang membentang. Al-
Qur’an adalah laksana benteng yang kokoh dalam mengcaunter tipuan dan godaan syetan.
Al-Qur’an laksana jimat penyelamat dari kesesatan hidup dan kehidupan. Pendek kata Al-
Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang berisi petunjuk dan kebahagiaan serta
senantiasa relevan dengan perkembangan dan situasi zaman. Oleh karena itu Rasul
mengatakan:
‫اقرءوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا الصحابه‬
“bacalah dan kajilah Al-Qur’an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai penolong”

Dalam rangka menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia,
pada kesempatan berbahagia ini kami akan membahas tentang “AL-QUR’AN DAN
RANCANG BANGUN MASA DEPAN PERADABAN MANUSIA”, dengan rujukan surat yunus
ayat 57:
ِ ‫يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَ ْد َجاء ْت ُكم َّم ْو ِعظَةٌ ِّمن َّربِّ ُك ْم َو ِشفَاء لِّ َما فِي الصُّ ُد‬
‫ور َوهُدًى‬
﴾٥٧﴿ ‫ين‬ َ ِ‫َو َرحْ َمةٌ لِّ ْل ُم ْؤ ِمن‬
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat
bagi orang-orang yang beriman.

Hadirin…Ayat tadi dalam ilmu balaghah termasuk “‫ ”كالم خبري او إنكاري‬yang


meginformasikan sekaligus menegaskan bahwa sungguh telah datang  kepada manusia Al-
Qur’an yang memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus dan mengeluarkan manusia
dari kegelapan. Lalu apakah fungsi dan peran Al-Qur’an itu hadirin dalam merancang
bangun peradaban manusia? Ayat tadi sebagaimana ditafsirkan oleh Imam Ali Ash-Shabuni
dalam Shafwatut Tafasir, menjelaskan ada empat fungsi diturunkannya Al-Qur’an yaitu:
Pertama, “‫ ” َّموْ ِعظَةٌ ِّمن َّربِّ ُك ْم أي موعظة من خالقكم‬Al-Qur’an sebagai pelajaran dari Tuhan
yang Maha pengajar. Berkaitan dengan hal tersebut, Imam Al-Ghazali dalam “Jawahir al-
Qur’an” mengatakan seluruh cabang ilmu pengetahuan baik yang datang terdahulu maupun
kemudian, baik yang teah diketahui maupun belum, semuanya bersumber  dari Al-Qur’anul
karim. Sebagai bukti bukankah karena Al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan bahasa
arab telah mendorong lahirnya ilmu tata bahasa yang kemudian kita kenal dengan ilmu
nahwu dan sharaf, bukankaj karena Al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan bahasa
indah, retoris dan puitis dan argumentatis telah mendorong lahirnya ilmu retorika dan
sastra yang keudian kita kenal dengan ilmu balaghah dan mantiq, bukankah karena kita
diperintahkan untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar telah mendorong lahirnya
ilmu qiroaat yang kemudian kita kenal dengna ilmu tajwid.
Bukankah karena Al-Qur’an menceritakan proses penciptaan manusia dan alam
telah mendorong lahirnya ilmu kehidupan yang kemudian kita kenal dengan biologi,
bahkan  bukankah karena Al-Qur’an menceritakan karakteristik dan seluk beluk
masyarakat terdahulu telah mendorong lahirnya ilmu kemasyarakatan yang kemudian kita
kenal dengan sosiologi. Dengan demikian hadirin seluruh ilmu pengetahuan itu bersumber
dari Al-Qur’an.
Kedua, ‫ُور أي يشفى ما فيها من الشرك والشك والجهل‬ ِ ‫شفَاء لِّ َما فِي الصُّ د‬,
ِ Al-Qur’an sebagai obat
penyakit bathin seperti penyakit syirik, ragu dan bodoh. Kenapa Al-Qur’an berfungsi
sebagai obat penyakit bathin bukan penyakit zhahir? Jawabannya hadirin penyakit zhahir
memang berbahaya jika tidak diobati, tapi jauh lebih berbahaya jika kita punya penyakit
tapi tidak diobati, betul hadirin? Dengan demikian penyakit asma, jantung, tumor
memamng berbahaya dan dapat merusak tubuh manusia, tapi penyakit sombong, iri hati,
dengki, frustasi, korupsi, haus kursi, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan jabatan
dan popularitas diri jauh lebih berbahaya dan dapat merusak tatanan hidup masyarakat
dan bangsa. Oleh karena itu hadirin, Al-Qur’an turun dengan memberikan perintah dan
larangan, janji dan ancaman, dan memerintah kepada manusia untuk mentaatinya dan
mengamalkan seluruh isinya. Dengan mengamalkan Al-Qur’an Insya Allah segala penyakit
hati akan terkikis habis dari diri kita. Pantas kalau Abu Farida Muhammad Ijat dalam
bukunya “Aliz Nafsaka bil Qur’an” mengatakan “Al-Qur’an adalah obat yang sempurna bagi
segala penyakit baik penyakit zhahir maupun bathin.
Ketiga,  ‫هُدًى أي هداية من الضالل‬, Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia dari
kesesatan. Al-qur’an diturunkan Allah untuk memberikan petunjuk kepada manusia,
membimbing dan membawanya kepada keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.
Berkaitan dengan hal tersebut, Prof.Dr.Quraish Syihab dalam “Wawasan Al-qur’an”
mengatakan seluruh ayat yang ada dalam Al-qur’an seluruhnya berisi ajaran yang relevan
dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Mampu memberikan solusi terhadap berbagai
permasalahan manusia baik yang bersifat ibadah ritual maupun sosial termasuk di
dalamnya tentang etika kenegaraan.
Oleh karena itu, kalau manusia sudah mampu memahami isi Al-Qur’an, menjadikan
petunjuk kehidupan, serta mengamalkannya dalam hidup keseharian maka prilakunya
dipastikan tidak bertentangan dengan ajaran Tuhan dan berselisih dengan tuntutan agama,
siapaun dia dan apaun profesinya. Seorang pejabat kalau sudah menjadikan Al-Qur’an
sebagai petunjuk hidupnya dia tidak akan berbuat korupsi meskipun rakyat tidak tahu,
seorang pedagang kalau sudah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidupnya dia tidak
akan curang mengurangi timbangan meskipun pembeli tidak mengerti, seorang suami
kalau sudah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidupnya dia tidak akan berbuat
selingkuh meskipun sedang sendiri. Demikian pula seorang pemuda dan pemudi yang
sedang asyik memadu kasih kalau sudah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidupnya
dia tidak akan berbuat “macam- macam” mskipun keadaan mendukung, senyap dan sepi,
betul hadirin?
Uَ ِ‫ َرحْ َمةٌ لِّ ْل ُم ْؤ ِمن‬, Al-Qur’an berfungsi sebagai rahmat bagi
Keempat, ‫ين أي رحمة ألهل اإليمان‬
insan nan beriman. Artinya kalau Al-Qur’an sudah kita baca isinya, dipahami ajarannya
serta diamalkan petunjuknya maka ia akan menciptakan ketenangan bagi kita, jauh dari
rasa resah dan gelisah, siap menghadapi berbagai problematika hidup dan kehidupan serta
mampu menghantarkan kita kepada kebahagiaan baik dunia maupun di akhirat. Rasul
pernah berjanji:

‫من جعل القرأن إمامه ساقه الى الجنة ومن جعل القرأن وراءه قاده الى النار‬
“Barangsiapa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai imamnya, maka ia akan membawanya
kepada surga, sebaliknya barangsiapa yang menjadikan makmumnya maka akan
mendorongnya ke jurang api neraka.”

Dengan demikian, Al-Qur’an merupakan firman Allah SWT yang berfungsi sebagai
pelajaran, obat, petunjuk dan rahmat dalam merancang bangun peradaban manusia untuk
menggapai kebahagiaan baik di dunia, terlebih lagi di akhirat. Sejarah telah membuktikan
bahwa Al-Qur’an dahulu pernah melakukan perubahan-perubahan fundamental terhadap
peradaban manusia yang tiada taranya. Al-Qur’an mula-mula menjumpai bangsa Arab
sebagai penyembah berhala, pemuja batu, dan pemuji kayu. Namun dalam jangka waktu
kurang dari seperempat abad, penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah SWT
menguasai seluruh jazirah Arabia, setelah penyembah-penyembah berhala disapu bersih
dari seluruh Jazirah Arabia. Al-Qur’an menyaptu bersih segala kepercayaan takhayul dan
menggantinya dengan agama yang paling rasional. Pada masa itu Bangsa Arab sering
membanggakan dirinya karena kebodohannya, berubah menjadi bangsa yang cinta ilmu
pengetahuan, mereka disulap dengan tongkat wasiat Al-Qur’an, karena di dalamnya
terdapat sumber ilmu pengetahuan. Hal demikian adalah akibat langsungdari ajaran Al-
Qur’an. Di samping itu Al-Qur’an juga membangun manusia dari tingkat yang paling rendah
ke tingkat peradaban paling tingi, hanya dalam jangka waktu relative singkat.

Oleh karena itu, dalam rangka menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman
hidup kita menuju peradaban manusia yang Qur’ani, mari kita baca Al-Qur’an, kita pahami
isinya, kita renungkan maksudnya dan kita amalkan ajarannya. Sehingga dengan cara ini
kita mampu hidup bahagia baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun Negara
dan bangsa. Dan Allah pun akan menganugerahkan keberkahan kepada kita semua
penduduk bangsa ini. Allah SWT berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 96:

ِ ْ‫ت ِّم َن ال َّس َما ِء َواألَر‬


‫ض‬ ْ َ‫وا َواتَّق‬
ٍ ‫وا لَفَتَحْ نَا َعلَ ْي ِهم بَ َر َكا‬ ْ ُ‫َولَ ْو أَ َّن أَ ْه َل ْالقُ َرى آ َمن‬
﴾٩٦﴿ ‫ُون‬ َ ‫وا يَ ْك ِسب‬ْ ُ‫ُوا فَأ َ َخ ْذنَاهُم بِ َما َكان‬
ْ ‫َولَـ ِكن َك َّذب‬
096. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan
(ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Hadirin wal hadirat Rahimakumullah
Dengan demikian dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an merupakan
firman Allah SWT yang berfungsi sebagai pelajaran, obat, petunjuk dan rahmat dalam
merancang bangun peradaban manusia untuk menggapai kebahagiaan baik di dunia,
terlebih lagi di akhirat. Untuk itu kewajiban kita, saya, saudara dan seluruh kita bangsa
Indonesia melaksanakan apa-apa yang telah digariskan oleh Al-Qur’an agar peradaban
manusia di negara Indonesia dapat berjaya kembali di masa sekarang maupun di masa
yang akan datang. Amin.
Itulah yang dapat kami sampaikan, mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan.
‫والسالم عليكم ورحمة هللا وبركاته‬
IPTEK, WARISAN DAN KEBUDAYAAN YANG TERABAIKAN

‫السالم عليكم ورحمة هللا وبركاته‬


‫الحمد هلل القائل إن جائكم فاسق بنبإ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة الصالة والسالم على‬
‫ أما بعد‬ .‫سيدنا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعه إلى رسالة‬
HADIRIN ROHIMAKUMULLAH
Jeff Zeleski, seorang pakar komunikasi dunia dalam bukunya “Spiritualitas
Cyberspace” menyatakan : Dewasa ini, perkembangan dunia Informasi dan komunikasi
telah mencapai tahap yang mencenangkan konsekuensinya. Satu sisi melahirkan nilai-nilai
positif dan mampu mengangkat taraf hidup manusia. Namun disisi lain perkembangan
informasi baik melalui media cetak dan elektronika jika tidak dibingkai dengan nilai-nilai
agama hanya akan melahirkan keresahan, kerusakan, bahkan kehancuran bagi manusia.
Hadirin kehawatiran ZaLesski tersebut kini kian terbukti. Kita perhatikan budaya
barat/peradaban jahiliyah kini kian merajalela melalui media dan elektronika sebagai
contoh tayangan-tayangan kekerasan dan sadis semakin merajalela, tontonan-tontonan
magis-mitologis semakin membudaya bahkan hiburan-hiburan erotis seksual liberalis
semakin makmur, membaur bahkan menjamur di tengah-tengah masyarakat. Eksisinya
hadirin,  akibat tayangan kekerasan,muncul keributan dalam keluarga, tauran antar pelajar,
perkelahian antar kampong bahkan peperangan antar etnis dan golongan akibatnya
tontonan magis metelogis, lahir masyarakat irrasional, ayat Al-Qur’an dipermainkan,
bahkan agama diperdagangkan. Akibatnya hiburan erotis dan seksualis. Marak perkosanan
dan perzinahan, bahkan akhir-akhir ini kita digemparkan oleh munculnya praktek seks
bebas yang dilakukan pelajar dan mahasiswa. Na’uzubillahi min dzalik.
Itulah hadirin dampak langsung dari penggunaan media cetak dan elektronika yang
mengabaikan nilai-nilai etika. Lalu bagaimanakah Islam melihat fenomena tersebut?
Sebagai jawabannya pada kesempatan ini kami akan membahas tentang IPTEK,
WARIASAN DAN KEBUTUHAN YANG TERGADAIKAN dengan landasan Al-Qur’an, surat
Al-Hujarat ayat 6 :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa
suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas
perbuatanmu itu.”(QS. Al-Hujarat : 6)
HADIRIN MA’ASYIRAL MUSLIMIN RAKHIMAKUMULLAH
Secara Filosofi, ayat tadi merupakan landasan metodis dalam menyikapi derasnya
informasi yang disebarkan media cetak dan elektronika, yaitu Islam memiliki prinsip
akomodatif jika bertentangan dengan ajaran Islam jangan gentar, katakan Tidak! Tidak,
tidak meskipun dengan dalil seni dan kebebasan Pers, sepakat?
Dengan demikian ayat tadi memberikan pelajaran pada kita untuk memperhatikan
nilai moral dan etik, dalam menggunakan media cetak dan elektronika. Namun, sangant
disayangkan hadirin, saat ini yang terjadi adalah fakta sebaliknya, sebagai bukti tidak
sedikit majalah-majalah yang memajang fotoperempuan setengah telanjang. Koran-koran
mengumumkan tempat-tempat mesum dan pelacuran, stasiun-stasiun televise yang
menayangkan senetron adegan ciuman yang ujung-ujungnya menjurus pada perbuatan
mesum, bioskop yang menayangkan adegan ranjang dan hubungan sek, dan situs-situs
porno yang marak merebak, membaur bahkan menjamur ditengah masyarakat bahkan
membudaya seolah-olah telah mendarah daging pada masyarakat kita terutama para
remaja bahkan hadirin akhir-akhir ini kita dikagetkan dengan munculnya majalah play boy
yag menjajah pikiran manusia, sehingga yang terlihat hanyalah pikiran-pikiran jorok dan
hasrat terlarang.
Bahkan akibatnya budaya barat yang disebarkan media cetak dan elektronika
membuat para pemuda semakin terpuruk, sebagai contoh: tidak sedikit anak-anak muda
kita yang terjerumus kedalam mabuk-mabukan, tenggak wiski, brendy, sampeng, bluange,
matine, radikao, mensen, KTI, bir, tidak sedikit anak-anak muda kita mati diujung lidahnya
ganja, morfin, ganja, morfin
Merintih memohon, memanggil ganja dan morfin sampai mati, tanpa iman dan
banyak remaja kita akibat mengkomsumsi minuman keras dan narkoba kini tinggal
menunggu lonceng kematian. Bahkan para pemuda kita terbiasa dengan budaya mesum
seks, protitusi, porno aksi, dan pornografi dan seolah-olah menganggap God is Died, Tuhan
telah mati. Na’uzubillahhimin dzalik…..
Lalu bagaimanakah sikap kita dalam menghadapi persoalan tersebut? Sebagai
jawabannya kita renungkan firman Allah  swt dalam al-Qur’an surat Ali Imron ayat 104 :

