Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu faktor penentu kemajauan suatu Negara adalah sumber daya

manusia yang berkualitas dan handal, yang dibutuhan dalam menghadapi

persaingan di dunia internasional yang semakin mengglobal, sektor stategis yang

dapat mewujudkan peningkatan sumber daya manusia adalah sektor pendidikan.

Pendidikan nasional diartikan sebagai upaya meningkatkan kualitas manusia

Indonesia, Peningkatan kualitas pendidikan harus dipenuhi, antara lain melalui

pembaharuan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi tanpa mengesampingkan nilai-nilai luhur sopan santun dan etika serta

didukung penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, karena pendidikan

yang dilaksanakan sedini mungkin dan berlangsung seumur hidup menjadi

tanggung jawab keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah. Tetapi pada

kenyataannya, tanggung jawab terbesar dalam melaksanakan pendidikan berada

pada sekolah dan komponen-komponen sekolah.

Pendidikan di sekolah berlangsung dalam suatu interaksi antara siswa dan

guru, untuk mencapai tujuan tertentu.1Tujuan pendidikan di suatu negara sesuai

dengan dasar negara dan ideologi negara tersebut. Tujuan pendidikan di Indonesia

berbeda dengan tujuan pendidikan di negara lain. Seperti tertuang dalam Undang-

Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 tentang Dasar, Fungsi,

dan Tujuan Bab 2 pasal 3 menyatakan bahwa:


2

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan


membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.

Berdasarkan isi Undang-Undang tersebut menegaskan bahwa kehidupan

manusia tidak dapat lepas dari pendidikan. Pendidikan mempunyai peranan yang

penting dalam membentuk pribadi yang utuh. Pemerintah telah melakukan

berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan, agar tujuan pendidikan

dapat tercapai. Upaya yang dilakukan diantaranya inovasi di bidang pendidikan

dan pembelajaran. Dengan adanya pembelajaran, maka diharapkan dapat terjadi

perubahan ke arah yang lebih baik sesuai dengan potensinya.

Perubahan terjadi dari proses belajar dan pengalaman melalui proses

pembelajaran. Salah satu komponen yang terkait dengan Sistem Pendidikan

Nasional yaitu pendidik. Pendidik berkewajiban menciptakan suasana

pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis.

Selain itu, pendidik juga harus mempunyai komitmen untuk meningkatkan mutu

pendidikan. Selain faktor guru, untuk mencapai tujuan pendidikan nasional juga

diperlukan adanya penyelenggara dalam proses pembelajaran di masing-masing

satuan pendidikan. Tujuan pendidikan nasional dapat tercapai melalui jalur

pendidikan formal. Dalam pasal 14 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional

Nomor 20 Tahun 2003 jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar,

pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi


3

Agar tujuan pendidikan nasional tercapai maka setiap jenjang pendidikan

memiliki kurikulum yang berbeda-beda. Dalam Undang-Undang Sistem

Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 pasal 37 membahas tentang

Kurikulum. Kurikulum yang terdapat dalam pendidikan dasar dan menengah

wajib memuat Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa,

Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni dan Budaya,

Pendidikan Jasmani dan Olahraga, Keterampilan atau Kejuruan, dan Muatan

Lokal. Berdasarkan kurikulum, Matematika merupakan salah satu muatan wajib

yang harus ada dalam pembelajaran SD.

Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk susunan, besaran

dan konsep-konsep yang saling berhubungan satu sama lainnya dalam jumlahnya

terbagi dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri. Matematika

merupakan mata pelajaran yang bersifat abstrak sehingga dituntut kemampuan

yang besrsifat abstrak sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat

mengupayakan metode yang tepat sesuai dengan tingkat perkembangan mental

siswa (H.W. Fowlwer dalam Pandoyo,1997:1). Untuk itu, diperlukan model dan

media pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk mencapai kompetensi

dasar dan indikator pembelajaran.

Para pendidik matematika di sekolah dasar perlu untuk mengetahui

permasalahan yang ada, dan perlu pula memahami perkembangan pendidikan

matematika, minimal perkembangan tentang proses mengajar belajar yang sesuai

dengan tuntutan dan harapan sekarang ini.


