Anda di halaman 1dari 31

model ini terletak pada konstruk psikologis yang telah dikonseptualisasi

atau diteorisasi sebelumnya. Meskipun konsep, teori, ataupun hasil


penetitian sebelumnya meniadi sumber rujukan dan Iandasan teoretis,
namun hal tersebut tidak meniadi standar kebenaran keilmuan,
melainkan meniadi bahan komparasi bahwa temuan penelitian
indigenous mempunyai keunikan tersendiri. Artinya, penelitian
indigenous dengan model ini perlu menggambarkan bahwa perbedaan
konteks menjadi salah satu kausa yang cukup kuat atas keunikan temuan
penelitiannya. Misalnya, penelitian eksplorasi konsep kepercayaan per-
sonal dan relasional (Faturochman & Minza ,2014). Pada penelitian ter-
sebut, dijelaskan bahwa orientasi konsep kepercayaan personal dan
BAGHAFS [[
interpersonal dari kelompok siswa Sekolah Menengah Atas, mahasiswa,
dan karyawan berbeda dengan konsep kepercayaan yang telah dikon-
septualisasi dan diverifikasi oleh penelitian sebelumnya. Hal lain yang
juga penting diuraikan dalam penelitian tersebut ialah mengenai argu-
mentasi bernuansa indigenous yang melatarbelakangi keunikan temuan
ffiffiffiffiffiffiffiffiffi
penelitian.
Penelitian indigenous psy chology den gan mod e I in i tam pa knya lebih
banyak dilakukan dan dipublikasi daripada penelitian dengan dua model ffiffiffiffiffiffiWffiffiffi
sebelumnya. Mengingat uraian sebelumnya bahwa lndonesia cukup ide-
al untuk mengembangkan indigenous psychology oleh karena keragam-
an yang telah teruji secara kuantitas dan kualitasnya, maka diperlukan
adanya keseimbangan antara ketiga model penelitian indigenous ffiffiffiffiffiffiffiffiwffi
psychology yang digunakan. Pada konteks lndonesia, riset sistematis
dan riset berbasis tema seharusnya lebih diutamakan' Pasalnya, riset
sistematis yang berfokus untuk mengeksplorasi gagasan kontekstual
di lndonesia tidak hanya berfungsi sebagai verifikasi dan pembuktian
ffiffiwffiffiffiffiffiffiw
ilmiah psikologis, melainkan iuga sebagai medium untuk mentransfer
gagasan dari satu generasi ke generasi selaniutnya (kontir 'ritas).
Demikian juga, riset berbasis tema yang tidak hanya berfungsi untuk
mengonseptualisasi konstruk-konstruk kontekstual di lndonesia
yarrg belum lcrclcfinisikan, melainkan iuga sebal',,r upaycr sentralisasi
(l<or r'.t'r l risitas). I
Pengcrnlt;rn11itn UnsLtr'unsui iokal l ndont'sia
r
BAB 4
PANDUAN PRAKTIS PEN ETITIAN

f ndigenous Psychology tidak menetapkan sebuah metode penelitian


f tertentu sebagai metode baku untuk digunakan dalam setiap
I penelitiannya. Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif lazim
digunakan dalam penelitian indigenous. Namun demikian, mengingat
konsep indigenous psychology yangdikembangkan langsung dari masya-
rakat lndonesia masih tergolong minim, maka penelitian indrlenous
psychology di lndonesia banyak menggunakan metode penelitian
kualitatif. Pemilihan metode penelitian kualitatif didasarkan karena
penelitian indigenous psychology di lndonesia masih berfokus pada
eksplorasi dan'identifikasi konsep psikologi yang khas. Namun, perlu
digaris-bawahi bahwa hal tersebut bukan berarti bahwa penelitian
lndigenous psychology adalah penelitian kualitatif. Untuk lebih mudah
memahami operasionalisasi penelitian indlgenous psychology, maka
selanjutnya akan diuraikan langkah-langkah praktis sebagai panduan
pelaksanaan penelitian berdasarkan tiga model penelitian indigenous
psychology dl lndonesla yang telah diuraikan sebelumnya.

Mpmehaml dan Mrnqrmbanqkan INDICENOUS PSYCHOLOCY 57


-1

kriteria tersebut.

A;t'. Ids"ntifi kasi Mas-alah 2. Penelitian Indigenous Psychology: Tiga tvto{1t P.engem-
Penelitian Mainstream
Kontemporer bangan PeneHtln Indigenous Psychology di Indonesia
1. dan penentuan
masalah' reviu literatur' Tahapidentifikasimasalahperludilakukanterlebihdahuludalam
Tahapan identifikasi dikenal dengan
penelitian merupakan tahap awal yang lazim segala ienis penelitian, termasuk penelitian indigenous
psychology'
metode Tahapan ini
rancangan atau proposal penelitian' Sumberpermasalahanyangdapatdiidentifikasiuntukmenjadidasar
proses pembuatan
karena akan menentukan
"warna" dari seluruh penelitian indigenous psychotogy di lndonesia cukup bervariasi'
Ber-
dinilai cukup penting
psychology di
(Kerlinger & Lee' dasarkan ketiga model pengembangan indigenous
tahapan penelitian 11ool' pertama yang harus dalam model
Untuk merancang sebuah peneritian, rangkah lndonesia. Pertama, sumber permasalahan indigenous
diperoleh dari
pengembangan wacana dalam riset sistemctis dapat
dilakukanadalahiden-titit<asimasalah.Prosesidentifikasimasalahbisa
ataupun rekomendasi meniadi
sePerti artikel' iurnal' hasil studi terhadap wacana sistematis yang kemudian
bersumber aa'i fit"rutur masalah
Dengan kata lain' identifikasi
men-
sebelumnya' bahan untuk dibuktikan melalui penelitian atau dikembangkan
dari penelitian teoretis' Di sisi lain' peneliti lndonesia' Misalnya' de-
dibangun menggunaktn '"kot"ndasi iadi konsep indigenous psychology khas
dengan menggunakan pikir Ki Ageng
dapat met"kukan studi pendahuluan data
ngan mengembangkan gagasan Kawruh Jiwa buah
iuga observasi untuk mendapatkan Himam, zor5).
ataupun suryomentaram sebagai konsep psikoterapi (Kholik &
kuesioner, wawancara'
empiris mengenai masarah
ot]"llfl; iil''# Kedua, sumber permasalah an indigenous dalam
model pengem-

"H:
?:nf?:flffiI an di bangan berbasis tema dapat diperoleh dengan
menelusuri fenomena

L"#::LT l::l|rT, i"';jJ ggam b arkan perma sar ah

yang berasal dari pribadi


psikologis yang khas dan hanya ada di lndonesia
yang tidak dapat

tahap awal ini' dijelaskandenganmenggunakanteoripsikologimajnstream.Peneliti


lapangan' Pada 'utU"t]utber keiadian yang
yang bersumber dari pengalaman' indigenouspsychologydilndonesiadapatmengeksplorasinilai.nilai
peneliti seperti banyak
sebelumnya' atau intuisi'sedikit
'^'git variabel
ut]' iitiftut l<ontekstual lndonesia yang memberi kontribusi pada berbagai
pernah dialami
proses identifikasi permasalahan' psikologis orang lndonesia' Seiring bertambahnya konsep-konsep
berperan dalam membantu kriteria untuk hasil
Lee (zooo)menawarkan tiga r lan nilai-nilai indigenous lndonesia
yang teridentifikasi dan telah
Kerlinger dan identifikasi
pt'-u"tuftun yang baik' Pertama' hasil tlikonstruksikan menjadi suatu konsep, maka ke depannya
penelitian
identifikasi atau lebih
menunjukkan hubungan antara dua irrt/igenous psychology di lndonesia akan bergerak ke
arah yang lebih
masalah sebaiknya
menielaskan pu'tt'ulahan yang teridentifikasi lrr.lktis.Misalnya,penelitiantentangnilaitrihitakaranapadamasyarakat
variabel' Kedua'iutu'n
tr,rli clan kontribusinya kepada variabel psikologis
(Arum' zotr)'
seharusnyadinyatakanSecaraietasdantidakambigu.Halinidapat bentuk
memformulasi permasalahan ke dalam Ketiga, sumber permasalahan dalam model pengembangan
sin'
dilakukan dengan
peneliti mengungkapkan r,,.,15 psikolo gi mainstream-lokal diperoleh dari inkonsistensi
riset-riset
pertanyaan' raiimat
tanya akan membantu
langsung dan tidak
berllelit-belit' Ketigct' dengan kecenderungan akan adanya perbedaan hasil
secara 'il{rrnstredm
inti permasalahannya Tidak sedikit peneliti indi-.
hasitidentifikasimasalahsebaiknyamenunltrkkatlkctlrr.tt.tgkinanuntuk t,,,n(.liri.I'r apabila dilakukan di lndonesia.
i<1t'rrlitik'lsi masalalt cli lrrclonesia yang tertarik mengeksplorasi konsep
secara empiris' secara umtllTl' talt'rp r()u\ ltsychology
penguiian '','f
pac!apenelitianpsikologiktlntt'trrl.ttlrr.rtitl.tl.i.lrrllllt,rllt.tl.ltl.triketig.t ()('Y 59
Mltn,rlt.tttti tl,ttr Mcttfiltltlr'ttt11k'ttt lNl)l('l N()l'\ l'\YLl l()l
menelusuri ulang atau mengidentifikasi
yang sudah ada, dengan cara Misal-
kembali konsep-konsep dan
teori-teori psikologi mainstream'
ketepercayaan berdasar atribut
nyd, penelitian tentang kriteria
relasional (Faturochmrn-*
*'nru, zor4) atau tentang atribusi internal
(Hakim a
eksternal untuk keberhasilan
untuk kegagalan dan atribusi
Kurnianingsih, zoto)'

B. FormulasiPertanyaanPenelitian
1.. Penelitian Mainstream Kontemporer
Salahsatuhasildaritahapidentifikasimasalahadalahpertanyaan maka
mengidentifikasi permasalahan'
penelitian. Ketika peneliti selesai Bagan 4.1
benak peneliti' Pertanyaan tersebut Alur Rancangan Penelitian
akan muncul pertanyaan dalam
hendaknyadipertajamuntukdikonversimenjadipertanyaanpenelitian. kalimat
sebuah pernyataan atau sebaris Proses identifikasi masalah dan formulasi pertanyaan penelitian
Pertanyaan penelitian adalah
fenomena yang akan diteliti' merupakan proses yang berlaku umum baik dalam penelitian kualitatif
yang menggambarkan tentang
Pertanyaan penelitian yang
baik hendaknya sudah melewati maupun kuantitatif. Berikut adalah beberapa poin penting yang dapat
dari
peneliti sudah menaksir implikasi membantu peneliti memformulasikan pertanyaan penelitian yang baik:
pertanyaan "so what?" Artinya'
sudah dapat teriawab' Pertanyaan .r. Mengapapenelitianinipenting?
pertanyaan penelitian apabila
peneliti untuk memikirkan potensi b. Dalam topik tersebut, area apa yang masih membutuhkan pen-
penelitian tersebut akan mendorong dari
dari penelitiannya: Apa manfaat dalaman atau eksplorasi lebih lanjut?
pengaruh yang akan dihasilkan
pe nelitian tersebut? tluOu.Uul
merasakan
g-akan ( . Apakah penelitian ini dapat mengisi kesenjangan atau celah dalam
meniawab pertanyaan atas
tersebut? Bagaimana iawaban topik tersebut?
kemanfaatan Ou'i penelitian rl. Apakah penelitian iniakan menghasilkan pengetahuan baru?
pertanyaanpenelitiantersebutdapatbermanfaat?Halinipentinguntuk (,.
benar-benar Apa yang sudah orang lain teliti di bidang ini dan apa yang sudah
agar penelitian yang dihasilkan
selalu diingat oteh peneliti
pengaruh kepada masyarakat' mereka temukan?
dapat bermanfaat dan memberi I Apakah sudah banyak penelitian yang menelitidi bidang ini?
lt Jika sudah banyak, apakah masih ada ruang untuk dikembangkan?

I, Penelitian Indigenous Psychology: Tiga Model Pengem-


trangan Penelitian Indigenous Psychology di Indonesia
Pcrtanyaan penelitian dapat dianggap sebagai penegasan atas
r,l+,rrlifikasi masalah. Denrikiarr halnya, pada konteks penelitian indige-
rrr,11., ;lsy6f16logy, pertanyaan Jrorrclitian clisusun dengan jelas, namun