Artinya :  “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah
orang-orang yang beruntung.” (QS. ali-Imran : 104)

HADIRIN YANG BERBAHAGIA


Imam Ali Ash Shabuni dalam Shafawatut Tafasir menjelaskan ayat tadi :

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar
Dengan demikian, orang yang mampu menjaga, melestarikan dan menjunjung tinggi
harakat kemanusiaan adalah yang memiliki Iman dan amal Shaleh, fungsi dari
mengimbangi otoritas intelektual. Sebab hadirin, walaupun kita ber otak cerdas,
berwawasan luas, tetapi kita tidak berhati emas, apalagi jika keimanan lepas, kita hanya
tumbuh menjadi manusia hina, biadab, brutal, tidak bermoral, berakhlak bejat bahkan bisa
lebih jahat dan lebih bejat dari binatang.
Murtadha Muthahhari mengatakan, IPTEK yang ada pada orang yang tak beriman
bagaikan sebuah pisau ditangan orang gila, dia bisa menebaskan kemana dia mau. Maka
orang yang beriman tapi tak beriman bisa membunuh, menipu, merampok dan meracuni
otak-otak kita.
Sebaliknya, bila IPTEK digenggam oleh orang beriman, kami yakin akan membawa
kemaslahatan bukan kemudharatan, membawa kesejahtraan bukan kesengsaraan.
Membawa kemajuan bukan kehancuran, membawa ketentraman bukan kekacauan.
Jikalau hal tersebut ysng kita aplikasikan insya allah media cetak dan elektronika yang
mengabaikan nilai-nilai etik dan yang menyebarkan budaya-budaya barat jahiliyyah sedikit
demi sedikit akan tergeser dan tergusur dan akan lahir media cetak dan elektronika yang
siap merespon dan mengelola derasnya arus informasi untuk membentuk wadah akhlakul
karimah dan  menjunjung tinggi kebudayaan Islam.
Dari uraian tersebut maka dapat kita simpulkan bahwa saat ini penggunaan media
cetak dan elektronika mulai mengabaikan nilai-nilai etika. Untuk menghadapi persoalan
tersebut umat Islam membutuhkan sumber daya insan yang siap menjadi sumber sifat
kebaikan untuk mengelola informasi menjadi maslahat dan manfaat dalam kehidupan
individu, keluarga, nusa dan bangsa, serta umat manusia. Semoga Allah swt memberkati
setiap usaha dan upaya kita semua. Amin ya Robbal ‘Alamin
Demikianlah yang dapat kami sampaikan mudah-mudahan ada manfaatnya….
‫وهللا المستعان إلى احسن الحال‬ 
‫والسالم عليكم ورحمة هللا وبركاته‬
KEPEMIMPINAN RASULULLAH SAW, TELADAN
MEMBANGUN MASYARAKAT MADANI
‫السالم عليكم ورحمة هللا وبركاته‬
‫الحمد هلل الذي بعث فى األمين رسوال الصالة والسالم على سيدنا محمد احسن الناس قوال‬
‫ اخالقا جزيال – اما بعد‬U‫ واقتدى‬U‫وفعال وعلى اله وصحبه ومن تبعه فى الهدى‬
Hadirin Kaum Muslimin Rahimakumullah,
Michael Hart, seorang kolumnis Amerika menulis  dengan judul The One Hundred
Ranking of Most Influenting Person in History, artinya seratus tokoh besar yang paling
berpengaruh sepanjang sejarah peradaban manusia. Termasuk di dalamnya ada Adolf
Hitler pencetus gerakan NAZI Jerman, Mahatma Gandhi pencetus gerakan Satya Graha
India, Julius Ceasar pencetus Vini Vidi Vici dan tokoh-tokoh besar lainnya. Ternyata dari
sederetan tokoh tersebut, Michael Hart menempatkan baginda Rasulullah Muhammad SAW
pada urutan pertama sebagai Tokoh yang sangat berpengaruh di dunia. Sehingga
kebesaran beliau diabadikan di dalam Encyclopedia Brittanica sebagai The Most Succesful
of all Prophets and all Religious Personalities sebagai pemimpin yang paling sukses diantara
para Nabi, para pemimpin Agama, dan para pemimpin lainnya dalam membangun
peradaban manusia sedunia.hadirin melihat betapa pentingnya meneladani sikap dan sifat
nabi Muhammad tersebut, khususnya dalam membentuk masyarakat madani maka
“KEPEMIMPINAN RASULULLAH SAW, TELADAN MEMBANGUN MASYARAKAT
MADANI”  adalah tema yang akan kita bicarakan pada kesempatan kali ini, dengan
landasan QS. Al-Jum’ah ayat 2 :

‫اب‬ َ ‫ث فِي اأْل ُ ِّمي‬


َ َ‫ِّين َر ُسواًل ِم ْنهُ ْم يَ ْتلُو َعلَ ْي ِه ْم َءايَاتِ ِه َوي َُز ِّكي ِه ْم َويُ َعلِّ ُمهُ ُم ْال ِكت‬ َ ‫هُ َو الَّ ِذي بَ َع‬
ٍ ِ‫ضاَل ٍل ُمب‬
‫ين‬ َ ‫َو ْال ِح ْك َمةَ َوإِ ْن َكانُوا ِم ْن قَ ْب ُل لَفِي‬
Artinya : “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara
mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan
mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka
sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Hadirin Rohimakumullah,
Menurut Dr. Muhammad Sulaiman Al-Asqori dalam Zubdat at-Tafsir Min Fath al-
Qodir, ( ‫ ) األمين‬maksudnya kondisi bangsa arab yang sebagian besar bukan saja tidak
mampu membaca dan menulis tapi tenggelam ke dalam kehidupan jahilyah secara total.
Kebobrokan moral merajalela. Dalam bidang social marak mabuk-mabukan. Dalam bidang
pemerintah., etnis dan golongan yang dikedepankan. Dalam bidang hukum muncul law of
jungle to be politely of people, hukum rimba menjadi peradaban.Orang kaya memangsa yang
miskin. Orang pintar memangsa yang bodoh. Orang kuat menghantam yang lemah. Bahkan
yang paling mengerikan martabat wanita di injak-injak, sehingga setiap lahir bayi wanita
dikubur hidup-hidup tak peduli terdengar jerit, pekik tangis bayi didalam tanah.
Na’udzubillah min dzalik.
Dalam kondisi seperti itu Rasul tampil sebagai sosok yang diwarisi dengan jiwa
kepemimpinan, mengemban empat misi utama:
Pertama, misi Tilawah ( ‫ ) يتلوا عليهم أيته‬membaca ayat-ayat Allah, baik ayat Qur’aniyah
maupun ayat Kauniyah, alam buana ini. Kedua, ( ‫ ) ويزكيهم‬Misi tazkiyah                     
membersihkan segala bentuk kekufuran. Ketiga, misi Ta’lim ( ‫) ويعلمهم الكتاب‬    mengajarkan
al-Qur’an sebagai pedoman reformasi sebab al-Qur’an is the only thing that can lead man to
happiness, al-Qur’an adalah satu-satunya buku petunjuk hidup yang mampu
menghantarkan manusia menuju kebahagiaan. Demikian menurut Napoleon, seorang
oreantalis berkebangsaan Prancis. Keempat, ( ‫ ) الحكمة‬menampilkan sunnah.

Hadirin yang berbahagia,


Keempat unsur tersebut merupakan strategi pembangunan Rasulullah saw yang
terbukti berhasil membentuk dan membangun peradaban manusia sedunia. Namun lain
halnya dengan gerakan pembangunan di Negara kita, konsepnya setinggi langit, gaungnya
menggema kemana-mana tapi hasilnya entah kemana. Kenapa? Ini disebabkan krisis figur.
Di era reformasi ini bukan figur-figur pembangun sejati yang muncul, tetapi yang
menjamur adalah oknum-oknum pemimpin yang haus kursi, haus pangkat, jabatan dan
popularitas. Karena kalau pembangunan kehilangan figur tak ubah laksana anak ayam yang
kehilangan induknya. Tak tahu arah kemana ia harus melangkah. Instruksi yang dicita-
citakan tapi destruksi yang dirasakan. Pembangunan tinggal landas yang dicita-citakan tapi
tinggal kandas yang dirasakan. Pembangunan Nasional yang dicita-citakan tapi
penderitaan Nasional yang dirasakan. Akhirnya tetap berada dalam Justifikasi Allah, ‫لفى‬
‫ ضالل مبين‬tetap dalam kesesatan dan krisis Nasional multi dimensional.
Hadirin dalam kondisi seperti ini tidak satu figur pun yang harus kita tiru dalam
merealisasikan pembangunana masyarakat madani kecuali baginda Rasulullah Muhammad
saw.
Abu A’la al-Maududi dalam The Prophet Islam mengatakan “ He is the only one
example where all excellences have been blanded in one personality “, nabi Muhammad
adalah satu-satunya contoh terlengkap semua keunggulan terkumpul dalam diri seorang
pribadi. Demikian pula hadirin kebesaran beliau dibuktikan oleh sejarah, beliau hidup
dalam keadaan miskin, Allah menawarkan berbagai kesenangan material, harta, tahta,
wanita bahkan jabal uhud siap jadi emas. Beliau menjawab :

‫اذا يا رب ال ارضى لو احد من امتى فى النار‬


kalau demikian ya Allah, apapun yang engkau berikan tidak ada satu pun yang
menyenangkan hatiku, kalau satu saja ummatku yang masuk neraka.

Allahu Akbar. Hadirin, ini bukti sikap pemimpin sejati yang beroreantasikan ummat
sebagaimana kaedah mengatakan :
‫المصلحة العامة مقدم على المصلحة الخاصة‬
Kepentingan umum lebih diprioritaskan diatas kepentingan pribadi dan golongan.
Tapi sebaliknya kalau pemimpin yang hanya mengatasnamakan rakyat namun tidak
berorientasikan rakyat, di depan rakyat dia menyanyikan janji-janji manis,
mendendangkan lagu-lagu mesra. Tapi di belakang rakyat dia tidak segan-segan mencekik
dan menghisap darah rakyat. Akibatnya, kita lihat Rumania, ketika dipimpin oleh Nicoulas
Susesco pemimpinnya poya-poya tapi rakyatnya sengsara, Iran ketika dipimpin oleh Reza
Pahlepi pemimpinnya megah, rakyatnya susah, Prancis ketika dipimpin Louis 16 dan Ratu
Maria Antonate pemimpinnya makmur rakyatnya hancur tersungkur, demikian pula Orde
Baru pemimpinnya paling rendah naik BMW rakyatnya paling mewah naik BMM alias
Bemo. Timbul pertanyaan, bagaimana sikap beliau dalam membangun peradaban
masyarakat madani ? untuk mengetahui jawabannya kita renungkan firman Allah dalam
QS. Ali Imron ayat 159 :

‫ك‬َ ِ‫ب اَل ْنفَضُّ وا ِم ْن َح ْول‬ َ ‫ت فَظًّا َغلِي‬


ِ ‫ظ ْالقَ ْل‬ َ ‫فَبِ َما َرحْ َم ٍة ِم َن هَّللا ِ لِ ْن‬
َ ‫ت لَهُ ْم َولَ ْو ُك ْن‬
َ ‫اورْ هُ ْم ِفي اأْل َ ْم ِر فَإِ َذا َع َز ْم‬
‫ت فَتَ َو َّكلْ َعلَى هَّللا ِ إِ َّن‬ ِ ‫ف َع ْنهُ ْم َوا ْستَ ْغفِرْ لَهُ ْم َو َش‬ ُ ‫فَا ْع‬
َ ِ‫هَّللا َ ي ُِحبُّ ْال ُمتَ َو ِّكل‬
‫ين‬
Artinya : ‘Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap
mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri
dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Hadirin Rahimakumullah,
Pada ayat tersebut terdapat lima akhlak pemimpin yang di contohkan Rasulullah
Muhammad SAW.