4

Dari hasil observasi terhadap aktivitas siswa kelas VII SMP Negeri 3

Tinambung Kab. Polewali Mandar serta diskusi dengan siswa yang bersangkutan,

diperoleh informasi bahwa permasalahan belajar yang menjadi kendala adalah

keinginan untuk mengikuti pelajaran kurang, maka dapat disimpulkan

permasalahan utama dari siswa tersebut adalah minat belajar. Minat menjadi

sumber motivasi yang kuat untuk belajar dan menjadi penyebab partisipasi dan

keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Tanpa adanya minat belajar dalam

diri siswa, maka akan mengakibatkan kurang optimalnya hasil dalam proses

pembelajaran. Dikatakan demikian karena menurut Slameto (2010:108) siswa

yang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan

perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut. Untuk membangkitkan minat

belajar siswa, guru memiliki peranan yang penting. Guru harus kreatif

menciptakan metode penyampaian materi karena cara mengajar guru dapat

mempengaruhi tinggi atau rendahnya minat belajar siswa.

Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri

sendiri dengan sesuatu diluar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut,

semakin besar minatnya. Menurut Slameto (2010:180) “minat adalah suatu rasa

lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang

menyuruh’. Sedangkan Sutikno (2007:15) berpendapat “Minat merupakan

kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa

kegiatan. Menurut Muhibbin Syah (2003:151) secara sederhana, minat (interest)

berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar

terhadap sesuatu”. Minat besar sekali pengaruhnya terhadap kegiatan seseorang


5

sebab dengan minat ia akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya

tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu. Dengan kata lain minat

merupakan penyebab seseorang mengerjakan sesuatu yang diinginkannya. Minat

belajar dapat kita definisikan sebagai ketertarikan dan kecenderungan yang tetap

untuk memperhatikan dan terlibat dalam aktivitas belajar karena menyadari

pentingnya atau bernilainya hal yang ia pelajari.

Salah satu cara untuk meningkatkan minat dan hasil belajar matematika

adalah menerapkan model Pembelajaran Matematika Realistik (PMR). PMR

merupakan model pembelajaran yang mengangkat permasalahan atau topik-topik

dari kehidupan siswa yang dialami, diamati, dan dipahami sehari-hari. Oleh

karena itu, model PMR dapat menjadi alternatif yang dapat dilakukan guru

terhadap pembelajaran di SD agar permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam

pembelajaran yang dialami sedikit demi sedikit dapat diperbaikai ke arah yang

lebih baik.

Model Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) mendorong atau

menantang siswa aktif bekerja, bahkan diharapkan dapat mengkonstruksi atau

membangun pengetahuan sendiri yang diperolehnya. Pengalaman yang diperoleh

siswa akan semakin berkesan apabila proses pembelajaran yang diperolehnya

merupakan hasil dari pemahamannya atau penemuannya sendiri. Pembelajaran

yang bermakna akan membawa siswa pada pengalaman belajar siswa yang

mengesankan. Pengalaman tersebut akan digunakan untuk memecahkan masalah

dalam kehidupan sehari-hari.


6

Melalui Pembelajaran Matematika Realistik(PMR) yang pengajarannya

berangkat dari persoalan dalam dunia nyata diharapkan pelajaran tersebut menjadi

bermakna bagi siswa, dengan demikian menarik minat siswa terhadap pelajaran

Matematika dan pada akhirnya berimbas pada hasil belajar matematika.

Berdasarkan latar belakang masalah, sangat menarik dan perlu untuk

membahas pembelajaran matematika realistic (RME) sebagai upaya

meningkatkan minat belajar matematika siswa.

Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang masalah maka dirumuskan masalah adalah:

“Meningkatkan Minat Belajar Matematika dengan Pembelajaran Matematika

Realistik, Siswa Kelas VIIc SMP negeri 3 Tinambung Kabupaten Polewali

Mandar“.

Tujuan

Sesuai dengan rumusan masalah maka tujuan dari makalah ini adalah untuk

mengetahui Meningkatkan Minat Belajar Matematika dengan Pembelajaran

Matematika Realistik, Siswa Kelas VIIc SMP negeri 3 Tinambung Kabupaten

Polewali Mandar.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Pengertian Minat
7

Slameto (2010:57) membedakan perhatian dengan minat. Minat adalah

kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa

kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang akan diperhatikan terus-menerus yang

disertai dengan rasa senang hati. Jadi berbeda dengan perhatian, yang sifatnya

sementara (tidak dalam waktu lama) dan belum tentu diikuti dengan rasa senang,

sedangkan minat selalu diikuti rasa senang dan dari itu diperoleh kepuasan. Minat

sangat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena aktivitas belajar tanpa

didukung minat cenderung tidak diikuti dengan sungguh-sungguh atau sepenuh

hati. Selain itu menurut Slameto (2010:180) minat adalah suatu rasa lebih suka

dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.

Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan

bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya, dapat pula

dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang memiliki

minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih

besar terhadap subjek tersebut.

Bimo Walgito (2004:38) mendefinisikan minat sebagai “Suatu keadaan

dimana seseorang memiliki perhatian yang besar terhadap obyek yang disertai

dengan keinginan untuk mengetahui dan mempelajari hingga akhirnya

membuktikan lebih lanjut tentang obyek tersebut”. Menurut Moh.Uzer Usman

(2013:27) kondisi belajar mengajar yang efektif adalah adanya minat dan
7
perhatian, dalam belajar mengajar minat merupakan suatu sifat yang relatif

menetap pada diri seseorang. Selanjutnya Suryabrata (2010:13) menjelaskan

minat adalah sebagai pemusat tenaga psikis yang tertuju kepada suatu objek
8

meliputi banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai suatu kegiatan yang

dilakukannya, dimana disertai dengan perasaan senang atau tidak senang individu

terhadap suatu objek atau situasi tertentu. Menurut Gerungan (2010) minat

merupakan pengarahan perasaan dan menafsirkan untuk sesuatu hal (ada unsur

seleksi).

Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi,

sebaliknya minat belajar yang kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah

(Dalyono, 2012: 56-57). Dalam usaha untuk memperoleh sesuatu, diperlukan

adanya minat. Besar kecilnya minat yang dimiliki akan sangat berpengaruh

terhadap hasil yang akan diperoleh.

Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan

yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu (Muhibbin, 2011: 152).

Minat merupakan suatu dorongan yang kuat dalam diri seseorang terhadap

sesuatu. Minat adalah rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau

aktivitas, tanpa ada yang menyuruh (Slameto, 2010: 121). Minat dapat timbul

dengan sendirinya, yang ditengarai dengan adanya rasa suka terhadap sesuatu.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa minat adalah perasaan

ingin tahu, mempelajari, mengagumi atau memiliki sesuatu. Minat dapat

diekspresikan melalui pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai

suatu hal dari pada hal lainya, dan dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi

dalam suatu aktivitas. Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh

kemudian.

B. Faktor Penyebab Kurangnya Minat


9

Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar itu secara garis besar dibagi

dua. Faktor-faktor tersebut adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa

(internal) dan faktor dari luar diri siswa (eksternal).

1. Faktor dari dalam diri siswa

Faktor dari dalam yang dimaksud disini adalah semua faktor yang

bersumber dari dalam diri siswa atau individu itu sendiri. Adapun yang termasuk

kedalam faktor dari dalam atau internal antara lain motivasi, intelegensi

(kecerdasan), perhatian, kesehatan, kematangan. Kesemua faktor di atas saling

pengaruh mempengaruhi.

a. Intelegensi

Seperti diketahui bahwa manusia berbeda satu sama lain dalam berbagai hal,

juga tentang intelegensinya. Intelegensi ini merupakan keseluruhan kemampuan

individu untuk berpikir, bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai

lingkungan secara efektif. Intelegensi sering disebut juga kecerdasan atau tingkat

kemampuan anak dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya. Hal ini sesuai

dengan yang dikemukakan oleh Chaplin bahwa "intelegensi menyangkut

kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa yang telah dipelajarinya dalam

usaha penyesuaian terhadap situasi-situasi yang kurang dikenal dalam pemecahan-

pemecahan masalah". Jadi intelegensi atau kecerdasan merupakan kemampuan

menerapkan apa yang diperoleh dari belajar. Lebih lanjut Chaplin menjelaskan

secara umum intelegensi itu adalah sebagai berikut:

1) Kemampuan untuk berpikir abstrak.


10

2) Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi dan kondisi yang

baru. Dengan demikian jelaslah bahwa kecerdasan sangat mempengaruhi

minat belajar. Kecerdasan seorang anak akan terlihat pada tingkat kemauan

dan kedisiplinan serta semangat yang tinggi dalam menggali atau

menyelesaikan berbagai problema pelajaran yang diberikan guru. Anak

yang cerdas mempunyai sikap kepedulian dan kemauan yang tinggi dalam

menyelesaikan masalah-masalah yang belum diketahuinya. Anak yang

cerdas sangat berpengaruh positif terhadap peningkatan minat belajarnya.

b. Motivasi.

