Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Masalah Utama
Nyeri akut b.d dispepsia
1. Definisi
Nyeri akut adalah "respon normal fisiologis yang dapat diramalkan akibat
suatu stimulus kuat kimiawi, termal atau mekanik yang terkait dengan
pembedahan, trauma atau penyakit akut.4,15 Meskipun nyeri akut merupakan
respon normal akibat adanya kerusakan jaringan, namun dapat menimbulkan
gangguan fisik, psikologis, maupun emosional dan tanpa manajemen yang
adekuat dapat berkembang menjadi nyeri kronik (Purba JS, 2010).
Nyeri akut biasanya awitannya tiba-tiba dan umumnya berkaitan dengan
cidera spesifik. Nyeri akut mengindikasikan bahwa kerusakan atau cidera
telah terjadi. Nyeri akut umumnya terjadi kurang dari enam bulan dan
biasanya kurang dari satu bulan. Cidera atau penyakit yang menyebabkan
nyeri akut dapat sembuh secara spontan atau dapat memerlukan pengobatan
(Smeltzer & Bare, 2002).

2. Etiologi
Etiologi nyeri akut yaitu :
a. Agen pencederaan fisik (amputasi, abses, timdakan bedah)
b. Agen pencederaan kimiawi (luka bakar)
c. Agen pencederaan biologis( infeksi) (nanda, 2015)
Penyebab dari dyspepsia yaitu :
a. Penyebab medis
1) Sirosis
2) Dilatasi lambung (akut)
3) Tukak duodenum
4) Kolelitiasis
b. Penyebab lain
1) Obat-obatan
2) Operasi
3. Manifestasi Klinis
a. Tanda dan gejala nyeri
1) Gangguam tidur
2) Posisi menghindari nyeri
3) Gerakan meng hindari nyeri
4) Raut wajah kesakitan (menangis,merintih)
5) Perubahan nafsu makan
6) Tekanan darah meningkat
7) Pernafasan meningkat
8) Depresi
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri
Pengalaman nyeri pada seseorang dapat di pengaruhi oleh beberapa hal, di
antaranya adalah:
1) Arti Nyeri. Nyeri bagi seseorang memiliki banyak perbedaan dan
hampir sebagian arti nyeri merupakan arti yang negatif, seperti
membahayakan, merusak, dan lain-lain. Keadaan ini di pengaruhi
lingkungan dan pengalaman.
2) Persepsi Nyeri. Persepsi nyeri merupakan penilaian yang sangat
subjektif dari seseorang yang merasakan nyeri. Dikarenakan perawat
tidak mampu merasakan nyeri yang dialami oleh pasien.
3) Toleransi Nyeri. Toleransi ini erat hubungannya dengan intensitas nyeri
yang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang menahan nyeri.
Faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan toleransi  nyeri  antara
lain alcohol, obat-obatan, hipnotis, gerakan atau garakan, pengalihan
perhatian, kepercayaan yang kuat dan sebagainya. Sedangkan faktor
yang menurunkan toleransi antara lain kelelahan, rasa
marah, bosan, cemas, nyeri yang kunjung tidak hilang, sakit, dan lain-
lain.
4) Reaksi terhadap Nyeri. Reaksi terhadap nyeri merupakan bentuk
respon seseorang terhadap nyeri, seperti
ketakutan, gelisah, cemas, menangis, dan menjerit. Semua ini
merupakan bentuk respon nyeri yang dapat di pengaruhi oleh beberapa
faktor, seperi arti nyeri, tingkat perspepsi nyeri, pengalaman masa
lalu, nilai budaya, harapan sosial, kesehatan fisik dan mental, rasa
takut, cemas, usia, dan lain-lain.
