Anda di halaman 1dari 14

RESUME

PENYEDIAN AIR BERSIH

Diajukan untuk memenuhi tugas


Mata kuliah : Kesehatan lingkungan
Dosen Mata Kuliah : Piyantina Rukmini, M.eng

Disusun Oleh :
Surito

PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN NAHDATUL ULAMA
INDRAMAYU

2020
Air bersih merupakan salah satu kebutuhan vital di masyarakat. Air dibutuhkan dalam berbagai
kepentingan mulai dari irigasi, pertanian, kehutanan, industri, pariwisata, air minum, dan masih
banyak lagi kegiatan yang dapat memanfaatkan air. Permasalahan yang terjadi adalah kualitas air
permukaan yang semakin menurun akibat limbah, baik limbah domestik maupun industri. Hal ini
berdampak pada terbatasnya ketersediaan air bersih, yang bahkan dapat dikatakan saat ini dunia
berada pada kondisi krisis air bersih. Dengan demikian, tersedianya air bersih di setiap wilayah
menjadi suatu hal yang sangat penting sehingga kebutuhan masyarakat terhadap air bersih dapat
terpenuhi. Jika dilihat dari segi infrastruktur suatu wilayah itu sendiri, ketersediaan air bersih
juga merupakan salah satu komponen yang layak menjadi fokus perhatian. Terutama di daerah
perkotaan dengan jumlah penduduk yang padat. Ketercapaian suatu kota terhadap 100% akses
air bersih dapat mengindikasikan keberhasilan kota tersebut dalam menangani permasalahan
lingkungan. Sementara itu, menangani permasalahan lingkungan merupakan salah satu dimensi
penting untuk mewujudkan smart city. Smart city dalam kajian Assessing Smart city Initiatives
for The Mediteranean Region (ASCIMER) diartikan sebagai sebuah konsep daerah yang
menghubungkan kepentingan manusia, kehidupan sosial dan infrastruktur terintegrasi menjadi
kesatuan. Tujuannya adalah untuk mengatasi permasalahan-permasalahan publik agar mencapai
pembangunan berkelanjutan dan dapat meningkatkan kualitas hidup warganya (Okezone
Finance, 2016).
Dalam kondisi alami, sebagian besar air hujan meresap ke dalam tanah sehingga hanya sebagian
kecil yang mengalir langsung ke dalam sungai. Semakin banyaknya pendirian bangunan,
berdampak pada berkurangnya jumlah air yang mengalir melalui bawah tanah. Kondisi ini
diperburuk oleh pengambilan air melalui sumur-sumur yang lebih dalam karena persaingan
untuk mendapatkan sumber air (Whitten, Soeriaatmadja, & Afiff, 1999). Banyak faktor yang
mempengaruhi ketersediaan daya air. Penyebab permasalahannya adalah terkait penyimpanan
dan distribusinya ke daerah-daerah kota atau pinggiran kota. Menurut UNESCO (1978) dalam
Engineer Weekly (2016), volume total air dunia sebesar ± 1,8 milyar kilometer kubik, dan
sekitar 11 juta meter kubik air tawar berada di permukaan dan dalam tanah. Diketahui pula
bahwa jumlah air tawar kira-kira hanya 2,6% air di bumi dan hampir semuanya tertahan sebagai
salju, glasier, dan air tanah. Hanya 0,007% berada di danau, 0,005% di dalam tanah yang
lembab, dan 0,0001% di dalam sungai (Whitten, Soeriaatmadja, & Afiff, 1999). Pada tahun
2000, data dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melaporkan bahwa
ketersediaan air permukaan hanya cukup untuk memenuhi sekitar 23% kebutuhan penduduk.
:Permukiman di pesisir Utara Kabupaten Lamongan merupakan salah satu kawasan rawan air
bersih yang ada di Jawa Timur.Selama ini, distribusi air bersih dilakukan melalui sambungan
rumah yang diperoleh dari PDAM dan HIPPAM, namun pelayanan yang didapatkan ini masih
sangat minim dan jauh dibawah standar pelayanan minimum air bersih. Penelitian ini bertujuan
untuk merumuskanarahan penyediaan air bersih pada kawasan rawan air di permukiman pesisir
Utara Lamongan.Metode yang digunakan yaitu analisis statistik deskriptif untuk
mengidentifikasi kebutuhan dan cakupan pelayanan air bersih, analisis regresi spasial dengan
GWR (Geographically Weighted Regresion)untuk menentukan faktor-faktor yang berpengaruh
dalam penyediaan air bersih dan analisis deskriptif untuk merumuskan arahan penyediaan air
bersih di pesisir Utara Lamongan.
Cakupan pelayanan air bersih di permukiman pesisir utara Lamongan dihitung dari prosentase
perbandingan antara jumlah penduduk yang terlayani air bersih dengan jumlah penduduk
keseluruhan. Data yang digunakan adalah jumlah penduduk tahun 2012. Dari hasil
perhitungan,dapat diketahui bahwa cakupan pelayanan yang diberikan oleh PDAM pada
Kelurahan/Desa Sedayulawas sebesar 0,25%, Brondong 14,53%, Blimbing 10,29%, dan
Kandangsemangkon 0,32%. Untuk cakupan pelayanan HIPPAM Desa Desa Lohgung 38,83%,
Labuhan 45,99%, Tunggul 26,50%, Banjarwati 63,36%, dan Weru Komplek (Paloh, Werulor,
Weru dan Sidokumpul) sebesar 20,88%. Untuk Kelurahan/Desa yang tidak memperoleh
pelayanan keduanya yaitu Kranji, Kemantren, Paciran dan Sidokelar cakupan pelayanan sebesar
0%
Novitri Astuti, Penyediaan Air Bersih oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota
Sangatta Kabupaten Kutai Timur. Penelitian ini dilakukan dibawah bimbingan Bapak Prof. Dr.
H. Adam Idris, M.Si selaku pembimbing I dan Kus Indarto, S.Sos., M.AP selaku pembimbing II.
Tujuan penelitian yang ingin dicapai penulis yaitu untuk mengetahui dan menganalisis
penyediaan air bersih oleh pihak PDAM Kota Sangatta dan untuk mengetahui faktor-faktor yang
mendukung dan menghambat penyediaan air bersih oleh pihak PDAM Kota Sangatta.Metode
penelitian yang digunakan penulis lebih menekankan pada metode deskriptif penelitian.Dengan
fokus penelitian yaitu masalah yang dihadapi dalam penyediaan air bersih yaitu : kualitas air;