1.  ‫ لنت لهم‬ dengan lemah lembut dapat menunjukan keluhuran budi, bisa menarik
simpati lawan, membuat segan begi semua lawan.
2. Sifat rosul tidak bengis dan tidak berlaku kasar karena pemimpin yang berjiwa
kotor niscaya akan dictator.
3.  ‫ فاعف عنهم‬ pemaaf, ‫ واستغفر لهم‬yakni mudah untuk memberi ampunan bagi orang-
orang yang bersalah.
4.  ‫وشاورهم فى األمر‬  Rosul sangat senang bermusyawarah, tidak otoriter dan siap
dikeritik ketika keliru.
5. Beliau memiliki komitmen ‫ فإذا عزمت فتوكل على هللا‬setelah memantapkan planning
dalam suatu kegiatan, lalu bertawakal kepada Allah.
Itulah hadirin sikap dan sifat yang rosul miliki dalam menciptakan peradaban manusia.
Dengan demikian pembangunan di Negara kita ini hanya akan bergulir dengan baik, jika
dalam mekanisme pembangunannya mencontoh kepribadian rosululloh Muhammad saw.
Dan orang yang dapat mencontoh beliau hanyalah orang-orang yang beriman. Semoga kita
sebagai rakyat Indonesia dapat segera menyempurnakan iman kita sehingga berhasilah
kita dalam membentuk dan membangun Negara ini menuju masyarakat madani. Amin ya
robbal alamin.
Itulah yang dapat saya sampaikan,
U‫وهللا المستعان إلى احسن الحال‬
‫والسالم عليكم ورحمة هللا وبركاته‬
JIHAD DALAM MEMBANGUN PERSAUDARAAN
‫السال م عليكم ورحمة هللا وبرمكاته‬
‫ اشهد ان ال إله إال هللا رب‬. U‫الحمد هلل الذى امرنا بالجهاد فى سبيل هللا و ترك الهوى‬
‫العرش استوى و اشهد ان سيدنا محمدا عبده ورسوله المصطفى صلواة هللا وسالمه عليه‬
}‫{اما بعد‬
DEWAN HAKIM YANG ‘ARIF DAN BIJAKSANA
HADIRIN YANG BERBAHAGIA
Masih ada dalam ingatan kita, tragedi 11 September 2001 di mana pusat ekonomi
dunia yang terbangun di menara kembar World Trade Center New York Amerika Serikat,
hancur lebur di hantam oleh dua pesawat komersil yang dibajak oleh sekelompok orang
yang kemudian dikenal sebagai musuh dunia, yakni al-Qaeda.
Terdapat dua dampak pasca tragedi tersebut. Pertama, dunia mulai melihat keadaan
Islam di negara-negara jajahan Eropa yang terus tertindas, dirampas sumber daya alamnya,
hingga saat ini, hendaknya perlu dilakukan pendekatan ulang tanpa tindakan militer.
Namun hasilnya, mereka hingga saat ini tetap tertindas.
Yang kedua, dunia saat ini melihat gelagat buruk dari penyebaran Islam yang begitu
pesat di Eropa, sehingga inilah saatnya untuk mempropaganda dan mengadu domba umat
Islam dengan menggolongkan umat Islam kepada dua kelompok, yakni Islam Radikal
sebagai basic terorisme dunia, dan Islam Moderat sebagai sahabat mereka.
Hadirin, kedua dampak ini menyebar ke seluruh daerah di tanah Indonesia. Bahkan
tidak begitu lama dari kasus WTC, Bali sebagai pusat wisata Indonesia, dibom oleh mereka
yang mengaku sebagai para mujahid Islam. Lalu apakah Islam telah mengajarkan tentang
jihad sebagai sebuah penindasan dan teror? ataukah sesungguhnya Jihad dapat menjadi
sarana untuk membangun persaudaran? Oleh karenanya, “JIHAD DALAM MEMBANGUN
PERSUADARAAN” adalah tema yang akan kita bahas dalam kesempatan kali ini. Dengan
redaksi awal, firman Allah swt surat at-Taubah ayat 41:

}41{  َ‫ا ْنفِرُوا ِخفَافًا َوثِقَاالً َو َجا ِهدُوا بِأ َ ْم َوالِ ُك ْم َو أَ ْنفُ ِس ُك ْم فِي َسبِي ِل هللاِ َذلِ ُك ْم َخ ْي ٌر لَ ُك ْم إِ ْن ُك ْنتُ ْم تَ ْعلَ ُمون‬

Artinya : “Berangkatlah baik dalam keadaan ringan ataupun berat, dan berjihadlah dengan
harta kamu dan diri kamu dijalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagi kamu jika
kamu mengetahui.”

HADIRIN MA’ASYIRAL MUSLIMIN RAKHIMAKUMULLAH..


Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab dalam karyanya Tafsir al-Mishbah menjelaskan
bahwa pada hakikatnya perintah untuk berperang sebagai salah satu makna jihad di dalam
ayat tersebut, tidaklah dibutuhkan oleh Allah dan tidak juga oleh Rasul-Nya Muhammad
saw, karena sesungguhnya Allah telah membela dan mendukung umat Islam ketika ia
sendiri ataupun berdua. Namun, jika kita mengetahui betapa banyak sisi kebajikan yang
disiapkan oleh Allah bagi mereka yang berjihad dan taat kepada Allah, tentulah umat Islam
akan melaksanakan perintah tersebut. Hal ini jika ditinjau dari bebagai aspek duniawi dan
ukhrawi sebagaimana difahami dari bentuk nakirah atau indifinitif kata ( ‫ )خير‬di dalam ayat
tersebut.
Dampak positif yang membawa kebaikan dan kebajikan melalui jihad sesungguhnya
selaras dengan dakwah dan jihad para ulama penyebar Islam di tanah nusantara ini.
Abdurrahman Mas’ud menjelaskan, bahwa Islam Indonesia memiliki dua model yang saling
mengikat, yakni model universal dan dan model domestik. Model universal adalah model
yang menyatukan dunia Islam dibawah kepemimpinan dan uswatun hasanah Muhammad
Rasulullah saw, sementara model domestik yang menjadikan Muslim Indonesia unik adalah
mereka yang bermakmum dari model-model Walisongo. Mereka adalah wali sembilan yang
namanya demikian populer telah berhasil merubah Nusantara Hindu-Budha ke dalam
agama Islam dengan penuh kedamain di abad 15-16. Dengan demikian ungkapan yang
menyatakan bahwa ajaran Islam pada abad ke-18 dan ke-19 berada dibawah bayang-
bayang Walisongo tidaklah berlebih-lebihan. Bahkan selama hampir lima abad setelah
periode Walisongo, pengaruh mereka tetap terlihat dan terasa jelas hingga kini.
Lalu muncul sebuah pertanyaan, apakah model Islam yang menggerakkan jihad
sebagai sarana irhab ataupun terorisme merupakan model jihad di Indonesia? Tentulah
tidak. Islam Indonesia di bangun dengan model toleransi terhadap produk-produk lokal
budaya yang ada. Islam Indonesia tidak memberantas tempat-tempat Ibadah yang berbeda
dengan Islam. Bahkan begitu banyak masjid-masjid di Indonesia yang dibangun dengan
model budaya mereka dan jauh dari model tanah Arab.
Namun saat ini yang terjadi adalah, begitu banyak para pendakwah baru yang
seringkali membajak Islam demi hawa nafsunya untuk menguasai seseorang ataupun
sekelompok orang. Pantas jika Rasulullah saw dulu pernah menasehati para sahabat
melalui sabdanya:
 : ‫ قال‬ ‫ وما الجهاد األكبر ؟‬ : ‫ قالوا‬. ‫رجعنا من الجهاد األصغر إلى الجهاد األكبر‬
}‫ُمجاهدة العبد هَواه {رواه البيهقي‬
Artinya : “Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad yang besar. Para sahabat bertanya
; apakah itu jihad yang besar ? Rasul menjawab ; seorang hamba berjihad melawan hawa
nafsunya.” [HR. al-Baihaqi]

HADIRIN MA’ASYIRAL MUSLIMIN RAKHIMAKUMULLAH..


Inilah yang terjadi saat ini, jihad tidak lagi memberikan dampak positif kepada
semua orang berupa kemaslahatan dan kebaikan kepada setiap orang, melainkan karena
nafsu al-hawa’ yang dikedepankan. Padahal Rasulullah Muhammad saw diutus kemuka
bumi ini adalah sebagai pembawa Rahmat Allah kepada seluruh makhluk di muka bumi ini,
( ‫)وما ارسلنك إال رحمة للعالمين‬. Untuk itu, marilah kita jadikan Jihad di Indonesia ini jihad yang
dapat menciptakan persaudaraan, sebagaimana yang dilakukan oleh para pendahulu kita,
penyebar Islam di tanah Nusantara. Bukan seperti yang dilakukan oleh para pembajak
Islam, yang membesarkan nama Islam melalui tindakan teror terhadap orang-orang yang
berbeda dengan mereka.
Lalu, bagaimanakah cara kita untuk membangun persaudaraan antar sesama umat
Islam, dalam memaknai perbedaan terhadap teks-teks Jihad? untuk itu, marilah kita simak
bersama firman Allah swt di dalam al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 10 :
َ ‫ لَ َعلَّ ُك ْم تُرْ َح ُم‬ َ‫ون إِ ْخ َوةٌ فَأَصْ لِحُوا بَي َْن أَ َخ َو ْي ُك ْم َواتَّقُوا هللا‬
}10{ ‫ون‬ َ ُ‫إِنَّ َما ْال ُم ْؤ ِمن‬
Artinya: ““Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah (bagaikan) bersaudara karena itu
damaikanlah antar kedua saudara kamu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu
mendapat rahmat.”

DEWAN HAKIM YANG ‘ARIF DAN BIJAKSANA


HADIRIN YANG KAMI BANGGAKAN
Mengenai ayat ini, Muhammad Quraish Shihab menjelaskan bahwa penggunaan kata
(‫ )إِنَّ َما‬innama dalam konteks penjelasan tentang persaudaraan antara sesama mukmin ini,
mengisyaratkan bahwa sebenarnya semua pihak telah mengetahui secara pasti bahwa
kaum beriman bersaudara, sehingga semestinya tidak terjadi dari pihak mana pun hal-hal
yang mengganggu persaudaraan itu. Adapun kata ( ٌ‫ )إِ ْخ َوة‬ikhwah mengisyaratkan bahwa
persaudaraan yang terjalin antara sesama muslim, adalah persaudaraan yang dasarnya
berganda. Sekali atas dasar persamaan iman, dan kali kedua adalah persauadaraan
seketurunan, walaupun yang kedua ini bukan dalam pengertian hakiki. Dengan demikian
tidak ada lagi alasan untuk kita memutuskan hubungan persaudaraan antar sesama
muslim. Lebih-lebih jikalau antar individu masih direkat oleh persaudaraan sebangsa,
secita-cita, sebahasa, senasib dan sepenanggungan.
Thabathaba’i menulis, hendaknya kita menyadari firman Allah swt yang
menyatakan bahwa : “sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara” merupakan
ketetapan syariat berkaitan dengan persudaraan antara orang-orang mukmin dan yang
mengakibatkan dampak keagamaan serta hak-hak yang ditetapkan oleh agama.
Adapun kata (‫ )أَ َخ َو ْي ُك ْم‬akhawaikum adalah bentuk dual dari kata (‫ )أخ‬akh. Penggunaan
bentuk dual disini untuk mengisyaratkan bahwa jangankan banyak orang, dua pun, jika
mereka berselisih harus diupayakan ishlah antar mereka, sehingga persaudaraan dan
hubungan harmonis mereka terjalin kembali.
Dengan demikian, ayat di atas mengisyaratkan dengan sangat jelas bahwa persatuan
dan kesatuan, serta hubungan harmonis antar anggota masyarakat kecil atau besar, akan
melahirkan limpahan rahmat bagi mereka semua. Sebaliknya, perpecahan dan keretakan
hubungan akan mengundang lahirnya bencana buat mereka, yang pada puncaknya dapat,
melahirkan pertumpahan darah dan perang saudara.
Akhirnya, melalui ajang musabaqah ini, kami menghimbau kepada seluruh umat
Islam, marilah kita bersama-sama terus berjihad di jalan Allah dengan penuh keramahan
dengan cara menghormati local wisdom bangsa ini, sehingga jihad dapat menciptakan
persaudaraan yang kuat antar sesama umat Islam.
Wahai saudara-saudaraku orang jawa “kito sedoyo sederek”, wahai saudara-
saudaraku   orang   betawi   “kite   semuanye   besodare”,   wahai  saudara-saudaraku  orang
lampung “kham semuaghian”, wahai saudara-saudaraku orang madura “taretan-taretan
sadeje sampean kabi sadajena satareta”, wahai saudara-saudaraku orang aceh “gutanyo
bandum masudara berme pake-pake”, wahai saudara-saudaraku papua irian jaya “ipar-ipar
katorang samua basudara”, wahai saudara-saudaraku keturunan tyong hoa “tha cia thu she
icajin banya cincaila”, wahai saudara-saudaraku orang India “ham seb bai bhai kuo
mahabathe”. Kita tingkatkan ukhuwah basyariyah, ukhwah wathoniyah dan ukhuwah
Islamyyah demi mendapatkan rahmat Allah swt, Amin ya Rabbal ‘Alamin……
‫السالم عليكم ورحمة هللا وبركاته‬ ‫وهللا المستعان إلى احسن الحال‬
EKONOMI SYARIAH PENDORONG
PENGUATAN EKONOMI UMAT

‫السالم عليكم ورحمة هللا وبر كا ته‬


‫الحمد هلل رب العالمين والصالة والسالم على اشرف األنبياء والمرسلين سيدنا محمد‬
}‫وعلى آله وصحبه أجمعين {أما بعد‬
Hadirin yang kami hormati.
Dunia semakin cantik dan molek, dihiasi dengan perkembangan sains dan teknologi
yang semakin canggih dan menarik. Akan tetapi permasalahan-permasalahan di setiap lini
kehidupan termasuk didalamnya masalah kemiskinan, telah membuat otak ruwet, mumet
dan jelimet. Bukankah karena miskin seseorang tidak dapat meneruskan pendidikannya
maka ia menjadi bodoh? Bukankah karena miskin seseorang tidak dapat melihat dan
mendengarkan berita-berita terkini (headline news) maka ia menjadi terbelakang?
Bukankah karena miskin seseorang dapat menjual akidahnya maka ia menjadi kufur?
Masalah ini terus dan terus berputar bagaikan lingkaran setan yang seolah-olah tidak ada
pemacahannya, padahal Islam telah memberikan solusi kongkrit, dengan cara “Ekonomi
Syariah Pendorong Penguatan Ekonomi Rakyat”, sebagaimana yang telah diisyaratkan
oleh Allah di dalam al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 275 :