,, t .1,,,,.r
Mr.rrr,rlr,rrrrr rl,rrr Mr,rr1',r.trtl),rrl,l\,ul INI)l(,1 N()t,\ l'\Y( tl()l O(,Y 6l
tidak yang mainstream, namun pada bagian temuan diuraikan bahwa hasil
bernuansa kontekstual. Artinya, pertanyaan penelitian
tetap lebih menekankan penelitian bersifat indigenous yang salah satunya dilatarbelakangi oleh
hanya mengindikasikan
urgensi penelitian' melainkan
yang dilakukan' subjek atau responden penelitian. Temuan penelitian perlu menguraikan
kepada konteks sesuai
a"ngun model pengembangan
pertanyaan argumentasi yang memperkuat temuan bahwa perbedaan konteks
I *ocorra dalam riset sistemotis'
pengembangon
Pada mode wa ca n a menjadi faktor pembeda dari temuan penelitian mainstream. Dengan
a nti ngnv a o:
pene I iti a n d it e ka n ka n ke pad pe
"' " ll1r-"] :: ::?:' demikian, maka pertanyaan pada model ketiga ini berbeda dari dua
sistematisuntukdikembangkanataudibuktikansecaraempiris'Misalnya
(zor5) ketika model pengembangan indigenous psychology lainnya, oleh karena
penelitian yang ditulis Khotik dan Himam
pertanyaan psikoterapi: dapat disusun secara generik sebagaimana pertanyaan penelitian pada
gugt'"n Ka*ruh Jiwa sebagai konsep
mengembangkan dalam menanggapi penelitian mainstream.
cara kawruh iiwa dengan ngudari reribet
Bagaimana
persepsi rasanya sendiri
dengan rasonya orang
lain' dan persepsi C. Reviu Literatur
dasar psikoterapiT
gagasan rasa pikirannya
sendiri yang meniadi sebuah
penelitian
1. PenelitianKuantitatif
penelitian tersebut mengindikasikan bahwa
Pertanyaan psikoterapi' Kajian dan reviu literatur dilakukan untuk mengembangkan hasil
kawruhjiwo sebagai dasar
hendak mengembangkan berbasis tema' identifikasi permasalahan dan untuk memberikan landasan teoretis
model pengembangan
Berbeda halnya dengan Tema dalam menjelaskan permasalahan berdasarkan hasil penelitian terkini.
dalam model ini bersifat konstruktif'
Pertanyaan penetitian Proses reviu lazimnya menggunakan buku, artikel ilmiah yang terkumpul
indigenousyanghendakditelitibelumterkonstruksisecarateoretis'
langsung dengan clalam jurnal, Iaporan penelitian sebelumnya, dan beberapa sumber lain
sehingga pertanyaan
penelitian disusun secara
lebih berfokus untuk yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. pada tahap ini,
mempertanyakan tema
terkait' Artinya' penelitian
Misalnya' Penelitian kuantitatif mengharuskan penelitinya untuk melakukan reviu
yang belum terdefinisikan'
mengonseptualisasi tema-tema literatur atas variabel-variabel yang akan diteliti. Namun, pada penelitian
rukun pada masyarakat
penelitian yang hendak mengonseptualisasi masyarakat Poso krralitatif, ada yang beranggapan bahwa reviu literatur tidak diperlukan
Bab 7) atau rukun pada
Jawa (Lestari dkk, lihat sama-sama lr,rhkan sebaiknya dihindari. Untuk menyikapi ini, perlu dipahami bahwa
Kedua penelitian tersebut
(Tara'u & Faturochman' zot6)' konsep rukun lr.rdapat perbedaan sikap dan posisi dalam reviu literatur antara kedua
dahulu tentang bagaimana
mempertalryakan terlebih demikian' maka 1rt'nelitian ini.
hendak diteliti' Dengan
menurut masyarakat yang sebagai suatu Penelitian kuantitatif menganjurkan reviu literatur dan meng-
di bagian temuan penelitian
pertanyaan tersebut diiawab lirrrr.rkannya sebagai landasan yang menjabarkan mengenai variabel-
konsepy^ngina.g"noustentangdefinisidanaspek-aspekpsikologis v,rriabel penelitian yang teridentifikasi pada proses identifikasi masalah.
diteliti tersebut'
dari konstruk rukun yang I't'rrjabaran variabel penelitian tersebut setidaknya meliputi definisi,
sntesis psikologi mainstream-lokal'
Pada mode I pengembangan gan me'n gai u ka n
-,rl,rt, dimensi ukur, dan indikator pengukurannya berdasarkan teori
indigenousden
pertanyaan nelitian dapat bernuansa
pe
sudah ada dan berdasarkan penelitian sebelumnya dengan variabel
temuatr y,rrr1'',
kemungkinan menghasilkan
pertanyaan yang mengindikasikan 1.rn|l sclr1l3. Pada tataran lebih lanjut, penjelasan tentang interaksi dan
terdahulu' Namun demikian'
mains.tr.eam
yang berbeda dari riset-riset bernuansa ,lirr,rrrrika antarvariabcl pcnclitian lazim diajukan oleh peneliti untuk
model ini tidak selamanya
pertanyaan penelitian pada rrr,,rrrltcrikan opsi perryel;rs;rn ,rw.rl .rt.ts pertanyaan penelitian yang
indigenotls,PenelitianrlapatclitulissebagaimanapenelitianIainnya
Ahli fenomenologi memandang reviu literatur akan menghasilkan
diajukan sebelumnya. Penielasan awal inilah yang nantinya digunakan
sebuah konstruk atau pengetahuan secara aprioridalam pikiran peneliti.
sebagai dasar untuk membangun hipotesis dalam penelitian kuantitatif'
Untuk menghindari hal tersebut, reviu literatur dalam penelitian
fenomonologi lazimnya sebatas penjabaran mengenai konteks dari
ObservasiAwal
penelitian tersebut, dan dilakukan setelah peneliti selesai melakukan
(Pertanyaan Penelitian)
pengambilan, analisis, dan interpretasi data sebagai bagian
dari laporan
penelitian. Misalnya, seorang peneliti fenomenologi akan meneliti
mengenai makna hidup abdi dalem Kraton yogyakarta, maka ia hanya
Landasan Teoritik akan menjelaskan tentang konteks penelitian dilakukan dan hal
terkait
lainnya, yaitu tentangabdi darem, Keraton yogyakarta, dan bagian
dari
budaya Jawa yang terkait dengan keduanya.
ldentifikasi Perlu digaris-bawahi bahwa sikap reviu literatur tersebut terbatas
Formulasi HiPotesis
Variabel pada penelitian fenomenologi. pendekatan lain dalam penelitian
kualitatif
seperti grounded theory dan yang lainnya tidak melarang peneliti
untuk
melakukan reviu literatur. pada konteks ini, terdapat kesalahpahaman
Pengumpulan Data beberapa peneliti kualitatif daram menafsirkan penekanan claser dan
Mengukur Variabel
untuk MengujiTeori strauss (tg6z) pada cara berpikir induktif sebagai argumen untuk
tidak
melakukan reviu literatur dalam penelitian kuantitatif. padahal
Glasser
dan strauss (tgll) sendiri menaruh perhatian besar pada reviu literatur
Grafik Data Pengumpulan Data
sebagai proses yang penting dalam penelitian kualitatif:
Pembuatan Model untuk MengujiTeori
"when semeone stdndsin the ribrary stacks, he is metaphoricaily,
Bagan 4.2 surrounded by voices begging to be heard. Every book, every
Alur Proses Penelitian Kuantitatif (Field, 2009) magazine article, represents at least one person who is equivalent
to the anthropologist's informant or the sociologist,s interviewee.
2. PenelitianKualitatif
ln those publications, peopre converse, onnounce positions, drgue
Penelitian kuantitatif memiliki sikap yang pasti mengenai reviu with a range of eloquence, and describe events or scenes in ways
literatur. Perbedaan pendekatan metode kualitatif cenderung berbeda entirely comparable to what is seen and heard duringfierd work.
The
dalam menyikapi reviu literatur. Hal ini dapat diterima karena terdapat researcher needs only to discover the voices in the library
to release
pendekatan dalam tradisi penelitian kualitatif yang tidak menyarankan them for his analytic use. ... But the effective researcher must direct
penelitinya untuk melakukan reviu literatur, salah satunya adalah pert his data collection, wherever he works; if he is good at
fietd work he
dekatan fenomenologi. Pendekatan fenomenologi menuntut pencliti ought to embrace the ribrary's resource with equar deright.,' (craser
& Strauss, tg67,hlm :(o3-t64).
untuk melakukan epoche atau masuk ke lapangan tanpa rl1€r]b''lw't g
il
konstruk atau pengetahuan yang dibangun apriorl(Cearing, zooB)'

e
3. PenelitianlndigenousPsychology:TigaModelPengembangan
Berdasarkanketerangandiatas'ClasserdanStrauss(tgll)mene- Penelitian Indigenous Psychology di Indonesia
sama halnya
dalam penelitian kualitatif
gaskan bahwa reviu literatur ini dapat
data di lapangan' Pandangan Reviu literatur dan landasan teoretis pada konteks penelitian
dengan proses pengambilan
dengan melakukan reviu
literatur seorang indigenous psychology tidak jauh berbeda dari penelitian mainstream
diterima secara togis, t<arena
tentang hasil-hasil penelitian pada umumnya. Dengan kata lain, penelitian indigenouspsychology perlu
peneliti akan mendapatkan informasi
ditetiti' menuangkan sumber-sumber ilmiah yang disesuaikan dengan konstruk
terbaru pada topik yang akan --^r:ri mengenat
wawasan bagi peneliti yang hendak diteliti, baik diperoleh dariteori atau penelitian-penelitian
Reviu riteratur luga memberikan yang
topik tersebut' kohsep-konsep terdahulu, baik yang telah diteorisasi ataupun yang dikonseptualisasi.
pendapat peneliti tain tentang
dan metode yang lazim digunakan Namun demikian, konsep yang menjadi landasan teoretis pada
sudah wellestablished, teknik penelitian indigenous psychology kerap kali sulit ditemukan oleh karena
untukmenelitisebuahtopik'sertasaran-sarandaripenelitianyang
dapat mengu-
sudah dilakukan' Dengan demikian' maka reviu literatur keterbatasan literatur yang membahas konstruk psikologis yang sama,
"p"ngultngun
ide penelitian' di samping me- khususnya model pengembangan wdcdnd dalam riset sistematis dan
rangi kemungkinun pada topik
konstruksi pengetahuan mo del p engembangan b erbasis temo. Keterbatasan su m ber iteratur ya n g
mastikan keberlanjutan proses
I

mendukung penelitian indigenous psychology tersebut berdampak pada


tersebut.Dengantidakmelakukanreviuliteratur,seorangpenelitime-
sendiri dan
dalam kerangka berpikirnya metode penelitian yang digunakan, sebagaimana yang akan diuraikan
mungkinkan untuk teriebak
kemudian. Adapun model pengembangan sintesis psikologi mainstream-
berisikomengorbankanmutudankebermanfaatandaripenelitianyang
lokdltidak mengalami hal yang serupa dengan dua model lainnya, oleh
dilakukannYa'
karena konstruk psikologis yang diteliti didukung oleh sumber literatur
Tujuan Penelitian yang cukup banyak, sebagaimana penelitian mainstream.
PertanYaan Penelitian Ciri khas reviu literatur dan uraian landasan teoretis yang cukup
menonjol dari ketiga model pengembangan indigenous psychology
terletak dari sumber yang digunakan. Pada penelitian indigenorJs
psychology, sumber litetatur dapat memuat konsep dan teori main-
stredm, namun juga dapat memuat konsep dan teori indigenous yang
disesuaikan dengan konteksnya saja tanpa memasukkan konsep dan
teori moinstream. Di samping itu, kajian literatur yang dimuat pada
Pengambilan Data
penelitian indigeous psychology di antaranya bersifat kontekstual
bernuansa indigenous.
Sumber-sumber literatur yang kontekstual dapat dijadikan se-
lragai dasar ilmiah untuk memetakan peluang akan ditemukannya te-
rrruan baru yang indigenous, sebelum pelaksanaan penelitian. Bentuk
l<ajian literatur semacarl irri kerap kali digunakan khususnya dalam
Bagan 4'3
(wltt*r & crabtree, 1992) rrrodel pengembangrrn sirrlt'sis psikologi moinstreamlokal. Sementara
Alur proses penelitian ruuil,",it
A,4,,rrr-rlr.rrrrr ,l.rrr M,'rr",'rrrl|il,rL rrr lNl)lr,l N()l l\ l)\VI I lr)l a)a.V A7
I
pendalaman identifikasi permasalahan serta hasil reviu literatur
dan model yang lebih
I pengembangan wdcdna
dalam riset sistemotis lebih tanjut akan memberikan kriteria responden penelitian
pada mode berfokus
pengembangan berbasiJ
t"^o' kaiian literatur akan lebih detail. sehingga pada tahap formulasi metode penelitian, peneliti
sumber
sumber-sumber kontekstual' Meskipun memasukkan tinggal merangkum kriteria responden penelitian sesuai kebutuhan
kepada sebagai pembanding
r mainstream' namun tidak difungsikan pertanyaan penelitian dan reviu literatur' Misalnya, pada penelitian
dari literatu
perbedaan temuan tentang pergeseran pola relasi pertetanggaan pada warga perumahan'
menyelisik peluang adanya kemungkinan
untuk hanya digunakan sebagai
l'i'ldig"nou's' melainkan peneliti mengidentifikasi lima kriteria responden yang disesuaikan
penelitian yang unik da penelitian indigenous yang di
maka secara umum dengan studi literatur serta tuiuan dan kebutuhan penelitian,
pelengkap' Dengan demikian' baik digunakan tahun'
literatur yang kontekstual antaranya (a) tinggal di lingkungan perumahan, (b) berusiazo-35
psychologymemuat sumber semata' (d)
ataupun sebagai petengkap (c) merupakan kepala keluarga atau istri dari kepala keluarga, serta
sebagai bahan komparasi
tinggal dan menetap di lingkungan perumahan tersebut'
D. Metode Penelitian d. Sampel Penelitian
L. PenelitianMainstreamKontemporer
dan
Sampelpenelitianmerupakanistilahyangdigunakandalampeneli-
permasalahan untukmendeskripsikan proses pemilihan sekelompokkecil
melakukan identifikasi tian kuantitatif
Setelah peneliti selesai metode pene-
berikutnya adalah menentukan individu sebagai perwakilan dari suatu populasi untuk memperkirakan
reviu literatu', tangkuh
meniawab pertanyaan
penelitian' Dengan karakteristik populasi tersebut secara keseluruhan (Kerlinger, 1g7r'
litiarr yang sesuai untuk unttrk rnemuiai
tepat apabila' peneliti berangkat Upaya penentuan sampel penelitian dikenal dengan istilah sampling.
.ii:r:riklan, rnal;a trdak melakukan studi sampel
pernyataan: Saya ingin Seperti yang disebutkan sebelumnya, tuiuan dari pengambilan
proses penelitian dengan
penelitian adalah untuk memperkirakan karakteristik populasi. salah
kualitatifataukuantitatif?pertanyaantersebutmengindikasikanbahwa
peneliti sele'
metode penelitian sebelum satuisuyangkerapdikajidandiperdebatkanmengenaipemilihan
perreliti sudah menentukan pertanyaan
masalah' memformulasikan sampel penelitian adalah sampel yang representatif, atau dalam kata
sai melakukan identifikasi tepat karena
studi literatur' Hal ini tidak lainapakahkarakteristikindividusampelyangdipilihbenar.benar
penelitian, dan melakukan dirancang oleh
merupakan alat yang llrewakili dan menggambarkan karakteristik suatu populasi. lsu terkait
seharusnya metode penelitian sebaliknya per-
pertanyaan penelitian' bukan l,rin yang iuga kerap diperdebatkan adalah penentuan iumlah sampel
penetiti untuk meniawab metode penelitian
menyesuaikan dengan yang dikatakan dapat merepresentasikan suatu populasi'
tanyaan penelitian dibuat
Diskusi dan perdebatan tersebut muncul karena tidak ada standar
yang akan digunakan'
yang tetap mengenai metode sampling dan iumlah sampel yang paling
6, PartisiPanPenelitian ditentukan
Penentuan partisipan
penelitian lazirnnya sudah lr.rik. setiap metode sampling memiliki kelebihan dan kekurangannya
per-
identifikasi permasalahan dan formulasi rrr,rsing-masing. Peneliti perlu mengetahui kelebihan dan keterbatasan
seiak peneliti melakukan adanya
rrrr,tode yang dipilihnya, karena keterbatasan metode sampling
yang
seorang peneliti mengidentifrr<'asi
tanyaan penelitian' Misal' sebagai
pertetanggaan pada warga
perumahan ,lrlrilih
berpotensi meniacli limitasi .rt.ru keterbatasan penelitian itu
pergeseran pola relasi Dari identifikasi .,r,rrcliri. Hingga saat ini, terclapat be rbaliai macam ienis metod e sampling
dikaii melalui penelitian
permasalahan yang harus tersebut cliklasifikasikan
i:,rr1 l''1r'rirpt'nclitiarttacl'il'tl-r v-ilrg Utnum dikenal oleh par.r Pt'ttt'liti. Mt'totle
perinasalahantersJ,tampal<irl.tsir;li'ru,
\'v,l l'ir,.l pt'rttt tlltl't''t t t
Mottt,rlt,tttti rl,ttl Mcttl'1t'rrrl''rttlil"ttr lNIll('l N()t'\ l'\Y( llC)l ()('Y 69
(Kertinger' 1973)l sampling dalam penelitian kualitatif:
ke dalam dua kerangka sompling
SomPlngBrobobiittil<
1' Tidak bertujuan untuk mendapatkan responden yang banyak,
sampel yang me- tetapi lebih kepada kasus-kasus yang khas.
Sampling probabitistik adalah pengambilan
mungkinkan setiap anggota populasi memiliki
kesempatan yang 2' Tidak menentukan suatu responden yang tetap, merainkan
samauntukterpilihsebagaipartisipanpenelitian.Samplingpro- responden yang bisa saja berubah dalam jumlah, tipe, maupun
probabilitas seseorang
babilistik memungkinkan penghitungan orangnya.
sampling error' 3.
untuk terpilih sebagai sampel dan penghitungan Tidak berdasarkan sampling statistikal atau random sampling,
me-
sebagai sampling pro- lainkan kasus yang sesuai kebutuhan peneritian dan purposive
Beberapa diantaranya yang termasuk
sampling' systematic
babilistik adalah metode simple random sampling.