Motivasi adalah tenaga yang mengerakkan aktivitas seseorang. Motivasi

mempunyai kaitan yang erat dengan minat. Motivasi juga mempunyai peranan

penting dalam kegiatan belajar. Siswa yang memiliki minat terhadap suatu bidang

studi, tentu penilaian dan motivasinya yang serius, terhadap materi pelajaranpun

akan bagus.

Motivasi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianggap penting dalam

kehidupannya. Perubahan nilai-nilai yang dianut akan mengubah tingkah laku

manusia dan motivasinya. Karenanya bahan-bahan pelajaran yang disajikan

hendaknya disesuaikan dengan minat siswa dan tidak bertentangan dengan nilai-

nilai yang berlaku dalam masyarakat.

c. Perhatian

Perhatian merupakan pemusatan energi psikis yang tertuju pada suatu objek

atau dapat dikatakan sebagai banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai

aktivitas belajar. Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan


11

belajar. Karena tanpa adanya perhatian tidak mungkin minat untuk belajar itu ada.

Perhatian terhadap belajar akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai

dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang

dibutuhkan, maka motivasi untuk mempelajarinya akan muncul. Begitu juga

sebaliknya, jika sesuatu itu tidak dibutuhkan maka motivasinya akan tidak ada.

Jadi, untuk membangkitkan minat belajar yang baik, maka siswa harus punya

perhatian terhadap bahan yang dipelajari. Karena jika bahan pelajaran tidak

menjadi perhatian siswa. Maka timbullah kebosanan, dan tidak suka dipelajari.

Dengan demikian seorang guru seharusnya dapat mengajar dengan baik dan

terarah agar mendapat perhatian dan minat untuk mempelajarinya.

d. Kesehatan.

Kesehatan juga merupakan faktor internal yang dapat mempengaruhi minat

seseorang. Seseorang yang kesehatannya kurang baik atau terganggu akan

menghambat dalam melaksanakan segala aktivitas dalam kehidupan sehari-hari.

Begitu juga dalam hal belajar, seorang siswa yang kesehatanya terganggu akan

mempengaruhi jiwanya, misalnya mudah tersinggung, kurang minat, tidak

bergairah, tidak dapat mengkonsentrasikan pikirannya terhadap pelajaran,

sehingga mengakibatkan terhambat dalam kegiatan belajarnya.

2. Faktor dari luar diri siswa (Eksternal)

Faktor dari luar (eksternal) adalah segala sesuatu yang terdapat di luar

individu, baik kondisi maupun situasi lingkungan sekitarnya yang turut

mempengaruhi minat belajar seorang siswa. Faktor-faktor ini meliputi lingkungan


12

keluarga dan lingkungan masyarakat serta lingkungan sekolah itu sendiri. Apabila

faktor eksternal ini baik, maka seorang anak juga tumbuh dengan baik dan

terhindar dari pengaruh-pengaruh yang negatif, begitu juga sebaliknya, jika faktor

eksternal tidak baik, maka anak akan terpengaruh dengan lingkungan yang tidak

baik.

a. Lingkungan keluarga

Di dalam keluarga anak menerima kesan-kesan, baik berupa susah, gembira

maupun kebiasaan-kebiasaan lain seperti: larangan, celaan, pujian dan semua itu

dapat mempengaruhi jiwa anak. Semua anak, baik dalam keluarga miskin,

sederhana sampai keluarga yang mewah, membutuhkan kasih sayang dari orang

tuanya. Orang tua yang bijaksana akan membuat keluarga bahagia, aman dan

tenteram, baik dari segi lahiriyah maupun bathiniah. Keadaan keluarga sangat

besar pengaruhnya terhadap bangkitnya minat siswa untuk belajar secara

keseluruhan terutama bagi pertumbuhan dan perkembangan jiwa.

Dalam dunia pendidikan, faktor yang lebih banyak mempengaruhi minat

belajar siswa ialah faktor orang tua dan keluarga itu sendiri. Orang tua memegang

peranan penting dalam mendidik dan membina anak-anaknya. Dalam sebuah

keluarga, peran dan tanggung jawab terhadap kelangsungan hidup si anak selalu

berada di pundak orang tua. Merekalah yang memegang peranan dalam

kelangsungan hidup suatu rumah tangga. Keluarga juga merupakan pengalaman

pertama bagi anak dalam belajar. Oleh karena itu orang tua harus mampu untuk

memberikan bimbingan yang terbaik agar timbul suatu minat dalam diri anaknya.

