Anda di halaman 1dari 12

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA KLIEN DENGAN GANGGUAN CITRA TUBUH PADA

STROKE NON HEMORAGIK

Disusun oleh :

Tria Putri

Marlina Diyan Safitri

Siti Soleha

Bela Apriyani

Imam Wahyudi

AKADEMI KEPERAWATAN PANCA BHAKTI

BANDAR LAMPUNG

T.A 2020
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebagai mahluk hidup kita tidak bisa lepas dari suatu aktivitas. Aktivitas adalah rutinitas latihan
yang di kerjakan seseorang dan kegiatannya berbeda setiap waktunya. Salah satu aktivitas di
dalam kehidupan sehari-hari yang sering kita lakukan yaitu berpindah. Berpindah merupakan
kegiatan pergerakan fisik dari satu tempat ke tempat lainnya. Salah satu masalah dalam
berpindah adalah hambatan kemampuan berpindah. Hambatan kemampuan berpindah adalah
keterbatasan pergerakan mandiri di antara dua permukaan yang dekat (Herdman, 2015). Faktor
yang mempengaruhi aliran darah ke otak salah satunya yaitu keadaan pembuluh darah, hal ini
terjadi bila adanya penyempitan akibat stenosis, ateroma atau tersumbat oleh trombus/embolus
(Harsono, 2007). Karena adanya penyempitan pembuluh darah pada otak, maka otak tidak bisa
menyalurkan neuron motorik. Neuron motorik yaitu neuron yang membawa informasi keluar
dari susunan saraf pusat ke berbagai organ sasaran (suatu sel otot atau kelenjar). (Mutaqin,
2008). Apabila neuron motorik tidak sampai pada sel otot maka tubuh tidak bisa merespon
rangsang yang diberikan oleh otak dan tubuh tidak bisa menggerakan sebagian anggota gerak
motorik maupun sensorik karena terganggunya sistem persarafan. Disfungsi motorik merupakan
salah satu tanda gejala dari penyakit stroke non hemoragic. Hal yang dapat menyebabkan
hambatan kemampuan berpindah pada pasien stroke non hemoragic diantaranya yaitu kelemahan
saraf, kelemahan otot, kurang gerak, kekakuan sendi, kurang energi, dan aliran darah ke otak.
Stroke Non Hemoragic yaitu dapat berupa iskemia atau emboli dan trombosis serebral, biasanya
terjadi saat setelah lama beristirahat, baru bangun dari tidur, atau di pagi hari. Tidak terjadi
perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan 2 hipoksia dan selanjutnya dapat timbul
edema sekunder. Kesadaran umumnya baik (Mutaqin, 2008). Kusuma dkk (2009) menemukan
bahwa stroke iskemik sebesar 42,9% lalu 1,4% merupakan penderita perdarahan subarakhnoid,
18,5% menderita perdarahan intraserebral. O’donell dkk (2010) melakukan penelitian
multicenter di 22 negara sejak tahun 2007 hingga 2010 menemukan bahwa presentase stroke
iskemik jauh lebih tinggi yaitu sebesar 78% dibandingkan dengan stroke hemoragik. Menurut
Masdeu dan Solomon (2007), penderita stroke cenderung mudah menderita gangguan jiwa
karena adanya perubahan yang tiba-tiba terhadap seseorang akibat ketidakmampuannya untuk
menggunakan anggota badan mereka, adanya ketidakmampuan mereka berkomunikasi, mudah
menyebabkan timbulnya gangguan penyesuaian. Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan
oleh Kaplan dkk (2008), perubahan psikologi yang terjadi mempunyai kaitan dengan lokasi lesi
di otak. empat lokasi yang sering dihubungkan dengan sindrom depresi adalah lesi pada lobus
frontalis, lobus temporalis dan bangsal ganglia terutama nukleus kaudatus. Namun Carson dan
kawan-kawan (2007) menyatakan beberapa faktor gangguan jiwa pada pasien stroke antara lain ;
pengaruh gangguan anatomik, gangguan neurohormonal atau neurotransmiter dan psikologi.
Dari pengertian diatas, bagi klien yang mengalami Stroke Non Hemoragic sangat riskan untuk
mengalami masalah kejiwaanya terutama merasa jelek tentang gambaran dirinya atau mengalami
gangguan citra tubuh. Citra tubuh merupakan ide seseorang mengenai betapa penampilan
badannya menarik di hadapan orang lain (Chaplin, 2011). Sedangkan gangguan citra tubuh
adalah perubahan persepsi tentang tubuh yang diakibatkan oleh perubahan ukuran, bentuk,
struktur, fungsi keterbatasan, makna dan objek yang sering kontak dengan tubuh (Wald &
Alvaro 2007). Menurut Freud (2007), pasien stroke dapat mengalami depresi menderita
kehilangan nyata atas objek cinta yang bersifat ambivalen 3 (bertentangan). Pasien bereaksi
dengan kemarahan yang kemudian diarahkan kepada diri sendiri, dan ini menyebabkan gangguan
citra tubuh. Untuk mengatasi gangguan citra tubuh pada pasien stroke, dapat dilakukan dengan
cara : mendiskusikan persepsi pasien tentang citra tubuhnya yang dulu dan saat ini, motivasi
pasien untuk memaksimalkan anggota tubuh yang masih bisa digunakan, gali aspek positif
pasien dan berikan motivasi, menjelaskan kepada keluarga tentang gangguan citra tubuh yang
dialami pasien, motivasi keluarga untuk mengikutsertakan pasien dalam berbagai kegiatan
Berdasarkan hal tersebut di atas, penulis tertarik untuk mengangkat masalah dengan judul
”Asuhan Keperawatan Gangguan Citra Tubuh pada pasien Stroke Non Hemoragik”