sampling, dan stratified sampling' 4. Tidak mengarah pada sampring statistikar tetapi rebih ke
arah
nglo n Pr P b ob i sI fu theoretical sampling.
LamPli r I

pengambilan sampel 5-
Samplingnon-probabilistik adalah metode Bersifat lebih spesifik dan kurang global dibandingkan sampling
yang mana terdapat anggota populasi yang tidak memiliki pada penelitian kuantitatif.

kesempatansamasekaliuntukterpilihsebagaipartisipanpenelitian. 6. Bersifat fleksibel, tidak terpaku pada sampel yang dipilih pada
exclusion bios dan awal penelitian. proses pengambilan sampel tetap dapat berjalan
Samplingnon-probabilistik rawan memunculkan
sampling
tidak memungkinkan untuk dilakukan penghitungan walaupun penelitian sedang berjalan.
sebagai sampling non' 7. Tidak terpaku pada satu jumrah yang terah ditentukan seberumnya,
error. Beberapa diantaranya yang termasuk
quota sampling' dan melainkan jumlah samper dapat bertambah seiring dengan per-
probabilistik adalah convenience sampling'
jalanan dan kebutuhan penelitian.
PurPosive samPling'
Adapun pada penelitian kualitatif' proses
samplingcenderung tidak ,3. Tidak diarahkan kepada keterwakiran atau representativeness,
yang dilakukan tetapi lebih ke arah kesesuaiannya dengan proses dan kebutuhan
dan tidak seketat metode sampling
terlalu terstruktur
menegaskan bahwa sebetulnya penelitian.
dalam penelitian kuantitatif' Hal inijuga
penelitian kualitatif iuga melakukan sampling'
dan tidak tepat apabila (. Instrumenpenelitian
lnstrumen peneritian merupakan arat yang digunakan oreh peneriti
dikatakansebaliknyabahwapenelitiankualitatiftidakmelakukang-
a um umnya' penel itian kualitatif m en rrrrtuk melaksanakan peneritian, yang penentuannya
sampling(Sarantakos, 1 gg3)'Pa d didasarkan pada
f t'lrutuhan pertanyaan peneritian dan
gunakanmetodesompiingnon-probabilistik,sepertiaccidentalsampling, hasir eksprorasi teoretis yang
purposive sampling, snowball sampling'
dan theoretical sampling' '
lil.rkukan sebelumnya. pada penelitian kuantitatif, instrumen penelitian
t!rrurnnya berupa skala atau alat ukur psikologis yang
Samplingdalampenelitiankualitatifterbiaskanolehsifatpenelitian mengukur suatu
l''rr',truk psikologis tertentu, seperti Beck Depression
kualitatifyangmendasarisebuahpenelitian'Penelitiankualitatifsecara rnventory (BDr)
tltr,1 [, Ward, Mendelson, Mock, & Erbaugh, r96r), atau
umummemangtidakbertujuanuntukmelakukangeneralisasi,alih-alih Ryff Scales
mengupas pengalaman, serta l'..ychological
penelitian kualitatif lebih bertuiuan untuk ',r Well-Being (Ryff, r995; Ryff & Keyes, 1995). Berbeda
lr'rlrry,r rlcngan penelitian ktralitatif, yang instrumen
dinamikadanatributpsikologispartisipanpenelitianSecaralengkap penelitiannya adalah
(r9g4) menyebutkan delapan sifat Pt'rr.liti itu scndiri (atau errurrrt.ratrlr y.rng clittrgaskan oleh peneliti)
dan mendararn. Mires dan Huberman
kepercayaan diri anak, atau
sebagai metode
wawancara daniatau observasi
dengan menggunakan
kuesioner pertanyaan
3. Penerapan pola asuh ngemong tidak memiliki hubungan dengan
menggunakan
pengambilan data, atau dengan wawancara'
kepercayaan diri anak
peneliti sebagai alternatif dari
terbuka yang disusun oleh Sifat dan peran hipotesis dalam penelitian tergantung dengan
d. Metode Analisis menen- metode yang digunakan dalam penelitian. Pada penelitian kuantitatif,
metode penelitian adalah
Tahap terakhir dari penentuan pertanyaan
hipotesis dibangun sebelum penelitian dilangsungkan dan keseluruhan
yang sesuai untuk meniawab
tukan metode analisis data meng- proses penelitian merupakan proses pengujian hipotesis tersebut.
umumnyamelibatkan
penelitian' Penelitian kuantitatif i:i"t't Dengan demikian, maka hipotesis dalam penelitan kuantitatif dibangun
gunakanberbagaiteknikstatistikasebagaialatnya'yangbeberapa dari hasil reviu teoretis atas variabel-variabel penelitian dan ber{ungsi
ggun'r'",,
ranva'n
:,';1:l J,[:::, ff;: sebagai jawaban sementara atas pertanyaan penelitian.
n
anta
d i
" ::-:T*":::11':
analisis regresl'
Pearson, analisis varians' "
umumnya
Berbeda halnya dengan penelitian kualitatif yang memiliki pan-
& Devore' 2008)' Sementara penelitian kualitatif dangan yang beragam mengenai posisi dan peran hipotesis. Sebagian
Peck, Olsen,
data teks seperti content analysis
menggunakan teknik analisis data yang berisi
memosisikan hipotesis sebagaisesuatu yang muncul dari hasil penelitian
rt, zoo41;Weber' r99o) untuk menganalisis (Claser & Strauss, lg6il.Sementara sebagian yang lain memandang
(Krippendo dan
diperoleh dari proses wawancara (verbatim wawancara) penelitian kualitatif sebagai upaya untuk membuktikan apakah dan
teks yang diperoleh dari
(narasi observasi)' ataupun data teks yang sampai sejauh mana kecocokan antara hipotesis yang dimiliki oleh
observasi onalysis
Adapun teknik analisis content
kuesioner pertanyaan terbuka' yang dihasilkan
peneliti dengan fakta yang didapat dari lapangan (Atlhler-Niederberger,
menganalisis data teks
yang lazim digunakan untuk lebih spesifik pada
1985). Terlepas dari perbedaan dalam memandang hipotesis, ahli-ahli
eksplorasi konsep indigenousakan diulas penelitian kualitatif sepakat bahwa judgement atau sangkaan dalam
oleh proses
yang dilakukan
pengalaman penelitian
bagian selaniutnya, berdasarkan (CICP)'
penelitian kualitatif tidak dibenarkan. Memperhatikan pendapat dari
Psychology
and Cultural
oleh Center for tndigenous para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa peneliti kualitatif boleh
Peneliti
e. Hipotesis, eroposisi' dan Positioning keadaan sebuah keiadian atau saja memiliki sikap ilmiah atau positioning dalam bentuk hipotesis, kami
mengenai
Hipotesis adalah asumsi rnenyebutnya dengan istilah proposisi, sebagai hasil dari reviu teoretis
Tuiuan dari proses membangun hipotesis
hubungan antarvariabel' sebagai
,rtas temuan-temuan sebelumnya yang memberi gambaran ideal atas
kerangka kerla yang ielas yang berperan sebuah kondisi. Namun demikian, perlu digarisbawahi balrwa sifat
adalah memberikan
dan interpretasi
peneliti dalam proses pengutfutan' analisis' lripotesis atau proposisi dalam penelitian kualitatif bukanlah suatu
panduan il'

data.Dengandemikian'makahipotesistidakdapatdikatakanbenar lic.rangka kerja kaku yang rrmenyetir" peneliti dalam proses penelitian,
l,l

atausalah,melainkanrelevanatautidakrelevandengantopikpenelitian pengambilan data, dan interpretasi data. Dengan demikian, peneliti


efek pola asuh
pada penelitian mengenai perlu sensitif dan bersikap terbuka terhadap segala kemungkinan
(Sarantakos ,1ggi)'Misalnya yang relev:n untuk
diri anak' hipotesis
ngemongtu'f'ttOui kepercayaan v,rrg muncul dari proses pengambilan data ataupun analisis data.
diaiukan adalah: i\p.rbila terdapat fakta y.rng tidak sesu.ri dengan proposisi yang dimiliki
dengan tingginya
pola asuh ngemongmemiliki korelasi
1. Penerapan pr,rrcliti, rl.rk.r hal tersebrrt nrc'rrrp.rkan scsuatu yang wajar atau bahkan
kePercaYaan diri anak rrrt,nrrik, clan pcrlu clijclask.rrr lclrilr l,rnirrt rrrt'rt11a1ta prol-losisi y.rng telah
nF'emon1' bcrkorclasi
llegatif dengan
). Penerapan pola asuh
Mr,rrr,rlr,rrrrr rl.rrr Mr.rrrlr,rrrl,.rrrl,l..rrrlNl)l(,1 N()t,\ l",Y( ll()l ()(,Y 73
lapangan'
diformulasikan sebelumnya tidak didukung oleh fakta lain sebagainya. Hal ini didasarkan pada argumentasi awal munculnya
indigenous psy chol ogy ya ng m en itikberatka n pada konteks.
z. ['enelitian Indigenous Psycleology: Tiga tvto-{1l f'engern-
bangan Peneliti"an lndigenous ['sychology d'i lndonesia
Penentuan kriteria kontekstual dari responden peneliti anindigenous
psychology pada umumnya disesuaikan dengan konteks penelitian yang
bersifat
Fernilihan metode penelitian indigenous psychology dilakukan dan ketertarikan atau kesamaan latar belakang kontekstual
fleksibel yang disesuaikan dengan kebutuhan' baik
menggunakan
dari pihak peneliti. Sebagai contoh, peneliti dengan latar belakang
demikian'
kuantitatif, kualitatif, rnaupun mixed method' Meskipun suku budaya Jawa atau peneliti yang tertarik untuk meneliti nilai-nilai di
namunbeberapabagiandidalanrnyamernpunyaicirikhastersendiri' budaya Jawa cenderung melakukan penelitian dengan responden yang
f;.hususnya tentang partisipan penelitian dan
metode analisis' Adaptln
memiliki latar belakang suku budaya Jawa. Pemilihan kriteria semacam
p'enentr-lansamp,elpenelitian,instrumenpenelitian'sertapembuata'r"t ini juga dilakukan sebagai bentuk antisipasi atas Iompatan berpikir
disesuaikan ele-
i'rlpotesis, proposisi, elan positionrrTg peneliti dapat dalam proses interpretasi data pada tahap berikutnya.
catatan bahwa
rigan penelitian mainstrearn pada Llmurnnya' dengan Berdasarkan ketiga model pen gem ba n gan indigenous psy chology di
i']enelit,iilnindigenouspsychologybersifatlebihfleksibel'l\Aisalnya lndonesia, penentuan responden dapat bervariasi. Pertama, penentuan
indigenous
rl:.r1am r'enerrtuk:an instrumen perlelitian, penelitian dengan responden pada penelitian dengan model pengembangan wacana dalam
1.;sycltrfi*gy d;rXrat. merrggunakan instrumen-instrumen sesuai dengart
riset sisternotis lebih menekankan pada kriteria psikologis-kontekstual.
pt'r:elitian yang sedang herjalan, baik itu skala' wawancara)
1,.r.:1:n-l1.crll::n
Artinya, peneliti tidak hanya membatasi responden berdasarkan
lbserv',,i:;1, in;l!'xi)t.lrl kule:lioner peri.;-ll-tyaarl
i:erbuka' Pada konteks ini'
konteks, melainkan juga aspek psikologis seperti keterlibatan pada
irtr)igertrst.ts yssythalogy memberi l<etrebasan
pada penelitinya untuk
dengan catatan
suatu kelompok atau pengetahuan tentang konstruk psikologis
nrenritrih instrumen sesuai dengan kebr-rttrhannya, yang diteliti. Misalnya, pada penelitian Kholik dan Himam (zor5) yang
bahwaskalayangdigunakantelahdikemlrangkandarihasileksplorasi mengembangkan Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram sebagai
yang sama
konstruk psikologis J:rada masyarakat dengan konteks konsep psikoterapi menentukan responden penelitian berdasarkan (a)
penelitian' Contohnya'
dengan masyarakat yang menjadi partisipan keanggotaan dari komunitas pelajar kawruh jiwa dan (b) mengamalkan
konstruk
skala kebahagiaan yang dikembangkan dari eksplorasi kawruh jiwa-nya secara turun-temurun dari orangtuanya dan tinggal di
kebahagiaan masyarakat Bugis hanya dapat digunakan
di penelitian
Yogyakarta.
adanya keunikan
yang iuga melibatkan masyarakat Bugis' Di samping Kedua, penentuan responden pada penelitian dengan model
pada beberapa bagian metode penelitian, ketiga
modelpengembangan
pengembangan berbasis tema lebih menekankan pada kriteria
satu sama lain'
indigenous psychology iuga dapat berbeda antara kontekstual. Kriteria responden penelitian disesuaikan dengan tema
d. PartisiPanPenelitian penelitian indigenous yang dipilih sebelumnya. Misalnya, peneliti.rrr
penelitian indigenous
Penentuan partisipan penelitian pada konteks Subandi (zott) tentang konsep sabar pada konteks agama menentukarr
psychology menekankan pentingnya pemilihan
kriteria berdasarkan
kriteria responden berdasarkan agama yang diyakininya, baik lslanr,
kesamaankonteks,sepertilatarbelakangsukudanbudayapartisipan. Kristen, Hindu, atauplrrr Buclclha. Dcmikian halnya dengan penelitian
yang lebih utama daripacla
Penentuan kriteria ini menjadi ketentuan indigenous yang menja<lik,rrr lrrrrl,ry.r scb.rgai konteks, seperti penelitian
jenis kclanrin' clart
kriteria lainnya seperti kplompok usia, penclidikan' Lcst.tri cl.rn k.twarr kaw,rrr (rl.rl.rrrr prt,.,t'.;)yanllrrrcrrt:liti tcnt.rng korrsclr
rukun masyarakat Jawa menentukan kriteria responden berdasarkan
tiga tahap secara beruntun. Tahap pertomd, peneriti menggari data
latar belakang keluarga Jawa, yang secara spesifik ayah dan ibunya asli
melalui angket pertanydan terbuka, yang merupakan suatu bentuk
angket dengan model pertanyaan yang dapat dijawab secara bebas
keturunan orang Jawa dan tinggal di Jawa-dalam hal ini Surakarta' oreh
Ketiga, penentuan responden penelitian indigenous psychology
responden penelitian. Jawaban responden tersebut bervariasi, yang
model p engen'bangan sintesis psikotogi mainstr eam-lokal le bih
n dapat berupa pendapat, perasaan, tanggapan, dan lain sebagainya.
d e n ga
Penggalian data semacam initidak lain dikarenakan konstruk psikologis
fleksibel seperti halnya penelitian mainstream lain, namun tetap mene-
yang diteliti belum terdefinisikan, belum dikonsepkan, dan
tapkan kriteria kontekstual. Penentuan kriteria responden model tidak tersedia
instrumen pengukurnya. Dengan merarui angket pertanyaan terbuka,
ini sebetulnya serupa dengan model pengembangon berbasis tema,
maka pendapat responden tentang konstruk psikorogis yang hendak
hanya saja berbeda dari segi kedalamon kriteria kontekstual. Kriteria
diukur dapat dieksplorasi.
kontekstual responden pada model sebelumnya ditentukan secara
spesifik, mengingat penelitian indigenous psychology yang dilakukan
Tahap kedua, peneriti merakukan wawancara terhadap beberapa