4. Patofisiologi
Pada saat sel saraf rusak akibat trauma jaringan, maka terbentuklah zat-
zat kimia seperti Bradikinin, serotonin dan enzim proteotik. Kemudian zat-zat
tersebut merangsang dan merusak ujung saraf reseptor nyeri dan rangsangan
tersebut akan dihantarkan ke hypothalamus melalui saraf asenden. Sedangkan
di korteks nyeri akan dipersiapkan sehingga individu mengalami nyeri. Selain
dihantarkan ke hypothalamus nyeri dapat menurunkan stimulasi terhadap
reseptor mekanin sensitif pada termosensitif sehingga dapat juga
menyebabkan atau mengalami nyeri (Wahit Chayatin, N.Mubarak, 2007).
Nyeri akut pada dyspepsia memiliki patofisiologinya yaitu
5. Pemeriksaan Diagnostik
Nyeri akut pada pasien dyspepsia
Pemeriksaan diagnostic pada pasien dyspepsia
a. Laboratorium : pada dyspepsia biasanya hasil laboratorium dalam
batas normal
b. Radiologi : OMD dengan kontras ganda, serologi, helibacter
pylori
c. Endoskopi : rapid ureatest, patologi anatomi, kultur
mikroorganisme jaringan, PCR
6. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Nyeri
1). Terapi non-Farmakologis
Ada beberapa metode metode non-farmakologi yang digunakan untuk
membantu penanganan nyeri paska pembedahan, seperti menggunakan
terapi fisik (dingin, panas) yang dapat mengurangi spasme otot,
akupunktur untuk nyeri kronik (gangguan muskuloskletal, nyeri
kepala), terapi psikologis (musik, hipnosis, terapi kognitif, terapi
tingkah laku) dan rangsangan elektrik pada sistem saraf (TENS, Spinal
Cord Stimulation, Intracerebral Stimulation)
2) Terapi Farmakologis
Modalitas analgetik paska pembedahan termasuk didalamnya
analgesik oral parenteral, blok saraf perifer, blok neuroaksial dengan
anestesi lokal dan opioid intraspinal. Pemilihan teknik analgesia secara
umum berdasarkan tiga hal yaitu pasien, prosedur dan pelaksanaannya.
Ada empat grup utama dari obat-obatan analgetik yang digunakan
untuk penanganan nyeri paska pembedahan.
B. Tinjauan Teori
1. Definisi Dispepsia
Dispepsia adalah sebuah gangguan fungsi pencernaan dimana penderita
biasanya akan merasakan mual, nyeri ulu hati, dan mungkin begah perut.
Biasanya akan semakin terasa jika penderita kekenyangan dan akan
diperberat ketika penderita mengkonsumsi makanan yang berbumbu,
berlemak dan mengandung kafein. (Williams & Wilkins, 2011) Dispepsia
adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan nyeri atau rasa tidak
nyaman pada perut bagian atas atau dada yang biasanya timbul setelah
makan. Penyakit refluks gastroesofageal adalah salah satu penyebab
dispepsia yang paling umum. Dispepsia adalah penyakit kronik yang
biasanya berlangsung bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup. (Iranto,
2015).
Sedangkan menurut Arif & Sari (2011) dispepsia adalah rasa nyeri dan
tidak nyaman dibagian hati dan seringkali menyerang penderita di usia
produktif, yakni usia 30-50 tahun.
7. Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya, dispepsia dibedakan menjadi dua jenis, yaitu
dispepsia organik dan dispepsia fungsional
a. Dispepsia organik
Dispepsia organik artinya disipepsia yang penyebabnya sudah pasti.
Dispepsia jenis ini jarang ditemukan pada pasien usia lebih dari 40tahun.
Penyebabnya antara lain sebagai berikut :
1) Disipepsia tukak (ulcullike dyspepsia). Gejala yang ditemukan
biasanya nyeri ulu hati pada waktu tidak makan/perut kosong.
2) Dispepsia tidak tukak. Gejalanya sama denga dispepsia tukak, bisa
pada pasien gastritis, duodenum, tetapi pada pemeriksaan tidak
ditemukan tanda-tanda tukak.