Semua orang tua menginginkan anaknya berhasil dengan baik dalam mencapai
13

cita-citanya. Jika orang tua berpendapat demikian, maka seharusnya ia dapat

membangkitkan minat untuk belajar pada anaknya dengan sebaik-baiknya

terutama dalam membimbing dan mengawasi mereka dengan benar. Sehingga

anak akan lebih bergairah dan terdorong hatinya untuk belajar secara baik dan

sungguh-sungguh sesuai dengan minatnya.

b. Lingkungan Sekolah.

Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang mengembangkan potensi

manusiawi secara benar. Karena itu seorang guru yang bertanggung jawab harus

mampu menjalankan tugas-tugas pendidikan secara profesional, baik secara

individu maupun sebagai anggota masyarakat. Kegiatan untuk mengembangkan

potensi manusia, itu dilakukan secara berencana, terarah dan sistematika guna

mencapai tujuan.

Sekolah tidak hanya bertugas memberikan ilmu pengetahuan kepada siswa

tetapi juga berkewajiban membina kepribadian siswa menjadi manusia dewasa

yang berilmu pengetahuan dan bermoral tinggi serta mampu berfikir. Di

lingkungan sekolah seperti para guru, staf administrasi dan teman sekelas dapat

mempengaruhi minat belajar seorang siswa. Para guru yang selalu menunjukkan

sikap dan perilaku yang simpatik dan memberikan contoh teladan yang baik

kepada siswanya. Mereka harus berperan aktif dalam mengawasi, mengontrol

siswa-siswi dengan penuh tanggung jawab agar siswa dapat mendorong untuk

belajar lebih giat dan lebih terasa simpatik terhadap para gurunya itu sebagai

pendidik.
14

Seorang guru juga harus memberikan umpan balik yang positif sepanjang

berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Untuk itu guru perlu menciptakan

suasana lingkungan kelas yang menyenangkan dan menunjang, sehingga

membangkit minat belajar siswa. Oleh karena itu guru orang yang bertanggung

jawab terhadap kegiatan belajar anak di sekolah seharusnya memperhatikan

semua keadaan dan situasi di sekolah agar siswa dapat belajar dengan semangat

yang baik.

c. Lingkungan Masyarakat

Lingkungan masyarakat merupakan lembaga pendidikan non formal yang

juga disebut sebagai faktor dari luar (eksternal) yang berpengaruh terhadap minat

belajar siswa. Dalam lingkungan masyarakat terdapat berbagai ragam kehidupan

dengan latar belakang sosial budaya yang berbeda-beda. Lingkungan yang tidak

mendukung dengan sendirinya akan mempengaruhi perkembangan anak dalam

belajar yang juga mengakibatkan menurunnya minat anak untuk belajar.

C. Solusi / Jalan Keluar

1. Cara Menimbulkan Minat

Soemanto (dalam Dalyono, 2012:) juga mengatakan cara menimbulkan

minat dapat berupa:

a. Ajak langsung berhubungan dengan materi pembelajarannya

b. Dengan bercerita (ibu menceritakan dan akhirnya ibunya jadi lebih pintar)

c. Menjelasakan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan

d. Cari materi tambahan di toko buku, dengan gambar2 yang lebih “eye catchin”

2. Cara Meningkatkan Minat Siswa


15

Beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa cara yang paling efektif untuk

membangkitkan minat siswa yang telah ada. Di samping memanfaatkan minat

yang telah ada, Tanner & Tanner (dalam Slameto, 2010) menyarankan agar para

pengajar juga membentuk minat-minat baru pada diri siswa, ini dapat dicapai

dengan jalan memberikan informasi pada siswa mengenai hubungan antara suatu

bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pengajaran yang lalu,

menguraikan kegunaannya bagi siswa di masa yang akan datang. Rooijakkers

(dalam Slameto, 2010) berpendapat hal ini dapat pula dicapai dengan cara

menghubungkan bahan pengajaran dengan suatu berita sensasional yang sudah

diketahui kebanyakaan siswa. Menurut Slameto (2010), Jika terdapat siswa yang

kurang berminat terhadap suatu pelajaran, dapat diusahakan agar ia mempunyai

minat yang lebih besar dengan cara menjelasakan hal-hal yang menarik dan

berguna bagi kehidupan serta hal-hal yang berhubungan dengan cita-cita serta

kaitannya dengan bahan pelajaran yang dipelajarinya itu.