berbasis tema yang kental dengan nuansa indigenous di lndonesia'


responden yang jumlah dan frekuensinya ditetapkan berdasarkan
level
saturasi. Panduan wawancara terlebih dahulu disusun berdasarkan
sementara pada model ketiga ini, kriteria kontekstual responden tidak
harus dispesifikasi, mengingat konstruk psikologis yang diteliti telah
hasil dari hasil analisis data teks yang diperoleh daritahap sebelumnya.
Namun demikian, wawancara yang dirakukan bukan hanya sekadar
banyak dikaji melalui penelitian mainstream. Dengan demikian, secara
mengonfirmasi temuan-temuan dari tahap sebelumnya, melainkan
umum penentuan responden penelitian pada penelitian indigenous
psychology mempunyai ciri khas dalam menentukan kriteria yang lebih
untuk mengeksplorasi lebih jauh lagi mengenai konstruk psikologis
yang diteliti. Dengan demikian, maka penelititidak hanya memperoleh
menekankan asPek kontekstual.
I

validasi dari temuan sebelumnya, melainkan juga dapat memperoleh


b. Metode Analisis
Metode analisis pada penelitian indigenous psychology secara temuan baru lainnya yang tidak didapat dari tahap sebelumnya dan
sekaligus dapat mengonstruksi dinamika psikologis dari jawaban
umumdisesuaikan dengan pendekatan yang digunakan antara kuanti-
tatif dengan menggunakan berbagai teknik statistika atau kualitatif responden pada tahap wawancara.
Tahap ketiga, peneriti merakukan observasi terhadap responden
dengan analisis data teks, seperti halnya penelitian mainstream'
penelitian. observasi pada tahap ini bukanlah observasiyang dilakukan
Meskipun demikian, namun keragaman model pendekatan indigenous
psychologymengarahkanpadapemilihanmetodeanalisistertentu' ketika melakukan wawancara, merainkan pasca-tahap wawancara.
lJal ini dilakukan sebagai bentuk validasi dari hasil analisis tahap
Penelitian indigenous psychology dengan model pengembangdn wacdna se-
dinilai belumnya, yaitu dengan cara mengamati secara rangsung responden
dalam riset sistemotis dan model pengembangan berbasis tema
penelitian pada situasi alamiah. pada sisi lain, hal ini juga menjadi
lebih sesuai apabila menggunakan pendekatan kualitatif dengan
metode groundedtheory. salah satu argumentasinya tidak lain karena Penting lantaran peneliti dapat menyaksikan bagaimana fenomena
kedua model ini lebih berfokus pada tujuan pembuktian ilmiah dan Psikologis dikonstruksi secara langsung oleh lingkungan responden,
'.crhingga dinamika dari konstruk psikorogis yang telah dipetakan pada
konseptualisasi konstruk psikologis yang belum terdefinisikan'
Pada tataran praktisnya, metode graunded theory pada kedua
l,rhlp sebelumny.r dapat divalirl.rsi t.rnpa kontaminasi baik dari pihak
pr.rreliti tndu[]un resl'lorrclcrr.
nrodelpengembanganindigenouspsychologytl.rlratdilakukanclalam
.T

psy chol ogy


Berbed a d en gan du a m odel pen gemban gan in di gen ous
analisis penelitian
sebelumnya, kesesuaian penggunaan metode
denganmodelpengembangansintesispsikologimainstream-lokaltidak
melainkan akan tetap
diarahkan kepada suatu pendekatan tertentu,
sesuaibaikmenggunakanpendekatankuantitatif,kualitatif,maupun
penelitian indigenous'
mixed method, bergantung kepada tujuan
Namundemikian,denganmembandingkankedalamaninformasiantara BAB 5
hasilpenelitiankuantitatifdengankualitatif,tampaknyapenelitian
indigenous psychology dengan model ketiga
ini akan lebih tereksplor CONTOH OPERASIONAL PTNETITIAN
apabilamenggunakanpendekatankualitatif.Salahsatumetodedalam TNDTGENOUS PSYCHOLOCY
kerap kali digunakan
penelitian kualitatif indigenous psychology yang
Lusiana,Yashiltl, $llysa Putri
ialah fenomenologi'
Banyu Wicaksono
Modelpengembangansintesispsikotogimainstream-lokoldengan
berbagai tahapan'
penelitian fenomenologi dapat dilakukan dengan
Misalnya' penelitian
bergantung ienis fenomenologi yang digunakan'
deskriptif' Pada
indigenous psychology dengan metode fenomenologi
data hanya melalui
tataran praktisnya, peneliti dapat mengumpulkan
pada tahap ini tidak terdapat ersiapan penelitian merupakan bagian awal yang perlu terlebih
satu metode wawancara semata. Artinya,
dahulu dilaksanakan sebelum melaksanakan penelitian. Pada
perbedaanyangcukupsignifikanantarapenelitianindigenouspsychology
sama-sama menggunakan hakikatnya, tahap persiapan yang berupa proposal merupakan
dengan penelitian mainstr eamyang keduanya
pada tahap analisis dan bagian dari pelaksanaan penelitian, namun bukan merupakan inti dari
metode fenomenologi deskriptif' Namun'
psychology perlu penelitian. Inti dari penelitian tidak lain merupakan proses pengambilan,
pembahasan temuan penelitian, peneliti indigenous
menoniol dan berbeda pengolahan, dan interpretasidata penelitian yang membuahkan temuan
mengemukakan temuan indigenous yang
kontekstual, atau hasil penelitian. Namun demikian, tahap persiapan penelitian cukup
d.iiionr"p atau teori mainstream oleh karena alasan
penting dilakukan sebagai prasyarat dari pelaksanaan penelitian. Pada
disampingtelahdiuraikankriteriasubjekpenelitianberdasarkan
bagian ini, pelaksanaan penelitian indigenous psychology akan diuraikan
konteksnya.Argumentasibersifatkontekstualyangmelatarbelakangi
analisis data wawancara' secara praktis berdasarkan pengalaman penelitian eksplorasi yang
temuan indigenousdibangun berdasarkan hasil
dilakukan oleh Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP).
Padatahapanalisisini,penelitiperlumelakukanklasifikasiberdasarkan
pada tema-tema psikologis- Dengan demikian, maka perlu digaris-bawahi bahwa proses penelitian
tema yang menonjol, dengan berfokus
pada bagian penielasan temuan yang dilakukan oleh CICP merupakan salah satu dari sekian banyak
kontekstual. Dengan demikian, maka
kuat untuk menopang alternatif untuk mengidentifikasi dan menemukan ulang konsep-konsep
penelitian, argumentasi yang digunakan cukup
atau teori mainstream lndigenous di lndonesia.
temuan indigenous yang berbeda dari konsep
terdahulu. o
lPdsiepan, lhit,*umen Penclitian tergantung dengan motivasi dan kemampuan responden untuk
fi, r,
memverbalisasi dan menjabarkan pengalamannya, dan
Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa
3. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kuesio-
sebelum terjun ke lapangan, peneliti perlu mempersiapkan instrumen ner pertanyaan terbuka menurunkan motivasi responden
penelitian yang sesuai dengan kebutuhan penelitian. Pada umumnya, dan meningkatkan tingkat drop_out responden (Knapp &
penelitian CICP menggunakan kuesioner pertanyaan terbuka sebagai Heidingsfelder, 2oo1; Reja, Manfreda, Hlebec, & Vehovar, zoo3).
instrumen pengambilan data, di samping teknik pengambilan data Berdasarkan pengalaman cicP, hal ini diekspresikan oleh respon-
lain seperti wawancara dan diskusi kelompok terarah (FGD). Pada den melalui jawaban kosong atau jawaban yang kurang rerevan
konteks ini, perlu digarisbawahi bahwa kuesioner pertanyaan terbuka dengan pertanyaan yang diajukan.
bukan satu-satunya instrumen penelitian indigenous psychology, me- Paradigma constructive realism yang diadopsi oleh crcp dalam
Iainkan satu dari sekian banyak alternatif instrumen yang tersedia' Lipaya pengembangan indigenous psychorogy merarui peneritiannya
Adapun pemilihan kuesioner pertanyaan terbuka sebagai instrumen turut mewarnai proses penyusunan kuesioner, khususnya pada proses
penelitian yang dilakukan oleh clCP untuk penelitian-penelitian awal formulasi pertanyaan. seperti yang diuraikan seberumnya, paradigma
dilatarbelakangi argumentasi teoretis dan praktis (lihat Hayes, 20oo), constructive realism memandang pengembangan ilmu pengetahuan
sebagai berikut: sebagaisebuah konstruksi, dan bukan sebagai deskripsi(wailner, ,f,gq.
1. Kuesioner pertanyaan terbuka memungkinan responden untuk Dengan demikian, maka pengetahuan dibangun melalui eksplorasi
dan
meniabarkan pemikiran dan pengalamannya secara bebas identifikasi pengalaman responden dalam lifeworld-nya. rmplikasinya,
2. Jawaban yang terekam dalam kuesioner pertanyaan terbuka model pertanyaan yang digunakan oreh crcp ditujukan untuk meng-
lebih representatif dalam mewakili pendapat responden yang se- eksplorasi pengalaman responden yang sesungguhnya tentang suatu
sungguhnYa fenomena psikologis, dan bukan deskripsi opini mereka tentang har
3. Kuesioner pertanyaan terbuka memberikan fleksibilitas bagi pene- tersebut.
l

liti untuk menyesuaikan kontennya dengan tujuan dan kebutuhan Menurut pengalaman crcp, proses penyusunan kuesioner meru- l

penelitian, dan pakan proses yang relatif freksiber. Akan tetapi, terdapat
l

beberapa
4. Kuesioner pertanyaan terbuka memungkinkan clcP untuk melibat- aturan yang perlu diperhatikan untuk menjaga kuaritas dari kuesioner
kan partisipan penelitian dengan iumlah yang relatif banyak dengan yang disusun. shaughnessy, Zechmeister, dan Zechmeister (zorz) l
mem-
waktu yang relatif cePat' berikan enam panduan yang dapat dijadikan sebagai referensi bagi
Meskipunempatargumentasitersebutcukupmendukungpeng- peneliti yang hendak menyusun kuesioner.
gunaan kuesioner pertanyaan terbuka sebagai instrumen penelitian,
namun hal itu tidak terlepas dari beberapa keterbatasan, yang di antara-
l. Tentukan informasi yang akan dicari melalui kuesioner,
dan buatlah pertanyaannya
nya:
1. Kuesioner pertanyaan terbuka menutup kememungkinan untuk Pada tahap konstruksi kresioner, seharusnya peneriti sudah
me-
dilakukannya probing apabila ada jawaban responden yang me- rrutuskan informasi apa saja y.rng akan dibutuhkan untuk menjawab
narik atau kurang ielas l)ertanyaan penelitiarr. Ke ptrtrrsan prcrrc,litinrengenaiinformasi-informasi lr

2. Kualitas jawaban dalam kuesioner pertanyaan terbuka sangat


yang hendak dicari akan menentukan sifat dan bentuk pertanyaan yang
antara penyajian secara
akan disusun dalam kuesioner. Dengan demikian, maka menjadipenting mandiri kepada responden
oleh enumerator; menentukan atau disajikan
bagi peneliti untuk memprediksijawaban responden ketika dihadapkan media yang digunakan antar
telepon, atau tatap a onrine,
pada pertanyaan yang hendak dibuat dalam menyusun kuesioner, muka. Har-harteknis semacam
iniakan menentukan
bagaimana bentuk, tata
dengan catatan bahwa jawaban responden tersebut tidak melenceng retak, dan instruksi pertanyaan
yang disusun' pada dari kuesioner
dari pertanyaan penelitian. Langkah ini perlu dilakukan dengan hati- konteks ini, Ditman, smyth,
dan christian (zoog)
menyarankan dua hal teknis
hati, sehingga peneliti perlu merefleksikan sebuah pertanyaan secara untuk me kuesioner yang baik'
Pertama,dengan membuat
berulang-ulang dengan maksud agar pertanyaan yang dibuat benar- karimat.,.utnuutun
ya ns nssa ns
benar sesuai dengan kebutuhan pertanyaan penelitian. m e ra
Kedua' dengan memberikan
m otiva s i respo n de n ff.'#iil,fl"Jf ilIj:,j::Xi
Tahap pertama ini kerap kali memakan waktu yang relatif cukup ruang yang cukup bagi
memberikan jawaban. responden daram
lama. Beberapa peneliti di antaranya mengonstruksi kuesioner secara
terburu-buru, sehingga tidak sempat memikirkan kembali mengenai Contoh:

informasi yang hendak dicari dan tidak mengecek kembali pertanyaan


Suzunan yang Kurang Baik
yang sudah dibuat apakah sudah benar-benar mewakili kebutuhan Contoh Alternatif Lain
Dalam seminggu, seberapa
penelitiannya. Padahal, kuesioner yang disusun secara terburu-buru bertemu dengan guru Anda
sering Anda Dalam seminggu, berapa kalianda
bertenru
terseb;? guru Anda tersebut?
dan yang disusun dengan kehati-hatian sama-sama membutuhkan PS!g9n

waktu dan usaha, baik pada tahap penyajian, pengumpulan hasil,


l=.-l tt
I lt.r'
maupun analisisnya. Apabila dibedakan antara keduanya, kuesioner
yang disusun secara hati-hati akan menghasilkan data yang baik dan
dapat diinterpretasi. Artinya, data yang diperoleh dari responden sesuai
dengan pertanyaan penelitian sehingga dapat diinterpretasi. Apa saja yang membuatmu
bahagia? Ketiga hal ini membuatku
bahagia:
Pada tahap penyusunan kuesioner penelitian, ClCp melibatkan
proses brainstorming antar-peneliti. Proses ini dilakukan dengan cara
berdiskusi, berdebat, dan memilih dari sejumlah alternatif pertanyaan 2l__-__-
'l -------l
yang dinilai sesuai dengan kebutuhan penelitian yang hendak di-
?T-
masukkan dalam kuesioner. Setelah proses identifikasi informasi yang
Mengapa Anda percaya pada
hendak dicari dan membuat pertanyaannya, maka proses selanjutnya sahabat Siapa nama
anda? sahabat Anda yang paling ir
ialah membuat rancangan penyajiannya. dekat? (boleh inisial)

2. Tentukan
l

bagaimana kuesioner akan disajikan kepada


partisipan Anda tersebut?