3) Refluks gastroesofagus. Gejala berupa rasa panas didada dan
regurgitasi terutama setelah makan.
4) Penyakit saluran empedu. Keluhan berupa nyeri dari perut kanan atas
atau ulu hati yang menjalar ke bahu kanan dan punggung
5) Karsinoma
a) Kanker esofagus. Keluhan berupa disfagia, tidak bisa makan,
perasaan penuh di perut, penurunan berat badan, anoreksia,
adenopati servikal, dan cegukan setelah makan.
b) Kanker lambung. Jenis yang paling umum terjadi adalah
adenokarisinoma atau tumor epitel.keluhan berupa tidak bisa
makan, perasaan kembung setelah makan
c) Kanker pankreas. Gejala yang paling umum antara lain penurunan
berat badan, ikterik,dan nyeri daerah punggung atau epigastrik
d) Kanker hepar. Gejala berupa nyeri hebat pada abdomen dan
mungkin menyebar ke skapula kanan, penurunan berat badan, dan
anoreksia
6) Obat-obatan. Golongan Non Steroid Inflammatory Drugs (NSID)
dengan keluhan berupa rasa sakit atau tidak enak pada ulu hati, disertai
mual muntah.
b. Dyspepsia fungsional
Dispepsia ini tidak memunculkan kelainan organik melainkan
kelainan fungsi dari saluran cerna. Penyebabnya antara lain :
1) Faktor asam lambung pasien. Pasien biasanya sensitif pada kenaikan
produksi asam lambung dan hal tersebut menimbulkan nyeri.
2) Kelainan psikis, stress, dan faktor lingkungan. Stress dan faktor
lingkungan diduga berperan pada kelainan fungsional saluran cerna,
menimbulkan gangguan sirkulasi dan motilitas
3) Penyebab-penyebab lainnya seperti adanya kuman Helicobacterpylori,
gangguan motilitas atau gerak mukosa lambung, konsumsi banyak
makanan berlemak, kopi, alkohol, rokok, perubahan pola makan, dan
pengaruh obat-obatan yang dimakan secara berlebihan dan dalam
waktu yang lama. (Arif & Sari, 2011).
8. Etiologi
a. Penyebab medis
1) Kolelitiasis. Dispepsia dapata terjadi pada batu empedu biasanya
sesudah makan makanan berlemak. Kolik barialis, gejala umum batu
empedu, biasanya menyebabkan sakit akut yang menyebar ke
punggung bahu dan dada. Pasien juga mengalami takikardia,
menggigil, demam derajat rendah, petekie, urine berwarna gelap dan
tinja berwarna dempul
2) Sirosis. Pada sirosis, dispepsia bisa sembuh dengan konsumsi antasid.
Efeknya adalah mual, muntah, buang angin, sembelit, diare, begah
perut, dan sakit perut kuadran atas kanan. Penurunan berat badan,
asites dan kelemahan otot juga umum.
3) Tukak duodenum. Sebagai gejala primer dari tukak duodenum,
dispepsia berkisar dari rasa kembung atau tertekan yang samara atau
sensasi berdenyut atau dibor di bagian tengah atau kanan epigastrium.
Biasanya terjadi 1,5-3 jam setelah makan, dan bisa diredakan dengan
konsumsi antasid.
4) Dilatasi lambung (akut). Rasa kenyang epigastrik adalah gejala awal
dari dilatasi lambung, suatu kelainan yang membahayakan jiwa.
Selalin dispepsia, juga terjadi mual dan muntah, begah perut bagian
atas, dan apatis. Pasien menunjukan tanda gejala seperti turgor kulit
menurun, membran mukosa kering, dan lemah otot.
5) Tukak lambung. Tipikal, dispepsia nyeri ulu hati sesudah makan
terjadi awal pada tukak lambung gejala awal adalah sakit epigastrik
yang terjadi bersama muntah, rasa kenyang dan begah perut.