3. Faktor-faktor Yang Dapat Menimbulkan Minat

Soemanto (dalam Dalyono, 2012) mengatakan timbulnya minat dapat

disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:

a. Keinginan yang kuat untuk menaikan martabat

b. Memperoleh pekerjaan yang baik

c. Keinginan hidup senang dan bahagia

d. Keinginan menghasilkan prestasi yang tinggi pada suatu subyek yang baru

adalah dengan menggunakan minat-minat

4. Model Pembelajaran Matematika Realistik (RME)


16

a. Pengertian Pembelajaran Matematika Realistik (RME)

Gravemeijer dalam Marpaung dkk.(2011:1) RME (Realistic Mathematic

Eduction) merupakan suatu pembelajaran matematika yang dikembangkan di

Belanda oleh Freudenthal Institute tahun 1970 berdasarkan ide Freudenthal

tentang matematika. Dalam pembelajaran matematika model PMR sesuai dengan

filosofi konstruktivisme dan kontekstual. Berkaitan dengan dua

pandangantersebut, matematika harus diusahakan dekat dengan siswa dan harus

dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Di samping itu siswa harus diberi

kesempatan untuk belajar melakukan aktivitas bekerja matematika atau aktivitas

matematisasi matematika. Di Indonesia RME disebut Pembelajaran Matematika

Realistik (PMR). “RME adalah pengajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang

'real' bagi siswa, menekankan ketrampilan 'proses of doing mathematics',

berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehingga

mereka dapat menemukan sendiri ('student inventing' sebagai kebalikan dari

'teacher telling'). RME diawali dengan dunia nyata, agar dapat memudahkan

siswa dalam belajar matematika, kemudian siswa dengan bantuan guru diberikan

kesempatan untuk menemukan sendiri konsep-konsep matematika. Setelah itu,

diaplikasikan dalam masalah sehari hari atau dalam bidang lain.

(http://bimbelku.blogspot.com).

Menurut Wijaya (2012:20) Pendidikan Matematika Realistik adalah suatu

pendekatan pembelajaran matematika yang harus selalu menggunakan masalah

sehari-hari. De lange dalam Wijaya (2012:42) membagi matematisasi menjadi

matematisasi horizontal dan matematisasi vertikal. Selama pembelajaran


17

matematika realistik siswa telah melakukan proses matematisasi horizontal. Pada

awalnya siswa mencoba untuk memecahkan masalah secara informal

(menggunakan bahasa sendiri), tetapi setelah beberapa waktu, siswa familiar

dengan proses-proses pemecahan masalah yang serupa, mereka akan

menggunakan bahasa yang lebih formal dan diakhiri proses penemuan siswa

dalam suatu algoritma. Proses yang dilalui siswa sampai menemukan algoritma

disebut matematisasi vertikal. Marpaung dkk(2011:2) mengemukakan dalam

pembelajaran matematika realistik, guru di dalam kegiatan belajar tidak lagi

langsung memberikan informasi, tetapi harus menciptakan aktivitas yang dapat

digunakan para siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka. Menurut

Widjaja dkk.dalam marpaung dkk( 2011:2 )”untuk berperan sebagai sebagai

seorang fasilitator, guru harus dapat menggunakan masalah-masalah kontekstual

yang kaya, menanyakan pertanyaan–pertanyaan yang membimbing

pengembangan proses berpikir siswa, dan memimpin diskusi kelas”. Proses

belajar siswa akan terjadi ketika pengetahuan yang sedang dipelajari

bermakna(meaningful) bagi siswa( Freudenthal,1991 & CORD, 1999 dalam

Wijaya, 2012:31).

Pada model pembelajaran matematika realistik siswa memperoleh

kesempatan untuk mendapatkan pengalaman yang berguna dan berkaitan dengan

kehidupan sehari- hari dan kondisi riil yang pernah dialami siswa. Kehidupan

sehari-hari yang dimaksud adalah kehidupan yang dekat dengan lingkungan

tempat siswa berinteraksi, karena aktivitas manusia yang secara sadar atau tidak

dilakukan dengan menggunakan kosep-konsep matematika. Pembelajaran ini juga


18

menekankan pada keterampilan proses yaitu memberikan kesempatan atau

menciptakan peluang sehingga siswa aktif belajar matematika.