kuantitas air; kontinuitas air dan faktor pendukung dan penghambat dalam penyediaan air bersih.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini adalah analisis data model
interaktif. Kesimpulan dari hasil penelitian diketahui bahwa PDAM Kutai Timur kualitas air
bersih kurang baik karena air baku tercemar, sedangkan kuantitas air bersih juga kurang baik
karena masyarakat belum sepenuhnya menikmati air bersih dan kontinuitas air bersih kurang
baik karena pendistribusian air sering mengalami permasalahan. Faktor pendukung dalam
penyediaan air bersih adalah adanya kerjasama yang baik dari pegawai PDAM dan
melaksanakan pelatihan dan pendidikan yang diikuti oleh pegawai PDAM sesuai kriteria yang
telah ditetapkan.Sedangkan faktor penghambat dalam penyediaan air bersih adalah adanya
pelebran jalan yang dilakukan oleh Pemerintah Kutai Timur dan adanya pencurian air yang
dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Dalam kualitas, kuantitas dan kontinuitas air bersih mendapati permasalahan diantaranya air
bahan baku telah tercemar oleh limbah tambang dan tingkat kekeruhan atau lumpur cukup tinggi.
Selain itu air mengalir kerumah pelanggan tidak 24 jam setiap harinya dan terdapat pula
kebocoran pipa dan kemacetan meter yang cukup tinggi.
Desa Soyowan Kecamatan Ratatotok Kabupaten Minahasa Tenggara sistem penyediaan air
bersih belum tersedia sehingga masyarakat kesulitan mendapat air bersih. Untuk kebutuhan
sehari-hari masyarakat menggunakan sumur yang ada, pada musim kemarau air sumur menjadi
kering dan sebagian masyarakat harus membeli air di depot air. Sistem penyediaan air bersih di
Desa Soyowan direncanakan untuk memenuhi kebutuhan hingga tahun 2025. Proyeksi jumlah
penduduk pada tahun rencana dilakukan menggunakan analisis regresi untuk memprediksi
jumlah kebutuhan air bersih. Hasil survey dan analisis menunjukkan bahwa jumlah pertumbuhan
penduduk Desa Soyowan hingga tahun rencana 2025 adalah 2095 jiwa, dengan jumlah
kebutuhan air bersih sebesar 1,75 liter/detik, dan kebutuhan air jam puncak sebesar 2,10
liter/detik. Dalam perencanaan ini sumber air berasal dari mata air Limpoga dengan debit sesaat
sebesar ± 3,47liter/detik, lebih besar dari debit kebutuhan air. Dengan demikian kebutuhan air di
Desa Soyowan dapat terpenuhi. Pipa transmisi dan pipa distribusi dihitung secara manual
menggunakan rumus Hazen-Williams, dan didapat ukuran pipa HDPE masing-masing 3 inch.
Air bersih didistribusikan ke penduduk secara gravitasi melalui 21 buah Kran Umum
Dari hasil analisis diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
• Perencanaan sistem penyediaan air bersih di Desa Soyowan Kecamatan Ratatotok,
memanfaatkan mata air Limpoga dan mampu melayani kebutuhan air bersih sampai tahun 2025.
• Perhitungan proyeksi jumlah penduduk yang digunakan adalah analisa regresi linear. • Untuk
menangkap air dari mata air, menggunakan bronkaptering yang dilengkapi dengan bak
pengumpul, kemudian air dialirkan secara gravitasi ke BPT 1 dan berlanjut ke BPT 2
menggunakan pipa transmisi HDPE 3 inch. • Air bersih didistribusikan ke penduduk secara
gravitasi dari BPT 2 melalui pipa distribusi utama HDPE 3 inch dan berakhir pada 21 buah
tunggak beton kran
istem jaringan air bersih adalah suatu sistem suplai air bersih yang meliputi sistem transmisi dan
reservoar. Sistem distribusi atau perpipaan dioperasikan sedemikian rupa sehingga dapat
memenuhi kebutuhan air bersih.
Zona pelayanan IPA Pilolodaa terletak di Kota Barat, Kota Gorontalo. Saat ini sebagian wilayah
pelayanan tersebut telah mendapat pelayanan air bersih dari PDAM, namun sebagian wilayah
pelayanan tidak mendapatkan air bersih. Penyebabnya adalah wilayah tersebut berada pada
dataran yang lebih tinggi dari PDAM, sehingga tekanan air untuk distribusinya terbatas.
Dengan menggunakan analisa eksponensial, hasil proyeksi jumlah penduduk zona pelayanan
IPA Pilolodaa pada tahun 2032 yakni berjumlah 18.537 jiwa dengan total kebutuhan air bersih
mencapai 40,164 liter/detik. Agar kebutuhan air bersih terpenuhi maka dibangun 2 reservoir,
masing-masing bertipe ground reservoir dengan ukuran 11m x 11m x 3m dan 15m x 15m x 3m.
Sistem distribusi menggunakan sistem kombinasi antara sistem pompa dan gravitasi, dengan
hasil perhitungan diameter pipa transmisi ke masing-masing reservoar adalah 175 mm dan 200
mm, untuk pipa distribusi bervariasi antara 50 mm - 200 mm. Untuk mendesain sistem
penyediaan air bersih digunakan software EPANET 2.0.
Dari hasil analisa diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Perencanaan sistem penyediaan air
bersih direncanakan berdasarkan kebutuhan
debit penduduk zona pelayanan IPA Pilolodaa Kota Gorontalo pada jam puncak sampai dengan
tahun 2032 yaitu sebesar 40,164 liter/detik. 2. Pengembangan sistem penyediaan air bersih yang
tepat sehingga dapat memenuhi kebutuhan air bersih zona pelayanan IPA Pilolodaa sesuai
analisa yakni Reservoir yang digunakan dibuat menjadi 2 (dua) buah, yakni untuk Reservoir I
berkapasitas 302,5 m3 dengan dimensi 11 m x 11 m x 3 m, sedangkan untuk Reservoir II
berkapasitas 562 m3 dengan dimensi reservoirnya 15 m x 15 m x 3 m. 3. Dengan adanya
pengembangan ini dapat dipastikan hingga tahun 2032 masyarakat yang berada di zona
pelayanan IPA Pilolodaa tidak akan kekurangan air bersih dari PDAM.
kebutuhan akan air sangat besar. Permasalahan yang terjadi adalah kuantitas dan kontinuitas
sumur terbatas pada musim kemarau.