Penurunan berat badan dan perdarahan GI juga menjadi
karakteristiknya.
6) Kanker GI. Kanker GI biasanyan menimbulkan dispepsia kronis. Ciri
lain mencakup anoreksia, lelah, ikterus, melena, hematemasis,
sembelit, dan sakit perut.
7) Hiatus hernia. Dispepsia adalah adalah akibat naiknya bagian bawah
esofagus dan bagian atas lambung ke dada saat tekanan lambung
meningkat.
8) Tuberkulosis paru. Dispepsia samar dapat terjadi bersama anoreksia,
lemas dan penurunan berat badan.
b. Penyebab lain
1) Obat. Obat anti peradangan nonsteroid, khususnya aspirin, umumnya
menyebabkan dispepsia. Diuretik, antibiotik, antihipertensi,
kortikosteroid juga dapat menyebabkan dispepsia, tergantung pada
toleransi pasien terhadap dosisnya.
2) Operasi. Sesudah operasi GI atau operasi lain, gastritis pasca operasi
dapat menyebabkan dispepsia, yang biasanya hilang dalam beberapa
minggu. (Arif & Sari, 2011)
9. Pathway
10. Patofisiologi
Perubahan pola makan yang tidak teratur, zat-zat seperti nikotin dan
alkohol serta adanya kondisi kejiwaan stress, pemasukan makanan akan
berkurang sehingga lambung akan kosong sehingga dapat menyebabkan
erosi pada lambung akibat gesekan-gesekan antara dinding lambung, kondisi
demikian dapat mengakibatkan peningkatan produksi HCL yang akan
merangsang terjadinya kondisi asam pada lambung, sehingga rangsangan di
medula oblongata membawa implus muntah sehingga intake tidak adekuat
baik makanan maupun cairan.
11. Tanda dan gejala
Adapun tanda dan gejala yang sering muncul menurut (Arif & Sari, 2011)
yaitu sebagai berikut
a. Rasa nyeri ulu hati
b. Mual muntah
c. Perut kembung
d. Rasa lebih cepat kenyang
e. Perut terasa begah
f. Rasa panas pada daerah dada atau epigastrium
g. Nafsu makan menurun
h. Aktifitas dibantu
i. Lemas
12. Data penunjang
Berbagai penyakit dapat menimbulkan keluhan, sama halnya dengan
sindrom dispepsia, oleh karena dispepsia hanya merupakan kumpulan gejala
dan penyakit di saluran, maka perlu dipastikan penyakitnya. Untuk
menentukan penyakit maka perlu dilakukan beberapa pemeriksaan, selain
pengamatan jasmani juga perlu diperiksa : laboratorium, radiologis,
endoskopi, USG
a. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan lebih banyak ditekankan untuk
menyingkirkan penyebab organik lainnya seperti, pankreatitis kronik,
diabetes milutus. Pada dispepsia biasanya hasil laboratorium dalam batas
normal.
b. Radiologis
Pemeriksaan radiologis banyak menunjang diagnostik suatu penyakit di
saluran makan. Setidak-tidaknya perlu dilakukan pemeriksaan radiologis
terhadap saluran makan bagian atas, dan sebaiknya menggunakan kontras
ganda.
c. Endoskopi
Sesuai dengan definisi bahwa dispepsia fungsional gambaran
endoskopiny normal atau sangan tidak spessifik
d. USG
Merupakan pemeriksaan yang tidak invasif, akhir-akhir ini banyak
dimanfaatkan untuk membantu menentukan diagnostik dari suatu
penyakit, apalagi alat ini tidak menimbulkan efek samping, dapat
digunakan setiap saatdan pada kondisi klien yang beratpun daapat
dimanfaatkan.