‫ك بِأَنَّهُ ْم‬
َ ِ‫ان ِم َن ْال َمسِّ َذل‬
ُ َ‫ون إِاَّل َك َما يَقُو ُم الَّ ِذي يَتَ َخبَّطُهُ ال َّش ْيط‬ َ ‫ون الرِّ بَا اَل يَقُو ُم‬ َ ُ‫ين يَأْ ُكل‬ َ ‫الَّ ِذ‬
‫قَالُوا إِنَّ َما ْالبَ ْي ُع ِم ْث ُل الرِّ بَا َوأَ َح َّل هَّللا ُ ْالبَ ْي َع َو َح َّر َم الرِّ بَا فَ َم ْن َجا َءهُ َم ْو ِعظَةٌ ِم ْن َربِّ ِه فَا ْنتَهَى‬
}275{  ‫ون‬ َ ‫ار هُ ْم فِيهَا َخالِ ُد‬ Uُ ‫ك أَصْ َح‬
ِ َّ‫اب الن‬ َ ِ‫ف َوأَ ْم ُرهُ إِلَى هَّللا ِ َو َم ْن َعا َد فَأُولَئ‬ َ َ‫فَلَهُ َما َسل‬
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya
orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang
demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu
sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti
(dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang
larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil
riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Hadirin Rohimakumullah.
Firman Allah yang baru kita simak bersama mengisyaratkan agar kita umat Islam
memiliki ekonomi yang kuat. Mari kita kaji secara mendalam. Imam Ibnu Katsir di dalam
kitabnya Tafsir Ibnu Katsir jilid ke-3 menyebutkan, bahwa sebab diturunkannya ayat ini
berawal dari sebuah pertanyaan Sa’ad bin Abi Waqash kepada Saidina Muhammad
Rasulullah SAW. “ wahai Rasulullah aku memiliki harta yang banyak akan tetapi pewarisku
hanya satu orang anak, maka bolehkah jika aku bersedekah dua pertiganya? Rasul
menjawab : “tidak boleh”. Bolehkah jika seperduanya? Rasul menjawab : “ tidak boleh”.
Bagaimana jika sepertiganya? Rasul menjawab : “ tidak boleh “ seraya melanjutkan
perkataannya :
‫إنك إن تذر ورثتك األغنياء خير من أن تذرهم عالة يتكففون الناس‬
“ sungguh aku mengharapkan jika engkau dapat warisi keturunan yang kaya dan berharta
dan itulah yang terbaik dari pada engkau mewarisi keturunan yang lemah lagi papa serta
hanya mengharapkan belas kasih orang lain “
Kisah ini menjelaskan kepada kita bahwasanya Islam menginginkan agar setiap
orangtua dapat meninggalkan generasi penerus mereka dalam keadaaan yang kuat fisik,
kuat mental, dan kuat perekonomiannya.
Syekh Mustofa al-Maroghi menafsirkan kalimat “khoofu ‘alaihim”, sebagai suatu
kekhawatiran jikalau anak-anak hidup terlantar dan tersia-sia, kenapa demikian? Karena
telah diketahui bersama bahwa tolak ukur sejahtera tidak sejahteranya seseorang, makmur
tidak makmurnya seseorang dilihat dari keadaan ekonominya, apabila ekonominya baik,
maka apa yang menjadi hajat hidupnya akan mudah untuk didapatkan, akan tetapi jikalau
ekonominya buruk maka secara pasti apa yang menjadi hajat hidupnya akan sulit untuk
terpenuhi.

Hadirin Rohimakumullah.
Dalam dunia ekonomi kita mengenal adanya tiga buah sistem ekonomi. Pertama,
sistem ekonomi sosialis dimana pemerintah secara mutlak mengurus dan mengelola sistem
perekonomian mereka. Kedua, sistem ekonomi kapitalis dimana setiap individu, setiap
wirausahawan berhak untuk mengelola serta mengurus keadaan perekonomian mereka,
sistem ekonomi inilah yang telah membuat jarak yang sangat antara yang kaya dengan
yang miskin dan juga telah mengakibatkan yang kaya semakin kaya dan yang miskin
semakin miskin (the rich richer and the poor poorer). Ketiga, sistem ekonomi Islam dimana
dalam sistem ini yang di angkat kepermukaan adalah niali-nilai ukhuwah dan nilai-nilai
kebersamaan, dengan artian bahwa setiap orang harus saling tolong menolong, yang kaya
menolong yang miskin, yang kuat menolong yang lemah, tidak ada jarak diantara mereka
bahkan mereka merasa bahwa mereka bagaikan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.
Dari penjelasan ini maka timbullah sebuah pertanyaan, bagaimanakah teknis untuk
merealisasikan prinsip ini? Sebagai jawabannya mari kita renungkan firman Allah dalam
surat adz-dzariyat ayat : 19
}19 : ‫ { الذاريات‬ ‫ق للِسَّا ئِ ِل َو ْال َمحْ ُر ْو ِم‬
ٌّ ‫َو فِى اَ ْم َوالِ ِه ْم َح‬
Artinya : “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan
orang miskin yang tidak mendapat bahagian”.

Hadirin dan hadirat yang kami hormati.


Firman Allah pada ayat ini dengan tegas dan jelas mengisyaratkan kepada kita
bahwa pemberdayaan ekonomi diproyeksikan demi kesejahtraan bersama. Islam menolak
keras sistem ekonomi dalam bentuk monopoli, oligopoli dan ekonomi yang diorientasikan
hanya untuk kepentingan pribadi. Prinsip ini harus kita aplikasikan di negara kita jikalau
kita  menginginkan negara kita menjadi negara yang maju dan damai. Apalagi jikalau kita
perhatikan di negara kita Indonesia ini, masih terdapat 37,5 juta jiwa umat manusia yang
berada dibawah garis kemiskinan, lalu berapa banyakkah ummat Islamnya ? ternyata
setelah diteliti oleh lembaga peneiliti di Indonesia, terdapat lebih dari 30 juta jiwa umat
Islam yang berada dibawah garis kemiskinan. Sebuah pertanyaan besar yang ada pada
pikiran kita semua, mengapa umat Islam lebih banyak tenggelam dalam kemiskinan ?
Menurut KH Zarkasih, pertama. Banyak diantara kita yang hanya berorientasi pada
keakheratan saja. Mereka memiliki pemahaman yang sempit terhadap hadits Nabi
Muhammad SAW ”ad-dunya jiifah” dunia ini adalah bangkai yang menjijikkan. Dan “ad-
dunya sijnul mukminin” dunia adalah penjara bagi umat Islam, pemahaman uang sempit
terhadap kedua hadits ini mengakibatkan pemasalahan-permasalahan duniawi
ditinggalkan dan Islam pada akhirnya identik dengan masalah kemiskinan.
Kedua.Kemunduran ekonomi umat Islam disebabkan dalam melaksanakan kegiatan
ekonomi mayoritas umat Islam masih berpikir dengan corak agraris dan kolot. Padahal
saat ini dunia bisnis membutuhkan orang-orang yang kreatif dan siap untuk saling
berkompetisi dengan yang lainnya.

Hadirin dan hadirat yang kami hormati.


Bagaimanakah konsepsi Islam dalam perekonomian. Mari kita simak bersama firman Allah
dalam surat an-nisa ayat 29 :
‫ ْالبَ ْي َع َذلِ ُك ْم‬U‫ إِلَى ِذ ْك ِر هَّللا ِ َو َذرُوا‬U‫صاَل ِة ِم ْن يَ ْو ِم ْال ُج ُم َع ِة فَا ْس َع ْوا‬ Uَ ‫ين َءا َمنُوا إِ َذا نُو ِد‬
َّ ‫ي لِل‬ َ ‫يَاأَيُّهَا الَّ ِذ‬
‫ض َوا ْبتَ ُغوا ِم ْن فَضْ ِل‬ ِ ْ‫صاَل ةُ فَا ْنتَ ِشرُوا فِي اأْل َر‬ َّ ‫ت ال‬ ِ َ ‫ضي‬ِ ُ‫} فَإِ َذا ق‬9{ ‫ون‬ َ ‫َخ ْي ٌر لَ ُك ْم إِ ْن ُك ْنتُ ْم تَ ْعلَ ُم‬
}10{   ‫ُون‬ َ ‫ هَّللا َ َكثِيرًا لَ َعلَّ ُك ْم تُ ْفلِح‬U‫هَّللا ِ َو ْاذ ُكرُوا‬
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari
Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang
demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (9) Apabila telah ditunaikan
sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan
ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung (10)”.

Hadirin rahimakumullah.
Syekh Mustafa al-Maraghi dalam tafisir al-Maraghi menyatakan, bahwa halalnya
perniagaan, transaksi jual beli jika terjadi saling meridhoi antara keduanya, sebaliknya
Islam sangat mengharamkan adanya penipuan, pendustaan dan pemalsuan barang. Hal ini
menunjukkan bahwa ayat ini merupakan dasar dari sebuah sistem ekonomi Islam, dan ayat
ini  pula merupakan himbauan pada kita semua agar tidak mencari keuntungan dengan
cara menghisap darah orang lain yakni riba.
Berdasarkan prinsip ini maka dapat dipahami bahwa ekonomi Islam adalah ekonomi
mu’awanah, terdapat didalamnya sistem ekonomi mudharabah, murabahah, musyarakah,
dan di negara kita alhamdulillah setidaknya telah melaksanakan prinsip ini seperti adanya
bank-bank syari’ah. Oleh sebab itu, untuk menopang prinsip ini Rasulullah SAW bersabda :
‫من كان له مال فليتصدق بماله ومن كان له قوة فليتصدق بقوته ومن كان له علم فليتصدق‬
‫بعلمه‬
“ siapa yang memiliki harta maka bersedekahlah dengan hartanya, siapa yang memiliki
kekuasaan maka bersedekahlah dengan kekuasaannya, siapa yang memiliki ilmu maka
bersedekahlah dengan ilmunya “.
Dengan demikian pada akhirnya kami mengajak pada seluruh umat Islam untuk bersama-
sama mengaplikasikan sistem perekonomian Islam, yakni dengan cara pemberdayaan
ekonomi umat, maka secara tidak langsung segala bentuk kebodohan, keterbelakangan,
dan kekufuran akan hilang dengan sendirinya.
Untuk itu marilah kita berdoa kepada Allah semoga kita diberikan kemudahan dalam
aktivitas kita. Amin ya Robbal ‘alamin.
‫والسال م عليكم ورحمة هللا وبركاته‬
ZAKAT, INFAQ DAN SHODAQOH SOLUSI PEMBERANTASAN
KEMISKINAN

‫السالم عليكم ورحمة هللا وبركاته‬


‫ والمساكين الصالة والسالم على سيدنا محمد‬U‫الحمد هلل الذي امرنا أن نهتم الفقراء‬
‫خاتم األنبياء والمرسلين وعلى اله وصحبه اجمعين اما بعد‬
Hadirin Rahimakumullah
Pada umumnya ada tiga konsep yang berkaitan dengan pemanfaatan harta benda.
Pertama, komunis dengan prinsip mengutamakan kepentingan masyarakat di atas
kepentingan individu, tiap-tiap individu tidak memiliki kemerdekaan dan hak kepemilikan
sehingga menguntungkan si miskin namun kerugikan bagi si kaya. Kedua, kapitalisme
dengan prinsip menitik beratkan kepentingan individu di atas kepentingan masyarakat,
akibatnya lahir “the rich richer and the poor poorer”. Yang kaya semakin, kaya dan yang
miskin semakin miskin:
‫القوي يأكل الضعيف والعالم يأكل الجاهل‬
Yang kuat memakan yang lemah, yang pintar memakan yang bodoh. Homo homoni lupus to
be polity in society, penghisapan manusia terhadap manusia menjadi peradaban. Hadirin
hanya membawa derita dan untaian air mata bagi kaum dhu’afa. Dalam polemic tersebut
muncul konsep Islam dengan unsur keseimbangan dalam pemberdayaan:

‫كي ال يكون دولة بين األغنياء منكم‬


Agar harta kekayaan tidak hanya bergulir di antara orang-orag kaya di antara kamu
sekalian.

Tapi dirasakan pula oleh kaum dhu’afa. Prinsip tersebut diantaranya diaplikasikan
melalui pelaksanaan zakat, wakaf dan infaq. Karena ituntasan itulah Zakat, Infaq, dan
shodaqoh solusi pemberantasan kemiskinan “ adalah tema yang akan kita uraikan pada
kesempatan kali ini. Dengan landasan surah At-Taubah ayat 103:

‫ك َس َك ٌن لَّهُ ْم َوهّللا ُ َس ِمي ٌع‬ َ ‫ُخ ْذ ِم ْن أَ ْم َوالِ ِه ْم‬


َ ‫ص َدقَةً تُطَهِّ ُرهُ ْم َوتُ َز ِّكي ِهم ِبهَا َو‬
َ ‫ص ِّل َعلَ ْي ِه ْم إِ َّن‬
َ َ‫صالَت‬
﴾١٠٣﴿ ‫َعلِي ٌم‬
Artinya : “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a
kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.”
Hadirin Ma’asyral Muslimin Rakhimakumullah…
Hadirin Imam Ibnu Jarir mengatakan ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan
permintaan Abu Lubabah beserta kedua temannya kepada Rasulullah Muhammad SAW
seraya berkata: “Ya Rasulullah, ini harta benda kami sedekahkanlah atas nama kami dan
mintakanlah ampunan bagi kami!”. Rasul menjawab: “Aku tidak diperintah Allah untuk
menerima harta sedikitpun”. Berkenaan dengan hal tersebut, turunlah perintah Allah untuk
menerimanya sebagaimana terangkai dalam surah At-Taubah ayat 103 tadi terutama pada
kalimat ‫ ُخ ْذ ِم ْن أَ ْم َوالِ ِه ْم‬Kalau kita kaji lebih dalam kalimat ‫ ُخ ْذ‬disamping menunjukkan sighat
Amr juga mengisyaratkan agar dibentuk lembaga pengelola zakat, wakaf dan infaq yang
professional dan proporsional. Kenapa demikian? Pertama, karena sadar membayar zakat
itu hanya sedikit. Kedua, mengisyaratkan agar amilin memiliki manajemen yang bagus.
Masa orde baru terbukti karena amilin tidak professional akhirnya zakat bukan
mensejahterakan rakyat tapi zakat menjadi jaket.
Hadiri, apa hikmah zakat bagi seorang muzakki? Ayat tadi menjelaskan : Pertama,
Tathir  ‫ تطهرهم‬untuk membersihkan harta dari hak-hak fakir miskin, orang yang tak
berharta, orang yang terbaring di pinggir-pinggir jalan yang tiap hari merasakan pekik
getirnya kehidupan, hanya isak tangis yang ia rasakan. Kedua, ‫ وتزكيهم‬membersihkan dari
penyakit rakus, tamak, dan serakah. Penyakit ini hadirin yang harus kita bersihkan, sebab
jika kehidupan manusia dilanda penyakit ini maka akan lahir hartawan berjiwa Qarun,
pengusaha bermental Sa’labah, penguasa berotak Fir’aun, fungsinya bukan pelindung
rakyat tapi pemeras, penindas, bahkan perampas hak-hak rakyat. Fungsi yang ketiga,
Taskin ‫ سكن لهم‬maksudnya dengan zakat, wakaf, dan infaq jiwa akan tenang, hati senang
walaupun banyak uang. Amin ya rabbal ‘alamin.
Tapi sebaliknya, jika para aghniya’, para konglemerat enggan membayar zakat,
enggan untuk wakaf, dan enggan berinfak maka suatu negara bisa kiamat, walau gedung
bertingkat, walau mobil makin mengkilat, dijamin rakyat sulit berdaulat apalagi jikalau
pejabat sudah jadi penjahat, menyikat uang rakyat, jelas bangsa bisa kiamat. Na’udzubillah
mindzalik. Padahal Rasulullah saw telah mengancam :

