Anda di halaman 1dari 11

OBSTRUKSI SALURAN KEMIH

PATOFISIOLOGI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah

Dosen Pengampu : Tuti Suprapti S.Kp,.M.K

Oleh

Arumbi

Tingkat : 1B

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN


UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA BANDUNG
2020
Obstruksi :

1) Hiperplasia Prostat Benigna

a) Pengertian
Benigna Prostat Hiperplasi ( BPH ) adalah pembesaran jinak
kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau
semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan
fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars
prostatika . BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat
( secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun ) menyebabkan
berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius
( Purnomo, 2011) .

I. Etiologi
Penyebab yang pasti dari terjadinya BPH sampai sekarang belum
diketahui. Namun yang pasti kelenjar prostat sangat tergantung pada
hormon androgen. Faktor lain yang erat kaitannya dengan BPH
adalah proses penuaan Ada beberapa factor kemungkinan penyebab
antara lain :

1). Dihydrotestosteron
Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan
epitel dan stroma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasi .

2). Perubahan keseimbangan hormon estrogen - testoteron


Pada proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon
estrogen dan penurunan testosteron yang mengakibatkan
hiperplasi stroma.

3). Interaksi stroma - epitel


Peningkatan epidermal gorwth factor atau fibroblast growth
factor dan penurunan transforming growth factor beta
menyebabkan hiperplasi stroma dan epitel.
4). Berkurangnya sel yang mati
Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup
stroma dan epitel dari kelenjar prostat.

5). Teori sel stem


Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit
( Purnomo, 2011)

b) Patofisiologi
Pada BPH terdapat dua komponen yang berpengaruh untuk
terjadinya gejala yaitu komponen mekanik dan komponen dinamik.
Komponen mekanik ini berhubungan dengan adanya pembesaran kelenjar
periuretra yang akan mendesak uretra pars prostatika sehingga terjadi
gangguan aliran urine (obstruksi infra vesikal) sedangkan komponen
dinamik meliputi tonus otot polos prostat dan kapsulnya, yang merupakan
alpha adrenergik reseptor. Stimulasi pada alpha adrenergik reseptor akan
menghasilkan kontraksi otot polos prostat ataupun kenaikan tonus.
Komponen dinamik ini tergantung dari stimulasi syaraf simpatis, yang
juga tergantung dari beratnya obstruksi oleh komponen mekanik. Berbagai
keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan dan resistensi uretra.
Selanjutnya hal ini akan menyebabkan sumbatan aliran kemih. Untuk
mengatasi resistensi uretra yang meningkat, otot-otot detrusor akan
berkontraksi untuk mengeluarkan urine. Kontraksi yang terus-menerus ini
menyebabkan perubahan anatomik dari buli-buli berupa hipertrofi otot
detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel buli-buli.
Fase penebalan otot detrusor ini disebut fase kompensasi ( Purnomo,
2011).
Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai
keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract
symptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejala-gejala prostatismus.
Dengan semakin meningkatnya resistensi uretra, otot detrusor masuk ke
dalam fase dekompensasi dan akhirnya tidak mampu lagi untuk
berkontraksi sehingga terjadi retensi urin. Tekanan intravesikal yang
semakin tinggi akan diteruskan ke seluruh bagian buli-buli tidak terkecuali
pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat
menimbulkan aliran balik urin dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks
vesico-ureter. Keadaan ini jika berlangsung terus akan mengakibatkan
hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal
ginjal ( Purnomo, 2011).

c) Gejala Klinis
Gejala klinis yang ditimbulkan oleh Benigne Prostat Hyperplasia
disebut sebagai Syndroma Prostatisme. Syndroma Prostatisme dibagi
menjadi dua yaitu :

1) Gejala Obstruktif yaitu :


a. Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai
dengan mengejan yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-
buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan
intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika.
b. Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang disebabkan
karena ketidakmampuan otot destrussor dalam pempertahankan
tekanan intra vesika sampai berakhirnya miksi.
c. Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing.
d. Pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran
destrussor memerlukan waktu untuk dapat melampaui tekanan di
uretra.
e. Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa belum
puas.