Sistem Penyediaan air bersih diusahakan sendiri (self provision) yang cukup siginfikan terlihat
pada penyediaan air untuk objek wisata permainan air (waterboom) di Kecamatan Silungkang.
Sumber air untuk waterboom ini berasal dari Mata Air Dingin. Sumber air ini juga digunakan
oleh penduduk di Kecamatan Lembah Segar untuk keperluan sehari-hari. Tentu saja, semakin
banyak air yang digunakan oleh waterboom dikuatirkan akan mengurangi persediaan air bersih
untuk
masyarakat dan akan mempengaruhi kualitas sistem penyediaan air bersih Kota Sawahlunto.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa akibat topografi kota, sistem penyediaan air bersih
yang diusahakan sendiri (self provision) ikut terkonsentrasi pada dua daerah, yaitu daerah tinggi
berada di sebelah timur Kota Sawahlunto dan daerah rendah di sebelah selatan Kota Sawahlunto.
Hal ini mengindikasikan bahwa penyediaan air bersih belum merata bagi penduduk di Kota
Sawahlunto, masih terkonsentrasi pada daerahdaerah yang memiliki sumber air dan mudah
dijangkau oleh sistem penyediaan air bersih kota.
Sumber pembiayaan untuk sistem penyediaan air bersih Kota Sawahlunto berasal dari dana
APBN, APBD Propinsi Sumatera Barat
maupun APBD Kota Sawahlunto. Anggaran yang digunakan untuk mendukung kegiatan
operasional dan investasi di bidang penyediaan air bersih Kota Sawahlunto selama periode 2004-
2006 baru mencapai Rp. 6 Milyar (Tabel 6). Sementara dana APBD khususnya untuk belanja
publik selama periode tahun 2004– 2006 sebesar Rp. 206 Milyar. Apabila dilakukan analisis
antara APBD Kota Sawahlunto pada belanja publik terhadap investasi bidang air bersih, maka
akan terlihat bahwa investasi di bidang air bersih mendapatkan porsi yang sangat kecil dibanding
kegiatan pembangunan
merupakan kebutuhan hajat hidup yang vital bagi manusia. Jika ditinjau dari segi kualitas, air
minum siap konsumsi yang tersedia hanya sekitar 0,03%. Salah satu desa yang memerlukan
penyediaan air bersih adalah Desa Mojo Kecamatan Padang Kabupaten Lumajang. Desa tersebut
selalu mengalami kesulitan dalam penyediaan air setiap musim kemarau. Penurunan kualitas air
di antaranya disebabkan oleh cemaran mikrobiologi terutama bakteri indikator sanitasi golongan
koliform. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keamanan sumber mata air untuk
kebutuhan air minum bagi masyarakat Desa Mojo.
Pada tahun 2002, Departemen Kesehatan RI telah menetapkan kriteria kualitas air secara
mikrobiologis, melalui Keputusan Menteri Kesehatan No. 907 tahun 2002 bahwa air minum
tidak diperbolehkan mengandung bakteri koliform dan Escherichia coli. Standar Nasional
Indonesia (SNI) No. 01-3553 – 2006 menyebutkan bahwa air minum dalam kemasan selain tidak
boleh mengandung bakteri patogen yaitu Salmonella dan Pseudomonas aeruginosa, juga tidak
boleh mengandung cemaran mikroba lebih besar dari 100 koloni/ml.
Ketujuh sumber mata air (jirun sumber, jirun tandon 1, jirun tandon 2, jirun tandon 3, kali
tengah, sumber suko, PDAM) mengandung bakteri penyebab gangguan saluran cerna (entero-
patogenik) yaitu Sal-monella sp. dan Escherichia coli sp. Semakin tinggi suhu dan waktu
pemanasan yang digunakan, maka persentase dan nilai koefisien (k) destruksi Sal-monella dan E.
coli juga tinggi. Perlakuan pemanasan terbaik pada suhu 90oC selama 2 menit dengan persentase
destruksi sebesar 74,78% pada Salmonella dan 83,19% pada E. coli. Peningkatan tertinggi nilai
koefisien
destruksi Salmonella adalah pada perlakuan B3C2, yaitu sebesar 0,45, sedangkan E. coli pada
perlakuan B2C2, yaitu sebesar 0,26. Sumber mata air digunakan sebagai air minum, namun
harus dipanaskan terlebih dahulu hingga mendidih. Selain itu, diperlukan teknologi destruksi
yang lain seperti filtrasi membran untuk menyaring mikroba.

UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terimakasih ditujukan kepada kepada Dirjen DIKTI DP2M
yang telah memsupport penelitian ini melalui Program Ipteks bagi Wilayah 2014.
Semarang merupakan salah satu kota metropolitan yang terletak di bagian utara pantai Pulau
Jawa dengan jumlah penduduk sekitar 1,7 juta jiwa. Kota ini menghadapi dua permasalahan
yang terkait dengan air, yaitu banjir yang disebabkan oleh rob dan ketersediaan air bersih.
Tulisan ini bertujuan mengkaji akses penduduk terhadap air bersih serta permasalahan yang
dihadapi. Sumber data yang digunakan adalah hasil penelitian tim Perkotaan Ekologi Manusia,
Pusat Penelitian Kependudukan (P2K) – LIPI pada tahun 2012. Kajian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan diskusi
kelompok terfokus. Hasil kajian menunjukkan bahwa masyarakat yang tinggal di daerah yang
sering dilanda rob tidak dapat memperoleh akses air bersih dan terpaksa harus membeli air untuk
memenuhi kebutuhan rumah tangga. Persoalan lainnya adalah tidak semua air tanah di Kota
Semarang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan air minum karena degradasi lingkungan dan
intrusi air laut. Di lain pihak, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) belum mampu melayani
seluruh wilayah Kota Semarang karena masih terbatasnya jaringan. Untuk memenuhi kebutuhan
air bersih secara optimal, rekomendasi kebijakan yang disarankan adalah memperkuat institusi
PDAM, baik melalui pengembangan kemampuan sumber daya manusia yang terlibat maupun
perluasan pembangunan infrastruktur jaringan air bersih di Kota Semarang.