‫ليس المؤمن الذى يشبع وجاره جائع إلى جنبه‬


“Bukan termasuk orang mukmin, orang yang hidupnya kenyang sendirian sementara
tetangganya hidup dalam kelaparan”

Dengan demikian, orang kaya yang tidak peduli dengan nasib kaum dhu’afa,
konglomerat yang acuh terhadap kaum melarat, pejabat yang apriori terhadap nasib
rakyat, bukan saja mencerminkan orang yang jahat, tetapi mencerminkan orang yang tidak
beriman dan orang seperti ini harus minggir dari Negara kita tercinta ini. Sebab Negara kita
Indonesi akan jaya apabila dipimpin oleh orang-orang yang peduli dengan nasib kaum
dhu’afa.
Oleh karena itu hadirin, semangat zakat, wakaf dan infak wajib kita aplikasikan
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Timbul pertanyaan, kepada siapa zakat itu
diberikan? Sebagai jabannya kita renungkan firman Allah swt dalam al-Qur’an Surat al-
Taubah ayat : 60
Artinya : “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang
miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka
yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah
Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”

Hadirin Rakhimakumullah….
Ayat tersebut diawali dengan  ‫ إنما‬dalam ilmu balaghah merupakan ‫ اداة القصر‬yang
berfungsi untuk mensfesifikasikan. Ayat tersebut merupakan deskripsi Allah swt tentang
skala prioritas penerima harta zakat, yaitu ‫ الفقراء والمساكين‬orang-orang fakir dan miskin. Lalu
bagaimanakah kaitannya dengan kondisi Bangsa kita saat ini? Prof. Sukirman melaporkan
23 juta lebih penduduk indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, apalagi setelah
terjadinya krisis moneter, marak korban PHK, sulit mencari lapangan kerja, kemiskinan
semakin membengkak. Akibatnya kemiskinan ini ‫ كاد الفقر أن يكون الكفرا‬ dampak langsungnya
adalah dapat menyebabkan kekufuran, akibatnya adalah kemiskinan. Dr. Ismail Raj’i al-
Faruqi, derektur lembaga pengkajian Islam internasional mengatakan bahwa “ kemiskinan,
kebodohan, dan keterbelakangan merupakan tiga permasalahan besar yang saat ini, namun
diantara ketiganya kemiskinan merupakan yang paling berbahaya. Sebab kebodohan dan
keterbelakangan itu muncul akibat kemiskinan. Akibatnya, tidak sedikit saudara kita yang
menjual akidah hanya untuk mempertahankan hidupnya. Bahkan akibat kemiskinan tidak
sedikit gadis-gadis kita yang menjual kehormatannya untuk medapatkan sesuap nasi.
Na’udzubillah. Hadirin, menurut Dr. Didin Hafifudin, MSc, agar kemiskinan tidak bertambah
dan bertambah, ada tiga hal yang harus kita lakukan berkaitan dengan kewajiban zakat.
Pertama. Kita harus mengeluarkan zakat dan memasyarakatkan gerakan sadar zakat.
Kedua, kita harus membentuk lembaga zakat yang professional.  Ketiga, kita harus
memberdayakan zakat untuk membangun kesejahteraan masyarakat.
Oleh karena itu, kita harus menyambut baik usaha pemerintah yang berhasil
membuat Badan Amil Zakat (BAZIS), kita patut mengacungkan jempol dengan usaha
pemerintah yang berhasil membuat peraturan pemerintah No. 34 tahun 99 tentang
pengelolaan zakat. Semoga usaha yang telah dilakukan dapat menyadarkan masyarakat
kita untuk taat mengeluarkan zakat, berwakaf, dan berinfaq sehingga dapat  mengurangi
kemiskinan dan mensejahterakan masyarakat kita. Amin ya robbal alamin….
‫والسالم عليكم ورحمة هللا وبركاته‬
MENGHADIRKAN ISLAM DI TENGAH
MASYARAKAT MAJEMUK
‫السالم عليكم ورحمة هللا وبركاته‬
‫ وبذالك اوجب علينا اخوة‬.‫الحمد هلل الذي جعل اإلنسان خليفة بارسطاة وانواع مختلفة‬
}‫ اله وصحبه ومن تبع رسالته {اما بعد‬U‫الصالة والسالم على رسول هللا وعلى‬

HADIRIN MA’ASYIROL MUSLIMIN RAHIMAKUMULLAH


Rasisme dan diskriminisme merupakan paham yang sangat paradok dengan
kemajemukan. Jammes Monrou dengan doktrinnya “American is on America” telah
menganggap bahwa bangsa Amerika paling baik dari bangsa lain. Benneto Mussolini
dengan ajarannya, Fasisme Italia merasa bahwa bangsanya lebih mulia dari bangsa lain.
Hirohito dengan Fasisme Jepangnya mencetuskan bahwa bangsanya paling pantas
memimpin dunia. Alhasil paham-paham tersebut tidak menghargai kemajemukan. Samuel
Eto’o, pemain sepak bola asal Kamerun pun ikut menjadi salah satu korban rasisme,
sehingga jauh-jauh hari Persatuan Sepakbola Eropa (UEF) mencanangkan program
kampanye “Let’s Kick Racism out of Football”. Dan di Indonesia kita diinggatkan akan
kerusuhan Mei 1998, di mana sasaran utamanya adalah orang-orang Tionghoa, masyarakat
secara umum tidak melihatnya sebagai suatu tindakan biadab. Banyak yang mengutuk, dari
luar negeri, Negara-negara sahabat, lembaga-lembaga PBB maupun lembaga HAM
Internasional mengutuk keras rasial Mei 1998.
Penghargaan dalam Islam tidak berdasarkan ras, suku, keturunan, prestise, tapi
penghargaan dalam Islam berdasarkan amal dan prestasi. Untuk mengetahui lebih dalam
mengenai sikap Islam dan dunia kemajemukan, maka pada kesempatan ini kita bicarakan
“MENGHADIRKAN ISLAM DI TENGAH MASYARAKAT MAJEMUK ”. Dengan rujukan surat
Al-Hujurat, ayat 13 :

َ ‫يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا َخلَ ْقنَا ُك ْم ِم ْن َذ َك ٍر َوأُ ْنثَى َو َج َع ْلنَا ُك ْم ُشعُوبًا َوقَبَائِ َل لِتَ َع‬
‫ارفُوا إِ َّن أَ ْك َر َم ُك ْم‬
‫ِع ْن َد هَّللا ِ أَ ْتقَا ُك ْم إِ َّن هَّللا َ َعلِي ٌم َخبِي ٌر‬
Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya
kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi
Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

HADIRIN MA’ASYIROL MUSLIMIN RAHIMAKUMULLAH


Menurut ibnu Asy-Syakir dalam kitab Mubhamat bersumber dari abu bakar bin abu
daud, bahwa ayat ini berkenaan dengan keinginan Rasulullah SAW untuk menikahkan Abi
Hindin kepada seorang puteri dari kalangan Baidhah. Bani Baidhah dengan sinis berkata
pada Rasulullah ” ya Rasulullah pantaskah kami mengawinkan putri-putri kami kepada
budak-budak kami ? Rasul belum sempat menjawab saat itu, jibril datang menyampaikan
surat Al-Hujurat ayat 13 yang diawali dengan ُ‫يَاأَيُّهَا النَّاس‬, Menurut Imam Ali Ash-Shabuni
dalam Shafwat al-Tafsir beliau menjelaskan :
‫أي خطاب لجميع البشر‬
Artinya : “objeknya adalah seluruh manusia”.
Bahwa manusia baik laki-laki maupun perempuan walau bercorak suku berlainan bangsa
semuanya memiliki harkat dan martabat yang sama di hadapan Allah SWT. Fungsinya
bukan untuk saling menutup diri, melecehkan, menghina, membangga-banggakan
kelompok, suku bangsa, maupun daerah masing-masing. Sebab dengan tegas Rasulullah
SAW bersabda :
‫ليس منا من دعا على عصبيته وليس منا من مات على عصبيته‬
Artinya : “Bukan golongan kita, orang yang membangga-banggakan kesukuan dan bukan
golongan kita orang yang mati karena membela, mempertahankan dan memperjuangkan
kesukuan.”
Ini berarti kemajemukan tersebut harus kita jadikan jembatan emas
‫ليحصل بينكم التعارف والتألف‬  ‫لِتَ َعا َرفُوا أي‬
Artinya : “Agar kamu saling mengenal, yakni menjalin komunikasi yang harmoni dan
menebarkan cinta kasih serta kasih sayang yang tiada pandang sayang.”
Demikian ungkapan Imam Ali Ashobuni dalam Safwat at Tafassir.

HADIRIN WAL HADIRAT RAHIMAKUMULLAH


Timbul pertanyaan, bagaimana sikap kita dalam menyikapi kemajemukan bangsa
Indonesia ini sebagai suatu berkah?  Pertama, sebagai umat yang mayoritas mari kita jalin
ukhuwah Islamiyyah di Negara kita ini. Meskipun kita berbeda suku, adat istiadat, maupun
organisasi dan partai pilihan, tapi kalau satu akidah, tidak boleh saling menghina,
memfitnah, mengadu domba, apalagi sampai menumpahkan darah.
Mengingat pentingnya ukhuwah Islamiyah ini, pantas jikalau Rasulullah SAW ketika sedang
sakit keras, namun beliau bangkit berdiri dan berkata tentang pertentangan yang terjadi
antara kaum Aus dan Khazraj :
‫ابدا ابدا ابدا الجاهلية من بعد ما جاءتهم البينات وانا احضر بينكم‬
Artinya : “Apakah kamu akan kembali ke dalam tradisi jahiliyah (berpecah belah) setelah
datang penjelasan-penjelasan dan aku masih hadir di antara kalian.”

Sikap keras Rasul tersebut hadirin, merupakan realisasi untuk merajut ukhuwah
Islamiyah yang harus kita teladani dalam menyikapi kemajemukan bangsa kita ini. Karena
perpecahan kaum Aus dan Khazraj merupakan symbol bibit perpecahan internal umat
Islam yang saat ini banyak terjadi.
Sebagai bukti, disebabkan perbedaan pendapat masalah furuiyah, berlainan
organisasi yang diperkokoh oleh kepentingan pribadi dan kelompok, lantas pisah partai,
putus silaturrahim, berakhir dengan saling tonjok, saling rampok, bahkan saling bacok.
Na’udzubillah.
Kedua, sebagai warga Negara Indonesia, mari kita wujudkan dan kita pelihara
ukhuwah wathoniyah, dengan cara mengamalkan kembali filsafat momentum sumpah
pemuda yang telah diikrarkan oleh bangsa Indonesia terdahulu, bahwa kita satu nusa, satu
bangsa dan satu bahasa.

HADIRIN WAL HADIRAT RAHIMAKUMULLAH.


Jikalau beberapa upaya langkah-langkah ini sudah kita lakukan, mudah-mudahan
bangsa kita akan  menjadi bangsa yang selalu menghargai akan adanya perbedaan,
sehingga bangsa kita akan senantiasa mendapatkan keberkahan dalam menjalankan
pembangunan di Negara kita ini,  sebagaimana yang Allah janjikan dalam surat Al-A’raf
ayat 96 :

ْ ‫ض َولَـ ِكن َك َّذب‬


‫ُوا‬ ِ ْ‫ت ِّم َن ال َّس َما ِء َواألَر‬ ْ َ‫وا َواتَّق‬
ٍ ‫وا لَفَتَحْ نَا َعلَ ْي ِهم بَ َر َكا‬ ْ ُ‫َولَ ْو أَ َّن أَ ْه َل ْالقُ َرى آ َمن‬
}٩٦{‫ُون‬ ْ ُ‫فَأ َ َخ ْذنَاهُم بِ َما َكان‬
َ ‫وا يَ ْك ِسب‬
Artinya : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami
akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan
(ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”.

HADIRIN JAMA’AH SYARHIL QUR’AN ROHIMAKUMULLAH


Dr. Muhammad Sulaiman Al-Asqori dalam Zubdat at Tafsir min Fath al Qadhir
menjelaskan bahwa jikalau umat manusia beriman dan bertakwa :

ِ ْ‫ت ِّم َن ال َّس َما ِء َواألَر‬


‫ض أي لوسعنا عليهم الخير من كل جانب‬ ٍ ‫لَفَتَحْ نَا َعلَ ْي ِهم بَ َر َكا‬
Artinya : “pasti Allah lapangkan bagi mereka keberkahan dari langit dan Allah lapangkan
keberkahan dari bumi.” syaratnya iman dan taqwa.