2) Gejala Iritasi yaitu :


a. Urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan.
b. Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat
terjadi pada malam hari (Nocturia) dan pada siang hari.
c. Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing.
( Purnomo, 2011)

2. Batu Saluran Kemih


a) Pengertian
Batu saluran kemih adalah benda padat yang dibentuk oleh presipitasi
berbagai zat terlarut dalam urin pada saluran kemih dan dapat ditemukan
disetiap bagian ginjal sampai dengan kandung kemih dan ukurannnya
bervariasi dari deposit granuler yang kecil disebut pasir atau kerikil sampai
dengan batu sebesar kandung kemih yang berwarna orange ( Purnomo,
2011).
Pendapat lain menyebutkan batu saluran kemih adalah massa keras
seperti batu yang terbentuk disepanjang saluran kemih dan bisa
menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi.
Batu saluran kemih adalah Kristal padat dari larutan mineral urine, biasa
ditemukan di dalam ginjal atau ureter. Penyakit ini dikenal juga dengan
sebutan nephrolithiasis, urolithiasis, atau renal calculi ( Purnomo, 2011).

b) Klasifikasi
Klasifikasi batu saluran kemih menurut Basuki B Purnomo, 2011
adalah:
1. Batu Kalsium
Batu kalsium merupakan jenis batu terbanyak, batu kalsium biasanya
terdiri dari fosfat atau kalsium oksalat. Dari bentuk partikel yang terkecil
disebut pasir atau kerikil sampai ke ukuran yang sangat besar “staghorn”
yang berada di pelvis dan dapat masuk ke kaliks.
Faktor penyebab terjadinya batu kalsium adalah:
a) Hypercalsuria (peningkatan jumlah kalsium dalam urin) biasanya
disebabkan oleh komponen:
(1)   Peningkatan resopsi kalsium tulang, yang banyak terjadi pada
hiperparatiroid primer atau pada tumor paratiroid
(2)   Peningkatan absorbs kalsium pada usus yang biasanya dinamakan
susu-alkali syndrome, sarcoidosis
(3)  Gangguan kemampuan renal mereabsorbsi kalsium melalui tubulus
ginjal
(4)   Abnormalitas struktur biasanya pada daerah pelvikalises ginjal
b)  Hiperoksaluri: eksresi oksalat urine melebihi 45 gram perhari. Keadaan
ini banyak dijumpai pada pasien yang mengalami gangguan pada usus
sehabis menjalani pembedahan usus dan pasien yang banyak
mengkonsumsi makanan yang kaya oksalat seperti teh, kopi instan, soft
drink, jeruk sitrun, sayuran berdaun hijan banyak terutama bayam
c) Hipositraturi: di dalam urin sitrat akan bereaksi menghalangi ikatan
kalsium dengan oksalat atau fosfat. Karena sitrat dapat bertindak
sebagai penghambat pembentukan batu kalsium. Hal ini dapat terjadi
karena penyakit asidosis tubuli ginjal, sindrom malabsorbsi atau
pemakaian diuretic golongan thiazid dalam jangka waktu yang lama.
d) Hipomagnesuri: magnesium bertindak sebagai penghambat timbulnya
batu kalsium, karena didalam urin magnesium akan bereaksi dengan
oksalat menjadi magnesium oksalat sehingga mencegah ikatan kalsium
oksalat
( Purnomo, 2011)
2. Batu struvit
Batu struvit dikenal juga dengan batu infeksi karena terbentuknya
batu ini disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab
infeksi ini adalah kuman golongan pemecah urea atau urea spilitter yang
dapat menghasilkan enzim urease dan merubah urine menjadi basa melalui
hidrolisis urea menjadi amoniak. Suasana ini memudahkan garam-garam
magnesium, ammonium fosfat, dan karbonat membentuk batu magnesium
ammonium fosfat (MAP). Kuman-kuman pemecah urea adalah proteus
spp, klabsiella, serratia, enterobakter, pseudomonas, dan stapillokokus
( Purnomo, 2011).
3. Batu asam urat
Factor yang menyebabkan terbentuknya batu asam urat adalah:
a) Urin yang terlalu asam yang dapat disebabkan oleh makanan yang
banyak mengandung purine, peminum alcohol.
b)  Volume urin yang jumlahnya sedikit (<2 liter perhari) atau dehidrasi.
c)  Hiperurikosuri: kadar asam urat melebihi 850 mg/ 24jam. Asam urat
yang berlebih dalam urin bertindak sebagai inti batu untuk
terbentuknya batu kalsium oksalat.
( Purnomo, 2011)
4. Batu sistin
Cystunuria mengakibatkan kerusakan metabolic secara congetinal yang
mewarisi pengahambat atosomonal. Batu sistin merupakan jenis yang
timbul biasanya pada anak kecil dan orang tua ( Purnomo, 2011).
5. Batu xanthine
Batu xanthine terjadi karena kondisi hederiter hal ini terjadi karena
defisiensi oksidasi xathine ( Purnomo, 2011).