Air merupakan salah satu komponen lingkungan hidup yang sangat penting untuk perkembangan
dan pertumbuhan tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi makhluk hidup lainnya. Undang-
Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 33 ayat 3 menyatakan bahwa “bumi, air, dan kekayaan alam
yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat”. Pasal ini bermakna negara menjamin setiap warga negara untuk
memperoleh hak atas air. Selanjutnya, dalam pasal 1 ayat 3 dan 4 Undang-Undang (UU) No. 11
Tahun 1974 tentang Pengairan, definisi air adalah semua air yang terdapat di dalam dan atau
berasal dari sumber-sumber air, baik yang terdapat di atas maupun di bawah permukaan tanah.
Selanjutnya, sumber-sumber air adalah tempattempat dan wadah air, baik yang terdapat di atas
maupun di bawah permukaan tanah. Ditambahkan bahwa semua sumber daya alam, baik yang
terkandung di atas permukaan maupun di dalam perut bumi, dikelola oleh negara untuk
kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, kebijakan pengelolaan tentang air harus
memperhatikan kebutuhan seluruh kelompok masyarakat tanpa memandang status sosial
ekonominya.

Di tingkat internasional, hak atas air diperkuat dalam UN Declaration of Human Right of Water.
Secara umum, deklarasi tersebut menjelaskan bahwa hak asasi manusia tentang air diperlukan
untuk menjamin kehidupan manusia yang bermartabat (UN General Assemby, 2010; UN-Water,
2013). Demikian pula dalam kesepakatan Sustainable Development Goals (SDGs), pemenuhan
hak atas air ditetapkan dalam tujuan keenam, yaitu: “menjamin ketersediaan serta pengelolaan
air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua”. Sasaran SDGs pada tahun 2030 adalah
tercapainya akses universal dan merata terhadap air minum yang aman dan terjangkau bagi
semua. Untuk Indonesia, target dan sasaran tersebut telah ditetapkan dalam RPJMN 2015-2019,
melalui peningkatan akses terhadap layanan air minum layak pada tahun 2019 menjadi 100%
(Sekretariat Kabinet RI, 2017). Hal ini berarti kebutuhan penduduk terhadap air bersih dan air
minum layak adalah kebutuhan yang sangat krusial.
Ketersediaan air bersih terkait erat dengan kondisi kependudukan di suatu wilayah. Seperti yang
dikemukakan oleh Hunter (2001), dinamika kependudukan mempunyai pengaruh yang sangat
penting terhadap ekosistem, termasuk yang terkait dengan ketersediaan air. Tingkat pertumbuhan
dan kepadatan penduduk yang tinggi tentunya dapat berimplikasi terhadap akses untuk
memperoleh air bersih. Namun demikian, banyak sekali variabel antara
(intervening variabel) yang menjembatani hubungan antara ketersedian air bersih dan penduduk,
antara lain teknologi, kebijakan, dan budaya (Mujiyani, Rachmawati & Hidayati, 2006).