13. Komplikasi
Komplikasi yang mungkin muncul ada pada pasien dispepsia antara lain
perdarahan gastrointestinal, stenosis pilorus, dan perforasi
14. Penatalaksanaan
Berdasarkan Konsensus Nasional Penanggulangan Helicobacter pylori
1996,ditetapkan skema penatalaksanaan dispepsia, yang dibedakan bagi sentra
kesehatan dengantenaga ahli (gastroenterolog atau internis) yang disertai
fasilitas endoskopi denganpenatalaksanaan dispepsia di
masyarakat.Pengobatan dispepsia mengenal beberapa golongan obat, yaitu:
a. Antasid
Golongan obat ini mudah didapat dan murah. Antasid akan
menetralisir sekresi asamlambung. Antasid biasanya mengandungi Na
bikarbonat, Al(OH)3, Mg(OH)2, dan Mgtriksilat. Pemberian antasid jangan
terus- menerus, sifatnya hanya simtomatis, untuk mengurangi rasa nyeri.
Mg triksilat dapat dipakai dalam waktu lebih lama, juga berkhasiatsebagai
adsorben sehingga bersifat nontoksik, namun dalam dosis besar akan
menyebabkandiare karena terbentuk senyawa MgCl2. Sering digunakan
adalah gabungan Aluminiumhidroksida dan magnesium
hidroksida.Aluminum hidroksida boleh menyebabkan konstipasidan
penurunan fosfat; magnesium hidroksida bisa menyebabkan BAB encer.
Antacid yangsering digunakan adalah seperti Mylanta, Maalox, merupakan
kombinasi Aluminium hidroksida dan magnesium hidroksida. Magnesium
kontraindikasi kepada pasien gagal ginjalkronik karena bisa menyebabkan
hipermagnesemia, dan aluminium bisa menyebabkan kronik neurotoksik
pada pasien tersebut.
b. Antikolinergik
Perlu diperhatikan, karena kerja obat ini tidak spesifik. Obat yang agak
selektif yaitupirenzepin bekerja sebagai anti reseptor muskarinik yang
dapat menekan seksresi asamlambung sekitar 28-43%. Pirenzepin juga
memiliki efek sitoprotektif.
c. Antagonis reseptor H2
Golongan obat ini banyak digunakan untuk mengobati dispepsia
organik atau esensialseperti tukak peptik. Obat yang termasuk golongan
antagonis reseptor H2 antara lainsimetidin, roksatidin, ranitidin, dan
famotidin.
d. Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI).
Golongan obat ini mengatur sekresi asam lambung pada stadium akhir
dari prosessekresi asam lambung. Obat-obat yang termasuk golongan PPI
adalah omeperazol,lansoprazol, dan pantoprazol. Waktu paruh PPI adalah
~18jam ; jadi, bisa dimakan antara 2dan 5 hari supaya sekresi asid gastrik
kembali kepada ukuran normal. Supaya terjadipenghasilan maksimal,
digunakan sebelum makan yaitu sebelum sarapan pagi kecualiomeprazol.
e. Sitoprotektif
Prostoglandin sintetik seperti misoprostol (PGE1) dan enprostil
(PGE2). Selainbersifat sitoprotektif, juga menekan sekresi asam lambung
oleh sel parietal. Sukralfatberfungsi meningkatkan sekresi prostoglandin
endogen, yang selanjutnya memperbaikimikrosirkulasi, meningkatkan
produksi mukus dan meningkatkan sekresi bikarbonat mukosa,serta
membentuk lapisan protektif (site protective), yang bersenyawa dengan
protein sekitarlesi mukosa saluran cerna bagian atas. Toksik dari pada obat
ini jarang, bisa menyebabkan konstipasi (2 – 3%). Kontra indikasi pada
pasien gagal ginjal kronik. Dosis standar adalah 1 grm per hari.
f. Golongan prokinetik
Obat yang termasuk golongan ini, yaitu sisaprid, domperidon, dan
metoklopramid.Golongan ini cukup efektif untuk mengobati dispepsia
fungsional dan refluks esofagitisdengan mencegah refluks dan
memperbaiki bersihan asam lambung (acid clearance).
g. Antibiotik untuk infeksi Helicobacter pylori
Eradikasi bakteri Helicobacter pylori membantu mengurangi simptom
pada sebagianpasien dan biasanya digunakan kombinasi antibiotik seperti
amoxicillin (Amoxil),clarithromycin (Biaxin), metronidazole (Flagyl) dan
tetracycline (Sumycin).