Tahap berikutnya adalah menentukan bagaimana kuesioner ter-


sebut akan disajikan kepada responden penelitian. pada tahap ini, hal-hal
teknis terkait penyajian kuesioner perlu ditentukan, seperti menentukan
[)iadaptasi d.rri Dillman,
a? Baft. ? Mpranc:nrr Penplitirn lndiuonnrr< l)crrrhnln.rv
-
5nryllr, rl,rrr ( lilrctr,rrr (.,(X]()]; (11y11l1l1horp('
clarr,r,"",
jawaban responden antara sebagai jawaban dari pertanyaan
oleh CICP
Pada umumnya' pengambilan data yang dilakukan pertama atau kedua.
oleh satu atau lebih
dilaksanakan secara tatap muka dan dipandu Adapun pada proses penyusunan urutan pertanyaan, pola yang
enumerator' petugas pengambil data, yang
teriun ke lapangan' Hal ini
umum digunakan dalam berbagai kuesioner adalah dengan cara
penyaiian kuesioner' Dengan
tentunya menentukan bagaimana bentuk menyajikan instruksi, yang diikuti rangkaian pertanyaan dan diakhiri
demikian,kebanyakankuesionerpenelitianClCPdisaiikandalambentuk dengan pertanyaan data demografi. Berdasarkan temuan Schuman,
buklet. Presser, dan Ludwig (t98r), penyusunan urutan pertanyaan dalam
3. Buatlah draf awal dari kuesioner tersebut kuesioner dapat memengaruhi motivasi responden dalam menjawab,
bahkan kualitas atau konten darijawaban responden tersebut. Beberapa
Pembuatandrafawaldarikuesionermenjadipentin$lkhususnya
Pembuatan draf halyang perlu diperhatikan dalam menyusun urutan pertanyaan adalah
bagi peneliti yang menyusun kuesioner dari awal'
menyatukan semua penggunaan funnel question dan filter question.
awal kuesioner dilakukan peneliti dengan cara
kuesioner' Pada Funnel question adalah urutan penyampaian pertanyaan yang
pertanyaan yang telah dipilih meniadi satu kesatuan
dan pemilihan dimulai dari pertanyaan yang umum kemudian berlanjut ke pertanyaan
tahap ini, peneliti perlu memperhatikan penggunaan
perlunya mem- yang lebih spesifik (Shaughnessy, Zechmeister, & Zechmeister, 2o12).
kata (wording) dari setiap pertanyaan, di samping
Adapun pada proses Sementara filter question adalah pertanyaan yang digunakan untuk
pertimbangkan penyusunan urutan pertanyaan'
(zorz) menyarankan enam mencari tahu apakah responden perlu atau dapat ditanyai mengenai
wording, Shaughnessy dan kawan-kawan
sehingga pertanyaan yang suatu pertanyaan tertentu (Shaughnessy, Zechmeister, & Zechmeister,
kriteria yang perlu diperhatikan oleh peneliti,
2o1z). Contohnya, seorang peneliti yang hendak meneliti tentang konflik
dibuat meniadi lebih baik, yang di antaranya:
antara kakak dengan adik menyusun urutan pertanyaan:
1. Menggunakan kosa kata atau pilihan kata yang sederhana' 1. Apakah Anda memiliki saudara?
dengan mudah oleh
langsung "to-the-point", dan dapat dipahami
2. Siapa nama saudara Anda tersebut? (Boleh inisial)
seluruh resPonden
2. Menggunakan kosakata atau pilihan kata yang ielas dan spesifik 3. Apakah Anda pernah berkonflik dengan saudara Anda tersebut?
tidak lebih dari zo kata Setelah ketiga pertanyaan tersebut, kemudian diikuti dengan dua
3. Membuat pertanyaan sesingkat mungkin; kepada suatu pertanyaan yang menjadi inti tujuan dari penelitian:
4. Tidak mengandung pertanyaan yang mengarahkan t. Apa yang menyebabkan konfiik tersebut?
iawaban tertentu
dengan isu sensitif 2. Mengapa haltersebut menyebabkan konflik?
5. Menghindari pertanyaan yang bersinggungan Penyusunan urutan pertanyaan funnel question seperti di atas akan
atau "rasis"
dan bermuatan emosional, seperti "radikal"
membuat responden menjadi lebih terdorong untuk menjawab dan
6. Menghindaripenggunaan kata "dan" karena akan membingungkan memberikan jawaban yang lebih spesifik dibandingkan ketika peneliti
dc' r men$-
responden. Misalnya, "Mengapa Anda menyayangi
akan membingungkan hanya menanyakan: Dalon rclasi Anda dengan saudara anda, mengapa
hormati ibu Anda?" Penggunaan kata "dan"
di samping iuga ak'rn konf lik terjadil Contoh susi lr,l ) l)('r t,lnyJ.rn di atas luga sudah mencakup
responden dalam meniawab pertanyaan'
tahap analisis data' yang filter qucstiott, yJlrlj tcrttrrr,rt tl,rl,rrrr l)cr trnyaalt Apak<th unclu nttntiliki
membingungkan peneliti terutama pada
srttttJrtt-rt,'lik,t rt'spottrlctr lirl.rl,. rrr.rrriliki ,..rrrrl,rra, rrtaka rcsl-lorr<lcrr
dalamhalinipenelitr.rkankesulitanclalantrrtcrlrbcd.lk;tnkorltctt
untuk mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan yang bermasalah atau
tersebut dan empat pertanyaan
tidak perlu meniawab pertanyaan sulit dipahami, sehingga peneliti dapat mempgrbaikinya sebelum
selaniutnYa. pelaksanaan pengambilan data. Apabila ternyata kuesioner mem-
sesuai dengan
4. Cermati ulang dan lakukan revisi butuhkan banyak perbaikan, maka peneliti perlu melakukan uii coba
kebutuhan kedua untuk melihat apakah masalah tersebut masih muncul atau sudah
ulang dan melakukan terselesaikan. Tahap uji coba kuesioner ini kurang lebih serupa dengan
Langkah berikutnya adalah mencermati
atau saran-saran' Tahap ini merupakan tahap uji coba skala yang lazim dilakukan pada penelitian kuantitatif.
revisi sesuai dengan kebutuhan
Sebuah pertanyaan yang
tahap yang pentin$ dan kerap terlupakan' 6. Revisi kembali sesuai kebutuhan dan tentukan Prosedur
seseorang bisa saia dinilai tidak
tampak baik dan tidak ambigu bagi penyaiiannya
peneliti perlu
dan ambigu oleh orang lain' Dengan demikian'
ielas Tahap akhir dari keseluruhan proses penyusunan kuesioner adalah
memintapendapatdarirekan-rekanlaindiluartimpenelitianuntuk melakukan revisi terhadap kuesioner berdasarkan saran-saran dari
meminimalkan kesalahan tafsir
atau pemahaman dari pertanyaan-
responden uji coba. Setelah revisi terhadap kuesioner selesai dilakukan,
disusun' Pada tahap ini peneliti iuga
pertanyaan kuesioner yang sedang maka Iangkah selanjutnya adalah membuat panduan pengambilan data'
peneliti yang lebih berpengalaman
disarankan untuk bertanya pada Panduan ini akan digunakan sebagai standar acuan bagi enumerator,
Misalnya' seorang peneliti yang
atau para pakar di bidang tersebut' akan terutama apabila peneliti melibatkan banyak enumerator dalam
antara saudara kandun$, maka
hendak meneliti tentang konflik penelitiannya.
lebihbaikIikapenelitibertanyakepadapsikologkeluarga.setelah
ahli lain' Mengikuti keseluruhan tahapan dalam menyusun kuesioner ini
dari peneliti atau
peneliti mendapatkan saran dan masukan memang membutuhkan upaya yang besar dari peneliti dan cukup
pertanyaan sesuai dengan saran
dan
maka peneliti dapat merevisi memakan waktu. Namun demikian, sebenarnya keseluruhan proses
tuiuan Penelitian' tersebut akan menghemat biaya dan usaha peneliti, sekaligus juga
5. Lakukan uji coba kuesioner berfungsi untuk prevensi. Prevensi yang dimaksud ialah untuk meng-
langkah dalam menyusun hindarijika data yang diperoleh dari lapangan tidak dapat diinterpretasi
Langkah paling penting dari keenam
coba kuesioner' Uii coba kuesioner karena kuesioner disusun secara terburu-buru dan iawaban responden
kuesioner adalah melakukan uii
respons yang sebenarnya dari tidak sesuai dengan pertanyaan penelitian. Konsekuensinya, peneliti
dilakukan untuk melihat bagaimana
kuesioner yang telah disusun'
Uji coba perlu memperbaiki pertanyaan penelitian dan mengambil data pene-
responden penelitian terhadap
seiumlah responden yang litian kembali, yang keduanya itu akan memerlukan usaha dan memakan
kuesioner dilakukan dengan melibatkan
penelitian' Misalnya' peneliti yang waktu yang relatif lebih lama. Seperti yang sudah diuraikankan sebe-
mewakili karakteristik responden
lumnya, kuesioner yang dirancang secara hati-hati dan kuesioner
akanmelakukanpengambilandatapadasiswaSMA,makaprosesuji
SMA' yang di rancang secara terburu-buru memakan usaha dan sumber
coba hendaknya melibatkan siswa
Pada akhir tahap ini' responden
uii coba diwawancarai untuk daya yang relatif sama, akan tetapi kuesioner yang dirancang dengan
yang hati-hati akan menghasilkan data yang kaya dan dapat diinterpretasi.
tentang masing-masing pertanyaan
mengetahui pendapat mereka
diperoleh dari mereka dapat digunakan Sementara kuesioner yarrg dirancang secara terburu-buru cenderung
diuiicobakan. Jawaban '/;lng
akan menghasilkan data yang tidak dapat diinterpretasi atau tidak sendiri oleh peneliti. Penomoran kuesioner setidaknya memuat satu
sesuai dengan tujuan penelitian, sehingga perlu untuk melakukan nomor yang mewakili satu orang responden. Peneliti perlu memastikan
pengambilan data ulang. bahwa tidak ada penomoran berulang-berulang dalam satu penelitian
yang sama, karena akan menyulitkan proses manajemen data. Di
B. Pengambilan Data di LaPangan samping itu, peneliti juga dapat menambahkan keterangan lain dalam
Tahap pengambilan data di lapangan merupakan proses yang nomor kuesioner sesuai kebutuhan manajemen data dan analisis,
cukup jelas dan kontekstual, bergantung pada lokasi pengambilan misalnya lokasipengambilan, asal data, tanggal pengambilan data, atau
data penelitian. Secara umum, pengambilan data di lapangan dilaku- status responden. Contohnya, dengan menulis kode JOC.SMA.ot yang
kan secara bertahap yang dimulai dari proses penentuan lokasi, digunakan untuk menunjukkan data kuesioner nomor 01 yang diperoleh
perizinan dari instansi terkait, perizinan dari lokasi pengambilan data, di sebuah SMA di kota Yogyakarta, atau dengan menuliskan HAP-tz5
menyepakati frekuensi dan tanggal pengambilan data dengan pejabat yang digunakan untuk menunjukkan data kuesioner nomor rz5 pada
atau penanggung jawab lokasi pengambilan data, hingga pertemuan penelitian yang mengkaji tentang konsep happiness.
langsung dengan responden penelitian untuk melakukan pengambilan
C. Digitalisasi Data dan Persiapan Analisis
data. Apabila peneliti melakukan pengambilan data secara personal
dengan responden, maka proses perizinan hanya perlu diberikan Tahap selanjutnya adalah mempersiapkan data untuk dianalisis.
kepada individu terkait. Sebetulnya data yang tertuang dalam kuesioner sudah dapat dianalisis
Hasil akhir dari proses pengambilan data di lapangan adalah secara langsung. Namun demikian, pada pelaksanaannya hal tersebut
data penelitian yang berupa jawaban responden yang tertuang dalam cukup sulit untuk dilakukan dan tidak efisien. Berdasarkan pengalaman
kuesioner penelitian. Setelah peneliti mengumpulkan seluruh kuesioner tersebut, CICP melakukan proses digitalisasi data atau entry data
penelitian yang sudah terisi, maka langkah berikutnya adalah melakukan penelitian sehingga proses analisis data menjadi lebih praktis. Proses
penomoran kuesioner. Penomoran kuesioner berguna untuk proses entry data dilakukan dengan menyalin dan mengompilasi seluruh
manajemen data, di samping berfungsi sebagai ruiukan identitas suatu respons dari setiap responden ke dalam perangkat lunak pengolah kata
respons pada tahap analisis maupun penulisan artikel. atau data, seperti Microsoft Word atau Microsoft Excel. Pada tahap entry
proses penomoran kuesioner dapat dilakukan oleh peneliti data ini, CICP biasanya menggunakan perangkat lunak MicrosoftWord,
ataupun enumerator di lapangan, atau dapat iuga dilakukan sebelum dengan langkah-langkah berikut:
pengambilan data dilakukan. Namun demikian, sebaiknya proses 1. Membuat tabel yang terdiri dari dua kolom dengan memberikan
penomoran kuesioner dilakukan setelah proses pengambilan data. Hal label nomor responden di kolom pertama dan kalimat pertanyaan
ini dilakukan untuk menghindari risiko overlap penomoran, nomor yang di kolom kedua. Adapun format penulisannya dilakukan dengan
terlewatkan, dan kesalahan-kesalahan kecil lainnya. Kesalahan pada memberi spacing before dan spacing after sebanyak minimal 6pt.
penomoran kuesioner akan memengaruhi proses manaiemen data dan Contoh:
tentunya akan menyita waktu dan usaha peneliti untuk mencari letak
46. Dalam hidup Anda, pengalaman kegagalan apa yang
kesalahan dan melakukan penomoran ulang-
Anda anggap paling menyakitkan?
Teknis penomoran kl -sioner merupakan pro\(]s y,rrl11 tlitr-ntrrkan
lD Responden I n0. Dalam hidup Anda, pengalaman kegagalan apa yang
Anda anggap paling menyakitkan?