c) Etiologi

1. Faktor Endogen
Faktor genetik familial pada hiper sistinuria. Suatu kelainan herediter
yang resesif autosomal dari pengangkutan asam amino dimembran batas
sikat tibuli proksimal.
Faktor hiperkalsiuria primer dan hiper oksaluria primer.
( Purnomo, 2011)
2. Faktor  eksogen
1) Infeksi
Infeksi oleh bakteri yang memecahkan ureum dan membentuk
amonium akan mengubah Ph uriun menjadi alkali dan akan
mengendapkan garam-garam fosfat sehinggga akan mempercepat 
pembentukan batu yang telah ada.
2) Obstruksi – statis urine
Obstruksi dan statis urine memudahkan terjadinya infeksi yang
meningkatkan resiko terbentuknya batu saluran kemih
3) Jenis kelamin
Lebih banyak ditemukan pada laki-laki
Ras : Lebih banyak ditemukan di Negara Afrika & asia, Amerika dan
Eropa Jarang  
Keturunan Anggota keluarga batu saluran kemih lebih banyak
mempunyai kesempatan menderita batu saluran kemih
Air minum orang yang banyak minum akan mengurangi terbentuknya
batu, sedangkan orang uang kurang minum kadar semua substansi
meningkat, yang mempermudah pembentukan batu
4) Pekerjaan
Pekerja yang lebih banyak duduk lebih beresiko terkena batu dibanding
dengan pekerja yang banyak bergerak
5) Makanan masyarakat yang lebih banyak makan protein hewani angka
morbilitas batu saluran kemih kurang, sedangkan orang yang kurang
makan putih telur lebih beresiko terkena batu saluran
kemihàmasyarakat ekonomi lemah lebih banyak terkena batu saluran
kemih
6) Suhu
Daerah tropis atau kamar mesin yang menyebabkan keringat berlebihan
beresiko terkena batu saluiran kemih.
( Purnomo, 2011)
d) Tanda dan Gejala
a. Hematuria
b. Piuria
c.   Polakisuria/fregnancy
d. Urgency
e.   Nyeri pinggang menjalar ke daerah pingggul, bersifat terus menerus pada
daerah pinggang.
f. Kolik ginjal yang terjadi tiba-tiba dan menghilang secara perlahan-lahan.
g. Rasa nyeri pada daerah pinggang, menjalar ke perut tengah bawah,
selanjutnya kearah penis atau vulva.Anorexia, muntah dan perut kembung
h. Hasil pemeriksaan laboratorium, dinyatakan urin tidak ditemukan adanya
batu leukosit meningkat.
( Purnomo, 2011)
e) Komplikasi
Batu yang terlelak pada piala ginjal atau ureter dapat memberikan
komplikasi obstruksi baik sebagian atau total.
Hal tersebut diatas dipengaruhi oleh :
1. Sempurnaya obstruksi
2. Lamanya obstruksi
3. Lokasi obstruksi
4. Adanya tidaknya infeksi
a. Infeksi
b.Obstruksi
c.Hidronephrosis.
( Purnomo, 2011)
f) Patofisiologi

Batu saluran kemih dapat terjadi dari beberapa faktor yaitu imobilisasi yang
dapat menyebabkan statis urin, peningkatan atau penurunan pH, diit makanan
tertentu seperti; tinggi oksalat, purin, dan kalsium. Ketiga factor tersebut dapat
meningkatkan substansi dari kalsium, oksalat, asam urat atau fosfat sehingga
urin menjadi keruh dan menghambat aliran urine yang merangsang pembentukan
batu. Batu saluran kemih juga dapat diakibatkan oleh ISK yang terdapat kuman
pemecah urea yang dapat menghasilkan enzim urease yang menghidrolisis urea
menjadi amoniak yang memudahkan garam-garam magnesium, ammonium,
fosfat dan karbonat membentuk batu magnesium fosfat. Selain itu batu dapat
terbentuk dari penurunan sitrat dan magnesium yang merupakan faktor
penghambat pembentukan batu sehingga mempermudah terjadinya batu
khususnya batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat. Ada batu di dalam saluran
kemih, membuat terjadinya obstruksi, obstruksi diatas kandung kemih dapat
menyebabkan hidroureter karena ureter membengakak oleh urine, hidroureter
yang tidak diatasi dapat menyebabkan hidronefrosis. Obstruksi juga
menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik interstitium dan dapat
menyebabkan penurunan Glomerulus Filtration Rate (GFR). Obstruksi yang
tidak diatasi dapat menyebabkan kolapsnya nefron dan kapiler sehingga terjadi
iskemia nefron karena suplai darah terganggu, akhirnya dapat terjadi gagal
ginjal. Setiap kali terjadi obstruksi aliran urine (statis urine) maka infeksi bakteri
meningkat dan menyebabkan pielonefrilitis, ureteritis, dan sistitis ( Purnomo,
2011).

Purnomo, Basuki B. 2011. Hiperplasia prostat dalam: Dasar – dasar urologi.,


Edisi ke – 3. Sagung Seto. Jakarta
Referensi

https://id.scribe.com/doc/269718946/OBSTRUKSI-SALURAN-KEMIIH