Kadang kala juga dibutuhkan psikoterapi dan psikofarmakoterapi (obat
anti- depresi dancemas) pada pasien dengan dispepsia fungsional, karena
tidak jarang keluhan yang munculberhubungan dengan faktor kejiwaan
seperti cemas dan depresi.
Terapi Dispepsia Fungsional :
a. Farmakologis
Pengobatan jangka lama jarang diperlukan kecuali pada kasus-kasus berat.
(regularmedication) mungkin perlu pengobatan jangka pendek waktu ada
keluhan. (on demand medication)
b. Psikoterapi- Reassurance- Edukasi mengenai penyakitnya
c. Perubahan diit dan gaya hidup
1) Dianjurkan makan dalam porsi yang lebih kecil tetapi lebih sering
2) Makanan tinggi lemak dihindarkan
Pengobatan terhadap dispepsia fungsional adalah bersifat terapi
simptomatik. Pasiendengan dispepsia fungsional lebih dominan gejala dan
keluhan seperti nyeri pada abdomenbagian atas (ulcer - like) bisa diobati dengan
PPI (Proton Pump Inhibitors). Pasien dengankeluhan yang tidak jelas di bagian
abdomen atas di mana yang gagal dengan pengobatan PPI,bisa diobati dengan
tricyclic antidepressants, walaupun data yang menyokong masihkurang. Pasien
dengan keluhan dismotility-like symptom bisa diobati dengan sama adadengan
acid suppressive therapy, prokinetic agents, atau 5-HT1 agonists.
Metoclopramide dandomperidone menunjukkan antara obat placebo dalam
pengobatan dispepsia fungsional.
C. Asuhan Keperawatan Pada pasien dyspepsia (teori)
1. Pengkajian kasus
Menurut (Arif & Sari, 2011) pengkajian pada klien dispepsia meliputi
a. Pengkajian
1) Identas
Identitas pasien : nama, umur, jenis kelamin, suku, agama, pekerjaan,
pendidikan, alamat.
Identitas penanggung jawab :nama, umur, jenis kelamin,
pekerjaan, alamat, hubungan dengan pasien, agama.
2) Keluhan utama
keluhan utama yang dikeluhkan pasien biasanya nyeri di perut bagian
atas, mual ketika makan, dan lemas saat beraktifitas
a. Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya klien datang dengan keadaan sadar, dan menahan nyeri,
mual serta lemas. Klien juga akan diperiksa tanda-tanda vitalnya.
b. Riwayat kesehatan dahulu
Apakah klien pernah dirawat dengan penyakit yang sama atau tidak.
apakah klien pulang dengan keadaan sehat atau masih sakit. apakah
klien memiliki riwayat penyakit kronis atau tidak.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah keluarga ada yang memiliki riwayat penyakit yang sama
seperti yang diderita klien saat ini.
d. Riwayat pengobatan dan alergi
Obat apa yang sering dikonsumsi klien, apakah klien memiliki
alergi atau tidak.
3) Pengkajian fisik
a) Keadaan umum: sakit / nyeri, status gizi, sikap, personal hygine.
b) Data sistemik
I. Sistem persepsi sensori : pendengaran, penglihatan, pengecap
apakah mengalami perubahan seperti mati rasa atau baal, peraba.