ke dalam Perangkat
verbatim' AcH.s1.001 I Tidak diterima beasiswa
lunak pengolah kata secara :":ttt:1::::'i:::llli::
Har ini dirakukan dengan
memasukkan
;|1ffi':;;;.;retan. ACH.S1.002 | Gagal masuk sltul sekolah pilihan
nomor kuesioner'
secara berurutan berdasar

Remidi mapel kimia


Contoh: ACH.S1.003
Dapet nilai 3 pas ulangan matematika

yang
pengalaman kegagalan apa
A6. Dalam hidup Anda, Spacing before dan after sebanyak 6pt yang dibuat di tahap awal
Anda anggaP Paling menYakitkan?
tadi (poin r) akan memberi jarak antar-jawaban. Langkah ini dilakukan
Tidak diterima beasiswa untuk mengantisipasi huruf atau kata yang terpotong akibat hasil
potongan yang tidak lurus. Pada tahap pemotongan ini, sebaiknya
pilihan
Gagal masuk slcul sekolah peneliti mengerjakan satu file dalam satu waktu. Dengan demikian, maka
jawaban untuk dua pertanyaan yang berbeda tidak akan tercampur.
Remidi maPel kimia
ACH.S1.003 o.p"i pas ulangan matematika Setelah satu file pertanyaan selesai dipotong, peneliti mengumpulkan
"irti,
setiap helai potongan yang berisi jawaban tersebut ke dalam satu
z untuk
seperti yang.tertuang pada poin stofmap atau tempat penyimpanan lain yang telah diberi label identitas
3. Melaniutkanpengisian
responden terdigitalisasi' berupa nomor dan pertanyaannya.
pertanyaan fuin iingg- seluruh iawaban
dapat langsung diti:"i:l:: D. Melakukan Analisis Data
Adapun oata oemolrafi 'software
Microsoft Excel' SPSS' atau yang seienisnya'
pengolah data seperti yang telah Tahap berikutnya setelah peneliti mendapatkan respons dari satu
masing-masing data
cross-checkterhadap
4. Melakukan
untuk memastikan tidak-adanya
data pertanyaan yang sudah dipotong-potong adalah melakukan analisis
selesai proses entry data clata. Sebelum menjelaskan teknik analisis data, terlebih dahulu akan
(missingddta)'
yang terlewat atau salah data' rlibahas mengenai konsep dan metodologi yang mendasari proses
benar dan tidak ada missing
Setetah seluruh data dipastikan ttnto analisis CICP.
masing-mas
peneliti dapat mencetak (print out) "1!',':::::,::tt'iawaban Terdapat beberapa alternatif pendekatan dalam proses analisis
peneliti dapat memotong-motong masing-masing
berikutnya, ini: tlata tekstual. Dalam hal ini, CICP menggunakan proses analisis data
print out,'"f ingg" tampak seperti contoh berikut
dari hasil tcks dengan metode kategorisasi content onalysis yang ditawarkan oleh
weber (r99o), dengan tahapan analisis sebagai berikut:
rt, Definisikon unit yang ok<ut diunolisis
Langkah pertama dan tttama tliawali dengan menentukan unit
6I
teks yang akan dianalisis dari enam pilihan unit yang umumnya mengategorisasikan seluruh teks secara keseluruhan
akan
digunakan, di antaranYa: menghasilkan kategorisasi yang tidak reriaber, kecuari
teks
a. Kata yang pendek seperti headline, editorial, dan
lain sebagainya.
pilihan unit pertama adalah unit terkecil dalam sebuah teks, b. Tentukan def inisi kategori
yaitu kata. Pada level ini, masing-masing kata dikategorisa- Pada proses kategorisasi, tim peneriti atau
coder harus menyepakati
sikan. Analisis pada level ini kerap kalimenyulitkan penelitidan definisi dan kriteria sebuah kategori. penentuan
definisi dan kriteria
rawan menghasilkan kesimpulan yang salah, karena masing- iniakan menjaga konsistensi coder daram merakukan
kategorisasi.
masing kata memiliki makna tersendiriapabila dilepaskan dari Definisi dan kriteria kategori ini dicatat di dalam
logbookanarisis,
konteks satu kesatuan kalimat atau frasa. sehingga terdokumentasi dengan baik dan dapat
dirujuk setiap
b. Arti kata saat ketika dibutuhkan. pencatatan daram logbookadarah
rangkah
Unit kedua adalah arti kata. Analisis ini dilakukan dengan standar dalam proses kategorisasi yang serama ini
dirakukan oreh
mengategorisasikan kata berdasar arti. Apabila jawaban clcP. Proses ini berrangsung secara kontinu dan back-and-forth
yang diberikan oleh responden berupa idiom atau ungkapan, selama proses kategorisasi.
seperti "Mudah naik darah," maka dikategorikan sebagai Lakukan uji coba proses kategorisasi dengan contoh
teks
t'Pemarah.t'
Tahapan selanjutnya adarah merakukan uji coba
kategorisasi pada
c. Kalimat sampel kecil dari seluruh jawaban responden untuk
menguji de-
Analisis pada unit kalimat merupakan tingkatan yang umum- finisi dan kriteria yang sudah ditentukan tadi. proses
ujicoba akan
nya dipilih sebagai unit analisis. Pemilihan ini didasarkan berguna untuk mengidentifikasi ambiguitas dari
definisi dan kriteria
karena dengan menganalisis satu kalimat secara keseluruhan, kategori, di samping juga dapat memberika n insight
mengenai
peneliti akan mendapatkan makna yang utuh. Analisis yang perbaikan yang seharusnya dirakukan. Apabira perru
dirakukan
dilakukan oleh clcP umumnya berada pada level unit kalimat. perbaikan, maka panduan kategorisasi diperbaiki
dan rangkah uji
d. Tema coba harus diulangi.
Tingkatan berikutnya adalah tema. Holsti (r969) membatasi d. Lakukan kategorisasi pada seluruh teks
tema sebagai unit teks yang dianalisis hanya iika memiliki satu setelah peneliti menirai bahwa kriteria dan definisi
daram panduan
aspek saja dari empat elemen, yaitu antara perseptor, agen kategorisasi sudah cukup kuat, maka rangkah
berikutnya adarah
tindakan, tindakan, atau target dari tindakan. melakukan kategorisasi pada seruruh teks yang
menjadi unit
e. Paragraf analisis.
Kategorisasi pada unit paragraf tampaknya dapat mengurangi e. Evaluasi akurasi dan reliabilitas dari hasil kategorisasi
beban keria peneliti secara signifikan. Namun demikian, Tahap terakhir dari anarisis data adarah mengevaruasi
akurasi
Weber (rggo) berpendapat bahwa kategorisasi pada level ini dan reliabilitas dari hasir ketegorisasi. Akurasi kategorisasi
me-
akan menghasilkan kategorisasi yang tidak reliabel. rujuk pada kesesuaian antara kategori dengan respons
dan
+. Seluruh teks kriterianya. sementara reriabirit.rs cJaram content
anarysis merujuk
Sama halnya dengan kategorisasi pada unit paragraf , kepada tiga h.rl, yaitrr rt.rbiritas, rcprocruksibiritas,
dan akurasi
dalam sebuah data, yang daram har ini iarah jawaban responden, dan
(Krippendort, zoo4). Pertama, stabilitas diukur dengan apakah
memberikan label yang merepresentasikan interpretasi atas kata kunci
satu proses kategorisasi akan menghasilkan kategori yang
tersebut (strauss & corbin, 199o). Data yang memiliki kata kunci yang
sama apabila proses kategorisasi diulang dalam waktu yang ber-
sama akan dikelompokkan dalam satu kategoriyang sama.
beda. Keduo, reproduksibilitas diukur dengan replikasi proses
Kedua, axial coding adalah tahap pengumpulan kategori-kategori
kategorisasi oleh tim analisis lain yang bekerja dibawah kondisi
yang teridentifikasi di tahap open codinE dan kemudian dielaborasi
dan/atau lokasi yang kemungkinan berbeda dengan tim asli.
secara lebih mendalam mengenai kesamaan intikategorinya. proses
Ketiga, akurasi adalah evaluasi yang menunjukkan bahwa proses ini
dilakukan dengan menginterpretasi kategori berdasarkan fenomena
kategorisasi berjalan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan
yang spesifik dan paradigma tertentu. Misalnya, berdasarkan
sebelumnya dan menghasilkan apa yang seharusnya dihasilkan. kondisi
atau konteks yang melatarbelakangi kejadian dari respons tersebut
Misalnya, kategorisasi tentang kriteria ketepercayaan dikatakan
(struktur) seperti di mana, kapan, dan mengapa; berdasarkan aksi_
akurasi apabila menghasilkan kriteria ketepercayaan, dan bukan
interaksi (proses) seperti respons dan strategi; atau berdasarkan
kepercayaan. kon-
pada konteks pengujian reliabilitas hasil kategorisasi, clCP melaku- sekuensi seperti hasil dari sebuah perilaku. Tujuan dari kategorisasi
axial coding adalah untuk mengidentifikasi kategori-kategori kunci yang
kannya dengan tiga langkah.Pertama, dengan menentukanrater dalam
akan dijadikan landasan formulasi dalam menjelaskan tentang sebuah
jumlah ganjil, paling sedikit 3 (tiga) orang untuk memastikan intercoder
fenomena psikologis (selective coding; Strauss & Corbin,199o).
retiability (lihot Neuendorf, zooz). Kedua, dengan memecah tim meniadi
Ketiga, selective coding adalah tahap akhir dari analisis dalam
dua kelompok kategorisasi, yang keduanya akan saling memeriksa hasil
pendekatan grounded theory. selective coding dibangun dari
kategorisasi kelompok antara yang satu dengan yang lain. Ketiga, ketika mengum-
pulkan kategori-kategori axial yang memiliki core construct atau
terjadi perselisihan pendapat anlar-coder, maka tim melakukan diskusi core
category yang sama untuk diberi Iabel sebagai representasi penjelasan
dan debat mengenai kategori tersebut hingga dapat disepakati satu
atas sebuah fenomena. Kategori pada tingka t selective codingberfungsi
kategori yang diterima oleh seluruh roter,
untuk membuat deskripsi mengenai apa yang terjadi dalam data atau
Hasil akhir proses content analysis kemudian ditabulasi untuk me-
untuk menggambarkan fenomena psikologis (Strauss & Corbin, 199o).
munculkan trend dalam data. Trend dalam data berguna untuk melihat
Berdasarkan kerangka kerja penelitian groun ded theory di
konsep-konsep yang dominan (Weber, 1990; Miller & Crabtree, lggz). atas,
maka panduan praktis analisis data dapat diuraikan ke dalam sepuluh
Namun demikian, perlu digarisbawahi bahwa trend yang dominan
langkah yang dapat dilakukan oleh peneliti.
tidak sertamerta menghasilkan penjelasan tentang sebuah fenomena
psikologis, melainkan diperlukan proses pendalaman lebih lanjut untuk
t. Menentukan tingkatan unit analisis. Misalnya, peneliti menentukan
untuk menganalisis pada tingkat kalimat. Di samping itu, peneliti
benar-benar memahami fenomena psikologis tersebut.
juga perlu menentukan satu respons yang akan dimasukkan
Pada tahap kategorisasi dengan content analysis, CICP meminjam ke
dalam satu kategori (singre response). Terdapat juga arternatif
kera n gka kerja peneli tian gr ounded theo ry, yan g terd i ri da ri open co ding,
lain dengan cara rrrengkatcgorisasikan setiap tema yang muncur
axial coding, dan selective coding.
ke dalam sebu.rh respor\ (rrrultipr. response). Arternatif muttipte
Pertama, open coding merupakan tahap pertama dalam proses
response dapat diPililr .rlr.rbila rl,rr,r tlirrilai kay.r atau ba.yak y.rng
kategorisasi. Pada tahap ini, peneliti mengidentifikasi kata kunci
-
fl1t
!

seluruhnya sesuai dengan kebutuhan penelitian'


2. Membaca respons satu per satu dan melakukan open coding
dengan mengelompokkan respons berdasarkan kesamaan kata
kunci pada selembar kertas plano besar'

.,1Liiir'
. : ,:'a: .

: i:p.: l' r

wsffi, Respons-respons tersebut dikategorikan sebagai,,saling


Me_
rnahami" pada tingkatan open coding karena memiriki karakteristik
sikap yang di antaranya mengerti, memahami, mengetahui,
dan
4 mengenal yang resiprokal antara kedua belah pihak.
'f,

h$,
Iti
w.)