Pertumbuhan jumlah penduduk yang tinggi telah mengakibatkan tidak semua komponen
masyarakat dapat menikmati air bersih. Masyarakat kalangan bawah (miskin) dan tidak terdidik
di Provinsi Jawa Tengah yang jumlahnya mencapai 4,733 juta orang (14,56%) cenderung
mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses air bersih (BPS, 2014). Sebagai akibatnya,
banyak di antara mereka yang memanfaatkan air tanah dan air sungai untuk kebutuhan minum
rumah tangganya, padahal air tersebut belum tentu layak untuk dikonsumsi (“Baru 57,3%”,
2008). Kelompok penduduk miskin biasanya yang paling rentan merasakan dampak dari
terbatasnya akses terhadap air bersih. Kondisi tersebut ditengarai terjadi pula di Kota Semarang,
ibukota Provinsi Jawa Tengah. Jumlah penduduk miskin di kota ini yang mencapai hampir 21%
dari jumlah penduduk keseluruhan (BPS Kota Semarang, 2015) dapat menjadi beban bagi
pemerintah kota setempat dalam penyediaan berbagai infrastruktur, termasuk yang berkaitan
dengan penyediaan air bersih.

Penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat merupakan salah satu agenda penting
dalam menjamin kebutuhan dasar masyarakat. Sayangnya, meskipun secara potensial
ketersediaan air relatif melimpah, masih sering dijumpai masyarakat yang mengalami kesulitan
dalam mengakses dan memenuhi kebutuhan air bagi kehidupan sehari-hari. Selain itu, masuknya
pihak swasta untuk investasi pembangunan sistem penyediaan air minum merupakan ancaman
serius bagi masyarakat untuk mengakses dan memanfaatkan sumber-sumber air bagi kebutuhan
air minum.