1.2 Tujuan Penulisan

1.2.1 Tujuan Umum

Menggambarkan kemampuan penulis berfikir kritis dalam asuhan keperawatan klien dengan
stroke : resiko Gangguan Citra Tubuh pada klien Stroke Non Hemoragic”

1.2.2 Tujuan Khusus

a. Menggambarkan pengkajian resiko Gangguan Citra Tubuh pada klien yang menderita Stroke
Non Hemoragik.

b. Menggambarkan diagnosa keperawatan resiko Gangguan Citra Tubuh pada klien yang
menderita Stroke Non Hemoragic.

c. Menggambarkan intervensi keperawatan Gangguan Citra Tubuh pada klien yang menderita
Stroke Non Hemoragic.

d. Menggambarkan implementasi keperawatan Gangguan Citra Tubuh pada klien yang


menderita Stroke Non Hemoragic.

e. Menggambarkan evaluasi keperawatan resiko Gangguan Citra Tubuh pada klien yang
menderita Stroke Non Hemoragic.
BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian

Gambaran  diri  atau  citra  tubuh  merupakan  komponen  konsep diri yang paling utama


dari komponen konsep diri lainnya, cita tubuh adalah persepsi individu terhadap dirinya seara
sadar ataupun tidak sadar terhadap penilaian dirinya meliputi: persepsi atau perasaan tentang
ukuran, fungsi, penampilan dan potensi tubuh. Gambaran diri atau citra tubuh bersifat dinamis
karena merupakan perubahan yang terjadi secara konstan sebagai persepsi baru dan pengalaman
dalam kehidupan (Stuart&Laraia,2005)
Citra tubuh membentuk persepsi seseorang tentang tubuh, baik secara internal maupun
eksternal. Persepsi ini mencakup perasaan dan sikap yang ditujukan pada tubuh. Citra tubuh
dipengaruhi oleh pandangan pribadi tentang karakteristik dan kemampuan fisik dan oleh persepsi
dari pandangan orang lain (Potter & Perry, 2005).
Citra  tubuh  merupakan  sikap  individu  terhadap  tubuhnya  baik disadari maupun tidak
disadari meliputi persepsi masa lalu dan sekarang megenai ukuran, bentuk, fungsi, penampilan
dan potensi tubuh (Sulisyiwati,2005).
Citra   tubuh   positif  apabila   seseorang   memandang   realistis, menerima dan
menyukai bagian tubuh akan memberi rasa aman, terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan
harga diri. Persepsi dan pengalaman individu terhadap tubuhnya dapat merubah citra tubuh
secara dinamis. Persepsi orang lain di lingkungan seseorang terhadap dirinya turut
mempengaruhi penerimaan klien terhadap dirinya.
Individu  yang  stabil,  realistis  dan  konsisten  terhadap  gambaran  dirinya akan
memperlihatkan kemampuan yang mantap terhadap realisasi yang akan memacu sukses dalam
kehidupan (Stuart&Laraia,2005).
Perubahan citra tubuh adalah suatu keadaan distress personal, yang didefinisikan oleh
individu, yang mengindikasikan bahwa tubuh mereka tidak lagi mendukung harga diri dan yang
disfungsional, membatasi interaksi social mereka dengan orang lain (suliswati, 2005)