$ti s, .- ,,ef{fi!
s. !-;
ffi

Gambar 5.1
Proses Kategorisasi oleh Coder

coder mulai menuliskan karakteristik awal dari setiap kumpulan


yang
respons. setiap kumpulan respons kemudian diberikan label
merepresentasikan interpretasi atas konsep tersebut. Dalam hal ini,
]d"irtti ;*j'l:i:.r i!:ll

peneliti dapat merevisi karakteristik dari setiap kumpulan respons


apabila diperlukan. Setiap kumpulan respons yang diberikan
label
Gambar 5.2
kemudianditempelsecararapisatupersatudiataskertasplano Draf Kriteria Kategori dalam Kertas plano sebelum Ditulis
ke dalam Buku
Panduan Kategorisasi
besar.
Contcih Pemberian label:
4. Mengulangi langkah-rangkah seberumnya hingga seruruh respons
terkategorisasi dan ditemper di kertas prano. Apabira
Krn merupakan tempat kita bisa berinteraksi dan memahami
satu terdapat
dan lainnya. kolom jawaban kosorg ya.11 bcrarti tidak terdapat respons
atau
merepresentasikan ide atau konsep yang ditemukan pada proses
terdapat respons tidak dapat dikategorikan karena tidak relevan,
axial coding. Misalnya, terdapat sekumpulan kategori open, yang
maka dapat diberikan label "Others."
Empat tahap sebelumnya adalah open coding, sehingga dianggap
di antaranya "saling Memahami,', "saling Mengetahui,', ,'saling
5. Pengertian," dan "saling Berbagi." Berdasarkan keempat kategori
telah selesaiiika sudah memasukitahap kelima ini. Pada tahap ini,
tersebut, coder memberi label ,,Keterbukaan,,' karena apabila
peneliti memeriksa kembali hasil kategorisasi dengan mencocokkan
ditinjau dari konteks aksi dan interaksi, keempat kategoritersebut
antara label dengan kriteria kategori dan respons yang terkandung
menunjukkan sikap terbuka untuk menerima satu sama lain.
di dalamnya. Apabila terdapat ketidak-sinkronan antara label,
7. Melakukan kategorisasi axial (poin 6) hingga seluruh kategori open
kriteria, dan respons, maka perlu dilakukan kategorisasi ulang
terkelompokkan ke dalam kategori axial.
(rekategorisasi).
8. Mengevaluasi ulang seluruh hasil kategori axial dengan menco_
cokkan antara label dengan kriteria kategori, kategori open, dan
respons yang terkandung di dalamnya. Apabila terdapat ketidak-
sinkronan antara label, kriteria, kategori open, dan respons, maka
perlu dilakukan kategorisasi ulang (re-kategorisasi).
9. untuk melakukan kategorisasi selective, coder menuriskan kembali
seluruh Iabel yang muncul dari proses axial codingpada sehelai kecil
kertas, serupa halnya sepertiyang dilakukan pada kategorisasiaxiol
coding, yang kemudian dikelompokkan berdasarkan kesamaan
core construct atau core category. Kumpulan axial codingtersebut
kemudian diberikan label yang merepresentasikan penjelasan atas
Gambar 5.3 sebuah fenomena. Misalnya, terdapat kumpulan kategori axicl,
Contoh Hasil Kategorisasi Open Coding
yang telah Ditempel di Kertas Plano
yang di antaranya "Terbuka," "Kenol,,, dan,,Dekat.r, Berdasarkan
ketiga kategori tersebut, coder memberi label,' Kualitos Hubungan,,,
karena inti dari ketiga kategori tersebut menunjukkan adanya
hubungan yang berkualitas.
10. Melakukan kategorisasi selective hingga seruruh kategori oxfal
6. Melakukan kategorisasi axial. Pada tahap ini, coder menuliskan terkelompokkan ke dalam kategori selective. Hasil kategorisasi
kembali seluruh label yang muncul dari proses open coding pada selective kemudian dievaluasi ulang dengan mencocokkan antara
sehelai kertas kecil (Gambar 5), yang kemudian dikelompokkan label dengan kriteria kategori, kategori axial, kategori open, dan
berdasarkan kesamaan kategori inti yang disesuaikan dengan respons yang terkandung di dalamnya. Apabila terdapat ketidak-
paradigma atau sudut pandang tertentu (lihat kembali penjelasan sinkronan antara label, kriteria, kategori axial, kategori open, dan
tentang axial coding). eeneliti selaniutnya memberi label pada respons, maka dilakukan kategorisasi ulang (rekategorisasi). proses
setiap kumpulan kategori open coding tersebut dengan label yang evaluasi back-and'forth hingga pada tingkatan respons memastikan
merepresentasikan analisis, karena peneliti dapat membuat pivot table untuk melihat
bahwa seluruh kategori yang dihasilkan
peta kategorisasi dan melakukan tabulasi silang. Apabila peneliti lebih
respons yang terkandung di dalamnya'
yang diuraikan di atas meru- menyukai analisis dengan menggunakan SPSS, maka dataset dari
Sepuluh langkah praktis analisis data
di clcP berdasarkan kerangka Microsoft Excel dapat ditransfer dengan mudah ke dalam SPSS.
pakan pengalaman dari bebera pa coder
demikian' perlu digaris- Adapun tujuan dari proses analisis dengan statistika deskriptif
kerja penelitian groun ded theory' Dengan yang dilakukan oleh CICP berdasarkan hasil tabulasi tidak lain untuk
bawahibahwalangkah-langkahpraktistersebutbukansuatupanduan
rndigenous and curturar psychorogy
melihat trend dari data' Beberapa
bakuyangharusdiikutiolehsetiappenelitiindigenous'psychology,
l{l*nnrivc f}xlrn Srn"rrs penelitian CICP kerap menggunakan
Penelitidapatsajamengikutipanduandiatasataumengembangkannya
tabulasi silang dengan nrenggunakan
meniadi lebih efisien sesuai kebutuhan penelitian'
variabel jenis kelamin untuk melihat pola
Tahapkategorisasiselectivebukanlahakhirdaritahapkategorisasi
dievaluasi oleh pakar yang dalam-danantar-jenis kelamin. Analisis
data. Hasil kategori tersebut sebaiknya
sedang diteliti. Misalnya, hasil statistika seperti chi-square juga kerap
memiliki keahlian dalam bidang yang
sebaiknya dikonsultasikan digunakan dalam beberapa penelitian
kategorisasi penelitian tentangketepercayaan
relasi interpersonal' CICP untuk melihat perbandingan
pada ahli psikologi sosial yang membidangi
sosiar tersebut meniadi bahan frekuensi aktual dengan frekuensi
saran dan masukan dari ahri psikorogi
ekspektasi. Secara garis besar, tahap ini
pertimbanganuntukmelakukanrekategorisasi.Rekategorisasiter-
atau iuga memberikan kebebasan pada peneliti
pengategorian ulang dengan skala kecil'
sebut bisa berupa
adanya perubahan konsep yang Gambar 5.4 dalam menggunakan tools yang tersedia
dengan skala besar yang memerlukan Contoh Kumpulan Artikel llmiah untuk mengeksplorasi data dan hasil
mendasariproseskategorisasi'Tahapanrekategorisasiinidapatterus Hasil Penelitian Anggota clcP kategorisasi.
mencapai titik saturasi data'
berlaniut dan akan berhenti apabila sudah
kategori baru yang muncul dari E. Menyajikan Hasil
yaitu tidak adanya informasi baru atau
& Corbin' 199o)' Berdasarkan
proses analisis (Benaquisto' 20oB; Strauss Proses akhir dari tahap analisis dan interpretasi data adalah tahap
analisisterhadapbeberapapenelitiankualitatif,titiksaturasibiasanya penyajian hasil. Penyajian hasil analisis dapat dilakukan dengan bantuan
data dan analisis yang berulang
didapatkan setelah proses pengambilan visualisasi kreatif seperti tabel atau grafik. Pada umumnya, hasil analisis
zoro)'
hingga r7 (tuiuh belas) kali(Francis dkk' clisajikan dalam bentuk artikel ilmiah, presentasi ilmiah, ataupun
Tahapberikutnyasetelahproseskategorisasiialahmenginput poster. Penyajian hasil analisis kemudian diekspos ke khalayak untuk
hasilkategorisasitersebutkedalamdatasetdigital.Dalamhalini' rrendapatkan perhatian dan masukan bagi penelitian berikutnya. Proses
Microsoft Excel untuk
CICP biasanya menggunakan perangkat lunak lrcnyajian hasil merupakan proses yang fluid dan dapat disesuaikan
mendokumentasikanhasilkategorisasipenelitian.Data.dimasukkan rlcngan kebutuhan audiens. Dengan demikian, para peneliti indigenous
format yang sudah disiapkan
ke dalam perangkat lunak sesuai dengan psychology diharapkan menyajikan hasil penelitiannya secara menarik,
sebelumnya (6ambar 7: Manaiemen
Data)' Hasil akhir dari proses inl
rnformatif, dan dapat diakscs sccJrd ulllum, sehingga bermanfaat bagi
adatahdatasetyangsudahsiapuntukdianalisis.Penggunaanperangkat 1
r,rra akademisi, praktisi, nrlr rl)r rr nr;r..y.u, rk.rt r-rrrtrrn.
lunakpengolahdatasepertiMicrosoftExcelakanmemudahkanproses
berkonsentrasi dalam menanganitugas manajemen data. pada konteks
F. Manajemen Data
ini, manajer data berhak untuk menentukan hal-hal teknis yang terkait
Manajemen data merupakan proses yang kerap kali terlewatkan dengan data, seperti bagaimana data akan disimpan, format
fite yang
oleh para peneliti. Padahal, manaiemen data merupakan proses akan digunakan untuk entry data, dan pengarsipan data.
krusial dalam setiap penelitian, khususnya penelitian yang melibatkan Data yang dimaksud adarah seruruh jenis data yang digunakan
pertanyaan dan responden dalam jumlah yang relatif banyak. Pada dalam penelitian, baik data numerik sepertiskala, transkrip dan rekaman
bagian ini, manajemen data akan diuraikan melalui enam fase data wawancara, maupun data material seperti
field notes. pada penelitian
lifecycle. skala besar yang melibatkan anaris sekunder, manajer data perru
membuat metadata (format DDr) untuk efektivitas penggunaan data.
Di samping itu, isu lain yang juga perlu ditentukan pada tahap ini
adalah
penyimpanan dan model backup data, keamanan data dan privasi,
umur
data, kepemilikan data, serta akses dan sharing.
Proses penyimpanan data ditentukan oreh manajer data sesuai
dengan sumber daya yang dimiriki oreh tim peneriti atau pusat
penelitian. Manajer data perlu memastikan keamanan dari data yang
ditangani. Data yang bersifat fisik dapat disimpan dalam satu bundel,
binder file, atau map. sementara data digital disimpan dalam bentuk
file komputer.Akses terhadap kedua jenis data ini harus dibatasi untuk
alasan keamanan. Demikian juga data mentah penelitian yang
memuat
identifikasi dan data diri responden seperti nama dan tanggal lahir harus
terjamin keamanannya. Untuk membatasi serta menjaga keamanan
data, clcP tidak memperbolehkan data fisik, seperti kuesioner, diekspos
keluar dari kantor crcp dan keamanan data digital dijaga dengan
penggunaan password.
Penyimpanan datamerarui moder croud yangtidak berbayar seperti
Bagan 5.1
Google Drive atau Dropbox tidak dianjurkan karena relatif rawan
Data Lifecycle (lCPSR, 2012) untuk
diakses oleh pihal luar, selain tim peneliti. crcp melakukan penyimpanan
L. Perencanaan manajemen data data pada satu komputer khusus untuk penyimpanan data yang
Pada saat merancang proyek penelitian, tim peneliti qebaiknya diproteksi oleh password. Di samping itu, crcp melakukan backup data
merancang juga mengenai proses manaiemen datadan menuniuk penelitian dengan media serain yang digunakan untuk penyimpanan
setidaknya satu orang sebagai manajer data yang bertanggung jawab data, yang berupa hard disk eksternar. proses mem-backup data perru
untuk melaksanakan manaiemen data. Apabila memungkinkan' dilakukan secara rutin apabila proyek penelitian masih berjalan, sebagai
manajer data diambil dari luar tim penelitian agar dapat sepenuhnya upaya untuk mengantisipasi jika data penelitian di tempat penyimpanan
Beberapa peneliti kerap kali lupa untuk melakukan standardisasi
utama hilang. penamaan file, sehingga mengakibatkan kebingungan pada peneliti
Demikianiugadenganumurdaridatapenelitian.Manajerdatadan yang hendak membuka data tertentu. Kealpaan dalam penamaan file
tim penelitian perlu menentukan umur dari data yang dikumpulkan' dapat berupa tidak-konsistennya dalam menamaifile atau penambahan
mengingatbahwaumurdatapenelitianberkaitandenganaktualitas keterangan yang tidak diperlukan. Misalnya, dengan menamai file"Data
dengan
data. secara tidak langsun$, aktualitas data berhubungan ata p eneliti an A - ev i sit," " qta p eneliti an A - fiks. "
maka cukup
p en eliti an A - oke," " D r D

integritas dari penelitian itu sendiri' Dengan demikian' Untuk menghindari hal-hal semacam itu, maka sebaiknya menggunakan
logismengetahuibahwapadaumUmnyadatapenelitianberumurlima nama file yang langsung merujuk pada konten file tersebut, misalnya
tahun.Adapuncaranya,umurdatadapatditentukansesuaidengansifat "HAP-YOC," untuk menamai file data penelitian tentang happiness di
Pada umumnya'
penelitian, topik yang diteliti, dan faktor.faktor lain. Yogyakarta. Apabila terdapat revisi, pembaruan, atau perubahan, maka
data penelitian diberikan ketentuan selama lima
tahun'
dapat diberikan keterangan tambahan dalam bentuk tanggal atau versi
Hatlainyangmasihkurangmendapatkanperhatiandaripeneliti
adalah kepemil ikan file, misalny a " HAP-YOG-II o22o17," atau " HAP-YOG-v1. o."
tndigenous psy chology,khususnya penel iti I ndonesia Adapun untuk mengatur struktur file data, manaier data sebaiknya
diperielas, apakah
data. Maksudnya, kepemilikan data penelitian harus sudah memprediksijenis atau bentuk data penelitian dan menentukan
seorang peneliti utama atau suatu lembaga' Hal
ini dituiukan untuk
bagaimana cara mengorganisasi file data tersebut, misalnya membuat
menghindariterjadinyakonflikinternaltimpeneliti.Kejadiansemacam visualisasi dataset yang diterjemahkan dari kuesioner dan proses
benakhir'
ini rnerrrungkinkan teniadi, khust-rsnya sesudah penelitian analisis dengan menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel(Gambar
berkaitan
Fenenttlan kepemilikan data meniadi penting lantaran
7). Apabila terdapat dua proses yang berbeda pada data yang sama,
berkaitandenganizinpenggunaandansharingdata'Namundemikian' maka fasilitas sheet dalam Microsoft Excelakan sangat membantu. Pada
apabilalembagabelurnmemilikiaturantentangaksesdansharing tataran pelaksanaannya, file dataset mentah dan dataset yang sudah
clata,makakebiiakanmengenaiaksesdansharingdatatersebutperlu dikoding lebih baik digabungkan meniadi satu file dan hanya dipisahkan
ditentukanolehtimpeneliti,Dalamhalini,respondenpenelitianberhak oleh sheet. Namun demikian, apabila manajer data menggunakan fasi-
untuk!-nengetahuibagaimanakebijakanmengenaiaksesdansharing litas perangkat lunak lain seperti Microsoft Database, Nvivo, atau SP55,
consent'
data, yang pada umumnya tertuang dalam informed maka proses pengaturan struktur file hendaknya disesuaikan dengan
2" Start-uP ProYek Penelitian fasilitas yang tersedia pada masing-masing perangkat lunak tersebut.
perlu terlebih Demikian juga dalam menjaga integritas data, manajer data perlu
Sebelum proyek penelitian dimulai, manaier data
menentukan mekanisme pemeriksaan data untuk menemukan missing
dahulumenentukanhal-hatteknisyangberkaitandengandata.Hal-hal
dan struktur file' value, respons yang tidak konsisten, atau data yang tidak lengkap.
teknis yang dimaksud di antaranya penamaan data
Mekanisme pemeriksaan data tersebut dapat dilakukan secara manual
integritasdata,dandokumentasiproyek'Ketigahaltersebutrnemang
penting untuk ata u den ga n men ggu na ka n otom atisa si, se perti sy ntaxl checksum.
tampak sederhana dan relatif mudah, namun cukup
memengaruhi Hal teknis lainnya yang juga perlu ditentukan oleh manaier data
menghindari terjadinya kesalahan data yang tentunya
.tdalah dokumentasi proyek pcnelitian. Dokumentasi proyek penelitian
interpretasi data dan hasil penelitian'
merupakan proses mencloktttttt'nkatt selurtth pelaksanaan penelitian.
Penamaandanstrukturfileadalahtahapawalyangperludilakukan.
Mt.rn;rh,rrrri rl.rtr Mt'trp1t'ntlr,rtt;iL.tttlNl)l(,1 N()t,\ l'\YCllOl OCY 105
Artinya, proses ini tidak terbatas pada pengambilan foto kegiatan tentang pendidikan diberi label dasar PD. Variabel pendidikan ayah
penelitian, namun termasuk iuga pembuatan logbook dan laporan merupakan gabungan antara label dasar dan akhiran AY untuk
progres penelitian. mengindikasikan ayah, sehingga penamaannya meniadi PDAY.
Sementara vaiiabel tingkat pendidikan merupakan gabungan
3. Pengambilan data dan pembuatan file antara label dasar yang diberi awalan TK untuk mengindikasikan
Manajer data akan mulai mendapatkan masukan data mentah taman kanak-kanak, sehingga penamaannya menjadi TKPD.
yang harus diolah. Hal initerjadi sepanjang proses pengambilan data di Data penelitian dimasukkan ke dalam perangkat lunak sesuai
lapangan, sebagaimana pernah diulas sebelumnya tentang digitalisasi dengan kebutuhan penelitian. Data yang berupa angka dimasukkan
data dan persiapan analisis data. Tahap pertama yang dilakukan oleh dalam angka dan data berupa kalimat ataupun kata dimasukkan seperti
manajer data adalah melakukan entry data ke dalam sebuah file dataset' apa adanya, atau dapat dikoding menjadi bentuk numerik, seperti
pada tahap entry data, manajer data perlu memberi penamaan kata Laki-Laki menjadi nomor t dan kata Perempuan menjadi nomor 2.
variabel secara terstruktur dan benar, terutama ketika hendak meng- Adapun u ntuk memberi la bel missin g data atau inv alid vclug keba nya ka n
gunakan perangkat lunak yang beragam untuk menyimpan dan peneliti menggunakan variabel dengan maximum volue, sepertiggg atau
menganalisis data. Misalnya, menggunakan Microsoft Excel dan 5P55. 99. Tujuan dari model penomoran semacam ini adalah untuk membuat
Berikut adalah contoh penamaan variabel dengan format yang di- missing data menjadi lebih terlihat jelas dan berbeda dari data yang
gunakan pada seiumlah perangkat lunak pemrosesan data: valid. Sehingga apabila value dala berkisar antara angka Bo hingga
1. one-up numbers adalah sistem penamaan variabel dengan satu 1oo, maka missing dota sebaiknya diberi value 999 untuk membedakan
angka. Kebanyakan perangkat lunak pemrosesan data tidak dapat dengan data yang valid. Khususnya pada penelitian kualitatif, data
memfungsikan angka sebagai nama variabel. Dengan demikian, penelitian biasanya dimasukkan terlebih dahulu di dalam perangkat
rnaka perlu menambahkan setidaknya satu huruf di depan angka, lunak pengolahan kata seperti Microsoft Word, sebelum dianalisis,
misalnya defautt dalam sPSS adalah VARooot. Namun demikian, dikoding, dan dimasukkan ke dalam dataset.
perlu digarisbawahi bahwa sistem one-up numbers rentan Pada tahap berikutnya, manajer data perlu melakukan data cleaning