Di Kota Semarang, terdapat beberapa daerah yang tergolong sulit untuk mendapatkan air bersih.
Daerahdaerah tersebut berada di Kecamatan Semarang Utara, terutama di daerah sekitar
Pelabuhan Tanjung Mas. Hal ini disebabkan hampir seluruh sumur masyarakat berair payau dan
asin karena adanya intrusi air laut. Untuk mendapatkan air bersih, penduduk miskin di wilayah
tersebut harus melakukan upaya yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok masyarakat
lain yang tingkat ekonominya lebih baik. Kelompok penduduk miskin harus membeli air bersih
untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Harga air bersih yang harus mereka bayar
seringkali lebih besar daripada pengeluaran lainnya.
Kabupaten Blitar saat ini memiliki 37 desa rawan air dari 73 desa yang ada. Kecamatan
Panggungrejo memiliki desa rawan air paling banyak sekitar 43% dari total desa yang ada.
Tingkat pelayanan air minum yang dikelola swakelola masyarakat (PAMDES) masih sangat
rendah yaitu 37%, dengan kualitas pelayanan yang belum memadai baik kuantitas maupun
kontinuitasnya. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui ketersediaan air sumber sampai dengan
tahun 2029 dan kondisi hidrolis yang ada. Simulasi jaringan pipa dilakukan dengan bantuan
program WaterCAD V8 XM Edition. Besarnya kebutuhan air disesuaikan dengan permintaan
daerah yang dilayani. Diketahui total debit yang tersedia di RD Sumber Gemplah sebesar 5,0
liter/detik. Berdasarkan analisa hasil perhitungan diketahui bahwa besar total debit untuk bisa
melayani 100% kebutuhan penduduk sebesar 6,06 liter/detik untuk daerah pelayanan RD Sumber
Gemplah. Perhitungan dilakukan dengan simulasi kondisi tidak permanen dengan kebutuhan air
berubah sesuai dengan kebutuhan tiap jamnya. Berdasarkan hasil akhir simulasi, dengan
menggunakan program WaterCAD V8 XM Edition, bahwa sistem jaringan pipa dapat berjalan
dengan baik. Hal ini berdasarkan kondisi tekanan, kecepatan dan headloss yang sudah sesuai
dengan syarat perencanaan dan volume tandon yang mampu untuk memenuhi kebutuhan air
bersih di daerah studi.
Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut : 1. Dari hasil perhitungan kebutuhan air bersih dapat diketahui
dengan menggunakan tandon mampu melayani penduduk sebesar 82,43% dengan kehilangan air
25%. Sehingga besarnya debit sumber yang tersedia sangat mencukupi kebutuhan air bersih
sampai dengan tahun 2029. 2. Untuk daerah distribusi RD Sumber Gemplah, alternatif 2 yang
paling sesuai untuk pola operasi karena menggunakan 1 pompa dan lama operasi pompa yang
paling pendek sehingga memperingan kerja pompa. Meskipun sama-sama sanggup memenuhi
kebutuhan air bersih penduduk, heda yang di butuhkan pompa pada alternatif 2 lebih
kecildibandingkan alternatif 1 dan alternatif 3 sehingga lebih efisien dalam pembangunan. 3.
Tekanan pada semua junction memenuhi persyaratan batas tekan maksimum HDPE (0-16 bars).
5.2. Saran Untuk mendapatkan hasil yang baik dalam suatu perencanaan sistem jaringan pipa,
maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Ketersediaan data yang ada sangat
membantu dalam perencanaan sistem distribusi jaringan pipa. 2. Adanya kerjasama antara pihak
yang bertanggung jawab serta penduduk sekitar unuk menjaga kelestarian sumber air dan
fasilitas yang ada untuk menjaga kontinuitas dan kualitas mata air tersebut.
PDAM Tirta Handayani sebagai BUMD di Kabupaten Gunung Kidul yang melayani masyarakat
dalam bidang air minum dapat dikatakan belum mampu bekerja secara optimal. Berdasarkan
data dari Roadmap MDGs DIY pada tahun 2012, PDAM Tirta Handayani memiliki kapasitas
terpasang sebesar 474 l/dtk, sambungan rumah sebanyak 36.545 serta cakupan pelayanan baru
mampu mencapai angka 26,75%. Sebagian besar masyarakat di Kabupaten Gunung
menggunakan menggunakan air sungai, mata air, serta sumur bor sebagai sumber air minum
mereka. Satker Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (PAMS) bidang Air Minum provinsi DI.
Yogyakarta bekerjasama dengan Pemerintah Daerah provinsi DI. Yogyakarta berusaha untuk
memfasilitasi masyarakat di kabupaten Gunung Kidul dalam mempermudah mendapatkan air
minum melalui program Sistem Pengembangan Air Minum Perdesaan (SPAMDES). Namun
demikian masih terdapat beberapa kendala dalam program SPAMDES yang perlu dikaji
sehingga mampu menjadikan program tersebut berkelanjutan hingga tahun berikutnya.
Cakupan pelayanan air minum di wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini sudah
cukup tinggi, namun untuk meningkatkan dan mempertahankan pelayanan yang telah ada perlu
disiapkan suatu rencana strategis kegiatan yang seiring dengan arah kebijakan pembangunan
nasional, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sumber: Roadmap MDGs DIY: PAMMASKARTA DIY
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa cakupan pelayanan PDAM Tirta Handayani untuk
kabupaten Gunung Kidul baru mampu mencapai 26,75%. Kondisi ini menunjukkan bahwa
sebanyak 74,25% warga harus mampu memenuhi kebutuhan air minum mereka secara mandiri.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, melalui Satuan Kerja Penyediaan Air
Minum dan Sanitasi (PAMS) DI. Yogyakarta bekerjasama dengan Pemerintah Kota/Kabupaten
untuk memfasilitasi warga dalam memenuhi kebutuhan air minum mereka.
Salah satu program yang dilaksanakan adalah Sistem Pengembangan Air Minum Perdesaan
(SPAMDES). Dalam program SPAMDES, masyarakat penerima bantuan dari pemerintah
memiliki wewenang dan tanggungjawab untuk mengelola sistem yang telah dibangun. Untuk
itulah tersedianya kelompok kerja menjadi syarat utama dalam pengajuan proposal untuk
bantuan SPAMDES.
Namun demikian meskipun telah terbentuk kelompok kerja, program SPAMDES belum dapat
berjalan secara efektif di beberpa dusun di Kabupaten Gunung Kidul. Kendala bukan hanya
disebabkan karena faktor teknis tetapi juga faktor non teknis, diantaranya sumber daya manusia
yang belum mumpuni untuk mengelola SAMDES yang telah terbangun.
Tujuan yang ingin dicapai dalam kajian ini adalah mengidentifikasi kendala yang ada pada
SPAM Perdesaan di kabupaten Gunung Kidul, serta memberikan rekomendasi solusi terhadap
permasalahan yang ada pada SPAM Perdesaan di Kabupaten Gunung Kidul.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kabupaten Gunung Kidul
Gunung Kidul merupakan sebuah kabupaten di provinsi DI. Yogyakarta dengan ibukota
Wonosari. Secara administratif Kabupaten Gunung Kidul terdiri dari 18 kecamatan dengan luas
wilayah 1.485,36 Km2 (Tabel 2). Tabel 2. Luas Kecamatan di Kab. Gunung Kidul Tahun 2013
No Kecamatan Luas (Km2) Desa Pedukuhan 1 Panggang 99,8 6 44 2 Purwosari 71,76 5 32 3
Paliyan 58,07 7 50 4 Saptosari 87,83 7 60 5 Tepus 104,91 5 83 6 Tanjungsari 71,63 5 72 7
Rongkop 83,46 8 100 8 Girisubo 94,57 8 82 9 Semanu 108,39 5 106 10 Ponjong 104,49 11 119
11 Karangmojo 80,12 9 104 12 Wonosari 75,51 14 103 13 Playen 105,26 13 101 14 Patuk 72,04
11 72 15 Gedangsari 68,14 7 67 16 Nglipar 73,87 7 53 17 Ngawen 46,59 6 67 18 Semin 78,92 10
116 Luas Keseluruhan 1.485,36 Sumber: Gunung Kidul Dalam Angka 2013
Untuk mencapai pelayanan air minum yang optimal untuk masyarakat proivinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta, diperlukan ketersediaan sumber air baku untuk air minum yang handal dan
didukung dengan ketersediaan infrastruktur Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang
mampu menyediakan air minum yang memenuhi kebutuhan baik kualitas, kuantitas, maupun
kontinuitas. Berikut adalah data terkait insfrastruktur SPAM yang telah ada di Provinsi DIY pada
tahun 2012
DAFTAR PUSTAKA
kajian sistem penyediaan air minum pedesaan (spamdes) kabupaten gunung kidul provinsi di
yogyakarta
ayu erlinna