II. Sistem penglihatan : lapang pandang, kesimetrisan mata, alis,
kelopak mata, konjungtiva, sklera, kornea, pupil, reflek, pupil.
III. Sistem pernafasan : frekuensi nafas bagaimana, apakah klien
batuk, bunyi nafas, sumbatan jalan nafas, apakah klien sesak
nafas karena menahan nyeri
IV. Sistem kardiovaskuler : tekanan darah apakah normal atau tidak,
denyut nadi normal atau tidak, bunyi jantung, kekuatan,
pengisian kapiler, terdapat edema atau tidak.
V. Sistem saraf pusat : apakah kesadaran menurun atau tidak, bicara
lancar atau terbata-bata, orientasi waktu tempat orang apakah
baik atau tidak.
VI. sistem gastrointestinal : nafsu makan menurun atau tidak, porsi
makan berkurang atau tidak, apakah pasien mengeluh mual
dansusah menelan makanan, apakah pasien kesulitan dalam
mengunyah, apakah perut terasa kembung atau tidak.
VII. Sistem muskoloskeletal : apakah klien mengalami masalah pada
rentang gerak, keseimbangan dan cara jalan klien terganggu atau
tidak, kemampuan memenuhi aktivitas sehari-hari apakah
dibantu atau tidak, tangan dan kaki mengalami kelemahan atau
tidak, akral teraba dingi atau hangat.
VIII. Sistem integumen: warna kulit sianosis atau tidak , turgor kulit
elastis atau tidak.
IX. Sistem reproduksi : intertil, masalah menstruasi, payudara
X. Sistem perkemihan : urin (bagaimana warna, jumlah, dan
pancaran )
4) Data penunjang
Data penunjang yang dilakukan untuk melengkapi data pengkajian
biasanya adalah dengan melakukan tes laboratorium untuk mengetahui
apakah ada hasil atau nilai yang tidak normal, tes USG untuk
mengetahui apakah ada kelainan atau masalah pada sistem pencernaan
atau pada lambung.
I. Terapi yang diberikan
Biasanya klien akan mendapatkan terapi berupa ondancentrone
untuk mengatasi mual, ranitidine untuk menurunkan asam lambung
serta sukralfat untuk mengobati tukak lambung.
II. Pengkajian masalah psiko sosial budaya dan spiritual
Apakah pasien mengalami gangguan pada psikologis seperti cemas
dengan penyakit yang dirasakannya.
15. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri akut b.d agen cidera biologis
b. Defisit nutrisi b.d ketidak mampuan mncerna makanan
c. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan
d. Ansietas b.d ancaman terhadap konsep diri
e. Hipovolemia b.d kehilangan cairan aktif
(Arif & Sari, 2011) / (PPNI, 2017)
16. Rencana Tindakan
a. Nyeri akut b.d agen cidera biologis
Tujuan : mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri
Kriteria hasil : nyeri berkurang atau hilang
skala nyeri berkurang
intervensi :
1) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan intensitas
nyeri
Rasional : lokasi nyeri jelas, durasinya berkurang, frekuensi menurun,
kualitas nyeri berkurang
2) Berikan tehnik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri.