terhadap eror, di samping konten variabelnya tidak dapat langsung dan verifikasi data. Data cleaning adalah proses untuk memastikan bahwa
dimengerti. seluruh variabel yang dimuat dalam dataset tertulis dengan format yang
2. Nomor pertdnyadnadalah sistem penamaan variabelyang meruiuk sama dan siap untuk dianalisis. Adapun verifikasi data adalah proses
kepada pertanyaan dalam kuesioner, misalnya Pta, Ptb, Ptc, dan pemeriksaan kembali data penelitian untuk mengidentifikasi apabila
seterusnya. Penamaan nomor iuga dapat dilakukan dengan terdapat missing data atau data terduplikat menjadi ganda. Kedua
menggunakan nama skala, misalnya Agt, Ag2, Ag3, dan seterusnya proses inidapat dilakukan secara manualataupun dengan menggunakan
untuk kuesioner agresi atau Kolt, Kolz, Kol3, dan seterusnya untuk otomatisasi, seperti model double entry pada Microsoft Excel.
kuesioner kolektivisme.
4. Analisis data
3. Sistem pref ix, root,dan suffix adalah sistem penamaan variabel yang
Pada tahap analisis data yang clil.tkukan olehtim peneliti, manaier
meruiuk pada satu set aturan penamaan dengan menggunakan
awalan, label dasar, dan akhiran. Misalnya, seluruh variabel data bertugas untuk melac.rk clatr trrendoktrrnentasikan versi dataset.

Mr,rrr.rhanri clarr Metrgr.tttlr.rtrgL.lt lNl)l(,1 NOTJS PSYCIIOI OCY 107


pada tahap ini, peneliti dapat saja mengeluarkan satu atau dua kebutuhan dan keputusan tim peneliti.
variabel dari dataset atau peneliti meggabungkan dua dataset yang 6. Penyimpanan data
berbeda untuk dikomparasi, yang memungkinkan akan mengganggu
Penyimpanan data yang dimaksud ialah penyimpanan data untuk
proses analisis. Pada situasi semacam ini, maka manaier data perlu
jangka waktu yang panjang setelah penelitian selesai dilakukan. pada
meniaga keaslian data, di samping memfasilitasi proses analisis dengan
tahap ini, manajer data bertugas untuk mengompilasi seluruh file master
menyertakan dua jenis file dataset, yang dalam hal ini ialah file master
dataset, file analisis, dan working file yang relevan untuk digabungkan
dataset dan file dataset keria. Anggota tim penelitian dapat mengopi
keria, namun dengan ke dalam satu kesatuan arsip, baik dalam bentuk digital maupun fisik.
filemaster dataset untuk dijadikan file dataset
Proses manajemen data yang diuraikan satu per satu di atas me-
catatan bahwa tim peneliti tidak diperbolehkan mengutak-atik file
mang membutuhkan ketekunan dan ketelitian dari manajer data yang
master dataset.Di samping tugas-tugas tersebut, manaier data iuga
salah satunya mengandalkan penggunaan komputer secara efektif.
perlu mendokumentasikan file yang berkaitan dengan analisis data,
Namun demikian, enam langkah praktis yang dilakukan manajer data
terutama syntax analisis.
dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan penelitian. Di
5. Persiapan untuk data sharing samping itu, data dan hasil penelitian akan terjamin keabsahannya dan
pada tahap ini tim penelitian memutuskan apakah data pene- terdokumentasi dengan baik.
litian akan disebarluaskan atau tidak' Apabila data penelitian hendak G. Langkah Selanjutnya
membagikan, maka tim peneliti perlu membuat platform yang mem-
Tahapan-tahapan pelaksanaan penelitian indigenous psychology
fasilitasi sharing data. Beberapa mekanisme yang umumnya digunakan
yang diuraikan sebelumnya merupakan pengalaman penelitian ekspriorasi
sebagai platform shartng data, di antaranya:
clCP. Peneliti indigenous pcychology dapat mengikuti rentetan tahapan
1. Repositori unit. Misalnya, ClcP sebagai pemilik data. Data penelitian
praktis tersebut atau juga mengembangkannya dengan menyesuaikan
hanya dapat diakses dalam lingkup unit CICP'
pada keperluan penelitian. Di samping itu, perlu cJigarisbawahi bahwa
2. Diseminasimandiri. Misalnya, membagikan data penelitian melalui
temuan-temuan indrgenous yang sudah ada dan terdokumentasi bukan-
website tim Peneliti'
lalr akhir dari pengenrbangan indigenous psycholopdy, rnllainkan sebagai
3. Detayed dissemination. Mekanisme ini dilakukan dengan cara
Iandasan awal untuk dikembangkan melalui prene:iii.ianp,.:neiitian
membagikan data penelitian secara keseluruhan setelah melewati
setanjutnya yang dapat dilakukan dengan berbagai t:ara, c1i airtaranya:
suatu Perio de embargo tertentu.
Repositori institusi. Misalnya Fakultas sebagai pemilik data. Data
r. Mengkonstruksi skala berdasarkan temuan l<onsep psikoiogi yang
4.
indigenous dari hasil penelitian eksplorasi sebelumnya, sehingga
penelitian dapat diakses dan digunakan oleh civitas akademika
dapat digunakan untuk memvalidasi konsep tersebut.
fakultas tersebut.
5. Koleksi akses-terbatas. Mekanisme ini membatasi data tertentu '. Melakr-rl<an penelitian pendalaman dengan metode kualitatif untuk
|nerrgLrngkap lcbilr l.rnjrrt rlinarrika suatu konsep indigenous yang
yangdapatdiaksesdarikeseluruhandata.Artinya,tidaksemua
sttcl.lll a<ll ltarr tttllrtl\ tr('l)('ltrrrrt'i lionscl'r konsep l.rin y.rng ltelLrnt
data penelitian dibagikan. Beberapa data yang sensitif at.rr-t
( litcliti,,clrt'lrrrrrrry,i.
memiliki nilaitersencliri dibagikafi s€Cdrcl terlt,rtas stlsr-t.ri clcttgat'r

r.. ....., r,,,,,1..1.,,,


j. melalui model cross-
Melakukan studi komparasi antar-budaya
psy chology,sebaga i upaya
indigenousatau cross-c ultural indigenous
yang berlaku
untuk menemukan konsep psikologi indigenous
universal.
Penulisantentanglangkah-tangkahpraktispenelitianindigenous
pengembangan
psychologytidak lain merupakan wuiud dari semangat
risetindigenousdilndonesia.Tulisaninidiharapkandapatmemberikan
psychotogy bagi peneliti
gambaran pelaksanaan penelitian indigenous
atau calon peneliti, sehingga diharapkan penelitian
indigenous

psychology di tanah air dapat tumbuh subur


untuk menggali konsep- ffiAffiKASW HK}il
konsep psikotogis yang asli dari konteks budaya yang ada di lndonesia'
Dengandemikian,makamenjadisebuahcita.citabesarbagipeneliti
konsep-konsep psikologi
indigenous psychology untuk menemukan
lndonesiayangbenar-benarmerepresentasikandinamikapsikologis
orang lndonesia. o ffiffiffiWM
WffiffiffiMffiWffiffiffi
ffiWWffiffiffiWffiWffi
WffiWffiWffiffiffiWW
PRAKATA

einginan untuk mengembangkan psikologi yang sesuai dengan


kondisidan konteks lndonesia terah lama dirasakan oleh banyak
ahli psikologi negeri ini. Upaya konkret untuk itu juga sudah
ada
M emahami d an M engemb angkan dan mengalami pasang surut dengan kenyataan menunjukkan
bahwa
INDIGENOUS PSYCHOLOGY lebih banyak surutnya. sejak beberapa tahun terakhir, Fakultas psikologi
PenYunting Universitas Gadjah Mada telah mencoba mewujudkan keinginan
itu
Minza' Tabah Aris Nuriaman
Faturochman, Wenty Marina dengan mendirikan center for tndigenous and curturar psychotogy
Rancang Cover dilanjutkan dengan merakukan berbagai workshop serta praktik
Azzidane penelitian. Banyak lembaga dan individu yang kemudian
bersinergi
Tata Aksara untuk mengembangkannya. Namun, pada saat yang bersamaan
seraru
Dimaswids ada pertanyaan, bagaimana mengembangkannya? Dengan
kata lain,
Cetakan I' clorongan untuk mengembangkan psikologi yang kontekstual
dan dinilai
November 2017 sesuai dengan kondisi rndonesia, kurang didukung oreh pengetahuan

Penerbit rlan kemampuan tentang cara mengembangkannya.


Pustaka Pelaiar Berangkat dari situasi seperti iturah, untuk waktu yang cukup
rama,
(Anggota IKAPI) ( tnter for Indigenous and cultural psychology, Fakultas psikologi UGM,
55t67
Ceteban Timur UH llU548 Yogyakarta buku yang diharapkan bisa dijadikan pegangan bagi banyak
'rcnyusun
Telp. or74 38't54t, Faks' oz74 383o83 lrihak untuk melakukan peneritian indigenous psychorogy, yang secara
E-mail: Pustakapelaiar@yahoo'com '.t'clerhana didefinisikan sebagai psikologi untuk memahami
manusia
tl,rlarn konteksnya. Buku ini disusun bersama oleh dosen
dan mahasiswa
lSBN: 978-602-229'814-4
l
El Diterbitkan atas kcria sama dengan
!
i
, Fakultas Psikologi UGM
a

!.
Banyak lenrbaga dan individu yang bcrsirlcrtrii \ 1, r r r:rlutnti cla.n Mengenrbangkan
r-r rr t rrk rnengembangkan I ndigenous
P syc ho logl'' N tt t t t t t' t t

ticlaksetiapindividumemilikipengetahuantttltttk
rilclakukan hal tersebut. Untuk itu sangat clipcrlrrklrtt
dorongan untuk mengembangkan psikoIogi
yinIS
TI
ar
r/1

>,,/
INDIGENOI.]S
kontckstual dan sesuai dengan nilai-nilai kc-I tttloltesitttttt

Dalam waktu yang relatif lalna'


('t'rtlt't' f tu'
',/,?
.*'.,/
is
I)SYCHOLOGY
F aktrItns I)sikpIpllt
I r ttI i gt,rrtttr,s and cultural Psychology,

t J(;M. lrlcllyusun buku yang diharapkarr


bislt tliiittlrhntr
pilrrtltran berbagai pihak guna mclakuktrll petrclilirttt zi
HI
i t t I i gt't r r t t r,s
r 1t
sychologl' (memaham i ps i ktll ogi I I llll I tls I Il
aN
sesuai dengan kontcksnYrt )'
ZV
e:l
Scbagai panduan, buku ini tlistrstttt bcrtlitltittlrrttt
r.clcr.crrsi yang cukup memadai, baik tlilr'i ltilsil
tt,ot.k,sh01t, clan pengalaman pctle lililrrr tlr trrrttttlt
tl|\httct- -fi
ro1
ral'
<fi
afii
{
rrlrsyulul<at.. Sekaligus dilengkapi tlcttpittt tt'Itrtlr
rlutt
or
F{l
lrct .,tlc pcrrcl itian Serta contgh-ctllt tll t ltlst l pt'ttt'
l ll ltttr

-yllllg bcl'ltaitan
dcl1gan itttligt'tt('tt\' lrr t'r lrrrlrrr'l
c
L]

iilt rillllltllllll 0 ll \ lt ttl I ll tl