HADIRIN ROHIMAKUMULLAH
Dari uraian tersebut dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa jikalau segala upaya
ttelah kita lakukan mudah mudahan bangsa kita menjadi bangsa yang bersatu pada
sehingga dapat membentuk Negara yang baldatun toyyibatun warabbul ghafur, amin.
Demikianlah yang dapat kami sampaikan mudah mudahan ada manfaatnya…
U‫وهللا المستعان إلى احسن الحال‬
‫والسالم عليكم ورحمة هللا وبركاته‬
REMAJA DAN PEMUDA SEBAGAI ASET MASA DEPAN BANGSA
‫السالم عليكم ورحمة هللا وبركاته‬
‫أللهم‬  ‫الحمد هلل الذى ارسل رسوال مبشرين ومنذرين وداعيا إلى هللا بإذنه وسراجا منيرا‬
}‫فصلى وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين {أما بعد‬
KAUM MUSLIMIN YANG DIRAHMATI OLEH ALLAH SWT
Alfin Toffler dalam bukunya The Future Shock and The Third Wave, beliau
menyatakan, era milinium merupakan era institusional change, yaitu era menjamurnya
berbagai media komunikasi. Konsekuensinya, pada suatu sisi melahirkan nilai-nila positif,
Namun disisi lain over loading information melahirkan desease of adaftation, penyakit
adaptasi. Penerimaan terhadap unsur-unsur asing tanpa mempertimbangkan baik atau
buruknya, ketika orang barat judi, Remaja dan pemuda  kita terlena dengan gaplek dan
remi, ketika orang barat terlena dengan minum-minuman keras, Remaja dan pemuda  kita
terlena dengan budaya mabuk-mabukan tenggak wisky, brandy, bahkan yang paling besar
dan mendasar penyakit adaptasi ini melahirkan dehumanisasi, demoralisasi, dan
despritualisasi.
Akibatnya manusia hidup bebas, keras, beringas, ganas bahkan lebih ganas dari
binatang buas, di sinilah pentingnya pembangunan kepribadian yang postif sebagaimana
digambarkan Thomas Hobbes dalam A War of All Agaents, John Lock dalam Social Contrack,
Bruch Spinoza dalam Intelektual Love of God dan lain sebagainya. Karena pentingnya
keperibadian positif, khusunya sebagai seorang muslim,  maka pada kesempatan ini, kita
akan membicarakan tentang “Remaja Dan Pemuda Sebagai Aset Masa Depan Bangsa”.
Dengan rujukan al-Qur’an surat al-Anfal ayat 24-25 :

‫ُول إِ َذا َد َعا ُك ْم لِ َما يُحْ يِي ُك ْم َوا ْعلَ ُموا أَ َّن هللاَ يَحُو ُل‬
ِ ‫ين َءا َمنُوا ا ْستَ ِجيبُوا هَّلِل ِ َولِل َّرس‬ َ ‫يَاأَيُّهَا الَّ ِذ‬
َ ‫صيبَ َّن الَّ ِذ‬
‫ين ظَلَ ُموا ِم ْن ُك ْم‬ ِ ُ‫} َواتَّقُوا فِ ْتنَةً اَل ت‬24{  ‫ُون‬ َ ‫بَي َْن ْال َمرْ ِء َوقَ ْلبِ ِه َوأَنَّهُ إِلَ ْي ِه تُحْ َشر‬
}25{ ‫ب‬ ِ ‫صةً َوا ْعلَ ُموا أَ َّن هللاَ َش ِدي ُد ْال ِعقَا‬ َّ ‫َخا‬
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila
Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah
bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya
kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang
tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa
Allah amat keras siksaan-Nya..” (QS. Al-Anfal)

HADIRIN MA’ASYRAL MUSLIMIN RAHIMAKUMULLAH


Berdasarkan ayat di atas maka dapatlah difahami bahwa dalam membangun Remaja
dan pemuda  maka hendaknya dapat membatasi antara dirinya dengan hatinya. Namun,
seperti apakah membatasi antara manusia dengan hatinya? Al-Smarqandi di dalam kitab
tafsirnya Bahr al-Ulum menyebutkan, bahwa yang dimaksud dengan “yahulu bain al-mar’i
wa qalbih” adalah :
‫ ويحول بين الكافر‬، ‫يحول بين المؤمن ومعاصيه التي تسوقه وتجره إلى النار‬
‫وطاعته التي تجره إلى الجنة‬
Artinya : “membatasi antara orang mukmin dengan kemaksiatannya yang mengarahkannya
dan mendekatkannya dengan api neraka, serta membatasi antara orang kafir dengan
keta’atannya yang dapat mendekatkannya dengan surga.”

Hadirin, penjelasan di atas menunjukkan bahwa seorang yang beriman bisa saja
terjerumus kedalam api neraka jika tidak dapat mengontrol hatinya dari kemaksiatan.
Akan tetapi perlu difahami bersama bahwa arahan berpikir ayat di atas bukan saja
menjurus kepada eksklusivisme Islam sehinga seringkali menafikan civil society yang
sesungguhnya harus terus dibangun.
Lebih detil di dalam ayat selanjutnya, Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab dalam
Tafsir al-Misbah menyebutkan bahwa, sendi-sendi bangunan masyarakat akan melemah
jika kontrol sosial melemah. Akibat kesalahan tidak hanya menimpa yang bersalah.
Tabrakan tidak hanya terjadi akibat kesalahan kedua pengendara. Bisa saja yang bersalah
hanya seorang, tetapi kecelakaan dapat beruntun menimpa sekian banyak kendaraan.
Tuntunan Allah swt dan Rasul-Nya telah disyari’atkan sedemikian rupa oleh Allah yang
mengetahui kemaslahatan, kebutuhan, sekaligus kecenderungan mereka. Apabila ada yang
melanggarnya maka akan timbul kekacauan, karena yang melanggar telah melakukan
suatu yang merugikan pihak lain. Pada saat itu akan muncul kekacauan, dan akan lahir
instabilitas yang mengakibatkan semua anggota masyarakat yang taat maupun yang
durharka ditimpa krisis.
Karena itu ayat ini berpesan : buatlah prisai antara diri anda dengan ujian dan
bencana dengan jalan memelihara hubungan harmonis dengan-Nya. Laksanakanlah
tuntunan-Nya dengan anjurkan pula orang lain berbuat kebaikan dan menjauhi
kemunkaran, karena jika tidak kita semua akan ditimpa bencana. Dalam konteks ini Rasul
saw memperingatkan :

“jika ada masyarakat yang melakukan kedurhakaan, sedang ada anggotanya yang mampu
menegur atau menghalangi mereka, tapi dia tidak melakukannya, maka Allah swt akan
menjatuhkan bencana yang menyeluruh kepada mereka”.

HADIRIN RAHIMKUMULLAH
Dalam menemukan Remaja dan pemuda  yang sejati di tengah-tengah hiruk-pikuk
kemaksiatan yang dapat menjerumuskan kita ke lembah kenistaan, maka kita harus
menemukan metode yang efektif dalam mengarunginya. Dalam hal ini, Allah swt
mengajarkan dan memerintahkan kepada kita. Sebagaimana firman-Nya di dalam surat ar-
Ruum ayat 60 :

َ ‫ك الَّ ِذ‬
َ ُ‫ الَ يُوقِن‬ ‫ين‬
}60{ ‫ون‬ َ َّ‫ يَ ْستَ ِخفَّن‬ َ‫ق َو ال‬
ٌّ ‫فَاصْ بِرْ إِ َّن َو ْع َد هللاِ َح‬
Artinya : “Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali
janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu
menggelisahkan kamu.” (QS. Ar-Ruum : 60)

HADIRIN RAKHIMAKUMULLAH
Berdasarkan firman Allah di atas, terdapat kata kunci yang paling ditekankan
dengan kata kerja perintah di dalamnya.
Adapun kata kerja perintah yang ada di dalam ayat di atas adalah “ ‫ ” فاصبر‬yang berarti
bersabarlah. Dan dalam hal ini, Abdurrahman bin Nashir al-Su’udy menafsirkan kata di atas
dengan sebutan :
‫فاصبر على ما أمرت به وعلى دعوتهم إلى هللا ولو رأيت منهم إعراضا‬
Artinya : “bersabarlah terhadap apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan terhadap apa
yang dipanjatkan kepada Allah meskipun engkau dapatkan di antara mereka ada yang
membangkang”

Penjelasan di atas menunjukkan betapa beratnya untuk menjadi mukmin yang sejati
di dunia ini, hingga Allah memerintahkan untuk selalu bersabar di dalamnya. Apalagi jika
dikaitkan dengan perkembangan zaman yang begitu cepat. Sebuah contoh adalah, saat ini
sebagian anak-anak muda kita terjerumus dan terlena dengan westernisasi, kebarat-
baratan. Orang barat merayakan valentine, kita ikut merayakan valentine. Di bawah sinar
remang-remang, disaat hujan rintik-rintik, angin menghembus sepoi-sepoi basah duduk
berdua. Masya Allah.
Oleh karena itu, langkah apakah yang harus kita lakukan dalam rangka membangun
generasi bangsa yang berpribadian muslim sejati ? Dan siapakah yang berperan di
dalamnya ?
1. Para orang tua, guru, dan pendidik, hendaknya memberikan bekal ilmu dan akhlaq yang
cukup bagi anak-anak, remaja, dan pemuda . Karena dengan ilmu dan akhlaq yang dimiliki,
mereka akan menjadi generasi yang “al-qawiy” yang kuat bukan generasi yang “al-dha’if”
atau generasi yang lemah.
2. Para remaja dan pemuda selaku generasi penerus bangsa, agar memiliki itikad yang baik
untuk dididik dan dibina, karena hal tersebut merupakan cikal bakal keberhasilan untuk
mewujudkan terbentuknya remaja dan pemuda yang sejati. Karena apalah arti guru tanpa
adanya murid. Dan apalah yang dapat dikerjakan seorang murid tanpa adanya instruksi
dan bimbingan dari guru. Oleh karena itu, saling take and give akan membuahkan hasil
yang berarti.

HADIRIN RAHIMAKUMULLAH
Dan pada akhirnya, dapat kita simpulkan bersama bahwa jika semua ikhtiyar ini
sudah kita lakukan, mudah-mudahan remaja dan pemuda kita bisa menjadi tumpuan,
harapan, dan cita-cita bagi bangsa kita. Amin Ya Robbal ‘Alamin.
Demikianlah yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan ada manfaatnya :
‫وهللا المستعان إلى احسن الحال‬
‫والسال م عليكم ورحمة هللا وبرمكاته‬
MEMBANGUN KARAKTER BANGSA PERSPEKTIF AL-
QURAN
‫السالم عليكم ورحمة هللا وبركاته‬
‫الحمد هلل العزة الذى جئهم بكتاب فصلناه على علم هدى ورحمة لقوم يؤمنون أشهد أن ال‬
‫إله إال هللا وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله أللهم فصلى وسلم على سيدنا محمد وعلى‬
}‫آله وصحبه أجمعين {أما بعد‬
WAHAI PENCINTA AL-QUR’AN YANG DIRAHMATI OLEH ALLAH SWT

Albert Einstein, seorang ilmuan terbesar abad ke-20 menyatakan, “Relegion without
science is lame and science without relegion is blind”, agama tanpa ilmu adalah pincang dan
ilmu tanpa agama adalah buta. Kalimat ini menunjukkan bahwa, agama tidak hanya
mendorong studi ilmiah, tapi juga menjadikan riset ilmiah yang konklusif dan tepat guna,
karena didukung oleh kebenaran yang diungkapkan melalui agama. Alasannya adalah,
karena agama merupakan sumber tunggal yang menjadikan jawaban pasti dan akurat.
Selain daripada itu, kalimat ini juga menunjukkan bahwa membangun karakter bangsa
tanpa panduan agama tidak dapat berjalan dengan benar, tetapi justru membuang banyak
waktu dalam mencapai hasil tertentu, atau lebih buruk lagi, seringkali tidak memperoleh
bukti yang meyakinkan. Ketika Nabi sampai di Madinah, ia membuat sebuah perdaban baru
yang kemudian memunculkan pengertian bahwa Islam adalah sistem kepercayaan yang
sistemik, tidak hanya berdimensi theological, ritual, dan mistical tetapi juga berdimensi
moral dan intelektual.
Secara termonologi, Al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang di turunkan kepada
nabi besar Muhammad saw, melalui wasilah malaikat jibril as untuk di syiarkan kepada
umat manusia yang salah satu fungsinya adalah “huda linnaas” petunjuk bagi suluruh umat
manusia di muka bumi ini.  Said Nursi sebagai Renaissan of Islam menyatakan, “Islam is the
father of all the science and al-Qur’an is the book of science”, Islam adalah bapaknya seluruh
ilmu pengetahuan dan al-Qur’an adalah kitabnya ilmu pengetahuan. Oleh sebab itulah,
melalui penjelasan ini, maka pada kesempatan yang baik ini, kami akan membahas tentang
“MEMBANGUN KEPRIBADIAN BANGSA PERSPEKTIF AL-QURAN” dengan rujukan al-Qur’an
surat Ibrahim ayat 1 :