Komponen Citra Tubuh

Ada beberapa ahli yang mengemukakan mengenai komponen citra tubuh. Salah satunya
adalah Cash (2000) yang mengemukakan adanya lima komponen citra tubuh, yaitu :
a. Appearance Evaluation (Evaluasi Penampilan), yaitu penilaian individu mengenai
keseluruhan tubuh dan penampilan dirinya, apakah menarik atau tidak menarik, memuaskan
atau tidak memuaskan.
b. Appearance Orientation (Orientasi Penampilan), perhatian individu terhadap penampilan
dirinya dan usaha yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan penampilan
dirinya.
c. Body Areas Satisfaction (Kepuasan terhadap Bagian Tubuh), yaitu kepuasan individu
terhadap bagian tubuh secara spesifik, seperti wajah, rambut, payudara, tubuh bagian bawah
(pinggul, pantat, kaki), tubuh bagian tengah (pinggang, perut), dan keseluruhan tubuh.
d. Overweight Preocupation (Kecemasan Menjadi Gemuk), yaitu kecemasan menjadi gemuk,
kewaspadaan individu terhadap berat badan, melakukan diet ketat, dan membatasi pola
makan.
e. Self-Clasified Weight (Persepsi terhadap Ukuran Tubuh), yaitu persepsi dan penilaian
individu terhadap berat badannya, mulai dari kekurangan berat badan sampai kelebihan berat
badan.

Komponen citra tubuh menurut Keaton, Cash, dan Brown (Tresnanari, 2001) mengatakan
citra tubuh berkaitan dengan dua komponen yaitu:
a. Komponen persepsi, bagaimana individu menggambarkan kondisi fisiknya yaitu mengukur
tingkat keakuratan persepsi seseorang dalam mengestimasi ukuran tubuh seperti tinggi atau
pendek, cantik atau jelek, putih atau hitam, kuat atau lemah.
b. Komponen sikap, yaitu berhubungan dengan kepuasan dan ketidakpuasan individu terhadap
bagian-bagian tubuh yang meliputi wajah, bibir, hidung, mata, rambut dan keseluruhan tubuh
yang meliputi proporsi tubuh, bentuk tubuh, penampilan fisik

2.2 Penyebab Gangguan Citra Tubuh

Gangguan citra tubuh adalah perubahan persepsi seseorang tentang tubuh yang
diakibatkan oleh perubahan ukuran, bentuk, struktur, fungsi, keterbatasan, makna dan objek yang
sering kontak dengan tubuh. Gangguan citra tubuh merupakan suatu keadaan ketika individu
mengalami atau beresiko untuk mengalami gangguan dalam penerapan citra diri seseorang
(Lynda Juall,2006).

2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi citra tubuh


a. Sosialkultural: budaya serta adat-istiadatberpengaruh terhadap citra tubuh seseorang
melihat di Indonesia terdapat beraneka ragam budaya dan adat
b. Jenis kelamin: laki-laki dan perempuan memiliki citra tubuh yang berbeda tergantung
dari tiap-tiap individu.
c. Status hubungan
d. Agama

2.4 Tanda dan Gejala Terjadinya Gangguan Citra Tubuh


a. Menolak untuk menyentuh dan melihat bagian yang berubah
b. Tidak dapat menerima perubahan struktur dan fungsi tubuh
c. Mengurangi kontak social sehingga terjadi menarik diri
d. Perasaan atau pandangan negative terhadap tubuh
e. Mengungkapkan keputusasaan
f. Mengungkapkan ketakutan ditolak
g. Menolak penjelasan tentang oerubahan tubuh
BAB 3

GAMBARAN KASUS DAN ASUHAN KEPERAWATAN

Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Ny. M

Gangguan Konsep Diri : Gangguan Citra Tubuh di Ruang Cempaka

3.1 Gambaran kasus

Kasus (masalah utama)

Ny. P usia 45 tahun seorang pembantu rumah tangga, mengalami cacat pada wajah karena
disiram air panas oleh majikannya sebulan yang lalu. Sejak kejadian itu ia tidak mau keluar
kamar dan berinteraksi dengan orang lain. Hasil wawancara dengan perawat diperoleh data
bahwa klien merasa malu dengan kondisi wajahnya dan takut akan dibicarakan orang. Selain itu,
klien berkata kalau dia menyesal tidak mendengar nasehat suaminya supaya berhenti dari
pekerjaannnya itu. Berdasarkan pengamatan, klien lebih banyak melamun, diam dan tidak mau
melihat wajahnya dicermin.

3.2 Pengakajian masalah psikososial

A. IDENTITAS KLIEN

Tanggal Pengkajian: : 4 mei 2020

Nama : Ny.P

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 45 tahun

Alamat : Bandar Lampung

Suku : Lampung

B. Riwayat keluarga

Genogram

C. Keluhan Utama

Klien merasa malu dengan kondisi nya , klien tidak mau melihat wajahnya di cermin

D. Riwayat Kesehatan

Biologis: Klien tidak memiliki penyakit menurun atau menular dan klien tidak memiliki riwayat
trauma lainnya klien tidak memiliki riwayat kesehatan masa lalu