b. Prinsip Model Pembelajaran Matematika Realistik

Gravemeijer dalam Marpaung dkk.(2011:2)Model pembelajaran matematika

realistic menggunakan prinsip-prinsip RME, untuk itu karakteristik RME ada

dalam PMR. Ada tiga prinsip utama di dalam RME yaitu:

1) Penemuan kembali secara terbimbing ( guided reinvention ) dan

matematisasi progersive (progressive mathematization )

Siswa dalam mempelajari matematika perlu diupayakan agar dapat

mempunyai pengalaman dalam menemukan sendiri konsep, prinsip

matematika dll. dengan bimbingan orang dewasa. Pembelajaran dimulai

dengan masalah kontekstual(nyata) selanjutnya melalui aktivitas siswa

diharapkan ditemukan sifat atau definisi teorema aturan sendiri oleh siswa.

2) Fenomenologi didaktis( didactical phenomenology )

Siswa dalam mempelajari,konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan materi

lain dalam matematika, para siswa perlu bertolak dari masalah-masalah

(fenomena-fenomena) kontekstual yaitu masalah- masalah yang berasal dari

dunia nyata, atau setidak tidaknya dari masalah yang dapat dibayangkan

sebagai masalah nyata.

3) Mengembangkan - sendiri ( self-developed models)

Siswa dalam mempelajari konsep-konsep dan materi –materi

matematika, melalui masalah-masalah yang kontekstual, perlu

mengembangkan proses berpikir siswa, dari proses berpikir yang paling


19

dikenal oleh siswa, yang mungkin masih bersifat intuitif, ke arah proses

berpikir yang lebih formal.

c. Karakteristik Model Pembelajaran Matematika Realistik( PMR )

Karakteristik RME merupakan karakteristik PMR. Van den Heuvel–

Panhuizen dalam Supinah(2008:19), merumuskan karakteristik RME sebagai

berikut:

1) Aktivitas, yaitu matematika adalah aktivitas manusia. Si pembelajar harus

aktif baik secara mental maupun fisik dalam pembelajaran matematika.

2) Realitas, yaitu pembelajaran seyogyanya dimulai dengan masalah-masalah

yang realistik atau dapat dibayangkan oleh siswa.

3) Berjenjang,artinya dalam belajar matematika siswa melewati berbagai

jenjang pemahaman, yaitu dari mampu menemukan solusi suatu masalah

kontekstual atau realistik secara informal, melalui skematisasi memperoleh

pengetahuan tentang hal hal yang mendasar sampai mampu menemukan

solusi suatu masalah matematis secara formal.

4) Jalinan,artinya berbagai aspek atau topik dalam matematika jangan

dipandang dan dipelajari sebagai bagian-bagian yang terpisah, tetapi terjalin

satu sama lain sehingga siswa dapat melihat hubungan antara materi-materi

itu secara lebih baik.

5) Interaksi, yaitu matematika dipandang sebagai aktivitas sosial. Siswa perlu

dan harus diberikan kesempatan menyampaikan strateginya menyelesaikan


20

suatu masalah kepada yang lain untuk ditanggapi, dan menyimak apa yang

ditemukan orang lain dan strateginya menemukan itu serta menanggapinya.

6) Bimbingan, yaitu siswa perlu diberi kesempatan terbimbing untuk

menemukan (re-invent) pengetahuan matematika.

Sementara Treffer dalam Wijaya (2011:21) menyebutan lima karakteristik

dari pembelajaran matematika yang realistik yaitu:

1) Penggunaan konteks

Diajukannya masalah yang realistik untuk dipecahkan atau diselesaikan oleh

siswa sebagai titik awal proses pembelajaran. Menurut Wijaya (2012:28) dengan

penggunaan konteks di awal pembelajaran ditunjukkan untuk titik awal

pembangunan konsep dan bisa meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam

belajar matematika.

2) Penggunaan model untuk matematisasi progresif

Dikembangkannya cara, alat, atau matematis( gambar,grafik, tabel, dll) oleh

siswa sebagai jawaban informal terhadap masalah yang dihadapi yang berfungsi

sebagi jembatan antara dunia riil dengan abstrak sehingga terwujud proses

matematisasi horizontal (yaitu proses diperolehnya matematika informal).

3) Pemanfaatan hasil konstruksi siswa

Siswa memiliki kebebasan untuk mengembangkan strategi pemecahan

masalah sehingga diharapkan akan diperoleh strategi yang bervariasi.