Rasional : untuk mengurangi rasa nyeri dengan cara tidak
menggunakan obat (napas dalam, hypnosis, menonton, dsb)
3) Kaji tinggkat nyeri
Rasional : berguna dalam pengawasan keefektifan obat dan kemajuan
penyembuhan
4) Jelaskan strategi meredakan nyeri
Rasional : agar pasien mengetahui cara meredakan nyeri secara mandiri
maupun dibantu keluarga
5) Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional : menghilangkan rasa nyeri dan mempermudah krjasama
dengan intervensi terapi lainya
b. Defisit nutrisi b.d ketidak mampuan mencerna makanan
Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi dan dapat mencerna
dengan baik
Kriteria hasi : keadaan umum tampak segar
Pola makan kembali normal
Berat badan pasien naik
Intervensi :
1) Identifikasi status nutrisi
Rasional : mengetahui status nutrisi
2) monitor berat badan
rasional : mengetahui kenaikan atau penurunan berat badan
3) kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis
nutrient yang dibutuhkan
rasional : perawatan yang lebiih komperhensif terhadap pasien
c. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan
Tujuan : badan menjadi segar, tidak lemah lagi
Kriteria hasil : pasien tidak lemah lagi
Intervensi :
1) Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan
Rasional : mencari sumber masalah yang mengakibatkan kelelahan
2) Monitor pola dan jam tidur
Rasional : pemantauan pola tidur untuk mengurangi kelelahan
3) Lakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif
Rasional : untuk melatih otot gerak agar menjadi kuat dan tidak lemah
lagi.
d. Ansietas b.d ancaman terhadap konsep diri
Tujuan : menjadi lebih tenang dan tidak cemas lagi
Kriteria hasil : pasien menjadi lebih tenang, pasien dapat melupakan
kecemasan dan ketakutan tersebut.
Intervensi :
1) Identifikasi riwayat masalah yang dialami
Rasional : agar memudahkan untuk ke sasaran hipnosis
2) Ciptakan hubungan saling percaya
Rasional : agar memudahkan untuk melakukan terapi dan bisa lebih
fokus
3) Fasilitasi menggunakan semua indra selama proses terapi
Rasional : agar lebih fokus dan ada variasi nya.
4) Anjurkan menarik nafas untuk mengintensifkan relaksasi
Rasional : bertujuan untuk menenangkan fikiran agar lebih mudah
memusatkan pada hipnosis.
e. Hipovolemia b.d kehilangan cairan aktif
Tujuan : cairan tidak berkurang,
f.

17. Implementasi
a. Nyeri akut berhunungan dengan agen pencederaan biologis. Penulis
melakukan implementasi yaitu mengdentifikasi lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi, kualitas dan intensitas nyeri, memberikan tehnik
nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri, mengkaji tinggkat nyeri ,
menjelaskan strategi meredakan nyeri, mengkolaborasi pemberian
analgetik.
b. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidak mampuan mencerna makanan
. Penulis melakukan implementasi yaitu mengidentifikasi status nutrisi
,memonitor berat badan, mengkolaborasikan dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan jenis nutrient yang dibutuhkan
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan. Penulis melakukan
implementasi yaitu mengdentifikasi gangguan fungsi tubuh yang
mengakibatkan kelelahan, memonitor pola dan jam tidur, melakukan
latihan rentang gerak pasif dan aktif.
5) Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri. Penulis
melakukan implementasi yaitu identifikasi riwayat masalah yang
dialami, ciptakan hubungan saling percaya, Fasilitasi menggunakan
semua indra selama proses terapi, anjurkan menarik nafas untuk
mengintensifkan relaksasi
18. Evaluasi
a. Diagnosa nyeri akut behubungan dengan agen pencederaan biologis.
Berdasarkan respon yang ditunjukkan oleh pasien nyerinya berkurang,
skala nyeri menurun, pasien tampak membaik setelah mendapatkan teknik
nonfarmakologis dan merasakan reaksi obat yang membuat nyeri
berkurang.
b. Diagnosa defisit nutrisi berhubungan dengan ketidak mampuan
mencerna makanan. Berdasarkan respon yang di tunjukkan oleh pasien,
berat badan pasien meninggkat, pasien memiliki nafsu makan yang baik,
nutrisi terpenuhi
c. Diagnosa aktivitas b.d kelemahan. Berdasarkan respon yang di tunjukkan
oleh pasien, kelemahan berkurang, pasien dapat melakukan aktivitas
mandiri.
d. Diagnosa ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri.
Berdasarkan respon yang ditunjukkan oleh pasien, pasien tidak cemas,
pasien, pasien tidak pucat lagi.