E. Pengkajian Fisik

Pemeriksaan ttv

TD : 110/70 mmHg
S : 36,5 C

N : 80x/menit

P : 22x/menit

Keluhan fisik : klien mengatakan lemas

1. Keadaan umum (kelelahan)


Klien mengalami kelelahan
2. Sistem integumen
luka pada kulit dibagian wajah , tidak ada memar, kuku sianosis , turgor elastis
3. Hemopoetik
Tidak ada pembengkakan kelenjar limfe
4. Kepala (sakit kepala,pusing,trauma kepala,gatal kulit kulit kepala)
Klien tidak mengalami trauma kepala, tidak ada pembengkakan pada kepala
5. Sistem penglihatan
Klien tidak menggunakan kaca mata , penglihatan normal, tidak ada pembengkakan di
sekitar mata
6. Sistem pendengaran
Klien tidak menggunakan alat bantu dengar , pendengaran baik
7. Sistem penghidung
Klien tidak memiliki riwayat alergi, tidak ada nyeri pada sinus
8. Mulut dan tengorokan
Klien tidak sakit tenggorokan , tidak ada luka pada tenggorokan , klien tidak menggunakan
gigi palsu
9. Leher
Tidak ada nyeri tekan , tidak ada pembesaran kelenjar tiroid ,tidak ada pembengkakan
10. Payudara
Tidak nyeri tekan, tidak ada pembengkakan
11. Sistem pernapasan
Bunyi nafas ronchi, tidak memiliki alergi pernapasan, RR : 22x/menit
12. Sistem cardiovaskuler
Tidak nyeri dibagian dada , tidak edema , bunyi jantung normal
13. Gastrointestinal
Nafsu makan berkurang, tidak ada pembesaran hepar, klien tidak mual muntah , tidak
mengalami perdarahan pada rektum
14. Perkemihan
Tidak nyeri saat berkemih, perkemihan klien baik
15. Genito reproduksi-wanita
Tidak ada lesi, tidak nyeri pada pelvis
16. Musculoskeletal
Tidak nyeri sendi, tidak ada pembengkakan pada sendi , klien bisa berjalan
17. SSP
Klien tidak menglami sakit kepala, klien tidak tremor
18. Sistem Endokrin
Tidak ada perubahan kulit , tidak ada perubahan rambut

F. Pengkajian psikososial

1. konsep diri

a. Gambaran diri : klien mengatakan merasa malu dengan kondisi wajahnya dan takut menjadi
bahan pembicaraan orang.
b. Identitas : klien seorang perempuan dan sudah menikah, klien menerima statusnya sebagai
perempuan dan ibu bagi anak-anaknya
c. Peran : klien memahami perannya sebagai perempuan pada umumnya
d. Ideal diri : klien berharap dapat sembuh dan wajah nya kembali seperti semula
e. Harga diri : klien mengatakan malu dan taku menjadi bahan pembicaraan orang.

2. Hubungan Sosial

a. Orang yang berarti dalam hidup nya adalah anak dan suami nya

b. klien seorang ibu rumah tangga klien juga akrab dengan tetangga nya

c. klien merasa malu pada keadaan sekarang klien hanya berdiam dirumah tidak mau berinteraksi
dengan orang

3. Pendidikan dan Pekerjaan

Klien pendidikan SD dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga

4. Gaya hidup

sebelum sakit :

klien bekerja dan mengurus rumah tangga berinteraksi kepada masyarakat klien juga

sesudah sakit :

klien tidak bekerja lagi klien hanya berdiam dikamar tidak mau berinteraksi dengan orang

5. Spiritual

a. Nilai dan keyakinan

nilai dan keyakinan sesuai agama dan kepercayaan


b. Kegiatan ibadah

klien selalu melakukan sholat 5 waktu

7. Alam perasaan

Klien merasa sedih dan merasa malu

8. Pola Tidur

Klien sulit tidur pada malam hari pada siang hari klien tidur dari jam 09.00 sampai jam 14.00

9. Koping

a. Sumber koping

mendapatkan dukungan dari keluarga untuk selalu semangat dan menerima keadaan

b. Mekanisme koping

selalu berfikir positif dan menerima kekurangan selalu sabar

G. Pohon Diagnosis Pohon diagnosis pada keperawatan jiwa terdiri dari masalah kesehatan jiwa
pada klien

Proses terjadinyamasalah

Ny. P tersiram air panas

Cacat wajah

Malu dengan kondisinya, takut menjadi bahan pembicaraan

Tidak mau berinteraksi dengan orang lain, tidak mau melihat wajahnya dicermin

Lebihbanyakmelamundanmenyalahkandirisendiri
Pohonmasalah

Isolasi sosial harga diri rendah

Klien tidak mau berinteraksi Klien tidak mau melihat


dengan orang lain wajahya dicermin

Klien malu dengan kondisinya Klien kehilangan kepercayaan diri

Gangguan citra tubuh

Perubahan bentuk tubuh: cacat wajah

Kekerasan fisik