ِ ‫اط ْال َع ِز‬


‫يز‬ ِ ‫ور بِإِ ْذ ِن َربِّ ِه ْم إِلَى‬
ِ ‫ص َر‬ ُّ ‫اس ِم َن‬
ِ ‫الظلُ َما‬
ِ ُّ‫ت إِلَى الن‬ َ ‫الر ج ِكتَابٌ أَ ْن َز ْلنَاهُ إِلَ ْي‬
َ َّ‫ك لِتُ ْخ ِر َج الن‬
}1{ ‫ْال َح ِمي ِد‬
Artinya : “Alif laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu
mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin
Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS.
Ibrahim)
HADIRIN RAHIMAKUMULLAH
Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, di dalam Tafsir al-Mishbah menjelaskan,
bahwa penjelasan tentang pentingnya al-Qur’an, disebutkan oleh Allah swt. dengan
menggunakan bentuk jamak untuk kata (‫ )الظلمات‬yang berarti aneka gelap, sedang (‫)النور‬
dengan berbetuk tunggal. Hal ini untuk mengisyaratkan bahwa kegelapan itu bermacam-
macam  serta  beraneka  ragam  dan sumbernya pun banyak. berbeda dengan an-nuur atau
cahaya yang menerangai dan tidak pernah memberi gelap.
Penjelasan tentang al-Qur’an sebagai penerang atau an-nuur, benar-benar
menunjukkan bahwa antara al-Qur’an dengan membangun karakter bangsa terdapat
hubungan yang saling mengikat. Malik bin Nabi di dalam kitabnya Intaj al-Mustasyriqin wa
Atsaruhu fi al-Firy al-Hadits, menulis “Ilmu pengetahuan adalah sekumpulan masalah, serta
sekumpulan metode yang dipergunakan menuju tercapainya masalah tersebut.” Ini
menunjukkan bahwa kemajuan membangun karakter bangsa tidak dapat dinilai dengan
apa yang dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur dengan wujudnya
suatu iklim yang dapat mendorong kemajuan pembangunan karakter bangsa itu termasuk
al-Qur’an.
Al-Qur’an merupakan firman Allah yang tidak mengandung kontradiksi. Al-
Qur’anlah kitab yang telah diturunkan oleh Allah kepada utusannya sebagai petunjuk. Al-
Qur’an adalah kitab terakhir dan berada dalam penjagan Allah swt. Oleh sebab itu,
membangun karakter bangsa akan berkembang cepat hanya apabila dituntun oleh al-
Qur’an, dan mengambil kebenaran darinya. Karena, hanya dengan demikian membangun
karakter bangsa mengikuti jalan Allah. Ketika jalan yang bertentangan dengan agama
diambil, para ilmuan menyia-nyiakan waktu dan sumberdaya, serta menghalangi kemajuan
membangun karakter bangsa. Demikianlah menurut Harun Yahya dalam The Qur’an Leads
the Way to Science.
Lalu bagaimanakah dinamika keilmuan dalam menwujudkan kepribadian umat
Islam saat ini? Umat islam saat ini mengalami degradasi besar-besaran. Data Badan
Penelitian International menyebutkan, Israel yang notabene Yahudi dalam 1 juta penduduk
memiliki 1600 pakar pengetahuan, Amerika yang notabene Nasrani dalam 1 juta penduduk
memiliki 160 pakar pengetahuan. Sedangkan Indonesia yang notabene mayoritas muslim
terbesar di dunia, dalam 1 juta penduduk hanya memilki 65 pakar yang muslimnya hanya 6
orang. Oleh karenanya, dalam bidang membangun karakter bangsa dan teknologi, kita
masih jauh tertinggal oleh bangsa-bangsa lain. Kita jauh tertinggal dengan Amerika yang
Protestanis, kita jauh tertinggal oleh Korea yang Konfusianis Taois, bahkan kita jauh
tertinggal oleh Jepang yang Budhis Taois. Padahal 14 abad yang lalu kita telah
diperintahkan untuk membaca dan membangun karakter bangsa. Bacalah al-Qur’an supaya
hidup teratur, bacalah alam supaya lahir karya-karya luhur, dan baca diri kita agar hidup
tidak takabur, sebab membaca dalam Islam harus dibarengi dengan serta diimbangi
dengan :
َ َ‫بِاس ِْم َرب َِّك الَّ ِذي َخل‬
‫ق‬
Artinya : “Dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”

Akan tetapi, untuk dapat memahami dengan jelas dan benar terhadap  interpretasi
dari firman-firman Allah di dalam al-Qur’an, yang menjelaskan tentang korelasi antara al-
Qur’an dan meciptakan kepribadian bangsa, serta mengambil manfaat darinya untuk
menjadikannya sebagai contoh kepribadian bangsa, maka salah satu yang harus dilakukan
adalah dengan dapat memahami al-Qur’an secara tekstual terlebih dahulu, yakni
memahami al-Qur’an dari segi kebahasaan, dan bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab.
Sebagaimana Allah berfirman di dalam al-Qur’an surat Thaha ayat 113 :

ُ ‫ون أَ ْو يُحْ ِد‬


{ ‫ث لَهُ ْم ِذ ْكرًا‬ َ ُ‫ص َّر ْفنَا فِي ِه ِم َن ْال َو ِعي ِد لَ َعلَّهُ ْم يَتَّق‬
َ ‫ك أَ ْن َز ْلنَاهُ قُرْ َءانًا َع َربِيًّا َو‬
َ ِ‫َو َك َذل‬
}113
Artinya : “Dan demikianlah Kami menurunkan Al Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah
menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka
bertakwa atau (agar) Al Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.” (QS. Thaha)

HADIRIN RAHIMAKUMULLAH
Di dalam kitab Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil al-Qur’an, Imam al-Thabari menjelaskan
bahwa yang dimaksud dengan firman Allah di atas adalah :

‫ما حذروا به من أمر هللا وعقابه ووقائعه باألمم قبلهم‬


Artinya : “Apa yang diperingatkan kepada mereka merupakan perintah Allah, hukuman-Nya,
dan ketetapan-ketetapannya terhadap umat-umat sebelum mereka.”

Hadirin, memperhatikan penjelasan tersebut, maka jelaslah bahwa al-Qur’an benar-


benar merupakan landasan contoh kepribadian bangsa buat kita, hal ini juga bisa dilihat
dari ditemukanya kata-kata ilmu dalam berbagai bentuknya di dalam al-Qur’an yang
terulang sebanyak 854 kali supaya kita dapat belajar membangun pribadi yang dimaksud.
Pada akhirnya kami mengajak…Wahai saudara-saudaraku orang Semendo “ayo kite jadikah
al-Qur’an kandik pedoman hidup”, wahai saudara-saudaraku orang Sunda “Hayu urang
sami-sami ngajanten keun al-Qur’an kanggo tuntunan kahirupan urang”, wahai saudara-
saudaraku orang Lampung “Lapah gham jadikon al-Qur’an sebagai pegungan ughi’ ”, wahai
saudar-saudaraku orang Solo “Sumonggo kulo lan panjenengan dadosaken al-Qur’an kagem
tuntunangin gesang”, wahai saudara-saudaraku orang Prancis “Allez utilisez I’al-Qur’an
pour le guide de notre vivre”, wahai saudara-saudaraku orang Jepang “Jaa al-Qur’an wa wa
watashitachi no kyoukashou ni narimashoo”.

Demikianlah yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan ada manfaatnya.


‫وهللا المستعان إلى احسان الحال‬
‫والسال م عليكم ورحمة هللا وبرمكاته‬
TOLERANSI LINTAS AGAMA DALAM MEMBANGUN
INDONESIA YANG HARMONIS DAN BERSAHAJA

Kerukunan berbangsa dan bernegara terusik oleh hadirnya intoleransi dalam


kehidupan beragama. Perusakan tempat ibadah umat agama lain yang terjadi di banyak
tempat menegaskan betapa toleransi lintas agama masih menjadi barang mahal nun langka
di negeri kita tercinta, Indonesia. Terlepas apa yang menjadi motif perusakan itu, kita
sepakat bahwa tindakan tersebut seharusnya tidak terjadi di negeri yang menjunjung
tinggi kerukunan dalam beragama. Bukankah anarkisme –apalagi menyangkut agama yang
sangat sensitif– justru menahbiskan nafsu kebinatangan yang selaiknya dibuang jauh-jauh
dari benak manusia.
Sepertinya, kita perlu melirik falsafah –yang konon milik– suku Bali (la’alla ash-
shawāb). “Masjid adalah rumah kami, namun digunakan oleh saudara kami yang beragama
Islam.” Begitu sikap mereka yang juga diterapkan kepada umat beragama selain Islam.
Ungkapan di atas menggambarkan betapa kerukunan antar umat beragama benar-benar
terlihat dalam keseharian mereka. Tidak ada sikap saling mencurigai apalagi saling
mengintimidasi. Justru, yang hadir di tengah-tengah kehidupan adalah kenyamanan dalam
keragaman. Inilah yang dalam istilah psikologi disebut ‘get comfortable in paradox’. Sebuah
kondisi jiwa yang mampu merasakan ketentraman meskipun berada di tengah paradoksal
kehidupan.
Berangkat dari paparan singkat di atas, dalam kesempatan ini, izinkanlah kami
membawakan pensyarahan Al-Qur’ā n dengan judul: “Toleransi Lintas Agama, dalam
Membangun Indonesia yang Harmonis dan Bersahaja”, dengan landasan Al-Qur’ā n
Surat al-An’ā m [6] ayat 108 dan Surat al-Mumtahanah [60] ayat 8.

Hadirin rahimakumullah,
Agama adalah perihal yang substansial dalam kehidupan manusia. Sejak pertama
terlahir ke dunia, manusia sudah terikat kontrak ilahiyah untuk mengabdikan diri kepada
Allā h SWT. Inilah yang menjadikan manusia (selalu) mencari realitas kebenaran mutlak
yang pada akhirnya akan bertemu dengan Allā h SWT. Namun, dalam praktiknya tidak
semua orang “diberi hidayah” untuk memeluk Islam sebagai agama yang paling diridhai.
Aneka agama yang hadir di tengah-tengah kehidupan adalah bukti ketidaktunggalan hasil
pencarian agama masing-masing insan. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam konteks ini
adalah kedewasaan sikap untuk tidak saling mencela sembahan umat agama lain. Berkaitan
dengan hal ini, Allā h SWT berfirman dalam surat al-An’ā m ayat 108 yang berbunyi:
Artinya: “Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain
Allāh, karena mereka nanti akan memaki Allāh dengan melampaui batas tanpa dasar
pengetahuan. Demikianlah, Kami Jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka.
Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan Memberitahukan kepada
mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-An’ā m [6]: 108)

Hadirin rahimakumullah,
Mengenai ayat di atas, Ibnu Katsīr menjelaskan bahwa Allā h melarang umat Islam
untuk memaki tuhan orang-orang musyrik walaupun ada nilai kemaslahatan dalam makian
tersebut. Sebab, akan terdapat mafsadah/kerusakan yang lebih besar yaitu sikap mereka
yang memaki Tuhan orang-orang yang beriman. Dengan adanya larangan tersebut, sikap
saling menghargai antar pemeluk agama seharusnya ditampilkan dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Banyak perkara yang lebih besar yang sebenarnya dapat
diselesaikan bersama, dengan mengesampingkan latar belakang agama.
Tidak dapat dimungkiri bahwa Allā h memerintahkan umat Islam untuk mengambil
jarak demarkatif dengan non-muslim. Betapapun demikian, menurut al-Ustā dz asy-Syahīd
Sayyid Quthb dalam kitabnya at-Tafsīr fi Zhilālil Qurān, Allā h juga mengajarkan kepada
umat Islam agar dalam mengambil jarak tersebut dilakukan dengan beradap, penuh
wibawa, dan penuh harga diri. Hal ini adalah suatu sikap yang sesuai dengan statusnya
sebagai orang-orang yang beriman. Dalam konteks ini, nilai persamaan sebagai manusia
lebih dikedepankan. Sementara, agama boleh dikesampingkan dalam hubungan sosial
karena agama adalah wilayah individual.
Toleransi lintas agama adalah syarat mutlak untuk menjalin kerukunan di tengah
kehidupan bangsa yang beraneka ragam. Pluralitas sendiri sebenarnya adalah sebuah
keniscayaan yang sengaja diciptakan oleh Allā h SWT. Dengan adanya keragaman,
khususnya dalam masalah agama, kedewasaan sikap menjadi tuntutan utama. Sebab, jika
hal itu diabaikan maka akan menimbulkan kekacauan (chaos) yang justru merusak tatanan
kehidupan. Dengan hadirnya toleransi –yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah
tasāmuh–, umat beragama dapat hidup rukun berdampingan.

Hadirin rahimakumullah,
Islam adalah agama yang diturunkan kepada seluruh umat manusia. Islam menjadi
rahmat bagi semua manusia dan semesta alam. Artinya, nilai-nilai kasih sayang dalam
Islam tidak hanya diperuntukkan bagi umat Islam an sich. Lebih dari itu, Islam adalah
agama yang sejak awal bertujuan menciptakan perdamaian dunia. Sikap saling menolong
(ta’āwun), apalagi menyangkut kemaslahatan bersama, bukanlah hal mustahil untuk
dilakukan. Potret kehidupan yang rukun –antara umat Islam dan non-muslim– ketika Nabi
Muhammad SAW hidup di Madinah menjadi preseden terbaik untuk mengaplikasikan nilai
kerahmatan Islam.
Islam sebenarnya membuka “keran” yang lebar bagi umatnya untuk berbuat baik
kepada umat agama lain. Betapapun agama mereka berlainan, namun mereka tetaplah
makhluk ciptaan Tuhan yang berhak atas perlakuan baik selama hidup di dunia. Justru,
ketika umat Islam bersikap “sinis” kepada mereka akan menciderai substansi Islam itu
sendiri. Islam tidak menginginkan orang memeluk agama karena faktor keterpaksaan.
Bukankah sudah jelas bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Berkaitan dengan hal ini,
marilah kita simak firman Allā h dalam surat al-Mumtahanah [60] ayat 8, yang berbunyi:

Artinya: “Allāh tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-
orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari
kampung halamanmu. Sesungguhnya Allāh Mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS.
al-Mumtahanah [60]: 8)