4) Interaktivitas
21

Terjadi interaksi antara guru dan siswa antara siswa dan siswa dengan

suasana demokratif berkenaan dengan penyelesaian masalah yang diajukan

selama proses belajar. Wijaya (2012:23) mengatakan pemanfaatan interaksi dalam

pembelajaran matematika bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan

kognitif dan afektif siswa secara simultan.

5) Keterkaitan

Konsep-konsep matematika tidak dikenalkan secara terpisah atau terisolasi

satu sama lain. Pembelajaran matematika realistik menempatkan keterkaitan

(intertwinement) antar konsep matematika sebagai hal yang harus

dipertimbangkan dalam proses pembelajaran.

d. Aplikasi Model Pembelajaran Matematika Realistik

Aplikasi PMR juga harus memperhatikan karakteristik pembelajaran

matematika realistik yang telah dijelaskan. Pertama adalah pembelajaran

matematika harus berawal dari sesuatu yang ia ketahui dan diambil dari dunia

nyata supaya siswa dapat membayangkan, masalah harus sesuai dengan konteks

kehidupan siswa artinya masalah harus dikenal baik oleh siswa. Misalnya di

Papua tidak ada kereta api dan becak hanya ada perahu atau motor laut maka

konteks becak dan kereta api tidak sesuai bila diterapkan di sekolah Papua.

Selanjutnya langkah kedua adalah setelah diberi permasalahan yang riil dan sesuai

dengan pengalaman siswa maka, siswa diberi kesempatan untuk menyelesaikan

sesuai cara mereka sendiri. Misalnya diberikan soal Yohanis mempunyai hutang

pada Florence Rp 2000 lalu Yohanis membayar dengan 1 lembar uang Rp 1000

maka berapa sisa hutang Yohanis? Melalui permasalahan seperti ini siswa
22

kemudian diminta menyelesaikan permasalahan tersebut sesuai dengan cara

mereka masing-masing. Langkah ketiga adalah interaksi yaitu siswa harus

berinteraksi artinya setelah menyelesaikan permasalahan yang diberikan siswa

harus menceritakan bagaimana strategi yang ia gunakan untuk menyelesaikan

suatu permasalahan, lalu siswa lain menanggapi di sinalah diharapkan terjadi

interaksi antara siswa dengan siswa lainnya, mereka dapat bertukar informasi dan

saling memperbaiki pendapat masing-masing. Langkah selanjutnya adalah tugas

guru membimbing menemukan dalam menyeleaikan masalah sejenis di sinilah

siswa dapat mengerti penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari dan

mereka dapat melihat hubungan matematika dengan kehidupan sehari-hari.

e. Kelebihan Model Pembelajaran Matematika Realistik

Model pembelajaran matematika realistik mempunyai kelebihan:

1) Siswa lebih termotivasi karena materi yang disajikan terkait dekat dengan

kehidupan sehari-hari.

2) Materi yang disajikan lebih lama membekas di pikiran siswa karena siswa

dilibatkan aktif dalam pembelajaran.

3) Siswa berpikir alternatif dalam membuat penyelesaian.


23

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian dari hasil dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan

bahwa penerapan model pembelajaran matematika realistic (RME) satu teknik

pembelajaran yang dapat digunakan dalam upaya menumbuhkan minat siswa

terhadap pelajaran matematika.

2. Saran

Dari pembahasan menunjukkan bahwa pembelajaran matematika realistic

(RME) dapat menumbuhkan minat belajar siswa, karena itu diharapkan agar

pembelajaran ini dapat dilanjutkan dengan penelitian yang lebih lengkap, serta

diterapkan dalam pembelajaran untuk mengetahui pengaruh pembelajaran

terhadap hasil belajar dan minat siswa.

23
24

DAFTAR PUSTAKA

Dalyono. 2012. Psikologi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta.

Dimyati & Mudjiono, 2013. Belajar dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta.

Gerungan. 2010. Psikologi Sosial, Refika Aditama, Bandung.

Muhibbin Syah. (2003). Psikologi Belajar. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

Pemerintah Republik Indonesia, (2003), Undang-Undang Republik Indonesia No.


20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta.

Slameto. 2010. Belajar & Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Rineka Cipta.


Jakarta

Suryabrata, Sumadi. 2010. Psikologi Pendidikan, Rajawali Pers, Jakarta.

Usman, Moh. Uzer. 2013. Menjadi guru Profesional, Remaja Rosdakarya,


Bandung.

Walgito, Bimo. 2011. Teori-teori Psikologi Sosial, Penerbit Andi, Yogyakarta.