studi perencanaan sistem penyediaan air bersih di desa serang kecamatan panggungrejo
kabupaten blitar
swesty ari donya, ery suhartanto, very dermawan

penduduk dan akses air bersih di kota semarang


(population and access to clean water in semarang city)
fadjri alihar

evaluasi keamanan sumber air minum desa mojo kecamatan padang kabupaten lumajang safety
evaluation of drinking water resource at mojo village padang distric lumajang regency
aditya oktavianto, nurhayati nurhayati, enny suswati

pemetaan persoalan sistem penyediaan air bersih untuk meningkatkan kualitas sistem penyediaan
air bersih di kota sawahlunto
rini susanti

pengembangan sistem penyediaan air bersih untuk zona pelayanan ipa pilolodaa kota gorontalo
mohamad oktora yassin lingkan kawet, fuad halim, m. i. jasin

perencanaan sistem penyediaan air bersih di desa soyowan kecamatan ratatotok kabupaten
minahasa tenggara
anastasya feby makawimbang lambertus tanudjaja, eveline m. wuisan

penyediaan air bersih oleh perusahaan daerah air minum (pdam) kota sangatta kabupaten kutai
timur
novitri astuti
pennyedian air bersih pada aiar bersih rawan air bersih di pesisir pantai lamongan rulli pratiwi
setiawan

ketersedian air bersih untuk kesehatan kasus pencegahan fdiare pada anak anak
sri utami