Hadirin rahimakumullah,
Dalam Tafsir al-Jalālain secara singkat diartikan bahwa dhamīr “hum” dalam ayat di
atas bermakna “al-kuffā r” (orang-orang kafir).
‫ أَ ْي‬:‫ار ُك ْم‬ ِ ‫َال َي ْن َها ُك ُم هللاُ َع ِن الَّ ِذ ْينَ َل ْم ُي َقا ِتلُ ْو ُك ْم فِي ال ِّد ْي ِن َو َل ْم ُي ْخ ِر ُج ْو ُك ْم مِنْ ِد َي‬
‫ ِّد ْي ِن َو َل ْم‬###‫ا ِتلُ ْو َن ُك ْم فِي ال‬###‫ر ِة الَّ ْذ ِينَ اَل ُي َق‬###
َ ‫ان إِ َلى ا ْل َك َف‬ِ ###‫س‬ َ ‫ا ُك ْم َع ِن اإْل ِ ْح‬###‫اَل َي ْن َه‬
‫اء َوالضع َف ِة ِم ْن ُه ْم‬ ِ ‫س‬ َ ‫او ُن ْوا َع َلى إِ ْخ َرا ِج ُك ْم َكال ِّن‬ ِ ‫ُي َظا ِه ُر ْوا أَ ْي ُي َع‬
Demikian Ibnu Katsir menerangkan dalam kitab tafsirnya. Maksudnya adalah,
(Allā h) tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik kepada orang-orang kafir yang tidak
berniat membunuh dalam agama dan tidak bersekongkol untuk mengusir umat Islam.
Sebagai gambarannya dapat kita cermati dalam kisah berikut. Asma’ binti Abu Bakar ash-
Shiddīq menceritakan bahwa ibunya –yang ketika itu masih musyrikah– berkunjung
kepadanya, maka ia pergi menemui Rasulullah bertanya: “Bolehkah saya menjalin
hubungan dengan ibu saya?” Nabi (kemudian) menjawab: “Ya! Jalinlah hubungan baik
dengannya.” (HR. Bukhari-Muslim)
ُّ #‫ ) َت َب‬dalam ayat di atas, menurut M. Quraish Shihab dalam
Kata tabarrūhum (‫ر ْو ُه ْم‬#
Tafsir al-Mishbah, berasal dari kata “al-birr” yang artinya adalah ‘kebajikan yang luas’.
Dataran yang terhampar di persada bumi ini dinamai “bar”, karena luasnya. Dengan
pemahaman tersebut, tercermin izin (justifikasi) melakukan aneka kebajikan bagi non-
muslim, selama tidak membawa dampak buruk bagi umat Islam. Sebagai penegasan,
ternyata Islam membukan jalan untuk berbuat ihsān kepada non-muslim. Kebaikan yang
dapat dilakukan sangatlah beragam sebagaimana penjelasan semantik di atas. Dengan
kebaikan yang disebarluaskan tersebut, toleransi akan dapat pula terwujudkan.
Selanjutnya, kata tuqsithū (‫) ُت ْقسِ ُط ْوا‬, berasal dari kata al-qisth, yang berarti adalah
‘adil’. Masih merujuk goresan tinta Quraish Shihab, pakar tafsir dan hukum, Ibnu ‘Arabi
sampai kepada simpulan: “Tidak melarang kamu memberi (se)bagian dari harta kamu
kepada mereka.” Pertolongan yang boleh diberikan kepada non-muslim tidak hanya berupa
bantuan moril, tetapi dapat berbentuk materiil. Hal ini semakin membuka jalan untuk
bersama-sama berjuang mengentaskan kemiskinan bangsa. Lebih dari itu, konsepsi ini
berdampak positif terhadap kebersatuan bangsa dalam menciptakan perekonomian yang
adil dan berimbang.

Hadirin rahimakumullah,
Pentingnya membangun bangsa yang harmonis dan bersahaja seharusnya menjadi
kesadaran seluruh elemen bangsa. Dimana hal ini baru dapat diwujudkan ketika seluruh
elemen bangsa dapat berjabat-erat, bersatu-padu, bergandengan-tangan, mewujudkannya
dalam kehidupan bangsa yang ber-bhinneka tunggal ika. Sekat agama yang seringkali
dijadikan pembatas ekstrim hendaknya dihindarkan untuk kebaikan bersama demi
kemajuan bangsa. Dengan demikian, Indonesia akan benar-benar menjadi bangsa yang
harmonis dan bersahaja. Harmonis adalah arti hadirnya kerukunan di tengah
keberagaman. Bersahaja dalam pengertian, berpegang teguh terhadap moralitas dan patut
menjadi teladan bagi bangsa lainnya.
Mengutip apa yang dituliskan oleh Marwan Ja’far dalam sebuah opini di Harian
Republika. “Kita perlu kembali pada prinsip umum ajaran Islam (maqā shid al-syarī’ah)
tentang eksistensi agama lain, yakni pengakuan terhadap nilai-nilai kemanusian dan
keabsahan de facto dan de jure sebagai bagian integral dari sebuah komunitas. Hubungan
muslim dan pemeluk agama lain wajib dipandang sebagai anggota yang memiliki tanggung
jawab terhadap keutuhan komunitas.” Dalam konteks ini, toleransi bukan lagi menjadi
sesuatu yang dirindukan namun sudah menjadi bagian kehidupan bangsa. Dengan
demikian maka keharmonisan dalam kehidupan beragama akan terwujudkan.

Hadirin rahimakumullah,
Simpulan yang dapat kita petik dari pensyarahan Al-Qur’ā n di atas adalah sebagai
berikut. Pertama, di tengah kehidupan bangsa yang plural, toleransi menjadi pijakan utama
untuk merajut persatuan dan kesatuan. Ketika toleransi hilang dari tengah-tengah
kehidupan maka yang terjadi adalah sikap saling mencurigai yang berimbas pada
ketidaknyamanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedua, toleransi (tasāmuh)
dalam konteks agama Islam adalah bagian dari cara untuk membumikan nilai kerahmatan
Islam kepada semesta alam. Ketika hal ini dapat terwujudkan maka kedamaian (peace) di
bumi tercinta Indonesia akan menjadi sajian utama.
Sebagai penutup, jika toleransi lintas agama dapat terjalin, impian untuk hidup di
tengah bangsa yang harmonis dan bersahaja insyā Allā h akan segera terwujudkan. Semoga
Allā h memberikan kekuatan dan rahmat-Nya kepada kita. Āmīn ya Mujība du’āi as-sāilīn. []
Wallāhu al-muwaffiq ila aqwami ath-tharīq. Wa huwa al-hādiy ila shirāthil mustaqīm.
Keterangan: Naskah boleh digunakan untuk kepentingan apapun, khususnya Musābaqah
Syarhil Qur’ān dengan mencantumkan sumbernya. Jazakumullāh…
REMAJA DAN PEMUDA SEBAGAI GENERASI
PENERUS BANGSA

‫السالم عليكم ورحمة هللا وبركاته‬


‫الحمد لله الذى ارسل رسوال مبشرين ومنذرين وداعيا إلى الله بإذنه‬
‫أللهم فصلى وسلم على سيدنا محمد وعلى' آله وأصحابه‬  ‫وسراجا منيرا‬
}‫أجمعين {أما بعد‬

Hadirin Yang Berbahagia ….


Masa muda merupakan masa  yang  penuh  dengan  harapan,  penuh  dengan  cita-
cita dan penuh dengan romantika kehidupan yang sangat indah. Keindahan masa muda
dihiasi dengan bentuk fisik yang masih kuat, berjalan masih cepat, pendengaran masih
akurat, pikiran masih cermat, kulit wajah indah mengkilat, walaupun banyak jarawat,
tetapi tidak gawat karena masih banyak obat ditoko-toko terdekat, oleh karena itu pantas
bila para pemuda dan para remaja merupakan salah satu penentu maju dan mundurnya
suatu Negara.
Sebab terbukti sejak dahulu kala hingga saat ini dan sampai yang akan datang sesuai
dengan fitrohnya pemuda dan remaja merupakan tulang punggung suatu Negara, penerus
estafet perjuangan terhadap bangsanya. Sebagaimana syekh Mustofa al-Ghalayaini seorang
pujangga Mesir berkata :

‫ حيتها‬U‫أن فى يد الشبان أمر األمة وفى أقدامها‬


“Sesungguihnya pada tangan-tangan pemudalah urusan umat dan pada kaki-kaki
merekalah terdapat kehidupan umat”

Mengingat betapa pentingnya remaja dan pemuda sebagai generasi  penerus


bangsa, maka pada kesempatan yang baik ini kami akan mengangkat tema mengenai “
Remaja Dan Pemuda Sebagai Generasi Penerus Bangsa ”, dengan landasan al-Qur’an
surat an-Nisa ayat : 9

Artinya : “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)
mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar”

Hadirin Ma’asyiral Muslimin Rakhimakumullah…..


Imam Hafidz 'Imaduddin Abu Alfida Ibnu katsir dalam tafsir Alquranul 'Adhim
menyebutkan bahwa menurut riwayat Ibnu Abbas ayat ini turun berkenaan dengan
seorang orang tua yang mewasiatkan kepada anaknya wasiat yang akan membawa
kemudaratan bagi dia. Maka Alah Swt. Memerintahkan kepadanya untuk merubah
wasiatnya kepada ketakwaan kepada Allah dan kebaikan.
Hadirin, jika kita kaji lebih mendalam, ayat tersebut diawali dengan kalimat  ‫واليخش‬,
secara semantik :
‫الواو واوالعاطفة واالم الم اآلمر يخش فعل المضارع مجزوم بالم‬
Istinbatnya, ‫ واليخش‬adalah sighat amr, kaedah mengatakan :
‫األصل في األمر للوجوب‬
“pada dasanya setiap perintah menunjukkan kewajiban”
Menurut ayat diatas jelas - jelas Allah swt memperingatkan manusia supaya tidak
meninggalkan generasi penerus yang lemah baik fisik, mental ataupun intelektual, karna
ini biasa menyebabkan kemunduran. Apabila generasi muda yang ada sekarang maupun
yang akan datang mempunyai kelemahan dalam hal-hal tersebut. Maka bisa dipastikan
mereka mudah terhanyut dalam gelombang bencana kemerosotan moral yang disebabkan
oleh pergaulan yang semakin bebas serta penyalahgunaan media, karna modal utama
mereka dalam membentengi diri dari bencana tersebut adalah tingkat intelektualitas serta
pemahaman manfaat dan mudharat dari sebuah pergaulan dan media sehingga hal ini
biasa memudahkan remaja dan pemuda dalam proses filtralisasi budaya sehingga mereka
terbebas dari taqlid buta alias terbebas dari budaya ikut-ikutan. Oleh karena itu wajib bagi
kami, saya, saudara dan kita semua merasa takut jika meninggalkan anak-anak, keturunan
dan generasi yang lemah.

Prof. Dr. BJ. Habibi mengatakan setidaknya ada lima kelamahan yang harus kita
hindari, yakni lemah harta, lemah fisik, lemah ilmu, lemah semangat hidup, dan yang sangat
ditakutkan adalah lemah akhlak. Hadirin jika lima kelemahan ini melekat pada generasi-
generasi remaja dan pemuda kita, saya yakin mereka bukan sebagai pelopor pembangunan
melainkan sebagai firus pembangunan, penghambat pembangunan, bahkan penghancur
pembangunan. Padahal hadirin…. dinegeri tercinta ini sejarah telah membuktikan sejak
tahun 1908 masa kebangkitan nasional sampai menjelang detik-detik proklamasi
dikumandangkan berbagai organisasi kepemudaan, seperti persatuan pelajar stofia,
Trikoro Dharmo, Jong Islamanten Bond bahkan kita mengenal Budi Utomo tokoh pemuda
kharismatik, mereka semua menjadi The Grand Old Man istilah bung Karno menjadi Stood
Geeber bahkan menjadi The Founding Father pendiri, penggerak yang mampu merebut
kemerdekaan.
Sejarah tersebut mengajarkan kepada kita semua selaku remaja dan pemuda saat ini
dan yang akan datang agar memiliki semangat juang yang tinggi serta tanggung jawab yang
penuh terhadap kelangsungan Nusa Bangsa dan Agama yang kita anut saat ini, sebab ‫سبان‬
‫ اليوم رجال الغد‬The Young today is The leader tomorrow pemuda hari ini adalah jago-jagonya
pemimpin yang akan datang.
Sebagai contoh bagi remaja dan pemuda sebagai generasi penerus bangsa, mari kita
renungkan firman Allah swt dalam al-Qur’an surat al-Kahfi ayat : 13

Artinya : “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita Ini dengan benar. Sesungguhnya
mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah
pula untuk mereka petunjuk.”

Hadirin Ma’asyiral Muslimin Rakhimakumullah ….


Imam Ali as-Shabuni dalam kitab Sofwatut tafasir memberikan syarahan terhadap
ayat tersebut dengan redaksi :

‫نحن نقص عليك يا محمد خبرهم العجيب على وجه الصدق بال زيادة وال نقصان‬
“yaitu kami kisahkan kepadamu wahai Muhammad berita aneh mereka menurut perjalanan
yang benar tidak ditambah dan tidak dikurangi sedikitpun”.
Dengan demikian, ayat tersebut merupakan khabariyyah ilahiyyah, suatu berita dari Allah
swt. Isi beritanya adalah kisah tentang pemuda Ashabul Kahfi. Ashabul kahfi dapat kita
jadikan uswah, terutama bagi remaja dan pemuda selaku generasi penerus bangsa. Ashabul
kahfi merupakan symbol personifikasi pemuda-pemuda beriman dan teguh pendirian, kuat
mempertahankan iman, pemuda-pemuda gagah yang pandai pempertahankan akidah dan
pemuda-pemuda idaman pintar membela keyakinan. Mereka lebih baik mati berkalang
tanah dari pada mati bercermin bangkai.
Oleh sebab itu sebagai remaja dan pemuda selaku generasi penerus bangsa mari kita
singsingkan tangan, langkahkan kaki ke depan berkerja, berkerja dan berkerja. Jika sikap
ini yang diaplikasikan oleh para remaja dan pemuda kita maka Allah akan menjamin
keberkahan bagi bangsa kita tercinta ini. Sebagaimana  Dr. Muhammad Sulaiman al-Asqori
dalam zubdat at-Tafsir min Fathil Qadir menjelaskan ‫ إعملوا ماشئتم‬berkerjalah sesuai dengan
skil masing-masing. Setidaknya ada lima olah yang harus kita kerjakan yakni olah rasa agar
iman melekat, olah rasio agar ilmu meningkat, oleh raga agar badan sehat, oleh usaha agar
ekonomi kuat, dan oleh kinerja agar produktifitas meningkat. Hadirin jikalau lima potensi
ini sudah melakat pada remaja dan pemuda sebagai generasi bangsa maka generasi
penerus bangsa dapat melanjutkan estafet perjuangan yang meraih prestasi gemilang pada
masa yang akan datang.

Hadirin Ma’asyiral Muslimin Rakhimakumullah ….


Dari uraian tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa pemuda merupakan
penerus estafet perjuangan bangsanya maka soyogyanya pemuda harus memiliki semangat
juang yang tinggi serta tanggung jawab yang penuh terhadap kelangsungan Nusa, Bangsa
dan Agam. Hal ini juga menjadi tanggung jawab kita bersama sapaya tidak meninggalkan
generasi penerus yang lemah baik fisik, mental ataupun intelektual.

Hadirin Yang Berbahagia,


Hidup Sendiri tanpa seorang Kekasih
Cukup sekian dan Terimakasih.
‫والسالم عليكم ورحمة الله وبركاته‬